Anda di halaman 1dari 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pour Point Definisi Pour Point menurut uji Standart ASTM (American Standart Test for Materials), yaitu temperature terendah di mana minyak masih dalam keadaan cair ketika didinginkan. (Shupak J. Harris, 1986). Puor Point dari bahan bakar dinyatakan sebagai kelipatan 50F (30C) yang diamati apakah masih bisa mengalir apabila bahan bakar didinginkan pada keadaan tertentu. Di bawah temperatur pour point ini bahan bakar sudah tidak dapat mengalir lagi atau membeku karena adanya kandungan lilin (Wax). Ini penting diketahui sebagai pengetahuan di bidang penambangan dan pengolahan produk-produk minyak bumi (Shupak J. Harris, 1986). Titik tuang mengindikasikan bahwa pada suhu terendah minyak tetap mudah

dipompakan. Selain itu, titik tuang dapat didefinisikan sebagai suhu minimum cairan dimana cairan tersebut menjadi setengah padat dan kehilangan karakteristik alirannya . Dibawah temperatur terendah itu, oli akan membeku dan tidak bisa mengalir lagi
(http://en.wikipedia.org/wiki/Pour_point)

Penentuan uji titik tuang ini dilakukan menurut standar metode ASTM D 97-06, untuk mengetahui perlakuan yang harus dilakukan terhadap minyak tersebut, sebab ada hubungannya dengan indikasi sifat pemompaan dan kemampuan alir pada suhu rendah. Suhu terendah dimana minyak bumi masih bisa di tuangkan atau masih bisa mengalir oleh beratnya sendiri. Dengan mengetahui titik tuang dari minyak bumi tersebut kita dapat menghitung pada suhu berapa minyak bumi tersebut masih bisa di pompa, atau tidak bisa di pompa,serta bisa di hitung berapa jumlah uap air (steam) yang di butuhkan sebagai pemanas untuk menjaga agar minyak tetap dapat di pompa
(http://www.scribd.com/doc/50420808/21/Penentuan-Uji-Titik-Tuang-Pour-Point)

Minyak Pelumas mempunyai beberapa fungsi, diantaranya sebagai berikut : 1.Mengurangi panas yang timbul akibat gesekan 2.Mengurangi gesekan antara logam dengan logam 3.Membantu mendistribusikan beban poros pada bantalan 4.Mencegah keausan dan korosi 5.Memproteksi equipment dari kotoran dan kontaminan lain IV-1

II-2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik minyak pelumas meliputi beberapa aspek yaitu : 1. Viscosity 2. Pour Point Pour point adalah temperatur terendah dimana minyak masih bisa meleleh atau mengalir dalam kondisi tertentu ketika didinginkan tanpa gangguan pada batasan yang sudah ditentukan. Dibawah temperatur terendah itu, oli akan membeku dan tidak bisa mengalir lagi. 3. Flash Point 4. Fire Point

Manfaat yang diperoleh dari percobaan pour point ini salah satunya adalah untuk pengawasan operasi suatu peralatan unit pengolahan untuk jangka waktu tertentu yang kemudian akan di analisa dalam laboratorium. Hasil dari analisa tersebut dapat digunakan untuk mengetahui cara kerja alat dan unit pengolahan serta mutu dari suatu produk. Selain itu pour point juga sangat berguna dalam memperkirakan jumlah relatif dari suatu lilin (Wax) di dalam bahan bakar. (Shupak J. Harris, 1986). Repitibilitas adalah selisih harga pengujian maksimum yang diperbolehkan antara operator yang sama dengan alat-alat penguji yang sama. Sedangkan reproduksibilitas merupakan selisih harga pengujian maksimum yang diperkenankan antara dua orang operator yang menggunakan alat-alat yang sejenis atau sama dan atau yang berbeda. Sehingga antara keduanya saling berhubungan (Shupak J. Harris, 1986). Percobaan pour point dilakukan di mana bahan bakar dipanaskan pada temperatur 1150F untuk melarutkan semua lilin (Wax) di dalam bahan bakar, dan didinginkan pada temperature 900F sebelum percobaan dilakukan. Campuran pendingin disebarkan dalam 150F sampai dengan 300F di bawah pour point yang diperkirakan. Campuran pendingin yang umum dipergunakan dapat dilihat pada tabel II.1 : Tabel II.1 Campuran Pendingin Es dan air Pecahan Es dan kristal NaCl Pecahan es dan Kristal CaCl2 Karbondioksida padat dan aseton atau nafta
(Ahadiat.Nur, 1987)

sampai 500F (100F) sampai 100F (-120C) sampai -16,60F (-270C) sampai -700F (-570C)

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada setiap penurunan 50F tabung uji diangkat secara hati-hati dari penangas pendingin yang dilapisi gasket di dalamnya, lalu tabung tersebut diletakkan mendatar untuk mengetahui apakah bahan bakar mengalir atau tidak. Jika tidak mengalir, maka dinyatakan bahan bakar tersebut telah membeku. Temperature pada saat membeku disebut dengan titik beku (freezing point). Pour Point dapat diketahui 50F (30C) di atas titik beku. (Ahadiat.Nur,
1987)

Pada percobaan pour point, bahan bakar yang mempunyai pour point antara 900F sampai dengan -300F (-340C sampai dengan 320C), bahan bakar dipanaskan tanpa pengadukan sampai 1150F (460C) dalam penangas yang suhunya dipertahankan 1180F (480C). Setelah itu bahan bakar didinginkan di udara sampai temperature 950F (350C). Untuk bahan bakar yang mempunyai pour point di atas 900F (320C), bahan bakar dipanaskan sampai tempetratur 1150F (460C) atau sampai temperature kira-kira 150F (80C) di atas pour point yang diharapkan. Sedangkan untuk bahan bakar yang mempunyai pour point di bawah -300F (-320C), bahan bakar dipanaskan sampai mencapai titik 1150F (460C) dan didinginkan sampai 600F (160C) dalam penangas air di mana temperaturnya diperthankan 450F (70C). (Ahadiat.Nur, 1987) Penentuan pour point dalam spesifikasi minyak pelumas bertujuan untuk menghindari terjadinya pembekuan minyak pelumas pada keadaan dingin. Dengan menaikkan nilai dari pour point itu dapat meningkatkan mutu indeks viscositas (kekentalan) dan hasil dari persentasi bahan pelumas bebas lilin, selain itu dapat lebih menghemat energi yang diperlukan dalam proses penglilinan (dewaxing).
(Shupak J. Harris, 1986).

Tujuan dari pelumasan adalah untuk mengurangi terjadinya gesekan pada permukaan logam yang bersinggungan. Secara umum fungsi pelumas pada kendaraan bermesin adalah sebagai pelumas, sebagai perambat panas, sebagai penyekat dan menjaga agar mesin tetap bersih. Pengaruh minyak pelumas terutama sangat bergantung dari viscositasnya, di samping kemampuannya membentuk lapisan selaput untuk dapat bertahan terhadap kondisi temperatur dan tekanan dalam kondisi operasi suatu alat. Viscositas dari semua jenis pelumas akan menurun dengan naiknya temperatur atau menurunnya tekanan. Sebagai contoh minyak pelumas carter,bila kita menggunakan minyak pelumas tersebut yang viscositasnya rendah akan kurang aktivitas minyak pelumas tersebut dalam melindungi bagian-bagian logam mesin kendaraan pada saat mesin dinyalakan, karena akan menurun lagi viscositasnya akibat temperatur yang menanjak. Tetapi apabila kita menggunakan minyak pelumas yang viscositasnya tinggi, kita akan mendapatkan kesulitan untuk mula-mula menyalakan mesin, LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA setidaknya accu akan bekerja keras untuk menghidupkan mesin, terlebih lagi apabila temperatur lingkungan sangat rendah. Yang lebih ideal dari suatu minyak pelumas adalah perubahan yang sekecil mungkin yang terjadi pada viscositasnya dalam menghadapi pengaruh perbedaaan temperatur yang besar. Pada umumnya untuk produk minyak bumi, hubungan antara viscositas kinematika dengan perubahan temperature dapat dinyatakan secara empiris sebagai berikut : Lognlogm ( v + 0.7 )= A + B log T di mana : v = viscositas kinematika dalam satuan cSt (centi Stoke) T = temperature termodinamika dalam satuan K (Kelvin) A,B = konstanta-konstanta spesifik untuk minyak

Minyak pelumas di klasifikasikan berdasarkan bentuknya (wujud) dibagi menjadi Pelumas cair, Pelumas semi solid, dan pelumas padat. Pelumas Cair 1.Merupakan pelumas yang berbentuk cair, biasa dikenal dengan istilah oli 2.Jenis-jenis pelumas cair : a. Oli mineral Berbahan bakar oli dasar (base oil) yang diambil dari minyak bumi yang telah diolah dan disempurnakan b. Oli sintetis Biasanya terdiri atas polyalphaolifins yang datang dari bagian terbersih dari pemilahan oli mineral, yakni gas Cenderung tidak mengandung bahan karbon aktif Suhu operasi lebih tinggi Mudah dicampur dengan bahan kimia untuk menaikkan kemampuan kerja 3. Contoh penggunaan pelumas cair : pada gear box untuk mencegah keausan antar roda gigi

Pelumas Semi Solid / Grease 1. Grease terbuat dari cairan, biasanya oli yang dicampur dengan bahan pemadat (thickening agent), biasanya berbentuk sabun 2. Grease tetap tinggal pada tempat yang dilumasi dan sulit untuk tertekan keluar LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3. Grease dapat digunakan sebagai pelindung peralatan mesin untuk mencegah masuknya uap air dan debu Pelumas Padat 1. Pelumas padat berbentuk logam atau padatan kimia 2. Biasanya digunakan dimana pada suhu rendah oli biasa akan membeku dan pada suhu tinggi oli biasa akan terbakar 3. Contoh pelumas padat : graphite dan molybdenum disulphide, tungsten disulphide

II.2 Bahan Bakar Biosolar dan Olie SAE 40 Pelumas bermutu tinggi dirancang untuk mesin diesel yang bertenaga sedang dengan turbocharger dan mesin bensin yang kedua-duanya dipergunakan pada armada angkutan serta mesin alat-alat berat yang menghendaki pelumas jenis ini.
(http://pertaminalubesmarine.com/Product/download/Pertamina%20ATF.pdf)

MESRAN B ini cocok untuk perusahaan-perusahaan dengan armada kendaraan bermesin bensin dan diesel. Pelumas ini diformulasikan dari bahan dasar yang memiliki viscosity index yang tinggi serta mengandung detergent-dispersant yang tinggi, anti oksidasi, anti karat, anti aus dan anti busa. Sifat lainnya dari pelumas ini, adalah tidak menimbulkan lumpur endapan (sludge) walaupun mesin bekerja pada suhu rendah, mengingat sifat ini diperlukan pada kendaraan yangbekerjaringan. MESRAN B sangat sesuai untuk pelumasan mesin diesel kendaraan bertenaga besar tanpa turbocharger maupun yang bertenaga sedang dengan turbocharger. MESRAN B dapat dipergunakan untuk kendaraan mesin bensin yang memerlukan pelumas dengan performance level API Service Classification SF
(http://pertaminalubesmarine.com/Product/download/Pertamina%20ATF.pdf)

Tabel II.2. Karakteristik Mesran


TYPICAL CHARACTERISTIC MESRAN B30 MESRAN B-40 MESRAN B50

O. SAE Specific density Viscosity kinematic -40C, cSt -100C,cSt Viscosity index Colour, ASTM

30 0.8899

40 0.8961

50 0.8988

89.20 10.84 106

146.70 14.42 96

238.91 19.94 96

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA BIOSOLAR Nama Lain : BIO DIESEL FUEL Komposisi : Hidrokarbon dan FAME 812 Tabel II.3. Data Fisik dan Kimiawi BIOSOLAR No Karakteristik Bilangan Cetana 1 -Angka Setana -Indeks Setana Berat Jenis 15C 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Viskositas (40C) Kandungan Sulfur Distilasi Temp 95 Titik Nyala Titik Tuang Residu Karbon Kandungan Air Biological Growth Kandungan FAME Kandungan Abu Kandungan Sedimen Bilangan Asam Kuat Bilangan Asam Total Penampilan Visual Kg/m
3

Satuan

Batasan MIN MAKS

48 45 815 2.0 60 Nihil -

870 5.0 0.351) 370 18 0.1 500 Nihil 10 0.01 0.01 0 0,6

mm2/sec %m/m C C C % m/m mg/kg %v/v % vol % m/m mg KOH/g mg KOH/g

Jernih/ terang

Jernih/ terang 3.0

16

Warna

17 No.ASTM Catatan 1 Batasan 0.35 % m/m setara dengan 3500 ppm


Sumber : PT. PERTAMINA (PERSERO), Direktorat-Pemasaran dan Niaga, Juni 2007

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA OLIE SAE 40 Olie SAE 40 mempunyai viscositas yang lebih besar daripada minyak pelumas Olie SAE 30 di atas. Jangkauan viscositas pada olie SAE 40 ini pada temperature 2100F minimum 12,9 cSt dan maksimum 16,8 cSt. Minyak pelumas yang diambil dari bengkel I dan kios pengencer I tidak memenuhi klasifikasi olie ini karena mempunyai jumlah angka basa kurang dari 4 mg KOH/gr, sehingga kurang tahan terhadap oksidasi udara pada temperature yang lebih besar dari 2000C. Tabel II.4 Sifat Fisika dan Kimia Olie SAE 30 dan Olie SAE 40. SIFAT Berat jenis 60/600F Titik Nyala ( F) Titik Api (0F) Jumlah Angka Asam (TAN) (mg KOH/gr) Jumlah Angka Basa (TNB) (mg KOH/gr) Tak larut dalam Pentana (%berat) Titik Tuang ( F) SIFAT Viscositas 1000F (cSt) Viscositas 2100F (cSt)
Publikasi Lemigas, Jakarta Selatan, 1987, hal 7)
0 0

SAE 30 0,8912 440 470 1,74 5,14 0,349 5 SAE 30 106,15 11,70

SAE 40 0,8962 470 495 2,81 9,70 0,284 0 SAE 40 148,62 16,71

METODE ASTM D-1268 ASTM D-92 ASTM D-92 ASTM D-664 ASTM D-664 ASTM D-473 ASTM D-97 METODE ASTM D-445 ASTM D-445

(Ahadiat.Nur, Minyak solar, Mutu, dan Penggunaan, No.3, Bidang data dan informasi PPPTM GBLembar

II.3 Metode Standar dan Peralatan Metode uji standar pour point yaitu ASTM D-97-06. Pendahualuan dialukakan setelah pemanasan, sampel didinginkan pada tingkat tertentu dan diperiksa pada interval 3 C. Suhu terendah di mana gerakan spesimen diamati dicatat sebagai titik tuang. Peralatan pour point 1. Tuang spesimen ke dalam tabung tes. Bila perlu, panaskan spesimen pada bath hingga hanya secukupnya cairan yang dituangkan ke dalam tabung uji. CATATAN 1-Telah diketahui bahwa beberapa bahan, ketika dipanaskan dengan suhu lebih tinggi dari 45 C selama 24 jam sebelumnya, tidak menghasilkan hasil titik tuang yang sama ketika bahan tetap pada suhu kamar selama 24 jam sebelum pengujian. Contoh

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA bahan yang dikenal untuk menunjukkan kepekaan terhadap histori termal adalah bahan bakar residu, minyak hitam, dan stok silinder. 1.1 Sampel bahan bakar residu, minyak hitam, dan stok silinder yang telah dipanaskan sampai suhu yang lebih tinggi daripada 45 C selama 24 jam sebelumnya, atau ketika histori termal jenis sampel tidak diketahui, harus disimpan pada temperatur ruang selama 24 jam sebelum pengujian. Sampel yang diketahui oleh operator pada histori termal tidak perlu disimpan pada suhu kamar selama 24 jam sebelum pengujian. 1.2 Bukti eksperimental mendukung penghapusan masa tunggu 24 jam untuk beberapa jenis sampel yang tercantum dalam laporan penelitian 2. Tutup tabung test dengan penutup gabus yang telah diberi termometer high-pour (5.2). Dalam kasus pour point diatas 36OC, gunakan termometer dengan rentang yang tinggi seperti IP 63C atau ASTM 61C. Sesuaikan posisi dari gabus dan termometer sehingga gabus pas dan erat, termometer dan tabung adalah koaksial, dan bulb termometer terendam sehingga awal kapiler adalah 3 mm di bawah permukaan spesimen. 3. Untuk pengukuran titik tuang, subjek specimen dalam tabung tes untuk mengikuti perlakuan pendahuluan: 3.1 Spesimen yang memiliki titik tuang di atas -33 C, panaskan spesimen tanpa pengadukan hingga 9 C di atas titik tuang yang diharapkan, tetapi setidaknya 45 C, dalam sebuah bath yang dijaga pada 12 C di atas titik tuang yang diharapkan. Transfer tabung test ke sebuah bath yang dipertahankan pada 24 1,5 C dan pengamatan dimulai untuk titik tuang. Bila menggunakan bath cair, pastikan bahwa level cairan adalah antara tanda mengisi dan atas pada tabung uji. 3.2 Spesimen yang memiliki titik tuang pada -33 C dan di bawahnya-Panaskan spesimen tanpa pengadukan hingga 45 C dalam sebuah bath yang dipertahankan pada 48 1,5 C dan mendinginkan sampai 15 C dalam sebuah bath yang dipertahankan pada 6 1,5 C. Lepaskan termometer high could and pour, dan tempatkan termometer low could and pour diposisinya. Bila menggunakan bath cair, pastikan bahwa level cairan adalah antara tanda mengisi dan atas pada tabung uji. 4. Lihat bahwa disk, Gasket, dan bagian dalam jaket telah bersih dan kering. Tempatkan disk di bawah jaket. Tempatkan gasket sekitar 25 mm dari bawah tabung test. Menyisipkan tabung tes dalam jaket. Jangan menempatkan tabung langsung ke media pendinginan.

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tabel II.2.3 Bath and Sample Temperature Range

5. Setelah spesimen telah didinginkan untuk memungkinkan pembentukan kristal lilin parafin, berhati-hatilah untuk tidak mengganggu massa spesimen maupun memungkinkan termometer untuk bergeser dalam spesimen; setiap gangguan jaringan spons dari kristal lilin akan menyebabkan hasil yang rendah dan salah. 6. Titik tuang disajikan dalam bilangan bulat yang positif atau negatif kelipatan dari 3 C. Mulailah untuk memeriksa tampilan spesimen ketika suhu spesimen adalah 9 C di atas titik tuang yang diharapkan (diperkirakan sebagai kelipatan dari 3 C). Pada setiap membaca tes termometer yang merupakan kelipatan dari 3 C dibawah suhu awal keluarkan tabung tes dari jaket. Untuk menghilangkan pengembunan yang membatasi visibilitas, lap permukaan dengan kain bersih yang telah dibasahi dengan alcohol (etanol atau metanol). Memiringkan tabung sudah cukup untuk memastikan apakah ada gerakan dari spesimen didalam tabung uji. Jika spesimen di dalam tabung uji bergerak, maka dapat dilakukan pencatatan, kemudian mengganti tabung tes segera kedalam jaket dan ulangi tes untuk aliran disuhu berikutnya, lebih rendah dari 3 C. Biasanya, melengkapi operasi pemindahan, mengelap, dan penggantian harus mensyaratkan tidak lebih dari 3 s. 6.1 Jika spesimen belum berhenti mengalir ketika suhu specimen mencapai 27 C, transfer tabung test ke jaket dibath pendingin yang dipertahankan pada 0 1,5 C. Sebagai spesimen yang akan terus menjadi lebih dingin, transfer tabung test ke jaket pada temperatur bath pendinginan yang lebih rendah berikutnya sesuai dengan Tabel 1. 6.2 Jika spesimen dalam tabung tidak menunjukkan gerakan saat dimiringkan, pegang tabung dalam posisi horizontal selama 5 s, yang dicatat oleh perangkat waktu akurat, dan mengamati specimen dengan hati-hati. Jika spesimen menunjukkan tanda-tanda gerakan sebelum 5 s telah berlalu, mengganti tabung test dengan segera di jaket dan mengulangi tes untuk aliran pada suhu berikutnya, lebih rendah dari 3 C.

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7. Lanjutkan dengan cara ini sampai tercapai titik di mana spesimen menunjukkan tidak ada gerakan bila tabung tes dipegang pada posisi horizontal selama 5 s. Catat pembacaan yang teramati pada termometer uji. 8. Untuk spesimen berwarna gelap, stok silinder, dan spesimen bahan bakar nondistillate, hasil yang diperoleh oleh prosedur yang diuraikan dalam pada no.1 hingga 7 adalah batas atas (maksimum) titik tuang. Jika diperlukan menentukan batas bawah (minimum) titik tuang yaitu dengan pemanasan sampel sambil diaduk, hingga 105 C, menuangkan sampel ke dalam tabung, dan menentukan titik tuang seperti yang dijelaskan dalam no.4 hingga 7. 9. Beberapa spesifikasi memungkinkan untuk lulus / gagal uji atau memiliki batas titik tuang pada suhu yang tidak terbagi oleh 3 C. Dalam kasus ini, adalah praktek yang dapat diterima untuk melakukan pengukuran titik tuang sesuai dengan mengikuti uraian: Mulailah memeriksa tampilan spesimen saat suhu spesimen adalah 9 C di atas spesifikasi titik tuang. Lanjutkan pengamatan pada interval 3 C seperti yang dijelaskan dalam 8.6 dan 8,7 sampai suhu spesifikasi tercapai. Laporkan sampel yang berhasil atau gagal melewati batas spesifikasi.

Gambar II.2 Seperangkat alat pour point LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengukuran Pour Point Pada Produk Petroleum Spesimen didinginkan dalam bak pendingin untuk memungkinkan pembentukan kristal lilin parafin. Pada suhu sekitar 9C di atas jar test diharapkan sebagai titik tuang dan untuk setiap suhu 3C berikutnya, diangkat dan dimiringkan untuk memeriksa gerakan permukaan. Ketika spesimen tidak mengalir bila dimiringkan, maka posisi tabungnya di diletakkan secara horizontal selama 5 detik. Jika alirannya tetap tidak mengalir pada suhu 3C maka ditambahkan suhu yang sesuai dan dinamakan suhu titik tuang.

(http://en.wikipedia.org/wiki/Pour_point)

Hal ini juga berguna untuk dicatat bahwa kegagalan mengalir pada titik tuang mungkin juga karena pengaruh viskositas atau sejarah termal spesimen. Oleh karena itu titik tuang dapat memberikan gambaran yang sempit tentang sifat penanganan minyak. Fluiditas tambahan atau tes pemompaan juga dapat dilakukan. Berbagai perkiraan titik tuang dapat diamati dari spesimen di atas dan di bawah titik tuang.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Pour_point)

Gambar II.3. Spesimen pada uji tabung yang dimiringkan Pengukuran Pour Point Pada Minyak Mentah Dua titik tuang dapat diturunkan yang mana dapat memberikan perkiraan suhu tergantung pada sejarah termalnya. Dalam rentang suhu ini, sampel mungkin muncul dalam bentuk cairan atau padat. Keistimewaan ini terjadi karena bentuk lilin Kristal lebih siap ketika telah dipanaskan dalam 24 jam terakhir dan memberikan kontribusi titik tuang terendah. (http://en.wikipedia.org/wiki/Pour_point) Titik tuang tertinggi sampel diukur dengan menuangkan langsung ke uji tabung. Kemudian sampel didinginkan dan diperiksa titik tuangnya sebagai metode yang digunakan LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA untuk titik tuang.Titik tuang terendah diukur dengan cara sampel pertama dituangkan ke dalam bejana baja bertekanan. Bejana ditutup secara rapat dan dipanaskan di atas 100C dalam bak minyak. Setelah waktu terpenuhi, bejana diangkat dan didinginkan untuk sementara waktu. Sampel ini kemudian dituangkan ke dalam uji tabung dan segera ditutup dengan gabus diberi juga termometer. Sampel kemudian didinginkan dan kemudian diperiksa untuk titik tuangnya sesuai dengan metode yang digunakan untuk titik tuang.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Pour_point)

Uji titik tuang dapat dikenakan kepada setiap produk minyak bumi. Titik tuang ditentukan dengan jalan mendinginkan contoh dan setiap penurunan suhu kelipatan 3C (5F) dilakukan uji sifat alir contoh. Suhu tertinggi dimana contoh tidak dapat mengalir, dicatat sebagai titik padat (solid point). Selanjutnya sesuai dengan definisi, titik tuang diperoleh dengan menambahkan 3C (5F) kepada titik padat. Alat uji titik tuang pada dasarnya sama dengan alat uji titik kabut, perbedaanya adalah kedudukan thermometer contoh. Seperti halnya dengan titik kabut, titk tuang dapat digunakan sebagai petunjuk mengenai besarnya kandungan malam relatif dalam minyak bumi dan produknya, disamping itu titik tuang juga menunujukkan suhu terendah dimana minyak bumi dan produknya masih dapat dipompa.
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13924/1/09E00082.pdf)

Gambar II.5. Pengukuran pour point pada minyak

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.2 Aplikasi Industri PENAMBAHAN LATEKS KARET ALAM KOPOLIMER RADIASI DAN PENINGKATAN INDEKS VISKOSITTAS MINYAK PELUMAS SINTETIS OLAHAN

Dewasa ini telah berkembang teknologi polimer yang dapat memformulasikan polimer sebagai zat aditif untuk peningkat indeks viskositas dari pelumas. Polimer yang biasa digunakan adalah kopolimer olefin, kopolimer steratat dan kopolimer metakrilat, karena ketiga polimer ini mempunyai sifat mengembang pada suhu tinggi. Viskositas semua jenis fluida akan mengalami penurunan dengan adanya kenaikan suhu. Kenaikan suhu ini akan mengakibatkan melemahnya ikatan molekul fluida kemudian menurunkan viskositasnya. Perubahan viskositas yang disebabkan pengaruh kenaikan suhu ini merupakan hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan pada berbagai jenis penerapan minyak pelmas dalam menghadapi jangkauan suhu yang luas. Jika digunakan pelumas mesin yang rendah viskositasnya, maka aktifitasnya untuk melindungi bagian mesin kendaraan pada saat mesin beroperasi akan berkurang. Akan tetapi jika menggunakan pelumas yang mempunyai nilai viskositas tinggi akan mendapat kesulitan saat menghidupkan mesin atau setidaknya baterai akan bekerja keras memberi suplai arus listrik.Kondisi ideal dari suatu minyak pelumas mesin adalah mempunyai viskositas yang cukup rendah di pagi hari untuk dapat menghidupkan mesin dan cukup tinggi viskositasnya dalam melayani operasi mesin. Secara umum yang diharapkan dari suatu minyak pelumas adalah perubahan viskositas yang sekecil mungkin dengan adanya perubahan suhu yang besar. Metodologi percobaan yaitu menggunakan bahan lateks alam (LKA) diambil dari perkebunan PTPN VIII Bandung. Sebagai bahan polimer digunakan bahan metil metakrilat (MMA) teknis. Untuk minyak pelumas digunakan minyak mineral HVI 60, HVI 95 dan minyak pelumas sintetis olahan. Beberapa bahan pelarut yang digunakan meliputi xilen, aseton dan gliserol. Sumber radiasi yang digunakan iradiator panorama sinar Co-60 PATIR BATAN. Cara kerjanya yaitu pertama dengan pembuatan kapolimer lateks karet alam metil metakrilat (Kopolimer LKA-MMA), kemuadian pembuatan aditif peningkat indeks viskositas. Selanjutnya dilakukan penentuan viskositas menggunaka metode cannon fenske routine. Hasil yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan yaitu minyak pelumas sintetik olahan terjadi kenaikan viskositas sebesar 73,33 % dengan penambahan 0,25% aditif

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN

II-14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA kopolimer, dan naik sebesar 162% dari kondisi awal tanpa kopolimer, pada penambahan kopolimer 10 %.Peningkatan indeks viskositas dengan adanya penambahan indeks kopolimer LKA-MMA untuk berintegrasi masuk kedalam pelumas sintetis dan memperbaiki sifat fisiko kimia minyak pelumas sintetis olahan tersebut. Dari percobaan juga dapat dilihat bahwa viskositas kinematik pada 100oC mengalami kenaika sebesar 3,06 menjadi 5,55 pada penambahan 0,25% kopolimer LKA-MMA dan naik sebesar 674 % pada penambahan 10% kopolimer LKA-MMA. Penambahn kopolimer LKA-MMA sebesar 10% mampu

meningkatkan klasifikasi pelumas sintetis olahan dari 0 W menjadi 60 menutur standar SAE. Nilai viskositas kinematij pada 1100oC menunujkkan penambahan aditif memberikan hasil yang baik untuk meningkatkan klasifikasi pelumas bekas pakai, yaitu mampu meningkatkan klasid=fikasi pelumas bekas pakai menurut standar SAE dari 0W hingga klasifikasi SAE 60. Pada percobaan juga dilakukan uji pour point pada sampel miyak pelumas olahan sintetis. Dari minyak pelumas yang telah diberi aditif kopolimer LKA-MMA memperliahtkan bahwa nilai pour point dari beberapa sampe yang diberi aditif masih memnuhi standar internasional yang sudah ditetapkan. Kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan yaitu penambahan kopolimer LKAMMA pada minyak pelumas sintetis olahan memberikan penigkatan indeks viskositas lebih tinggi dibandingkan penambahn kopolimer LKA-MMA tersebut pada minyak mineral. Hasil uji pour point pada inyak pelmas sintetis olahan, setelah diberi kopolimer LKA-MMA memenuhi standar internasional yang ditetapkan.

LABORATORIUM TEKNIK PEMBAKARAN