Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

Psikosis merupakan gangguan tilikan pribadi yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya. Hasilnya, terdapat realita baru versi orang psikosis tersebut. Psikosis adalah suatu kumpulan gejala atau sindrom yang berhubungan gangguan psikiatri lainnya, tetapi gejala tersebut bukan merupakan gejala spesifik penyakit tersebut, seperti yang tercantum dalam kriteria diagnostik DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) maupun ICD-10 (The International Statistical Classification of Diseases) atau menggunakan kriteria diagnostik PPDGJ- III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa). Arti psikosis sebenarnya masih bersifat sempit dan bias yang berarti waham dan halusinasi, selain itu juga ditemukan gejala lain termasuk di antaranya pembicaraan dan tingkah laku yang kacau, dan gangguan daya nilai realitas yang berat. Oleh karena itu psikosis dapat pula diartikan sebagai suatu kumpulan gejala/terdapatnya gangguan fungsi mental, respon perasaan, daya nilai realitas, komunikasi dan hubungan antara individu dengan lingkungannya. Penatalaksanaan psikosis yang umumnya digunakan ialah antipsikotik. Penemuan obat antipsikotik pertama yang potent yaitu klorpromazin. Efek obat tersebut secara dramatis mengubah tatalaksana skizofrenia seperti kesulitan menghargai sejauh ini kegagalan obat dalam tatalaksana pasien di bangsal psikiatri. Selama beberapa tahun berbagai penelitian membuktikan bahwa klorpromazin efektif dalam mengatasi gejala skizofrenia seperti waham, halusinasi, gangguan isi pikir, manik, withdrawal, retardasi, kemarahan, dan gangguan perilaku. Pada tahap awal terapi, beberapa pasien merasakan pseudoparkinson dan distonia. Tidak ada efek samping tersebut yang berbahaya, dan sekitar setengah pasien tidak mengalaminya. Distonia, pseudoparkinson, dan akathisia secara umum dapat dikurangi dengan menambahkan obat antiparkinson atau dengan mengurangi dosis. Efek ini penting untuk dicatat dan efek sedasi umumnya hilang dalam beberapa minggu. Beberapa efek samping lain seperti konstipasi, pandangan kabur, merah pada kulit kejadiannya rendah. Agranulositosis sangat jarang dan terjadi terutama pada usia tua dan minggu pertama terapi. Leukopeni lebih sering. Kuning jarang sekitar 1 dari 300-400 pengguna klorpromazin dan ringan. Pembengkakan payudara terjadi pada beberapa pasien. Impotensi sering terjadi pada pria pengguna mellaril dan terkadang dengan obat lain. Efek samping terburuk adalah tardive dyskinesia yaitu gerakan abnormal yang lambat, biasanya bermanifestasi sebagai gerakan mengunyah, terkadang protusi lidah, mengecapkan bibir, gerakan choreiformis minor dari jari dan jempol dan kadang juga pada ekstremitas besar dan badan. Hampir 50% pasien yang menggunakan dalam jangka panjang mengalami gejala ini namun ringan. Jarang pada penggunaan kurang dari 3 bulan. Kondisi ini cenderung menghilang dalam beberapa bulan atau tahun setelah menghentikan obat. Sayangnya tidak ada cara menghindari kondisi ini sambil terapi skizofrenia. Oleh karena efek samping yang ditimbulkan dari obat antipsikotik yang terburuk yakni diskinesia tardif, maka penulis tertarik menyajikan makalah yang membahas tentang diskinesia tardif baik dari penyebab sampai pada penatalaksanaannya.

BAB II OBAT ANTIPSIKOTIK

Obat antipsikotik adalah sekelompok obat yang termasuk psikofarmaka yang menghilangkan atau mengurangi gejala psikosis. Antipsikotik bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku serta digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik. Selain itu, antipsikosis juga digunakan untuk pengobatan psikosis lainnya dan agitasi. 2.1 FARMAKOKINETIK sebagian besar obat anti psikotik yang sudah digunakan tidak sepenuhnya diserap. kebanyakan obat antipsikotik tersebut melalui metabolisme tahap pertama. Dosis oral klopromazin dan thioridazin yang berhasil memasuki sirkulasi sistemik hanya sekitar 25-35%, dimana haloperidol dapat memasuki sirkulasi sistemik sebesar 65%. Kebanyakan obat antipsikotik larut dalam lemak dan terikat oleh protein(92-99%) dan memiliki volume distribusi yang besar(sekitar >7L/kg). kemungkinan karena obat tersebut sangat larut dalam komponen lemak tubuh dan mempunyai afinitas tinggi terhadap reseptor neurotransmitter di sistem saraf pusat. Hal ini berhubungan dengan fungsi dari reseptor dopamin D2 di otak. Metabolit klopromazin akan di ekskresi bersama urin beberapa minggu terhitung dosis terakkhir yang digunakan. 2.2 EFEK FARMAKOLOGIS

Derivat phenotiazin generasi pertama dengan klopromazin sebagai prototipe karena memiliki efek yang luas terhadap sistem saraf pusat, otonom, dan endokrin. Hal tersebut ditunjukkan dengan blokade reseptor alfa adrenergik, muskarinik, H1 histamin, serotonin (5HT2), dan dopamin yang merupakan target utama dari kerja obat tersebut.

A. Sistem dopaminrgik Terdapat 5 fungsi dopaminrgik di otak yang telah diketahui. Fungsi pertama yang berhubungan erat dengan tingkah laku manusia yaitu mesolimbik-mesokortikal yang terletak di badan sel dekat substansia nigra, sistem limbik, dan neokortek. Fungsi kedua yaitu jalur nigrostriatal yang meliputi persarafan yang keluar dari substansia nigra menuju nukleus kaudatus dan putamen yang mengontrol pergerakan volunter. Fungsi ketiga yaitu jalur tuberoinfundibular yang menghubungkan nucleus arkuata dan neuron periventricular ke hipotalamus dan hipofisis posterior. Dopamin dikeluarkan neuron tersebut dan secara fisiologis menghambat sekresi prolaktin. Fungsi keempat yaitu jalur medular-periventricular yang terdiri dari neuron di nukleus motorik nervus vagus yang mempengeraruhi perilaku makan seseorang. Fungsi kelima yaitu jalur inkertopolamik yang terhubung dari zona medial inserta ke hipotalamus yang pada tikus digunakan untuk mengatur aktivitas seksual pada tikus. B. Reseptor dopamin Potensi terapeutik dari obat anti psikotik tidak berhubungan dengan afinitas obat tersebut terhadap reseptor D1 melainkan terhadap reseptor D2. Aktivasi reseptor D2 oleh berbagai agonis langsung ataupun tidak langsung (amfetamin, levodopa, apomorfin) menyebabkan peningkatan aktivitas motorik pada tikus yang dijadikan dasar dalam penggunaan obat antipsikotik pada manusia. Obat antipsikotik memblokade reseptor D2 di sebagian besar tempat dengan afinitas tinggi dan merupakan penyebab gejala ekstrapiramidal pada penggunaan obat antipsikotik tersebut. Penggunaan lama obat antipsikotik telah dilaporkan dapat meningkatkan metabolit dopamin yaitu asam homovanilat di cairan serebrospinal, plasma, dan urin. C. Efek fisiologis Sebagian besar obat antipsikotik menyebabkan efek subjektif yang tidak menyenangkan terhadap orang normal seperti mengantuk, gelisah, dan gejala otonom. Orang normal yang mengkonsumsi obat antipsikotik juga mengakibatkan terhambatnya aktivitas psikomotor. Namun bagi orang psikotik, sebaliknya menunjukkan perkembangan dengan berkurangnya gejala psikotik. D. Efek endokrin Obat antipsikotik generasi pertama menghasilkan efek samping yang mencolok pada sistem reproduksi. Amenorea, galaktorea, dan positif palsu dalam tes kehamilan, serta libido yang meningkat terjadi pada wanita. Lalu efek yang bertentangan seperti menurunnya libido dan ginekomastia terjadi pada pria. Efek-efek tersebut disebabkan oleh blokade reseptor dopamin terhadap hambatan sekresi prolaktin. Selain itu karena meningkatnya konversi androgen ke estrogen di perifer. E. Efek kardiovaskular Hipotensi ortostatik dan peningkatan denyut jantung saat istirahat biasanya sering terjadi pada fenotiazin. Tekanan arteri rata-rata (MAP), resistensi perifer dan curah jantung menurun namun frekuensi jantung meningkat. Hal ini diperkirakan karena efek otonom dari obat antipsikosis tersebut. Penggunaan thiriodazin juga pernah dilaporkan menyebabkan EKG yang abnormal, diantaranya pemanjangan interval QT dan abnormalitas dari ST segmen dan gelombang T.

Perubahan-perubahan tersebut akan berkurang dengan penghentian pengguanaan obat tersebut. 2.3 INDIKASI A. Indikasi psikiatri Skizofrenia merupakan indikasi utama dari obat antipsikotik, dimana obat tersebut masih merupakan pilihan utama dan tidak tergantikan. Sayangnya kerja obat ini kurang optimal, kebanyakan pasien menunjukkan perbaikan yang minimal dan hampir tidak menunjukkan respon yang penuh terhadap pengobatan dengan antipsikotik. Antipsikotik juga diindikasikan untuk gangguan skizoafektif dimana terdapat dua gejala bersamaan yaitu skizofrenia dan gangguan afektif. Beberapa gejala psikotik yang membutuhkan pengobatan dengan obat antipsikotik dimana juga dikombinasikan dengan obat lain seperti antidepresan, lithium, dan asam valproate. Episode manik dari gangguan afektif bipolar juga membutuhkan pengobatan dengan obat antipsikotik. Penelitian terbaru menunjukkan keampuhan monoterapi dengan antipsikosis atipikal di fase manik akut dan olanzapine juga diindikasikan. Dewasa ini pengobatan manik dengan obat antipsikotik sudah tidak dianjurkan meskipun pada pengobatan dengan dosis pemeliharaan, antipsikosis atipikal masih diperbolehkan. Indikasi lain dari penggunaan obat antipsikosis yaitu sindrom tourette, gangguan perilaku pada penyakit alzheimer dan dengan antidepresan, depresi psikotik. Antipsikotik tidak diindikasikan terhadap pengobatan bermacam-macam withdrawal syndromes, seperti kecanduan opioid. B. Indikasi nonpsikiatri Sebagian besar antipsikotik generasi terdahulu kecuali thioridazin mempunyai efek anti muntah yang kuat. Hal ini disebabkan karena blokade reseptor dopamin, baik sentral(CTZ) dan perifer (Reseptor di lambung). Beberapa obat seperti prokloperazin dan benzokuinamid lebih diindikasikan sebagai obat anti muntah. Prometazin juga digunakan sebagai sedasi pada preoperasi. Derivat butirofenon yaitu droperidol digunakan sebagai kombinasi dengan opioid, fentanil pada neuroleptanesia. 2.4 EFEK MERUGIKAN Sebagian besar dari efek yang tidak diinginkan dari antipsikotik adalah disebabkan oleh efek farmakologis obat antipsikotik tersebut. Hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh alergi dan reaksi idiosinkrasi. A. Efek terhadap perilaku Sebagian besar obat antipsikosis tipikal dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. Kebanyakan pasien menghentikan penggunaan karena efek merugikan dimana dapat dikurangin dengan pemberian dosis yang tidak terlalu besar. Pseudodepresi karena disebabkan oleh drug induced akinesia biasanya berespon dengan pemberian obat antiparkinson. Sebab lain yaitu karena dosis yang terlalu besar melebihi dari yang dibutuhkan pada pasien remisi dimana pengurangan dosis akan diikuti pengurangan gejala. Toxic-confusional states dapat terjadi dengan pemberian dosis besar dari obat tersebut. B. Efek neurologis Reaksi ekstrapiramidal terjadi pada penggunaan antipsikosis tipikal yaitu sindrom parkinson, akathisia, dan reaksi distonia akut. Sindrom parkinson dapat ditangani bila diperlukan, yaitu dengan obat antiparkinson konvensional dengan blokade reseptor muskarinik seperti amantidin(agonis dopamin seperti levodopa merupakan kontraindikasi). Akathisia dan distonia juga berespon dengan antimuskarinik. antihistamin H1 generasi

pertama seperti difenhidramin lebih sering digunakan. C. Sistem saraf otonom Sebagian besar pasien dapat mentoleransi efek antimuskarinik dari obat antipsikotik. Namun jika terjadi efek samping yang tidak nyaman atau terjadi retensi urin atau gejala lainnya yang lebih berat dapat diganti dengan preparat tanpa efek anti muskarinik. Hipotensi ortostatik, gangguan ejakulasi akibat terapi klopromazin atau mesoridazin harus diganti ke obat dengan efek blokade adrenoreseptor minimal. Efek metabolisme dan endokrin Berat badan bertambah sering terjadi pada pengobatan dengan anti psikosis khususnya klozapin dan olanzapin dan membutuhkan monitor asupan makanan terutama karbohidrat. Beberapa pasien juga memperlihatkan kadar glukosa darah yang meningkat.hiperprolaktinemia pada wanita yang dapat mengakibatkan sindrom amenoregalaktorea dan infertilitas. Pada pria kehilangan libido, impotensia dan infertilitas dapat terjadi.

D. Efek alergi dan toksisitas Agranulositosis, jaundice akibat kolestasis, erupsi kulit jarang terjadi. Klozapin dapat menyebabkan agranulositosis dalam jumlah kecil kira-kira 1-2%. Karena resiko agranulositosis tersebut, pasien dengan terapi klozapin harus dilakukan hitung jenis darah tiap minggu selama 6 bulan pertama dan setiap 3 minggu setelah 6 bulan. E. Efek kardiotoksisitas Thioridazin dengan dosis harian 300mg dapat menyebabkan abnormalitas gelombang T yang reversibel. Overdosis thioridazin dapat menyebabkan ventrikular aritmia, blok konduksi listrik jantung, dan kematian langsung. Antipsikosis atipikal ziprasidon merupakan obat dengan kemungkinan terbesar menyebabkan pemanjangan QT interval oleh karena itu jangan dikombinasikan dengan obat lain seperti thioridazin, pimozid, dan quinidin yang mempunyai efek serupa. F. Efek dismorfogenesis pada kehamilan Meskipun obat antipsikosis terbilang aman pada kehamilan, namun masih terdapat resiko minimal untuk efek teratogenik. G. Efek sindrom neuroleptik maligna Merupakan kondisi yang mengancam kehidupan akibat reaksi idiosinkrasi terhadap obat anti psikosis( Resiko lebih besar pada long action). Kondisi seperti dehidrasi, kelelahan, dan malnutrisi membuat resiko SNM menjadi lebih tinggi. Diagnosis sindrom neuroleptik maligna : Suhu badan >38C (hiperpireksia) Sindrom ekstrapiramidal berat (rigiditas) Gejala disfungsi otonom ( inkontinensia urin) Perubahan status mental Perbubahan tingkat kesadaran Gejala timbul dan berkembang dengan cepat. 2.5 KLASIFIKASI OBAT ANTIPSIKOTIK

Obat antipsikotik sekarang ini dibagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan Tipikal dan Atipikal. Hal ini didasarkan atas besarnya efek ekstrapiramidal yang di sebabkan. Disebut golongan atipikal karena golongan ini sedikit menyebabkan gangguan ekstrapiramidal, sedangkan disebut golongan tipikal karena efek ekstrapiramidal yang dihasilkan cukup besar. Obat golongan atipikal pada umumnya memiliki afinitas yang lemah terhadap reseptor D 2, Selain itu juga memiliki afinitas terhadap reseptor D 4, serotonin, histamin, reseptor muskarinik dan reseptor alfa adrenergik. Kebanyakan antipsikosis golongan tipikal mempunyai afinitas tinggi dalam menghambat reseptor D 2, hal inilah yang diperkirakan menyebabkan efek ekstrapiramidal yang kuat.

Antipsikostik Tipikal Klorpromazin (CPZ) Efek farmakologis klorpromazin meliputi susunan saraf pusat, sistem otonom, dan sistem endokrin. Efek ini terjadi karena antipsikosis menghambat berbagai reseptor, diantaranya dopamin reseptor, -adrenergik, muskarinik, histamin H1 dan reseptor serotonin 5HT2 dengan afinitas yang berbeda. Klorpromazin selain memiliki afinitas pada reseptor dopamin, juga memiliki afinitas yang tinggi terhadap reseptor -adrenergik.

CPZ menimbulkan efek sedatif yang disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangsang dari lingkungan. Pada pemakaian lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emosional pasien sebelum minum obat. CPZ tidak dapat mencegah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang oleh obat. CPZ yang merupakan golongan fenotiazin mempengaruhi ganlia basal, sehingga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal) CPZ dapat mengurangi atau mencegah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemoreceptor trigger zone. Pada dosis berlebihan semua derivate fenotiazin dapat menyebabkan gejala ekstrapiramidal serupa dengan yang terlihat pada Parkinson. Dikenal 6 gejala sindrom neurologik yang karateristik dari obat ini. Empat diantaranya biasa terjadi sewaktu obat diminum, yaitu distonia akut, akatisia, parkinsonisme, dan sindrom neuroleptic malignan. Dua sindrom lainya terjadi setelah pengobatan berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, berupa tremor perioral dan dyskinesia tardii. CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot rangka yang berada dalam keadaan spastik. Cara kerja relaksasi ini diduga bersifat sentral sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ. CPZ memiliki efek samping terhadap sistem reproduksi, terhadap wanita dapat terjadi amenorea, galaktorea, dan peningkatan libido, sedangkan pada pria penurunan libido dan ginekomastia. Efek ini terjadi karena efek sekunder dari hambatan dopamin yang menyebabkan hiperprolaktinemiam serta adanya kemungkinan peningkatan perubahan androgen menjadi estrogen di perifer.

Hipotensi ortostatik dan peningkatan denyut nadi saat istirahat biasanya sering terjadi dengan derivate fenotiazin. Tekanan arteri rata-rata, resistensi perifer, curah jantung menurun dan frekuensi jantung meningkat. Efek ini diperkirakan karena efek otonon dari obat psikosis. Klorpromazin memiliki bioavaibilitas berkisar antara 25%-35%, besifat larut dalam lemak dan

terikat kuat dengan protein plasma (92%-99%) serta memiliki volume distribusi besar. Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir. Haloperidol haloperidol berguna untuk menenangkan keadaan mania pasien psikosis yang karena halt tertentu tidak dapat diberikan fenitiazin. Reaksi ekstrapiramidal timbul pada 80% pasien yang diobati haloperidol. Struktur haloperidol berbeda dengan fenotiazin. Haloperidol memperlihatkan antipsikosis yang kuat dan efektif untuk fase mania pneyakit manik depresi dan skizofenia. Haloperidol menenangkan dan menyebabkan tidur pada orang yang mengalami ekstasi. Efek sedatif haloperidol kurang kuat disbanding dengan CPZ, sedangkan efek haloperidol terhadap EEG menyerupai CPZ yakni memperlambat dan menghambat jumlah gelombang teta. Haloperidol dan CPZ sama kuat menurunkan ambang rangsang konvulsi. Haloperidol menghambat sistem dopamin dan hipotalamus, juga menghambat muntah yang ditimbulkan oleh apomorfin. Efek haloperidol terhadap sistem saraf otonom lebih kecil daripada efek antipsikotik lain, walaupun demikian haloperidol dapat menyebabkan pandangan kabur (blurring of vision). Obat ini menghambat aktivasi respetor -adrenergik , tetapi hambatanya tidak sekuat hambatan CPZ. Haloperidol menyebabkan hipotensi, tetapi tidak sesering dan sehebat CPZ. Haloperidol juga menyebabkan takikardia. Seperti CPZ, haloperidol menyebabkan galaktorea dan respon endokrin lainya. Haloperidol cepat diserap dari saluran cerna. Kadar puncaknya dalam plasma tercapai dalam waktu 2-6 sejak menelan obat, menetap sampai 72 jam dan masih dapat ditemukan dalam plasma sampai berminggu-minggu. Obat ini ditimbun dalam hati dan kita-kira 1% dari dosis yang diberikan diekskresikan melalui empedu.Ekskresi haloperidol lambat melalui ginjal, kira-kira 40% obat dikeluarkan selama 5 hari sesudah pemberian dosis tunggal. Haloperidol menimbulkan reaksi ekstrapiramidal dengan insiden yang tinggi terutama pada pasien usia muda. Pengobatan dengan haloperidol harus dimulai dengan hati-hati, dapat terjadi depresi akibat reversi keadaan mania. Perubahan hematologi ringan dapat terjadi, seperti leukopenia dan agranulositosis. Frekuensi keadaan ikterus akibat haloperidol rendah. Haloperidol sebaiknya tidak diberikan kepada wanita hamil, karena belum dapat terbukti bahwa obat ini tidak menimbulkan efek teratogenik.

Dibenzoksazepin Obat ini mewakili golongan antipsikosis yang baru, namun sebagian besar memiliki efek farmakologiknya sama. Loksapin memiliki efek antiemetik, sedatif, antikolinergik dan antiadrenergik. Obat ini berguna untuk mengobati skizofrenia dan psikosis lainnya. Obat ini memiliki efek ekstrapiramidal dan diskinesia tardif, serta dapat menurunkan ambang bangkita pasien, sehingga harus digunakan hati-hati pada pasien dengan riwayat kejang.

Loksapin diarbsorbsi baik peroral, kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 1 jam (IM) dan 2 jam (oral). Waktu paruh loksapin ialah 3,4. Metabolit utamanya memiliki waktu paruh lebih lama (9jam).

Antipsikosis Atipikal Klozapin Merupakan antipsikotik atipikal pertama dengan potensi lemah. Disebut atipikal karena obat ini hampir tidak menimbulkan efek ekstrapiramidal dan peningkatan kadar prolaktin serum. Klozapin efektif untuk mengontrol gejala-gejala psikosis dan schizophrenia baik yang positif ( iritabilitas ) maupun yang negative (social disinterest dan incompetence, personal neatness) . Efek yang bermanfaat terlihat dalam waktu 2 minggu, diikuti perbaikan secara bertahap pada minggu-minggu berikutnya. Obat ini berguna untuk pengobatan pasien yang refrakter terhadap obat standar. Selain itu Klozapin juga cocok digunakan pada pasien yang menunjukan gejala ekstrapiramidal berat pada pemberian antipsikosis tipikal. Namun karena klozapin memiliki resiko timbulnya agranulositosis yang lebih tinggi dibanding dengan antipsikosis lain. Maka penggunanannya dibatasi hanya pada pasien yang resisten atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis yang lain. Pasien yang diberi klozapin perlu dipantau jumlah sel darah putihnya setiap minggu. Agranulositosis merupakan efek samping utama yang ditimbulkan pada pengobatan menggunakan klozapin. Penggunaan obat ini tidak boleh lebih dari 6 minggu kecuali bila terlihat adanya perbaikan yang signifikan. Efek samping lain yang dapat terjadi antara lain hipertermia, takikardia, sedasi, pusing kepala, hipersalivasi. Gejala overdosis meliputi, letargi, koma, delirium, takikardia, depresi napas, aritmia, kejang dan hipertermia Klozapin diabsorpsi secara cepat dan sempurna pada pemberian per oral. Kadar puncak plasma tercapai pada kira-kira 1.6 jam setelah pemberian obat. Diekskresi lewat urin dan tinja, dengan waktu paruh rata-rata 11.8 jam. Risperidon Risperidon yang merupakan derivate dari benzisoksazol mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor serotonin (5HT2), dan aktivitas menengah terhadap reseptor dopamin D2, alfa 1 dan alfa 2 adrenergik dan reseptor histamine. Aktivitas antipsikosis diperkirakan melalui hambatan terhadap reseptor serotonin dan dopamin. Bioavailibilitas oral sekitar 70%. Diplasma risperidon terikat dengan albumin dan alfa1 glikoprotein. Risperidon dan metabolitnya dieliminasi lewat urin dan sebagian kecil lewat feses. Indikasi risperidon adalah terapi skizofrenia baik untuk gejala positif dan gejala negative, gangguan bipolar, depresi dengan cirri psikosis. Secara umum risperidon dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dilaporkan adalah insomnia, agitasi, ansietas, somnolen, mual, muntah, peningkatan berat badan, hiperprolaktinemia dan reaksi ekstrapiramidal terutama tardive diskinesia. Efek samping ekstrapiramidal umumnya lebih ringan disbanding antipsikosis tipikal. Olanzapin Merupakan derivat tienobezondiazepin dan memiliki struktur kimia mirip klozapin. Olanzapin memiliki afinitas terhadap reseptor dopamin (D2, D3, D4, D5), serotonin(5HT2), muskarinik, histamin(H1) dan reseptor alfa 1. Obat ini diabsorbsi dengan baik setelah pemberian oral, dengan kadar plasma tercapai setelah 4-6 jam pemberian. Olanzapin mengalami metabolisme enzim CYP 2D6 dan diekskresi lewat urin.

Indikasi utama dari olanzapin adalah mengatasi gejala negatif dan positif dari skizofrenia dan dapat juga digunakan sebagai antimania. Selain itu, depresi dengan gejala psikotik juga dapat dapat mendapat terapi olanzapin. Tidak seperti klozapin, olanzapin tidak dapat menimbulkan agranulositosis. Olanzapin dapat ditoleransi dengan baik dengan efek samping ekstrapiramidal terutama tardiv diskinesia yang minimal. Selain itu, peningkatan berat badan dan gangguan metabolik seperti intoleransi glukosa, hiperglikemia, dan hiperlipidemia sering dilaporkan pada penggunaan olanzapin. Quetiapin Quetiapin memiliki afinitas terhadap reseptor dopamin(D2), serotonin(5HT2) dan bersifat agonis parsial terhadap reseptor serotonin (5HT1A) yang diperkirakan mendasari efektivitas obat ini untuk gejala positif maupun negatif skizofrenia Absorbsi quetiapin cepat setelah pemberian oral. Kadar plasma maksimal tercapai setelah pemberian 1-2 pemberian dan terikat protein sekitar 83%. Quetiapin dimetabolisme melalui hati oleh enzim CYP 3A4 dan diekskresi sebagian besar melalui urin dan sebagian kecil melalui feses. Quetiapin digunakan pada penderita skizofrenia dengan gejala positif maupun negatif.obat ini dilaporkan dapat meningkatkan kemampuan kognitif seperti perhatian, kemampuan berpikir, berbicara, dan kemampuan mengingat membaik. Selain itu quetiapin juga diindikasikan untuk gangguan depresi dan mania. Efek samping yang umum terjadi pada penggunaan quetiapin yaitu sakit kepala, somnolen, dan dizziness.efek samping yang sering terjadi pada penggunaan anti psikosis atipikal lainnya seperti berat badan meningkat, gangguan metabolik dan hiperprolaktinemia juga terjadi pada quetiapin. Namun gejala ekstrapiramidal minimal. Ziprasidon Obat ini dikembangkan daengan harapan memiliki spektrum skizofrenia yang luas, baik gejala positif, negatif maupun gejala afektif dengan efek samping yang minimal terhadap prolaktin, metabolik, gangguan seksual, dan efek antikolinergik. obat ini memiliki afinitas tinggi terhadap reseptor serotonin(5HT2), dan dopamin(D2). Absorbsi ziprasidon cepat setelah pemberian oral dan di metabolisme di hati lalu diekskresikan sebagian kecil melalui ginjal dalam bentuk urin. Ziprasidon berikatan erat dengan protein plasma(sekitar 99%) Ziprasidon diindikasikan pada keadaan akut skizofreni, gangguan skizoafektif serta gangguan bipolar. Efek samping ziprasidon hampir sama dengan efek samping antipsikosis atipikal lainnya, namun ziprasidon dapat menimbulkan kelainan kardiovaskular yaitu pemanjangan interval QT.