Anda di halaman 1dari 33

PENGERTIAN

VEKTOR :

1.Adalah Arthropoda yang dapat memindahkan / mernularkan suatu "Infectious Agent" dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan (Susceptible Host). 2. Binatang Phylum Arthropoda atau lain - lain Invertebrata yang memindahkan dengan cara Inokulasi kedalam / melalui kulit atau selaput lendir dengan gigitan, atau peletakkan bahan - bahan Infectious pada kulit atau makanan atau lain-lain obyek. ( Moulton )

PENGENDALIAN VEKTOR :

Semua usaha yang dilakukan untuk melenyapkan atau menurunkan populasi vektor dengan maksud mencegah / memberantas penyakit yang ditularkan Vektor atau gangguan - gangguan (Nuisance) yang diakibatkan oleh Vektor.

BINATANG PENGGANGGU :

Adalah binatang yang dapat mengganggu , menyerang ataupun menularkan penyakit terhadap manusia , bianatang maupun tumbuh - tumbuhan.

Vektor dan binatang pengganggu dapat merugikan manusia dan pada gilirannya akan menggangu kesejahteraan hidup manusia. Oleh karena itu adanya Vektor dan Binatang pengganggu tersebut harus ditanggulangi., Sekalipun demikian tidak mungkin kita membasmi mereka sampai ke akar-akarnya , melainkan hanya berusaha mengurangi atau menurunkan populasi vektor dan binatang pengganggu tersebut ke suatu tingkat tertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

1

PERBEDAAN PEMBERANTASAN DAN PEMBASMIAN

 

PEMBERANTASAN

PEMBASMIAN

TUJUAN

Menurunkan jumlah

Meniadakan

penderita sampai

penderita malaria

tidak merupakan

(Insidens atau

masalah kesehatan

Prevalens nol)

utama

JANGKAU

Tidak perlu seluruh wilayah negara , hanya yang tinggi penularannya.

Seluruh wilayah

AN

yang ada

penularan.

WAKTU

Tidak terbatas

Tertentu

BIAYA

Relatif kecil

Tertentu

PENGELO

Cukup baik

Sangat baik

LAAN

TEKNIS

OPERASI

ONAL

Pencarian

Sesuai dengan

Sangat penting.

penderita

kemampuan.

Penyelidika

Sesuai dengan

Sangat penting terutama pada Fase akhir.

n Epid.

kebutuhan.

Penilaian

Malariometric Survey ( MS ) , Pasive Case Detection (PCD) , Active Case Detection (ACD)

Epid

PCD , ACD harus dilaksanakan.

 

bukan keharusan.

Usaha pengendalian vektor dan binatang pengganggu secara umum merupakan gabungan usaha sbb :

Pencegahan ( Prevention ) Penekanan ( Supression ) Pembasmian ( Eradication ).

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

2

MEKANISME PENULARAN PENYAKIT YANG DITULARKAN VEKTOR .

1) Mechanical Transport ( cara mekanis ). Pemindahan Infectious Agent melalui permukaan bagian tubuh Vektor ( kaki , probosis dll). Contoh :

( Typhoid , Dysentri , Cacing Perut dll ):

Sumber Infeksi, Faeces -> Lalat makanan -> Host Susceptible.

Infeksi Kulit : ( Frambosia ) Sumber Infeksi -> Luka Terbuka

di kulit ->

Host Susceptible.

Lalat

Laesi

2) Biological Transmission ( cara biologis ). Infection Agent dipindahkan oleh vektor padwaktu menghisap darah Host baru. Contoh :

Malaria , DHF , Filariasis , Enchephalitis dan Pes.

Dalam pemindahan Infectious Agent , Agentnya dapat mengalami pertumbuhan dan / perkembang- biakkan atau tanpa mengalami perubahan / perkembang-biakkan.

INFECTIOUS AGENT Plasmodium Malaria , Micro Filaria Virus Dengue , Enchephalitis.

DALAM TUBUH VEKTOR Tumbuh dan berkembang biak. Berkembang biak ( Multiplikasi ).

Pasteurella Pestis.

Tanpa perubahan

(tetap).

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

3

SIKLUS PENULARAN

Dibagi dalam 3 Kategori

:

a. Penyakit dengan dua faktor kehidupan, manusia-

Arthropoda.

Penyakit langsung disebabkan oleh Arthropoda. Termasuk dalam hal ini adalah :

1).Entomophobis : Yaitu perasaan takut oleh serangga ( bentuk , gerak ). 2).Infestasi: Yaitu adanya Arthropoda hidup pada atau didalam tubuh manusia. Contoh : Scabies ( kudis ). 3).Gigitan dan Sengatan Serangga :

Laba - laba genus Arthropectus , dapat mematikan. Kalajengking --- bengkak. Anaphylactic Shock dan Reaksi Alergi.

b. Penyakit dengan tiga faktor kehidupan.

Manusia - Vektor - Parasit Manusia sebagai tuan rumah Arthropoda sebagai Vektor. Tanpa ada vektor tak mungkin Penyakit Infeksi saluran pencernaan terjadi penularan penyakit. Secara Umum Cara Arthropoda Mempengaruhi Kesehatan Manusia sbb :

Dengan memindahkan kuman penyakit.

1). Cara Mekanis :

Serangga hanya bertindak sebagai alat pemindah. Contoh : Kuman penyakit perut oleh lalat ,

kecoa.

2). Cara Biologis :

Cara Propagatif Didalam serangga kuman hanya mengalami pembiakkan. Misal : Typhus Exanthematicus

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

4

(Tifus

kuning).

bercak

wabah).

Yellow

Fever

(demam

Arthropoda dibagi 4 kelas

Kelas Crustacea (kaki 10) : Udang. Kelas Myriapoda : Chilopoda , Kaki Seratus.

:

3). Cara Cyclo Propagatif. Kuman selain berkembang biak juga mengalami perubahan bentuk didalam tubuh serangga.

Diplopoda : Kaki Seribu. Kelas Arachnida (kaki 8)

: Tungau

MisalPenyakit Malaria. Kuman didalam tubuh nyamuk Anopheles berkembang biak dan

Kelas Hexapoda (kaki 6)

: Nyamuk.

mengadakan perubahan bentuk menjadi : Oocyte --

- Ookinate --- Sporozoid , kemudian baru masuk

ke tubuh manusia.

4). Cara Cyclo Developmental. Kuman tidak berkembang biak dalam tubuh serangga , hanya mengalami pertumbuhan (bertambah besar atau berganti stadium). MisalPenyakit Filaria (Kaki Gajah). Mikrofiloria dihisap oleh vektor. Didalam tubuh nyamuk berubah menjadi cacing muda (Infected) terdapat didalam kelenjar ludah nyamuk ---- manusia.

5). Cara Keturunan ( Hereditary ). Kuman-kuman dapat dipindahkan melalui telur serangga kepada keturunannya (biasanya hanya sampai keturunan kedua). Misal : Penyakit Scrub Typhus , terdapat di daerah penggembalaan , ditularkan oleh Tungau. Kuman dapat dapat menembus telur Tungau.

c. Penyakit dengan empat faktor kehidupan. Manusia Vektor Kuman Reservoir. Umumnya penyakit - penyakit binatang (Zoonosis). Dalam keadaan tertentu penyakit ini dapat ditularkan kepada manusia.

ARTHROPODA :

Adalah : Salah

mempunyai ciri kakinya beruas-ruas.

( Arthron = Sendi ; Poda = kaki ).

satu

phylum

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

yang

5

Kelas Hexapoda dibagi 12 Ordo :

1)

Ordo Odonata

: Capung.

2)

Ordo Arthroptera

: Belalang.

3)

Ordo Isoptera

: Rayap.

4)

Ordo Neuroptera

: Undur-undur.

5)

Ordo Hemiptera

: Kutu Busuk.

6)

Ordo Anoplura

: Kutu kepala.

7)

Ordo Hamoptera

: Gareng Pung.

8)

Ordo Coleoptera

: Kecoa , Kepik.

9)

Ordo Lepidoptera

: Kupu-kupu.

10)

Ordo Diphtera

: Nyamuk , Lalat.

11) Ordo Siphonaptera 12) Ordo Hymenoptera

: Pinjal. : Lebah.

Dari Phylum Arthropoda yang bertindak sebagai Vektor antara lain :

Kelas Hexapoda ( Insecta ) Ordo Diphtera , misalnya :

Nyamuk Anopheles Vektor Malaria Nyamuk A. Aegepty Vektor DHF. Nyamuk C. Fatigans Vektor Filariasis. Lalat Rumah (Musca Dom.) Vektor G.E. Ordo Siponaptera , misalnya :

Pinjal Tikus (Xenopsylla Cheopis) Vektor penyakit Pes. Ordo Anoplura , Misalnya :

Kutu kepala ( Pediculus Humanus Capitis) sebagai : Vektor Relapsing Fever (demam balik-balik). Vektor penyakit Typhus Exanthematicus.

Kelas Arachnoida :

Tick ( kutu ): Dapat menularkan penyakit Relapsing Fever.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

6

Mite (Tungau): Dapat menularkan penyakit Typhus , Scabies.

Kelas Hexapoda

Sebagai Binatang pengganggu antara lain :

- Kutu Busuk.

- Rayap.

- Kecoa.

Binatang Pengganggu dari Tikus :

Ada 2 golongan :

1) Tikus besar ( Rat ) Ratus Norvegicus (tikus Riol) Ratus-ratus Diardi (tikus atap) Ratus-ratus Alexandrimus (tikus Alexandria) Ratus Frugivorus (Tikus buah-buahan) 2) Tikus Kecil (Mice) Musculus (tikus rumah)

IDENTIFIKASI SIFAT DAN PERILAKU VEKTOR.

NYAMUK. Didunia kesehatan dari kelompok nyamuk yang perlu diketahui adalah ; Tribus Anophelini yang penting antara lain :

Genus Anopheles. Tribus Culicini yang penting antara lain : Genus Aedes , Culex , Mansonia. Perbedaan 4 genus tersebut adalah :

Penya

Vektor (Telah

Penyebaran / Propinsi Dilakukan Konfirmasi

kit

dikonfirmasi )

Malari

An. letifer

Suamatra Utara , Sumatra

a

Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah. Sumatra Utara , Jawa Tengah. Riau , Lampung , Jawa

An. maculatus

An. sundaicus

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

7

An. nigerimus

Barat , Jawa Tengah , D.I. Yogyakarta , Jawa Timur , N.T.T , Sulawesi Selatan. Sumatra Selatan , Sulawesi Selatan. Bengkulu , Jawa Barat , Jawa Timur , N.T.T , Sulawesi Tengah , Sulawesi Selatan , Sulawesi Tenggara Jawa Tengah. Jawa Timur. N.T.T , Sulawesi Selatan , Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan , Kalimantan Timur. Sulawesi Utara , Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan. Irian Jaya

An. subpictus

An. aconitus

An. sinensis

An.

barbirostris

An.

balabocensis

An. minimus

An. ludlowae

An. flavirostris

An. farauti

BIOLOGI DAN SIKLUS HIDUP NYAMUK.

Siklus

hidup nyamuk terdapat 4 tingkatan /

Stadium.

-

Stadium Dewasa.

-

Stadium Telur.

-

Stadium Larva / Jentik.

-

Stadium Pupa / Kepompong.

Dewasa

stadium lainnya hidupdi air.

Stadium

hidup

di

alam

bebas

sedang

Nyamuk Dewasa. Nyamuk jantan dan betina keluar dari stadium telur. Setelah keluar dari telur sebelum mencari darah nyamuk betina kawin dulu Istirahat 1 - 2 harimencari darah. Setelah menghisap darah, nyamuk betina beristirahat kembali untuk menunggu proses pemasakan dan pertumbuhan telurnya.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

8

Waktu yang diperlukan berbeda-beda tergantung dari beberapa faktor antara lain :

-

Temperatur

-

kelembaban

-

Species dari nyamuk

Telur. Telur diletakan di air. Air merupakan yang utama, tanpa air telur akan kering dan mati. Stadium telur 1 - 2 hari. Cara meletakan telur dari nyamuk berbeda-beda tergantung dari jenisnya , sbb :

Anopheles :

meletakan telur diatas

Culex

permukaan air , satu persatu. mempunyai pelampung. tersusun seperti rakit .

:

Aedes :

tanpa pelampung diatas permukaan air. Satu persatu pada dinding atau

Mansonia :

permukaan benda yang merupakan batas permukaaan air. Tanpa pelampung. Berkelompok dan menempel pada tumbuhan air. Tanpa pelampung.

Larva / Jentik. Untuk perkembangan Stadium jentik ada 4 tingkatan. Masing-masing tingkatan disebut Instar , yaitu :

Instar pertama + 1 hari Instar kedua + 1 - 2 hari

Instar ketiga

Instar keempat + 2 - 3 hari Masing-masing instar bentuk dasarnya sama , hanya dibedakan oleh dan tumbuh bulunya. Untuk identifikasi jentik Instar keempat. Stadium jentik kira-kira 1 minggu.

+

2 hari

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

9

Pertumbuhannya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

Temperatur ( 23 - 27 0 C ) Makanan Predator Jentik Anopheles hanya mampu berenang kebawah permukaan air paling dalam 1 meter. Lebih dari 1 meter tidak diketemukan.

Pupa / kepompong. Stadium kepompong tidak memerlukan makanan. Kepompong merupakan Stadium Inaktif. Pada stadium ini terjadi pembentukkan sayap , setelah cukup waktu nyamuk yang keluar dari kepompong dapat terbang. Stadium kepompong memerlukan waktu + 1 - 2 hari.

Tempat Kehidupan Nyamuk. Ada 3 macam tempat kehidupan nyamuk yaitu :

1) Breeding Places (tempat berkembang biak). Stadium telur , jentik dan kepompong hidup di air. Tempat yang mengandung air disebut Breeding Places. Untuk tiap nyamuk mempunyai tipe Breeding Places yang berlainan :

Culex : Dapat berkembang biak disembarang tempat air. Aedes : Berkembang biak ditempat yang airnya bersih , dan tidak langsung beralaskan tanah. Mansonia : Berkembang biak di kolam , rawa-rawa , danau yang banyak tanaman air. Anopheles : Tempat berkembang biak bervariasi Berdasarkan kadar garam dari air :

Air Payau :

Contoh : A. sundaicus, A. subpictus-subpictus, A. vagus Air tawar :

Kebanyakan Anopheles senang berkembang biak di air tawar. Berdasarkan keadaan sinar matahari :

Breeding Places yang langsung mendapat sinar matahari :

Contoh : A. sundaicus, A. maculatus

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

10

Breeding places yang terlindung dari sinar matahari :

Contoh: A. umbrocus, A. barbumbrosus, A. vagus Berdasarkan aliran air :

Air tidak mengalir : seperti kobokan , bekas roda yang kemasukan air dll. Contoh : A. leucosphirus.

Air sedikit mengalir seperti di sawah. Contoh :

A. aconitus

A. barbirostris

A. anularis

2) Feeding Places (tempat mendapatkan umpan / darah) 3)Berdasarkan kesenangan mencari darah :

4)Nyamuk yang senang darah manusia. 5)Nyamuk yang senang darah binatang. Di Indonesia tidak bersifat mutlak Contoh : An. aconitus. Berdasarkan keaktifan mencari darah :

Nyamuk yang aktif pada malam hari Contoh : Anopheles Culex Nyamuk yang aktif pada siang hari Contoh : Aedes.

Perilaku nyamuk yang masuk rumah untuk mencari darah ada 4 golongan :

Nyamuk masuk rumah Langsung keluar. Nyamuk masuk rumah menggigit keluar. Nyamuk masuk rumah Hinggap di dinding Nyamuk masuk rumah

menggigit

dinding

dinding

Langsung menggigit Langsung keluar.

dinding

Langsung menggigit

Hinggap

di

Hinggap

di

di

Hinggap

Keluar.

Resting Places (tempat untuk beristirahat) . Nyamuk dalam istirahat ada 2 macam :

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

11

Istirahat Sementara. Istirahat Sebenarnya. Setelah nyamuk menghisap darah akan pergi ke Resting Places , beristirahat selama 2 - 3 hari. Tempat istirahat Nyamuk dapat bersifat :

Endhophilic (didalam rumah / bangunan lain). Exophilic (diluar rumah / di alam luar).

Resting places di alam luar dapat bersifat :

Alamiah : Seperti gua-gua , tebing , sungai/parit , semak-semak. Buatan: Seperti pit trap (lubang didalam tanah yang sengaja dibuat) atau kotak-kotak yang diwarnai gelap diletakkan di suatu tempat : Aman dari musuh , Lembab , Terlindung dari sinar matahari.

Bionomik (kebiasaan hidup). Macam-macam kebiasaan nyamuk

Kebiasaan yang berhubungan dengan perkawinan.

Kebiasaan kegiatan di waktu malam.

Kebiasaan untuk berlindung diluar rumah dan keluarnya dari rumah.

Kebiasaan memilih mangsa.

Kebiasaan didalam rumah yang berhubungan dengan iklim , kelembaban ,sinar matahari.

Kebiasaan didalam / diluar rumah yang berhubungan dengan penggunaan Insectisida.

;

Perkawinan. 1) Nyamuk di alam bebas mudah berkembang biak , didalam percobaan tidak selalu berhasil. 2) Untuk melanjutkan keturunan setelah perkawinan , Nyamuk betina sangat membutuhkan darah , tanpa darah telur tak bisa diproduksi dan menetas. 3) Selama nyamuk betina masih hidup perputaran mengenai memproduksi telur akan tetap berlaku atau Gonotrophic Cycle.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

12

4) Darah dihisap sampai telur sampai telur menjadi tua dibutuhkan waktu 2 hari. Gonotrophic Cycle dapat dinyatakan sebagai berikut :

Darah penuh -> Telur muda Darah setengah -> Telur setengah tua Darah habis -> Telur tua ( Gravid ).

Kebiasaan Kegiatan Di Waktu Malam. Diselidiki dengan jalan Night Collection. Disini perlu diketahui :

Kebiasaan nyamuk tinggal dalam dinding, tempat gelap.

Besarnya angka gigitan thdp manusia. Penyelidikan dengan penangkapan diluar rumah atau dikandang. Dilakukan juga dengan Precipitin Test yaitu penentuan macam darah yang dihisap oleh nyamuk. Kegiatan mencari mangsa dipengaruhi oleh kelembaban , iklim dan sinar.

Kebiasaan dalam / diluar rumah yang berhubungan dengan Insectisida.

Kebiasaan nyamuk waktu memasuki rumah. Kebiasaan ini dapat diselidiki dengan perangkap (window trap). Cara pemasangan :

Hal ini penting untuk diketahui untuk pemberantasan dengan cara Residual Spraying ataukah dengan Fumigasi.

Jam

6

-

8

malam dipasang

Hubungannya dengan insektisida Resistance.

Jam 8 - 10 malam diambil dan diganti baru lagi.

Physiological Resistance :

Jam 10 - 12 malam diambil dan diganti baru lagi.

Kekebalan yang didasarkan atas faal tubuh.

Jam

12 -

 

2 malam diambil dan diganti baru lagi.

Disebabkan karena dosis insektisida yang tidak

Jam 2

-

4 pagi diambil dan diganti baru lagi.

memenuhi sarat.

Jam

4

-

6

pagi diambil.

Kebiasaan nyamuk meninggalkan rumah. Untuk mengetahuinya dengan memasang window trap (dipasang diluar dinding). Pada waktu meninggalkan rumah setelah menggigit mempunyai kebiasaan hinggap dulu disuatu tempat atau langsung meninggalkan rumah. Kebiasaan ini erat kaitannya dengan Gonotrophic Cycle , yaitu istirahat untuk perkembangan telurnya.

Kebiasaan nyamuk waktu menggigit. Waktu menggigit biasanya :

Jam - jam tertentu. Langsung menggigit. Putar - putar dahulu sebelum menggigit. Bagian-bagian yang digigit.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

13

Behaviourstic Resistance :

Kekebalan yang disebabkan oleh perubahan sifat atau kebiasaan hidup untuk menghindari kontak dengan insektisida. Jadi nyamuk tidak hinggap lagi pada dinding yang disemprot.

Morphological Resistance :

Kekebalan dengan merobah bentuknya , kecoa kulitnya menjadi tebal.

SURVEY VEKTOR MALARIA

Dalam menanggulangi penyakit malaria Ditujukan terhadap penderita. Ditujukan terhadap nyamuk Anopheles. Penyemprotan rumah-rumah dengan DDT.

:

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

14

Sasaran Waktu Penangkapan Nyamuk Fluktuasi Density bulanan Evaluasi efektifitas penyemprotan

Tujuan Survey :

1) Mengetahui Suspected vektor yang berperan dalam penularan penyakit malaria. 2) Mengetahui Fluktuasi density musiman. 3) Mempelajari tata hidup. 4) Mengetahui resistansi terhadap DDT. 5) Mengetahui Efektifitas penyemprotan.

Cara melakukan Survey :

1) Untuk mengetahui Suspected Vektor :

Man Biting Rate Anopheles mana yang kontaknya dengan orang paling kuat. Untuk menentukan Vektor :

Diadakan seksi Kelenjar ludah untuk menentukan Sporozoit. Seksi terhadap nyamuk hasil tangkapan yang menggigit orang maupun dari Resting Places. Menentukan Fluktuasi Density musiman. Diadakan penangkapan nyamuk secara teratur. Interval waktu 1 bulan. Diketahui puncak Density dari Suspected Vektor / vektor. Density yang diukur adalah density yang menggigit orang dan density sekitar kandang. Penangkapan dilakukan oleh seorang penangkap , dari jam 18.00 - 24.00 , setiap jam dilakukan 15’.

Perilaku Istirahat. Istirahat sementara :

Istirahat pada malam hari waktu nyamuk aktif mencari darah , yang hinggap di dinding. Penangkapan dibedakan terhadap nyamuk perut kosong , perut penuh darah , perut mengandung darah. Istirahat sebenarnya :

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

15

Istirahat di Resting Place , selama menunggu proses perkembangan telur.

Resting Places dibedakan :

Indoor Resting Places. Termasuk disini adalah rumah , kandang berdinding , gudang dll. Penangkapan pada pagi hari jam 07.00 - 09.00. Dilakukan oleh 2 orang , terhadap 5 rumah / penangkap ; 1 - 2 kandang / penangkap. Selain dengan umpan manusia , dilakukan dengan Space Spraying.

Out Door Resting Places. Termasuk disini adalah Pit Trap , semak , gua , tebing. Penangkapan pada pagi hari jam 07.00 - 09.00. Dilakukan oleh 2 orang , selain dilakukan dengan Aspirator , juga dengan Drop Net.

PENGENDALIAN VEKTOR.

Terdiri dari

:

Survey Jentik. Survey Nyamuk Dewasa.

Survey Jentik. Tujuan Survey jentik :

Mengetahui type tempat yang menjadi sarang Aedes , baik didalam maupun diluar rumah. Mengetahui jumlah relatif dari sarang-sarang nyamuk dan kepadatan relatif larva. Mengetahui kepadatan musiman Larva.

Alat dan bahan yang diperlukan dalam Survey :

Cidukan larva. Pipet. Lampu Senter. Object Glass (kaca benda). Deck Glass (tutup kaca benda). Botol Kecil.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

16

Copound Microscop. Formulir & Alat tulis lainnya.

Cara Melakukan :

1) orang dibagi 2 kelompok :

2)orang ----> pemeriksaan. 3)orang -----> pencatatan. 4) Tiap kelompok memeriksa didalam dan diluar rumah. 5) Pemeriksaan yang dapat merupakan sarang nyamuk seperti :

6)Drum Botol / Gelas pecah. 7)KalengGentong dll. 8) Diperiksaan perlu dengan lampu senter. 9) Jika diperlukan jentik diambil. 10)Jentik dimasukan kedalam botol dan diberi tanda nomor kode rumah dan tempat ditemukannya larva (didalam /diluar rumah). Contoh : L-12 Gentong L, artinya larva ditemukan dirumah no.12 di gentong diluar rumah. Hasil / botol tadi diserahkan kepada ketua tim (Ass. Entomologist). Jentik diperiksa oleh Ass. Entomologist di laboratorium dengan menggunakan mikroskop.

Survey Nyamuk Dewasa. Tujuan :

Mengetahui Species Aedes yang paling banyak kontak dengan manusia :

Diluar rumah. Didalam rumah. Mengetahui Puncak kepadatan menggigit manusia (Landing Rate/ Biting Density) Kepadatan musiman (Seasonal Fluctuation of Density) nyamuk. Kegiatan Survey ( Penangkapan Nyamuk ).

Alat dan bahan yang diperlukan ;

Sedotan nyamuk.

ditutup dengan kain kasa.

Kapas

Paper Cup

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

17

Khloroform / tabung pembunuh.

Jarum Serangga.

Mikroskop.

Formulir dan Alat tulis lainnya.

Cara Melakukan :

1) Pelaksana : - Ass. Entomologist. - 4 orang penangkap

Penangkapan didalam / diluar rumah.

1 kelompok

1 orang diluar rumah

orang didalam rumah. Masing-masing kelompok 10 - 15 rumah ----> ditentukan oleh ketua tim. Tiap rumah dilakuakan penangkapan selama + 20’. Lutut kebawah digunakan sebagai umpan. Setiap nyamuk yang menggigit ditangkap dengan sedotan nyamuk. Cangkir kertas / Tabung reaksi diberi label :

Jam penangkapan. Tempat penangkapa. Nomor kode rumah. Contoh : D/ 08.00 - 08.20. , L / 09.30 - 09.50. Setelah penangkapan nyamuk tersebut dimatikan dengan Khloroform yang diteteskan pada kapas. Ass. Entomologist mengecek nyamuk-nyamuk yang ditangkap.

Penilaian Entomologi Pada pemberantasan Vektor DHF. Tujuan : Menilai Pemberantasan terhadap kepadatan vektor. Penilaian pada tindakan terhadap nyamuk dewasa (Fogging). Dilakukan dengan cara membandingkan

Landing Rate (Biting Density).

Parity Rate.

Indoor / Outdoor Resting Density , sebelum dan 1 hari setelah tindakan.

:

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

18

Penilaian

pada

tindakan

terhadap

jentik

1) Dengan Fogging.

4)Jerigen Plastik 20 L

 

(Larviciding). Dilakukan dengan jalan membandingkan angka- angka :

2) Alat ; 3)Swing Fog.

(1 buah)

Breteau Index

 

5)Jerigen Plastik

5

L

(1 buah)

Container Index

 

Setelah

6)Ember Plastik 20 L

(1 buah)

pemberian Abate.

 

7)Sarung tangan Plastik

(2 stel)

House Index

8)Masker

(2 stel)

 

9)Takaran 1 L

(1 buah)

Breteau Index : Jumlah kontainer yang menjadi

10)Corong bersaring BS/KC

:

96% + 19 L solar

(2 buah)

sarang A. aegepty per 100 rumah di suatu daerah.

11)Kain serbet

(4 lbr)

Container Index : % Container yang menjadi

12)Batu Bateray besar

(8 buah)

sarang A. aegepty suatu daerah.

13)Sabun cuci

(2 buah)

House Index : % rumah dimana ditemukan sarang

14)Flip Board

(1 buah)

A. aegepty di suatu daerah.

15)Kaca mata pelindung

(2 buah)

Contoh :

16)Tas Lapangan

(1 buah)

Di suatu daerah diperiksa 400 rumah dan

Bahan

ditemukan 1000 kontainer. Ternyata kontainer yang mengandung larva ada 300 buah , dan

1. Malathion 4 - 5%

20 L.

kontainer tersebut terdapat di 125 rumah.

2. L Mlth 3. L Mlth

= 50% + 10 L solar =

11 L.

Berapa : House Index (HI), Container Index (CI)

Tenaga

:

2 orang untuk tiap alat dapat

dan Breteau Index (BI). Jawab:

menyelesaikan 30 - 40 rumah (1 - 1,5 Ha). Daerah yang di-Fogging :

HI = 125 / 400 X 100% = 31,25 % CI = 300 / 1000 X 100% = 30% BI = 100 / 400 X 300 C = 75 C

Ovitrap Index : adalah % Ovitrap yang menjadi sarang A. aegepty. Biting Rate : adalah jumlah A. aegepty betina yang ditangkap per orang per jam. Contoh : Bila selama 3 jam oleh 3 orang yang

Daerah sporadis. Daerah Epidemis. Daerah Wabah. Waktu operasi :

Foggoing min. dilakukan 2 cycle. Interval waktu 10 - 14 hari. Fogging dilakukan sekitar penderita , radius 100 meter.

menjadi umpan ditangkap 60 ekor nyamuk dan

Terhadap Larva :

ternyata diantaranya didapat 20 ekor A. aegepty

Dengan Abatisasi.

betina. Maka B.R.: 20 . = 2,2.

Alat

:

1 buah Tas Lapangan.

 

3 X

3

buah Flip Board.

Pengendalian Vektor DHF.

buah Meteran Kayu 50 cm. buah Sendok Plastik 5 cc (1 sendok rata-rata 8,5

Tujuan

:

*Nyamuk Dewasa

gr).

*Larva Terhadap nyamuk dewasa ;

buah Lampu Senter. buah ember plastik.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

19

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

20

Blanko-blanko Laporan.

Bahan

Abate (SG 1%) , Dosis 1 ppm. Dalam praktek 1gram ~ 10 L air. Tenaga :

5 - 6 petugas dipimpin 1 kepala regu. Tiap petugas 25 - 30 rumah.

:

Daerah Abatisasi :

Desa Endemis , desa yang timbul wabah. Prioritas Abatisasi pencegahan didasarkan pada jumlah kasus dan lamanya desa tersebut menjadi daerah endemis.

Aplikasi Abate :

Minimal Aplikasi Larvasida 2 Cycle. Aplikasi pencegahan :

1 bulan sebelum kasus meningkat atau

Pada saat mulai musim hujan atau Pada saat kepadatan Vektor mulai meningkat. Selain Ditujukan kepada 2 cara tersebut harus dibarengi dengan :

Pembersihan sarang Nyamuk (PSN). Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM).

LALAT

JENIS LALAT YANG SERING TERDAPAT DI RUMAH & SEKITARNYA :

Musca Domestica ,M. domestica-domestica.

M. domestica vicina.

Chrysomya : Chrisomya megacephala (lalat hijau).

Chrisomya beziana (Lalat besar hijau mengkilat).

Sarcophage ( Lalat daging --- besar warna abu- abu --- punya 3 garis hitam pada thorax ).

Genus Musca.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

21

Dalam genus Musca yang terpenting adalah species yang sering terdapat didalam / disekitar rumah Lalat rumah ( Musca domestica ).

Tanda-tanda yang penting :

1) Pada thorax terdapat 4 garis hitam dan 1garis hitam pada abdomen dorsal (punggung). 2) Sayap mempunyai Longitudinal Long 4 yang jalannya naik keatas shg ujungnya hampir bertemu dengan Long 3. 3) Bagian bagian dari mulut tidak digunakan untuk menggigit atau menusuk , tetapi hanya dapat dipakai untuk menghisap barang yang cair. 4) Metamorfosanya sempurna. 5) Sebagai vektor dari penyakit secara tidak langsung.

Biologinya Ada 4 stadium hidupnya :

1) Stadium telur. 2)Lamanya 12 - 24 jam. 3)Bentuk telur lonjong bulat , warna putih. 4)Besarnya 1 - 2 mm. 5)Bertelur sekaligus 150 - 200 butir. 6)Bertelur di kotoran , makin panas makin cepat (suhu = 10 0 C). 7) Stadium Larva. 8)Bentuk bulat panjang dengan warna putih kekuningan / keabu-abuan , mempunyai Segmen sebanyak 13 dan panjangnya + 8 mm. 9)Larva selalu bergerak , makan bahan organis yang ada disekitarnya. 10)Larva ada 3 tingkatan :

11)Setelah keluar dari telur , belum banyak bergerak. 12) Tingkat dewasa , banyak bergerak. 13) Tingkat terakhir , tak banyak bergerak. 14) Pada tingkat akhir Larva berpindah ke tempat kering dan sejuk untuk berubah menjadi kepompong.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

22

15) Larva mudah terbunuh pada temperatur 73 0 C. 16)Stadium Pupa. 17)Lama stadium ini 2 - 8 hari tergantung temperatur. 18)Bentuk bulat lonjong , warna coklat hitam. 19)Stadium ini kurang bergerak. 20)Panjang + 5 mm. 21)Mempunyai selaput luar yang keras Chitine.

Stadium Dewasa Berwujud Lalat. Dari std. telur sampai Std. dewasa 8 - 10 hari.

Sarang

Kotoran manusia.

Kotoran hewan.

Sampah

Binatang & tumbuhan busuk.

Urutan kotoran yang disenangi untuk bertelur :

Cara Makan :

Makanan yang utama adalah barang cair , untuk makanan yang keras dicairkan dulu dengan air ludahnya agar mudah dihisap.

Pada malam hari lalat hinggap di semak belukar , kalau dingin didalam rumah dan hinggap ditali jemuran.

Cara Terbang

Lalat tidak terbang terus menerus , sering hinggap.

Jarak terbang tidak lebih dari 0,5 Km.

:

PINJAL ORDO SIPHONAPTERA

Tanda - Tanda Umum :

Merupakan serangga kecil tanpa sayap dan badannya pipih.

Kotoran kambing

Antene pendek dan terdiri dari 3 segmen.

Kotoran babi

Punya / tidak punya mata.

Kotoran kerbau Kotoran kucing

Dengan atau tanpa sisik , yaitu sebaris duri- duri pendek terdapat diatas bagian mulut.

Kotoran anjing Phase Telur :

Mempunyai 3 pasang Spiracle (lubang napas) atau stigma pada thorax.

C

44,8 hari.

Mempunyai 7 pasang spiracle pada abdomen.

C

26,7 hari.

Abdomen terdiri 10 segmen ,dan 3 segmen

C

20,5 hari.

yang terakhir membentuk alat kelamin.

C

16,1 hari.

Metamorfosa sempurna.

C

10,4 hari.

Cara Bertelur :

Sexual Maturity 2 - 3 hari.

Pada umumnya perkawinan lalat terjadi pada hari ke-2 sampai hari ke-12 sesudah keluar dari kepompong.

2 - 3 hari kemudian setelah kawin , bertelur.

Setiap betina dapat 4 - 5 kali selama hidup.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

23

Siklus Hidup. Telur :

a. Telur biasanya terdapat pada sarang-sarang binatang rumah , pada dubu atau sela-sela lantai. b. Menempel pada bulu tikus ,kucing , anjing. c. Bentuk telur oval, warna abu-abu , besarnya 0,7 X 0,4 mm. d. Sekali bertelur 4 - 8 butir.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

24

Larva

a. Larva tidak bermata dan tidak berkaki , bentuk seperti ulat kecil , warna kuning atau coklat muda.

b. Panjang 3 - 4 mm , bersegmen 10 - 12.

pengganggu tetap berada dibawah garis batas yang tidak merugikan dan membahayakan. 2) Pengendalian Vektor dan Binatang pengganggu tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan Ekologis terhadap tata lingkungan.

c. Makanannya terdiri atas kotoran-kotoran yang

METODE PENGENDALIAN

terdapat dilantai , di sarang tuan rumah , atau

1)

Cara Kimia

memakan kotoran dari induknya.

2)

Cara Fisika-Mekanika

d. Larva banyak bergerak tapi takut cahaya ,

3)

Cara Fisiologi

mempunyai 3 stadium yang lamanya 7 - 14 hari ,

4)

Cara Pengaturan Tata Tanam

kadang bisa sampai 80 - 200 hari.

5)

Cara Biologis

Kepompong :

Larva cukup lama membentuk Cocon yang diliputi benang seperti sutra untuk jadi kepompong. Stadium ini lamanya 7 - 100 hari kadang bisa sampai bertahun-tahun.

Dewasa ;

a. Dari telur menjadi pinjal dewasa diperlukan waktu 2 minggu - 1 tahun atau lebih.

b. Pinjal dewasa membutuhkan darah untuk kelangsungan hidupnya , serta keturunannya.

c. Kaki belakang kuat sebagai alat peloncat --- 30 - 50 cm kesamping dan keatas.

d. Pinjal menghisap darah paling sedikit 1X dalam sehari.

e. Umur pinjal dewasa 1 - 3 bulan bahkan sampai 1 tahun , pada temperatur 10 0 - 15 0 C dapat lebih lama.

f. Di daerah tropis Xenopsylla cheopis merupakan vektor utama dari penyakit pes.

METODOLOGI PENGENDALIAN

KONSEP DASAR 1) Pengendalian Vektor dan binatang pengganggu harus menerapkan bermacam cara pengendalian , agar vektor dan binatang

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

25

6) Cara Mengganggu Keseimbangan Genetik 7) Cara Pengendalian Terpadu (Integrated

Control)

Untuk menunjang cara-cara tersebut dengan cara ; 1)Perbaikan Sanitasi :

Dengan menghilangkan Breeding Place Resting Place Bila keadaan lingkungan di sekitar kita bersihPopulasi vektor dan binatang pengganggu akan menurun. 2)Peraturan Perundangan :

Peraturan perundangan yang mantap penting agar pengendalian vektor dan binatang pengganggu berhasil baik.

Dari keseluruhan usaha pengendalian vektor dan binatang pengganggu secara umum merupakan gabungan usaha sbb :

Pencegahan ( Prevention ) Penekanan ( Supression ) Pembasmian ( Eradication ).

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

26

PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT MALARIA.

Mekanisme Penularan. Penularan Non Alamiah. Malaria Bawaan ( Congenitial ). Secara Mekanik : Tranfusi, Alat Suntik. Penularan secara Alamiah. Penularan melaui gigitan Nyamuk Anopheles.

Penularan terjadi karena 4 Faktor :

Adanya Parasit (penyebab penyakit Malaria). Adanya nyamuk Anopheles (vektor). Adanya manusia (Host Intermediate). Adanya Lingkungan (Environment).

Vektor

Agent Host
Agent
Host

Environment

Parasit (penyebab penyakit) :

Ada 4 macam penyakit malaria :

P. Falciparum : Malaria Tropika.

P. Vivax : Malaria Tertiana.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

27

P. Malariae : Malaria Quqrtana.

P. Ovale : Malaria Ovale.

Nyamuk Anopheles (Host Definitive) :

1)Perilaku Nyamuk

:

2)Tempat hinggap / Istirahat :

3)Exophilic

4)Endophilic

5)Tempat menggigit :

6)Exophagic

7)Endophagic

8)Obyek yang digigit :

9)Anthropilic

10)Zoophilic

11)Faktor lain yang penting. 12)Umur nyamuk ( Longevity ). 13)Kerentanan nyamuk terhadap Infeksi gametocyte. 14)Frekuensi menggigit. 15)Siklus Gonotrofik (waktu yang diperlukan matangnya telur). 16)Jarak terbang (Flight Range). 17)Kepadatan (Density). 18)Resting dan Biting Habits.

Manusia ( Host Intermediate). Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain :

Umur

Pekerjaan

Pendidikan

Migrasi

Kekebalan

Ekonomi

Perumahan

Lingkungan ( Environment ) 1)Lingkungan Fisik 2)Suhu udara mempengaruhi panjang pendeknya pertumbuhan Plasmodium. Pada suhu 26,7 0 C :

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

28

P.

Falciparum 10 - 12 hari

Daerah yang disemprot terbatas pada daerah

P.

Vivax

8 -

11 hari

perindukan.

P.

Malariae

14 hari.

Kerugiannya ;

P.

Ovale

15 hari.

Pengaruh larvisida bersifat sementara shg membutuhkan aplikasi ulangan.

Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk , kelembaban terpendek 63 %. Hujan : mempengaruhi pada Breeding Place. Angin : mempengaruhi Flight Range.

Sinar matahari :mempengaruhi pertumbuhan larva. Arus air : mempengaruhi kerusakan tempat

perindukan.

Lingkungan Kimia : Kadar garam dan pH mempengaruhi tempat perindukan.

Lingkungan Biologi :

Ikan Tepala Timah , Nila , Mujair mempengaruhi kehidupan larva. Pohon Bakau mempengaruhi kehidupan larva.

Lingkungan Sosial Budaya :

Kebiasaan -kebiasaan mempengaruhi penularan / gigitan nyamuk.

Prinsip Pengendalian : Memutuskan Mata Rantai Penularan Penyakit Malaria.

a. Menghindari / mengurangi kontak / gigitan nyamuk Anopheles.

b. Memasang kawat kasa pada rumah.

c. Menggunakan kelambu sewaktu tidur.

d. Memasang obat nyamuk.

e. Menggunakan zat penolak / Repelent.

f. Membunuh nyamuk dewasa :

g. Penyemprotan DDT ke dinding rumah.

h. Fogging

i. Membunuh Jentik : Cara kimiawi, Cara Biologik.

Beberapa Keuntungan Pemakaian Larvisida ;

Semua Larva berbagai stadium dapat dibunuh.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

29

Beberapa Larvisida mempunyai pengaruh yang tidak menguntungkan terhadap predator.

Pertimbangan Dalam Pemilihan Jenis larvisida

:

1)Mempunyai daya racun terhadap larva dengan cepat. 2)Mempunyai daya sebar yang baik. 3)Mudah didapat dengan harga murah. 4)Mudah dan aman dalam pengangkutan dan penggunaannya. 5)Efektif terhadap larva nyamuk. 6) Tetap efektif didalam kondisi apa saja di tempat perindukkan (payau ,tawar , asam , basa dll). 7) Tidak membahayakan Makhluk hidup yang bukan target. 8) Efektif bila digunakan pada dosis yang rendah dan mempunyai sifat-sifat :

9) Tidak meninggalkan residu pada tanaman. 10)Tidak meracuni binatang dll. 11)Tidak menimbulkan polusi yang permanen.

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP.

1)Pengubahan Lingkungan (Environment modifi cation ) penimbunan , pengeringan. 2)Manipulasi Lingkungan (Environment Manipu- lation) 3)Pembersihan tanaman air atau lumut. 4)Pengubahan kadar garam dengan cara membuat saluran penghubung antara air payau dengan air laut pada tambak. A. sundaicus kadar garam optimal . 12- 18% 0 dibuat menjadi 20 - 25% 0, Ikan Bandeng Hidup 5 - 25% 0 Udang hidup 15 - 30% 0

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

30

Kebaikan Cara Pengelolaan Lingkungan :

1) Cara ini lebih efektif dalam membasmi / mengurangi tempat perindukan nyamuk. 2) Bermanfaat untuk jangka panjang , sejak pekerjaan selesai dilakukan. Dengan pemeliharaan berkala akan tetap efektif jangka lama. 3) Bila diperhitungkan biaya relatif lebih murah. 4) Selain untuk memberantas Vektor , dampaknya juga menguntungkan sektor lain pemukiman baik , rekreasi , sanitasi baik.

Kelemahannya :

Waktu penyelesaian pekerjaan lama. Biaya permulaan tinggi / besar.

PENGENDALIAN LALAT

Data Yang Diperlukan dalam pengendalian Lalat :

Kepadatan Lalat. Keraentanan Lalat terhadap racun serangga. Fluktuasi kepadatan Lalat. Perilaku Lalat.

Cara Pengendalian Lalat :

1)Usaha perbaikan Lingkungan Pembuagan sampah 2)Usaha pengendalian secara Biologis. Misal Sterilisasi terhadap lalat jantan. Dengan Insektisida :

Dewasa dengan : Umpan, dapat sebagai bahan tunggal atau dicampur , dapat kering atau cairan. Misal : Bendiocarb , Diazinon , Dichlorfos , propoxur , Azamethiphos. Pengabutan : Dilakukan diluar maupun didalam bangunan. Misal ; Malathion. Penyemprotan Residual Penyemprotan dilakukan pada tempat istirahat , tempat perindukan (tumpukan sampah) dan lain- lain

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

31

Insektisida golongan Organofosfat mempunyai daya residu 2 - 4 mg.

Insektisida

Kons. ( % )

Dosis ( g / m 2 )

Diazinon

1

- 2

0,4 - 0,8

Fenthion

1

- 2,5

0,4 - 1,6

Dimethoate

1

- 2,5

0,4 - 1,6

Malathion

5

1,0 - 2,0

Gardona

1

- 5

1,0 - 2,0

Perbaikan Lingkunmgan

Mengurangi tempat-tempat yang potensial sebagai tempat perindukkan.

Penggunaan racun serangga.

Penyemprotan pada tempat perindukan (sampah ,

kotoran manusia / hewan).Diazinon mempunyai daya residu 1-2 mg VEKTOR FILARIASIS

a. Yang berperan sebagai vektor Anopheles

Cara pengendalian seperti pengendalian Anopheles (vektor malaria ). Dalam hal ini pemberantasan vektor Filariasis sebagai akibat samping usaha pemberantasan Malaria.

b. Yang berperan sebagai vektor Culex.

Pengendalian cara kimiawi untuk Culex dapat dilakukan dengan :

Penyemprotan Residual dibagian luar dinding rumah dsb , juga kandang dan semak-semak.

Halaman rumah yang disemprot hingga pada radius 30 - 45 m hingga ketinggian 1 m.

Pengabutan baik di bagian dalam maupun diluar

rumah.

Fumigasi Residual. Penyemprotan dengan insektisida yang ditujukan pada jentik (larviciding).

c. Yang berperan sebagai vektor Mansonia.

Pengendalian kimiawoi dapat dilakukan dengan cara :

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

32

Penyemprotan residual dalam rumah seperti penyemprotan untuk pengendalian Anopheles. Usaha anti-larva dengan herbisida seperti :

amitrole , dalapon dll.

PEMBERANTASAN LALAT.

Pemberantasan Kimiawi dilakukan dengan cara

:

Penyemprotan Residual. Penyemprotan ditujukan permukaan dinding didalam dan diluar kandang , daerah disekitar tempat perindukkan (tumpukan sampah dll) , juga tempat lalat mencari makan dan tempat istirahat. Beberapa alternatip lain pemberantasan lalat ( baik yang bersifat tradisional maupun modern) adalah sebagai berikut :

A. AIR DALAM KANTONG Kurang lebih 300 ml air jernih dimasukkan dalam kantong plastik yang transparan. Kemudian ikat dan gantungkan ditempat yang banyak terdapat lalat berkerumun. Bisa juga diletakkan didekat tempat makanan, dimana banyak terdapat lalat. Cara seperti ini juga dapat digunakan untuk mengusir lalat. Belum diketahui secara pasti mengapa lalat begitu takut terhadap air jernih yang dimasukan dalam kantong plastik transparan. Tetapi cara ini tampak cukup berhasil untuk mengusir lalat. Utamanya pada hari – hari pertama kantong air tersebut dipasang. Pada minggu kedua setelah pemasangan, lalat mulai menampakkan gejala tidak takut lagi terhadap kantong air dimaksud.

B. UAP CENGKIH Masukkan beberapa butir cengkih kering kedalam gelas. Kemudian tuangkan air panas kedalamnya. Tempatkan pada daerah yang banyak terdapat lalat, niscaya lalat akan segera bubar. Bila uap cengkih sudah habis biasanya

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

33

lalat akan datang kembali. Oleh karena itu perlu segera diganti dengan cengkih ytang baru. Usaha seperti ini cukup baik untuk mengusir lalat. Hal ini karena uap (minyak) cengkih mempunyai sifat mengusir (repellent) terhadap beberapa macam serangga, termasuk lalat.

C. MINYAK IGNOL

Penyulingan cengkih atau daun cengkih, akan menghasilkan minyak berwarna kehitaman. Minyak ini kemudian dimurnikan hingga berwarna jernih kekuningan. Minyak cengkih inilah yang disebut ignol. Karena ignol berasal dari cengkih maka mempunyai sifat seperti uap cengkih pula, yakni mampu mengusir lalat. Cara penggunaannya adalah dengan meneteskan pada air panas. Cara yang lebih praktis cukup meneteskan pada tissue atau kapas, kemudian diletakkan pada tempat yang dikerumuni lalat. Lalat akan segera bubar.

D. UAP PARAFIN

Parafin padat (lilin) bila dinyalakan akan menghasilkan uap dan bau khas yang mampu mengusir lalat. Sehingga lilin menyala yang ditempatkan pada dekat makanan, lalat tidak akan berani mendekatinya. Daya usir / jangkauan uap parafin ini relatif kecil, maka perlu ditempatkan beberapa lilin yang menyala untuk areal yang luas. Meskipun hasilnya kurang memuaskan, namun cukup berarti dalam hal mengurangi kerumunan lalat.

E. LIDI & TALI

Dalam suasana panas, lalat suka hingga pada tali jemuran. Lalat juga menyenangi hinggap pada benda bersudut tajam vertical. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk menangkap lalat.

Caranya dengan melapisi tali / lidi menggunakan lem. Lem yang bisa digunakan

untuk keperluan ini

diantaranya adalah lem tikus.

Tali atau lidi yang sudah ada lemnya, ditaburi

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

34

sedikit vanili untuk menghilangkan bau menyengat. Lidi dipasang berdiri, sedangkan tali dipasang seperti jemuran. Biarkan beberapa waktu, niscaya banyak lalat yang tertangkap.

F. KERTAS BERPEREKAT

Kertas yang dilumuri perekat tikus dan ditaburi serbuk vanili dipasang ditempat lalat berkerumun. Biarkan beberapa saat kemudian niscaya banyak lalat yang tertangkap. Kertas berperekat yang siap pakai, kini telah banyak dijual dipasar. Dengan demikian kita dapat dengan mudah memperolehnya dan lebih praktis dalam penggunaannya.

G. UMPAN BERACUN

Cairan gula yang dibubuhi racun serangga, ditempatkan pada daerah yang banyak lalatnya. Lalat yang makan akan segera mati. Cairan gula dapat diganti dengan susu atau sejenisnya. Racun serangga yang digunakan bisa juga dengan pestisida untuk pertanian. Umpan beracun yang siap pakai banyak dijumpai di pasaran. Biasanya berbentuk kristal atau butiran seperti gula pasir berwarna biru. Satu diantaranya bernama SNIP.

H. PERANGKAP KERUCUT Diantara perilaku lalat adalah terbang tegak lurus disaat terkejut. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk pembuatan perangkap lalat. Caranya adalah dengan memasang kerucut yang bagian pucuknya berlubang. Bagian pucuk atau ujung yang berlubang di sambungkan pada tabung perangkap. Tabung berikut kerucut disangga oleh kaki setinggi 5 –10 Cm. Cara penggunaanya sangat mudah. Tepat dibawah lubang kerucut dipasang umpan penarik yang disukai lalat. Ketika lalat mengerumuni umpan tersebut, dan kemudian terkejut, secara reflek lalat akan terbang tegak lurus melewati lubang kerucut masuk tabung perangkap. Untuk

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

35

membunuhnya dapat digunakan asap yang dimasukkan kedalam tabung perangkap. Perangkap kerucut dapat dibuat dari bahan yang sederhana. Misalnya yang sering digunakan adalah bekas botol air minum dalam kemasan. Botol dipotong pada bagian bawah leher, kemudian dipasang kembali secara terbalik. Selanjutnya dipasang kawat yang berfungsi sebagai kaki penyangga (lihat gambar).

I. PERANGKAP SINAR

Lalat termasuk serangga fototropic, artinya ia akan tertarik dan bergerak menuju kearah sumber sinar. Atas dasar sifat ini, dibuatlah perangkap listrik yang disebut electrocutor. Prinsipnya adalah sebuah lampu sebagai sumber sinar, yang dikelilingi kawat beraliran listrik dengan tegangan tinggi ( 3500 Volt). Lalat yang tertarik akan bergerak mendekati sumber sinar (lampu), dan ketika menyentuh celah kawat akan tersengat listrik. Alat seperti ini telah banyak dijual dipasaran dengan model dan harga bervariasi.

J. MISTING

Alat yang dipakai untuk keperluan pembasmian lalat dengan misting disebut mistblower. Kegunaan mistblower ini adalah untuk menyemprotkan partikel racun / insektisida dengan semburan udara yang kencang langsung mengenai serangga sasaran (lalat). Dengan demikian lalat yang terkena racun tersebut dapat segera mati.

Janggkauan semburannya secara horisontal dapat mencapai 15 M, sehingga lalat yang sedang terbang dapat dengan mudah kena semprotan partikel racun. Racun yang digunakan untuk keperluan ini telah banyak dijual bebas, diantaranya Mustang, Icon, dll.

K. SPRAYING (PENYEMPROTAN) Lalat seringkali hinggap dan terbang. Pada keadaan panas lalat cenderung akan istirahat dan

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

36

hinggap ditempat yang teduh. Tempat – tempat yang biasa dihinggapi lalat dapat disemprot dengan racun / insektisida. Lalat yang hinggap pada tempat yang telah disemprot akan terkena racun dan mati. Racun akan tetap berada pada bidang yang disemprot selama kurun waktu tertentu. Lama waktu keberadaan racun tergantung jenis racun yang digunakan dan kondisi lingkungan setempat. Untuk keperluan penyemprotan ini dapat digunakan spraycan (tangki semprot) yang biasa dipakai dalam bidang pertanian.

L. FOGGING (PENGASAPAN) Racun / insektisida dapat disemprotkan dalam bentuk kabut asap. Alat yang digunakan untuk keperluan ini disebut fog generator. Fog generator yang banyak dikenal antara lain Swing fog, Dyna fog, Eagle, dll. Asap beracun ini apabila mengenai serangga sasaran (lalat), maka akan segera mati. Biasanya racun dicampur dengan solar atau minyak tanah. Salah satu kelemahannya adalah asap mudah diterpa angin. Sehingga tidak tepat apabila digunakan ketika angin sedang bertiup.

M. SANITASI Upaya pengendalian lalat agar tidak sampai menimbulkan gangguan, kuncinya terletak pada kebersihan lingkungan. Oleh karena itu membersihkan tempat sampah atau tidak menimbun sampah lebih dari 2 (hari) merupakan tindakan yang sangat baik untuk mencegah berkembangnya lalat. Hal ini karena sampah merupakan tempat bertelur dan berkembang biaknya lalat. Sampah yang dimaksud disini meliputi sampah yang dapat busuk dan kotoran hewan lainnya.

PENGENDALIAN PINJAL

Pengendalian Pinjal dibagi 2 golongan :

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

37

Pemberantasan Pinjal pada binatang kesayangan. Yang aman adalah Insektisida dari asli tanaman :

Rotenon.

Pyrethrum.

Jenis lain :

CHC Lindane

OP

Malathion.

Coumapos (Co-Ral).

Carbaryl (Sevin).

Pemberantasan Pinjal pada binatang mengerat. Guna pemberantasan suatu Epidemi pes dilakukan kegiatan operasional sbb :

Survey untuk menentukan luas dan intensitas permasalahan. Aplikasi dan insektisida bentuk residu Malathion , Diazzinon , Carbaryl. Penggunaan Anticoagulant Rodenticides Warfarin , Fumarin . Penangkapan Bianatang Pengerat. Memperbaiki Sanitasi. Survey dan pemulihan yang berkesinambungan.

Carbamate

PENGENDALIAN TIKUS.

Morfologi tikus :

Panjang kepala dan badan yaitu dari ujung moncong sampai anus (H & B). Panjang ekor yaitu dari anus sampai pada ujung ekor (T). Panjang telapak kaki belakang mulai dari ujung tumit sampai kepada ujung kuku /cakar (HF). Panjang telinga yaitu dari Tabik (legokan) pada dasar telinga sampai keujung daun telinga (E). Panjang tengkorak yaitu dimulai dari ujung tonjolan belakang kepala sampai keujung tulang hidung (SK).

Pengenalan Tikus. Tikus termasuk hewan menyusui.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

38

Ordo Rodentia Ada 34 Famili. Ada 354 Genera. Ada 1700 Species. Yang akan dibicarakan adalah famili Muridae (tikus).

Untuk mengenal jenis Tikus antara lain digunakan

:

Panjang ekor , badan dan kepala. Bentuk dan berat badan. Panjang telinga. Formula Mamae. Warna , bentuk dan lebatnya bulu.

Jenis Tikus yang sering ditemukan :

1) Ratus ratus (tikus rumah ) = Roof Rat. 2) Ratus horvegicus (tikus gudang) = Norway Rat 3) Ratus exulans (tikus kebon/ tikus ladang). 4) Ratus argentiventer (tikus kebun / tikus sawah). 5) Ratus tiomanicus (tikus kebon / tikus kelapa). 6) Bandicota indica (tikus Wirok). 7) Mus musculus (tikus nying nying) = House rat. 8) Sunchus murinus (cecurut).

Gangguan dan kerugian yang ditimbulkan oleh tikus Kerugian Ekonomi. Kerusakan bangunan dan perabot rumah tangga. Berperan sebagai Hospes perantara beberapa penyakit (Rodent Borne Disease).

Penyakit yang tergolong Rodent Borne Diseases antara lain :

1) Penyakit pes (Plague).

Host :

Tikus (R.R. diardi)

Vektor :

Pinjal ( Xenophsylla cheopis ).

Baksil :

Pasteurella pestis.

Ratus exulans merupakan pembawa penyakit pes di Boyolali.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

39

Penyakit yang ditularkan berkaitan dengan tikus :

1) Penularan pes :

Bila tikus mati , pinjal yang memerlukan darah pindah ke manusia dan bila menghisap darah Pasteurella pestis menular ke manusia. Pes pada manusia :

Pes Bubo (Bubonic Plague). Pes Paru-paru (Pneumonic Plague). Pes Septikhaemi (Septicaemic Plague).

2) Leptospirosis. Host : R. norvegicus , R. exulans , R. argentiventer. Agent :Leptospira. Leptospira berkembang biak pada ginjal tikus , dikeluarkan melalui urin tikus. Penularan pada manusia terjadi melalui selaput lendir atau luka dikulit.

3) Scrub Typhus. Host : R.R. diardi , R. argentiventer. Vektor : Trombicula akamushi , T. deliensis. Agent : Rickettsia. Bila Trombicula terkena Ricketsia , berkembang biak dan terbawa telur dan anak-anaknya.

Larva yang baru ditetaskan dalam keadaan lapar dapat mencari host baru , bila tidak ada tikus maka akan menghisap darah manusia. 4) Murine Typhus.

Host

:

R.R. diardi.

Vektor

:

X. cheopis.

Agent

:

Rickettsia mooseri.

Dimungkinkan sekali infeksinya terjadi secara

bersamaan dengan penyakit pes. 5) Rat Bite Fever.

Host

:

Tikus.

Agent

:

Spirilium minus.

Penyakit ini sejenis demam --- ditularkan melalui gigitan tikus.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

40

Latar Belakang Ekologi Dalam Pengendalian Tikus. Kebiasaan hidup Tikus :

Panca Indra. Penglihatan buruk , dikenal buta warna. Penciuman , perasaan meraba dan pendengaran sangat tajam. Kumis dan Rambut Panjang. Kumis sangat peka terhadap sesuatu. Pengecap tidak cukup baik , namun bisa memberi berbagai rasa makanan. Gerak - geriknya dikendalikan oleh kumis dan rambut. Tanpa kumis dan rambut geraknya akan menabrak-nabrak. Tikus mencari makan pada malam hari. Tertarik dengan bau harum. Tikus menyukai bau harum makanan yang dimakan orang. Bahan Makanan. Bahan makanan yang disukai oleh tikus adalah padi-padian , kacang-kacangan , jagung , sayur- sayuran , buah-buahan. Dalam keadaan lapar Tikus akan makan segala makanan. Setiap kali makan hanya sedikit , tetapi sering. Waktu Makan. Kebiasaan tikus makan pada malam hari. Seekor terlihat diperkirakan 20 - 30 ekor yang tak tampak. Kepandaian mengunyah. Tikus dapat mengunyah / mengerat hampir semua benda. Kedua gigi di muka (atas bawah) sangat tajam. Gigi-gigi tumbuh sepanjang 4 -5 inchi (10- 13 cm) tiap tahun. Untuk menjaga agar gigi tetap runcing dan tajam serta tidak tumbuh panjang maka tikus suka mengerat benda-benda keras. Memanjat dan Melompat. Tikus dapat melompat setinggi 2 -3 kaki (60 - 90 cm) sejauh 1,2 m dan menjatuhkan diri dari ketinggian 15 m , tidak mati.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

41

Kepandaian Berenang. Dapat berenang sejauh + 2 mil (+ 800 m). Sukar dibenamkan kedalam air. Tempat kediaman. Tikus meninggalkan sarang tidak terlalu jauh. Untuk mencari makan dan bahan sarang + 20 - 40 m kadang lebih jauh. Kesukaan mencari makan disembarang tempat. Panjang hidup / Umur. Umur tikus ladang rata-rata 1 tahun. Umur tikus rumah ralatif lebih lama karena makanan dan perlindungan. Masa Pembiakkan. Daerah yang banyak makanan dan iklim tidak banyak berobah sepanjang tahun maka tikus dapat beranak setiap waktu (3-6 X per tahun). Masa pembiakan terbatas selama musim kemarau. Bila banyak makanan dan tempat berlindung pembiakan cepat terjadi selama musim hujan. Sekali beranak 10 - 12 ekor. Siklus Hidup. Tikus muda akan mencapai kematangan setelah 4 bulan. Kegiatan sexual dan potensi reproduksiakan berlanjut sampai ajalnya tiba. Beranak satu tahun 3-6 X atau lebih. Satu kali beranak dirampungkan selama 60 hari. Jumlah anak tiap kali melahirkan + 12 ekor. Kegiatan tikus akan meningkat mulai umur 2 bulan - 9 bulan. Rata-rata hidup tidak lebih dari 12 bulan. Perilaku. Perilaku tikus didorong oleh beberapa keadaan yaitu ; rasa haus , rasa lapar , kebutuhan sexual. Tikus dapat pergi jauh dari air lebih 48 jam. Pergi jauh tanpa makan lebih dari 4 hari. Tikus yang lapar dan haus menjadi ceroboh sehingga mudah diberantas dengan umpan perangkap dan umpan racun. Kebiasaan.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

42

Tikus mempunyai kecenderungan menempuh jalur yang sama untuk mencari makan & minum. Tempat persembunyian aman / bersarang. Mencari makan di malam hari Mempunyai kemampuan mengubah perilakunya. Mempunyai kebiasaan baru , mencari sumber makanan dan tempat berlindung yang baru.

Tanda-tanda adanya Tikus :

1) Bekas gigitan (Gnawing). 2) Alur jalan (Run Ways). 3) Bekas Gesekan (Rub Mark). 4) Kubang terowongan (Burrows). 5) Kotoran (Dropping). 6) Bekas telapak (Tracks Path). 7) Suara (Voice). 8) Tikus hidup dan mati (Life & death) 9) Sarang (Nest).

Langkah-langkah khusus dalam pengendalian tikus. Cara Efektif :

Prinsip Dasar Tikus mempunyai kebiasaan menghuni berbagai bagian di sekitar penghunian manusia , didalam selokan , dibawah pertanian , di sekitar pemrosesan bahan makanan. Pada suatu waktu tertentu , setiap kawasan mempunyai kemampuan tertentu dalam mendukung kehidupan tikus. Kemampuan yang berhubungan dengan kemudahan untuk memperoleh makanan , tempat persembunyian , ruang kehidupan dan kebutuhan pokok tikus. Jumlah tikus di suatu daerah tidak akan dapat melampaui kemampuan tersebut. Jumlah Populasi Tikus di suatu Daerah dipengaruhi oleh beberapa Faktor ; 1) Population Forces. Kekuatan yang menentukan jumlah populasi tertentu adalah kelahiran , kematian dan perpindahan kedalam atau keluar daerah. 2) Population Changer.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

43

Populasi tikus meningkat angka kematian juga meningkat sampai tercapai keseimbangan. Peningkatan persaingan tikus , Meningkatkan kematian dan perpindahan tikus. Faktor-faktor pembatas. Faktor-faktor pembatas yang mengatur keseimbangan antra kelahiran , kematian dan perpindahan tikus dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu :

3) Lingkungan Fisik

Tempat persembunyian.

Iklim.

4) Predasi dan Parasitisme. Ini hanya bersifat sementara. Termasuk disini adalah : manusia , anjing , kucing , burung , ular. Parasit : Bakteri , Rickettsia , Protozoa , Cacing. 5) Persaingan (kompetisi). Persaingan terjadi antar jenis tikus , disebabkan karena tatanan sosial didalam populasi tikus. Sanitasi Lingkungan. Populasi tikus dapat dikendalikan dengan Sanitasi Lingkungan yang baik ;

Pembuangan Sampah yang baik. Bangunan rapat tikus.

Meliputi

: makanan dan air.

Teknis Pengendalian. Secara garis besar usaha pengendalian tikus dikelompokan menjadi :

1)Perbaikan Sanitasi Lingkungan , misalnya ; 2)Penyimpanan sampah. 3)Pengumpulan sampah. 4)Pembuangan Sampah. 5)Penyimpanan barang di gudang. 6)Merencanakan Pembunuhan tikus Secarq berhasil guna. Pembunuhan tikus tanpa disertai peningkatan Sanitasi Lingkungan tidak akan berdaya guna sebab:

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

44

Tikus dengan cepat akan mencapai populasi semula karena tingkat kelahirannya yang tinggi. Program Pembunuhan tikus memerlukan kesinambungan. Penggunaan racun yang terus menerus mengakibatkan penolakan terhadap umpan.

Secara garis besar pembunuhan tikus dapat dilakukan dengan cara :

Peracunan : Racun yang digunakan dicampur dengan umpan. Cara menyiapkan umpan :

- Umpan segar

Zink fosfat dengan buah apel ,kentang.

- Umpan kering

Racun dengan kacang-kacangan ditambah dengan bahan pelekat (minyak ikan dsb). Penempatan umpan Racun golongan anti koagulan termasuk racun dosis tunggal , diletakkan diatas kertas , logam /lempeng plat ,ditempat yang menetap. Pemasangan ini sekurang-kurangnya 2 minggu. Air yang dibei racun .Umpan diletakkan ditempat terlindung. Tikus akan membawa makanan ke lain tempat (persembunyiannya). Peracunan pada tempat pembuangan sampah. Penempatan Umpan yang baik :

Menunggu kurang lebih satu hari setelah pembuangan sampah terakhir. Menggunakan umpan dosis tunggal selama beberapa malam. Pada hari berikutnya lakukan pemasangan umpan dengan mengguanakan racun golongan anti koagulan sampai tanda-tanda bekas tikus berhenti. Timbuni Sampah tsb dengan tanah + setebal 60 cm dan dipadatkan.

Peracunan pada selokan. Racun yang digunakan golongan anti koagulan atau racun dosis tunggal. Pestisida yang digunakan dalam pengendalian tikus adalah :

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

45

Multiple Dose Poisons : Warfarin , Fumarin , Difenaccum , Tomarin , Chlorophacinone. Single Dose Poisons :

Natural Poisons : Red Squill , Strychone. Synthetic Poisons :Zink Phospide , ANTU ,Vacor. Fumigants : Calcium Cyanida , Metil Bromida , Carbon Dioxide , Hidrogen Cyanide , Sulfur Dioxide.

Penangkapan dengan perangkap dilakukan bila penggunaan racun timbul masalah dan untuk penelitian ---> tikus hidup --> pinjal.

Penggasan (Fumigasi). Fumigasi dapat dilakukan di lubang-lubang dalam tanah dalam ruangan. Fumigasi dalam ruangan digunakan dalam bentuk gas langsung. Sedangkan dalam lubang tikus diguanakan debu Cyanida. Penggunaan debu Cyanida dimasukan dengan pompa tekan (20 cm) / dengan sendok gagang panjang ,tanah yang lembab.

Pembunuhan oleh predator. Pembunuhan tikus oleh predator akan mempengaruhi keseimbangan populasi tikus. Namun demikian sifatnya sementara.

Rat Proofing. Lubang-lubang ventilasi diberi kawat kasa. Sekitar pintu bagian bawah ditutup dengan lempengan setinggi 30 cm dari lantai.

PESTISIDA

Arti harfiah :

Pest = Hama & Sida = Membunuh Arti menurut PP No.7 / 1973.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

46

Pestisida : Semua Zat Kimia dan Bahan lain serta Jasad Renik dan Virus yang dapat digunakan untuk :

1) Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit pada pertanian. 2) Memberantas rumput-rumputan. 3) Memberantas atau mencegah hama-hama pada hewan piaraan atau ternak. 4) Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad renik dalam rumah tangga , bangunan dan alat-alat angkutan. 5) Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau hewan. Penggolongan Pestisida 1)Berdasarkan pada nama sasaran :

2)Insektisida : Memberantas Serangga. 3)Mitisida : Memberantas Caplak (Mite). 4)Akarisida : Memberantas Caplak , Pinjal , Tungau. 5)Nematisida : Memberantas cacing Nematoda. 6)Fungisida : Memberantas jamur. 7)Bakterisida :Memberantas Bakteri. 8)Herbisida : Memberantas rumput-rumputan. 9)Rodentisida : Memberantas bianatng pengerat. 10)Avisida : Memberantas burung pengganggu. 11)Piscesida : Memberantas ikan. 12)Moluscisida : Memberantas keong racun. 13)Reppelent :Bahn penolak Hama. 14)Attractan : Bahan penarik hama. 15)Defoliaant. : membunuh tumbuh-tumbuhan parasit pada tanaman. 16)Desicant : Bahan kima penyerap air.

Berdasarkan Cara Masuk :

- Stomach Poisons (racun perut). Racun hama yang bekerja melalui peracunan perut dan diberikan secara umpan.

- Respiratory Poisons (racun pernafasan). Racun masuk kedalam tubuh hama melaului saluran pernapasan (Fumigan).

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

47

- Contact Poisons (rancun kontak). Racun masuk melalui kulit atau bagian kaki kedalam tubuh hama , Residu yang disemprotkan pada dinding dan langit-langit.

Dassicant (debu Desikan). Desikan berbentuk debu Hydroscopik yang dapat menyerap cairan tubuh serangga , Silika Sel.

Berdasarkan Susunan Kimia :

-Mineral -Belerang (Dalam bentuk debu dapat memberantas kutu). -Borax (Dalam bentuk debu dan tablet dapat untuk pemberantasan kecoa di perumahan) -Paris Green (Kandungan bahan aktif adalah Copper Aceto Arsenite untuk memberantas hama , sejenis kumbang perusak tanaman). -Botanicals and Pyretroids. Racun hama yang berasal dari tumbuhan , memiliki daya racun yang kuat bagi serangga , tapi kurang berbahaya bagi manusia. Hanya terdiri dari unsur Carbon , Hidrogen dan Oksigen. Penggunaannya dalam bentuk Aerosol Bombs di

perumahan.-Piretrum : merupakan senyawa campuran dari beberapa komponen yaitu :

Piretrin I C 21 H 22 O 2. Piretrin II C 22 H 28 O 5. Cinerin I C 20 H 28 O 3. Cinerin II C 21 H 28 O 5. Jasmolin I C 21 H 30 O 3. Jasmolin II C 22 H 30 O 5. -Rotenon : merupakan senyawa yang lebih komplex Rumus kimia C 23 H 26 O 6. - Allethrin : adalah senyawa sintetis yang mempunyai senyawa Cinerin I. Rumus kimia

C 10 H 26 O 2.

- Resmethrin (SBP - 1982) :

Rumus kimia : C 22 H 26 O 3. Digunakan untuk

beberapa jenis serangga.

Dibagi dua kelompok :

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

48

Kelp. DDT ; terdiri dari DDT , DDG ,

Metoxychlor , DDD , Chloro Benzilate.

Kelp. Lindang – Chlordane : terdiri dari BNC , Lindang Chlordane & Chlordecone.

Beberapa pestisida ini bisa digunakan untuk

pemberantasan bermacam-macam serangga. Khusus DDT di Indonesia hanya digunakan untuk pemberantasan vektor penyakit malaria. Organo Fosfat Pestisida golongan Organo fosfat berasal dari Derifat asam fosfat (H 3 PO 4 ). Semua racun Organo fosfat bekerja sebagai penghambat enzim Cholinesterase. Dibagi menjadi 3 kelompok :

Kelompok Malathion

Dichlorvos (Vapona) Dimethoate (Cygon). Malathion Naled (Dibrom) Trichlorfon (Dipteri) Abate (Temophos) Rabon (Gardona) Ronnel (Korlan) Parathion. Chlorphyrifos (Dursban) Coumaphos (Co-ral) Diazinon Dioxathion

Kelompok Parathion

Kelompok Diazinon

Senyawa-senyawa racun Karbonat merupakan Derivat dari asam Karbamat CO 2 Bekerja sebagai racun syaraf

Carbaryl : nama dagangnya Sevin digunakan

untuk memberantas nyamuk , pinjal , tikus.

Dimetilan : untuk memberantas lalat.

Propoxur (baygon) : Insektisida ini mempunyai efek bunuh yang cepat digunakan

Landrin : untuk memberantas nyamuk

Anopheles yang resistan terhadap

DDT.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

49

Fumigants Adalah insektisida berbentuk gas untuk membunuh sel-sel dan jaringan badan sesudah gas masuk kedalam dinding tubuh melalui saluran pernapasan. Contoh :

Hidrogen Sianida (HCN)

Gas Belerang (SO 2 )

Methyl Bromida (CH 3 Br)

Ethilene Dibromide (CH 3 - CH 2 Br).

Attractant Adalah bahan yang digunakan untuk menarik / mendekatkan serangga dan kemudian masuk

terperangkap atau terpapar racun yang kita pasang. Secara umum Fungsinya adalah ; 1) Untuk menarik hama menuju racun umpan atau perangkap. Misal : gula , susu , ikan , udang dll.

2)

dalam penelitian. Misal : sampah , Sisa makanan , kotoran hewan dll. 3) Untuk mempertinggi daya tarik residu semprotan. Misal : Penambahan gula kedalam racun yang akan disemprotkan terhadap lalat akan mampu akan mampu meningkatkan daya tarik dan daya tekan racun Organofosfat.

Untuk memperoleh populasi hama , digunakan

Repellent Adalah Zat Kimia yang ditujukan menolak atau mencegah kehadiran hama. Repellent yang baik adalah ;

Memberi perlindungan untuk beberapa jam.

Tidak menimbulkan keracunan , gatal-gatal maupun merusak kulit.

Tidak berbau kurang sedap.

Tidak merusak pakaian , plastik dll.

Efektif terhadap banyak insect.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

50

Stabil bila terkena sinar matahari , hujan , maupun keringat. Sebelum perang dunia II terdapat 5 standar repellent yaitu:

Sulfur.

Minyak Stronbia.

Dimthyl Phtalat.

Indalone.

Rudgers 612. Repellent yang dipakai pada kulit antara lain :

bagian Dimethyl Phtalat.

bagian Indalone.

Bagian rudgers 612.

Solvent Adalah Zat Penambah yang melarutkan pestisida sehingga molekul-molekulnya terdispersi ke seluruh cairan. Solven berfungsi sebagai Carrier dan juga sebagai dilent yang menurunkan konsentrasi pestisida ke presentae yang lebih rendah. Yang termasuk solvent adalah : Acctine , Benzene , Minyak tanah , Solar dan Air.

Ada 2 macam Solvent (pelarut) :

1) Volatile Liquids Yaitu solvent yang segera menguap bila penyemprotan dilakukan dan residu pestisidanya tertinggal pada sasaran. Contoh : Xylene. 2) Non Volatile atau Semivolatile Liquids Yaitu solvent yang bila disemprotkan akan tertinggal sementara serta menutupi permukaan benda yang disemprot bersama-sama pestisidanya. Contoh : Minyak tanah , Solar , dan minyak Benzen.

Emulsifier Adalah Zat Aktif yang berfungsi menstabilisasikan campuran suatu zat cair tertentu. Dalam Pestisida murni (TGI= Technical Grade Insectiside) bial dilarutkan dalam Xilene disertai penambahan suatu Emulsifier maka berbentuk

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

51

suatu larutan homogen yang disebut Emulsifiable Concentrate (EC). Contoh : Tween , Triton , Spons.

Spreading dan Wetting Agent Spreading : Untuk membantu memperluas permukaan Larvisida shg bisa merata dan tipis menutup air dimana larva hidup. Contoh : Hercules Triton B- 1956. Wetting Agent : Membentuk Lapisan yang membantu menaikan prosentase air masuk kedalam insektisida. Contoh : Minyak Sulfonat.

Adhesive / Stickers Zat ini diperlukan untuk melekatkan dan menjaga jangan sampai insektisida larut oleh hujan. Contoh : Gelatin , Rusin , Perekat.

Parfumes / Masking Agent Insektisida yang berbau kurang enak bila harus digunakan ditempat kediaman dll maka harus ditambah parfume. Contoh : Pyrethrum.

Carier Insektisida kadang dijual dalam bentuk sudah siap pakai tetapi kadang dalam bentuk cairan untuk tujuan tertentu. Zat ini harus mempunyai daya serap tinggi terhadap cairan untuk menyerap insektisida cair agar berubah bentuk menjadi Dust. Contoh : Belerang, Kapur, tanah liat, Prophelate, Talk.

Synergist Adalah bahan-bahan tambahan yang dimasukkan kedalam suatu jenis pestisida dimana keduanya akan saling meningkatkan daya racun yang lebih besar lagi terhadap serangga dan hama.

Contoh Pyperonyl Butoxide

Sesamex

Sulfoxide

Prepylisome.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

52

Toxicity Adalah daya bunuh / daya racun dari suatu pestisida. Daya bunuh ini biasanya dinyatakan dengan huruf LD (Lethal Dose = dosis yang mematikan). Pengukuran toksisitas dinyatakan dalam satuan mg/ kg BB. Contoh : Endrin LD 50 Gral adalah 7,5 mg/kg artinya dg dosis tsb mamu mematikan 50% dari jumlah binatang. Berdasarkan pengertian toxisitas akut maka dilakukan pengelompokan pestisida menurut berat ringannya racun dari pada label disertai tanda- tanda perhatian / larangan.

Kriteria Toxisitas Pestisida Dan Ketentuan Labelnya

TOKSISITAS

ACUTE

Kata- Kata

ORAL

Tanda Larangan

LD 50

& Antidotnya

Racun Kuat

- mg / Kg

0

50

“DANGER” “

POISON”

(Highly

Dengan tanda

Toxic)

Tengkoeak dan

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

53

   

Tulang Bersilang. Pernyataan anti Dota ada “Segera Panggil Dokter “ atau “Jauhkan dari

Jangkauan Anak-

Racun

Sedang

- mg / Kg

50

500

anak.” “WARNING”

(Moderately

Tidak ada

Toxic)

pernyataan Anti

Dota

Jauhkan dari

anak-anak.

Racun Lemah

500 - 5000 mg / Kg

“CAUTION”

hati-hati

(Low Order

Tidak ada pernyataan Anti Dota Jauhkan dari anak-anak Tidak ada kata Larangan

Toxity)

 

Racun yang

5000 mg

tidak

/ Kg

Membahaya

 

kan

Tidak ada

pernyataan Anti

Dota

Jauhkan dari

anak-anak

Nilai LD 50 berbeda untuk satu jenis dengan jenis pestisida yang lain. Nilai LD 50 Oral dan nilai LD 50 Dermal Satu sama lain. Contoh : Macam - macam Pestisida untuk mematikan tikus percobaan.

PESTISIDA

ORAL

DERMA

ACUTE

L

LD 50

ACUTE

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

54

 

(mg / kg)

LD 50 (mg / kg)

X

= Banyaknya Bagian zat yang pekat yang akan diencerkan

Chlordane

430

690

C

= % dari zat yang pekat

 

DDT

118

2150

S

= Konsentrasi dalam % yang dikehendaki

 

Lindane

88

1000

 

Dieldrin

46

90

 

Contoh

 

:

Methyl

18

65

Buatlah

Pengenceran

100

Gallon

2,5

%

dari

Parathion

Malathion 50 %

 

Cuthion

13

220

X

=

C/S

-

1

Parathon

13

21

X =

50%/2,5% - 1

 

Thimet

2

6

20 - 1 = 19

=

 

Mosdrin

6

5

PERACIKAN PESTISIDA

Jadi ratio = 1 : 19 , dengan total ~ 20 bagian.

Setiap bagian = 100 : 20 = 5 Gallon.

Jadi Campurannya : 5 Gallon malathion 50%

95 Gallon solar.

FORMULA PENGENCERAN 1) Proportional Formula Pengenceran bahan cair dengan bahan cair , padat

Actual Quantity (Kuantitas Sebenarnya ) Pekat + Encer

dengan padat.

Q

= S x A

 

Formula ini sbg angka Perbandingan (Ratio). 2) SAC Formula

C

Dipakai apabila ingin mendapatkan kuantitas

Pekat

+

Encer

Insektisida dalam bentuk yang sama seperti bahan

Q

=

SxAxD

cair dengan cair , bahan padat dengan padat. 3) Sad SAC Formula

C

Dipakai bila ingin mendapatkan kuantitas

Pekat

+

Encer

insektisida dari bahan-bahan yang berbeda

Q

=

SxAxD

misalnya bahan padat dengan cair. 4) Sad COW Formula

SAC

Dipakai bila konsentrasi cairan telah disiapkan

Pekat

+

Encer

ukurannya berat / volume.

Q

=

S x A x D

Contoh : Pound / Gallon , Kg / Liter. Gambaran Formula Pengenceran Proportional Ratio (angka perbandingan)

Co x W

Pekat

+ Encer

Keterangan :

Pekat + Encer

Q

= Banyaknya zat pekat yang dikehendaki dalam campuran (Pounds, Gallon dll).

Rumus :

X = C/S - 1

S

=

konsentrasi dalam % yang dikehendaki.

Keterangan

:

A

= Banyaknya bahan yang akan dipersiapkan untuk penyemprotan.

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

55

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

56

D

=

Kepadatan Berat bahan yang diencerkan per gallons biasanya air (0,34 )

100% x 4 LBS / Gal = 1,0425 Gallon

C

=

% dari zat yang pekat

Co

=

Concentrate zat pekat (100%)

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam

Penyimpanan Pestisida

W

= Berat insektisida dalam Pounds / Gallons.

Penanganan Pestisida.

FORMULA INSEKTISIDA

Sebelum menjamah , memindahkan dan meracik Pestisida.

a). AI

+ Inert Carier +

Wetting Agent + Water

1) Pakailah pakian pelindung dan peralatan yang baik.

b). AI

+ Solvent +

Emulsier +

Water

2) Bacalah label dan ikutilah petunjuk

CONTOH :

pencampurannya. 3) Janganlah menyobek kertas pada kontainer

1) Buatlah 10% Malathion debu dari konsentrasi 100% malathion debu sebanyak 200 kg.

dengan tangan terbuka tetapi bukalah dengan alat pembuka / pisau yang tajam dan khusus.

Q

= S x A

4) Dalam mengeluarkan pestisida jangan sampai

C

memercik ke bagian muka kita.

= 10% x 200 kg

5) Pencampuran pestisida harus dengan ukuran

 

100%

yang tepat sesuai dengan dosis.

= 20 kg

6) Dalam menuang pestisida harus berdiri tidak

Campuran 20 kg Malathion 100% + 180 Kg debu.

menentang arah angin.

2) Buatlah pengenceran 100 Gallon 1,25 % Malathion 75% yang berbentuk powder dan air (D=8,34 LBS / Gallon). =

Q

S x A x D

C

7) Tutup segera kontainer yang baru diambil agar tidak terjadi tumpahan dan ganti tutup bila rusak.

Disimpan dalam gudang yang terkunci rapat dan khusus untuk bahan-bahan beracun.

=

0,5%x 100 Gal x 8,34 LBS/Gal.

Ditempatkan jauh dari jangkauan anak-anak

75%

ataupun orang lain yang tidak berkepentingan.

= 13,9 LBS Campuran 13,9 LBS dari 75% + 100 Gal.

Persyaratan Gudang Insektisida 1) Terletak jauh atau terpisah dengan bangunan

3) Buatlah pengenceran 100 gallon 0,5% Chlordane (DDT) dari Chlordane pekat 4 Pound/ gallon. (D = 8,34 LBS /gallon). =

Q

S x A x D Co x W

rumah , kandang dan bangunan lain. 2) Dinding dan lantainya harus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar ataupun kedap air. 3) Dilengkapi dengan Exhaust fan untuk penghawaan yang baik. 4) Penerangan alam ataupun buatan harus cukup. 5) Gudang harus menjamin keutuhan Insektisida agar tetap kering dan tidak terkena langsung sinar matahari. 6) Pintu harus dilengkapi dengan tanda-tanda bahaya dan kunci gudang yang kuat.

= 0,5% x 100 gal x 8,34 LBS/gal

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

57

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

58

7) Harus tersedia Wastafel atau tempat cuci tangan yang cukup banyak. 8) Tersedia pemadam kebakaran yang siap dipergunakan biala mana terjadi bahaya kebakaran. 9) Tersedia alat-alat kebersian.

Penyimpanan Insektida Yang Baik 1) Tidak boleh dicampuradukkan dengan makanan manusia / ternak , peralatan rumah tangga maupun alat pemeliharaan ternak. 2) Disimpan dalam botol , kaleng , peti kemas kontainer asli dari plastik. 3) Periksa selalu tempat tsb apakah ada kerusakan / kebocoran / pecah. 4) Bila ada yang rusak /bocor segera pindahkan ketempat lain dan segera bersihkan. 5) Selalu sediakan catatan tentang jenis pestisida , pabrik , tanggal pembelian dll. 6) Gudang harus dikunci bila tidak ada kegiatan.

KARANTINA

a. KARANTINA LAUT Pemeriksaan Karantina Pada Kedatangan Kapal.

Isyarat Karantina

Sugeng Abdullah,”ResumePVBP”.

59

Isyarat Karantina mulai dipasang sewaktu kapal memasuki bandar Pelabuhan , atau sejak Pandu laut menaiki kapal. Kapal yang datang dengan memasang Isyarat Karantina walaupun oleh Pejabat Kes