Anda di halaman 1dari 23

SUKU MAKASSAR

Suku Makassar adalah nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkassara' berarti Mereka yang Bersifat Terbuka. Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan Islam, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara. Mereka menjalin Traktat dengan Bali, kerjasama dengan Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adudomba Belanda terhadap Kerajaan taklukannya. Berbicara tentang Makassar maka adalah identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah kedua etnis ini. Hingga pada akhirnya kejatuhan Kerajaan Makassar pada Belanda, segala potensi dimatikan, mengingat Suku ini terkenal sangat keras menentang Belanda. Dimanapun mereka bertemu Belanda, pasti diperanginya. Beberapa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah seperti Karaeng Galesong, hijrah ke Tanah Jawa memerangi Belanda disana. Bersama armada lautnya yang perkasa, memerangi setiap kapal Belanda yang mereka temui Pada dasarnya masyarakat masyarakat asli makassar ada pada kabupaten gowa dimana dahulu kala gowa adalah sebua kerajaan besar yang mencakup banyak kekuasaan bahkan kekuasaanya mencapai afrika selatan dan brunai darusalam itu adalah masa kejayaan kerajaan gowa pada masa pemerintahan sutltan hasanuddin yang sering di gelar ayam jantan dari timur, namun pada masa perlawanan melawan penjajah kerajaan gowa mengalami kekalahan perang melawan belanda dan kerajaan bone pada masa itu sehingga hal itu membuat banyak kekacauan dan kerugian besar bagi masyarakat gowa. Sejak saat itulah banyak orang orang makassar yang mayoritas berbahasa asli makassar yang berpindah ke daerah pegunungan selain untuk membuat strategi perang juga melakukan perang secara gerilya di hutan hutan gunung lompo battang, banyak sekali orang makassar membentuk kelompok-kelompok kecil dan membuat latihan perang mereka, kepergian mereka dari kerajaan gowa bukanlah tanpa alasan, karna pada masa pemerintahan

anak sultan hasanuddin saat itu orang gowa harus menerima sebuah perjanjian yang amat merugikan masyarakat gowa maka dari itulah banyak orang gowa yang pergi meninggalkan ibukota kerajaan dan beralih memasuki hutan gunung lompobattang dan sejak saat itulah mereka mulai menetap di sana dan pada masa kemerdekaan mereka mulai membangun pedesaan pedesaan yang mereka huni sampai sekarang. Bahasa asli makassar sebenarnya masih terjaga baik di daerah gowa bagian selatan tepatnya di kaki gunung lompobattang dimana di desa desa ini keaslian bahasa masih terjamin karena belum tercampuri oleh perkembangan bahasa moderen maupun teknologi,. Di banyak tempat di kabupaten gowa ini memang mayoritas orang makassar dan berbahasa makassar namun juga sudah banyak sekali bahasa makassar yang asli yang di hilangkan bahkan sudah banyak bahasa makassar yang tercampur dengan bahasa bugis, konjo dan lain lain padahal bahasa asli orang makassar adalah bahasa makassar (lontara,) bukan konjo ataupun yang lainya. Di zaman sekarang ini sudah sangat susah menemukan orang yang berbahasa makassar secara original atau asli, Namun kita masih bisa menemukan bahasa alsli makassar di daerah itu seperti di (lembang bune, lembayya, cikoro, datara, tanete, dan seputaran malakaji. Berikut adalah daftar kabupaten di sulawesi selatan yang memakai bahasa makassar dalam keseharian : 1. Gowa 2. Takalar 3. Jeneponto 4. Bantaeng 5. Bulukumba Terdapat beberapa suku yang dianggap sebagai bagian dari sub-suku Makassar, yaitu: suku Makassar:

Makassar Lakiung Turatea: Je'neponto Bantaeng Konjo (Bulukumba dan Sebagian Maros) Selayar

Perkembangan Religi / Agama Sejak dahulu, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki aturan tata hidup. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan, sistem pemerintahan, sistem kemasyarakatan dan sistem kepecayaan. Orang Bugis menyebut keseluruhan sistem tersebut Pangngadereng, orang Makassar Pangadakang, Orang Luwu menyebutnya Pangngadaran, Orang Toraja Aluk To Dolo dan Orang MandarAda. Masyarakat suku Makassar pada zaman dahulu juga memiliki agama purba yang animisme, yaitu Turei Arana (kehendak yang tinggi). Dalam hal kepercayaan penduduk Sulawesi Selatan telah percaya kepada satu Dewa yang tunggal. Dewa yang tunggal itu disebut dengan istilah Dewata SeuwaE (dewa yang

tunggal). Terkadang pula disebut oleh orang Bugis dengan istilah PatotoE (dewa yang menentukan nasib). Orang Makassar sering menyebutnya dengan Turei Arana (kehendak yang tinggi). Orang Mandar Puang Mase (yang maha kedendak) dan orang Toraja menyebutnya Puang Matua (Tuhan yang maha mulia). Mereka pula mempercayai adanya dewa yang bertahta di tempat-tempat tertentu. Seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyilitimo kemudian melahirkanPatotoE. Dewa PatotoE kemudian kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai dewa penjajah. Ia telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak Himalaya. Kira-kira satu abad sebelum Masehi Batara Guru menuju ke Cerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Puang, kastaPampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan. Orang Makassar Purba percaya adanya dewa yang bertahta di tempat-tempat tertentu. Seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyilitimo kemudian melahirkan PatotoE. Dewa PatotoE kemudian kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Dewa Penjelajah, yang telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak Himalaya. Kira-kira satu abad sebelum Masehi Batara Guru menuju ke Cerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Puang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang dan kasta orang kebanyakan. Sejak beberapa abad yang lalu, masyarakat suku Makassar telah mengenal agama Islam, mayoritas orang Makassar adalah beragama Islam. Sejak mereka memeluk Islam, segala bentuk kepercayaan agama purba mereka pun ditinggalkan. Agama Islam telah hadir di kalangan masyarakat orang Makassar sejak berabad-abad yang lalu. Mereka adalah penganut Islam yang kuat. Agama Islam menjadi agama rakyat bagi suku Makassar, sehingga beberapa tradisi adat dan budaya serta dalam kehidupan sehari-hari suku Makassar banyak dipengaruhi oleh tradisi dan budaya yang mengandung unsur Islami. Perkembangan Bahasa Selain itu Batara Guru juga dipercaya membawa enam macam bahasa. Keenam bahasa tersebut dipergunakan di daerah-daerah jajahannya. Keenam bahasa itu adalah: a. Bahasa TaE atau Toda. Bahasa ini dipergunakan masyarakat yang bermukim di wilayah Tana Toraja , Massenrengpulu dan sekitarnya. Mereka dibekali dengan kesenian yang bernama Gellu. b. Bahasa BareE. Bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah Poso Sulawesi Tengah. Mereka dibekali dengan kesenian yang disebutnya Menari. c. Bahasa Mengkokak, bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah Kolaka dan Kendari Sulawesi Tenggara. Mereka pula dibekali dengan kesenian, yang namanya Lulo. d. Bahasa Bugisi. Bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di Wajo seluruh daerah disekitarnya dan dibekali dengan kesenian Pajjaga.

e. Bahasa Mandar. Bahasa ini dipergunakakan oleh masyarakat yang berdiam di wilayah Mandar dan sekitarnya. Mereka dibekai dengan kesenian Pattundu. f Bahasa Tona. Bahasa ini dipergunakan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah Makassar dan sekitarnya. Mereka dibekali dengan kesenian dan sebutnya Pakkarena. Proses Asimilasi dan Enkulturasi Pada Suku Makassar Pada proses asimilasi Suku Makassar terdapat percampuran dari budaya asing yang masuk ke suku makassar dan kemudian menjadi bagian dari adat masyarakat suku makassar. Seperti pada upacara kematian suku makassar, terdapat suatu tradisi yaitu membuat usungan (ulureng) untuk golongan to sama (tau samara = orang kebanyakan) atau Walasuji ( untuk golongan bangsawan ) yang terbentuk 3 susun. Pada masa ini budaya seperti itu sudah terlupakan oleh masyarakat asli makassar. Masyarakat asli makassar yang berdomisili di kota Makassar mulai bercampur kebudayaaannya dengan budaya masyarakat perkotaan atau urban yang sifatnya efisien dan tidak memakan waktu lama. Hal itu terlihat dari mulai dari upacara pemakaman yang berlangsung sangat singkat dan tidak menggunakan adat- adat yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat suku asli Makassar. Proses enkulturasi pada masyarakat Makassar yaitu adat istiadat pada masyarakat suku makassar yang kemudian akan berkembang menjadi norma-norma dan bagian dalam kehidupan masyarakat. Norma-norma tersebut kemudian menjadi sebuah aturan yang akan menetap pada kehidupan suku asli Makassar. Ketika norma itu tidak di taati atau dipenuhi maka akan orang yang melanggarnya mungkin tidak dikenai sanksi hukum tetapi akan di berikan stigma buruk oleh masyarakat Suku Makassar Tarian dan Rumah Adat Suku Makassar TARI TRADISIONAL SEJUMLAH wanita memainkan gerakan lembut dan gemulai. Kadang bergerak naik turun, kadang meliuk dengan anggun. Itulah tari pakarena, sebuah tarian klasik Makassar yang mencerminkan sikap teduh, hening, dan ko mengungkapkan hubungan manusia dengan Tuhan dan bercerita tentang ritme kehidupan. Salah ntemplatif. Pakarena adalah sebuah tarian ritus yang satu kesenian suku Makassar ini kerap ditampilkan dalam acara penyambutan tamu atau upacara tradisional. Ada beberapa jenis tari pakarena, antara lain royong dan bone balla. Pakarena jenis royong hanya ditampilkan saat upacara adat yang berdimensi ritual. Sedangkan pakarena jenis bone balla bisa ditampilkan kapan saja. Termasuk untuk menyambut tamu. Penari pakarena terdiri dari tujuh wanita yang berpakaian adat. Dalam pakarena royong, setiap penari harus memanjatkan doa sebelum menari. Dalam doa itu mereka menyediakan sesajian berupa beras, kemeyan, dan lilin. Pada pakarena bone balla, aturan tidak terlalu ketat. Gerakan lembut penari terbagi dalam 12 bagian. Setiap bagian memiliki makna. Gerakan pada posisi duduk menjadi penanda awal dan akhir tarian, gerakan berputar mengekspresikan siklus kehidupan manusia, dan gerakan naik turun adalah cermin irama hidup. Pakarena juga merupakan cermin kelembutan, sikap sopan, dan kesetiaan wanita Makassar. Karena itu, seorang penari pakarena tidak boleh membuka mata terlalu lebar. Kaki dan tangan juga tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Gerakan pakarena adalah gerakan konstan. Sementara iringan musik disebut gandrang pakarena. Kendati pakarena adalah gerakan gemulai, iringan musiknya mengentak dan bergemuruh. Jika pakarena mencerminkan

kelembutan, gandrang pakarena menggambarkan keperkasaan pria Makassar. Alat musik terdiri dari gendang yang ditabuh bertalu-talu, ditingkahi suara seruling, para pasrak atau bambu belah, dan gong. Komposisi musik ini disebut gondrong rinci yang dimainkan oleh tujuh pria yang mengenakan pakaian adat. Tidak ada catatan resmi kapan tari pakarena muncul. Yang pasti, tarian ini sempat menjadi kesenian resmi istana pada masa Sultan Hasanuddin, raja Gowa ke-16. Tarian ini mendapat sentuhan seni dari ibunda sang sultan, I Li'motakontu. Sebagian masyarakat tradisional suku Makassar percaya, tari pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Saat perpisahan, penghuni boting langi mengajarkan penghuni lino tata cara hidup. Tata cara itu meliputi cara bercocok tanam, beternak, hingga berburu. Ajaran itu lalu diekspresikan lewat gerakan-gerakan tangan, badan, dan kaki. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual Pakarena saat penduduk lino memanjatkan syukur. Selain itu juga ada tari: 1. Tari Bosara melukiskan tata cara tradisional dalam menyambut tamu agung pada pesta perkawinan serta peristiwa penting lainnya. Dengan penuh ramah-tamah, gadis-gadis menyuguhkan kue-kue adat dalam tempat yang bernama bosarak.

Tari Bosari 2. Tari Angin Mammiri. Lamunan seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya dan kemudian ia berlibur oleh kedua teman karibnya. Pesan-pesan indah karena kekasih yang jauh, disampaikan lewat anging yang meniup, menyejuk hati nan pilu.

Tari Angin Mamiri 3. Tari Kipas. Kipas dan gadis tidak dapat dipisahkan. Permainan kipas dengan lincah oleh gadis merupakan pula suatu kegemaran, melambangkan keluhuran budi pekerti gadis-gadis Makassar.

Tari Kipas 4. Tari Pakurru Sumange menggambarkan salam sejahtera bagi mereka yang datang dan dikunjungi serta mohon doa restu, lambang persahabatan dan keakraban.

Tari Pakurru Sumange RUMAH ADAT

Rumah adat Makassar memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari sukulain di Indonesia. Bentuknya memanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagian depan (Paladang). Inilah bagian-bagian dari Rumah adat Makassar itu: Tiang utama ( benteng ). Biasanya terdiri dari 4 batang setiap barisnya. jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat. tetapi pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris benteng. Jadi totalnya ada 12 batang benteng Pallangga yaitu bagian yang bertugas sebagai penyambung dari benteng di setiap barisnya.

Panjakkala, yaitu bagian yang bertugas sebagai pengait paling atas dari Benteng paling tengah tiap barisnya. Pamakkang , adalah bagian diatas langit - langit ( eternit ). Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen. Kale Balla, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada kale balla ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( pocci balla ). Passiringang, adalah bagian di bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah. Adat Kelahiran

Upacara Daur Hidup (Inisiasi) Masa kehamilan utamanya pada kehamilan pertama pada suatu keluarga merupakan suatu waktu yang penuh perhatian keluarga kedua belah pihak. Masa kehamilan pada bulan pertama sampai dengan bulan keempat disebut angngirang. Dalam masa ini muncul keaneh-anehan bagi calon ibu, baik dalam tingkah laku maupun dalam keingin-inginannya. Kedua belah keluarga berusaha memenuhi keinginan calon ibu tersebut terutama yang berupa makanan. Apabila keinginan-keinginan itu tidak dipenuhi akan berakibat tidak baik bagi bakal bayi yang akan dilahirkan. Selama masa kehamilan berlaku pantangan-pantangan bagi si calon ibu, maupun si calon ayah. Setelah perut calon ibu mulai nampak, maka sepakatlah keluarga kedua belah pihak untuk memanggil dukun yang disebut annaggala sanro. Adapun yang dipanggil, ialah dukun turuntemurun dari keluarga. Memanggil dukun (annaggala sanro) ialah dengan mengantarkan bosarak yang berisi ikatan-ikatan daun sirih, pinang, dan uang (logam). Apabila kandungan telah berusia tujuh bulan, maka diadakan upacara anynyapu battang/appakaddok mengngirang yang diebut juga appasilli. Pada upacara ini kedua belah pihak dari keluarga mengadakan macam-macam panganan, di antaranya terdapat kanre jawa picuru (makanan yang mempunyai arti simbolis), serta tidak ketinggalan buah-buahan. Acara pertama dalam upacara ini, ialah memandikan calon ibu dengan suaminya (nipassilli) dengan maksud untuk menjaga calon ibu maupun bayi yang akan lahir, dengan mengusir dan menolak pengaruh-pengaruh jahan. Selesai mandi calon ibu dan bapak berpakaian adat, rapih, dan bagus kemudian bersanding menghadapi hidangan yang disediakan dan dikerumuni oleh sanak suami istri tersebut disuruh memilih dari salah satu macam penganan yang tersedia, dengan ketentuan mengambil makanan yang sangat diinginkannya. Dari penganan yang diambil, dapat diramal jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan. Setelah ada tanda-tand bayi akan lahir, keluarga kedua belah menunggui bersama sang dukun. Menjelang bayi akan lahir, biasanya calon ibu mudah pallammori dengan tujuan agar si calon ibu mudah melahirkan.

Sesudah bayi lahir, maka bayi bersama plasentanya diletakkan di atas kapparak, lalu sang dukun memotong plasenta bayi tersebut. Plasenta kemudian dibersihkan, lalu dimasukkan ke dalam periuk tanah bersama Adat Perkawinan

Tata cara upacara adat Makassar dalam acara perkawinan sejatinya memiliki beberapa proses atau tahapan upacara adat, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Ajangang-jangang (Mamanu-manu). Asuro (Massuro) atau melamar. Apanassar (Patenreada) atau menentukan hari. ApanaiLeko Lompo (erang-erang) atau sirih pinang. Abarumbung (Mappesau) atau mandi uap, dilakukan selama 3 (tiga) hari.

6. Appassili bunting (Cemmemappepaccing) atau siraman dan Abubbu ( mencukur rambut halus dari calon mempelai). 7. 8. 9. 10. Akkorontigi (Mappacci) atau malam pacar. Assimorong atau akadnikah. Allekka bunting (Marolla) atau mundumantu. Appabajikang bunting atau menyatukan kedua mempelai.

Upacara tradisional tersebut di atas masih memiliki uraian-uraian yang lebih detail dari masing-masing tahapan atau proses. Pada kesempatan ini akan diuraikan tentang tata cara upacara adat: 1. Appassili bunting (Cemmemappepaccing) danAbubbu. 2. Akorontigi (Mappacci). 3. Appanai LekoLompo (Erang-erang) atausirihpinang, danAssimorong (AkadNikah) 1. Appassili bunting (Cemmemappepaccing), Abubbu danAppakanre Bunting Kegiatan dalam tata cara atau prosesi upacara adat ini terdiri dari: Appassili bunting.

Persiapan sebelum acara ini adalah calon mempelai dibuatkan tempat khusus berupa gubuk siraman yang telah ditata sedemikian rupa di depan rumah atau pada tempat yang telah disepakati bersama oleh anggota keluarga. Acara dilakukan sekitar pukul 09.00 10.00 waktu setempat. Pelaksanaan acara pada jam tersebut memiliki niat atau maksud. Calon mempelai memakai busana yang baru/baik dan ditata sedemikian rupa. Appassili atau Cemme Mappepaccing mengandung arti membersihkan dengan maksud agar calon mempelai senantiasa diberi perlindungan dan dijauhkan dari mara bahaya oleh Allah SWT. Prosesi Acara Appassili: Sebelum dimandikan, calon mempelai terlebih dahulu memohon doa restu kepada kedua orang tua di dalam kamar atau di depan pelaminan. Kemudian calon mempelai akan diantarkan ke tempat siraman di bawah naungan payung berbentuk segi empat (Lellu) yang dipegang oleh 4 (empat) orang gadis bila calon mempelai wanita dan 4 (empat) orang lakilaki jika calon mempelai pria. Setelah tiba di tempat siraman, prosesi dimulai dengan diawali oleh Anrong Bunting, setelah selesai dilanjutkan oleh kedua orang tua serta orang-orang yang dituakan (Tomalabbiritta) yang berjumlah tujuh atau sembilan pasang. Tata cara pelaksanaan siraman adalah air dari pammaja/gentong yang telah dicampur dengan 7 (tujuh) macam bunga dituangkan ke atas bahu kanan kemudian ke bahu kiri calon mempelai dan terakhir di punggung, disertai dengan doa dari masing-masing figure yang diberi mandat untuk memandikan calon mempelai. Setelah keseluruhan selesai, acara siraman diakhiri oleh Ayahanda yang memandu calon mempelai mengambil air wudhu dan mengucapakan dua kalimat syahadat sebanyak tiga kali. Selanjutnya calon mempelai menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Abubbu (Macceko). Setelah berganti pakaian, calon mempelai selanjutnya didudukkan di depan pelaminan dengan berbusana Baju bodo, tope (sarung pengantin) atau lipa sabbe, serta assesories lainnya. ProsesiacaraAbubbu (macceko) dimulaidenganmembersihkanrambutataubulu-bulu halus yang terdapat di ubun-ubun atau alis. Appakanre bunting. Appakanre bunting artinya menyuapi calon mempelai dengan makan berupa kue-kue khas tradisional bugis makassar, seperti Bayao nibalu, Cucuru bayao, Sirikaya, Onde-onde/Umba-umba, Bolu peca, dan lain-lain yang telah disiapkan dan ditempatkan dalam suatu wadah besar yang disebut bosara lompo. 2. Akkorontigi (Mappacci). Rumah calon mempelai telah ditata dan dihiasi sedemikian rupa dengan dekorasi khas daerah bugis makassar, yang terdiri dari:

a.Pelaminan (Lamming) b.Lila-lila c.Meja Oshin lengkap dengan bosara. d.Perlengkapan Korontigi/Mappacci. Acara Akkorontigi/Mappacci merupakan suatu rangkaian acara yang sakral yang dihadiri oleh seluruh sanak keluarga (famili) dan undangan. Acara Akkorontigi memiliki hikmah yang mendalam, mempunyai nilai dan arti kesucian dan kebersihan lahir dan batin, dengan harapan agar calon mempelai senantiasa bersih dan suci dalam menghadapi hari esok yaitu hari pernikahannya. Prosesi acara Akkorontigi/Mappacci: Setelah para undangan lengkap dimana sanak keluarga atau para undangan yang telah dimandatkan untuk meletakkan pacci telah tiba, acara dimulai dengan pembacaan barzanji atau shalawat nabi, setelah petugas barzanji berdiri, maka prosesi peletakan pacci dimulai oleh Anrong bunting yang kemudian diikuti oleh sanak keluarga dan para undangan yang telah diberi tugas untuk meletakkan pacci. Satu persatu para handai taulan dan undangan dipanggil didampingi oleh gadis-gadis pembawa lilin yang menjemput mereka dan memandu menuju pelaminan. Acara Akkorontigi/Mappacci ini diakhiri dengan peletakan pacci oleh kedua orang tua tercinta dan ditutup dengan doa. 3. Appanai LekoLompo (Erang-erang) atausirihpinang, dan Assimorong (AkadNikah) Kegiatan ini dilakukan di kediaman calon mempelai wanita, dimana rumah telah ditata dengan indahnya karena akan menerima tamu-tamu kehormatan dan melaksanakan prosesi acara yang sangat bersejarah yaitu pernikahan kedua calon mempelai. Beberapa persiapan yang dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga:

Keluarga Calon Mempelai Wanita (CPW). 1. Dua pasang sesepuh untuk menjemput CPP dan memegang Lola menuntun CPP memasuki rumah CPW. 2. 3. 4. Seorang ibu yang bertugasmenaburkanBente (benno) ke CPP saatmemasukigerbangkediaman CPW. Penerima erang-erang atau seserahan. Penerima tamu.

Keluarga Calon Mempelai Pria (CPP). - Petugas pembawa leko lompo (seserahan/erang-erang), yang terdiri dari: Gadis-gadis berbaju bodo 12 orang yang bertugas membawa bosara atau keranjang yang berisikan kue-kue dan busana serta kelengkapan assesories CPW.

Petugas pembawa panca terdiri dari 4 orang laki-laki. Panca berisikan 1 tandankelapa, 1 tandanpisang raja, 1 tandanbuahlontara, 1 buahlabukuningbesar, 1 buah nangka, 7 batang tebu, jeruk seperlunya, buah nenas seperlunya, dan lain-lain. - Perangkat adat, yang terdiri dari: Seorang laki-laki pembawa tombak.

Anak-anak kecil pembawa ceret 3 orang. Seorang lelaki dewasa pembawa sundrang (mahar). Remaja pria 4 orang untuk membawa Lellu (payung persegi empat). Seorang anak laki-laki bertugas sebagai passappi bunting.

-Calon mempelai Pria - Rombongan orang tua - Rombangan saudara kandung - Rombongan sanak keluarga - Rombongan undangan. Prosesi acara Assimorong: Setelah CPP beserta rombongan tiba di sekitar kediaman CPP, seluruh rombongan diatur sesuai susunan barisan yang telah ditetapkan. Ketika CPP telah siap di bawa Lellu sesepuh dari pihak CPW datang menjemput dengan mengapit CPP dan menggunakan Lola menuntun CPP menuju gerbang kediaman CPW. Saat tiba di gerbang halaman, CPP disiram dengan Bente/Benno oleh salah seorang sesepuh dari keluarga CPW. Kemudian dilanjutkan dengan dialog serah terima pengantin dan penyerahan seserahan leko lompo atau erang-erang. Setelah itu CPP beserta rombongan memasuki kediaman CPW untuk dinikahkan. Kemudian dilakukan pemeriksaan berkas oleh petugas KUA dan permohonan ijin CPW kepada kedua orang tua untuk dinikahkan, yang selanjutnya dilakukan dengan prosesi Ijab dan Qobul. Setelah acara akad nikah dilaksanakan, mempelai pria menuju ke kamar mempelai wanita, dan berlangsung prosesi acara ketuk pintu, yang dilanjutkan dengan appadongko nikkah/mappasikarawa, penyerahan mahar atau mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Setelah itu kedua mempelai menuju ke depan pelaminan untuk melakukan prosesi Applapopporo atau sungkeman kepada kedua orang tua dan sanak keluarga lainnya, yang kemudian dilanjutkan dengan acara pemasangan cincin kawin, nasehat perkawinan, dan doa. Untuk lebih jelasnya, adalah sebagai berikut: Suku Makassar mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi bersama suku Bugisdan Toraja. Suku Makassar paling banyak terdapat di kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba dan tentu saja di kota Makassar yang sudah menjadi ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Sistem kekerabatan dalam suku Makassar memperhitungkan kerabat Ayah dan Ibu terhadap anak-anaknya sama, bilateral. Seluruh kerabat disebut bija pammanakang. Keluarga batih

dalam bahasa Makassar disebutsipammanakang, terdiri atas ayah, ibu dan anak-anak yang belum mekawin. Berbicara tentang perkawinan, sebuah ungkapan dalam bahasa Makassar yang menyinggung tentang perkawinan berbunyi Tenapa na ganna sere tau punna tenapa na situtu ulunna na salanggana yang berarti : seseorang belum sempurna menjadi manusia jika kepala dan bahunya belum menyatu. Ungkapan di atas bermakna bahwa perkawinan dalam suku Makassar dianggap sebagai sebuah proses menyatukan umat manusia menjadi sebuah bagian yang utuh. Suami dan istri dianggap sebagai sebuah bagian kepala dan bahu yang harus disatukan. Orang tua suku Makassar ketika mengawinkan anak-anaknya akan berkata la nipajjari taumi atau la nipattaumi ulunna na salannganna artinya akan dijadikan manusialah dia atau akan disatukan kepala dan bahunya. Anak gadis atau perjaka jika belum mekawin belum dianggap sebagai tau atau manusia. Mereka belum punya hak untuk berbicara pada acara-acara tertentu. Perkawinan membuat mereka kemudian mempunyai hak dan tanggung jawab yang lebih. Bila seseorang mengawinkan anaknya maka dia orang-orang akan menyebutnyanisungkemi bongonna atau telah dilepas selubungnya. Orang-orang yang belum mekawinkan anaknya dianggap sebagai orang yang masih tertutup selubung, menutupi sesuatu yang ia jaga dan khawatirkan berupa kehormatan keluarga. Karena itu acara perkawinan digelar meriah sebagai gambaran kegembiraan orang tua mempelai. Mencari jodoh untuk anak bukan perkara mudah karena ini juga berarti menautkan hubungan antara dua keluarga. Dua keluarga yang tertaut karena perkawinan itu disebut ajjulu sirik yang maknanya adalah menyatukan dua keluarga untuk menjaga kehormatan bersamasama. Orang-orang yang tidak berketurunan disebut sebagai tau puppusuk atau mereka yang keturunannya tidak bersambung lagi. Sementara orang-orang yang punya banyak anak disebut sebagai tau kalumannyang ka jai anakna atau orang yang kaya karena punya banyak anak. Pameo banyak anak banyak rejeki masih dipegang teguh oleh orang-orang suku Makassar. Perkawinan ideal dan pembatasan jodoh Perkawinan sejatinya adalah proses penyatuan dua keluarga besar, karena itu perkawinan juga selau melibatkan keluarga besar. Dalam memilih jodoh, orang suku Makassar jaman dulu mempertimbangkan banyak hal. Pertimbangan terbesar dalam mencari jodoh adalah masalah kasiratangngangatau kesepadanan. Kasiratangngang adalah kesejajaran atau kesepadanan dalam tatanan sosial masyarakat. Sebagai gambaran suku Makassar juga mengenal kasta yaitu

bangsawan (karaeng), rakyat jelata (tumaradeka) dan abdi (ata). Wanita (apalagi wanita bangsawan) tidak boleh menikah dengan pria dari kasta yang lebih rendah atau dia akan kehilangan haknya. Perkawinan terbaik adalah perkawinan antara laki-laki dan perempuan dengan derajat yang sama, apalagi jika mereka masih ada hubungan darah dan kekerabatan utamanya yang berada dalam garis horizontal sebagai berikut: Perkawinan antara sampo sikali (sepupu satu kali; anak dari saudara ayah/ibu) hubungan ini disebut sebagai sialleang bajina (perjodohan terbaik) o Pekawinan antara sampo pinruang (sepupu dua kai; anak dari sepupu ayah atau ibu) Hubungan ini disebut sebagai nipassikaluki (perjodohan yang menautkan) o Perkawinan antara sampo pintallung (sepupu tiga kali; cucu dari sepupu kakek/nenek) Hubungan ini disebut sebagai nipakabani bellayya(perjodohan yang mendekatkan yang jauh). Prinsip kasiratangngang atau kepantasan ini jaman sekarang mulai bergeser. Seorang wanita keturunan bangsawan boleh saja menikah dengan lelaki yang tidak berdarah bangsawan tapi dihormati dilingkungannya karena memiliki harta atau kedudukan sosial yang tinggi. Perjodohan yang dianggap tidak sepadan disebut tena na siratang, namun jaman sekarang ketidakpantasan ini sudah mulai kabur. Hal yang paling tabu dalam pernikahan suku Makassar adalah salimarak atau dalam istilah antropologi disebut sebagai incest atau perkawinan sedarah. Pelaku perkawinan ini mendapat hukuman yang keras, dalam suku Makassar disebutniladung atau ditenggelamkan di laut dengan kedua kakinya diikat batu atau pemberat. Bentuk Perkawinan dalam suku Makassar Pada dasarnya ada dua jenis perkawinan dalam suku Makassar yaitu perkawinan dengan peminangan atau yang berlangsung mulus tanpa guncangan dan perkawinan dengan annyala atau kawin lari karena tidak beroleh restu atau karena penyebab lainnya. Perkawinan dengan peminangan berlaku umum untuk semua golongan, kecuali golongan bangsawan yang mempunyai tata cara dan adat istiadat yang lebih panjang. Ketika kedua keluarga sudah sepakat untuk menikahkan anak mereka maka ini disebut abbayuang atau bertunangan. Jaman sekarang abbayuang ini sudah diartikan sebagai berpacaran tentu karena batas-batas sosial yang sudah semakin longgar. Pernikahan dengan annyala adalah sebuah jalan terakhir ketika sepasang anak muda menemui jalan buntu dalam menyatukan cinta mereka. Annyala berarti berbuat salah, karena keduanya dianggap menyalahi adat perkawinan dan memilih untuk kawin lari. Pihak keluarga yang anak gadisnya dibawa lari disebut tumasirik atau yang menderita sirik (malu) sehingga keluarga besar mereka mempunyai kewajibanappaenteng
o

sirik (menegakkan rasa malu/kehormatan) dengan membunuh lelaki yang telah membawa lari anak gadis dalam keluarga mereka. Sang lelaki akan terus dicari oleh keluarga gadis yang dia bawa lari, satu-satunya tempat aman adalah rumah kadi atau pemuka masyarakat. Di sana dia tidak boleh disentuh sama sekali oleh keluarga gadis yang dia bawa lari. Selanjutnya menjadi tugas sang kadi untuk menikahkan si tumannyala ini. Anak gadis yang dibawa lari dianggap nimatei atau dianggap sudah mati oleh keluarganya. Meski pasangan ini telah dinikahkan oleh kadi secara resmi namun dendam dari keluarga si gadis tidak akan padam sebelum lelaki tersebut bersama istrinya datang mabbajik (berdamai) ke keluarga besar sang istri. Annyala sendiri ada beberapa macam, yaitu: Silariang atau sama-sama sepakat untuk kawin lari. Ada banyak hal yang melatarbelakangi pilihan ini, entah karena cinta mereka tidak bisa disatukan karena derajat yang tak sama atau salah satunya sudah terlanjur dijodohkan dengan orang lain dan beragam sebab lainnya. o Nilariang atau dibawa lari. Berbeda dengan silariang, nilariang adalah kondisi di mana pihak wanita tidak terlalu sepakat untuk kawin lari tapi kemudian dipaksa oleh pihak pria. o Angngerang kale atau membawa diri. Kondisi ini adalah kondisi di mana pihak wanita yang menyerahkan diri kepada pihak pria dan meminta agar dibawa lari atau kawin lari. Seperti disebut di atas, meski telah menikah secara resmi namun pasangan kawin lari ini akan tidak akan diterima begitu saja oleh keluarga pihak wanita sebelum datang berdamai. Mereka disebut sebagai tumate attalasa atau orang mati yang berjalan. Agar bisa diterima oleh keluarga si wanita dan menegakkan kembali sirik(kehormatan) maka si tumannyala harus menggelar acara mabbajik atau berdamai dengan pihak keluarga si wanita. Pertama dia akan meminta seseorang yang dipercaya untuk menghubungi pihak keluarga si wanita agar mau menerimanya. Ketika pihak tumasirik menyatakan menerima maka upacaramabbajik akan digelar. Si tumannyala akan harus menyediakan sunrang (mahar) dan pappasa atau denda karena telah berbuat salah. Keduanya dimasukkan ke dalam sebuah tempat yang disebut kampu disertai leko sikampu (sirih pinang). Selain itu mereka juga harus menyediakan hidangan yang cukup untuk para hadirin yang datang.
o

Ketika hari yang disepakati tiba, maka si tumannyala beserta keluarganya akan datang menghadap kepada keluarga tumasirik. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyerahan kampu dari pihak tumannyala kepada pihak tumasirik. Prosesi ini menandai perdamaian kedua pihak, sejak saat itu tumannyala sudah diterima sebagai keluarga dan karenanya hilang juga kewajiban dari keluargatumasirik untuk menumpahkan darah dari si tumannyala. Kehormatan telah ditegakkan kembali. Pernikahan adalah sebuah upacara penting dalam semua suku karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga dua keluarga besar. Pernikahan akan menjadi lebih rumit ketika menyangkut dua keluarga bangsawan. Ragam persiapan menyertai hari penting ini, bahkan jauh sebelumnya. Jaman dulu orang suku Makassar tidak mengenal istilah pacaran. Sebagian besar pernikahan dilakukan atas kesepakatan dua keluarga besar tanpa menyertakan calon mempelai. Namun pada beberapa kasus setidaknya jalan menuju pernikahan ini melibatkan calon mempelai pria yang meminta kepada orang tua atau keluarga besarnya agar meminang gadis pujaannya. Berikut ini adalah urutan yang lazim dijalani oleh para calon pengantin sesuai adat suku Makassar. 1. Melihat atau mencari jalan Acara peminangan dimulai dengan cara ini. Orang Makassar menyebutnyaaccini rorong yang berarti melihat atau mencari jalan sebagai penyelidik. Usaha ini dimaksudkan untuk melihat peluang apakah pihak pria bisa mengajukan lamaran pada gadis yang dipilihnya. Setelah fase penyelidikan ini dilakukan maka langkah berikutnya adalah appesak-pesak atau meraba-raba. Dalam fase ini diutuslah wanita kepercayaan yang pandai bersiasat. Sambil berbicara ke sana ke mari sang wanita kepercayaan ini akan mengajukan pertanyaan yang biasanya berbunyi: Niakkamonjo ambuaki ri bibere kamanakangku? atau berarti: apalah sudah ada orang yang menyimpan kemenakanku itu? Bila pertanyaan ini dijawab dengan jawaban, Nia mo anjo appukattangngi, mingka kontu baku teai tutuna atau berarti: telah ada yang datang dan bertanya perihal itu, tapi bagai bakul yang belum ada tutupnya, maka berarti utusan tersebut telah menemukan jawaban atas hasil penyelidikannya.

Setelah kembali kepada keluarga calon mempelai pria, maka selanjutnya keluarga calon mempelai pria akan mengirimkan 2 atau 3 orang utusan sebagai duta. Biasanya mereka adalah orang yang dipandang dan disegani dalam masyarakat. Fase ini disebut apparibbak jangang-jangang (menerbangkan merpati/burung) atau arakkang-rakkang (memasang alat perangkap kepiting di sungai). Sebelum sang duta tiba di rumah sang gadis, maka berita akan kedatangannya disampaikan secara rahasia karena acara ini memang masih bersifat pembuka jalan. Pembicaraan awalnya akan berputar ke sana ke mari tanpa menyinggung tujuan utama kedatangan para duta tersebut. Setelah waktunya dianggap tepat maka para duta tersebut akan menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk melamar anak gadis sang empunya rumah. Biasanya pihak calon mempelai wanita tidak akan langsung memberi jawaban. Mereka akan menanyakan langsung kepada sang gadis bersedia atau tidak mengingat dialah yang akan menjalani pernikahan tersebut. Sebelum memohon diri, duta pihak calon pria akan menanyakan ketentuan waktu datang mereka untuk mengulangi pembicaraan. Kedatangan ini nantinya akan disebut assuro/mange assuro atau meminang. Ketika fase ini terlewati maka diistilahkan adongko mi jangangjanganga atau telah hinggap si burung merpati. 2. Mange Assuro Pada hari yang telah ditentukan, sanak keluarga gadis akan menantikan kedatangan rombongan dari sanak keluarga sang calon mempelai pria. Jumlah delegasi kali ini lebih banyak dari yang sebelumnya. Dalam pertemuan ini salah seorang anggota delegasi akan membawa sirih pinang yang dibawanya sebagai tanda perundingan resmi akan dimulai. Dalam perundingan ini kedua belah pihak belum akan menemukan kesepakatan, utamanya tentang tanggal waktu pelaksanaan pernikahan. Ini hanya jalan pembuka bagi keluarga pihak pria bahwa mereka lamaran mereka memang disambut dengan tangan terbuka oleh keluarga pihak calon mempelai wanita. Penentuan tentang tanggal dan segala macam perlengkapan acara penikahan disebut appa nassa atau memperjelas. Fase ini dilakukan setelah fase assuroatau mange assuro. Dalam waktu appa nassa ini segala hal dibincangkan secara detail seperti: A. Sunrang. Sunrang adalah mas kawin, syarat mutlat menurut hukum Islam agama yang dianut mayoritas suku Makassar dan Bugis. Sunrang adalah pemberian dari pihak pria kepada pihak

wanita, bisa berbentuk barang ataupun uang. Besarnya sunrang ini berbeda-beda menurut adat dan ditentukan oleh kedudukan sosial (derajat) dari orang-orang yang harusnya membayar dan memberi sunrang. Adapun golongan sunrang pada masa lalu adalah sebagai berikut: 1. Bangsawan tinggi 88 real. 2. Bangsawan menengan 44 real. 3. Bangsawan Bate Salapang Karaeng Palili 28 real. 4. Golongan Tu Maradekaya (orang biasa) 20 real. 5. Golongan Ata (budak) 10 real. B. Doe Balanja atau uang belanja. Besar kecilnya uang belanja ini tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. Semakin tinggi status sosial calon mempelai wanita maka akan semakin tinggi pula nilai uang belanja yang diminta pihak keluarganya. Pada masa sekarang uang belanja yang sering disebut panaik ini menjadi hambatan yang cukup berarti bagi para calon mempelai pria ketika ingin meminang wanita idamannya. Dalam penentuan uang belanja ini juga diselipkan jumlah hadiah yang akan diberikan oleh orang tua kedua belah pihak kepada para calon mempelai atau yang disebut cingkarra. Cingkarra ini berupa barang perhiasan seperti emas dan lain-lain. Barang ini nantinya menjadi barang sisila atau harta bawaan bagi kedua suami-isteri. 3. Appanaik Leko Caddi ( menaikkan/membawa daun sirih kecil) Fase ini adalah untuk menentukan waktu pernikahan. Pihak calon mempelai pria akan datang dengan membawa rombongan yang lebih besar dan pihak calon mempelai wanita akan menantikan juga dengan rombongan yang tak kalah banyaknya. Selain kedua belah pihak hadir pula dalam upacara ini penghulu adat yang akan menyaksikan peresmian tersebut. Dalam upacara ini, pihak pria akan membawa kue-kue adat yang ditaruh di dalam bosara. Jumlahnya ada 12 bosara, sedangkan untuk bangsawan tinggi sebanyak 14 bosara. Di samping itu ada juga yang disebut baku karaeng atau bakul raja yaitu sebuah bakul yang isinya untuk meminta waktu. Isi bakul terdiri dari beras segenggam, kelapa, gula dan sirih serta pinang. Leko caddi ini dibawa oleh pria dan wanita lengkap dengan pakaian adat. Dalam upacara ini juga diserahkan cincing passikko atau cincin pengikat serta uang belanja sesuai yang telah disepakati. Ini menunjukkan kesepakatan kedua belah pihak tentang pelaksanaan pernikahan. Dalam upacara ini juga ditentukan waktu untuk pelaksanaan pernikahan.

Setelah upacara appanaik leko caddi selesai, maka tahap sempurnalah tahap pelaksanaan peminangan. Sang gadis selanjutnya akan dipingit dan bersiap untuk menyambut hari pernikahannya. Sementara itu pihak keluarga sang gadis akan melakukan acara abbiritta atau menyampaikan berita dengan mendatangi rumah-rumah seluruh sanak keluarga dan segenap handai taulan tentang pernikahan yang akan dilaksanakan. Itulah tahapan awal dalam upacara pernikahan suku Makassar. Sebagian tahapan tersebut juga berlaku dalam adat istiadat suku Bugis. Selanjutnya akan ada tahapan lainnya menjelang hari pernikahan seperti appanaik leko lompo, abbarumbung dan akkorontigi. Tujuh atau tiga hari sebelum hari pernikahan, keluarga pihak pria akan mengantarkan sirih besar atau yang disebut angngerang leko lompo. Kalau uang belanja belum dibawa pada saat mengantar leko caddi, maka akan disertakan pada leko lompo. Adapun benda-benda lain yang disertakan dalam leko lompo ini adalah: 1. Sirih pinang lengkap, terdiri dari daun sirih beberapa ikat, pinang bertandang, tembakau, gambir dan kapur secukupnya. 2. Gula merah beberapa biji, kelapa bertandang, pisang bertandan, beberapa nenas, nangka, jeruk dan buah-buahan lainnya menurut musim. Buah-buahan ini dibawa dalam lawasuji yaitu sebuah panca usungan berbentuk segi empat yang terbuat dari bambu. 3. Beragam macam kue adat yang disimpan dalam bosarak. 4. Perlengkapan pakaian wanita, alat rias dan perhiasan. Segala macam hantaran ini dibawa oleh rombongan dari pihak calon mempelai pria. Jaman sekarang segala hantaran seperti yang ada di atas biasanya dibawa tepat pada saat akad nikah dilangsungkan. Tiga malam sebelum upacara akad nikah yang disebut simorong naik kalenna, suasana di kedua belah pihak sudah meriah. Para keluarga dan handai taulan serta tetangga akan berkumpul mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam sebuah acara pernikahan. Acara Akkorontigi Malam sebelum acara akad nikah, kedua calon mempelai menggelar acara akkorontigi. Akkorontigi adalah acara membubuhi ramuan daun-daun pacar pada kuku baik untuk calon pengantin wanita ataupun calon pengantin pria. Sebenarnya 3 hari sebelum acara akad nikah, kedua calon mempelai sebelumnya mengikuti sebuah upacara yang disebut abbarumbung atau mandi uap. Upacara ini dimaksudkan agar kedua calon mempelai bisa sehat bugar di hari pernikahan serta menguapkan semua bau tidak sedap dari tubuh mereka.

Pada malam akkorontigi, kedua calon mempelai akan mengenakan pakaian adat atau yang disebut sikko banri. Acara dimulai dengan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang dilanjutkan dengan barzanji (abbarasanji). Setelah itu calon mempelai akan duduk di tempat khusus, satu persatu hadirin akan naik dan membubuhkan ramuan daun pacar di kuku calon pengantin. Urutannya dimulai dari keluarga yang kedudukannya paling tinggi dan kemudian diikuti oleh keluarga lainnya. Dalam acara ini para keluarga dekat akan memberikan sumbangan atau disebut sebagai pannyiori. Ada yang menyerahkan sebidang tanah, perhiasan atau lain sebagainya. Ketika hari pernikahan tiba Setelah semua rangkaian upacara pernikahan selesai digelar, maka sekaranglah saatnya memasuki hari yang penting yaitu hari pernikahan atau disebut naik kalenna atau simorong. Calon mempelai pria akan datang ke tempat pernikahan diiringi oleh keluarganya. Mempelai pria dari kalangan bangsawan akan diapit oleh empat orang yang berpakaian seperti pengantin juga. Pengantin pria akan diiringi oleh segala alat kehormatan menurut adat seperti payung tinggi, rombak pusaka dan dimeriahkan oleh bunyi-bunyian seperti genderang, gong dan pui-pui. Mempelai pria juga diiringi oleh seorang yang membawa sunrang. Sunrang adalah kampu yang dibungkus kain putih. Isinya beras segenggam, kunyit setangkai sebagai simbol kesuburan, jahe, pala kenari dan kayu manis. Rombongan ini akan disambut oleh rombongan dari pengantin wanita. Ketika tiba di gerbang atau di depan tangga maka wakil dari pengantin wanita akan memanggil pengantin pria dengan nyanyian yang disebut pakkiyo bunting (pemanggil pengantin). Setelah nyanyian yang berisi 40 bait ini selesai, maka naiklah pengantin pria bersama pengiringnya ke tempat yang sudah disiapkan. Di sana sudah ada imam atau kadhi beserta wali dan saksi yang akan menikahkannya. Upacara pernikahan dilakukan dengan ijab kabul menurut hukum Islam. Setelah selesai maka mempelai pria akan diantar ke kamar di mana telah menunggu sang mempelai wanita. Mempelai pria akan diantar oleh orang yang sudah ditunjuk oleh keluarga wanita, acara ini disebut appabattu nikka. Di depan pintu kamar, pengantin pria tidak bisa langsung masuk. Dia harus membayar sejumlah uang kepada penjaga kamar yang biasanya adalah anrong bunting atau perias

pengantin. Uang tebusan yang diberikan oleh pengantin pria disebut pannyungke pakkebbu (pembuka pintu). Setelah pintu terbuka maka mempelai pria dipersilakan masuk dan bertemu dengan mempelai wanita. Setelah duduk berhadapan maka mempelai pria akan dituntun untuk menyentuh wanita yang sudah syah menjadi istrinya tersebut. Sentuhan dari mempelai pria mengandung banyak makna. Mempelai pria dituntun untuk menyentuh buah dada istrinya sebagai simbol gunung supaya kelak rezekinya menggunung. Sentuhan lainnya dilakukan di ubun-ubun dan leher bagian belakang sebagai simbol kepemimpinan suami dalam rumah tangga. Ada juga yang melakukan rabaan pada bagian perut sebagai simbol kemakmuran dan agar terhindar dari rasa lapar karena perut selalu diisi. Ada yang menganggap bahwa berhasil tidaknya sebuah pernikahan tergantung pada sentuhan pertama suami terhadap istrinya. Setelah acara ini selesai, maka kedua mempelai akan keluar ruangan menemui seluruh hadirin dan undangan. Sebelum duduk di pelaminan, kedua mempelai akan menyalami dua pasang orang tua mereka sebagai simbol memohon doa restu. Setelah acara pernikahan selesai. Setelah acara pernikahan selesai bukan berarti seluruh rangkaian acara juga diangap selesai. Dalam masa ini pula ada yang menganggap kalau orang tua dari mempelai wanita belum boleh berbicara atau bahkan menatap langsung sang mempelai pria karena masih ada rangkaian upacara yang belum selesai. Jika melanggar maka nasib sial akan melanda mereka. Setelah rangkaian acara di rumah mempelai wanita selesai maka berikutnya adalah rangkaian acara yang disebut nilekka. Pada acara ini kedua mempelai akan diarak ke rumah mempelai pria untuk bertemu dengan keluarga mempelai pria terutama orang tuanya. Di depan tangga atau di gerbang, mempelai wanita akan disambut oleh ibu mertuanya dengan sambutan yang disebut pappaenteng. Di rumah mempelai pria ini juga diadakan perjamuan seperti halnya yang diadakan di rumah mempelai wanita. Setelah acara selesai maka kedua mempelai akan memohon diri untuk kembali ke rumah mempelai wanita. Acara ini disebut nipak bajikang atau saling mendamaikan. Nipak bajikang tidak perlu dilakukan besar-besaran, kedua mempelai hanya duduk bersama dengan keluarga besar dari mempelai wanita dalam sebuah acara perjamuan. Dalam jamuan ini disajikan nasi ketan yang dicampur dengan gula santan yang disebut songkolo na palopo sebagai simbol dan pengharapan agar rumah tangga mereka akan selalu manis.

Setelah acara makan bersama ini selesai maka berarti selesailah seluruh rangkaian pernikahan yang memakan waktu cukup panjang itu. Rentetan upacara pernikahan yang cukup panjang ini sudah banyak yang ditinggalkan di jaman sekarang. Upacara seperti appanik leko caddi dan appanaik leko lompo sudah sering disatukan dalam acara assimorong demi efektifitas waktu dan biaya. Bagaimanapun, rentetan upacara pernikahan yang panjang dan memakan waktu ini adalah salah satu bukti kekayaan adat istiadat salah satu suku di Indonesia. Adat Kematian Upacara Adat Kematian (Ammateang) dalam adat Bugis Makassar merupakan upacara yang dilaksanakan masyarakat Bugis Makasar saat ada seseorang dalam suatu kampung meninggal, maka keluarga, kerabat dekat maupun kerabat jauh, juga masyarakat sekitar lingkungan rumah orang yang meninggal itu berbondong bondong menjenguknya. Pelayat yang hadir biasanya membawa sidekka (Sumbangan kepada keluarga yang ditinggalkan) berupa barang atau kebutuhan untuk mengurus mayat. Mayat belum mulai diurus seperti dimandikan sebelum semua anggota terdekatnya hadir. Nanti keluarga terdekatnya hadir semua, barulah mayat dimandikan, yang umumnya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memang biasa memandikan mayat atau oleh anggota kelurganya sendiri. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika memandikan mayat, yaitu pajenekang ( menyiramkan air ke tubuh mayat diiringi pembacaan doa dan tahlil), pasuina ( menggosok bagian-bagian tubuh mayat), Pabbisina (membersihkan anus dan kemaluan mayat yang biasa dilakukan oleh salah seorang anggota keluarga seperti anak,adik atau oleh orang tuanya) dan pamaralui (menyiramkan air mandi terakhir sekaligus mewudhukan mayat). Orang orang yang bertugas tersebut diberikan pappasidekka (sedekah) berupa pakaian si mayat ketika hidupnya lengkap dengan sarung,baju,celana, dan lain sebagainya. Mayat yang telah selesai dimandikan kemudian dikafani dengan kain kaci oleh keluarga terdekatnya. Setelah itu imam dan beberapa pengikutnya menyembahyangkan mayat menurut aturan Islam. Sementara diluar rumah, anggota keluarganya membuat usungan (ulureng) untuk golongan to sama (tau samara = orang kebanyakan) atau Walasuji ( untuk golongan bangsawan ) yyang terbentuk 3 susun. Bersamaan dengan pembuatan ulureng, dibuat pula cekko-cekko, yaitu semacam tudungan yang berbentuk lengkungan panjang sepanjang liang lahat yang akan diletakan diatas timbunan liang lahat apabila jenazahnya telah dikuburkan. Dan apabila, semua tatacara keislaman telah selesai dilakukan dari mulai memandikan, mengafani, dan menyembahyangkan mayat, maka jenazahpun diusung oleh beberapa orang keluar rumah lalu diletakan diatas ulureng.

Ulureng diangkat keatas kemudian diturunkan lagi sambil melangkah ke depan. Setelah dilakukan 3 kali berturut-turut, dilanjutkan dengan perlahan-lahan diikuti rombongan pengantar dan pelayat mayat menuju areal perkuburan. Iring-iringan pengantar jenazah bisa berganti-gantian mengusung ulureng. Semua orang orang yang berpapasan dengan iringan pengantar jenazah harus berhenti, sedangkan orang-orang yang berjalan/berkendara dari belakang tidak boleh mendahului rombongan pengantar jenazah. Di perkuburan, sudah menanti beberapa orang yang akan bekerja membantu penguburan jenazah. Sesampai dikuburan, mayat segera diturunkan kedalam liang lahat. Imam atau tokoh masyarakat kemudian meletakan segenggam tanah yang telah dibacakan doa atau mantera-mantera ke wajah jenazah sebagai tanda siame(penyatuan) antara tanah dengan mayat.setelah itu, mayat ditimbuni mulai tanah sampai selesai. Lalu Imam membacakan talkin dan tahlil dengan maksud agar si mayat dapat menjawaban pertanyaan pertanyaan malaikat penjaga kubur dengan lancar. Diatas pusara diletakan buah kelapa yang telah dibelah 2 dan tetap ditinggalkan diatas kuburan itu. Diletakan pula payung dan cekko-cekko. Hal ini juga masih merupakan warisan kepercayaan lama(old belief) orang Bugis Makassar, bahwa meskipun seseorang telah meninggal dunia, akan tetapi arwahnya masih tetap berkeliaran. Karena itu, kelapa dan airnya yang diletakan diatas kuburan dimaksudkan sebagai minuman bagi arwah orang yang telah meninggal, sesangkan payung selain untuk melindungi rohnya, juga merupakan simbol keturunan. Sekarang ini, ada kebiasaan baru setelah jenazah dikuburkan, yaitu imam atau ustadz dipesankan oleh keluarga orang yang sudah meninggal itu agar melanjutkan dengan ceramah dikuburan sebelum rombongan/pelayat pulang dari kuburan. Ceramah atau pesan-pesan agama yang umumnya disampaikan sekaitan dengan kematian dan persiapan menghadapi kematian, bahwa kematian itu pasti akan menemui/dihadapi setiap orang didunia ini dan karenanya, supaya mendapatkan keselamatan dari siksa alam kubur serta mendapatkan kebahagian didunia maupun di akherat, maka seseorang harus mengisi hari-hari kehidupannya dengan berbuat baik dan amal kebajikan sebanyak mungkin. Sebelum rombonga pengiring mayat pulang,biasanya pihak keluarga terdekat menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus penyampaian undangan takziah. Semalaman, di rumah duka diadakan tahlilan dan khatam Al-Quran, yaitu membaca al-Quran secara bergantian. Dari sini mulainya bilampenni, yaitu upacara selamatan sekaligus penghitungan hari kematian yang dihitung mulai dari hari penguburan jenazah.Biasa dalakukan selamatan tujuh hari atau empat puluh harinya. Sekarang ini, upacara bilampenni sudah bergeser namanya menjadi tiga malam saja. Sebagai penutup, pada esok harinya dilakukan dzikir barzanji dan dilanjutkan dantap siang bersama kerabat kerabat yang di undang.

Analisis Kepribaian Suku Makassar 1. Orang Makassar memiliki karakter yang terbuka, dan spontan dalam menghadapi sesuatu persoalan 2. Termasuk orang yang mudah bergaul, walau pun kadang-kadang mengucapkan kata yang cenderung kasar (menurut kelompok suku lain), tapi mereka adalah orang-orang yang setia dalam persahabatan. 3. Pada adat istiadat suku Makassar asli dapat dilihat bahwa masyarakat suku Makassar asli sangat menghormati ritual-ritual yang harus dilakukan sebelum melangsukan suatu acara. Para masyarakat tersebut percaya bahwa dengan melakukan ritual tersebut maka akan mendapatkan perlindungan dari Tuhan dan setiap apa yang dikerjakan akan di berkahi oleh Yang Maha Kuasa. Hal ini kemudian yang membentuk perilaku manusia untuk selalu menjalankan ritual sebelum melakukan sesuatu hal yang sudah di rencanakan. Bila ritual ini tidak dilakukan maka akan membuat seseorang merasa tidak yakin dengan apa yang dikerjakan dan khawatir akan mencapai kegagalan. 4. Dari segi moral dapat dilihat bahwa masyarakat suku asli makassar akan hidup sesuai dengan norma-norma yang diterapkan. Norma tersebut yang akan membuat seseorang menjadi lebih baik dalam bersikap dan bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat