Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Gigi merupakan bagian dari alat pengunyahan pada sIstem pencernaan dalam tubuh manusia, sehingga secara tidak langsung berperan dalam status kesehatan perorangan. Penyakit gigi yang sering diderita oleh hampir semua penduduk Indonesia adalah karies gigi. Karies gigi merupakan penyakit yang sering ditemukan pada setiap strata sosial masyarakat Indonesia baik pada kaum laki-laki maupun kaum perempuan serta anakanak dan dewasa. Keparahan karies gigi akan menyebabkan pulpa terbuka dan menjadi infeksi yang akan menjadi penyebab infeksi bagi gigi-gigi sekitarnya dan bagi organ tubuh lainnya, hal ini tentu akan mengganggu fungsi normal gigi. Penyebab karies gigi adalah hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, oleh karena itu semua orang mempunyai resiko terserang karies, namun semua orang juga dapat mencegahnya dengan menjaga kesehatang gigi dan mulut. Dari hal-hal yang telah diungkapkan diatas maka laporan ini membahas tentang karies gigi. Diharapkan pembuatan laporan ini dapat membuat mahasiswa menjadi lebih paham tentang karies gigi dan hal-hal penting lainnya yang berkaitan dengan topik tersebut.
1.2 Batasan Topik

Pembahasan dibatasi pada definisi karies, etiologi karies, patogenesis karies, klasifikasi karies, gejala karies, penanganan karies, serta pencegahan terhadap terjadinya karies.

1|Page

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Karies Karies berasal dari bahasa Latin yaitu caries yang artinya kebusukan. Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitu email, dentin, dan sementum yang disebabkan aktivitas jasad renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang difermentasikan. Tanda karies adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya. Demineralisasi sendiri adalah pengurangan kandungan zat mineral (kalsium, phospat, fluor) pada enamel gigi. Sehingga bila proses ini berlanjut dapat menyebabkan terbentuknya kavitas pada enamel gigi dan berlanjut hingga ke struktur lapisan dibawahnya. Akibatnya, terjadi invasi bakteri yang jika semakin parah dapat menyebabkan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri. Walaupun demikian, mengingat mungkinnya terjadi proses reminalisasi terjadi, pada stadium yang sangat dini penyakit ini dapat dicegah dan dihentikan.

2.2 Etiologi Karies

Beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa, dapat difermentasikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam sehingga pH mulut akan menurun hingga di bawah 5 dalam tempo 1 3 menit. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi yang rentan dan proses kariespun dimulai. Paduan keempat faktor penyebab tersebut digambarkan sebagai empat lingkaran yang bersinggungan. Karies hanya bisa terjadi jika keempat faktor tersebut ada.

2|Page

Karies (caries) adalah penyakit multifaktorial yang meliputi (Keyes 1960):


1. Faktor Host (Gigi dan Saliva)

a. Gigi Anatomi gigi juga berpengaruh pada pembentukan karies. Celah atau alur yang dalam pada gigi dapat menjadi lokasi perkembangan karies. Karies juga sering terjadi pada tempat yang sering terselip sisa makanan. Plak yang mengandung bakteri marupakan awal bagi terbentuknya karies. Oleh karena itu kawasan gigi yang memudahkan pelekatan plak sangat mungkin diserang karies. Kawasan-kawasan tersebut yaitu: Pit dan fisur pada permukaan oklusal molar dan premolar; pit bukal molar dan pit palatal insisif. Permukaan halus di daera proksimal sedikit di bawah titik kontak Email pada tepian di daerah leher gigi sedikit di atas tepi gingiva Pemukaan akar yang terbuka, yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada pasien dengan resesi gingiva karena penyakit periodontium Tepi tumpatan terutama yang kurang atau mengemper Permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan dan jembatan

3|Page

b. Saliva Adalah suatu cairan oral yang komplek yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. 90% dihasilkan dari kelenjar submaksiler dan kelenjar parotis, 5% oleh kelenjar sublingual , dan 5% lagi oleh kelenjar-kelenjar ludah yang kecil. Sebagian besar saliva ini di hasilkan pada saat makan, sebagai reaksi atas rangsang yang berupa pengecapan dan pengunyahan makanan. Pengeluaran saliva akhirnya akan berhenti pada saat tidur sebab ada manusia kelenjar liur tidak diproduksi jika tidak dirangsang. Pada dewasa 1-2 ml/menit saliva diproduksi, sedangkan pada penderita xerostomia < 0,1 ml/menit. Fungsi saliva: Membentuk lapisan mucus pelindung pada membrana mukosa yang akan bertindak sebagai barier terhadap iritan dan akan mencegah iritan dan akan mencegah kekeringan. Membantu membersihkan mulut dari makanan, debris sel, dan bakteri yang akhirnya akan menghambat pembentukan plak. Mengatur PH rongga mulut karena mengandung bikarbonat,fosafat dan protein amfoter. Peningkatan kecepatan sekresinya biasanya berakibat pada peningkatanPH dan kapsitas buffernya. Oleh karena itu, membrane mukosa akan terlindung dari asam yang ada pada makanan dan pada waktu muntah. Selain itu, penurunan PH plak, sebagai akibat ulah organisme yang asidogenik akan dihambat, Membantu menjaga intgritas gigi dengan berbagai cara karena kandungan kalsium dan fosfatnya. Saliva membantu menyediakan mineral yang dibutuhkan oleh email yang belum sempurna terbentuk pada saat awal setelah erupsi gigi. Pelarutan gigi dihindari atau dihambat, dan mineralisasi dirangsang dengan memperbanyak aliran saliva. Lapisan glukoprotein yang terbentuk oleh saliva pada permukaan gigi (acquired pellicle) juga akan melindungi gigi dengan menghambat keausan karena abrasi dan erosi. Mampu melakukan aktivitas anti bakteri dan anti virus karena selain mengandung antibody spesifik(IgA), juga mengandung lyzozyme, lactoferin, dan laktoperosidase.

4|Page

Akibat penurunan produksi saliva Mukosa oral, tanpa daya proteksi dan lubrikasi saliva, akan mudah luka dan terkena infeksi, jika produksi saliva menurun, maka makanan yang membutuhkan pengunyahan banyak akan sukar dilakukan. Kemampuan berbicara juga akan menurun karena berkurangnya fungsi librikasi. Akumulasi plak akan meningkat dan akan terjadi modifikasi flora plak sehingga jumlah kandida, lactobacillus dan streptococcus mutans makin banyak. Menstimulasi aliran saliva Zat perangsang produksi saliva 1. Permen karet atau permen isap asam 2. Mouth lubricant (PH 2,0) dan lemon Mucilag (PH 2,8) kedua produk ini mengandung asam sitrat. 3. Salivix yang berisi asam malat, gomarat, kalsium laktat, natrium fosfat, lylasin dan sorbitol. 4. Pilocarpin hydroclorine dan asam nikotinat, Merupakan Zat pengganti Saliva. Menyediakan remineralisasi. Daya anti karies saliva-buffer Aliran saliva dapat menurunkan akumulasi plak pada permukaan gigi dan juga menaikkan tingkat pembersihan karbohidrat dari rongga mulut. Difusi komponen saliva seperti kalsium, fosfat, ion OH dan F ke dalam plak dapat menurunkan kelarutan email dan meningkatkan remineralisasi karies dini. Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat, serta kandungan ammonia dan urea dalam saliva dapat menyangga dan menetralkan penurunan pH yang terjadi saat bakteri plak sedang memetabolisme gula. Kapasitas penyangga dan pH saliva erat hubungan nya dengan kecepatan sekresi nya. Nilai pH kelenjar parotis meningkat dari 5,7 ketika saliva tidak terrangsang, menjadi 7,4 pada saat tingkat produksi ion-ion fosfat dan kalsium untuk membantu proses

5|Page

sedang

tinggi.

Penngkatan

tingkat

kecepatan

saliva

juga

mengakibatkan naiknya kapasitas buffernya. Beberapa komponen saliva yang tremasuk dalam komponen non immunologi seperti lysozyme, lactoperoxydase, dan laktoferin mampunyai daya anti bakteri yang langsung terhadap mikroflora tersebut sehingga derajat asidogenik nya berkurang. Molekul immunoglobin A disekresi oleh sel-sel plasma yang terdapat didalam kelenjar liur, sedangkan komponen protein lainnya diproduksi di lapisan epitel luar yang menutup kelenjar. Kadar keseluruhan immunoglobin A di saliva berbanding terbalik dengan timbulnya karies. Protein saliva dapat meningkatkan ketebalan acquired pelide sehingga dapat membantu menghambatpengeluaran ionfosfat dan kalsium dari email.
2. Faktor agen atau mikroorganisme

Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan karies. Plak merupakan lapisan tipis normal pada permukaan gigi yang berasal saliva, yang terdiri dari selsel mikroorganisme yang melekat erat ke suatu permukaan sehingga berada dalam keadaan diam (sesil), tidak mudah lepas / berpindah tempat (irreversible). Jika tidak dihapus secara teratur dapat menyebabkan gigi berlubang atau masalah periodontal (radang gusi). Pelekatan ini seperti pada bakteri disertai oleh penumpukan bahanbahan organik yang diselubungi oleh matrik polimer ekstraseluler yang dihasilkan oleh bakteri tersebut. Matriks ini berupa struktur benang benang bersilang satu sama lain yang dapat berupa pelekat bagi plak. Bakteri yang biasanya terdapat dalam plak adalah: Streptococcus mutans, Streptoccocus milis, Streptoccocus sanguis, Streptoccocus salivarius, dan Lactobacillus. Namun yang paling banyak ditemukan adalahdalah Streptoccocus mutans karena mempunyai sifat acidogenik (membuat lingkungan menjadi asam) dan acidurik (rentan terhadap asam). Streptococcus mutans mempunyai kemampuan untuk melekat dan berkolonisasi pada jaringan mulut (Brady, 1992), hal ini karena Streptococcus mutans mempunyai berbagai polimer permukaan sel sebagai bahan antigen yang dikenal sebagai antigen B, 1/I1, IF, Pac, SR, P1 (Matshusita, 1994). Antigen tersebut berperan sebagai adhesin yang memiliki reseptor pada salah satu komponen saliva yang dikenal sebagai
6|Page

reseptor adhesin sehingga terjadi interaksi antara bakteri dengan saliva yang dapat membentuk lapisan biofilm di permukaan gigi atau bahan restorasi sehingga menghantar terjadinya proseskolonialisasi Bakteri Streptococcus mutans dapat berikatan dan beragregasi dengan berbagai molekul saliva seperti: sIgA, B2, mikroglobulin, histidin rich polipeptides, glikoprotein 60 kD dan glikoprotein dengan berat molekul tinggi. Khusus untuk antigen Pac diketahui dapat berikatan dengan protein saliva dengan berat molekul 28000 kD, lisozim dan a amilase. Protein saliva yang berikatan dengan molekul Pac tersebut dikenal dengan agglutinin saliva sebagai media perlekatan (adherensi) bakteri Streptococcus mutans (Nakai dkk, 1993). Peran Bakteri pada Karies Gigi :
3. Faktor Substrat atau Diet

Kolonisasi Agregasi Transien Presisten

: memperbanyak jumlah dalam satu spesies : memperbanyak jumlah antar spesies : menempati sementara : menempati selamanya (flora normal)

Bahan makanan (karbohidrat) dapat memicu terjadinya karies gigi harus kontak dengan permukaan gigi dalam waktu cukup lama. Karbohidrat ini apabila terdapat dalam jumlah cukup besar, sering dikonsumsi, terutama jenis yang lengket atau melekat pada gigi , maka kemungkinan terjadinya karies juga cukup tinggi. Ada jenis karbohidrat yang dijumpai, yaitu : tepung polisakarida, sukrosa dan glukosa, dimana sukrosa paling mudah menyebabkan terjadinya karies atau lubang gigi. Karbohidrat ini dapat dijumpai pada hampir semua makanan, sedangkan makanan atau pada jajanan yang disukai pada anak-anak banyak dijumpai pada makanan : permen, coklat, kue-kue dan gula. Sedangkan karbohidrat dalam buah-buahan tidak menimbulkan karies, karena jumlahnya tidak banyak. Meskipun karbohidrat dapat menyebabkan karies, namun demikian kita tidak perlu takut untuk mengkonsumsinya, asalkan kita rajin membersihkan dan merawat gigi kita dengan baik dan benar.
7|Page

Bakteri pada mulut seseorang akan mengubah glukosa, fruktosa, dan sukrosa menjadi asam laktat melalui sebuah proses glikolisis yang disebut fermentasi. Bila asam ini mengenai gigi dapat menyebabkan demineralisasi. Proses sebaliknya, remineralisasi dapat terjadi bila pH telah dinetralkan. Mineral yang diperlukan gigi tersedia pada air liur dan pasta gigi berflorida dan cairan pencuci mulut. Karies lanjut dapat ditahan pada tingkat ini. Bila demineralisasi terus berlanjut, maka akan terjadi proses pelubangan. Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstrasel. Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menrunkan pH plak dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email. Plak akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak di bawah normal dan menyebabkan demineralisasi email. Sintesa polisakarida ekstrasl dari sukrosa lebih cepat ketimbang glukosa, fruktosa dan laktosa. Oleh karena itu, sukrosa merupakan gula yang paling kariogenik, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Dan karena sukrosa merupakan gula yan paling banyak dikonsumsi maka sukrosa merupakan penyebab karies utama. 4. Faktor waktu Tingkat frekuensi gigi terkena dengan lingkungan yang kariogenik dapat mempengaruhi perkembangan karies. Setelah seseorang mengonsumsi makanan mengandung gula, maka bakteri pada mulut dapat memetabolisme gula menjadi asam dan menurunkan pH. pH dapat menjadi normal karena dinetralkan oleh air liur dan proses sebelumnya telah melarutkan mineral gigi. Demineralisasi dapat terjadi setelah 2 jam. Terdapat 2 teori etiologi karies : 1. Teori asidogenik

8|Page

Mikroorganisme pada lesi karies menghasilkan bahan yang bersifat asam karies 2. Teori proteolitik Mikroorganisme masuk saluran organic pada stadium lanjut menghancurkan jaringan tersebut
2.3 Patogenesis Karies

Proses terjadinya karies:


Substrat (sukrosa, dll) + (dari proses determinasi) Plak (bakteri) +

Polisakarida intrasel (untuk perlekatan bakteri)

Asam laktat demineralis asi

caries

\\Gigi (email/ dentin/


sementum)

Penjelasan: Gula terolah seperti sukrosa dan glukosa memiliki kariogenitas yang sangat efektif dalam menimbulkan karies, terutama sukrosa. Sukrosa dan pada tingkatan yang lebih rendah glukosa, dimetabolismekan sedemikian rupa sehingga terbentuk polisakarida intrasel dan ekstrasel yang memungkinkan bakteri melekat pada permukaan email yang bertumpuk dan akan menjadi plak. Plak ini menyediakan cadangan energi bagi metabolisme kariogenik selanjutnya, serta bagi perkembangbiakan bakteri kariogenik walaupun gula yang dikonsumsi telah lama dibersihkan. Bakteri yang menempel pada permukaan gigi yang bergula akan melakukan fermentasi yaitu mengubah glukosa, fruktosa, dan sukrosa menjadi asam laktat melalui sebuah proses glikolisis sehingga menghasilkan asam (pH turun, di bawah 5,5) yang akan menyerang crystal apatit dan melarutkan permukaan email, dan terjadi demineralisasi yang mengakibatkan proses awal pembentukan karies pada email. Tanda yang pertama ini ditandai dengan adanya

9|Page

suatu noda putih atau lesi putih. Pada tahap ini, proses terjadinya karies dapat dikembalikan. Email terdiri atas kristal hidroksiapatit yang tersusun dalam prisma. Pada keadaan normal, hidroksiapatit akan seimbang dengan adanya ionion dalam saliva yang bersifat buffer. Hal ini merupakan proses remineralisasi. Remineralisasi dapat dipercepat dengan adanya fluoride yang terdapat pada air minum, makanan atau pasta gigi. 2.4 Klasifikasi 1. Klasifikasi menurut dalamnya struktur jaringan yang terkena a. Karies superfisial/email mengenai lapisan email, dapat menyebabkan iritasi pulpa berkembang sangat lambat (3-4tahun) gambaran klinisnya terdapat white spot b. Karies media/dentin karies mengenai lapisan dentin sehingga dapat menyebabkan reaksi hiperemia pada pulpa terasa nyeri jika terkena rangsangan panas atau dingin c. Karies profunda/pulpa karies mengenai lebih dari setengah dentin bahkan menembus pulpa
2. Klasifikasi menurut lokasi karies a.

Karies pit dan fisur biasanya sulit dideteksi; lubang akan semakin dalam , hingga di dentinproses perlubangan mengikuti pola segitiga ke arah pulpa

b. Karies permukaan halus 3. Klasifikasi menurut tingkat progresifitasnya a. Karies akut berkembang dan memburuk dengan cepat; misalnya rampan karies b. Karies kronis berjalan lambat, penampakkan warna kecoklatan sampai hitam b. Karies terhenti lesi karies tidak berkembang, dapat dikarenakan perubahan lingkungan
10 | P a g e

karies proksimal, biasanya sulit dieteksi sehingga memerlukan pemeriksaan radiografi karies akar, biasanya terbentuk ketik permukaan akar telah terbuka karena resesi gingiva. Jika gingiva sehat maka karies tidak akan berkembang 4. Klasifikasi menurut keparahan atau kecepatan perkembangannya a. Karies ringan karies pada daerah yang memang sangat rentan terhadap karies, misanya pada permukaan oklusal gigi molar permanen b. Karies moderat/sedang meliputi permukaan proksimal dan oklusal gigi posterior c. Karies parah menyerang gigi anterior yang biasanya bebas karies 5. Klasifikasi menurut waktu terjadinya c. Karies primer terjadi pada lokasi yang belum pernah memiliki riwayat karies sebelumnya d. Karies sekunder timbul pada lokasi yang telah memiliki riwayat karies sebelumnya; biasanya pada tepi tumpatan
6. Klasifikasi menurut Mount and Hume

Table Klasifikasi Mount Dan Hume :

Keterangan:
a.

Minimal lesion suatu lesi yang hanya sedikit mengenai daerah remineralisasi.
11 | P a g e

b. Moderate size suatu kavitas yang lebih besar, tapi masih tersedia cukup struktur gigi guna mendukung restorasi. c. Enlarged mahkota giginya telah melemah karena kavitas telah meluas sehingga tonjolan gigi yang masih ada perlu dilindungi agar tidak pecah. Dengan demikian harus dimodifikasi dan diperluas sehingga terlindungi. d. Extensive sudah terdapat kavitas yang sangat luas missal sudah kehilangan satu tonjol atau ujung insisal.

Tambahan: a. Rampan Karies terjadi kerana ketidak seimbangan mineralisasi dalam waktu lama di dalam rongga mulut diakibatkan peningkatan konsumsi karbohidrat atau mungkin karena berkurangnya fluoride

Rampan karies yang spesifik adalah babby bottle caries pada

anak-anak yang berhubungan dengan riwayat bayi misalnya tertidur dengan botol susu masih di dalam rongga mulut yang berisi sirup atau juice (megandung gula), pemberian ASI dengan periode yang lama, memakai dot kosong yang dicelupkan ke dalam madu, sirup atau gula. Frekuensi makan karbohidrat yang tinggi pada anak dengan kebiasaan tidur minum susu botol merupakan penyebab utama dari penularan bakteri kariogenik pada anak dan peningkatan metabolisme dari bakteri. Gejala klinis rampan karies: o Deklasifikasi email pada gigi deciduas atau gigi permanent Jaringan keras gigi yang terkena karies menjadi sangat lunak, berwarna kuning muda atau merah muda (pink) bila dibandingkan dengan warna karies kronis yang coklat tua
12 | P a g e

o o o

Multiple kavitas Gigi terlihat coklat atau hitam Lesi dapat bekembang dimana saja, sering pada

permukaan yang biasanya bebas dari karies Perawatan pada Rampan Karies adalah sebagai berikut:
o

Penumpatan sementara untuk mengurangi rasa sakit, Penilaian diet dengan pembatasan konsumsi gula Intruksi oral hygiene, misalnya dengan selalu menyikat Perawatan flour di rumah dan klinik gigi dengan baik

biasanya ditutup dengan semen znoe/Ca(OH)


o o

gigi setiap habis makan dan sebelum tidur. o dengan menggunakan pasta gigi berfluoride ataupun suplemen fluoride
b. Arrested karies

lesi karies yang tidak berkembang, misalnya disebabkan oleh perubahan lingkungan c. Recurrent karies karies yang terbentuk dibawah atau sekeliling mahkota atau tambalan yang sudah ada. Bakteri dan partikel makanan dapat masuk ke bagian antara gigi dan tambalan bila tambalan tidak tepat atau terjadi keretakan.
a.

Intermittent caries Karies yang memiliki periode aktif dan tidak aktif secara berselangseling

2.5

Gejala Ringan belum ada rasa nyeri, disklorasi coklat atau hitam yanhg

masih sangat kecil serupa titik Relativ lanjut disklorasi coklat atau hitam, lesi putih yang berbeda dari warna gigi ( white spot ), serta adanya kavitas yang jika tidak segera ditangani dapat mencapai pulpa dan menyebabkan rasa nyeri. 2.6 Faktor Resiko Karies Resiko rendah Resiko sedang Resiko tinggi
13 | P a g e

Penilaian resiko karies menurut American Academy of Pediatrics Dentistry Indikator

resiko karies Kondisi-klinis

tidak ada gigi yang selama bulan terakhir karies 24 -

ada terakhir terdapat area

karies - ada karies selama 12 bulan terakhir satu terdapat satu area demineralisasi enamel (karies enamel white spot lesion) secara radiografi dijumpai karies enamel dijumpai plak pada gigi anterior banyak S.mutans menggunakan alat ortodonti jumlah (karies white

selama 24 bulan

tidak ada demineralisasi enamel (karies enamel white spot lesion)

demineralisasi enamel enamel spot lesion)

tidak dijumpai - gingivitis plak, tidak ada gingivitis

Faktor Resiko Demografi 1. Umur Anak kecil biasanya sering mengalami karies pada mahkotanya akibat belu sempurnanya pertumbuhan gigi yg mengakibatkan sisa makanan dapat terselip di daerah ginggiva di sekitar gigi yang sedang tumbuh. Di lain hal orang tua bisanya mengalami karies akar karena mengalami resesi gigi. 2. Jenis kelamin Data DMF menunjukan bahwa reiko karies pada wanita lebih besar dari pria, oleh karena oral higien wanita baik kasus missing sedikit ditemukan. Pda pria yang bisanaya memiliki oral higien buruk menyebabkan kasus filling sering dijumpai 3. Sosial ekonomi Pendidikan seseorang dapat membantu karena orang tersebut lebih banyak mengerti tentang kesehata meliliki resiko terkena karies lebih tinggi. 2.7 Pencegahan Karies 1. Pencegahan karies pada anak
14 | P a g e

gigi dan mulut. Faktor

pekerjaan juga mempengaruhi karena ada beberapa jenis pekerjaaan

a. Dental Helath Education, diberikan kepada b. Menjaga kesehatan mulut:

orangtua maupun

langsung kepada anak yang sudah dapat diberi pengertian. - Dengan menunjukkan cara menyikat gigi yang baik, jangan sampai ada sisa makanan tertinggal di dalam mulut. - Menganjurkan untuk memakan makanan yang dapat membantu menjaga kebersihan mulut. c. Memberikan nutrisi yang baik dengan makanan bergizi tinggi. d. Melakukan prophyolactic odontomy: e. Mengadakan pemolesan terhadap setiap tambalan untuk mencegah terjadinya karies sekunder. f. Menggunakan flour untuk mencegah terjadinya dental caries, penggunaan flour dapat secara sistemik maupun oral. 2. Pencegahan karies pada dewasa a. Menjaga kebersihan mulut (oral hygiene) dengan baik, yaitu: - Menyikat gigi dengan benar dan teratur - Flossing - Mouthwash - Dental checked up 2 kali setahun - Flouride b. Diet rendah karbohidrat. c. Menggunakan ketahanan gigi. d. Penggunaan pit and fissure sealant (dental sealant). b. Menghilangkan plak bakteri. c. 3. Pencegahan karies oleh dokter gigi a. Pencegahan Primordial Tindakan ini ditujukan pada kesempurnaan struktur enamel dan dentin atau gigi pada umumnya. Seperti kita ketahui yang mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan gigi kecuali protein untuk pembentukan matriks gigi, vitamin (vitamin A, vitamin C, vitamin D) dan mineral (Calcium, Phosfor, Fluor, dan Magnesium) juga dibutuhkan. Pada ibu-ibu yang sedang mengandung sebaiknya
15 | P a g e

fluoride

melalui

pasta

gigi,

mouthwash,

supplement, air minum, fluoride gel. Fluoride dapat meningkatkan

diberikan kalsium yang diberikan dalam bentuk tablet, dan air minum yang mengandung fluor karena hal ini akan berpengaruh terhadap pembentukan enamel dan dentin bayi yang akan dilahirkan. b. Pencegahan Primer Hal ini ditandai dengan: a. Upaya meningkatkan kesehatan (health promotion) Upaya promosi kesehatan meliputi pengajaran tentang cara menyingkirkan plak yang efektif atau cara menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor dan menggunakan benang gigi (dental floss). b. Memberikan perlindungan khusus (spesific protection) Upaya perlindungan khusus yaitu untuk melindungi host dari serangan penyakit dengan membangun penghalang untuk melawan mikroorganisme. Aplikasi pit dan fisur silen merupakan upaya perlindungan khusus untuk mencegah karies. c. Pencegahan Sekunder Yaitu untuk menghambat atau mencegah penyakit agar tidak berkembang atau kambuh lagi. Kegiatannya ditujukan pada diagnosa dini dan pengobatan yang tepat. Sebagai contoh melakukan penambalan pada gigi dengan lesi karies yang kecil dapat mencegah kehilangan struktur gigi yang luas. Diagnosa Dini Penegakan diagnosis lesi karies secara dini makin menjadi hal yang sangat penting sejak disadari bahwa karies bukan hanya suatu proses demineralisasi saja melainkan proses destruksi dan reparasi yang silih berganti.4 Penegakan diagnosis karies gigi memerlukan pencahayaan yang baik dan obyek (gigi) yang kering dan bersih. Jika terdapat banyak kalkulus atau plak, maka semuanya harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum mencoba menegakkan diagnosis dengan tepat.

16 | P a g e

Setelah gigi sudah kering maka tiap kuadran gigi diisolasi dengan gulungan kapas agar pembasahan oleh saliva dapat dicegah. Gigi harus betul-betul kering dan pengeringannya biasanya dengan udara yang disemprotkan perlahan-lahan. Untuk menentukan tanda awal karies diperlukan penglihatan tajam. Biasanya pemeriksaan tanda awal karies diperlukan sonde yang tajam sampai terasa menyangkut. Sebaiknya hal ini jangan dilakukan pada lesi karies yang masih baru mulai karena sonde tajam akan merusak lesi karies yang masih baru mulai dan sonde akan membawa bakteri ke dalam karies sehingga penyebaran karies akan semakin cepat d. Pencegahan tersier Adalah pelayanan yang ditujukan terhadap akhir dari

patogenesis penyakit yangdilakukanuntuk mencegah kehilangan fungsi, yang meliputi: a. Pembatasan Cacat (Disability Limitation), merupakan tindakan pengobatan yang parah, misalnya pulp capping, pengobatan urat syaraf (perawatan saluran akar), pencabutan gigi dan sebagainya. b. Rehabilitasi (Rehabilitation), merupakan upaya pemulihan atau pengembalian fungsi dan bentuk sesuai dengan aslinya, misalnya pembuatan gigi tiruan (protesa). 2.8 Penanganan Karies a. Oral hygiene Salah satu komponen dalam pembentukan karies adalah plak. Insiden karies dapat dikurangi dengan melakukan penyingkiran plak secara teratur. Pemeriksaan gigi secara rutin dapat membantu mendeteksi dan memonitor masalah gigi yang berpotensi menjadi karies. b. Konsultasi Diet

17 | P a g e

Pada saat gigi pasien baru terkena karies, maka sebelum melakukan restorasi, harus diselidiki dahulu apakah dietnya mengandung komponen kariogenik atau tidak. Informasi demikian dapat dicatat pada suatu lembaran diet yang berisi segala sesuatu yang dimakan & diminum oleh pasien dan dapat dibahas bersama pasien pada kunjungan selanjutnya. Kemudian diberikanlah nasehat tentang bagaimana cara memperbaiki diet tersebut. Konsultasi diet seringkali dilaksanakan bersama-sama dengan petunjuk pelaksanaan oral hygiene. c. Pengendalian Plak Kehadiran plak harus ditunjukkan kepada pasien dengan memakai larutan penjelas (disclosing agent) dan pasien hendaknya diberi tahu bagaimana menghilangkannya dengan memakai sikat gigi atau dental floss yang cocok. Upaya khusus semacam ini penting bagi keberhasilan perawatan jangka panjang terutama jika direncanakan perawatan yang rumit. Bercak putih email di permukaan bukal dan libgual dapat dikendalikan dengan pembuangan plak secara teratur. Cara ini lebih disukai ketimbang melakukan perawatan operatif dan keberhasilannya tergantung kerjasama pasiennya. d. Aplikasi Fluor Topikal Aplikasi larutan fluor ke permukaan gigi atau lebih baru lagi dengan gel fluor telah dilaksanakan sejak tahun empat puluhan dan keefektifannya telah dievaluasi oleh Muray & Rugg-Gunn (1982). Senyawa fluor yang sering digunakan antara lain: NaF (fluor 2%); SnF (fluor 8%); ApF (fluor 1,9%), dengan penggunaan ini resiko timbulnya karies dapat turun hingga 40%. Untuk aplikasi topical, gigi harus dibersihkan dan dikeringkan dahulu, baru kemudian larutan fluor diaplikasikan selama 4 menit dengan gulungan kapas kecil, atau gel fluor menggunakan sendok cetak khusus. Dengan gek, kedua rahang dapat dikerjakan sekaligus, sementara dengan menggunakan larutan aplikasi harus dilakukan kuadran demi kuadran. Fluor gel rasanya tidak enak dan banyak anak-anak enggan memakainya. Oleh karena itu ada yang

18 | P a g e

berpendapat bahwa waktu tersebut lebih bermanfaat bila digunakan untuk konsultasi diet. Metode pengaplikasian fluor yang paling baru adalah pemakaian pernis khusus, Duraphat (Woelm Pharma GmbH, Escwege, Jerman), yang merupakan larutan resin berisi 50mg Na-F per milliliter dalam alcohol. Mula-mula gigi dibersihkan dan dikeringkan dahulu, baru kemudian resin diaplikasikan dengan menggunakan butuiran kapas. Cara ini jauh lebih menyenangkan bagi pasien dan lebih cepat daripada pemakaian gel fluor. Pemakaian Duraphat yang dianjurkan adalah sebanyak 2 kali setahun dan dari sejumlah survey ternyata reduksi karies mencapai sekitar 40% (Schimidt, 1981). Lesi bercak putih dapat diremineralisasikan dan dicegah dari proses demineralisasi lebih lanjut dengan dengan aplikasi kadar fluor rendah secara teratur. Efek kliniknya adalah untuk mengeraskan permukaan email, walaupun perubahan warna tetap tidak hilang. Secara mikroskopik, mineral didepositkan kembali di bagian dalam email. Keadaan ini bisa dicapai dengan jalan berkumur larutan fluor (0,05 % NaF) atau menggosok gigi dengan pasta gigi fluor setiap harinya, disertai pengendalian diet dan pelaksanaan hygiene oral yang efektif. e. Penutup Fisur (Fissure Sealant) Fisur merupakan daerah yang sedikit sekali kebagian manfaat fluoridasi air minum. Fisur anak-anak yang tiap harinya minum air yang telah ditambahi fluor ini tetap rentan terhadap karies. Oleh karena itu, aplikasi bahan penutup fisur untuk mencegah berkembangnya karies di fisur akan sangat bermanfaat. Suatu penutup fisur dari resin dapat diaplikasikan pada email setelah emailnya dibersihkan, diisolasi, dipersiapkan dan dikeringkan. Karies fisur timbul segera setelah gigi erupsi dan fisur yang luput dari serangan karies pada periode ini mungkin akan tetap bebas karies. Dengan demikian, agar aplikasi penutup fisur menjadi efektif, aplikasinya harus dilakukan segera setelah gigi terlihat

19 | P a g e

muncul di rongga mulut, ketika erupsinya belum sempurna. Isolasi giginya mungkin sulit dilakukan, tetapi yang penting isolasi karet dapat mencegah terbasahinya penutup fisur sehingga tidak mengganggu retensinya. Sealant merupakan bahan yang diaplikasikan pada pit dan fissure yang dalam untuk mencgah terjadinya karies. Material resin yang digunakan sebagai sealant adalah Bis-GMA. Indikasi penggunakan fissure sealant antara lain untuk gigi yang belum terkena karies, permukaan oklusal gigi molar, gigiyang baru erupsi, gigi yang dapat diisolasi dan pada anak dengan resiko karies tinggi, sebaiknya juga dilakukan fissure sealant pada gigi premolarnya. Sedangkan kontraindikasinya adalah gigi yang sudah terkena kaies. Teknik aplikasi fissure sealant adalah sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) ulang. 7) 8) detik. 9) 10) Periksa oklusid engan articulating paper. Jika ada peninggian gigit, hilanhkan dengan Aplikasikan bahan sealant (Bis GMA resin), dan hindari Polimerisasikan dengan sinnar visible selama 20-30 gelembung udara. Pulas permukaan oklusal dengan brush dan pumis Intruksikan pasien untuk berkumur. Isolasi gigi dengan cotton roll atau isolator karet dan Email dietsa dengan larutan atau gel asam fosfat (30%Cuci 20 detik dan keringkan. Reisolasi gigi dengan cotton roll pada 1 kwadran dan hingga bersih.

keringkan. 50%) selama 60 detik.

keringkan. Jika permukaan enamel tidak tampak putih, etsa

menggunakan round 12-fluted carbiede atau bur diamond. Faktor keberhasilan sealant antara lain etsa yang adekuat; postetch washing; permukaan enamel harus bersih dan kering sebelum

20 | P a g e

aplikasi sealant (jangan sampai terkontaminasi saliva); intensitas dan durasi light curing untuk komplit polimerisasi. f. Preventive Resin Restoration (PRR) Merupakan pengembangan penggunaan sealant oklusal, yang menyatukan cara pencegahan terapi sealant untuk pit dan fissure yang rentan karies dengan terapi restorasi karies menggunakan resin komposit yang terjadi pada permukaan oklusal yang sama. Manfaat dari Preventive Resin Restoration adalah untuk mempertahankan struktur jaringan yang sehat dengan cara menumpat fissure yang karies dengan resin komposit dengan melapisi sealant di atas komposit dan jaringan sekitarnya. Indikasi penggunaan preventive resin restoration adalah untuk lesi dangkal sebatas enamel, lesi nsebatas dentin, lesi kelas I yang dangkal dengan ukuran kecil. Diagnosis untuk karies pit dan fissure sulit sekali untuk dideteksi karena hamper sama dengan anatomi normal. Namun dapat pula deteksi karies didapatkan dengan gambaran antara lain : lunak pada dasar pit & fissure, enamel lunak yang mengelupas jika dilakukan explorasi, dan adanya porus enamel ( oleh karena demineralisasi) terlihat chalky, opaque bila dikeringkan dengan udara. Ada 3 tipe preventive resin restoration berdasarkan luas dan dalam lesi kariesnya,yaitu : 1. Tipe A : karies sebatas enamel 2. Tipe B : karies melibatkan dentin yang kecil dan terbatas 3. Tipe C : karies yang melibatkan dentin yang lebih luas dan dalam. PRR Tipe A Menggunakan unfilled composit resin Tehnik aplikasinya :

Bersihkan permukaan oklusal Isolasi gigi dengan cotton rolls Hilangkan decalcified low enamel pada bur pit (no & fissure atau menggunakan speed round

)enameloplasty
21 | P a g e

Etsa 20-60, bilas 20 dan keringkan 15 Aplikasi sealant, hindari gelembung Polimerisasi sinar 20(atau sesuai aturan pabrik)

PRR Tipe B Menggunakan diluted composit resin Tehnik aplikasinya : Bersihkan permukaan oklusal Isolasi gigi dengan cotton rolls Hilangkan karies dengan high speed bur, dentin di liner Ca(OH)2 Etsa 20-60, bilas 20 dan keringkan 15 Aplikasi bonding agent dan komposit Aplikasi sealant Polimerisasi sinar

PRR Tipe C Menggunakan filled composit resin dan sebagian besar membutuhkan anastesi local. Tehnik aplikasinya : Bersihkan permukaan oklusal Isolasi gigi dengan cotton rolls Hilangkan karies dengan high speed bur, dentin di liner Etsa 20, bilas 20 dan keringkan 15 Aplikasi bonding agent dan komposit resin-curing Aplikasi sealant Polimerisasi sinar.

Ca(OH)2

Pada saat mengaplikasikan PRR, lakukan isolasi daerah kerja dengan menjaga permukaan gigi agar tetap kering agar keberhasilan retemsinya baik. Isolasi dapat dilakukan dengan pemberian cotton roll atau rubber dam. Namun pada anak kecil, mungkin kurang nyaman jadi memerlukan upaya lebih oleh operator untuk menjaganya. Untuk preparasi kavitasnya gunakan bur intan bulat kecil dengan kecepatan rendah untuk membuang dentin karies sehingga
22 | P a g e

daerah ini harus tidak berwarna dan terasa keras jika di cek dengan sonde. Selain itu, karies lunak yang menutupi pulpa dibuang, baik mengguanakan bur kecepatan rendah atau ekskavator tajam. Pada saat pelapikan (liner) setiap dentin yang terbuka gunakan dengan Ca(OH)2. Kavitas yang dalam, dapat diberi pelapik kedua berupa semen ionomer dan lakukan secara hati-hati agar dinding email yang akan teretsa tidak tertutup. Kemudian dinding email dan permukaan oklusal di etsa, dan dicuci setelah dilakukan pengeringan selama 20 detik. Dalam penumpatan atau pengaplikasian gunakan resin komposit untuk gigi posterior, dan bahan tidak akan terpolimerisasi dengan baik jika ketebalan resin melebihi 2mm sehingga bahan harus diaplikasikan selapis demi selapis, serta setiap lapisan dipolimerisasi dengan sinar. Kemudian aplikasikan bahan penutup ceruk atau pit dan fissure (unfilled resin) dan meratakannya dengan sonde. Pastikan juga tidak ada gelembung udara dan kelebihan bahan dapat diambil dengan butiran kapas sebelum dipolimerisasi. Setelah pengaplikasian resin selesai, lakukan evaluasi dengan cara mengecek oklisi dengan articulator paper, jika ada kelebihan buang dengan bur dan pulas akhir komposit. Sealant harus diperiksa ulang setiap 6 bulan dan jika sealant hilang maka prosedur diatas dapat diulang kembali.

23 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA ----------. 1982. Pengelolaan Anak dengan Caries Bagian Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Undip. Semarang: Simposium Edema. Kidd, Edwina A.M. & Sally Joyston Bechal. 1992. Dasar-dasar Karies. Jakarta : EGC Anonim. Tanpa tahun. Menuju Gigi & Mulut Sehat, Pencegahan dan Pemeliharaan. Julianti, Riri dkk. Usupress.usu.ac.id 2008. Gigi dan Mulut Tutorial. FK UNRI Ford, T. R Pitt. 1993. Restorasi Gigi. Jakarta: EGC. (yayanakhyar.wordpress.com) Nurwati, Diana. Tanpa tahun. Slide presentasi : Karies Gigi. Universitas Airlangga: Laboratorium Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi. Pintauli, Sondang & Tizo Hamada. 2008. Menuju Gigi dan Mulut Sehat (Pencegahan dan Pemeliharaan). Medan : USUpress. Schmidt H.F.M. 1981. Evaluation of Duraphat fluoride varnish as caries prophylactic based upon clinical result available in 1981. Kariesprophylaxe, 3, 117-123. Silverstone L.M. 1982. The use of pit and fissure sealant in dentistry, present status and future developments. Pediatric Dentistry, 4, 16-21 Kuntari, Satiti. Tanpa tahun. Slide presentasi : Makanan dan Karies Gigi. Universitas Airlangga

24 | P a g e