Anda di halaman 1dari 22

Take Home Exam Analisis dan Penerapan Sistem Teknik

Studi Kasus

Desa Wisata Sendari


Sebuah pengantar untuk Membumikan Industri Bambu dalam bingkai Wisata
Sendari, Tirtoadi, Mlati, Sleman Fatma Wulandari MST UGM TIKM B Oktober 2009

Sebuah Pengantar untuk Membumikan Industri Bambu dalam Bingkai Wisata


A. Pendahuluan
Yogyakarta selain disebut sebagai kota Pendidikan, juga terkenal sebagai kota budaya-nya. Di kota ini memiliki keistimewaan segudang tradisi khas yang masih lestari hingga kini. Tradisi budaya hidup masyarakatnya menjadi menarik untuk menjadi atraksi yang menjadi daya tarik wisata hingga kota ini memiliki beberapa Obyek wisata budaya. Salah satu desa wisata yang sedang berkembang adalah Desa Wisata Kerajinan Sendari, yang berlokasi di dusun Sendari, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Desa ini memiliki keunggulan sebagai desa kerajinan, dimana sebagian besar hidup masyarakatnya dari mata pencaharian sebagai pengrajin dan pengusaha bambu. Dalam desa wisata ini yang dijual adalah selain hasil industry kerajinan mebel bambunya, juga atraksi keseharian warga dalam mengolah bamboo dan suasana pedesaan yang jarang ditemukan di kota. Sebagai desa wisata pengrajin, Sendari tidak lepas dari system produksi, system manajemen wisata, system kependudukan dan kemasyarakatan, dimana untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya diperlukan pola pikir yang sistemik yang kemudian dapat dilakukan oleh masyarakatnya sendiri dalam rangka mendorong kemajuan kesejahteraan tersebut. Menjadi sangat menarik untuk diamati, bahwa desa Sendari merupakan desa kerajinan mebel bambu, dimana Bambu itu sendiri memiliki karakteristik yang sangat unik untuk dibahas. Keterbatasan bamboo untuk diolah, dibentuk dan difungsikan menjadi suatu tantangan tersendiri untuk mengetahui lebih dalam dari system apa sajakah yang terlibat dalam produksi mebel bambu di desa wisata kerajinan Sendari. Bagaimana selama ini desa ini bertahan ?? dan Bagaimana desa ini akan tetap eksis di masa depan ?? menjadi salah satu dari rentetan pertanyaan yang mendasari kasus ini diambil untuk diamati dan dianalisis.

B. Sendari sebagai Desa Wisata Kerajinan


Sejak tahun 1970, usaha kerajinan bamboo di dusun Sendari sudah dirintis secara turun temurun.Produk utama waktu itu hanya berupa kursi lincak tanpa hiasan , ukiran atau modifikasi tertentu. Pada tahun 1981 Pemerintah Kabupaten Sleman menetapkan

dusun Sendari sebagai Desa kerajinan Bambu. Secara perlahan pengrajin bamboo mulai mengembangkan inovasi menciptakan karya karya yang lebih bagus dan beragam dari sebelumnya. Dan area pemasaran pun semakin meluas. Sejak krisis ekonomi tahun 1997, pemberdayaan sektor riil dengan berbasis pada pengembangan ekonomi kerakyatan ini dipandang mampu dan sukses dalam mengusung strategi untuk kemajuan ekonomi Indonesia. Sebagai salah satu alternatif untuk mengembangkan ekonomi rakyat pemerintah mengambil kebijakan untuk mengembangkan desa wisata. Pengembangan desa wisata sangat relevan seiring dengan terjadinya pergeseran model pembangunan pariwisata. Seperti dilaporkan oleh World Tourism Organization (WTO) tahun 1995 menunjukkan bahwa telah muncul perkembangan wisata alternatif yang dipandang lebih menghargai lingkungan alam dan penghargaan atas kebudayaan. Desa Wisata merupakan suatu bentuk pariwisata dengan objek dan daya tarik berupa kehidupan desa yang memiliki ciri-ciri khusus dalam masyarakatnya, panorama alamnya dan budayanya, Pengembangan desa wisata akan membawa beberapa implikasi positif, seperti mengurangi pengangguran di desa, peningkatan pendapatan masyarakat, optimalisasi daya dukung terhadap pembangunan dan terjaganya kelestarian lingkungan alam di pedesaan. Pengembangan desa wisata juga akan bermanfaat dalam mengurangi arus urbanisasi dari desa ke kota. Usaha-usaha yang terkait dengan pengembangan desa wisata tersebut akan menjadi alternatif pekerjaan yang dapat dimasuki oleh masyarakat setempat. Dan dusun Sendari memiliki potensi untuk dikembangkan menjasi wisata alternative budaya kerajinannya. Disamping usaha lain juga dimungkinkan akan muncul seperti kuliner, transportasi dan usaha jasa-perdagangan lainnya di desa Sendari sejalan dengan berkembangnya konsep desa wisata ini terealisasikan. Desa Tirtoadi sendiri memiliki 3 dusun yang berpotensi untuk desa wisata. Dusun Ketingan, Sendari, dan Janturan masing masing memiliki potensi dan basis yang berbeda.Ketingan dengan potensi wisata fauna bangau, Sendari dengan kerajinan bambunya, dan Janturan
Gambar 1 Showroom Sendari

dengan potensi wisata agro perikananannya.

Dengan ditetapkannya Sendari sebagai salah satu desa wisata dikawasan Sleman, maka pemerintah daerah mulai membangun sarana fisik seperti jalan raya yang mudah di jangkau oleh para wisatawan. Tahun 1996 dirintis oleh GKR Hemas istri Gubernur Sultan

Hamengkubowono X sebuah Showroom seluas 2,5 Ha dibangun sebagai wadah pameran bagi perajin untuk memamerkan produk usahanya, dengan harapan sendari menjadi pusat seni di wilayah Sleman, pengganti pasar seni di Jalan Solo yang pernah dibangun sebelumnya oleh pemerintah kabupaten Sleman. Seiring berjalannya waktu, wisatawan dan pembeli hasil kerajinan Sendari sudah sampai ke negara Jepang, Belanda,Italia, Perancis, Amerika, Norwegia, dan negara negara Timur Tengah yang dulu Pemasarannya pun hanya sebatas keliling Yogya. Kini boleh dibilang, pemasarannya sekitar 90% justru ke luar negeri, sedangkan 10% untuk dalam negeri. Namun sangat disayangkan, dari 600 KK penduduk desa Sendari yang ada saat ini, hanya sekitar 20 KK yang masih bertahan menjadi pelaku bisnis di bidang industry kerajinan mebel bamboo. Dan kini banyak dari pengusaha di dusun Sendari menekuni sebagai pengembang/ developer gazebo, parasol ( rumah bamboo ) yang menjadi permintaan dari pembeli di luar daerah, sehingga sedikit banyak hal ini mempengaruhi terhadap berkembangnya produk kerajinan bamboo. Suatu kemajuan diversifikasi produk yang menguntungkan, tetapi juga menarik untuk dikaji lebih luas dan mendalam kembali.

C. Analisis Sistem
Sebelum menganalisa hubungan system yang bekerja di Desa Wisata Kerajinan Sendari, terlebih dahulu akan diidentifikasi elemen elemen yang signifikan keberadaannya yang ada di Sendari ; 1. Penduduk / masyarakat Sendari keseluruhan Sebagain besar tingkat pendidikannya masih minim, lulusan sarjana hanya sedikit. Generasi mudanya setelah lulus SMU bekerja sebagai pelayan toko, pabrik, bengkel dll. Hanya sedikit yang sebagai pengarajin dan pengusaha. Selain sebagai pengrajin mata pencaharian pokok adalah petani. 2. Pengrajin Bambu Pengrajin bamboo melakukan aktivitasnya dirumah rumah, terdapat dua macam pengrajin, yaitu pengrajin anyaman dan pembuat rangka mebel.

Gambar 2 Pengrajin rangka

3. Pengusaha Pengusaha adalah pelaku bisnis industry kerajinan mebel bamboo, biasanya memiliki modal untuk menggajio pekerja/ beli barang setengah jadi dari pengrajin. Biasanya adalah orang pribumi. Showroom disediakan untuk para
Gambar 3 Pengusaha

pengusaha yang tidak memiliki tempat / rumah strategis di tepi jalan.

4. Perangkat Desa ( RT, Dukuh Sendari, Dukuh Ketingan, Dukuh Janturan, Kepala Desa, Pamong Desa, dll ) Sendari merupakan sebuah Dusun yang dikepalai oleh seorang Dukuh. Di Sendari seorang dukuh dan kepala desa mendapatkan sebidang tanah bengkok dari tanah kas desa untuk digarap dan dipetik hasil panennya sebagai pengganti gaji atas pengabdiannya kepada masyarakat. Suatu keistimewaan di sendari bahwa para perangkat desa merelakan tanah kas desa untuk dijadikan showroom seluas 2,5 Ha dari rencana 10 Ha ( dari berbagai sumber ) 5. Kelompok Pengusaha dan Pengrajin Majunya perekonomian dan perkembangan desa Sendari tidak bias lepas dari hadirnya kelompok kelompok pengrajin dan pengusaha, yang biasanya pemerintah menggulirkan pinjaman modal luna melalui kelompok kelompok masyrakat. Di Sendari kelompok ini memang pernah sudah pernah dibentuk, namun mtidak mengalami keberlanjutan. Ada yang kemudian pinjaman habis tak terlacak, tetapi ada yang kelompoknya sudah bubar jalan tetapi pinjaman masih dipegang oleh orang yang bertanggung jawab sebesar 10 juta. Salah satu kelompok yang masih ada adalah Bambu Indah yang sebagian besar anggotanya dulu menjadi anggota Melati Indah Yang sudah fakum ( uang pinjaman masih ada ). Di ketuai oleh Bapak Ponidi direncanakan Bambu Indah ini akan menjadi sebuah koperasi yang nantinya bias menjawab permasalahn pelaku industry bamboo di Sendari, dengan pendampingan yang telah dilakukan oleh pihak DPPM UII Yogyakarta. 6. GKR Hemas

Seorang GKR Hemas merupakan penentu adanya pencanangan Desa Sendari sebagai Desa Wisata pengrajin. Beliaulah yang telah menggerakkan hati masyarakat dalam pembangunan Showroom di Dusun Sendari.Dan Tahun 1997 beliaulah yang membuka dan meresmikan Showroom sebagai pusat kerajinan Sendari. 7. LSM dan NGO Di Sendari telah banyak Lembaga Swadaya Masyarakat dari local maupun internasional yang tertarik untuk mengembangkan desa wisata Kerajinan Sendari. Beberapa diantaranya adalah GTZ RED, DPPM UII, MTI UII telah melakukan upaya peningkatan produktivitas produk maupun pemasarannya. Beberapa diantaranya memberikan bantuan teknologi berupa rumah pengawetan bamboo ( Mr. Benyamin , Belanda ), bak terbuka pengawetan ( MTI UII ), pelatihan desain, pelatihan web, dan sebagainya. 8. Media massa Peranan media massa dan elektronok sangat mempengaruhi desa wisata kerajinan Sendari dikenal luas oleh masyarakat local dan mancanegara. Sebagai suatu pemberdayaan masyarakat dalam bidang UMKM maka tak pelak menjadi sorotan media massa untuk menilik segala kebijakan dan kesiapan pemerintah dan masyarakatnya dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan awal dicanangkan dusun Sendari sebagai Desa Wisata. 9. Penyedia bahan baku bambu dan peralatan, dsb Sendari sebagai daerah industry mebel bamboo ternyata tidak memiliki sumber daya alam untuk mengambil bahan bakunya, Selama ini bahan baku bamboo diambil dari daerah kulonprogo, purworejo dan sekitar wilayah Yogyakarta. Dan hal ini bukanlah menajdi masalah karena para poengusaha di Sendari membeli bamboo yang belum diolah dan diawetkan. Dan karena sudah biasa, untuk penyediuaan tinggal mencontacr pemasok bamboo. Sementara untuk bahan lain seperti rotan sebagai aksessoris, lem, bamboo , ijuk, dapat dengan mudah didapatkan dan juga ada pemasoknya. Sementara untuk peralatan berupa pangot, pisau, pali, bendo, dll beberapa pengrajin mempercayakan untuk membelinya di daerah barat wirobrajan Yogyakarta.

10. Dinas Dinas terkait ( Pariwisata DIY, perhubungan, disperindagkop, Pemkab ) Peran besar campur tangan pemerintah di desa wisata Sendari adalah dari dinas PAriwisata DIY, Kabupaten Sleman, dan juga dari BPTT PI UMKM Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yogyakarta yang telah bekerjasama dengan pihak MTI UII untuk melakukan pendampingan terhadap unit kerja di Sendari. Selain itu dari Dinasperindagkop sangatlah signifikan terhadap keberlanjutan kehidupan ekonomi industry Sendari mengingat kondisi masyarakat yang pendidikannya tidak terlampau tinggi, keterbatasan pemasaran dan management pengusaha dan pengrajin bamboo saat itu. Pihak Bank Indonesia dan pihak terkait lainnya sangatlah memiliki andil yang besar dalam pembangunan Desa Wisata Sendari sebagai Dusun Industri Kerajinan. Dari Pemerintah Kabupaten luar daerah juga sering melakukan kerjasama dengan para pengusaha industry mebel Sendari untuk mendidik generasi muda ( anak daerah ) mereka membuat mebel bamboo., dengan harapan memiliki kecakapan mengolah bamboo di daerahnya msing masing. 11. Akademisi Tahun 1986 Sendari menjadi objek KKN mahasiwa ISI Yogyakarta., yang memberikan pengaruh terhadap desain dan perkembangan produk Industri mebel Sendari. Sejak saat itu silih berganti pihak akademisi mulai melirik menjadikan Sendari sebagai objek penelitian ataupun KKN, diataranya Universitas Sanata Darma, Universitas Gadjah MAda, dan universitas, pihak sekolah dari luar daerah yang banyak melakukan KKP untuk mahasiswa ataupun siswanya.Sedikit banyak memberikan pengaruh, selain memberikan ilmu pada siswa, Sendari juga mendapatkan banyak saran dan kritik dari para mahasiswa masing masing. 12. Wisatawan dan atau Pembeli Menurut data sekunder dari media massa, pada tahun 2008 wisatawan pengunjung Desa Tirtoadi mencapai lebih dari seribu orang. Namun belum dapat dipastikan jumlah wisatawan yang berkunjung ke dusun Sendari, mengingat ada tiga ODTW yang ada di desa Tirtoadi. tersebut. Juga Promosi gratis dari para mahasiswa yang menyuarakan keunikan dan potensi Sendari sendiri di daerahnya

Sementara menurut salah satu pengusaha, setelah tahun 2006 pembeli produk mebel bamboo dari tahun ke tahun menurun. Kebanyakan yang menjadi andalan saat ini adalah borongan membangun gazebo, parasol di rumah makan, restoran dan hotel. Kini yang masih menjadi pelanggan tetap adalah para bakul/ distributor dari daerah pati, jawa timur, jawa tengah termasuk Jogjakarta dsb. Dan omset yang diminta pun menurun. 13. Bakul dan distributor Para pelaku ekonomi ini, mengandalkan keuntungan dari jasa pendistribusian barang dari produsen ( Sendari ) kepada konsumen dari daerahnya masing masing. Mereka dating dari pati, kendal, jawa timur, untuk membeli mebel bamboo dari sendari dan menjualnya ke konsumen. Biasanya untuk membawa stock yang dibawa dengan pick up ataupun truck sesuai kapasitas kemampuan bakul dan permintaan konsumen. 14. Guide Untuk para importer dari mancanegara, dalam mencari produk dsri sendari kebanyakan mereka diantarkan oleh seorang guide ( pemandu ), dengan demikian si pemandu akan mendapatkan komisi dari pengusaha Sendari karena sudah membawa pembeli. Kadang besarnya komisi mencapai 10 % darikeuntungan. Atau kadang juga melihat barang yang terbeli dengan semacam perjanjian yang menjadi kesepakatan bersama. 15. Forum Komunikasi Desa Wisata Sebanyak lima desa wisata di kabupaten Sleman dinyatakan mati suri, karena tidak adanya kepengurusan. Sementara kekosongan kepengurusuan dioakibatkan oleh sepinya pengunjun. Dengan demikian, dalam desa wisata yang notabene-nya berbasis pasda pemberdayaan dan potensi masyarakat sangat bergantung pada komunikasi dan kekuatan bersama untuk maju dan mewujudkan tujuan. Di Desa Tirtoadi, sudah ada kepengurusan untuk desa wisata tetapi yang berjalan adalah utnuk dusun Ketingan. Padahal untuk potensi yang besar digarap adalah dusun Sendari yang notabenenya, berbasis pada masyarakat yang bias diajak untuk berkomunikasi dan berpikir maju. Berbeda dengan Ketingan yang berbasis pada fauna bangau yang ada di dusun itu.

Dengan demikian perlu ditelusuri benang merah yang menjadikan desa Wisata Sendari masih dikategorikan sebagai desa Wisata berkembang, dan belum menjadi desa wisata mandiri. Berikut diagram analisis system yang bersumber dari hasil pengamatan dan pemikiran : Gambar 4 Diagram analisis Bank Penyedia Modal Pengusaha Industry Mebel Guide Penganyam
Distributor / Bakul
Pengrajin

Pengusaha Industry Mebel Wisatawan/ Pembeli

Pemasok Bahan Baku Pengrajin

LSM/ NGO

Penduduk/Masyarakat

Kelompok pengrajin/ Pengusaha

Desa Wisata Sendari GKR Hemas


Pengusaha

Pemerintah Desa

Dinas Pariwisata Propinsi DIY

PEMKAB Sleman

Dinas terkait

Pemkab Daerah Lain

Akademisi

Garis Hubungan, efek sistemik sangat kuat dalam rangka tujuan desa wisata Garis hubungan, efek sistemik kuat dalam rangka tujuan desa wisata

Garis hubungan, efek sistemik ada dalam rangka tujuan desa wisata Elemen terpenting, pembangun Desa Wisata yang harus kuat Tolak Ukur,pembanding suksesnya tujuan desa wisata Elemen pendukung pencapaian desa wisata mandiri Elemen Pendukung Perintis yang berpengaruh

D. Sistem Produksi Industri Mebel


Sistem produksi dalam pembuatan mebel Bambu cukup sederhana.Dari hasil pengamatan kebanyakan dari pengusaha hanya membuat mebel berupa kursi set, sofa, rak, meja makan, gazebo, parasol, sementara untuk produk produk yang berukuran kecil seperti kap lampu, tatakan piring gelas, tas didatangkan dari luar daerah seperti wonosari dan Jogjakarta. Berikut hasil pengamatan di lapangan mengenai proses produksi : a. Pengadaan Bahan Baku b. Pencucian c. Pengeringan/ pengawetan d. Pembuatan Rangka e. Pembalutan aksesoris f. Finishing

Pengadaan Bahan

Pencucian

Pengeringan dan pengawetan Dikeringkan sebesar 20% selama 2-3 minggu di bawah terik matahari Untuk pasar manca dilakukn pengawetan dengan merendam dalam bak terbuka ( larutan kimia ) atau dimasukkan kedalam batang kemudian ditegakkan

Diambil dari kulonprogo, purworejo, magelang dan daarah lain sekitar Yogyakarta

Pencucian dengan sabun dan disikat dengan kain/ sabut kelapa dean air yang tersedia melewati parit showroo/ rumah rumah penduduk

1
Gambar 5 Proses Di Sendari penyiapan Bahan

pengusaha Bambu tidak melakukan treat pengawetan untuk pangsa pasar

local, karena untuk melakukan itu diperlukan biaya yang tinggi, sementara pembeli tidak mau dibebani dengan harga yang lebih. Sementara upaya untuk memenuhi kebutuhan pengawetan telah diberikan bantuan berupa rumah pengawetan dari Mr. Benyamin ( USA ) dengan metode berdiri ( bamboo ditegakkan dan didalamnya ditampung air dengan larutan kimia. Sementara bak terbuka juga telah diperbantukan untuk pengusaha bamboo, namun karena kurangnya efisiensi bahan bakaaaar, dan terbatasnya ukuran bamu yang dapatmasuk dalam bak, maka kedua hal tersebut jarang digunakan.

Gambar 6 Rumah Pengawetan

Gambar 7 Teknologi bak Terbuka

Setelah dilakukan proses persiapan bahan, maka tahap selanjutnya adalah pembuatan rangka, dan produk kursi.

Pembuatan Rangka ( tenaga ahli ) pemotongan bambu sesuai ukuran desain yag dibutuhkan, kursi 50 cm, meja makan 90 cm, dsb Alat yang digunakan gergaji,pangot, pisau, palu, bendo, meteran Sambungan digunakan lem, kayu, paku, dan teknik tautan bambu. Pembalutan dan aksesoris Alat dan bahan : tali rotan,lem, gunting Aksesiris digunakan dari hasil anyaman dan atau ukiran lukisan dibilah bambu untuk sandaran kursi

Finishing dikuaskan plitur ( campuran mata kucing dan bensin perbandingan 1 : 5 lt ) Didiamka atau dijemur dalam durasi waktu satu hari/ satu malam

Gambar 8 Proses produksi kursi

Dalam proses produkasi ini, pengusaha Sendari bersimbiosis dengan pengrajin dan penganyam. Sementara pegusaha dapat mengejar order denga tepat waktu, pengrajin dan penganyam mendapatkan upah harian atau borongan. Setiap satu set anyaman di hargai sebesar 10 ribu, sementara anyaman 1 meter sampai 20 ribu rupiah.

Gambar 9 Penganyam

E. Potensi dan Peluang

Dari hasil pengamatan, disimpulkan bahwa Dusun Sendari memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai Desa Wisata Kerajinan BAmbu. Potensi dan peluang yang ada tersebut diidentifikasikan sebagaiberikut : 1. Akses Letak Wilayah yang cukup mudah dijangakau dari pusat kota Yogyakarta dan mudah dijangkau dari ldaerah, karena dekat dengan jalur antar kota. 2. Infrastruktur Semenjak pemerintah gencar mempromosikan Desa Wisata sebagai alternative pemberdayaan ekonomi masyarakat, pembangunan infrastruktur dilakukan hingga sampai desa Tirtoadi. Jaringan Listrik dan PDAM juga sudah denga mudah diakses. 3. Fasilitas wisata yang ada Showroom berupa counter counter untuk menjajakan hasil produk mebel bamboo 4. Tanah luas yang dapat dibangun Dalam konsep pembangunan kawasan di Kabupaten Sleman, kecamatan Mlati merupakan kawasan kelas I untuk dapat diolah dengan optimal. Sementara nuansa Pedesaanharus tetap dipertahankan demi konten Desa wisata tidak terlupakan.

5. Kebijaksanaan pemerintah Pemkab Sleman melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga melakukan pendampingan dan fasilitasi bagi pengembangan desa wisata. Diantaranya melalui Forum Komunikasi Desa wisata yang bertujuan untuk menjalin kerjasama antar pengelola desa wisata serta menjalin hubungan antara desa wisata dan pemerintah.Selain itu, Pemkab Sleman melalui Dinas Budpar juga memberikan fasilitasi berupa pembuatan peta desa wisata, papan data, papan sapta pesona dan pembuatan leaflet. Untuk membantu promosi dan pemasaran desa wisata, Pemkab juga menyelenggarakan travel dialog dan fasilitasi pameran bagi desa wisata. 6. Sumber Daya Manusia Sebagai modal utama dan agenda utama dalam pembangunan desa industry bamboo sendari adalah kekayaan dan keberagaman pengrajin, penganyam dan pengusaha. Dengan tiadanya elemen ini berarti matinya desa wisata ini. Untukitu dari 20kk yang sekarang ada, hendaklah dikembangkan lebih banyak agar industry bamboo di Sendari bias lebih maju dan mandiri.

7. Bambu sebagai alternative pengganti kayu Seiring dengan program dunia untuk membatasi penggunaan kayu dalam rangka mengurangi global warming, maka bamboo memberikan peluang untuk dimanfaatkan mengingat umur tanam bamboo yang lebih pendek jika dibandingkan dengan kayu. 8. Media massa yang menyorot sebagai alternative promosi 9. Pihak pihak yang ingin melakukan studi tentang Desa Wisata Sendari (LSM, Akademisi, dsb )

F. Permasalahan dan Tantangan


Berikutini adalah permasalah dan tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat Sendari, disimpulkan dari hasil wawancara kami kepada masyarakat pengrajin, dan pengusaha juga pihak pamong desa, dan tokoh masyarakat : 1. pengakuan akan kebutuhan perubahan Sebuah pengakuan kebutuhan akan perubahan melahirkan keinginan yang bias segera diwujudkan. Namun di masyarakat Sendari masih ingin bertahan dalam kondisi yang sekarang. Ketergantungan pemasaran dari mulut ke mulut para pembeli, guide, distributor bias saja hilang ketika suatu saat mereka beralih pada bisnis lain. Tradisi Pengrajin juga selamanya akan hilang apabila tidak segera dilakukan tindakan preventif sejak sekarang. Meihat keragaman desain produk bambu yang masih monoton ( yang laku oleh pembeli ), menandakan keinginan unuk memunculkan inovasi perubahan kurang, terbukti hanya tergantung pada permintaan pembeli. 2. Penetapan tujuan Konsep besar Master Plan dari desa Tirtoadi yang belum sepenuhnya dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat,menjadi tidak mungkin untuk bias menetapkan satu tujuan bersama.Padahal suatu tujuan sangat penting untuk menentukan langkah. Bisa dikatakan tujuan adalah ruh gerakan perubahan,yang nantinya dapat dinikmati bersama. 3. Industri gazebo, parasol.yang lain tersingkir, belum ada peningkatan produk Permintaan pasar yang besar terhadap borongan gazebo, parasol ( mebel eksterior ) menjadikan produkproduk lain belum terjamah untuk dikembangkan, karena energy sumber daya manusi yang terbatas.Sehingga kekhawatiran akan hilangnya ciri khaz pengrajin bamboo akan hilang apabila tidak menjadiprioritas

saat ini. Sehigga perlu tawaran solusi untuk meningkatkan daya beli pembeli untuk produkproduk yang lain. 4. Membangun Kepercayaan untuk meningkatkan potensi yang ada Dari hasil wawancara, ditemukan indikasi adanya pesimisme dari kalangan masyarakat ataupun perangkat desa. MEnjadi hal yang dapat dimaklumi karena dalam kurun waktu yang sedemikian lama sejak dicanangkan sebagai desa wisata, Sendari masih belum bias mandiri padahal segala upaya program sudah digalakkan. Masyarakat sendiri kurang dapat memegang kepercayaan yang telah dibangun oleh GKR Hemas waktu itu, sehingga sebagian tokoh agak sedikit sungkan untuk selalu meminta bantuan pada pihak pihak lainnya.Kembali lagi pada keinginan untuk suatu perubahan belum sepenuhnya ada dalam jiwa masyarakatnya. 5. Berpikir dan berkarya secara sistemik, bukan hanya sekedar personal saja, tetapi sistem yang berarti bersama sama membangun sinergi Desa Tirtoadi yang memiliki 3 dusun berpotensi wisata, menjadikan suatu peluang untuk menjadikan wisatawan adalah calon pembeli produk bamboo Sendari. Untuk itu diperlukan suatu konsep paket wisata yag memungkinkan untuk mendatangkan wisatawan dari luar daerah.Dibutuhkan kerjsama antar dusun di wilayah Desa Tirtoadi. Sementara para pengusaha Sendari masih berjalan masing masing, menetapkan tujuannya sendiri sehingga kesamaan tujuan untuk maju bersama belum terealisasikan. Dan cenderung Pengusaha belum memanfaatkan potensi wisata budaya pengrajin di Sendari, lebih cenderung hanya bisnis dan keuntungan sendiri saja ( pengaruh factor ekonomi keluarga sendiri dan pekerjanya ) 6. Bagaimana membuat atraksi yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan dan pasar luas Untuk menarik wisatawan, sudah menjadi kewajiban untuk memberikan atraksi yang menarik untuk dikunjungi. 3 Potensi dusun yang Nampak belum bersinergi dalam mengemas paket atraksi wisata, menjadi mungkin untuk dilakukan secara holistic da menyeluruh.dan pertanyaannya konsep apa yang bisa ditawarkan untuk atraksi tersebut ?

7. Masalah kebersihan, keindahan dan penataan Kawasan Dalam rangka menarik pengujung, penataan kawasan perlu diperhatikan. Keindahan dan kebersihan juga kemudahan akses pengunjung menikmati kawasan tersebut menjadi penting untukdirncnakan secara mantab. 8. Mutu Standart International untuk bertahan bersaing Sementara di Dusun sendari dalam pengelolaan harga antar pengusaha belum bias disamakan sehingga terkesanpersaingan yang ada merupaka persaingan yang tidak sehat. Sementara di luar sana persaingan dengan Negara negra lain seperti Cina, Thailand, dan Vietnam semakin gencar ( produk bambu ). Untuk itu dibutuhkan control kualitas yang bias diterima oleh Internasiopnaldan nasional, tentu saja dengn standart mutu yang diakui.

G. Solusi Yang Ditawarkan 1. Pemberdayaan semua kalangan


melibatkan semua kalangan
( muda, tua, anak anak )

memberikan dan membangun kepercayaan

desiminasi tujuan/ Konsep Grand Design

2. Mengintensifkan komunikasi untuk menemukan keinginan pemerintah dan keinginan masyarakat desa dalam rangka merumuskan menetapkan tujuan akan dibawa kemana pembangunan desa Tirtoadi TOP Down

Bottom Up

3. Peningkatan pembangunan Networking ( jaringan kerjasama )

Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat


Peningkatan Pendapatan Wisatawan/ Pembeli meningkat

Persaingan IKM
Keuntungan Komparatif Produksi yang orang lain belum punya

Keuntungan Kompetitif Produksi sama ada nilai lebih

Peran Pemerintah Desa

Hubungan antar Instansi

Hubungan antar Pelaku KegiatanWisata Kerajinan

Networking yang perlu ditingkatkan kerjasamanya : Dinas Kehutanan dan Pertanian ( aklamasi hutan Bambu, pelestarian bangau ketingan, diversifikasi perikanan Janturan ) Dinas Pariwisata ( Pemantapan Desa Wisata , atraksi wisata, paket paket wisata, promosi ) Dinas pendidikan ( Pelestarian budaya pengrajin pada generasi muda ex : muatan local di tingkat sekolah untuk kerajinan bambu , marketing produk permainan edukatif dari bamboo, dll ) Deperindagkop ( pelatihan dari luar daerah, pemasaran, pameran, korporasi / asosiasi ) LSM/ NGO yang memiliki visi dan misi yang sama Kerjasama antar Dusun ( saling bersinergi ) Kerjasama antar pengrajin dan pengusaha Forum Komunikasi Desa Wisata Media Massa dan media elektronik ( ex : jelajah Trans TV, kuliner, dll )

4. Mengadakan kompetisi inovasi desain Mengingat persaingan antar pengusaha dan pengrajin yang begitu hebatnya, maka kompetisi merupakan salah satu solusi untuk bersaing secara sehat karena didalmnya ada campur tangan pihak lain untuk membuat peraturannya. Dengan kompetisi desain diharapkan para pengusaha dan pengrajin bias lebih meningkatkan kemampuannya untuk mengolah dna meningkatkan produknya, dengan demikian teknologi yang akan digunakan oleh mereka akan secara otomatis juga akan meningkat. Melalui kompetisi desain diharapkan dapat menarik generasi mudanya untuk turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan ataupun partisipasi pelestarian budaya pengrajin.

5. Atraksi yang ditawarkan untuk menarik wisatawan dan membumikan budaya bamboo Kesenian Thek Thek ( Pek Bung dari bamboo ) berkolaborasi dengan kesenian tradisionalyang sudah ada disana yaitu Larasmadyo ( Muda dan tua bias terlibat ) Festival Tradisinal Bambu ( Perlombaan Gasing Bambu ) Festival Tradisinal Bambu ( Perlombaan Egrang/ Atraksi Egrang ) Paket Wisata Sepeda Bambu mengelilingi Ketinagn, Sendari, dan JAnturan

Gambar macam Atraksi Wisata 6. Penataan kawasan berdasar prinsip perencanaan kawasan yang terdiri dari 7 elemen : Landuse, Landmark, Symbol, Node, Signge, Vegetasi,dan path Menjadi suatu hal yang mudah, ketika pembangunan ruh tradisi pengrajin bambu, yang berarti industry bamboo sudah membumi, maka sejalan dnegan peningkatan kerjasama networking masing masing elemen terpenuhi maka pembangunan fisik kawasan dapat dengan mudah terbangun.

H. Laporan Kunjungan dan Presentasi


Dalam kunjungan melakukan pengamatan dan observasi, tidak ada suatu kendala suatu apapun baik dalam perijinan ataupun memasuki wilayah kerja dan showroom di Sendari. Dalam pengamatan kami pilih hanya beberapa pengusaha dan pengrajin saja ( tidak semua ) mengingat waktu yang kamipunya sangat terbatas. Hanya saja begitu banyak perbedaan pendapat yang kami temui yang membuat kami susah untuk menyimpulkan. Namun dalam waktu yang sudah direncanakan untuk presentasi, yang direncanakan kamis malam tanggal 25 Februari 2010 jam 19.00 di rumah Bapak Dukuh dengan mengundang segala elemen masyarakat yang ada menjadi terhambat karena adanya saran yang mengejutkan

bahwa ternyata untuk mengumpulkan masyarakat dalm forum dipandang terlalu sulit bagi kami, yang hanya melakukan program selama 2 minggu. Untuk itu kami dianjurkan untuk melakukan presentasi door to door ke pengrajin, pengusaha dan Pemerintah desa seperti saat kami melakukan observasi lapangan. Akhirnya diputuskan tanggal kami memilih untuk presentasi di hadapan BApak Karjono selaku Kepala Desa Tirtoadi, yang kebetulan kepala Desa yang baru terpilih setahun yang lalu, sehingga masukan dari kami sangat antusias didengarkan dan menjadi suatu diskusi yang menarik. ( dilakukan pada tanggal 25 Februari 2010 jam 13.00 sampai dengan jam 15.00 )

I. Penutup
Demikian Laporan Kunjungan dan Analisis Sistem yang bias kami susun, semoga ada manfaat yang bias diambil dan direalisasikan. KAmi mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya atas bantuan semua pihak yang telah mendorong, member masukan dan data kepada kami, semoga semua yang telah kami dapat menjadi bahan pembelajaran dan bermanfaat bagi kami.

J. Lampiran Lampiran