Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Siklus Menstruasi Normal Menstruasi dicetuskan oleh peningkatan sekresi progesterone dan estrogen secara tiba-tiba. Aliran menstruasi terdiri dari sel-sel dan jaringan endometrium, darah, serta lendir dan sel-sel dari servik dan vagina. 6 Siklus menstruasi bervariasi menurut durasi, frekuensi, dan intensitas sehingga gangguan pada menstruasi sulit didefinisikan. Wanita yang menderita DUB akan mengalami bermacam-macam jenis perdarahan. Seorang wanita yang mengalami perdarahan lebih dari seminggu, perdarahan lebih dari setiap 3 minggu atau lebih, perdarahan diantara dua periode, atau perdarahan yang sangat banyak sebaiknya periksa ke dokter atau sarana kesehatan lainnya. 6 Setelah menstruasi, peningkatan sekresi estrogen menyebabkan pertumbuhan sel dan regenerasi dari endometrium. Separuh pertama dari siklus menstruasi ini dikenal sebagai fase follikuler. 6 Ovulasi (pelepasan telur dari ovum) normalnya terjadi 2 minggu setelah hari pertama dari siklus menstruasi yang terakhir. Setelah ovulasi, sekresi progesterone menghentikan pertumbuhan dari endometrium, mengimbangi efek pengeluaran estrogen. Jika tidak terjadi pembuahan, produksi progesterone menurun dan perdarahan menstruasi terjadi kembali. 6

Normal terkait haid adalah sangat luas. Masa siklus haid normal berjenjang mulai dari dua hingga enam hari, dengan rata-rata empat hari lamanya. Siklus haid umumnya berakhir dengan haid (datang bulan) setiap 21 hingga 35 hari, dengan kehilangan darah rata-rata 40ml setiap haid. 8

Menstruasi normal dicirikan oleh perubahan perputaran dalam jumlah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari (luteinizing hormon/LH) dan hormon yang merangsang folikel (follicle stimulating hormone/FSH) dan oleh indung telur (estrogen dan progesteron). 8 2

Dysfunctional uterine bleeding (DUB) didefinisikan sebagai kehilangan lebih dari 80ml darah selama siklus dengan masa tidak biasa; menoragia dan DUB keduanya dapat mengakibatkan anemia, atau kekurangan sel darah merah. Dismenore dihubungkan dengan nyeri selama haid, yang dapat berupa keluhan kram tanpa didasari kondisi ginekologi, atau mungkin akibat endometriosis (pertumbuhan endometrius, atau jaringan lapisan rahim, di luar rahim) atau penyakit peradangan panggul (pelvic inflammatory disease/PID). 8 Banyak keadaan yang dapat menyebabkan perdarahan haid yang tidak umum. Fibroid rahim dapat menyebabkan haid berat atau lebih lama. Infeksi saluran kelamin dapat menyebabkan perdarahan yang tidak biasa, umumnya dibarengi dengan tanda infeksi lain, seperti nyeri, cairan keluar dari vagina atau demam. Kanker pada saluran kelamin (kanker rahim, kanker endometrius) juga dapat menyebabkan perdarahan. Kondisi kesehatan lain, termasuk kelainan tiroid dan jumlah trombosit yang rendah, dapat mengganggu siklus haid. Kehilangan berat badan secara besar-besaran atau menjadi kekurangan berat badan dapat menyebabkan kekurangan hormon yang melepaskan gonadotropin untuk pengeluaran LH dan FSH, dan berakibat amenore. Disfungsi hormon yang mengganggu ovulasi (terlepasnya sel telur dari indung telur) juga dapat mengarah pada perdarahan yang tidak biasa. 8

BAB II PEMBAHASAN 2.1 DEFINISI Dysfunctional uterine bleeding (DUB) is heavy or irregular menstrual bleeding that is not caused by an underlying anatomical abnormality, such as a fibroid, lesion, or tumor. 6 Perdarahan abnormal dari uterus (lama, frekuensi dan jumlah) yang terjadi didalam dan diluar siklus, tanpa kelainan organ, hematologi dan kehamilan, dan merupakan kelainan poros hipotalamus hipofisis-ovarium. 9 Kebanyakan kasus DUB berhubungan dengan anovulatory bleeding ( menstruasi yang terjadi tanpa ovulasi). Anovulatory bleeding biasanya terjadi pada wanita yang baru akan mendapat menstruasi dan selama beberapa tahun menjelang menopause. Ketika ovulasi tidak terjadi, jumlah estrogen dan progesterone dalam uterus menurun sehingga terjadilah DUB. Tetapi anovulasi tidak selalu menyebabkan DUB, wanita yang mengalami siklus ovulasi (siklus yang melibatkan ovulasi) juga dapat mengalami DUB. 6 Perdarahan rahim disfungsional paling sering terjadi pada awal dan akhir masa reproduktif; 20% kasus terjadi pada gadis remaja dan lebih dari 50% terjadi pada wanita disfungsional. yang berusia diatas 45 tahun. 75% dari perdarahan rahim yang abnormal merupakan perdarahan rahim

2.2 ETIOLOGI 9 1. a. b. 2. Kerusakan sentral Tumor otak ( Hipofisis ) Gangguan fungsi hypothalamus akibat : stress, ketakutan, anoreksia, nervosa, diet Mekanisme umpan balik yang abnormal a. Kurangnya stimulasi FSH : misalnya pada keadaan hipotiroidisme dan penyakit hati. Kadar estradiol darah tetap tinggi pada permulaan siklus haid
b.

Hilangnya stimulasi LH. Kadar estradiol darah tidak cukup

mempengaruhi Mekanisme umpan balik + dalam memacu lonjakan LH untuk ovulasi 3. Pengaruh local ovarium Estradiol sangat berpengaruh pada kondisi folikel terutama pada resptor gonadotropin dan pada peningkatan atau pematangan serta umur folikel Perdarahan rahim disfungsional disebabkan oleh adanya kelainan hormon yang mempengaruhi pengendalian sistem reproduksi oleh hipotalamus dan kelenjar hipofisa. Pada perdarahan rahim disfungsional biasanya kadar estrogen tetap, sehingga terjadi penebalan lapisan rahim. Selanjutnya lapisan rahim dilepaskan secara tidak lengkap dan tidak teratur, menyebabkan perdarahan. 2.3 Gambaran klinis dari DUB 4

Polymenorrhea (Sering,teratur dengan siklus kurang dari 21 hari) Hypermenorrhea (Perdarahan yang banyak dalam siklus nomal) Menorrhagia (Perdarahan yang lama dan banyak dalam siklus teratur) metrorrhagia (Perdarahan yang terjadi diluar siklus biasanya) menometrorrhagia (Perdarahan yang sering,dengan perdarahan yang banyak serta waktu yang memanjang diluar siklus yang biasanya)

2.4 OVULATORY DUB Ovulatori DUB terjadi dengan melibatkan ovulasi, mungkin dikarenakan terjadi mungkin

disfungsi endokrin sehingga akan mengakibatkan terjadinya menorrhagia atau metorrhagia.Perdarahan pada pertengahan siklus mungkin karena penurunan esterogen,sedangkan perdarahan pada akhir siklus diindikasikan defisiensi progesterone. 3

Ovulasi adalah pelepasan ovum akibat pecahnya folikel de graff. Patofisiologi 9 Ovulasi Normal Perlu koordinasi yang baik system /aksis hypothalamus hipofisis, mekanisme umpan balik dan respon local ovarium. Pada saat haid kadar estradiol dalam darah menurun Memacu produksi GnRH, memacu produksi FSH & LH. FSH perlu bagi perkembangan folikel primer untuk menjadi folikel de graaf. Folikel sendiri memproduksi estradiol, yang dengan FSH memperbanyak respon LH yang berpengaruh terhadap luteinisasi >< ovulasi. Ovulasi terjadi akibat lonjakan LH. Kenaikan kadar estradiol yang mendadak mekanisme umpan balik dan menyebabkan lonjakan

2.5 DUB ANOVULATORY DUB yang terjadi tanpa melibatkan ovulasi. Penyebabnya bisa karena stress physiologic, berat badan (obesitas, anorexia, atau a rapid changes), latihan fisik (exercise), endokrinopati, neoplasma, obat-obatan atau bisa idiopatik.

Normalnya selama siklus menstruasi, produksi dari progesterone dalam 2 minggu kemudian dari suatu siklus mengimbangi efek degenerasi akibat sekresi estrogen, menghentikan penebalan endometrium. Pada siklus anovulasi jumlah estrogen tidak menurun, dan progesterone tidak dihasilkan untuk mengimbangi efek dari sekresi estrogen. 6 Penebalan endometrium tidak bisa dihentikan dan jaringan endometrial terakumulasi dan semakin menebal, menyebabkan perdarahan abnormal yang berat. Selain itu, tanpa progesterone, endometrium tidak mempunyai struktur pendukung dan luruh secara tidak teratur menyebkan perdarahan hebat dengan atau tanpa siklus yang tidak teratur. 6 Periode anovulatori biasanya terjadi dalam 2 atau 3 tahun pertama siklus haid dan selama beberapa tahun menjelang menopause. Lebih dari 80% dari siklus menstruasi pada tahun pertama adalah tipe anovulatory. Pada wanita yang menjelang menopause, mungkin mempunyai 8-10 periode anovulatori dalam periode satu tahun. 6 Wanita yang mengkomsumsi kontrasepsi oral dan terapi pengganti estrogen juga dapat mengalami siklus anovulatori. Pada keadaan stress dan sakit berat bisa juga mejadi penyebab anovulasi. 6 KLINIS DUB ANOVULASI 9 1. 2. test ) 3. 4.
5.

Kurva suhu basal badan monofasik Kelainan lendir serviks, test spinkbarkeit dan uji daun pakis ( Fern Pada biopsy endometrium tidak didapatkan stadium sekresi Laproskopi : tidak didapatkan stigma, korpus rubrum / korpus Pengukuran kadar hormone : FSH, LH, prolaktin, estradiol, Foto tengkorak CT scan / MRI : Tumor atau desakan pada sela

luteum pada ovarii progesterone, T3 dan T4 dalam darah 6. tursika

2.6 Other types of abnormal uterine bleeding 4 Kebanyakan perdarahan berat pada uterus bukan dikarenakan kelainan anatomi. Beberapa kondisi mungkin akan menyebabkan gejala yang sama dengan DUB adalah:

uterine lesions (e.g., fibroids, polyps, cancer) damage from an intrauterine contraceptive device (IUD) pelvic inflammatory disease (bacterial infection of the uterus, fallopian tubes, and other areas of the pelvis) adenomyosis (benign growth of the endometrium into the underlying muscular layer of the uterus) ectopic pregancy (pregnancy that occurs outside of the uterus) hydatid mole (abnormal mass in the uterus caused by a poorly developed or degenerating fertilized egg) uterine leiomyoma (benign, fibrous tumor that occurs in up to 40% of women by age 40) endometritis (inflammation of the endometrium caused by a bacterial infection) trauma and sexual abuse medications foreign bodies (e.g., tampon, condom)

2.7 DIAGNOSIS : 5 9 Diagnosis dari anovulatory DUB bisa ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium dari hemoglobin, luteinizing hormone (LH), follicle stimulating hormone (FSH), prolactin, T4, thyroid stimulating hormone (TSH), pregnancy (by hCG), and androgen profile dapat membantu menegakkan diagnosis. Test yang lebih canggih diantaranya ultrasound and endometrial sampling

1. haid 2. 3. ovarium 4. -

Terjadinya

perdarahan

pervaginam

yang

tidak

normal

( lamanya,frekuensi & jumlah ) yang terjadi di dalam maupun diluar siklus Tidak ditemukan kehamilan, kelainan organ maupun kelainan hematology ( factor pembekuan ) Ditemukan kelainan fungsi poros hypothalamus hipofise Usia terjadinya : Perimenars ( Usia 8 16 th ) Masa reproduksi ( Usia 16 35 th ) Perimenopause ( Usia 45 65 th )

diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pelvis, tes laboratorium. Pada wanita yang berusia diatas 35 tahun, dapat dilakukan biopsi atau dilatasi dan kuretase untuk menyingkirkan adanya hyperplasia endometrium atau kanker endometrium. RIWAYAT KESEHATAN Informasi lain yang dapat membantu antara lain cacatan medis, riwayat

kehamilan dan kontrapsepsi, gejala infeksi, kelainan ginekologi, riwayat operasi dan riwayat trauma.Penurunan berat badan, gangguan makan, stress dan olahraga yang berlebihan,

Physical

and

pelvic

examinations

pemeriksaan fisik difokuskan pada kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan DUB. P meriksaan meliputi kelenjar thyroid, payudara, hati, dan kulit untuk hisutisme e (pertumbuhan rambut di tempat yang tidak biasanya). Obesitas bisa juga menjadi faktor predisposisi.

lesi-lesi ekimosis (ukuran, bentuk dan perubahan warna pada kulit) dan hisutisme (pertumbuhan rambut di tempat yang tidak biasanya). Obesitas bisa juga menjadi faktor predisposisi. Laboratory tes laboratorium meliputi : Tes kehamilan (untuk wanita yang sedang hamil), Tes darah

test

10

Hitung darah lengkap untuk skrining anemia, jumlah trombosit yang rendah Penelitian endokrin untuk mencek berbagai tingkat kelainan hormon Penelitian koagulasi untuk mencek penyumbatan darah

Pemeriksaan rahim

Pengumpulan contoh untuk tes IMS Tes pap untuk skrining kanker rahim Palpasi (periksa dengan jalan meraba) uterus dan indung telur untuk kelainan

Tes untuk mendiagnosis kelainan siklus haid Riwayat dan pemeriksaan fisik secara total memberi petunjuk pada dokter mengenai penyebab perdarahan haid yang tidak biasa, sehingga dapat menyarankan semua tes tambahan. Tes dan skrining tambahan ini mencakup: Ultrasound (USG) rahim (bila dibutuhkan) Alat pemeriksaan USG dimasukkan ke dalam vagina untuk menilai ukuran uterus, timbulnya fibroid, ketebalan dinding rahim, kelainan indung telur, dan timbulnya endometriosis. Biopsi endometrius (bila dibutuhkan)

10

Pipa kecil dimasukkan melalui leher rahim ke dalam uterus dan contoh dari endometrius (dinding rahim) dikumpulkan untuk tes terhadap kelainan, misalnya peradangan atau kanker. 2.8 PENGELOLAAN 1 Pengobatan tergantung kepada usia penderita, keadaan lapisan rahim dan rencana penderita untuk hamil lagi.

Jika lapisan rahim menebal dan mengandung sel-sel abnormal (terutama jika usia penderita lebih dari 35 than dan tidak memiliki rencana untuk hamil lagi), seringkali dilakukan histerektomi (pengangkatan rahim), karena sel-sel yang abnormal tersebut bisa berubah menjadi keganasan.

Jika lapisan rahim menebal tetapi sel-selnya normal dan perdarahannya hebat, diberikan pil KB dosis tinggi yang mengandung estrogen dan progestin atau diberikan estrogen intravena (melalui pembuluh darah) yang diikuti dengan pemberian Jika progestin lebih per-oral ringan, diberkan (melalui pil KB mulut). dosis rendah. perdarahannya

Jika pengobatan dengan pil KB atau estrogen tidak berhasil, diberikan progestin per-oral selama 10-14 hari/bulan.

Jika pemberian hormon tidak efektif, maka dilakukan prosedur dilatasi dan kuretase, dimana jaringan dari lapisan rahim dibuang melalui kuretase.Jika penderita masih ingin hamil, untuk merangsang pelepasan sel telur bisa diberikan klomifen. Tergantung factor etiologi atau gambaran klinis 9 1. Pasien dengan kadar FSH yang Bila kadar FSH diatas puncak pertengahan siklus curigai adanya menopause dini atau resistensi ovarium. Dianjurkan biopsy ovarium sebelum pengobatan
11

2. Pasien dengan kadar LH bila disertai dengan FSH normal sering

dijumpai pada ovarium polikistik dan kegemukan

3. Pasien dengan kadar prolaktin ( PRL ) Ditemukan katekolamin Therapi dengan pemberian bromokriptin pada tumor hipofisis / kelainan metabolisme

4. Pasien dengan kelainan fungsi thyroid Pemberian tiroksin pada hypothyroid atau karbamazol pada hyperthyroid

Obat-obat untuk menginduksi ovulasi 9


1. Klomifen Sitrat

Indikasi : inseminasi Dosis hari

Anovulasi sekunder, obesitas, ovarian polikistik dan pasien

: 50-150 mg peroral/hr, dimulai pada hari ke 5 siklus haid 5

2. Humagon / Human menopausal Gonadotropin ( HMG ) 75 IU FSH dan 75 IU LH ( 1 ampul ) Indikasi : Gangguan pd aksis hipotalamus-hipofisis Dosis dinaikan 3. Human Chorionik Gonadotropin ( hCG ) 4. Gonadotropin Releasing Hormon ( GnRH ) 5. Bromokriptin : 1-2 ampul/hr selama 7-14 hr. Jika belum terjadi ovulasi dosis

12

PENGELOLAAN PUD AN OVULASI 9 1 Setelah menegakkan diagnosis dan setelah menyingkirkan berbagai kemungkinan kelainan organ, teryata tidak ditemukan penyakit lainnya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan prinsip-prinsip pengobatan sebagai berikut: 1. Menghentikan perdarahan. 2. Mengatur menstruasi agar kembali normal 3. Transfusi jika kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 8 gr%.

Menghentikan perdarahan segera a. Kuret Medisinalis : a. Estrogen selama 20 hari diikuti progesteron selama 5 hari
b. Pil KB kombinasi : 2 x 1 tab. Selama 2-3 hr diteruskan

1x1 tab selama 21 hari c. Progesteron : 10 20 mg selama 7 10 hari

b. ob

t Golongan

(medikamentosa) estrogen.

1.

Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya: estradiol valerat (nama generik) yang relatif menguntungkan karena tidak membebani kinerja liver dan tidak menimbulkan gangguan pembekuan darah. Jenis lain, misalnya: etinil estradiol, tapi obat ini dapat menimbulkan gangguan fungsi liver. Dosis dan cara pemberian:

13

Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 2,5 mg diminum selama 7-10 hari. Benzoas estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler. (melalui bokong) Jika perdarahannya banyak, dianjurkan nginap di RS (opname), dan diberikan Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 25 mg secara intravenus (suntikan lewat selang infus) perlahan-lahan (10-15 menit), dapat diulang tiap 3-4 jam. Tidak boleh lebih 4 kali sehari.

2.

Obat

Kombinasi

Obat golongan ini diberikan secara bertahap bila perdarahannya banyak, yakni 41 tablet selama 7-10 hari, kemudian dilanjutkan dengan dosis 11 tablet selama 3 hingga 6 siklus. 3. Golongan progesteron

Obat untuk jenis ini, antara lain:

Medroksi progesteron asetat (MPA): 10-20 mg per hari, diminum selama 7-10 hari. Norethisteron: 31 tablet, diminum selama 7-10 h

Setelah darah berhenti, lakukan pengaturan siklus dengan : Pengobatan sesuai kelainan - Anovulasi - Hiperprolaktin : Stimulasi dengan klomifen sitrat : Bromokriptin

- Ovarium Polikistik : Kortikosteroid, lanjutkan stimulasi dgn klomifen sitrat

14

Kombinasi estrogen selama 20 hr dan diikuti progesterone selama 5 hr, untuk 3 siklus Setelah 3 bln, pengobatan disesuaikan dengan kelainan hormone yang ada Inhibitor prostaglandin dapat dipakai atau dicoba dikombinasikan dengan therapy hormone tersebut Setelah perdarahan berhenti, langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk mengatur siklus menstruasi, misalnya dengan pemberian: Golongan progesteron: 21 tablet diminum selama 10 hari. Minum obat dimulai pada hari ke 14-15 menstruasi.

Perdarahan banyak, anemia ( PUD berat ) Estrogen konjugasi 25 mg intravena diulang tiap 3 4 jam spi

max 3x Progesteron 100 mg ( Etinodiol asetat, DMPA )

Pengobatan Operatif

Merupakan pilihan terakhir, gantinya tindakan dilatasi dan kuret dilakukan apabila dengan pengobatan hormone tidak berhasil. Transfusi jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%.

Yang ini, mau tidak mau nginap di Rumah Sakit atau klinik. Oya, hampir ketinggalan, sekedar diketahui, sekantong darah (250 cc) diperkirakan dapat menaikkan kadar hemoglobin (Hb) 0,75 gr%. Ini berarti, jika kadar Hb ingin dinaikkan menjadi 10 gr% maka kira-kira perlu sekitar 4 kantong darah.

15

KESIMPULAN

1. Perdarahan abnormal dari uterus (lama, frekuensi dan jumlah) yang terjadi

didalam dan diluar siklus, tanpa kelainan organ, hematologi dan kehamilan, dan merupakan kelainan poros hipotalamus hipofisisovarium. 9

2. DUB dibagi menjadi 2 yaitu ovulatory DUB dan anovulatory DUB

3. Gambaran klinis dari DUB 4

o Polymenorrhea (Sering,teratur dengan siklus kurang dari 21 hari)


o

Hypermenorrhea (Perdarahan yang banyak dalam siklus normal)

o Menorrhagia (Perdarahan yang lama dan banyak dalam siklus teratur) o metrorrhagia (Perdarahan yang terjadi diluar siklus biasanya) o menometrorrhagia (Perdarahan yang sering,dengan perdarahan yang banyak serta waktu yang memanjang diluar siklus yang biasanya)

16

17