Anda di halaman 1dari 26

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

A. Judul Percobaan B. Hari, Tanggal Percobaan C. Selesai Percobaan D. Tujuan Percobaan

: PEMBUATAN SABUN : Kamis, 14 Maret 2013 : Kamis, 14 Maret 2013 :

1. Membuat langkah kerja pembuatan sabun 2. Meramal reaksi pembuatan sabun 3. Menjelaskan perbedaan produk sabun yang dibuat menggunakan basa NaOH dan KOH 4. Membuat emulsi sabun 5. Menjelaskan tentang proses pembentukan emulsi air sabun dengan minyak 6. Menentukan kualitas minyak berdasarkan bilangan asam dan bilangan penyabunan E. Dasar Teori Molekul sabun berbentuk rantai panjang panjang dan satu gugus ionik yang besifat sangat polar. Pada seluruh rantai panjangnya, strukturnya tepat sama dengan molekul minyak sehingga memiliki keakraban dengan molekul minyak (bersifat hidrofilik). Sementara pada bagian kepala, ada sepasang atom yang bermuatan listrik yang hanya senang bergabung dengan molekul air (bersifat hidrofobik). Kepala inilah yang membuat seluruh molekul sabun menyatu dengan air. Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak.Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna. Sabun dibuat dengan cara mencampurkan larutan NaOH / KOH dengan minyak atau lemak. Melalui reaksi kimia, NaOH / KOH mengubah Minyak / Lemak menjadi Sabun. Proses ini disebut Saponifikasi. Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah adalah reaksi trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan gliserin. Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut : C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping juga memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil, melainkan larut dalam bentuk ion. Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat. Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali. Selain itu, jenis minyak yang digunakan juga mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan. Minyak kelapa akan menghasilkan sabun yang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak kacang, dan minyak biji katun. Ada beberapa karaktersitik yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dasar sabun antara lain: Warna Lemak dan minyak yang berwarna terang merupakan minyak yang bagus untuk digunakan sebagai bahan pembuatan sabun. Angka Saponifikasi Angka saponifikasi adalah angka yang terdapat pada milligram kalium hidroksida yang digunakan dalam proses saponifikasi sempurna pada satu gram minyak. Angka saponifikasi digunakan untuk menghitung alkali yang dibutuhkan dalam saponifikasi secara sempurna pada lemak atau minyak. Bilangan Iod Bilangan iod digunakan untuk menghitung katidakjenuhan minyak atau lemak, semakin besar angka iod, maka asam lemak tersebut semakin tidak jenuh. Dalam pencampurannya, bilangan iod menjadi sangat penting yaitu untuk mengidentifikasi ketahanan sabun pada suhu tertentu. 2.3 Sifat-Sifat Sabun Sifat sifat sabun yaitu : a. Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa. CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaOH b. Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

mengendap. CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2 c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air. Non polar : CH3(CH2)16 Polar : COONa+ (larut dalam miyak, hidrofobik, (larut dalam air, hidrofilik, memisahkan kotoran non polar) memisahkan kotoran polar) . olekul-molekul sabun terdiri dari rantai hidrokarbon yang panjang dengan satu gugus ionik yang sangat polar pada salah satu ujungnya. Ujung ini bersifat hidrofilik (tertarik atau larut dalam air) dan ujung rantai hidrokarbon bersifat lipofilik (tertarik atau larut dalam minyak dan lemak). Pengotor umumnya melekat pada pakaian atau badan dalam bentuk lapisan minyak yang sangat tipis. Jika lapisan minyak ini dapat dibuang, partikel-partikel pengotor dikatakan telah tercuci. Dalam proses pencucian, lapisan minyak sebagai pengotor akan tertarik oleh ujung lipofilik sabun, kemudian kotoran yang telah terikat dalam air pencuci karena ujung yang lain (hidrofilik) dari sabun larut dalam air Sifat-sifat fisik sabun yang perlu diketahui oleh design engineer dan kimiawi adalah sebagai berikut: 1. Viskositas Setelah minyak atau lemak disaponifikasi dengan alkali, maka akan dihasilkan sabun yang memiliki viskositas yang lebih besar dari pada minyak atau alkali. Pada suhu di atas 75o C viskositas sabun tidak dapat meningkat secara signifikan, tapi di bawah suhu 75o C viskositasnya dapat meningkatkan secara cepat. Viskositas sabun tergantung pada temperature sabun dan komposisi lemak atau minyak yang dicampurkan. 2. Panas Jenis Panas jenis sabun adalah 0,56 Kal/g. 3. Densitas Densitas sabun murni berada pada range 0,96g/ml 0,99g/ml. 2.2 Reaksi Dasar Pembuatan Sabun 1. Saponifikasi Pembuatan sabun tergantung pada reaksi kimia organik, yaitu saponifikasi. Lemak direaksi dengan alkali untuk menghasilkan sabun dan gliserin. Persamaan reaksi dari saponifikasi adalah:

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

C3H3(O2CR)3 + NaOH 3RCOONa + C3H5(OH)3 Lemak minyak Alkali Sabun Gliserin Saponifikasi merupakan reaksi ekstern yang menghasilkan padan sekitar 65 kalori per kilogram minyak yang disaponifikasi. pada rumus kimia diatas, R dapat berupa rantai yang sama maupun berbeda-beda dan biasanya dinyatakan dengan R1, R2, R3. rantai R dapat berasal dari laurat, palmitat, stearat, atau asam lainnya yang secara umum di dalam minyak disebut sebagai eter gliserida. Struktur gliserida tergantung pada komposisi minyak. Perbandingan dalam pencampuran minyak dengan beberapa gliserida ditentukan oleh kadar asam lemak pada lemak atau minyak tersebut. Reaksi saponifikasi dihasilkan dari pendidihan lemak dengan alkali dengan menggunakan steam terbuka. 2. Hidrolisa Lemak dan Penetralan dengan Alkali Pembuatan sabun melalui reaksi hidrolisa lemak tidak langsung menghasilkan sabun. Minyak atau lemak diubah terlebih dahulu menjadi asam lemak melalui proses Splitting (hidrolisis) dengan menggunakan air, selanjutnya asam lemak yang dihasilkan dari reaksi hidrolisis tersebut akan dinetralkan dengan alkali sehingga akan dihasilkan sabun. Hidrolisa ini merupakan kelanjutan dari proses saponifikasi. Secara kimia rekasi pembuatan sabunnya adalah : (i) C3H5(O2CR)3 + 3H2O 3RCO2H + C3H5(OH)3 Lemak/ Minyak Air Sabun Gliserida (ii) 3RCOOH + 3NaOH 3RCOONa + 3H2O Air yang digunakan pada proses hidrolisis dapat berupa air dingin, panas atau dalam bentuk uap air panas (steam). Pada proses hidrolisa lemak, air yang digunakan berada pada tekanan dan temperatur yang tinggi, supaya reaksi hidrolisa dapat terjadi dengan cepat. Jika natrium karbonat (Na2CO3) digunakan sebagai penetralan asam lemak, maka selama reaksi saponifikasi akan mengahsilkan CO2 dan menyebabkan massa bertambah sehingga material yang ada di dalam reaksi akan tumpah karena melebihi kapasitas reaksi yang digunakan. Dengan alasan ini, maka Na2CO3 digunakan pada reaksi yang berada pada reactor yang memiliki kapasitas yang cukup besar. 2.3 Bahan Mentah Pembuat Sabun Secara teoritis semua minyak atau lemak dapat digunakan untuk membuat sabun. Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih bahan mentah untuk membuat sabun. Beberapa bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun antara lain: 1. Minyak atau Lemak Tallow (Lemak Hewan)

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

Tallow adalah lemak padat pada temperatur kamar dan merupakan hasil pencampuran Asam Oleat (0-40%), Palmitat (25-30%), stearat (15-20%). Sabun yang berasal dari Tallow digunakan dalam industri sutra dan industri sabun mandi. Pada indsutri sabun mandi, tallow biasanya dicampurkan dengan minyak kelapa dengan perbandingan 80% tallow dan 20% minyak kelapa. Minyak Kelapa Minyak kelapa merupakan komponen penting dalam pembuatan sabun, kerena harga minyak kelapa cukup mahal, maka tidak digunakan untuk membuat sabun cuci. Minyak kelapa ini berasal dari kopra yang berisikan lemak putih dan dileburkan pada suhu 15oC. Minyak Inti Sawit Minyak inti sawit memiliki karekteristik umum, seperti minyak kelapa dan dapat dijadikan sebagai substituen dari minyak kelapa di dalam pembuatan sabun mandi. Dengan warna minyak yang terang, minyak inti sawit dapat digunakan langsung untuk membuat sabun tanpa perlakuan pendahuluan terlebih dahulu. Minyak Sawit (Palm Oil) Dalam pembuatan sabun, minyak sawit dapat digunakan dalam berbagai macam bentuk, seperti Crude Palm Oil, RBD Palm Oil (minyak sawit yang telah dibleaching dan dideorisasi), Crude Palm falty Acid dan asam lemak sawit yang telah didestilasi. Crude Plam Oil yang telah dibleaching digunakan untuk membuat sabun cuci dan sabun mandi, RBD Palm Oil dapat digunakan tanpa melalui Pre-Treatment terlebih dahulu. Minyak sawit yang dicampurkan dalam pembuatan sabun sekitar 50% atau lebih tergantung pada kegunaan sabun yang diproduksi. Marine Oil. Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku. Castor Oil (minyak jarak). Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun transparan. Olive oil (minyak zaitun). Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

Campuran minyak dan lemak. Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun. 2. Alkali Bahan terpenting lainnya dalam pembuatan sabun adalah alkali seperti NaOH, KOH, dan lain-lain. NaOH biasanya digunakan untuk membuat sabun cuci, sedangkan KOH digunakan untuk sabun mandi. Alkali yang digunakan harus bebas dari kontaminasi logam berat karena mempengaruhi nama dan struktur sabun serta dapat menurunkan resistansi terhadap oksidasi. 3. Bahan Pendukung Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif. NaCl. NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas. Bahan aditif. Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders, Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum.

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

F. Alat dan Bahan A. Alat B. Bahan Tabung Reaksi Pipet tetes Gelas ukur Timbangan Gelas kimia Erlenmeyer Pendingin refluks Statif dan klem Pengaduk/mixer Penangas air Minyak goring Etanol p.a Pellt KOH Pellet NaOH Gliserin Minyak zaitun Larutan NaCl/KCl jenuh Larutan KOH 0,1 N Larutan KOH alkoholis 0,5 N Larutan HCl 0,5 N Indicator PP

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

G. Prosedur Percobaan 1. Pembuatan Sabun


1.4 gram NaOH Dilarutrkan daam 3.3mL air Dibiarkan dingin

Larutan NaOH

10 gram minyak sawit Ditambah 1 gram asam stearat Dipanaskan sampai suhu 70C sampai seluruh asam stearat mencair Dibiarkan suhu turun menjadi 50C Ditambah larutan NaOH yang sudah dibuat sebelumnya Diaduk terus Ditambah 12 gram alkohol Ditambah 4 gram gliserin Dipanaskan

Larutan Jernih Sabun Padat Dibiarkan agak dingin Ditambah minyak zaitun Dituang dalam cetakan

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

10 gram minyak kelapa Ditambah 1 gram asam stearat Dipanaskan sampai suhu 70C sampai seluruh asam stearat mencair Dibiarkan suhu turun menjadi 50C Ditambah larutan NaOH yang sudah dibuat sebelumnya Diaduk terus Ditambah 12 gram alkohol Ditambah 4 gram gliserin Dipanaskan

Larutan Jernih Sabun Padat Dibiarkan agak dingin Ditambah minyak zaitun Dituang dalam cetakan

10 gram minyak curah Ditambah 1 gram asam stearat Dipanaskan sampai suhu 70C sampai seluruh asam stearat mencair Dibiarkan suhu turun menjadi 50C Ditambah larutan NaOH yang sudah dibuat sebelumnya Diaduk terus Ditambah 12 gram alkohol Ditambah 4 gram gliserin Dipanaskan

Larutan Jernih Sabun Padat Dibiarkan agak dingin Ditambah minyak zaitun Dituang dalam cetakan

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

2. Sifat Emulsi Sabun a. Minyak Sawit


3mL akuades + 5 tetes minyak waktu 3mL akuades + 5 tetes minyak waktu Dikocok Didiamkan Diamati pemisahan yang terjadi Dicatat waktu pemisahan Ditambah 2mL larutan sabun Dikocok Didiamkan Diamati pemisahan yang terjadi Dicatat waktu pemisahan

b. Minyak Curah

3mL akuades + 5 tetes minyak waktu 3mL akuades + 5 tetes minyak waktu Dikocok Didiamkan Diamati pemisahan yang terjadi Dicatat waktu pemisahan Ditambah 2mL larutan sabun Dikocok Didiamkan Diamati pemisahan yang terjadi Dicatat waktu pemisahan

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

c. Minyak Kelapa
3mL akuades + 5 tetes minyak waktu 3mL akuades + 5 tetes minyak waktu Dikocok Didiamkan Diamati pemisahan yang terjadi Dicatat waktu pemisahan Ditambah 2mL larutan sabun Dikocok Didiamkan Diamati pemisahan yang terjadi Dicatat waktu pemisahan

3. Bilangan Asam
5-10 gram minyak Dimasukkan dalam erlenmeyer - Ditambah 25mL etanol - Ditambah 5 tetes indikator pp - Dititrasi dengan KOH 0.1N - Diulangi sebanyak 3x - Dihitung bilangan asam Bilangan Asam -

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

4. Bilangan Penyabunan
1.5-2 gram minyak Dimasukkan erlenmeyer Ditambah 25mL KOH alkoholik 0.5N Direfluks selama 30 menit Didinginkan Kelebihan KOH dititrasi dengan HCl 0.5N Ditambah indikator PP Diulangi sebanyak 3x Dihitung bilangan penyabunan

Bilangan Penyabunan

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

H. Hasil Percobaan Alur Kerja Hasil Pengamatan Sebelum Pembuatan Sabun


1.4 gram NaOH Dilarutrkan daam 3.3mL air Dibiarkan dingin Larutan NaOH 10 gram minyak sawit Ditambah 1 gram asam stearat Dipanaskan sampai suhu 70C sampai seluruh asam stearat mencair Dibiarkan suhu turun menjadi 50C Ditambah larutan NaOH yang sudah dibuat sebelumnya Diaduk terus Ditambah 12 gram alkohol Ditambah 4 gram gliserin Dipanaskan Larutan Jernih Dibiarkan agak dingin Ditambah minyak zaitun Dituang dalam cetakan NaOH: butiran putih Minyak kelapa: kuning Minyak kelapa sawit: kuning jernih Minyak curah: kuning keruh Asam stearat: butiran putih Gliserin: lar. Tidak berwarna Alkohol: lar. Tidak berwarna

Sesudah
Larutan NaOH: tidak berwarna Minyak + asam stearat: larut Ditambah NaOH: lar. Jernih Ditambah gliserin: menggumpal Hasil sabun Minyak kelapa sawit: kuning, keras Minyak kelapa: tidak berwarna Minyak curah: kuning keruh

Dugaan Reaksi / Hipotesis Reaksi saponifikasi


H2C O COR1 HC O COR2 + 3NaOH

Simpulan

H2C O COR3 H2C OH HC OH + 3NaOCOR H2C OH

Perbedaan yang diperoleh dari tiga jenis sabun yang sudah dibuat terletak pada warna dan struktur sabun (keras/lunak).

Sabun Padat

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

Sifat Emulsi Sabun


3mL akuades + 5 tetes minyak Ditambah 2mL larutan sabun Dikocok Didiamkan Diamati pemisahan yang terjadi Dicatat waktu pemisahan waktu 3mL akuades + 5 tetes minyak Dikocok Didiamkan Diamati pemisahan yang terjadi Dicatat waktu pemisahan waktu

Minyak + air: tidak homogen Minyak + air + sabun: sedikit larut Jika dikocok: larut Hasil Minyak sawit Minyak + air: 20 detik Minyak + air + sabun: 1 menit 23 detik Minyak kelapa Minyak + air: 25 detik Minyak + air + sabun: 1 menit 50 detik Minyak curah Minyak + air: 15 detik Minyak + air + sabun: 1 menit 50 detik

Minyak + air akan lebih cepat memisah daripada campuran minyak + air + sabun.

Sifat emulsi pada minyak kelapa lebih bagus daripada minyak sawit dan minyak curah Air + minyak + sabun lebih susah memisah daripada air + minyak karena sabun memiliki sifat emulsi

Bilangan Asam
5-10 gram minyak Dimasukkan dalam erlenmeyer Ditambah 25mL etanol Ditambah 5 tetes indikator pp Dititrasi dengan KOH 0.1N Diulangi sebanyak 3x Dihitung bilangan asam

Indikator pp: lar. Tidak berwarna KOH: lar. Tidak berwarna Etanol: lar. Tidak berwarna

Minyak + etanol: tidak homogen Minyak + etranol + pp: lar. Tidak berwarna Setelah titrasi: lar. Merah muda V KOH 1. 2. 3. 0.6 mL 0.7 mL 0.6 mL

Bilangan asam 1. 0.336 x 10-3 2. 0.392 x 10-3 3. 0.336 x 10-3 Rata-rata: 0.355 x 10-3

Bilangan Asam

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

Bilangan Penyabunan
1.5-2 gram minyak Dimasukkan erlenmeyer Ditambah 25mL KOH alkoholik 0.5N Direfluks selama 30 menit Didinginkan Kelebihan KOH dititrasi dengan HCl 0.5N Ditambah indikator PP Diulangi sebanyak 3x Dihitung bilangan penyabunan

KOH: lar. Tidak berwarna HCl: lar tidak berwarna Indikator PP: lar tidak berwarna Minyak: kuning

Minyak + KOH: lar. Kuning Setelah di refluk: lar. Kuning Ditambah PP: lar. Merah muda Setelah dititrasi dengan HCl: lar. kuning V HCl 1. 2. 3. 4.3 mL 7.1 mL 17.3 mL

Minyak curah 91.25 x 10-3 Minyak sawit 133.3 x 10-3 Minyak kelapa 127.75 x 10-3

Semakin tinggi bilangan sabun maka semakin rendah kualitas sabun. Bilangan penyabunan minyak 1. 2. 3. 39.2375 x 10-3 64.79 x 10-3 157.86 x 10-3

Rata-rata 87.296 x 10-3

Bilangan Penyabunan

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

I. Analisis dan Pembahasan 1. Pembuatan Sabun Dalam percobaan pembuatan sabun ini dilakukan pembuatan sabun dengan mereaksikan alkali dan minyak, reaksi ini juga biasa disebut sebagai reaksi saponifikasi. Pembuatan sabun dalam percobaan ini bertujuan untuk menghasilkan sabun dari tiga bahan baku yang berbeda yaitu minyak kelapa, minyak kelapa sawit dan minyak curah. Hasil dari proses pembuatan sabun ini berguna untuk mengetahui perbandingan sabun yang dihasilkan. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan larutan NaOH dengan melarutkan 1.4 gram butiran putih NaOH dengan 3.3mL air. Setelah itu pada gelas kimia berbeda disiapkan 10 gram Minyak yang ditambah dengan 1 gramasam stearat. Campuran minyak dan asam stearat tersebut kemudian dipanaskan dengan suhu 70C sampai seluruh butiran asam stearat mencair. Namun pemanasan dengan suhu terlalu panas akan mengoksidasi minyak yang menyebabkan warnanya menjadi cokelat, hal ini behubungan erat dengan bilangan peroksida yaitu nilai untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak atau lemak yang disebabkan oleh autooksidasi. Lalu didinginkan sampai suhunya turun menjadi 50C dan dicampurkan dengan larutan NaOH yang sudah disiapkan sebelumnya. Alasan penggunaan NaOH adalah agar reaksi menghasilkan sabun padat, karena jika basa yang digunakan adalah KOH maka yang dihasilkan adalah sabun cair. Campuran ini merupakan larutan encer yang kemudian ditambah 12 gram alkohol dan 4 gram gliserin sehingga menjadi larutan kental yang menggumpal. Lalu campuran ini dipanaskan kembali dengan diaduk sampai larutan mencair dan ditambah dengan minyak zaitun. Minyak zaitun berfungsi untuk memberikan aroma yang harum pada sabun yang dihasilkan. Setelah itu larutan tersebut dituang dalam cetakan dan ditunggu hingga dingin untuk mendapatkan sabun padat. Langkah percobaan tersebut dilakukan sama untuk minyak kelapa, minyak sawit dan minyak curah. Dari hasil percobaan didapatkan sabun yang berasal dari minyak kelapa berstruktur lunak dan tidak berwarna, sabun dari minyak sawit berstruktur keras dan berwarna kuning sedangkan sabun dari minyak curah berstruktur keras dan berwarna kuning keruh.

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

2. Sifat Emulsi Sabun Pada percobaan sifat emulsi sabun ini percobaan dilakukan untuk mengetahui sifat emulsi dari tiap sabun yang dihasilkan pada percobaan pertama. Sabun yang diuji adalah sabun yang telah dibuat dari minyak kelapa, minyak sawit dan minyak curah. Percobaan emulsi ini dilakukan dengan membandingkan waktu yang dihasilkan tiap sabun yang sudah dikocok untuk dapat memisah. Semakin lama waktu yang diperlukan sabun untuk memisah, maka semakin kuat sifat emulsinya. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencampurkan 3mL air dengan 5 tetes minyak dalam tabung reaksi kemudian ditambah dengan 2mL larutan sabun dari masing-masing minyak yang telah dibuat dengan melarutkan 0.1-0.2 gram sabun dalam 6-8mL air. Setelah tercampur tabung reaksi dikocok sampai menjadi homogen kemudian didiamkan agar terjadi pemisahan lapisan minyak. Lama waktu yang diperlukan untuk memisahkan lapisan minyak dicacat dan dibandingkan dengan lama waktu pemisahan lapisan minyak yang dilakukan tanpa menambahkan 2mL larutan sabun. Langkah ini dilakukan untuk minyak kelapa, minyak sawit dan minyak curah serta sabung yang dihasilkan dari minyak kelapa, minyak sawit dan minyak curah. Dari percobaan yang teah dilakukan diperoleh data waktu yang diperlukan untuk campuran minyak kelapa dan air hingga memisah setelah dikocok adalah 25 detik sedangkan waktu yang diperlukan campuran minyak kelapa + larutan sabun minyak kelapa + air hingga memisah adalah 1 menit 50 detik. Waktu yang diperlukan untuk campuran minyak sawit dan air hingga memisah setelah dikocok adalah 20 detik sedangkan waktu yang diperlukan campuran minyak sawit + larutan sabun minyak sawit + air hingga memisah adalah 1 menit 23 detik. Dan waktu yang diperlukan untuk campuran minyak curah dan air hingga memisah setelah dikocok adalah 15 detik sedangkan waktu yang diperlukan campuran minyak curah + larutan sabun minyak curah + air hingga memisah adalah 1 menit 18 detik. Sifat emulsi terbaik ditunjukkan oleh sabun dari minyak kelapa sengan waktu pemisahan lapisan minyak terlama.

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

3. Bilangan Asam Bilangan asam merupakan salah satu ukuran kualitas minyak atau lemak. Bilangan asam suatu minyak atau lemak adalah bilangan yang menyatakan banyaknya miligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam 1 gram minyak atau lemak. Bilangan asam dapat ditentukan dengan rumus:

Angka asam besar menunjukan asam lemak bebas yang besar yang berasal dari hidrolisa minyak ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Jika angkan asam makin besar atau makin tinggi, maka kualitas minyak tersebut makin rendah (berbanding terbalik). Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukkan 5-10 gram minyak pada erlenmeyer kemudian ditambah dengan 25mL etanol dan 5 tetes indikator PP. Lalu campuran tersebut dititrasi dengan larutan standar KOH 0.1N. Kemudian dihitung bilangan asam dengan Volume KOH titrasi yang didapatkan. Titrasi diulangi 3x untuk mendapatkan bilangan assam rata-rata. Pada titrasi pertama diperoleh volume KOH sebesar 0.6mL sehingga dapat dihitung bilangan asam sebagai berikut:

Pada titrasi kedua diperoleh volume KOH sebesar 0.7mL sehingga dapat dihitung bilangan asam sebagai berikut:

Pada titrasi ketiga diperoleh volume KOH sebesar 0.6mL sehingga dapat dihitung bilangan asam sebagai berikut:

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

Sehingga diperoleh harga bilangan asam rata-rata sebesar 0.355 x 10-3

4. Bilangan Penyabunan Selain bilangan asam, kualitas minyak juga ditentukan dengan bilangan penyabunan. Bilangan penyabunan suatu minyak atau lemak adalah bilangan yang menyatakan jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk penyabunan secara sempurna 1 gram minyak atau lemak. Bilangan penyabunan dapat ditentukan dengan rumus:

Langkah pertama yang dilakukan dalam penentuan bilangan penyabunan adalah memasukkan 1.5-2 gram minyak ke dalam erlenmeyer kemudian ditambah dengan 25mL KOH alkoholik 0.5N lalu direfluks selama 30 menit. Kemudian didinginkan. Kelebihan KOH pada campuran tersebut kemudian dititrasi dengan larutan standar HCl 0.5N dan indikator yang digunakan adalah PP. Titrasi diulangi sebanyak 3x untuk mendapatkan volume HCl yang diperlukan dan digunakan untuk perhitungan bilangan penyabunan. Semakin besar bilangan penyabunan maka semakin kecil molekul dari minyak tersebut. Ini juga menunjukkan banyak molekul darivminyak setiap gramnya yang mempunyai nilai berbanding lurus dengan bilangan penyabunan atau berbanding terbalik dengan besar molekulnya. Artinya, semakin besar molekul suatu minyak maka bilangan penyabunan dan jumlah molekulnya semakin kecil. Tujuan dari penentuan bilangan penyabunan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah basa alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun sehingga pada produk tidak terdapat minyak yang belum tersabunkan atau kelebihan basa alkali dalam jumlah banyak.

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

Pada titrasi pertama diperoleh volume HCl sebesar 4.3mL sehingga dapat dihitung bilangan penyabunan dengan perhitungan sebagai berikut:

Pada titrasi kedua diperoleh volume HCl sebesar 7.1mL sehingga dapat dihitung bilangan penyabunan dengan perhitungan sebagai berikut:

Pada titrasi ketiga diperoleh volume HCl sebesar 17.3mL sehingga dapat dihitung bilangan penyabunan dengan perhitungan sebagai berikut:

Sehingga diperoleh bilangan penyabunan rata-rata sebesar 87.296 x 10-3

J. Simpulan Berdasar praktikum yang telah dilakukan kesimpulan yang diperoleh adalah : Terdapat perbedaan antara sabun yang terbuat dari minyak kelapa, minyak sawit, serta minyak curah yaitu struktur dan warna. Sabun yang dihasilkan minyak kelapa tidak sekeras sabun yang dihasilkan minyak sawit dan minyak curah dan tidak berwarna seperti sabun yang dihasilkan minyak sawit dan minyak curah. Sifat emulsi pada minyak kelapa lebih bagus dibandingkan minyak kelapa sawit. Jadi sabun dan minyak lebih sulit memisah bila dibandingkan dengan minyak dan air. Hal ini karena terdapat surfaktan pada larutan sabun.

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

Bilangan asam pada minyak curah adalah yang paling tinggi. Bilangan asam berbanding terbalik dengan kualitas sabun, semakin tinggi bilangan sabun semakin rendah kualitas sabun Berdasarkan praktikum diatas diperoleh nilai penyabunan yang paling rendah adalah minyak sawit. Ini juga dibuktikan pada praktikum emulsi sabun.

K. Daftar Pustaka Panca, Ali. 2012. Pembuatan Sabun. http://alipanca5.blogspot.com Pramushinta, Diah. 2011. Pembuatan Sabun. http://inuyashaku.wordpress.com Tim Dosen Kimia Organik. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

LAMPIRAN 1. PEMBUATAN SABUN

Hasil sabun Minyak Kelapa

Hasil sabun Minyak Kelapa Sawit

Hasil sabun Minyak Curah

Butiran NaOH

Asam sterarat

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

2. SIFAT EMULSI SABUN a. Minyak Kelapa Sawit

Minyak + Air

Minyak + Air + Sabun

b. Minyak Curah

Minyak + Air

Minyak + Air + Sabun

c. Minyak Kelapa

Minyak + Air

Minyak + Air + Sabun

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

3. BILANGAN ASAM 4. BILANGAN PENYABUNAN

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

JAWABAN PERTANYAAN 1. Tulislah secara lengkap reaksi pembuatan sabun!

2. Jelaskan perbedaan produk sabun antara sabun dengan menggunakan alkali NaOH dan KOH! Sabun yang dihasilkan dari alkali berupa NaOH adalah sabun padat sedangkan jika menggunakan alkali KOH akan menghasilkan sabun cair. 3. Jelaskan bagaimana proses terjadinya emulsi sabun! Sabun didalam air menghasilkan busa yang akan menurunkan tegangan permukaan sehingga kain menjadi bersih. meresap lebih cepat kepermukaankain. Molekul sabun akan mengelilingi kotoran dengan ekornya dan mengikat molekul kotoran. Proses ini disebut emulsifikasi karena antara molekul kotoran dan molekul sabun membentuk suatu emulsi. Sedangkan bagian kepala molekul sabun didalam air pada saat pembilasan menarik molekul kotoran keluar dari kain sehingga kain menjadi bersih. 4. Jelaskan perbedaan antara bilangan asam dan bilangan penyabunan pada minyak atau lemak! Bilangan asam suatu minyak atau lemak adalah bilangan yang menyatakan banyaknya miligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam 1 gram minyak atau lemak. Bilangan penyabunan suatu minyak atau lemak adalah bilangan yang menyatakan jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk penyabunan secara sempurna 1 gram minyak atau lemak. 5. Jelaskan hubungan antara bilangan asam atau bilangan penyabunan dengan kualitas minyak atau lemak! Angka asam besar menunjukan asam lemak bebas yang besar yang berasal dari hidrolisa minyak ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Jika

Laporan Praktikum Kimia Organik II Pembuatan Sabun

angkan asam makin besar atau makin tinggi, maka kualitas minyak tersebut makin rendah (berbanding terbalik). Semakin besar bilangan penyabunan maka semakin kecil molekul dari minyak tersebut. Ini juga menunjukkan banyak molekul darivminyak setiap gramnya yang mempunyai nilai berbanding lurus dengan bilangan penyabunan atau berbanding terbalik dengan besar molekulnya. Artinya, semakin besar molekul suatu minyak maka bilangan penyabunan dan jumlah molekulnya semakin kecil.