Anda di halaman 1dari 5

No Diagnosa Keperawatan 1.

Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial ditandai oleh penurunan kesadaran (GCS E2M3VT)

Tujuan Intervensi Rasional Mempertahankan dan 1. Monitor dan catat status neurologis 1. Refleks membuka memperbaiki tingkat klien:tingkat kesadaran, tanda-tanda pupil mata menentukan kesadaran fungsi setiap 1 2 jam sekali pemulihan tingkat motorik kesadaran. Respon motorik menentukan kemampuan berespon terhadap stimulus eksternal dan indikasi keadaan kesadaran yang baik. Reaksi pupil digerakan oleh saraf kranial oculus motorius dan untuk menentukan refleks batang otak. Pergerakan mata membantu menentukan area cedera dan tanda awal peningkatan tekanan intracranial adalah terganggunya abduksi mata 2. Peningkatan sistolik dan penurunan diastolik serta penurunan tingkat kesadaran dan tandatanda peningkatan tekanan intrakranial.

2. Monitor tanda-tanda vital tiap 30 menit

Adanya pernapasan yang irreguler indikasi terhadap adanya peningkatan metabolisme sebagai reaksi terhadap infeksi. Untuk mengetahui tandatanda keadaan syok akibat perdarahan. 3. Pertahankan posisi kepala 300 3. Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak, untuk itu dapat meningkatkan tekanan intrakranial.

4. Observasi kejang dan lindungi pasien dari 4. Kejang terjadi akibat cedera akibat kejang. iritasi otak, hipoksia, dan kejang dapat meningkatkan tekanan intrakrania. 5. Berikan oksigen sesuai dengan kondisi 5. Dapat menurunkan pasien. hipoksia otak. 6. Berikan obat-obatan yang diindikasikan 6. Membantu dengan tepat dan benar (kolaborasi). menurunkan

tekanan

intrakranial secara biologi / kimia seperti osmotik diuritik untuk menarik air dari selsel otak sehingga dapat menurunkan udem otak, steroid (dexametason) untuk menurunkan inflamasi, menurunkan edema jaringan. Obat anti kejang untuk menurunkan kejang, analgetik untuk menurunkan rasa nyeri efek negatif dari peningkatan tekanan intrakranial. Antipiretik untuk menurunkan panas yang dapat meningkatkan pemakaian oksigen otak. 7. Batasi pemberian cairan ( biasanya 1400 7. Mencegah edema cc/24 jam) Pola nafas tidak efektif Mempertahankan pola 1. Hitung pernapasan pasien dalam satu menit. 1. Pernapasan yang cepat dari pasien dapat berhubungan dengan kerusakan nafas efektif, AGD menimbulkan difusi ditandai oleh RR 30x/menit, dalam batas normal alkalosis respiratori

2.

retraksi otot pernafasan, nilai AGD abnormal

dan pernapasan lambat meningkatkan tekanan Pa Co2 dan menyebabkan asidosis respiratorik.
2.

Cek pemasangan tube

2. Memberikan ventilasi yang adekuat dalam pemberian tidal volume 3. Biasanya 2 x lebih panjang dari inspirasi, tapi dapat lebih panjang sebagai kompensasi terperangkapnya udara terhadap gangguan pertukaran gas. 4. Keadaan dehidrasi dapat mengeringkan sekresi / cairan paru sehingga menjadi kental dan meningkatkan resiko infeksi. 5. Adanya obstruksi dapat menimbulkan tidak adekuatnya

3.

Observasi ratio inspirasi dan ekspirasi pada fase ekspirasi

4.

Perhatikan kelembaban dan suhu pasien

5.

Cek selang ventilator setiap waktu (15 menit)

pengaliran volume dan menimbulkan penyebaran udara yang tidak adekuat


6.

Siapkan ambu bag tetap berada di dekat pasien

6. Membantu memberikan ventilasi yang adekuat bila ada gangguan pada ventilator.

Widagdo, Wahtu; Suharyanto, Toto; Aryani, Ratna. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Ganggun Sistem Persarafan. Jakarta: TIM