Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Gangguan jiwa adalah penyakit non fisik, seyogianya kedudukannya setara dengan penyakit fisik lainnya. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak mampuan serta invalisasi baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisien. Gangguan jiwa (mental disorder) merupakan salah satu empat masalah kesehatan utama di Negara-negara maju, modern dan indrustri keempat kesehatan utama tersbut adalah penyakait degeneratif, kanker, gangguan jiwa dan kecelakaan. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak di anggap sebagai gangguan jiwa yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidakmampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisien (Yosep, 2007). Perencanaan pemulangan pasien adalah suatu proses dimana pasien mulai mendapat pelayanan kesehatan yang diberikan dengan kesinambungan perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya (Pemila, 2009). Salah satu hal yang diharapkan dari perawatan pasien hospitalisasi ataupun pasien rawat jalan adalah penghentian status pasien serta mempersiapkan pasien dan keluarga untuk perawatan lanjutan di rumah (Stuart, 2001). Elemen penting dari perencanaan pemulangan pasien ke rumah antara lain komunikasi yang efektif, pendekatan multidisiplin dan pengkajian awal yang terkoordinasi atas kebutuhan pasien dan keadaan rumah. Komunikasi yang dimaksudkan adalah dengan tim pelayanan kesehatan lain, keluarga, dan juga pasien (Day et al, 2009). Format perencanaan pemulangan dapat digunakan untuk meninjau kembali kebutuhan pemulangan pasien termasuk perencanaan

perawatan pasien. Area yang berhubungan dengan perencanaan pemulangan pasien gangguan jiwa termasuk skizofrenia adalah pengobatan, kegiatan seharihari (activities of daily living), kesehatan mental pasca perawatan, tempat tinggal, dan pelayanan kesehatan fisik ( Stuart, 2001). Di Indonesia pelayanan keperawatan telah merancang berbagai bentuk format perencanaan pemulangan pasien, namun kebanyakan dipakai hanya dalam bentuk pendokumentasian resume pasien pulang, berupa informasi yang harus di sampaikan pada pasien yang akan pulang seperti intervensi medis dan non medis yang sudah diberikan, jadwal kontrol, gizi yang harus dipenuhi setelah dirumah. Cara ini merupakan pemberian informasi yang sasarannya ke pasien dan keluarga hanya untuk sekedar tahu dan mengingatkan, namun tidak ada yang bisa menjamin apakah pasien dan keluarga mengetahui faktor resiko apa yang dapat membuat penyakitnya kambuh, penanganan apa yang dilakukan bisa terjadi kegawatdaruratan terhadap kondisi penyakitnya (Pemila, 2009). 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian program perencanaan pulang? 2. Apa tujuan dan prinsip program perencanaan pulang? 3. Apa jenis-jenis pemulangan pasien? 4. Bagaimana standart keperawatan perencanaan pulang? 5. Bagaimana perencanaan pulang pasien skizofrenia? 1.3 Tujuan 1. 2. 3. 4. 5. Untuk mengetahui dan memahami pengertian program perencanaan Untuk mengetahui tujuan dan prinsip program perencanaan pulang. Untuk mengetahui jenis-jenis pemulangan pasien jiwa. Untuk mengetahui standart keperawatan perencanaan pulang. Untuk mengetahui perencanaan pulang pasien skizofrenia. pulang pada pasien jiwa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Perencanaan Pulang Merupakan komponen penting dari program pengobatan klien yang dimulai dari segera setelah klien masuk RSJ. Hal ini merupakan suatu proses yg menggambarkan usaha kerja sama antara tim kesehatan, keluarga, klien dan orang yang penting bagi klien. Perencanaan pulang merupakan proses pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat kesehatan nya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya (Pemila, 2009) Sedangkan menurut yosep (2007). Perencanaan pulang merupakan komponen yang terkait dengan rentang perawatan atau sering di sebut perawatan yang berkelanjutan. Rentang perawatan (Continuum of care) adalah integrasi system perawatan yang berfokus pada klien sepanjang waktu kehidupan melalui perencanaan yang komprehenshif yaitu pelayanan yang meliputi kesehatan mental, social dalam rentang semua tingkat perawatan (Yose, 2007 di kutip dari chasca, 1990). Perencanaan pulang ini akan membantu proses transisi klien dari satu lingkungan ke lingkungan yang lain (Potter & Perry, 2005) 2.2 Tujuan dan Prinsip Tujuan dan prinsip dalam perencanaan pulang merupakan dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya. Adapun tujuan perencanaan pulang adalah:
1. Meningkat kanperawatan berkelanjutan bagi pasien 2. Membantu rujukan klien pada pelayanan yg lain 3. Membantu klien dan keluarga memiliki pengetahuan 4. Keterampilan dan sikap dalam memperbaiki serta mempertahanka status

kesehatan klien. Tujuan perencanaan pemulangan adalah meningkatkan kontinuitas perawatan, meningkatkan kualitas perawatan dan memaksimalkan manfaat

sumber pelayanan kesehatan. Perencanaan pemulangan juga dapat mengurangi hari rawatan pasien, mencegah kekambuhan, meningkatkan perkembangan kondisi kesehatan pasien dan menurunkan beban perawatan pada keluarga (Pemila, 2009 dikutip dari Naylor, 1999). Menurut stuart (2001), perencanaan pemulangan pasien yang baik dapat mendorong fungsi.Kemandirian pasien serta mendorong pasien untuk memiliki kemampuan oping yang adaptif. Selain itu, dengan adanya perencanaan pemulangan pasien dapat meningkatkan kemajuan pasien, membantu pasien untuk mencapai kualitas hidup optimum sebelum di pulangkan. Perencanaan pemulangan pasien yang baik juga akan memberikan efekyang penting dalam menurunkan komplikasi penyakit, pencegahan kekambuhan dan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas (Pamila, 2009) Menurut Yosep (2007), Prinsip-prinsip dalam proses perencanaan pulang pasien adalah:
1. Klien sebagai fokus dalam perencanaan pulang

Nilai, keinginan, dan kebutuhan klien perlu di kaji dan di evaluasi sehingga dapat di masukkan dalam perencanaan pulang klien dan orang orang yang dekat atau penting bagi klien. Tenaga kesehatan dan terlibat di ikutsertakan dalam perencanaan pulang klien.
2. Kebutuhan klien diidentifikasi saat masuk,dirawat sampai sebelum pulang

Kebutuhan ini di kaitkan dengan masalah yang mungkin timbul setelah pulang sehingga rencana antisipasi masalah dapat di anut untuk di laksanakan setelah pulang.
3. Perencanaan pulang dilakukan secara kolaboratif

Perencanaan pulang adalah proses multi disiplin dan tergantung pada kerjasama yang jelas dan komunikasi lisan, tertulis di antara peserta tim.
4. Perencanaan pulang disesuaikan dengan sumber daya dan fasilitas yg tersedia.

Tindakan atau rencana yang akan dilakukan setelah pulang disesuaikan dengan pengetahuan dari tenaga yang tersedia program dan fasilitas yang tersedia di masyarakat.
5. Perencanaan pulang dilakukan pada setiap tatanan pelayanan.

Setiap kali pasien masuk tatanan pelayanan maka perencanan pulang harus dilakukan. Pengembangan perencanaan pemulangan yang komprehensif membutuhkan kolaborasi dengan professional dari lembaga yang melakukan rujukan dan lembaga pelayanan masyarakat atau kesehatan masyarakat. Proses ini termasuk mengidentifikasi kebutuhan pasien dan menyusun rencana yang menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan ini (smeltzer & Bare, 2001) Dalam hal ini, perawat psikiatrik dapat memfasilitasi perencanaan pemulangan ini dengan adanya pengkajian melalui observasi dan interaksi dengan dengan klien seperti respon pasien terhadap pengobatan, pola perilaku klien, intervensi yang efektif dalam proses perawatan klien, kepercayaan klien, dan lain lain (stuart, 2001). Menurut potter dan perry (2005) hasil yang diperoleh harus ditujukan untuk keberhasilan perencanaan pulang : 1. Klien dan keluarga memahami diagnose, ansipasi tingkat fungsi, obat-obatan dan tindakan pengobatan untuk kepulangan, antisipasi perawatan tindak lanjut dan respon yang di ambil dalam kondisi kedaruratan. 2. Pendidikan khusus diberikan kepada klien dan keluarga untuk memastikan perawatan yang tepat setelah klien pulang. 3. Sistem pendukung di masyarakat dikoordinasikan agar memungkinkan klien kembali ke rumahnya dan untuk membantu klien dan keluarga membuat koping terhadap perubahan dalam status kesehatan klien. 4. Melakukan relokasi klien dan koordinasi system pendukung atau memindahkan klien ke tempat pelayanan kesehatan klien. 2.3 Jenis-Jenis Pemulangan Pasien Menurut Stuart dan Sundeen (1991), ada 3 jenis pemulangan pasien di antaranya:
1) Conditional dischange (pulang sementara atau cuti)

Bila keadaan klien cukup baik untuk dirawat di rumah maka cara pemulangan ini di pakai. Klien untuk sementara dirawat di rumah dengan harapan dapat

membantu klien dan keluarga dapat beradaptasi dengan situasi dirumah maupun dimasyarakat. Selama klien pulang pengawasan dari Rumah Sakit ataupun dari Puskesmas tetap diperlukan.
2) Absolute discharge (pulang mutlak selamanya)

Cara pulang ini merupakan terminasi akhir dari hubungan klien denan Rumah Sakit, tetapi bila klien perlu dirawat kembali maka prosedur perawatan dapat di laksanakan kembali. Jenis pemulangan kembali secara optimal di Masyarakat.
3) Judicial dischange (pulang paksa)

ini diberikan kepada klien yang

mengalami perbaikan status kesehatan yang baik sehingga dapat berfungsi

Klien di perbolehkan pulang walaupun kondisi kesehatannya belum memungkinkan untuk dipulangkan, misalnya karena klien adalah seorang narapidana atau karena keluarga tetap menginginkan klien pulang karena suatu alasan. Klien tersebut harus tetap di berikan arahan untuk perawatan di rumah dan fasilitas yang dapat di gunakan di Masyarakat. 2.4 Standart Keperawatan Perencanaan Pulang Standart perencanaan pulang merupakan system keperawatan yang berkelanjutan yang diperlukan klien setelah masuk runah sakit dan membantu keluarga menemukan cara penyelesaian masalah yang baik pada saat yang tepat, sumber yang tepat serta biaya yang terjangkau. Standar perencanaan klien pualng dimulai sejak awal klien masuk rumah sakit melibatkan klien dan keluarganya. A. Standar Pengkajian Data yang harus dikaji meliputi : 1. Aktivitas hidup sehari-hari : a. Makan dan minum Penggunanaan alat makan dan minum Cara makan dan minum Kemauan untuk makan dan minum Pola makan sampai klien pulang dengan

b. Eliminasi -

Kebiasaan dan kemampuan eliminasi Pola eliminasi Kemampuan Kebiasaan Frekuensi Sarana yang digunakan Frekuensi ganti pakaian Kerapian Kemampuan berpakaian Ada tidaknya aktivitas Bertujaan-tidaknya Intensitas/ normal/ hiperaktif/ malas Bertanggungjawab atau tidak Kemampuan Pola Lamanya Mimpi buruk Kesulitan untuk memulai tidur Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan ajaran agama atau tidak Hubungan dengan pemuka agama

c. Personal hygiene

d. Berpakaian dan kerapian diri

e. Aktivitas

f. Istirahat tidur

g. Keagamaan

2. Tingkat kebutuhan perawatan klien a. Kondisi klien yang membutuhkan perawatan intensif: Disorientasi berat Agresif dan amuk Perilaku bizarre
7

Mengancam integrias fisik dan psikologis klien Mengancam integrias fisik dan orang lain Klien yang hari ke satu dirawat Derajat ketergantungan klien pada perawat Disorientasi sedang Motivasi terbatas Kegiatan harian perlu supervisi dan bimbingan yang sering Derajat ketergantungan klien pada perawat sedang Penyimpangan perilaku sedang; perlu control sedang Mampu berkomunikasi dengan bimbingan Mampu berinteraksi dengan lingkungan dan bimbingan Mampu melaksanakan kegiatan harian dengan bimbingan Hanya memerlukan pengarahan terbatas, seperti dorongan dan dukungan. Derajat ketergantungan sedang/perlu pengawasan sebagian Mampu berkomunikasi secara verbal dan non verbal Mampu berinteraksi dengan orang lain/lingkungan Mampu melaksanakan kegiatan harian dengan control minimal Mampu melaksanakan kegiatan yang terprogram Derajad ketergantungan klien pada perawatan rendah Kegiatan harian dan pengisian waktu luang baik

b. Kondisi klien yang memerlukan modifikasi perawatan intensif

c. Kondisi klien yang memerlukan perawatan transisi

d. Kondisi klien yang memerlukan perawatan minimal

3. Pengetahuan dan kemampuan klien dan keluarga tentang; a. Penyakit klien; Tanda dan gejala Stressor pencetus Cara penanganan Manfaat
8

b. Pengobatan

Efek samping Waktu pemberian Pola komunikasi terbuka/tertutup Keakraban dan kerenggangan Pola hubungan antar generasi

4. Hubungan interpersonal dalam keluarga;

5. Kemampuan dan kemauan klien dan keluarga dalam penerimaan tindakan keperawatan 6. Sumber dan system pendukung yang ada dimasyarakat; Puskesmas Bengkel kerja Perawat komunitas Pekerjaan; ada/tidak Jenis pekerjaan Hobi Ketrampilan yang dimiliki Tanggungan hidup, ada atau tidak Penghasilan; mencukupi atau tidak

7. Sumber financial dan pekerjaan

B. Standart masalah Berdasarkan priorotas masalah yaitu; gangguan pemenuhan kebutuhan aktivitas hidup sehari-hari cemas pada klien dan keluarga akan penyakit yang dideritanya yang berkaitan dengan rencana pulang ketidak mampuan keluarga merawat klien dirumah system pendukung yang tidak adekuat

C. Standar tindakaan

1. gangguan pemenuhan kebutuhan aktivitas hidup sehari-hari


9

BHSP antara perawat dengan klien dan keluarga Identifikasi kebiasaan dan kemampuan pemenuhan kebutuhan aktivitas sehari-hari klien selam dirumah. Beri reiforcemen positif/pujian pada hal-hal positif yang dikemukakan klien Diskusikan dengan klien tentang kebutuhan aktivitas hidup sehari-hari selama dalam masa perawatabn dirumah Motivasi klien untuk melakukan kebutuhan aktivitas hidup sehari-hari selama dalam masa perawatan di rumah sakit. Observasi dan bimbing klien dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari selama dalam masa perawatan dirumah sakit Berin reinforcement positif/pujian pada tindakan positif yang dilakukan klien, diskusikan dengan klien tentang manfaat yang dirasakan setelah melakukan aktivitas hidup sehari-hari setelah dirumah sakit

Anjurkan klien untuk mengikuti terapi okupasi yang sesuai dengan minatnya Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang telah diidentifikasi dan ketrampilan yang didapat dari terapi okupasi Kerjasama dengan keluarga untuk memotivasi dan mendorong klien melakukan aktivitas hidup sehari-hari dirumah sakit dan dirumah.

2. Cemas pada klien dan keluarga akan penyakit yang diderita yang berkaitan

dengan rencana pulang; BHSP antara perawat , klien, dan keluarga Tanyakan pada klien dsan keluarga tentang harapan yang ingin dicapai setelah pulang. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaan-perasaan mengenai meninggalkan rumah sakit, antisipasi masalah, krtakutan, dan cara menghadapi situasi diluar rumah sakit Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang tujuan dan harapan setelah pulang
10

Anjurkan kepada klien dan keluarga untuk melibatkan untuk melihat kepulangan sebagai langkah yang positif Tekankan pada klien dan keluarga bahwa hubungan perawat, klien, dan keluarga di rumah sakit adalh hubungan terapeutik.

3. Ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah -

Bina hubungan saling percaya antar perawat dan keluarga Diskusikan dengan keluarga bahwa keluarga terikat secara kontinyu mengenai perawatan klien sejak awal. Diskusikan dengan keluarga bahwa klien tidak mutlak menjadi tanggung jawab pihak rumah sakit tetapi merupakan bagian dari keluarga Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang ada padan klien serta efeknya terhadap klien dan lingkungan. Identifikasi dengan keluarga tentang kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah. Diskusikan dengan keluarga tentang cara-cara konstruktif dalam mengatasi masalah klien termasuk tentang kebutuhan check-up (control), kebutuhan untuk terapi medis serta tempat rujukan.

Diskusikan tentang obat klien ; kegunaan, waktu pemberian, instruksikan keluarga untuk melakukan cara-cara konstruktif dalam mengatasi masalah klien, merawat klien dirumah.

4. Sistem pendukung (keluarga dan masyarakat tidak adequat) -

Bina hubungan saling percaya antar perawat dengan keluarga. Identifikasi hubungan interpersonal antar klien dan keluarga. Identifikasi masalah-masalah yang ada dalam keluarga. Identifikasi cara-cara keluarga dalam mengatasi masalah. Diskusikan dengan keluarga tentang cara-cara mengatasi masalah yang konstruktif. Jelaskan pada keluarga tentang cara-cara untuk menjadi system pendukung yang adequat bagi klien yaitu dengan cara ikut terlibat dalam perawatan klien di rumah sakit.
11

Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan masalah. Motivasi klien untuk menggunakan cara-cara konstruktif dalam mengatasi masalah dan aktivitas sehari-hari yang positif. Diskusikan dengan keluarga tentang kemungkinan kerjasama dengan masyarakat untuk menjadi system pendukung bagi klien. Identifikasi bersama keluarga tentang system pendukung yang ada dalam masyarakat : Puskesmas, Karang taruna, dan Balai Latihan Kerja. Motivasi keluarga dan klien untuk memanfaatkan system pendukung yang ada dalam masyarakat.

D. Standar Evaluasi Standar evaluasi klien dapat pindah dari ruangan intensif akut/modifkasi intensif/ intermediate/ perawatan minimal. 1. Kondisi klien dapat dipindah dari ruang intensif akut ke ruang modifikasi intensif : Disorientasi sedang Motivasi terbatas Kegiatan dan aktivitas perlu bimbingan dan supervisi yang ketat Derajat ketergantungan pada perawat sedang. Perilaku tidak mengancam integriras fisik. Perilaku tidak mengancam integritas fisik dan keselamatan orang lain. intermediate : Penyimpangan perilaku sedang ; perlu control sedang. Mampu berkomunikasi dengan bimbingan. Mampu berinteraksi dengan lingkungan dengan bimbingan. Mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan bimbingan. Perlu pengarahan terbatas untuk mendukung/mendorong. Derajat ketergantungan pada perawat sedang/perlu perawatan sebagian.

2. Kondisi klien yang dapat pindah dari ruang modifikasi intensif ke ruang

12

3. Kondisi klien yang dapat pindah dari ruang intermediate ke ruang perawatan minimal/persiapan pulang. -

Mampu berkomunikasi secara verbal dan non verbal sesuai. Mampu berinteraksi dengan orang lain/lingkungan konstruktif. Mampu melaksanakan kegiatan harian yang terprogram. Mampu melaksanakan kegiatan harian dengan kotrol minimal. Derajat ketergantungan pada perawat rendah/minim. Kegiatan harian dan pengisian waktu luang baik. Mampu mengungkapkan perasaan dengan orang lain secara asertif. Mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Mempunyai jadwal kegiatan sehari-hari serta penggunaan waktu luang dengan kegiatan positif. Komunikasi verbal dan non verbal yang baik Klien sanggup mengatasi stressor pencetus dengan cara-cara penanganan yang konstruktif. Klien dan keluarga memahami tentang pengobatan yang harus dijalani ; manfaat obat, efek samping, waktu pemberian obat. Klien dan keluarga mengetahui system pendukung yang ada di masyarakat ; Puskesmas, Balai Latihan\Kerja, Perawat Komunitas.

4. Kondisi klien dapat pulang : -

13

BAB III TINJAUAN KASUS

Joe adalah siswa yang baik di sepanjang masa SMA-nya. Ia anggota tim futbol, mempertahankan ranking yang bagus dan mendapatkan pujian pada tiap semesternya. Ia ramah dan populer. Menjelang akhir semester pertama di maktab (college)-nya, semuanya mulai berubah. Joe tak lagi makan bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai berkurung diri di dalam kamarnya. Ia mulai mengabaikan kesehatan pribadinya dan berhenti menghadiri kuliah. Joe mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukannya sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Joe mulai menyangka bahwa kawan sekamarnya bersekongkol dengan telepon dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya. Joe menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini mencoba untuk menipunya. Joe mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Joe sedang sendirian di kamarnya, ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya. 3.1 Pengkajian DS :
-

Joe mulai menyangka bahwa kawan sekamarnya bersekongkol dengan telepon dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya

Joe mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya

14

DO :
-

ia mulai berkurung diri di dalam kamarnya Joe tak lagi makan bersama dengan kawan-kawannya ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya

3.2 Diagnosa : Gangguan persepsi sensori : halusinasi Strategi pelaksanaan pada pasien 1. SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan caracara mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi 2. SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua: bercakap-cakap dengan orang lain 3. SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga: melaksanakan aktivitas terjadwal 4. SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur Strategi pelaksanaan pada keluarga :
1. SP 1 Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis

halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat pasien halusinasi. 2. SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung dihadapan pasien 3. SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga 3.3 Perencanaan pemulangan pasien skizofrenia Menurut Worrd (2003) kriteria harus disesuaikan untuk menemukan kebutuhan klien dan area masalah yang berfokus terhadap reintegrasi ke dalam keluarga dan komunitas. Berikut ini adalah kriteria yang dapat dimodifikasi

15

a. Klien menunjukkan tidak adanya atau berkurangnya halusinasi dan perubahan sensori lainnya. b. Mengidentifikasi stressor. Situasi, atau kejadian yang dapat memicu halusinasi. c. Mengenali dan mendiskusikan hubungan antara peningkatan ansietas dan manajemen stress. d. Mendeskripsikan teknik-teknik untuk menurunkan ansietas dan manajemen stress. e. Mengidentifikasi keluarga dan orang terdekat lainnya sebagai system pendukung. f. Komunkasi dengan ahli fisiologi, ahli terapi dan lembaga lain untuk mendiskusikan kebutuhan klien. g. Mendeskripsikan pentingnyan pengobatan secara kontinyu dan teratur, dosis, frekuensi, efek samping, dan efek yang diharapkan. h. Mesdeskripsikan rencana untuk mengikuti kelompok social pendukung ataupun pusat rehabilitasi dalam batasan tertentu. Yosep (2007) menyatakan bahwa perencanaan pemulangan pasien skizofrenia juga memiliki standar pengkajian dimana data yang dikaji meliputi : a. Aktivitas hidup sehari-hari 1. Makan dan minum (penggunaan alat, cara makan dan minum, pola makan) 2. Eliminasi (kebiasaan, pola dan kemampuan eliminasi) 3. Personal hygiene (kemamuan, frekuensia, dan kebiasaan) 4. Berpakaian dan kerapian diri

16

5. Aktivitas 6. Istirahat (pola, lamanya, dan kesulitan memulai tidur) 7. Keagamaan (kegiatan yang dilakukan) b. Tingkat kebutuhan perawatan klien : 1. Kondisi pasien yang membutuhkan perawatan intensif. 2. Kondisi pasien yang memerlukan modifikasi perawatan inteensif. 3. Kondisi pasien yang memerlukan perawatan transisi. 4. Kondisi pasien yang memerlukan perawatan minimal. c. Pengetahuan dan kemampuan keluarga tentang : 1. Penyakit pasien (tanda dan gejala, stressor pencetus, cara penanganan) 2. Pengobatan (manfaat, efek samaping, waktu pemberian) d. Hubungan interpersonal dalam keluarga e. Kemampuan dan kemauan pasien dan keluarga dalam penerimaan tindakan perawatan f. Sumber dan system pendukung di masyarakat. g. Sumber financial dam pekerjaan. Menurut keliat (1999), kebutuhan persiapan pulang bagi pasien skizofrenia mencakup: a. Makan 1. Observasi dan tanyakan tentang: jumlah, frekuensi, variasi, macam, dan cara makan

17

2. Observasi

kemampuan

pasien

dalam

menyiapkan

dan

memberikan alat makan b. BAB/BAB Observasi kemampuan pasien untuk BAB/Bak seperti pergi dan menggunakan WC, membersihkan diri, dan merapikan pakaian c. Mandi 1. observasi kemampuan pasien tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, dan cukur. 2. Observasi kebersihan tubuh dan bau badan. d. Berpakaian a. Observasi kemampuan pasien dalam mengambil, memilih, dan mengenakan pakaian. b. Observasi penampilan dandanan pasien. c. Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian. d. Nilai kemampuan yang harus dimiliki pasien: mengambil, dan mengenakan pakaian. e. Istirahat dan tidur Observasi dan tanyakan tentang lama dan waktu tidur, persiapan sebelum tidur (sikat gigi, cuci kaki, dan berdoa), aktivitas sesudah tidur seperti merapikan tempat tidur, mandi, cuci muka dan sikat gigi. f. Penggunaan obat Observasi dan tanyakan pada pasien dan keluarga tentang: 1. Penggunaan obat: frekuensi, jenis, dosis, waktu, dan cara pemberian.

18

2. Reaksi obat. g. Pemeliharaan kesehatan Tanyakan pada pasien dan keluarga tentang: 1. Apa, kapan, dan kemana perawatan lanjut. 2. Siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga, teman institusi, dan lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya. h. Aktifitas di dalam rumah i.Aktifitas di luar rumah, mencakup apa saja yang dapat dikerjakan oleh pasien secara mandiri di luar rumah. Menurut keliat(1996), beberapa tindakan keperawatan yang dapat dilakukan dalam persiapan pulang adalah:
a. Pendidikan (edukasi, redukasi, dan reorientasi) untuk mencegah

kekambuhan dan mengurangi dampak gangguan jiwa bagi klien. Program yang dapat dilakukan adalah 1. Keterampilan khusus: ADL, perilaku adaftif, aturan makan obat, penataan rumah tangga, identifikasi gejala kambuh, pemecahan masalah. 2. Keterampilan umum : komunikasi efektif, ekspresi emosi yang konstruktif, relaksasi, pengelolaan stress. b. program pulang bertahap Setelah klien mempunyai kemampuan dan keterampilan mandiri maka klien dapat mengikuti program pulang bertahap. Tujuannya adalah untuk melatih klien kembali ke keluarga dan masyarakat. Yang dipersiapkan adalah apa yang harus dilakukan klien di rumah dan apa yang harus dilakukan keluarga untuk

19

membantu adaptasi. Kegiatan yang dilakukan klien dan keluarga di rumah dapat di buatkan daftar dan dievaluasi kebehasilannya sebagai data untuk rencana berikut. Lamanya pulang (cuti) ditentukan secara bertahap, misalnya di mulai dari satu seminggu (week end live), ditingkatkan dua kali seminggu, kemudian cuti seminggu. Setelah mengikutinya, klien dapat dipulangkan kembali ke komunitas. c. Rujukan Integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas sebaiknya mempunyai hubungan langsung dengan Rumah Sakit Jiwa. Menurut Yosep (2007), standar evaluasi klien yang dapat pindah dari ruang intermediate ke ruang perawatan minimal / persiapan pulang adalah : a. Mampu berkomunikasi secara verbal dan non verbal, verbal dan nonverbal sesuai. b. Mampu berinteraksi dengan orang lain / lingkungan konstruktif c. Mampu melakukan kegiatan harian yang terprogram. d. Mampu melaksanakan kegiatan harian dengan kontrol minimal. e. Derajat ketergantungan pada perawat rendah / minim. f. Kegiatan harian dan pengisian waktu luang baik. g. Mampu mengungkapkan perasaan dengan orang lain secara asertif. Menurut Fortinash dan Worret (2003), hal-hal yang perlu diajarkan oleh perawat dalam perencanaan pemulangan kepada pasien dan keluarganya adalah: a. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa skizofrenia adalah gangguan kronik dengan gejala-gejala yang mempengaruhi proses berpikir pasien, mood, dan fungsi sosial pasien. b. Ajarkan pasien dan keluarga tentang gejala primer dari skizofrenia, delusi dan halusinasi, dan bagaimana mengatasinya jika membahayakan pasien ataupun keluarganya

20

c.

Menjelaskan pasien dan keluarga bagian-bagian dari skizofrenia,

psikosis tidak selalu muncul, dan fungsi pasien semakin baik jika tidak ada psikosis. d. Menolong keluarga mengembangkan rencana untuk selalu berinteraksi/berhubungan dengan pasien selama tanda-tanda akut muncul untuk mencegah hospitalisasi kembali. e. Menginstruksikan pasien/ keluarga untuk mengenali gejala kambuh dan untuk menghubungi sistem pelayanan kesehatan darurat ketika pasien mulai membahayakan dirinya maupun orang lain. f. Mengajarkan keluarga dan pasien tentang pentingnya pengobatan/medikasi dan efek terapeutik serta non terapeutik pengobatan antipsikotik. g. Mengatakan kepada keluarga bahwa pasien tidak selalu memiliki motivasi untuk bergabung dalam aktivitas sosial dan keluarga karena proses penyakit dan efek sedatif dari pengobatan. h. Mengajarkan pasien dan keluarga untuk mencari tahu pendidikan kesehatan mental terbaru atau sumber-sumber terapeutik dari internet dan komunitas. Selain itu menurut Isaacs (2004), hal-hal yang perlu diajarkan kepada keluarga meliputi: a. b. c. d. Pengertian skizofrenia, penyebabnya, dan gejala-gejalanya. Obat-obat antipsikotik yang digunakan dan efek samping yang Tindak lanjut perawatan dengan ahli terapi atau manajer Cara mengatasi gejala-gejala yang muncul pada klien dengan : 1. 2. Mengidentifikasi kejadian yang dapat mengecewakan Mencatat kapan saja pasien menjadi marah pasien dan berikan bantuan ekstra sesuai kebutuhan

mungkin muncul. perawatan.

21

3.

Melakukan tindakan-tindakan yang mengurangi ansietas

seperti istirahat, teknik relaksasi, keseimbangan antara aktivitas dan istirahat, dan diet yang tepat. 4. Tidak menyetujui pernyataan pasien mengenai halusinasinya dan memberi tahu tentang realitas e. Informasi tambahan meliputi : 1. Mengajarkan keluarga dan pasien tentang perawatan diri 2. Menganjurkan keluarga untuk mengungkapkan kekhawatiran mereka dengan penyedia layanan kesehatan 3. Menganjurkan keluarga untuk mempertimbangkan bergabung dengan kelompok pendukung atau bantuan masyarakat seperti National Alliance for Mental Ill (NAMI).

BAB IV PENUTUP

22

4.1 Kesimpulan Perencanaan pulang merupakan proses pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat kesehatan nya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya (Pemila, 2009) Tujuan dan prinsip dalam perencanaan pulang merupakan dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya. Adapun tujuan perencanaan pulang adalah:
1. Meningkat kanperawatan berkelanjutan bagi pasien 2. Membantu rujukan klien pada pelayanan yg lain 3. Membantu klien dan keluarga memiliki pengetahuan 4. Keterampilan dan sikap dalam memperbaiki serta mempertahanka status

kesehatan klien. Menurut Yosep (2007), Prinsip-prinsip dalam proses perencanaan pulang pasien adalah:
1. Klien sebagai fokus dalam perencanaan pulang 2. Kebutuhan klien diidentifikasi saat masuk,dirawat sampai sebelum pulang 3. Perencanaan pulang dilakukan secara kolaboratif 4. Perencanaan pulang disesuaikan dengan sumber daya dan fasilitas yg

tersedia
5. Perencanaan pulang dilakukan pada setiap tatanan pelayanan.

4.2 Saran Dalam Perencanaan pemulangan pasien ke rumah kita sebagai perawat harus memperhatikan elemen-elemen penting antara lain komunikasi yang efektif, pendekatan multidisiplin dan pengkajian awal yang terkoordinasi atas kebutuhan pasien dan keadaan rumah sehingga pasien dapat cepat pulang.

Daftar Pustaka

23

Maramis, WS. (1997), Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Pers, Suarabaya. Hawari, D, (2001), Pendekatan Holistic Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. FKUI, Jakarta. Luana, N.A. (2007), Simposium Sehari Kesehatan Jiwa dalam Rangka menyambut Kesehatan Jiwa Sedunia, dalam Http// www.Kompas.com. Ingram, Timburi, Moubary ; (1995), Catatan Kuliah Psikiatri, EGC, Jakarta.

24