P. 1
Sejarah Kesehatan Lingkungan

Sejarah Kesehatan Lingkungan

|Views: 1,572|Likes:
Dipublikasikan oleh Sugeng Abdullah

More info:

Published by: Sugeng Abdullah on Mar 20, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2014

pdf

text

original

Sejarah Kesehatan Lingkungan (Oleh : Sugeng Abdullah

)

Pengantar : Tulisan dibawah ini berupa rentetan tahun peristiwa (time line) yang berhubungan atau dihubungkan dengan kesehatan lingkungan. Sesungguhnya hanya sebagai umpan bagi pembaca untuk dapat memberikan koreksi dan tambahan materi dalam rangka menyusun “Sejarah Kesehatan Lingkungan”. Pembaca diharapkan dapat berperan aktif dalam diskusi yang digelar via milist sanitarian_indonesia@yahoogroup.com. Diskusi ini diniatkan sebagai bentuk kegiatan Peringatan HKN 2010.

A. Umum (di dunia)  Tahun 3000 sm (Minoa & Kreta) dan 1500 sm (Mesir & Yahudi) : telah ada pembuangan air limbah, pengaturan air minum, WC umum.  Zaman Romawi Kuno : ada semacam IMB, pencatatan hewan piaraan.  Abad I – VII : mulai memperhatikan lingkungan dalam mengatasi epidemi/endemi penyakit.  Buku Zon airs, waters and places (Hipocrates, 2400 t yl) : hubungan timbal balik antar penyakit dan lingkungan.  Abad XVII : beberapa negara di Eropa membuat UU Sanitary Legeslation serta penerapan militery hygiene.  Abad XVII : Pada masa ini telah diterapkan lapangan hygiene dan social medicine. Terjadi gerakan secara besar-besaran bidang kesehatan masyarakat di Inggris yang disebut Public hygiene.  Di Perancis lahir sebuah dewan yang bernama : Council of Publick Hygiene (UU 1789 – 1791)  Sanitary Condition of The Labouring Population of Great Britain (Edwin Chadwick, 1842) : Dewan Umum Kesehatan mengontrol kondisi perumahan, SPAL, air bersih dan tenaga kesehatan.

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 1

 Sanitary Condition of The Labouring Population in New York (John C. Griscom, 1848) dan Report of The Sanitary Commission on Massachussets (Samuel Shattuck, 1850)  Di Inggris dibentuk kementrian : Ministri of Pablick Health (1 Juli 1919)  Gordon dan Le Richt (1950) : teori ekologi untuk menjelaskan peristiwa penyakit.  Blum (1974) : Planning For Health, Development and Application of Social Change Theory.  Perhatian masyarakat yang luar biasa terhadap kasus-kasus pencemaran lingkungan al. smog di Inggris (1952), Minamata, Jepang (1973), dll.  Deklarasi WHO di Alma alta tentang Kesehatan Untuk Semua Tahun 2000  ……?  4 Desember 2006, PBB menetapkan Tahun Sanitasi Internasional 2008

B. Khusus (di Indonesia)  Tahun 1882 : diundangkannya UU Hygiene oleh Belanda  1916. Di Bandung telah dibangun IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang kemudian dikembangkan melalui Proyek BUDP (Bandung Urban Development Project) I, II dan III, dengan daerah layanan seluruh Bandung sekitar 2.800 Ha atau sekitar 17% dari luas kota.; meliputi 90.000 pelanggan atau sekitar 450.000 jiwa (20% penduduk kota), 22.000 pelanggan dilayani oleh sambungan langsung , namun masih adanya industri rumahan dan rumah sakit yang membuang langsung walaupun itu termasuk tindakan illegal.  1920. Di Kota Cirebon pemerintah kolonial Belanda telah membangun IPAL pada tahun 1920 untuk melayani daerah komersial, kemudian pada tahun 1978 dilanjutkan pembangunan IPAL untuk melayani daerah Perumnas, dan pada tahun 1996 dengan bantuan Pemerintah Swiss dibangun pula IPAL yang baru , sehingga cakupan pelayanannya telah mencapai 384 Ha (9,7 dari luas kota) dan total

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 2

pelanggan sekitar 19.000 pelanggan atau 90.000 jiwa ( 32 % jumlah penduduk kotanya  1924 Dinas Higiene dibentuk oleh pemerintah Belanda. Kegiatan berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten dengan cara mendorong rakyat untuk membuat kakus / jamban sederhana. pendirian Rival Hygiene Work di Banyuwangi dan Kebumen atas prakarsa Rochefeller Foundation  1933 di Banyumas dibentuk organisasi higiene tersendiri dengan nama Percontohan Dinas Kesehatan Kabupaten di Purwokerto (Demonstratie Regentschaps Gezondheid Dienst (DRGD)). Dinas ini terpisah dari Dinas Kuratif yang telah ada sebelumnya. Kegiatan utamanya adalah pemberantasan cacing tambang yang menekankan anjuran pembangunan jamban dan perbaikan pelayanan air minum (Bodemen water verontriniging). Proyek ini mendapat bantuan dari Rockoveller foundation dengan Professor Hedrick sebagai menegernya.  1936 didirikanlah Sekolah Mantri Hygiene atau Hygiene Mantri School (HMS) bertempat di Purwokerto. Lulusannya dekenal sebagai mantri kakus.  1942 – 1947 Lulusan HMS telah disebar ke pelosok jawa dan madura. Lulusan yang masih tinggal di Purwokerto ditugasi untuk mengajar di Sekolah Mantri Kesehatan (SMK). SMK merupakan perubahan bentuk dari HMS. Pada periode ini dr R. Moehtar membentuk Juru Hygiene Desa yang disebar di seluruh desa di kabupaten Banyumas. Juru Hygiene Desa diupah /dibiayai oleh desa setempat dengan

mendapatkan tanah bengkok (tanah garapan). Lingkup tugasnya adalah water supply dan latrine (penyediaan air bersih dan jamban)  1935 Di Yogyakarta pembangunan IPAL pertama kali dilakukan oleh Belanda dan kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan bantuan Pemerintah Jepang sehingga saat ini pelayanannya telah mencapai 1.250 Ha (sekitar 6% luas wilayah greater Yogyakarta) dan melayani 10.000 pelanggan atau 85.000 jiwa (10% populasi  1940. Di Surakarta bagian selatan tahun 1940 Belanda telah mebangun IPAL kemudian dilanjutkan oleh Perumnas yang membangun tahun 1984 kemudian dikembangkan lagi dengan pionjaman IBRD (SSUDP, Semarang Surakarta Urban

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 3

Development Project) yang dapat melayani 8.000 pelangaan sekitar 70.000 jiwa pada area 1.165 Ha (sekitar 26 % luas kota  Tahun 1950an Berdiri institusi pendidikan dibawah Departemen Kesehatan RI yang bernama Pendidikan Kontrolir Kesehatan di Jakarta dan Surabaya. Institusi ini mengajarkan materi tentang sanitasi dan kesehatan lingkungan. Lulusannya langsung diangkat menjadi PNS yang bertugas mengurusi masalah sanitasi/kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular dan penyuluhan kesehatan.  1955 Percontohan Usaha Hygiene dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (PUH / PKR) menjadi bagian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas sebagai embrio Seksi Kesehatan Lingkungan.  5 September tahun 1955 berdiri Ikatan Kontrolier Kesehatan Indonesia ( IKKI).  1956 : adanya integrasi usaha pengobatan dan usaha kesehatan lengkungan di Bekasi hingga didirikan Bekasi Training Center  12 November 1959 : pencanangan program pemberantasan malaria sebagai program kesehatan lingkungan di tanah air (12 November 1959 : hari Kesehatan Nasional)  1968 : Program Kesehatan Lingkungan PUSKESMAS  1974 Terbit instruksi presiden ( INPRES) tentang SAMIJAGA (sarana air minum dan jamban keluarga)  1975 – 1985an diselenggarakan Crash Training Program Tenaga Hygiene & Sanitasi dan didirikan Sekolah Pembantu Penilik Hygiene (SPPH) dibeberapa propinsi. Pesertanya dari lulusan SMA Paspal dididik dan dipersiapkan untuk masuk dalam upaya pelayanan

menjadi tenaga lini depan proyek SAMIJAGA (Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga).  1977 Jakarta mulai menyusun Rencana induk Air Limbah pada tahun 1977, dan mulai membangun tahun 1983 dan pada tahun 1992 pembangunan fisik selesai, kapasitas yang dibangun sebesar 300 liter/detik dimana BOD influent sekitar 200 mg/lt dan effluent yang diharapkan adalah 50 mg/lt atau terjadi “removal” sebesar 70 % dan pada saat ini dikelolah PDPAL (Perusahaan Daerah Air Limbah) yang merupakan

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 4

satu-satunya PD AL di Indonesia. Jumlah pelanggan sekitar 2.300 (220.000 jiwa) sekitar 2,8 % penduduk kota.  12 April 1980, di Bandung Lingkungan Indonesia (HAKLI)  1980 dimulai perbaikan Kampung yang kita kenal dengan program KIP (Kampung Im[provement Program) dimana prasarana dan sarana lingkungan merupakan salah satu komponen yang masuk dalam program. Kota Medan pada tahun 1980 mulai menyusun Rencana Induk Air Limbahnya .  1982 terbit SKN (Sistem Kesehatan Nasional)  1982 Di Kota Tangerang mulai dibangun IPAL type “carrousel” ini merupakan satusatunya di Indonesia dan diuji coba tahun 1985, serta mulai dioperasikan tahun 1992. Konsultan dari Belanda DHV Cons. Eng. dan Has Koning yang bertindak sebagai perencana. IPAL Tanah Tinggi yang merupakan bantuan pemerintah Belanda tersebut mempunyai cakupan pelayanan 3.000 sambungan rumah atau ekivalen 15.000 jiwa melayani Kelurahan Sukasari dan babakan.  Selain IPAL Tanah Tinggi Kota Tangerang juga mempunyai prasarana dan sarana pengolahan air limbah domestik lainnya yang terdiri dari; kolam oksidasi sebanyak 8 unit dengan total luas sebesar 44,5 Ha terdapat di Perumnas I melayani 7.932 sambungan rumah atau ekivalen 31.728 jiwa.  Sistem Terpusat ( Offsite System) di IPAL Tanah Tinggi melayani Kelurahan Sukasari dan Babakan; seluruh limbah rumah tangga baik yang berasal dari kamar mandi, kakus maupun dapur diproses menjadi satu secara alamiah terpadu degan sistim Carrousel yang pengalirannya sebagian menggunakan perpompaan yang memerlukan biaya O/M yang tinggi sehingga menyebabkan IPAL ini tidak dioperasikan saat ini.  Sistem Setempat (Onsite system) melayani rumah tangga yang masih belum terjangkau oleh sistem terpusat, yaitu dengan menyedot lumpur tinja dari septik tank disetiap rumah yang selanjutnya diolah di IPLT Karawaci.Dari kedua system tersebut dapat melayani 9.800 pelanggan atau 46.000 jiwa (4% penduduk kota) berdiri organisasi Himpunan Ahli Kesehatan

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 5

 1985 Kota Medan dengan pinjaman dari ADB (Asian Development Bank) melalui MUDP (Medan Urban Development Project) I dan II mulai membangun IPAL UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket) kapasitas 60.000 m3/hari atau 700 lt/dt yang dilanjutkan pengaliran effluentnya ke kolam aerasi (aerobic ponds) dan terakhir ke kolam fakultatif (facultative ponds), untuk melayani sekitar 530 HA (1,9 % luas Kota) untuk 7.400 pelanggan atau 49.000 jiwa (2,25 % penduduk kota  1985 Di Tlogomas Kota Malang masyarakat secara mandiri dengan dimotori oleh Agus Gunarto membangun IPAL skala komunitas akibat merasakan ketidak nyamanan akibat ulah masyarakat sekitar yang BAB sembarangan, dan upaya ini sangat diapresiasi oleh semua pihak bahkan oleh pihak internasional dengan berbagai undangan untuk presentasi keluar negri yang diperolehnya.  1992 mulailah disusun Rencana Induk Air Limbah Kota Denpasar (DSDP= Denpasar Sewerage Development Project), lima tahun kemudia disusunlah detail engineering design dan pada tahun 2004 dimulailah pembangunan fisiknya. IPAL Denpasar mempunyai kapasitas 51.000 m3/hari, dengan total panjang jaringan pipa 130 km (dia 200-1.200 mm) untuk melayani sekitar 10.000 pelanggan atau 103.200 jiwa (1.145 HA luas pelayannya). Berdasarkan Peraturan. Bersama antara Gubernur Bali, Walikota Denpasar dan Bupati Badung dengan nomor 37 A tahun 2006, nomor 1 tahun 2006 dean nomor 36A tahun 2006 ditetapkanlah BLU PAL yang mengelola IPAL tersebut.  1995 Dimulailah pembangunan IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) disebagian besar kota-kota di Indonesia, namun keberadaan IPLT ini banyak yang tidak berfungsi dengan baik, akibat lemahnya lembaga pengelola yang ada disamping faktor lainnya.  1999 Visi Indonesia Sehat 2010 dicanangkan dan ditandatangani Presiden BJ

Habibie. Visi Indonesia sehat 2010 secara umum berisi keinginan agar masyarakat Indonesia berperilaku hidup bersih dan sehat, berada di lingkungan yang sehat dan memperoleh pelayanan kesehatan yang adil dan merata.  2002 Di Propinsi Bali tepatnya di Kantor Gubernur Renon, di Kecamatan Kuta, dan Sunrise School Krobokan Denpasar telah dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 6

(IPAL) dengan menggunakan media tanaman alias Fythoremediasi, teknologi sederhana hasilnya cukup memuaskan namun memerlukan lahan yang cukup luas, teknonolgi ini cocok diterapkan di skala komunal.  Juli 2003 WASPOLA (Water Suply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning) dibawah koordinasi BAPPENAS melahirkan Kebijakan Nasional Pembanguan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Berbasis Masyarakat.  Desember 2003 (a)Telah disusun Pekerjaan Studi National Action Plan Bidang Air Limbah. (b) disusun pula Pedoman Pengelolaan Air Limbah Perkotaan, untuk

eksekutif dan legislative Pemerintah Kabupaten/Kota, Ditjen Kotdes, Depkimpraswil. (c) Telah terbit pula Pedoman Pengelolaan Air Limbah Perkotaan, untuk untuk Pelaksana Lapangan di Pemerintah Kabupaten/Kota, Ditjen Kotdes, Depkimpraswil,. (d) Telah disusun Perumusan Rencana Tindak National Bidang Air Limbah 2005-2015. Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, (e) Mulai dilakukan uji coba program SANIMAS (Sanitasi Berbasis Masyarakat) di propinsi Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta  2004 Terbit Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan terbentuk Tim interdep (Bappenas,Depkes, Depdagri dan Dep PU) yang ditugaskan untuk belajar CLTS (Community Lead Total Sanitation atau STBM = Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Tim ini selanjutnya belajar CLTS ke India dan Bangladesh dengan sponsor IBRD  2005 Terbit Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum dan di Kabupaten Lumajang, tepatnya di Kecamatan Guci Alit telah memproklamirkan sebagai daerah bebas BAB dengan menerapkan CLTS alias STBM  2006 Dilakukan replikasi program SANIMAS di 20 propinsi (69 lokasi) dan dimulai program ISSDP (Indonesia Sanitation Development Proigram)  19-21 November 2007 di Jakarta di selenggarakan Konferensi Sanitasi Nasional (KSN). Juga dilakukan kembali replikasi program SANIMAS di 22 propinsi (128 lokasi)

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 7

 2008 terbit Permen PU Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman, Departemen Pekerjaan Umum dan diterbitkannya Buku Pedoman SANIMAS, oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya, Dep. PU. Pada tahun ini juga Telah disusun National Strategy for Community Lead Total Sanitation (CLTS), Ministry of Health  2009 . terbit UU 36 Tahun 2009 tetang Kesehatan. Pada tahun ini juga

diselenggarakan Kongres Sanitasi Nasional (KSN) II

Sumber Bacaan :  Presentasi kuliah Kesehatan Lingkungan oleh Dr. Irwin Aras Bagian IKM/IKK FKUNHAS  Presentasi kuliah Dasar Kesehatan Lingkungan oleh Sri Puji Ganefati, SKM., M.Kes, JKL Yogyakarta  Riwayat Berdirinya SPPH Purwokerto oleh S. Purwanto, MSc, Buletin Keslingmas SPPH Purwokerto.  Sejarah PKM, Kliping Yayasan Sanitarian Banyumas  Ringkasan Sejarah Perkembangan Sanitasi di Indonesia 1607 – 2011, oleh Bambang Purwanto (bbgpurwanto@yahoo.com) posting pada milist sanitarian_indonesia@yahoogroup.com  CD Ensiklopedi Hutchinson Reference 2000  CD Eksiklopedi Encarta Refference Library 2005  CD Ensiklopedi Ilmu Pengetahuan & Teknologi YASAMAS 2005

Ringkasan Sejarah Perkembangan Sanitasi Di Indonesia 1607-2011
Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 8

1607 Penghuni Kota Jayakarta pada tahun 1607 menurut catatan Cornelis Matelief de Jonge berjumlah 15.000-20.000 jiwa, rumah-rumah pada waktu itu dari kayu dan gedek atap dari jerami, kota dikelilingi pagar dari kayu yang masih rendah, dan bersihnya Sungai Ciliwung dipuj Adolf Heuken, halaman 38). 1620 Pada waktu dilaporkan itu telah terjadi upaya pencemaran sungai, dimana pada saat pengepungan kota Surabaya oleh Sultan Agung dari tahun 1620-1625 serta kota-kota sekitarnya dengan membendung dan meracuni air sungai dikota yang berdampak menurunnya jumlah penduduk kota dari 50.000 jiwa lebih tinggal 500 orang yang tinggal dikota, selebihnya meninggal atau meninggalkan kota akibat kemiskinan atau kelaparan (Anthony Reid I, hal 21-22) 1699 Sebagaimana diceriterakan oleh Dampier bahwa kebiasaan mandi untuk membersihkan diri telah ada pada waktu itu dimana di sungai-sungai di Aceh selamanya penuh dengan pria dan wanita dari semua umur, orang sakit sekalipun dibawa ke sungai untuk mandi (Anthony Reid I, hal 59) Kebiasaan BAB (buang air besar) kesungai atau dipantai didasarkan anggapan bahwa air yang mengalir bisa membersihkan, ini ada benarnya dibandingkan orang Eropa atau India sezaman yang menggunakan jalan-jalan kota atau air tergenang untuk BAB karena tidak ada pilihan lain (Anthony Reid I, hal 60) 1710 Pada tahun ini sudah dilaporkan terjadinya pencemaran akibat adanya 130 buah molen gula, sampah dan bekas kayu pembakaran yang sengaja dibuang ke sungai menyebabkan penyumbatan disana sini. Akibatnya Sungai Ciliwung yang pada waktu itu sangat vital artinya bagi warga kota menjadi tercemar dan menimbulkan wabah penyakit, yang mengakibatkan kematian sekitar 1.223 orang pegawai kompeni Belanda dari 4.304 yang datang dari Belanda pada tahun yang sama (Tawalinuddion Haris, halaman 148) 1815

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 9

Mandi disungai juga telah menjadi kebiasaan penduduk Jakarta tempo dulu, dimana ditepian kanal dipenuhi wanita telanjang dada, mereka tanpa kuatir pria iseng yang mengintipnya (Alwi Shahab, halaman 48) 1892 HCC Clockener Brouson seorang serdadu muda Belanda yang baru datang dari Amsterdam melaporkan dengan terbengong-bengong tentang cara mandi orang Indonesia yang menggunakan bak, lalu cara bagaimana menyabun dan membilas dan mengeringkan badannya, mereka mandi 3 kali yaitu pagi, jam 11 dan jam 3 sore (HCC Clockener Brouson, halaman 21). 1916 Di Bandung telah dibangun IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang kemudian dikembangkan melalui Proyek BUDP (Bandung Urban Development Project) I, II dan III, dengan daerah layanan seluruh Bandung sekitar 2.800 Ha atau sekitar 17% dari luas kota.; meliputi 90.000 pelanggan atau sekitar 450.000 jiwa (20% penduduk kota), 22.000 pelanggan dilayani oleh sambungan langsung , namun masih adanya industri rumahan dan rumah sakit yang membuang langsung walaupun itu termasuk tindakan illegal. 1920 Di Kota Cirebon pemerintah kolonial Belanda telah membangun IPAL pada tahun 1920 untuk melayani daerah komersial, kemudian pada tahun 1978 dilanjutkan pembangunan IPAL untuk melayani daerah Perumnas, dan pada tahun 1996 dengan bantuan Pemerintah Swiss dibangun pula IPAL yang baru , sehingga cakupan pelayanannya telah mencapai 384 Ha (9,7 dari luas kota) dan total pelanggan sekitar 19.000 pelanggan atau 90.000 jiwa ( 32 % jumlah penduduk kotanya). 1935 Di Yogyakarta pembangunan IPAL pertama kali dilakukan oleh Belanda pada tahun 1935 dan kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan bantuan Pemerintah Jepang sehingga saat ini pelayanannya telah mencapai 1.250 Ha (sekitar 6% luas wilayah greater Yogyakarta) dan melayani 10.000 pelanggan atau 85.000 jiwa (10% populasi). 1939 Di Balige sebagaimana diceriterakan oleh JJ van de Velde bahwa pada tahun 1935 kondisi rumah disana pada malam hari; ternak yang terdiri dari sapi, kerbau dan babi dikumpulkan dibawah rumah, pada siang hari babi dan anjing-anjing kurus tak terhitung banyaknya, menjaga agar halaman rumah bersih, mereka melahap semua sampah dan kotoran, termasuk kotoran manusia. Bahkan begitu seringnyamereka makan kotoran

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 10

manusia , sehingga bagi anak-anak berbahaya sekali BAB ditempat yang tidak terjaga, sebab kalau orang tuanya lengah, pernah terjadi bahwa alat vital seorang anak lelaki kecil turut tercaplok, betapa mengerikan (JJ van de Velde, hal 76-77) 1940 Di Surakarta bagian selatan tahun 1940 Belanda telah mebangun IPAL kemudian dilanjutkan oleh Perumnas yang membangun tahun 1984 kemudian dikembangkan lagi dengan pionjaman IBRD (SSUDP, Semarang Surakarta Urban Development Project) yang dapat melayani 8.000 pelangaan sekitar 70.000 jiwa pada area 1.165 Ha (sekitar 26 % luas kota) 1977 Jakarta mulai menyusun Rencana induk Air Limbah pada tahun 1977, dan mulai membangun tahun 1983 dan pada tahun 1992 pembangunan fisik selesai, kapasitas yang dibangun sebesar 300 liter/detik dimana BOD influent sekitar 200 mg/lt dan effluent yang diharapkan adalah 50 mg/lt atau terjadi “removal” sebesar 70 % dan pada saat ini dikelolah PDPAL (Perusahaan Daerah Air Limbah) yang merupakan satu-satunya PD AL di Indonesia. Jumlah pelanggan sekitar 2.300 (220.000 jiwa) sekitar 2,8 % penduduk kota. 1980  Pada tahun 1980 ini dimulai perbaikan Kampung yang kita kenal dengan program KIP (Kampung Im[provement Program) dimana prasarana dan sarana lingkungan merupakan salah satu komponen yang masuk dalam program.

 Kota Medan pada tahun 1980 mulai menyusun Rencana Induk Air Limbahnya dan lima tahun kemudian yaitu pada tahun 1985 dengan pinjaman dari ADB (Asian Development Bank) melalui MUDP (Medan Urban Development Project) I dan II mulai membangun IPAL UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket) kapasitas 60.000 m3/hari atau 700 lt/dt yang dilanjutkan pengaliran effluentnya ke kolam aerasi (aerobic ponds) dan terakhir ke kolam fakultatif (facultative ponds), untuk melayani sekitar 530 HA (1,9 % luas Kota) untuk 7.400 pelanggan atau 49.000 jiwa (2,25 % penduduk kota) 1982 Di Kota Tangerang pada tahun 1982 mulai dibangun IPAL type “carrousel” ini merupakan satu-satunya di Indonesia dan diuji coba tahun 1985, serta mulai dioperasikan tahun 1992. Konsultan dari Belanda DHV Cons. Eng. dan Has Koning yang bertindak sebagai perencana. IPAL Tanah Tinggi yang merupakan bantuan pemerintah Belanda tersebut

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 11

mempunyai cakupan pelayanan 3.000 sambungan rumah atau ekivalen 15.000 jiwa melayani Kelurahan Sukasari dan babakan. Selain IPAL Tanah Tinggi Kota Tangerang juga mempunyai prasarana dan sarana pengolahan air limbah domestik lainnya yang terdiri dari; kolam oksidasi sebanyak 8 unit dengan total luas sebesar 44,5 Ha terdapat di Perumnas I melayani 7.932 sambungan rumah atau ekivalen 31.728 jiwa. Sistem Terpusat ( Offsite System) di IPAL Tanah Tinggi melayani Kelurahan Sukasari dan Babakan; seluruh limbah rumah tangga baik yang berasal dari kamar mandi, kakus maupun dapur diproses menjadi satu secara alamiah terpadu degan sistim Carrousel yang pengalirannya sebagian menggunakan perpompaan yang memerlukan biaya O/M yang tinggi sehingga menyebabkan IPAL ini tidak dioperasikan saat ini. Sistem Setempat (Onsite system) melayani rumah tangga yang masih belum terjangkau oleh sistem terpusat, yaitu dengan menyedot lumpur tinja dari septik tank disetiap rumah yang selanjutnya diolah di IPLT Karawaci.Dari kedua system tersebut dapat melayani 9.800 pelanggan atau 46.000 jiwa (4% penduduk kota) 1985 Di Tlogomas Kota Malang masyarakat secara mandiri dengan dimotori oleh Agus Gunarto membangun IPAL skala komunitas akibat merasakan ketidak nyamanan akibat ulah masyarakat sekitar yang BAB sembarangan, dan upaya ini sangat diapresiasi oleh semua pihak bahkan oleh pihak internasional dengan berbagai undangan untuk presentasi keluar negri yang diperolehnya. 1992 Pada tahun 1992 mulailah disusun Rencana Induk Air Limbah Kota Denpasar (DSDP= Denpasar Sewerage Development Project), lima tahun kemudia disusunlah detail engineering design dan pada tahun 2004 dimulailah pembangunan fisiknya. IPAL Denpasar mempunyai kapasitas 51.000 m3/hari, dengan total panjang jaringan pipa 130 km (dia 200-1.200 mm) untuk melayani sekitar 10.000 pelanggan atau 103.200 jiwa (1.145 HA luas pelayannya). Berdasarkan Peraturan Bersama antara Gubernur Bali, Walikota Denpasar dan Bupati Badung dengan nomor 37 A tahun 2006, nomor 1 tahun 2006 dean nomor 36A tahun 2006 ditetapkanlah BLU PAL yang mengelola IPAL tersebut. 1995 Dimulailah pembangunan IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) disebagian besar kota-kota di Indonesia, namun keberadaan IPLT ini banyak yang tidak berfungsi dengan baik, akibat lemahnya lembaga pengelola yang ada disamping faktor lainnya. 2002 Di Propinsi Bali tepatnya di Kantor Gubernur Renon, di Kecamatan Kuta, dan Sunrise School Krobokan Denpasar telah dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 12

(IPAL) dengan menggunakan media tanaman alias Fythoremediasi, teknologi sederhana hasilnya cukup memuaskan namun memerlukan lahan yang cukup luas, teknonolgi ini cocok diterapkan di skala komunal. 2003  Telah disusun Pekerjaan Studi National Action Plan Bidang Air Limbah, bulan Desember 2003

 Telah disusun pula Pedoman Pengelolaan Air Limbah Perkotaan, untuk eksekutif dan legislative Pemerintah Kabupaten/Kota, Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, Desember 2003

 Telah terbit pula Pedoman Pengelolaan Air Limbah Perkotaan, untuk untuk Pelaksana Lapangan di Pemerintah Kabupaten/Kota, Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, Desember 2003  Telah disusun Perumusan Rencana Tindak National Bidang Air Limbah 2005-2015. Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, Desember 2003

 Mulai dilakukan uji coba program SANIMAS (Sanitasi Berbasis Masyarakat) di propinsi Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. 2004  Terbit Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

 Tim interdep (Bappenas,Depkes, Depdagri dan Dep PU) ditugaskan untuk belajar CLTS (Community Lead Total Sanitation atau STBM = Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) ke India dan Bangladesh dengan sponsor IBRD. 2005  Terbit Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 13

 Di Kabupaten Lumajang, tepatnya di Kecamatan Guci Alit pada tahun 2005 telah memproklamirkan sebagai daerah bebas BAB dengan menerapkan CLTS alias STBM 2006  Dilakukan replikasi program SANIMAS di 20 propinsi (69 lokasi).

Dimulai program ISSDP (Indonesia Sanitation Development Proigram)

2007  Dilaksanakan Konferensi Sanitasi Nasional I.

Kembali dilakukan replikasi program SANIMAS di 22 propinsi (128 lokasi)

2008  Telah terbit Permen PU Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional PengembanganSistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman, Departemen Pekerjaan Umum

Buku Pedoman SANIMAS, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Dep. PU,

 Telah disusun National Strategy for Community Lead Total Sanitation (CLTS), Ministry of Health 2009  Dilaksanakan Konferensi Sanitasi Nasional II

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 14

2010  Mulai disusun “Rencana Induk dan Studi Kelayakan” untuk kota -kota; Surabaya, Bogor, Cimahi, Bandar Lampung, Pekanbaru, Batam, Batam, Palembang dan Makasar atas bantuan Ausaid.

Daftar Pustaka: 1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I, Penerbit Yayasan Obor, Jakarta 1992 2. M.C. Ricletfs, Sejarah Indonesia Modern, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Cetakan Kelima 1995 3. J.J. van de Velde, Surat-surat dari Sumatera 1928-1949, Penerbit Pustaka Azet, Jakarta, Agustus 1987 4. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

5. Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum 6. Permen PU Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional PengembanganSistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman, Departemen Pekerjaan Umum 7. Buku Pedoman SANIMAS, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Dep. PU, 2008

8. Risyana Sukarma and Richard Pollard. Indonesia Overview of Sanitation and Sewerage Experiencve and Policy Options, IBRDE, 2001 9. National Strategy for Community Lead Total Sanitation (CLTS), Ministry of Health, Jakarta, June 2008 10. Executive Summary Pekerjaan Studi National Actin Plan Bidang Air Limbah, Direktorat Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan, Ditjen Kotdes, Departemen Kimpraswil, Desember 2003 11. Perumusan Rencana Tindak National Bidang Air Limbah 2005-2015. Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, Desember 2003

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 15

12. Support on Water and Sanitation, Sector Analysis and Program Final 2009-2014, Usaid, November 2008 13. Pedoman Pengelolaan Air Limbah Perkotaan, untuk eksekutif dan legislative Pemerintah Kabupaten/Kota, Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, Desember 2003 14. Pedoman Pengelolaan Air Limbah Perkotaan, untuk Pelaksana Lapangan di Pemerintah Kabupaten/Kota, Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, Desember 2003 15. Panduan Pengawasan Sistem Pengelolaan Air Limbah, Inspektorat Jenderal, Departemen PU 16. Kerangka Acuan Kerja Konferensi Sanitasi Nasional II 17. Newsletter AMPL, edisi Juli 2008 18. Newsletter AMPL, edisi Agustus 2008 19. Alwi Shahab, Batavia Kota Banjir, Penerbit Republika, Jakarta 2009, cetakan pertaman, halaman 48 20. HCC Clckener Brouson, Batavia Awal Abad 20, Penerbit Komunitas Bambu, Jakarta Januari 2004, halaman 21 21. Tawalinuddin Haris, Kota dan Masyarakat Jakarta, Penerbit Wedatama Widya Sastra, Jakarta 2007, halaman 148 22. Adolf Heuken, Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta, Jilid II, Pencetak PT Enka Parahiyangan, Jakarta 2000, cetakan Pertama, halaman 38

Sugeng Abdullah (2010), “Sejarah Kesehatan Lingkungan” - 16

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->