Anda di halaman 1dari 55

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ANTARA PERNIKAHAN DINI DENGAN KEHARMONISAN PASANGAN (Studi Pada Wanita Di Wilayah Kecamatan

Talang, Tegal)

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran pada Fakultas Kedokteran dan Imu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh: DIMAS AJI PRASETYO 20080310215

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2011

HALAMAN PENGESAHAN HUBUNGAN PERNIKAHAN DINI TERHADAP KEHARMONISAN PASANGAN DI WILAYAH KECAMATAN TALANG KABUPATEN TEGAL

Disusun Oleh :

DIMAS AJI PRASETYO 20080310215 Telah disetujui diseminarkan pada tanggal 21 Januari 2012

Disahkan Oleh :

Dosen Pembimbing

Dosen Penguji

dr. Warih Andan Puspitosari , M.Sc, SpKj

dr. Ida Rochmawati, M.Sc, SpKj

Mengetahui, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

dr. Ardi Pramono, Sp.An, M.Kes


ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama NIM : DIMAS AJI PRASETYO : 20080310215

Program Studi : Pendidikan Dokter Fakultas : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah diajukan dalam teks dan telah dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir Karya Tulis Ilmiah ini. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan ini.

Yogyakarta, 21 Januari 2012 Yang membuat Pernyataan

Dimas Aji Prasetyo

iii

MOTTO

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Ath-Thalaaq 3). Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS. Al-Jumuah 10) (Hanya) kepada Engkaulah kami menyembah, dan (hanya) kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (QS. Al-fatihah 5)
iv

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat, petunjuk dan kemudahan yang telah diberikan. Sehinggan Penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Hubungan Antara Pernikahan Dini dengan Keharmonisan Pasangan di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Karya Tulis Ilmiah ini terwujud atas bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak ternilai kepada: 1. dr. Ardi Pramono, Sp.An, M.Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
2. dr. Ida Rochmawati, M.Sc, SpKj., selaku Penguji yang telah memberikan

penilaian dan saran yang membangun kepada penulis.


3. dr. Warih Andan Puspitosari, M.Sc, SpKj., selaku Dosen Pembimbing yang

telah banyak memberikan bimbingan serta pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan proposal penelitian. 4. dr. Inayati Habib, M.Kes., penelitian Fakultas selaku penanggung jawab blok metodelogi dan Ilmu Kesehatan
v Universitas

Kedokteran

Muhammadiyah Yogyakarta. 5. Kedua orang tua dan keluarga saya yang selalu mendoakan dan memberikan motivasi yang besar dalam setiap langkah. Semoga Allah menyertai kalian, Amin.
vi

6. Sahabat-sahabatku seperjuangan KTI Khafid asyari, Egy Primi, yang

membantu kelancaran dan penulisan KTI bu sekretaris Herlin dan semua bantuan teman di Tegal. Teman-teman seperjuangan baik di dalam maupun di luar kampus FKIK UMY yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan arti persahabatan tak ternilai dan juga kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan KTI ini. Penulis menyadari, bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak kekurangan baik dari segi isi ataupun penulisannya, untuk itu penulis mengucapkan mohon maaf yang sebesar besarnya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar dikemudian hari penulis dapat mempersembahkan suatu hasil yang memenuhi syarat dan lebih baik. Akhir kata penulis mengharapkan Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama ilmu kedokteran. Terimakasih. Wassalamualaikum Wr.Wb. Yogyakarta, 21 Januari 2012

Dimas Aji Prasetyo

vii

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................ii PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN........................................................iii MOTTO................................................................................................iv KATA PENGANTAR...............................................................................vi DAFTAR ISI........................................................................................viii DAFTAR TABEL.....................................................................................x BAB I....................................................................................................1 PENDAHULUAN....................................................................................1 LATAR BELAKANG PENELITIAN...........................................................1 RUMUSAN MASALAH...........................................................................5 C. D. TUJUAN PENELITIAN.................................................................5 MANFAAT PENELITIAN ..............................................................5 KEASLIAN PENELITIAN ..................................................................6 BAB II...................................................................................................7 TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................7 PERNIKAHAN.......................................................................................7 MENIKAH DINI..................................................................................10 Pengertian Menikah Dini...................................................................10 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Menikah Dini..............................11 3. Penyebab Menikah Dini...............................................................13 C . KEHARMONISAN PERNIKAHAN...................................................13 D. DAMPAK NIKAH DINI ....................................................................18 E. LANDASAN TEORI....................................................................19

viii

F. KERANGKA TEORI PENELITIAN ......................................................20 G. HIPOTESIS PENELITIAN..................................................................20 BAB III................................................................................................21 A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN.............................................21 B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN.................................................21 C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN..............................................21 D. VARIABEL PENELITIAN...................................................................23 E. DEFINISI OPERASIONAL.................................................................24 F. ALAT UKUR PENELITIAN................................................................24 G. UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS .................................................26 H. JALANNYA PENELITIAN................................................................27 I. ANALISIS DATA...............................................................................28 J. KELEMAHAN DAN KESULITAN PENELITIAN......................................30 BAB IV................................................................................................32 HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................32 HASIL.................................................................................................32 Deskripsi Wilayah Penelitian..............................................................32 Karakteristik Responden....................................................................32 Pernikahan Dini.................................................................................34 Gambaran Tingkat Keharmonisan Pernikahan...................................34 Uji Korelasi Hubungan Pernikahan Dini dengan Tingkat Keharmonisan 36 PEMBAHASAN....................................................................................36 BAB V.................................................................................................40 KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................40 DAFTAR PUSTAKA..............................................................................41

ix

DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Kisi-kisi Kuesioner Mengukur Tingkat Keharmonisan25 Tabel 3.2. Pedoman dalam Interpretasi Koefisien Korelasi...30 Tabel 4.1. Karakteristik Responden...33 Tabel 4.2. Gambaran Keharmonisan Pasangan Pernikahan Responden....34 Tabel 4.3. Tingkat Keharmonisan Pasangan Responden...35 Tabel 4.4. Korelasi Pernikahan Dini dengan Keharmonisan Pasangan.....36

Hubungan Pernikahan Dini dengan Keharmonisan Pasangan Di Wilayah Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal

Dimas Aji Prasetyo 1 , Warih Andan Puspitosari 2 Mahasiswa Fakultas kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY, Bagian Kedokteran Jiwa FKIK UMY

INTISARI Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pernikahan yang diijinkan adalah 19 tahun untuk pria dan 21 tahun untuk wanita, sehingga diharapkan pasangan yang menikah sesuai dengan segi umur. Tujuan pernikahan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, memperoleh keharmonisan juga merupakan sesuatu tujuan yang akan dicapai atas kerja sama yang baik antara suami dan istri. Keluarga merupakan keluarga bahagia bila dalam keluarga itu tidak terjadi kegoncangan-kegoncangan atau pertengkaranpertengkaran, sehingga keluarga itu berjalan dengan mulus tanpa goncangangoncangan yang berarti. Keharmonisan pernikahan dapat terwujud apabila ada kemampuan untuk saling mengerti, memahami, mempercayai, dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan. Dalam mewujudkan keharmonisan pernikahan seorang individu diharapkan mempunyai emosi yang telah matang sedangkan pernikahan pada usia muda diyakini belum memeuhi segi kematangan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan di wilayah talang kabupaten tegal. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah descriptive analytic correlational dengan menggunakan rancangan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Subjek penelitian adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Subjek penelitian adalah 130 orang yang menikah muda di wilayah Kecamatan Talang kabupaten Tegal. Hasil uji korelasi hubungan pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan dengan spearmans test mendapat nilai p> 0,05.

xi

Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan di wilayah Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Kata Kunci: Pernikahan dini, keharmonisan pasangan

xii

Correlation between early mariege with the harmony of married couples in Talang subdistrict, Tegal district

Dimas Aji Prasetyo 1 , Warih Andan Puspitosari 2 Mahasiswa Fakultas kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY, Bagian Kedokteran Jiwa FKIK UMY

ABSTRACT Marriage is an inner and outer bond between man and woman as a husband and wife in order to make a happy and eternal family (household) based on the almighty gods will. 19 years old for man and 21 years old for woman is considered as a legal marriage. The main purpose of marriage is to make a happy and eternal family. Besides, family harmony is also the purpose in which must be achieved by couples cooperation. Happy family is a family without fights and any hazard things, so that couples can run family well. Marital harmony can be realized if there are understands, trustee, and self acceptance between each others. In realizing a marital harmony, partners must have emotional maturity, whereas early marriage is believed have no emotional maturity. This research aim is to understand the correlation between early marriage and marital harmony in Talang sub-district, Tegal district. Research method used is descriptive analytic correlation with cross-sectional design. This research id executed in Talang sub-district, Tegal district. Research subject are half of or representative of aimed population. The ammount of research subject are 130 people, from Talang sub-district, Tegal district. All subject are experiencing early marriage. By spearmans test, correlation between early marriage and marital harmony have sig. Value of 0,300 (p > 0,05) As conclusion, there is no correlation between early marriage and marital harmony in Talang sub-district, Tegal district. Key Word: Early marriage, the harmony of married couples

xiii

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG PENELITIAN Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai kebutuhan demi

melangsungkan eksistensinya sebagai makhluk. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan psikologis dimana mulai tertarik dengan jenis kelamin lain dan mulai memadu kasih, kebutuhan sosial seperti membutuhkan hubungan dengan orang lain dan kebutuhan religi yaitu adanya kewajiban untuk menikah dari kepercayaan dan agama yang dianut. Semua kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan adanya pernikahan, karena dengan pernikahan semua kebutuhan tersebut dapat dipenuhi tanpa melanggar norma dan aturan yang ada di masyarakat (Wulandari, 2010). Sesuai dengan ayat Alquran yang berhubungan dengan pernikahan yang artinya : Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang istrinya (dengan kasih dan sayang) dan istrinya juga memandang suaminya (dengan kasih dan sayang) maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih dan sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari istrinya (dengan kasih dan sayang) maka berjatuhanlah dosadosa dari segala jemari keduanya (HR. Abu Said). Dan nikahkanlah orangorang yang sendirian diantara kamu, dan orangorang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lakilaki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayalkan mereka dengan karunianya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui. (An Nuur 32). Pernikahan menurut undang-undang pernikahan No.1 tahun 1974 adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan dan kekal
1

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan syarat antara lain pernikahan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai, dan untuk seorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapat ijin dari orang tua. Batas umur pernikahan telah ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 74, yaitu pernikahan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Saat usia seseorang dikatakan matang secara fisik namun belum matang secara mental karena menurut Hurlock usia 16 dan 19 tahun masih digolongkan umur remaja atau adolescence (walgito, 2004a). Namun dalam prakteknya masih banyak kita jumpai pernikahan pada usia muda atau di bawah umur. Pernikahan yang sukses pasti membutuhkan kedewasaan, tanggung jawab secara fisik maupun mental, untuk dapat mewujudkan harapan yang ideal dalam kehidupan berumah tangga

(Puspitasari,2006). Pernikahan usia dini masih banyak dilakukan di Negara-negara berkembang, menurut Raj et al. (2009) prevalensi wanita menikah dibawah usia 16 tahun di Indis sebesar 22,6% dan di bawah usia 13 tahun sebesar 2,6%. Rashid (2006) menambahkan sekitar 153 remaja wanita di Bangladesh menikah pada usia 13 tahun dan 75% menikah sebelum usia 16 tahun, hanya 5% wanita usia berusia 18 tahun. Dalam studi pendahuluan yang dilakukan di Kecamatan Talang Kabupaten Tegal jumlah yang menikah 1225, yang menikah dini 136 (11,1%) tahun 2008. Tahun 2009 jumlah yang menikah 1665, yang menikah dini 122 (10,47%).

Menurut pendapat Havigurst tugas perkembangan yang

menjadi

karakteristik masa dewasa awal adalah mulai mencari dan menemukan calon pasangan hidup, membina kehidupan rumah tangga, meniti karir, membesarkan anak-anak dan mengelola rumah tangga, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab pada pernikahan usia dewasa awal sekitar umur 21 tahun (Dariyo,2004; Hurlock, 1997). Pendapat lain dikemukakan oleh Erikson bahwa masa perkembangan dewasa awal ditandai membina hubungan intim, yang menurut perkembangan seksual yang mengarah pada perkembangan hubungan seksual dengan lawan jenis yang dia cintai, yang dipandang sebagai teman berbagi suka dan duka. Di hampir setiap masyarakat, hubungan seksual dan keintiman tersebut diperoleh melalui lembaga pernikahan (Desmita, 2006). Dengan kata lain pada usia masa dewasa awal seseorang dihadapkan pada kodrat alam yaitu untuk hidup bersama dalam suatu pernikahan. Pernikahan merupakan bentuk hubungan antara laki-laki dan perempuan dewasa yang diterima serta diakui secara universal (Wulandari, 2010) Batas umur pernikahan telah ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 74, yaitu pernikahan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Pernikahan seorang laki-laki dan seorang wanita memiliki satu tujuan pasti. Dalam pasal 1 UndangUndang Pernikahan, tujuan pernikahan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Walgito, 2004a). Memperoleh kebahagiaan juga merupakan sesuatu yang didambakan oleh

pasangan suami istri dalam pernikahan dan kehidupan rumah tangga yang akan dicapai atas kerja sama yang baik antara suami dan istri (Tulus, 2009). Banyak masalah yang menyertai pernikahan wanita usia dini, karena bukan masa reproduksi yang sehat. Terdapat banyak bukti yang menunjukan bahwa pernikahan dan kehamilan usia dini membahayakan kesehatan ibu dan bayinya. Penelitian yang dilakukan oleh Grogger dan Bronars (1993) menyebutkan bahwa pernikahan dan kehamilan pada umur belia berkaitan dengan kondisi yang serba merugikan, seperti rendahnya tingkat pendidikan wanita, rendahnya tingkat partisipasi wanita, dan pendapatan keluarga yang rendah. Sehingga pada hakikatnya pernikahan pada usia muda menunjukan

ketidakberdayaan wanita untuk merintis masa depan dan memilih sendiri pasangan hidupnya. Pernikahan usia muda pada akhirnya akan memicu timbulnya berbagai masalah yang harus mereka hadapi (Hanum, 1997). Wanita yang menikah pada usia dini mempunyai waktu yang lebih panjang beresiko untuk hamil dan angka kelahiran juga lebih tinggi. Pernikahan usia remaja juga berdampak pada rendahnya kualitas keluarga, baik ditinjau dari segi ketidaksiapan secara psikis dalam menghadapi persoalan sosial maupun ekonomi rumah tangga, resiko tidak siap mental untuk membina pernikahan dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab, kegagalan pernikahan, kehamilan usia dini beresiko terhadap kematian ibu karena ketidaksiapan calon ibu remaja dalam mengandung dan melahirkan bayinya. Kehamilan usia dini ada resiko pengguguran kehamilan yang dilakukan secara ilegal dan tidak aman secara medis

yang berakibat komplikasi aborsi.. Angka kehamilan usia remaja yang mengalami komplikasi aborsi berkisar antara 38 sampai 68% (Wilopo,2005). RUMUSAN MASALAH Berdasarkan pada latar belakang penelitian di atas maka rumusan masalah penelitiannya adalah apakah ada hubungan antara pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan. C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan umum: Menganalisis hubungan antara pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan. Tujuan khusus:
1. Mengetahui prevalensi pernikahan usia dini pada tahun 2010 2. Mengetahui gambaran keharmonisan pasangan sebagai istri di Kecamatan

Talang Kabupaten Tegal D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis Menambah pengetahuan mengenai hubungan keharmonisan pasangan individu terhadap pasangan di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Institusi Kesehatan dan Pendidikan Sebagai tambahan ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran keperawatan keluarga.
5

b. Bagi Masyarakat Sebagai wacana dalam membuat keputusan untuk menikah sehingga masyakarat mampu mempertimbangkan kesiapan untuk menikah. KEASLIAN PENELITIAN Sepengetahuan peneliti, penelitian yang mirip dengan penelitian ini telah dilakukan oleh peneliti berikut: Wulandari (2010) melakukan penelitian dengan judul hubungan

kematangan emosi dengan keharmonisan pernikahan individu terhadap pasangan di Kecamatan Talang Kabupaten Tegal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi. Dengan sampel 57 orang. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti pada variabel dan lokasi penelitian. Peneliti menggunakan variabel bebas pernikahan dini dan variabel terikat keharmonisan pernikahan. Populasi penelitian yaitu pasangan suami istri di Kecamatan Talang, Tegal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERNIKAHAN
1. Pengertian Pernikahan

Pernikahan menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974 pasal 1, adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai seorang suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sesuai dengan rumusan pengertian pernikahan tersebut, maka dapat diketahui bahwa dalam suatu pernikahan ada 3 (tiga) unsur pokok yang terkandung didalamnya yaitu sebagai berikut: a. Pernikahan sebagai ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita. b. Pernikahan bertujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. c. Pernikahan berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. Menurut Kitab Undang-Undang. Hukum Perdata pernikahan adalah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Dalam hukum adat suatu pernikahan merupakan urusan kerabat/urusan masyarakat, urusan pribadi satu sama lain dalam hubungan yang berbeda-beda, atau merupakan salah satu cara untuk menjalankan upacara-upacara
7

yang banyak corak ragamnya menurut tradisi masing-masing tradisi. Hukum agama adalah suatu perbuatan yang suci yaitu pernikahan adalah suatu perikatan antara dua belah pihak yaitu pihak pria dan pihak wanita dalam memenuhi perintah dan anjuran Yang Maha Esa, agar kehidupan keluarga dan berumahtangga serta berkerabat bisa berjalan dengan baik sesuai dengan anjuran agamanya. Hukum Islam pernikahan adalah akad atau persetujuan antara calon suami dan calon istri karenanya berlangsung melalui ijab dan qobul atau serah terima. Apabila akad nikah tersebut telah dilangsungkan, maka mereka telah berjanji dan bersedia menciptakan rumah-tangga yang harmonis, akan hidup semati dalam menjalani rumah tangga bersama-sama (Nasruddin, 1976). Pernikahan akan membentuk sebuah pasangan baru. Pembentukan pasangan baru merupakan tahap kedua dalam sikus kehidupan, dimana dua individu dari keluarga yang awalnya terpisah kemudian disatukan menjadi sebuah bentuk sistem keluarga yang baru (Santrock, 2002). 2. Tujuan Pernikahan Basri (1999) cit Dewi (2007) di dalam pernikahan seseorang dituntut untuk berbagi kehidupan bersama pasangan seumur hidupnya. Karena menjalani pernikahan sampai mati, maka melalui pernikahan diharapkan dapat memberikan kebahagiaan lahir batin pada setiap pasangan yang mengikatkan diri menjadi sepasang suami istri. Keharmonisan lahir batin merupakan tujuan dari pernikahan tersebut. Pernikahan Undang-Undang Perkawinan No. 1 adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan
8

membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan hidup setiap orang berbeda, termasuk dalam hal tujuan pernikahan bagi masing-masing individu. Namun, demi membentuk keluarga yang bahagia maka suami istri perlu mempersatukan tujuan yang akan dicapai dalam pernikahan itu (Walgito, 2004a). 3. Tahap yang dilalui dalam pernikahan Pernikahan memiliki beberapa tahap yang harus dilalui oleh pasangan suami istri yang baru saja melangsungkan pernikahan. Menurut (Hoffman, Paris & Hall; 1994; cit Hapsariyanti, 2006), pasangan muda adalah suami istri yang belajar hidup bersama dan memahami bahwa mereka saling tergantung satu sama lain. Ada tiga tahap yang dilalui pasangan suami istri dalam usaha membangun pernikahan mereka, yaitu :
a. Fase pencampuran (blending)

Terjadi pada tahun pertama dimana suami istri belajar hidup bersama dan memahami bahwa mereka saling tergantung sehingga perbuatan seseorang akan mempunyai konsekuensi terhadap orang lain.
b. Fase Penjalinan hubungan (nesting)

Terjadi antara tahun kedua dan ketiga. Suami dan istri pada fase kedua ini mengeksplorasi batas-batas kecocokan meraka sehingga mulai timbul konflik dalam pernikahan.

c. Fase Pemeliharaan (maintaining)

Fase pemeliharaan dimulai pada tahun keempat. Pada fase ini tradisi sudah mulai terbentuk dan konflik yang muncul pada fase sebelumnya biasanya sudah mulai dapat teratasi. Kualitas dari pernikahan itu pun sudah mulai terlihat. MENIKAH DINI Pengertian Menikah Dini Pernikahan usia muda atau yang lebih sering disebut dengan pernikahan dini adalah realita yang setidaknya dipicu oleh dua factor. Faktor penyebab menikah muda ada dua golongan yaitu pertama dilatar belakangi oleh kesadaran moral yang sangat tinggi terhadap agama untuk memelihara dari perbuatan hina dan yang kedua karena keterpaksaan. Pemicu terbesarnya dalam hal ini adalah hamil di luar nikah. Pada pasal 6 ayat 2 undang-undang no 1 tahun 1974, disebutkan bahwa untuk melangsungkan pernikahan, seorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapatkan izin dari kedua orangtua. Jelas bahwa undangundang tersebut menganggap orang di atas usia tersebut bukan lagi anakanak sehingga mereka sudah boleh menikah. Walaupun begitu, selama seseorang belum mencapai umur 21 tahun, masih diperlukan izin dari orangtua untuk menikah. Sedangkan dalam undang-undang pernikahan no 1 (1974), memberikan batasan usia minimal menikah untuk pria adalah 19 tahun dan wanita 16 tahun. Di dalam perubahan undang-undang pernikahan no 1 (1974), menaikkan batasan usia minimum tersebut menjadi untuk pria 25 tahun dan wanita 20 tahun. Meskipun sudah jelas terdapat pasal-pasal dan undang-undang yang membahas tentang batasan usia pada pria atau wanita yang ingin melangsungkan pernikahan.
10

Tetap saja, masih ada pasangan yang melangsungkan pernikahan dibawah usia yang sudah ditentukan oleh undang-undang pernikahan (Budinurani, 2009). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Menikah Dini Budinurani, 2009 mengemukakan bahwa menikah dini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: a. Faktor Adat Adat mendorong pernikahan pada usia yang masih dini, karena seseorang yang terlambat menikah akan membuat malu keluarga. b. Faktor Agama Dalam agama islam, menikah itu disyariatkan dan oleh beberapa pemeluknya dianggap sebagai sesuatu yang harus disegerakan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Bagi umat islam, menikah itu hukumnya adalah wajib, karena dengan menikah orang akan dikaruniakan keturunan dan meneruskan garis kehidupan, agama islam sangat melarang terjadinya seks bebas atau seks diluar nikah. c. Faktor Ekonomi Apabila seseorang anak telah menikah berarti orangtua bebas dari tanggung jawab, sehingga secara ekonomi mengurangi beban keluarga. d. Faktor Pendidikan Tiadanya harapan mengenai diri individu di hari depan mendorong anak menikah pada usia muda. Pernikahan seperti ini yang kurang diperhitungkan anak
11

masa usia remaja, mereka pikir dengan menikah di usia muda akan mendatangkan kebahagiaan dan bisa hidup mapan. e. Faktor Hukum Dan Peraturan Di Indonesia dalam undang-undang pernikahan N0. 1 / 1974 dan peraturan pelaksanaannya, antara lain ditetapkan bahwa usia minimum bagi wanita yang akan menikah adalah 20 tahun dan pada laki-laki batas minimum untuk bias menikahi seorang wanita adalah berusia 25 tahun. f. Faktor Hukum Adat dan peraturan tentang perceraian, semakin dini orang bercerai dalam suatu masyarakat, semakin banyak pernikahan dini dalam masyarakat itu sendiri. Peraturan juga memiliki peraturan undang-undang yang mengaturnya, hal ini agar orang ingin menikah tidak mudah untuk nikah cerai. g. Faktor Larangan Perilaku Seksual Pada masyarakat yang melarang hubungan seks diluar pernikahan terdapat kecenderungan untuk lebih untuk lebih cepat menikah. Untuk bisa memenuhi hasrat seksualnya. Kebutuhan biologisnya juga sangat berpengaruh dalam kehidupan individu itu sendiri. h. Romantis Mengenai Kehidupan Pernikahan Suatu daya tarik yang besar mengenai pernikahan adalah persepsi seseorang bahwa kehidupan berumah tangga merupakan perpanjangan yang romantis dari hubungan sesama muda mudi masih pacaran.
12

i. Stimulasai Dorongan Seksual Dalam dekade 80 di sekitar kita makin banyak hal-hal yang merangsang nafsu remaja, seperti misalnya film cabul, bacaan porno, lokasi WTS, tamantaman hiburan dan lain sebagainya. Sehingga mudah dimengerti bahwa makin banyak remaja yang tidak dapat menahan diri, akhirnya banyak memikirkan perbuatan seksual dan barakibat menikah pada usia dini. j. Pendidikan Seks Kurang adanya pendidikan seks yang dapat dipertanggungjawabkan untuk remaja, menyebabkan ketidaktahuan mereka tentang seks. Akibatnya para remaja putri mudah menjadi korban perbuatan nafsu seksual.

3.

Penyebab Menikah Dini Pernikahan usia muda atau yang lebih sering disebut dengan pernikahan

dini adalah realita yang setidaknya dipicu oleh dua penyebab dan membaginya dalam dua golongan yaitu pertama dilatar belakangi oleh kesadaran moral yang sangat tinggi terhadap agama untuk memelihara dari perbuatan hina dan yang kedua karena keterpaksaan. Pemicu terbesarnya dalam hal ini adalah hamil di luar nikah (Budinurani, 2009) C . KEHARMONISAN PERNIKAHAN
1. Pengertian Keharmonisan Pernikahan

Orang-orang dalam pernikahan yang bahagia seperti merasakan kurang adanya stres secara fisik dan mental sehingga tidak terjadi kerusakan pada diri

13

sendiri (Cotten (1999). menambahkan bahwa individu yang hidup dalam keharmonisan pernikahan akan hidup lebih lama, hidup lebih sehat daripada individu yang mengalami perceraian atau pernikahannya tidak bahagia (Santrock, 2002). Walgito 2004a menyebutkan bahwa masalah keharmonisan merupakan persoalaan tidak mudah karena keharmonisan bersifat relatife dan subyektif. Karena keharmonisan bagi seseorang belum tentu berlaku bagi orang lain. Relatif karena sesuatu hal yang pada sewaktu-waktu dapat menimbulkan keharmonisan, pada waktu yang ain hal tersebut mungkin tidak lagi menimbulkan keharmonisan. Walaupun keharmonisan bersifat relatife dan subyektif, namun ada ukuran atau patokan yang menyatakan bahwa keluarga tersebut bahagia. Keluarga merupakan keluarga bahagia bila dalam keluarga itu tidak terjadi kegoncangan-kegoncangan atau pertengkaran-pertengkaran, sehingga keluarga itu berjalan dengan mulus tanpa goncangan-goncangan yang berarti (Walgito 2004a).
a.

Aspek-aspek keharmonisan pernikahan: Keharmonisan pernikahan dapat terwujud apabila ada kemampuan untuk saling mengerti, memahami, mempercayai, dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan (Dariyo, 2004). Menurut Suardiman (1991) dasar untuk menuju pernikahan yang bahagia tidak hanya atas dasar saling cinta, tetapi sudah ketingkat saling kasih sayang, saling kasih mengasihi. Dari kasih sayang itu akan meningkatkan lahir batin, dan selanjutnya akan tumbuh dan berkembang beberapa sikap, yaitu :

14

1). Rasa saling tanggung jawab terhadap akibat dari hidup bersama dalam mengarungi kehidupan pernikahan; 2). Saling bersedia untuk saling berkorban; 3). Saling memelihara kejujuran; 4). Saling percaya; saling pengertian; saling terbuka. Dengan kondisi demikian itu akhirnya akam terlihat bahwa pasangan suami itu merupakan kesatuan yang bulat dan utuh, serta akan terjalin interaksi atau komunikasi yang lancar dan mesra. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan pernikahan: Menurut Mappiere (1983), factor-faktor yang dapat mempengaruhi bahagia atau langgengnya suatu pernikahan adalah: 1). Latar Belakang masa kanak-kanak Latar belakang masa kanak-kanak memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan keharmonisan pernikahan pasangan suami istri. Pada umumnya pasangan suami istri yang bahagia memiliki latar belakang masa kanak-kanak sebagai berikut : a) Diasuh dalam lingkungan keluarga, b) Kehidupan masa kanak-kanaknya sendiri bahagia,
c) Disiplin rumah tangga orang tuanya fleksibel,

d) Mendapat perhatian yang memadai dari kedua orang tuanya, e) Sangat jarang terjadi pertengkaran dalam keluarga orang tuanya,
f) Anak yang tidak pernah bertengkar dengan ayahnya,

15

g) Terus terang dalam mengemukakan hal-hal yang berbau seks terhadap orang tuanya, h) Sangat jarang menerima hukuman, dan i) Sikap hidup yang sehat dan tidak jorok. 2). Usia pada waktu pernikahan Usia berkaitan dengan keadaan psikologi seseorang. Pasangan suami istri yang menikah diusia tiga puluhan biasanya memiliki pertimbangan lebih matang serta lebih realistis. Sebaiknya pada masa remaja lebih kepada adanya bayanganbayangan romantik kehidupan perkawinan. 3). Kesiapan jabatan pekerjaan Pasangan suami istri yang telah menikah dan memiliki pekerjaan akan lebih mampu mengelola pernikahannya dengan baik. Uang yang didapat dari bekerja tersebut merupakan sarana yang dapat digunakan untuk menutup atau menyelesaikan persoalan-persoalan seputar masalah ekonomi. Kurangnya uang dalam pernikahan dapat menimbulkan ketegangan antara suami dan istri. 4). Kematangan emosional Kematangan emosi memiliki peran penting di dalam sebuah pernikahan karena diharapkan suami dan istri mampu mengontrol emosinya ketika keduanya menghadapi permasalahan. Kontrol emosi tersebut mencegah suami dan istri mengambil tindakan yang kurang bijaksana dan membahayakan pernikahannya. 5). Minat dan nilai-nilai yang dianut Semakin sama minat suami dan istri maka akan semakin mudah pasang suami istri membangun pernikahan yang bahagia.

16

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan pernikahan menurut Hurlock (1994):


1.)

Penyesuaian diri dengan pasangan Penyesuaian diri merupakan factor penting yang mempengaruhi

keharmonisan pernikahan karena penyesuaian diri adalah permasalahan pertama yang harus dihadapi suami istri dalam pernikahannya. Penyesuaian diri lebih sulit daripada penyesuaian lainnya, misalnya penyesuaian dengan teman kerja atau penyesuaian dengan kolega/rekanan bisnis. Hal itu disebabkan banyak faktorfaktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yang tidak ditemui pada penyesuaian lainnya, yaitu konsep pasangan ideal, pemenuhan kebutuhan, kesamaan latar belakang, minat dan kepentingan bersama, keserupaan nilai, konsep peran, dan perubahan pola hidup. 2). Penyesuaian seksual Penyesuaian seksual juga memegang peranan penting dalam pernikahan, karena buruknya penyesuaian seksual juga dapat mengakibatkan pertengkaran dan ketidakharmonisan, sehingga dalam penyesuaian seksual kesepakatan antara suami dan istri harus didapatkan. 3). Penyesuaian keuangan Penyesuaian keuangan merupakan penesuaian pasangan suami istri dalam menggunakan uang yang dimiliki. Penyesuaian dilakukan untuk menghadapi perubahan yang terjadi berkaitan dengan sumber keuangan, misal: suami terkena PHK, sehingga suami dan istri harus menyesuaikan pengeluaran sesuai dengan

17

sumber keuangan yang dimiliki atau istri yang terpaksa harus berhenti bekerja karena hamil, sehingga suaminya harus mencari penghasilan tambahan. 4). Penyesuaian diri dengan pihak keluarga Pernikahan secara otomatis juga menyatukan kedua keluarga dari pihak masing-masing individu dalam pasangan. Anggota keluarga baru tersebut dapat berbeda dari segi usia, pendidikan, budaya, dan latar belakang sosialnya sehingga pasangan suami istri harus mempelajari perbedaan-perbedaan tersebut serta harus menyesuaikan diri bila tidak menginginkan hubungan yang tegang dengan sanak saudara. D. DAMPAK NIKAH DINI Menikah muda memiliki dampak negatif maupun dampak positif. Dampak positifnya dari menikah muda adalah dapat dicegahnya seks bebas dikalangan remaja dan beban orangtua dari tanggung jawab ekonomi keluarga dapat lebih ringan. Menurut Sampoerno dan Azwar (1987) dampak negatif pernikahan di usia dini dilihat dari sisi kesehatannya sangat kurang baik untuk alatalat reproduksi manusia itu sendiri. Di lain pihak masalah mendapatkan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi sangat menjadi sebab utama keretakan hubungan sebuah keluarga yang ditimbulkan dari suatu pernikahan dini, terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang berakibat pada pertumbuhan fisik dan mental anakanaknya.

18

E.

LANDASAN TEORI Pernikahan merupakan bersatunya seorang laki-laki dan seorang

perempuan dalam suatu ikatan suci/ sacral menjadi suami istri. Pernikahan ini dilaksanakan pada usia dewasa awal yaitu sekitar umur 18-40 tahun. Usia dewasa awal mempunyai tugas perkembangan yaitu menikah dan bekerja. Pernikahan dua individu memiliki tujuan yaitu memperoleh keharmonisan pernikahan. Keharmonisan pernikahan mempunyai suatu patokan yaitu apabila dalam sebuah keluarga tidak terdapat goncangan atau pertengkaran maka dapat berjalan mulus tanpa goncangan yang berarti sehingga akan membuat anggota yang ada di dalamnya akan hidup lebih lama dan lebih sehat. Goncangan atau konflik-konflik dalam pernikahan dapat terjadi pada fase nesting atau fase penjalinan hubungan, pada saat usia pernikahan dua atau tiga tahun ditandai mulai terjadi saling eksplorasi antara suami dan istri. Namun keharmonisan pernikahan dapat dicapai apabila suami dan istri bekerja sama dalam mencapai tujuan pernikahan yaitu saling mengerti, memahami,

mempercayai, dan menerima kelebihan dan kelemahan masng-masing pasangan. Selain itu kemampuan dalam memecahkan masalah, rasa kagum terhadap pasangan, saling mencintai, dan menerima pengaruh dari pasangan merupakan aspek dalam mewujudkan keharmonisan pernikahan. Dalam mewujudkan keharmonisan pernikahan seorang individu

diharapkan mempunyai emosi yang telah matang. Hal tersebut juga dijelaskan bahwa keharmonisan pernikahan dipengaruhi oleh kematangan emosi, usia

19

memasuki pernikahan, latar belakang, masa kanak-kanak, penyesuaian terhadap pasangan, keuangan, seksual, dan keluarga (Wulandari, 2010). F. KERANGKA TEORI PENELITIAN

Pernikahan Dini

Keharmonisan

pernikahan

Faktor yang mempengaruhi keharmonisan pernikahan: 1. Usia pernikahan 2. Penyesuaian pasangan 3. Penyesuaian keuangan 4. Penyesuaian seksual 5. Penyesuaian dengan pihak keluarga 6. Minat dan nilai yang dianut 7. Latar belakang masa kanakkanak

Gambar 1. Kerangka teori penelitian. G. HIPOTESIS PENELITIAN Terdapat hubungan antara pernikahan dini dengan keharmonisan pernikahan pada pasangan di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

20

BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental, dan dilakukan dengan menggunakan metode descriptive analytic correlational dengan rancangan penelitian cross sectional. Metode penelitian tersebut digunakan oleh peneliti untuk dapat mengetahui hubungan antara pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan. B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Karena tingkat pendidikan masyarakat Kecamatan Talang Kabupaten Tegal masih rendah. Waktu penelitian dilaksanakan antara bulan Juli sampai Agustus 2011. C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah individu yang menikah pada bulan Januari sampai Agustus 2010 di Kecamatan Talang, Tegal. Total populasi saat dilakukan studi pendahuluan tanggal 22 April 2011 terdapat 254 responden yang berdomisili di wilayah Kecamatan Talang.

21

2. Sampel Arikunto (2006) menyebutkan bahwa sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Apa yang dipelajari dari sampel, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Oleh karena itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (Sugiyono, 2007). Sampel yang dibutuhkan untuk populasi kecil atau di bawah 10.000 dapat menggunakan rumus formula yang lebih sederhana seperti berikut (Notoatmodjo, 2002) : n= N 1+ N(d2) N = besar populasi n = besar sampel d = tingkat kepercayaan/ketetapan yang diinginkan (d=0,1) Berdasarkan rumus di atas, maka besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 72 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Teknik pengambilan subjek dari setiap wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subjek dalam masingmasing wilayah (Arikunto, 2006). Kecamatan Talang terbagi menjadi 19 kelurahan, yaitu Kelurahan Cankring, Kelurahan Dawuhan, Kelurahan Dukuh Malang, Kelurahan Bengle,
22

Kelurahan Gembang Kulon, Kelurahan Getas Kerep, Kelurahan Kajen, Kelurahan Kaladawa, Kelurahan Kaligayam, Kelurahan Kebasen, Kelurahan Langgen, Kelurahan Pacul, Kelurahan Pasangan, Kelurahan Pegirikan, Kelurahan Pekiringan, Kelurahan Pesayangan, Kelurahan Talang, Kelurahan Tegal Wangi, Kelurahan Wangandawa. Peneliti mengambil sampel secara sistematik dengan menetapkan proporsi sampel pada masingmasing kelurahan, sejumlah 19 kelurahan di Kecamatan Talang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Individu menikah pada tahun 2010 bulan Januari sampai Agustus.

2. Individu menikah saat umur di bawah 21 tahun. 3. Tinggal diwilayah kecamatan Talang saat pengambilan data. 4. Bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Pasangan poligami. 2. Responden yang mengisi kuesioner tidak lengkap.

D. VARIABEL PENELITIAN Variabel bebas yaitu pernikahan dini, sedangkan terikat yaitu

keharmonisan pernikahan.

23

E. DEFINISI OPERASIONAL Definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati. Keharmonisan pernikahan adalah situasi dimna dalam pernikahan pasangan suami istri tidak terdapat pertengkaran yang berarti sehingga pernikahan berjalan mulus dengan mengukur aspek pengetahuan pasangan, tingkat kepercayaan dan kejujuran, rasa suka dan kagum, hubungan dengan keluarga, tingkat saling mencintai, saling mengerti dan memahami, menerima pengaruh dari pasangan, kemampuan memecahkan masalah, makna kehidupan spiritual, kepuasan keuangan, dan kepuasan seksual. Intrumen yang digunakan adalah skala psikologis keharmonisan pasangan dengan jenis data ordinal (Azwar, 2007). F. ALAT UKUR PENELITIAN Kuesioner Keharmonisan Pernikahan merupakan skala keharmonisan

pernikahan yang diadaptasi dari Dewi (2007). Kuesioner keharmonisan pernikahan tersebut terdiri dari 75 item. Pada pertanyaan favoureble skor tertinggi adalah 4 untuk jawaban sangat sesuai (SS), untuk 3 jawaban sesuai (S), 2 untuk jawaban tidak sesuai (TS), dan 1 untuk jawaban sangat tidak sesuai (STS) sedangkan untuk pertanyaan unfavoureble skor tertinggi adalah 1 untuk sangat sesuai (SS), 2 untuk jawaban sesuai (S), 3 untuk jawaban tidak sesuai (TS), dan 4 untuk jawaban sangat tidak sesuai (STS).

24

Tabel 3.1. Kisi-kisi Kuesioner Mengukur Tingkat Keharmonisan Pernikahan Individu Terhadap Pasangan

Variabel keharmonisan pernikahan dikategorikan menjadi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi (Azwar, 2009a). Pengukuran tingkat keharmonisan pasangan menggunakan skala psikologis keharmonisan pernikahan yang terdiri 65 item yang masing-masing itemnya
25

diberi skor mulai dari 1,2,3, sampai 4. Dengan demikian, skor terkecil yang diperoleh pada skala tersebut 65 (yaitu 65x1) dan skor 260 (yaitu 65x4). Maka rentangan skor skala terbesar 195 (yaitu 260-65) dibagi dalam enam satuan deviasi sehingga diperoleh 195/6 = 32,5 dibulatkan menjadi 33, dan mean

teoritisnya adalah = 65x3 = 195. Kategorisasi tingkat keharmonisan pasangan adalah sebagai berikut : X < 162 kategori rendah

162 < 228 kategori sedang 228 X kategori tinggi

G. UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrument. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat ukur pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik Arikunto (2006). Analisis data validitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan skor faktor dengan skor total dengan menggunakan teknik korelasi pearson product moment (Sugiyono, 2007). Bila korelasi tiap faktor positif dan besarnya 0,3 ke atas maka faktor tersebut merupakan konstruk yang kuat.
26

Angka koefisien reliabilitas berada pada rentang 0-1,00. Semakin besar koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 maka semakin tinggi reliabilitasnya. Begitupula apabila angka koefisiennya mendekati 0 maka semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2009b). H. JALANNYA PENELITIAN 1. Tahap persiapan Tahap persiapan meliputi studi pendahuluan pada bulan April 2011 di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal dan pembuatan proposal dari bulan Februari 2011 sampai April 2011. Setelah ujian proposal dan revisi proposal, peneliti mengajukan permohonan izin penelitian ke pihak universitas, propinsi, kabupaten, dan kelurahan. 2. Tahap Pengambilan Data Peneliti melaksanakan uji validitas dan reliabilitas terhadap responden yang sama dengan responden penelitian dan dilaksanakan bersamaan dengan saat pengambilan data (uji terpakai). Peneliti melakukan pengambilan data dengan berkunjung ke rumah masing-masing responden. Peneliti memberitahukan tujuan penelitian, permohonan menjadi responden, dan setelah responden menyetujui maka peneliti menjelaskan cara pengisian kuesioner. Sebagian besar responden meminta peneliti untuk mengambil kuesioner yang telah diisi pada hari yang berbeda. Peneliti melakukan pengecekan kuesioner setelah pengambilan kuesioner.

27

Kegiatan pengambilan data ini dilakukan selama bulan Juli sampai Agustus 2011.Setelah data terkumpul dilanjutkan dengan tahap analisis data serta pembahasan dan penyusunan laporan dan diakhiri dengan ujian hasil. I. ANALISIS DATA Tahap-tahap analisa data yang dilakukan adalah: 1. Editing Editing adalah pengecekan atau pengkoreksian data yang telah dikumpulkan. 2. Koding Koding adalah pemberian atau pembuatan kode-kode pada tiap-tiap data yang masuk pada kategori yang sama. 3. Tabulasi Tabulasi adalah membuat table-tabel yang berisikan data yang telah diberi kode, sesuai dengan analisis yang dibutuhkan. 4. Analisis data a. Analisa Univariat Analisa Univariat merupakan analisa untuk mengetahui distribusi frekuensi masing-masing variabel, yaitu:

28

1).

Tingkat Keharmonisan pernikahan individu terhadap pasangan di

Kecamatan Talang, kabupaten Tegal. Pengukuran tingkat keharmonisan pernikahan menggunakan skala psikologis kebahagiaan pernikahan yang terdiri dari 65 item yang masing-masing itemnya diberi skor mulai 1, 2, 3, sampai 4. Dengan demikian, skor terkecil yang diperoleh pada skala tersebut (yaitu 65 x1) dan skor terbesar 260 (yaitu 65 x 4). Maka rentangan skor skala terbesar 195 (yaitu 260 65) dibagi dalam enam satuan devisi standar () sehingga diperoleh 195/6 = 32,5 dibulatkan menjadi 33, dan mean teoritisnya adalah = 65 x 3 =195. Setelah data terkumpul, peneliti melakukan uji normalisasi pada data kematangan emosi dan keharmonisan pernikahan menggunakan uji normalisasi Kolmogorov-Smirnov.
b. Analisa Bivariat

Analisa Bivariat digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel yang diteliti, yaitu Pernikahan Dini dan keharmonisan pernikahan individu terhadap pasangan di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Analisa Bivariat menggunakan metode analisis korelasi Spearman Rho karena kedua variabel merupakan duta ordinal serta dari kedua variabel tidak harus distribusi normal. Ada tidaknya hubungan dinyatakan dengan koefisien korelasi di atas 0,00. Apabila koefisien korelasi > 0,00 dapat diartikan ada hubungan antar kedua

29

variabel dengan nilai maksimal 1,00. Kuat tidaknya hubungan ditentukan dengan melihat besar kecilnya angka dalam koefisien korelasi. Apabila diperoleh angka negatif berarti korelasinya negatif, menunjukkan kebalikan urutan (Arikunto, 2006). Tabel 3.2. Pedoman dalam Interpretasi Koefisien Korelasi

J. KELEMAHAN DAN KESULITAN PENELITIAN 1. Kelemahan peneliti


a. Peneliti

tidak mengulas faktor yang mempengaruhi kebahagiaan

pernikahan tentang latar belakang masa kanak- kanak. b. Peneliti tidak mengulas kondisi keuangan responden karena data keuangan tidak didapatkan secara lengkap. c. Peneliti tidak melakukan kroscek pada responden pasangan suami istri yang keduanya mengisi kuesioner.

30

2.

Kesulitan Penelitian a. Kelurahan terlalu banyak. b. Letak terlalu jauh.

31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL Deskripsi Wilayah Penelitian Kecamatan Talang merupakan salah satu dari 18 Kecamatan yang berada di Kabupaten Tegal. Kecamatan Talang terbagi menjadi 19 kelurahan, yaitu Kelurahan Cankring, Kelurahan Dawuhan, Kelurahan Dukuh Malang, Kelurahan Bengle, Kelurahan Gembang Kulon, Kelurahan Getas Kerep, Kelurahan Kajen, Kelurahan Kaladawa, Kelurahan Kaligayam, Kelurahan Kebasen, Kelurahan Langgen, Kelurahan Pacul, Kelurahan Pasangan, Kelurahan Pegirikan, Kelurahan Pekiringan, Kelurahan Pesayangan, Kelurahan Talang, Kelurahan Tegal Wangi, Kelurahan Wangandawa. Berdasarkan data statistik di Kecamatan Talang Kabupaten Tegal yaitu jumlah yang menikah 1225, yang menikah dini 136 (11,1%). Tahun 2009 jumlah yang menikah dini 122 (10,47%).

Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah wanita yang telah menikah pada tahun 2010 dari bulan Januari sampai bulan Agustus yang tinggal di wilayah Kecamatan Talang Kabupaten Tegal. Jumlah responden dalam penelitian ini

32

sebanyak 130 orang. Karakteristik responden dapat dilihat dalam table 4.1 di bawah ini. Tabel 4.1. Karakteristik Responden Karakteristik Koresponden Jenis kelamin Perempuan Usia a. < 21 b. > 21 Pendidikan Terakhir a. SD b. SMP c. SMA d. PT Pekerjaan a. IRT b. Buruh c. PNS d. Swasta e. Wiraswasta Persentase (%) 100 48,5 51,5 17,69 43,85 25,38 13,08 39,23 12,3 9,23 19,2 20

NO 1 2

Frekuensi 130 63 67 23 57 33 17 51 16 12 25 26

Tabel diketahui responden wanita yang dibawah 21 tahun adalah 63 orang (48,5%), yang berusia diatas adalah 67 orang (51,5%). Hal ini menunjukan bahwa yang menikah dibawah usia 21 tahun cukup banyak, karena di daerah penelitian rata-rata usia ketika responden menikah yaitu ketika di masa Sekolah Menengah Pertama sebanyak 57 orang (43,85%), hal ini sudah merupakan hal yang wajar bagi responden karena pernikahan lebih dini dapat mengurangi beban bagi keluarganya. Didukung dengan rata-rata pekerjaan responden yaitu Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 51 orang (39,23).

33

Pernikahan Dini Pernikahan usia muda atau yang lebih sering disebut dengan pernikahan dini adalah realita yang setidaknya dipicu oleh dua faktor dan membaginya dalam dua golongan. Faktor penyebab menikah muda ada dua golongan yaitu pertama dilatar belakangi oleh kesadaran moral yang sangat tinggi terhadap agama untuk memelihara dari perbuatan hina dan yang kedua karena keterpaksaan. Pemicu terbesarnya dalam hal ini adalah hamil di luar nikah. Pada pasal 6 ayat 2 undang undang no 1 tahun 1974, disebutkan bahwa untuk melangsungkan pernikahan, seorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapatkan izin dari kedua orangtua. Jelas bahwa undang undang tersebut menganggap orang di atas usia tersebut bukan lagi anak anak sehingga mereka sudah boleh menikah. Hal ini berdasarkan data statistik di Kecamatan Talang Kabupaten Tegal yaitu jumlah yang menikah 1225, yang menikah dini 136 (11,1%). Tahun 2009 jumlah yang menikah dini 122 (10,47%).

Gambaran Tingkat Keharmonisan Pernikahan Agar dapat mengetahui lebih jelas tentang gambaran keharmonisan pasangan responden yang telah menikah pada tahun 2010 dari bulan Januari sampai Agustus di Kecamatan Talang, Tegal. Tabel 4.2. Gambaran Keharmonisan Pasangan Pernikahan Responden : Jenis Karakteristik F kelamin responden Wanita (n=130) Usia
34

Tingkat Keharmonisan % Rendah Sedang f % F % Tinggi F %

<21 tahun >21 tahun Total

63 67 13 0

48, 5 51, 5 100

9 8 1 7

6, 9 6, 2 13

44 56 10 0

33, 8 43, 1 76, 9

10 3 13

7, 7 2, 3 10

Tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden wanita usia <21 tahun sebanyak 63 orang (48,5%) sedangkan usia >21 tahun sebanyak 67 orang (51,5 %). Tingkat keharmonisan pasangan pada responden dapat dilihat dalam tabel 4.3. di bawah ini : Tabel 4.3. Tingkat Keharmonisan Pasangan Responden Tingkat Keharmonisan Pasangan Rendah Sedang Tinggi 17 100 13 Frekuensi Persentase (%) 13,1 76,9 10,0

Tabel diatas menunjukkan gambaran tingkat keharmonisan pasangan responden di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, yang mana sebagian besar responden memiliki keharmonisan tingkat rendah sebanyak 17 orang (13,1%). Responden yang memiliki pernikahan keharmonisan tingkat sedang sebanyak 100. orang (76,9%). Responden yang memiliki pernikahan keharmonisan tingkat tinggi berjumlah 13 orang (10%). Sebagaian besar adalah responden memiliki keharmonisan pasangan tingkat sedang.
35

Uji Korelasi Hubungan Pernikahan Dini dengan Tingkat Keharmonisan Tabel 4.4. Korelasi Pernikahan Dini dengan Keharmonisan Pasangan Tingkat Keharmonisan Pasangan Rendah Sedang Tinggi 17 100 13 Frekuensi Persentase (%) 13,1 76,9 10,0

Analisis uji spearman rho menunjukan nilai signifikasi antara pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan sebesar 0,300 (p>0,05). Dari hasil perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan.

PEMBAHASAN Berdasarkan dari tabel hasil 4.1. penelitian tentang karateristik responden yang berada di Kec. Talang jumlah responden yang berpendidikan terbanyak adalah tingkat SMP dengan jumlah 57 (43,85%) dari 130 responden dan tingkat pekerjaan terbanyak adalah sebagai Ibu Rumah Tangga dengan jumlah 51 (39,23%).

36

Usia memasuki pernikahan juga mempengaruhi keharmonisan pernikahan, seperti diungkapkan oleh Mappiere (1983) bahwa factor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan pasangan adalah latar belakang masa kanakkanak, usia pada waktu pernikahan, kesiapan jabatan pekerjaan (terkait masalah keuangan). Kematangan emosional, minat dan nilai-nilai yang dianut (kehidupan spiritual), dan masa pertunangan. Seperti disebutkan oleh Walgito (2004a) bahwa dalam hal umur apabila dikaitkan dengan pernikahan memang tidak ada ukuran pasti, kalau sekiranya ada hanyalah merupakan patokan yang tidak mutlak dan bersifat subyektif, namun dari berbagai pertimbangan maka usia >21 tahun bagi wanita merupakan umur yang ideal untuk membina rumah tangga, karena usia >21 tahun bagi wanita presentase tingkat keharmonisan lebih besar dari usia <21 tahun. Keharmonisan pernikahan merupakan tujuan dari pernikahan seorang lakilaki dan seorang wanita, seperti yang tercantum dalam UU Pernikahan No.1 tahun 1974, tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Keharmonisan pernikahan ditandai dengan tidak terjadinya kegoncang-kegoncangan atau pertengkaran-pertengkaran, sehingga keluarga itu berjalan dengan mulus tanpa goncangan yang berarti (Walgito, 2004a). Dalam mencapai keharmonisan pasangan dipengaruhi banyak faktor,di antaranya adalah umur dan pendidikan yang baik sesuai pendapat Myers kelanggengan sebuah ikatan pernikahan lebih terjamin apabila masing-masing

37

pasangan menikah berumur di atas 20 tahun dan berpendidikan baik (Desmita, 2006). Namun, penelitian dari Gottman Institute di Seatle Amerika Serikat terhadap 2000 pasangan yang telah menikah lebih dari 28 tahun menunjukkan bahwa kunci keharmonisan pasangan sampai tua yaitu saling menghargai pasangan masing-masing dan hubungan persahabatan walaupun berbeda tingkat sosial atau pendidikannya (Tulus, 2009). Penelitian ini menunjukkan hasil tidak bermakna dari hipotesis yang mana di hipotesis awal umur memiliki hubungan keharmonisan pasangan dengan nilai signifikasi 0,300 (p>0,05). Dari hasil penelitian keharmonisan pasangan tidak hanya di pengaruhi umur saja, tapi bisa juga karena lingkungan, agama, keuangan, jumlah saudara kandung dan lain-lain (Budinurani , 2009) Penelitian ini didukung pula oleh pendapat Butar (2008) bahwa saat yang tepat untuk memulai pernikahan adalah di pertengahan usia dua puluhan. Karena pada usia dibawah 21 tahun menurut data yang diperolah tingkat keharmonisan rendah lebih besar prosentasenya (9 responden dari 63 responden) dari pada usia diatas 21 tahun (8 responden dari 67 responden). Rata-rata responden wanita di atas 21 tahun memiliki keharmonisan pernikahan tingkat sedang. Kaum wanita yang menikah remaja, dibawah 20 tahun beresiko tinggi untuk mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sampai masa dewasa awal (Raj, et al, 2010). Terjadinya KDRT merupakan tanda bahwa sebuah pernikahan tidak berlangsung dengan bahagia.

38

Hasil penilitian ini menunjukkan bahwa walaupun dalam usia pernikahan dua atau tiga tahun (fase penjalinan hubungan atau nesting) dimana sebuah keluarga akan didera oleh timbulnya konflik karena fase itu merupakan masa penyesuaian batas-batas kecocokan mereka, sesuai pendapat Hoffman, Paris & Hall (1994) cit Hapsariyanti (2006), namun rata-rata responden memiliki keharmonisan pernikahan tingkat sedang. Pada penelitian ini juga menunjukan bahwa walaupun dalam usia wanita kurang dari 21 tahun, keharmonisan tetap cukup baik karena rata-rata mereka memiliki tingkat keharmonisan sedang, dan wanita usia dibawah 21 tahun yang memiliki tingkat keharmonisan tinggi lebih besar dari wanita usia lebih dari 21 tahun.

39

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Tidak terdapat hubungan antara pernikahan dini dengan keharmonisan pasangan pada wanita di wilayah Kecamatan Talang, Tegal. B. SARAN 1. Bagi Subyek Penelitian Mempertahankan kelangsungan pernikahan dengan saling menjaga

keharmonisan pasangan dan berusaha untuk saling mengerti dan mengisi kekurangan pasangan masing-masing. 2. Bagi Masyarakat
1.

Di harapkan dapat memperhatikan usia sebelum melaksanakan

sebuah pernikahan agar dapat tercipta keharmonisan pasangan dalam keluarga.


2. Di harapkan dapat mencontoh pasangan pernikahan yang harmonis di

dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat.

40

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Ed. VI. Jakarta: Rineka Cipta. Azwar, S. 2007. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2009a. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2009b. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Budinurani, A. 2009. Kemandirian Pada Remaja Putra Yang Menikah Muda. [serial online] [cited 2011 www.library.gunadarma.ac.id. April 21]. Available from:

Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: Grasindo Desmita. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dewi, C. K. 2007. Perbedaan Kebahagiaan Perkawinan Berdasarkan Keberfungsian Keluarga pada Pasangan yang Menikah karena Kehamilan Akibat Hubungan Seksual Pranikah Ketika Remaja dan yang Bukan . Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Psikologi UGM.

Grogger, jeff and Stephen Bronars (1993) The Socioeconomics Consequences of Teenage Childbearing: Findings from a Natural Experiment. Family Planning Perspective, 25(4): 156-161 & 174 Hanum, S. H. 1997. Perkawinan Usia Belia. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada. Hurlock, E.B 1994. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi 5. Jakarta: Erlangga Hurlock, E.B. 1997 Psikologi perkembangan edisi kelima. Jakarta: Erlangga. Mappiere. 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya: Usaha Nasional. Nasruddin, Thoha. 1967. Pedoman Perkawinan Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Puspitasari, F. 2006. Perkawinan Usia Muda: Faktor-Faktor Pendorong Dan Dampaknya Terhadap Pola Asuh Keluarga (Stusi Kasus di Desa Mandalagiri Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya). Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.[serial online][cited 2010 June 19]. Avaiable from: www.digilib.unnes.ac.id

41

Raj, A., Sangurti, N., Balaih, D., Silverman J.G. Prevalence Of Child Marriage And Its Effect On Fertility And Fertility-Control Outcomes Of Young Women In India: A Crossectional, Observational Study [Serial Online][Disitasi Pada Tanggal 21 Desember 2009]. Diakses dari Url: http://Thelancet .com Rashid, S.F. Emerging Changes In Reproductive Behaviour Among Marrired Adolescent Girls In An Urban Slum In Dhaka, Bangladesh [Serial Online][Disitasi Pada Tanggal 21 Desember 2009]. Diakses Dari Url: http://www.Rhmjournal.Org.Uk Sampoerno, D., & Azwar, A. 1987. Perkawinan dan kehamilan pada wanita usia muda. Jakarta : Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia. Santrock, J. W. 2002. Life-Span Development. Eighth Ed. New York: Mc Graw Agung Suardiman, 1991. Kehidupan Perkawinan Bahagia: Dampak Positif untuk Keseimbangan Mental Anak Kini dan Nanti. [serial online][cited 2010 June 19]. Available from: www.skripsitikes.files.wordpress.com. Sugiyono, 2007. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Cv Alfabeta Tulus. 2009. Kiat Memelihara Hubungan Perkawinan. Perkawinan dan Keluarga, 37(440). 18-19. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. [serial online][cited 2010 July 01]. Available from: www.inherent-dikti.net.pdf Walgito, B. 2004a. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Ed. II . Yogyakarta: Andi. Wilopo, S.A (2005), Kita Selamatkan Remaja dari Aborsi dalam Rangka Pemantapan Keluarga Berkualitas 2015. Naskah dipresentasikan dalam seminar RAKERNAS BKKBN. Medan, 11 februari 2005. Wulandari, D. 2010. Hubungan kematangan emosi dengan kebahagian perkawinan individu terhadap pasangan di Kecamatan Turi Kabupaten Sleman. tidak diterbitkan. Fakultas kedokteran UGM.

42