Anda di halaman 1dari 21

Case Report: Pneumonia

LAPORAN KASUS

PNEUMONIA

OLEH :

Dedy Tesna Amijaya, S.Ked H1A 004 011

PEMBIMBING : dr. I. G Djelantik, SpA (K)

Dalam Rangka Mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya Di Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Mataram/RSU Mataram 2009

Case Report: Pneumonia

BAB I
PENDAHULUAN Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk di Indonesia. Hasil penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan mendapatkan pneumonia sebagai penyebab kejadian dan kematian tertinggi pada balita. Berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, antara lain virus dan bakteri. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko untuk terjadinya dan beratnya pneumonia antara lain adalah defek anatomi bawaan, defisit imunologi, polusi, GER, aspirasi, dll. Berbagai langkah promotif dilakukan pemerintah mengingat betapa bahayanya penyakit ini. Pencegahan untuk pneumonia dapat dilakukan dengan vaksin yang sudah

tersedia. Efektivitas vaksin pneumokok adalah 70% dan untuk H, influenza 95%. Infeksi H, influenza bias dicegah dengan rifamfisin bagi kontak di rumah tangga atau di tempat penitipan anak. Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya tinggi, tidak saja dinegara berkembang, tapi juga di negara maju seperti AS, Kanada dan negara-negara Eropah. Di AS misalnya, terdapat dua juta sampai tiga juta kasus pneumonia per tahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang.

Case Report: Pneumonia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Definisi Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Selain gambaran umum di atas, Pneumonia dapat dikenali berdasarkan pedoman tandatanda klinis lainnya dan pemeriksaan penunjang (Rontgen, Laboratorium) (Wilson, 2006). Pada usia anak-anak, Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan mencapai 21 % (Unicef, 2006). Adapun angka kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya. Fakta yang sangat mencengangkan. Karenanya, kita patut mewaspadai setiap keluhan panas, batuk, sesak pada anak dengan memeriksakannya secara dini (Setiowulan, 2000). II.2. Etiologi Sebagian besar penyebab Pneumonia adalah mikroorganisme (virus, bakteri). Dan sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau sejenisnya) dan masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung ke dalam saluran pernapasan (aspirasi). Berbagai penyebab Pneumonia tersebut dikelompokkan berdasarkan golongan umur, berat ringannya tersering penyakit sebagai dan penyulit yang menyertainya adalah (komplikasi). terutama

Mikroorganisme

penyebab

Pneumonia

virus,

Case Report: Pneumonia

Respiratory Syncial Virus (RSV) yang mencapai 40%. Sedangkan golongan bakteri yang ikut berperan terutama Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae type b (Hib) (Tulus, 2000) Sedangkan dari sudut pandang sosial penyebab pneumonia menurut Depkes RI (2004) antara lain:

Status gizi bayi Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck. 2000 : 1).

Riwayat persalinan Riwayat persalinan yang mempengaruhi terjadinya pneumonia adalah ketuban pecah dini dan persalinan preterm (Rahajoe, 2000).

Kondisi sosial ekonomi orang tua Kemampuan orang tua dalam menyediakan lingkungan tumbuh yang sehat pada bayi juga sangat mempengaruhi terhadap terjadinya pneumonia.

Lingkungan tumbuh bayi

Case Report: Pneumonia

Lingkungan tumbuh bayi yang mempengaruhi terhadap terjadinya pneumonia adalah kondisi sirkulasi udara dirumah, adanya pencemaran udara di sekitar rumah dan lingkungan perumahan yang padat (www.infokes.com, 2006).

Konsumsi ASI Jumlah konsumsi ASI bayi akan sangat mempengaruhi imunitas bayi, bayi yang diberi ASI secara eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI secara eksklusif. II.3. Klasifikasi Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi pneumonia sebagai berikut:

1.

Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing).

2. 3.

Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia (Rasmailah, 2004).

Untuk kelompok umur < 2 bulan klaisifikasi di bagi atas : 1. Pneumonia berat 2. bukan pneumonia

Case Report: Pneumonia

II.4. Tanda dan Gejala Tanda-tanda Pneumonia sangat bervariasi, tergantung golongan umur, mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (imunologis) dan berat ringannya penyakit. Pada umumnya, diawali dengan panas, batuk, pilek, suara serak, nyeri tenggorokan. Selanjutnya panas makin tinggi, batuk makin hebat, pernapasan cepat (takipnea), tarikan otot rusuk (retraksi), sesak napas dan penderita menjadi kebiruan (sianosis). Adakalanya disertai tanda lain seperti nyeri kepala, nyeri perut dan muntah (pada anak di atas 5 tahun). Pada bayi (usia di bawah 1 tahun) tanda-tanda pnemonia tidak spesifik, tidak selalu ditemukan demam dan batuk. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat Pnemonia Umur dibawah 2 bulan Tingkat sosio ekonomi rendah Gizi kurang Berat badan lahir rendah Tingkat pendidikan ibu rendah Tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan rendah Kepadatan tempat tinggal Imunisasi yang tidak memadai Menderita penyakit kronis Selain tanda-tanda di atas, WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk

Case Report: Pneumonia

memudahkan diagnosa Pneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar (Mansjoer, 2000). Tabel 2.1. Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO) Umur Anak Napas Normal 0 2 Bulan 30-50 per menit 2-12 Bulan 25-40 per menit II.5. Patofisiologi Bakteri penyebab terisap ke paru perifer melaui saluran nafas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema, yang memepermudah proliferasi dan penyebaran kuman. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadi sebukan PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema dan kuman di alveoli. Proses ini termasuk dalam stadium hepatisasi merah. Sedangkan hepatisasi kelabu adalah kelanjutan proses infeksi berupa deposisi fibrin ke permukaan pleura. Ditemukan pula fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan proses pagositosis yang cepat. Dilanjutkan dengan proses resolusi, dengan peningkatan sel makrofag di alveoli, degenerasi sel dan menipisnya fibrin, serta menghilangnya kuman dan debris (Rahajoe, 2000). II.6. Penatalaksanaan Pengobatan ditujukan kepada pemberantasan mikroorganisme penyebabnya. Walaupun adakalanya tidak diperlukan antibiotika jika penyebabnya adalah virus, namun untuk daerah yang belum memiliki fasilitas biakan mikroorganisme akan menjadi masalah tersendiri mengingat perjalanan penyakit berlangsung cepat, sedangkan di sisi lain ada kesulitan membedakan penyebab antara virus dan bakteri. Selain itu, masih dimungkinkan Takipnea (Napas cepat) sama atau > 60 x per menit sama atau > 50 x per menit

Case Report: Pneumonia

adanya keterlibatan infeksi sekunder oleh bakteri. Oleh karena itu, antibiotika diberikan jika penderita telah ditetapkan sebagai Pneumonia. Ini sejalan dengan kebijakan Depkes RI (sejak tahun 1995, melalui program Quality Assurance ) yang memberlakukan pedoman penatalaksaan Pneumonia bagi Puskesmas di seluruh Indonesia (Pusponegoro, 2004). Masalah lain dalam hal perawatan penderita Pneumonia adalah terbatasnya akses pelayanan karena faktor geografis. Lokasi yang berjauhan dan belum meratanya akses tranportasi tentu menyulitkan perawatan manakala penderita pneumonia memerlukan perawatan lanjutan (rujukan) (Rahajoe, 2000). Perawatan di rumah yang dapat dilakukan pada bayi atau anak yang menderita pneumonia antara lain :

Mengatasi demam Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).

Mengatasi batuk

Case Report: Pneumonia

Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

Pemberian minuman Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.

Lain-lain Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk

Case Report: Pneumonia

penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang (Rasmailah, 2004). II.7. Pencegahan Mengingat Pneumonia adalah penyakit beresiko tinggi yang tanda awalnya sangat mirip dengan Flu, alangkah baiknya para orang tua tetap waspada dengan memperhatikan tips berikut : o Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat keramaian yang berpotensi penularan. o Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA. o Membiasakan pemberian ASI. o Segera berobat jika mendapati anak kita mengalami panas, batuk, pilek. Terlebih jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk (retraksi). o Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan. Dan segera ke RS jika kondisi anak memburuk. o Imunisasi Hib (untuk memberikan kekebalan terhadap Haemophilus

influenzae, vaksin Pneumokokal Heptavalen (mencegah IPD= invasive pneumococcal diseases) dan vaksinasi influenzae pada anak resiko tinggi, terutama usia 6-23 bulan. Sayang vaksin ini belum dapat dinikmati oleh semua anak karena harganya yang cukup mahal. o Menyediakan rumah sehat bagi bayi yang memenuhi persyaratan : o Memiliki luas ventilasi sebesar 12 20% dari luas lantai.

10

Case Report: Pneumonia

o Tempat masuknya cahaya yang berupa jendela, pintu atau kaca sebesar 20%.

o Terletak jauh dari sumber-sumber pencemaran, misalnya pabrik, tempat


pembakaran dan tempat penampungan sampah sementara maupun akhir (Rahajoe, 1999).

11

Case Report: Pneumonia

BAB III LAPORAN KASUS Dokter Muda NIM : Dedy Tesna Amijaya S.Ked : HIA 004 011 Nomor MR : 157560 Umur : 12 Hari : Bayi Ny S : RSU Mataram, 20 Agustus 2009 : Gunung Sari : Anak kandung : Perempuan : 12 hari Ibu Ny Sumiati 23 th SMP Swasta : 01/09/09 : Pneumonia : 05/09/09 : 05 hari : Sesuai prosedur (atas izin dokter). Ayah Tn jupri 20 th SMP Swasta

Bangsal : NICU Nama : Bayi Ny S Nama lengkap Tempat dan tanggal lahir Alamat Identitas keluarga Jenis kelamin Umur

Nama Umur Pendidikan/Berapa tahun Pekerjaan Masuk RS tanggal Diagnosis Masuk Keluar RS tanggal Lama Perawatan Keadaan saat KRS

1. ANAMNESIS Keluhan utama : Sesak nafas 12

Case Report: Pneumonia

Riwayat penyakit sekarang :

Pasien datang dengan keluhan sesak napas

berupa napas yang cepat dan dalam sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, sesak dirasakan terus menerus, awalnya pasien dikeluhkan batuk-batuk sejak 5 hari sebelum MRS, batuk disertai dahak yang sulit untuk dikeluarkan setelah itu baru timbul sesak, darah (-), pilek (+), Berwarna hijau, volume sedikit, tidak berbau. Satu hari terakhir keluhan sesak memberat tapi tidak sampai membuat mulut bayi membiru. pasien juga dikeluhkan panas badan sejak 5 hari sebelum rumah sakit, panas badan dirasakan mendadak, panas badan terus menerus tapi tidak terlalu tinggi, demam tidak disertai menggigil, keluar keringat dingin (-), kejang (-), perut bayi juga dikeluhkan kembung sejak 2 hari terakhir, muntah (-), bayi malas minum sejak sakit, bayi juga menjadi rewel, buang air besar normal, buang air kecil juga normal.

Riwayat pengobatan: bayi dibawa ke PKM, di PKM bayi diperiksa namun tidak diberi obat, dan langsung dirujuk ke RSUP NTB dengan diagnosis Pneumonia. Riwayat kehamilan : Kehamilan pertama HPHT 16 November 2008 Kehamilan cukup bulan (37 minggu) ANC teratur di puskesmas. ANC > 7 kali Ibu mendapatkan imunisasi saat hamil (+) Ibu tidak pernah sakit saat hamil Ibu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan atau jamu saat hamil Riwayat sakit kuning saat hamil (-). ibu pasien menderita kencing manis (-).

Riwayat persalinan : Lahir spontan, pervaginam di RSU Mataram, Indikasi letak kepala, riwayat KPD (+) dan dirujuk ke RSUP NTB. Lahir langsung menangis BBL 2600 gram, panjang badan 48 cm, lingkar kepala 32 cm, lingkar lengan 11cm, anus +. Bayinya diberikan suntikan vitamin K saat lahir (+). 13

Case Report: Pneumonia

Riwayat kuning saat lahir (-). Riwayat biru saat lahir (-). Ikhtisar keturunan Bayi ini. Riwayat penyakit keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita gejala yang serupa Riwayat Nutrisi

Bayi minum ASI langsung dari ibu sejak lahir, selama ini bayi minum dengan baik, namun sejak sakit bayi agak malas minum. setiap hari 7-8 x/hari dengan susu yang diminum total sehari 75 cc, dimalam hari bayi minum sebanyak 5 kali. Pemeriksaan fisik Vital sign: DJ : 145 x/menit RR : 40 x/menit Suhu : 38,2oC CRT : < 3 detik BB: 2700 Keadaan umum : lemah, dispneu Kesadaran : composmentis Anemia (-), ikterik (-), sianosis (-).

SpO2= 70 % Pemeriksaan khusus o Sistem pernapasan Warna kulit : pucat kemerahan Gerak nafas : cepat tidak teratur Retraksi sub costae : (+) Merintih : (+) Sianosis (central) : (-)

14

Case Report: Pneumonia

Apnea : (-) Auskultasi : broncovesikuler, ronchi (+/+), wheezing (-/-) Skor Down : 5

Sistem kardiovaskuler Denyut jantung : teratur Auskultasi : S1S2 tunggal reguler Murmur : (-) Denyut nadi perifer : (+) CRT : < 3 detik Tekanan darah : tidak dievaluasi

Sistem gastrointestinal Distensi : (+) Palpasi massa : (-) Organomegali : (-) Bising usus : menurun Residu lambung : (-), warna : (-) Umbilikus : omphalitis (-), bau (-) Anus : (+)

Sistem urogenital Labia mayor sudah menutupi labia minor dengan sempurna, klitoris mengecil (+)

Sistem saraf pusat Aktifitas bayi : mengantuk Kesadaran : letargis Tonus : hipotoni Reaksi cahaya pupil : (+), isokor Sutura : normal

15

Case Report: Pneumonia

Ubun Ubun besar : terbuka, budging (-). Kejang : (-)

Pemeriksaan lain Kelainan bawaan (-) Extremitas dan panggul : normal Tubuh dan tulang punggung : normal.

Laboratorium Tgl 01-09-2009 : Hb : 14,4 mg/% Leukosit: 14, 700 Trombosit: 332.000 HCT: 50, 4 GDS: 202 Diagnosis kerja Pneumonia Berat dengan leukositosis

Penatalaksanaan Suportif terapi O2 1-2 Liter / mnt Total parenteral nutrition ( puasa),--IVFD D10% (BB x 130 cc/hr)= 6 tts mikrodrip Suction berkala OGT Alir

Terapi kausatif Ampicillin 50 mg/kgBB/hari= 4x 75 mg

16

Case Report: Pneumonia

Evaluatif

Gentamicin 5 mg/kgBB/hari= 2x 7 mg Rontgen thorak AP Blood kultur Vital sign tiap 1 jam dan skor down.

Pemeriksaan yang direncanakan:

Follow up Tanggal 01 09 09 S : Demam (+), sesak (+), pilek (+), kembung (+), O : KU : lemah Kesadaran : CM DJ : 150x/mnt RR : 60x/mnt
Mata : Amemis -/-, ikterik -/Hidung : napas cuping hidung (+) Thorax : retraksi subcostal (+), bronkovesikuler +/+, Ronki +/+, wh -/Abdomen : Distensi (-), BU+N, Ekstrimitas : Akral Hangat (+), CRT <3 detik A : pneumonia berat dengan leukositosis Tx : terapi lanjut, coba suction, thorax AP

temp : 379C CRT : < 3 dtk

SD: 5 SpO2: 70 %

Tanggal 02 09 09 S : Demam (+), sesak (+), pilek (+), kembung (-), BAK (+), BAB (+). O : KU : lemah

17

Case Report: Pneumonia

Kesadaran : CM DJ : 145x/mnt RR : 60x/mnt


Mata : Amemis -/-, ikterik -/Hidung : napas cuping hidung (+) Thorax : retraksi subcostal (+), bronkovesikuler +/+, Ronki +/+, wh -/Abdomen : Distensi (-), BU+N, Ekstrimitas : Akral Hangat (+), CRT <3 detik A : pneumonia berat dengan leukositosis Tx : terapi lanjut, ganti ampicillin dengan Cefotaxim 2x100 mg, coba ASI OGT 8X5 cc, thorax AP: Aspirasi pneumonia

temp : 369C CRT : < 3 dtk

SD: 5

BB= 2500

SpO2: 80 % GDS= 80

Tanggal 03 09 09 S : Demam (-)<<, sesak (+)<<, pilek (+), kembung (-), O : KU : lemah Kesadaran : CM DJ : 145x/mnt RR : 60x/mnt
Mata : Anemis -/-, ikterik -/Hidung : napas cuping hidung (-) Thorax : retraksi subcostal (+), bronkovesikuler +/+, Ronki +/+(<<), wh -/Abdomen : Distensi (-), BU+N, Ekstrimitas : Akral Hangat (+), CRT <3 detik A : pneumonia berat dengan leukositosis Tx : terapi lanjut,

temp : 369C CRT : < 3 dtk

SD: 4 SpO2: 82 %

BB=2600

Tanggal 04 09 09 S : Demam (+)<<, sesak (+), pilek (+), kembung (-), O : KU : lemah

18

Case Report: Pneumonia

Kesadaran : CM DJ : 145x/mnt RR : 60x/mnt


Mata : Amemis -/-, ikterik -/Hidung : napas cuping hidung (+)<< Thorax : retraksi subcostal (+), bronkovesikuler +/+, Ronki +/+, wh -/Abdomen : Distensi (-), BU+N, Ekstrimitas : Akral Hangat (+), CRT <3 detik A : pneumonia berat dengan leukositosis Tx : terapi lanjut, aff O2. ASI langsung ibu.

temp : 369C CRT : < 3 dtk

SD: 4 SpO2: 90 %

BB= 2700

Tanggal 05 09 09 S : Demam (-)<<, sesak (-), pilek (-), kembung (-), O : KU : lemah Kesadaran : CM DJ : 145x/mnt RR : 60x/mnt
Mata : Amemis -/-, ikterik -/Hidung : napas cuping hidung (-) Thorax : retraksi subcostal (+) minimal, bronkovesikuler +/+, Ronki +/+, wh -/Abdomen : Distensi (-), BU+N, Ekstrimitas : Akral Hangat (+), CRT <3 detik A : pneumonia berat dengan leukositosis Tx : terapi lanjut,

temp : 369C CRT : < 3 dtk

SD: 2 BB: 2750

Tanggal 06 09 09 S : Demam (+)<<, sesak (+), pilek (+), kembung (-), O : KU : lemah

19

Case Report: Pneumonia

Kesadaran : CM DJ : 145x/mnt RR : 60x/mnt


Mata : Amemis -/-, ikterik -/Hidung : napas cuping hidung (-) Thorax : retraksi subcostal (-), bronkovesikuler +/+, Ronki /, wh -/Abdomen : Distensi (-), BU+N, Ekstrimitas : Akral Hangat (+), CRT <3 detik A : pneumonia berat dengan leukositosis Tx : terapi lanjut, Aff infus

temp : 369C CRT : < 3 dtk

SD: 1 BB: 2700 g

Tanggal 07 09 09 S : Demam (+)<<, sesak (+), pilek (+), kembung (-), O : KU : lemah Kesadaran : CM DJ : 145x/mnt RR : 50x/mnt
Mata : Amemis -/-, ikterik -/Hidung : napas cuping hidung (-) Thorax : retraksi subcostal (-), bronkovesikuler +/+, Ronki /, wh -/Abdomen : Distensi (-), BU+N, Ekstrimitas : Akral Hangat (+), CRT <3 detik A : pneumonia berat dengan leukositosis Tx : terapi lanjut, BPL , edukasi untuk control 3 hari berikutnya atau bayi memperlihatkan tanda-tanda bahaya.

temp : 365C CRT : < 3 dtk

SD: 1 BB: 2700 g

KEPUSTAKAAN

20

Case Report: Pneumonia

Mansjoer, Arif dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II Edisi Ketiga.. Media Aesculapius : Jakarta. Pusponegoro, dkk, 2004. Standar Pelayanan Medik. edisi I 2004. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Badan penerbit IDAI. Rahajoe NN, Boediman I. Pneumonia dan Brokiolitis pada anak sebagai manifestasi infeksi saluran pernafasan akut Berat Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2000. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

21