Anda di halaman 1dari 10

6.

STROKE (GANGGUAN PEREDARAN DARAH OTAK)

Kriteria diagnosis Gangguan fungsional otak fokal atau global yang timbul mendadak akibat gangguan aliran darah di otak (bukan karena tumor atau trauma kepala) dengan manifestasi hermidefisit motorik, dapat disertai dengan atau tanpa hemidefisit sensorik, kelumpuhan saraf otak aphasia dan penurunan kesadaran. Diagnosis patologis Stroke iskemik (infark) Stroke hemoragik

Diagnosis Banding Kontusio serebri Meningoensepalitis Tumor otak

Pemeriksaan penunjang Cito : Ureum, kreatinin, HMT, Gula darah darah sewaktu, EKG, CT-Scan (bila ada), algoritma stroke gajah Mada (Bila CT-scan tidak ada, atau rusak), doppler (bila ada) Tidak cito : Foto thorak, darah tepi rutin, kolesterol total, HDL, LDL, asam urat, trombosit, platelet agregasi (bila ada)

Konsultasi Dokter spesialis jantung, bila ada kecurigaan gangguan jantung Dokter spesialis penyakit dalam, bila ada kelainan endokrin (diabetes melitus) Dokter spesialis paru, bila ada kelainan paru Dokter spesialis bedah saraf, bila ada indikasi tindakan operasi Dokter spesialis bedah vaskuler, bila ada indikasi enarteriektomi

Perawatan RS Perlu dirawat di RS, khususnya penderita dengan serangan akut, baik stroke infark maupun stroke hemoragik

Terapi a. Stroke iskemik (infark) 1) Serangan akut (kurang dari 24 jam) Terapi Umum Oksigenasi Perbaikan jalan napas Kendalikan gangguan paru Kendalikan keadaan umum Tekanan darah jangan diturunkan, kecuali tekanan

sistoliknya lebih dari 240 mmHg atau tekanan diastoliknya lebih dari 130 mmHg Terapi spesifik Pentoksilin Neuroprotektan

Prevensi sekunder ASA dosis rendah ASA & dypiridamol

Fisioterapi

2) Serangan lebih dari 24 jam Idem diatas, kecuali pentoksilin jangan diberikan b. Stroke hemoragik Terapi umum (idem pada stroke iskemik/ infark) Antiedema otak : manitol untuk mengatasi herniasi dan edema berat Defisit koagulasi darah : vit K, protamine, fresh frozen plasma, tranfusi platelet Operasi : tergantung keputusan bersama dengan dokter spesialis bedah saraf

Standar RS Semua RS, kecuali untuk pelayanan ICCU dan bedah otak harus dirujuk ke RS yang mempunyai fasilitas yang lebih lengkap. Penyulit Gangguan pernapasan berat Penurunan kesadaran berat (koma) Komplikasi penyakit sistemis lain, jantung, diabetes, ginjal

Informent konsen Perlu Standar tenaga Dokter spesialis saraf Dokter umum (bila dokter spesialis saraf tidak ada) Perawat yang terlatih dalam asuhan keperawatn stroke

Lama perawatan Stroke iskemik infark : 2 minggu Stroke hemoragik : 3-4 minggu tergantung keadaan

Masa pemulihan Tergantung kepada Jenis patologis stroke Luas lesi Tingkat tergantung kesadaran Penyulit yang menyertai Kondisi psikologik

Hasil akhir Dapat sembuh sempurna Sembuh dengan cacat fisik Dimensia Meninggal

Patologi anatomi Tidak penting

Autopsi Bila perlu (atas permintaan polisi, asuransi, atau pihak yang berwenang lainnya, dengan seijin keluarga)

7. EPILEPSI Definisi Keadaan dengan ciri-ciri munculnya bangkitan berulang. Istilah epilepsi digunakan untuk mengkarakterisasikan serangan berulang bersifat relatif stereotipik dari suatu pengalaman atau perilaku bawah sadar (involunter). Diagnosis Penegakan diagnosis untuk epilepsi terutama berdasarkan riwayat adanya serangan berulang sedikitnya 2 kali dalam setahun, bersifat stereotipik dari suatu pengalaman atau perilaku bawah sadar (involunter) yang dilaporkan oleh saksi mata. Penegakan diagnostik lain yang banyak dimanfaatkan adalah

elekroensefalografik (EEG), pencarian etiologi sesuai tipe bangkitan yang ditemukan, misalnya anamnesis untuk tipe fokalitas bangkitan dan ada tidaknya gangguan kesadaran yang menyertai (parsial atau umum), anamnesis riwayat keluarga, anamnesis riwayat penyakit sebelumnya, riwayat kelahiran,

pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan neurologik. Kausa Beberapa penyebab epilepsi pada orang dewasa Lesi struktural (tumor, AVM), penyakit serebrovaskuler (infark, hipertensi, perdarahan). Epilepsi umum primer/ idiopatik, trauma, infeksi SSP (ensefalitis, meningitis, abses), penyekit sistemik (kelainan ginjal, hati dan hematologis), penyekit degeneratif otak, keracunan/iatrogenik (drug abuse, psikotropik, alkohol). Beberapa penyebab epilepsi pada anak-anak Kejang demam, serebral palsy, sindrom epilepsi spesifik (spasme infatil, epilepsi rofsndik, epilepsi umum primer), infeksi SSP, lesi struktural (AVM, hidrosefalus),

penyakit metabolik, keracunan, penyakit sistemik, penyakit keturunan (Sturge weber, sklerosis tuberosa). Gejala dan tanda klinik 1. Epilepsi umum a. Epilepsi Tonik Klonik (Grand Mal) Dimulai dengan fase tonik selama menit diikuti fase klonik menit kemudian terjadi fase koma selama 5 menit, selanjutnya penderita tertidur s/d 6 jam. b. Epilepsi absen (Petit mal) Kehilangan kesadaran beberapa detik. Pada waktu serangan anak berhenti bergerak, kedua mata menatap kedepan, benda yang dipegang terjatuh c. Epilepsi Mioklonik Bangkitan berupa kehilangan kesadaran sejenak dan disertai mioklonus pada otot proksimal. d. Epilepsi Atonik Penderita secara mendadak kehilangan tonus otot dan pada umumnya kesadaran tidak terganggu. 2. Epilepsi Parsial sederhana a. Dengan gejala motorik b. Dengan gejala somatosensorik c. Dengan gejala sutonom d. Dengan gejala gangguan fungsi luhur, psikis 3. Epilepsi Parsial kompleks Gejala kompleks ialah gejala motorik, sensorik, autonom yang memperlihatkan ciri yang tampaknya bertujuan dan terintegrasi. Gejala kompleks tersebut ialah halusinasi, ilusi, automatisme, dan gangguan tingkah laku. Pemeriksaan penunjang/ Laboratorium a. Pemeriksaan EEG b. Pemeriksaan neuroradiologik

1. Tanpa kontras : foto thorax, Foto tengkorak, CT-scan 2. Dengan kontras : Arteriografi, Pneumoensefalografi,

ventrikulografi, CT-scan c. Pemeriksaan laborat misalnya elektrolit, gula darah dll Terapi Bangkitan Bangkitan Umum primer Tonik Klonik (grand mal) Lena (Abscens) Mioklonik Tonik Klonik Bangkitan Parsial Bangkitan umum sekunder KBA, PB, PRM, Val ESM, Val KNZ, Val Salah satu obat diatas KBA, PB, PHT, PRM KBA, PB, PHT, PRM LB, KNZ, Val LB, KNZ, Val KLB, KNZ, KNZ ESM, KLB,NTZ Pilihan pertama Pilihan kedua

KBA : Karbamazepin (7-15 mg/kgBB/Hr PHT : Phenitoin (5mg/kgBB/Hr) Val : Valproat (15-60mg/KgBB/Hr) KLB : Klobazam NTZ : Nitrazepam

PNB : Phenobarbital (1-5mg/kgBB/Hr) PRM : Primidone (10-25 mg/kgBB/Hr) ESM : Ethosuksimide (20-40mg/kgBB/Hr ) KNZ : Klonazepam (Awal : 0,01-0,03 mg/kgBB/Hr Lanjut : 0,1-0,2 mg/kgBB/Hr)

Diagnosis Banding Serangan anoksia, sinkop, Breath Holding spell, Hyperventilasi sindrom, Histeri, Migren, Vertigo berkala, abdominal pain, narkolepsi, kataplexy, tics doloreux.

8. STATUS EPILEPSI Definisi Merupakan suatu keadaan klinik yang ditandai dengan serangan kejang berkesinambungan atau berulang dengan frekuensi sedemikian tingginya tidak pulih kesadarannya diantara serangan. Klasifikasinya

a. Status epileptikus konvulsivus : dimana kejang tonik klonik berulang berlanjut b. Status epileptikus non konvulsivus : pasien menunjukkan serangan absence atau partial complex c. Epilepsi partialis kontinue : dimana serangan partial sederhana berlangsung tanpa hilangnya kesadaran Faktor penyebab Tumor otak, infark serebri, trauma, meningitis, ensefalitis atau abses otak, atau penglihatan, penghentian obat0\-obat anti epilepsi secara mendadak. Faktor Pencetus Yang paling sering adalah minum obat tidak teratur atau penghentian obat mendadak, gejala Withdrawal peminum alkohol atau pecandu obat penenang, infeksi sistemik atau gangguan metabolik dengan akibat gangguan keseimbangan elektrolit. Terapi a. Jalan napas dibersihkan dan oksigen diberikan b. Pemeriksaan elektrolit, kimia dan dosis antikonvulsan dalam darah c. Larutan glukosa 50% 50 ml IV d. Diazepam IV dengan kecepatan 0,5ml/menit dan dilanjutkan sampai serangan berhenti atau sampai dosis maksimum 60-80 mg. e. Phenytoin bersamaan dengan diazepam atau segera setelah serangan berhenti. Takaran yang diberikan 16-18 mg/kgBB, disuntikkan

perlahanlahan dengan kecepatan kurang dari 50 mg/menit f. Bila pH darah kurang dari 7,21 dapat diberi 100 mEq NaCO3 Standar Tenaga a. Spesialis saraf b. EEG : Ahli neurofisiologik klinik c. CSS : Ahli neuropatologik klinik d. Laboratorium terkait e. Pada kasus tertentu : perawatan intensif (ICU), spesialis pennyakit dalam, dokter umum (jika spesialis terkait tidak ada)

Lama perawatan a. Status epileptikus pada grand mal epilepsi : segera setelah status epileptikusnya teratasi, pada umumnya 1-3 hari b. Status epileptikus pada epilepsi fokal : tergantung kausanya. Pada umumnya 3-4 minggu Komplikasi a. Defisit neurologik permanen b. Gangguan keseimbangan asam/ basa, elektrolit c. Gangguan pernapasan

9. LOW BACK PAIN/ HERNIA NUKLEUS PULPOSUS Definisi Protusi Nukleus Pulposus ke arah posterio Lateralis Lumbalis yang pada akhirnya menekan Radiks medula Spinalis pada segmen Lumbalis Kriteria diagnosis a. Nyeri pinggang bawah yang secara tiba-tiba b. Adanya riwayat mengangkat beban berat Kausa Trauma Gejala dan tanda klinis a. Nyeri pada pinggang bawah b. Nyeri menjalar (radikular) c. Nyeri dapat diprovokasi dengan batuk, bersin dan mengejan d. Adanya sensasi paraestesi sesuai dermatom e. Adanya kelemahan (parese) tungkai bawah f. Spasme otot lumbalis Pemeriksaan a. Nyeri tekan regio lumbalis b. Laseque sign (+) < 40 c. Sikap kaki fleksi pada sendi lutut d. Sikap tubuh berjalan fleksi tubuh kearah sisi yang sehat

e. Adanya parese pada satu/ kedua tungkai bawah f. Adanya sensasi parastesia (kesemutan) Pemeriksaan Penunjang / laboratorium a. Foto polos vertebra lumbalis (posisi anterior posterior, lateral, oblique) b. Myelography lumbalis c. Myelo CT-scan d. Magnetic Resonance Imaging e. Diskografi f. Pemeriksaan serum : Calcium, phosphatase, alkaline dan glukosa g. Lumbal pungsi (LP) h. Elektro Myografi (EMG) Pengobatan a. Terapi Konservatif Tirah baring ( 4 minggu) Traksi dan dhiatermi Analgesik Non Steroid Inflamatory drug (NSAID) Korset Lumbal Exercise (memperkuat otot lumbal)

b. Terapi Operatif Multiple HNP Adanya parese satu/ kedua tungkai bawah (para parese inferior)

Diagnosis banding a. Tumor Medula spinalis b. Spondilosis Lumbalis c. Spondilolistesis lumbalis d. Kanalis stenosis lumbalis Standar tenaga a. Satu dokter spesialis saraf b. Tiga tenaga perawat

Lama perawatan Penderita dirawat 4-8 minggu Efek samping pengobatan a. Gastritis (efek samping NSAID) b. Luka bakar saat dhiatermi Kepustakaan Bohr, T., 1996. Problems with myofasial pain syndrome and fibromyalgia syndrome. Neurology, 46: 593-97 David, AN., 1995. Fibromyalgia : a guide for patients. Midelfort Clinic. EAU Claire, WI. Isbagio, H., 1995. Masalah nyeri kejang otot pada penderita penyakit rematik. Cermin Dunia kedokteran. 104: 24-31 James, S. 1994. Issues of Injury: Fibromyalgia. Fibromyalgia. 8:2: 1-4 Krsnich-Shriwise, S. 1997. Fibromyalgia syndrome: An overview. Phys. Ther. 77:68-75