Anda di halaman 1dari 7

Kehamilan dengan Kelainan Tiroid

KEHAMILAN DENGAN KELAINAN TIROID

PENDAHULUAN
Telah kita ketahui bahwa dalam kehamilan biasa kelenjar gondok (kelenjar tiroid) mengalami hiperfungsi dan kadang-kadang disertai

pembesaran ringan. Metabolisme basal dapat meningkat sampai 15-25%.(1,2) Setelah persalinan fungsi dan besarnya kelenjar gondok pulih lagi. Akan tetapi walaupun tampak gejala-gejala yang dapat menyerupai hiperfungsi glandula tiroid, namun wanita hamil normal itu tidak menderita hipertiroidismus.(1) Ada 2 jenis : 1. Morbus Basedowi (Hipertiroidismus) 2. Myxoedema (Hipotiroidismus)

HIPERTIROIDISMUS (MORBUS BASEDOWI)


Penderita hipertiroidismus biasanya mengalami gangguan haid dan kemandulan. Walaupun demikian, kadang terjadi juga kehamilan atau penyakitnya baru timbul dalam masa hamil. Frekuensi penyakit ini dalam kehamilan diperkirakan 0,2% diantara semua wanita hamil. Kehamilan sering berakhir dengan abnormalitas (Abortus habitualis) atau partus prematurus, terutama apabila penyakitnya berat. Sebaliknya

KKS SMF Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan RSUPM

Kehamilan dengan Kelainan Tiroid

hipertiroidismus dan / atau gondok (Struma) yang diderita sebelum kehamilan dapat menjadi lebih berat. Diagnosis tidak sulit apabila terdapat gejala-gejala yang khas bagi penyakit Basedowi, seperti eksoftalmus, tremor, hiperkinesis, takikardia, metabolisme basal yang meningkat sampai lebih dari 27%, dan kadar hormon tiroksin dalam darah tinggi. Pemeriksaan dengan iodium radioaktif tidak boleh dilakukan dalam kehamilan karena dapat melintasi plasenta dan mempunyai pengaruh radiasi terhadap janin, sehingga mengakibatkan hipofungsi glandula tiroid.(1) Kehamilan dapat membuat struma tambah besar dan keluhan penderita bertambah berat. Pada kala II hendaknya diperpendek dengan ekstraksi vakum atau forsipal, karena bahaya kemungkinan timbulnya dekompensasi kordis. Terapi dilakukan dengan memberikan obat-obatan profiltiourasil dan metimazol dosis rendah. Bila ingin melakukan operasi tiroidektomi, lakukanlah pada trimester II. Bila wanita telah mempunyai beberapa anak dianjurkan memakai kontrasepsi atau melakukan tubektomi.(2) Tirotoksikosis atau hipertiroidismus terjadi kira-kira 1 : 2000 kehamilan. Tirotoksikosis tingkat sedang biasanya sulit terdiagnosa selama kehamilan. Hipertiroidismus bisa dinilai dari hasil serum tiroksin yang normal tetapi serum T3 (triiodotironin) tinggi. Penyebab utama dari tirotoksikosis dalam kehamilan adalah penyakit Graves, dimana proses organ autoimun spesifik berhubungan dengan tiroid
KKS SMF Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan RSUPM

Kehamilan dengan Kelainan Tiroid

yang merangsang autoantibody. Pada banyak wanita, tiroid merangsang aktivitas antibodi selama postpartum, antara 1-4 bulan postpartum, wanita dengan penyakit Graves dapat mengalami kekambuhan dan terjadi eksaserbasi tirotoksikosis. Wanita hamil dengan tirotoksikosis yang tidak mengalami perawatan, biasanya mempunyai insiden preeklampsia, gagal jantung, dan perinatal yang tidak baik.(3)

Efek Tirotoksikosis Pada Infant


Neonatus bisa bermanifestasi dan mengalami transisi dari

tirotoksikosis. Neonatus tirotoksikosis dihasilkan melalui transplasenta dari antibodi yang dirangsang oleh tiroid. Penyelidikan mengenai anak dari ibu yang menderita tirotoksikosis menyatakan bahwa intelektual dan perkembangan fisik dari anak tersebut tidak berefek buruk.(3)

Subklinik Tirotoksikosis
Pada Tirotoksikosis hasil konsentrasi serum tirotropin (TSH) rendah, dan tingkat serum T3 dan T4 normal. Prevalensinya sekitar 4%, dan separuhnya dilaporkan pasien telah mendapatkan terapi tiroksin untuk menekan TSH.

KKS SMF Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan RSUPM

Kehamilan dengan Kelainan Tiroid

Perawatan/Penatalaksanaan
Tirotoksikosis selama kehamilan diobati dengan obat-obat thiourea. Obat PTU (Propylthiourasil) dan methimazole (Tapazole) efektif dan bersifat aman. PTU menghambat perubahan T4 menjadi T3. Pembedahan menjadi lebih sulit dilakukan pada orang hamil oleh karena peningkatan vaskularisasi dari kelenjar tiroid selama kehamilan.(3)

HIPOTIROIDISMUS (MYXOEDEMA)
Penderita hipotiroidismus jarang menjadi hamil karena biasanya tidak terjadi ovulasi. Walaupun demikian, seorang cebol (cretin) dan penderita myxoedema dapat menjadi hamil. Biasanya kehamilan berakhir dengan abortus, sehingga tidak jarang wanita menderita abortus habitualis. Selain itu kemungkinan cacat bawaan dan kretinismus janin lebih besar. Diagnosis berdasarkan gejala-gejala klinik, seperti pembengkakan kulit di sekitar mata (non-pitting oedema), kulit kering, lekas letih, suara serak, dan lidah besar, dan hasil pemeriksaan laboratorium, seperti metabolismus basal, dan kadar tiroksin darah yang rendah. Sebagai pengobatan dipakai obat kering dari glandula tiroidea atau thyranon. Mula-mula diberikan dosis rendah, yang kemudian setiap satu minggu dinaikkan sampai tercapai keadaan eutiroid. Pengobatan sering berhasil,

KKS SMF Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan RSUPM

Kehamilan dengan Kelainan Tiroid

kehamilan berlangsung terus sampai cukup bulan. Diagnosis dipastikan dengan hasil indeks tiroksin yang abnormal tinggi. Tujuan pengobatan ialah mengusahakan pasien dalam keadaan eutiroid baik secara klinik/kimiawi. Pengobatan yang diberikan ialah PTU atau metimazol dengan dosis minimal yang efektif. PTU dimulai dengan dosis 3x50 mg/hari yang dapat dinaikkan sampai 3-100 mg/hari sesuai dengan tujuan, kemudian diturunkan bila kadar tiroksin indeks, tiroksin (T4) menurun atau menjelang partus. Tindakan operatif hanya dilakukan bila ada indikasi penekanan dan goiter yang besar. Umumnya setelah 2 minggu pengobatan menunjukkan hasil. Dosis metimazol ialah 1/10 dari PTU.(1,2) Pada ibu hipotiroidismus bila persalinan dapat macet dan diakhiri dengan seksio sesaria.(2) Pasien hipotiroidismus biasanya terdapat abnormalitas pada TSH dan tiroksin serum pada tingkat normal. 5% terjadi pada wanita umur 18-45 tahun.
(2)

Efek Hipotiroidismus pada Fetus dan Infant


Telah dibicarakan bahwa hipotiroidismus dapat menyebabkan

perkembangan mental yang subnormal.(3)

KKS SMF Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan RSUPM

Kehamilan dengan Kelainan Tiroid

DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachhimhadhi T. Penyakit endokrin. Dalam: Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachhimhadhi T, eds. Ilmu kebidanan. Cetakan kelima. Edisi ketiga. Jakarta. Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo. 1999; 526-7. 2. Mochtar R. Penyakit endokrin dalam kehamilan. Dalam: Lutan D, eds. Sinopsis obstetri. Jilid 1. Edisi 2. Jakarta. EGC. 1998; 173-4. 3. Leveno KJ, Cunningham FG, Gant NF, et al. Hypothyroidism, hyperthyroidism. In: Williams, eds. Manual of obstetrics. 21st ed. PrecitceHall Inc. USA. 2001; 584-8. 4. Guyton AC, Hall JE. Hormon metabolik tiroid. Dalam: Setiawan S, Tengadi LKA, Santoso A, eds. Buku ajar fisiologi kedokteran (Textbook of Medical Physiology). Edisi bahasa indonesia. Penerjemah: Setiawan I, Tengadi LKA, Santoso A. Edisi 9. EGC. Jakarta. 1997; 1197-9.

KKS SMF Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan RSUPM

Kehamilan dengan Kelainan Tiroid

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.i Daftar Isiii PENDAHULUAN.........................................................................................................1 HIPERTIROIDISMUS (MORBUS BASEDOWI).......................................................1 Efek Tirotoksikosis Pada Infant.................................................................................3 Subklinik Tirotoksikosis............................................................................................3 Perawatan/Penatalaksanaan ....................................................................................4 HIPOTIROIDISMUS (MYXOEDEMA)......................................................................4 Efek Hipotiroidismus pada Fetus dan Infant.............................................................5 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................6

ii

KKS SMF Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan RSUPM