Anda di halaman 1dari 1

Nama Kelas

: Taufik Qodar Romadiansyah : XII IPA 3/34

DAMPAK TANAMAN TRANSGENIK TERHADAP TEKSTUR DAN STRUKTUR TANAH Produk Transgenik di Tengah Kekhawatiran Resiko Negatifnya Kontroversi penyebarluasan penggunaan Organisme Hasil Modifikasi Genetika atau OHMG, yang lebih dikenal dengan Genetically Modified Organism (GMO) atau rekayasa genetik (transgenik) telah menimbulkan arus pertentangan antara setuju dan yang kurang setuju. Antara lain Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan berbagai Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) yang meminta peninjauan kembali penggunaan kapas transgenik di Sulawesi Selatan, karena pertimbangan akan dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan OHMG. Dampak Negatif Penggunaan OHMG

Menurut Sitepoe, sampai saat ini dampak negatif penggunaan OHMG pada manusia, telah ditemukan dalam bentuk alergi. Dalam uji coba dengan menggunakan skin patch test terhadap kacang kedelai transgenik dari Brazil, hasilnya menunjukkan adanya reaksi alergi. Secara ekologis penggunaan OHMG dikhawatirkan akan mengganggu tekstur dan struktur tanah. Seperti gen tanaman yang ditransfer menggunakan beberapa jenis mikroorganisme, sehingga tanaman transgenik akan menghasilkan bahan kimia maupun endotoksin yang dapat mencegah serangan hama dalam tanah. Maka sisa tanaman transgenik itu masih mengandung toksin yang dapat mematikan mikroorganisme dan organisme di dalam tanah, sehingga terjadi degradasi bakteri (mikroorganisme) maupun organisme di dalam tanah, yang akan mengubah struktur dan tekstur tanah dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, endotoksin yang dihasilkan dapat membunuh beberapa jenis insect (serangga) tertentu, sehingga dapat mengganggu ekosistem jenis insect di atas tanah. "Kematian larva kupu-kupu yang memakan daun yang tertular toksin tanaman transgenik di Sulawesi Selatan, dikhawatirkan akan memusnahkan jenis kupu-kupu tersebut, dan akan mengganggu keseimbangan hayati," jelas Sitepoe. Menurutnya, terjadinya persilangan antara tanaman transgenik dengan tumbuhan lainnya menghasilkan tumbuhan liar, atau gulma baru yang resisten terhadap herbisida tertentu, mengakibatkan gangguan terhadap tanaman, dan juga akan mempengaruhi ekosistem tumbuhtumbuhan. Bentuk nyata lain penggunaan hasil rekayasa genetika yang pernah dijumpai adalah adanya gangguan lingkungan berupa tanaman yang mempergunakan bibit rekayasa genetika menghasilkan pestisida. Setelah dewasa, tanaman transgenik yang tahan hama, tanaman menjadi mati dan berguguran ke tanah. Bakteri dan jasad renik lainnya yang dijumpai pada tanah tanaman tersebut mengalami kematian. Kenyataan di lapangan, bahwa hasil transgenik akan mematikan jasad renik dalam tanah sehingga dalam jangka panjang di khawatirkan akan memberikan gangguan terhadap struktur dan tekstur tanah. Selain hal tersebut juga dikhawatirkan pada areal tanaman transgenetik sesudah bertahun-tahun akan memunculkan gurun pasir (Satiawihardja, 1997). Kekhawatiran terhadap efisiensi penggunaan hewan transgenik juga terjadi di Meksiko, Animal Welfare Committee (2006) menyatakan bahwa penggunaan bovinesomatothropine kepada sapi meningkatkan produksi susu 25 persen, tetapi penggunaan pakan meningkat sehingga tidak ada efisiensi. Potensi Resiko Tanaman Bt-Transgenik Terhadap Ekologi Tanah Bt(Bacillus thuringiensis)-transgenik akan mensekresikan toksin yang diproduksinya ke dalam tanah. Toksin tersebut langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan baik makro, meso, maupun mikrobiota yang ada di dalam tanah. Selain itu bagian-bagian tanaman yang gugur akan memasuki lingkungan tanah dan mempengaruhi kehidupan yang ada di dalamnya. Tanaman transgenik juga akan melepaskan DNA asingnya ke dalam tanah. Persistensi DNA di dalam tanah akan meningkatkan kemungkinan terjadinya transfer gen horizontal dari tanaman transgenik ke bakteri. Beberapa penelitian terakhir merujuk ke kemungkinan terjadinya mekanisme tersebut.