Anda di halaman 1dari 6

CASE REPORT

PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN ALKOHOL DITINJAU DARI ASPEK MEDIS

DISUSUN OLEH: JAMALUDIN (1102008344)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

Abstrak Latar belakang Penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol sejauh ini adalah gangguan berhubungan dengan zat yang paling sering. Peminum alkohol berat sering mendapatkan kecelakaan, kehilangan produktivitas, terlibat kejahatan, mendapat gangguan kesehatan sampai terjadi kematian. Presentasi kasus Seorang laki-laki berusia 27 tahun, berasal dari jakarta, mengkonsumsi alkohol sejak 1993, mengkonsumsi ganja 1996-2010. Sudah 5 hari menjalani detoxifikasi, sebelumnya pasien menjalani rawat inap pada tahun 2009. Diskusi Alkohol adalah suatu bahan yang mempunyai efek farmakologik dan cenderung menimbulkan ketergantungan serta dapat berinteraksi dengan obat lain. Peminum alkohol juga sering terlibat dengan penggunaan obat-obat lain seperti sedatif, amfetamin bahkan juga narkotik. Motivasi peminum alkohol ialah untuk mendapatkan euforia, melepaskan emosi serta melepaskan diri sementara dari depresi atau ansietas yang dialaminya. Kesimpulan Alkohol menyebabkan potensiasi pada efek obat-obat hipnotik sedatif, antikonvulsi, antidepresi, antiansietas, profoksifen dan opiat dalam menyebabkan gangguan dan koordinasi otot sehingga dapat menimbulkan bahaya bila penderita mengemudikan kendaraan. Dengan asetosetal, alkohol meningkatkan risiko perdarahan lambung. Latar belakang Sejarah alkohol sama panjangnya dengan sejarah peradaban manusia. Para arkeolog menyebut bahwa minuman beralkohol muncul kali pertama di zaman peradaban Mesir Kuno. Kemudian, perkembangannya berlanjut pada periode Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Dari sinilah minuman alkohol terus berkembang dan menjadi bagian dari peradaban manusia. Dari sejarah tadi bermunculanlah berbagai jenis minuman beralkohol di berbagai belahan bumi, masing-masing dengan kekhasan pembuatannya, yang tidak lepas dari budaya setempat. Dari sudut pandang sosiologi, minum keras di beberapa tempat Indonesia merupakan bagian dari adat istiadat masyarakat setempat. Misalnya budaya masyarakat Irian Jaya, Manado, Sulawesi, Sumut, Jawa, Bali dan beberapa daerah lain menggunakan minuman keras dalam acara ritual adatnya. Ritual adat ini menjadi pendorong anggota masyarakat mengkonsumsi minuman keras. (Zullies Ikawati, 2009)

Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk lebih mendalami dan memahami efek yang ditimbulkan mengkonsumsi alkohol. Pada peminum alcohol berat sering mendapatkan kecelakaan, mendapat gangguan kesehatan sampai terjadi kematian. Penulisan ini bedasarkan hasil wawancara dengan seorang pasien dengan umur 27 tahun di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur, Jakarta, serta dilengkapi dengan sejumlah tinjauan pustaka. Pasien seorang lakilaki berumur 27 tahun , mengkonsumsi alcohol sejak taun 1993 dan menggunakan zat narkotika yaitu ganja sejak tahun 1997.

Presentasi kasus Seorang laki-laki beusia 27 tahun, berasal dari Jakarta, beragama islam dengan penidikan terakhir SMA. Dia belum berkeluarga. Pasien adalah pasien lama, dia pertama kali masuk di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur, Jakarta pada tanggal 2 Oktober 2009 menjalani rawat inap mengalami psikotik dan scabies, pasien masih merasa takut bergaul dengan pasien lain. Suara-suara yang didengar ditelinga (halusinasi) mulai berkurang, masi melihat bayanganbayangan. Pasien saat ini tidak bekerja dirumah hanya menonton TV dan nongkrong didepan rumah. Pada tanggal 20 April 2011 kembali masuk RSKO untuk menjalani detoksifikasi, pasien mengalami gangguan cemas, halusinasi, dan neurosis. Pasien mengalami perubahan tingkah laku, berbicara tidak nyambung, susah tidur, mendengar suara-suara aneh, pasien lebih suka menyendiri. Pasien mengkonsumsi alcohol sejak tahun 1993 dan menggunakan zat narkotika yaitu ganja sejak tahun 1997.

Diskusi Alkohol ditujukan pada sekelompok besar molekul organic yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang melekat pada atom karbon jenuh. Etil alcohol, juga disebut etanol, adalah bentuk alcohol yang umum; sering kali disebut alcohol sebagai alcohol minuman, etil alcohol digunakan dalam minuman. Rumus kimia untuk etanol adalah CH3-CH2-OH. Kira-kira 10% alcohol yang dikonsumsi diabsorbsi di lambung, dan sisanya diabsorbsi di usus kecil. Konsentrasi puncak alcohol dalam darah dicapai dalam waktu 30 sampai 90 menit, biasanya dalam 45 sampai 60 menit, tergantung apakah alcohol diminum saat lambung kosong, yang meningkatkan absorpsi, atau bersama makanan, yang memperlambat absorpsi. Jika alcohol telah diabsorbsi ke dalam aliran darah, alcohol didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh, jaringan yang mengandung proporsi air yang tinggi memiliki konsentrasi alcohol yang tinggi. Efek intosikasi menjadi lebih besar jika konsentrasi alcohol darah adalah naik daripada jika turun (efek Mellanby).

90% alcohol yang diabsobsi di metabolism melalui oksidasi di hati; sisanya 10% diekskresikan tanpa diubah oleh ginjal dan paru-paru. Alkohol dimetabolisme oleh dua enzim: alcohol dehidrogenase (ADH) dan aldehida dehidrognase. ADH mengkatalisasikan konversi alcohol menjadi asetaldehida, yang merupakan senyawa toksik. Aldehida dehidrogenase mengkatalisasikan konversi asetaldehida menjadi asam asetat. Aldehida dehidrogenase diinhibisi oleh disulfiram (Antabuse) , yang sering kali digunakan dalam pengobatan gangguan berhubungan dengan alcohol. Beberapa penilitian telah menunjukkan bahwa wanita mempunyai kandungan ADH yang lebih rendah daripada laki-laki, yang mungkin menyebabkan kecenderungan wanita untuk menjadi lebih terintoksikasi dibandingkan laki-laki setelah minum alcohol dalam jumlah yang sama. Efek pada otak secara biokimiawi alcohol menimbulkan efeknya dengan mengikatkan dirinya kedalam membran, yang mnyebabkan meningkatnya fluiditas membrane pada penggunaan jangka pendek. Tetapi, pada penggunaan jangka panjang, membrane menjadi kaku. Fluidias membrane adalah penting untuk dapat berfungsinya reseptor, saluran ion, dan protein fungsional pada membrane lainnya secara normal. Efek perilaku. Hasil akhir aktivitas molekuler adalah bahwa fungsi alcohol sebagai suatu depresan, sangat mirip dengan barbiturate dan benzodiazepam, dan terdapat suatu tingkat toleransi silang dan ketergantungan silang Pada tingkat 0,05% alcohol di dalam darah, pikiran, pertimbangan dan pengendalian mengendur dan sering kali terputus. Pada konsentrasi 0,1%, aksi motorik yang disadari biasanya menjadi dirasakan canggung. Pada konsentrasi 0,2% fungsi seluruh daerah motorik di otak menjadi terdepresi; bagian otak yang mengontrol perilaku emosional juga terpengaruhi. Pada konsentrasi 0,4 sampai 0,5% orang berada dalam koma. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, pusat primitif di otak yang mengontrol pernafasan dan kecepatan denyut jantung terpengaruhi dan dapat terjadi kematian. Kematian adalah sekunder karena depresi pernapasan langsung atau aspirasi muntah. Efek pada tidur. Walaupun asupan alcohol di malam hari biasanya menyebabkan semakin mudahnya tertidur (yaitu,menurunnya latensi tidur), alcohol juga mempunyai efek merugikan pada arsitektur tidur. Secara spesifik, penggunaan alcohol berhubungan dengan menurunnya tidur REM (rapid eye movement), menurunnya tidur dalam (stadium 4), dan meningkatnya fragmentasi tidur, termasuk lebi banyaknya dan lebih lamanya episode terbangun. Efek pada hati. Penggunaan alcohol walaupun episode singkat (selama beberapa minggu) meningkatnya minum, dapat menyebabkan suatua kumulasi lemak da protein, yang menyebabkan timbulnya perlemakan hati yang kadang-kadang ditemukan pada pemeriksaan fisik pada pembesaran hati. Penggunaan alcohol mempunyai hubungan dengan perkembangan hepatitis alkoholik dan sirosis hati.

Diagnosis dan gambaran klinis dalam ketergantungan dan penyalahgunaan alcohol Kriteria Diagnostik Intoksikasi Alkohol Satu (atau lebih) tanda berikut ini, yang berkembang selama, atau segera setelah, pemakaian alcohol : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bicara cadel Inkoordinasi Gaya berjalan tidak mantap Nistagmus Gangguan atensi atau daya ingat Stupor atau koma

Putus Alkohol Tanda klasik dari putus alkohl adalah gemetar, walaupun spectrum gejala dapat meluas sampai termasuk gejala psikotik dan persepsi (sebagai contohnya, waham dan halusinasi), kejang, dan gejala delirium tremens (DTs). Gemetar berkembang enam sampai delapan jam setelah dihentikannya minum, gejala psikotik dan persepsi mulai dalam 8 sampai 12 jam, kejang 12 sampai 24 jam dan DTs dalam 72 jam. Tremor pada putus alcohol dapat mirip dengan tremor fisiologis, dengan suatu tremor kontinu dengan amplitude yang lebih lambat 8 Hz. Gejala lain putus alcohol adalah iritabilitas umum, gejala gastrointestinal (sebagai contoh, mual dan muntah), dan hiperaktivitas otonomik simpatik, termasuk kecemasan, kesiagaan, berkeringat, kemerahan pada wajah, midriasis, takikardia dan hipertensi ringan. Pasien yang mengalami putus alcohol biasanya sadar tetapi mudah dikagetkan. Pengobatan utama untuk mengendalikan gejala putus alcohol adalah benzodiazepine. Banyak penelitian telah menemukan bahwa benzodiazepine membantu mengontrol aktivitas kejang, delirium, kecemasan, takikardia, hipertensi, diaphoresis dan tremor yang berhubungan dengan putus alcohol. Benzodiazepin dapat diberikan peroral maupun parenteral. Walaupun benzodiazepine adalah pengobatan standar untuk putus alcohol, sejumlah penelitian telah menujukan bahwa carbamazepine dalam dosis 800 mg sehari adalah sama efektifnya dengan benzodiazepine dan mempunyai manfaat tambahan kemungkinan penyalahgunaan yang minimal. Demensia Menetap Akibat Alkohol Sulit untuk memisahkan efek toksik penyalahgunaan alcohol dari kerusakan system saraf pusat akibat nutrisi yang buruk, trauma multiple, dan kerusakan system saraf pusat yang terjadi setelah malfungsi organ tubuh lainnya (sebagai contoh, hati, pancreas dan ginjal).

Gangguan Psikotik Akibat Alkohol Halusinasi yang paing sering adalah auditoris, biasanya berupa suara-suara, tetapi suara tersebut tidak terstruktur. Suara-suara karakteristiknya adalah memfitnah, mencela, atau mengancam. Halusinasi biasanya berlangsung selama kurang dari satu minggu. Pengobatan halusinasi berhubungan dengan putus alcohol adalah benzodiazepine, nutrisi yang adekuat dan cairan jika diperlukan. Gangguan mood akibat alcohol Diagnosis gangguan mood akibat alcohol dengan cirri manic, depresif, atau campuran. Kesimpulan Kira-kira 10% alcohol yang dikonsumsi diabsorbsi di lambung, dan sisanya diabsorbsi di usus kecil. 90% alcohol yang diabsobsi di metabolism melalui oksidasi di hati; sisanya 10% diekskresikan tanpa diubah oleh ginjal dan paru-paru. Alkohol dimetabolisme oleh dua enzim: alcohol dehidrogenase (ADH) dan aldehida dehidrognase. Efek pada otak secara biokimiawi alcohol menimbulkan efeknya dengan mengikatkan dirinya kedalam membran, yang mnyebabkan meningkatnya fluiditas membrane pada penggunaan jangka pendek. Efek pada tidur. Walaupun asupan alcohol di malam hari biasanya menyebabkan semakin mudahnya tertidur (yaitu,menurunnya latensi tidur), alcohol juga mempunyai efek merugikan pada arsitektur tidur. Putus Alkohol Tanda klasik dari putus alkohl adalah gemetar, walaupun spectrum gejala dapat meluas sampai termasuk gejala psikotik dan persepsi (sebagai contohnya, waham dan halusinasi), kejang, dan gejala delirium tremens (DTs). Gemetar berkembang enam sampai delapan jam setelah dihentikannya minum, gejala psikotik dan persepsi mulai dalam 8 sampai 12 jam, kejang 12 sampai 24 jam dan DTs dalam 72 jam.

Acknowledgement Penulis berterimakasih kepada Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jaokarta atas ketersediaannya meyediakan narasumber bagi penulis, dr.Edward Syam sebagai tutor dan dr.H Nasruddin Noor,SpKJ atas bantuannya.

Anda mungkin juga menyukai