Anda di halaman 1dari 29

http://www.rspkujogja.

com/beritaartikel/berita/162-pencegahan-dan-pengendalian-infeksi
Jumat, 08 Juni 2012 10:39

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

Jika tidak dikendalikan dan dicegah dengan sungguh-sungguh, infeksi bisa mengakibatkan kesakitan dan kematian. Orang-orang yang berada di lingkungan rumah sakit seperti pasien, petugas kesehatan, penunggu / pengunjung juga sangat berisiko terinfeksi. Penderita yang sedang dalam proses asuhan perawatan di rumah sakit, baik dengan penyakit dasar tunggal maupun penderita dengan penyakit dasar lebih dari satu, secara umum keadaan umumnya tidak/kurang baik, sehingga daya tahan tubuh menurun. Hal ini akan mempermudah terjadinya infeksi silang karena kuman-kuman, virus dan sebagainya akan masuk ke dalam tubuh penderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan dengan mudah. Infeksi yang terjadi pada setiap penderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan ini disebut infeksi nosokomial. Resiko infeksi di rumah sakit atau yang biasa dikenal dengan infeksi nosokomial merupakan masalah penting di seluruh dunia. Infeksi ini terus meningkat dari 1% di beberapa Negara Eropa dan Amerika, sampai lebih dari 40% di Asia, Amerika Latin dan Afrika. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Salah satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial. Infeksi ini menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Saat ini infeksi nosokomial lebih dikenal sebagai Health-care Associated Infections (HAIs). Untuk itu Rumah Sakit perlu menyusun program pencegahan dan pengendalian infeksi . Pelaksanaan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), sendiri merupakan salah satu bentuk dari program patient safety (keselamatan pasien). Pelaksanaan peningkatan program PPI saat ini memiliki tantangan di masa mendatang. Jumlah rumah sakit dan fasilitas yankes sangat banyak dan terus bertambah, serta keterbatasan sumber daya manusia yang terampil di bidang HAIs. Untuk itu, perlu pelatihanpelatihan agar didapat tenaga kesehatan yang profesional dan terampil. Tujuan dari Program PPI adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya melalui pencegahan dan pengendalian infeksi; Melindungi sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat dari penyakit infeksi yang berbahaya; serta menurunkan angka kejadian Infeksi Nosokomial. Ruang lingkup dari program PPI meliputi Pencegahan Infeksi, Pendidikan dan Pelatihan, Surveilans, dan Penggunaan Obat Antibiotik secara Rasional.

Dalam Kepmenkes no. 129 tahun 2008 ditetapkan suatu standar minimal pelayanan rumah sakit, termasuk didalamnya pelaporan kasus infeksi nosokomial untuk melihat sejauh mana rumah sakit melakukan pengendalian terhadap infeksi ini. Data infeksi nosokomial dari surveilans infeksi nosokomial di setiap rumah sakit dapat digunakan sebagai acuan pencegahan infeksi guna meningkatkan pelayanan medis bagi pasien (Kepmenkes, 2008). Tim PPI dulu diawali dengan nama panitia infeksi nosokomial dengan keanggotaan dokter, perawat, bagian CSSD, Sanitasi & limbah dan bagian Linen. Sasaran / target inos saat itu meliputi pasien, petugas dan lingkungan RS. Pasien dibedakan menjadi pasien infeksius dan non infeksius. Petugas menganggap sumber infeksi dari pasien. Tahun 2007 panitia infeksi nosokomial berubah nama menjadi Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (Tim PPI), dengan sasaran target lebih luas meliputi pasien, petugas, lingkungan RS & di sekitar RS, pengunjung RS, praktikan / Mahasiswa dan masyarakat di sekitar RS. Kebijakan Tim PPI tidak mengkategorikan pasien infeksius dan non infeksius, tetapi semua pasien dianggap infeksius, sehingga saat menangani/ melakukan tindakan prosedur ke semua pasien, petugas diharuskan memakai APD ( Alat Pelindung Diri). Tim PPI RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta terdiri dari KPPI (Ka Komite Pencegahan & Pengendalian Infeksi) dpimpin oleh dr. Moh. Wibowo, SpPD, Ka Tim PPI / IPCO ( Infection Prevention and Control Officer) adalah dr. Imam Masduki, SpM. , MSc. , di bawahnya IPCN (Infection Preventif and Control Nurse) Arifiana, Skep. Ns dan IPCLN (Infection preventif and Control Link Nurse) yang dipimpin oleh supervisor di unit keperawatan. Anggota tim PPI yang lain adalah unit CSSD, Linen, Limbah & sanitasi. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI) bertugas membuat dan mengevaluasi kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), melaksanakan sosialisasi kebijakan PPIRS, membuat SPO, menyusun serta mengevaluasi pelaksanaan program & pelatihan PPI, bekerjasama dengan Tim PPI dalam melakukan investigasi masalah atau Kejadian Luar Biasa (KLB) Infeksi Nosokomial, memberikan usulan untuk mengembangkan dan meningkatkan cara Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, memberikan usulan kepada Direktur untuk pemakaian antibiotika yang rasional di RS berdasarkan hasil pantauan kuman dan resistensinya terhadap antibiotika serta menyebar luaskan data resistensi antibiotika, memberikan masukan yang menyangkut Konstuksi Bangunan, Pengadaan Alat, Bahan Kesehatan, Renovasi Ruangan, cara pemprosesan alat, penyimpanan alat dan linin sesuai dengan prinsip PPI. Infection Prevention Control Officer (IPCO) bertugas dalam berkontribusi dalam diagnosis dan terapi infeksi yang benar, menyusun pedoman penulisan resep antibiotika dan surveilenss,

mengindentifikasi, melaporkan kuman patogen dan pola resistensi antibiotika, bekerjasama dengan Perawat PPI memonitor kegiatan Surveilenss Infeksi dan mendeteksi serta menyelidiki KLB, membimbing dan mengajarkan praktek serta prosedur PPI yang berhubungan dengan prosedur terapi, memonitor cara kerja tenaga Kesehatan dalam merawat Pasien dan membantu semua Petugas Kesehatan untuk memahami PPI. Infection Prevention Control Nurse (IPCN) mempunyai tugas dan wewenang untuk mengunjungi ruangan setiap hari untuk memonitor kejadian infeksi yang terjadi di RS, memonitor pelaksanaan PPI, penerapan SOP dan kewaspadaan isolasi, melaksanakan Surveilenss Infeksi dan melaporkan kepada KPPI, bersama KPPI melakukan Pelatihan Petugas Kesehatan tentang PPI di Rumah Sakit, melakukan Investigasi terhadap KLB dan bersama-sama KPPI memperbaiki kesalahan yang terjadi, memonitor kesehatan petugas untuk mencegah penularan infeksi dari petugas kesehatan kepada pasien atau sebaliknya. menganjurkan prosedur isolasi dan memberi konsultasi tentang PPI yang diperlukan pada kasus yang terjadi di RS, audit PPI terhadap Limbah, Loundry, Gizi dan lain-lain dengan menggunakan daftar titik, monitor pengendalian penggunaan antibiotika yang rasional, mendesain, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi surveilenss infeksi yang terjadi di Rumah Sakit, membuat laporan Surveilenss dan melaporkan ke KPPI, memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan PPI, meningkatkan kesadaran Pasien dan pengunjung Runah Sakit tentang PPIRS, memprakarsai penyuluhan bagi petugas kesehatan, Pengunjung dan keluarga tentang topik infeksi yang sedang berkembang di masyarakat (infeksi dengan insiden tinggi). Infection Prevention Control Link Nurse (IPCLN) bertugas mengisi dan mengumpulkan formulir Surveilenss setiap pasien di Unit Rawat Inap masing-masing, kemudian menyerahkannya kepada Infection Prevention Control Nurse (IPCN), memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan PPI pada setiap personil Ruangan di Unit Rawat masing-masing, memberitahukan kepada IPCN apabila ada kecurigaan adanya Infeksi Nosokomial pada Pasien, berkoordinasi IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB, memberikan penyuluhan bagi pengunjung di Ruang Rawat masing-masing, konsultasi prosedur yang harus dijalankan bila belum paham, memonitor kepatuhan Petugas Kesehatan yang lain dalam menjalankan Standart Isolasi. Kegiatan yang telah dilaksanakan PPI RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta meliputi gerakan cuci tangan ke seluruh pengunjung rumah sakit (indoor) dan ke masyarakat sekitar rumah sakit (outdoor) mulai dari depan istana negara, Jl. KHA Dahlan sampai Jl. Bayangkara dengan target sasaran tukang sapu jalanan, tukang becak, pedagang kaki lima, tukang parkir. Selain itu tim PPI mengadakan pelatihan in house untuk petugas medis, non medis dan cleaning service secara berkelanjutan. Kegiatan surveilen rutin dilakukan setiap hari di semua ruangan keperawatan pada semua pasien rawat inap. Surveilen ini dilakukan oleh IPCN dan IPCLN / supervisor di ruangan. Hasil surveilen mendapatkan data angka infeksi selama triwulan kemudian untuk selanjutnya dilaporkan ke direktur utama dan unit yang bersangkutan. Rumah sakit dikatakan mutu pelayanannya bagus bila angka infeksinya sedikit. Hasil surveilance Tim PPI selama triwulan bulan Maret, April dan Mei tahun 2012 ditemukan angka kepatuhan Hand Hygiene dengan nilai 73 ( < 75 = Kepatuhan Minimal ). Hand Hygiene meliputi Handwash (mencuci dengan sabun + air mengalir) dan Handrub (mencuci dengan cairan berbasis alkohol ). Kegiatan ini perlu mendapatkan dukungan banyak dari manajemen dan seluruh karyawan, dengan sarana dan prasarana cairan handrub yang mudah terjangkau petugas. Motivasi bagi petugas untuk melakukan hand hygiene (cuci tangan) sebelum melakukan tindakan masih perlu ditingkatkan. (Arifiana-tim PPI).

http://ika-misna.blogspot.com/2012/04/pencegahan-infeksi-terutama-untuk.html
SABTU, 07 APRIL 2012

Prinsip Pencegahan Infeksi


1. Pengertian Infeksi

Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit. Jika mikroorganisme gagal menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan, infeksi ini disebut asimptomatik. Penyakit timbul jika patogen berbiak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit infeksi dapat ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan penyakit menular atau contagius (Perry, 2005: 933). Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari komponen- komponen lain dalam asuhan selama persalinan persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan, dan tenaga kesehatan lainnya dengan mengurangi infeksi karenabakteri, virus, dan jamur. Dilakukan pula untuk mengurangi risiko penularan penyakit-penyakit berbahaya yang hingga kini belum ditemukan dengan cara pengobatannya, seperti misalnya HIV/AIDS (APN, 2007: 7).

2.

Patofisiologi Infeksi

Reaksi pertama pada infeksi adalah reaksi umum yang melibatkan susunan saraf dan sistem hormon yang menyebabkan perubahan metabolik. Pada saat itu terjadi reaksi jaringan limforetikularis di seluruh tubuh berupa proliferasi sel fagosit dan sel pembuat antibodi (limfosit B). Reaksi kedua berupa reaksi lokal yang disebut inflamasi akut. Reaksi ini terus berlangsung selama masih terjadi pengrusakan jaringan oleh trauma. Bila penyebab kerusakan jaringan bisa diberantas, sisa jaringan yang rusak disebut debris akan difagositosis dan dibuang oleh tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reaksi sel fagosit kadang berlebihan sehingga debris yang berlebihan terkumpul dalam suatu rongga membentuk abses atau bertumpuk di sel jaringan tubuh lain membentuk flegmon. Trauma yang hebat, berlebihan dan terus-menerus menimbulkan reaksi tubuh yang juga berlebihan berupa fagositosis debris yang diikuti dengan pembentukan jaringan granulasi vaskuler untuk mengganti jaringan yang rusak. Fase ini disebut

fase organisasi. Bila dalam fase fase ini pengrusakan jaringan terhenti, akan terjadi fase penyembuhan melalui pembentukan jaringan granulasi fibrosa. Akan tetapi bila pengrusakan jaringan berlangsung terus, akan terjadi fase inflamasi kronik yang akan sembuh bila rangsang yang merusak hilang.

3.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi terjadinya Infeksi

Semua manusia rentan terhadap infeksi bakteri dan sebagian virus. Jumlah organisme yang dapat menyebabkan infeksi pada pejamu yang rentan berbeda pada setiap lokasinya, jika organisme bersentuhan dengan dengan kulit, risiko infeksi rendah. Jika organisme bersentuhan dengan selaput lendir atau kulit yang terkelupas maka risiko infeksi meningkat (Tietjen, 2004: 1-8). Faktor-faktor yang mempengaruhi Proses Infeksi menurut Azis Alimul Hidayat (2006: 134) adalah: a) Sumber Penyakit

Sumber penyakit dapat mempengaruhi apakah infeksi dapat berjalan cepat atau lambat. b) Kuman penyebab Kuman penyebab dapat menentukan jumlah mikroorganisme masuk ke dalam tubuh dan virulensinya. c) Cara Membebaskan dari Sumber Kuman

Cara membebaskan kuman dapat menentukan apakah proses infeksi cepat atau teratasi atau diperlambat seperti tingkat keasaman (pH), suhu, penyinaran, dan lain-lain. d) Cara Penularan Cara penularan seperti kontak langsung, melalui makanan atau udara, dapat memyebabkan penyebaran kuman ke dalam tubuh. e) Cara masuknya Kuman

Proses penyebaran kuman berbeda, tergantung dari sifatnya. Kuman dapat masuk melalui saluran pencernaan, saluran pernafasan, kulit, dan lain-lain. f) Daya Tahan Tubuh

Daya tahan tubuh yang baik dapat memerlambat prosses infeksi atau mempercepat prosespenyembuhan. Demikian pula sebaliknya, daya tahan tubuh yang buruk dapat memperburuk proses infeksi.

Sedangkan menurut Potter (2005: 933) adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi. Perkembang biakan infeksi terjadi dalam siklus yang bergantung pada elemen-elemen berikut ini: a) Agens infeksius

b) Tempat atau sumber pertumbuhan patogen c) Portal keluar dari tempat tumbuh tersebut

d) Cara penularan e) f) Portal masuk ke pejamu Pejamu yang rentan.

Infeksi dapat terjadi jika rantai ini tetap berhubungan. Tenaga kesehatan menggunakan kewaspadaan dan pengendalian infeksi untuk memutuskan rantai tersebut sehingga infeksi tidak terjadi (Potter, 2005: 933).

4.

Tanda-tanda Infeksi

Tubuh memiliki pertahanan normal terhadap infeksi. Flora normal tubuh yang tinggal di dalam dan luar tubuh melindungi seseorang dari beberapa patogen. Setiap sistem organ memiliki mekanisme pertahanan yang mempertahankan terhadap paparan mikroorganisme infeksius (Perry, 2005: 937). Respons selular tubuh terhadap cedera atau infeksi adalah inflamasi. Inflamasi adalah reaksi protektif vaskuler dengan menghantarkan cairan, produk darah, dan nutrien ke jaringan interstisial ke daerah cedera. Tanda inflamasi termasuk bengkak, kemerahan, panas, nyeri atau nyeri tekan, dan hilangnya fungsi bagian tubuh yang terinflamasi. Bila inflamasi menjadi sistemik, muncul tanda dan gejala lain, termasuk demam, leukositas, malaise, anoreksia, mual, muntah, dan pembesaran kelenjar limfe (Perry, 2005: 939). a) Tanda-tanda Infeksi maternal

1) Tanda dini Infeksi (a) Sedikit peningkatan suhu tubuh ibu (b) Takikardia janin (c) Perasaan tidak sehat 2) Tanda Lanjut Infeksi

(a) Perasaan tidak sehat (b) Suhu tinggi (c) Takikardia ibu dan/atau janin (d) Kematian intrauterus

(e) Bayi yang tidak sehat saat dilahirkan (f) Tanda non spesifik infeksi seperti malaise, sakit kepala, demam, atau mialgia (g) Nyeri tekan uterus atau cairan/flour vagina berbau menyengat (Chapman, 2006: 212-213). b) Tanda-tanda Infeksi pada saat Persalinan 1) Nadi cepat (110x/menit atau lebih) 2) Suhu lebih dari 38C 3) Menggigil 4) Air ketuban atau cairan vagina berbau (APN, 2007: 90)

5.

Tujuan Pencegahan Infeksi

Infeksi Nasokomial dan infeksi dari pekerjaan merupakan masalah yang penting di seluruh dunia dan terus meningkat. Sebagian besar infeksi dapat dicegah dengan strategi dan menaati praktik-praktik pencegahan infeksi yang direkomendasikan (Tietjen, 2004: 1-2). Adapun tujuan pencegahan infeksi dalam asuhan persalinan normal (APN, 2007: 1-2) adalah: a) Meminimalkan infeksi yang disebabkan mikroorganisme (bakteri, virus, jamur).

b) Menurunkan resiko penularan penyakit yang mengancam jiwa (hepatitis dan HIV/AIDS).

6.

Definisi Tindakan dalam Pencegahan Infeksi

Cara paling mudah untuk mencegah penyebaran infeksi adalah membunuh mikroorganisme ketika mereka berada di tangan, alat dan perabot seperti tempat tidur pasien (Ester, 2005: 42). Cara efektif untuk membunuh mikrooraganisme meliputi: a) Asepsis atau teknik aseptik

Asepsis atau teknik aseptik adalah semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang mungkin akan menyebabkan infeksi. Caranya adalah menghilangkan dan/atau menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit, jaringan dan benda-benda mati hingga tingkat aman. b) Antisepsis Antisepsis adalah usaha mencegah infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh lainnya. c) Dekontaminasi Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman benda-benda (peralatan medis, sarung tangan, meja pemeriksaan) yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Cara memastikannya adalah segera melakukan dekontaminasi terhadap benda-benda tersebut setelah terpapar/terkontaminasi darah atau cairan tubuh. d) Mencuci dan membilas Mencuci dan membilas adalah tindakan-tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua darah, cairan tubuh atau benda asing (debu, kotoran) dari kulit atau instrumen. e) Desinfeksi Desinfeksi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua mikroorganisme penyebab penyakit pada benda-benda mati atau instrumen. f) Desinfeksi tingkat tinggi (DTT)

Desinfeksi tingkat tinggi (DTT) adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme kecuali endospora bakteri, dengan cara merebus atau cara kimiawi. g) Sterilisasi Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrumen (APN, 2007).

7.

Tindakan Pencegahan Infeksi

Cara efektif untuk mencegah penyebaran penyakit dari orang ke orang atau dari peralatan ke orang dapat dilakukan dengan meletakkan penghalang di antara mikroorganisme dan individu pasien atau petugas kesehatan. Penghalang ini dapat berupa upaya fisik, mekanik ataupun kimia yang meliputi pencucian tangan, penggunaan sarung tangan, penggunaan cairan antiseptik, pemprosesan alat bekas pakai, dan pembuangan sampah.

a)

Mencuci Tangan

Untuk mencegah penularan infeksi kepada dirinya dan kliennya, para pelaksana pelayanan KIA perlu mencuci tangannya sebelum memeriksa klien. Mencuci tangan hendaknya menjadi suatu kebiasaan dalam melaksanakan pelayanan sehari-hari (DepKes, 2000: 1). Cuci tangan adalah prosedur yang paling penting dari pencegahan penyebaran infeksi yang menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Tujuan cuci tangan adalah menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari perrmukaan kulit dan mengurangi jumlah mikroorganisme (Tietjen, 2004). Indikasi Cuci Tangan: 1) Sebelum melakukan kontak fisik secara langsung dengan ibu dan bayi baru lahir 2) 3) 4) Setelah kontak fisik dengan ibu dan bayi baru lahir Sebelum memakai sarung tangan DTT atau steril Setelah melepaskan sarung tangan

5) Setelah menyentuh benda yang terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh atau selaput mukosa lainnya.

Untuk mencuci tangan: 1) 2) Lepaskan perhiasan di tangan Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir

3) Gosok kedua tangan dengan kuat menggunakan sabun biasa atau yang mengandung anti septik selama 10-15 menit (pastikan sela-sela jari digosok secara menyeluruh). Tangan yang terlihat kotor harus dicuci lebih lama. 4) Bilas dengan tangan dengan air bersih yang mengalir

5) Biarkan tangan kering dengan cara diangin-anginkan atau keringkan dengan kertas tissu atau handuk pribadi yang bersih dan kering. b) Penggunaan Sarung Tangan Sarung tangan digunakan sebelum menyentuh sesuatu yang basah (kulit tak utuh, selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya), peralatan, sarung tangan, atau sampah yang terkontaminasi (APN, 2007: 17).

Jika sarung tangan diperlukan, ganti sarung tangan untuk menangani setiap ibu atau bayi baru lahir untuk menghindari kontaminasi silang atau gunakan sarung tangan yang berbeda untuk situasi yang berbeda pula (APN, 2007: 17). Menurut Tietjen (2004: 4-3) ada 3 jenis sarung tangan yaitu: 1) Sarung tangan pembedahan. bedah, dipakai sewaktu melakukan tindakan invasif

2) Sarung tangan pemeriksaan, dipakai unutk melindungi petugas kesehatan sewaktu melakukan pemeriksaan atau pekerjaan rutin. 3) Sarung tangan rumah tangga, dipakai sewaktu memproses peralatan, menangani bahan-bahan terkontaminasi, dan sewaktu membersihkan permukaan yang terkontaminasi.

Tabel 2.1 Prosedur Tindakan yang memerlukan Sarung Tangan Sarung Perlu Sarung Tangan Tangan DTT Tidak Sarung Tangan Steril Tidak

Prosedur/Tindakan

Memeriksa TD, temperatur tubuh atau Tidak menyuntik Menolong Persalinan dan Kelahiran bayi, Ya menjahit laserasi/episiotomi Mengambil contoh Ya darah/pemasangan IV Memegang membersihkan peralatan terkontaminasi Membersihkan percikan darah cairan tubuh dan yang Ya

Bisa Dianjurkan diterima

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

atau Ya

Tidak

Tidak

Sarung tangan sekali pakai lebih dianjurkan, tapi jika sarananya sangat terbatas, sarung tangan bekas pakai dapat diproses ulang dengan dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi (APN, 2007: 18). c) Penggunaan Teknik Aseptik

Teknik aseptik membuat prosedur menjadi lebih mudah dan aman bagi ibu, BBL, dan penolong persalinan (APN, 2007: 18). Teknik aseptik meliputi penggunaan perlengkapan perlindungan pribadi, antisepsis, menjaga tingkat sterilitas atau DTT. 1) Penggunaan perlengkapan perlindungan pribadi

Perlengkapan pelindung pribadi mencegah petugas terpapar mikroorganisme penyebab infeksi dengan cara menghalangi atau membatasi (kacamata pelindung, masker wajah, sepatu boot atau sepatu tertutup, celemek) petugas dari percikan cairan tubuh, darah atau cedera selama melaksanakan prosedur klinik. 2) Antisepsis

Antisepsis adalah pengurangan jumlah mikroorganisme pada kulit, selaput lendir, atau jaringan tubuh lain dengan menggunakan bahan antimikroba (Tietjen, 2004: 62). Karena kulit dan selaput mukosa tidak dapat disterilkan maka penggunaan cairan antiseptik akan sangat mengurangi jumlah mikroorganisme yang dapat menkontaminasi luka terbuka dan menyebabkan infeksi. Larutan antiseptik digunakan pada kulit atau jaringan, sedangkan larutan disinfektan dipakai untuk mendekontaminasi peralatan atau instrumen yang digunakan dalam prosedur bedah (APN, 2007: 19). 3) Menjaga tingkat sterilitas atau desinfeksi tingkat tinggi

Prinsip menjaga daerah steril harus digunakan untuk prosedur pada area tindakan dengan kondisi desinfeksi tingkat tinggi. Pelihara kondisi steril dengan memisahkan benda-benda steril atau disinfeksi tingkat tinggi (bersih) dari benda-benda yang terkontaminasi (kotor) (APN, 2007: 19).

d) Pemrosesan Alat Bekas Pakai Dalam mencegah penularan infeksi, terdapat tiga langkah pencegahan infeksi yaitu dekontaminasi, pencucian, dan desinfeksi tingkat tinggi (sterilisasi) (Depkes, 2000: 2). 1) Dekontaminasi

Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman berbagai benda yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Peralatan medis, sarung tangan, dan permukaan harus segera didekontaminasi segera setelah terpapar atau cairan tubuh. Segera setelah digunakan, masukkan benda-benda yang terkontaminasi ke dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Prosedur ini dengan cepat mematikan virus hepatitis B dan HIV (APN, 2007: 22). 1) Cuci dan Bilas Pencucian dan pembilasan menghilangkan sebagian besar mikroorganisme pada peralatan/perlengkapan yang kotor atau yang sudah digunakan. Baik sterilisasi maupun DTT menjadi kurang efektif tanpa proses pencucian sebelumnya. Jika benda-benda yang terkontaminasi tidak dapat dicuci dengan segera setelah didekontaminasi, bilas peralatan dengan air untuk mencegah korosi dan menghilangkan bahan-bahan organik, lalu cuci dengan seksama secepat mungkin (APN, 2007: 24) Sebagian besar (hingga 80%) mikroorganisme yang terdapat dalam darah dan bahan-bahan organik lainnya bisa dihilangkan melalui proses pencucian. Pencucian juga dapat menurunkan jumlah endospora bakteri yang menyebabkan tetanus dan gangren, pencucian ini penting karena residu bahan-bahan organik bisa menjadi tempat kolonisasi miroorganisme (termasuk endospora) dan melindungi mikrooraganisme dari proses sterilisasi atau desinfeksi kimiawi (APN, 2007: 24) Bola karet penghisap tidak boleh dibersihkan dan digunakan ulang untuk lebih dari satu bayi. Bola karet seperti itu harus dibuang setelah digunakan, kecuali dirancang untuk dipakai ulang. Secara ideal kateter penghisap lendir DeLee harus dibuang setelah satu kali digunakan; jika hal ini tidak memungkinkan, kateter harus dibersihkan dan didesinfeksi tingkat tinggi dengan seksama. Kateter urin sangat sulit dibersihkan dan didesinfeksi tingkat tinggi. Penggunaan kateter dengan kondisi tersebut diatas lebih dari satu ibu dapat meningkatkan risiko infeksi jika tidak diproses secara benar (APN, 2007: 25). 2) Desinfeksi Tingkat Tinggi atau sterilisasi Desinfeksi adalah proses pembuangan semua mikroorganisme patogen pada objek yang tidak hidup dengan pengecualian pada endospora bakteri. Merebus dan mengukus merupakan metode desinfeksi tingkat tinggi yang paling sederhana dan terpercaya namun desinfektan kimia dapat juga dipakai. Efek desinfeksi tingkat tinggi hanya dapat dipertahankan selama 1 minggu bila lebih dari itu maka peralatan tersebut perlu didesinfeksi kembali sebelum dipergunakan (Depkes, 2000: 3).

Benda-benda steril atau DTT harus disimpan dalam keadaan kering dan bebas debu. Jaga agar bungkusan-bungkusan agar tetap kering dan utuh sehigga kondisinya tetap terjaga dan dapat digunakan hingga satu minggu setelah proses. Peralatan steril yang terbungkus dalam kantong plastik bersegel, tetap utuh dan masih dapat digunakan hingga satu bulan setelah proses. Peralatan dan bahan desinfeksi tingkat tinggi dapat disimpan dalam wadah tertutup yang sudah didesinfeksi tingkat tinggi, masih boleh digunakan dalam kisaran waktu satu minggu asalkan tetap kering dan bebas debu. Jika peralatan-peralatan tersebut tidak digunakan dalam tenggang waktu penyimpanan tersebut maka proses kembali dulu sebelum digunakan kembali (APN, 2007). Adapun macam-macam DTT adalah dengan cara merebus, dengan uap panas, dan dengan cara kimiawi. (a) DTT dengan cara merebus (1) Gunakan panci dengan penutup yang rapat (2) Ganti air setiap kali mendesinfeksi peralatan (3) Rendam peralatan di dalam air sehingga semuanya terendam di dalam air (4) Mulai panaskan air (5) Mulai hitung waktu saat air mulai mendidih (6) Jangan tambahkan apapun ke dalam air mendidih setelah penghitungan waktu dimulai. Rebus selama 20 menit

Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan. Pada saat peralatan kering, gunakan segera atau simpan dalam wadah desinfeksi tingkat tinggi berpenutup. Peralatan bisa disimpan sampai 1 minggu asalkan penutupnya tidak dibuka (APN, 2007: 26).

(b) DTT dengan uap panas Setelah sarung tangan didekontaminasi dan dicuci, maka sarung tangan ini siap untuk DTT menggunakan uap panas (jangan ditaburi talk). (1) Gunakan panci perebus dengan tiga susun nampan pengukus.

(2) Gulung bagian atas sarung tangan sehingga setelah DTT selesai sarung tangan dapat dipakai tanpa membuat terkontaminasi baru. (3) Letakkan sarung tangan pada nampan pengukus yang berlubang di baawwahnya. Agar mudah dikeluarkan dari bagian atas nampan pengukus, letakkan 5-15 pasang sarung tangan bagian jarinya mengarah ke tengah nampan. (4) Ulangi proses tersebuthingga semua nampan pengukus terisi sarung tangan. Susun tiga nampan pengukus di atas panci perebus yang berisi air. Letakkan sebuah panci perebus kosong di sebelah kompor. (5) Letakkan penutup di atas di atas nampan pengukus paling atas dan panaskan air hingga mendidih. (6) Jika uap mulai keluar dari celah-celah antara panci pengukus, mulailah penghitungan waktu. Kukus sarung tangan selam 20 menit, buka tutup panci dan letakkan dalam posisi terbalik. Angkat nampan pengukus paling atas yang berisi sarung tangan dan goyangkan perlahan-lahan agar air yang tersisa pada sarung tangan dapat menetes keluar. (7) Biarkan sarung tangan kering dan diangin-anginkan sampai kering di dalam nampan selama 4-6 menit. Jika diperlukan segera. Biarkan sarung tangan menjadi dingin selama 5-10 menit dan kemudian gunakan dalam waktu 30 menit pada saat masih basah atau lembab. (8) Jika sarung tangan tidak akan segera dipakai, setelah kering, gunakan penjepit untuk memindahkan sarung tangan. Letakkan sarung tangan tersebut pada wadah desinfeksi tingkat tinggi lalu tutup rapat. Sarung tangan tersebut bisa disimpan selama 1 minggu. (c) DTT dengan cara kimiawi Bahan kimia yang dianjurkan untuk DTT adalah klorin dan glutaraldehid. Klorin tidak bersifat korosif dan proses DTT memerlukan perendaman selama 20 menit maka peralatan yang sudah didesinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi harus segera dibilas dengan air matang. Penggunaan tablet formalin sangat tidak dianjurkan. Formaldehid/formalin adalah bahan karsinogenik sehingga tidak boleh digunakan.

Langkah-langkah kunci pada DTT kimiawi: (1) Letakkan peralatan dalam keadaan kering (sudah didekontaminasi dan cuci bilas).

(2) Pastikan bahwa peralatan terendam seluruhnya dalam larutan kimia. (3) Rendam peralatan selama 20 menit. (4) Bilas peralatan dengan air matang dan angin-anginkan sampai kering di wadah DTT yang berpenutup. (5) Setelah kering, peralatan dapat segera digunakan atau disimpan dalam wadah DTT yang berpenutup. Sedangkan sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran semua bentuk kehidupan mikroba yang dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi (Hidayat, 2006: 141). Sterilisasi dengan menggunakan otoklaf dilakukan pada suhu 106kPa/ 121C selama 30 menit jika terbungkus, dan 20 menit jika tak dibungkus. Jika sterilisasi dilakukan dengan uap kering maka dilakukan pada suhu 170C selam 60 menit.

a)

Pembuangan Sampah

Sampah merupakan suatu bahan yang berasal dari kegiatan manusia dan sudah tidak dipakai atau sudah dibuang oleh manusia. Menurut Azis Alimul Hidayat (2006: 144), sampah dibagi menjadi menjadi tiga, yaitu sampah padat, cair, dan gas. Sampah bisa terkontaminasi dan tidak terkontaminasi. Sampah yang tidak terkontaminasi tidak mengandung risiko bagi petugas yang menanganinya. Tetapi sebagian besar limbah persalinan dan kelairan bayi adalah sampah terkontaminasi. Jika tidak dikelola dengan benar, sampah terkontaminasi berpotensi untuk menginfeksi siapapun yang melakukan kontak atau menangani sampah tersebut termasuk angggota masyarakat. Sampah terkontaminasi termasuk darah, nanah, urin, kotoran manusia dan benda-benda yang kotor oleh cairan tubuh. Tangani pembuangan sampah dengan hati-hati Tujuan pembuangan sampah secara benar adalah (1) Mencegah penyebaran infeksi kepada petugas klinik yang menangani sampah dan kepada masyarakat (2) Melindungi petugas pengelola sampah dari luka atau cedera tidak sengaja oleh benda-benda tajam yang sudah terkontaminasi. Penanganan sampah terkontaminasidengan tepat diprlukan untuk meminimalkan penyebaran infeksi ke personel rumah sakit dan masyarakat. Penanganan dengan tepat berarti:

(1) Memakai sarung tangan serba guna. (2) Membuang sampah padat yang terkontaminasi ke ke tempat sampah wadah tertutup. (3) Membuang semua benda tajam dalam wadah anti bocor. (4) Membuang sampah cair dengan hati-hatike saluran atau toilet yang dapat disiram. (5) Membakar atau membakar sampah padat yang terkontaminasi. (6) Mencuci tangan, sarung tangan, dan wadah setelah membuang sampah infeksi (Yulianti, 2005: 23-23). Tindakan-tindakan PI dapat mencegah mikroorganisme berpindah dari 1 individu ke individu lainnya (ibu, bayi baru lahir, dan para penolong persalinan) sehingga dapat memutus rantai penyebar infeksi.

1.

Pencegahan Infeksi dalam Pertolongan Persalinan

Pencegahan infeksi adalah bagian essensial dari semua asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran bayi, saat memberikan asuhan selama kunjungan antenatal atau pascapersalinan/bayi baru lahir atau saat menatalaksana penyulit (APN, 2007). Persalinan pervaginam tidak memerlukan keadaan aseptik seperti kamar bedah, namun memerlukan pendekatan 3 bersih, yaitu membuat tangan, area perineal, dan area umbilikalis bersih selama dan sesudah persalinan. Kit persalinan yang bersih akan membantu memperbaiki keamanan persalinan di rumah untuk ibu dan bayi baru lahir (Prawirohardjo, 2008). Persalinan pervaginam berhubungan dengan sejumlah faktor yang meningkatkan risiko terhadap endometritis dan infeksi saluran kencing. Termasuk ketuban pecah lama, trauma jalan lahir, pengeluaran plasenta secara manual, episiotomi, dan persalinan forseps tengah. Faktor lain yang berhubungan dengan peningkatan risiko maternal adalah pemeriksaan dalam atau pemeriksaan vagina. Untuk mengurangi risiko ini perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Menggunakan sepasang sarung tangan periksa yang bersih atau sarung tangan bedah yang didesinfeksi tingkat tinggi yang sudah diproses ulang untuk setiap pemeriksaan.

2) Hindari mendorong ujung jari pemeriksa pada pembukaan serviks sampai persalinan aktif terjadi atau sampai diputuskan untuk melakukan induksi persalinan. 3) Batasi pemeriksaan dalam.

Boyle (2008: 156) mengemukakan Prosedur Pencegahan Infeksi dalam Pertolongan Persalinan meliputi: 1) Teknik aseptik Teknik aseptik atau asepsis adalah suatu metode pencegahan kontaminasi dengan hanya membiarkan cairan, instrumen, yang steril untuk kontak dengan area yang rentan. Risiko kontaminasi melalui udara juga harus diturunkan. Teknik aseptik dipraktikkan sejak awal 1990-an, dan merupakan bagian penting dari banyak praktik kebidanan. 2) Pemeriksaan dalam Pemeriksaan dalam berpotensi menularkan patogen dari luar tubuh ke bagian atas vagina, serviks, dan jika ketuban pecah langsung ke interior uterus dan ke janin. Sangat penting untk memastikan bahwa semua pemeriksaan dalam dilakukan dan tidak hanya sebagai suatu prosedur rutin, untuk meminimalkan risiko ini. 3) Kateter Urie (Foley) Kateter urine menjadi salah satu peralatan kebidanan yang lumrah digunakan pada praktik saat ini baik sebagai kateter sementara maupun sebagai kateter foley yang menetap. Bakteri dapat masuk melalui kantong drainase dan selang, terutama jika kantong tertarik ke atas dan ke bawah. Oleh karena itu posisi kantong drainase harus lebih rendah dari kantong kemih dan dekat dengan permukaaan lantai, serta tidak boleh tersumbat. Tietjen (2004) mengemukakan langkah-langkah yang dapat diambil utnuk meminimalkan risiko infeksi selama persalinan dan kelahiran pervaginam meliputi:

Langkah 1

: Yakinkan bahwa alat partus steril tersedia

Langkah 2 : Segera setelah pasien diposisikan untuk pelahiran pakai sarung tangan pada kedua tangan dan cuci area perinael (vulva, perineum, dan daerah anus) dengan sabun dan air bersih.

Langkah 3 : Cuci tangan yang masih memakai sarung tangan dalam larutan klorin 0,5% lepaskan sarung tangan, tempatkan dalam kantong plastik atau kontainer tertutup. Langkah 4 : Cuci tangan dengan sabun dan air bersih dan keringkan dengan kain bersih yang kering atau keringkan dengan udara. Langkah 5 : Oleskan 5 ml antiseptik pencuci tangan pada tangan dan lengan, gosok sampai kering. Langkah 6 : Pakai sarung tangan bedah steril atau DTT pada kedua tangan

Langkah 7 : Pakai alat pelindung termasuk apron plastik atau karet dan pelindung muka karena terciprat darah atau cairan amnion yang berdarah dapat terjadi. Sesudah Melahirkan Langkah 8 : Sebelum membuka sarung tangan, tempatkan semua barang yang akan dibuang kedalam kantong plastik atau kontainer sampah yang tahan bocor dan bertutup. Langkah 9 : Jika episiotomi dilakukan atau ada robekan vagina atau perineum lakukan penjahitan. Langkah 10 : Rendam kedua sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, buk sarung tangan dengan membaliknya, dan tempatkan dalam kantong plastik atau kontainer sampah yang tahan bocor dan bertutup kalau mau dibuang. Jika digunakan ulang, rendam di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit untuk dekontaminasi. Langkah 11 : Cuci tangan dengan sabun dan air kemudian keringkan dengan kain kering atau dengan udara, atau pakailah anti septik gosok tangan berbahan dasar alkohol yang tak berair

http://www.indonesian-publichealth.com/2012/12/mencegah-infeksinosokomial.html

Pencegahan Infeksi Nasokomial


Sebagaimana jenis infeksi penyakit lainnya, infeksi nosokomial biasanya terjadi jika penderita lemah atau jika barier alamiah terhadap invasi mikroba terganggu. Terdapat beberapa jenis barier alamiah terjadinya infeksi penyakit. Sebagaimana diketahui, kulit, membran mukosa, saluran gastrointestinal, saluran kencing, dan saluran nafas atas berfungsi sebagai barier alamiah terhadap infeksi. Menurut Setyawati (2002), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi nosokomial antara lain :

Kuman penyakit (jumlah dan jenis kuman, lama kontak dan virulensi) Sumber infeksi Perantara atau pembawa kuman, Tempat masuk kuman pada hospes baru, Daya tahan tubuh hospes baru, Keadaan rumah sakit meliputi; Prosedur kerja, alat, hygene, kebersihan, jumlah pasien dan konstruksi rumah sakit, Pemakaian antibiotik yang irasional,

Pemakaian obat seperti imunosupresi, kortikosteroid, dan sitostatika, 9) tindakan invasif dan instrumentasi, Berat penyakit yang diderita

Terdapat beberapa prosedur dan tindakan pencegahan infeksi nosokomial. Tindakan ini merupakan seperangkat tindakan yang didesain untuk membantu meminimalkan resiko terpapar material infeksius seperti darah dan cairan tubuh lain dari pasien kepada tenaga kesehatan atau sebaliknya. Menurut Zarkasih (2003), pencegahan infeksi didasarkan pada asumsi bahwa seluruh komponen darah dan cairan tubuh mempunyai potensi menimbulkan infeksi baik dari pasien ke tenaga kesehatan atau sebaliknya. Kunci pencegahan infeksi pada fasilitas pelayanan kesehatan adalah mengikuti prinsip pemeliharaan hygene yang baik, kebersihan dan kesterilan dengan lima standar penerapan yaitu: 1. Mencuci tangan untuk menghindari infeksi silang. Mencuci tangan merupakan metode yang paling efektif untuk mencegah infeksi nosokomial, efektif mengurangi perpindahan mikroorganisme karena bersentuhan 2. Menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan tubuh lain. Alat pelindung diri meliputi; pakaian khusus (apron), masker, sarung tangan, topi, pelindung mata dan hidung yang digunakan di rumah sakit dan bertujuan untuk mencegah penularan berbagai jenis mikroorganisme dari pasien ke tenaga kesehatan atau sebaliknya, misalnya melaui sel darah, cairan tubuh, terhirup, tertelan dan lain-lain. 3. Manajemen alat tajam secara benar untuk menghindari resiko penularan penyakit melalui benda-benda tajam yang tercemar oleh produk darah pasien. Terakit dengan hal ini, tempat sampah khusus untuk alat tajam harus disediakan agar tidak menimbulkan injuri pada tenaga kesehatan maupun pasien. 4. Melakukan dekontaminasi, pencucian dan sterilisasi instrumen dengan prinsip yang benar. Tindakan ini merupakan tiga proses untuk mengurangi resiko tranmisi infeksi dari instrumen dan alat lain pada klien dan tenaga kesehatan

Protap Mencegah Infeksi Nosokomial 1. Menjaga sanitasi lingkungan secara benar. Sebagaiman diketahui aktivitas pelayanan kesehatan akan menghasilkan sampah rumah tangga, sampah medis dan sampah berbahaya, yang memerlukan manajemen yang baik untuk menjaga keamanan tenaga rumah sakit, pasien, pengunjung dan masyarakat. Beberapa literatur merekomendasikan beberapa bentuk prosedur tetap (protap) pencegahan infeksi nosokomial ini. Terdapat beberapa jenis kegiatan dalam pelaksanaan upaya pencegahan infeksi nosokomial. Beberapa kegiatan dan tindakan dimaksud, antara lain : Universal Precautions Menurut definisi Centers for Disease Control (CDC), kewaspadaan Universal (Universal Prcautions) merupakan suatu pedoman yang ditetapkan untuk mencegah penyebaran dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan rumah sakit maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya. Konsep yang dianut adalah bahwa semua darah dan cairan tubuh tertentu harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV, HBV, dan berbagai penyakit lain yang ditularkan melalui darah. Bentuk kewaspadaan universal untuk meminimalisasi resiko infeksi nosokomial ini antara lain : 1. Seluruh petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak kulit dan selaput lendir dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien yang dilayani. Detail tindakan antara lain a). Menggunakan sarung tangan apabila menyentuh darah atau cairan tubuh,

selaput lendir atau kulit yang tidak utuh; mengelola berbagai peralatan dan sarana kesehatan/kedokteran yang tercemar darah atau cairan tubuh; mengerjakan fungsi vena atau segala prosedur yang menyangkut pembuluh darah, b). Sarung tangan harus selalu diganti setiap selesai kontak dengan pasien.c). Menggunakan masker saat mengerjakan prosedur yang beresiko kontak darah atau cairan tubuh untuk mencegah terpaparnya selaput lendir pada mulut, hidung dan mata, d). Memakai jubah khusus selama melaksanakan tindakan yang mungkin akan menimbulkan cipratan darah atau cairan tubuh lainnya. 2. Tangan dan bagian tubuh lainnya harus segera dicuci sebersih mungkin bila terkontaminasi darah dan cairan tubuh lainnya. Setiap usai melepas sarung tangan harus segera mencuci tangan. 3. Seluruh petuga harus selalu waspada terhadap kemungkinan tertusuk jarum, pisau dan benda/alat tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan, saat mencuci peralatan, membuang sampah, atau ketika membenahi peralatan setelah berlangsungnya prosedur/tindakan. 4. Tindakan resusitasi dengan cara dari mulut ke mulut harus dihindari meskipun air liur belum terbukti menularkan HIV. 5. Petugas yang sedang mengalami perlukaan atau ada lesi yang mengeluarkan cairan harus menghindari tugas-tugas yang bersifat kontak langsung dengan pasien ataupun kontak langsung dengan peralatan bekas pakai pasien. 6. Petugas kesehatan yang sedang hamil harus lebih memperhatikan pelaksanaan segala prosedur yang dapat menghindari penularan HIV. Sterilisasi dan Desinfeksi Sterilisasi dilakukan untuk membunuh atau memisahkan semua mikroorganisme. Sedangkan teknik sterilisasi antara lain sterilisasi dengan pemanasan, baik pemanasan basah dengan autoclave dan pemanasan kering dengan pemijaran dan udara panas. 2). Sterilisasi dengan penyaringan, 3). Sterilisasi dengan menggunakan zat kimia, serta 4). Sterilisasi dengan penyinaran.Berbeda dengan sterilisasi, desinfeksi merupakan suatu proses kimiawi atau fisika dimana bahan patogenik atau mikroba penyebab penyakit dihancurkan dengan suatu desinfektan dan antiseptik. Sedangkan desinfektan adalah zat yang bebas dari infeksi yang umumnya berupa zat kimia yang dapat membunuh kuman penyakit atau mikroorganisme berbahaya, menginaktifkan virus. Sementara pengertian antiseptik merupakan zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme dalam jaringan hidup.Terkait dengan proses diatas, menurut Pedoman Penanggulangan SARS Nasional (2003), terdapat juga pengertian dekontaminasi, yaitu satu tahap perlakuan yang harus dilakukan sebelum instrumen dikirim ke bagian sterilsasi. Langkah dekontaminasi berupa prosesing alat dan sarung tangan yang kotor (telah kontak dengan darah atau cairan tubuh),

untuk dilakukan proses perendaman dalam larutan klorin 0.5 % selama 10 menit. Tindakan ini akan mematikan berbagai virus sehingga aman untuk ditangani oleh petugas pencuci. Sterilisasi atau desinfeksi tingkat tinggi dilakukan setelah dekontaminasi dan pencucian selesai dilakukan.

http://happimommi.wordpress.com/2008/09/05/penanganan-infeksi-kehamilandan-persalinan/

PENANGANAN INFEKSI KEHAMILAN DAN PERSALINAN

Akibat menurunnya daya tahan tubuh, ibu hamil dan bersalin rentan terkena infeksi.
Tentunya infeksi yang terjadi ini bisa berpengaruh pada janin maupun ibu Banyak cara bisa dilakukan untuk mencegahnya. Antara lain dengan menjaga kebersihan tubuh sehari-hari, mencuci tangan sebelum makan, memerhatikan kebersihan makanan; mempertahankan sistem kekebalan tubuh agar tetap terjaga baik dengan mengonsumsi makanan bergizi, olahraga yang diperbolehkan untuk ibu hamil, serta istirahat yang cukup. Lakukan pula deteksi dini infeksi saat hamil, karena sering kali gejalanya tak kasat mata sehingga perlu pemeriksaan darah di laboratorium. Jika sudah terjadi infeksi, lakukan pengobatan dengan baik di bawah pengawasan dokter. Persalinan pun harus dilakukan di tempat yang sesteril mungkin serta sedapat mungkin persalinan ditolong oleh tenaga medis (bidan, dokteratau dokter spesialis) di rumah bersalin atau rumah sakit.

INFEKSI SEBELUM/SEMASA HAMIL


Umumnya, infeksi pada ibu hamil lebih dikenal dengan infeksi TORCH, yang terdiri dari toksoplasma, others (clamidia, dan lain-lain), rubela atau campak jerman, cytomegalovirus dan herpes simpleks. Selain itu, ada juga infeksi staphylococcus yang kemudian lebih dikenal dengan istilah ACA (anticardiolypin). Ada lagi infeksi yang disebabkan clamidia yaitu sejenis virus, namun infeksi ini tidak banyak terjadi di Indonesia. TOKSOPLASMA * Penyebab: Ada anggapan selama ini bahwa ibu hamil tak boleh memelihara binatang seperti kucing, anjing, dan lainnya karena bisa menyebabkan toksoplasmosis.Sebetulnya yang jadi penyebab infeksi toksoplasma adalah cysts atau oocystsyang hidup setelah melalui suatu siklus pada binatang kemudian baru berpindah pada manusia. Contoh, kotoran kucing yang kering dan mengandungoocystsbercampur debu tertiup angin dan jatuh di rerumputan, kemudian rumput tersebut dimakan oleh kambing. Nah, daging kambing tersebut jika tidak dimasak matang masih mengandung cysthidup. Ibu hamil yang mengonsumsi daging tak matang itu berisikomengidap tokso. Maka itu, ibu hamil harus mengonsumsi daging yang dimasak matang karena cysts-nya akan mati. Selain itu,oocyst ini juga bisa terbang bersama debu tertiup angin dan hinggap pada makanan kita atau makanan yang ada di pinggir jalan, misalnya. Jadi, ibu hamil jangan makan di sembarang tempat yang kemungkinan besar terkontaminasi oocysts.

Pada dasarnya, cysts hidup dalam siklus hewan yang ada di darat, bukan hewan yang hidup dalam air. Jadi, untuk daging ikan mentah, belum terbukti apakah berisiko menimbulkan toksoplasma. Risiko terinfeksi toksoplasma juga terdapat pada transfusi darah, kesalahan laboratorium dan transplantasi organ. * Gejala Klinis: Sebagian besar tidak tampak secara kasat mata, namun demikian juga ditemukan seperti gejala flu biasa tergantung strain virusnya, usia, dan derajat imunitas tubuh/daya tahan tubuh. * Diagnosis: Diketahui setelah pemeriksaan darah di laboratorium. Yang diperiksa adalah antibodinya bukan kumannya. Terbentuknya antibodi diawal infeksikurang lebih 2 minggu kemudian terbentuk IgA, sedangkan IgM akan terbentuk lebih awal dan bisa bertahan sampai 6 bulan, IgG terbentuk kemudian dan bertahan lebih lama sampai 24 bulan. Pemeriksaan serologik pada wanita hamil trimester awal (1) didapatkan IgG positif, IgM negatif, maka perlu diulang 3 minggu kemudian, dan bila didapatkan kenaikan 4 kali lipat berarti adanya reaktivasi/kambuh. Sedangkan bila IgG dan IgM positif dan aviditasnya < 0,3 menunjukkan infeksi saat hamil dan perlu pengobatan. Sebaliknya bila > 0,3 kemungkinan besar infeksi lampau, perlu pemeriksaan pada bayi yang dilahirkan. IgG dan IgM yang ditemukan negatif, tetap dianjurkan pemeriksaan ulang pada trimester III (28-40 minggu). * Pengobatan: Normalnya, bila hasil pemeriksaan kadar antibodi IgG maupun IgM negatif, berarti tak ada toksoplasma. Jika IgM bernilai positif dan IgG positif maka harus diterapi, karena berarti ada infeksi. Jika hasil aviditas < 0,3 berarti infeksi sebelum terjadi kehamilan, sedangkan > 0,3 berarti terjadi infeksi saat hamil, maka perlu terapi yang adekuat.Jika ada peningkatan kadar antibodi sampai 4 kali secara kuantitas, berarti ada kuman yang aktif kembali dan perlu diterapi dengan pemberian obat-obatan antibiotika tertentu yang aman untuk masa hamil. Pengobatan dilakukan selama 3 bulan. * Pencegahan: Idealnya, pemeriksaan toksoplasma dilakukan pranikah/hamil, dengan anggapan sesudah menikah tentunya nanti akan hamil. Jadi, untuk mendapat keturunan yang baik harus dipersiapkan sejak awal. Sehingga ibu tahu kapan boleh hamil dan tidak, serta kapan dilakukan pengobatan jika memang ada tokso. Jika pemeriksaan tidak dilakukan sebelum hamil, paling tidak dilakukan saat hamil. Hanya saja pemeriksaan toksoplasma relatif jarang dilakukan kecuali ada indikasi semisal ada riwayat keguguran dan kecacatan bayi yang dilahirkan, hal ini terjadikarena pertimbangan biaya dan insiden kejadiannyamasih dianggap sedikit. RUBELA (CAMPAK JERMAN) * Penyebab: Virus yang ditularkan melalui kontak udara maupun kontak badan. Virus ini bisa menyerang usia anak dan dewasa muda. Pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir tuli.

* Gejala Klinis: Suhu tubuh panas dan bercak merah di kulit serta terasa gatal. Bila keganasan virusnya rendah, adakalanya tidak tampak gejala klinis. * Diagnosis: Ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul, dan dari pemeriksaan darah di laboratorium dengan melihat kadar antibodi IgG dan IgM-nya terhadap rubela. * Pengobatan: Masih ada kontroversi, apakah harus diterapi atau tidak. Jika ibu pernah terkena rubela di usia 15 tahun, kemudian menikah di usia 20 tahun, kadar IgG-nya positif. Hanya saja apakah antibodi IgG-nya ini protektif ataukah tidak? Jika dianggap protektif, maka tak perlu diterapi. Bila dianggap tidak protektif, tentu perlu diterapi dengan obat-obatan antiviral selama 3 bulan. Ada pula ahli yang berpendapat bahwa obat virus tidak ada gunanya, tetapi yang penting imunitas tubuhnya ditingkatkan. * Pencegahan: Lakukan vaksinasi Rubela pada penderita yang belum pernah terinfeksi atau kadar antibodinya IgG negatif dan melakukan tes darah paling tidak 3 bulan sebelum kehamilan. SITOMEGALOVIRUS * Penyebab: Virus ini dapat bersumber dari tenggorokan, ludah, lendir mulut rahim, sperma, atau transfusi darah. Akibat dari infeksi virus ini bisa menyebabkan keguguran spontan, infeksi pada janin sehingga menimbulkan kelainan bawaan. Penularannya lewat kontak dengan penderita. * Gejala Klinis: Hampir sama dengan terkena serangan flu biasa. * Diagnosis: Terdeteksi lewat pemeriksaan Imunoglobulin M (IgM) dan CMV kultur atau biakan virus Cytomegalovirus. * Pengobatan: Dengan obat-obatan antiviral selama 3 bulan. Angka kejadian infeksi sitomegalovirus ini rendah di Indonesia. * Pencegahan: Hindari kontak secara langsung atau berhubungan seksual tanpa perlindungan. HERPES SIMPLEKS * Penyebab: Virus yang ditularkan lewat kontak badan dan seksual. Infeksi bisa tertular pada bayi di saat proses persalinan, karena ada gesekan dengan alat kelamin ibu. * Gejala Klinis: Suhu tubuh panas dan timbul gelembung/bintil-bintil kecil berisi cairan kemerahan dan sakit pada alat kelamin. Karena kondisi tubuh sedang lemah, kuman lain dapat numpang sehingga dapat menyebabkan infeksi sekunder pada paru-paru, dermatitis, dan lainnya.

* Diagnosis: Dari hasil pemeriksaan antibodi, bila hasilnya< 0.90 = negatif dan> 1.10 = positif * Pengobatan: Dengan obat-obatan antiviral yang diberikan selama 3 bulan. * Pencegahan: Apabila ibu hamil terinfeksi virus ini, maka agar bayi tidak terinfeksi sebaiknya dilakukan operasi sesar. CLAMIDIA * Penyebab: Virus. Wanita hamil bisa terinfeksi melalui hubungan seksual atau dari lingkungan yang kurang bersih. Pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa antibodinya. * Gejala Klinis: Biasanya tanpa gejala klinis. Hanya saja sering kali hamilnya susah, karena adanya perlengketan pada organ-organ wanita, semisal perlengketan alat saluran telur dengan organ sekitarnya, atau perlengketansaluran telur pada rahim, dan lainnya. * Indikasi: Dari hasil pemeriksaan antibodi ibu. Satuannya IU/ml. Jika hasilnya < 0,90 = negatif; >1.10 = positif * Pengobatan: Pemberian obat-obatan antivirus, bisa sekitar 3 bulan. * Pencegahan: Pemeriksaan dini pada awal kehamilan sangat membantu penanganan. ACA (ANTICARDIOLYPIN) * Penyebab: Staphylococcus mengakibatkan kekentalan darah yang dapat berpengaruh pada penurunan kemampuan berbagai organ tubuh. Gangguan ini sebetulnya tak hanya terjadi pada ibu hamil saja. * Gejala Klinis: Mirip dengan yang dialami ibu hamil seperti cepat lelah, mengantuk, sering pusing, dan sulit konsentrasi. Serta gejala yang harus dicermati yaitu peningkatan tekanan darah tanpa sebab yang pasti. * Indikasi: Dengan pemeriksaan antibodi. Tergolong mild jika IgG-nya berkisar antara 1520, moderate bila antara 20-80, dan tinggi jika kadarnya di atas 80. Semakin tinggi kadarnya, kian besar pula risiko terjadi keguguran. Pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap 6 bulan sekali. * Pengobatan: Terapi dengan obat-obatan dalam dosis yang tepat. Bila kadar antibodi antiphospholipid masih dalam batas yang dianggap aman, pengobatan cukup berupa tablet sejenis aspirin. Bila dari hasil pemeriksaan berikut kadar antibodi antiphospholipid tetap atau bahkan meningkat, pemberian obat dibarengi suntikan

heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap hari. Suntikan tersebut relatif aman untuk wanita hamil karena terbukti tak menembus barier plasenta. * Pencegahan: Hindari infeksi staphylococcus seperti infeksi tenggorokan. Hindari penularan lewat batuk, misalnya. Periksa segera bila mengalami flu yang tidak sembuh setelah terapi diberikan. Konsultasikan dengan dokter, dan periksa sebelum atau saat hamil.

INFEKSI SAAT BERSALIN


* Penyebab: Adanya kuman yang masuk semisal karena dilakukan pemeriksaan dalam tanpa keadaan yang steril, juga akibatketuban pecah dini sebelum proses persalinan. * Gejala Klinis: Suhu tubuh ibu panas, detak jantung janin cepat, begitu pula dengan detak jantung ibu, air ketuban hijau kental dan berbau. Hal ini bisa membahayakan kondisi ibu dan janinnya bila tidak segera melahirkan. * Penanganan: Jika ditemukan keadaan sangat gawat, bayi harus segera dilahirkan. Tentunya tergantung kondisi ibu saat itu. Jika sudah waktunya mendekati persalinan, dilakukan tindakan vakum atau forsep. Jika masih jauh waktunya dari persalinan, akan dilakukan operasi meski dengan risiko bayi lahir prematur. Masalah operasi ini memang masih kontroversial. ada kontroversi. Jika dalam keadaan infeksi dilakukan operasi, luka pada tubuh ibu bisa memicu terjadinya sepsis. Namun jika bayi tak dikeluarkan segera, akan terjadi hipoksia (kekurangan oksigen), bahkan kematian janin. * Pencegahan: Proses persalinan dilakukan dengan cara dan peralatan yang steril mungkin, serta sedapat mungkin dibantu oleh tenaga medis.

INFEKSI PASCAPERSALINAN
Yang kerap terjadi adalah infeksi pada lapisan dalam rahim. * Penyebab: Kuman bakteri. Infeksi sesudah persalinan dapat ditemui pada endometrium atau lapisan dalam rahim. Infeksi dapat terjadi bila pertolongan persalinan tidak steril; kondisi daya tahan tubuh menurun sehingga kuman yang tadinya tidak menimbulkan penyakit jadi menimbulkan penyakit; banyaknya luka terbuka di rahim akibat lepasnya plasenta, sehingga bila ada satu dua kuman yang masuk ke dalam luka tersebut menimbulkan infeksi. * Gejala Klinis: Tergantung keganasan kumannya serta masa inkubasi. Bisa dalam hitungan jam atau hari. Gejalanya ada reaksi radang seperti suhu tubuh naik (panas tinggi) dan badan terasa nyeri, menggigil, nafsu makan menurun. Pada hari kedua mungkin timbul perlawanan antibodiantigen. Kemudian keluarlah nanah yang berbau dari vagina/jalan lahir. Jika berlanjut,

kuman bisa masuk dalam aliran darah dan terjadi sepsis sehingga harapan hidup si ibu kemungkinan sangat kecil. * Diagnosis: Ditegakkan berdasar gejala klinis pada ibu masa nifas, yaitu panas tinggi, lokhia berbau/nanah, denyut nadi cepat, rahim tidak berkontraksi secara adekuat. * Pengobatan: Di rawat di rumah sakit dengan pemberian infus/cairan yang adekuat, antibiotik yang sesuai, dan usahakan rahim berkontraksi. * Pencegahan: Persalinan diupayakan dengan cara sesteril mungkin. Dianjurkan pula ibu hamil untuk imunisasi terutama tetanus guna perlindungan saat pemotongan tali pusat dengan bayi. Setelah persalinan, karena terjadinya perdarahan, biasanya dokter memberikan obatobatan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Meski ada juga dokter yang tidak memberikan obat-obatan antibiotik dengan anggapan bahwa luka yang diakibatkan persalinan adalah alami dan dapat sembuh sendiri. Selain itu, penggunaan antibiotika dianggap boros dan membuat kuman tertentu menjadi resisten. Dedeh Kurniasih. Ilustrasi Dok. nakita
Narasumber: Dr. Chamim, Sp.OG., dari RS Fatmawati Jakarta