Anda di halaman 1dari 27

BAGIAN OBSTETRI & GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT MARET 2013

DIBAWAKAN OLEH: DEVY LIANTO C111 08 008

PEMBIMBING dr. Evelyn Indradjaja Tunardy

SUPERVISOR Prof. dr. John Rambulangi, Sp.OG (K)

PENDAHULUAN

Sekumpulan gejala dan infeksi karena rusak sistem kekebalan tubuh manusia

Sebabkan kematian > 20 juta orang setahun.

Disebabkan Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Penularan terjadi secara horizontal dan vertikal


Acquired immunodeficiency sydrome (AIDS)

EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia, jumlah kumulatif kasus AIDS sejak tahun 2002 hingga Juni 2011 berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI 26483 kasus. Pada tahun 2010 390.000 anak-anak < 15 tahun terinfeksi HIV. 95% anak/bayi/neonatus yang + HIV/AIDS tertular dari ibu.

Human Immunodeficiency Virus (HIV)


Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah suatu virus RNA dari famili Retrovirus dan subfamily Lentiviridae

CARA PENULARAN

PATOGENESIS

FASE PERJALANAN INFEKSI HIV


Virus beredar menuju target sel (viremia) dan antibodi serum mulai terbentuk Sindrom retroviral akut

Serokonversi

Penyakit HIV asimptomatik Infeksi HIV simptomatik (AIDS)

Jumlah CD4+ sel T perlahan mulai turun Bisa sembuh bila terkena infeksi

jumlah sel CD4+ yang meningkat viremia

PENEGAKAN DIAGNOSIS (WHO)


Diagnosis Klinik Stadium I Asimptomatik Limphadenopati generalisata persisten Pembesaran KGB > 1 cm, tidak nyeri pada 1 atau 2 tempat dengan sebab yang tidak diketahui dan persisten selama 3 bulan atau lebih

Stadium II BB turun <10% BB sebelumnya BB turun tanpa sebab yang jelas, atau BB tidak bertambah pada kehamilan

Herpes Zooster
Ulserasi oral rekuren ( 2 x selama 6 bulan terakhir) Papular preuritic eruption Seborrhoic dermatitis Infeksi jamur pada kuku

Vesicular rash, nyeri , distribusi dermatomal, tidak melewati midline tubuh.


Nyeri, pseudomembran kuning abu-abu Lesi papular Kulit gatal, bersisik, terutama pada daerah berambut Paronikia Onycholisis

Stadium III BB turun > 10 % BB sebelumnya Diare kronik lebih dari 1 bulan Demam persisten Kandidiasis oral persisten BB turun tanpa sebab yang jelas. Tampak kurus, BMI < 18,5 kg/m2atau BB turun pada kehamilan Diare kronik lebih dari 1 bulan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya Demam persisten lebih dari 1 bulan Berupa pseudomembraneus berwarna putih atau erythematous form Gejala kronik : batuk, batuk darah, sesak, nyeri dada, BB turun, keringat malam, demam. Dengan sputum BTA + atau sputum BTA dengan gambaran radiologis yang mendukung.

TB ( berulang)

Infeksi bakteri berat (pneumonia, meningitis, empiema, pyomiositis, infeksi tulang dan sendi, septicemia, PID)
Acute necrotizing ulcerative gingivitis atau necrotizing ulcerative periodontitis.

Demam disertai gejala dan tanda spesifik, dan merespon terhadap pemberian antibiotik.

Papilla gingival ulserasi, sangat nyeri, gigi tanggal, perdarahan, bau mulut tidak sedap, dll.

Stadium IV HIV wasting sindrom BB turun > 10% , wasting, BMI < 18.5 kg/m2 Disertai salah satu : Diare kronik > 1 bulan tanpa sebab yang jelas Atau Demam > 1 bulan tanpa sebab yang jelas Dispnoe on exertion atau batuk tidak produktif, takipneu, dan demam. Dan CXR : infiltrate difus bilateral Dan Tidak ada bukti infeksi pneumonia bakterial, krepitasi bilateral, dan auskultasi dengan atau tanpa obstruksi jalan nafas 2x selama 6 bulan terakhir, onset akut (<2 minggu), dengan gejala berat ( demam, batuk sesak, nyeri dada) Dan konsolodasi pada pemeriksaan foto thorax atau pemeriksaan fisik. Herpes simplek kronik (orolabial, genital, anorectal) lebih dari 1 bulan Nyeri retrosternal, disfagi, disertai oral candidiasis Keterlibatan pleural, pericardia, peritoneal, meningitis, mediastinal atau abdominal lymphadenopathy atau ostetis.

Pneumocystis pneumonia

Pneumonia bacterial rekuren

Herpes simplek kronik (orolabial, genital, anorectal) Oesofagial candidiasis TB ekstra paru

HIV encephalopati

Gangguan kognitif / motorik progressive yang tidak disebabkan oleh sebab lain

Criptococcosis ekstrapulmonal (termasuk meningitis)

Demam, sakit kepala, meningism, bingung, perubahan tingkah laku, respon terhadap criptococcal terapi

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Umumnya pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan pada ibu untuk deteksi HIV/AIDS dibagi atas tiga kelompok, yaitu: Pembuktian adanya antibodi ( ELISA, Western Blot) atau antigen HIV ( PCR, pembiakan virus) Pemeriksaan status imunitas ( hitung jumlah sel limfosit) Pemeriksaan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Di Indonesia, definisi kasus HIV pada anak dipakai kriteria WHO/UNAIDS :5 Anak berumur 18 bulan atau kurang : Ditemukan 2 gejala mayor yang berkaitan + 2 gejala minor dengan ibu yang HIV positif. Gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV. Anak berumur diatas 18 bulan : Menunjukkan tes HIV yang positif, dan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala mayor dan 2 gejala minor dengan ibu HIV positif dan gejala tersebut bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Berat badan menurun atau gagal tumbuh Diare terus menerus atau berulang dalam waktu lebih dari 1 bulan Demam terus menerus atau berulang dalam waktu lebih dari 1 bulan Infeksi saluran pernafasan bagian bawah yang parah atau menetap

GEJALA MAYOR

GEJALA MINOR

Limfadenopati generalisata atau hepatosplenomegali Kandidiasis oral atau tenggorokan Infeksi bakteri dan/atau virus yang berulang (misalnya otitis media akut, faringitis Batuk kronis

MEKANISME PENULARAN HIV DARI IBU KE BAYI


FAKTOR IBU, KEHAMILAN & PROSES PERSALINAN

FAKTOR VIRUS

FAKTOR BAYI

Karakteristik virus Infektivitas virus

Prematuritas Nutrisi fetus Fungsi pencernaan Respon Imun Neonatus

Antepartum Intrapartum Menyusui

PENGARUH HIV TERHADAP KEHAMILAN

Prematuritas

Kematian janin dalam kandungan

PENATALAKSANAAN SAAT PERSALINAN

PERSALINAN PERVAGINAM
Selama kehamilan penderita menjalani perawatan prenatal Viral load<1000 kopi/ml pd mgg ke-36 kehamilan Penderita menjalani pengobatan HIV selama kehamilan

Seksio Sesarea
Viral load>1000 kopi/ml atau viral load tidak diketahui pd mgg ke-36 kehamilan Tidak menjalani pengobatan HIV selama kehamilan Tidak menjalani perawatan prenatal sblm usia 36 mgg Belum pecah ketuban

PEMBERIAN MAKANAN BAYI

PENANGANAN PASIEN HAMIL DENGAN HIV


Penanganan pasien hamil dengan HIV dapat dilakukan dengan penatalaksanaan program PMTCT ( Prevention of Mother To Child Transmission of HIV)

Suatu program intervensi untuk mencegah penularan dari ibu penderita HIV/AIDS kepada bayinya dan mencegah infeksi HIV pada perempuan.

PROGRAM PMTCT
Cegah Penularan HIV dari Ibu ke Bayi

Tujuan Program PMTCT


Kurangi Dampak Epidemi HIV terhadap Ibu dan Bayi

STRATEGI PMTCT
PRONG 1: Mencegah terjadinya penularan HIV pada
perempuan usia reproduktif

PRONG 2: Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif

PRONG 3: Mencegah penularan HIV dari ibu hamil HIV + ke bayi selama kehamilan,persalinan , & menyusui
Pelayanan kesehatan ibu dan anak komprehensif Layanan konseling dan tes HIV VCT Pemberian obat antiretrovirus (ARV) Konseling ttg HIV & mknn bayi, pemberian mknn bayi

PRONG 4: Integrasi Pelayanan, pengobatan dan dukungan bagi wanita HIV + anak & keluarga
Intervensi pelayanan kesehatan reproduktif

Ubah perilaku risiko tinggi risiko rendah dengan ABCD

VCT ( Voluntary Counselling and testing) memahami HIV/AIDS, risiko, konsekuensi

Secara dasar : perempuan HIV + tidak dianjurkan hamil HAM, keputusan untuk hamil setelah melalui proses konseling, pengobatan & pemantauan
Pilihan kontrasepsi kondom (pilihan utama)

Kunjungan antenatal

Persalinan yang aman

Kunjungan obstetri pada wanita terinfeksi HIV

PROGRAM PMTCT
Mengurangi jumlah ibu hamil dengan pengidap HIV/AIDS
Optimalkan kesehatan ibu dengan HIV +

KONSEP DASAR INTERVENSI PMTCT


Turunkan viral load serendahrendahnya

Meminimalkan paparan janin/bayi dengan cairan tubuh ibu yang HIV +

PENGUNAAN OBAT ANTIRETROVIRAL (ARV)


Mengurangi resiko transmisi perinatal (20%) Tujuan menekan perkembangan virus, perbaiki fungsi immunologis, perbaiki kualitas hidup, kurangi morbiditas dan mortilitas penyakit yang menyertai HIV

PENGUNAAN OBAT ANTIRETROVIRAL (ARV)


Pedoman PMTCT 2010: Pemberian ARV dimulai pada semua wanita hamil dengan jumlah CD4 < 350 sel/mm3 atau stadium klinis 3 dan 4
STADIUM KLINIK WHO 1 2 3 4 Tidak Tersedia Tes CD4 Tidak diobati Tidak diobati Diobati Diobati Tersedia Tes CD4 Diobati jika jumlah sel CD4 <200/mm3 Diobati jika jumlah sel CD4 <200/mm3 Diobati jika jumlah sel CD4 <350/mm3 Diobati tanpa memandang jumlah sel CD4

PENGUNAAN OBAT ANTIRETROVIRAL (ARV)


Pemberian ARV berdasarkan pedoman WHO 2010 yaitu: AZT+3TC+NVP/EFV atau TDF+3TC+NVP/EFV. Terdapat 2 opsi yang ditawarkan WHO untuk tindakan profilaksis:
PROFILAKSIS OPSI A IBU Antepartum : AZT saat 14 minggu kehamilan Intrapartum: AZT/3TC + NVP 2x sehari Postpartum: AZT/3TC + NVP x 7 hari BAYI Bila diberikan ASI: NVP hingga 1minggu lepas ASI Tanpa pemberian ASI: AZT/NVP x 6minggu PROFILAKSIS OPSI B IBU Triple ARV mulai 14 minggu hingga 1 minggu lepas ASI

BAYI NVP/AZT setiap hari sejak lahir hingga umur 4- 6 minggu tanpa memandang pemberian ASI atau tidak

PENGUNAAN OBAT ANTIRETROVIRAL (ARV)