Anda di halaman 1dari 15

Anakonidin OBH 1.

Indikasi: Untuk meredakan batuk dan gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat serta bersin-bersin. 2. Kontra Indikasi: Penderita penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat, gangguan jantung dan diabetes militus. Penderita yang hipersensitif terhadap komponen obat ini. Tidak boleh diberikan pada penderita yang peka terhadap obat simpatomimetik lain (misal efedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin), penderita tekanan darah tinggi berat dan yang mendapat terapi obat antidepresan tipe penghambat Monoamin Oksidase (MAO). Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan. Hati-hati penggunaan pada penderita tekanan darah tinggi atau yang mempunyai potensi tekanan darah tinggi atau stroke, sperti pada penderita dengan berat badan berlebih (over weight), atau penderita usia lanjut. Bila dalam 3 hari gejala flu tidak berkurang segera hubungi dokter atau unit pelayanan kesehatan. Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi susah tidur, jantung berdebar dan pusing. 3. Komposisi: Tiap sendok takar (5 ml) mengandung: Succus liquiritieae 100 mg, Paracetamol 120 mg, Amonium klorida 50 mg, Pseudoefedrin HCL 7.5 mg, CTM 1 mg. 4. Cara Kerja Obat: Bekerja sebagai analgetis-antipiretik, ekspektoran, antihistamin dan nasal dekongestan. 5. Aturan Pakai: Anak 2 - 6 tahun: 3 kali sehari, 1 sendok takar (5 ml). Anak-anak 6 - 12 tahun: 3 kali sehari, 2 sendok takar (10 ml). 6. Peringatan dan Perhatian: Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, hipertiroid dan retensi urin. Tidak dianjurkan penggunaan pada anak usia di bawah 6 tahun, wanita hamil dan menyusui, kecuali atas petunjuk dokter.

Hati-hati penggunaan bersamaan dengan obat-obat lain yang menekan susunan saraf pusat. Selama minum obat ini tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin. Penggunaan pada penderita yang mengkonsumsi alkohol dapat mengakibatkan risiko kerusakan fungsi hati. 7. Efek Samping: Mengantuk, gangguan pencernaan, gangguan psikomotor, takhikardi, aritmia, mulut kering, palpitasi, retensi urine. Penggunaan dosis besar dan jangka panjang menyebabkan kerusakan hati. 8. Interaksi Obat: Penggunaan bersamaan antidepresan tipe penghambat MAO dapat mengakibatkan krisi hipertensi. 9. Penyimpanan: Simpan pada suhu kamar (25 - 30 derajat Celsius). Dapat Menyebabkan Kantuk

Bronkhitis dan Bronkhiolitis


Bronchitis akut atau yang dikenal juga dengan Paru-paru Basah merupakan gangguan kesehatan yang terjadi ketika saluran bronchialdalam paru-paru terendam dengan air. Saluran bronchial ini kemudian akan membengkak dan memproduksi lendir, yang menyebabkan timbulnya batuk-batuk. Penyakit ini sering timbul setelah adanya infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti pilek. Sebagian besar gejala bronchitis akut seperti sakit di dada, sesak napas, dll biasanya bertahan hingga 2 minggu, namun batuknya bisa terus bertahan hingga 8 minggu pada kasus tertentu. Bronchitis kronis bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan biasanya menyerang para perokok. Orang yang menderita bronchitis biasanya akan terus batuk berdahak selama 3 bulan tiap tahunnya, selama 2 tahun berturut-turut. Jika Anda atau keluarga Anda pernah didiagnosa dengan penyakit ini, maka sebaiknya Anda mengunjungi dokter spesialis untuk diperiksa lebih lanjut. Jenis infeksi paru-paru lainnya yang harus diketahui oleh para prang tua adalah Bronchiolitis. Bayi bisa diserang penyakit bronchiolitis (infeksi yang

disebabkan oleh virus) yang bisa menghalangi saluran pernapasannya sehingga perlu dirawat. Penyebab Bronchitis 1. Beberapa jenis virus, diantaranya: Respiratory Syncytial Virus (RSV), Adenovirus, Influenza dan Parainfluenza 2. Bakteri, pada kasus yang jarang ditemui 3. Polutan (bahan kimia yang terkandung dalam udara) Tanda-tanda dan Gejala Bronchitis 1. Batuk berdahak (pada hari-hari pertama mungkin batuk kering) 2. Rasa sakit di dada 3. Rasa lelah 4. Sakit kepala ringan 5. Sakit-sakit pada badan 6. Demam 7. Mata berair 8. Sakit tenggorokan Periksakan ke Dokter jika Anak Anda Memiliki: 1. Panas tinggi 2. Demam dan batuk dengan dahak yang sangat kental atau bahkan mengandung darah 3. Masalah kronis pada jantung atau paru-parunya 4. Sesak napas, atau napasnya pendek-pendek 5. Gejala-gejala bronchitis di atas lebih dari 3 minggu 6. Selalu terjangkit bronchitis/bronchiolitis Jika Anda memiliki bayi yang kurang dari 3 bulan dan terkenan demam, sangatlah bijaksana untuk memeriksakannya ke dokter. Nantinya dokter Andalah yang akan menentukan apakah si kecil terkena bronchitis akut, kronis, bronchiolitis, atau mungkin infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) lainnya. Setelah itulah perawatan yang tepat akan dapat ditentukan. Kapan Antibiotik Diperlukan? Untuk kasus bronchitis, antibiotik akan sangat jarang diperlukan, karena bronchitis akut dan bronchiolitis hampir selalu disebabkan oleh virus. Adapun bronchitis kronis memerlukan terapi yang lebih intensif daripada sekedar konsumsi antibiotik.

Walaupun demikian, jika anak Anda didiagnosa dengan penyakit ISPA lainnya seperti Pneumonia atau Pertussis, mungkin dokter Anda akan merespkan antibiotik. Antibiotik tidak akan membantu untuk bronchitis yang disebabkan oleh virus atau polusi udara (seperti asap rokok). Ingat, meminum antibiotik ketika tidak diperlukan justru akan sangat berbahaya bagi kesehatan Anda dan keluarga. Bagaimana Mencegah Bronchitis Akut? 1. Hindari merokok, terutama berbagi sebatang rokok dengan banyak orang 2. Jaga higienitas tangan 3. Imunisasi Bronchiolitis Bronchiolitis biasanya menyerang anak dibawah usia 2 tahun, terutama bayi berusia 3-6 bulan. Penyebab utamanya adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV) dan terkadang bisa juga disebabkan oleh virus seperti Adenovirus, Influenza dan Parainfluenza. Virus ini bisa berpindah dari satu orang ke orang lain, baik melalui kontak langsung dengan cairan hidung, maupun melalui udara yang terpolusi. Walaupun RSV hanya akan menimbulkan gangguan ringan pada orang dewasa, namun tidak demikian pada bayi lho! Resiko terkena bronchiolitis akan meningkat jika terdapat faktor-faktor berikut pada bayi: 1. Sering berada di sekitar perokok 2. Usia bayi kurang dari 6 bulan 3. Hidup di lingkungan yang padat penduduk 4. Kurang konsumsi ASI 5. Lahir prematur Gejala Bronchiolitis 1. Biasanya dimulai dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) ringan 2. Dalam 2-3 hari bisa semakin parah yang disertai batuk berdesis 3. Napas bayi tersengal-sengal 4. Bayi terlihat panik dan gelisah 5. Pada kasus yang parah, bayi akan membiru dan ini merupakan situasi yang gawat 6. Cuping hidung bayi akan terlihat membesar setiap kali menarik napas 7. Otot-otot antara tulang rusuk akan tertarik setiap kali menarik napas Terapi yang Dapat Membantu

1. Menepuk-nepuk dada bayi 2. Konsumsi cairan yang cukup, selain ASI, untuk bayi diatas 6 bulan Anda bisa memberikan air jeruk hangat atau jus apel hangat 3. Menghisap uap air bisa membantu mencairkan dahak kental yang bisa menyebabkan bayi Anda tersedak. Anda bisa menggunakan alat semacam Humidifier untuk ini 4. Banyak beristirahat 5. Jangan biarkan orang merokok di dekat bayi Anda Biasanya gejala ini akan berkurang dalam waktu 1 minggu dan kesulitan bernapas akan berkurang dalam waktu 3 hari. Angka kematian bayi akibat penyakit ini tidak sampai 1 %. Kapan Anda Sebaiknya Menghubungi Tenaga Medis? Hubungi tenaga medis jika bayi yang terkena bronchiolitis: 1. Menjadi lesu 2. Kulit, kuku, atau bibirnya membiru 3. Bernapas dengan napas yang sering dan pendek 4. Terkena pilek yang memburuk tiba-tiba 5. Kesulitan bernapas 6. Cuping hidung membesar dan otot rusuknya tertarik setiap bernapas Sumber : http://www.tipsbayi.com/bronchitis-paru-paru-basah-bronchiolitis.html Bronkhitis Bronkitis adalah peradangan pada selaput lendir bronkus, saluran udara yang membawa aliran udara dari trakea ke dalam paru-paru. Bronkitis dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, akut dan kronis, masing-masing memiliki etiologi yang unik, patologi, dan terapi. Bronkitis akut ditandai oleh perkembangan batuk, dengan atau tanpa produksi sputum, lendir yang ekspektorasi (batuk) dari saluran pernapasan. Bronkitis akut sering terjadi selama penyakit virus akut seperti pilek atau influenza. Virus menyebabkan sekitar 90% kasus bronkitis akut sementara bakteri mencapai kurang dari 10%. Bronkitis kronis, jenis penyakit paru obstruktif kronik, ditandai dengan adanya batuk produktif yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih per tahun untuk minimal 2 tahun. Bronkitis kronis paling sering berkembang karena cedera berulang pada saluran udara yang disebabkan oleh iritasi dihirup. Merokok adalah penyebab paling umum, diikuti oleh polusi udara dan pajanan iritasi, dan udara dingin.

Bronkitis akut paling sering disebabkan oleh virus yang menginfeksi epitel bronkus, yang mengakibatkan peradangan dan peningkatan sekresi lendir. Batuk, gejala yang umum dari bronkitis akut, berkembang dalam upaya untuk mengusir kelebihan lendir dari paru-paru. Gejala umum lainnya termasuk sakit tenggorokan, pilek, hidung tersumbat (coryza), demam ringan, radang selaput dada, malaise, dan produksi dahak. Karena kebanyakan kasus bronkitis akut disebabkan oleh virus, antibiotik tidak boleh digunakan karena mereka hanya efektif melawan bakteri. Menggunakan antibiotik pada pasien yang tidak memiliki infeksi bakteri mempromosikan pengembangan bakteri resisten antibiotik, yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang lebih besar. Antibiotik hanya boleh diresepkan jika pemeriksaan mikroskopis dahak Gram diwarnai menunjukkan sejumlah besar bakteri ini. Gejala lain mungkin termasuk mengi dan sesak napas, terutama pada tenaga. Batuk sering lebih buruk segera setelah kebangkitan, dan dahak yang dihasilkan dapat memiliki warna kuning atau hijau dan mungkin bernoda darah. Kebanyakan kasus bronkitis kronis disebabkan oleh merokok atau bentuk lain dari tembakau. Inhalasi asap iritasi kronis atau debu dari paparan kerja atau polusi udara juga mungkin penyebab. Sekitar 5% dari populasi memiliki bronkitis kronis, dan itu adalah dua kali lebih umum pada laki-laki daripada perempuan. Bronkitis kronis diobati sesuai gejala. Peradangan dan edema dari epitel pernapasan dapat dikurangi dengan kortikosteroid inhalasi. Mengi dan sesak napas dapat diobati dengan mengurangi bronkospasme (penyempitan bronkus reversibel yang lebih kecil karena penyempitan otot polos) dengan bronkodilator inhalasi seperti adrenergic agonis-(misalnya, albuterol) dan antikolinergik inhalasi (misalnya, ipratropium bromida). Hipoksemia, terlalu sedikit oksigen dalam darah, dapat diobati dengan oksigen tambahan.Namun, suplemen oksigen dapat mengakibatkan hard pernapasan menurun mengarah ke tingkat darah yang meningkat dari karbon dioksida dan asidosis pernafasan berikutnya. Metode yang paling efektif untuk mencegah bronkitis kronis dan bentuk lain dari COPD adalah untuk menghindari merokok dan bentuk lain dari tembakau. Pada tes paru, suatu bronchitic (bronkitis) dapat menimbulkan FEV1 menurun dan FEV1/FVC. Namun, tidak seperti asma umum lainnya gangguan obstruktif, dan emfisema, bronkitis jarang menyebabkan volume residu tinggi. Hal ini karena aliran udara obstruksi ditemukan pada bronkitis adalah karena peningkatan resistensi, yang umumnya tidak menyebabkan saluran udara runtuh prematur dan udara perangkap di paru-paru. Sumber : http://www.news-medical.net/health/What-is-Bronchitis-(Indonesian).aspx Bronkhiolitis Bronchiolitis adalah peradangan bronchioles, bagian-bagian udara yang terkecil dari paruparu. Peradangan ini biasanya disebabkan oleh virus. Bronchiolitis penyebab

Istilah ini biasanya merujuk pada bronchiolitis virus akut, penyakit umum di masa kanakkanak. Hal ini paling sering disebabkan oleh virus syncytial pernapasan (RSV, juga dikenal sebagai manusia pneumovirus). Virus lainnya yang dapat menyebabkan penyakit ini termasuk metapneumovirus, influenza, parainfluenza, coronavirus, adenovirus, dan rhinovirus. American Academy of Pediatrics telah menerbitkan pedoman praktik klinis untukDiagnosis dan manajemen Bronchiolitis, termasuk review bukti dan rekomendasi. Bronchiolitis Diagnosis dan pemulihan Dalam kasus khas, bayi di bawah usia dua tahun mengembangkan batuk, wheeze, dan sesak napas selama satu atau dua hari. Diagnosis dibuat oleh ujian klinis. Sinar-X dada kadangkadang berguna untuk mengecualikan radang paru-paru, tetapi tidak ditunjukkan dalam kasus rutin. Pengujian untuk alasan virus tertentu (misalnya RSV oleh aspirate nasofaring) umum, tetapi memiliki sedikit efek pada manajemen. Identifikasi positif RSV pasien dapat membantu untuk: surveilans penyakit pengelompokan pasien ("cohorting") bersama-sama di kamar rumah sakit Italia untuk mencegah infeksi silang memprediksi Apakah penyakit kursus memuncak belum mengurangi kebutuhan untuk prosedur diagnostik lain (dengan memberikan keyakinan bahwa penyebab telah diidentifikasi). Bayi mungkin terengah-engah selama beberapa hari. Setelah penyakit akut, umum untuk airways untuk tetap sensitif selama beberapa minggu, menuju berulang batuk dan wheeze. Ada link mungkin dengan asma kemudian: mungkin penjelasan secara bronchiolitis yang menyebabkan asma merangsang lama istilah peradangan, atau anak-anak yang ditakdirkan untuk menjadi asma yang lebih rentan untuk mengembangkan bronchiolitis. Bronchiolitis Obliterans jarang muncul di penyakit paru-paru rematik ketika kecil saluran udara obstruksi berkembang menjadi necrotizing bronchiolitis. Bronchiolitis perawatan Ada tidak ada pengobatan khusus yang efektif untuk bronchiolitis. Terapi terutama mendukung. Feed kecil sering didorong untuk menjaga hidrasi sebagaimana dibuktikan oleh baik urin output, dan kadang-kadang oksigen mungkin diperlukan untuk menjaga kadar oksigen darah. Suction nasofaring sering dilakukan untuk menjaga saluran udara jelas. Dalam kasus-kasus yang parah bayi mungkin perlu diberi makan melalui tabung nasogastric atau bahkan mungkin intravena cairan. Dalam kasus ekstrim, ventilasi mekanis (misalnya, menggunakan CPAP) mungkin diperlukan. Bronkus obat seperti salbutamol/albuterol atau ipratropium tidak lagi dianjurkan, tetapi banyak dokter menawarkan dosis percobaan untuk melihat apakah ada manfaat (terutama jika ada Riwayat keluarga asma, karena itu bisa sulit untuk klinis membedakan bronchiolitis dari virus yang disebabkan asma). Adrenalin rasemat adalah obat lain yang kadang-kadang diberikan. Ribavirin adalah obat antivirus yang memiliki peran kontroversial dalam mengobati infeksi RSV. Tidak ada manfaat yang terbukti, tapi itu juga kadang kala digunakan untuk bayi

dengan paru-paru yang sudah ada sebelumnya, hati atau kekebalan penyakit. Antibiotik sering diberikan dalam kasus infeksi bakteri yang rumit bronchiolitis, tetapi tidak berpengaruh pada infeksi virus yang mendasari. Kortikosteron tidak memiliki terbukti manfaat dalam bronchiolitis perawatan dan tidak disarankan. DNAse tidak ditemukan untuk menjadi efektif. Ada minat dalam penggunaan saline hypertonic di bronchiolitis. Awalnya dianjurkan untuk digunakan dalam cystic fibrosis pasien, berspekulasi untuk meningkatkan hidrasi sekresi, sehingga memfasilitasi penghapusan mereka. Komplikasi bronchiolitis Telinga tengah infeksi bakteri Pengembangan asma kemudian (berhubungan dgn cabang tenggorokan hiperaktif) Bronchiolitis pencegahan Secara umum, pencegahan bronchiolitis bergantung pada langkah-langkah untuk mengurangi penyebaran virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan (, mencuci dan menghindari paparan-gejala dengan infeksi saluran pernapasan). Bayi prematur, dan lain-lain dengan tertentu majory jantung dan pernapasan gangguan, dapat menerima pasif imunisasi dengan Palivizumab (antibodi monoklonal terhadap RSV). Bentuk terapi pasif imunisasi memerlukan bulanan suntikan setiap musim dingin. Apakah hal itu dapat menguntungkan bayi dengan masalah paru-paru sekunder untuk otot dystrophies dan kelompok rentan lainnya saat ini belum diketahui Sumber : http://www.news-medical.net/health/What-is-Bronchiolitis-(Indonesian).aspx Penyebab Pneumonia Pneumonia dapat disebabkan oleh mikroorganisme, iritasi dan penyebab yang tidak diketahui. Ketika pneumonia dikelompokkan dengan cara ini, menyebabkan infeksi adalah jenis yang paling umum. Gejala pneumonia menular disebabkan oleh invasi paru-paru oleh mikroorganisme dan respon sistem kekebalan tubuh untuk infeksi. Meskipun lebih dari seratus jenis mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, hanya sedikit yang bertanggung jawab untuk kebanyakan kasus. Penyebab paling umum pneumonia adalah virus dan bakteri. Penyebab kurang umum pneumonia menular adalah jamur dan parasit. Virus Virus menyerang sel untuk mereproduksi. Biasanya, virus mencapai paru-paru ketika tetesan udara yang dihirup melalui mulut dan hidung. Setelah di paru-paru, virus menyerang sel-sel yang melapisi saluran udara dan alveoli. Invasi Hal ini sering menyebabkan kematian sel, baik ketika virus langsung membunuh sel, atau melalui jenis apoptosis sel dikendalikan penghancuran diri yang disebut. Ketika sistem kekebalan tubuh merespon infeksi virus, kerusakan paru-paru bahkan lebih terjadi. Sel darah putih, terutama limfosit, mengaktifkan sitokin kimia tertentu yang memungkinkan cairan bocor ke dalam alveoli. Kombinasi dari kerusakan sel dan alveoli berisi cairan mengganggu transportasi normal oksigen ke dalam aliran darah.

Serta merusak paru-paru, banyak virus mempengaruhi organ-organ lain dan dengan demikian mengganggu banyak fungsi tubuh. Virus juga dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi bakteri, karena alasan pneumonia bakteri yang sering mempersulit radang paru-paru. Viral pneumonia umumnya disebabkan oleh virus seperti virus influenza, virus RSV (RSV), adenovirus, dan metapneumovirus. Herpes simplex virus merupakan penyebab pneumonia langka kecuali pada bayi baru lahir. Orang dengan sistem kekebalan yang lemah juga berisiko pneumonia yang disebabkan oleh sitomegalovirus (CMV). Bakteri Bakteri biasanya masuk paru-paru ketika tetesan udara yang terhirup, tetapi juga dapat mencapai paru-paru melalui aliran darah bila ada infeksi di bagian lain dari tubuh. Banyak bakteri hidup di bagian saluran pernapasan atas, seperti hidung, mulut dan sinus, dan dapat dengan mudah terhirup ke dalam alveoli. Setelah masuk, bakteri bisa menyerang ruang antara sel dan antara alveoli melalui menghubungkan pori-pori. Invasi ini memicu sistem kekebalan tubuh untuk mengirim neutrofil, sejenis sel darah putih defensif, ke paru-paru. Melanda neutrofil dan membunuh organisme menyinggung, dan juga sitokin rilis, menyebabkan aktivasi umum sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan demam, menggigil, dan umum kelelahan pada pneumonia bakteri dan jamur. Neutrofil, bakteri, dan cairan dari pembuluh darah sekitarnya mengisi alveoli dan mengganggu transportasi oksigen normal. Bakteri sering melakukan perjalanan dari paru-paru terinfeksi ke dalam aliran darah, menyebabkan penyakit serius atau bahkan fatal seperti syok septik, dengan tekanan darah rendah dan kerusakan beberapa bagian tubuh termasuk otak, ginjal, dan jantung. Bakteri juga dapat melakukan perjalanan ke daerah antara paru-paru dan dinding dada (rongga pleura) menyebabkan komplikasi yang disebut empiema sebuah. Penyebab paling umum pneumonia bakteri Streptococcus pneumoniae''''dan "atipikal" bakteri. Atypical bakteri adalah bakteri parasit yang hidup intraseluler atau tidak memiliki dinding sel. Selain itu mereka menyebabkan pneumonia umumnya kurang parah, sehingga gejala atipikal, dan merespon terhadap antibiotik yang berbeda dari bakteri lain. Jenis bakteri Gram-positif yang menyebabkan pneumonia dapat ditemukan dalam hidung atau mulut orang sehat banyak. Streptococcus pneumoniae'''', sering disebut "pneumokokus", adalah bakteri penyebab paling umum pneumonia pada semua kelompok umur kecuali bayi baru lahir. Pneumococcus membunuh sekitar satu juta anak setiap tahunnya, terutama di negara-negara berkembang. Penyebab lain Gram-positif penting dari pneumonia adalah Staphylococcus aureus'''', dengan''''Streptococcus agalactiae menjadi penyebab penting pneumonia pada bayi baru lahir. Bakteri Gram-negatif menyebabkan pneumonia lebih jarang daripada bakteri gram positif. Beberapa bakteri gram negatif yang menyebabkan pneumonia termasuk''''Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae'''',''Escherichia coli'',''Pseudomonas aeruginosa''dan''Moraxella catarrhalis''. Bakteri ini sering hidup dalam perut atau usus dan bisa masuk paru-paru jika dihirup muntah. "Atypical" bakteri yang menyebabkan pneumonia termasuk''Chlamydophila pneumoniae'',''''Mycoplasma pneumoniae, dan Legionella pneumophila''''. Jamur Pneumonia jamur jarang, tetapi dapat terjadi pada individu dengan masalah sistem kekebalan tubuh karena AIDS, obat-obatan immunosuppresive, atau masalah medis lainnya. Patofisiologi pneumonia yang disebabkan oleh jamur adalah mirip dengan pneumonia

bakteri. Pneumonia jamur yang paling sering disebabkan oleh''''Histoplasma capsulatum, blastomyces,''Cryptococcus neoformans'',''Pneumocystis jiroveci'', dan''Coccidoide immitis''. Histoplasmosis paling umum di lembah Sungai Mississippi, dan coccidioidomycosis di Amerika Serikat barat daya. Parasit Berbagai parasit dapat mempengaruhi paru-paru. Parasit ini biasanya memasuki tubuh melalui kulit atau dengan ditelan. Setelah masuk, mereka melakukan perjalanan ke paru-paru, biasanya melalui darah. Ada, seperti dalam kasus lain pneumonia, kombinasi kerusakan seluler dan respon imun menyebabkan gangguan transportasi oksigen. Salah satu jenis sel darah putih, eosinofil itu, merespon dengan penuh semangat untuk infeksi parasit. Eosinofil di paru-paru dapat menyebabkan pneumonia eosinofilik, sehingga menyulitkan pneumonia parasit yang mendasarinya. Parasit yang paling umum yang menyebabkan pneumonia''Toxoplasma gondii'',''Strongyloides stercoralis'', dan''''ascariasis. Idiopathic Pneumonia interstisial idiopatik (IIP) adalah kelas penyakit paru difus. Dalam beberapa jenis IIP, misalnya beberapa jenis pneumonia interstisial biasa, penyebabnya, memang, tidak diketahui atau idiopatik. Dalam beberapa jenis IIP penyebab pneumonia diketahui, pneumonia interstisial deskuamatif misalnya disebabkan oleh merokok, dan nama adalah keliru. Sumber : http://www.news-medical.net/health/Pneumonia-Cause-(Indonesian).aspx Pneumonia Pada Anak : UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai penyebab kematian tertinggi anak balita By pdpersi.co.id Surabaya - Pneumonia sebenarnya bukan penyakit baru. Tahun 1936 pneumonia menjadi penyebab kematian nomor satu di Amerika. Penggunaan antibiotik, membuat penyakit ini bisa dikontrol beberapa tahun kemudian. Namun pada ahun 2000, kombinasi pneumonia dan influenza kembali merajalela. Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Kasus pneumonia ditemukan paling banyak meyerang anak balita. Menurut laporan WHO, sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia taiap tahun akibat pneumonia. Bahkan UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai kematian tertinggi anak balita, melebihi penyakitpenyakit lain seperti campak, malaria serta AIDS. Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang. Kantong-kantong udara dalam paru yang disebut alveolidipenuhi nanah dan cairan sehingga kemampuan menyerap oksigen menjadi berkurang. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bisa bekerja. Karena inilah, selain penyebaran infeksi ke seluru tubuh, penderita pneumonia bisa meninggal. Sebenarnya pneumonia bukanlah penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-

macam dan diketahui ada 30 sumber inefksi dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun partikel. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus ( biasanya siebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karean paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang 1 tahun, dan 40 kali per menit atau lebih pada usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia. Pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam pada anak usia 2 bulan sampai anak usia kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga pneumonia sangat berat dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak di bawah 2 bulan, pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah. Perbedaan yang mendasar antara pneumonia dan TBC terletak pada jenis mikroorganisme yang menginfeksi. Pneumonia yang ada di masyarakat umumnya, disebabkan oleh bakteri, virus, atau mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus), bakteri yang umum adalah streptococcus Pnemoniae, Staphylococcus Aureus, Klebsiella sp, Pseudomonas sp. Sedangkan yang disebabkan virus, misalnya virus influensa. Pada TBC, jenis mikroorganisme yang menginfeksinya adalah mikrobakterium tuberculosis. Balita rentanterken penyakit pneumonia, umumnya dikerenakan lemahnya atau belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh mereka. Oleh sebab itu, mikroorganisme atau kuman lebih mudah menembus pertahanan tubuh. Jenis bakteri Pneumococcus atau pneumokok belakangan semakin populer seiring dengan dikenalnya jenis penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD). Selain pneumonia, yang termasuk IPD adalah radang selaput otak (meningitis) atau infeksi darah (bakteremia). Pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri pneumokok, kerap menimbulkan komplikasi dan mengakibatkan penderita juga terkena meningitis atau bakteremia. Bakteri pneumokok ini dapat masuk melalui infeksi pada daerah mulut dan tenggorokan, menembus jaringan mukosa lalu masuk ke pembuluh darah, mengikuti aliran darah sapai ke paru-paru dan selaput otak. Akibatnya, timbul peradanganpada paru dan dan daerah selaput otak. Gejala khususnya adalah demam, sesak napas, napas dan nadi cepat, dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya

merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang untuk oksigen. Namun, gejala awalnya yang tergolong sederhana seringkali membuat orang tua kurang waspada terhadap penyakit ini. Orang tua sering datang terlambat membawa anaknya ke dokter. Karena gejala awal panas dan batuk, orang tua sring mengobati sendiri di rumah dengan obat biasa, bila sudah sesak baru dibawa ke dokter. Sebaiknya bila anak mengalami panas tinggi dan batuk, segeralah dibawa ke dokter untuk dicari tahu penyebabnya. Diagnosis dan Pengobatan Diagnosis pneumonia dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan pemeriksaan fisik secra umum. Setelah itu ada pula pemeriksaan penunjang seperti rontgen paru dan pemeriksaan darah. Penanganan pneumonia pun dapat dilakukan dengan berbagai cara. Umumya pengobatan dengan pemberian antibiotik. Penderita pneumonia dapat sembuh bila diberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kumannya, hanya saja memerlukan dosis yang tinggi dan waktu yang lama . Namun, bakteri Streptococcus pneumoniae mulai resisten atau kebal terhadap beberapa jenis antibiotik. Bahkan kawasan Asia dinyatakan sebagai hot zone, yakni daerah dengan tingkat resistensi tinggi untuk bakteri pneumokok. Oleh sebab itu apabila pneumonia yang dialami cukup parah, penanganannya juga dilakukan dengan cara opname. Dengan perawatan khusus di rumah sakit, pasien bisa mendapatkan istirahat dan pengobatan yang lebih intensif, atau bahkan terapi oksigen sebagai penunjang. Selain itu penderita pneumonia juga membutuhkan banyak cairan untuk mencegahnya dari dehidrasi. Cairan ini bisa diperoleh dengan cara minum air putih melalui infus. Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus, meski bebrapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga bisa diobati di rumah. Biasanya dokter yang menangani pneumonia akan memilihkan obat sesuai pertimbangan masing-masing, setelah suhu pasien kembali normal, dokter akan menginstruksikan pengobatan lanjutan untuk mencegah kekambuhan dikarenakan serangan berikutnya bisa lebih berat dibanding yang pertama. Selain antibotka, pasien juga akan mendapat pengobatan tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah. Pada beberapa kasus, pneumonia yang sudah mengalami komplikasi tersebut bisa meninggalka efek samping. Anak dapat mengalami berbagai efek samping seperti gangguan kecerdasan, gangguan perkembangan motorik, gangguan pendengaran dan keterlambatan berbicara. Walaupun demikian, anak dengan pneumonia juga bisa sembuh total dan hidup dengan normal. Pencegahan Penanggulangan penyakit pneumonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA (Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga mumudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulannya Program P2ISPA mengklasifikasi penderita ke

dalam 2 kelompok usia. Yaitu, usai di bawah 2 bulan (Pneumonia Berat atau Bukan Pneumonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Klasifikasi Bukan Pneunomia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain batukpilek biasa, pharyngitis, tonsilitis dan otitis. Ungkapan klasik bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati benar-benar relevan dengan penyakit pneumonia ini. Mengingat pengobatannya semakin sulit, terutama terkait dengan meningkatnya resistensi bakteri pneumokolus, maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan. Pencegahan penyakit IPD, termasuk pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. Peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%. Adapun mengenai waktu ideal pemberian vaksin IPD, adalah sebanyak 4 kali, yakni pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usai 12 bulan. Vaksin itu aman dan dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti Hib, MMR maupun Hepatitis B. Selain imunisasi, pencegahan pneumonia dengan menjaga keseimbangan nutrisi anak dan mengupayakan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, antara lain dengan cara istirahat yang cukup juga olahraga. Pneumonia oleh Bakteri Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siap sajadari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumonia sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah, dan denyut jantungnya meningkat cepat.Bibir dan kuku mungkin membiru karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang ekstrem, pasien akan mengigil, gigi bergemeletuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan lendir berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati. Bahkan untuk pencegahanvaksinnya pun sudah tersedia. Pneumonia oleh Virus Setengah dari kejadian pneuimonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas terutama pada anak-anak gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun, bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat dan

kadang menyebabkan kematian. Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walaupun tak terlihat jaringan paru dipenuhi cairan. Gejala pneumonia oleh virus sama saja dengan influenza yaitu demam, batuk kering, sakit kepala, ngilu di seluruh tubuh. Dan letih lesu selam 12-136 jam, napas menjadi sesak, batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam tinggi kadang membuat bibir menjadi biru. Pneumonia Mikoplasma Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda-tanda fisiknya bila dibandingkan dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal (Atypical Pneumonia). Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski mamiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati. Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir. Demam dan menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien bisa mual dan muntah. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama. Pneumonia Jenis Lain Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia (PCP) yang diduga disebabkan oleh jamur, PCP biasanya menjadi tanda awal serangan penyakit pada pengidap HIV/AIDS. PCP bisa diobati pada banyak kasus. Bisa saja penyakit ini muncul lagi beberapa bulan kemudian, namun pengobatan yang baik akan mencegah atau menundah kekambuhan. Pneumonia lain yang lebih jarang disebabkan oleh masuknya makanan, cairan,gas,debu maupun jamur. Rickettsia juga masuk golongan antara virus dan bakteri menyebabkan demam Rocky Mountain, demam Q, tipus, dan psittacosis. Penyakit-penyakit ini juga mengganggu fungsi paru, namun pneumonia tuberkolosis alias TBC adalah infeksi paru paling berbahaya kecuali diobati sejak dini. Penyebab Pneumonia Pada Anak Dalam banyak penelitian menyebutkan bahwa pneumonia pada anak disebabkan oleh dua jenis bakteri, yaitu: Haemophilus Influenzae tipe B (Hib) dan Streptococcus pneumoniae. Kedua bakteri ini juga dapat menyebabkan meningitis akut (infeksi pada selaput yang menutupi otak) pada anak-anak. Selain kesulitan dalam bernapas, batuk rejan merupakan salah satu gejala umum pada anak ketika ia terkena pnemonia. Pneunomia dapat diobati secara efektif dengan antibiotik. Namun dalam kasus pneumonia yang lebih lanjut, pengobatan bisa dilakukan melalui metode sinarX. Pneumonia dapat dicegah dengan beberapa cara, seperti:

1. Memberikan ASI ekslusif selama enam bulan pertama, hal tersebut merupakan langkah penting untuk memastikan bayi anda mendapatkan gizi yang cukup serta membangun kekebalan alami terhadap bakteri maupun virus. 2. Memberikan vaksin yang disarankan oleh dokter dalam satu tahun pertama kelahiran. 3. Menjaga kebersihan lingkungan. 4. Membiasakan anak untuk hidup sehat seperti tidak jajan sembarangan dan mencuci tangan sebelum makan. Sumber : http://www.pdpersi.co.id/content/article.php?mid=5&catid=9&nid=866