Anda di halaman 1dari 6

Dasar Teori Hemoglobin merupakan protein yang terdapat dalam sel darah merah atau eritrosit, yang memberi

warna merah pada darah. Hemoglobin terdiri atas zat besi yang merupakan pembawa oksigen. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin. Metode Sahli tidak dianjurkan karena memiliki kesalahan yang besar, alatnya tidak dapat distandardisasi, dan tidak semua jenis hemoglobin dapat diukur, seperti sulfhemoglobin, methemoglobin dan

karboksihemoglobin. Dua metode yang lain (oksihemoglobin dan sianmethemoglobin) dapat diterima dalam hemoglobinometri klinik. Namun, dari dua metode tersebut, metode sianmethemoglobin adalah metode yang dianjurkan olehInternational Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) sebab selain mudah dilakukan juga mempunyai standar yang stabil dan hampir semua hemoglobin dapat terukur, kecuali sulfhenoglobin.

Kadar hemoglobin dalam darah sangat tergantung pada jenis kelamin dan umur seseorang. Pria dewasa : 13.2 - 17.3 g/100 ml darah Perempuan : 11.7 - 15.5 g/100 ml darah Bayi baru lahir : 15.2 - 23.6 g/100 ml darah Anak usia 1-3 tahun : 10.8 - 12.8 g/100 ml darah Anak usia 4-5 tahun : 10.7 - 14.7 g/100 ml darah Anak usia 6-10 tahun : 10.8 - 15.6 g/100 ml darah

Darah merupakan bagian penting dari sistem transport tubuh. Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan (Dep kes RI, 1989). Darah diproduksi dalam sumsum tulang dan nodus limpa. Volume darah manusia sekitar 7% - 10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter, jumlah ini berbeda tiap-tiap orang. Darah terdiri dari 2 komponen yaitu plasma darah dan butir-butir darah. Plasma darah adalah bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah. Butir-butir darah (Blood corpuscles) terdiri atas 3 elemen yaitu eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (butir pembeku/platelet) (Wiwik Handayani dan Andi Sulistyo Haribowo, 2008). Plasma darah adalah sel darah yang tersuspensi didalam suatu cairan. Cairan plasma membentuk 45 sampai 60% dari volume darah total, sel darah merah (SDM) menempati sebagian besar volume sisanya. Sel darah putih dan trombosit, walaupun secara fungsional penting, menempati bagian yang relatif kecil dari massa darah total. Proporsi sel dan plasma diatur dan dijaga dengan relatif konstan. Protein plasma merupakan pengangkut utama zat gizi dan produk sampingan metabolik ke organ-organ tujuan untuk penyimpanan atau ekskresi. Eritrosit mengandung pigmen pengangkut oksigen yaitu hemoglobin. Untuk melakukan fungsi utamanya mengangkut oksigen ke jaringan, eritrosit harus memenuhi beberapa kriteria: pertama harus mempertahankan struktur bikonkaf untuk memaksimalkan pertukaran gas; kedua, harus dapat berubah bentuk (lentur) agar dapat masuk kedalam kapiler mikrosirkulasi yang halus; dan harus memilki lingkungan internal yang konstan agar hemoglobin tetap berada dalam bentuk tereduksi sehingga dapat mengangkut oksigen. Darah dalam sirkulasi mengandung sekitar 4000 sampai 11.000 sel darah putih per mikroliter. Sel darah putih bertanggung jawab terhadap pertahanan tubuh dan diangkut oleh darah ke berbagai jaringan tempat sel-sel tersebut melakukan fungsi fisiologiknya (Ronald A.Sacher, 2004). Dalam keadaan fisiologis, darah selalu berada dalam pembuluh darah, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai berikut: 1. Sebagai alat pengangkut yang meliputi hal-hal berikut ini: a. Mengangkut gas oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). b. Mengangkut sisa-sisa atau ampas dari hasil metabolisme jaringan berupa urea, kreatinin dan asam urat.

c. Mengangkut sari makanan yang diserap melalui usus untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh. d. Mengangkut hasil-hasil metabolisme jaringan. 2. Mengatur keseimbangan cairan tubuh. 3. Mengatur panas tubuh. 4. Berperan serta dalam mengatur pH cairan tubuh. 5. Mempertahankan tubuh dari serangan penyakit infeksi. 6. Mencegah perdarahan. (Wiwik Handayani dan Andi Sulistyo Haribowo, 2008). B. Hemoglobin Hemoglobin merupakan zat protein yang ditemukan dalam SDM dan sebagai pengangkut oksigen (medlineplus) yang memberi warna merah pada darah (Joyce LeFever Kee, 2007). Hemoglobin merupakan komponen utama SDM. Fungsi utama hemoglobin adalah transport O2 dan CO2 (Sylvia Anderson Price, 2005). Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap SDM. Setiap molekul hemoglobin memiliki 4 tempat pengikatan untuk oksigen. Hemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihemoglobin. Hemoglobin dalam darah dapat mengikat oksigen secara parsial atau total di keempat tempatnya (Elizabeth J.Corwin, 2000). Dalam menjalankan fungsinya sebagai pengikat oksigen, 1 gram hemoglobin akan bergabung dengan 1,34 ml oksigen. Tugas akhir hemoglobin adalah menyerap karbondioksida dan ion hidrogen serta membawanya ke paru tempat zat-zat tersebut dilepaskan dari hemoglobin. Hemoglobin diproteksi oleh SDM dengan dibentuknya glutation tereduksi (GSH) yang dihasilkan dari nikotinamida adenin dinukleotida fosfat (NADPH) (James Isbister, 1990).

Kadar hemoglobin adalah salah satu pengukuran tertua dalam laboratorium kedokteran dan tes darah yang paling sering dilakukan. Kisaran normal dari hemoglobin dipengaruhi oleh berbagai variabel dan kadar harus diinterpretasikan dalam hubungannya dengan beberapa faktor yaitu kehamilan, penduduk pada daerah dengan ketinggian yang tinggi, merokok, latihan jasmani, penyakit yang berkaitan (Anemia, polisitemia, dll). Konsentrasi hemoglobin darah diukur berdasarkan intensitas warnanya menggunakan fotometer dan dinyatakan dalam gram hemoglobin/seratus milliliter darah (g/100ml) atau gram/desiliter (g/dl) (Sylvia Anderson Price, 2005). Nilai normal kadar hemoglobin untuk laki-laki 13,5-17 g/dl sedangkan untuk perempuan adalah 12-15 g/dl (Joyce LeFever Kee, 2007).

C. Manfaat Pemeriksaan Hemoglobin dalam Klinik Pemeriksaaan hemoglobin memiliki beberapa manfaat yaitu : 1. Untuk mengevaluasi kapasitas pengangkutan oksigen. 2. Menilai struktur dan fungsi eritrosit. 3. Memberikan pemahaman mengenai penyakit sel darah merah. 4. Memperkirakan ukuran rata-rata dan kandungan hemoglobin di masing-masing eritrosit (MCH dan MCHC). 5. Mengetahui penyebab umum hipoksia jaringan. (Ronald A.Sacher, 2004).

D. Cara Sianmethemoglobin Cara ini berdasarkan bahwa semua bentuk Hb (methemoglobin, karboxyhemoglobin kecuali sulfhemoglobin) diubah menjadi sianmethemoglobin dalam larutan yang berisi kalium sianida (KCN) dan kalium ferrisianida (K3Fe(CN)6). (Dep kes RI, 1989).

E. Penetapan Kadar Hemoglobin Metode Sianmethemoglobin Di laboratorium klinik, kadar hemoglobin dapat ditentukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan cara kolorimetrik seperti cara sianmethemoglobin (HiCN) dan cara oksihemoglobin (HbO2). International Committee for Standardization in Haematology (ICSH) menganjurkan pemeriksaan kadar hemoglobin cara sianmethemoglobin (Riadi Wirawan dan Erwin Silman, 1996). Cara ini sangat bagus dan teliti untuk laboratorium rutin karena standard sianmethemoglobin yang ditanggung kadarnya bersifat stabil dan dapat dibeli. Ketelitian cara ini dapat mencapai 2%.

Prinsip pemeriksaan hemoglobin dengan metode cyanmethemoglobin adalah hemoglobin darah diubah menjadi sianmethemoglobin (hemoglobin sianida) dalam larutan yang berisi kalium ferrisianida dan kalium sianida. Absorbansi larutan diukur pada gelombang 546 nm (filter hijau) dengan program C/F dan faktor 36,77. Larutan drabkin yang dipakai pada cara ini mengubah hemoglobin, oksihemoglobin, methemoglobin dan karboksihemoglobin menjadi sianmethemoglobin. Sulfhemoglobin tidak berubah dan karena itu tidak ikut diukur (R.Gandasoebrata, 2007).

F. Sumber Kesalahan dalam Pemeriksaan Hemoglobin Metode Sianmethemoglobin 1. Stasis vena pada waktu pengambilan darah menyebabkan kadar hemoglobin lebih tinggi dari seharusnya, sebaliknya menggunakan darah kapiler menyebabkan kontaminasi cairan jaringan yang menyebabkan kadar hemoglobin lebih rendah dari seharusnya. 2. Tidak mengocok darah sewaktu mengambil bahan untuk pemeriksaan. 3. Terjadinya bekuan darah. 4. Menggunakan reagen atau larutan standar yang tidak baik lagi. 5. Menggunakan pipet 20 l atau 5,0 ml yang tidak akurat, untuk itu perlu dilakukan kalibrasi pipet. 6. Cara memipet yang tidak tepat, baik sewaktu mengambil darah dengan pipet 20 l maupun sewaktu mengambil reagen dengan pipet 5,0 ml.

7. Spektrofotometer yang kurang baik, misalnya pengaturan panjang gelombang yang tidak tepat. Untuk itu perlu dilakukan kalibrasi panjang gelombang. 8. Perubahan tegangan listrik akan mempengaruhi pembacaan serapan. 9. Darah yang lipemik dapat menyebabkan hasil yang lebih tinggi dari seharusnya. 10. Adanya leukositosis berat (lebih dari 50.000/l) menyebabkan hasil pengukuran kadar hemoglobin lebih tinggi dari seharusnya.

(Riadi Wirawan dan Erwin Silman, 1996).