Anda di halaman 1dari 9

BAB.

I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Perubahan suhu air yang lebih tinggi dari suhu ambang batas atas (upper lethal limit) atau lebih rendah dari ambang batas bawah (lower lethal limit) akan mengakibatkan kematian massal organisme. Kasus kematian massal organisme perairan ini menunjukkan bahwa suhu merupakan salah satu faktor abiotik yang sangat penting dalam menunjang kelangsungan hidup organisme perairan. Suhu adalah suatu besaran fisika yang menyatakan banyaknya panas yang terkandung dalam suatu benda. Secara alamiah sumber utama panas dalam air laut adalah matahari. Setiap detik matahari memancarkan panas sebanyak 1026 kalori dan setiap tempat di bumi yang tegak lurus ke matahari akan menerima panas sebanyak 0,033 kalori perdetik (CHARNOCK & DEACON 1978). Suhu air laut terutama di lapisan permukaan sangat tergantung pada jumlah panas yang diterimanya dari matahari. Daerahdaerah yang paling banyak menerima panas dari matahari adalah daerah-daerah yang terletak pada lintang 0. Oleh karena itu suhu air laut yang tertinggi akan ditemukan di daerah sekitar equator (WEIL 1970). Jumlah panas yang diserap oleh air laut pada suatu lokasi semakin berkurang bila letaknya semakin mendekati kutub, atau dengan perkataan lain lokasi yang letak lintangnya semakin tinggi. Selain dipengaruhi oleh matahari, suhu air laut dipengaruhi juga oleh musim. Pengaruh musim terhadap suhu air laut tergantung pada lokasi air laut. Semua organisme laut (kecuali mammalia) bersifat poikilotermik yaitu tidak dapat mengatur suhu tubuhnya (LEVINTON 1982). Selama hidupnya suhu tubuh organis-me perairan sangat tergantung pada suhu air laut tempat hidupnya. Oleh karena itu adanya perubahan suhu air akan membawa akibat yang kurang menguntungkan bagi organisme perairan. Akibat yang kurang menguntungkan ini bisa menyangkut kematian, menghambat proses pertumbuhan, mengganggu proses respirasi dan lain-lain. B. RUMUSAN MASALAH

1. Pengertian temperatur 2. Penyebab perubahan temperatur air laut 3. Pengaruh penyebab perubahan temperature air laut

C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian temperature. 2.Untuk mengetahui penyebab perubahan temperature terhadap kehidupan laut. 3. Untuk mengetahui pengaruh perubahan temperature air laut.

BAB. II

PEMBAHASAN A. Pengertian Temperatur Air Laut Temperatur adalah sifat termodinamis cairan karena aktivitas molekul dan atom di dalam cairan tersebut. Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula temperaturnya. Temperatur menunjukkan kandungan energi panas. Energi panas dan temperatur dihubungkan oleh energi panas spesifik. Energi panas spesifik sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur dari satu satuan massa fluida sebesar 10. Jika kandungan energi panas nol (tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam fluida) maka temperaturnya secara absolut juga nol (dalam skala Kelvin). Jadi nol dalam skala Kelvin adalah suatu kondisi dimana sama sekali tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam suatu fluida. Temperatur air laut di permukaan ditentukan oleh adanya pemanasan (heating) di daerah tropis dan pendinginan (cooling) di daerah lintang tinggi. Kisaran harga temperatur di laut adalah -2 0 s.d. 350 C. Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk menentukan temperatur air laut yaitu temperatur insitu (selanjutnya disebut sebagai temperatur saja) dan temperatur potensial. Temperatur potensial yaitu temperatur dimana parsel air telah dipindahkan secara adiabatis ke level tekanan yang lain. Di laut, biasanya digunakan permukaan laut sebagai tekanan referensi untuk temperatur potensial. Tekanan di dalam laut akan bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Sebuah parsel air yang bergerak dari satu level tekanan ke level tekanan yang lain akan mengalami penekanan (kompresi) atau pengembangan (ekspansi). Jika parsel air mengalamai penekanan secara adiabatis (tanpa terjadi pertukaran energi panas), maka temperaturnya akan bertambah. Sebaliknya, jika parsel air mengalami pengembangan (juga secara adiabatis), maka temperaturnya akan berkurang. Perubahan temperatur yang terjadi akibat penekanan dan pengembangan ini bukanlah nilai yang ingin kita cari, karena di dalamnya tidak terjadi perubahan kandungan energi panas. Untuk itu, jika kita ingin membandingkan temperatur air

pada suatu level tekanan dengan level tekanan lainnya, efek penekanan dan pengembangan adiabatik harus dihilangkan. Jadi kita membandingkan harga temperatur pada level tekanan yang berbeda jika parsel air telah dibawa, tanpa percampuran dan difusi, ke permukaan laut. Karena tekanan di atas permukaan laut adalah yang terendah (jika dibandingkan dengan tekanan di kedalaman laut yang lebih dalam), maka temperatur potensial (yang dihitung pada tekanan permukaan) akan selalu lebih rendah daripada temperatur sebenarnya. Beberapa ahli mengemukakan tentang suhu atau temperatur :

Nontji (1987), menyatakan suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya.

Hela dan Laevastu (1970), hampir semua populasi ikan yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka dengan mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan.

Nybakken (1988), sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme.

Pada umumnya Temperatur dan Temperatur Potensial menggunakan satuan berupa derajat Celcius ( 0C ), namun untuk menghitung kandungan energi panas dan transport energi panas maka pada temperature harus digunakan satuan Kelvin ( K ). Energi panas dan temperature dihubungkan melalui energi panas spesifik, maka untuk menghitung energi panas persatuan volume dari harga temperature maka dapat digunakan rumus : Q = densitas x energi panas specific x temperatur

Catatan : * Temperatur dalam satuan Kelvin *Jika tekanan tidak sama dengan nol, perhitungan energi panas di lautan harus menggunakan temperatur potensial.

B. Penyebab Perubahan Temperatur Air Laut Perubahan temperatur air laut disebabkan oleh perpindahan panas dari massayang satu ke massa yang lain. Kenaikan temperatur permukaan laut disebabkan oleh : 1. Radiasi dari angkasa dan matahari. 2. Konduksi panas dari atmosfir. 3. Kondensasi uap air. Penurunan temperatur permukaan air laut disebabkan oleh : 1. Radiasi balik permukaan laut ke atmosfir. 2. Konduksi balik panas ke atmosfir. 3. Evaporasi ( penguapan ). Suhu menurun secara teratur sesuai dengan kedalaman. Semakin dalam suhu akan semakin rendah atau dingin. Hal ini diakibatkan karena kurangnya intensitas matahari yang masuk kedalam perairan. Pada kedalaman melebihi 1000 meter suhu air relatif konstan dan berkisar antara 20 C 40 C. Lapisan permukaan hingga kedalaman 200 meter cenderung hangat, hal ini dikarenakan sinar matahari yang banyak diserap oleh permukaan. Sedangkan pada kedalaman 200-1000 meter suhu turun secara mendadak yang membentuk sebuah kurva dengan lereng yang tajam. Pada kedalaman melebihi 1000 meter suhu air laut relatif konstan dan biasanya berkisar antara 2-40 C.

C. Pengaruh Perubahan Temperatur Terhadap Kehidupan Laut Jenis Organisme blue green algae barnacle tree Oyster, Isognomon alatus sponges green-brown and red algae Ambang batas suhu, C 37 37 36,5 36 34,5

tunicates, bryozoans, polycheta, crassostrea, rhizophora,

Suhu adalah salah satu faktor abiotik yang sangat menentukan kelangsungan hidup organisme perairan. Daya tahan organisme terhadap perubahan suhu air tergantung pada besarnya perubahan suhu, jenis biota dan lama pema- paran. Bila terjadi penurunan suhu air maka organisme berusaha melindungi diri dengan 5cara mensintesa senyawa glikoprotein. Senyawa ini dapat mencegah pembekuan larutan yang terdapat dalam tubuhnya. Namun penurunan suhu air laut yang terlalu rendah akan mengakibatkan kematian organisme air, seperti yang sudah pernah terjadidi Denmark. Disamping tingkat suhu, jenis organisme dan lama pemaparan, letak lokasi perairan tropik atau subtropik juga turut mempengaruhi daya tahan biota terhadap perubahan suhu air laut. Peneliti pertama yang membuktikan bahwa biota yang hidup di perairan tropik lebih rentan terhadap perubahan suhu air dibandingkan dengan biota yang hidup di perairan subtropik. Pada umumnya laju pertumbuhan meningkat bila suhu air naik. Hasil penelitian EPPLEY (dalam LEVINTON 1982) di laboratorium menunjukkan kenaikan suhu air sampai tingkat tertentu menyebabkan laju pertumbuhan fitoplankton meningkat. Kenaikan suhu seterusnya akan memperlambat laju pertumbuhan dan pada suhu yang lebih tinggi lagi laju pertumbuhan menjadi nol. Suhu optimum yang menyebabkan laju pertumbuhan mak- simum dari fitoplankton, Detonula confervacea adalah 12C, sedangkan untuk fito-plankton jenis lain seperti Chlorella pyre- noidosa adalah 40C. Suhu air dapat juga mempengaruhi perkembangan embrionik. Setiap organisme membutuhkan sejumlah waktu untuk proses perkembangan hidupnya.

Pada umumnya perkembangan telur-telur dan juvenil lebih cepat dalam air yang lebih panas. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kenaikan suhu terhadap proses perkembangan hidup adalah kuantitatif, misalnya setiap kenaikan suhu 6C akan mengurangi usia chaetognath sebanyak 2,5 kali (SAMEOTO; KINNE dalam VALIELA 1984). Hal inilah yang menyebabkan usia organisme yang hidup di perairan tropik akan lebih singkat dibanding- kan dengan organisme yang hidup di perairan subtropik atau dingin. Proses respirasi dan fotosintesis tidak terlepas dari pengaruh suhu. BAYNE et al. (1977) telah mengamati kecepatan respirasi kerang biru, Mytilus edulis selama 14 hari pada suhu air yang berbeda-beda yaitu 100, 150, 200 dan 250 C. Hasilnya menunjukkan bahwa kecepatan respirasi semakin tinggi bila suhu air meningkat. Beberapa peneliti lain juga telah mengamati pengaruh suhu air terhadap respirasi. Biasanya jumlah oksigen yang dibutuh- kan oleh organisme dalam proses respirasi meningkat dua kali lipat untuk setiap ke-naikan suhu 10C. Banyaknya pertambahan kebutuhan oksigen untuk setiap pertambahan 10C disebut Q-10. Seperti pada proses pertumbuhan yang berhenti pada suhu yang tinggi, proses respirasi juga ber-henti bila suhu air sudah lebih tinggi dari nilai ambang batas suhu masing-masing organisme. Kenaikan suhu air dapat juga secara tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan organisme perairan, melalui peningkatan daya akumulasi, daya racun berbagai zat kimia serta penurunan kadar oksigen dalam air laut. Berbeda dengan bahan cemaran kimia, cemaran panas (thermal pollutant) tidak bisa diakumulasi. Namun cemaran panas dapat meningkatkan daya akumulasi zat kimia oleh organisme perairan. ada empat faktor yang menyebabkan daya aku-mulasi logam berat oleh organisme perairan semakin tinggi bila suhu air meningkat, yaitu : 1. kecepatan gerak air dan ion-ion me- lalui selaput insang makin tinggi bila suhu air meningkat. 2. kecepatan berbagai proses metabolis- me dalam tubuh organisme semakin tinggi bila suhu air meningkat. 3. reaksi antara ion logam berat dengan protein adalah bersifat "exothermix" (membutuhkan panas).

Seperti daya akumulasi zat kimia, daya racun zat kimia terhadap organisme perairan juga semakin tinggi bila suhu air meningkat. Kenaikan suhu air dapat juga menyebabkan perpindahan logam berat dalam organ-organ tubuh. Contoh daya racun yang dapat meningkat bila suhu air laut meningkayt yaitu racun sianida, ammonia deterjen, pestisida dan minyak bumi. Kenaikan suhu air akan mengurangi kelarutan gas-gas dalam air. Salah satu gas terlarut yang memegang peranan penting untuk menunjang kehidupan organisme ada-lah oksigen. Gas oksigen yang terdapat da-lam air dimanfaatkan oleh organisme per- airan dalam proses respirasi. Masuknya limbah panas ke lingkungan laut akan menye-babkan kadar oksigen dalam air menurun. Hal ini dapat mengakibatkan organisme mati karena kekurangan oksigen. Berbeda dengan oksigen, kenaikan suhu air akan menaikkan kadar garam. Dalam keadaan normal, kadar garam dalam tubuh organisme adalah sama/ hampir sama dengan kadar garam dalam air laut. Kenaikan kadar garam dalam air laut mengakibatkan adanya perbedaan tekanan osmotik, sehingga larutan garam dari laut akan mengalir ke tubuh organisme melalui sekat semipermeabel. Organisme laut bersifat osmoconformers atau homeoosmotik yaitu dapat mengatur kadar garam dalam tubuhnya apabila kadar garam dalam air laut me-ningkat. Namun kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan kadar garam dalam air ada batasnya. Kenaikan kadar garam yang terlalu tinggi dapat menyebab-kan kematian organisme perairan.

BAB. III PENUTUP Kesimpulan Temperatur adalah sifat termodinamis cairan karena aktivitas molekul dan atom di dalam cairan tersebut. Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula temperaturnya. Perubahan temperature air laut disebabkan oleh perpindahan panas dari massa yang satu ke massa yang lan. Matahari mempunyai efek yang paling besar terhadap perubahan suhu permukaan air laut. Perubahan temperatur air laut sangat mempengaruhi kelangsungan hidup biotik di dalamnya. Perubahan temperature air laut akan mempengaruhi kehidupan flora dan fauna laut berupa pertumbuhan Pithoplankton dan hewan laut serta mempengaruhi komposisi kimia air laut seperti meningkatkan daya akumulasi logam berat, jumlah racun zat kimia dan kadar oksigen dalam laut.