Anda di halaman 1dari 20

BAB I LAPORAN KASUS A.

IDENTITAS PASIEN
Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Status Menikah Tanggal Masuk Poli No. RM

: Tn. S : 60 tahun : Laki-laki : Jl. Tidar Krajan, Magelang : Menikah : 1 Februari 2013 : 08-16-42

B. ANAMNESIS Keluhan Utama Penglihatan mata sebelah kiri kabur. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke poli mata dengan keluhan penglihatan mata sebelah kiri kabur. Keluhan ini dirasakan sejak 2 bulan yang lalu. Pasien juga mengeluh mata sebelah kiri nrocos, pegal, dan sedikit silau jika melihat sinar. Mata merah, keluar lodok, dan nyeri pada mata kiri disangkal. Riwayat trauma disangkal. Pasien belum pernah memeriksakan diri ke dokter sebelumnya. Pasien juga tidak pernah membeli obat tetes mata di warung. 6 bulan yang lalu, pasien juga mengeluhkan penglihatan pada mata sebelah kanan kabur. Awalnya pasien seperti melihat kabut, dan makin lama dirasa makin kabur. Keluhan ini dirasakan semakin berat sejak 1 bulan yang lalu. Pasien bisa membaca dengan jelas tanpa kacamata dan merasa lebih jelas pada siang hari dibandingkan malam hari. Mata merah dan riwayat trauma pada mata disangkal. Nyeri pada mata, cekot-cekot, mual/muntah, dan melihat pelangi (halo) di sekitar lampu juga disangkal oleh pasien. Pasien mengaku menderita penyakit 1

DM sejak 1 tahun yang lalu dan kontrol rutin di bagian penyakit dalam. Riwayat Penyakit Dahulu o Sebelumnya pasien tidak pernah sakit seperti ini
o o

Riwayat Hipertensi disangkal Riwayat Diabetes Mellitus diakui 1 tahun yang lalu

o Riwayat operasi pada mata disangkal Riwayat Penyakit Keluarga


o

Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini

Riwayat Sosial Ekonomi Biaya pengobatan ditanggung oleh Jamkesmas. Kesan ekonomi kurang. C. PEMERIKSAAN FISIK Status Umum

Kesadaran Aktivitas Kooperatif Status gizi

: Composmentis : Normoaktif : Kooperatif : Baik

Vital Sign

TD Nadi RR

: 130/80 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit

Suhu : 36,50C

Status Ophthalmicus No. 1. Pemeriksaan Visus Oculus Dexter 6/60 S - 2,00 6/20 2. 3. Bulbus Okuli Palpebra Edema Hematom Hiperemi Entropion / Ektropion Blefarospasme Nyeri tekan 4. Konjungtiva Injeksi Konjungtiva Injeksi Siliar Sekret Bangunan patologis Perdarahan 5. subkonjungtiva Kornea Kejernihan Infiltrat Keratic precipitates Ulkus (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) NBC Gerak bola mata baik ke segala arah 1/ Gerak bola mata baik ke segala arah Oculus Sinister

Jernih (-) (-) (-)

Jernih (-) (-) (-)

Sikatrik Pannus 6. COA Kejernihan Kedalaman Isi (Hifema / Hipopion) 7. Iris Kripte Sinekia 8. Pupil Diameter Reflek pupil Seklusio pupil 9. Lensa Kejernihan Iris shadow 10. Corpus Vitreum Kejernihan 11. 12. 13. Fundus Refleks Funduskopi TIO

(-) (-)

(-) (-)

Jernih Cukup (-)

Tyndall Efek (+) minimal Cukup (-)

(+) (-)

(+) Sinekia posterior total (+)

3 mm (+) (-)

1 mm (-) (+)

Keruh (+)

Keruh Sulit dinilai karena ada seklusio pupil

Sulit dinilai (+) suram Sulit dinilai N

Keruh (-) Tidak bisa dinilai N

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium 4

Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium


E. DIAGNOSIS BANDING

Oculus Dexter
1. OD Katarak Imatur

Dipertahankan

karena

dari

hasil

anamnesis

didapatkan

penglihatan kabur, iris shadow (+), mata merah (-), cekot-cekot (-), melihat pelangi di sekitar lampu (-), pusing (-) dan belum pernah diobati. Pada pemeriksaan fisik didapatkan lensa keruh, TIO normal, COA cukup.
2. OD Katarak Insipien

Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan kekeruhan telah menutupi sebagian lensa (+), iris shadow (+).
3. OD Katarak Matur

Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan hanya sebagian lensa yang mengalami kekeruhan, selain itu didapatkan pula iris shadow (+).
4. OD Katarak Hipermatur

Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh (+) namun tidak bersifat masif, iris shadow (+). 5. OD Miopia Dipertahankan karena pada pemeriksaan visus didapatkan hasil 6/60 dikoreksi lensa sferis -2,00 menjadi 6/20. 6. OD Hipermetropia

Disingkirkan karena pada hipermetropia untuk melihat jarak jauh dan dekat penglihatan menjadi kabur dan dikoreksi dengan lensa sferis positif.

7. ODS Astigmatisma Disingkirkan karena pada astigmatisma ditemui gejala penglihatan kabur, sakit di sekitar mata, dan dikoreksi dengan lensa silindris.

Oculus Sinister 1. OS Uveitis Posterior Dipertahankan karena pada anamnesis didapatkan penglihatan sebelah kiri kabur (+), nrocos (+), pegal (+), mata merah (-), keluar lodok (-), nyeri (-), dan pada PF didapatkan adanya tyndall efek (+) minimal, sinekia posterior total (+), seklusio pupil (+) dan TIO normal. 2. OS Uveitis Anterior Disingkirkan karena dari anamnesis dan PF tidak didapatkan adanya mata merah, tidak nyeri, tidak ada keratic presipitates dan keluhan fotofobia yang minimal. 3. Panuveitis Disingkirkan karena dari anamnesis dan PF tidak ada mata merah, tidak ada keratic precipitates, dan tidak ada tyndall efek.

F. DIAGNOSIS

OD Katarak Imatur OD Miopia OS Uveitis Posterior


G. TERAPI

Topikal o R/ Inmatrol ED BT I S 5 dd gtt 1 OS o R/ Timolol 0,5% ED BT I S 2 dd gtt 1 OS Oral o R/ Ciprofloksasin 500 mg tab No. X S 2 dd tab 1 o R/ Metil Prednisolon 16 mg No. XXI S 2-1-0 o R/ Neurodex No. X S 1 dd tab 1

H. EDUKASI Meminum obat secara teratur sesuai resep dokter Kontrol secara teratur
Memberi penjelasan bahwa kekeruhan yang ada pada lensa semakin

lama akan semakin berat seiring berjalannya waktu, sehingga penurunan visus dapat terus terjadi
Menjaga pola hidup yang sehat karena pasien memiliki penyakit

diabetes mellitus.
I.

PROGNOSIS Prognosis Quo ad visam Quo ad sanam Oculus Dexter Dubia ad Bonam Bonam Oculus Sinister Dubia ad Bonam Dubia ad Bonam 7

Quo ad functionam Quo ad vitam Quo ad kosmetikam

Dubia ad Bonam Bonam Bonam

Dubia ad Bonam Bonam Dubia ad Bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA KATARAK IMATUR 1. DEFINISI Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Katarak merupakan penyebab kebutaan di dunia saat ini yaitu setengah dari 45 juta kebutaan yang ada. 90% dari penderita katarak berada di negara berkembang seperti Indonesia, India dan lainnya.Katarak juga merupakan penyebab utama kebutaan di Indonesia, yaitu 50% dari seluruh kasus yang berhubungan dengan penglihatan (Ilyas, 2010).

Gambar 1. Mata dengan katarak Katarak imatur adalah kekeruhan pada sebagian lensa. Katarak ini belum mengenai seluruh lapisan lensa. Pada katarak imatur akan bertambah 8

volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan ini lensa akan mencembung sehingga akan menimbulkan hambatan pupil sehingga terjadi glaukoma sekunder (Ilyas, 2010).

2. ETIOLOGI Penyebab katarak senilis sampai saat ini belum diketahui secara pasti, diduga multifaktorial, diantaranya antara lain (James et al, 2006) : o Faktor biologi, yaitu karena usia tua dan pengaruh genetik; o Faktor fungsional, yaitu akibat akomodasi yang sangat kuatmempunyai efek buruk terhadap serabut-serabut lensa; o Faktor imunologik o Gangguan yang bersifat lokal pada lensa, seperti gangguan nutrisi, gangguan permeabilitas kapsul lensa, efek radiasi cahaya matahari, miopia tinggi; o Gangguan metabolisme umum, yaitu Diabetes Mellitus, Galaktosemia, Hipokalsemia, Distrofi miotonik; o Trauma; o Pengobatan topikal jangka panjang, yaitu steroid dan klorpromazin. 3. PATOFISIOLOGI Dalam keadaan normal transparansi lensa terjadi karena adanya keseimbangan antara protein yang dapat larut dan protein yang tidak dapat larut dalam membran semipermiabel. Apabila terjadi peningkatan jumlah protein yang tdak dapat diserap dapat mengakibatkan penurunan sintesa protein. Perubahan biokimiawi, fisik dan protein tersebut mengakibatkan jumlah protein dalam lensa melebihi jumlah protein dalam bagian yang lain sehingga membentuk suatu kapsul yang dikenal dengan nama katarak. 9

Terjadinya penumpukan cairan / degenerasi dan desintegrasi pada serabut tersebut menyebabkan jalannya cahaya terhambat dan mengakibatkan gangguan penglihatan. Dengan bertambah lanjut usia seseorang maka nukleus lensa mata akan menjadi lebih padat dan berkurang kandungan airnya, lensa akan menjadi keras pada bagian tengahnya (optic zone) sehingga kemampuan memfokuskan benda berkurang (Ilyas, 2010).

4. MANIFESTASI KLINIK Berikut merupakan gejala-gejala yang dapat timbul pada penderita katarak (Faradila, 2009) : 1) Gejala Subyektif : a. Bila kekeruhan tipis, kemunduran visus sedikit atau sebaliknya. b. Penderita mengeluh adanya bercak-bercak putih yang tak bergerak. c. Diplopia monocular yaitu penderita melihat 2 bayangan yang disebabkan oleh karena refraksi dari lensa sehingga benda-benda yang dilihat penderita akan menyebabkan silau. d. Pada stadium permulaan penderita mengeluh miopi, hal ini terjadi karena proses pembentukan katarak sehingga lensa menjadi cembung dan refraksi power mata meningkat, akibatnya bayangan jatuh di muka retina. 2) Gejala Obyektif : a. Pada lensa tidak ada tanda-tanda inflamasi. b. Jika mata diberi sinar dari samping: lensa tampak keruh keabuabuan atau keputihan dengan latar hitam. c. Pada fundus reflex dengan opthalmoskop : kekeruhan tersebut tampak hitam dengan latar oranye. Dan pada stadium matur hanya didapatkan warna putih atau tampak kehitaman tanpa latar oranye, hal ini menunjukkan bahwa lensa sudah keruh seluruhnya.

10

d. Kamera anterior menjadi dangkal dan iris terdorong kedepan, sudut kamera anterior menyempit sehingga tekanan intraokuler meningkat, akibatnya terjadi glaukoma sekunder.

Tabel 2. Perbedaan Klinis Stadium Katarak Senilis (Ilyas, 2010) 5. KLASIFIKASI Katarak senilis secara klinis dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur, matur dan hipermatur. 1) Katarak Insipien Pada stadium ini kekeruhan lensa tidak teratur, tampak seperti bercakbercak yang membentuk gerigi dangan dasar di perifer dan daerah jernih di antaranya. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior dan posterior. Kekeruhan ini pada awalnya hanya nampak jika pupil dilebarkan. Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia yang disebabkan oleh indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap untuk waktu yang lama (Ilyas, 2010). 2) Katarak Imatur Pada katarak imatur terjadi kekeruhan yang lebih tebal, tetapi belum mengenai seluruh lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa yang mencembung akan dapat menimbulkan hambatan 11

pupil, mendorong iris ke depan, mengakibatkan bilik mata dangkal sehingga terjadi glaukoma sekunder. Pada pemeriksaan uji bayangan iris atau shadow test, maka akan terlihat bayangan iris pada lensa, sehingga hasil uji shadow test (+) (Ilyas, 2010). 3) Katarak Matur Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Proses degenerasi yang berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama hasil disintegrasi melalui kapsul, sehingga lensa kembali ke ukuran normal. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali. Tidak terdapat bayangan iris pada lensayang keruh, sehingga uji bayangan iris negative (Ilyas, 2010).

4) Katarak Hipermatur Merupakan proses degenerasi lanjut lensa, sehingga masa lensa yang mengalami degenerasi akan mencair dan keluar melalui kapsul lensa. Lensa menjadi mengecil dan berwarna kuning. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai kapsul yang tebal, maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan sekantong susu dengan nukleus yang terbenam di korteks lensa. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni. Uji bayangan iris memberikan gambaran pseudo positif. Cairan / protein lensa yang keluar dari lensa tersebut menimbulkan reaksi inflamasi dalam bola mata karena dianggap sebagai benda asing. Akibatnya dapat timbul komplikasi uveitis dan glaukoma karena aliran melalui COA kembali terhambat akibat terdapatnya sel-sel radang dan cairan / protein lensa itu sendiri yang menghalangi aliran cairan bola mata (Ilyas, 2010).

6. DIAGNOSIS

12

Diagnosis dari katarak senilis dibuat atas dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan seluruh tubuh terhadap adanya kelainankelainan harus dilakukan untuk menyingkirkan penyakit sistemik yang berefek terhadap mata dan perkembangan katarak (Setiohadi, 2006). Pemeriksaan mata yang lengkap harus dilakukan yang dimulai dengan ketajaman penglihatan untuk gangguan penglihatan jauh dan dekat. Ketika pasien mengeluh silau, harus diperiksa di kamar dengan cahaya terang (James et al,2006). Pemeriksaan adneksa okular dan struktur intraokular dapat

memberikan petunjuk terhadap penyakit pasien dan prognosis penglihatannya. Pemeriksaan yang sangat penting yaitu tes pembelokan sinar yang dapat mendeteksi pupil Marcus Gunn dan defek pupil aferent relatif yang mengindikasikan lesi saraf optik atau keterlibatan difus macula. Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk evaluasi opasitas lensa. Tapi dapat juga struktur okular lain (konjungtiva, kornea, iris, bilik mata depan) (James et al, 2006). Ketebalan kornea dan opasitas kornea seperti kornea gutata harus diperiksa hati-hati (James et al, 2006). Gambaran lensa harus dicatat secara teliti sebelum dan sesudah pemberian dilator pupil (James et al, 2006). Posisi lensa dan integritas dari serat zonular juga dapat diperiksa sebab subluksasi lensa dapat mengidentifikasi adanya trauma mata sebelumnya, kelainan metabolik, atau katarak hipermatur (Ilyas, 2010). Kepentingan ophthalmoskopi direk dan indirek dalam evaluasi dari integritas bagian belakang harus dinilai. Masalah pada saraf optik dan retina dapat menilai gangguan penglihatan. (Ilyas, 2010). Tabel 3. Gambaran Bentuk Katarak Senilis (Khalilullah, 2010). 13

7. PENATALAKSANAAN Tidak ada satupun obat yang dapat diberikan untuk menyembuhkan katarak senilis. Penggunaan obat-obatan selama ini bertujuan untuk memperlambat penebalan katarak. Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata. Hingga saat ini belum ada obat-obatan, makanan, atau kegiatan olahraga yang dapat menghindari atau menyembuhkan seseorang dari gangguan katarak. Akan tetapi melindungi mata terhadap sinar matahari yang berlebihan dapat memperlambat terjadinya gangguan katarak. Kacamata gelap atau kacamata reguler yang dapat menghalangi sinar ultraviolet (UV) sebaiknya digunakan ketika berada di ruangan terbuka pada siang hari (Setiohadi, 2006).

14

Pengobatan katarak senil yang pernah dipakai adalah aldose reductase inhibitor, obat ini diketahui dapat menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol, pengobatan sudah memperlihatkan hasil yang menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti katarak lainnya sedang diteliti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin, agen glutathione-raising, dan antioksidan vitamin C dan E (Vaughan et al, 2010). Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Lebih dari bertahun-tahun, tehnik bedah yang bervariasi sudah berkembang dari metode yang kuno hingga tehnik hari ini phacoemulsifikasi. Hampir bersamaan dengan evolusi IOL yang digunakan, yang bervariasi dengan lokasi, material, dan bahan implantasi. Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE). Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi pada ekstraksi katarak yang sering digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan phacoemulsifikasi (Vaughan et al, 2010).

1) Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE) Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan dipindahkan dari mata melalui insisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer. ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glaukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan (Khalilullah, 2010). 15

2) Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE) Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolaps badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder (Khalilullah, 2010). 3) Phakoemulsifikasi Phakoemulsifikasi (phaco) maksudnya membongkar dan memindahkan kristal lensa. Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 23mm) di kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PHACO akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Teknik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis. Tehnik ini kurang efektif pada katarak senilis padat, dan keuntungan insisi limbus yang kecil agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler, meskipun sekarang lebih sering digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat dimasukkan melalui incisi kecil seperti itu (James et al, 2006).

16

8. KOMPLIKASI Adapun komplikasi tindakan operatif katarak (Ilyas, 2010) : 1) Hilangnya vitreous. 2) Prolaps iris. 3) Endoftalmitis. 4) Astigmatisma pasca operasi. 5) Edema makular sistoid. 6) Ablasio retina. 7) Opasifikasi kapsul posterior. 8) Glaukoma

9. PROGNOSIS

Dengan teknik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi sangat jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Pada bedah katarak resiko ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart (Khalilullah, 2010).

UVEITIS POSTERIOR (KOROIDITIS)

17

Uveitis posterior adalah proses peradangan pada segmen posterior uvea, yaitu pada koroid, dan disebut juga koroiditis. Karena dekatnya koroid pada retina, maka penyakit koroid hampir selalu melibatkan retina (korioretinitis). Uveitis posterior biasanya lebih serius dibandingkan uveitis anterior. Peradangan di uvea posterior dapat menyebabkan gejala akut tapi biasanya berkembang menjadi kronik. Kedua fase tersebut (akut dan kronik) dapat menyebabkan pembuluh darah diretina saling tumpang tindih dengan proses peradangan di uvea posterior. Penyebab utama uvea posterior tidak berpengaruh pada faktor eksternal dari uvea bagian posterior. Dengan pemeriksaan oftalmoskopi standar dan lamanya peradangan penyakit secara lengkap dengan perubahan pada koroid sudah dapat dilihat kelainan. Terjadinya perubahan elevasi yang memberi warna kuning atau abu abu yang dapat menutup koroid sehingga pada pemeriksaan koroid tidak jelas. Perdarahan di retina akan menutup semua area, pada beberapa kasus terdapat lesi yang kecil disertai kelainan pada koroid tapi setelah beberapa minggu atau bulan akan ditemukan infiltrat dan edema hilang sehingga menyebabkan koroid dan retina atrofi dan saling melekat. Daerah yang atrofi akan memberikan kelainan bermacam macam dalam bentuk dan ukuran. Perubahan ini akan menyebabkan perubahan warna koroid menjadi putih, kadang pembuluh darah koroid akan tampak disertai karakteristik dari deposit irregular yang banyak atau berkurangnya pigmen hitam terutama pada daerah marginal. Lesi bisa juga ditemukan pada eksudat selular yang berkurang di koroid dan retina. Inflamasi korioretinitis selalu ditandai dengan penglihatan kabur disertai dengan melihat lalat berterbangan (floaters). Penurunan tajam penglihatan dapat dimulai dari ringan sampai berat yaitu apabila koroiditis mengenai daerah makula atau papilomakula. Kerusakan bisa terjadi perlahan lahan atau cepat pada humor vitreus yang dapat dilihat jelas dengan fundus yang mengalami obstruksi. Pada 18

korioretinitis yang lama biasanya disertai floaters dengan penurunan jumlah produksi air mata pada trabekula anterior yang dapat ditentukan dengan pemeriksaan fenomena Tyndall. Penyebab floaters adalah terdapatnya substansi di posterior kornea dan agregasi dari presipitat mutton fat pada kornea bagian dalam. Mata merah merupakan gejala awal sebelum menjadi kuning atau putih yang disertai penglihatan kabur, bila terdapat kondisi ini biasanya sudah didapatkan atropi pada koroid, sering kali uveitis posterior tidak disadari oleh penderita sampai penglihatannya kabur. Gejala khas dari uveitis posterior adalah tajam penglihatan yang menurun, floating spot dan skotoma. Karena terdapat banyak kelainan pada badan vitreus sel yang disebabkan fokal atau multifokal retina dan koroid gambaran klinis bisa juga secara bersamaan. Diagnosis banding tergantung dari lama dan penyebab infeksi atau bukan infeksi. Infeksi bisa disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa, dan cacing non infeksi, bisa juga disebabkan oleh penurunan imunologik atau alergi organ, bisa juga penyebabnya tidak diketahui setelah timbul endoftalmitis dan neoplasma. Dalam membuat diagnosis uveitis posterior harus akurat dan lengkap tentang riwayat perjalanan penyakit dan sistem yang mendapat kelainan yang berhubungan dengan uveitis. Riwayat pemakaian kortikosteroid yang lama, obat obatan imunosupresan, terapi antibiotik, obat obat intravena atau pasien dengan hipereliminasi bakterial endogen, jamur dan penyakit virus. Kebanyakan kasus uveitis posterior bersamaan dengan penyakit sistemik. Pasien dengan penyakit sistemik kolagen vaskular yang berhubungan dengan dermatologi, jaringan ikat, paru paru, gastrointenstinal dan saluran kemih yang dapat mempermudah terjadinya inflamasi. Pertimbangan lain adalah umur pasien dan apakah timbulnya unilateral atau bilateral. Pemeriksaan laboratorium dapat membantu memastikan. Komplikasi Uveitis Posterior : Hipopion

19

Penyakit

segmen

posterior

yang

menunjukan

perubahan-perubahan

peradangan dalam uvea anterior dan disertai hipopion adalah leukemia, penyakit behcet, sifilis, toksokariasis, dan infeksi bakteri. Glaukoma Glaukoma sekunder mungkin terjadi pada pasien sindrom nekrosis retina akut, toksoplasmosis, dan tuberculosis. Vitritis Peradangan korpus vitreum dapat menyertai uveitis posterior. Peradangan dalam vitreum berasal dari focus-focus radang di segmen posterior mata. Peradangan dalam vitreus tidak terjadi pada pasien koroiditis geografik atau histoplasmosis. Sedikit sel radang dalam vitreus dapat terlihat pada pasien sel sarcoma reticulum, infeksi cytomegalovirus, dan rubella, dan beberapa kasus toksoplasmosis dengan focus-fokus kecil pada retina. Sebaliknya, peradangan berat dalam vitreus dengan banyak sel dan eksudat terdapat pada tuberculosis, toksokariasis, dan sifilis. Prognosis Uveitis umumnya berulang, penting bagi pasien untuk melakukan pemeriksaan berkala dan cepat mewaspadai bila terjadi keluhan pada matanya. Tetapi tergantung dimana letak eksudat dan dapat menyebabkan atropi. Apabila mengenai daerah makula dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang serius.

20

Anda mungkin juga menyukai