Anda di halaman 1dari 96

ALAMI

TAK SELALU AMAN

&

PEMCEMARAN

TAK SELAMANYA MERUGIKAN

PENGANTAR

Dari pada hanya membaca sendiri, aku merasa sangat egois. Oleh karena itu, ketika aku membaca artikel-artikel atau berita yang ada di internet, secara sadar aku kemudian mengunduh (down load). Terus terang ketika aku melakukan down load, aku tidak begitu memperhatikan apakah artikel tersebut dilindungi dengan "tulisan" copy right atau sebaliknya free copy.

Kadang beberapa artikel telah aku edit, jadi tidak persis sama dengan aslinya. Soal judul "buku" ini hanyalah rekaan saya dengan meminjam dan memodifikasi salah satu judul artikel yang aku baca. Judulnya diharapkan dapat merangsang komentar, yakni : "Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan".

Tujuan down load artikel dan berita tersebut sama sekali tak ada niat dan keinginan untuk menjual. Tujuannya hanya agar orang lain ikut bisa membaca tanpa harus koneksi internet. Aku tahu, beberapa orang masih belum terbiasa dengan internet. Masalahnya hanya karena tidak punya kesempatan karena ketiadaan sarana dan biaya.

Aku termasuk orang yang tidak punya sarana dan biaya untuk internet. MUMPUNG aku ada kesempatan menggunakan internet, maka aksi baca dan down load artikel aku laksanakan. Lagi pula, artikel tersebut, menurutku penting untuk di ketahui oleh semua orang. Apalagi yang merasa dirinya sebagai pelajar, mahasiswa, guru atau dosen, rasanya wajib membaca.

Pembaca boleh mengecam aku, boleh juga memaki atas perbuatanku, atau justru mendukung aku melalui yasamas2002@yahoo.com. Semoga saja bermanfaat.

Yogyakarta, 16 Maret 2006.

Alam tidak selamanya baik : Pestisida alami

Oleh Soetrisno

Banyak orang beranggapan bahwa senyawa sintesis (buatan) berkonotasi dengan hal yang 'buruk' dan yang baik selalu berasal dari zat alam. Sebenarnya anggapan tersebut tidak selamanya benar. Walaupun kita sering mendengar banyak perusahaan kimia yang mempunyai masalah dengan senyawa buangan yang berbahaya dan akibatnya menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan, masyarakat masih terus memakai senyawa sintesis untuk berbagai macam keperluan. Dilihat dari cara pandang yang berbeda, sebenarnya senyawa kimia alami tidak terlalu berbeda dengan senyawa sintesis.

Bagaimana alam membentuk senyawa-senyawa alami tersebut? Makluk hidup memiliki labotarium produksinya sendiri yang mampu memproduksi jutaan senyawa kimia, yang sebagian diantara sangat beracun. Sebagai contoh, beberapa tumbuhan yang memiliki kadar senyawa kimia beracun walau hanya sedikit mengakibatkan beberapa kasus keracunan (terutama anak-anak) akibat dari memakan kentang, minum teh, atau memakan jamur beracun, dan berbagai kasus lainnya.

Apa kegunaan senyawa kimia beracun tesebut bagi mahluk hidup khususnya tumbuhan? Tumbuhan tidak dapat menghindar dari pemangsa atau organisme yang merugikan seperti jamur, serangga, binatang, bahkan manusia. Mereka tidak memiliki organ yang mampu melindungi diri. Tetapi, mereka mampu memproduksi serangkaian senjata kimia, yaitu 'pestisida alami', yang cukup ampuh untuk pertahanan. Hingga saat ini lebih dari puluhan ribu dari 'pestisda alami' yang sudah diketemukani

Berdasarkan riset, orang Amerika mengkonsumsi 1.5g 'pestisida alami' perhari tiap orang, dalam bentuk sayur, buah-buahan, teh, kopi yang berarti 10.000 kali lebih banyak daripada mereka mengkonsumsi hasil residu dari pestisida sintesis. Kadar kandungan dari senyawa alami ini berkisar satu per satujuta (part per million : ppm), yang besarnya jauh diatas dari batas ambang polusi air yang biasanya diukur dalam satuan satu per satu miliar (part per billion :

ppb). Beberapa diantara tanaman yang mengandung senyawa beracun itu hampir setengahnya senyawa yang menyebabkan kanker. Beberapa contoh diantaranya bisa dilihat di daftar dibawah ini.

Senyawa Kimia

Tanaman (konsentrasi dalam ppm)

Apel, wortel, seledri, anggur, kentang(50-200) kopi (1800)

Daun Kol(35-590); mustard (16.000-72.000); lobak

(4500)

Jus jeruk(31); lada

hitam(8000)

Basil(82), Teh jasmine(230); Madu(15)

Walaupun begitu, mengapa kita tidak semuanya menderita keracunan yang disebabkan oleh tumbuhan-tumbuhan tersebut? Salah satu alasannya adalah tingkat dari kerusakan yang kita derita dari senyawa tersebut sangatlah kecil. Yang lebih pentingnya, sama seperti tumbuhan, tubuh kita juga memiliki suatu sistem pertahanan yang mampu melawan senyawa-senyawa berbahaya. Sebagai contoh, garis pertama pertahanan kita, mulut, lambung, ginjal, kulit, paru- paru kita memiliki pertahanan yang cukup ampuh untuk menetralisir senyawa-senyawa beracun. Selain itu tubuh kita juga memliki mekanisme untuk mendeteksi senyawa-senyawa tersebut; tubuh kita meng-ekresi senyawa-senyawa berbahaya tersebut sebelum membahayakan tubuh, DNA kita juga memiliki kemampuan untuk memperbaiki kerusakan, dan yang terakhir, kita memiliki indra untuk mencium dan merasakan senyawa-senyawa yang 'buruk' (seperti senyawa alkaloid yang asam, makanan yang membusuk, susu yang kadaluarsa, telur yang berbau 'belerang') yang memberikan signal bahaya.

Pada akhirnya, kita harus bijak untuk menentukan apa yang diperlukan oleh tubuh kita; seperti pepatah lama mengatakan : jauhi konsumsi berlebih dan konsumsilah makanan beragam dan secukupnya. Sumber: Organic Chemistry, Volhard

Kelebihan CO 2 Mungkin Dapat Dibuang ke Lautan

Oleh Carrie Dierks

CO 2 Mungkin Dapat Dibuang ke Lautan Oleh Carrie Dierks Setiap tahunnya Amerika melepaskan lebih dari

Setiap tahunnya Amerika melepaskan lebih dari 1,6 juta metrik ton gas-gas rumah kaca penyerap panas ke atmosfer. Dari jumlah ini, kira-kira 81 persennya berasal dari pembakaran bahan bakar, seperti minyak bumi, batubara dan gas alam. Sejauh ini pemerintah Amerika telah memfokuskan pada penguranganan emisi sebagai jalan keluar untuk mengurangi tingkat CO 2 di atmosfer. Tapi sekarang Departemen Energi Amerika sedang menyelidiki kemungkinan dilakukannya pengasingan karbon, yaitu pembuangan CO 2 yang telah

dihasilkan. Ide untuk mengasingkan karbon ini bukanlah ide baru, tetapi Departemen Energi Amerika baru mulai memikirkannya secara serius. Tahun ini Departemen Energi Amerika mengeluarkan biaya sebanyak 29 juta dolar Amerika untuk mempelajari prosesnya.

Pada tahun 2000, sebuah proyek yang sangat berambisi dan sedang diperdebatkan adalah usul Percobaan Pembuangan CO 2 ke Lautan. Di dalam proyek ini, para ilmuwan akan mengambil CO 2 yang dihasilkan tanaman dalam jumlah besar dan mengubahnya menjadi cairan. Mereka lalu akan memompa 40 sampai 60 ton cairan tersebut ke dalam dasar lautan di bawah pesisir Hawaii. Karena dirancang untuk memperkecil pengaruhnya pada lingkungan, percobaan ini

akan dijalankan pada kedalaman 3000 kaki di bawah laut dan akan dijalankan sekitar 40 jam dalam waktu 2 minggu.

Apakah cara lain yang dapat kita lakukan untuk membuang semua CO 2 yang tidak diingini lagi? Ada beberapa kemungkinan: menyalurkan CO 2 dengan pipa ke dalam ladang minyak. Ini akan membantu mendapatkan minyak dengan membuatnya menjadi sedikit/jarang dan menyebabkan gumpalan-gumpalan kecil ini untuk membesar dan saling bergabung. Teknik yang serupa sudah digunakan untuk mendapatkan minyak, tetapi menggunakan sesedikit mungkin CO 2 . Dalam masalah ini tujuannya adalah untuk menyuntikkan sebanyak mungkin CO 2 .

Menyuntikkan CO 2 ke dalam lapisan batubara yang terlalu dalam untuk ditambang. Molekul metan menempel pada batubara, tetapi molekul CO 2 melepaskannya dan menggantikannya. Jika teknik ini bekerja, pembuangan CO 2 akan menghasilkan sebuah sumber gas alam yang baru.

Memompa CO 2 ke bawah tanah. Amerika sangat kaya akan endapan air asin yang tidak layak untuk diminum. CO 2 dapat disuntikkan dengan kedalaman 2000 kaki atau lebih di bawah endapan ini. Jika terbungkus di dalam batu, secara teori gas ini akan tetap di bawah tanah selamanya.

Beberapa kelompok pecinta lingkungan keberatan dengan pengasingan karbon di atas tanah, karena itu akan tidak mendukung penggunaan bahan bakar dari fosil dengan seefisien mungkin and penggunaan sumber-sumber energi alternatif. Tanggapan Departemen Energi Amerika adalah bahwa mereka akan terus mendorong perusahaan-perusahaan and para pemakai untuk menemukan cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Tetapi menambah langkah tambahan untuk menghilangkan emisi yang sudah ada mungkin diperlukan, untuk mencapai tujuan kualitas udara yang baik dalam jangka panjang.

Semua metode ini harus dipelajari lebih mendalam, dan bisa menghabiskan waktu puluhan tahun sebelum dapat diterapkan di lingkungan. Rintangan yang paling utama adalah biaya, khususnya biaya untuk mengambil CO 2 dari cerobong asap. Pemerintah Amerika berharap untuk mengembangkan sebuah proses yang hanya akan menambah tagihan listrik pada pemakai tidak lebih dari 2 sampai 5 persen.

(diterjemahkan oleh Shirley Deborah)

Atasi Polusi dengan Plasma

Sumber: Kompas, 14 November 2002

Selama ini teknologi pengolahan limbah kurang mendapatkan perhatian serius di Indonesia. Padahal, tidak sedikit permasalahan limbah cair maupun gas terbentur pada permasalahan penggunaan teknologi. Dengan semakin berkembangnya perindustrian di Indonesia, sudah selayaknya pemilihan serta penggunaan teknologi yang tepat dalam mengatasi masalah limbah segera diterapkan. Melalui artikel ini penulis ingin memperkenalkan sebuah teknologi yang kerap disebut teknologi plasma. Di berbagai negara maju termasuk Jepang, teknologi plasma mulai banyak dipergunakan untuk mengolah limbah gas dan cair dari berbagai kegiatan industri domestik, serta dari asap kendaraan bermotor. Sedangkan di negara Eropa dan Amerika berbagai penelitiaan dari penggunaan teknologi plasma untuk mengolah limbah juga banyak dikembangkan.

Plasma

Plasma adalah zat keempat di samping zat klasik: padat, cair, dan gas. Zat plasma ini bukanlah plasma seperti pada kata plasma darah, kata yang paling umum digunakan berkaitan dengan plasma dalam bidang Biologi. Plasma zat keempat ini ditemukan pada tahun 1928 oleh ilmuwan Amerika, Irving Langmuir (1881-1957) dalam eksperimennya melalui lampu tungsten filament.

Plasma ini sangat mudah dibuat, caranya dengan pemanfaatan tegangan listrik. Contoh, hadapkan dua electrode di udara bebas. Seperti kita ketahui udara adalah isolator, materi yang tidak menghantarkan listrik. Namun, apabila pada dua electrode tadi diberikan tegangan listrik yang cukup tinggi (10 kV<), sifat konduktor akan muncul pada udara tersebut, yang bersamaan dengan itu pula arus listrik mulai mengalir (electrical discharge), fenomena ini disebut eletrical breakdown.

Mengalirnya arus listrik menunjukkan akan adanya ionisasi yang mengakibatkan terbentuknya ion serta elektron pada udara di antara dua elektrode tadi. Semakin besar tegangan listrik yang diberikan pada elektrode, semakin banyak jumlah ion dan elektron yang terbentuk. Aksi-reaksi yang terjadi antara ion dan elektron dalam jumlah banyak ini menimbulkan kondisi udara di antara dua electrode ini netral, inilah plasma. Singkat kata plasma adalah kumpulan dari electron bebas, ion dan atom bebas.

Polusi udara

Mengatasi polusi dengan plasma sebenarnya bukan sebuah hal yang baru. Pada tahun 1907 Frederick Cottrell memperkenalkan electrostatic precipitator (EP) untuk mengatasi polusi akibat aerosol (sampah udara) dari asap pabrik hasil pembakaran. EP dapat digunakan untuk mengumpulkan aerosol. Prinsip kerja dari EP adalah perpaduan dari medan electrostatic dan aliran ion yang dihasilkan oleh corona discharge. Mekanisme kerjanya adalah partikel aerosol ditangkap atau dikumpulkan oleh aliran ion, kemudian kumpulan partikel tadi diangkut oleh medan electrostatic lalu dipisahkan. Sekarang EP banyak digunakan untuk mengatasi aerosol dari asap pabrik termasuk di antaranya, di Indonesia.

Namun, asap hasil pembakaran dari pabrik maupun kendaraan bermotor tidak hanya mengandung aerosol saja, tetapi didapati juga gas NOx, SOx, CO, dan Dioxin yang diketahui sangat berbahaya pada kesehatan. Kita mengenal hujan asam (HNO 3 dan H 2 SO 4 ) yang dapat mengakibatkan kanker. Juga gas CO yang dapat mematikan apabila kita menghirupnya secara langsung. Kita juga dapat merasakan bertambah suhu bumi akibat pertambahan CO 2 .

Baru-baru ini kita mendengar Dioxin yang muncul dari pembakaran sampah plastik, yang walaupun kadarnya sedikit namun berbahaya bagi kesehatan kita. Hal ini mendorong Dr Seiichi Masuda dari Tokyo University untuk mencari teknologi yang dapat mengatasi gas beracun hasil pembakaran pabrik. Pada tahun 1986 Seiichi Masuda mempublikasikan teknologi plasma sebagai teknologi untuk mengatasi kandungan gas NOx, SOx dari asap pembakaran pabrik.

Prinsip dari teknologi plasma dalam mengatasi kandungan gas NOx atau SOx sangatlah mudah. Seperti di jelaskan pada penjelasan di atas, plasma terbentuk dari kumpulan electron bebas, ion serta atom. Aksi-reaksi pada ion dan electron dalam plasma seperti reaksi ionisasi, excitasi, dan dissociasi dengan udara bebas disekitarnya berlanjut dengan terbentuk species aktif (ion, electron, molekul yang mudah bereaksi) seperti Ozone, OH, O, NH 3 yang memiliki sifat radikal sangat mudah bereaksi dengan senyawa-senyawa yang ada disekitarnya. Species aktif yang terbentuk ini kemudian bereaksi dengan gas NOx atau SOx kemudian mengubah serta menguraikannya.

Dewasa ini di Jepang teknologi plasma berkembang sangat pesat. Di mana teknologi plasma memiliki beberapa kelebihan yaitu pembuatan peralatan dan maintenance yang sangat mudah, namun memiliki efektivitas penguraian yang cukup tinggi. Struktur yang mudah dari peralatan teknologi plasma memungkinkan untuk dipasang langsung pada kendaraan bermotor, untuk mengurangi kadar NOx yang timbul pada asap kendaraan hasil dari pembakaran bensin atau solar. Selain untuk mengatasi NOx dan SOx teknologi plasma dapat dipergunakan juga untuk menguraikan berbagai macam senyawa beracun seperti Dioxin, gas VOC (Volatile organic compounds) seperti, CFC, trichloroethylene, toluene, benzene, serta gas dari hasil pembakaran lainnya.

Mengatasi polusi

Seperti halnya pencemaran udara, pencemaran air sangatlah kompleks. Dalam proses produksi sebuah industri pada umumnya dipergunakan berbagai bahan material dari berbagai jenis dan bentuk. Limbah cair industri, pertanian, perkotaan dan rumah tangga selain mengandung senyawa berat (Cd, Cu, Hg, Zn dll.), juga mengandung berbagai macam senyawa organik, seperti dioxin, phenol, benzene, PCB, dan DDT.

Sistem pengolahan limbah cair yang ada sekarang umumnya mempergunakan cara kombinasi antara pemakaian chlorine serta sistem condensasi, sedimentasi, dan filtrasi. Sedangkan untuk pengolahan limbah organik banyak mempergunakan microbiologi, karbon aktif atau membran filtrasi.

Namun, limbah organik semakin banyak yang sulit untuk diuraikan dengan microbiologi atau membran filtrasi, serta membahayakan keselamatan makhluk hidup, meskipun dalam kandungan konsentrasi yang sangat kecil (ppm/ppb) seperti, senyawa dioxin, furan, dan atrazine. Sehingga sistem pengolahan limbah cair yang ada sekarang tidaklah cukup. Apabila hal ini kita biarkan, tanpa kita sadari, air minum yang dipergunakan akan banyak mengandung

senyawa organik, yang selain membahayakan kesehatan manusia juga dapat merusak ekosistem makhluk hidup lainnya.

Untuk mengatasi masalah limbah organik ini, teknologi ozone mulai dipergunakan dalam proses pengolahan limbah cair. Teknologi ini dikenal dapat membersihkan limbah cair hingga mendekati 100 persen (Japan Engineering newspaper, 1996). Ozone yang dikenal sebagai oksidant kuat, selain dapat menghancurkan senyawa-senyawa organik, juga sekaligus dapat membunuh bakteri yang terkandung dalam limbah tadi. Meskipun demikian masih ada beberapa kendala yang harus diselesaikan pada teknologi ozone ini, seperti tingginya biaya operasional serta adanya sisa ozone yang tertinggal dalam air setelah proses pengolahan berlangsung. Sisa ozone yang memiliki kadar cukup tinggi, akan dapat membahayakan manusia.

Teknologi yang kemudian diperkenalkan untuk mengatasi limbah cair setelah teknologi ozone ini adalah teknologi plasma. Sebelum kita jelaskan lebih lanjut tentang teknologi plasma, perlu disampaikan disini bahwa ozone sendiri dapat dibuat dengan mempergunakan teknologi plasma (Siemens 1857). Dewasa ini teknologi plasmalah yang paling banyak dipergunakan untuk membuat ozone. Jadi, secara tidak langsung teknologi ozone adalah pemanfaatan dari teknologi plasma itu sendiri.

Selanjutnya, teknologi plasma juga dapat dipergunakan secara langsung dalam proses pengolahan limbah cair. Salah satu cara adalah dengan membuat plasma dalam air. Seperti halnya plasma di udara, plasma dapat juga dibuat dalam air. Proses pembuatannya sendiri hampir sama, hanya saja pembuatan plasma dalam air memerlukan energi sedikit lebih besar dibandingkan pembuatan plasma di udara, mengingat air adalah materi yang dapat mengalirkan arus listrik.

Plasma dalam air dapat menyebabkan timbulnya berbagai proses reaksi fisika dan kimia, seperti sinar ultraviolet, shockwave, species aktif (OH, O, H, H 2 O 2 ), serta thermal proses.

Banyaknya reaksi fisika dan kimia yang dihasilkan oleh plasma dalam air, membuat teknologi ini dapat merangkum beberapa proses yang dibutuhkan dalam pengolahan air limbah. Sinar ultraviolet yang dihasilkan mampu mengoksidasi senyawa organik sekaligus membunuh bakteri yang terkandung dalam limbah cair. Shockwave yang ditimbulkan mampu menghasilkan proses super critical water yang juga berperan dalam proses pengoksidasian senyawa organik. Dan, yang paling penting banyak dihasilkan species aktif seperti OH, O, H, dan H 2 O 2 yang merupakan beberapa oksidant kuat yang dapat mengoksidasi berbagai senyawa organik sekaligus juga membunuh bakteri dalam limbah cair tersebut. Dan, tidak ketinggalan panas yang dihasilkan oleh plasma ini pun berperan dalam berbagai proses pengoksidasian.

Dari berbagai kelebihan proses yang dimilikinya, teknologi plasma dalam air mulai mendapat perhatian khusus terutama untuk mengolah limbah organik yang umumnya mengandung berbagai macam jenis senyawa organik. Dari berbagai percobaan laboratorium, teknologi plasma dalam air sangat efektif untuk menguraikan senyawa organik seperti TNT, phenol, trichloroethylene, atrazine, dan berbagai jenis zat warna (dye).

Teknologi plasma untuk mengolah limbah cair baik dengan teknologi ozone maupun dengan teknologi plasma dalam air memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan cara konvensional, microbiologi maupun membran filtrasi. Di antaranya proses penguraian senyawa organik berlangsung sangat cepat, pembuatan peralatan serta maintenance yang mudah, serta species aktif yang dihasilkan dapat menguraikan hampir seluruh senyawa organik.

Di Jepang dalam sepuluh tahun terakhir, penggunaan teknologi ozone maupun teknologi plasma berkembang sangat pesat. Terlebih lagi setelah ditetapkannya perundangan tentang Dioxin dan sejenisnya (January 2001). Di mana dioxin dapat diuraikan dengan mempergunakan kombinasi dari ozone dan sinar ultraviolet atau ozone dan hydrogen peroxide.

--------

Artikel ditulis oleh Anto Tri Sugiarto Peneliti KIM-LIPI, Sekjen ISTECS (Institute for Science and Technology Studies) Chapter, Japan Artikel dapat juga dibaca di www.plasmatech-indonesia.ws)

Hopanoid, Indikator Kimia Bagi Kesuburan Tanah

Oleh Sinly E. Putra dan Eza Movina Badan Pengurus Pusat Ikatan Himpunan Mahasiswa Kimia Indonesia

(http://www.chem-is-try.org/index.php?sect=artikel&ext=92)

Siapa yang tak kenal dengan negara yang bernama Indonesia, apalagi oleh orang-orang yang

yang bern ama Indonesia, apalagi oleh orang-orang yang tertarik menanamkan modalnya dalam bidang pertanian dan

tertarik menanamkan modalnya dalam bidang pertanian dan perkebunan? Indonesia mungkin menjadi negara incaran, karena memiliki 5 pulau besar yakni Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua, yang kelima-limanya merupakan lahan yang potensial untuk pengembangan berbagai industri pertanian dan perkebunan.

Salah satu faktor penting untuk menunjang pengembangan kedua bidang tersebut selain tersedianya modal dan lahan yang luas adalah terkontrolnya tingkat kesuburan tanah. Dengan terkontrolnya tingkat kesuburan tanah diharapkan agar lahan yang nantinya digarap akan terus produktif memberikan nutrisi bagi tanaman. Maka dari itu berbagai kajian penelitian tentang indikator tingkat kesuburan tanah telah marak digalakkan oleh para peneliti. Salah satunya adalah pendekatan tentang kaitan antara keberadaan senyawa hopanoid yang dihasilkan oleh suatu bakteri dengan tingkat kesuburan dari tanah. Di sini yang dimaksud dengan tanah subur adalah tanah yang mengandung banyak nutrisi berupa senyawa-senyawa nitrogen. Nutrisi ini dihasilkan oleh aktivitas bakteri penyubur tanah yang mampu menangkap N 2 dari atmosfer dan melakukan fiksasi untuk menghasilkan senyawa-senyawa dalam nitrogen (Giller, 2001).

Senyawa Hopanoid

Senyawa hopanoid sendiri didefinisikan sebagai senyawa hasil metabolisme sekunder yang termasuk dalam golongan triterpen pentasiklik, yang lazim digunakan dalam biomarka pada sedimen tua dan minyak, dan potensial memberikan informasi yang berharga tentang lingkungan-purba suatu sedimen baru dan sedimen tua. Senyawa ini dari prekursor biologinya, disintesis oleh berbagai bakteri sebagai komponen penstabil membran dan banyak ditemukan dalam tanah dan sedimen. Pernah pula dinyatakan bahwa senyawa bahan alam yang paling melimpah di alam adalah senyawa hopanoid karena senyawa ini telah menjadi konstituen utama penyusun membran bakteri tanah (Ounsson, Albrect dan Kolimer, 1984).

Tiga golongan besar bakteri penyubur tanah yang memiliki kontribusi besar terhadap kesuburan tanah antara lain Rhizobia, Cyannobacter, dan Frankia. Bakteri-bakteri penyubur tanah di atas banyak mengandung senyawa hopanoid sebagai konstituen terbesar penyusun dari membran selnya. Misalnya, bakteri Frankia sp. adalah bakteri penyubur tanah yang konstituen penyubur tanahnya terdiri atas 80% hopanoid. Apabila bakteri ini nanti mati, kerangka hopanoid akan tertinggal dalam tanah, sehingga kandungan hopanoid dalam tanah dimungkinkan untuk dijadikan sebagai indikator kesuburan tanah.

Berdasarkan keberadaannya, hopanoid dapat digolongkan menjadi dua jenis yakni biohopanoid dan geohopanoid.

1. Biohopanoid

Biohopanoid adalah senyawa hopanoid yang dihasilkan langsung oleh bakteri dan merupakan senyawa prekursor dari geohopanoid. Keberadaan dan komposisi biohopanoid pada bakteri yang dibiakkan sudah banyak diketahui, sedangkan keberadaan hopanoid secara utuh dalam geosfer dan prekursor hopanoid dalam lingkungan modern belum pernah diterangkan secara tuntas. Adanya jurang pemisah pengertian tentang keberadaan hopanoid bakteri, menyebabkan hopanoid tidak bisa sepenuhnya digunakan sebagai fosil kimia yang berasal dari bakteri.

2. Geohopanoid

Geohopanoid adalah hopanoid yang tidak dihasilkan langsung oleh bakteri melainkan hasil degradasi dari senyawa prekursornya yakni biohopanoid. Geohopanoid mempunyai 3 bentuk isomer di alam. Isomer tersebut adalah hopanoid ββ, hopanoid βα, dan hopanoid αβ.

Hopanoid ββ merupakan senyawa yang kurang stabil di alam dan banyak ditemukan dalam sedimen muda, sedangkan hopanoid βα dan hopanoid αβ merupakan senyawa yang lebih stabil dan banyak ditemukan dalam sedimen tua. Geohopanoid sebagai indikator kematangan sedimen, biasa digunakan para peneliti untuk mengetahui dan mengeksplorasi minyak bumi.

Sebagai salah satu bahan organik, senyawa hopanoid banyak ditemukan dalam bakteri aerobik dan belum pernah ditemukan dalam bakteri anaerobik sehingga sampel tanah yang dianalisis dalam suatu penelitian haruslah dari lapisan tanah permukaan yang kandungan oksigennya tinggi. Selama ini memang sangat sedikit laporan tentang ditemukannya hopanoid dalam tanah permukaan, seperti dalam lumpur, pada sisa kotoran sianobakteri, sedimen ponds kecil, dan juga pada sedimen danau kecil.

Bahan Kimia dan Metode Isolasi Senyawa Hopanoid

Sistematika studi kandungan senyawa hopanoid dalam tanah subur dan tidak subur biasa menggunakan metode yang dilakukan oleh Innes, dkk. (1997 dan 1998) yang meliputi pencarian sampel tanah yang dilanjutkan dengan ekstraksi dan oksidasi ekstrak total dengan H 5 IC 6 dan NaBH 4 . Dan terakhir analisis sampel dengan menggunakan alat identifikasi.

Untuk ekstraksi, berdasarkan prosedur Innes, dkk. sampel disoklet selama 10 jam dengan menggunakan pelarut klorofoam/metanol. Yang kemudian diuapkan pelarutnya dengan evaporator dan dikeringkan dengan gas N 2 lalu dilanjutkan dengan prosedur oksidasi total dengan H 5 IC 6 dan NaBH 4 . Secara teoritik, sistematika ini dapat dijelaskan sebagai berikut; setelah tanah diekstrak dengan pelarut, hopanoid mengalami tahapan degradasi kimiawi meliputi pemutusan ikatan ester dan eter serta pemutusan ikatan karbonalifatik-aromatik antara hopanoid dengan matriks makromolekul organik.

Untuk alat identifikasi senyawa hopanoid dalam sampel, alat yang biasa digunakan adalah metode kromatografi gas yang tergabung dengan detektor spektrometer massa (KG-MS). Berikut beberapa contoh untuk mendeteksi hopanoid dan mengkarakterisasinya berdasarkan

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

10

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

fragmentogram hasil KG-MS :

 

Hopanoid

Analisis

Karakteristik Fragmen Massa

 

Pentakishomopane

ITMS

482

(M/z. 191. 261

(C

35 H 62 )

 

ikatan cincin C) 369 (eliminasi batas cincin)

 

Bishomohopanol

Ekstraksi

528

(M/z. 191. 307

(C

32 H 56 O)

pelarut

Ikatan cincin C) 217 (307-HOTMS). 438

   

(MH-HOTMS)369

(Eliminasi batas

cincin)

Bishomohopanoic acid (C 32 H 54 O)

Ektraksi

484

(M/z. 191. 263

pelarut,

ikatan cincin C)369 (Eliminasi batas

 

Oksidasi

RuO 4

cincin)

Sumber : Winkler, dkk. (2001)

Struktur hopanoid yang didapatkan dari fragmentogram KG-MS mampu mengungkapkan jenis bakteri yang mensintesis karena pada umumnya bakteri mempunyai kerangka hopanoid yang spesifik akibat perbedaan tempat tinggal dan pengaruh lingkungan. Farrimond, Head dan Innes (2002) melaporkan penemuannya tentang hopanoid dengan suatu metil di C-2 atau C-3 pada cincin A. Metilasi pada C-2 dalam kerangka hopanoid pada umumnya menggambarkan senyawa hopanoid itu dihasilkan oleh cyanobacteria dan senyawa ini dapat digunakan untuk menentukan kontribusi cyanobacteria dalam suatu sedimen. Ketiadaan kerangka hopanoid termetilasi pada C-2 memberikan informasi bahwa kesuburan tanah diakibatkan oleh kontribusi bakteri selain cyanobacteria seperti khizobia (jika bersimbiosis dengan kacang-kacangan) atau frankia.

Sedangkan di Indonesia, penelitian untuk mengetahui kandungan senyawa hopanoid yang terdapat dalam tanah subur dan tidak subur telah dilakukan oleh banyak peneliti, dari berbagai penelitian diketahui bahwa senyawa hopanoid hanya dapat ditemukan pada tanah subur dan tidak terkandung dalam tanah tidak subur. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Melissa Christian (2005), berdasarkan dua sampel yang dimiliki yakni tanah subur dan tidak subur dan setelah dianalisis menggunakan detektor spektrometer massa (KG-MS) menunjukkan bahwa hopanoid terdapat dalam tanah subur berupa Hop-17(21)en-35-OAc dan hopanoid tidak terdapat dalam tanah tidak subur. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Anonim 1 berdasarkan dua sampel (tanah subur dan tidak subur) dan setelah dianalisis dengan KG-MS diketahui bahwa hasil penelitiannya sama dengan hasil penelitian di atas yakni dalam tanah subur terdapat senyawa hopanoid berupa Hop-17(21)en-35-OAc. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tanah yang tidak subur yang tidak mengandung hopanoid, tidak ada bakteri tanah yang dapat menangkap N 2 bebas sehingga menyebabkan tanah tersebut menjadi tidak subur. Sehingga dari hal ini dapat disimpulkan bahwa senyawa hopanoid dalam tanah memungkinkan dijadikan sebagai indikator kimia bagi kesuburan tanah.

Daftar Pustaka

Anonim 1 . Kajian Hopanoid dalam Tanah sebagai Indikator Kesuburan.

Augris, N., Balesdent, J., Mariottp, A, Derene, S., Largeau, C., Structure and Origin of

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

11

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Insoluble and Non Hydrolyzable, Aliphatic Organic Matter In a Forest Soil. Organic Geochemistry 28, 119-124, 1998.

Christian, Melissa. 2005. Penjajakan Hubungan antara Hopanoid dalam Tanah dengan Kesuburan. 11 November 2005 Pkl. 09.30 WIB (www.its.ac.id)

Innes, H.E., Bishop, A.N., Head, I.M., dan Farrimond, P., Prenvetion and Diagenesis of Haponaoid in Recent Lacustrine sediments of Prist Pot, England, Organic 26, 565-576,

1997.

Kurniasari, Nonny. 2005. Skrining Hopanoid Utama Strepmyces aureofaciens. 11 November 2005 Pkl. 09.30 WIB (www.its.ac.id)

Lichtfouse, E., Budzinki, H., Garrigues, P., Eglinton, H.I.,Ancient Polycrylic Aromatic

Hdrocarbons in Modern Soil 13 C, 14 C and Biomarker Evidence. Organic Geochemistry 26, 353-359, 1997.

Winkler, A., Haumarer, L., dan Zech, W., Variations in Hopanoid Composition and Abudance in Forest Soil During Litter Decomposition and Humanification, Organic Geochemistry 32, 1375-1385, 2001.

Polusi Udara Jakarta

Oleh Yulianto Mohsin

Tanggal 31 Mei yang lalu ditetapkan sebagai hari tanpa rokok sedunia (World No Tobacco

Day). Indonesia tidak turut ketinggalan ikut serta merayakan hari ini untuk membantu mengingatkan masyarakat akan bahaya merokok dan juga untuk mengurangi polusi udara dari asap rokoki. Kebetulan pada hari yang sama saya mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Banten. Perjalanan yang saya lakukan kali ini dalam rangka berlibur, sekaligus mampir di Jepang bertemu rekan-rekan pengelola situs

Kimia Indonesia. Karena pesawat Japan Airlines yang saya tumpangi mendarat sore hari, dari jendela pesawat saya dapat mengamati skyline ibukota di daerah sekitar bandara.

Dari dalam pesawat dapat saya saksikan gumpulan asap coklat yang tebal mengambang di atas kota. Ternyata berbagai macam polutan udara mulai dari asap rokok, asap kendaraan bermotor, asap bakaran sampah, asap-asap pabrik, dan lain-lain yang dikeluarkan secara terus-menerus selama bertahun-tahun telah membuahkan bukan saja pemandangan tak sedap, tapi juga dampak yang buruk. Saya yang tidak tinggal dan jarang mengunjungi ibukota, merasakan dengan jelas dampak polusi ini. Di dalam kota, ketika saya menengadahkan kepala menatap ke atas, terlihat langit Jakarta yang kecokelat-cokelatan dan suhu udara yang panasnya bukan main (efek rumah kaca). Dan ketika saya jogging keesokan paginya, nafas saya sempat sesak. Ditambah lagi saya jadi sering pilek dan bersin-bersin. Hal yang lazimnya tidak saya alami di kota kediaman tempat saya tinggal di AS.

Ternyata pengalaman saya bukan merupakan sesuatu yang aneh. Kolom popular Muda harian Kompas tanggal 4 Juni menurunkan artikel mengenai polusi Jakarta dengan judul "Gawat, Kita Dikepung Polusi"ii. Penulis artikel menulis, "orang yang hidup di kota besar kebanyakan menderita gangguan pernapasan, yang baru disadari setelah menjalar ke radang tenggorokan dan paru-paru." Mungkin karena saya tidak terbiasa dengan udara Jakarta, gangguan

karena saya tidak terbiasa dengan ud ara Jakarta, gangguan "Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Sela

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

12

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

pernapasan ini langsung dapat saya rasakan ketika baru sampai di sana.

Lain Jakarta, lain halnya kota New York. Kota metropolis dunia ini saya yakin menghasilkan polusi udara yang sama bahkan mungkin lebih banyak dari Jakarta. Tetapi selain memiliki paru-paru kota berupa taman umum Central Park yang luasnya sekitar 3,4 juta m2 ini, banyak usaha lainnya yang telah dilakukan untuk mengurangi polusi udara di kota New York. Di antaranya adalah larangan merokok di dalam berbagai tempat umum seperti restoran, pub, gedung-gedung perkantoran, hotel, dan sebagainya (baca artikel Bahaya Asap Rokok - Red). Keadaan cuaca dan letak geografis sebuah kota juga sangat menentukan. Kota New York yang karena letak geografisnya mengalami empat musim, memiliki musim dingin di mana udara dingin ketika musim gugur dan musim salju tiba menghalau kabut tebal polusi ini ke atas. Sedangkan di Jakarta yang tropis, asap polusi ini mengambang dan terus menumpuk di udara tidak jauh dari tanah, pemandangan yang saya lihat dari pesawat ketika akan mendarat.

Sadar akan bahaya polusi udara yang tinggi, pemerintah AS juga telah mengeluarkan Undang- undang Udara Bersih (Clean Air Act) pada tahun 1990iii. UU yang tebalnya 800 halaman ini sebenarnya telah dikeluarkan sejak tahun 1970, tapi banyak amandemen baru yang dimasukkan di UU tahun 1990.

Dampak buruk polusi udara ini sangat banyak. Satu di antaranya adalah hujan asam (acid rain). Amendemen tahun 1990 UU Udara Bersih AS menargetkan pengurangan emisi sulfur dioksida dan nitrogen dioksida sampai 50 persen. Hujan asam terbentuk ketika kedua senyawa kimia tersebut bereaksi dengan oksigen, air, dan senyawa-senyawa lainnya di awan untuk membentuk solusi asam sulfur dan asam nitrik yang lemah. Sebenarnya senyawa-senyawa kimia ini juga terdapat secara alami (letusan gunung merapi dan kebakaran hutan mengeluarkan sulfur dioksida), tetapi proses alami ini hanya menghasilkan sedikit hujan asam. Air hujan biasa memiliki tingkat keasaman pH sekitar 5.6, tetapi pH air hujan asam bisa serendah 4.3 (ingat jika memakai skala pH, senyawa yang memiliki pH 4 memiliki tingkat keasaman 10 kali lebih asam ketimbang yang memiliki pH 5)iv. Mineral-mineral seperti kalsium dan magnesium sebenarnya dapat menetralkan asam-asam di tanah. Tapi sejalan dengan waktu dan erosi, banyak tanah yang kandungan mineral-mineral pentingnya berkurang.

Hujan asam dapat meningkatkan tingkat keasaman sungai dan danau yang mengakibatkan matinya ikan-ikan dan penghuni habitat kedua tempat tersebut. Hujan asam juga dapat merusak bangunan dan properti lainnya, menodainya menjadi hitam. Hal ini kentara jika kita melihat gedung-gedung di Jakarta yang bagian atasnya kehitam-hitaman. Hujan asam juga terbukti memberikan efek buruk kepada kesehatan. Udara yang terkena siraman hujan asam telah dihubungkan dengan problema pernapasan dan paru-paru pada anak-anak dan orang-orang yang menderita asma.

Perlu kemauan keras pemerintah (yang tertuang dalam sebuah UU) dan perangkat pelaksananya untuk mengurangi tingkat polusi. Tidak ketinggalan juga partisipasi kita sebagai masyarakat. Artikel Muda yang disebut di atas memiliki 21 tips untuk mengurangi polusi. Hal- hal yang dapat kita lakukan sehari-hari:

1. Mengurangi jumlah mobil lalu lalang. Misalnya dengan jalan kaki, naik sepeda, kendaraan umum, atau naik satu kendaraan pribadi bersama teman-teman (car pooling).

2. Selalu merawat mobil dengan seksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya tidak mengotori udara.

3. Meminimalkan pemakaian AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi.

4. Mematuhi batas kecepatan dan jangan membawa beban terlalu berat di mobil agar pemakaian bensin lebih efektif.

5. Meminimalkan penggunaan bahan kimia.

6. Membeli bensin yang bebas timbal (unleaded fuel).

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

13

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

7.

Memilih produk yang ramah lingkungan. Misalnya parfum non-CFC.

8. Memakai plastik berulang kali. Sampah plastik sulit diurai dan kalau dibakar menimbulkan zat beracun.

9. Tidak merokok.

10. Memilah antara sampah basah dan sampah kering dan menyediakan tempat untuk keduanya.

11. Memfotokopi secara bolak-balik atau memakai kertas yang sisinya masih kosong. Menghemat kertas berarti mengurangi penggundulan hutan. Bumi yang hijau dapat menyerap polusi lingkungan lebih baik.

12. Menggunakan lampu dengan kapasitas yang tepat.

13. Bila kita menggunakan kamar kecil, jangan lupa mematikan air setelah kita

pakai. Ingat, semakin banyak air terbuang percuma berarti kita turut memboroskan sumber daya alam.

14. Menghiasi rumah dan lingkungan dengan tanaman asli.

15. Kalau toilet menggunakan pengharum ruangan, pilih yang tidak mengandung aerosol.

16. Jangan membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, selokan dan laut.

17. Menggunakan lebih banyak barang-barang yang terbuat dari kaca/keramik, bukan plastik atau styrofoam.

18. Sebisa mungkin menghindari menggunakan barang/produk dengan kemasan kecil (sachet) karena akan menambah jumlah sampah.

19. Membiasakan menggosok gigi dengan menggunakan gelas, bukan menyalakan keran terus-menerus. Jangan sia-siakan air bersih.

20. Sebisa mungkin menggunakan lap atau sapu tangan untuk menggantikan tisu yang terbuat dari kertas.

21. Mengurangi belanja yang tidak perlu agar tidak menimbulkan sampah di kemudian hari.

Referensi:

i. Perokok Pasif Mempunyai Risiko Lebih Besar Dibandingkan Perokok Aktif (Situs web Departemen Kesehatan) Sambutan Menteri Kesehatan Dr. Achmad Sujudi pada puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2004.

ii. Gawat, Kita Dikepung Polusi Artikel di kolom Muda harian Kompas.

iii.The Plain English Guide to the Clean Air Act

iv. Carrie Dierks, "Acid Rain Is Still a Threat", Oktober 2001.

v. Menristek: Transportasi Penyumbang Gas Pencemar Terbesar

Gawat, Kita Dikepung

Polusi

Pada 31 Mei lalu ditetapkan sebagai hari tanpa rokok. Sehariii… saja kita terbebas dari asap beracun itu. Tahu enggak sih, kalau rokok bisa disebut polusi? Dan tanpa disadari, kebiasaan sehari-hari kita ikut menyumbang polusi. Hiii….

Sebagian dari kita suka menikmati sunrise atau sunset nun jauh di pegunungan atau pantai. Di mana matahari tampak begitu indah dengan langit yang keemasan. Beda dengan langit kelabu yang kita temui sehari-hari. Apalagi di kota besar, jarang banget langit kelihatan biru seperti torehan gambar kita di masa kecil. Kabut yang naik di pagi hari bukanlah teman embun yang menyirami alam. Tapi

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

hal.

14

down loader & editor : Sugeng Abdullah

merupakan asap dari polusi udara di sekitarnya. Bahkan kerlap-kerlip bintang di langit malam makin redup. Inilah satu akibat polusi yang bisa kita lihat.

Kebanyakan polusi itu disumbang oleh freon, timbal, karbon monoksida, dan merkuri. Waduh, jenis benda apa tuh? He-he-he, mungkin kita mengernyitkan kening karena merasa enggak akrab apalagi berteman sama zat-zat tersebut. Gila apa berteman sama racun. Padahal tanpa disadari mereka ada di sekitar kita, dan kita pun "bergaul" lumayan akrab dengannya.

Asalnya polusi

Freon, misalnya. Senyawa bernama lain Chloro Flouro Carbon (CFC) yang dikembangkan antara tahun 1928 dan 1930 ini oleh dunia industri biasanya digunakan sebagai zat pendingin buat AC dan lemari es, juga dalam produk hair spray. Tuh, berarti ada di sekitar rumah kita kan? Namun ternyata penggunaan freon menimbulkan masalah cukup serius. Sebab, freon membuka lapisan ozon di atmosfer hingga timbul lubang di lapisan penyaring ultraviolet ini. Dengan kata lain, sinar ultraviolet langsung menuju Bumi dan tanpa basa-basi mengenai manusia hingga rawan terkena kanker kulit.

Buat Bumi mengakibatkan gas rumah kaca, hingga suhu Bumi naik dan membuat lapisan es Bumi meleleh. Para ahli memperkirakan beberapa bagian daratan Bumi akan tenggelam seiring meningkatnya permukaan air laut akibat gletser yang mencair. Perubahan temperatur tidak bisa dihindarkan. Hal ini menyebabkan perubahan cuaca dan gejala alam yang sulit diramalkan. Dalam bidang pertanian, pola panen jadi berubah-ubah. Kalau kita renungkan, semua gejala itu sudah kita rasakan sekarang. Seperti banjir yang sering melanda kota kita.

Lalu karbon monoksida (CO) antara lain disumbangkan oleh perokok serta asap knalpot kendaraan kita. Walau sebenarnya pencemaran udara ini enggak cuma gara-gara CO. Racun di udara kebanyakan dibuat oleh manusia, yaitu dari pabrik dan kendaraan bermotor. Dua sumber itu akan mencemari udara dengan karbon (C), hidrokarbon (HCI), belerang (S), dan nitrogen (N) yang dilepaskan sebagai bahan bakar fosil (dari minyak, batu bara, dan gas). Juga berkeliaran di jalan zat dioksin hasil kebakaran hutan, asap rokok, knalpot mobil, dan pembakaran limbah plastik. Namun sumber polusi utama di jalanan berasal dari transportasi. Soalnya 60 persen polutan (zat penyebab polusi) dihasilkan karbon monoksida.

Padahal hampir semua segi kehidupan memerlukan udara bersih dalam jumlah yang sangat besar. Udara yang terkontaminasi akan menyebabkan berjuta-juta orang menderita kerusakan paru-paru. Salah satu peristiwa polusi udara terbesar terjadi di London tahun 1952, yang menewaskan 4.000 orang lebih.

Orang yang hidup di kota besar kebanyakan menderita gangguan pernapasan, yang baru disadari setelah menjalar ke radang tenggorokan dan paru-paru. Bila orang tua terbiasa menghirup udara berpolutan, kemungkinan darah janinnya pun terkena polusi. Bayi yang lahir dari orang tua yang darahnya tidak sehat akan mengalami gangguan pada perkembangan fisik dan kecerdasan.

Peredaran racun CO yang lebih dekat lagi sama kita itu dari AC mobil. AC mobil yang enggak dirawat mengotori udara bisa membuat kita terkena alergi atau asma. Jika saluran AC bocor, gas CO yang masuk ke kabin penumpang bisa membuat kita mati lemas tanpa disadari. Sebab, gas CO tidak berwarna dan berbau, tetapi sangat beracun karena dapat bereaksi dan berikatan dengan hemoglobin (Hb). Gejala melewati ambang batas jika kita mulai sakit kepala, lelah, sesak napas setelah lama menghirup udara di sekitar tempat tercemar itu.

Masalahnya penggunaan bahan bakar terus meningkat hingga jumlah CO2 yang dihasilkan makin tinggi. Di sisi lain, pepohonan makin berkurang, misal untuk jalur busway di Jakarta, hingga penyerapan CO2 oleh tanaman menurun.

Berikutnya timbal atau disebut Pb. Kita mungkin pernah mendengar kasus Minamata di Jepang. Orang yang tercemar logam berat menderita cacat dan sistem sarafnya terganggu. Dari mana asalnya logam berat ini? Enggak jauh-jauh dari pergaulan kita juga, yaitu asap kendaraan bermotor yang bahan bakarnya mengandung tetra ethyl lead (TEL), biasa terdapat pada bensin. Sumber pencemar logam Pb lainnya adalah baterai, cat, industri penyepuhan, dan pestisida.

Anak yang sedang tumbuh dan terlalu sering menghirup Pb dari gas buangan kendaraan, kecerdasannya bisa turun, pertumbuhan terhambat, bahkan menimbulkan kelumpuhan. Gejala keracunan Pb lainnya yaitu mual, anemia, dan sakit perut. Makanya jangan suka sembarangan menyantap lalap. Dari hasil penelitian, sayuran yang dijual atau ditanam di pinggir jalan raya dapat mengandung timbal di atas ambang batas yang diizinkan.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

15

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Enggak kalah dahsyatnya racun merkuri (Hg). Penambangan emas menjadi sumber pencemaran merkuri yang serius. Karena menyebarkan merkuri ke udara, air, dan tanah sebanyak 400 hingga 500 ton per tahun. Merkuri, yang digunakan dalam penambangan emas dan perak untuk memisahkan logam berharga tersebut dari batu-batuan dan tanah, sering mengganggu kesehatan penambang maupun keluarganya. Juga mencemari lingkungan. Karena ketika berasa di atmosfer, logam berat berbahaya ini dapat menjangkau wilayah yang jauhnya ribuan kilometer. Sungai di sekitar penambangan turut tercemar, hingga ibu hamil yang memakan ikan yang telah terkontaminasi merkuri dapat melahirkan anak dengan otak cacat.

Racun merkuri juga dihasilkan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan batu bara serta mesin pembakar sampah. Merkuri pun bisa terdapat dalam zat pemutih kulit yang kita pakai. Memang zat itu dapat menyebabkan kulit tampak putih mulus, tetapi lama-kelamaan akan mengendap di bawah kulit. Setelah bertahun-tahun kulit akan biru kehitaman, bahkan memicu timbulnya kanker.

Ubah kebiasaan

Ingat pelajaran Biologi soal ekosistem? Alam ini punya keseimbangan, jika satu terganggu yang lain berantakan. Kalau mekanisme itu diganggu oleh manusia, maka keseimbangan akan kacau. Contoh yang jelas terlihat jika pohon banyak ditebang, maka tanah tak mampu menyerap air hingga akhirnya banjir. Tapi ada juga yang hubungannya enggak dengan segera bisa kita rasakan. Kebayang enggak kalau mobil kita bisa menyebabkan kanker? Asalnya dari asap mobil kita, bergabung dengan asap mobil dan zat polusi lain di udara menyebabkan polusi udara yang membolongi ozon. Akibat rusaknya pelindung bumi dari sinar ultraviolet (UV), maka kulit manusia rentan terkena kanker kulit yang disebabkan UV. Jadi, apa yang kita lakukan bisa berpengaruh buruk buat lingkungan.

Apalagi pencemaran yang satu berkaitan dengan pencemaran yang lain. Gas yang dilepaskan oleh pabrik serta kendaraan bermotor akan menempel di permukaan tumbuhan, bangunan, tanah, dan sumber air serta udara. Bahan-bahan pencemar itu akan terus bahu-membahu memperluas jaringan peredaran. Kalau dunia semakin tercemar apakah kita akan diam saja? Kalau sekarang kita sudah membayar mahal untuk mendapat segelas air putih, bukan mustahil kelak kita harus membeli udara bersih.

Kayaknya sudah saatnya kita membantu Bumi agar tetap layak dihuni manusia. Mulai deh dengan ubah kebiasaan buruk terhadap lingkungan. Dari enggak sering pakai kendaraan jika perginya dekat, memakai produk yang ramah lingkungan, meminimalisasi pemakaian baterai dan produk beracun lainnya, enggak buang sampah sembarangan, dan hemat energi sebisa mungkin. Bisa, kan?

EKA ALAM SARI Tim MUDA

Bahan Bakar Hidrogen Merusak Ozon?

Sumber: Kompas, Minggu, 15 Juni 2003

Hidrogen Merusak Ozon? Sumber: Kompas, Minggu, 15 Juni 2003 Sel bahan bakar hidrogen --ya ng didengung-dengungkan

Sel bahan bakar hidrogen --yang didengung-dengungkan secara luas sebagai sumber energi yang bebas polusi-- bisa jadi tidak sebersih dugaan semula. Demikian diungkapkan para ilmuwan dari California Institute of Technology di Pasadena.

Menurut para peneliti itu, proses penyediaan hidrogen pada sel-sel bahan bakar bisa membuat bumi lebih dingin, lebih berawan, dan

menciptakan lubang ozon yang lebih besar di kutub-kutub bumi. Mengapa? Karena dalam proses produksi dan transportasinya, sekitar 10 hingga 20 persen gas itu akan lepas memenuhi atmosfer, begitu ditulis dalam laporan penelitian di journal Science.

Peningkatan konsentrasi gas hidrogen itu ke udara --tepatnya dua molekul hidrogen-- dari level normal 0,5 ppm (parts per million) akan menciptakan lebih banyak air (H 2 O) karena hidrogen

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

16

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

(H 2 ) akan bereaksi dengan Oksigen (O 2 ). Akibatnya langit bumi akan dipenuhi lebih banyak awan.

Lubang Ozon Membesar

Sel bahan bakar hidrogen dianggap sebagai bentuk energi multi guna, yakni bisa dipakai untuk apa saja, mulai dari keperluan rumah tangga hingga menjadi bahan bakar kendaraan. Hidrogen sekaligus dipercaya sebagai ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas buangan. Bahan ini berpotensi menggantikan bahan bakar fosil (minyak bumi dan gas) yang dituduh sebagai biang keladi polusi udara dan menimbulkan efek rumah kaca karena gas buangannya menutupi atmosfer bumi.

Namun simulasi komputer yang dilakukan untuk menguji teori ini memperlihatkan bahwa penggunaan hidrogen mengakibatkan suhu stratosferis turun hingga 0,5 derajat Celcius, sehingga kedatangan musim semi di kutub Utara dan Selatan akan terlambat. Selain itu lubang ozon yang terdapat di atas kedua wilayah tersebut akan makin lebar, dalam dan bertahan lama.

Hilangnya lapisan ozon di bagian atas atmosfer membuat sinar matahari menerobos langsung ke bumi dan akan meningkatkan resiko kanker kulit. Adapun mengenai hilangnya lapisan ozon itu, banyak orang menyalahkan penggunaan chlorofluorocarbon, bahan kimia yang digunakan pada lemari es. Bahan ini sekarang telah dilarang penggunaannya.

Lapisan ozon yang bolong diharapkan bakal menutup lagi dalam waktu 20 hingga 50 tahun seiring dengan hilangnya chlorofluorocarbon dari atmosfer. Namun masuknya hidrogen ke atmosfer dikatakan akan memperburuk kondisi ini. Bukan menyehatkan, hidrogen barangkali justru memperparah penyakit yang diderita bumi ini.

Lapisan Ozon Terus Berkurang tetapi Hair Spray Masih Digunakan

Suara Pembaruan, 26 Pebruari 2003

Hair Spray Masih Digunakan Suara Pembaruan, 26 Pebruari 2003 Coba tengok botol parfum atau ha ir

Coba tengok botol parfum atau hair spray yang Anda gunakan, apakah produk tersebut menggunakan propellant aerosol atau tidak? Jika ya, sebaiknya jangan Anda gunakan karena produk itu bisa merusak lapisan ozon.

Masalah menipisnya lapisan ozon di stratosfer sudah lama dibicarakan para ahli dan pemerhati lingkungan. Bahkan, berbagai kampanye lingkungan hidup yang berisi sosialisasi mengenai perlunya menjaga lapisan ozon telah pula dilakukan, tetapi masih banyak orang yang belum sadar betapa penting menjaga lapisan ozon itu agar tidak semakin parah.

Menurut Tri Widayati, dari Bidang Atmosfer Kementerian Lingkungan Hidup (LH), selain propellant berbagai senyawa kimia perusak ozon buatan manusia masih juga digunakan, seperti chloroflourcarbon (CFC), halon, metil bromida, dan lain-lain.

Selama bertahun-tahun, senyawa-senyawa kimia tersebut secara luas dipakai untuk berbagai keperluan, seperti sebagai media pendingin di lemari es, alat-alat pendingin ruangan (air conditioner/AC), sebagai blowing agent dalam proses pembuatan foam (busa), sebagai cairan

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

17

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

pembersih (solvent), bahan aktif untuk pemadam kebakaran, bahan aktif untuk fumigasi di pergudangan, pra-pengapalan, dan karantina produk-produk pertanian dan kehutanan.

Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat menyebabkan lapisan ozon tidak lagi mampu melindungi bumi terhadap radiasi ultra violet (UV) dari matahari. Setiap 10 persen penipisan lapisan ozon akan menyebabkan kenaikan radiasi UV sebesar 20 persen.

Kerusakan mata, meluasnya penyakit infeksi, dan peningkatan kasus kanker kulit adalah sebagian dari dampak yang akan timbul, jika lapisan ozon semakin menipis. Jika dibiarkan, radiasi UV tersebut juga akan menyebabkan vaksinasi terhadap sejumlah penyakit menjadi kurang efektif, dan akan memicu reaksi foto kimia yang menghasilkan asap beracun dan hujan asam.

Karena itu, kerusakan lapisan ozon tidak hanya membahayakan jiwa manusia, tetapi juga hewan, tanaman, dan bangunan.

Radiasi UV juga menurunkan kemampuan sejumlah organisme dalam menyerap CO2. CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca, sehingga menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan meningkat dan terjadilah pemanasan global.

Untuk mengantisipasi kian parahnya lapisan ozon, dunia internasional pun sepakat mengurangi konsumsi bahan perusak lapisan ozon (BPO) termasuk CFC secara bertahap. Kesepakatan internasional yang diadakan di Wina, Austria pada 22 Maret 1985 dan pertemuan di Montreal, Kanada pada 16 September 1987 itu kemudian menghasilkan Konvensi Wina dan Protokol Montreal.

Menurut Deputi Bidang Pelestarian Lingkungan Kementerian LH, Dra Liana Bratasida, MS, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden No 23/1992 meratifikasi kedua perjanjian internasional tersebut.

"Dengan demikian, Indonesia berkewajiban ikut melaksanakan ketentuan dalam protokol tersebut. Yaitu mengembangkan program perlindungan lapisan ozon di tingkat nasional serta melaksanakan upaya penghapusan BPO secara bertahap sesuai dengan ketentuan yang berlaku," jelasnya.

Dalam pelaksanaan Konvensi Wina dan Protokol Montreal, Indonesia memperoleh bantuan dana dan teknis dari Multilateral Fund (MLF). Liana menjelaskan bantuan MLF itu sebagian besar disalurkan ke berbagai perusahaan yang dalam proses produksinya masih menggunakan bahan-bahan perusak ozon untuk digantikan dengan bahan-bahan penggantinya yang tidak merusak ozon.

"Total jumlah industri yang sudah kami bantu sejak 1994-2002 adalah 210 perusahaan. Terbagi dalam industri foam, refrigerant, halon, aerosol, solvent, dan industri tembakau. Industri tersebut tersebar di beberapa wilayah Indonesia," kata dia.

Menurut Liana, pemerintah sendiri kini berupaya menggalakkan program insentif untuk mendukung industri yang bersedia menggunakan bahan-bahan pengganti yang tidak merusak ozon. Salah satunya dengan tidak memungut bayaran kepada setiap perusahaan yang bersedia menggunakan teknologi baru yang aman bagi ozon.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

18

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

"Kami juga menyediakan tenaga ahli yang membantu mengoperasikan alat-alat tadi sampai mereka bisa mengoperasikan alat itu sendiri, semua kami berikan secara gratis," ujar Liana.

Dijelaskan, ditargetkan pada 2007 seluruh industri di Indonesia sudah mengganti teknologinya dengan teknologi yang aman bagi ozon. "Dengan total hibah mencapai US$ 16 juta ," ujarnya.

Pemerintah akan menyaring perusahaan-perusahaan yang akan mendapatkan program intensif tersebut. Penyaringan itu dilakukan oleh tim berdasarkan beberapa kriteria.

"Anggota tim yang menyaring tersebut tidak hanya dari Kantor Menteri LH tetapi juga dari World Bank, UNDP, dan UNIDO sebagai pemberi dana," katanya.

Sedangkan untuk pelaksanaan Konvensi Perubahan Iklim negara-negara berkembang memperoleh bantuan dari Global Environment Facilities (GEF). Indonesia belum banyak memanfaatkan bantuan tersebut tetapi baru menyusun komunikasi nasional yang pertama. "Komunikasi Nasional tersebut terutama berisi tentang laporan hasil inventarisasi gas-gas rumah kaca di Indonesia," jelas Liana.

Sementara untuk mengatasi permasalahan deposisi asam sejak tahun 1998 pemerintah Indonesia beserta negara-negara Asia yang lain bergabung dalam suatu jaringan yang disebut EANET (East Asia Network for Acid Deposition).

Fungsi EANET antara lain membantu secara teknis kepada anggota, termasuk pelaksanaan training dan berbagai pertemuan, melakukan kegiatan quality assurance dan quality control terhadap hasil pemantauan, dan mengumpulkan data hasil monitoring, dan lain-lain.

Dikatakan Liana, selain memberi insentif kepada perusahaan, kantor LH juga berupaya menyosialisasikan isu pentingnya perlindungan lapisan ozon, perubahan iklim, dan deposisi asam kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah.

"Hal itu sejalan dengan penerapan otonomi daerah. Dengan demikian pada saatnya nanti pemerintah daerah dan masyarakat di sanalah yang akan memperoleh manfaat dari pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Konvensi Wina dan Konvensi Perubahan Iklim," jelasnya. Dia juga berharap pemerintah dan masyarakat di daerah dapat menangkap berbagai peluang yang timbul dari kedua konvensi dan protokol tersebut. Yaitu mengadakan proyek- proyek investasi yang disalurkan ke berbagai perusahaan untuk menggantikan teknologi dan konsumsi bahan-bahan perusak ozon. (YC/L-2)

Masih Banyak Perusahaan Kimia Tidak Pedulikan Limbah B3

Suara Pembaruan, 12 Maret 2003

Dari 400 perusahaan (industri) kimia di Indonesia, baru 50 persen yang telah mengelola limbahnya secara relatif baik. Sebagian lagi, belum mengelola limbah berupa bahan berbahaya dan beracun (B3) mereka sesuai standar aturan yang berlaku dan bahkan masih menggunakan cara-cara konvensional.

Data tersebut dilansir Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Masnellyarti Hilman, di Jakarta, Selasa (11/3). Pernyataan itu dilontarkan berkaitan dengan rencana penyelenggaraan Responsible Care Award

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

19

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

2003 oleh Komite Nasional Responsible Care Indonesia (KN-RCI).

Masnellyarti tidak memerinci lebih jauh perusahaan-perusahaan itu baik yang pemodalnya dari dalam negeri maupun asing. Secara umum ia menyebutkan presentasenya berimbang antara yang patuh dan tidak patuh dalam mengelola limbah mereka se-suai standar. "Umumnya yang patuh itu memang perusahaan berskala multinasional. Tetapi, di sisi lain masih banyak juga kasus pelanggaran yang justru dilakukan oleh perusahaan besar, terutama pencemaran akibat pembuangan limbah B3,'' katanya.

Industri kimia mulau dikenal di Indonesia pada tahun 1970. Sementara peraturan perundang- undangan yang mengatur pengelolaan limbah B3 baru dimiliki tahun 1994. Pada 1980-an banyak perusahaan kimia di Jakarta yang kebingungan membuang limbah B3 agar tidak merusak lingkungan. "Jadi, inisiatifnya memang muncul dari kalangan pengusaha itu sendiri. Artinya, banyak juga pengusaha yang sebenarnya peduli terhadap masalah lingkungan,'' ungkap Masnellyarti.

Dia akui bahwa informasi mengenai standar pengelolaan limbah tersebut masih sangat minim. Informasi ini belum sepenuhnya sampai kepada kalangan pengusaha, terutama menengah dan kecil. Itu sebabnya, kasus pelanggaran hukum lingkungan masih banyak. Dia sebutkan bahwa sebagian besar pengusaha menengah dan kecil sama sekali belum memahami soal sertifikasi (ISO 14.000). Sertifikasi ini diberikan kepada perusahaan yang telah peduli terhadap lingkungan dan mengelola limbahnya secara benar. Karena itulah, Komite Nasional Responsible Care Indonesia diharapkan dapat memperluas kegiatannya dengan menjangkau anggota yang lebih luas lagi, terutama kalangan industri menengah dan kecil, penyelamatan lingkungan hidup dapat lebih ditingkatkan.

Delapan Perusahaan

Sementara itu, Dadang R Thiar dari Komite tersebut menjelaskan pemberian Responsible Care Award merupakan yang pertama. Komite itu didirikan tahun 1996. Penghargaan akan diberikan kepada delapan perusahaan kimia ternama. Penghargaan dibagi dalam empat kategori, yakni Community Awareness and Emergency Response Code (PT BASF Indonesia dan PT Mitsubishi Chemical Indonesia), Process Safety Code (PT Dow Chemical Indonesia dan PT Pupuk Sriwijaya Indonesia), Pollution Prevention Code (PT Dupont Agricultural Products Indonesia dan PT Bayer Urethane Indonesia), serta Distribution Code (PT ICI Paint Indonesia dan PT Petrokimia Gresik).

Dadang mengungkapkan, dari 400 perusahaan kimia di Indonesia, baru 62 yang menjadi anggota Komite. Dia akui kegiatan yang dilakukan Kmite masih belum optimal. Hal ini disebabkan semua pengurus yang aktif di komite belum bisa sepenuhnya bekerja mengembangkan program yang telah disepakati.

"Kami juga harus menyelesaikan tugas di perusahaan masing-masing. Kadang kami bingung, harus menyelesaikan yang mana dulu, urusan kantor atau kegiatan ini. Diharapkan, tahun ini akan ada pengurus komite dapat bekerja penuh,'' katanya. Komite menargetkan menjaring 100 perusahaan sebagai anggota tahun ini. Disebutkan pula bahwa, pemberian Responsible Care Award bukan semata-mata kontes antarperusahaan. Kegiatan ini dimaksudkan agar semakin banyak perusahaan kimia yang peduli terhadap prinsip-prinsip responsible care. (HD/E-5)

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

20

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Polimer Pencegah Tanah Longsor atau Erosi

Oleh Nurudin Budiman Mahasiswa S-3 Ilmu Material UI

Proses pembuatan polimer emulsi pertama kali dilakukan pada saat Perang Dunia Ke-2. Terancamnya pasokan karet alam dari negara-negara ketiga mengakibatkan beberapa negara seperti Amerika dan sekutunya serta Jepang berlomba-lomba untuk membuat karet alam sintetik.

Polimer emulsi yang pertama kali disintesis adalah poli (1.3 butadiene co styrene). Bentuk dari polimer sintesis tersebut mirip dengan getah karet (latex) sehingga produk polimer-polimer emulsi sering juga dikenal dengan sebutan latex.

Proses pembuatan polimer emulsi adalah dengan polimerisasi radikal bebas. Komponen- komponen yang terlibat dalam polimerisasi emulsi (emulsion polymerization) adalah monomer, inisiator, air, surfaktan, dan aditif. Dewasa ini produk-produk dari polimer emulsi banyak digunakan sebagai lem (adhesive), cat (coating), dan untuk aplikasi tekstil. Fungsi utama dari polimer emulsi adalah sebagai binder (pengikat).

Partikel-partikel tanah pada dasarnya tidak terikat dengan kuat antara satu dan lainnya. Akar dari tanaman akan meningkatkan ikatan dari partikel-partikel tersebut. Hilangnya pohon dan tanaman akibat penebangan liar atau sebab yang lain mengakibatkan partikel-partikel tanah menjadi sangat rentan dan mudah untuk dipisahkan. Apalagi jika tanah yang rentan tersebut dikenai oleh beban yang sangat besar, misalnya aliran sungai yang deras atau hujan yang sangat lebat. Aliran air akan dengan sangat mudah merusak dan menghancurkan ikatan partikel- partikel tanah. Akibatnya, akan terjadi tanah longsor atau erosi.

Polimer emulsi, terutama dari jenis poly (vinyl acetate co acrylic) atau poly (vinil acetate co veova), dapat berfungsi sebagai soil stabilizer. Polimer jenis ini akan meningkatkan ikatan partikel-partikel tanah sehingga akan mencegah pergerakan dari partikel-partikel tersebut serta akan mencegah terdispersinya partikel-partikel tanah oleh air dan udara.

Perlu terlebih dahulu diketahui material-material lain yang juga dapat berfungsi sebagai soil stabilizer dan kelemahan dari setiap material-material tersebut. Material-material yang dapat digunakan sebagai soil stabilizer selain polimer emulsi adalah chlorine based salts, organic resin emulsion, organic oil emulsion, petroleum resin emulsion, liqnin sulfonate, dan enzymes.

Kelemahan dari material-material tersebut di antaranya adalah sifat korosif terhadap logam, tanah menjadi licin jika basah, ikatan antarpartikel tidak kuat, menjadikan tanah dan air tanah menjadi hangat, lapisan menjadi mudah patah (britle) jika kering, lapisan memiliki bau yang menyengat, mudah terlarut, dan proses aplikasinya yang sulit.

Keunggulan dari polimer emulsi dibandingkan dengan material yang lain adalah menciptakan lapisan yang flexible, aman terhadap lingkungan, tidak korosif, tidak mudah terlarut, tanah tidak licin jika basah, tahan air (waterproof), nonflammable, tidak menimbulkan bau, mengikat partikel tanah dengan kuat, aplikasinya yang singkat dan mudah, tahan terhadap sinar matahari (sinar uv) dan alkali, dan yang lebih penting adalah biayanya yang murah.

Metode penggunaannya

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

21

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Polimer emulsi jenis poly (vinyl acetate co acrylic) atau poly (vinil acetate co veova) sebagai soil stabilizer untuk mencegah erosi sudah dilakukan di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, belum lama juga diujicobakan di Malaysia dan Thailand, dan menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Polimer emulsi berbentuk cairan berwarna putih susu (milky white) memiliki pH yang sesuai dengan pH tanah dan memiliki viskositas yang rendah.

Metode penggunaannya adalah dengan menyemprotkan cairan polimer pada tanah-tanah yang rentan terhadap erosi seperti pinggir sungai, tanah-tanah gundul, daerah pertambangan, dan lain-lain. Metode penyemprotannya dapat melalui selang, truk, atau helikopter.

Polimer emulsi yang telah disemprotkan akan berdifusi ke dalam tanah sampai kedalaman dua cm dan akan mengikat setiap partikel tanah dengan kuat. Polimer ini akan membentuk film dalam waktu antara 2 hingga 16 jam tergantung dari jenis tanahnya. Setelah kering dan membentuk lapisan film, maka tanah akan menjadi terlindung dari erosi dan longsor, terutama erosi yang disebabkan hujan deras dan banjir.

Lapisan film dari polimer ini tidak akan merusak bibit-bibit (seeds) tanaman, bahkan akan mencegah terlarutnya atau hilangnya pupuk dari tanah. Kedalaman film yang hanya dua cm dari permukaan tanah tidak akan mengganggu unsur-unsur hara di dalam tanah dan air tanah (ground water). Struktur polimer yang mempunyai gugus fungsi yang hidrofob akan mengakibatkan tanah tahan terhadap air sehingga tidak menjadi licin jika basah.

Aplikasi lain

Selain digunakan sebagai material pencegah erosi atau longsor, polimer emulsi jenis poly (vinyl acetate co acrylic) atau poly (vinil acetate co veova) dapat pula digunakan sebagai dust palliative. Environmental Protection Agency (EPA) menyatakan, bahkan debu (dust) mengandung 108 bahan berbahaya, di antaranya dapat menyebabkan penyakit asma, kanker, alergi, dan penyakit karena virus.

EPA memperkirakan setiap tahun terjadi emisi debu (dust emmision) sebanyak 25 m ton.

Polimer emulsi yang disemprotkan pada tanah akan mencegah terjadinya polusi yang disebabkan oleh debu (dust pollution) karena polimer emulsi akan mencegah terdispersinya partikel-partikel tanah oleh udara. Dengan demikian, selain dapat diaplikasikan di pinggir- pinggir sungai sebagai material pencegah erosi, polimer emulsi juga dapat diaplikasikan pada daerah perkotaan seperti taman kota, tanah lapang, daerah pertambangan, daerah pertanian, pinggir jalan raya, landasan pesawat terbang dan helikopter, tempat parkir, dan lain-lain.

Dengan menggunakan polimer emulsi, selain terhindar dari bahaya longsor dan erosi, kita juga akan terhindar dari berbagai jenis penyakit.

Mobil Tanpa Polusi Bukan Lagi Impian

Kompas, 15 Maret 2003

DENGAN demikian, mobil tanpa polusi bukan lagi mobil yang hanya berada dalam tahap

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

22

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

penelitian atau uji coba, tetapi segera akan dijual secara massal. Dan, untuk sementara, penggunaan fuel cell itu dikhususkan pada mobil Mercedes Benz A-Class, yang akan diberi nama F-Cell. Dan, bahan bakar yang digunakan adalah hidrogen.

Keputusan DaimlerChrysler itu dianggap sebagai satu langkah ke masa depan, mengingat F- Cell adalah benar-benar mobil yang bebas polusi. Di samping mobil itu bebas gas buang (emisi), dalam keadaan berjalan pun mobil itu tidak mengeluarkan suara (bising).

Secara sederhana bisa dikatakan, Mercedes Benz A-Class F-Cell itu menggabungkan hidrogen yang dibawa dalam tangki bahan bakarnya dengan oksigen yang diperoleh dari udara di dalam fuel cell untuk menghasilkan listrik. Dan, listrik yang dihasilkan itu digunakan untuk menggerakkan motor listrik.

Mercedes Benz A-Class F-Cell mempunyai daya jelajah 145 kilometer dalam satu kali pengisian hidrogen. Motor listriknya berdaya (berkekuatan) 87 PK (paardekracht, tenaga kuda), dan kecepatan maksimum yang bisa dicapainya 140 kilometer per jam. Akselerasi dari 0 sampai 100 kilometer per jam dicapai dalam 16 detik.

Beberapa mobil fuel cell lain, yang masih dalam tahap uji coba, juga melengkapi mobilnya dengan dinamo ampere yang berfungsi mengisi baterai atau aki saat mobil digerakkan oleh listrik yang diperoleh dari hidrogen. Saat persediaan hidrogen habis, listrik yang ada di baterai atau aki itu akan menggerakkan mesin listrik. Dengan demikian, daya jelajah mobil bisa mencapai lebih dari 300 kilometer. Kurang lebih setara dengan mobil yang menggunakan bahan bakar bensin atau solar.

FUEL cell terdiri dari dua lempeng elektroda yang mengapit elektrolit. Oksigen dilewatkan pada satu sisi elektroda, sedangkan hidrogen dilewatkan pada sisi elektroda lainnya sehingga menghasilkan listrik, air, dan panas. Cara kerjanya, hidrogen disalurkan melalui katalisator anoda. Oksigen (yang diperoleh dari udara) memasuki katalisator katoda. Didorong oleh katalisator, atom hidrogen membelah menjadi proton dan elektron yang mengambil jalur terpisah di dalam katoda. Proton melintas melalui elektrolit. Elektron-elektron menciptakan aliran yang terpisah, yang dapat dimanfaatkan sebelum elektron-elektron itu kembali ke katoda untuk bergabung dengan hidrogen dan oksigen, dan membentuk molekul air.

Sistem fuel cell mencakup fuel reformer yang dapat memanfaatkan hidrogen dari semua jenis hidrokarbon, seperti gas alam, methanol, atau bahkan gas/bensin. Mengingat fuel cell bekerja secara kimia dan bukan pembakaran seperti mesin konvensional, maka emisinya pun sangat rendah bila dibandingkan dengan mesin konvensional yang paling bersih sekalipun.

Penggunaan fuel cell sebagai penghasil listrik sudah dikembangkan sejak lama. Saat ini lebih dari 200 sistem fuel cell dipasang di berbagai bagian dunia, antara lain di rumah sakit, rumah perawatan, hotel, perkantoran, sekolah, bandar udara, dan penyedia tenaga listrik. Namun, memang penggunaannya pada sebuah mobil itu masih merupakan sesuatu hal yang baru.

Menampung hidrogen untuk digunakan pada mobil tidaklah mudah. Saat ini, hidrogen dibawa di dalam tabung bertekanan tinggi, yang mampu menahan tekanan sampai 10.000 pounds per square inch (psi) atau 700 atmosfer. Membawa-bawa tabung dengan tekanan sebesar itu, sama seperti membawa-bawa sebuah bom, tentunya diperlukan pengamanan yang khusus. Jika tabung itu sampai meledak, bisa dibayangkan apa yang terjadi.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

23

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Tampaknya DaimlerChrysler berhasil mengatasi persoalan yang dibawa oleh tabung penyimpan hidrogen tersebut. Seandainya belum, tentu DaimlerChrysler tidak akan memproduksinya secara massal. (JL)

Pembentukan Karsinogen Dalam Makanan

Sumber: Kompas, 03 Januari 2003

TERNYATA reaksi yang menyebabkan makanan berasa enak dan berwarna menarik pada saat yang sama juga memungkinkan terbentuknya bahan karsinogen. Karena itu, makanan cepat saji (fast food) yang kian populer jangan dikonsumsi berlebihan.

Ada berbagai alasan di balik itu. Kelebihan kalori dan kandungan lemak yang tinggi adalah di antaranya. April lalu ilmuwan-ilmuwan dari Swedia menambahkan alasan mengapa makanan seperti french fries dan potato chips harus hati-hati dikonsumsi. Ternyata, makanan yang kaya karbohidrat bila dipanaskan dapat mengandung akrilamida, senyawa yang diketahui menyebabkan kanker pada tikus.

Namun, saat itu bagaimana proses terbentuknya akrilamida masih belum jelas. Kini, majalah Nature-dalam edisi 2 Oktober 2002-menurunkan dua artikel hasil penelitian ilmuwan di Inggris dan Swiss yang mengungkap proses produksi akrilamida.

Selama proses memasak, asam amino (bahan penyusun protein) dan gula dapat bereaksi melalui apa yang dikenal dengan reaksi Maillard. Reaksi ini ditemukan pertama kali oleh Maillard pada awal abad ke-20, saat ia ingin meneliti bagaimana asam-asam amino berikatan membentuk protein.

Maillard menemukan itu saat memanaskan campuran gula dan asam amino. Campuran berubah warna menjadi kecoklatan. Reaksi berlangsung dengan mudah pada suhu antara 150-260 derajat Celcius, kira-kira suhu pemanasan saat memasak. Tetapi hubungan antara reaksi Maillard dengan perubahan warna dan cita rasa makanan baru diketahui tahun 1940.

PARA prajurit di Perang Dunia II mengeluhkan serbuk telur (mereka diberi ransum telur dalam bentuk serbuk) yang berubah warna menjadi coklat dan rasanya tidak enak. Setelah diteliti, ada hubungan erat antara perubahan warna menjadi coklat dan perubahan rasa itu.

Walaupun serbuk telur disimpan di suhu ruang, konsentrasi asam amino dan gula yang tinggi memungkinkan reaksi Maillard terjadi. Sejak itu diketahui, misalnya, bahwa pada saat memasak daging, ada hubungan antara perubahan warna coklat dan perubahan cita rasanya. Kini bahkan diketahui bahwa cita rasa dan aroma daging panggang ditimbulkan tidak kurang dari 600 senyawa.

Pekerjaan kedua tim ini menyebutkan bahwa reaksi Maillard seringkali dapat menghasilkan akrilamida juga. Donald S Mottram dari University of Reading, mereaksikan asparagin (salah satu jenis asam amino) yang merupakan 40 persen asam amino dalam kentang dengan glukosa. Mereka menemukan bahkan pada suhu 100 derajat Celcius pun telah cukup untuk menghasilkan akrilamida. Jumlah akrilamida yang diproduksi akan meningkat tajam di atas 185

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

24

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

derajat Celcius.

Tim kedua yang diketuai oleh Richard T Stadler dari Nestle Research Center di Lausanne, Swiss, menyimpulkan hal yang sama setelah menguji 20 asam amino pada suhu tinggi. Makanan lain yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti gandum dan sereal, juga kaya akan asparagin dan mungkin akan bereaksi mirip bila dipanaskan.

Efek akrilamida pada manusia memang belum jelas, namun untuk tikus dan lalat buah positif menimbulkan kanker bila dikonsumsi dalam jumlah 1.000 kali diet rata-rata. WHO telah mendaftar akrilamida sebagai senyawa yang "mungkin karsinogenik bagi manusia" dan sedang mengoordinasikan riset untuk meneliti lebih jauh.

Dengan mengetahui pengaruh panas pada makanan yang dapat menghasilkan akrilamida, mungkin arah selanjutnya adalah menggunakan bahan yang kandungan asparaginnya rendah atau memodifikasi reaksi Maillard. Yang jelas, mari kembali pada cara makan yang sehat dan seimbang, termasuk banyak makan buah dan sayur.

(Oleh Ismunandar, Dosen Kimia Institut Teknologi Bandung)

Puluhan zat kimia baru dari tumbuhan

Kompas, 20 Agustus 2002

Penyelidikan tumbuhan hutan di Indonesia yang dilakukan Kelompok Penelitian Kimia Bahan Alam, Departemen Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), sejak tahun 1985 membuktikan, beberapa jenis tumbuhan yang termasuk marga nangka-nangkaan-cempedak (Artocarpus champeden) misalnya-mengandung puluhan zat kimia baru. Zat-zat yang untuk pertama kalinya ditemukan itu dinamai artoindonesianin A, artoindonesianin B, artoindonesianin C, dan seterusnya hingga artoindonesianin V. Kepada Kompas, Senin (19/8), Dr Euis Holisotan Hakim dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB menjelaskan, sebagian besar dari bahan-bahan kimia baru ini tidak ditemukan dalam tumbuhan lainnya. "Bahan kimia ini diketahui bersifat racun terhadap sel-sel yang berhubungan dengan penyakit kanker," ujarnya.

Selain sederet bahan kimia di atas, Euis, yang menamatkan S1 sampai S3 di ITB, juga menemukan puluhan bahan kimia baru lainnya, yaitu asam betulinat dari murbei dan indonesiol dari tanaman medang.

Temuan bahan-bahan kimia baru dari tumbuhan asli Indonesia ini diungkapkan Euis dalam risetnya pada tumbuhan hutan tropika Indonesia sebagai sumber bahan kimia yang berkhasiat obat. Penelitian yang masuk dalam progam Riset Unggulan Terpadu III itu pekan lalu mendapat penghargaan Riset Unggulan Terpadu (RUT) dari Presiden RI.

Indonesia diketahui memiliki keragaman hayati hutan tropis nomor dua tertinggi di dunia setelah Brasil, dan nomor satu untuk keanekaan hayati lautnya. Semua kekayaan hayati

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

25

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

mengandung bahan kimia yang berpotensi sebagai bahan baku industri farmasi, pertanian, makanan, dan minuman.

Obat HIV Pada program RUT yang berlangsung tahun 1995-1998, Euis bersama lima rekannya dalam kelompok penelitian tersebut meneliti tumbuhan marga murbei, yaitu Morus macroura. Tumbuhan ini langka, hampir punah, dan hanya terdapat di Indonesia. Di daerah Minangkabau disebut andalas atau andalaeh, dan di Pasundan disebut keurteuy. Dari tumbuhan ini ditemukan berbagai bahan kimia, termasuk asam betulinat.

Asam betulinat bersama dengan bahan-bahan kimia sejenis bersifat menghambat pembiakan virus HIV, di samping juga antitumor melanoma pada manusia dan mencegah peradangan.

Euis juga menemukan bahan kimia baru yang dinamai indonesiol. Zat kimia ini berasal dari jenis tumbuhan medang (Litsea amara Blume) yang bersifat sebagai hormon pertumbuhan tanaman.

Proses penelitian diawali dengan memilih bagian tumbuhan yang sesuai, seperti kulit batang, kulit akar, dan akar. Bahan tumbuhan yang telah dikeringkan dan digiling halus kemudian direndam dalam cairan kimia untuk melarutkan senyawa-senyawa bahan tumbuhan itu. Selanjutnya, bahan kimia dipekatkan. Puluhan jenis bahan kimia dari sari tumbuhan tersebut dipilah-pilah agar diperoleh bahan kimia murni bagi penelitian selanjutnya.

Penemuan bahan kimia baru dari tumbuhan yang hanya terdapat di Indonesia atau endemik itu telah dipublikasikan dalam berbagai majalah dan jurnal ilmiah internasional.

Penelitian lain Kelompok Penelitian Kimia Bahan Alam telah meneliti pula bahan kimia alami dari sejumlah tumbuh-tumbuhan keluarga Dipterocarpaceae yang dikenal dengan nama meranti, keruing, atau tengkawang. Selama ini meranti hanya dikenal sebagai penghasil kayu, damar, dan minyak tengkawang.

Serangkaian penelitian dilakukan berdasar pertimbangan bahwa setiap jenis tumbuhan, mulai dari yang paling sederhana seperti lumut, jamur, sampai tumbuhan tinggi di hutan tropis Indonesia merupakan sumber bahan-bahan kimia yang tak terhingga jumlahnya.

"Namun, dari empat puluh ribuan jenis tumbuhan hutan tropis Indonesia, yang telah dikenali potensi kimiawinya mungkin tidak lebih dari satu persen saja," ungkap dia.

Saat ini sekitar 1.000 tanaman obat yang sudah dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional hanya "dikenali" khasiatnya, tetapi bukan kandungan bahan kimianya. Karena itu, tanaman obat tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. "Itulah tantangan yang harus dijawab para pakar bidang kimia bahan alam," tegas Euis.

Masih Banyak Perusahaan Kimia Tidak Pedulikan Limbah B3

Suara Pembaruan, 12 Maret 2003

Dari 400 perusahaan (industri) kimia di Indonesia, baru 50 persen yang telah mengelola limbahnya secara relatif baik. Sebagian lagi, belum mengelola limbah berupa bahan berbahaya dan beracun (B3) mereka sesuai standar aturan yang berlaku dan bahkan masih menggunakan cara-cara konvensional.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

26

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Data tersebut dilansir Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Masnellyarti Hilman, di Jakarta, Selasa (11/3). Pernyataan itu dilontarkan berkaitan dengan rencana penyelenggaraan Responsible Care Award 2003 oleh Komite Nasional Responsible Care Indonesia (KN-RCI).

Masnellyarti tidak memerinci lebih jauh perusahaan-perusahaan itu baik yang pemodalnya dari dalam negeri maupun asing. Secara umum ia menyebutkan presentasenya berimbang antara yang patuh dan tidak patuh dalam mengelola limbah mereka se-suai standar. "Umumnya yang patuh itu memang perusahaan berskala multinasional. Tetapi, di sisi lain masih banyak juga kasus pelanggaran yang justru dilakukan oleh perusahaan besar, terutama pencemaran akibat pembuangan limbah B3,'' katanya.

Industri kimia mulau dikenal di Indonesia pada tahun 1970. Sementara peraturan perundang- undangan yang mengatur pengelolaan limbah B3 baru dimiliki tahun 1994. Pada 1980-an banyak perusahaan kimia di Jakarta yang kebingungan membuang limbah B3 agar tidak merusak lingkungan. "Jadi, inisiatifnya memang muncul dari kalangan pengusaha itu sendiri. Artinya, banyak juga pengusaha yang sebenarnya peduli terhadap masalah lingkungan,'' ungkap Masnellyarti.

Dia akui bahwa informasi mengenai standar pengelolaan limbah tersebut masih sangat minim. Informasi ini belum sepenuhnya sampai kepada kalangan pengusaha, terutama menengah dan kecil. Itu sebabnya, kasus pelanggaran hukum lingkungan masih banyak. Dia sebutkan bahwa sebagian besar pengusaha menengah dan kecil sama sekali belum memahami soal sertifikasi (ISO 14.000). Sertifikasi ini diberikan kepada perusahaan yang telah peduli terhadap lingkungan dan mengelola limbahnya secara benar. Karena itulah, Komite Nasional Responsible Care Indonesia diharapkan dapat memperluas kegiatannya dengan menjangkau anggota yang lebih luas lagi, terutama kalangan industri menengah dan kecil, penyelamatan lingkungan hidup dapat lebih ditingkatkan.

Delapan Perusahaan

Sementara itu, Dadang R Thiar dari Komite tersebut menjelaskan pemberian Responsible Care Award merupakan yang pertama. Komite itu didirikan tahun 1996. Penghargaan akan diberikan kepada delapan perusahaan kimia ternama. Penghargaan dibagi dalam empat kategori, yakni Community Awareness and Emergency Response Code (PT BASF Indonesia dan PT Mitsubishi Chemical Indonesia), Process Safety Code (PT Dow Chemical Indonesia dan PT Pupuk Sriwijaya Indonesia), Pollution Prevention Code (PT Dupont Agricultural Products Indonesia dan PT Bayer Urethane Indonesia), serta Distribution Code (PT ICI Paint Indonesia dan PT Petrokimia Gresik).

Dadang mengungkapkan, dari 400 perusahaan kimia di Indonesia, baru 62 yang menjadi anggota Komite. Dia akui kegiatan yang dilakukan Kmite masih belum optimal. Hal ini disebabkan semua pengurus yang aktif di komite belum bisa sepenuhnya bekerja mengembangkan program yang telah disepakati.

"Kami juga harus menyelesaikan tugas di perusahaan masing-masing. Kadang kami bingung, harus menyelesaikan yang mana dulu, urusan kantor atau kegiatan ini. Diharapkan, tahun ini akan ada pengurus komite dapat bekerja penuh,'' katanya. Komite menargetkan menjaring 100 perusahaan sebagai anggota tahun ini. Disebutkan pula bahwa, pemberian Responsible Care

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

27

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Award bukan semata-mata kontes antarperusahaan. Kegiatan ini dimaksudkan agar semakin banyak perusahaan kimia yang peduli terhadap prinsip-prinsip responsible care. (HD/E-5)

Seberapa Efektifkah Garam Beryodium?

Sumber: Kompas, 29 April 2003

Iodium dengan simbol kimia I adalah elemen nonlogam penting yang diperlukan tubuh dalam jumlah renik secara terus-menerus. Kekurangan yodium, khususnya pada anak-anak, sangat mengganggu pertumbuhan dan tingkat kecerdasan.

Oleh sebab itu, Unicef (badan PBB yang mengurusi kesejahteraan anak-anak) beberapa waktu silam, melalui dutanya bintang film James Bond 007, Roger Moore, pernah secara khusus datang ke Indonesia untuk mengampanyekan penggunaan garam beryodium. Hal serupa juga dilakukan Pemda Jawa Barat melalui media TVRI Bandung sekitar Februari 2003.

Yodium di alam tidak pernah ditemukan sebagai elemen tunggal,tetapi ia tersimpan di dalam senyawa, misalnya garam kalium peryodat (KIO). Dalam keadaan kering, garam ini sangat stabil sehingga bisa berumur lebih dari lima puluh tahun tanpa mengalami kerusakan.Itu sebabnya mengapa garam KIO dipakai sebagai suplemen untuk program yodisasi garam (atau garam beryodium).

Garam beryodium mengandung 0,0025 persen berat KIO (artinya dalam 100 gram total berat garam terkandung 2,5 mg KIO ). Berikutinidipaparkan carasederhana untuk menghitung berapa banyak KIO yang dikonsumsi seseorang. Andaikan seorang ibu rumah tangga dalam sehari memasak satu panci sup (kapasitas dua liter) dengan menggunakan dua sendok garam beryodium (misalnya dengan berat 20 gram), dan tiap-tiap anggota keluarga pada hari tersebut melahap dua mangkok (anggap volume total kuah 100ml). Maka,berat total garam KIO yang dikonsumsi tiap-tiap anggota keluarga itu dalam sehari (dengan asumsi tidak makan garam melalui makanan lainnya) adalah 0,0000025 gram atau 2,5 mikrogram (dari 0,0025% x 20 gram x 100 ml/200 ml). Jumlah garam yang sangat kecil, namun sangat diperlukan.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah kesemua 2,5 mikrogram KIO tersebut masuk ke dalam tubuh? Kalau tiap-tiap keluarga memiliki kebiasaan menaburkan garam ketika hidangan telah berada di atas meja makan (tidak pada saat memasak), maka jawabannya benar.

Kenyataannya tidak demikian. Karena hampir semua ibu rumah tangga selalu mencampurkan garam beryodium saat memproses makanan. Kalau hal ini dilakukan, maka kemungkinan besar yodium yang jumlahnya sangat kecil ini telah lenyap sebagai gas selama memasak.

Secara kimiawi, fenomena tersebut dijelaskan dari proses reduksi KIO. Reaksi reduksi ini sebenarnya berlangsung sangat lambat. Namun, laju reaksi bisa dipercepat jutaan kali lipat dengan bantuan senyawa antioksidan, keasaman larutan, dan panas. Seperti kita ketahui bahwa semua bahan makanan organik (hewan ataupun tanaman) selalu memiliki antioksidan, dan proses memasak selalu menggunakan panas serta terkadang ada asamnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan garam beryodium untuk ini menjadi sia-sia.

Percobaan sederhana untuk membuktikan lenyapnya yodium adalah dengan mencampurkan garam beryodium dengan antioksidan (bisa berupa tumbukan cabai atau bawang) dan asam cuka, yang kemudian direbus. Yodium yang lepas bisa diamati dari larutan kanji sebagai indikator. Bila berubah menjadibiru, pertanda yodium telah lepas sebagaigas.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

28

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Makanan laut

Sangat sulit mengubah kebiasaan ibu rumah tangga yang terbiasa membubuhi garam pada saat memproses makanan. Namun, program pemberian yodium masih bisa dilakukan dengan cara lain tanpa mengubah perilaku, yaitu melalui promosi penggunaan makanan laut. Kandungan yodium dalam makanan laut seperti ikan, kerang, cumi, atau rumput laut berkisar 0,0002 persen. Keuntungan konsumsi yodium melalui makanan laut adalah elemen yodium tersebut tidak hilang selama pemrosesan masakan. Selain itu, jumlah yang dimakan biasanya juga lebih tinggi (bila kita mengonsumsi 50 gram ikan laut, berarti yodium yang masuk setara 100 mikrogram yodium). Mungkin ini penjelasan mengapa jarang ditemui kasus kekurangan yodium pada orang-orang Eropa. Karena sejak dulu hingga kini, mereka mempunyai kebiasaan memakan ikan laut. Setidak-tidaknya, melalui kebiasaan menyajikan ikan (tidak ada daging) sebagai menu utama pada kebanyakan restoran atau kedai-kedai di setiap hari Jumat.

Sayangnya, kebanyakan orang-orang pedalaman Indonesia tidak begitu menggemari makanan laut. Mungkin akibat kebiasaan menu ikan tidak ada, daya beli rendah, atau alergi. Namun, masalah ini masih bisa diatasi dengan mengganti ikan laut dengan rumput laut.

Jepang adalah negara terdepan dalam konsumsi rumput laut, dan kasus kekurangan yodium juga sangat rendah di negara tersebut. Di sana, rumput laut diproses menjadi anyaman halus yang disebut nori. Nori ini dipakai sebagai berbagai pembungkus makanan, misalnya nasi kepal (onigiri) atau sushi. Selain itu, juga dipakai sebagai campuran penyedap rasa pada mi rebus, seperti ramen atau soba. Mungkin seandainya kita mau meniru, misalnya daun pisang pembungkus lemper diganti lembaran rumput laut, atau mi bakso maupun mi pangsit dibubuhi penyedap dari rumput laut, maka kasus kekurangan yodium akan berkurang di negeri ini.

Pentradisian penggunaan makanan laut hendaknya terus digalakkan karena lebih dari 70 persen dari luas wilayah negeri ini adalah laut.

---------

Ditulis oleh Zeily Nurachman (Guru biokimia di Departemen Kimia ITB) dan Sarwono Hadi (Guru kimia dasar di Departemen Kimia ITB).

Pasir sebagai Sumber Energi

Sumber: Kompas, 17 Mei 2003

MENGUTIP Christ Lewis, Prof Wasrin Syafii mengatakan bahwa gas alam, minyak bumi, dan batu bara diperkirakan akan habis berturut-turut pada tahun 2047, 2080, dan 2180. Sumber daya energi nuklir bahkan diperkirakan akan sudah habis pada tahun 2017.

Oleh karena mengantisipasi segera akan habisnya sumber- sumber daya energi fosil dan nuklir itu, negara-negara maju giat melakukan litbang (penelitian dan pengembangan) untuk menemukan dan memanfaatkan sumber-sumber daya energi alternatif.

Pasir, seperti diceritakan Dr Wahyu Supartono, merupakan salah satu sumber energi alternatif. Biomassa yang dikedepankan Prof Wasrin Syafii juga merupakan sumber energi alternatif, dan bahkan lebih baik sebab sumber daya energi ini terbarukan.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

29

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Selama bertahun-tahun sejak masa Orde Baru sampai Orde Reformasi, pasir laut kita ditambang secara besar-besaran dengan kapal-kapal keruk. Penambangnya ada yang mengantongi izin resmi, ada juga secara liar mencuri pasir laut itu.

Pasir itu dijual ke Singapura dan dipakai negara jiran itu untuk mereklamasi pantainya sehingga negara pulau itu bertambah areanya. Jadi, pasir laut itu hanya dinilai sebagai tanah uruk (land- fill), dan karena dibeli secara borongan dengan partai besar, harganya sangat murah.

Entah sudah berapa ratus ribu ton pasir laut kita diobral ke Singapura. Laut di sana menjadi keruh sehingga ikannya menyingkir dan tak lagi dapat ditangkap oleh nelayan tradisional di Kepulauan Riau.

Dr Wahyu Supartono menerangkan bahwa pasir itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Konstituen utamanya, yakni silisium, juga dapat diolah menjadi silikon, salah satu bahan semikonduktor yang dipakai untuk memproduksi peranti-peranti elektronik (electronic devices).

MOSFET (metal-oxyde semiconductor field-effect transistor) sudah lama dikenal sebagai peranti yang dapat difungsikan sebagai gerbang elektronik. Puluhan bahkan ratusan ribu peranti semacam itu dapat dirangkun ke dalam satu cebis tunggal.

Istilah teknisnya VLSI (very large scale integration) atau perangkunan berskala amat besar. Walaupun sudah tertinggal sangat jauh, putra-putri bangsa kita juga melakukan penelitian di bidang ini.

Dr Tatty Menko di ITB, misalnya, sedang menggarap "cetakan" untuk merangkai peranti- peranti semikonduktor itu menjadi cebis renik (microchip) dengan perangkunan berskala besar (LSI/large scale integration).

Prof Mohamad Barmawi, juga dari ITB, meneliti kemungkinan penggunaan silikon nitrida yang dibuat dengan teknik pendadahan (doping) khusus untuk membuat diode pancar cahaya (LED/light-emitting diode) dengan efisiensi konversi ke cahaya yang tinggi, dan dengan spektrum yang mendekati cahaya alam di siang hari.

Potensi yang terkandung dalam pasir laut ini sama sekali tidak diperhitungkan sehingga juga tidak dikertaaji (not monetized). Singapura memang memakai pasir laut yang diimpor dari Indonesia sebagai tanah uruk. Tetapi pada ketepatan waktunya kelak, kalau perlu negara pulau kecil yang ipteknya berkembang dengan pesat itu dapat saja menambang pasir lagi dari pantainya, lalu mengekstraksi silikonnya.

Sumber energi nuklir

Selain mengandung silikon, konon pasir laut yang dijual murah ke Singapura itu juga mengandung torium. Dr Anggraito Pramudito APU, dari PPNY-BATAN mengatakan hal itu kepada saya.

Waktu itu kami sedang mengikuti suatu konferensi internasional. Anggraito menyesalkan pengobralan pasir laut itu, sambil memberi saya makalah yang telah ditulisnya, tentang penguat energi (energy amplifier). Barangkali karena penguat energi itu merupakan bagian dari

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

30

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

teknologi nuklir untuk membangkitkan energi elektrik, maka ia lalu menyinggung kandungan torium dalam pasir laut Riau.

Torium (Th-232) ialah bahan-bakar subur (fertile) karena dapat membiakkan bahan-bakar terbelahkan (fissile). Torium ialah unsur nomor 90 dalam Tabel Periodik. Di dalam inti atomnya terdapat 90 proton.

Dalam uranium alam, kadar uranium 233 (U-233) teramat sangat rendah, tetapi U-233 yang terbelahkan ini dapat diperoleh dari Th-232. Dengan menangkap neutron, Th-232 menjadi terteral (excited) dan memancarkan sebagian energinya berupa sinar gamma.

Oleh karena setelah tangkapan menyinar (radiative capture) ini Th-233 yang terbentuk dari Th- 232 plus neutron itu belum mantap juga, maka ia meluruh (decays) dua kali berturut-turut dengan melepaskan zarah beta (elektron).

Karena di dalam inti atom tidak ada elektron, maka zarah beta itu pastilah tercipta ketika neutron di dalam inti berubah menjadi proton. Karena emisi zarah beta itu dua kali, maka inti torium itu memperoleh tambahan dua proton.

Nomor atom (jumlah proton di dalam inti)-nya bertambah dua, menjadi 90 + 2 = 92. Unsur nomor 92 ialah uranium. Jadi telah diperoleh U-233, dan U-233 sama baiknya dengan U-235 atau Pu-239 (plutonium), baik sebagai bahan bakar yang dipakai dalam PLTN untuk mebangkitkan energi elektrik maupun untuk membuat senjata nuklir!

Jadi, Singapura berpotensi untuk memperoleh keuntungan lebih besar lagi dari impor pasir lautnya dari Indonesia. India telah maju dalam perencanaan pemanfaatan torium sebagai bahan bakar subur.

Ramalan Bill Clinton

Prof Wasrin Syafii menyebutkan tahun 2017 sebagai saat tamatnya riwayat energi nuklir, dengan catatan "kecuali kalau nuclear breeder atau nuclear fusion bisa dikembangkan.

Sebenarnya reaktor pembiak (breeder reactor) sudah ada. Perancis konon telah mengoperasikan LMFBR (liquid metal fast breeder reactor) atau reaktor pembiak cepat (berpendingin) logam cair.

Yang dibiakkan adalah Pu- 239 dan bahan subur yang dipakai untuk membiakkannya adalah U- 238. Reaktornya disebut reaktor cepat sebab neutron yang mengimbaskan pembelahan inti adalah neutron cepat, dengan energi lebih dari 1 MeV (mega-elektron-volt). Logam cair yang dipakai sebagai zat pendingin ialah lelehan natrium.

Fusi nuklir secara terkendali masih terus dalam tahap penelitian dan pengembangan. Ketika masih menjadi Presiden, pada tahun 1998, Bill Clinton memprediksikan bahwa di tahun 2048 dunia akan melihat beroperasinya secara komersial PLT-fusi nuklir, bersamaan dengan terberantasnya secara tuntas AIDS (sindrom penurunan kekebalan tularan).

Kalau ramalan itu jitu, dunia dapat menghentikan pemakaian bahan bakar fosil yang masih tersisa sebab gas buangannya mencemari lingkungan dan dapat menyebabkan hujan asam dan pemanasan global.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

31

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Kimia dan nuklir hidrogen

Pada dasarnya, PLT-fusi nuklir memperoleh energi dari perpaduan 4 proton (= inti hidrogen) menjadi inti helium. Yang lebih prospektif untuk direalisasikan lebih dulu ialah fusi antara deuteron dan triton yang membentuk helium plus neutron.

Deuteron dan triton itu keduanya ialah inti isotop-isotop hidrogen. Jadi, dalam PLT-fusi nuklir sumber energinya ialah (inti) hidrogen.

Sementara menanti kehadiran energi nuklir hidrogen itu, barangkali kita akan memakai energi hidrogen juga, tetapi hanya energi kimianya. Litbang sel bahan-bakar (fuel cells) sekarang menunjukkan kemajuan besar.

Setelah energi kimia atom hidrogen dalam senyawa hidrokarbon disadap dalam sel bahan bakar, kemajuan berikutnya ialah penggunaan secara langsung H2 sebagai sumber energi kimia dalam sel bahan bakar.

Yang jangan dilupakan ialah energi nuklir hidrogen dari alam, dari reaksi termonuklir yang terjadi di Matahari. Sumber daya energi yang sangat besar dan ramah lingkungan ini juga harus ditangkap.

Bukan hanya dengan cara "berkebun" seperti disarankan Prof Wasrin Syafii, tetapi juga dengan teknologi tinggi. Efisiensi sel surya harus ditingkatkan. Perakitannya dalam skala besar juga harus terus digarap, seperti dalam litbang satelit daya surya (SPS/solar power satellite) di Jepang.

(Ditulis oleh L Wilardjo, Guru Besar Fisika Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga)

Pembentukan Karsinogen Dalam Makanan

Sumber: Kompas, 03 Januari 2003

TERNYATA reaksi yang menyebabkan makanan berasa enak dan berwarna menarik pada saat yang sama juga memungkinkan terbentuknya bahan karsinogen. Karena itu, makanan cepat saji (fast food) yang kian populer jangan dikonsumsi berlebihan.

Ada berbagai alasan di balik itu. Kelebihan kalori dan kandungan lemak yang tinggi adalah di antaranya. April lalu ilmuwan-ilmuwan dari Swedia menambahkan alasan mengapa makanan seperti french fries dan potato chips harus hati-hati dikonsumsi. Ternyata, makanan yang kaya karbohidrat bila dipanaskan dapat mengandung akrilamida, senyawa yang diketahui menyebabkan kanker pada tikus.

Namun, saat itu bagaimana proses terbentuknya akrilamida masih belum jelas. Kini, majalah Nature-dalam edisi 2 Oktober 2002-menurunkan dua artikel hasil penelitian ilmuwan di Inggris dan Swiss yang mengungkap proses produksi akrilamida.

Selama proses memasak, asam amino (bahan penyusun protein) dan gula dapat bereaksi melalui apa yang dikenal dengan reaksi Maillard. Reaksi ini ditemukan pertama kali oleh Maillard pada awal abad ke-20, saat ia ingin meneliti bagaimana asam-asam amino berikatan membentuk protein.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

32

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Maillard menemukan itu saat memanaskan campuran gula dan asam amino. Campuran berubah warna menjadi kecoklatan. Reaksi berlangsung dengan mudah pada suhu antara 150-260 derajat Celcius, kira-kira suhu pemanasan saat memasak. Tetapi hubungan antara reaksi Maillard dengan perubahan warna dan cita rasa makanan baru diketahui tahun 1940.

PARA prajurit di Perang Dunia II mengeluhkan serbuk telur (mereka diberi ransum telur dalam bentuk serbuk) yang berubah warna menjadi coklat dan rasanya tidak enak. Setelah diteliti, ada hubungan erat antara perubahan warna menjadi coklat dan perubahan rasa itu.

Walaupun serbuk telur disimpan di suhu ruang, konsentrasi asam amino dan gula yang tinggi memungkinkan reaksi Maillard terjadi. Sejak itu diketahui, misalnya, bahwa pada saat memasak daging, ada hubungan antara perubahan warna coklat dan perubahan cita rasanya. Kini bahkan diketahui bahwa cita rasa dan aroma daging panggang ditimbulkan tidak kurang dari 600 senyawa.

Pekerjaan kedua tim ini menyebutkan bahwa reaksi Maillard seringkali dapat menghasilkan akrilamida juga. Donald S Mottram dari University of Reading, mereaksikan asparagin (salah satu jenis asam amino) yang merupakan 40 persen asam amino dalam kentang dengan glukosa. Mereka menemukan bahkan pada suhu 100 derajat Celcius pun telah cukup untuk menghasilkan akrilamida. Jumlah akrilamida yang diproduksi akan meningkat tajam di atas 185 derajat Celcius.

Tim kedua yang diketuai oleh Richard T Stadler dari Nestle Research Center di Lausanne, Swiss, menyimpulkan hal yang sama setelah menguji 20 asam amino pada suhu tinggi. Makanan lain yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti gandum dan sereal, juga kaya akan asparagin dan mungkin akan bereaksi mirip bila dipanaskan.

Efek akrilamida pada manusia memang belum jelas, namun untuk tikus dan lalat buah positif menimbulkan kanker bila dikonsumsi dalam jumlah 1.000 kali diet rata-rata. WHO telah mendaftar akrilamida sebagai senyawa yang "mungkin karsinogenik bagi manusia" dan sedang mengoordinasikan riset untuk meneliti lebih jauh.

Dengan mengetahui pengaruh panas pada makanan yang dapat menghasilkan akrilamida, mungkin arah selanjutnya adalah menggunakan bahan yang kandungan asparaginnya rendah atau memodifikasi reaksi Maillard. Yang jelas, mari kembali pada cara makan yang sehat dan seimbang, termasuk banyak makan buah dan sayur.

(Oleh Ismunandar, Dosen Kimia Institut Teknologi Bandung)

Si Manis Yang Bermasalah

Kimi a Institut Teknologi Bandung) Si Manis Yang Bermasalah Oleh Silvia Iskandar Coba perhatikan komposisi baha

Oleh Silvia Iskandar

Coba perhatikan komposisi bahan pada bungkus-bungkus makanan jadi di sekitar kita, terutama yang berembel-embel kata "diet", "rendah kalori", atau "bebas gula". Apa yang Anda lihat di sana? Aspartame, aspartame, lagi-lagi aspartame? Kalau begitu mungkin Anda perlu berhati-hati, apalagi kalau makanan-makanan ini termasuk yang sering

hal.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

33

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Anda konsumsi.

Tapi tunggu dulu, sebenarnya aspartame ini makhluk apa sih? Kok dia begitu merajai produk makanan yang ada di pasaran?

Aspartame adalah bahan pemanis rendah kalori pengganti gula biasa (sukrosa) yang ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1965 oleh James Schlatter, peneliti yang pada waktu itu bekerja di G.D.Searle and Co. dan sedang berusaha mencari obat baru untuk luka dalam. Ketika ia menjilat jarinya untuk memudahkannya mengambil selembar kertas, Schlatter menyadari betapa manisnya rasa senyawa sintesis yang telah ia buat. Senyawa inilah yang kemudian diberi nama aspartame, yang telah menjadi bagian menu sehari-hari masyarakat modern.

Kita bisa merasakan rasa manis kalau molekul yang tepat melekat pada reseptor, yaitu struktur penerima stimulasi dari luar, yang terdapat pada membran sel lidah. Melekatnya molekul ini memicu proses berantai yang pada akhirnya menghasilkan zat transmisi saraf. Zat ini berfungsi sebagai sinyal yang memberi tahu otak bahwa kita sedang memakan sesuatu yang manis. Jadi sebenarnya, zat apapun yang melekat dengan pas pada reseptor rasa manis kita, akan dianggap gula oleh otak. Itulah sebabnya kenapa selain aspartame masih banyak lagi pemanis buatan, di antaranya saccharin, sorbitol, acesulfame potassium dan lain-lain. Struktur, golongan, bahan dasar dan harganya yang berbeda-beda membuat dunia pemanis buatan semakin marak. Kadar rasa manisnya yang beratus-ratus kali lipat gula biasa membuatnya menjadi bahan makanan tambahan yang tepat ditinjau dari segi komersil . Para produsen minuman kaleng dapat menggunakan lebih banyak air dan menurunkan ongkos produksi, di samping itu para konsumen pun dapat mengurangi jumlah kalori yang mereka konsumsi dan menjaga berat badan atau kadar gula darah bagi penderita kencing manis.

Gula biasa dicerna dan masuk ke dalam siklus metabolisme tubuh untuk kemudian diubah

menjadi kalori. Kalori yang berlebihan dan tidak terpakai disimpan sebagai lemak. Sementara

itu saccharin dan acesulfame tidak tercerna dan berarti tidak menjadi kalori sama sekali.

Berbeda dengan saccharin dan acesulfame yang akhirnya disingkirkan begitu saja, di dalam tubuh aspartame, yang lebih mudah disintesis ini, kembali diubah menjadi 3 komposisi dasarnya: phenylalanine, aspartate dan methanol. Inilah yang menyulut perdebatan sengit seputar aspartame yang sampai sekarang pun masih belum benar-benar terselesaikan.

Phenylalanine adalah asam amino yang tidak dapat dicerna oleh penderita phenylketonuria (PKU). Penderita PKU tidak mempunyai enzim yang dapat mencerna phenylalanine menjadi zat transmisi saraf. Akibatnya phenylalanine terakumulasi dalam jaringan saraf dan dapat menyebabkan cacat mental.

Efek buruk aspartame terhadap penderita PKU yang sudah jelas ini masih dapat diatasi dengan label tambahan yang memperingatkan penderita PKU untuk tidak mengkonsumsi produk tersebut. Yang jadi masalah ialah efek aspartame yang masih belum jelas: phenylalanine dilaporkan dapat menyebabkan kejang-kejang dan dan didegradasi menjadi diketopiperazine (DKP), zat penyebab tumor; methanol yang terakumulasi dalam tubuh dapat merusak saraf mata dan menyebabkan kebutaan. Selain itu methanol juga diubah menjadi formaldehida (zat pengawet mayat) dan asam format (zat racun semut rangrang). Aspartate juga dilaporkan telah menyebabkan otak tikus-tikus percobaan berlubang.

Di Amerika, di mana kegemukan sudah menjadi masalah nasional dan bukan hanya problem

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

34

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

pribadi, laporan-laporan miring mengenai aspartame ini cukup menggegerkan. Grafik kasus kanker payudara menunjukkan peningkatan yang selaras dengan peningkatan penggunaan aspartame dalam produk makanan jadi, suatu fakta yang lagi-lagi menambah alasan mengapa aspartame harus dicurigai.

Saccharin adalah pemanis buatan yang ditemukan pertama kali pada tahun 1879. Pemanis buatan yang kurang populer ini tiba-tiba saja menjadi bahan pokok penduduk sipil ketika semua gula yang ada dikirim ke medan perang untuk konsumsi para tentara pada Perang Dunia I. Namun pada saat Perang Teluk tahun 1991, aspartame-lah yang dikirim dalam kemasan minuman kaleng diet soda. Panasnya terik matahari mengkatalisasi proses kimia yang memecah aspartame menjadi komponen-komponen mautnya. Semakin banyak orang yang curiga kalau aspartame adalah biang keladi Gulf War Syndrome, penyakit yang menggerogoti veteran Perang Teluk dengan gejala-gejala seperti sakit kepala, gangguan pernafasan dan rasa lelah yang berlebihan.

Debat seputar aspartame masih belum dapat terselesaikan karena masih belum ditemukan bukti langsung yang menunjuk aspartame sebagai penyebab kesemuanya ini. Mungkin saja para veteran Perang Teluk mengisap gas beracun di medan perang, siapa bilang jumlah aspartame yang kita konsumsi sudah mencapai dosis yang membahayakan? Kira-kira begitulah komentar para pendukung aspartame. Sementara itu kepentingan komersil lebih diutamakan dan aspartame tetap mempertahankan posisinya dalam daftar resmi bahan makanan tambahan

Beberapa link untuk referensi selanjutnya

1. http://aspartamekills.com/mpvalley/

2. http://www.caloriecontrol.org/sorbitol.html

3. http://www.aspartame-info.com/

Lutein: Anti-oksidan Pelindung Mata

Sumber: Kompas, 14 April 2003

LUTEIN (LOO-teen)-suatu jenis karotenoid-merupakan senyawa berbentuk kristal padat dan berwarna kuning yang banyak terdapatpada sayuranberwarna hijau.

Dengan makanan, suplemen atau makanan melalui tubuh luar dari didatangkan harus sehingga tubuh) dalam di disintesa dapat (tidak esensial senyawa merupakan Lutein bebas. radikal oleh diakibatkan yang kerusakan terhadap sel melindungi anti-oksidan berperan sebagai molekul berat.

Perlindungan macula

Macula berada di tengah-tengah retina dan bersebelahan langsung dengan lensa mata. Macula merupakan daerah kecil yang mengandung jutaan sel yang membantu menghasilkan penglihatan yang tajam untuk membaca atau melihat obyek dengan jelas. Pigmen macular dipercaya melindungi retina dari radiasi sinar yang masuk ke mata.

Macula menerima cahaya pada berbagai panjang gelombang, hal ini membuatnya rentan terhadap kerusakan oleh cahaya biru. Perusakan macula oleh cahaya biru berkontribusi pada

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

35

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

degenerasi macular berkaitan dengan bertambahnya usia (age-related macular degeneration/AMD). AMD adalah kerusakan macula berupa menurunnya kerapatan pigmen yang berperan menyaring cahaya yang masuk ke mata. Akibatnya penderita AMD tidak bisa melihat dengan jelas, tidak dapat membaca, atau bahkan tidak dapat mengenali wajah teman sendiri. AMD terbagi menjadi dua kelompok, yaitu dry AMD dan wet AMD. Dry AMD, yang merupakan kasus terbanyak AMD (90 persen), adalah kerusakan pada retina akibat pecahnya sel pada macula yang diakibatkan oleh suatu deposit yang disebut drusen. Tahap selanjutnya kerusakan mata adalah wet AMD yang mencakup pembentukan pembuluh darah abnormal pada macula yang berpotensi menyebabkan kebutaan total. AMD merupakan penyebab kebutaan yang irreversible pada masyarakat AS yang berumur 65 tahun ke atas.

Paparan mata terhadap sinar matahari langsung sepanjang umur menurunkan kerapatan pigmen macular. Selain itu, kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol diketahui berperan pada penurunan kerapatan pigmen tersebut. Menurunnya kerapatan pigmen macular berakibat pada menurunnya kemampuan retina untuk menyaring cahaya yang masuk. Dr Billy R Hammond melakukan studi kepekaan penglihatan pada dua kelompok umur yang berbeda (kelompok umur 24-26 tahun dan kelompok 64-80 tahun). Penelitian ini menunjukkan bahwa subyek yang tua, dengan konsentrasi lutein dan zeaxanthin yang tinggi pada macula, memiliki kepekaan penglihatan yang sama dengan subyek yang muda. Sebaliknya, subyek yang tua dengan konsentrasi lutein dan zeaxanthin yang rendah memiliki kepekaan penglihatan yang rendah. Hal ini membuktikan bahwa lutein merupakan komponen aktif penting dalam proses penglihatan.

Para peneliti dari School of Medicine and Opthalmology Universitas Indiana dalam studi hubungan antara faktor makanan, medis, dan gaya hidup dengan kerapatan pigmen macular, membuktikan bahwa lutein dan zeaxanthin terbanyak menyumbang keragaman kerapatan pigmen macular. Hal tersebut menunjukkan bahwa lutein dan zeaxanthin merupakan determinan utama kerapatan pigmen optik macular. Sementara itu, Dr Max Snodderly dari Universitas Harvard menemukan bahwa cahaya biru adalah penyebab utama kerusakan mata dan dapat menyebabkan foto-oksidasi pada daerah macula. Foto-oksidasi mengakibatkan peroksidasi lipid yang sangat toksik untuk retina. Snodderly menyimpulkan bahwa lutein mencegah kerusakan retina akibat cahaya biru dengan cara menyerap cahaya tersebut dan mencegah foto-oksidasi.

Para peneliti di DVA Medical Center-North Chicago menemukan bahwa suplemen lutein dapat membantu mencegah perkembangan AMD pada pasien yang menderita AMD, membuktikan bahwa AMD adalah penyakit yang responsif terhadap makanan. Johanna Seddon dari Universitas Harvard, melalui studi pengaruh konsumsi karotenoid spesifik terhadap prevalensi AMD, mengungkapkan bahwa asupan 6 mg lutein per hari berkorelasi kuat dengan prevalensi AMD yang rendah. Seddon menyatakan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung lutein yang tinggi dapat menurunkan risiko AMD.

Asupan Lutein

Selain dapat mencegah AMD, lutein diketahui dapat juga mencegah katarak. Dr Lyle dari Universitas Wisconsin-Madison telah membuktikan hal ini melalui penelitian tentang hubungan antara asupan berbagai jenis anti-oksidan dengan kejadian katarak pada orang dewasa berumur 43-84 tahun. Dari antara berbagai anti-oksidan yang diteliti, lutein adalah satu- satunya anti-oksidan yang berkaitan dengan kejadian katarak. Hal ini menunjukkan adanya efek perlindungan oleh karotenoid ini terhadap katarak. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

36

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

lutein dapat membantu melindungi kulit dari radiasi sinar ultra violet.

Apakah Anda tidak mengonsumsi sayur-sayuran yang berdaun hijau tua dalam jumlah yang cukup? Atau, apakah Anda sangat sibuk sehingga amat sering mengonsumsi makanan siap saji? Kalau Anda menjawab, ya, terhadap pertanyaan ini, Anda adalah salah satu orang yang berpeluang besar mengalami kekurangan lutein. Sebenarnya, memenuhi kecukupan lutein tidaklah sulit. Satu mangkok sayur bayam rebus cukup untuk memenuhi kecukupan lutein sebanyak 6 mg per hari. Wortel, tomat, brokoli, dan buncis adalah beberapa jenis sayuran yang kandungan luteinnya tinggi.

Mengonsumsi makanan yang mengandung lutein adalah cara yang paling baik untuk memenuhi kecukupan lutein setiap hari.

(Oleh Albiner Siagian, Staf Pengajar Bagian Gizi, FKM, Universitas Sumatera Utara)

Jepang Teliti Beras Transgenik

Kompas, 24 Pebruari 2003

Sekelompok peneliti Jepang telah menghasilkan beras rekayasa genetika-lazim disebut transgenik-yang mengandung protein serbuk sari cedar. Bila mengonsumsi beras ini maka mereka yang menderita alergi pohon cedar sehingga sering demam bila terkena serbuk sarinya, menjadi lebih tahan.

Menurut Saburo Saito, asisten profesor Universitas Jikei yang memimpin kelompok penelitian tersebut Sabtu (22/2) di Tokyo, gen dari protein cedar yang ada di beras akan berfungsi memperbaiki sel tubuh setelah dimakan. Sel-sel itu kemudian membentuk semacam zat anti- alergi pada mereka yang alergi, sehingga penderitanya tidak lagi sensitif terhadap serbuk sari cedar.

Uji coba telah dilakukan pada tikus dengan dibantu para peneliti dari Universitas Tohoku dari jurusan pertanian. Setelah tikus diberi makan beras tersebut selama dua minggu, tikus dipapar dengan protein yang biasa menimbulkan alergi. Hasilnya menunjukkan, sel T- tipe sel yang terkait sistem kekebalan tubuh-muncul 33 persen lebih banyak dibanding tikus-tikus yang tidak diberi makan beras khusus. "Tidak terlihat adanya dampak samping terhadap tikus yang memakannya. Kami yakin, pada manusia pun beras transgenik ini aman dikonsumsi," papar Saito.

Menurut data kementerian kesehatan Jepang, dari 10 orang warga Jepang satu berpotensi demam akibat serbuk sari pohon cedar. Serbuk sari muncul di awal musim semi. Upaya membuat beras transgenik sebenarnya bukan barang baru. Para ahli bioteknologi telah lama berupaya mengembangkan padi tahan hama dengan menyisipkan gen yang mengode bioinsektisida dari bakteri. Ahli lain menyisipkan vitamin A dan zat besi pada padi jenis tertentu. Namun, di dunia, makanan transgenik secara keseluruhan masih kontroversial. Meski para penciptanya selalu mengklaim aman, dampak jangka panjangnya sampai sekarang belum diketahui. (K01)

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

37

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Solar Cell : Sumber Energi masa depan yang ramah lingkungan

Sumber: BeritaIptek.com

Energi adalah satu kata yang mempunyai makna sangat luas karena tidak ada aktivitas di alam raya ini yang bergerak tanpa energi dan itulah sebabnya kata salah seorang professor di Jepang bahwa hampir semua perselisihan di dunia ini, berpangkal pada perebutan sumber energi.

Secara umum sumber energi dikategorikan menjadi dua bagian yaitu non-renewable energy dan renewable energy. Sumber energi fosil adalah termasuk kelompok yang pertama yang sebagaian besar aktivitas di dunia ini menggunakan energi konvensional ini.

Sekitar tahun delapan puluhan ketika para ahli di Indonesia menawarkan sumber energi alternatif yang banyak digunakan di negara maju yaitu nuklir, banyak terjadi pertentangan dan perdebatan yang cukup panjang sehingga mengkandaskan rencana penggunaan sumber energi yang dinilai sangat membahayakan itu. Diantara usulan yang banyak dilontarkan kala itu adalah mengapa kita tidak menggunakan sumber energi surya. Memang tidak diragukan lagi bahwa solar cell adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan dan sangat menjanjikan pada masa yang akan datang, karena tidak ada polusi yang dihasilkan selama proses konversi energi, dan lagi sumber energinya banyak tersedia di alam, yaitu sinar matahari, terlebih di negeri tropis semacam Indonesia yang menerima sinar matahari sepanjang tahun.

Permasalahan mendasar dalam teknologi solar cell adalah efisiensi yang sangat rendah dalam merubah energi surya menjadi energi listrik, yang sampai saat ini efisiensi tertinggi yang bisa dicapai tidak lebih dari 20%, itupun dalam skala laboratorium

Untuk itu di negara-negara maju, penelitian tentang solar cell ini mendapatkan perhatian yang sangat besar, terlebih dengan isu bersih lingkungan yang marak digembar gemborkan.

Dari cahaya menjadi Listrik

Secara sederhana solar cell terdiri dari persambungan bahan semikonduktor bertipe p dan n (p- n junction semiconductor) yang jika tertimpa sinar matahari maka akan terjadi aliran electron, nah aliran electron inilah yang disebut sebagai aliran arus listrik. Sedangkan struktur dari solar cell adalah seperti ditunjukkan dalam gambar 1.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

38

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Gambar 1. Struktur lapisan tip is solar sel secara umum Bagian utama perubah energi sinar

Gambar 1. Struktur lapisan tipis solar sel secara umum

Bagian utama perubah energi sinar matahari menjadi listrik adalah absorber (penyerap), meskipun demikian, masing-masing lapisan juga sangat berpengaruh terhadap efisiensi dari solar cell. Sinar matahari terdiri dari bermacam-macam jenis gelombang elektromagnetik yang secara spectrum dapat dilihat pada gambar 2. Oleh karena itu absorber disini diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin solar radiation yang berasal dari cahaya matahari.

mungkin solar radiati on yang berasal dari cahaya matahari. Gambar 2. Spektrum radiasi sinar matahari Lebih

Gambar 2. Spektrum radiasi sinar matahari

Lebih detail lagi bisa dijelaskan sinar matahari yang terdiri dari photon-photon, jika menimpa permukaaan bahan solar sel (absorber), akan diserap, dipantulkan atau dilewatkan begitu saja (lihat gambar 3), dan hanya foton dengan level energi tertentu yang akan membebaskan electron dari ikatan atomnya, sehingga mengalirlah arus listrik. Level energi tersebut disebut energi band-gap yang didefinisikan sebagai sejumlah energi yang dibutuhkan utk mengeluarkan electron dari ikatan kovalennya sehingga terjadilah aliran arus listrik. Untuk membebaskan electron dari ikatan kovalennya, energi foton (hc/v harus sedikit lebih besar atau diatas daripada energi band-gap. Jika energi foton terlalu besar dari pada energi band-gap, maka extra energi tersebut akan dirubah dalam bentuk panas pada solar sel. Karenanya sangatlah penting pada solar sel untuk mengatur bahan yang dipergunakan, yaitu dengan memodifikasi struktur molekul dari semikonduktor yang dipergunakan.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

39

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Gambar 3. Radiative transition of solar cell Tentu saja agar efisiensi dari solar cell bisa

Gambar 3. Radiative transition of solar cell

Tentu saja agar efisiensi dari solar cell bisa tinggi maka foton yang berasal dari sinar matahari harus bisa diserap yang sebanyak banyaknya, kemudian memperkecil refleksi dan remombinasi serta memperbesar konduktivitas dari bahannya.

Untuk bisa membuat agar foton yang diserap dapat sebanyak banyaknya, maka absorber harus memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga memungkinkan untuk bisa menyerap sinar matahari yang mempunyai energi sangat bermacam-macam tersebut. Salah satu bahan yang sedang banyak diteliti adalah CuInSe 2 yang dikenal merupakan salah satu dari direct semiconductor.

dikenal merupakan salah satu dari direct semiconductor. "Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Sela manya

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

40

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Dari begitu banyak keuntungan solar cell seperti telah diuraikan diatas ternyata tidak polemik tidak kemudian berhenti begitu saja, masih ada yang mengatakan memang benar solar cell ketika melakukan proses perubahan energi tidak ada polusi yang dihasilkan, tetapi sudahkah kita menghitung berapa besar polusi yang telah dihasilkan dalam proses pembuatannya, dibandingkan kecilnya efisiensi yang dihasilkan. Nah tantangannya disini adalah memang bagaimana untuk menaikkan efisiensi, yang tentunya akan berdampak kepada nilai ekonomisnya. (RTW)

(Oleh Rusminto Tjatur WIDODO, Dosen EEPIS-ITS Surabaya dan mahasiswa Program Doktor jurusan Nano Structure and Advanced Materials, Universitas Kagoshima Jepang)

Artoindonesianin untuk antitumor

Kompas, 31 Agustus 2002

Tanaman dari marga nangka-nangkaan [Artocarpus (Moraceae)], seperti nangka buah, nangka sayur, cempedak, dan kluwih, adalah tanaman khas tropis. Di beberapa daerah di Tanah Air, penduduk tidak hanya menggunakan buahnya sebagai bahan pangan, tetapi juga daunnya sebagai obat tradisional untuk mengatasi demam, disentri, atau malaria.

Nangka-nangkaan ini telah dieksplorasi kelompok penelitian kimia bahan alam di Departemen Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dipimpin Prof Sjamsul Arifin Achmad selama 15 tahun terakhir, bahkan ada yang mendapat penghargaan RUT (Riset Unggulan Terpadu) Award.

Kandungan kimia dari spesimen akar, kulit batang, dan batang pohon nangka-nangkaan yang diteliti menghasilkan lebih dari 100 senyawa kimia baru. Salah satu contohnya adalah artoindonesianin. Nama ini telah menjadi nama trivial yang dipublikasikan pada Journal of Natural Product (Amerika Serikat).

Artoindonesianin (berasal dari kata Artocarpus dan Indonesia) mungkin memiliki makna harfiah nangka Indonesia atau senyawa kimia dari nangka yang ditemukan pertama kali oleh orang Indonesia atau senyawa kimia dari nangka hasil riset yang didanai rakyat Indonesia.

Artoindonesianin adalah senyawa kimia dari kelompok senyawa flavonoid dengan kerangka dasar dibentuk dari molekul artoindonesianin E yang terprenilasi, teroksigenasi, dan/atau tersiklisasi.

Unit monomer Hampir semua struktur molekul artoindonesianin baru yang berhasil diilusidasi memiliki pola perpanjangan rantai dengan menggunakan unit monomer isopren. Mungkin unit monomer ini adalah khas untuk tanaman-tanaman bergetah, seperti tanaman karet (lateks yang dihasilkan dari polimerisasi isopren).

Senyawa-senyawa flavanoid umumnya bersifat antioksidan dan banyak yang telah digunakan sebagai salah satu komponen bahan baku obat-obatan. Bahkan, berdasarkan penelitian di Jepang, ditemukan molekul isoflavon di dalam tempe. Oleh karena molekul isoflavon bersifat antioksidan maka tempe merupakan sumber pangan yang baik untuk menjaga kesehatan, selain kandungan gizinya tinggi.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

41

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Senyawa-senyawa flavonoid dan turunannya dari tanaman nangka-nangkaan memiliki fungsi fisiologi tertentu. Ada dua kategori fungsi fisiologi senyawa flavonoid tanaman nangka- nangkaan berdasarkan sebarannya di Indonesia. Tanaman nangka-nangkaan yang tumbuh di Indonesia bagian barat, produksi senyawa flavanoid diduga berfungsi sebagai bahan kimia untuk mengatasi serangan penyakit (sebagai antimikroba atau antibakteri) bagi tanaman.

Sedangkan yang tumbuh di Indonesia bagian timur, produksi senyawa flavanoid berfungsi sebagai alat pertahanan (antivirus). Dengan menggunakan pendekatan fungsi fisiologi ini, uji biologi artoindonesianin dan kerabatnya dilakukan.

Aktivitas biologi Uji biologi senyawa-senyawa artoindonesianin terhadap sel tumor P-388 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sel P-388 adalah biakan sel tumor luekemia di laboratorium. Senyawa- senyawa artoindonesianin, artoindonesianin A, dan artoindonesianin B yang diteliti memiliki kemampuan membunuh sel tumor P-388 dengan harga LC50 (konsentrasi mematikan sel tumor percobaan separo) berturut-turut adalah 3,9, 0,2, 3,9 mikrogram per mililiter.

Ini adalah kemampuan luar biasa, karena berdasarkan data farmakologi, suatu senyawa layak digunakan sebagai antitumor bila memiliki harga LC50 dibawah 10 mikrogram per mililiter. Hasil penelitian ini merupakan berita gembira bagi penggemar gudeg jogya.

Studi molekuler lebih lanjut mengenai kerja artoindonesianin juga sedang dilakukan. Seperti diketahui, kebanyakan sel-sel kanker (tumor ganas) manusia atau penyakit serius lainnya secara molekuler selalu dihubungkan dengan kegagalan fosforilasi protein yang disebabkan oleh aktivasi berlebih atau ekspresi berlebih dari protein kinase atau hilangnya inhibitor sel.

Oleh karena itu, eksplorasi artoindonesianin sebagai inhibitor protein kinase sangat membantu penemuan obat-obat antikanker baru. Untuk itu, dukungan finansial dari pemerintah atau industri obat terhadap riset ini perlu digalakkan sehingga obat-obat tradisional kita bisa menjadi tuan rumah di rumah sendiri dan teruji secara ilmiah.

Ditulis Zeily Nurachman, Dosen Biokimia, Departemen Kimia IT

Membuat virus polio dari bahan kimia

Sumber: BeritaIptek.com

Anda percaya kalau virus bisa dibuat dari bahan kimia? Jawabannya bisa anda temukan di jurnal Science volume 297 edisi 9 Agustus 2002. Baru-baru ini Prof. Eckard Wimmer dari State University of New York, Stony Brook dan koleganya berhasil membuat virus polio dari bahan kimia, yaitu dari DNA (deoxyribo nucleic acid). Barisan DNA disintesa dengan meniru barisan DNA virus polio yang alami, dimana dalam penelitian ini digunakan virus polio strain Mahoney. Virus yang disintesa kemudian dibandingkan dengan virus Mahoney baik karakteristiknya maupun tingkat patogennya.

Senjata biologi

Penelitian ini dilatar-belakangi oleh kondisi dunia saat ini, dimana mikroorgansime banyak digunakan sebagai senjata biologi. Baru-baru ini Amerika Serikat dihebohkan oleh Anthrax yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang disebarkan oleh orang atau kelompok

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

42

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

yang sampai saat ini belum diketahui pelakunya. Sekarang, virus penyakit cacar (Smallpox) juga ditakuti akan digunakan sebagai senjata biologi.

Penyakit cacar ini, sebenarnya sudah punah pada tahun 1977. Sejak itu Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menginstruksikan kepada semua laboratorium untuk memusnahkan virus Smallpox ini, baik stok virus yang diisolasi dari pasien maupun yang digunakan untuk keperluan penelitian, atau menyerahkannya kepada salah satu laboratorium referensi yang ditunjuk WHO yaitu, the Institute for Virus Preparation di Moskow atau CDC (the Centers for Disease Control and Prevention) di Atlanta. Walaupun demikian, Amerika Serikat dan beberapa negara sekutunya mendeklarasikan masih adanya virus Smallpox yang belum diserahkan dan dimusnahkan, dan virus ini sampai ke tangan orang atau kelompok tertentu yang dapat digunakan sebagai senjata biologi.

Untuk menghindari ketakutan ini ada beberapa usaha yang dilakukan oleh Amerika. Pertama adalah melakukan imunisasi cacar terhadap warga negaranya. Untuk keperluan ini, seperti yang diberitakan di jurnal Nature Medicine edisi November 2001, Amerika Serikat telah menandatangani kontrak sebesar US $343 juta dengan Acambis, sebuah perusahaan bioteknologi Inggeris untuk produksi vaksin Smallpox sebanyak 40 juta dosis.

Usaha lain yang dilakukan Amerika adalah melakukan penelitian terhadap mikroorganisme yang berkemungkinan bisa digunakan sebagai senjata biologi. Pemerintah Amerika telah mengeluarkan dana yang banyak untuk biaya penelitian ini. Apa yang dilakukan oleh Prof. Wimmer ini adalah salah satu wujud dari usaha yang kedua ini.

Prof. Wimmer dan koleganya menguji kemungkinan apakah virus bisa dibuat secara artifisial tanpa menggunakan DNA atau RNA (ribo nucleic acid) dari virus murni sebagai bahan dasarnya (template). Kalau virus ini berhasil disintesa, itu menunjukan bahwa ada kemungkinan untuk bisa membuat senjata biologi walaupun mereka tidak memiliki virus itu sendiri. Hal ini lebih dimungkinkan lagi karena seseorang bisa mendapatkan informasi tentang barisan DNA atau RNA dari suatu virus dengan mudah melalui internet.

Kenapa virus polio?

Kenapa sintesa ini dicoba pada virus polio? Salah satu alasannya adalah karena virus polio adalah virus yang paling kecil dibandingkan dengan virus lainnya. Virus polio termasuk ke dalam famili Picornaviridae (Pico adalah bahasa Yunani yang artinya kecil). Kekecilan virus ini tidak hanya dari ukuran partikelnya saja, tetapi juga dari ukuran panjang genomnya. Virus ini memiliki diameter sekitar 30 nm dan memiliki RNA benang positif (positive strand RNA) sebagai genomnya dengan panjang sekitar 7.5 kilobasa. Setelah terinfeksi ke dalam sel, RNA keluar dari sarangnya dan di dalam sel RNA ini memiliki dua fungsi. Yang pertama adalah sebagai mRNA yang ditranslasikan menjadi protein-protein yang berfungsi untuk pembentukan tubuh dan enzim-enzim yang berfungsi untuk perkembang-biakan (replikasi) virus itu sendiri.

Fungsi yang kedua dari RNA ini adalah sebagai bahan dasar (template) untuk pembentukan RNA benang negatif (negative strand RNA). RNA benang negatif ini kemudian digunakan lagi sebagai template untuk membentuk RNA benang positif. Begitu seterusnya sehingga benang positif RNA yang menjadi genom virus ini terus bertambah banyak. RNA yang terbentuk kemudian dibungkus oleh protein-protein pembentuk tubuh dan keluar dari sel sebagai virus baru. Rentetan proses ini dijalankan oleh enzim-enzim dari sel dan dari virus itu sendiri.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

43

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Dari proses ini jelas kalau RNA merupakan unsur yang esensial dalam perkembang-biakan virus. Begitu juga untuk mendapatkan virus. Artinya, kalau kita punya RNA dan RNA ini bisa ditransfer ke dalam sel, niscaya virus akan berkembang biak dan dengan mudah akan bisa didapatkan. Biasanya kita bisa mendapatkan virus polio sekitar 24 jam setelah RNA ditransfer dalam sel.

Sesuai dengan namanya, infeksi virus polio menyebabkan gejala polio (poliomyelitis) atau lumpuh. Vaksin yang efektif terhadap polio sudah dikembangkan pada tahun enam puluhan dan digunakan untuk program eradikasi/ pemusnahan polio. Dengan program imunisasi yang menggunakan vaksin tersebut, sekarang virus polio liar sudah hampir musnah. Oleh karena itu virus ini tidak lagi dianggap sebagai virus yang berbahaya dan ditakuti karena bisa dikontrol. Ini juga merupakan salah satu kenapa virus ini dipilih sebagai objek. Selain itu alasan lain juga barangkalai karena Prof. Wimmer adalah ahli virus polio.

Sintesa virus polio

Oleh karena virus polio adalah virus RNA, untuk membuat virus ini dari bahan kimia sebenarnya lebih tepat kalau dimulai dari sintesa RNA. Akan tetapi sintesa RNA, apalagi RNA yang panjang, sangat sulit karena RNA tidak stabil dan mudah terdegradasi. Karena DNA jauh lebih stabil dari pada RNA, dalam penelitian virus RNA, biasanya RNA ditranskripsi balik (reverse transcription) dulu ke DNA. Begitu juga dengan tim ini, mereka juga mengsintesa DNA berdasarkan barisan RNA dari virus polio Mahoney.

Fragmen-fragmen pasangan benang positif dan benang negatif DNA dengan panjang rata-rata 69 basa disintesa, dan kemudian disambung baik dengan menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) maupun menggunakan enzim T4 DNA ligase. Fragmen pasangan DNA yang tersambung kemudian dikloning ke plasmid (sejenis mikroorganisme) yang bisa berkembangbiak pada bakteri Escherichia coli. Dengan perkembangbiakan plasmid yang membawa DNA virus polio ini, akan memperbanyak jumlah DNA, yang pada mulanya hanya ada dalam jumlah yang sangat sedikit.

Setelah DNA ini diperbanyak, kemudian ditranskirpsikan menjadi RNA. RNA ini kemudian dimasukan (transfection) ke dalam sel. Di dalam sel, RNA ini akan berfungsi sebagai RNA genome sebagaimana halnya RNA dari virus yang alami. Dengan demikian diharapkan virus akan hidup dan berkembang-biak didalam sel. Seperti yang diharapankan, tim ini berhasil mengembang-biakan virus polio di dalam sel. Virus ini kemudian dianalisa dan dibandingkan dengan virus polio Mahoney yang alami.

Dari hasil perbandingan, virus yang disintesa memproduksi protein-protein yang sama dengan virus yang alami. Bentuk dan ukuran kedua virus ini juga mirip. Virus sintesis juga dinetralisasi oleh antobodi yang spesifik menetralisir virus polio tipe 1, sama halnya dengan virus alami. Dari hasil percobaan binatang (tikus), lebih jauh lagi, virus polio sintesis juga mengakibatkan gejala polio dan menyebabkan kematian, walaupun tingkat patogennya lebih rendah dibandingkan dengan virus alami.

Dengan metoda ini, tim peneliti dari State University of New York ini telah berhasil membuat virus polio dari bahan kimia. Ini adalah pembuktian yang pertama kali dimana virus bisa dibuat dari bahan kimia.

Sebenarnya, metoda yang dipakai oleh tim ini bukanlah metoda yang baru. Metoda ini telah

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

44

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

banyak digunakan untuk mengkloning DNA dari protein-protein. Sama seperti yang dilakukan tim ini, DNA dari protein disintesa, kemudian disambung dan dikloning. Akan tetapi, kebanyakan DNA yang dikloning sangat pendek, sehingga mudah untuk menyambung dan mengkloningnya. Dalam penelitian ini, Prof. Wimmer dan koleganya mampu mengkloning DNA sepanjang 7.5 kilobasa. Inilah kehebatan dari tim ini sehingga hasilnya bisa dimuat di jurnal Science.

Implikasinya

Keberhasilan Prof. Eckard Wimmer dan koleganya ini telah membuktikan bahwa manusia mampu membuat virus yang barangkali akan digunakan sebagai senjata biologi. Biasanya kita mendapatkan virus dengan cara isolasi dari sampel tertentu dan kemudian mengkulturkannya. Kita juga bisa membuat virus (baru), namun biasanya menggunakan virus alami sebagai template. Akan tetapi dengan teknologi ini, walaupun kita tidak memiliki suatu virus sama sekali, kita bisa membuat virus dengan mencontoh barisan RNA atau DNA virus bersangkutan.

Walaupun demikian tentu saja tidak semua orang bisa membuat suatu virus. Hal ini disebabkan selain teknologi dan skil, pembuatan virus ini juga memerlukan banyak dana baik untuk sintesa DNA-nya maupun untuk proses selanjutnya.

Pertama dalam masalah teknologi dan skil, tentu saja hanya orang-orang yang terbukti mempunyai pengetahuan dan keahlian tentang virus yang bisa melakukannya. Siapa yang ahli tentang suatu virus, biasanya dapat dilihat dari hasil publikasi tentang virus. Begitu juga masalah dana. Untuk sintesa 7.5 kilobasa DNA saja diperlukan dana kira-kira sebesar US $7,500 (US $ 1 untuk 1 basa). Karena tim ini mengsintesa pasangan ganda DNA, biaya sintesa DNA diperlukan sebesar US $ 15,000.

Selain itu penelitian ini dilakukan berkali-kali untuk sampai kepada keberhasilan. Hal ini disebabkan karena walaupun secara teori metoda ini bisa digunakan untuk sintesa virus, keberhasilannya sangat ditentukan oleh banyak faktor. Dalam penelitian ini penulis tidak tahu berapa lama waktu yang dihabiskan oleh tim ini. Tapi dari pengalaman pembuatan virus dengan menggunakan virus asli sebagai bahan dasar, dapat diperkirakan setidak-tidaknya memerlukan waktu sekitar 1 tahun. Lamanya penelitian ini mengakibatkan banyaknya uang yang dihabiskan untuk pembelian enzim-enzim, kit serta bahan-bahan kimia lain yang diperlukan untuk penelitian. Namun, setelah metoda dan teknik untuk pembuatan virus ditemukan, untuk produksi virus selanjutnya tentu saja akan mudah dilakukan.

Oleh karena itu, secara total bisa jadi biaya untuk sintesa virus yang akan digunakan sebagai senjata biologi akan lebih murah dari pada produksi senjata kimia atau senjata nuklir. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan akan lebih mahal. Hal ini sangat tergantung kepada virus apa yang akan disintesa. Terlepas dari semua ini, tentu saja kita sangat berharap jangan sampai orang-orang yang mampu (mampu karena memiliki teknologi, skil dan dana) membuat virus untuk digunakan sebagai senjata biologi (NTR)

(Oleh Dr. Andi Utama , Posdoct JSPS di Dept. Virology II, National Institute of Infectious Diseases )

Radiasi di Planet Mars Berbahaya

Suara Pembaruan, 17 Maret 2003

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

45

down loader & editor : Sugeng Abdullah

hal.

Mengeksplorasi Planet Mars bukan hal aneh bagi astronaut. Planet merah itu agaknya memang menyimpan sejuta misteri. Setelah seputar kandungan air yang mungkin ada di planet itu diteliti, baru-baru ini hal itu terus menjadi bahan diskusi karena masih panjang urusannya. Apalagi, ternyata terdapat fenomena baru, yaitu ternyata Mars memancarkan radiasi.

EKSPLORASI - Pesawat ruang angkasa Mars Odyssey tengah mengeksplorasi Planet Mars untuk meneliti kemungkinan adanya radiasi berbahaya di planet tersebut.

kemungkinan adanya radiasi berbahaya di planet tersebut. Radiasi di Planet Mars disi nyalir sangat kuat. Itu

Radiasi di Planet Mars disinyalir sangat kuat. Itu dapat membahayakan jiwa astronaut yang dikirim untuk mengeksplorasi planet merah tersebut. Mengenai radiasi di planet tersebut, ilmuwan di lembaga ruang angkasa Amerika Serikat (NASA) mengatakan, sepertinya tidak mungkin ada kehidupan atau makhluk asing sebangsa extraterrestrial yang bisa bertahan hidup di sana karena radiasi dimaksud.

Tingginya kadar radiasi baru-baru ini tengah diteliti oleh proyek penelitian yang menggunakan pesawat ruang angkasa Mars Odyssey (MO). "Selain menghitung radiasi, MO sekaligus memperkirakan kemungkinan adanya makhluk asing yang mampu hidup di planet yang berdebu dan berhawa dingin itu," ujar Cary Zeitlin dari the National Space Biomedical Research Institute di Houston kepada CNN baru- baru ini.

Menurutnya, kalau benar ada radiasi di sana, dampaknya cukup besar bagi segala penelitian di planet itu. "Kenyataan itu tidak mengenakkan, terutama berkaitan dengan lingkungan alam di planet itu," kata Cary.

Berkaitan dengan penelitian tersebut, pesawat ruang angkasa MO mengambil gambar dan data yang bisa memberi kesimpulan kemungkinan ada radiasi itu. Kesimpulan tentang radiasi itu pun akhirnya bisa diperoleh, setelah data dari proyek MO seharga US$ 300 juta itu diolah di laboratorium propulsi NASA.

Selain radiasi, ilmuwan yang meneliti planet merah tersebut juga menjelaskan bahwa Mars mengandung mineral dan elemen yang membentuk permukaan planet itu.

Bahkan partikel itu bisa menjadi indikator bahwa pada bagian utara planet tersebut lebih banyak mengandung air ketimbang belahan bagian selatan.

Sementara itu, di sekitar kutub utara planet dimaksud, air yang membeku menguasai kawasan dimaksud hingga 75 persen.

"Sekitar tiga kaki di atas lapisan air yang membeku itu terdapat lapisan tanah subur. Kami sebetulnya membicarakan tentang lapisan es dengan sedikit campuran kotoran yang ada di sekitar itu," kata William Boynton, seorang ilmuwan yang mengikuti misi MO itu.

NASA membicarakan tentang misi ke Mars tersebut berkaitan dengan kemungkinan para astronaut bisa menggunakan es yang ada di planet itu untuk air minum, bahan dan oksigen untuk bernapas.

"Alami Tak Selalu Aman, Pencemaran Tak Selamanya Merugikan"

46

hal.

down loader & editor : Sugeng Abdullah

Temuan tentang radiasi tersebut adalah hal baru yang mengindikasikan bahwa planet itu sebetulnya cukup berisiko untuk dijadikan tempat tinggal bagi makhluk hidup, terutama manusia.

Kendati demikian, risiko paling tinggi dalam hal eksplorasi di planet Mars adalah kemungkinan kecelakaan pesawat ruang angkasa yang mengangkut para astronaut ke dan dari planet itu. Demikian kata pemimpin program eksplorasi Mars Society, Robert Zubrin.

"Radiasi itu sendiri sebetulnya merupakan sesuatu yang sangat luar biasa dan mungkin bertujuan menyurutkan minat untuk mengeksplorasi planet itu," katanya.

Berdasarkan penelitian tersebut, Planet Mars terus dibombardir oleh radiasi dari galaksi dalam jumlah besar yang secara periodik dilakukan matahari. Radiasi akan memberi dampak pada para astronaut dalam orbitnya dan secara efektif dosisnya bahkan 2,5 kali lebih besar daripada radiasi yang diterima manusia di bumi yang diakibatkan oleh bahan-bahan kimia dan alat elektronik. "Hasil perbandingan itu didapat dari the international space station," kata Cary

Misi selama tiga tahun itu menurut rencana akan memberi wacana kepada astronaut bahwa ada radiasi di planet itu. Maksudnya, untuk mengetahui batas radiasi tertentu yang direkomendasikan aman bagi astronaut.

Lingkungan dan wilayah yang beradiasi di permukaan Planet Mars sebenarnya masih diteliti. Tetapi, kemungkinan risikonya sama saja di semua lokasi, walaupun lapisan tipis atmosfer pada planet merah itu akan memberi beberapa perlindungan. "Radiasi itu