Anda di halaman 1dari 25

MENURUT PANDANGAN AGAMA, ETIK, & KESEHATAN

EUTHANASIA

LATAR BELAKANG

Terdapat kerancuan pendapat umum tentang EUTHANASIA apakah dihalalkan atau diharamkan Alasan yang diberikan ketika ada pasien yang akan diberi tindakan EUTHANASIA Bagaimana Euthanasia menurut hukum pidana di Indonesia

Jenis Kematian :
1.Orthothanasia, 2.Dysthanasia, 3.Euthanasia,

Definisi euthanasia
* Segi Bahasa

Yunani
Eu = Baik

Arab
Qatlu ar-rahma atau Taysir al-maut

Thanatos= Kematian

Definisi euthanasia

Menurut istilah Kedokteran


Eutahanasia berarti tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal diperingan. Mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya.

Makna euthanasia
1. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan, buat yang beriman dengan nama Allah di bibir. 2. Waktu hidup akan berakhir, diringankan penderitaan si sakit dengan memberikan obat penenang. 3. Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya.

jenis euthanasia

EUTHANASIA AKTIF

MEMATIKAN SECARA SENGAJA

Kondisi sudah sangat parah / stadium akhir Tidak mungkin sembuh / bertahan lama

Memberikan suntikan yang mematikan

HARAM?

jenis euthanasia

EUTHANASIA PASIF
TINDAKAN DOKTER BERUPA PENGHENTIAN PENGOBATAN PASIEN YANG SUDAH AKUT Tidak mungkin disembuhkan Kondisi ekonomi pasien terbatas HARAM ?

METODE euthanasia
Euthanasia Sukarela Euthanasia Non Sukarela Euthanasia Tidak Sukarela Bantuan Bunuh Diri

PROSEDUR euthanasia
1.

Euthanasia Agresif/ Aktif


memberikan obat-obatan yang mematikan seperti misalnya pemberian tablet sianida atau menyuntikan zat-zat yang mematikan kedalam tubuh pasien

2.

Euthanasia Non Agresif

seseorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk tidak mekukan perawatan medis dan pasien tersebut mengetahui bahwa penolakan tersebut akan memperpendek dan mengakhiri hidupnya

3.

Euthanasia Pasif

Dengan sengaja tidak ( lagi ) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien.

Unsur-unsur euthanasia
1.Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. 2.Mengakhiri hidup, mempercepat kematian, atau tidak memperpanjang hidup pasien 3.Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan 4.Atas atau tanpa permintaan pasien dan atau keluarganya 5.Demi kepentingan pasien dan atau keluarganya

ALASAN euthanasia

Adanya hak moral bagi setiap orang untuk mati terhormat, maka seseorang mempunyai hak memilih cara kematiannya Tindakan belas kasihan pada seseorang yang sakit, meringankan penderitaan sesama adalah tindakan kebajikan Tindakan belas kasihan pada keluarga pasien Mengurangi beban ekonomi

DAMPAK euthanasia

Sudut pandang Pasien


mudah putus asa karena tidak ingin dan tidak memiliki semangat untuk berjuang melawan penyakitnya.

Sudut pandang Keluarga Pasien


aspek kemanusiaan dan ekonomi

ASPEK euthanasia
1.

Aspek Hukum Undang undang yang tertulis dalam KUHP Pidana hanya melihat dari dokter sebagai pelaku utama euthanasia, khususnya euthanasia aktif dan dianggap sebagai suatu pembunuhan berencana, atau dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang. Sehingga dalam aspek hukum, dokter selalu pada pihak yang dipersalahkan dalam tindakan euthanasia, tanpa melihat latar belakang dilakukannya euthanasia tersebut. Tidak perduli apakah tindakan tersebut atas permintaan pasien itu sendiri atau keluarganya, untuk mengurangi penderitaan pasien dalam keadaan sekarat atau rasa sakit yang sangat hebat yang belum diketahui pengobatannya.

ASPEK euthanasia
2. Aspek Hak Asasi Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan hak hidup, damai dan sebagainya. Tapi tidak tercantum dengan jelas adanya hak seseorang untuk mati. Mati sepertinya justru dihubungkan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini terbukti dari aspek hukum euthanasia yang cenderung menyalahkan tenaga medis dalam euthanasia. Sebetulnya dengan dianutnya hak untuk hidup layak dan sebagainya, secara tidak langsung seharusnya terbersit adanya hak untuk mati, apabila dipakai untuk menghindarkan diri dari segala ketidak nyamanan atau lebih tegas lagi dari segala penderitaan yang hebat.

ASPEK euthanasia
3. Aspek Ilmu Pengetahuan Pengetahuan kedokteran dapat memperkirakan kemungkinan keberhasilan upaya tindakan medis untuk mencapai kesembuhan atau pengurangan penderitaan pasien. Apabila secara ilmu kedokteran hampir tidak ada kemungkinan untuk mendapatkan kesembuhan ataupun pengurangan penderitaan, apakah seseorang tidak boleh mengajukan haknya untuk tidak diperpanjang lagi hidupnya? Segala upaya yang dilakukan akan sia sia, bahkan sebaliknya dapat dituduhkan suatu kebohongan, karena di samping tidak membawa kepada kesembuhan, keluarga yang lain akan terseret dalam pengurasan dana.

ASPEK euthanasia
4. Aspek Agama Kelahiran dan kematian merupakan hak dari Tuhan sehingga tidak ada seorangpun di dunia ini yang mempunyai hak untuk memperpanjang atau memperpendek umurnya sendiri. Pernyataan ini menurut ahli ahli agama secara tegas melarang tindakan euthanasia, apapun alasannya. Dokter bisa dikategorikan melakukan dosa besar dan melawan kehendak Tuhan yaitu memperpendek umur. Orang yang menghendaki euthanasia, walaupun dengan penuh penderitaan bahkan kadang kadang dalam keadaan sekarat dapat dikategorikan putus asa, dan putus asa tidak berkenan dihadapan Tuhan

Euthanasia

Ditinjau dari sudut pemberian izin 1. Euthanasia diluar kemauan pasien 2. Euthanasia secara tidak sukarela 3. Euthanasia secara sukarela

CONTOH KASUS Euthanasia

Kasus Hasan Kusuma - Indonesia Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada tanggal 22 Oktober 2004 telah diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan disamping itu ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan merupakan suatu alasan pula. Permohonan untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk eutanasia yang diluar keinginan pasien. Permohonan ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan setelah menjalani perawatan intensif maka kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam pemulihan kesehatannya.

pembahasan

Ketua Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa yang haram tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat). Euthanasia itu kan pembunuhan," kata KH Ma`ruf Amin Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengatakan MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat). "Euthanasia, menurut fatwa kita tidak diperkenankan, karena itu kan melakukan pembunuhan," kata KH Ma`ruf Amin Hidayatullah.com--Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengatakan MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat). "Euthanasia, menurut fatwa kita tidak diperkenankan, karena itu kan melakukan pembunuhan," kata KH Ma`ruf Amin. Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan pasif, menurut fatwa MUI, tidak diperkenankan karena berarti melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain. Lebih lanjut, KH Ma'ruf Amin mengatakan, Euthanasia boleh dilakukan dalam kondisi pasif yang sangat khusus.

pembahasan

Syariah Islam mengharamkan Euthanasia aktif, karena termasuk dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad), walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan penderitaan pasien. Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan pasien sendiri atau keluarganya.

pembahasan
Dalil-dalil dalam masalah ini sangatlah jelas, yaitu dalil-dalil yang mengharamkan pembunuhan. Baik pembunuhan jiwa orang lain, maupun membunuh diri sendiri. Misalnya firman Allah SWT :

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS Al-Anaam : 151)
Dan tidak layak bagi seorang mu`min membunuh seorang mu`min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)... (QS An-Nisaa` : 92) Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS An-Nisaa` : 29).

Dari dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan Euthanasia aktif. Sebab tindakan itu termasuk ke dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad) yang merupakan tindak pidana (jarimah) dan dosa besar.

pembahasan

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tidak menyetujui Euthanasia aktif. Pasalnya hal itu tidak sesuai dengan etika, moral, agama, budaya, serta peraturan perundangundangan yang ada. Secara etika, tugas dokter adalah memelihara dan memperbaiki kehidupan seseorang, bukan mencabut nyawa atau menghentikan hidup seseorang.

Kesimpulan
1.Euthanasia belum mempunyai kesamaan sudut pandang antara hak azasi manusia, hukum, ilmu pengetahuan dan agama. 2.Euthanasia tidak bisa dipandang hanya dari satu sudut pandang saja.

Kesimpulan.
3. Euthanasia tidak bisa disamakan dengan pembunuhan berencana. 4. Euthanasia bisa merupakan kebenaran pada salah satu aspek, tetapi belum tentu merupakan kebenaran, bahkan pelanggaran kebenaran pada aspek lainnya.