Anda di halaman 1dari 34

Kata Pengantar

Assalamualaikum, Wr, Wb

Puji syukur senantiasa terharutkan kehadirat Allah SWT atas
segala Rahmat dan Nikmat-Nya, sehingga buku ini dapat
diselesaikan.

Ide dasar penyusunan buku ini adalah bagaimana membuat anda
lebih praktis dalam merencanakan dan menganalisis kolom
beton bertulang. Buku ini membahas tentang perancangan dan
analisis kolom beton bertulang dengan cara Grafik Interaksi
M-N berdasarkan SNI 03-2847-3913.

Tiada sesuatu yang sempurna, demikian pula buku ini. Kritik
positif dan membangun untuk kesempurnaan buku ini
merupakan kehormatan begi penulis.


Yogyakarta, Maret 2012



TIM Penulis
II
DASAR TEORI

A. Definisi Kolom
Struktur kolom adalah batang vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari
balok (E.G Nawy.,1998). Kolom berfungsi meneruskan beban dari elevasi atas ke elevasi
bawahnya hingga sampai tanah melalui fondasi. Kolom merupakan struktur tekan sehingga
keruntuhan kolom tidak memberikan peringatan awal yang cukup jelas. Oleh karena itu,
dalam merencanakan kolom perlu adanya perencanaan kekuatan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan elemen beton bertulang lainnya.
Apabila beban yang bekerja pada kolom semakin besar, maka retak akan terjadi
diseluruh tinggi kolom pada daerah sengkang. Pada batas keruntuhan biasanya ditandai
dengan selimut beton yang lepas terlebih dahulu sebelum baja tulangan kehilangan letakan.
Berdasarkan bentuk dan susunan tulangan, kolom dibedakan menjadi :
a. Kolom segi empat dengan tulangan memanjang dan sengkang.
b. Kolom bulat dengan tulangan memanjang dan tulangan lateral berbentuk spiral.
c. Kolom komposit yang terdiri dari beton dan baja profil didalamnya.

Gambar 1. Bentuk kolom (a) kolom bulat tulangan spiral; (b) kolom segi empat; (c)
kolom komposit bulat tulangan spiral; (d) kolom komposit segiempat.




B. Kolom dengan Beban Sentris dan Eksentris
Berdasarkan posisi beban, kolom dibedakan menjadi 2 yaitu kolom dengan beban
sentris dan kolom dengan beban eksentris. Kolom dengan beban sentris mengalami gaya
aksial dan tidak mengalami momen lentur. Keruntuhan kolom dapat terjadi pada beton hancur
karena tekan atau baja tulangan leleh karena tarik. Kolom pendek adalah kolom yang runtuh
karena materialnya, yaitu lelehnya baja tulangan atau hancurnya beton. Kolom langsing
adalah kolom yang runtuh karena tekuk yang besar. Perencanaan kolom didasarkan pada dua
kondisi yaitu :
1. Kolom Pendek dengan Beban Sentris
Kapasitas beban sentris maksimum diperoleh dengan menambah kontribusi beton
yaitu (A
g
A
st
) 0,85 f
c
dan kontribusi baja tulangan yaitu A
st
f
y
, dimana Ag luas
penampang bruto dan Ast luas total tulangan baja. Kapasitas beban sentris maksimum yaitu
:
P
o
= (A
g
A
st
) 0,85 f
c
+ A
st
f
y
(1)
Pada kenyataannya, beban eksentrisitas sebesar nol sangat sulit terjadi dalam struktur
aktual. Hal tersebut disebabkan karena ketidak tepatan ukuran kolom, tebal plat yang
berbeda dan ketidaksempurnaan lainnya. Batas eksentrisitas minimal untuk kolom
sengkang dalam arah tegak lurus sumbu lentur adalah 10% dari tebal kolom dan 5% untuk
kolom bulat (E.G Nawy., 1998)
Berdasarkan SNI 03-2847-2002 tentang tata cara perencanaan beton untuk bangunan
gedung, kuat rencana kolom tidak boleh lebih dari :
a. Kolom sengkang (pasal 12.3.(5(1))
P
n
= 0,80 (A
g
A
st
) 0,85 f
c
+ A
st
f
y
. (2)
b. Kolom bulat (pasal 12.3.(5(1))
P
n
= 0,85 (A
g
A
st
) 0,85 f
c
+ A
st
f
y
. (3)
Dengan faktor reduksi kekuatan untuk kolom sengkang sebesar 0,65 dan untuk
kolom bulat 0,70. Persyaratan detail penulangan kolom bulat antara lain :

a. Luas tulangan longitudinal komponen struktur tekan tidak boleh kurang dari 0,01
ataupun lebih dari 0,08 kali luas penampang bruto (pasal 12.9(1)).
b. Jumlah tulangan longitudinal munimum adalah 4 untuk kolom persegi empat atau
lingkaran, 3 untuk kolom sengkang segitiga dan 6 untuk kolom pengikat spiral (pasal
12.9(2)).
c. Rasio penulangan spiral untuk f
y
400 tidak boleh kurang dari (pasal 12.9(3))
:
y
c
c
g
f
f
A
A
'
1 45 , 0
min
|
|
.
|

\
|
= . (4)
2. Kolom Dengan Beban Eksentris
Kolom yang menahan beban eksentris mengakibatkan baja pada sisi yang tertarik
akan mengalami tarik dengan garis netral dianggap kurang dari tinggi efektif penampang
(d). Apabila angka kelangsingan kl
u
/r 22 maka tergolong kolom pendek.
Berdasarkan regangan yang terjadi pada baja tulangan yang tertarik, kondisi awal
keruntuhan digolongkan menjadi dua yaitu :
a. Keruntuhan tarik yang diawali dengan luluhnya tulangan tarik dimana P
n
< P
nb
.
b. Keruntuhan tekan yang diawali dengan kehancuran beton dimana P
n
> P
nb
.
Kondisi balance terjadi saat baja tulangan mengalami luluh bersamaan dengan
regangan beton. Beton mencapai kekuatan maksimum f
c
pada saat regangan desak beton
maksimal mencapai 0,003. Perencanaan kolom eksentris diselesaikan dengan dua cara
antara lain :
1. Metode Pendekatan Diagram P
n
- M
n

Diagram P
n
- M
n
yaitu suatu grafik daerah batas yang menunjukkan ragam kombinasi
beban aksial dan momen yang dapat ditahan oleh kolom secara aman. Diagram interaksi
tersebut dibagi menjadi dua daerah yaitu daerah keruntuhan tekan dan daerah
keruntuhan tarik dengan pembatasnya adalah titik balance. Tulangan dipasang simetris
untuk mempermudah pelaksanaan, mencegah kekeliruan dalam penempatan tulangan
tarik atau tulangan tekan dan mengantisipasi perubahan tegangan akibat beban gempa.
Analisis kolom dengan diagram P
n
- M
n
diperhitungkan pada tiga kondisi yaitu :
a. Pada Kondisi Eksentrisitas Kecil
Prinsip-prinsip pada kondisi ini dimana kuat tekan rencana memiliki nilai sebesar
kuat rencana maksimum.
P
n
= P
n max
= 0,80 (A
g
A
st
) 0.85 f
c
+ A
st
f
y
. (5)
sehingga kuat tekan kolom maksimum yaitu :

. (6)
b. Pada Kondisi Momen Murni
Momen murni tercapai apabila tulangan tarik belum luluh sedangkan tulangan tekan
telah luluh dimana f
s
adalah tegangan tulangan tekan pada kondisi luluh. Pada
kondisi momen murni keruntuhan terjadi saat hancurnya beton (P
n
= P
u
= 0).
Keseimbangan pada kondisi momen murni yaitu :
N
D1
+ N
D2
= N
T
.........................(7)
Dimana :
N
D1
= 0,85 f
c
b a .........................(8)
N
D2
= f
s
A
s
.........................(9)
N
T
= f
y
A
s
.........................(10)

Selisih akibat perhitungan sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Persamaan yang
diperoleh dari segitiga sebangun dengan tinggi sumbu netral pada c yaitu :

()

.............. (11)
Dengan mensubtitusikan persamaan (7) dan (11) akan dihasilkan persamaan pangkat
dua dengan perubah tinggi sumbu netral c. Momen rencana dapat dihitung sebagai
berikut :
M
r
= M
n
......................... (12)
M
n
= M
n1
+ M
n2
= N
D1
Z
1
+ N
D2
Z
2
......................... (13)


c. Pada Kondisi Balance
Kondisi keruntuhan balance tercapai apabila tulangan tarik luluh dan beton
mengalami batas regangan dan mulai hancur. Persamaan yang diperoleh dari segitiga
yang sebangun dengan persamaan sumbu netral pada kondisi balance (C
b
) yaitu :

......................... (14)
atau dengan E
s
= 200000, maka :

......................... (15)
Persamaan kesetimbangan pada kondisi balance :
P
b
= N
D1
+ N
D2
N
T
......................... (16)
Sehingga eksentrisitas balance (e
b
) dapat ditulis sebagai berikut :
P
b
(e
b
+ d/2) = M
nb
......................... (17)
M
rb
= P
b
e
b
......................... (18)
2. Metode Pendekatan Whitney
Persamaan-persamaan yang disarankan Whitney dugunakan sebagai solusi alternatif
dengan cara coba-coba walaupun tidak selalu konservatif khususnya apabila beban
rencana terlalu dekat dengan beban balance.
a. Kolom Segi Empat
Persamaan-persamaan Whitney pada kondisi keruntuhan tekan yang disarankan
berdasarkan asumsi-asumsi :
1) Tulangan dipasang simetris pada satu lapis sejajar terhadap sumbu lentur
penampang segi empat.
2) Tulangan tekan telah leleh.
3) Luas beton yang ditempati tulangan diabaikan.
4) Tinggi balok tegangan ekivalen dianggap sebesar 0,54d setara dengan harga a
rata-rata kondisi balance pada penampang segi empat.
5) Keruntuhan tekan menentukan.
Dalam banyak hal, metode Whitney konservatif apabila eksentrisitas sangat kecil.
Persamaan Whitney untuk hancur tekan menentukan :

()
+

)
......................... (19)
Persamaan Whitney untuk hancur tarik menentukan berdasarkan asumsi-asumsi
keruntuhan ditandai dengan luluhnya tulangan tarik sedangkan tulangan tekan bisa
belum luluh.

) .............(20)
b. Kolom Bulat
Persamaan-persamaan Whitney pada kondisi keruntuhan tekan yang disarankan
berdaarkan asumsi-asumsi :
1) Transformasi kolom bulat menjadi kolom segi empat akivalen.
2) Tebal penampang segi empat ekivalen diambil sebesar 0,8h dimana h adalah
diameter kolom bulat.
3) Lebar kolom segi empat ekivalen diambil sebesar A
g
/ 0,8h.
4) Luas total tulangan segi empat ekivalen pada dua lapis yang sejajar berjarak 2D
s

/3 dalam arah lentur dimana D
s
adalah diameter tulangan terluar dari as ke as.

Persamaan Whitney untuk keruntuhan tekan :

]
......................... (21)
Persamaan Whitney untuk keruntuhan tarik :

)] .......(22)
Dimana h : diameter penampang
D
s
: diameter tulangan terluar dari as ke as
e : eksentrisitas terhadap pusat plastis


C. Kolom Langsing
Apabila angka kelangsingan kolom melebihi batas untuk kolom pendek maka kolom
tersebut akan mengalami tekuk sebelum mencapai batas limit kegagalan material. Kolom
tersebut adalah jenis kolom langsing yang mengalami momen tambahan akibat efek P
dimana P adalah beban aksial dan adalah defleksi akibat kolom tertekuk pada penampang
yang ditinjau.
a. Besarnya k dapat dihitung dengan persamaan-persamaan dari peraturan ACI (E.G Nawy.,
1998) antara lain :
1) Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan berpengaku diambil dari nilai
terkecil antara persamaan berikut:
k = 0,7 + 0,05 (
A
+
B
) 1,0
k = 0,85 + 0,05
min
1,0
Dimana
A
dan
B
adalah pada ujung kolom dan
min
adalah yang terkecil dari kedua
harga tersebut.
balok
l
EI
kolom
l
EI
n
u
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|

= ......................... (23)
Dimana l
u
adalah panjang tak tertumpu kolom dan l
n
adalah bentang bersih balok.
2) Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan tanpa pengaku yang tertahan pada
kedua ujungnya diambil sebesar :
Untuk
m
< 2
m
m
k

= 1
20
20
.........................(24)
Untuk
m
2
m k + = 1 9 , 0
Diamana
m
adalah harga rata-rata dari kedua ujung batang tertekan tersebut.
3) Batas atas faktor panjang efektif untuk batang tekan tanpa pengaku yang kedua
ujungnya sendi diambil sebesar :
k = 2,0 + 0,3

b. Pengaruh kelangsingan
SNI (1991) mensyaratkan pengaruh kelangsingan boleh diabaikan apabila :
1)
b
b u
M
M
r
kl
2
1
12 34 s untuk komponen struktur tekan yang ditahan terhadap goyangan
kesamping.
2) 22 s
r
kl
u
untuk komponen struktur tekan yang tidak ditahan terhadap goyang
kesamping.
M
1b
dan M
2b
adalah momen pada ujung-ujung yang berlawanan pada kolom dengan M
2b
adalah momen yang lebih besar dan M
1b
adalah momen yang lebih kecil.

c. Metode pembesaran momen
Pembesaran momen bergantung pada kelangsingan batang, desain penampang dan
kekuatan seluruh rangka portal bergoyang. Komponen struktur tekan harus direncanakan
menggunakan beban aksial terfaktor dan momen terfaktor yang diperbesar.

.........................(25)
Dengan: :
P
c
=
2
EI/(kl
u
)
2
.........................(26)

.........................(27)

.........................(28)



.........................(29)
Dimana P
u
adalah beban vertikal trfaktor pada suatu tingkat dan P
c
adalah kapasitas
tekan total kolom-kolom pada suatu tingkat.

d. Kuat geser
Perencanaan kolom harus mempertimbangkan gaya geser yang bekerja antara lain :
1) Komponen struktur yang menerima beban aksial tekan :

) (

.............................. (30)
Dimana besaran N
u
/14A
g
harus dalam MPa.
2) Kuat geser boleh dihitung dengan perhitungan yang lebih rinci yaitu :

............................. (31)
Dengan nilai M
m
menggantikan M
u
dan nilai V
u
d/M
u
boleh diambil lebih daripada 1,0
dengan :

( )


Tetapi dalam hal ini V
c
tidak boleh diambil lebih besar dari pada :
g
u
w c c
A
N
d b f V
3 , 0
1 ' 3 , 0 + = ................................. (32)
Bila gaya geser V
u
lebih besar daripada kuat geser V
c
maka harus disediakan tulangan
geser.
s
d f A
V
y v
s
=
Dimana
y
w c
v
f
s b f
A
) 1200 (
' 75
= tidak boleh kurang dari
y
w
f
s b
3
1
dengan b
w
dan s dalam
milimeter. Kuat geser V
s
tidak boleh diambil lebih dari d b f
w c
'
3
2
.
Jika V
s
> d b f
w c
'
3
1
, maka spasi tulangan geser yang dipasang tegak lurus terhadap
sumbu aksial komponen struktur tidak boleh lebih dari d/2 atau 600 mm.

D. Flowchart
Flowchart adalah gambar atau bagan yang memperlihatkan urutan dan hubungan antar
proses beserta fungsinya. Flowchart perancangan dan analisis kolom persegi (bujur sangkar)
dan kolom bulat (lingkaran) struktur beton bertulang adalah sebagai berikut :
1. Flowchart Perancangan dan Analisis Kolom Persegi Secara Hitungan Manual.
a. Analisis Kolom Persegi Sentris.















A B
MULAI
As = (/4).n.db
2

Ag = b.h

g
s
A
A
=

d = h - sb - ds - db


b, h, f
c
, f
y
, P
u
, n, d
b
, d
s
, sb, s
0,01
0,08
Rasio penulangan tidak terpenuhi
Perbesar dimensi kolom
b
inti
= b-2sd-2d
s
h
inti
= b-2sd-2d
s
K
c
= 2 b
inti
+ 2 h
inti
Spasi tul =
Jb=



Tidak
Tidak
Ya
Ya












Gambar 2. Bagan Alir Analisis Kolom Pendek Persegi.





J
b
d Jb = 1,5 db
Spasi min = Jb + db
Spasi min < spasi tul
Spasi tulangan
tidak terpenuhi
J =
B
J > 150 Tidak aman
Pn max = 0,85[0,85.fc.(Ag-As) + (fy.As)]

Pn max , ds , s
Tulangan spiral tidak aman
SELESAI
A
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Pn max Pu

b. Perancangan Kolom Persegi Sentris















Gambar 3. Bagan Alir Perancangan Kolom Persegi Sentris.




MULAI
Pu, fc, fy, , db, ds, sb
] . ) 1 ( ' . 85 , 0 [ 85 , 0
y c
u
perlu
g
f f
P
A
| +
=

perlu
g k
A D =

Pn beton = 0,85 [0,85 fc (1- ) Ag perlu ]

Pn baja = Pu Pn beton
y
baja n
st
f
P
A
. . 85 , 0
.
|
|
=

( )
2
4 /
b
st
d
A
n
t
=

Dc = Dk 2sb
bc = b 2ds -2sb
Kc = bc
( ) ( )
b c b
d n K
n
J ) 4
1
+ =












Jb 150
Perlu tulangan
pengikat tambahan
b, n, db,ds, s
SELESAI
Ya

Tidak



c. Analisis Kolom Persegi Eksentrisitas dengan Diagram P
n
M
n
























MULAI
As = /4. db
2
. n
As = /4. db
2
. nt
Ast = As + As
Ag = b. h
y
b
f
d
C
+
=
600
600

c
d c
s
) ' ( 003 , 0
= c

f
s
= E
s
.
s

Hitung 1
A = 0,85 1 fc b
B = (600As) (0,85 fc As) (fy As)
D = - (600 As d)
c =
A
AD B B
2
4
2
+


Mn1 = 0,85 1 fc c b ((h-d) - (0,5 1 c))
Mn2 = ((fs (0,85 fc)As)) (h - 2d)
Mr = (Mn1 + Mn2)
ND1 = 0,85 1 fc c b
Pn max = 0,85[0,85.fc.(Ag-Ast) + (fy.Ast)]

f
c
,f
y
,,e,b,h,E
s






















Gambar 4. Bagan Alir Analisis Kolom Persegi dengan diagram P
n
- M
n



A
A
ND2 = (fs (0,85 fc)) As
NT = fy As
Pb = ND1 + ND2 - NT
Mn1 = 0,85 1 fc c b (( h-d) (0,51 c))
Mn2 = ((fs (0,85 fc) As)) ( h 2d)
b
b n n
P
d h P M M
eb
)) ' 2 ( 5 , 0 ( ) (
2 1
+
=

Pb = ( ND1 + ND2 NT
)
Mb = Pb eb
Perancangan tulangan geser kolom
Pn max ; Mr ; Pb ; Mb ; ds ; s
SELESAI







d. Perancangan Kolom Persegi Eksentris.

















MULAI
As perlu = (0,5 ) b (h-d)
As = (/4) db
2
n

As perlu > As
Luas tulangan
tidak terpenuhi
) ' ( d h b
A
s

=

y
s
b
f
d h E
C
+

=
600
) ' ( 003 , 0 .

b
b
s
C
d C ) ' ( 003 , 0
'

= c

s
y
y
E
f
= c

Ag = b . h

s > y
fs = fy
b
b s
s
C
d C E
f
) ' .( 003 , 0 .
=

Hitung 1
B
Tidak
Ya
Ya
Tidak
b, h, Pu, fc, , e, db, n, d, ds, sb, fy, Vu,

A























Gambar 5. Bagan Alir Perancangan Kolom Persegi Eksentris .




)] . ( ) . ( ) . . . ' . 85 , 0 [(
1 y s s s b c b
f A f A b C f P + = | |
m = fy / 0,85 fc
Pb > Pu
18 , 1 ] ) 67 , 0 8 , 0 /( 6 , 9 [
'
0 , 1 ) / 3 (
2
+ +
+
+
=
s
c g
s
y s
n
D h he
f A
D e
f A
P

Pn > Pu
Perancangan tulangan geser kolom
Pn, ds, s
SELESAI
B
Tidak
Gagal tekan
Gagal tarik
Ya
Ya
Tidak
(
(

|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
= 38 , 0
85 , 0
5 , 2
38 , 0
85 , 0
' 85 , 0
2
2
h
e
h
mD
h
e
h f P
s
c n


Tidak aman
A










e. Perhitungan Pembesaran Momen Kolom Persegi.

















MULAI
b, h, w
c
, l
u
, f
c
, f
y
, M
u
, M
D
, P
u
,
A
,
B

r = 0,3 h
m = 0,5 (A + B)
m < 2
m
m
k

= 1
20
20

m
k + = 1 9 , 0

Klu/r < 100 Analisis orde 2
Klu/r 22 Kolom pendek
( )
c c c
f w E ' 043 , 0
5 , 1
=

Ig = 1/12 bh
3
1 s =
u
D
d
M
M
|

d = 1
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak

















Gambar 6. Bagan Alir Perhitungan Pembesaran Momen Kolom Persegi.

B
A
u
D
d
M
M
= |

d
g c
I E
EI
| +
=
1
4 , 0

( )
2
2
u
c
kl
EI
P
t
=

c
u
u
s s
P
P
M
M

=
75 , 0
1
o

SELESAI
Ya
A
B
Pu: s Ms

2. Flowchart Perancangan dan Analisis Kolom Persegi Secara Grafik
a. Perancangan Kolom Persegi Eksentris












Gambar 7. Bagan Alir Perancangan Kolom Persegi Eksentris dengan Cara Grafis










MULAI
SELESAI
Dengan menggunakan gafik Diagram M-N
A
s perlu
= (0,5 ) b (h-d)

As = (/4) d
b
2
n

P
u
,
g
,
h
, b, h,
h
e
, f
c
, f
y


P
n
, P
n
, M
r
, P
b
, P
b
,
M
rb



b. Analisis Kolom Persegi Eksentris













Gambar 8. Bagan Alir Analisis Kolom Persegi Eksentris dengan Cara Grafis.
MULAI
Dengan menggunakan gafik Diagram M-N
SELESAI
A
s perlu
= (0,5 ) b (h-d)

As = (/4) d
b
2
n

P
u
,
g
,
h
, b, h,
h
e
, f
c
, f
y


P
n
, P
n
, M
r
, P
b
, P
b
,
M
rb


3. Flowchart Perancangan dan Analisis Kolom Bulat dengan Cara Hitungan Manual.
a. Analisis Kolom Bulat Sentris

















MULAI
As = (/4).n.db
2

Ag = (/4).D
2
g
s
A
A
=

Dc = D (2 . sb)


D, f
c
, f
y
, P
u
, n, d
b
, d
s
, sb, s
0,01
0,08
Rasio penulangan tidak terpenuhi
Perbesar dimensi kolom
Dc = D - 2 (sb ds - db
Kc = .Dc
Spasi Tul
( )
b c
d n K
n
.
1


( ) ( )
b c b
d n K
n
J 4
1
+ =



A
B
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
J
b
d Jb = 1,5 db
Spasi min = Jb + db
Tidak












Gambar 9. Bagan Alir Analisis Kolom Pendek Bulat Tulangan Spiral.





Spasi min < spasi tul < Spasi max
Pn max = 0,85[0,85.fc.(Ag-As) + (fy.As)]
B
Pn max Pu Tidak aman
Ac = (/4). Dc
2
y
c
c
g
s
f
f
A
A
'
1 45 , 0
min |
|
.
|

\
|
=

( ) ( )
s D
d
c
s
akt
2
.
4
. 4
t
=





Pn max , ds , s
Tulangan spiral tidak aman
SELESAI
A
akt s min

Tidak
Ya
Ya
Tidak
b. Perancangan Kolom Bulat Sentris





















Gambar 10. Bagan Alir Perangcangan Kolom Pendek Bulat Tulangan Spiral.
MULAI
Pu, fc, fy, , db, ds, sb
] . ) 1 ( ' . 85 , 0 [ 85 , 0
y c
u
perlu
g
f f
P
A
| +
=

4 / t
perlu
g
k
A
D =


Pn beton = 0,85 [0,85 fc (1- ) Ag perlu ]
Pn baja = Pu Pn beton
y
baja n
st
f
P
A
. . 85 , 0
.
|
|
=

( )
2
4 /
b
st
d
A
n
t
=

Dc = Dk 2sb
Ac = (/4) Dc
2
Kc = Dc
( ) ( )
b c b
d n K
n
J .
1
=












Jb 150
Perlu tulangan
pengikat tambahan
y
c
c
g
s
f
f
A
A
'
1 4 , 0
min |
|
.
|

\
|
=

( ) ( )
min
2
4
4 , 0
s c
s
akt
D
d

t
=


akt < 75
s = akt
D, n, db,ds, s
SELESAI
s = 75
Tidak
Ya

Tidak
Ya


c. Perancangan Kolom Bulat Eksentris
























MULAI
D, Pu, fc, , e, db, n, sb, fy, Es, s
b = 0,8 D
b
D
h
2
4
|
.
|

\
|
=
t
d-d = 2/3 (D (2 x s))
2
) ' (
'
d d b
d

=

d = (d-d) + d
y
s
b
f
d h E
C
+

=
600
) ' ( 003 , 0 .

ab = 0,85 . Cb



b
b s
s
C
d C E
f
) ' .( 003 , 0 .
=

)] ( ) ' ( ) ' 85 , 0 [(
y s s s b c ub
f A f A h a f P + =
) ' 5 , 0 ( ) ' 5 , 0 ' ( )) 5 , 0 5 , 0 ( ' 85 , 0 [( d d f A d d f A a b h a f M
y s s s b b c ub
+ =
ub
ub
b
P
M
e =
e
b
< e
18 , 1 ] ) 67 , 0 8 , 0 /( 6 , 9 [
'
0 , 1 ) / 3 (
2
+ +
+
+
=
s
c g
s
y s
n
D h he
f A
D e
f A
P

Pn > Pu
Tidak aman
Pn, ds
SELESAI
Tidak
Gagal tekan
Gagal tarik
Ya
Ya
Tidak
(
(

|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
= 38 , 0
85 , 0
5 , 2
38 , 0
85 , 0
' 85 , 0
2
2
h
e
h
mD
h
e
h f P
s
c n


Di ubah
Gambar 11. Bagan Alir Perancangan Kolom Eksentris Bulat Tulangan Spiral.


d. Perhitungan Pembesaran Momen Kolom Bulat























MULAI
b, h, w
c
, l
u
, f
c
, f
y
, M
u
, M
D
, P
u
,
A
,
B

r = 0,25 h
m = 0,5 (A + B)
m < 2
m
m
k

= 1
20
20

m
k + = 1 9 , 0

Klu/r < 100 Analisis orde 2
Klu/r 22 Kolom pendek
( )
c c c
f w E ' 043 , 0
5 , 1
=

Ig = 1/64 h
4

1 s =
u
D
d
M
M
|

d = 1
u
D
d
M
M
= |

d
g c
I E
EI
| +
=
1
4 , 0

( )
2
2
u
c
kl
EI
P
t
=

Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya












Gambar 12. Bagan Alir Perhitungan Pembesaran Momen Portal Bergoyang.















B
c
u
u
s s
P
P
M
M

=
75 , 0
1
o

Pu: s Ms
SELESAI
B
A
A





4. Flowchart Perencanaan dan Analisis Kolom Bulat dengan Grafik
a. Perencaan Kolom Bulat Eksentris


















MULAI
Pu , Mu, , h, e, fc , fy
( )
b st
d n A .
4
.
t
=

st s s
A A A
2
1
' = =

( )
2
.
4
D A
g
t
=

SELESAI
Tebal penampang segi empat eqivalen = 0,80 h
Lebar penampang segi empat eqivalen =
h
h
80 , 0
4
2
t

P
n
, P
n
, M
r
, P
nb
, M
rb

Menentukan D, n, db, sb
Dengan menggunakan gafik Diagram M-N
Ya
Dc = D (2 . sb)
h
D
h
c
=
|
u
perlu n
P
P =



Gambar 13. Bagan Alir Perancangan Kolom Bulat Eksentris dengan Cara Grafik.


b. Analisis Kolom Bulat Eksentris


















D, n, db, sb, Pu , Mu g , h, e, fc , fy
SELESAI
Tebal penampang segi empat eqivalen = 0,80 h
Lebar penampang segi empat eqivalen =
h
h
80 , 0
4
2
t

P
n
, P
n
, M
r
, P
nb
, M
rb

Dengan menggunakan gafik Diagram M-N
Ya
Dc = D (2 . sb)
h
D
h
c
=
MULAI
|
u
perlu n
P
P =

( )
b st
d n A .
4
.
t
=

st s s
A A A
2
1
' = =

( )
2
.
4
D A
g
t
=


Gambar 14. Bagan Alir Analisis Kolom Bulat Eksentris dengan Cara Grafik.


III
CONTOH PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

A. Contoh Hitungan Kolom berpenampang Persegi
1. Perancangan kolom berpenampang persegi dengan cara hitungan manual biasa dan cara
grafis Interaksi M-N.
Tabel 1. Perancangan kolom berpenampang persegi dengan cara hitungan manual biasa dan
cara grafis Interaksi M-N.
SOAL :

Suatu kolom dengan pengikat sengkang menahan gaya desak aksial P
u
1500 kN, dan
menahan momen 160 kNm, perkiraan penulangan bruto
g
3% dan selimut beton d 70
mm. Beton normal dengan f
c
30 MPa, f
y
400 MPa. Maka rancang dimensi kolom
serta periksalah beban yang boleh bekerja pada penampang kolom tersebut?
CARA HITUNGAN MANUAL BIASA CARA GRAFIS INTERAKSI M-N
PENYELESAIAN :

Hitung gaya aksial dan momen rencana
yang bekerja :

P
u
= 1500 kN

M
u
= 160 kNm

mm
P
M
e
u
u
67 , 106
1500
10 . 160
3
= = =

Menentukan penulangan dan ukuran
kolom
Ditaksir ukuran kolom 400 x 400 dengan

g
3 %
% 3
.
'
= = = =
g
s
d b
A
, masing-masing
sisi 1,5 %
330 . 400
015 , 0
s
A
=
2
1980 330 . 400 . 015 , 0 mm A
s
= =
PENYELESAIAN :

Hitung gaya aksial dan momen
rencana yang bekerja :

P
u
= 1500 kN

M
u
= 160 kNm

mm
P
M
e
u
u
67 , 106
1500
10 . 160
3
= = =

Menentukan penulangan dan ukuran
kolom
Ditaksir ukuran kolom 400 x 400
dengan
g
3 %
% 3
.
'
= = = =
g
s
d b
A
, masing-
masing sisi 1,5 %
330 . 400
015 , 0
s
A
=
2
1980 330 . 400 . 015 , 0 mm A
s
= =
2
1980 ' mm A A
s s
= = , dicoba
29
3 ' D A A
s s
= =
2 2
56 , 1981 29
4
3
mm A
s
= = t
015 , 0
330 . 400
56 , 1981
.
= = =
d b
A
s
akt


Luas tulangan total :
2
12 , 3963 . 2 mm A A
s st
= =

Luas penampang kolom :

2
160000 400 . 400 . mm h b A
g
= = =

Cek apakah eksentrisitas (e) lebih besar
atau lebih kecil daripada eksentrisitas
balance (e
b
) :
d = 400 70 = 330 mm
mm
f
d
C
y
b
198
400 600
330 . 600
600
. 600
=
+
=
+
=

mm C a
b b
3 , 168 198 . 85 , 0 .
1
= = = |

MPa f MPa
C
d C
f
y
b
b
s
400 88 , 387
198
70 198
600
'
600 '
= < =
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=


3
10 ]. . ' '. . . ' . 85 , 0 [ 65 , 0

+ =
y s s s c nb
f A f A ab b f P |
88 , 387 . 56 , 1981 400 . 3 , 168 . 30 . 85 , 0 [ 65 , 0 + =

3
10 ]. 400 . 56 , 1981







2
1980 ' mm A A
s s
= = , dicoba
29
3 ' D A A
s s
= =
2 2
56 , 1981 29
4
3
mm A
s
= = t
015 , 0
330 . 400
56 , 1981
.
= = =
d b
A
s
akt


Luas tulangan total :
2
12 , 3963 . 2 mm A A
s st
= =

Luas penampang kolom :

2
160000 400 . 400 . mm h b A
g
= = =

mm D
c
360 ) 70 . 2 400 ( = =

65 , 0
400
260
= = =
h
D
c
h


0248 , 0
160000
12 , 3963
= = =
g
st
g
A
A

267 , 0
400
67 , 106
= =
h
e







Dengan menggunakan grafis
Interaksi M-N antara
g
= 0,02 dan
0,03. Proyeksi titik potong
g
dengan
garis ( )
y s
f f = pada sumbu tegak
(vertikal) akan didapat :
(Lihat grafik)
41 , 0
. ' . 85 , 0 .
=
g c
u
A f
P


P
nb
= 0,41. (0,65.0,85. 30.

P
nb
= 1100,218 kN

2 1 D D nb
N N M + =
+ |
.
|

\
|
=
2
. . . ' . 85 , 0 . 65 . 0 .[ 65 , 0
b
c nb
a
d ab b f M

6
10 )]. ' .( '. . 65 , 0

d d A f
s s

+ |
.
|

\
|
=
2
3 , 168
330 . 3 , 168 . 400 . 30 . 85 , 0 . 65 , 0 [ 65 , 0

6
10 )]. 70 330 .( 56 , 1981 . 88 , 387 . 65 , 0




= 262,744 kNm

mm
P
M
e
nb
nb
b
81 , 238
218 , 1100
10 . 744 , 262
3
= = =
mm e mm e
b
67 , 106 81 , 238 = > =
Karena e
b
> e, maka keruntuhan kolom
berupa keruntuhan tekan.


Pemeriksaan kekuatan penampang
Persamaan Whitney untuk kolom persegi
gagal tekan menentukan :

( )
18 , 1
3
'
5 , 0
'
'
2
+
+
+

=
d
he
f A
d d
e
f A
P
c g y s
n
( )
18 , 1
330
67 , 106 . 400 . 3
) 30 .( 160000
5 , 0
70 330
67 , 106
) 400 .( 56 , 1981
2
+
+
+

=


= 2908,604 kN > P
n perlu
= 1500 kN
160000).10
-3

P
nb
= 1087,32 kN

Proyeksi titik potong
g
dengan garis
( )
y s
f f = pada sumbu mendatar
(horizontal) akan didapat :
(Lihat grafik)
248 , 0
. ' . 85 , 0 .
=
h
e
x
A f
P
g c
u



M
nb
=0,248.(0,65.0,85. 30.160000).10
-3

M
nb
= 263,078 kNm








Proyeksi titik potong
g
dengan garis
dengan garis |
.
|

\
|
h
e
, kemudian titik
potong tersebut diproyeksikan pada
sumbu tegak (vertikal) akan didapat
:
(Lihat grafik)
72 , 0
. ' . 85 , 0 .
=
g c
u
A f
P





P
n
= 0,72. ( 0,85. 30. 160000).10
-3



P
n
= 2908,604. 0,65 = 1890,59 kN
P
n
= 1890,59 kN > P
u
= 1500 kN
(AMAN)












M
R
= P
n
. e
= (1890,59 x 106,67).10
-3

=201,669 kNm > M
u
= 160 kNm
(AMAN)

Dengan demikian ukuran penampang kolom
tersebut dapat digunakan.

= 2937,6 kN

P
n
= 2937,6 x 0,65
= 1909,44 kN
P
n
= 1909,44 kN > P
u
= 1500 kN
(AMAN)
Proyeksi titik potong
g
dengan garis
|
.
|

\
|
h
e
pada sumbu mendatar
(horizontal) akan didapat :
(Lihat grafik)
19 , 0
. ' . 85 , 0 .
=
h
e
x
A f
P
g c
u



M
R
= P
u
(e) = P
n
(e)

= 0,19.( 0,65. 0,85. 30. 160000.
400).10
-6


M
R
= 201,552 kNm > M
u
= 160 kNm
(AMAN)

Dengan demikian ukuran penampang
kolom tersebut dapat digunakan.