Anda di halaman 1dari 7

GASTRO ESOFAGAL REFLUKS DISEASE (GERD)

DEFINISI keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam esophagus, dengan berbagai gejala yang timbul akibat keterlibatan esofagus, faring, laring,& saluran napas. (Sudoyo, 2009) EPIDEMIOLOGI Amerika serikat: satu dari lima orang dewasa mengalami gejala refluks sekali dalam seminggu (40%) Indonesia: (belum ada data epidemiologinya) : 22,8% (syafrudin, 1998) Tingginya gejala refluks pada populasi di negara-negara barat diduga karena faktor diet dan meningkatnya obesitas ETIOLOGI Gangguan anatomi esofagus Lemahnya sfingter esofagus bagian bawah Lambung: kadar asam, cairan empedu, dan enzim pankreas dari lambung terlalu tinggi karena makanan terlalu lama berada di lambung PATOGENESIS Refluks gastrosofagal pada pasien GERD terjadi melalui 3 mekanisme : 1. Refluks spontan pada saat relaksasi LES (lower esophageal sphincter) yang tidak adekuat 2. Aliran retrograd yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan 3. Meningkatnya tekanan intra abdomen

Faktor yang berperan patogenesis GERD : Faktor defensif esofagus Tonus LES : menurunnya tonus dapat menyebabkan timbulnya refluks retrograd pada saat terjadinya peningkatan tekanan intraabdomen Bersihan asam dari lumen esophagus : faktor yang berperan adalah gravitasi, peristaltik, ekresi air liur, dan bikarbonat. Ketahanan epitelial esophagus : mekanismenya terdiri dari membran sel, intracellular junction, aliran darah esofagus, sel-sel esofagus Faktor ofensif : potensi daya rusak refluksat Kandungan lambung : HCL, pepsin, garam empedu, enzim pancreas

Faktor lain Kelainan di lambung: dilatasi lambung atau obstruksi gastric outlet dan delayed gastric emptying GEJALA KLINIS o Nyeri/ rasa tidak enak di epigastrium atau retrosternal bagian bawah o rasa terbakar (Heart-burn) kadang dengan disfagia, mual, regurgitasi dan rasa pahit di lidah o Odinofagia apabila sudah terjadi ulserasi esofagus yang berat o Gejala ekstra esofageal: Nyeri dada non kardiak Suara serak Laringitis Batuk karena aspirasi sampai timbulnya bronkiektasis atau asma

o Gejala GERD biasanya perlahan-lahan, sangat terjadi episode akut atau keadaan yang bersifat mengancam jiwa. DIAGNOSIS Anamnesa

Pemeriksaan - Endoskopi saluran pencernaan bagian atas: standar baku untuk diagnosa GERD ditemukannya mucosal break di esophagus

- Esofagografi dengan barium: kurang peka Esofagus ringan Esofagus lebih berat : tidak menunjukkan kelainan : gambaran radiologi dapat berupa penebalan dinding

dan lipatan mukosa, ulkus atau penyempitan lumen - Pemantauan pH 24 jam : untuk memeriksa ada tidaknya refluks gastroesofageal dengan menempatkan mikroelektroda pH pada bagian distal esofagus (dimonitor dan direkam) pada saat episode asidifikasi bagian distal esofagus. (+) refluks esofagus : pH < 4 pada jarak 5 cm di atas LES

- Tes Bernstein : mengukur sensitivitas mukosa dengan memasang selang transnasal dan melakukan perfusi bagian distal esofagus dengan HCL 0,1 M dalam waktu kurang dari 1 jam. (+) : larutan ini menimbulkan rasa nyeri dada seperti yang biasa dialami pasien, sedangkan larutan NaCl tidak menimbulkan rasa nyeri. - Manometri esofagus

- Sintigrafi Gastroesofagal : menggunakan cairan atau campuran makanan cair dan padat yang di label dengan radioisotop yang tidak diabsorpsi (biasanya technetium) penghitungan gamma (gamma counter) eksteernal akan memonitor transit dari cairan/makanan yang dilabel tersebut. - Tes Penghambat Pompa Proton /Test Supresi Asam Memberikan PPI dosis tinggi selama 1-2 minggu sambil melihat respon yang terjadi (+) : terdapat perbaikan dari 50-75% gejala yang terjadi

PENATALAKSANAAN Target penatalaksanaan GERD ; a. Menyembuhkan lesi esofagus b. Menghilangkan gejala/ keluhan c. Mencegah kekambuhan d. Memperbaiki kualitas hidup e. Mencegah timbulnya komplikasi Modifikasi gaya hidup Meninggikan posisi kepala saat tidur dan hindari makan sebelum tidur meningkatkan bersihan asam selama tidur & mencegah refluks asam lambung Berhenti merokok& alkohol: dapat menurunkan tonus LES dan pengaruh pada sel-sel epitel Mengurangi konsumsi lemak: menimbulkan distensi lambung Menurunkan berat badan: mengurangi tekanan intra abdomen Menghindari makanan/ minuman teh, coklat, kopi, soda : menstimulasi sekresi asam Hindari obat-obatab yang dapat menurunkan tonus LES : antikolinergik, diazepam, opiat, antagonis kalsium, agonis beta adrenergik, progesteron Medikamentosa 1. Antasid

Menghilangkan gejala; tidak menyembuhkan lesi esofagitis esofagus bagian bawah Cara kerja: buffer terhadap HCL dan memperkuat tekanan sfingter Penggunaan terbatas pada pasien gangguan fungsi ginjal Dosis sehari 4x1 sendok makan 2. Antagonis reseptor H2 Penekan sekresi asam, efektif untuk esofagitis derajat ringan sampai sedang serta tanpa komplikasi Dosis : Simetidin: 2x800 mg Ranitidin: 4x150 mg Famotidin: 2x20 mg Nizatidin: 2x150 mg 3. Obat-obatan prokinetik metoklopramid: Antagonis reseptor dopamin, tidak berperan dalam penyembuhan lesi Efek samping: mengantuk, pusing, agitasi, tremor, diskinesia Dosis: 3x10 mg

Domperidon : Antagonis reseptor dopamin Dapat meningkatkan tonus LES serta mempercepat pengosongan lambung Dosis: 3x10-20 mg

cisapride: antagonis reseptor 5HT4 Mempercepat pengosongan lambung serta meningkatkan tekanan tonus LES Dosis: 3x10 mg/hari

4. Sukralfat

Bekerja dengan cara meningkatkan pertahanan mukosa esofagus, sebagai buffer terhadap HCL di esofagus serta dapat mengikat pepsin dan garam empedu Dosis : 4x1 gram 5. Penghambat pompa proton Bekerja dengan mempengaruhi enzim H,K ATP-ase yang dianggap tahap akhir proses pembentukan asam lambung Indikasi : lesi esofagus, esofagitis erosifa Dosis: omeprazole 2x20 mg Lansoprazole 2x30 mg Pantoprazole 2x40 mg Esomeprazole 2x40 mg

Pengobatan diberikan selama 6-8 minggu (terapi inisial), dosis pemeliharaan (maintenance therapy) selama 4 bulan

Terapi Terhadap Komplikasi Striktur Esofagus : disfagia, diameter sttriktur kurang dari 13 mm Dilatasi busi jika gagal : operasi Esofagus Barrett : medikamentosa.

Terapi Bedah Merupakan terapi alternatif yang penting jika terapi medikamentosa gagal, atau pada pasien GERD dengan striktur berulang. Umumnya pembedahan yang dilakukan adalah fundoplikasi. Terapi Endoskopi Penggunaan energi radiofrekuensi Plikasi gastrik endoluminal Implantasi endoskopi : menyuntikan zat implan di bawah mukosa esofagus bagian distal sehingga lumen esofagus bagian distal menjadi lebih kecil KOMPLIKASI Striktur esofagus: disfagia dengan diameter striktur kurang dari 13 mm Barretts esofagus Adenokarsinoma di kardia dan esofagus PROGNOSIS Prognosis untuk pembedahan biasanya baik. Meskipun begitu ,mortaliti dan morbiditi adalah tinggi pada pasien pembedahan dengan masalah medis yang kompleks