Anda di halaman 1dari 14

Pengalamanku Dengan Pria Beristri Aku punya pengalaman seks dengan pria beristri, yang terjadi sebelum menikah

den gan suamiku sekarang. Saat itu aku belum lama bekerja di kantorku dulu. Sebagai pegawai yang ingin berprestasi, wajar saja jika aku selalu berusaha menunjukkan kinerja yang baik. Aku punya teman satu bagian bernama Mety, orangnya supel dan banyak kenalan. Entah mengapa, kadang-kadang aku iri dalam hati melihat Mety beg itu pandai bergaul, padahal wajahnya terbilang biasa-biasa saja. Malah pernah ku coba membanding-bandingkan foto kami berdua di kamar kosku, rasanya aku masih le bih manis daripada dirinya. Tetapi aku tidak ingin mencemburui dirinya, sebab ku pikir, tokh haknya punya banyak teman. Suatu siang, Mety bilang padaku, "San, aku mau ke kamar kecil bentar. Kalau ada telepon, bilangin aku nggak lama ya?" "Ok, beres," kataku sambil terus mengetik di komputer pekerjaan yang diberikan b osku. Tak lama kemudian, telepon berbunyi. Kudengar suara di balik sana, "Selama t siang! Bisa bicara dengan Mety?" "Maaf, dari mana ini Pak? Mety sedang keluar sebentar," jawabku. "Ada pesan yang bisa disampaikan nanti?" "Ooohh, ini teman Mety ya?" tanyanya lagi, "Saya Anton, teman Mety. Dengan siapa saya bicara?" tanyanya. "Saya Santy, teman seruangan Mety." Begitulah, sambil menunggu Mety datang, Anton temannya itu, mengajakku bicara ma cam-macam. Mula-mula aku tak begitu menanggapi, sebab sedang sibuk dengan pekerj aanku, tetapi karena selalu ada bahan ceritanya yang membuatku tertarik, aku tak berpikir lagi bahwa ia sebenarnya mencari Mety. Apalagi Mety begitu lama pergi. Ada setengah jam Anton bicara sambil meninggalkan nomor telepon dan HP-nya, ia menutup percakapan. Aku cuma iseng-iseng saja mencatat di kertas kecil sambil se dikit heran waktu ia bilang jangan bilang pada Mety kalau ia berikan nomor telep on dan HP-nya padaku. "Met, lu dari mana aja sih? Tadi ada yang nyariin kamu," tukasku begitu Mety mas uk ruangan kami. "Siapa sih San?" balasnya. "Dia hanya bilang, namanya Anton. Mau bicara dengan kamu, tapi karena kamu tak a da, ia tutup teleponnya," kataku lagi. "Wah, sayang bener Santy, padahal dari tadi gue tunggu telepon doi," gumamnya sam bil duduk di sebelahku. "Tahu nggak lu San, Anton itu orangnya gagah deh, tinggi , penampilannya handsome tapi orangnya lembut, pengertian, nggak kasar, cuma say ang . " katanya menggantung kalimatnya hingga membuatku penasaran. "Kenapa sih?" tanyaku sambil menghentikan ketikanku dan menatap wajahnya. "Iya tuh. Tadinya sih aku naksir berat ama dia, tapi sayangnya ia sudah menikah. Aku sempet mikir, andai aku jadi istri mudanya, nggak apa-apa daripada ketemu p ria lajang tapi nggak bisa membahagiakan aku kelak, iya nggak San?" celetuknya l agi. "Wuih, jadi dia sudah nikah ya? Trus kamu udah berapa kali ketemu dia? Pertama k ali ketemu di mana dengannya? Gimana hubungan kamu dengan dia?" cecarku. "Wah, banyak banget sih pertanyaan lu, San?" jawab Mety sambil menambahkan, "Aku kenal dia waktu mencari-cari baju untuk dipake ke ulang tahun kamu bulan lalu. Eh, nggak sengaja ia menyenggol bahuku hingga baju yang sedang kupilih terjatuh.

Tetapi dengan sigap ia mengambilkan baju itu dan memberikannya padaku sambil me minta maaf. Aku cemberut dan tadinya mau marah, tetapi begitu melihat senyumnya yang simpatik, aku malah jadi membalas senyumnya sambil berkata tak apa-apa. Ia kemudian memintaku agar mengijinkannya mentraktir aku makan siang sebagai permoh onan maafnya. Sempat kaget juga aku, apakah setiap perempuan yang ia senggol ia perlakukan begitu?" "Trus gimana, kamu makan ama dia?" desakku lagi. "Tadinya aku mau langsung pulang, tapi karena ia begitu gencar mendesakku, sambi l memohon, akhirnya aku menyerah. Kami pun makan di restoran yang agak mahal bua t ukuran kantongku. Aku terkejut juga melihatnya memilihkan makanan bagi kami." Aku semakin terpana mendengar kisah Mety. "Lalu ia mengantarkanku pulang ke kos dengan mobil sedannya. Tak lupa ia meminta nomor telepon dan HP-ku. Setelah itu, sekali waktu ia pernah memintaku menemani nya makan siang. Aku benar-benar kagum sebab ia sangat paham bagaimana memperlak ukan wanita. Sayangnya ia sudah menikah, kalau tidak, aku benar-benar ingin menj adi istrinya," lanjut Mety sambil matanya menerawang. "Ah, udah deh, jadi mikir yang nggak-nggak, yuk kerja lagi," kataku. Kuperhatikan Mety memencet nomor-nomor tertentu di pesawat telepon. Beberapa kal i mencoba, ia tak berhasil mendapatkan hubungan, "Ah, payah, ngapain sih Anton? Ditelepon, malah nggak ngangkat? HP-nya juga tidak ngejawab," gerutunya. Heranny a aku justru berharap Anton tidak menjawab teleponnya, padahal kenal pun tidak d engan orang itu. Esoknya, menjelang makan siang, Mety pamit duluan sebab janjian dengan teman kam i Anna untuk makan di luar. Begitu ia keluar, telepon dari Anton kembali masuk. Lagi-lagi aku yang menerima dan terlibat dalam percakapan yang cukup lama sepert i kemarin. "Kemarin Mety telepon, koq tidak dijawab?" tanyaku di sela-sela perca kapan telepon kami. "Ah, enakan bicara dengan kamu San. Kayak udah kenal lama, padahal liat muka aja belum. Tahu deh, jodoh kali ya?" kudengar celetuk Anton dari seberang. "Idiiiihh, bisa-bisanya kamu bilang gitu, ntar kubilangin Mety lho, biar dimarah in," kataku bergurau. "Bilangin aja, tapi sure, aku koq rasanya seperti bicara dengan orang yang sudah kukenal lama dan rindu mau jumpa," katanya lagi dengan nada agak merayu. "Ahh, rayuan gombal!" kataku. "Silakan aja kamu bilang gitu, San, tapi aku percaya, dari nada suaramu bisa kut ebak, kamu orangnya pasti punya kepribadian baik, menarik dan tidak sombong," la njutnya. Aku agak tersanjung atas pujiannya, "Wah, salah tuh, justru kebalikannya," jawab ku sambil tertawa kecil. "Oh, mendengar tawamu saja, rasanya lenyaplah rasa lapar dan penatku bekerja sej ak pagi tadi," sambungnya lagi. "Ton, udah dulu deh ya, nggak enak ntar Mety dengerin obrolan kita, bisa berante m ama aku," jawabku agak merajuk agar ia memutus pembicaraan kami, walaupun hati kecilku masih berharap ia bicara lebih lama lagi. "Ok deh, kalau kamu udah bosen bicara denganku, lain kali kita sambung. Bye, San ty manis!" katanya dan kudengar suara klik tanpa meminta persetujuanku. Aku agak

menyesali kata-kataku dan berharap ia menelepon lagi. Esoknya ia tidak menelepon, begitu pula lusanya. Aku merasa ada sesuatu yang tid ak lengkap dalam diriku. Aku sempat uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Siangnya waktu Mety mau keluar makan, ia mengajakku, tetapi kutolak dengan dalih kurang enak badan. Diam-diam kuambil HP-ku dan kusms Anton pada no. yang ia per nah berikan. "Koq tidak nelepon dua hari ini, sibuk ya, Pak?" Singkat saja smsku , walau tak begitu berharap balasannya segera. Tak sampai lima menit kemudian te rdengar suara HP-ku tanda sms masuk, kutoleh ke layar HP, "Sorry Santy, aku dapa t tugas keluar kota. Besok sih sudah pulang. Kamu mau makan malam denganku besok ?" Aku kegirangan mendapat balasannya, lalu kujawab "Banyak duit dong, dapet tug as luar. Bagi-bagi oleh-olehnya ya? Makan malam? Wah, koq nggak siang aja?" jawa bku lewat sms. Beberapa saat berselang, masuk jawabannya "Aku baru tiba pukul 12 dari luar kota, tapi sudah bilang tak ke kantor dulu. Besok kamu kutunggu di Dr agon Restaurant, Jl. Jend. Sudirman." Wah di mana pula tempat yang ia bilang itu ? pikirku agak bingung, maklum aku tak begitu hapal restoran kenamaan di ibukota ini. Kusms dia menanyakan lokasi restoran itu dan jamnya. Dengan sabar ia menja wab smsku. Keesokan harinya aku tak sabaran menanti datangnya saat makan malam atas undanga n Anton. Aku sengaja berpakaian biasa waktu berangkat kerja, tetapi waktu Mety p ulang lebih awal dan meninggalkanku yang masih sibuk di depan monitor komputer, kuganti bajuku dengan gaun malam yang cukup erotis. Entah mengapa aku ingin tamp il mempesona. Padahal orangnya pun aku belum kenal, apalagi jika mengingat ia su dah beristri. Aku tiba di depan restoran yang ia maksud tepat pukul 19. Aku masuk disambut pel ayan yang membukakan pintu sambil bertanya, "Mbak sudah memesan tempat?" Dengan gelagapan aku menjawab, "Be, beelum tapi saya menunggu seorang teman." "Maaf, nama Mbak siapa? Sebab ada tamu yang sudah datang dan berpesan jika ada t emannya datang agar diantarkan ke mejanya," kata si pelayan lagi. "Oh, saya Santy, teman saya namanya Pak Anton," jawabku. "Kalau begitu cocok Mbak, Pak Anton sudah menunggu di sana. Mari saya antarkan," kata si pelayan lagi dengan ramah dan memintaku mengikutinya ke ruang yang agak ke dalam dan di sudut. Kuikuti langkahnya dan kulihat dari jauh, seorang pria s edang duduk sambil melihat-lihat menu makanan yang ada di tangannya. Begitu meny adari kehadiran si pelayan dan aku, pria tersebut bangun dan dengan sikap santun menarik kursi di dekatnya untuk kutempati. "Pak, maaf, ini Mbak Santy yang ditu nggu-tunggu," kata si pelayan. "Yah, terima kasih Dik. Tolong tinggalkan kami se bentar, agar dapat memilih menu makan. Nanti saya panggil ya?" kata pria tersebu t. Sebelum aku duduk, pria itu mengulurkan tangan menyalamiku, "Saya Anton. Dari penampilan kamu yang begitu mempesona, kamu pasti Santy, kan?" tanyanya sambil menatapku dari atas ke bawah tapi dengan pandangan yang tidak kurang ajar. Aku a gak jengah dengan tatapannya, tetapi berusaha menenangkan diri. "Ya, betul Pak, saya Santy," jawabku agak menundukkan kepala. "Lho, kan saya sudah bilang, jangan panggil Pak melulu. Panggil Bang sajalah," k atanya. "Ntar dikira Abang becak lagi?" sambutku sambil bercanda. Ia tersenyum sambil me nyodorkan menu ke tanganku. "Silakan Santy pilih, kita makan apa?" Aku agak bingung membaca beragam nama makanan yang tak begitu kukenal. Rupanya i a memahami kebingunganku, lalu ia berkata tanpa bermaksud mempermalukanku, "Kala u Santy repot, boleh aku mengajukan tawaran?" katanya sambil menyodorkan beberap a pilihan makanan dan minuman. Aku mengangguk dan sesaat kemudian ia memanggil p

elayan dan memberitahukan pesanan kami. Setelah pesanan kami datang, kami pun ma kan sambil sesekali berbincang-bincang. Aku begitu dimanjakan rasanya dengan mak an malam yang begitu lezat. Apalagi hidangan penutup yang dihidangkan, membuat p erutku benar-benar kenyang, maklum biasanya aku tak banyak makan, malah kadang h anya buah-buahan saja. Kadang-kadang aku mencuri pandang memperhatikan wajah Anton. Wajahnya tak begitu tampan, tetapi bibirnya yang tipis dengan rona merah muda, kumis tipis di atas bibir dan tatapan yang begitu lembut, membuatku bak putri yang sedang dimanjakan oleh pangeran. Entahlah, rasanya begitu kuat daya pikatnya, terlebih saat ia me nyanjung atau memujiku. Tidak seperti pujian teman-teman kantor yang kuanggap go mbal. Rasanya setiap ia melontarkan pujian, aku bagai dilambungkan ke angkasa. A ku bahkan sempat berpikir, apakah aku sedang bermimpi atau sadar? Usai makan mal am, ia mengajakku minum di suatu caf, tetapi karena kukatakan sudah agak ngantuk karena kekenyangan, ia tidak memaksa, dan mengantarkanku kembali ke kos. Aku mem intanya mengantarkanku naik taxi tidak persis di depan kos, khawatir ada teman y ang melihatku turun dari mobil diantar seorang pria. Waktu mau turun, ia menggen ggam tangan kananku dan diciumnya punggung tanganku dengan lembut sambil berbisi k, "Santy sayang, terima kasih menemaniku makan malam. Selamat malam, mimpi inda h ya?" "Ya, makasih Bang! Sampai jumpa," balasku sambil turun dari taxi khawatir ia tah u betapa jantungku berdebar lebih kencang akibat ciuman lembutnya pada tanganku. Belum sempat berganti baju di kamar, kudengar sms masuk, kubaca sambil membuka gaun hingga aku hanya mengenakan BH dan celana dalam, "Manis, mimpikan aku ya sa yang! Jangan bosan menemaniku yang haus akan kelembutanmu, sayangku." Wuih, gila bener nich orang, baru pertama kali jumpa sudah bicara sayang lewat sms, pikirk u. Kubalas dengan nada biasa, "Trims juga Bang, jangan salah kamar lho, ingat is tri menanti di rumah," walaupun aku agak iri betapa bahagia istrinya bersuamikan orang seperti dirinya. Belum sempat kulepaskan pakaian dalamku untuk berganti d engan gaun tidur, masuk lagi smsnya, "Ah, kamu bisa aja menggodaku. Walau tubuhk u milik istriku, hatiku sudah kau curi, sayang!" Aku agak terpana membaca smsnya . Kurebahkan tubuhku di ranjang setelah berganti celana dalam dan mengenakan gau n tidur tanpa BH, sambil mengetik jawaban sms pada HP-ku, "Koq cepet banget sih nuduh aku sebagai pencuri? Emang kapan kuambil hatimu, Bang?" "Entahlah sayang, tapi saat tatapan pertama di restoran tadi, hatiku sudah tercabut dari tempatnya . Tengoklah, mungkin sekarang ada di dalam hatimu?" perasaanku berbunga-bunga me mbaca smsnya. Tanpa sadar, sambil tangan kananku mengetik jawaban smsnya, tangan kiriku mengelus-elus payudaraku sendiri sambil membayangkan jari-jarinyalah yan g melakukan hal itu. "Abang bisa aja merayu. Udah deh, lekas istirahat biar beso k segar." Sms terakhirnya malam itu menjawab, "Baiklah dindaku, kuturuti pesanmu sambil membawamu dalam dekapku. Mimpikanlah daku di sisimu sayang!" Aku tidak membalas lagi, khawatir ia takkan henti-hentinya mengirim sms padaku. Mataku setengah terpejam kala HP kulepaskan dari tangan kananku sedang tangan ki riku memberikan nuansa tersendiri kala jari-jariku tidak hanya mengelus payudara ku dari luar gaun tidur, tetapi kini memuntir-muntir putingku. Aku merasakan ses uatu yang hangat menjalari wajahku dan aliran darahku terasa semakin deras menga liri tubuhku. Tangan kananku ikut membantu tangan kiriku mengelus-elus pahaku da n entah dorongan dari mana, jari-jariku mencari-cari sesuatu di pangkal pahaku. Aku merasa memekku semakin basah saat jari-jariku mengusap-usap lembut celah-cel ah pahaku dan saat bibir memekku tersentuh oleh jari-jariku, aku mendesah sendir i, "Ssshhh .. aaahhh " Itilku terasa ingin disentuh, hingga aku tak kuasa menahan jari-jariku untuk menyentuh kelentitku yang sebesar biji kacang hijau, kutekan l embut sambil mengerang, "Oooohhhhh " Rasa nikmat semakin melanda tubuhku. Kedua p ayudaraku bahkan kuremas-remas sambil jari-jariku bermain semakin intensif di ce lah-celah memekku dan menekan itilku yang semakin tegang. Meskipun aku pernah me lakukan ML dengan pacar-pacarku dulu, tapi aku sendiri tak tega memasukkan jarijari ke dalam memekku, paling-paling hanya menggosok itilku sendiri jika lagi ta k kuasa menahan nafsu dan terpaksa "swalayan." Telapak tanganku kupakai untuk me ngusap-usap memek dan itilku dengan cepat sambil jari-jariku meremas kedua buah

dadaku dan putingnya yang tegang. Kucoba memeras buah dadaku agar putingku bisa kujilat dengan lidahku, tetapi aku hanya berhasil menjilati ujungnya saja dan ti dak bisa memasukkan putingku ke dalam mulutku seperti yang pernah kulihat dilaku kan seorang perempuan bule yang juga melakukan onani. Rintihanku terdengar agak kuat waktu aku mencapai puncak kenikmatan. Untungnya kamarku terletak di lantai dua dan agak di belakang, sehingga tak perlu khawatir ada yang mendengar rintiha nku. Aku merasa memekku begitu basah apalagi herannya aku bisa mengeluarkan cair an yang cukup banyak kalau onani sendirian, padahal kalau main dengan pacarku du lu, sangat jarang memekku mengeluarkan cairan yang banyak. Kata orang itu kelebi han yang tidak dimiliki semua wanita, sebab ada yang bisa mengeluarkan cairan va gina dan air seni sekaligus saat orgasme; padahal wanita lain pada umumnya hanya mengeluarkan cairan vagina yang sering malah dikatakan air mani perempuan. Cepa t-cepat kulepaskan gaunku dan setelah kuganti sprey yang ditetesi cairanku denga n yang baru, kuganti gaunku. Namun karena merasa gerah, aku memutuskan untuk tid ur bertelanjang dengan hanya ditutupi selimut. Aku pun tertidur setelah menikmat i kepuasan oleh jari-jariku sendiri. Malam itu aku bermimpi tidur bersama Anton. Pagi hari aku terbangun sambil menyesali rupanya itu hanya mimpi. Sprey di bawa hku dalam keadaan acak-acakan. Aku pun mandi dan bersiap-siap berangkat kerja. Paginya aku bersikap biasa saja di kantor, walaupun Mety sempat menggodaku denga n berkata, "Keliatannya kamu koq lain, Santy. Kayak orang sedang kasmaran? Kamu dapet pacar baru ya? Atau pacar kamu yang terakhir udah balik lagi?" "Ah, nggak Met, kamu aja yang salah liat, biasa aja koq," kataku sambil mengambi l pekerjaan dan menyibukkan diri agar tidak dicecarnya terus dengan pertanyaan y ang tidak-tidak. Siangnya sms Anton masuk, "Aku rindu kamu, sayang. Sedang sibuk ya?" Kujawab den gan singkat, "Nggak sibuk koq, tapi lagi ada Mety nih, nggak enak ntar." "Ok say ang, ntar kusms lagi kalau ia keluar, kamu kasih sms ntar ya?" katanya lagi. Sia ngnya kami kembali saling berkirim sms, tetapi ia tidak bisa mengajakku makan si ang atau makan malam, sebab ada rapat yang menyita waktu di kantornya. Begitulah, sejak makan malam itu, kami beberapa kali bertemu makan malam atau ma kan siang, tetapi semuanya tanpa sepengetahuan Mety. Anehnya, sekalipun Anton ti dak pernah berusaha mencium bibirku, paling-paling ia hanya mencium punggung tan ganku atau mencium lembut pipiku atau keningku. Aku kadang heran, apakah ia bena r-benar cinta padaku atau hanya menganggapku sebagai adiknya. Suatu pagi Anton mengirim sms padaku, "San, maukah menemaniku bermalam minggu di suatu tempat?" Aku terperanjat membaca smsnya, sebab bisa kuduga arahnya. Wah, berarti ia punya maksud tertentu terhadapku, pikirku. Selama ini, aku begitu ter pesona akan perhatian dan kebaikannya selama ini, sehingga rasa cintaku telah tu mbuh pelan-pelan walaupun sadar hal itu terlarang karena ia sudah punya istri. A ku agak ngeri atas ajakannya, tetapi entah mengapa timbul rasa penasaran ingin m emenuhi permintaannya. Kujawab smsnya, "Bang, jangan nginap deh, tapi jalan-jalan aja ya?" "Yah sudah, kalau nggak mau juga nggak apa-apa koq," smsnya bernada merajuk. Wah, kalau udah ngambek, susah menghibur orang ini, pikirku, lalu kusms, "Ok deh Bang, kuturuti ke suatu tempat, tapi tetap nggak usah nginap, ntar orang-orang di kosku curiga." Agak lama tak ada jawabannya, hingga kusms lagi, "Abang marah ya? Santy minta ma af deh. Kita pergi yuk, tapi jangan nginap ya sayang?" Sepuluh menit kemudian ma suk jawabannya. "Baik say, sejam lagi kita jumpa di dekat lampu merah Jalan Prok lamasi ya, ntar kujemput di situ." Aku mengenakan pakaian ringkas, celana panjan g jeans, hem lengan panjang, di bagian dalam kupakai BH dan celana dalam berenda . Aku menuju tempat yang ia katakan dan begitu mobilnya tiba di dekatku, aku nai

k dan duduk di sebelahnya. "Ke mana kita, Bang?" "Ck, ck, ck, bidadariku cantik sekali nich. Mau kemanakah gerangan?" tanyanya ta npa menjawab pertanyaanku. Kucubit lengan kirinya yang memegang kemudi hingga ia mengaduh, "Iiiihhh, bukann ya ngejawab, malah ngegoda lagi?" "Aduh, habislah tanganku biru semua ntar," keluhnya bergurau sambil melanjutkan, "Maunya ke mana kita?" "Lho, yang ngajak jalan siapa?" elakku. "Bagaimana kalau kita ke Puncak?" tawarnya sambil menatap wajahku. "Wuihh, jauh amat, nggak ada yang lebih jauh lagi tuh?" godaku. "Ada, ke Pelabuhan Ratu yuk?" balasnya lagi. "Ah, tambah jauh malah. Kalau nggak macet, yah ke Puncak aja deh," kataku sambil mengambil kaset dan memasang pada tape. Ia setuju dan kami pun menuju Puncak. D i suatu pertigaan ia mengambil jalan masuk ke kanan dan setelah melalui jalan be raspal yang agak kecil sekitar satu kilometer, mobil yang kami tumpangi menjelaj ahi jalanan agak berbatu sekitar enam ratus meter. "Nggak salah jalan nih Bang? Koq masuk pelosok gini?" kataku sambil mendekatkan badan ke arahnya, agak ngeri juga melihat jalanan semakin sepi dari kendaraan. "Tenang sayang, percayalah, ab ang takkan mengajakmu ke jurang," candanya. Benar saja, setelah melalui beberapa kelokan, kendaraan kami tiba di suatu villa. Uniknya sudah ada seorang pelayan yang agak tua menyambut kedatangan kami. "Mari Pak, Bu, silakan masuk." Anton menggandeng tanganku dan mengajak masuk sambil meminta pelayan membawa tas Anton di bagasi mobil. Kami masuk dan kulihat sudah ada hidangan makan siang di atas meja di tikar. Harum makanan begitu nikmat setelah perjalanan yang cukup m elelahkan. Kami duduk lesehan dan menikmati makanan tersebut. Sang pelayan kemud ian meminta diri untuk pamit sambil berkata, nanti sore ia akan datang lagi. Aku agak ngeri mengetahui kenyataan bahwa hanya tinggal aku dan Anton di villa itu, "Bang, aku ngeri, koq sepi banget?" kataku sambil memegangi lengan Anton. "Ngga k usah takut sayang, kalau ada perlu, bapak tadi bisa dipanggil dengan mudah dan cepat, sebab ia punya handphone dan rumahnya dekat villa ini." Usai makan, Anto n masuk kamar mandi dan kudengar suara air gemercik, agaknya ia mandi. Tak berap a lama ia keluar dan menawarkanku mandi, tapi kujawab agak kedinginan sehingga t ak berani mandi. Kami berdua duduk-duduk di ruang tamu sambil menikmati sejuknya udara. Setengah jam kemudian terasa hawa dingin mulai menusuk, lalu Anton menut up pintu dan jendela sambil berkata padaku, "Yuk, ke kamar aja, dingin " Kuikuti ia masuk ke kamar. Kamar tidur itu tampak bersih walaupun kecil. Anton merebahka n tubuh di ranjang sambil memencet tombol TV dan mencari channel tertentu. Aku d uduk di sisinya sambil bersandar pada dipan. Diraihnya jari-jariku dan diremasny a lembut sambil berbisik, "Boleh kan, San?" Aku tidak menjawab kecuali tersenyum dan mengangguk. Aku merasa nyaman dengan genggaman dan elusannya. Apalagi ketika ia raih bahuku dan membaringkanku di sampingnya sambil menciumi pipiku. Kemudian bibirnya berge rak ke arah belakang telingaku membuatku mendesah kegelian. Daun telingaku ia ci umi dan jilat lembut membuatku menggelinjang tanpa sadar. "Aaahhh" Aku paling tak tahan jika bagian tersebut diciumi, biasanya otakku langsung mengirim sinyal ke bagian bawahku yang kemudian akan basah tanpa dapat dicegah lagi. Rambut-rambut halus di dekat telingaku ia tiup perlahan sambil bibirnya terus menjelajahi pip iku. Aku tak kuasa menahan diri diperlakukan begitu sabar olehnya, bibirku seten gah terbuka seolah menantikan kuluman bibirnya dengan mata terpejam. Kutunggu ta k juga kunjung tiba bibirnya pada bibirku hingga aku kembali penasaran, apa yang sesungguhnya diinginkan pria ini dariku? Waktu kucoba membuka mata ingin meliha

t wajahnya, tiba-tiba kurasa bibirnya mencium kelopak mataku, turun ke hidungku dan dengan lembut hinggap pada bibirku. Pagutannya yang lembut membuatku seakan terbang, apalagi ketika lidahnya terjulur mengait-ngait lembut lidahku dan masuk ke rongga mulutku. Bibirku membalas ciumannya dengan ganas bagaikan musafir bar u menemukan oase. Aku tak segan-segan lagi membalas ciumannya, bahkan lidahku pu n berusaha membalas serangan lidahnya dengan masuk ke dalam mulutnya. Bibirnya m engisap lidahku hingga membuat aliran darahku semakin derasa mengalir. Jari-jari Anton yang tadi meremas-remas jari-jariku, kini bergerak dengan lembut menaiki lenganku hingga bahuku tak luput dari sentuhannya. Perlahan-lahan jarin ya mengelus-elus ketiakku membuatku mendesah, "Ssshhh . aahhhh . " Lalu jari-jarin ya yang lain membelai-belai bajuku pada bagian dada hingga kurasakan buah dadaku seakan-akan mau meledak karena gejolak nafsu yang semakin tinggi. Dibukainya de ngan sabar kancing bajuku sehingga membuatku benar-benar nyaman atas perlakuanny a. Setelah semua kancing bajuku terbuka, ia turunkan pelan-pelan bajuku sambil m enciumi leher dagu dan leherku. Aku menggeliat kegelian. Agaknya ia tahu benar b agaimana memperlakukan wanita dengan lembut dan tidak tergesa-gesa menuju sasara nnya. Sambil menciumi leherku, jarinya kembali bermain di buah dadaku dan entah kapan, BH-ku telah berhasil ia lepaskan kaitannya hingga kedua buah dadaku mengg antung indah dalam genggaman kedua tangannya. Ia usap-usap buah dadaku dengan se luruh jarinya, lalu putingnya dengan satu dua jari kemudian meremas buah dadaku yang kenyal sambil mengarahkan bibirnya mengisap putingku. "Ssshshh, Bang, aaaah hhhh " "Kenapa sayang? Kamu kesakitan?" tanyanya seolah-olah prihatin. "Nggak Bang, aaahhhhh .. sssshhh . Eeennnnaaakkk .. yaaahh terusinnn . ooohhh," desa hku sambil meremas-remas rambutnya dan mendesak kepalanya agar lebih kuat meneka n dadaku. Putingku dimainkannya dengan lembut dalam mulutnya sambil lidahnya men ggelitiki sekujur putingku. Perasaan aneh dan liar semakin memenuhi rongga dadak u, sehingga aliran darahku seolah-olah akan meledak. Kepalaku tak mampu lagi ber pikir jernih dan tak peduli bahwa pria yang kini bersamaku adalah suami wanita l ain. Yang ada di kepalaku saat itu, hanyalah bagaimana menuntaskan sesuatu yang mendesak dalam diriku dengan mendaki puncak kenikmatan bersama Anton. "Buah dadamu indah sekali sayang?" bisik Anton sambil mengulum putingku dan mere mas-remas buah dadaku yang sekal. Rayuannya membuatku semakin meremang dan merin tih. Lidahnya terus bermain dan sesekali melakukan aktivitas mandi kucing pada p erut dan sekujur dadaku hingga leherku. Heran, aku tak merasa jijik walaupun ter asa semua bagian yang dilalui lidah dan bibirnya sudah basah oleh air ludahnya. Malah aku geram karena ia begitu sabar memperlakukanku padahal memekku kurasa su dah basah dan gatal ingin disentuh dan diremas, tetapi aku tak berani memintanya melakukan sesuatu. Rasa penasaran ingin tahu apa lagi langkah berikut yang akan ia lakukan membuat kepalaku pening dan tubuhku seakan-akan melayang-layang. Kin i lidahnya memainkan pusarku sambil jari-jarinya mengusap-usap rambut kemaluanku yang kucukur rapi. "Ohh, indah sekali memekmu sayang? Jembutmu kau pelihara dengan baik," pujinya s ambil mengelus-elus rambut kemaluanku. Jari-jarinya tidak langsung tertuju pada itil dan memekku, tetapi justru bermain di celah-celah pahaku dan jembutku. Mung kin pujian dan sanjungannya atas tubuhku yang membuat perasaanku semakin terbang . Tak tahan lagi, kuremas rambutnya dan kutekan belakang kepalanya hingga bibirn ya terbenam ke permukaan memekku. Aku terpekik waktu merasakan lidahnya langsung melakukan gerakan menjilati celah-celah memekku dan melakukan jilatan ke arah a tas, hingga itilku yang telah amat tegang juga mendapatkan sentuhan yang luar bi asa. "Anttooooonnnn .. aaahhhh " tak lagi kupanggil abang, tetapi namanya kusebut. "Ahhhh .. uuuhhhhh ssshhhh .. oooookkhhhh . " rintihanku semakin kuat dan aku tak pe duli lagi apakah ada orang lain yang mendengarkannya atau tidak, sebab yang ada

di kepalaku hanyalah bagaimana agar kemesraan itu dapat kami nikmati dengan tena ng dan damai. Belitan dan tusukan lidahnya pada itilku begitu dahsyat hingga aku mengerang-erang, "Ooooouuggghh ssshhh aaahhh . Annttonnn . oooohhhh . eeehhhhh mmm pppffff .. ooooohhhh . " Aku sudah tak sabar lagi menantikan kontolnya segera mema suki memekku yang sudah luar biasa gatal, tapi Anton benar-benar sabar memperlak ukanku. Ia pasti tahu dari geliat pinggul dan pantatku, memekku sudah siap dijej ali oleh kontolnya, tetapi ia tidak mau bertindak tergesa-gesa. Dijilatinya kemb ali memekku hingga anusku yang kurasakan kembang kempis menahan nafsu. Permainan lidahnya pada pahaku diselingi gigitan mesra yang membuatku merintih-rintih. Su araku serasa serak akibat nafsu yang sudah menguasai diriku. Kakiku menendang-ne ndang seakan-akan tak menyetujui perbuatannya merangsang diriku, tetapi ia pasti tahu, bahwa sebenarnya aku menginginkan sesuatu yang lebih daripada ciuman dan elusannya. Anton menghentikan aktivitasnya dan membiarkanku terkapar sambil menggeliat-geli at. Aku penasaran dan membuka mata, "Lho, koq brenti sayang?" desahku. Anton tidak menjawab melainkan membaringkan tubuhnya yang entah kapan sudah ia t elanjangi, di sampingku dengan posisi berlawanan, lalu meletakkan kepalaku pada sebelah pahanya, sedangkan kepalanya ia letakkan menindih sebelah pahaku, kami s aling berhadapan dengan posisi miring. Aku mengerti maksudnya saat memek dan iti lku kembali ia sentuh dengan bibir dan lidahnya. Kuamati kontolnya yang tidak be gitu besar, tetapi kurasa pasti sesak jika masuk dalam memekku. Kudekatkan bibir ku pada kontolnya dan kugunakan ujung lidahku menusuk lubang kencingnya. Kuperha tikan kepala kontolnya mengembang saat itu kulakukan. Beberapa kali kubuat demik ian seolah-olah membalas kelakuannya tadi terhadap itil dan memekku. Setelah itu , kepala kontolnya kukulum sambil kugunakan lidahku menjilati dan menggelitiki l eher kontolnya. Ia menggelinjang-gelinjang kuperlakukan demikian. Apalagi ketika kudorong tubuhnya agar berbaring, lalu aku menindih tubuhnya masih tetap dengan posisi 69. Ah, inilah salah satu posisi yang sangat kugemari. Kini mulutku dengan bebasnya memainkan kontolnya yang telah begitu tegang. Kulum at kontolnya dengan mesra sambil menjilati sekujur batangnya yang menonjol denga n urat-urat yang waktu kusentuh dengan lidahku membuat sel-sel tubuhku seakan me ngembang. Meskipun kumasuk-keluarkan kontolnya dengan intensif dan kuselingin de ngan berbagai irama, kadang lembut dan perlahan, lain kali ganas dan cepat, tapi heran, ia begitu tangguh untuk tidak menyemprotkan spermanya. Padahal aku begit u ingin menelan spermanya saking gemasnya diperlakukan begitu sabar olehnya. Isa pan bibir dan lidahnya pada memek dan itilku semakin ganas, membuat pori-pori di sekujur tubuhku mengembang sedemikian rupa, rasa-rasanya aku seperti melayang d an kurasakan cairan memekku mengalir semakin deras membasahi dindingnya. Aku ter hempas dan terguncang oleh lilitan lidah dan kuluman bibirnya, apalagi jari-jari nya ikut bermain meremas buah dadaku dan memelintir putingku. Dengan suatu rintihan kuat, kutekan kuat-kuat memekku hingga hidungnya terbenam ke dalam liang kenikmatanku, "Ooooooooouuuggghhhh aaaaahhhhhh . oooohhh " Kurasa be tapa banyak cairanku keluar dibarengi air seniku, seperti biasanya. Kucoba menga ngkat pinggulku agar Anton tidak merasa terpaksa menjilati juga air seniku, teta pi ia justru menahan pinggangku dan meskipun wajahnya jadi basah kuyup, lidah da n bibirnya dengan rakusnya menjilati setiap tetesan yang keluar dari memekku. Ti ngkah lakunya makin membuatku merintih sebab rasanya tak ada semili pun bagian l iang memekku dan klitorisku yang luput dari jilatan dan sedotannya. Ku merintih dan menjerit saking nikmatnya hingga tanpa sadar kujambak rambutnya dan kutekan pundaknya kuat-kuat. Aku terbaring lemas, serasa tak bertenaga karena habis mendaki. Ia menatapku sam bil tersenyum, "Gimana yang? Nikmat kan?" Aku hanya balas tersenyum tanpa berkat a apa-apa. Ia membaringkan tubuhnya di sisiku dan membelai-belai buah dadaku yan g terasa masih amat sensitif akibat luapan birahi yang barusan melanda diriku, h ingga aku menggeliat geli, "Aaahhh, ntar dulu Bang .. aku geli ookhhh." Ia menuru

nkan jari-jarinya tidak lagi bermain di dadaku tetapi mengusap-usap perut dan pi nggangku. Sentuhannya begitu lembut membuatku memejamkan mata sambil meredakan n apas yang sempat tak beraturan. Rasa nyaman memenuhi diriku, tetapi akibat elusa n ujung jari-jarinya dan terkadang punggung tangannya ia pakai melakukan sentuha n, membuat napasku kembali bergelora. Perasaanku amat penasaran ingin membalas p erbuatannya padaku. Kudesak ia berbaring lalu dengan cepat kedua kakinya kutarik hingga berjuntai me nyentuh lantai, lalu aku berlutut di antara kedua pahanya, sambil menarik-narik jembutnya yang lebat, kuembus napasku di celah-celah pahanya. Ia mendesah, terut ama waktu lidahku mulai menciumi dan menjilati pahanya. Kontolnya tidak langsung kusentuh, karena ingin membalas dendam. Kuarahkan lidah dan bibirku ke kedua bo la di bawah kontolnya. Kujilati dan kubasahi dengan ludahku, setelah itu kumasuk kan satu persatu ke dalam mulutku sambil melakukan isapan lembut. Aku tahu jika kuisap kuat-kuat, ia pasti kesakitan. Ia mengerang kuperlakukan begitu. Sesekali pahanya kugigiti lembut dengan gigi depanku membuat pantatnya terangkat dan tan pa rasa jijik, kuarahkan lidahku ke anusnya yang kulihat mpot-mpotan. Jari-jarik u mengulas-ulas lubangnya dan kuambil ludahku untuk memuluskan jariku masuk. Ia makin mengerang dan menggeliat-geliatkan pinggulnya. Kumasukkan jari telunjuk ka nanku pelan-pelan ke liang anusnya. Ia mengangkat tinggi-tinggi pinggangnya, sea kan-akan tak sabar lagi meminta kontolnya kucium dan kujilati. Tapi sambil menci umi pahanya, aku hanya memainkan testis dan analnya. Ia mengerang, "San, jangan siksa Abang dong sayang?" rintihnya. Puas memainkan dirinya, kutusukkan lidahku tiba-tiba pada lubang pipisnya lalu melakukan gerakan menjilat di situ, sekujur kepala kontolnya yang bak topi baju kujilati. Setelah beberapa menit, barulah ku isap kepala kontolnya sambil terus memainkan lidahku di seputar kepala kontolnya dan lubang pipisnya. Jari-jariku masih terus bermain di analnya. Geliatnya sema kin kuat dan ia terduduk lalu menarik lenganku ke atas, sambil berkata, "Udah do ng, kamu jahat! Ayo naik!" perintahnya. Aku naik ke atas kasur dan dengan suatu gerakan tak terduga, ia merebahkanku sam bil berlutut di antara kedua pahaku. Didekatkannya kontolnya ke memekku yang mas ih basah dan ia gerak-gerakkan kepalanya menggosok kelentitku yang kembali tegan g. Aku mendesah mendapatkan serangan balik darinya. Agak lama ia lakukan hal itu sambil meraba-raba perut dan pahaku dengan jari-jarinya. Aku merintih merasakan gelora kenikmatan kembali naik di kepalaku. Celah-celah memekku tak luput dari elusan kepala kontolnya yang ia gerakkan dari atas ke bawah, kadang-kadang malah menyentuh lubang analku. Aku menggelinjang-gelinjang, tak sabar lagi rasanya in gin merasakan hunjaman kontolnya yang begitu tegang. Kuelus-elus kontolnya dan k upegang pangkalnya. Ia mengerang kala kulakukan hal itu, dan tak menolak ketika kedua pahanya kupegangi agar semakin merapatkan dirinya ke tubuhku. Denyutan pad a dinding memekku kurasa semakin cepat dan cairanku semakin membanjir di dalam. Rasa gatal bercampur gemas ingin ditusuk benda tumpul terasa begitu kuat memenuh i memekku. Aku begitu marah karena ia masih terus bermain, "Anton, gila kamu, ay o dong, aku nggak kuat lagi nihhh Ohhhhh . sshshhhhh. Kamu kejam! Kamu jahat tahu! " mulutku tanpa sadar memakinya. Ia hanya tersenyum dan memainkan kontolnya sambil menatap wajahku lekat-lekat. A ku seakan terpesona melihatnya, mataku merem melek, dan aliran darahku semakin k uat mengalir. Dengan suatu sentakan ganas, Anton melesakkan kontolnya ke dalam l iang memekku yang telah berdenyut-denyut hingga aku memekik tanpa dapat kutahan, "Aaaauuuuwwwww. aaaakkkhhhh . oooouggggghhh . Antonnnn .." rintihku menyambut geraka n tubuhnya. Kutekankan pinggulku kuat-kuat ke arah pahanya hingga kurasa kontoln ya seolah-olah bakal menembus rahimku. Usai ia masukkan, ia diam dan melihat rea ksiku yang memejamkan mata. Aku penasaran, apa lagi yang ia lakukan, pikirku. Be gitu kubuka kedua mataku, ia menarik kontolnya keluar, dan sebelum aku sempat be rpikir, dengan tiba-tiba ia masukkan kembali hingga sebatas lehernya. Aku merint ih diperlakukan begitu. Rasanya tak lama lagi aku bakal orgasme dibuatnya. Tapi aku tak mau menyerah begitu saja, kugerakkan pinggul dan pantatku dengan arah me mutar, kadang ke kanan kadang ke kiri, membuat kontolnya mengalami pilinan liang

memekku. Ia yang merintih kini. Setelah itu, kugunakan kedua pahaku menjepit pi nggangnya dengan kuat sambil menekan memekku ke arah kontolnya. Ia makin mengera ng dan menimpaku sambil menciumi bibir dan meremas buah dadaku. Gerakannya semak in cepat memasukkan dan mengeluarkan kontolnya ke liang memekku. Keringat bercuc uran di tubuh kami, padahal udara di luar begitu dingin. Peluhku ia jilati tanpa rasa jijik hingga membuatku semakin terangsang, sebab ia tampak sangat mengingi nkan dan menghargai seluruh bagian tubuhku. Lalu ia berbisik, "Say, kita ganti posisi ya?" Ia miringkan tubuhku lalu sambil berlutut di dekat pantatku, ia masukkan kontolnya pada liang senggamaku. Kedua b elah pahaku mula-mula berhimpitan, tetapi beberapa saat kemudian, ia angkat paha ku sebelah kanan dan diletakkannya di atas paha kanannya, lalu ia masukkan kemba li kontolnya masuk keluar kemaluanku. "Ahhh .. sssshhh .. eeehhhhh .. ooohhh " nikmat nya sampai ke ubun-ubun. Sebelah tangannya mengelus-elus paha dan pantatku sambi l jari-jari tangan kanannya mengelus permukaan memekku. Tak jarang kelentitku ia sentuh dan sesekali dijepitnya dengan jari-jarinya, membuatku tambah meronta-ro nta, tapi apalah dayaku dalam jepitan tubuhnya yang membuatku tak bisa berkutik sama sekali. Setelah melakukan genjotan beberapa waktu, kembali ia memintaku mengikuti kehend aknya untuk berganti posisi. Heran juga begitu kuat ia menahan diri. Aku tidak m enjawab dan ikut saja waktu ia balikkan tubuhku menungging dan ia menyetubuhiku dengan posisi doggy style. Desakan kontolnya dari belakang membuatku kembali mer intih apalagi terasa betapa kontolnya memberikan tekanan kuat bukan hanya pada l iang memekku, tetapi juga pada kelentitku. Kedua tanganku menahan kuatnya hentak an tubuhnya saat kontolnya menembus masuk ke dalam liang surgawiku. Kadang-kadan g kurasa geli saat ia menarik kontolnya keluar lalu memasukkannya lagi. Beberapa kali ia hanya memasukkan separuh kontolnya, hingga aku penasaran dan menoleh ke belakang. Rupanya ia sengaja membuatku belingsatan dan sesaat kemudian ia masuk kan lebih dalam hingga rasanya ujung kontolnya menusuk hingga dasar memekku yang terdalam. Desakannya semakin kuat sambil memegangi kedua pinggulku. Kedua pahan ya berada di sisi pahaku yang bertumpu pada kedua lututku. Kumainkan dinding mem ekku dengan gerakan-gerakan erotis, seperti menahan kencing, hingga kontolnya se akan-akan dipijat oleh memekku. Untungnya aku pernah ikut senam seks dan body la nguage, sehingga jika jurus ini kumainkan, lawan mainku pasti akan kewalahan. Ia mengerang waktu otot-otot kemaluanku melakukan remasan demi remasan pada kontol nya. Apalagi saat ia menarik mundur kontolnya, seakan-akan memekku tak mengijink annya, hingga jepitannya membuat kontolnya susah bergerak mundur. Ia melenguh da n ikut merintih mengimbangi desahan dan rintihanku. Pantatku sesekali kumaju-mun durkan mengimbangi gerakan maju mundur kontolnya hingga ia benar-benar merasa ni kmat melihat permainannya dapat kuimbangi dengan baik. Ia berbisik sambil terus melakukan gerakan maju mundur. "San, enak banget memekm u ada mpot ayamnya . Kontolku serasa diremas-remas . oooohhh .." erangnya sambil m emegangi pinggul dan pantatku bergantian. Aku tersenyum dan menoleh melihat waja hnya yang berkeringat, "Emang cuma kamu yang bisa bikin aku horny? Sekarang rasa in bagaimana permainanku .." Lama-lama aku tak tahan lagi dengan posisi menahan tubuh dengan kedua tangan, ku rebahkan tubuh di ranjang sambil terus merintih menikmati tusukan mautnya. Tak b erapa lama, tubuhnya meniarap di atas punggungku dengan kedua lututnya menyangga tubuhnya tepat menjepit kedua pahaku. Bibirnya membelai dan mengisap pundakku, rasanya aku semakin melayang sebab jika bagian leher dan pundakku diciumi, aku s emakin cepat orgasme. Digigitnya pelan pundakku hingga aku mengerang. Kontolnya terus merangsek memekku dengan irama yang beraturan dan bunyi yang khas, "Bless sleeepp blesss . sleeeepppp blesss sleeeppp ." Nikmat sekali rasanya. Kedua tangan nya mencari kedua buah dadaku, membuatku tanpa sadar mengangkat tubuhku pada bag ian dada agar tangannya dapat masuk. Dengan tubuh sedikit diangkat pada bagian d ada, remasan tangannya pada buah dadaku bisa intensif menambah rangsangan. Ah, i a benar-benar paham bagaimana memuaskan lawan mainnya, aku merintih dan merintih , "Aaaaahhh . Anttoooonnn, oooohhh .. sssshhh .. aaawwww ." Putingku tak luput dari

jamahan jari-jarinya. Mulutku semakin kuat meracau, "Ahhhh ooohhhh . nikmaatttt a aakkhhh .." Kedua mataku merem melek dan sesekali kugigit bibir bawahku menahan nikmat tak t erperikan. Kedua kakiku mencoba menendang ke sana ke mari, tetapi tak kuasa mela wan himpitan pahanya yang telah mengunci paha dan pinggulku. Kucoba mengangkangk an lebih lebar pahaku, ia ikuti keinginanku sambil terus melakukan gerak menusuk dan mencabut. Selanjutnya, jari-jari tangan kanannya masuk dari sebelah paha kananku dan menca ri-cari kelentitku. Aku tambah naik birahi karenanya. Aku semakin tak tahan, ras anya tak lama lagi aku bakal orgasme. Apalagi kini ibu jari tangan kirinya kuras akan masuk pelan-pelan ke dalam anusku membuat jarinya terjepit dalam denyutan l iang anusku. Aku merasakan nikmat yang tak terhingga, seakan-akan tubuhku melaya ng terbang tak memijak bumi, sebab kedua lubangku di bawah mendapatkan teman yan g mampu merangsangku hingga pekikanku memenuhi kamar itu, "Ahhh, uuhhh . aaakkhhh h hhhhmmmm . ssssshhhh . aaahhhh . aahhh .." "San, aaaakkkhhh . kamu hebat sekali .. tak kenal capek Kuat banget mengimbangi perm ainanku .. aaahhhh .. nggggg" geramnya sambil terus memompakan kontolnya ke dalam mem ekku.

"Yaahhhh .. kamu juga ganas banget sayang kamu kayak kuda llliaaarrr.. ahhhhhh .. ko ntollll .. mu .. oooohhhhhh ssssshhhhh .. enakkkk sekaliii sayangggggg " rintihku sa l menggelepar-gelepar. Berbagai rasa nikmat menjalari tubuhku. Kecupan dan gigitan lembutnya pada punda kku, remasan jari-jarinya pada payudara dan putingku, himpitan pahanya pada pant atku yang bahenol, kerasnya kontolnya menembus liang kenikmatanku. Perasaan itu membuatku makin melambung. Kami berdua mendayung semakin kuat hingga suatu ketik a kembali kurasakan aliran darahku di bagian bawah seolah-olah terpompa begitu d ahsyat. "Ahhhh, Bangggg . aku mau dapet nihhh . ooooohhhhh . aaaakkhhh aauuuu . oouuuggghhhh .. sssshshhhhhh . aaaahhhhhh " jeritanku terdengar bersamaan dengan meluapnya alira n air dari liang memekku. Aku tak peduli lagi apakah ada orang mendengar rintiha n dan jeritanku. Aku berteriak lepas sambil mencapai orgasme. Liang memekku kura sa berdenyut-denyut sangat kuat menjepit kontolnya, tetapi ia bukannya memperlam bat laju kontolnya, tetapi bahkan semakin kuat melakukan desakan, bahkan kontoln ya tak ia tarik lagi agak panjang, melainkan hanya bermain dalam memekku. Kurapa tkan kedua pahaku, diikuti oleh kedua pahanya yang semakin kuat mengunci tubuhku dan melingkari kedua pahaku. Orgasmeku kupikir sudah berhenti, tetapi dengan se makin kencangnya hunjaman kontolnya pada memekku, kembali kurasakan desakan luar biasa pada bagian dasar kemaluanku. Tanpa dapat kutahan lagi, kembali cairanku keluar sangat banyak membasahi sprey ranjang tersebut. Ia mengerang dan melenguh kuat disertai hunjaman sekuat-kuatnya hingga kurasa seakan-akan liang kenikmata nku bakal robek karena dalamnya kontolnya menembus, "Santyyyyy, aku juga dapet n ihhh .. Terimalah cairanku sayangggg .." Semprotan spermanya dalam memekku membuat ku semakin melayang. Aku tak mampu lagi membuka mata, kupejamkan mataku sambil m emekku terus melakukan pijatan-pijatan pada kontolnya. Tubuhnya tak lagi bergera k maju-mundur, kontolnya masih ia benamkan di dalam kemaluanku yang masih terus melakukan remasan dan pijatan. "Ahhhh . nikmattt sayangggg!" erangnya. Kubiarkan tubuhnya menindih tubuhku sambil mengendurkan nafsu yang sudah menurun dan debar jantung yang masih begitu kuat. Walaupun tubuhnya terasa berat di atasku, tetap i dengan masih dibenamkannya kontolnya yang semakin melembek dalam liang kemalua nku, semua itu tak terasa sebab ditutupi oleh kenikmatan yang kudapatkan. Nikmat sekali main dengan pria yang sudah beristri, banyak pengalamannya hingga bisa membuat lawan mainnya merintih dan memekik merasakan kenikmatan tak terkata kan. Sekitar sepuluh menit kemudian ia menggulirkan tubuhnya berbaring terlentan

g di sisiku. Diciuminya bibirku, kubalas dengan pagutan mesra. "Terima kasih ya sayang, kamu hebat sekali!" pujinya. "Ah kamu yang hebat, Bang. Bikin aku merintih dan menjerit gitu, nakal ya!" cetu sku sambil mencubit lengannya. "Abis, kamu pinter banget sih muasin aku. Istriku aja nggak sepandai kamu walaup un sudah lama kawin denganku," katanya sambil mengelus-elus lenganku hingga ke b uah dadaku. Aku hanya tersenyum sambil berkata dalam hati, "Ntar rasakan bagaima na gayaku yang lain. Hebat mana sama istrimu?" Ada semacam rasa cemburu, padahal aku sadar ia memang sudah menikah. Tapi entah gimana, ada keinginan untuk menya ingi istrinya yang tidak kukenal dan mungkin takkan pernah kukenal. Kami berbaring terlentang, kutarik selimut menutupi tubuhku, tapi ia biarkan tub uhnya tetap telanjang. Ditariknya tubuhku rebah ke dadanya. Kupandangi langit-la ngit kamar dan kupejamkan mata beberapa saat. Kulihat matanya yang terpejam. Nap asnya teratur di balik dadanya yang naik turun berirama. Kubiarkan ia tertidur. Kutoleh ke bawah tubuhnya, kontolnya kini tidak lagi tegang tapi masih besar ter onggok pada perutnya. Melihat kontolnya, nafsuku kembali naik. Perlahan-lahan ak u bangun agar tidak membangunkannya. Kuletakkan Kuelus-elus kontolnya dan kedua bolanya yang menggantung di antara kedua pahanya. Lalu kuletakkan kepalaku pada perutnya sambil bibirku terjulur ke kepala kontolnya. Kulakukan beberapa jilatan sebelum memasukkan helmnya ke dalam mulutku. Ia belum bereaksi, tetapi ketika s emakin lama kulakukan jilatan dan kuluman pada kontolnya, terasa kembali tegang dan kurasakan jari-jarinya mengelus-elus rambutku sambil mengerang. "Ohhhh . kamu luar biasa, San .. bikin aku jadi ketagihan .." pujinya sambil meremas-remas ramb utku dan mengusap pundakku yang terbuka. Lidahku kugunakan menjilati spermanya dan sisa cairanku pada kontolnya. Aroma ya ng khas kurasakan pada kontolnya, tetapi aku terus membasahi kontolnya dengan lu dahku. Erangannya kian kuat waktu kumasukkan kontolnya hingga pangkalnya ke dala m rongga mulutku, apalagi saat belitan lidahku membelai dan mengelus-elus batang nya yang terbenam dalam mulutku. Kontolnya semakin tegang dan kusentuh lubang an usnya dengan jari-jariku memberinya rangsangan lain. "Ahh, ya sayang aduuuhhh ka mu pinter banget sih muasin aku? Oooookkhhhh ." Erangnya. Kujilat jari telunjukku tangan kananku agar basah lalu kumasukkan ke lubang anusnya pelan-pelan. Ia men gerang lebih kuat sambil mengangkat sedikit pantatnya agar jariku bebas memasuki anusnya. Jari tangan kiriku memegangi pangkal batangnya sambil terus memasuk-ke luarkan kontolnya ke mulutku. Tak tahan dengan perlakuanku, ditariknya tubuhku menaiki perutnya. Aku tahu ia s udah tak kuat lagi, maka kukangkangkan kedua pahaku di atas perutnya dengan posi si tubuh menghadap ke arahnya dan kupegangi kontolnya tepat di muka liang memekk u yang mulai basah kembali lalu . blesss . terbenamlah kontolnya ke dalam memekku. "Aaaahhhh ." tak urung aku mendesah saat merasakan hunjaman kontolnya di bawah m emekku. Kuangkat pinggulku sambil kedua tanganku menekan kedua pahanya. Kunaik-t urunkan tubuhku. Kulihat wajahnya meringis dan matanya setengah terpejam menikma ti kontolnya di bawah kekuasaanku. Gerakanku kuselingi dengan aksi memutar, hing ga kontolnya bagaikan dikitari dinding memekku. Sesekali kukombinasi gerakanku m emutar sambil menaik-turunkan tubuh. Matanya merem melek tetapi saat melihatku m eremas-remas sendiri kedua buah dadaku sambil mendesah, ia merasa kasihan juga. Kedua tangannya terjulur meraba dan meremas-remas buah dadaku. Putingku kembali disentuh dan dipilinnya hingga aliran darahku kurasa semakin kencang mengaliri t ubuhku, terutama tubuh bagian bawah. Kuliuk-liukkan tubuhku dengan kencang hingg a gesekan kontolnya pada liang memekku terasa semakin nikmat. Lalu kugerakkan tubuhku sambil berpegangan pada perut dan pahanya, kuputar tubuh ku dengan kontolnya tetap menghunjam pada memekku, sehingga kini tubuhku mendudu ki perutnya memunggungi dirinya. Kembali kunaik-turunkan tubuhku. Aku tak lagi m elihat bagaimana reaksi wajahnya atas aksiku menunggangi tubuhnya, tetapi eranga

nnya tak henti-hentinya berbalasan dengan rintihanku yang terus keluar tanpa dap at kucegah. Kedua tanganku kembali meremas-remas buah dada dan putingku yang sem akin tegang. Kami terus berpacu tanpa kenal lelah. Biasanya aku cepat dapet dengan posisi ini , tetapi kali ini aku berusaha menahan diri agar tidak keduluan orgasme darinya. Kutahan orgasmeku jangan meledak dulu. Sambil memikirkan hal-hal lain dengan te rus menaik-turunkan tubuh, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sekonyong-konyong ia mengangkat tubuhku dan melepaskan dirinya dari himpitanku. Kupikir ia akan orgasme, ternyata belum. Aku masih melongo, ketika dengan cepat ia baringkan tubuhku terlentang di bawahnya, lalu kedua kakiku ia pentang lebarlebar dan diciuminya kembali celah-celah di antara kedua pahaku. Aku mendesah da n merintih, "Ahhhhh . ssshshshhhhh . adddduuuhhhh . ookkhh, enaknyaaaa ..." Setelah beberapa saat, ia angkat kedua kakiku ke atas pundaknya dan ditaruhnya k epala kontolnya tepat di depan memekku, lalu ia benamkan kontolnya setelah membe rikan kepala kontolnya melakukan usapan-usapan lembut pada permukaan memekku yan g sudah lembab. Kedua kakiku berjuntai di pundaknya. Aku mendesah saat ia benamk an kontolnya seluruhnya ke dalam liang surgaku. "Ahhhhh . aahhhh .. addduhhhh . ooo oohhhh .. yaaahh yaa . enaaakkkkk sayaanggg ." Kedua tangannya meremas-remas buah d adaku sambil menghentakkan pantatnya kuat-kuat agar kontolnya masuk ke memekku. Gila benar, kuat sekali dia belum keluar lagi, pikirku kagum, apalagi kontolnya masih bisa tegang lagi. Belum puas dengan posisi itu, ia ubah posisi lain. Ditaruhnya kaki kiriku di ata s paha kirinya dan kembali memasukkan kontolnya sambil meraih pantatku miring. D engan posisi kaki sebelahku di atas pahanya, kurasakan nuansa berbeda dibanding tekanan sebelumnya. Kontolnya mendesak masuk liang kemaluanku. Bulu-bulu kemalua nnya memberikan gesekan yang menggelikan dibarengi tekanan kuat pada liang memek ku. Aku merintih dan memekik-mekik nikmat saat ia terus menyetubuhi diriku sambi l jari-jarinya mencari-cari kelentitku dan memberikan usapan yang luar biasa nik matnya. Aku serasa melayang. Setelah itu, ia menarik tubuhku mengikuti dirinya y ang setengah berdiri, kedua tangannya memegangi pantatku sambil terus membelah m emekku dengan kontolnya yang amat tegang sembari jari-jarinya terus melakukan el usan dan remasan. Kepalaku masih di atas bantal, tetapi separuh tubuhku terangka t ke atas di bawah kekuasaannya. Lalu ia letakkan kembali tubuhku ke kasur dan d ilengkungkannya tubuhku sedemikian rupa hingga pantatku agak terangkat dengan ke dua belah paha yang ia kuakkan lebar-lebar. Kulihat memekku begitu merekah memer ah akibat dihajar entah sudah berapa kali oleh kontolnya. Cairanku terus menetes dari liang memekku, ia jilati lagi memekku, kelentitku dan anusku dengan buasny a tanpa mempedulikan protesku yang sudah begitu birahi, hingga ingin cepat-cepat menyudahi permainan kami. Memekku sudah terasa begitu basah, rasa gatal bercamp ur geli memenuhi liang kemaluanku. Lidahnya masuk keluar liang memekku dengan ce pat dan aku menjerit saat kelentitku diisapnya kuat-kuat, "Aaaaaaaawwwwwwwwwwww . o oohhhhhhhhhhh . yaaaahh, terus sayanggg .. ooouuuuuggghhhhhhhh .." Puas mempermainkanku dengan gaya tersebut, kembali ia mengangkang di pahaku dan melesakkan kontolnya ke dalam memekku, "Blessss .. blesss.." Kembali aku memekik a tas hunjaman kontolnya. Kedua pahaku ia tekan ke kanan kiri dan dibuka lebar-leb ar. Untuk membantunya dan membuatnya juga terangsang melihatku dalam posisi demi kian, kupegangi kedua tumitku hingga memekku benar-benar terlihat indah dalam me nyambut masuknya kontolnya. Kedua tangannya kini bebas tak perlu memegangi kedua pahaku, dan terjulur meremas-remas buah dadaku. Putingku sudah merah, geli berc ampur perih, tetapi rasa nikmat mengalahkan semuanya. Tak lama kemudian ia menge rang, "Aaaahhh . kamu hebat Santyyyyy abang mau keluar ." "Yahhhh, terus Bang, yang kuat .. tekan lagiiiiiiii .. ohhhhhhhhhhhh.. Santy juga ham pir dapet lagi Baaannnnggg .. aaaaaaaaaaaawwwwwwwwww ." jeritanku tak dapat kutahan lagi. Kutarik tubuhnya menimpa tubuhku, jari-jariku menancap kuat-kuat di punggu

ngnya, ia menciumi bibirku sambil menekankan tubuhnya kuat-kuat hingga buah dada ku terasa terjepit, tetapi dengan rasa nikmat yang luar biasa. Cairannya kurasa menyemprot di dalam memekku dan kubalas dengan jepitan pahaku kuat-kuat pada pin ggulnya hingga kontolnya tak dapat bergerak sama sekali. Kami berdua pun berpelu kan, ia masih berusaha menekan kuat-kuat kontolnya yang kuimbangi dengan tekanan kuat dengan mengangkat pantatku naik menerima hunjaman terdalam kontolnya. Jemb utnya terasa geli membelai-belai jembutku yang tipis, rasa geli, nikmat, ngilu b ercampur menjadi satu dalam suatu wahana kenikmatan tak bertara. Hebatnya lagi, dengan tiba-tiba ia balikkan tubuhnya di bawah dan sambil terus memeluk dan memb iarkan kontolnya ada di dalam memekku, ia berbaring dan kini tubuhkulah yang men indihnya dari atas. Kugunakan peluang itu untuk melakukan gerakan maju mundur pa da perutnya hingga kontolnya benar-benar menancap dalam menembusi liang kemaluan ku. Kami masih terus berpelukan dalam posisi bertindihan. Ia ciumi bibirku dan m enggelitik lidah dan rongga mulutku dengan lidahnya. Kurasakan letih tak terhing ga hingga tubuhku terjatuh menimpa dadanya. Kupeluk ia sekuat-kuatnya dan memeja mkan mata sambil menikmati kenikmatan yang masih memenuhi diri kami berdua. Kami pun tertidur sambil terus berpelukan. Hari sudah gelap ketika perlahan-lahan aku membuka mata dan terbangun. Kulihat i a masih tertidur sambil memeluk pinggangku. Kugerakkan tubuhku, ia pun terbangun . "Gimana sayang? Nikmat?" ujarku sambil memencet hidungnya. "Kita pulang yuk?" "Ya say, enak banget sih. Lho, kita nggak nginap? Aku sudah bawa baju tuh?" tany anya. "Jangan sekarang, sayang .. aku harus pulang, sebab sudah telanjur mau lembur bes ok, sebab ada laporan bagianku yang belum selesai. Ntar aku dimarahin bosku," ja wabku sambil menarik selimut menutupi tubuhku. "Baiklah, kita pulang. Tapi janji ya, lain kali kita nginap ya?" katanya sambil bangun dan mencium bibirku. Kami berciuman lama dan jari-jarinya kembali mengelu s-elus buah dadaku. Kalau tidak kucegah, pastilah ia akan mengajakku main untuk ronde ketiga, sebab kami berdua memiliki nafsu dan kekuatan yang berimbang. Kami mandi air hangat di bawah shower. Kami saling menyabuni tubuh satu sama lain. I a masih berusaha merangsang diriku dengan elusannya pada sekujur tubuhku. Tetapi aku tidak tergoda, walaupun dalam hati rasanya tak ingin semua ini berakhir beg itu cepat. Selesai mandi, kami pamit pada pelayan villa yang dipanggilkan Anton lewat HP-nya. Kami pun kembali ke Jakarta saat kulihat jam tanganku telah menunj ukkan pukul 8 malam. Beberapa kali Anton masih berusaha mengajakku lagi dan kembali kami bergulat dal am birahi berkepanjangan, tetapi aku tak pernah mau diajaknya bermalam. Lama-lam a aku takut kualat, dan kucoba menjauhi dirinya, walaupun ia sempat marah dan te rsinggung. Tapi gimana lagi, ia sudah beristri dan aku tak mau hanya dijadikan i stri mudanya. Bagaimanapun, aku masih punya keinginan untuk berumah tangga denga n seorang pria yang hanya mencintaiku dan melindungiku sebagai teman hidupku sam pai mati