Anda di halaman 1dari 9

TAUHID SEBAGAI LANDASAN ILMU

1.PENGERTIAN TAUHID
Ilmu Tauhid secara umum diartikan dengan ilmu yang membicarakan tentang caracara menetapkan aqidah agama dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil naqli, dalil aqli maupun dalil perasaan (wujdan). Sarjana barat menterjemahkan Ilmu Tauhid ke bahasa mereka dengan Theologi Islam. Secara etimologi Theologi itu terdiri dari dua kata yaitu theos berarti Tuhan dan Legos berarti ilmu. Dengan demikian dapat diartikan sebagai ILMU KETUHANAN. Sedangkan secara terminologi (istilah), theologi itu diartikan : 1. The discipline which concert God or Devene Reality and Gods Relation to the world, maksudnya suatu pemikiran manusia secara sistematis yang berhubungan alam semesta. 2. Sciense of religion, dealing therefore with God and Man in his relation to God, maksudnya pengetahuan tantang agama yang karenanya membicarakan tentang Tuhan dan Manusia serta manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. 3. The sciense which treats of the facts and fenomena of religion and the relationship between God and Man, maksudnya ilmu yang membahas fakta -fakta dan gejala agama dan hubungannya antara Tuhan dan Manusia. Dari beberapa pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa theologi itu merupakan ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia, baik berdasarkan kebenaran agama (wahyu) ataupun berdasarkan penyelidikan akal murni. Inilah sebabnya theologi itu bukan hanya berupa uraian bersifat pikiran tentang agama semata (the intelectual expression of religion) tetapi dapat juga bercorak agama (reaviled theologi) or (filosophical theologi). Untuk itu siapa saja bisa menyelidiki sesuatu agama dengan semangat penyelidikan bebas tanpa harus dari orang-orang yang beragama tersebut atau mempunya hubungan dengan agama yang ditelitinya. Ilmu Tauhid ini juga sering dinamakan dengan Ilmu Kalam, Ilmu Ushuluddin dan Ilmu Aqaid. Disebut Ilmu Tauhid karena tujuan pokok ilmu ini adalah meng-ESA-kan Tuhan (Allah) baik zat, sifat maupun afalnya (perbuatanNya). Disebut Ilmu Kalam karena : Pembicaraan pokok yang dipersoalkan pada permulaan Islam adalah firman (kalam) Allah yaitu Al-Quran, apakah ia makhluk diciptakan (non azali) atau tidak diciptakan (azali). Dasar pembicaraan Ilmu Kalam adalah dalil-dalil akal pikiran sehingga kelihatan mereka ahli bicara. Dalil naqli baru digunakan sesudah ditetapkan kebenaran persoalan dari segi akal pikiran. Pembuktian kepercayaan agama sangat mirip dengan falsafah logika, maka untuk membedakannya disebut dengan Ilmu Kalam. Disebut Ilmu Ushuluddin (ilmu aqaid) karena pokok pembicaraannya adalah dasar-dasar kepercayaan agama yang menjadi pondasi agama Islam. Ilmu Kalam menjadi ilmu yang berdiri sendiri, mulai masa pemerintahan Daulah Abbasyiah (Khalifah Al-Makmun) ketika Mazhab Mutazilah menjadi Mazhab negara. Mazhab ini telah mempelajari filsafat dan memadukan metodanya dengan metoda Ilmu Kalam. Sebelumnya ilmu yang membicarakan kepercayaan masih disebut dengan al -fiqhu fi ad-din, sebagai imbangan ilmu fiqh yang dinamakan dengan al -fiqhu al-ilmi. Imam Hanafi sendiri menamakan bukunya tentang kepercayaan itu dengan al -fiqhu al-akbar. Pemakaian theologi Islam untuk Ilmu Kalam masih dapat dibenarkan karena pengertiannya tidak berbeda, sebab Ilmu Kalam membicarakan Wujud Tuhan, Sifat-Sifat Wajib, Sifat Jaiz (boleh) dan Sifat Mustahil pada Tuhan. Membicarakan Wujud Rasul, dengan Sifat-Sifatnya baik Wajib, Jaiz dan Mustahil pada mereka.

1. 2.

3.

Juga dibicarakan tujuan ke-utus-an mereka, pertanggungan jawab manusia di akhirat, balasan dan siksaan, semua itu bisa dicapai dengan dalil pikiran yang yakin dan intuitif. Di samping itu juga Ilmu Kalam memberi alasan akan kebenaran kepercayaan tersebut serta membantah orang yang mengingkarinya dan yang menyeleweng daripadanya. Jadi pengertian Theologi Islam dan Ilmu Kalam memiliki kesesuaian makna. Adanya kepercayaan kepada Tuhan dan segala sesuatu yang bertalian dengannya, hubungan Tuhan dengan alam semesta dan manusia, disamping kepercayaan kepada soal-soal gaib lainnya yang kadang-kadang akal manusia itu tidak mampu lagi menjangkaunya.

http://isengisengdoan.blogspot.com/2012/06/makalah-ilmu-tauhid.html

1.1 TAUHID SEBAGAI LANDASAN ILMU Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada akal manusia. Dengan akalnya manusia dapat memahami ayat-ayat Allah, dan membedakan yang baik dan buruk. Manusia memiliki status ciptaan Allah yang paling baik. Bahkan keberadaan umat islam ditempatkan Allah sebagai umat terbaik diantara umat lain. Pada hakikatnya umat islam membawa ajaranajaran bukan hanya mengenai satu segi saja, tetapi mengenai berbagai segi kehidupan manusia yang ajaran-ajarannya bersumber dari Al-quran dan Hadits. Manusia adalah umat terbaik sesuai dengan Al-quran surat Al-imran ayat 110.


Yang artinya: kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Umat islam adalah umat terbaik[1], yaitu islam yang dibawa Nabi besar Muhammad SAW, keistimewaan umat Muhammad adalah akan memperoleh rahmat yang khusus dari Allah diakhirat kelak, sebagaimana yang tercantum dalam Alquran surah Al-fathir ayat 32-35. Umat Muhammad kalau yang, ditinjau dari segi amal perbuatannya, ada tiga macam, yaitu: 1. Orang-orang yang mengabaikan sebagian amal perbuatan yang wajib serta melanggar sebagian yang meelanggar sebagian larangan (memcampuradukkan amal perbuatan baik dan buruk). Itulah orang yang diisyaratkan dengan menganiaya diri diri sendiri (zalimun li nafsih). 2. Orang-orang yang menunaikan semua amal perbuatan wajib dan meninggalkan semua larangan, tetapi kadan-kadang suka meninggalkan perbuatan sunat dan melakukan yang makruh. Itulah yang diisyaratkan dengan muqtasid (sedang dalam amal perbuatannya). 3. Orang-orang yang mengerjakan semua amal perbuatan wajib, meninggalkan semua larangan, semua yang makruh, dan sebagian yang sunat. Itulah yang diisyaratkan dengan saabiqun bilkhairati (orang-orang yang mendahului dalam kebaikan). Ibnu Abbas ra. Berkata, orang-orang yang mendahului dalam kebaikan akan masuk surga tanpa hisab. Orang yang pertengahan amal perbuatannya akan masuk surge dengan rahmat karunia Allah. Sedang orang yang menganiaya diri sendiri akan masuk surga dengan syafaat Nabi besar Muhammad saw. Sumber ajaran Islam adalah wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada manusia melalui Nabi Muhammad saw sebagai Rasulullah. Allah membawa petunjuk yang lebih unggul dari agama-agama lain. Sebagai ideologi (keyakinan) yang menawarkan Islam kaffah

(menyeluruh). Diantara keutamaan dan kemuliaan umat Muhammad adalah bahwa[2] Allah swt, benar-benar menyempurnakan keyakinan mereka dengan pernyataan Nabi saw. Al-Masum dalam sabdanya. Nabi saw bersabda, belum pernah ada umat yang dikaruniai keyakinan yang lebih sempurna daripada keyakinan yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad (Al-Hakim dari Said bin Masud). Belum pernah ada umat yang hatinya memperoleh pancaran iman untuk marifat kepada Allah Taala dan untuk meningkatkan amal perbuatan mereka sehingga menghadapi urusan akhirat bagi mereka sama menghadapi urusan kenyataan, melebihi atau membandingi pancaran iman yang dianugerahkan kepada umat Muhammad. Para ulama berbeda pendapat bahwa keyakinan itu ada tiga macam, yaitu ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yakin. Ilmul yaqin yaitu keyakinan yang diperoleh dari jalan pikiran yang sehat disertai bukti-bukti yang nyata. Ainul yaqin adalah memandang hal yang gaib sama dengan memandang yang lahir. Haqqul yaqin adalah keyakinan pandangan yang telah menyatu, tidak ada perbedaan diantara yang gaib dan yang lahir. Ajaran keesaan Allah atau tauhid menjadi dasar bagi pengetahuan dalam Islam. Setiap muslim mengawali pengetahuannya dengan menegaskan keesaan Allah SWT. Menurut AlFaruqi sebagai prinsip pengetahuan, tauhid adalah pengakuan bahwa Allah sebagai kebenaran Al-Haq itu ada, dan bahwa Dia itu Esa. Jadi setiap orang yang meragukan kebenaran Allah, dan sebagai sumber kebenaran adalah Allah swt adalah perbuatan syirik. Al-Faruqi berpendapat menjadi seorang muslim berarti bahwa didalam kesadaran kita senantiasa mengingat Allah. Karena Dia adalah Pencipta dan Hakim. Seseorang yang menjadi Islam berarti mengerjakan segala sesuatu seperti yang dikehendakiNya dan demi dia semata-mata. Tauhid merupakan penegasan dari kesatupaduan sumber-sumber kebenaran. Tuhan adalah pencipta alam dari mana manusia memperoleh pengetahuannya. Objek pengetahuan adalah pola-pola alam yang merupakan hasil karya Tuhan (kehendak dan kuasanya). Tuhan mengetahuinya secara pasti, sebab Dia adalah penciptanya dan secara pasti pula Dia adalah sumbernya, dan pengetahuanNya adalah mutlak dan universal. Allah sebagai Rabbul Alamin yaitu sebagai pencipta alam beserta segala isinya. Rabb artinya mendidik dimana Allah sebagai pendidik. Allah hanya memberi fasilitas hidup bagi manusia dengan kelengkapan diri manusia tersebut. Dan manusialah yang mengusahakan bagaimana mengembangkan bakat kognitif, psikomotorik, maupun akhlak budi pribadinya, untuk menetapkan status didunia dan diakhirat nantinya. Tetapi manusia tidak boleh sombong karena hakikatnya Allah yang memberikan ilmu oengetahuan yang dimiliki manusia tersebut. Islamisasi ilmu pengetahuan pada hakikatnya ingin menghubungkan kembali ilmu pengetahuan dan agama dalam visi modern dan memandang ilmu pengetahuan sebagai upaya manusia untuk membuka rahasia-rahasia sunatullah yang semuanya disadari oleh kesadaran bahwa agama dan ilmu pengetahuan merupakan Karunia Allah kepada manusia. Tauhid adalah inti ajaran Islam sehingga islamisasi ilmu tidak memiliki cara lain kecuali diawali dari akidah tauhid (mengesakan Allah) yang benar. Makna dari memahaminya adalah mengakui bahwa: 1. Tuhan itu ada dan Dia-lah Allah. 2. Allah itu Esa dalam Dzat (tak ada Tuhan lebih dari satu dan tak ada sekutu baginya), sifat (tak ada dzat lain yang memiliki sifat-sifat ketuhanan yang sempurna), maupun perbuatan-Nya (tak seorang pun dapat melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Allah).

3.

Allah menurunkan agama yang benar, yaitu Islam, sebagai pedoman hidup manusia. Berdasarkan pemahaman tersebut kita mengetahui bahwa Allah adalah Rabb bagi semesta alam dan sumber kebenaran. Allah-lah yang paling tahu apa yang baik dan benar bagi manusia. Maka, ilmu pengetahuan bersumber dari Allah semata, yaitu yang diperoleh berdasarkan tuntunan Allah melalui wahyu (Al Quran) dan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Ajaran tauhid mendorong agar manusia terus belajar untuk mendapatkan pengetahuan dan dalam prosesnya kita tetap memegang prinsip dan nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman mengembangkan ilmu pengetahuan. Al-Faruqi menjelaskan prinsip metodologi, tauhid terdiri dari tiga prinsip, yaitu: 1. Penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan realitas. 2. Penolakan kontradiksi-kontradiksi hakiki. 3. Keterbukaan bagi bukti yang baru, atau bertentangan. Prinsip pertama meniadakan kebohongan dan penipuan dalam Islam, karena prinsip ini menjadikan segala sesuatu dalam agama terbuka untuk diselidiki dan dikritik. Dalam agama Islam boleh menyelidiki sesuatu yang ingin diketahui lebih jelas kebenarannya tentang ilmu pengetahuan tersebut. Tetapi ilmu pengetahuan yang masih bisa bersifat bisa diselidiki, tidak ada kebohongan dalam Islam. Yang tidak boleh diselidiki adalah bagaimana zat Tuhan sebenarnya, kita mengetahui Allah cukup hanya dengan sifat-sifatnya saja. Karena jika kita menyelidikinya akan melanggar, dan tidak meyakini bahwa Allah itu ada. Prinsip kedua, yakni tidak ada kontradiksi yang hakiki. Jika wahyu bertentangan dengan mungkin bertentangan dengan akal, atau dengan penemuan-penemuan dalam penelitian atau pengetahuan rasional, maka Islam menyarankan kepada para peniliti/ilmuwan agar meninjau kembali pemahamannya atas wahyu atau penemuan rasionalnya atau kedua-duanya. Dengan demikian, seorang muslim adalah seorang rasionalis, karena dia menegaskan kesatupaduan antara dua sumber kebenaran, yaitu wahyu dan akal yang berasal dari Allah SWT. Penemuanpenemuan yang disselidiki oleh para ilmuwan harus rasionalisme artinya teruji kebenarannya dan bisa dipahami dengan akal, artinya akal menerima pengetahuan tersebut. Tapi penemuan itu juga harus ditinjau kembali pemahamannya. Contoh: misalnya asal-usul manusia menurut Darwin, ia mengatakan bahwa manusia keterunan dari kera/monyet. Jelas saja itu tidak benar karena manusia adalah ciptaan Allah melalui Nabi Adam diciptakan Allah kemudian manusia adalah keturunannya. Hal yang dikatakan Darwin tidak sesuai dengan wahyu Allah dalam Alquran, dan tidak juga sesuai dengan akal yang diberikan Allah SWT. Prinsip ketiga, tauhid sebagai kesatuan kebenaran yaitu keterbukaan terhadap bukti yang baru atau yang bertentangan. Segala apapun yang terjadi dalam ilmu pengetahuan, yang mengetahui kebenarannnya hanya Allah semata. Prinsip ini mendorong kaum muslimin kepada sikap rendah hati intelektual. Akan muncul ungkapan wallahu alam ( Allah yang lebih tahu). Kebenaran yang lebih besar hanya dapat dikuasai sepenuhnya dimanapun dan disaat kapanpun oleh Allah SWT. Artinya seorang ilmuwan hanya meneliti, apakah benar pemahaman penelitiannnya tersebut atau tidak. Jika benar dia harus rendah hati karena yang memberikan pengethuan kepada dirinya juga Allah SWT. Jadi Allah lah yang lebih besar dalam kebenaran tersebut.

Sebagai makhluk hidup, manusia juga senantiasa memiliki kesadaran diri dan kemampuan belajar. Rangkaian perjalan waktu pada usia anak-anak, kemudian seseorang belajar menguasai pengetahuan dan keterampilan untuk mempertahankan kehidupan. Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan manusia dapat membina kepribadian yang seutuhnya dalam masyarakat. Dan tentunya diterima masyarakat dengan senang hati. Maka dari usia kanak-kanak pendidikan itu diawali dari keluarga karena keluarga memberikan peran yang sangat penting untuk menyiapkan fungsi anak dalam masyarakat.

1.2 DIMENSI KEILMUAN PENDIDIKAN ISLAM Allah adalah pendidik yang Maha Agung bagi Manusia. Dia Maha pengasih lagi Maha penyayang kepada semua makhlukNya. Sebagai pendidik dan pemberi yang Maha Agung, Allah memberikan berbagai fasilitas hidup bagi manusia. Setelah diciptakan dengan kelengkapan pancaindra, manusia diberi ruh untuk hidup. Allah juga memberikan agama untuk membimbingnya. Bahkan seluruh alam diperuntukkan bagi kebaikan dan kehidupan manusia, bermakna sebagai suatu proses pendidikan yang panjang dalam mengaktualisasikan potensi setiap pribadi sesuai nilai-nilai, atau kehendak Allah swt. Landasan filosofis pendidikan dalam islam adalah filsafat pendidikan islam, sedangkan landasan pendidikan Islam adalam ilmu pendidikan Islam. Pendidikan islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yg memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dgn nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yg bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yg bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adl mewujudkan tujuan ajaran Allah (Djamaluddin 1999: 9). Pemikiran fundamental tentang pendiikan Islam adalah filsafat pendidikan Islam. Menurut Drajat (1987:123) filsafat pendidikan ialah pikiran, pandangan, dan renungan manusia tentang suatu proses penanaman benih baru atau proses transformasi dan usaha mengembangkan bakat serta kemampuan seseorang baik kawasan kognitif, afektif, psikomotorik maupun akhlak budi pribadi untuk menetapkan status, kedudukan dan fungsinya dalam alam semesta maupun akhirat nanti. Menurut Hasan Langgulung yg dikutip oleh Djamaluddin (1999) Pendidikan Islam ialah pendidikan yg memiliki empat macam fungsi yaitu : Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yg akan datang. Peranan ini berkaitan erat dgn kelanjutan hidup masyarakat sendiri.

Memindahkan ilmu pengetahuan yg bersangkutan dgn peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda. Memindahkan nilai-nilai yg bertujuan untuk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yg menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban. Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasil di akhirat.

Yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah : 1. ia merupakan suatu upaya atau proses yg dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akhirat. 2. merupakan usaha yg sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yg utama menurut ukuran islam. 3. merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik utk diarahkan mengikuti jalan yg islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Begitu pentingnya fungsi pendidikan bagi pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, sehingga eksistensi suatu bangsa dan kemajuan peradabannya merupakan hasil dari keberhasilan penyelenggaraan pendidikan[3], penyelenggara pendidikan yang utama adalah keluarga yang mempunyai tanggung jawab mendidik anak dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak. Serta mengajarkan moral yaitu tanggung jawab yang meliputi nilai-nilai religious spiritual yang dijiwai Ketuhanan yang Maha Esa disamping didorong oleh kesadaran memelihara martabat dan kehormatan keluarga. Kelurga merupakan tempat sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan baik pendidikan individual maupun pendidikan sosial. Keluarga tempat pendidikan yang paling sempurna sifatnya dan keberadaannya untuk melangsungkan pendidikan kearah pembentukan pribadi yang utuh. Peran orang tua sebagai penuntun, pengajar, dan sebagai pemberi teladan. Demikian pula sejarah kehancuran merupakan kegagalan pendidikan dalam menjalankan fungsinya. Kelangsungan hidup suatu bangsa tidak hanya aspek pisik, tetapi sekaligus, psikis, sosial dan kultural menjadi tanggung jawab pendidikan. Pendidikan sebagai proses atau upaya memanusiakan manusia pada dasarnya adalah upaya mengembangkan kemampuan potensi individu sehingga memiliki kemampuan hidup optimal baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat serta memiliki nilai-nilai moral religius dan social sebagai pedoman hidupnya. Pendidikan juga dipandang sebagai usaha sadar yang bertujuan untuk mendewasakan anak. Kedewasaan intelektual, sosial dan moral, tidak semata-mata kedewasaan dalam arti fisik. Pendidikan adalah proses sosialisasi untuk mencapai kompetensi pribadi dan sosial sebagai dasar untuk mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya dalam mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya dalam mengisi berbagai peran dan pekerjaan dimasyarakat. Aktivitas untuk mewariskan dan mengembangkan kebudayaan islam yang utama dilakukan melalui pendidikan keluarga muslim.untuk menjamin supaya pendidikan itu benar dan proses kegiatannya berlangsung secara efektif maka dbutuhkan adanya landasan filosofis dan landasan ilmiah sebagai asas normatife dan pedoman pelaksanaan pembinaan kepribadian anak-anak muslim. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada perencana pendidikan, guru-guru dan orang yang bekerja dalam bidang pendidikan. Karena hal tersebut akan mewarnai

perbuatan mereka secara arif dan bijaksana dan bijak, menghubungkan usaha-usaha pendidikannya dengan falsafah umum, falsafah bangsa, falsafah negaranya. 1.3 ILMU PENDIDIKAN ISLAM DAN GURU PROFESIONAL Umat islam saat ini telah terlanda penyakit jumud (kebekuan) dan penyakit kemunduran. Penyakit ini bisa disembuhkan ajaran islam, bila dipahami ilmu dan perkembangannya. Untuk mengoptimalkan proses dan hasil pendidikan islam, diperlukan para guru pendidikan agama islam dan guru-guru muslim yang profesional. Para guru muslim menguasai apa yang diajarkan, terampil mengajarkan ilmu pengetahuan, dan memilki integritas kepribadian. Dimensi keilmuan sangat diutamakan dan lebih tinggi beberapa derajat dalam islam. Karena itu, ilmu menjadi sarana meninggikan keimanan. kata profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya (Usman, 1995: 14). Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain (Sudjana, 1988: 14) Setiap guru profesional menguasai pengetahuan yang mendalam dalam spesialisnya. Penguasaan pengetahuan ini merupakan syarat yang penting disamping keterampilanketerampilan lain. Guru profesional selain menguasi seluk-beluk pendidkan dan pengajaran serta ilmu-ilmu lainya, guru juga dibekali pendidikan khusus untuk menjadi guru dan memiliki keahlian khusus yang diperlukan sesuai dengan profesinya. Pekerjaan guru adalah suatu profesi tersendiri, pekerjaan ini tidak dapat dikerjakan oleh sembarang orang tampa memiliki keahlian sebagai seorang guru. Banyak yang pandai berbicara tertentu, namun orang itu belum dapat disebut sebagai seorang guru (Hamalik, 2004: 118-119). Seseorang guru selain memiliki pengetahuan atau wawasan mengenai pendidikan juga harus dibekali dengan persyaratan tentang profesionalisnya itu, mengenai persayaratan guru tersebut meliputi: a. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa Guru sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan islam tidak mungkin mendidika anak didik bertakwa kepada Allah SWT, jika guru sendiri tidak bertakea kepadanya. Sebaliknya guru adalah teladan bagi anak didiknya. b. Sehat jasmani Kesehatan jasmanikerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka untuk menjadi guru. c. Berkelakuan baik Budi pekerti guru penting dalam pendidikan watak anak didik, guru harus menjadi tauladan bagi siswa didiknya karena anak-anak cenderung bersifat meniru (Djamarah, 2000: 32). Ketiga persyaratan tersebut diharapkan telah demiliki oleh seorang guru sehingga ia mampu memenuhi fungsi sebagai pendidik profesional yakni pendidik bangsa, guru di sekolah atau pimpinan di masyarakat. Dari persyaratan di atas menunjukan bahwa guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa

guru layak menjadi panutan atau tauladan bagi masyarakat di sekelilingya (Soejipto, 2007: 42). Rasulullah saw bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah: dan barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan baginya untuk menuju surga (Al-Hadits). Dari hadits ini, jelas diisyaratkan bahwa para pelaksanaan pendidikan, baik pendidik maupun yang didik tergolong dalam kelompok orang yang disediakan jalan menuju surga. Karena itu dalam era kontemporer harus diusahakan semakin banyak lembaga pendidikan islam yang yang berkualitas dan unggul. Didalam konsep, prinsip dan teori pendidikan islam benarbenar diaplikasikan oleh para pengelola dan guru. Ilmu pendidikan Islam harus mampu mencerahkan para guru muslim dalam memberdayakan pribadi dan masyarakat ditengah semakin kerasnya persaingan. Karena di era modern atau kontemporer saat ini banyak orang yang tinggi kognitifnya tetapi akhlaknya bobrok atau rusak. Contohnya saja para pejabat, mereka mempunyai keilmuan yang tinggi tapi akhlaknya tidak baik. Tidak memikirkan manusia yang lain, karena itu dia terus korupsi. Itu menunjukkan pentingnya pendidikan Islam, agar generasi bangsa seterusnya atau akhlak anak bangsa akan baik dengan usaha dari pendidikan tersebut. Salah satu ilmu yang penting dalam membina keahlian dan kepribadian guru muslim adalah Ilmu pendidikan islam. Karen kelangsungan dan perkembangan masyarakat islam sepenuhnya memang dipengaruhi oleh pranata-pranata sosial yang ada didalamnya, termasuk pendidikan, ekonomi, politik, teknologi serta moral atau etika. 1.4 PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISTEM Sistem adalah suatu kesatuan dari komponen-komponen yang masing-masing berdiri sendiri tetapi saling terkait satu sama lain, sehingga terbentuk suatu kebulatan yang utuh dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Komponen yang berada didalam system pendidikan sangat beragam. Secara umum bahwa pendidikan sebagai suatu system yang terpadu dari semua satuan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mengusahakan terlaksananya proses pendidikan secara optimal dan tercapainya tujuan pendidikan.Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Suatu usaha pendidikan menyangkut tiga unsur pokok yaitu unsur masukan, unsur proses usaha itu sendiri, dan unsur hasil usaha. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu sistem yang mempunyai unsur-unsur tujuan sasaran pendidikan, peserta didik, pengelola pendidikan, struktur atau jenjang, kurikulum dan fasilitas. Setiap sistem pendidikan ini saling mempengaruhi. 1. Tujuan dan Prioritas adalah fungsi mengarahkan kegiatan. Hal ini merupakan informasi apa yang hendak dicapai oleh sisitem pendidikan dan urutan pelaksanaanya 2. Peserta didik adalah fungsinya belajar diharapkan peserta didik mengalami proses perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan sistem pendidikan 3. Manajemen atau pengelolan adalah fungsinya mengkoordinasi, mengarahkan dan menilai sistem pendidikan 4. Struktur dan jadwal waktu adalah mengatur pembagian waktu dan kegiatan

5. Isi dan bahan pengajaran adalah mengambarkan luas dan dalamnya bahan pelajaran yang harus dikuasai peserta didik. 6. Guru dan pelaksanaan adalah menyediakan bahan pelajaran dan menyelengarakan proses belajar untuk peserta didik 7. Alat bantu belajar adalah fungsi membuat proses pendidikan yang lebih menarik dan bervariasi 8. Fasilitas adalah fungsinya untuk tempat terjadinya proses pembelajaran 9. Teknologi adalah fungsi memperlancar dan meningkatkan hasil guna proses pendidikan 10. Pengawasan mutu adalah fungsi membina peraturan dan standar pendidikan 11. Penelitian adalah fungsi memperbaiki dan mengembangkan ilmu pengetahuan 12. Biaya adalah fungsinya memperlancar proses pendidkan Menurut UU republik Indonesia no.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan , pengajaran, atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Secara umum bahwa pendidikan sebagai suatu sistem dapat diartikan sebagai untuk mengusahakan satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mngusahakan terlaksananya proses pendidikan secara optimal dan tercapainya tujuan pendidikan. BAB II DAFTAR PUSTAKA Syafaruddin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Hijri Pustaka Utama, 2009 Rosdiana, Pendidikan Suatu Pengantar, Bandung : Cita Pustaka Media Perintis, 2009 Muhammad Bin Alwi Al maliki Al Hasani, Keutamaan Umat Muhammad, Jakarta: Bintang Terang, 2001
http://nur-hamidah.blogspot.com/

Anda mungkin juga menyukai