Anda di halaman 1dari 13

PEDOMAN TEKNIS OPERASI DAN PEMELIHARAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DENGAN PROSES LUMPUR AKTIP

(Oleh : Sugeng Abdullah, SST)

A. PENGOPERASIAN AWAL

Pengoperasian awal dimaksud adalah

suatu kegiatan

pertama kali

mengoperasikan

semua sistem yang ada pada instalasi pengolahan air limbah,

untuk mengolah air limbah agar memenuhi kriteria yang diinginkan / disyaratkan.

Pengoperasian awal

pada instalasi pengolahan air limbah yang baru

dibangun,

perlu dilakukan pengecekan secara menyeluruh.

Pengecekan terutama dilakukan

pada kesiapan peralatan mekanis yang ada, antara lain : sistem pelumasan, sistem

perpipaan, sistem aerasi, blower , pompa dll.

Hal yang sama juga dilakukan pada suatu instalasi pengolahan air limbah

yang baru saja dilakukan perbaikan

secara menyeluruh

atau setelah

dilakukan

pengurasan.

Langkah

kerja pada

pengoperasian

awal, pada umumnya

adalah sebagai

berikut :

a. Apabila instalasi pengolahan terdiri

darai banyak unit aerator dan clarifier,

maka

sebaiknya tidak dioperasikan semuanya secara bersamaan. Cukup

dioperasikan beberapa unit terlebih dahulu. 1 atau 2 unit dipandang sudah

mencukupi.

b. Isikan air limbah

kedalam bak aerasi dengan porsi yang kecil, kira-kira

sepertiga atau seperempat dari kapasitas yang ada. Pastikan juga bahwa tidak

ada zat beracun pada air limbah yang akan diolah.

1 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

c.

Hidupkan

blower / aerator untuk mensuplai udara atau oksigen

dalam air

limbah yang ada dalam bak aerasi. Konsentrasi oksigen terlarut pada bak

aerasi diupayakan agar berkisar 2 – 4 mg/L.

d. Air dari clarifier secara kontinyu

dialirkan kembali kedalam bak aerasi,

sampai dengan konsentrasi MLSS mencapai 400 – 800 mg/L. Dalam praktek

MLSS

( mixed liquor suspended solid ) adalah sama dengan TSS (total

suspended solid ) pada bak aerasi.

e. Perlahan-lahan

air limbah ditambahkan kedalam

bak aerasi, sampai dengan

sesuai kapasitas normal dari instalasi pengolahan air limbah dimaksud. Secara

normal, pengoperasian awal (starting) ini

memerlukan waktu antara 2 – 4

minggu. Hal ini sangat bergantung pada kondisi setempat.

B. PEMERIKSAAN RUTIN

Prosedur yang diperlukan dalam rangka

kontrol / pemeriksaan rutin pada

proses lumpur aktip, ditekankan pada

bak aerasi dan bak clarifier II.

Adapun

kegiatan yang dilaksanakan dalam pemriksaan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Bak Aerasi

- Periksa (setiap hari) bak pembagi aliran air limbah, bersihkan weir dan pintu

air dari kotoran / bahan padatan yang menempel.

- Buang

dan Bersihkan kotoran yang menumpuk pada saluran inlet, pintu air,

outlet weir.

- Catat dan jaga

konsentrasi

juga

konsentrasi

MLSS,

oksigen terlarut (DO) pada bak aerasi. Demikian

SVI

dan

Umur

lumpur.

Apabila

diketahui

2 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

konsentrasinya terlalu tinggi atau terlalu rendah, segera lakukan tindakan

korektif.

-

Bersihkan semua dinding bak dan saluran-saluran yang ada, dengan peralatan

yang telah tersedia.

 

-

Jangan sekali-kali ditunda. Ambil dan bersihkan dengan segera air limbah

yang tercecer / melimpah keluar.

 

-

Periksa kisi-kisi logam atau baja

yang terkena / terendam air limbah

dari

kemungkinan

adanya tanda – tanda

korosi.

Bersihkan setiap hari, dan bila

perlu dicat dengan cat tahan air.

 

-

Lakukanlan

pemeriksaan

dan

pelumasan

terhadap

peralatan

peralatan

mekanis, sesuai dengan petunjuk dan rekomendasi dari pabrik pembuatnya.

-

Secara

berkala

(periode

tertentu)

lakukanlah

pengeringan

/

pengurasan

terhadap bak aerasi. Hal ini berguna untuk pemeriksaan peralatan, perpipaan,

pompa dll yang berada didasar bak. Ganti dan perbaiki

peralatn yang rusak.

Untuk mencegah korosi, perlu dilakukan pembersihan dan pengecatan pada

peralatan logam.

b.

Bak Clarifier II

-

Ambil dan buanglah buih atau kotoran

yang berasal dari air limbah

yang

berada sekat influen, weir influen, sekat apung dan penampung buih. Hal ini

dilakukan setiap hari.

 

-

Amati lumpur yang diresirkulasi dari clarifier, dan aturlah debitnya (sesuai

kebutuhan) berdasarkan hasil test laboratorium.

 

-

Tentukan batas kedalaman lumpur dan aturlah pompa lumpur

3 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

- Amati

pengoperasian

pompa

scum

berikut

slang

atau

pipa

yang

menyertainya

 

- Bersihkan

setiap

hari

bagian

dalam

dinding

clarifier

berikut

saluran-

salurannya, dengan peralatan pembersih yang ada (squegee)

- Periksa sistem distribusi aliran

(valve, pintu air, bak pembagi , weir) .

Bersihkan dan buanglah padatan yang mengendap . Periksa selalu keadaan

-

aliran ke seluruh clarifier yang ada.

Periksa

bak / saluran effluen

dan bersihkan

kotoran – kotoran yang ada.

Ukur setiap hari ketinggian muka air yang melimpah melalui weir.

- Segera bersihkan kotoran / lumpur yang tercecer atau atau karena air limbah

yang meluap.

- Periksa semua peralatan motor elektrik yang dioperasikan, terutama tentang

penyekat panas atau temperatur dan

maupun waktu operasi).

- Periksa

ketinggian

permukaan

oli,

detektor overloading.(baik kapasitas

pengurangan

lemak/pelumas

pada

peralatan mekanik yang ada, paling tidak seminggu sekali.

- Gantilah oli atau minyak pelumas pada peralatan yang menggunakaanya,

sesuai dengan periode penggantian yang telah ditentukan.

- Keringkan

(kuras) secara

berkala

dan

terjadwal,

untuk

pemeriksaan

peralatan yang ada pada

bagian dasar clarifier, dari kemungkinan kerusakan,

korosi atau yang lain. Bila diperlukan

lakukan

langkah proteksi dengan

pengecatan atau pelapisan pada peralatan / logam tertentu.

4 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

- Periksa

pengumpulan

lumpur

dan

peralatan

lainnya

dari

kemungkinan

korosi. Bersihka dan bila perlu lakukan pengecatan atau pelapisan terhadap

peralatan tersebut.

C. GANGGUAN YANG SERING TERJADI DAN UPAYA MENGATASINYA

Didalam

pengoperasian

 

instalasi

pengolahan

air

limbah

yang

menggunakan

proses

biologis

atau

proses

lumpur

aktip,

seringkali

terdapat

beberapa

kendala yang menyebabkan pengolahan

air limbah

menjadi tidak

sesuai dengan yang diharapkan.

Beberapa

permasalahan yang sering terjadi

dilapangan dan upaya untuk mengatasinya antata lain adalah sebagai berikuit :

1. Lumpur mengapung pada bak clarifier ( bulking sludge).

Penyebab :

- Tumbuhnya organisme filamentous

- SVI (sludge volume index) > 150

- serabut

Ditemukan

serabut

filamen

pada

pemeriksaan

MLSS

secara

mikroskopis.

- Proses

denitrifikasi yang menghasilkan gas nitrogen (N)

pada gumpalan lumpur

Kontrol :

yang terperangkap

- Periksa konsentrasi oksigen terlarut pda bak aerasi

- Periksa pH air limbah pada bak aerasi

- Periksa kandungan nutrien pada

air limbah yang akan diolah

(influen).

Utamanya TKN (N-amoniak + N-organik) dan P

5 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

- Periksa SVI

- Periksa konsentrasi BOD5 pada influen (disarankan)

Cara mengatasi :

-

Pertahankan kandungan

oksigen terlarut

dalam bak aerasi minimal 1 mg/L,

dengan cara mengatur suplai udara pada aerator.

 

-

Atur pH menjadi netral

 

-

Tambahkan nutrien

(N

dan P

=

Urea dan TSP), sehingga diperoleh

perbandingan BOD : N : P = 100 : 5 : 1. Cara menentukan jumlah urea dan

TSP yang ditambahkan dapat dilihat pada lampiran.

 

-

Tambahkan

5 – 6 mg/L chlorine / kaporit

pada

lumpur yang dikembalikan

kedalam bak aerasi

dari bak clarifier (Qr = return sludge ), sampai dengan

SVI < 150

-

Kurangi nilai F/M ratio , yaitu dengan (a) mengurangi suplai makanan ( zat

organik / BOD), (b)

mengurangi lumpur yang dibuang

atau (c) menaikkan

umur lumpur.

-

Bila dikarenakan proses denitrifikasi , cukup dengan

(a) menaikan jumlah

lumpur yang diresirkulasi (Qr), (b) menaikan konsentrasi oksigen terlarut

dalam bak aerasi, atau (c) mengurangi umur lumpur.

 

2.

Effluen keruh.

Penyebab :

- SVI > 150 atau SVI melebihi kriteria disain

- Turbulensi pada bak aerasi yang terlalu tinggi

- Oksidasi lumpur yang berlebihan

6 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

- Kondisi anaerob pada bak aerasi (oksigen terlarut = 0 mg/L)

- Kehadiran zat tiksik pada influen.

Kontrol :

- Periksa SVI

- Periksa oksigen terlarut

- Periksa olakan air pada bak aerasi

- Periksa kemungkinan adanya jazad protozoa inaktif/mati (karena ada racun)

pada MLSS secara mikroskopis.

Cara mengatasi :

-

Kurangi olakan air yang disebabkan oleh aerator

-

Tambahkan jumlah lumpur yang dibuang, atau kurangi umur lumpur.

-

Tambahkan suplai udara/oksigen , bila kondisinya anaerob

-

Lakukan pre treatment yang sesuai, bila ditemukan adanya racun.

3.

Terdapat buih warna hitam

Penyebab :

- Umur lumpur yang terlalu lama

Kontrol :

- Hitung jumlah lumpur yang dibuang secara tepat dan teliti

Cara mengatasi :

- Buih disemprot dengan air yang bertekanan

- Bila dengan penyemprotan tidak berhasil, kurangi umur lumpur dengan cara

menambah jumlah lumpur yang dibuang.

7 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

4.

Tedapat buih warna putih tebal dan berombak pada bak aerasi

Penyebab :

- TSS / MLSS terlalu rendah ( < 1500 mg/L). Atau

kriteria disain.

Kontrol :

TSS/ MLSS kurang dari

- Periksa kandungan TSS / MLSS pada bak aerasi

Cara mengatasi :

-

Kurangi jumlah lumpur yang dibuang

5.

Konsentrasi MLSS berbeda pada setiap bak aerasi

Penyebab :

- problem ini hanya terjadi pada instalasi pengolahan air limbah yang memiliki

bak aerasi lebih dari

merata.

Kontrol :

satu unit,

disebabkan oleh

distribusi aliran yang tidak

- Periksa sistem distribusi aliran yang ada. ( bak pembagi, valve, pintu air dll)

Cara mengatasi :

-

Atur

bukaan

valve atau pintu ai dalam sistem distribusi

aliran , khusunya

pada inlet/influen dan

resirkulasi lumpur.

6.

Lumpur / gumpalan lumpur ikut terbuang bersama effluen.

 

Penyebab :

- Beban padatan terlalu tinggi

- Aliran yang terlalu besar, melampaui kemampuan beban clarifier

8 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

- Distribusi aliran tidak merata

- Konsentrasi MLSS terlalu tinggi

- Jumlah lumpur yang diresirkulasi tidak tepat.

Kontrol :

- Periksa beban padatan / solid loading (overflow rate)

- Periksa sistem distribusi aliran

- Periksa sistem resirkulasi lumpur (dari kemungkinan rusak atau tersumbat)

Cara mengatasi :

-

Atur

bukaan

valve atau pintu ai dalam sistem distribusi

aliran , khusunya

pada inlet/influen dan

resirkulasi lumpur.

-

Tingkatkan debit resirkulasi lumpur untuk menjaga agar zona air bersih pada

clarifier minimal 1 (satu) meter. Cocokkan dengan kriteria disai yang ada.

-

Atau tambahkan jumlah lumpur yang dibuang

 

7.

Lumpur melimpah melalui salah satu weir

Penyebab :

- Distribusi aliran tidak merata

- Level weir tidak sama

Kontrol :

- Periksa sistem distribusi aliran

- Periksa level weir

9 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

Cara mengatasi :

-

Atur

bukaan

valve atau pintu ai dalam sistem distribusi

aliran , khusunya

pada inlet/influen dan

resirkulasi lumpur.

-

Perbaiki level weir

8.

Gelembung aerasi terlalu besar atau mengelompok disatu tempat

Penyebab :

- Sisaten difuser/aerator rusak atau tersumbat

Kontrol :

- Periksa sistem aerasi, suplai udara dan filter membran pada blower

- Kuras bak aerasi dan periksa sistem perpipaan udara dan diffuser

Cara mengatasi :

-

Bersihkan kotoran yang menyumbat, perbaiki atau ganti peralatan yang rusak.

-

Bila dikuras, lakukan prosedur pengoperasian awal (starting).

9.

pH < 6,7 pada bak aerasi

Penyebab :

- Terdapat banyak limbah yang mengandung asam, yang masuk pada instalasi

pengolahan air limbah

- Terjadinya proses nitrifikasi

Kontrol :

- Periksa kandungan Amoniak dan nitrat pada effluen

- Periksa pH influen

10 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

Cara mengatasi :

- Lakukan pengaturan yang tepat pada umur lumpur dan jumlah lumpur yang

dibuang.

- Tambahkan larutan kapur, bila pH influen kurang dari 6,7.

- Kontrol influen dengan benar.

10. MLSS sangat rendah pada resirkulasi lumpur (< 800 mg/L)

Penyebab :

- Tumbuh organisme filamentous secara berlebihan

- Rate resirkulasi lumpur yang tinggi

- Terlalu banyak jumlah lumpur yang dibuang.

Kontrol :

- Periksa kemungkinan keberadaan filamentous pada MLSS

- Periksa debit resirkulasi lumpur dan debit lumpur yang dibuang

- Periksa oksigen terlarut pada bak aerasi

Cara mengatasi :

- Pengaturan yang tepat pada pengurangan resirkulasi

lumpur yang dibuang

dang pengurangan

- Naikan konsentrasi oksigen terlarut pada bak aerasi sampai dengan 2 mg/L (

apabila DO < 0,5 mg/L).

11 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

11. Aerasi berhenti

Penyebab :

- Difuser tersumbat

-

Aerasi lemah

Kontrol :

- Periksa sistem aerasi / difusser

Cara mengatasi :

- Keringkan atau kuras bak aerasi, kemudian adakan perbaikan atau pergantian

pada sistem aerasi / difusser.

- Lakukan prosedur pengoperasian awal.

12 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto

Lampiran

PERHITUNGAN PENAMBAHAN NUTRIENT

(NITROGEN DAN PHOSPHAT)

Untuk menentukan perlu / tidaknya penambahan nutrien N (nitrogen) dan P (Phosphat), maka perlu diperiksa terlebih dahulu ratio BOD 5 : N : P = 100 : 5 :

1. Bila air limbah yang diolah mempunyai ratio BOD 5 : N : P 100 : 5 : 1, maka

perlu dilakukan tindakan koreksi.

1. Periksa ratio BOD 5 : N

N = N-org (mg/l) BOD 5 (mg/l)

x 100

Bila N < 5 maka perlu penambahan N dengan pupuk urea. Jumlah urea yang

ditambahkan adalah :

Urea (mg/l) = (0,05 BOD 5 -

2. Periksa ratio BOD 5 : P

P = P (mg/l)

BOD 5 (mg/l)

x

100

N-org) x BM urea BA Nitrogen

Bila P < 1 maka perlu penambahan P dengan pupuk TSP. Jumlah TSP yang ditambahkan adalah :

TSP (mg/l) = (0,01 BOD 5 – P) x

BM TSP

BA Phosphat

Catatan : BM urea = 60,

BM TSP = 174,

BA Phosphat = 31

BA Nitrogen = 14,

13 - Digitized by Sugeng Abdullah, JKL Purwokerto