Anda di halaman 1dari 30

KAJIAN KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN JATI DI KECAMATAN AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S1)

Disusun Oleh : HENDY INDRA SETIAWAN 0901010088

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO 2013

vii

ABSTRACT The research entitled A Study of Land Appropriateness for Teak Trees in Ajibarang, Banyumas was aimed to know the level of the land appropriateness for teak trees in Ajibarang Banyumas. The research method used was by survey method with area sampling method and laboratory analysis. The primary data was obtained from survey and laboratory analysis whereas the secondary data was obtained from some institutions. The data analysis was by matching to know the appropriateness level of land for teak trees in Ajibarang subdristrict, Banyumas regency. The result of the research showed that the appropriateness level of land for teak trees was dominated in the N1 level or not appropriate temporarily. The result of this research was supposed to be able to inform the society about the direction of the utilization of land for teak and to prevent from landslide.

Key Words : The land Appropriateness, Land Evaluation, Land Characteristic, Land Quality.

viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang sangat pesat menyebabkan munculnya berbagai gejala sosial dan perubahan dalam masyarakat, hal ini memerlukan kesiapan diri dari sumberdaya manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mendorong kemampuan manusia untuk lebih memanfaatkan lingkungan alam, yang akan terus mengalami peningkatan. Segala sesuatu yang telah diciptakan oleh manusia dalam berbagai aktivitasnya, tidak akan lepas dari pengaruh sumberdaya, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia maupun peningkatan kebutuhan ekonomi. Dengan terbatasnya sumberdaya pemenuhan kebutuhan manusia, maka manusia harus dapat memanfaatkan sumberdaya alam yang ada semaksimal mungkin, dengan tidak merusaknya (Adhitya Listiyanto, 2008 hal : 2 ). Darmawijaya (1990) dalam Adhitya Listiyanto (2008 hal : 2), Tanah adalah salah satu faktor penting dalam studi geografi, tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas yang menduduki sebagian permukaan planet bumi yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap batuan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Lahan merupakan sumberdaya yang sangat penting untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, sehingga dalam pengelolaannya harus sesuai dengan

kemampuannya agar tidak menurunkan produktivitas lahan dengan salah satu jalan

perencanaan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya. Dalam penggunaan lahan sering tidak memperhatikan kelestarian lahan terutama pada lahan lahan yang mempunyai keterbatasan-keterbatasaan baik keterbatasan fisik maupun kimia (Didi Yuda Sutanto, 2008 hal : 1). Evaluasi lahan adalah suatu proses penilaian sumber daya lahan untuk tujuan tertentu dengan menggunakan suatu pendekatan atau cara yang sudah teruji. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan sesuai dengan keperluan (Ritung, 2007 hal: 1). Kecamatan Ajibarang terletak di bagian utara Kabupaten Banyumas, sekitar 18 km dari kota Purwokerto. Kecamatan Ajibarang terdiri dari 15 desa yaitu Ajibarang Kulon, Ajibarang Wetan, Banjarsari, Ciberung, Darmakradenan, Jingkang, Kalibenda, Karangbawang, Kracak, Lesmana, Pancasan, Pancurendang, Pandansari, Sawangan, Tipar Kidul. Jati (Tectona Grandis L. F) merupakan suatu jenis tanaman yang cukup mendominasi hutan di Indonesia. Tanaman ini sangat baik dibudidayakan di Indonesia, karena kondisi alam yang tropis. Jenis tanaman ini sangat potensial dikembangkan pada hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi, hutan pegunungan, hutan tanaman industri, lahan kering tidak produktif, lahan basah tidak produktif, lahan pertanian dan perkebunan (Departemen Kehutanan dan Perkebunan Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, 1999 dalam Adhitya Listyanto, 2008 hal : 5).

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti mengadakan penelitian yang berjudul Kajian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Jati di Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut : 1.2.1. Bagaimana karakteristik dan kualitas lahan di daerah penelitian ? 1.2.2. Bagaimana tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman jati di daerah penelitian ? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Mengetahui karakteristik dan kualitas lahan di daerah penelitian. 1.3.2. Mengetahui tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman jati di daerah penelitian. 1.4. Manfaat / Kegunaan Penelitian 1.4.1. Dapat memberikan informasi mengenai karakteristik dan kualitas lahan di daerah penelitian. 1.4.2. Dapat memberikan informasi mengenai tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman jati di daerah penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Bentuklahan Sukmantalya (1995) dalam I Gede Sugiyanta (2002 hal: 1), Bentuklahan adalah suatu kenampakan medan yang terbentuk oleh proses alami yang memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual dengan julat tertentu yang terjadi dimanapun bentuklahan tersebut terdapat. Berdasarkan klasifikasi yang dikemukaan oleh Van Zuidam (1969) dan Verstappen maka bentuk muka bumi dapat diklasifikasikan menjadi 9 satuan bentuklahan utama (geomorfologi), yang dapat masing-masing dirinci lagi berdasarkan skala peta yang digunakan. Adapun satuan bentuklahan tersebut menurut Van Zuidam (1969) dan Verstappen adalah sebagai berikut. 1. Bentuklahan asal struktural (S) Bentuklahan struktural terbentuk karena adanya proses endogen atau proses tektonik, yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran. Gaya (tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun), dan pada awalnya hampir semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh kontrol struktural. Bentuklahan asal struktural adalah sebagai berikut. a. Pegunungan blok sesar (simbol : S1) b. Gawir sesar (simbol : S2) c. Pegunungan antiklinal (simbol : S3) d. Perbukitan antiklinal (simbol : S4) e. Perbukitan atau pegunungan sinklinal (simbol : S5)

f. Pegunungan monoklinal (simbol : S6) g. Pegunungan atau perbukitan kubah (simbol : S7) h. Pegunungan atau perbukitan plato (simbol : S8) i. Lembah antiklinal (simbol : S9)

j. Hogback atau cuesta (simbol : S10) 2. Bentuklahan asal denudasional (D) Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses pelapukan gerakan tanah erosi dan kemudian diakhiri proses pengendapan. Semua proses pada batuan baik secara fisik maupun kimia dan biologi sehingga batuan menjadi desintegrasi dan dekomposisi. Batuan yang lapuk menjadi soil yang berupa fragmen, kemudian oleh aktifitas erosi soil dan abrasi, tersangkut ke daerah yang lebih landai menuju lereng yang kemudian terendapkan. Pada bentuklahan asal denudasional, maka parameter utamanya adalah erosi atau tingkat. Derajat erosi ditentukan oleh : jenis batuannya, vegetasi, dan relief. Bentuklahan asal denudasional adalah sebagai berikut. a. Pegunungan terkikis (simbol : D1) b. Perbukitan terkikis (simbol : D2) c. Bukit sisa (simbol : D3) d. Perbukitan terisolir (simbol : D4) e. Dataran nyaris (simbol : D5) f. Kaki lereng (simbol : D6) g. Kipas rombakan lereng (simbol : D7) h. Gawir (simbol : D8) i. Lahan rusak (simbol : D9)

3. Bentuklahan asal gunungapi/vulkanik (V) Vulkanisme adalah berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan magma yang bergerak naik ke permukaan bumi. Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuklahan yang secara umum disebut bentuk lahan gunungapi atau vulkanik. Bentuklahan asal gunungapi adalah sebagai berikut. a. Kepundan (simbol : V1) b. Kerucut gunungapi (simbol : V2) c. Lereng gunungapi (simbol : V3) d. Kaki gunungapi (simbol : V4) e. Dataran kaki gunungapi (simbol : V5) f. Dataran kaki fluvio gunungapi (simbol : V6) g. Padang lava (simbol : V7) h. Lelehan lava (simbol : V8) i. j. Aliran lahar (simbol : V9) Dataran antar gunungapi (simbol : V10)

k. Leher gunungapi (simbol : V11) l. Boca (simbol : V12)

m. Kerucut parasiter (simbol : V13) 4. Bentuklahan asal fluvial (F) Bentuklahan asal proses fluvial terbentuk akibat aktivitas aliran sungai yang berupa pengikisan, pengangkutan dan pengendapan (sedimentasi) membentuk bentukan-bentukan deposisional yang berupa bentangan dataran aluvial (Fda) dan bentukan lain dengan struktur horisontal, tersusun oleh material sedimen berbutir halus. Bentuklahan asal fluvial adalah sebagai berikut.

a. Dataran aluvial (simbol : F1) b. Rawa, danau, rawa belakang (simbol : F2) c. Dataran banjir (simbol : F3) d. Tanggul alam (simbol : F4) e. Teras sungai (simbol : F5) f. Kipas aluvial (simbol : F6) g. Gosong (simbol : F7) h. Delta (simbol : F8) i. Dataran delta (simbol : F9) 5. Bentuklahan asal pelarutan (K) Bentuklahan karst dihasilkan oleh proses pelarutan pada batuan yang mudah larut. Karst adalah suatu kawasan yang mempunyai karekteristik relief dan drainase yang khas, yang disebabkan keterlarutan batuannya yang tinggi.Dengan demikian Karst tidak selalu pada batu gamping, meskipun hampir semua topografi karst tersusun oleh batu gamping. Bentuklahan asal pelarutan adalah sebagai berikut. a. Dataran karst (simbol : K1) b. Kubah karst (simbol : K2) c. Lereng perbukitan (simbol : K3) d. Perbukitan sisa karst (simbol : K4) e. Uvala atau polye (simbol : K5) f. Ledok karst (simbol : K6) g. Dolina (simbol : K7)

2.2. Karakteristik, Kualitas Lahan, dan Syarat Tumbuh Tanaman 2.2.1. Karakteristik Lahan Karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau diestimasi. Contoh kemiringan lereng, curah hujan, tekstur tanah, kapasitas air tersedia, kedalaman efektif dan sebagainya (Tim Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1993 hal : 6). Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan,tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO, 1976) dalam Djaenudin et al., (2000). Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama, yaitu topografi, tanah dan iklim. Karakteristik lahan tersebut (terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung, 2007). Sebagaimana dikemukakan oleh Ritung (2007) sebagai berikut: 1. Topografi Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. 2. Tanah Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya drainase tanah, tekstur, kedalaman tanah dan retensi hara (pH, KTK/Kapasitas Tukar Kation), serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas, bahaya erosi, dan banjir/genangan.

3. Iklim a. Suhu udara Tanaman kina dan kopi, misalnya, menyukai dataran tinggi atau suhu rendah, sedangkan karet, kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia, suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. Semakin tinggi tempat, semakin rendah suhu udara rata-ratanya. Suhu udara rata-rata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. b. Curah hujan Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1 (satu) hari, yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan, sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu, misalnya setiap menit, setiap jam, dan seterusnya (Ritung, 2007 hal : 6). Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan, jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm, sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan, terutama untuk padi.

10

Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A, B, C, D dan E). Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim berdasarkan curah hujan yang berbeda, yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan. 2.2.2. Kualitas Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan (performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics). Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO, 1976) dalam Djaenudin et al., (2000). Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air, oksigen, unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal, seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan, seperti respon terhadap pemupukan, kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi.

11

2.2.3. Syarat Tumbuh Tanaman Jati Jati merupakan salah satu jenis tanaman yang mendominasi hutan di Indonesia. Tanaman ini sangat baik dibudidayakan di Indonesia. Pasalnya, kondisi cuaca dan lingkungan yang tropis sangat mendukung untuk pertumbuhan jati. Jenis tanaman ini dapat ditanam di berbagai kondisi lahan dan lingkungan, seperti hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi, hutan pegunungan, hutan tanaman industri, lahan kering tidak produktif, lahan basah tidak produktif, dan lahan perkebunan (Departemen Kehutanan dan Perkebunan Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, 1999 dalam Adhitya Listyanto, 2008 hal : 5). Sementara itu, curah hujan optimum yang diperlukan untuk pertumbuhan jati sekitar 1.000-1.500 mm/tahun. Curah hujan berpengaruh terhadap sifat gugurnya daun dan kualitas fisik kayu. Secara alamiah, jati akan menggugurkan daunnya saat musim kemarau, lalu tumbuh kembali pada musim hujan. Di daerah yang memiliki kemarau yang panjang, jati akan menggugurkan daunnya dan menghasilkan lingkaran tahun yang artistik. Kayu jati yang berasal dari daerah ini memiliki struktur kayu yang lebih kuat dan dikelompokkan ke dalam jenis kayu mewah ( fancy wood) atau kayu kelas I. Di daerah yang curah hujannya tinggi, tanaman jati tidak menggugurkan daun dan lingkaran tahunnya kurang menarik, karena itu kualitas kayunya lebih rendah dibandingkan dengan daerah yang memiliki kemarau panjang (Yana Sumarna, 2001 dalam Adhitya Listyanto, 2008 hal : 5). Berikut adalah Tabel 2.1. menyajikan syaratan tumbuh tanaman jati.

12

Tabel 2.1. Syaratan Tumbuh Tanaman Jati Faktor S1 *Temperatur (t) -Rata-rata tahunan (C) *Ketersediaan air (w) -Bulan kering(<75mm) -Curah hujan (mm) *Media perakaran (r) -Drainase tanah -Tekstur 25-<30 Tingkat Kesesuaian Lahan S2 S3 N1 30-<35, 21-<25 Td 2000<2250 Sedang SL,StrC Td Td N2 <21 >35

<5 1500<2000 Baik L,C,SiC L,SiL SC,SiC = 150

Td 2250<2500 Agak Buruk LS.Liat masif

Td -

=5, <1 =2500, <1000 Sangat Buruk Kerikil, pasir <50

Buruk Td

-Kedalaman efektif 100-<150 75-<100 50-<75 (cm) *Retensi hara (f) pH tanah 5,5-7,0 7,0-<7,5 7,5-<8,0 Td *Kegaraman (c) -Salinitas (mhos/cm) <4 4-<8 Td Td *Potensi Mekanisasi (s) Lereng (%) <8 8-<15 15-<30 30-<50 -Batuan Permukaan <10 10-<15 15-<25 25-<40 (%) -Singkapan batuan <10 10-<15 15-<25 25-<40 *Tingkat bahaya erosi SR R S B (e) *Bahaya banjir (b) F0 F1 F2 F3 Sumber : Tim Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1993 hal : 104 2.3. Kesesuaian Lahan

<4,5=8,0 =8 =50 =40 =40 SB F4

Kesesuaian lahan adalah kecocokan suatu lahan untuk penggunaan tertentu, sebagai contoh lahan sesuai untuk irigasi, tambak, pertanian tanaman tahunan atau pertanian tanaman semusim. Lebih spesifik lagi kesesuaian lahan tersebut ditinjau dari sifat lingkungan fisiknya yang terdiri dari iklim, tanah, topografi, hidrologi dan atau drainase sesuai untuk suatu usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif (Tim Pusat Penelitian tanah dan Agroklimat, 1993 hal : 8)

13

Klasifikasi kesesuaian lahan menurut metode FAO (1976) dalam Djaenudin et al., (2000) dapat dipakai untuk klasifikasi kesesuaian lahan kuantitatif maupun kualitatif, tergantung dari data yang tersedia. Klasifikasi lahan kuantitatif adalah kesesuaian lahan yang ditentukan berdasar atas penilaian karakteristik (kualitas) lahan secara kuantitatif (dengan angka-angka) dan biasanya dilakukan juga perhitunganperhitungan ekonomi (biaya dan pendapatan), dengan memperhatikan aspek pengolahan dan produktifitas lahan (Hardjowigeno, 2003 dalam Muhamad Yusuf Hidayat, 2006 hal : 4). Menurut FAO (1976) dalam Adhitya Listanto (2008) dalam penentuan kesesuaian lahan ada beberapa cara yaitu : perkalian parameter, penjumlahan atau dengan menggunakan hukum minimum yaitu membandingkan ( matching) antara kualitas dan karakteristik lahan sebagai parameter dengan kriteria kelas kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan atau persyaratan tumbuh yang dievaluasi. Hardjowigeno (2003) dalam Muhamad Yusuf Hidayat (2006 hal : 5 ) Kelas kesesuaian lahan ditentukan oleh faktor fisik (karakteristik/kualitas lahan) yang merupakan faktor penghambat terberat. Penilaian kesesuaian lahan terdiri dari 4 kategori yang merupakantingkatan generalisasi yang bersifat menurun yaitu : 1. Orde kesesuaian lahan (order) : menunjukkan jenis/macam kesesuaian atau keadaan secara umum. 2. Kelas kesesuaian lahan (class) : menunjukkan tingkat kesesuaian lahan dalam ordo.

14

3. Sub kesesuaian lahan ( su class) : menunjukkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. 4. Satuan kesesuaian lahan (unit) : menunjukkan kesesuaian lahan pada tingkat ordo yang menunjukkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Ordo kesesuaian lahan dibagi menjadi dua, yaitu : a. Ordo S : Sesuai (suitable ). Lahan yang termasuk ordo ini adalah lahan yang dapat digunakan untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari atanpa atau sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahan. b. Ordo N : Tidak sesuai (not suitable ) Lahan yang termasuk ordo ini mempunyai pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah suatu penggunaan secara lestari. 2.4. Penelitian sebelumnya Iwan Setyawan (2008), dalam penelitiannya yang berjudul Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Jati (Tectona grandis) di Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas adapun tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui karakteristik dan kualitas lahan di daerah penelitian dan mengetahui tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman jati di daerah penelitian. Metode yang digunakan adalah metode survey dan pengambilan sampel area random dan sampling dan analisa laboratorium tanah Unsoed. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu tingkatkesesuaian lahan untuk tanaman jati yang meliputi kelas S 1 (sangat sesuai), S 2 (sesuai), S 3 (sesuai secara marjinal), N 1 (tidak sesuai sementara), dan N 2 (tidak sesuai secara permanen).

15

Muhamad Yusuf Hidayat (2006), dalam penelitiannya yang berjudul Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Sengon ( Paraserianthes falcataria (L) Nielsen ) pada beberapa satuan kelas lereng ( Studi Kasus di Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung, Jawa Barat ) bertujuan untuk mengetahui kelas kesesuaian lahan aktual dan potesial jenis tanaman Sengon ( Paraserianthes falcataria) pada beberapa Satuan Kelas Lereng di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah metode pengambilan sampel stratified area random sampling. Teknik analisis datanya adalah matching yaitu membandingkan antara kualitas dan karakteristik lahan pada setiap satuan lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman Sengon. Untuk memperjelas perbandingan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang dilakukan peneliti dapat dilihat dalam Tabel 2.2. 2.5. Landasan Teori Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. Dalam kaitannya dengan tanaman, secara umum sering dibedakan antar dataran rendah (700 m dpl.) dan dataran tinggi (>700 m dpl.). Dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut, maka temperatur semakin menurun, demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman, misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Tanaman karet, sawit, dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah.

16

Tabel 2.2. Perbandingan Antar Penelitian Nama Peneliti Iwan Setyawan 2011 Judul Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Jati (Tectona grandis) di Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas Tujuan Penelitian Mengetahui kualitas dan karakteristik lahan di daerah penelitian dan mengetahui tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman jati di daerah penelitian untuk mengetahui kelas kesesuaian lahan actual dan potesial jenis tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria) pada beberapa Satuan Kelas Lereng di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Mengetahui karakteristik dan kualitas lahan di daerah penelitian dan mengetahui tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman jati di daerah penelitian Metode Penelitian Metode survey dan pengambilan sampel area random dan sampling dan analisa laboratorium tanah unsoed Metode survey dengan metode pengambilan sampel stratified area random sampling

Muhamad Yusuf Hidayat 2006

Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) pada beberapa satuan kelas lereng ( Studi Kasus di Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung, Jawa Barat )

Hendy Indra Setiawan 2012

Kajian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Jati di Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas

Metode Survey dengan teknik pengambilan sample area sampling

Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Beberapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan, suhu, dan kelembaban. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya, maka dalam uraian

17

iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah, drainase tanah, tekstur, kedalaman tanah dan retensi hara (pH, KTK), serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas, bahaya erosi, dan banjir/genangan. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. Evaluasi lahan adalah suatu proses penilaian sumber daya lahan untuk tujuan tertentu dengan menggunakan suatu pendekatan atau cara yang sudah teruji. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan sesuai dengan keperluan. 2.6. Kerangka Pikir Lahan adalah suatu area dipermukaan bumi dengan sifat-sifat tertentu yaitu dalam hal sifat atmosfer, geologi, geomorfologi, pedologi, hidrologi, vegetasi dan penggunaan lahan. Penggunaan lahan diartikan sebagai bentuk kegiatan manusia terhadap lahan, termasuk didalamnya keadaan alamiah yang belum terpengaruh oleh kegiatan manusia. Langkah awal dalam proses penggunaan lahan yang rasional adalah dengan cara melakukan evaluasi lahan sesuai dengan tujuannya. Tanaman jati merupakan satu jenis tanaman yang mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan tanaman kayu jenis lainnnya. Ciri khas karena kekuatan dan kemewahan inilah yang membuat tanaman jati memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga banyak petani yang melakukan pembudidayaantanaman jati baik secara konvensional maupun secara vegetatif melalui kultur jaringan dan kultur tunas.

18

Dalam penananam jati tentu tidak terlepas dari suatu resiko, untuk mengurangi resiko tersebut maka perlu diadakannya evaluasi kesesuaian lahan terhadap suatu wilayah untuk tanaman jati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian lahan yang ada dengan tanaman jati di daerah penelitian. Hasil dari evaluasi lahan tersebut akan memberikan suatu alternative penggunaan lahan dan batas-batas kemungkinan penggunaannya serta tindakan-tindakan pengelolaan yang diperlukan agar dapat dipergunakan secara lestari sesuai dengan hambatan dan pembatas yang ada. Kecocokan atau kesesuaian lahan akan sangat dipengaruhi oleh sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, topografi serta ketinggian tempat. Untuk kesesuaian lahan pada kategori subkelas bagi tanaman jati harus diketahui syarat tumbuh tanaman terlebih dahulu, persyaratan tersebut terdiri dari temperatur tahunan rata-rata, tekstur tanah, kedalaman perakaran, pH tanah, salinitas serta kemiringan lereng. Pengamatan dan pengukuran dilapangan serta dilengkapi data dengan sampel tanah dengan analisis laboratorium dilakukan untuk memperoleh data tentang sifat tanah pada setia satuan lahan.Sehingga dengan data yang diperoleh tersebut maka dapat diketahui karakteristik dan kualitas lahan pada masing-masing satuan lahan. Untuk suatu penggunaan lahan tertentu maka harus dilakukan pembandingan antara kesesuaian lahan dengan persyaratan tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman yang akan dibudidayakan, dalam penelitian ini tanaman yang akan diteliti adalah tanaman Jati sehingga akan didapatkan kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jati.

19

Untuk mempermudah pemahaman dalam penelitian ini, maka disusun diagram alir penelitian sebagai berikut :`

KONDISI FISIK WILAYAH

BENTUKLAHAN

KARAKTERISTIK LAHAN

KUALITAS LAHAN

SYARAT TUMBUH TANAMAN JATI

TINGKAT KESESUAIAN LAHAN

PETA KESESUAIAN LAHAN TANAMAN JATI

Gambar 2.1. Kerangka Pikir 2.7. Hipotesis Berdasarkan kerangka teori tersebut, maka hipotesisnya adalah Bentuklahan yang ada di daerah penelitian > 50% sesuai untuk syarat tumbuh tanaman jati .

20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat 3.1.1. Waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada bulan Mei 2012 hingga Februari 2013. 3.1.2. Tempat Penelitian Tempat dalam penelitian ini yaitu Kecamatan Ajibarang yang terdiri dari 15 Desa. 3.2. Alat dan Bahan Alat Bahan : pH meter, meteran/penggaris, bor tanah, abney level, palu Geologi : Peta RBI, Peta lereng, Peta penggunaan lahan, Peta jenis batuan, Peta jenis tanah, Peta satuan bentuklahan. 3.3. Variabel Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi). 3.3.1. Variabel Independen 3.3.2. Variabel dependen 3.4. Populasi dan Sampel 3.4.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah 8 satuan bentuklahan. 3.4.2. Sampel Pengambilan sampel penelitian ini yaitu satuan bentuklahan di kecamatan Ajibarang di Kabupaten Banyumas (Area sampling). Seluruh wilayah penelitian : Kualitas lahan : Syarat tumbuh tanaman jati

20

21

yang terdapat dalam peta atau potret udara dibagi dalam segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian (Singarimbun dan Effendi, 2008, hal: 168). Faktor keterjangkauan mempengaruhi pengambilan titik sampel, satuan bentuklahan yang sulit dijangkau diwakili dengan sampel yang mudah dijangkau, karena jarak antarlahan tidak terlalu jauh jadi hanya diambil sampelnya yang kemungkinan bentuklahannya sama. 3.5. Jenis Data Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. 3.5.1. Data Primer Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data primer yaitu : (1) metode survai dan (2) metode observasi. Penelitian survai dapat digunakan untuk maksud (1) penjajagan (eksploratif), (2) deskriptif, (3) penjelasan ( explanatory atau confirmatory), yakni untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesa, (4) evaluasi, (5) prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan dating, (6) penelitian operasional, dan (7) pengembangan indikator-indikator sosial

(Singarimbun dan Effendi, 2008, hal: 4). Data Kualitas lahan yang diperoleh berupa kedalaman efektif tanah (solum tanah), kemiringan lereng, singkapan batuan, batuan permukaan, tingkat bahaya

22

banjir, tingkat bahaya erosi, drainase, tekstur tanah, pH tanah dan Salinitas. Tiga data terakhir diperoleh dengan cara mengambil sampel tanah pada daerah penelitian kemudian diteliti di laboratorium tanah Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). 3.5.2. Data Sekunder Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Data sekunder pada penelitian ini diantaranya peta jenis tanah (Bappeda), peta satuan bentuklahan, peta kemiringan lereng, peta jenis batuan, peta bahaya longsor, peta penggunaan lahan, Kecamatan Ajibarang (Suwarno dan Sutomo, 2012), curah hujan di Kecamatan Ajibarang yang terjadi setiap tahunnya. Data diambil dalam rentang waktu 10 tahun yaitu 2002 hingga 2011 yang diambil di Kantor Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit Kabupaten Banyumas. 3.6. Cara Pengumpulan Data 3.6.1. Data Primer 1. Pengukuran profil tanah untuk mengetahui ketebalan efektif (solum tanah). 2. Pengukuran kemiringan lereng dengan menggunakan alat yang disebut Abney level.

23

3. Pengamatan langsung kondisi tanah apakah terdapat singkapan batuan atau tidak. Jika singkapan batuan tidak teramati oleh kasat mata bisa dengan cara menggali tanah beberapa centimeter menggunakan palu penelitian. 4. Pengamatan langsung pada suatu lahan untuk mengetahui batuan permukaan. 5. Pengukuran tekstur tanah, salinitas dan pH tanah dengan mengambil sampel tanah pada lokasi penelitian kemudian diamati pada laboratorium tanah Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). 6. Pengukuran Drainase. 7. Pengamatan langsung kondisi lapangan apakah terdapat kenampakan erosi atau tidak. 3.6.2. Data Sekunder Data ini berupa curah hujan yang diperoleh dari kantor Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Kabupaten Banyumas, peta jenis tanah (Bappeda), serta peta satuan bentuklahan, peta kelas bahaya, peta kemiringan lereng, peta jenis batuan, dan peta penggunaan lahan Kecamatan Ajibarang dalam penelitian Suwarno dan Sutomo, 2012. 3.7. Cara Pengolahan Data Data diolah dengan mengklasifikasikan data yang diperoleh dari lapangan dengan mengacu pada masing-masing tabel kelas karakteristik lahan, diantaranya yaitu :

24

3.7.1. Kelas lereng Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Kelas lereng dibagi menjadi 7 tingkatan seperti yang disajikan pada Tabel 3.1. berikut ini. Tabel 3.1. Bentuk wilayah dan kelas lereng Bentuk wilayah Datar Berombak/agak melandai Bergelombang/melandai Berbukit Bergunung Bergunung curam Bergunung sangat curam Sumber : Ritung Sofyan,dkk. 2007 hal 13 3.7.2. Kelas Drainase Drainase adalah kondisi mudah tidaknya air hilang dari permukaan tanah yang mengalir melalui aliran permukaan (run off) atau melalui peresapan ke dalam tanah. Tabel 3.2. Klasifikasi Drainase Tanah
Ciri-ciri Air lebih segera keluar dari tanah dan sangat sedikit air yang ditanah sehingga tanah akan segera mengalami kekurangan air. 2 Baik Tanah mempunyai peredaran udara yang baik. Seluruh profil tanah dari atas sampai bawah (150) berwarna terang yang seragam dan tidak bercak kuning,coklat, kelabu 3 Sedang Tanah mempunyai peredaran udara yang baik di daerah perakaran. Tidak terdapat bercak berwarna kuning, coklat atau kelabu pada lapisan atas dan bagian lapisan bawah (sekitar 60cm dari permukaan tanah) 4 Agak buruk Lapisan tanah atas mempunyai peredaran udara yang baik. Tidak terdapat bercak berwarna kuning, coklat atau kelabu. Bercakbercak terdapat pada seluruh bagian bawah. 5 Buruk Bagian bawah lapisan atas terdapat warna atau bercak berwarna kelabu, coklat dan kuning 6 Sangat Buruk Seluruh lapisan sampai permukaan tanah berwarna kelabu dan tanah lapisan bawah berwarna kelabu atau terdapat bercak berwarna kebiruan atau terdapat air yang mengenang dipermukaan tanah dalam waktu yang lama sehingga menghambat pertumbuhan. Sumber : Arsyad, 1989 dalam Aditya Listiyanto, 2008 hal : 20 No Kelas 1 Berlebihan Kelas lereng (%) <3 3-8 8-15 15-30 30-40 40-60 > 60

25

3.7.3. Kelas tekstur tanah Tekstur tanah adalah perbandingan relatif ( % ) antara fraksi pasir, debu dan lempung. Tekstur tanah dibagi menjadi dua belas macam kelas tekstur seperti yang disajikan pada Gambar 3.1. berikut ini. Gambar 3.1. Diagram Kelas Tekstur Tanah

Sumber : Madjid, 2010 3.7.4. Kelas pH tanah Merupakan derajat keasaman dan kebasaan tanah yang pengukurannya didasarkan pada banyaknya konsentrasi ion hydrogen yang larut dalam tanah, tanah yang sangat asam sebagai pembatasnya. Keasaman tanah (pH) dibagi menjadi delapan tingkatan seperti yang disajikan pada Tabel 3.3. berikut ini. Tabel.3.3. Tingkat Keasaman Tanah (pH) No Reaksi tanah pH 1 Paling asam ( ekstrim ) < 4,0 2 Sangat asam 4,0 4,5 3 Asam > 4,5 5,5 4 Agak asam > 5,5 6,5 5 Netral > 6,5 7,5 6 Agak basa > 7,5 8,5 7 Basa > 8,5 9,0 8 Sangat basa > 9,0 Sumber : Djoehana Setyamidjaja (1986) dalam Adhitya Listyanto, 2008 hal : 19

26

3.7.5. Kelas Salinitas Tanah Salinitas adalah tongkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Tabel 3.4. Kelas Salinitas Tanah Kandungan (%) mhos/cm 0-<0,15 0-<4 1 Bebas 0,15-<0,35 4-<8 2 Terpengaruh sedikit 0,35-<0,65 8-<15 3 Terpengaruh sedang =0,65 =15 4 Terpengaruh berat Sumber : Arsyad, 1898 dalam Adhitya Listyanto, 2008 hal:19 No.
Kelas

3.7.6. Klasifikasi Batuan di Permukaan Tabel 3.5. Klasifikasi Batuan Permukaan No Kelas Persen (%) Tidak ada <0,01 1 Sedikit 0,01-<3 2 Sedang 3-<15 3 Banyak 15-<90 4 Sangat banyak =90 5 Sumber : Arsyad, 1898 dalam Adhitya Listyanto, 2008 hal:21 3.7.7. Kelas Singkapan Batuan Tabel 3.6. Klasifikasi Singkapan Batuan No Kelas Persen (%) Tidak ada <2 1 Sedikit 2-<10 2 Sedang 10-<50 3 Banyak 50-<90 4 Sangat banyak =90 5 Sumber : Arsyad, 1898 dalam Adhitya Listyanto, 2008 hal:21

27

3.7.8. Kelas Tingkat Bahaya Banjir Tabel 3.7. Klasifikasi Bahaya Banjir No Kelas Ciri-ciri 1 Tanpa Dalam periode satu tahun tidak pernah terjadi banjir untuk waktu lebih dari 24 jam 2 Ringan Banjir yang menutupi tanah lebih dari 24 jam terjadi tidak teratur dalam periode waktu kurang dari satu bulan 3 Sedang Selama waktu satu bulan dalam satu tahun tanah secara teratur tertutup banjir untuk jangka waktu lebih dari 24 jam 4 Agak berat Selama 2-5 bulan dalam satu tahun secara teratur tanah selalu dilanda banjir yang lamanya lebih dari 24 jam Sumber : Tim Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1994 dalam Adhitya Listiyanto, 2008 hal : 21 3.7.9. Kelas Kenampakan Erosi Tabel 3.8. Klasifikasi Kenampakan Erosi No Kelas Ciri-ciri 1 Sangat rendah Tidak ada lapisan yang hilang, belum ada erosi 2 Rendah Sebagian tanah atas sudah hilang dan sudah ada alur kecil 3 Sedang Tanah bagian at as dan top soil hilang, sudah adalembahlembah 4 Berbahaya Lapisan tanah atas dan subsoil sebagian besarhilang dan banyak terbentuk lembah 5 Sangat berbahaya Sudah tidak ada lapisan tanah Sumber : Tim Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1994 dalam Adhitya Listiyanto, 2008 hal : 21 3.8. Cara Analisis Data Analisis Data pada penelitian ini dengan menggunakan matching, yaitu dengan cara mencocokan data karakteristik dan kualitas lahan yang diperoleh di lapangan / laboratorium dengan syarat tumbuh tanaman jati.

28

Tabel 3.9. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Jati Faktor S1 *Temperatur (t) -Rata-rata tahunan (C) *Ketersediaan air (w) -Bulan kering(<75mm) -Curah hujan (mm) *Media perakaran (r) -Drainase tanah -Tekstur 25-<30 Tingkat Kesesuaian Lahan S2 S3 N1 30-<35, 21-<25 Td 2000<2250 Sedang SL,StrC Td Td N2 <21 >35

<5 1500<2000 Baik L,C,SiC L,SiL SC,SiC = 150

Td 2250<2500 Agak Buruk LS.Liat masif 75-<100

Td -

=5, <1 =2500, <1000 Sangat Buruk Kerikil, pasir <50

Buruk Td

-Kedalaman efektif (cm) *Retensi hara (f) -pH tanah *Kegaraman (c) -Salinitas (mhos/cm) *Potensi Mekanisasi (s) Lereng (%) -Batuan Permukaan (%) -Singkapan batuan

100-<150

50-<75

5,5-7,0

7,0-<7,5 0-<5,5 4-<8 8-<15 10-<15 10-<15

7,5-<8,0 4,5-<5,0 Td 15-<30 15-<25 15-<25

Td

<4,5 >8,0 =8 =50 =40 =40 SB F4

<4 <8 <10 <10

Td 30-<50 25-<40 25-<40

*Tingkat bahaya erosi SR R S B (e) *Bahaya banjir (b) F0 F1 F2 F3 Sumber : Tim Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1993 hal : 104