Anda di halaman 1dari 32

1

MEMBANGUN PERDAMAIAN MELALUI TRANSFORMASI KONFLIK


A. Pengertian HAM dan Implementasinya dalam Kehidupan Bermasyarakat.

1. Pengertian HAM
Konsepsi HAM dapat dilihat secara teologis berupa relativitas manusia dan kemutlakan Tuhan. Konsekuensinya, tidak ada manusia yang dianggap menempati posisi lebih tinggi, karena hanya satu yang mutlak dan merupakan prima facie, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Semua manusia memiliki potensi untuk mencapai kebenaran, tetapi tidak mungkin kebenaran mutlak dimiliki oleh manusia, karena yang benar secara mutlak hanya Tuhan.1 Oleh karenanya, batasan tentang HAM sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. 2 Konsep HAM yang diatur dalam Pasal 28 I ayat (1) UUD 1945, Undang undang Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM dan Undang undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM dan Konvensi-konvensi Jenewa dan Protokol tambahannya merupakan norma hukum yang digunakan untuk menjamin HAM yang merupakan pemberian Tuhan Yang Maha Esa, yang melekat pada diri manusia itu dan tidak boleh dikurangi atau dirampas oleh siapapun. Hak Asasi Manusia disingkat HAM pada hakikatnya adalah seperangkat ketentuan atau aturan untuk melindungi warga negara dari penindasan, pemasungan, dan atau pembatasan ruang gerak warga negara oleh negara. Artinya ada pembatasan-pembatasan tertentu yang dilakukan oleh negara atas hak-hak warga negara yang paling hakiki agar terlindungi dari kesewenang-wenangan kekuasaan.

Jimly Asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi: Serpihan Pemikiran Hukum, Media dan HAM, (Jakarta: Konstitusi Press, 2006), hlm. 227. 2 Lihat Pasal 1 butir (1) UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM), bandingkan juga dengan beberapa definisi HAM menurut berbagai pokok tentang HAM, seperti menurut Jimly Asshiddiqie, Menuju Negara Hukum Demokratis, (Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer, 2009), hlm. 431.

Negara menurut teori Thomas Hobbes dibutuhkan untuk mencegah kesewenang-wenangan pihak yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan terhadap rakyat yang lemah. Hobbes menilai bahwa negara dibutuhkan perannya yang besar agar mampu mencegah adanya homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya). Hobbes memunculkan teori ini karena di masanya ia melihat adanya kesewenang-wenangan terhadap golongan yang lemah, sehingga perlu adanya peran negara untuk mencegah nya. Pengaturan HAM Dalam Konstitusi Pencantuman Hak Asasi Manusia (HAM) dalam UUD 1945 terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu hak asasi manusia klasik, hak asasi manusia sosial dan HAM setelah amandemen UUD 1945. Hal itu terlihat dari isi konstitusi Indonesia, sebagai berikut : a) Pencerminan dari hak asasi manusia klasik, terdiri dari 4 (empat) pasal, yaitu: Pasal 27 ayat (1)3, Pasal 284, Pasal 29 ayat (2)5 dan Pasal Pasal 30 ayat (1) UUD 19456 b) Pencerminan hak asasi manusia sosial terdiri dari 3 (tiga) pasal, yaitu : Pasal 27 ayat (2)7, Pasal 31 ayat (1)8 dan Pasal 34 UUD 19459 c) Pencerminan hak asasi manusia setelah amandemen UUD 1945 terdiri dari 10 (sepuluh) pasal, yakni : Pasal 28A10, Pasal 28B ayat (1) dan (2)11, Pasal 28C ayat (1) dan (2) 12, Pasal 28D ayat (1) s/d (4)13, Pasal 28E14, Pasal 28F15, Pasal 28G ayat (1) s/d (2)16, Pasal
3

Menurut Pasal 27 (1) UUD 1945: Segala warga-negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan daan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. 4 Menurut Pasal 28 UUD 1945: Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya, ditetapkan dengan Undang-undang. 5 Menurut Pasal 29 ayat (2) : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agaman ya dan kepercayaannya itu. 6 Menurut Pasal 30 ayat (1) UUD 1945: Tiap-tiap warga-negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha Pembelaan negara. 7 Menurut Pasal 27 ayat (2) UUD 1945: Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. 8 Menurut Pasal 31 ayat (1) UUD 1945: Tiap-tiap warga-negara berhak mendapat pengajaran. 9 Menurut Pasal 34 UUD 1945: Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. 10 Menurut Pasal 10A UUD 1945: Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. 11 Menurut Pasal 28B ayat (1) dan (2) UUD 1945: (1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. (2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 12 Menurut Pasal 28C ayat (1) dan (2) UUD 1945: (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat

28H ayat (1) s/d (4)17, Pasal 28I ayat (1) s/d (5)18 dan Pasal 28J ayat (1) s/d (2) UUD 194519.

dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. (2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. 13 Menurut Pasal 28D ayat (1) s/d (4) UUD 1945: (1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. (2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. (3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. (4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan. 14 Menurut Pasal 28E ayat (1) s/d (3) UUD 1945: (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya serta berhak kembali. (2) Setiap orang ber hak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. 15 Menurut Pasal 28F UUD 1945: Setiap orang berhak untuk berkomunisasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. 16 Menurut Pasal 28G ayat (1) s/d (2) UUD 1945: (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesutu yang merupakan hak asasi. (2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. 17 Menurut Pasal 28Hayat (1) s/d (4) UUD 1945 : (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. (2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama, guna mencapai persamaan dan keadilan. (3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat. (4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun. 18 Menurut Pasal 28I ayat (1) s/d (5) UUD 1945: (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa-pun. (2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif. (3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban. (4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah. (5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. 19 Menurut Pasal 28J ayat (1) s/d (2) UUD 1945: (1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan

Dalam praktik, penegakan hukum dan HAM juga mengatur prinsip-prinsip HAM dalam Hukum Acara Pidana berdasarkan UU No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), antara lain : 1. Persamaan di muka hukum (equality before the law). Tidak ada perbedaan terhadap setiap orang, baik atas dasar jabatan, agama, suku, golongan, dan sebagainya; 2. Setiap tindakan hukum harus dilakukan atas dasar perintah tertulis dan dilakukan oleh pejabat yang berwenang serta dengan cara yang diatur oleh undang-undang ; 3. Setiap orang yang mengalami tindakan hukum, seperti: penangkapan, penahanan, penuntutan, wajib dianggap tidak bersalah (presumption of innocence) sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap (in craht van gewijdsde) ; 4. Setiap orang yang mengalami tindakan hukum, seperti: penangkapan, penahanan, penuntutan, tanpa alasan yang diatur dalam undang-undang, baik karena kesalahan mengenai orang (error in personan) maupun kekeliruan mengenai hukum yang diterapkan, wajib mendapat ganti-rugi dan rehabilitasi, dan pejabat yang melakukan kekeliruan itu karena kelalaiannya, wajib untuk dituntut berdasarkan hukum administrasi maupun pidana ; 5. Peradilan harus dilakukan dengan cepat, sederhana, dan biaya ringan, serta bebas, jujur dan tidak memihak ; 6. Setiap orang yang mengalami tindakan hukum, diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mendapatkan bantuan hukum dalam rangka melakukan pembelaan terhadap dirinya ; 7. Setiap orang yang mengalami tindakan hukum, sejak awalnya wajib diberitahukan mengenai dasar hukum dari sangkaan atau dakwaan yang dikenakan padanya, termasuk hak untuk menghubungi dan minta bantuan penasihat hukum ; 8. Kecuali terhadap perkara-perkara yang secara hukum dapat dilakukan dengan ketidakhadiran terdakwa (in absentia), maka Pengadilan dilakukan dengan hadirnya terdakwa ; 9. Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum, kecuali dalam hal yang diatur dalam undang-undang ; 10. Pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan.

atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

2. Implementasinya dalam Kehidupan Bermasyarakat.


Terhadap HAM yang tergolong sebagai "non-derogable human rights" yang sama sekali tidak dapat dilanggar atau tidak boleh dikurangi dalam keadaan apa pun, telah secara jelas digaris bawahi oleh Komite PBB tentang HAM dalam August 2001 General Comment No. 29 on Article 4 of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Penegasan mengenai hal ini telah diadopsi ke dalam ketentuan Pasal 28I Ayat (l) UUD l945, yang merupakan non-derogable right (hak asasi yang tidak boleh dilanggar) yaitu : Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. IMPLEMENTASINYA, sekalipun menurut ketentuan Pasal 28I ayat (1) tersebut diatas disebutkan bahwa HAM tersebut tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non-derogable human right), tetapi dalam hal menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh UU.20 Maksudnya untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum.21 Di luar ke-tujuh jenis HAM tersebut, dalam keadaan darurat terutama dalam keadaan darurat perang, semua HAM yang dijamin dalam UUD 1945 dapat di tunda pelaksanaannya atau dibatasi sampai keadaan berubah menjadi normal kembali. Artinya bahwa pelanggaran HAM diluar ke-tujuh HAM tersebut dibenarkan secara hukum didalam negara keadaan darurat, dengan catatan keadaan darurat tersebut harus terlebih dahulu di deklarasikan oleh Presiden kepada publik secara transparan lewat masmedia elektrronik, radio, surat kabar, dan penjelasan dari pejabat daerah dimana akan diberlakukan keadaan darurat tersebut. Pertanyaannya: siapa yang bisa melanggar HAM? Adalah Negara melalui perwakilan Negara/aparat keamanan seperti Polisi, Tentara, yaitu ketika mereka bertindak mewakili negara, bukan secara individu.

20

Pembatasan UU yang dimaksud disini adalah setiap perbuatan yang bertentangan dengan UU harus ditindak tegas sesuai menurut hukum yang berlaku. 21 Lihat Pasal 28J ayat (2) UUD 1945

Dengan kata lain didalam keadaan darurat, aparat keamanan/TNI/Polri dimungkinkan melakukan pelanggaran HAM demi untuk menjaga integritas Negara dan melindungi warga negara dari ancaman bahaya. Namun tidak menutup kemungkinan, negara melalui aparat keamanan dalam melaksanakan tugasnya melakukan pelanggaran HAM, misal dengan sengaja membunuh, menyiksa, memperkosa, dll. Jika hal ini terjadi, maka aparat keamanan tersebut dapat dikualifikasikan telah melanggar HAM yang seharusnya negara bertugas untuk melindungi HAM. Oleh karenanya negara harus mempunyai perangkat hukum untuk mengadili aparat keamanan yang melanggar HAM tersebut. Di Indonesia, aparat yang melakukan pelanggaran HAM diadili di Pengadilan HAM Adhoc Jakarta berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Ini berarti didalam status keadaan darurat, pasal 28J ayat (2) ini bisa dijadikan rujukan dasar untuk membatasi atau melanggar pasal 28I ayat (1) UUD 1945, asalkan ada unsur kesengajaan melakukan pelanggaran HAM terhadap penduduk sipil dan dapat dibuktikan kesalahan tersebut. Sedangkan terhadap keadaan normal, apapun alasannya dilarang melakukan pelanggaran HAM. Menurut ketentuan pasal 28J ayat (2) UUD 1945 berisi dua ayat, yang pertama mengatur tentang kewajiban asasi setiap orang untuk menghormati hak asasi manusia orang lain, kedua mengenai pelaksanaan dan perwujudan hak dan kebebasan asasi manusia itu wajib tunduk kepada pembatasan UU.22 Menunjukan bahwa dengan kehadiran pasal 28J ayat (2) tersebut mengakibatkan pasal 28I ayat (1) menjadi bersifat relatif. Artinya ketujuh hak asasi manusia tersebut menjadi dapat dilanggar dalam keadaan hukum darurat. Hal ini lebih dipertegas lagi dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi 23 menyatakan bahwa Konstitusi Indonesia tidak menganut asas kemutlakan HAM. Menurut Mahkamah Konstitusi, hak asasi yang diberikan oleh konstitusi kepada warga negara mulai dari pasal 28A hingga 28I Bab XA UUD 1945 dibatasi oleh pasal selanjutnya yang merupakan pasal kunci yaitu pasal 28J, bahwa hak asasi

22

Menurut Pasal 28 J UUD 1945 tersebut berisi : 1). Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 2). Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. 23 Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut diucapkan oleh majelis hakim yang di ketuai oleh Jimly Asshiddiqie pada hari Selasa tanggal 30 Oktober 2007 di Jakarta.

seseorang digunakan dengan harus menghargai dan menghormati hak asasi orang lain demi berlangsungnya ketertiban umum dan keadilan sosial. Dengan kehadiran ketentuan pasal 28J UUD 1945, dihubungkan dengan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, menjadikan ketentuan pasal 28I ayat (1) menjadi lemah, atau bersifat relatif. Artinya, semutlak-mutlaknya sifat mengikat dari norma hukum konstitusi sebagai hukum tertinggi itu menjadi bersifat relatif. Sebab menurut pasal 28J tersebut justru setiap orang (tanpa kecuali) wajib menghormati hak asasi orang lain yang ditetapkan oleh UU. Jika hal ini tidak dibatasi akan terjadi tindakan semena-mena yang akhirnya bersifat anarchis seperti dalam praktik sekarang sering terjadi demonstrasi yang mengarah kepada tindakan premanisme dan brutalisme. Oleh karenanya, saya berpendapat bahwa ketentuan Pasal 28I Ayat (l) UUD 1945 itu sebenarnya tunduk kepada ketentuan sesudahnya, yaitu Pasal 28J Ayat (2) UUD 1945. Dibatasinya hak untuk hidup ini menurut saya semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain 24. Namun saya tetap sependapat bahwa terhadap status hukum keadaan darurat, pelanggaran terhadap ke-tujuh HAM sebagaimana diatur dalam pasal 28I ayat (1) UUD 1945 sedapat mungkin harus dihindari, sesuai ketentuan dalam Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahannya.

B. Dampak Konflik terhadap Terjadinya Pelanggaran HAM


HAM tanpa pembatasan UU akan menimbulkan terjadinya berbagai pelanggaran HAM, baik terhadap hak-hak sipil, politik, ekonomi maupun sosial budaya masyarakat. Hak asasi manusia terbagi dalam dua kelompok. Pertama: terdiri dari kelompok hak sipil dan politik. Kedua: kelompok hak ekonomi, sosial dan budaya. 1. Kelompok Hak Sipil dan Politik: KOVENAN Internasional Hak-hak Sipil dan Politik atau International Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR) merupakan produk Perang Dingin. Kovenan ini merupakan hasil dari kompromi politik yang keras antara kekuatan negara blok Sosialis melawan kekuatan negara blok Kapitalis. Situasi ini mempengaruhi proses legislasi perjanjian internasional hak asasi manusia yang ketika itu sedang digarap Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Akibatnya terjadi pemisahan antara kategori hak-hak sipil dan politik dengan hak-hak dalam kategori ekonomi, sosial dan budaya. Kovenan menyangkut Internasional Hak-hak Ekonomi,
24

Binsar Gultom, Hukuman Mati Punya Legitimasi Konstitusional, (Kompas: 6 Oktober 2004).

Sosial dan Budaya disebut International Covenan on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR). Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR) telah diratifikasi oleh 141 Negara. Itu artinya tidak kurang dari 95% negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang berjumlah 159 Negara itu telah menjadi Negara Pihak (State Parties) dari kovenan tersebut. Indonesia di bawah pemerintahan Megawati Soekrnoputri, telah meratifikasi kovenan ini pada tahun 2004 melalui UU No. 12 Tahun 2004. Dengan demikian Kovenan ini telah menjadi bagian dari hukum nasional kita (the land of the law). ICCPR memuat ketentuan pembatasan penggunaan kewenangan aparatur yang bersifat represif negara. Hak-hak yang terhimpun di dalam Kovenan ini juga sering disebut sebagai hak-hak negatif (negative rights). Artinya, hak-hak dan kebebasan yang dijamin di dalamnya akan dapat terpenuhi, apabila peran negara terbatasi atau terlihat minus. Tetapi apabila negara berperan intervensionis, maka hak-hak dan kebebasan yang diatur di dalamnya akan dilanggar oleh negara. Inilah yang membedakannya dengan model legislasi Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR) yang justeru menuntut peran maksimal negara. Negara justeru melanggar hak-hak yang dijamin di dalamnya apabila negara tidak berperan secara aktif atau menunjukkan peran yang minus. ICESCR karena itu sering juga disebut sebagai hakhak positif (positive rights). Terdapat dua klasifikasi terhadap hak-hak dan kebebasan dasar yang tercantum dalam ICCPR itu, antara lain : Kelompok pertama adalah hak-hak dalam jenis non-derogable, yaitu hak-hak yang bersifat absolut yang tidak boleh dikurangi pemenuhannya oleh Negaranegara Pihak, walaupun dalam keadaan darurat. Hak-hak yang termasuk dalam non derogable, seperti: (i) hak atas hidup; (ii) hak bebas dari penyiksaan; (iii) hak bebas dari perbudakan; (iv) hak bebas dari penahanan karena gagal memenuhi perjanjian (utang); (v) hak bebas dari pemidanaan yang berlaku surut; (vi) hak sebagai subyek hukum; dan (vii) hak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan agama. Ketentuan ini telah diadopsi Pasal 28I ayat (1) UUD 1945. Negara-negara Pihak yang melakukan pelanggaran terhadap hak-hak dalam jenis ini, seringkali mendapat kecaman sebagai negara yang telah melakukan pelanggaran serius hak asasi manusia (gross violation of human rights). Kelompok kedua adalah hak-hak dalam jenis derogable, yakni hak-hak yang boleh dikurangi atau dibatasi pemenuhannya oleh Negara-negara Pihak. Hak dan kebebasan yang termasuk dalam jenis ini, seperti: (i) hak atas kebebasan berkumpul secara damai; (ii) hak atas berserikat; termasuk membentuk dan menjadi anggota

serikat buruh; dan (iii) hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekspresi; termasuk kebebasan mencari, menerima dan memberikan informasi dan segala macam gagasan tanpa memperhatikan batas (baik melalui lisan atau tulisan). Berdasarkan penjelasan diatas, Negara-negara pihak ICCPR diperbolehkan mengadakan penyimpangan atas kewajiban dalam memenuhi hak-hak tersebut. Tetapi penyimpangan itu hanya dapat dilakukan apabila sebanding dengan ancaman yang dihadapi dan tidak bersifat diskriminatif, yaitu demi: (i) menjaga keamanan nasional atau ketertiban umum atau kesehatan atau moralitas umum; dan (ii) menghormati hak atau kebebasan orang lain. Prof. Rosalyn Higgins25 menyebut ketentuan ini sebagai ketentuan clawback, yang memberikan suatu keleluasaan yang dapat disalahgunakan oleh negara.26 Untuk menghindari hal ini, ICCPR menggariskan bahwa hak-hak tersebut tidak boleh dibatasi melebihi dari yang ditetapkan oleh Kovenan ini. Selain diharuskan juga menyampaikan alasan-alasan mengapa pembatasan tersebut dilakukan kepada semua Negara Pihak pada ICCPR. Tanggung jawab perlindungan dan pemenuhan atas semua hak dan kebebasan yang dijanjikan di dalam Kovenan ini adalah di pundak Negara, khususnya yang menjadi Negara Pihak pada ICCPR. Hal ini ditegaskan pada Pasal 2 (1) yang menyatakan: Negara-negara Pihak diwajibkan untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini, yang diperuntukkan bagi semua individu yang berada di dalam wilayah dan tunduk pada yurisdiksinya tanpa diskriminasi macam apa pun. Kalau hak dan kebebasan yang terdapat di dalam Kovenan ini belum dijamin dalam yurisdiksi suatu negara, maka negara tersebut diharuskan untuk mengambil tindakan legislatif atau tindakan lainnya yang perlu guna mengefektifkan perlindungan hak-hak itu (Pasal 2 (2). Perlu diketahui, tanggung jawab negara dalam konteks memenuhi kewajiban yang terbit dari ICCPR ini, adalah bersifat mutlak dan harus segera dijalankan (immediately). Singkatnya hak-hak yang terdapat dalam ICCPR ini bersifat justiciable. Hal ini yang membedakan antara ICCPR dengan tanggung jawab negara dalam konteks memenuhi kewajiban dari ICESCR, yang tidak harus segera dijalankan pemenuhannya. Tetapi secara bertahap (progressively), dan karena itu bersifat non-justiciable. Kewajiban Negara yang lainnya, adalah kewajiban memberikan tindakan pemulihan bagi para korban pelanggaran hak atau kebebasan yang terdapat dalam

25

Lihat Rosalyn Higgins, Derogations under Human Rights Treaties, (1979), 48, British Yearbook of International Law, 281-320. 26 Ketentuan pembatasan hak ini sangat diwaspadai oleh aktifis dan ahli-ahli hukum hak asasi manusia internasional agar tidak disalahgunakan oleh negara-negara.

10

Kovenan ini secara efektif. Sistem hukum suatu negara diharuskan mempunyai perangkat yang efektif dalam menangani hak-hak korban tersebut. Penegasan mengenai hal ini tertuang pada Pasal 3, yang menyatakan sebagai berikut: (a) menjamin bahwa setiap orang yang hak atau kebebasan sebagaimana diakui dalam Kovenan ini dilanggar, akan mendapat pemulihan yang efektif, meskipun pelanggaran itu dilakukan oleh orang yang bertindak dalam kapasitas resmi; (b) menjamin bahwa bagi setiap orang yang menuntut pemulihan demikian, haknya atas pemulihan tersebut akan ditetapkan oleh lembaga peradilan, administrasi, atau legislatif yang berwenang, atau lembaga lain yang berwenang, yang ditentukan oleh sistem hukum Negara tersebut, dan untuk mengembangkan kemungkinan pemulihan yang bersifat hukum; (c) menjamin bahwa lembaga yang berwenang akan melaksanakan pemulihan tersebut apabila dikabulkan. Catatan: Ingat kasus pelanggaran HAM berat Tanjung Priok Tahun 1984 pernah dikabulkan Kompensasi terhadap korban pelanggaran HAM oleh Pengadilan HAM Adhoc tingkat pertama, sekalipun akhirnya para korban pelanggaran HAM berat tersebut gagal menerimnya, setelah pengadilan diatasnya membebaskan para terdakwa tersebut. Mekanisme Pengaduan Individual Mekanisme ini diperuntukkan bagi individu yang menjadi korban pelanggaran hak dan kebebasan yang dilindungi ICCPR. Komite dapat menerima pengaduan, jika Negara-negara Pihak ICCPR terlebih dahulu telah menerima kewenangan Komite. Prosedur kerja Komite dalam menerapkan mekanisme ini bersifat tertulis dan rahasia. Artinya Komite hanya mempertimbangkan suatu pengaduan yang disampaikan secara tertulis kepadanya. Begitu selesai memeriksa bukti-bukti tertulis yang dihadapinya, Komite menyampaikan pandangannya berkenaan dengan pengaduan tersebut kepada negara dan individu yang bersangkutan. Selain diharuskan menyampaikannya ke ECOSOC dan Majelis Umum PBB. Berdasarkan pengalaman Komite dan sesuai prosedur yang ditetapkan dalam Protokol Opsional, pengaduan yang diterima dan dipertimbangkan oleh Komite adalah pengaduan yang memenuhi beberapa syarat berikut ini: 1. Pengaduan tertulis itu harus berasal dari individu yang menyatakan diri sebagai korban; 2. Pengaduan tertulis itu tidak sedang dipertimbangkan melalui prosedur penyidikan atau prosedur penyelesaian internasional lain apapun;

11

3. Korban harus menunjukkan bahwa ia telah mengupayakan semua prosedur hukum yang tersedia di negaranya (exhaustion of domestic remedies); 4. Pengaduan tertulis itu harus didukung oleh fakta yang kuat. Yang paling mendesak dibahas disini adalah syarat yang pertama: Apakah hanya individu yang menjadi korban saja yang boleh menyampaikan pengaduan tertulis kepada Komite? Kemudian syarat ketiga sangat erat kaitannya dengan berbagai kasus pelanggaran HAM masalalu di Indonesia. Dalam pengalaman atau jurisprudensi, Komite selain pengaduan korban dapat diterima, juga dapat menerima pengaduan yang disampaikan oleh wakil atau pihak ketiga atas nama korban. Dalam praktik kasus Massera v Uruguay,27 Komite menerima baik suatu pengaduan tertulis yang disampaikan oleh seorang perempuan yang menuduh bahwa suami, ibu dan ayah tirinya telah ditahan dan disiksa dengan sewenang-wenang di Uruguay, dengan menyatakan: Penulis pengaduan ini dapat dibenarkan untuk bertindak atas nama para korban seperti yang dituduh dengan alasan adanya hubungan keluarga dekat. Pandangan Komite ini telah menjadi rujukan dalam kasus-kasus berikutnya, dan telah memastikan bahwa pihak ketiga yang mewakili korban itu tidak harus merupakan keluarga dekat si korban. Si penulis pengaduan cukup membuktikan adanya suatu kepentingan dalam tindakan hukumnya itu. Sedangkan untuk syarat ketiga dapat dilihat dalam praktik di Indonesia. Terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu yang sudah selesai diselidiki oleh Komnas HAM seperti: dugaan pelanggaran HAM Trisakti Semanggi I dan II, Kerusuhan Mei 1998, penculikan aktivis, kasus Talangsari, Kasus Wamena dan Waisordi Papua, sampai sekarang belum dapat ditindak lanjuti oleh Kejaksaan Agung untuk dimejahijaukan ke Pengadilan HAM. Kasus seperti ini jika ada yang berkeberatan, bisa saja dilaporkan kepada Komisi ICCPR untuk ditindak lanjuti. Dampak Pelanggaran HAM terhadap Hak-hak sipil Contoh kasus kebrutalan massa/warga Koja, Tanjung Priok untuk mempertahankan makam Mbah Priok yang terjadi hari Rabu tanggal 14 April 2010 hingga menimbulkan korban jiwa meninggal, luka berat dan ringan serta harta benda, kasus penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik dan Temanggung dewasa ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Indonesia agar mampu secara profesional menyelesaikan berbagai kerusuhan berdarah di daerah konflik tersebut.

27

Lihat Massera v Uruguay, Communication No. R 1/5. (1980) 1, Human Rights Law Journal.

12

Dampak Pelanggaran HAM terhadap hak Politik Contoh: kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur Tahun 1999 dan Tanjung Priok Tahun 1984. Untuk kasus Timor Timur 1999. Kasus ini timbul, akibat kebijakan politik Pemerintah BJ. Habibie mengeluarkan opsi merdeka atau integrasi terhadap masyarakat Timor Timur. Untuk kasus Tanjung Priok 1984 Kasus ini terjadi, akibat kebijakan politik Pemerintah Orde Baru mantan Presiden Soeharto memberlakukan asas Tunggal Pancasila, larangan Keluarga Berencana (KB) dan larangan berjilbab. Jika perbuatan itu dilakukan secara sistematis atau meluas, maka dapat dikategorikan perbuatan tersebut merupakan pelanggaran HAM. Menurut Pasal 9 UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM dijelaskan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa: (a). pembunuhan; (b). pemusnahan; (c). perbudakan; (d). pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa; (e). perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional; (f). penyiksaan; (g). perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara; (h). penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional; (i). penghilangan orang secara paksa; atau (j). kejahatan apartheid.

2. Kelompok Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya BERBEDA dengan hak-hak sipil dan politik. Advokasi terhadap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya tidak terartikulasi dengan baik dalam gerakan advokasi hak asasi manusia. Selama ini gerakan advokasi hak asasi manusia lebih menekankan pada isu-isu sekitar hak-hak sipil dan politik (civil liberties). Sementara advokasi terhadap isu-isu hak ekonomi, sosial dan budaya kurang mendapat perhatian yang memadai. Fenomena ini bukan hanya di Indonesia, melainkan sudah merupakan fenomena global. Organisasi-organisasi hak asasi manusia Internasional seperti Amnesty Internasional atau Human Rights Wacht, mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengarahkan gerakan advokasi hak asasi manusia itu terpusat pada hak-

13

hak sipil dan politik.28 Sekarang saatnya kecenderungan ini dirubah, dengan meletakkan ke dalam perspektif indivisibility, yaitu meletakkannya ke dalam salingkaitan antara kedua kategori hak tersebut. Bukan memisah-misahkannya seperti sebelumnya. Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya merupakan bagian yang esensial dalam hukum hak asasi manusia internasional. Bersama-sama dengan hak-hak sipil dan politik ia menjadi bagian dari the international bill of human rights. Ia menjadi acuan pencapaian bersama dalam pemajuan ekonomi, sosial dan budaya. Dengan demikian hak-hak ekonomi, sosial dan budaya tidak dapat ditempatkan di bawah hak-hak sipil dan politik. Pengikatan terhadap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya itu diwujudkan dengan mempositifikasikan hak-hak tersebut ke dalam bentuk perjanjian multilateral (treaty). Rumusannya tertuang dalam Kovenan Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang dalam bahasa aslinya dikenal dengan Covenan on Economic, Social and Cultural Rights (selanjutnya disingkat CESCR), yang disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1966bersama-sama dengan Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik. Kedua kovenan ini dilahirkan secara bersamaan, sebagai bentuk kompromi dari pertentangan pada saat perumusannya ketika itu.29 Negara-negara yang telah menjadi pihak pada Kovenan Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya itu, dimana Indonesia telah meratifikasinya berdasarkan UU No. 11 Tahun 2005, hingga kini telah berjumlah 142 Negara.30 Sebagian ahli hukum hak asasi manusia Internasional menganggap, perjanjian dengan karakter yang demikian ini, telah memiliki kedudukan sebagai bagian dari hukum kebiasaan Internasional (international customary law);31 ia mengikat setiap negara dengan atau tanpa ratifikasi.

28

Tinjauan yang tajam mengenai fenomena ini dipaparkan oleh Christ Jochnick dalam tulisannya, A New Generation of Human Rights Activism (Human Rights Dialague: Carnegie Council,1997). 29 Pada saat perumusannya, para perancangnya berupaya merumuskan sebuah international bill of human rights, yang mencakup kedua kategori hak tersebut. Bukan memisahkannya ke dalam dua kovenan. Tetapi karena pertentang politik pada saat itu, yang berada dalam atmosfir Perang Dingin, akhirnya dipisahkan menjadi dua kovenan. Uraian ringkas mengenai ini dapat dibaca dalam Thomas Buergental, International Human Rights in A Nutshell (Wset Publising Co, 1995). 30 Menurut data ratifikasi yang dikeluarkan PBB, hingga tanggal 15 Juni 2000 CESCR telah diratifikasi oleh 142 Negara dan ditandatangani oleh 61 Negara. Lihat, Millenium Summit Multilateral Treaty Framework (New York: United Nations, 2000). 31 Argumen seperti ini diajukan dan dipertahankan oleh, di antaranya, yang paling vokal adalah Prof. Lois B. Sohn dan Browlie. Lihat Lois B. Sohn & T. Buergental, International Protection of Human Rights, 1973; dan Ian Browlie, Principles of Public International Law (New York: Oxford University Press, 1990).

14

Perbedaan tajam antara ICESCR dengan ICCPR adalah: bahwa hak-hak ekonomi, sosial dan budaya merupakan hak-hak positif (positive rights), sementara hak-hak sipil dan politik dikatakan sebagai hak-hak negatif (negative rights).32 Dikatakan positif, karena untuk merealisasi hak-hak yang diakui di dalam kovenan tersebut diperlukan keterlibatan negara yang besar. Negara di sini haruslah berperan aktif. Sebaliknya dikatakan negatif, karena negara harus abstain atau tidak bertindak dalam rangka merealisasikan hak-hak yang diakui di dalam kovenan. Peran negara di sini haruslah pasif. Hak-hak negatif itu dirumuskan dalam bahasa freedom from (kebebasan dari), sedangkan hak-hak dalam kategori positif dirumuskan dalam bahasa rights to (hak atas). Kedua kategori hak ini menuntut tanggung jawab negara yang berbeda. Kalau hak-hak ekonomi, sosial dan budaya menuntut tanggung jawab negara --meminjam istilah yang digunakan Komisi Hukum Internasional-dalam bentuk obligations of result, sedangkan hak-hak sipil dan politik menuntut tanggung jawab negara dalam bentuk obligations of conduct. Sebagai hak-hak positif, maka hak-hak ekonomi, sosial dan budaya tidak dapat dituntut di muka pengadilan (non-justiciable). Sebaliknya dengan hak-hak sipil dan politik, sebagai hak-hak negatif ia dapat dituntut di muka pengadilan. Misalnya, orang yang kehilangan pekerjaannya tidak dapat menuntut negara ke muka pengadilan, karena pelanggaran tersebut. Disini Negara/Pemerintah dapat menciptakan lapangan kerja secara bertahap untuk memulihkan masa depan masyarakat Indonesia. Sebaliknya, orang yang disiksa oleh aparatur negara dapat dengan segera menuntut tanggung jawab negara atas pelanggaran tersebut ke muka pengadilan. Disamping membedakannya dengan cara positif dan negatif, juga dibuat perbedaan secara ideologis. Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya dikatakan bermuatan ideologis, sementara hak-hak sipil dan politik bermuatan non-ideologis. Artinya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya hanya dapat diterapkan pada suatu sistem ekonomi tertentu, sedangkan hak-hak sipil dan politik dapat diterapkan untuk semua sistem ekonomi atau pemerintahan apapun. Untuk lebih jelasnya, persepsi umum ini dapat diringkas dalam bentuk tabel di bawah ini. Gambaran ini merupakan ringkasan/penyederhanaan dari kompleksitas perbedaan yang dibuat atas kedua kategori hak tersebut.

32

Lihat Vierdag, The Legal Nature of the Rights Granted by the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights, Netherlands Yearbook of International Law 1978, 69-105.

15

Tabel 1: Perbedaan ICESCR dan ICCPR 33

Hak-hak Ekonomi (ICESCR)

Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR)

Dicapai secara bertahap

Dicapai dengan segera

Negara bersifat aktif

Negara bersifat pasif

Tidak dapat diajukan ke Pengadilan

Dapat diajukan ke Pengadilan

Bergantung pada sumberdaya

Tidak bergantung pada sumberdaya

Ideologis

Non-ideologis

Ternyata, hak-hak ekonomi, sosial dan budaya tidak sepenuhnya merupakan hak-hak positif. Sebab cukup banyak hak-hak yang diakui di dalamnya menuntut negara agar tidak mengambil tindakan (state abstention) guna melindungi hak tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada klausul-klausul seperti hak berserikat, hak mogok, kebebasan memilih sekolah, kebebasan melakukan riset, larangan menggunakan anak-anak untuk pekerjaan berbahaya, dan seterusnya, yang terdapat di dalam CESCR. Ketentuan-ketentuan itu menunjukkan dengan gamblang, bahwa yang diatur di dalam CESCR bukan hanya hak-hak dalam jenis rights to, tetapi juga hak-hak dalam jenis freedom from. Di Indonesia sudah meratifikasi kovenan ini. Tentu saja langkah legal ini harus diikuti dengan langkah yang lain, seperti melakukan kampanye, kajian dan monitoring atas situasi hak-hak yang dijamin dalam Kovenan ini di Indonesia. Apalagi isu hak-hak ekonomi, sosial dan budaya ini belum begitu familiar dengan para aktivis hak asasi manusia, yang lebih familiar dengan hak-hak sipil dan politik.

33

Sumber: van Hoof, The Legal Nature of Economic, Social and Cultural Rights: A Rebuttal of Some Traditional Views, 1984; Vierdag, The Legal Nature of the Rights Granted by the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights, 1978.

16

Dampak Pelanggaran HAM terhadap hak Ekonomi, Sosial dan Budaya Pelanggaran atas hak-hak asasi di bidang hak ekonomi sosial budaya terjadi bilamana korupsi terjadi pada kebijakan yang diambil pemerintah yang menyebabkan menguntungkan perusahaan besar dan meminggirkan masyarakat adat yang telah menghuni kawasan tersebut turun temurun, kerusakan lingkungan, dll. Situasi konflik tersebut telah dimanfaatkan oleh golongan yang berwatak kapitalis untuk melangsungkan kepentingan ekonominya. Berbagai macam dalih dan alasan yang digunakan untuk meloloskan kepentingannya. Dengan dalih developmentalisme, situasi konflik semakin memuluskan kepentingan pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Contoh Hak Ekonomi adalah hak untuk mendapatkan upah yang layak, tidak adanya monopoli dalam sistem ekonomi yang berlaku. Sedangkan di bidang ekonomi masih tampak dikuasai oleh segelintir orang (konglomerat) yang menunjukkan belum adanya kesempatan yang sama untuk berusaha. Salah satu contoh dari pelanggaran ini adalah konflik Kebumen antara warga dengan aparat TNI, yaitu masalah kepemilikan tanah yang diduga menjadi bisnis penambangan pasir besi oleh pihak TNI awal April 2011, mengakibatkan 4 orang tertembak dan lima orang lainnya luka parah. Kondisi tersebut merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia begitu sulit untuk keluar dari krisis politik, ekonomi dan sosial. Ini berarti harus diakui bahwa dalam pelaksanaan hak-hak sipil masih banyak terjadi pelanggaran dalam berbagai bidang kehidupan. Contoh Hak sosial adalah perlakuan yang sama dibidang hukum antara orang kecil (miskin) dengan orang besar (kaya), hak atas pelayanan kesehatan, hak atas bantuan kemanusiaan bagi orang yang mengalami musibah, toleransi dalam masyarakat terhadap perbedaan atau latar belakang agama dan ras warga negara Indonesia. Contoh Hak budaya, adalah hak untuk menikmati hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hak untuk mengembangkan kebudayaan. Dalam masyarakat juga masih tampak kurang adanya toleransi terhadap perbedaan agama, ras dan etnis. Berbagai konflik dalam masyarakat paling tidak dipermukaan bumi masih sering terdapat nuansa SARA. Negara mempunyai tanggung jawab utama dan berkewajiban untuk melindungi hak sipil dan politik, dan mengembangkan hak ekonomi, sosial, dan budaya warganegaranya. Bila negara tidak bisa memenuhi tanggungjawab ini, maka dapat dikatakan negara telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Misalnya, apabila tindakan kriminal merajalela terhadap penduduk. Tidak ada sarana

17

pelanyanan sosial seperti pusat pelayanan kesehatan untuk masyarakat dan sekolah, maka negara sedang melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Sekarang ini sudah menjadi trend bahwa setiap kali terjadi kerusuhan berdarah, konflik horizontal (antara masyarakat) atau vertikal (antara masyarakat dengan aparat pemerintah) apakah itu di berlakukan status hukum keadaan darurat (emergency de jure), atau tidak (emergency de facto) pasti terdapat banyak korban meninggal dunia, luka-luka, cacat dari pihak sipil atau pihak militer/kepolisian. Hal ini terjadi karena ketidak-profesionalitasan aparat keamanan melaksanakan berbagai tugas yang di bebankan kepadanya atau karena penyalah-gunaan kewenangan atau mungkin tidak adanya persiapan matang dari pemerintah lewat intelijen tidak berfungsi bahkan para Kapolsek atau Danramil yang seharusnya bertugas secara efektif di lapangan menjaga keamanan warga masyarakat tidak diberdayakan secara optimal. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran hak-hak sipil di Indonesia Faktor - faktor penyebabnya antara lain: 1. Masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep hak-hak sipil antara paham yang memandang hak asasi manusia bersifat universal (universalisme) dan paham yang memandang setiap bangsa memiliki paham hak asasi manusia tersendiri berbeda dengan bangsa yang lain terutama dalam pelaksanaannya (partikularisme). 2. Kurangnya pemahaman tentang HAM di kalangan militer, terlihat dari sikapnya yang bertindak tidak proporsional, represif, bahkan nyaris seperti menghadapi musuh dengan menggunakan peluru tajam yang mematikan ketika berhadapan dengan para demonstran yang sedang menyuarakan pendapatnya. Misal dalam kasus pelanggaran HAM berat Tanjung Priok Tahun 1984. 3. Upaya untuk menempatkan militer hanya pada fungsi pertahanan dan Polri pada fungsi keamanan merupakan bukti bahwa militer sering terjebak pada pelanggaran hak asasi manusia. Demikian halnya dengan Polri yang telah lama dididik dengan pola militer, masih terlihat dengan jelas perilaku Polri dalam menangani masalah-masalah ketertiban masyarakat lebih mengandalkan represif dan mengedepankan kekerasan fisik. Mestinya perilaku Polri dalam upaya menertibkan masyarakat lebih mengedepankan fungsi penegakan HAM. Pelanggaran hak asasi manusia oleh pihak negara, baik berupa acts of commission (perbuatan aktif) maupun acts of ommission (perbuatan passif), dapat

18

dilihat dalam hal kegagalannya untuk memenuhi tiga jenis kewajiban yang berbeda, yaitu:34 1. Kewajiban untuk menghormati: semua kebijakan yang dikeluarkan oleh Negara harus di hormati oleh negara termasuk institusi dan aparatur negara. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak melakukan tindakan yang dapat melanggar keutuhan dari individu atau kelompok; atau melanggar kemerdekaan seseorang. Ingat opsi merdeka Timor Timur oleh Presiden BJ. Habibie, telah mengakibatkan terjadinya seperti: a. Pembunuhan di luar koridor hukum (pelanggaran atas kewajiban menghormati hak-hak individu untuk hidup); b. Penahanan sewenang-wenang (pelanggaran atas kewajiban untuk menghormati hak-hak individu untuk bebas), contoh kasus Tanjung Priok 1984. c. Pelarangan serikat buruh (pelanggaran atas kewajiban untuk menghormati kebebasan kelompok untuk berserikat), contoh kasus pembunuhan Marsinah. d. Pembatasan atas praktik dari satu agama tertentu (pelanggaran atas kewajiban untuk menghormati hak-hak kebebasan beragama individu). 2. Kewajiban untuk melindungi: kewajiban dimana negara beserta aparatur negara wajib melakukan tindakan seperlunya untuk melindungi dan mencegah seorang individu atau kelompok untuk melanggar hak individu atau kelompok lainnya. Termasuk perlindungan atau pelanggaran terhadap kebebasan seseorang. Seperti : a. Kegagalan untuk bertindak, mengatasi penyerangan antara kelompok etnis dengan kelompok lain. Contoh: kasus penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik dan Temanggung. b. Kegagalan untuk memaksa perusahaan untuk membayar upah yang tepat. 3. Kewajiban untuk memenuhi: negara mempunyai kewajiban untuk melakukan tindakan-tindakan yang menjamin setiap orang untuk memiliki hak hukum dalam memenuhi kebutuhan yang termasuk dalam instrumen HAM.

34

Lihat Pasal 8, Pasal 71, dan Pasal 72 UU No. 39/1999 tentang HAM dimana Negara mempunyai kewajiban untuk menghormati, melindungi dan memenuhi HAM melalui implementasi dalam berbagai bentuk kebijakan.

19

Seperti: a. b. c. Kegagalan untuk memenuhi sistem perawatan kesehatan dasar; Ingat pelayanan ASKES. Kegagalan untuk mengimplementasikan satu sistem pendidikan gratis pada tingkat Sekolah Dasar. Sampai sekarang negara/pemerintah belum berhasil memberikan hak-hak terhadap korban. Yang diperhatikan selama ini hanyalah hak-hak pelaku/terdakwa kejahatan.

C. Pendekatan dan Strategi dalam Membangun Perdamaian Berbasis HAM 1. Langkah Secara Politis Dengan Berbagai Pendekatan a) Pendekatan Persuasif/Islah Islah memiliki landasan filosofis dan teologis yang mengarah pada pemulihan harkat dan martabat semua pihak yang terlibat, mengganti suasana konflik dengan perdamaian, menghapus hujat - menghujat dengan permaafan, menghentikan tuntut menuntut dan salah menyalahkan. Klarifikasi yang diinginkan adalah tidak melalui meja pengadilan, melainkan melalui meja perdamaian dan perundingan. 35 Islah merupakan pilihan yang sifatnya voluntaristik, suka rela dan tanpa paksaan. Kedua belah pihak, baik korban maupun pelaku sama-sama dalam posisi tidak saling menekan dan memilih secara bebas jalan menuju damai. Islah dalam prakteknya adalah bersifat pribadi dan bilateral antara pelaku dan korban. Dalam hal pelaku dan korban jumlahnya lebih dari satu, maka tetap islah ini dalam koridor perdamaian dua belah pihak. Namun, Islah inipun bersifat privat atau pribadi dan tidak bisa dilakukan penyamarataan terhadap semua Korban atau pelaku. Konteks islah dalam kasus Tanjung Priok 12 April 1984 sendiri tidak lepas dari adanya beberapa perubahan persepsi dari korban dalam hal mencari keadilan terhadap kasus Tanjung Priok yang menimpa mereka. Dalam dokumen piagam islah kasus Tanjung Priok jelas terlihat bahwa adanya perubahan persepsi dari korban kasus Tanjung Priok dalam melihat permasalahan peristiwa Tanjung Priok. Perubahan cara pandang juga terlihat dalam hal bagaimana seharusnya kasus Tanjung Priok ini akan diselesaikan. 36

35 36

A. Yani Wahid, Islah, Resolusi konflik untuk rekonsiliasi, (Kompas: 16 Maret 2001). Lihat Piagam Islah tentang Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, tertanggal 1 Maret 2001. Pada bagian isi piagam tersebut menunjukkan secara jelas bahwa adanya kesadaran dan perubahan pemahaman dan penyikapan atas kasus Tanjung Priok 25 Tahun yang silam oleh para korban dan pelaku.

20

Secara eksplisit dapat disimpulkan bahwa isi dari piagam islah tersebut tidak berniat menghentikan atau adanya pernyataan bahwa para pihak tidak menyetujui proses pengadilan terhadap para terdakwa. Hal ini menunjukkan bahwa islah yang dijalankan adalah persolan privat (personal) antara para pihak dan tidak ada korelasinya dengan proses peradilan yang sedang berjalan. Dengan pemahaman seperti ini, tidak ada alasan yang kuat untuk menjadikan islah sebagai mekanisme penyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat dan menggugurkan atau meniadakan proses penuntutan kepada para terdakwa melalui mekanisme pengadilan pidana Indonesia. 37 Pangdam V Jaya Try Sutrisno, dkk pernah menggalang perdamaian (islah) dengan beberapa korban dan keluarga korban peristiwa Tanjung Priok yang diwakili oleh Syarifuddin Rambe, dkk. Mereka membuat Piagam Perdamaian yang di tandatangani bersama pada tanggal 1 Maret 2001. Dalam islah ini ada pihak yang pro-islah dan kontra-ishlah. Para warga yang sepakat islah telah menerima bantuan dari pihak Kodim Jakarta Utara yang diwakili oleh Pangdam V Jaya Try Sutrisno berupa biaya pengobatan, beasiswa, modal kerja, truk, sepeda motor dan menerima bantuan uang secara tunai dari Hutomo Mandala Putra (Putra Mantan Presiden Soeharto) sebesar Rp 460.000.000,- (empat ratus enam puluh juta rupiah). Maksud dilaksanakannya islah antara kedua belah pihak adalah agar pihak pertama yang diwakili oleh Pangdam V Jaya Try Sutrisno dan pihak ke dua yang diwakili oleh Syarifuddin Rambe saling maaf memaafkan antara kedua belah pihak, kembali bersatu dalam semangat persaudaraan, kerukunan dan ikatan tali kasih sayang serta menghapuskan segala bentuk nafsu pertikaian, rasa saling dendam dan sikap bermusuhan. 38 Berikut ini daftar nama para korban kasus Tanjung Priok yang non-islah dengan pihak yang diwakili oleh Pangdam V Jaya Try Sutrisno, yang mendapat Kompensasi/kerugian baik materiil maupun im-materiil dari Pemerintah, berdasarkan Putusan Pengadilan HAM Adhoc Jakarta seperti dalam Tabel dibawah ini :39

37

Lihat juga artikel Satya Arinanto, Islah dalam Perspektif Keadilan Transisional, Kompas, 16 Maret 2001. Bahwa berdasarkan ukuran minimal tampak bahwa islah yang dilakukan belum mengandung unsur pengakuan terhadap kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan, dan belum ada upaya untuk meminta pengampunan atas kajahatan yang pernah dilakukan dalam kasus Tanjung Priok. 38 Lihat Putusan Pengadilan HAM Adhoc Jakarta Pusat No. 01/Pid.HAM/Adhoc/2003/PH.Jkt.Pst, tanggal 20 Agustus 2004 atas nama Terdakwa Kapt. Art. Sutrisno Mascung, dkk, hlm. 140. 39 Ibid., hlm. 148 149.

21

Tabel : 2 Daftar Nama Non-Islah Korban Kasus Pelanggaran HAM Berat Tanjung Priok Yang Menerima Kompensasi Berdasarkan Putusan Pengadilan HAM Jakarta
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 NAMA KORBAN Bachtiar Johan Aminatun Husain Sape Ratono Marullah Syaiful Hadi Syarif Ishaka Bola Makmur Anshari Raharja Irta Sumirta Yudhi Wahyudi Amir Biki JUMLAH KERUGIAN MATERIIL Rp. 35.000.000,Rp. 35.000.000,Rp. 250.000.000,Rp. 17.500.000,Rp. 8.500.000,Rp. 112.500.000,Rp. 22.500.000,Rp. 8.500.000,Rp. 17.500.000,Rp. 15.000.000,Rp. 8.500.000,Rp. 3.500.000,Rp. 125.000.000,Rp. 658.000.000,KERUGIAN IM-MATERIIL Rp. 12.500.000,Rp. 35.000.000,Rp. 67.500.000,Rp. 12.500.000,Rp. 35.000.000,Rp. 35.000.000,Rp. 12.500.000,Rp. 12.500.000,Rp. 67.500.000,Rp. 35.000.000,Rp. 35.000.000,Rp. 357.500.000,-

Total Keseluruhan : Rp. 1.015.500.000,- (Satu Miliyar Lima Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) Sekalipun pernah kompensasi ini dikabulkan oleh Pengadilan HAM Adhoc Jakarta dalam kasus terdakwa Kapt. Art. Sutrisno Mascung, dkk, 40namun kompensasi tersebut batal diterima oleh para korban/ahli waris warga Tanjung Priok, karena putusan ini dibatalkan oleh Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta41 dan Putusan Kasasi Mahkamah Agung 42. Artinya bahwa tuntutan Jaksa Penuntut Umum adhoc pada Kejaksaan Agung tidak dapat diterima, dengan kata lain para terdakwa tersebut dibebaskan oleh majelis Hakim Agung tingkat kasasi. Oleh karena itu, saya mengusulkan agar pemberian kompensasi itu dipisahkan dari proses putusan Pengadilan, tetapi cukup melalui hasil visum et repertum dari Dokter yang ditunjuk Pemerintah untuk itu untuk menyatakan kebenaran adanya korban pelanggaran HAM berat. Jika menunggu putusan mempunyai kekuatan hukum tetap sama saja halnya dengan istilah keadilan yang datannya terlambatsama saja tidak ada keadilan (justice delayed in justice denied).

40 41

Ibid. Lihat Putusan tingkat banding PT. DKI Jakarta atas nama terdakwa Kapt. Art. Sutrisno Mascung, dkk No. 01/PID.HAM/ADHOC/2005/PT.DKI, tanggal 31 Mei 2005, hlm. 59-60. 42 Lihat Putusan Kasasi Mahkamah Agung atas nama terdakwa Kapt. Art. Sutrisno Mascung, dkk, No. 09K/Pid.HAM.Adhoc/2002, tanggal 28 Pebruari 2006, hlm. 48.

22

b) Pendekatan Mediasi/Rekonsiliasi 1). Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Pemerintah bersama DPR pernah membentuk UU No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Dengan terbentuknya UU KKR ini, maka penyelesaian penanganan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tidak hanya diselesaikan lewat Pengadilan HAM Adhoc, tetapi juga lewat KKR. Namun sangat disayangkan setelah UU KKR ini terbentuk beberapa tahun ternyata banyak kelemahan yang terjadi dalam ketentuan Pasal didalamnya, seperti dalam Pasal 1 angka 9, Pasal 2, Pasal 3, Pasal 27, Pasal 29 ayat (2) dan Pasal 44 UU KKR menjadi pertimbangan serius daripada putusan Mahkamah Konstitusi, sehingga UU KKR terpaksa diamputasi oleh Mahkamah Konstitusi 43. Dengan tidak berlakunya lagi UU KKR tersebut, maka semua kasus pelanggaran HAM harus diselesaikan melalui Pengadilan HAM. Semestinya jika para korban tidak bersedia memafkan si pelaku, selain KKR memberikan rekomendasi amnesti kepada pelaku, para korban harus juga memperoleh hak-hak korban seperti kompensasi, restitusi dan rehabilitasi sesuai yang diamanatkan pasal 35 UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM 44 tanpa harus menunggu proses hukum dari putusan Pengadilan yang mempunyai tetap. Untuk diketahui bahwa pengungkapan perasaan menerima maaf atas kesalahan orang lain tidak dapat dipaksakan oleh siapapun. Fungsi dan peranan KKR adalah sebagai mediator, yaitu mendorong penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu diluar pengadilan secara damai dan kekeluargaan. Jika para korban tidak bersedia memaafkan kesalahan pelaku, sebaiknya jangan dipaksakan. Berbagai kasus pelanggaran HAM baik sebelum dan sesudah di terbitkan UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM cukup banyak terjadi seperti dugaan kasus pelanggaran HAM berat Trisakti Semanggi I dan II, Talangsari, Penculikan Aktivis, Waisor dan Wamena, bahkan proses penyelidikannya sudah selesai dilakukan oleh Komisi Nasional (Komnas) HAM, namun dalam praktiknya sekarang kasus-kasus pelanggaran HAM tersebut tidak pernah muncul kepermukaan Pengadilan HAM. 2). Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) atau Commision on Truth and Friendship adalah sebuah lembaga yang dibentuk Pemerintah Indonesia dan Timor Leste tanggal 9 Maret 2005 untuk mencari titik terang kerusuhan pasca jajak
43 44

Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi No. 006/PUU-IV/2006, tanggal 7 Desember 2006. Binsar Gultom, Terbentuknya KKR membuka: Aib Negara, Majalah Forum Keadilan, Edisi, No.33,18 Desember 2005, hlm. 65.

23

pendapat Timor Timur 1999, sekalipun sebenarnya kasus ini sudah diputus oleh Pengadilan HAM Indonesia dan sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. (in cracht van gewijsde). 45 Anggota KKP dilantik tanggal 14 Agustus 2005 berkedudukan di Bali, Denpasar. Lembaga ini terdiri dari 10 orang, masing-masing 5 orang dari Indonesia dan 5 orang dari Timor Leste.46 Alasan mendasar dari pembentukan KKP ini adalah, karena ada kesan yang ditampilkan oleh sejumlah pihak bahwa proses hukum Pengadilan HAM di Indonesia dinilai tidak memadai, sehingga perlu dikaji ulang. Akhirnya Pemerintah Indonesia dan Timor Timur (Timtim) sepakat untuk membentuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP). Sebelumnya Menlu Timor Leste (Timor Timur-penulis) Ramos Horta membicarakan terms of reference (kerangka acuan) dari KKP yang disepakati dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda. 47 Menlu Hassan mengatakan bahwa, pada Maret 2004, Sekjen PBB Kofi Annan bersikeras membentuk Commision on Expert (COE) atau Komisi Ahli untuk menilai proses penanganan kasus pelanggaran HAM di Indonesia melalui Pengadilan HAM adhoc Indonesia. Menurut Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim, KKP dibentuk hanya untuk rekonsiliasi hubungan kedua negara. Jadi bukan untuk diproses secara hukum ke pengadilan atau adanya amnesti. Untuk proses hukum atas pelanggaran HAM yang dilakukan beberapa pejabat TNI dan pejabat lainnya, pada dasarnya sudah selesai. Sebab, mereka sudah diproses di Pengadilan HAM adhoc Jakarta. Meski idealnya putusan itu belum maksimal, kalau perlu ke Pengadilan Internasional. Tapi prinsip hukum ada dalam konteks politik tertentu yaitu politik negara. Negara yang memainkan kepentingan politik tersebut.48

45

Semua kasus pelanggaran HAM berat yang dijadikan penulis dalam Makalah ini sudah di putus oleh Pengadilan HAM Adhoc Jakarta, Tingkat Banding, Tingkat Kasasi dan Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung RI, dan semua putusan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap ( in cracht van gewijsde). 46 Susunan Anggota KKP terdiri: dari Indonesia, adalah : Benjamin Mangkoedilaga, SH (Koordinator), Prof. DR. Ahmad Ali, SH (Anggota), Wisber Loeis (Anggota), Mgr. Petrus Turang (Anggota), dan Agus Widjojo (Anggota); sedangkan anggota dari Timor Leste adalah Jasinto Alves (Koordinator), Dionosio Babo (Anggota), Aniceto Guterres (Anggota), Felicidade Guterres (Anggota) dan Cirilio Varadeles (Anggota). 47 Hal itu disampaikan Menlu Hassan Wirajuda dalam acara Pernyataan Pers Akhir Tahun 2004 di Ruang Nusantara, Gedung Deplu, Pejambon, Jakarta Rabu (19/01/2004). Hal tersebut dikatakannya sehubungan dengan upaya rekonsiliasi penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Timor Timur pada tahun 1999, dan pilihan tersebut merupakan hasil kesepakatan pembicaraan tingkat kepala negara dan menteri. 48 http://www.forumbebas.com/thread-35965-post-483510.html, diakses tanggal 5 Agustus 2009.

24

Selama bertugas di KKP para anggota berupaya untuk mengungkap tiga kasus yang terjadi sebelum dan pasca jajak pendapat di Timor Timur tahun 1999, yaitu kasus pembunuhan di Gereja Liquica, perusakan rumah Manuel Carrascalao, dan kerusuhan Gereja Santa Cruz. Beberapa tokoh yang telah didengar keterangannya oleh KKP diantaranya, mantan Menlu Ali Alatas, Mantan Presiden BJ. Habibie, Mantan Panglima ABRI Wiranto, Mantan Uskup Dili Carlos Felipe Ximenes Belo, Mantan Kepala Badan Intelijen ABRI Mayjen (Purn) Zacky Anwar Makarim, Mantan Komandan Korem Wiradharma Dili Mayjen Suhartono Suratman, dan Mantan Panglima Kodam IX Udayana Mayjen (Purn) Adam Damiri. Yang perlu dicatat dalam pembentukan KKP ini adalah tidak untuk dipergunakan sebagai alat penuntutan, namun lebih digunakan sebagai suatu pembelajaran bersama betapa pahitnya masa lalu yang kelabu tersebut. KKP tidak bermaksud menindaklanjuti pertemuannya secara hukum karena seluruh kasus pelanggaran HAM menjelang dan sesudah jajak pendapat 1999 di Timor Timur telah mempunyai kekuatan hukum tetap secara hukum (in cracht van gewijsde), sehingga tidak dapat diajukan kembali ke persidangan. Setelah proses KKP berjalan sesuai fungsi tugasnya, maka pada tanggal 15 Juli 2008 Kepala Negara/Pemerintahan kedua negara telah menerima Laporan Akhir Komisi Kebenaran dan Persahatan Indonesia-Timor Timur dan menandatangani suatu joint statement yang diantaranya, menyatakan bahwa:49 a. Kedua pemerintah menerima temuan, analisis, kesimpulan, dan rekomendasi dari KKP bahwa pelanggaran HAM berat memang terjadi di Timor Timur sebelum dan segera sesudah jajak pendapat pada tahun 1999. b. Para Pemimpin Indonesia dan Timor Leste menyatakan penyesalan mendalam (remorse) mereka terhadap semua korban yang menderita luka fisik maupun psikis sebagai korban langsung maupun tidak langsung dari pelanggaran HAM yang terjadi pada periode sebelum dan segera setelah jajak pendapat di Timor Timur pada bulan Agustus 1999. c. Para pemimpin kedua negara oleh karena itu bertekad untuk melaksanakan rekomendasi KKP secara sungguh-sungguh melalui reparasi kolektif, perbaikan/ reformasi kelembagaan dan penguatan budaya HAM. Selain itu, para pemimpin kedua negara juga memutuskan untuk menyusun suatu Plan of Action (Rencana Aksi) jangka pendek dan jangka menengah/panjang dengan penekanan pada program-program yang berorientasi pada korban (dengan tujuan healing the wounds). Diakhir kerjanya KKP Indonesia Timur Leste menyampaikan kesimpulan mengenai pelanggaran HAM berat dan tanggung jawab kelembagaan. Adapun
49

Lihat hasil laporan akhir dari Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) antara Pemerintah Indonesia dan Portugal, tanggal 15 Juli 2008.

25

Ringkasan Laporan Akhir Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Timor Leste yang dilansir dari internet, sebagai berikut : 50 1) Bahwa pelanggaran HAM berat dalam bentuk kejahatan kemanusiaan terjadi di Timor Timur tahun 1999 berupa pembunuhan, pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekeraan seksual lainnya, penyiksaan, penahanan ilegal, dan pemindahan paksa dan deportasi yang dilakukan terhadap penduduk sipil ; 2) Bahwa terdapat tanggung jawab kelembagaan atas pelanggaranpelanggaran ini ; 3) Bahwa kelompok-kelompok milisi pro-otonomi, TNI, pemerintahan sipil Indonesia, dan Polri, semua harus bertanggung jawab secara kelembagaan atas pelanggaran HAM berat yang terjadi terhadap warga sipil yang dianggap sebagai pendukung kemerdekaan. 4) Bahwa karena tidak adanya proses penyelidikan hukum sebelumnya yang sistematis terhadap pelanggaran-pelanggaran semacam ini, maka sifat dan cakupan sesungguhnya dari pelanggaran-pelanggaran ini tidak dapat ditetapkan secara konklusif. Terlepas dari itu, komisi juga menetapkan bahwa kelompok-kelompok kemerdekaan bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat dalam bentuk penahanan ilegal yang menjadikan sasaran warga sipil yang dipandang sebagai pro-otonomi ; 5) Bahwa pola yang berulang-ulang dari keterlibatan kelembagaan yang terorganisasi dalam pelanggaran HAM berat ini menjadi dasar bagi kesimpulan Komisi mengenai tanggung jawab kelembagaan. Komisi lebih lanjut menyimpulkan bahwa karena karakter dan cakupan keterlibatan ini, dari sudut pandang moral dan politis, negara harus menerima tanggung jawab atas pelanggaran HAM berat yang terkait dengan institusi-institusi negara tersebut. 3. Langkah Proses Peradilan melalui Pengadilan HAM Adhoc Kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi pada masa orde baru dan reformasi dilaksanakan di zaman reformasi adalah kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur tahun 1999 dan pelanggaran HAM berat Tanjung Priok tahun 1984 yang ditangani oleh Pengadilan HAM Adhoc Jakarta Pusat. Sedangkan kasus pelanggaran HAM Abepura (Papua) tahun 2001 di tangani oleh Pengadilan HAM Makassar. Khusus untuk kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur, bahwa pembentukan Pengadilan HAM untuk kasus tersebut, pada hakekatnya didasarkan
50

Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan kementerian Pertahanan Republik Indonesia, 20 Januari 2009. Lihat juga http://strahan.dephan.go.id, diakses tanggal 25 Mare 2009.

26

atas kewajiban Internasional yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia sehubungan adanya resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DKPBB) yang meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk mengadili para pelanggar HAM berat Timor Timur yang terjadi setelah berakhirnya jajak pendapat 51 di Timor Timur yang diselenggarakan dibawah pengawasan PBB 52. Menanggapi desakan pembentukan Peradilan Internasional oleh PBB terhadap pelaku pelangaran HAM berat pascajajak pendapat Timor Timur 1999 tersebut, maka Presiden-RI saat itu Abdurrahman Wahid berupaya melakukan diplomasi dan pendekatan politik kepada Sekjen PBB dan Negara-Negara anggota tetap DK-PBB di New York lewat Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, agar mempertimbangkan untuk tidak membentuk Pengadilan Internasional dan memberikan kesempatan kepada Pemerintah Indonesia untuk mengadili mereka yang bertanggung jawab di Pengadilan HAM Nasional53. Prosedur terbentuknya pengadilan HAM Adhoc di Indonesia, sesuai pasal 43 ayat (2) UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM diawali adanya hasil penyelidikan Komisi Nasional (KOMNAS) Hak Asasi Manusia (HAM) atas dugaan pelanggaran HAM yang berat untuk selanjutnya di tindak-lanjuti oleh Jaksa Agung selaku penyidik dan penuntut terhadap dugaan pelanggaran HAM yang berat tersebut. Dari hasil penyelidikan Komnas HAM dan penyidikan Jaksa Agung tersebut, lalu DPRRI memberikan rekomendasi kepada Presiden untuk mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) tentang pembentukan Pengadilan HAM Adhoc atas kasus pelanggaran HAM Timor Timur dan Tanjung Priok. Atas rekomendasi dari DPR tersebut Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 53 Tahun 2001 tertanggal 23 April 2001, 54 yang diperbaharui dengan Keputusan Presiden saat itu dijabat oleh Megawati Soekarnoputri No. 96 Tahun 2001 tertanggal 1 Agustus 2001 tentang pembentukan Pengadilan HAM Adhoc atas kasus pelanggaran HAM berat Timor

51

Yang dimaksud dengan Jajak Pendapat adalah semacam referendum yang diadakan dibawah pengawasan PBB untuk menentukan nasib sendiri sesuatu bangsa atau wilayah yang belum berpemerintahan sendiri. 52 Resolusi Dewan Keamanan PBB 1264 (1999), 15 September 1999. 53 Hal itu dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid melalui suratnya tertangal 26 Januari 2000, menyatakan : My Government is confident that Your Excellency will have the wisdom and foresight to consider the finding and recommendations of the National Commission of Inquiry (KPP-HAM) and to allow the National Judicial process to take its own course. (pemerintahan kami percaya bahwa Yang Mulia memiliki kebijaksanaan dan pertimbangan untuk memperhitungkan penemuan dan rekomendasi KPP-HAM dan mengijinkan proses yudisial nasional untuk mengambil bagiannya). 54 Menurut Pasal 2 Keputusan Presiden No. 53 Tahun 2001 menyatakan : Pengadilan Hak Asasi Manusia berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat yang terjadi di Timor Timur pasca jajak pendapat Tahun 1999 dan yang terjadi di Tanjung Priok Tahun 1984.

27

Timur dan Tanjung Priok. Kepres tersebut.

55

Kedua kasus ini dijadikan satu paket berdasarkan

Terjadinya perubahan Kepres tersebut, di karenakan bahwa menurut Kepres No. 53 tersebut tidak jelas locus dan tempus delictinya atas suatu peristiwa yang terjadi. 56 Agar kasus pelanggaran HAM berat Timor Timur segera digelar, maka Mahkamah Agung selaku lembaga yudikatif tertinggi telah memproses dan memilih 24 orang calon hakim adhoc untuk mendapat pengesahan dari Presiden Megawati Soekarnoputri dalam bentuk Keputusan Presiden, yang terdiri dari 6 orang tingkat kasasi Mahkamah Agung 57, 6 orang tingkat banding dan 12 orang tingkat pertama. 58 Sedangkan untuk hakim karier di tingkat masing-masing tersebut lewat Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Sementara Jaksa Agung juga telah melantik 24 orang Jaksa Adhoc HAM pada tanggal 8 Februari 2002 untuk melakukan penuntutan terhadap 18 orang pelaku kasus pelanggaran HAM berat di Timor Timur. Pemeriksaan perkara pelanggaran HAM berat ini dilakukan oleh majelis hakim Pengadilan HAM yang berjumlah 5 orang, terdiri atas 2 orang hakim karier dan 3

55

Baca Pasal 43 ayat (2) UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM. Menurut ketentuan ini, bahwa setiap pelanggaran HAM yang terjadi sebelum UU Pengadilan HAM ini berlaku, maka pelaksanaannya ditangani oleh Pengadilan HAM Adhoc. Sedangkan apabila pelanggaran HAM terjadi sesudah terbit UU Pengadilan HAM ini, ditangani oleh Pengadilan HAM (tanpa ada kata-kata Adhoc). Menurut pasal 45 UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM, di Indonesia hanya ada 4 Pengadilan HAM, antara lain : Pengadilan HAM Medan, meliputi wilayah Propinsi Sumatera Utara, Daerah Istimewa Aceh, Riau, Jambi dan Sumatera Barat; Pengadilan HAM Jakarta, meliputi wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Banten, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah ; Pengadilan HAM Surabaya meliputi wilayah Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Tengah dan Pengadilan HAM Makasar meliputi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara dan Irian Jaya. 56 Menurut Pasal 2 Keputusan Presiden No. 96 Tahun 2001 menyatakan : Pengadilan Hak Asasi Manusia berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat yang terjadi di Timor Timur dalam wilayah hukum Liquisa, Dili dan Soae pada bulan April 1999 dan bulan September 1999 dan yang terjadi di Tanjung Priok pada bulan September 1984. 57 Pengangkatan Hakim Adhoc HAM untuk tingkat kasasi di Mahkamah Agung RI didasarkan atas keputusan Presiden RI No. 43/M tahun 2003 tertanggal 2 Februari 2003. Berdasarkan pasal 33 ayat (4) dan (5) UU No.26 tentang Pengadilan HAM, hakim Adhoc HAM di MA diangkat oleh Presiden selaku Kepala Negara atas usulan Dewan Perwakilan Rakyat RI dan diangkat untuk satu kali masa jabatan selama 5 (lima) tahun. 58 Untuk pengangkatan hakim Adhoc HAM tingkat banding dan pertama, Presiden telah mengeluarkan keputusan Presiden RI no. 6/M tertanggal 12 Januari 2002. Berdasarkan pasal 28 ayat (3) UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, Hakim Adhoc HAM pada pengadilan Tingkat Pertama dan Banding diusulkan oleh Ketua Mahkamah Agung dan diangkat oleh Presiden selaku Kepala Negara, para hakim Adhoc tersebut diangkat untuk selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali 1 (satu) kali.

28

orang hakim non-karier (Adhoc), 59 yang bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat 60 serta berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM berat yang dilakukan di luar batas teritorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia. Setelah menjalani proses persidangan mulai dari tingkat pertama, tingkat banding, tingkat kasasi hingga tingkat peninjauan kembali di Mahkamah Agung, akhirnya para terdakwa pelanggaran HAM berat Timor Timur dan Tanjung Priok dibebaskan di tingkat Mahkamah Agung. Akibatnya, penulis berpendapat bahwa Pengadilan HAM Adhoc Indonesia menangani kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu kurang efektif. Penyebabnya karena UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM mengandung prinsip: tidak mengenal kedaluarsa, bersifat retroaktif dan adanya rekomendasi dari DPR untuk persetujuan pembentukan Pengadilan HAM Adhoc, menjadikan proses penegakan hukum di bidang HAM menjadi panjang dan berbelit-belit, yang akhirnya alat-alat bukti menjadi rusak, hilang dan saksi korban meninggal dunia. D. UPAYA PENCEGAHAN PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA Dl INDONESIA. 1. Supremasi hukum dan demokrasi harus ditegakkan lewat pendekatan security, pendekatan hukum dan dialogis dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 2. Meningkatkan kualitas pelayanan public untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah. 3. Penyelesaian secara serius sampai kepada akar permasalahan terhadap berbagai konflik horizontal dan konflik vertikal yang telah melahirkan berbagai tindakan kekerasan yang melanggar HAM baik oleh sesama kelompok masyarakat maupun kelompok aparat keamanan. 4. Jika terjadi konflik berdarah secara tiba-tiba di wilayah tertentu, Pemerintah Daerah berwenang menerapkan status hukum keadaan darurat, tanpa harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat untuk mengantisipasai keadaan agar kerusuhan tidak sampai meluas. 5. Perlu pengawasan dari DPR dan kontrol dari masyarakat (Social control) terhadap upaya-upaya penegakan HAM yang dilakukan oleh Pemerintah. 6. Kualitas pelayanan publik yang masih rendah sebagai akibat belum terwujudnya good governance dan belum berubahnya paradigma aparat pelayan publik yang masih memposisikan dirinya sebagai birokrat harus dirubah dengan mengedepankan pelayan masyarakat. 7. Konflik horizontal dan konflik vertikal telah melahirkan berbagai tindakan kekerasan yang melanggar HAM baik oleh sesama kelompok masyarakat,
59 60

Lihat Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Lihat Pasal 4 Undang-Undang No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

29

perorangan, maupun oleh aparat, seperti: pembunuhan; penganiayaan; penculikan; pemerkosaan; pengusiran; hilangnya mata pencaharian; hilangnya rasa aman, dll harus menjadi pelajaran berharga bagi aparat keamanan untuk mencegah jangan sampai terjadi pelanggaran HAM. 8. Perlu diberikan mata pelajaran/kuliah untuk memperdalam makna pendidikan Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia, pendidikan Budi pekerti dan etika profesi mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi termasuk di Instansi Pemerintahan baik secara formal maupun informal. Dari praktik peradilan HAM adhoc yang sudah berjalan, ternyata UU 26/2000 belum dapat dijadikan sebagai solusi penegakan HAM di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena sempitnya definisi pelanggaran HAM yang dapat ditangani oleh Komnas HAM, Kejaksaan Agung, dan Pengadilan HAM. Apabila kita melihat ketentuan Pasal 7 dan Pasal 9 UU 26/2000 hanya dapat menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran terhadap hak-hak sipil dan politik saja. Sedangkan pelanggaran hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya tidak dikategorikan sebagai pelanggaran HAM yang berat. Padahal apabila kita memperhatikan secara seksama, kebanyakan kasus-kasus pelanggaran terhadap hak-hak sipil dan politik yang terjadi di Indonesia, biasanya dilatarbelakangi oleh pelanggaran terhadap hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, seperti perampasan tanah-tanah masyarakat adat yang berujung penembakan terhadap masyarakat sipil, atau pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahan transnasional yang berujung penangkapan dan penyiksaan terhadap masyarakat sipil. Selain itu juga Indonesia telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (CESCR) melalui UU No. 11 Tahun 2005. Sehingga tidak ada alasan bagi Pemerintah untuk tidak mengakui pelanggaran terhadap hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya sebagai pelanggaran HAM yang berat. Mengenai prinsip-prinsip yang dianut oleh UU No. 26 Thun 2000 tersebut seperti bersifat kedaluarsa, retroaktif dan adanya rekomendasi DPR tentang pembentukan Pengadilan HAM adhoc membuat proses kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu menjadi panjang dan berbelit-belit, sehingga penanganannya di Pengadilan HAM adhoc menjadi tidak efektif, karena hampir semua barang bukti hilang atau rusak, para saksi kunci sudah tidak ada atau meningal dunia. Berdasarkan hal itu, maka definisi pelanggaran HAM yang berat sebagaimana diatur di dalam Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9 dan Pasal 43 UU 26/2000 sudah tidak layak lagi dipertahankan dan sudah seharusnya pasal-pasal tersebut direvisi dengan memperluas definisi pelanggaran HAM yang berat. Sehingga nantinya definisi pelanggaran HAM yang berat tidak hanya mencakup pelanggaran terhadap hak-hak sipil dan politik saja, namun semua pelanggaran terhadap hak-hak

30

ekonomi, sosial, budaya juga harus diakui sebagai bagian dari pelanggaran HAM yang berat. Faktor lain yang membuat UU 26/2000 tidak efektif adalah pembatasan terhadap tugas dan wewenang Komnas HAM yang hanya dapat melakukan penyelidikan terhadap kasuskasus pelanggaran HAM yang berat sebagaimana diatur di dalam Pasal 18, Pasal 19, dan Pasal 20 UU26/2000. Sehingga dalam praktiknya, seringkali hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM dipatahkan pihak Kejagung yang di dalam undang-undang ini bertindak sebagai penyidik dan penuntut umum. Pada akhirnya banyak kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang tidak sampai ke meja pengadilan dan hanya menjadi bahan dokumentasi Komnas HAM saja. Apabila kita bandingkan fungsi Komnas HAM dalam UU 26/2000 dengan fungsi KPK dalam UU 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) sangatlah jauh berbeda. Di dalam Pasal 6 huruf (c) UU 30/2002 dijelaskan bahwa tugas KPK adalah melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. Seharusnya para anggota Komnas HAM dapat mencontoh KPK dan memperjuangkan peningkatan fungsi Komnas HAM dalam rantai proses penegakan HAM di Indonesia dengan cara membuat inisiatif merevisi UU 26/2000. ____________________________________________________________________
Makalah ini disampaikan dalam Seminar dengan judul: Semiloka Membangun Perdamaian melalui Transformasi Konflik, diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan HAM Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, Sabtu tanggal 14 Mei 2011 di Raffles City Hotel Bengkulu. Dr. Binsar Gultom, SH, SE, MH Hakim HAM pada Pengadilan HAM Adhoc Jakarta, Hakim pada Pengadilan Negeri Kelas IA Bengkulu dan Dosen dibidang HAM pada Pascasarjana Universitas Hazairin Bengkulu.

31

32