Anda di halaman 1dari 6

BAB IV PEMBAHASAN

Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronik adalah proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, merupakan suatu spektrum proses patofisiologi yang berhubungan dengan fungsi ginjal yang abnormal dan penurunan laju filtrasi glomerulus yang progresif dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal.1 Tabel 4.1

Keluhan Tn. S dimulai sejak 10 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengeluh kencing hanya menetes dan disertai bercak darah, sakit saat kencing, sering kencing dan tidak lampias. Keluhan ini dapat menggambarkan suatu Lower Urinary Tract Syndrome (LUTS). Pemeriksaan awal pada pasien ini adalah USG urologi dan didapatkan pembesaran prostat (volume 49, 37ml) serta hidronefrosis ginjal kanan dan kiri. Obstruksi oleh BPH menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik interstisium
34

dan dapat menyebabkan penurunan LFG. Obstruksi yang tidak diatasi dapat menyebabkan kolapsnya nefron dan kapiler sehingga terjadi iskemia nefron karena suplai darah terganggu. Akhirnya dapat terjadi gagal ginjal jika kedua ginjal terserang. Penurunan fungsi nefron yang progresif ditandai dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin serum. Pada pasien ini hasil laboratorium saat hari pertama masuk RS menunjukkan ureum 196 mg/dl dan kreatinin 19,8 mg/dl serta dihitung LFG sebesar 4,6 ml/menit/1,73 m2.5

Gambar 4.1 Patofisiologi PGK pada BPH10


Hardjowidjoto S. (1999). Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

35

Menurut PERKENI (2006) pedoman tatalaksana hipoglikemi sebagai berikut:11 -

Glukosa diarahkan pada kadar glukosa puasa yaitu 120 mg/dl. Bila diperlukan pemberian glukosa cepat (IV) 1 flankon (25 cc) 40% (10 gr Dextrose) dapat menaikkan kadar glukosa kurang lebih 2530 mg/dl. Kadar glukosa (mg/dl) Terapi hipoglikemi < 30 mg/dl IV D40% (25 cc) bolus 3 flankon 30-60 mg/dl IV D40% (25 cc) bolus 2 flankon 60-90 mg/dl IV D40% (25 cc) bolus 1 flankon Follow up: 1. Periksa kadar gula darah lagi, 30 menit sesudah injeksi IV 2. Sesudah bolus 3 atau 2 atau 1 flankon dapat diberikan 1 flankon lagi setelah 30 menit, 2-3 kali untuk mencapai kadar 120 mg/dl.

Selama perawatan pasien sudah menjalani 2 kali hemodialisa. Pada pasien ini LFG sebesar 4,6 ml/menit/1,73m2 dilakukan terapi pengganti ginjal berupa hemodialisa karena LFG kurang dari 15 ml/menit/1,73m2. Pengobatan lain yang diberikan adalah :12
- IVFD D10% 10 tpm, Dextrose adalah monosakarida dijadikan sebagai

sumber energi bagi tubuh. Dextrose juga berperanan pada berbagai tempat metabolisme protein dan lemak. Dextrose disimpan di dalam tubuh sebagai lemak dan di otot dan hati sebagai glikogen. Jika diperlukan untuk meningkatkan kadar glukosa secara cepat, maka glikogen segera akan melepaskan glukosa. Jika suplai glukosa tidak mencukupi maka tubuh akan memobilisasi cadangan lemak untuk melepaskan atau menghasilkan energi.
36

Dextrose juga mempunyai fungsi berpasangan dengan protein (protein sparing). Pada keadaan kekurangan glukosa, energi dapat dihasilkan dari oksidasi fraksi-fraksi asam amino yang terdeaminasi. Dextrose juga dapat menjadi sumber asam glukoronat, hyaluronat dan kondroitin sulfat dan dapat dikonversi menjadi pentose yang digunakan dalam pembentukan asam inti (asam nukleat). Dextrose dimetabolisme menjadi karbondioksida dan air yang bermanfaat untuk hidrasi tubuh.
- IVFD NaCl 20 tpm, merupakan larutan kristaloid, larutan air dengan

elektrolit, yang tidak mengandung molekul besar, osmolaritas cairannya mendekati serum. Dalam waktu yang singkat, kristaloid sebagian besar akan keluar dari intravaskular . Sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak ( 3:1 dengan volume darah yang hilang). Ekspansi cairan dari ruang intravaskuler ke interstitial berlangsung selama 30-60 menit, dan akan keluar sebagai urin dalam 24-48 jam. Secara garis besar kristaloid bertujuan untuk meningkatkan volume ekstrasel, tanpa peningkatan volume intra sel.
- Injeksi lasix 1-0-0, furosemid merupakan loop diuretik yang paling banyak

digunakan pada PGK, terutama PGK Tahapan 4-5, furosemid harus dimulai dengan dosis 40 sampai 80 mg sekali sehari. Diuretik umumnya diperlukan pada penderita penyakit gunjal kronis (PGK) untuk mengendalikan cairan ekstraselular (ECF),kelebihan volume dan pengendalian tekanan darah.
- Injeksi Ranitidin 2x1 amp, Menghambat secara kompetitif histamin pada

reseptor H2 sel-sel parietal lambung, yang menghambat sekresi asam lambung; volume lambung dan konsentrasi ion hidrogen berkurang. Tidak
37

mempengaruhi sekresi pepsin, sekresi faktor intrinsik yang distimulasi oleh penta-gastrin, atau serum gastrin.
- Injeksi Ondansentron 3x1 amp, Ondansetron adalah suatu antagonis reseptor

5HT3 yang bekerja secara selektif dan kompetitif dengan cara menghambat aktivasi aferen-aferen vagal sehingga menekan terjadinya refleks muntah.
- Injeksi Ceftriaxon 2x1 vial, Efek bakterisida ceftriaxone dihasilkan akibat

penghambatan sintesis dinding kuman. Ceftriaxone mempunyai stabilitas yang tinggi terhadap beta-laktanase, baik terhadap penisilinase yang dihasilkan oleh kuman gram-negatif, gram-positif.
- Injeksi

Dexamethasone

3x1

amp,

sebagai

glukokortikoid

yang

meningkatkan glukoneogenesis, mengurangi penggunaan glukosa di jaringan perifer dengan cara menghambat uptake dan penggunaan glukosa oleh jaringan melalui hambatan transporter glukosa, meningkatkan pemecahan protein menjadi asam amino di jaringan perifer yang kemudian digunakan untuk glukoneogenesis.
- Po. Amdixal 5 mg 2x1, Calsium Channel Blockers akan menghambat

masuknya kalsium kedalam sel dengan menghambat reseptor, hal ini akan menyebabkan dinding pembuluh darah melebar dan berakibat turunnya tekanan darah.
- Po. Tanapres 5 mg 2x1, Angiotensin II mengakibatkan dinding pembuluh

darah berkontraksi, dinding pembuluh darah akan menyempit dan berakibat tekanan darah akan meningkat. Pembentukan angiotensin II ini memerlukan suatu enzim yang disebut agiotensin converting enzyme, yang merubah
38

angiotensin I menjadi angiotensin II. Jadi dengan mengurangi produksi angiotensin II maka dinding pembuluh darah akan melebar, berakibat turunnya tekanan darah. Pada hari perawatan ke 7 dilakukan sistotomi suprapubik cito pada pasien karena ditemukan retensi urin dan distensi vesika urinaria (full bladder) berdasarkan hasil USG terakhir.

39