Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN A.

Judul Percobaan Analisis Aspirin dan Kafein dalam Tablet

B. Tujuan Percobaan 1. Menentukan kadar aspirin suatu tablet 2. Menentukan kadar kafeina suatu tablet

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ASPIRIN Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin merupakan salah satu senyawa turunan asam salisilat yang digunakan sebagai obat analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan antiinflamasi (Wilmana, 1995). Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung (Anonim, 2008). Menurut Rochmaningsih (2004), asam salisilat (asam ortohidroksi benzoate) dibuat secara besar-besaran dengan sintesis Kolbe, yaitu dengan memanaskan natrium fenolat kering dengan gas CO2 pada tekanan 6-7 atm (180 C 200 C). Aspirin dibuat dengan mereaksikan asam salisilat dengan anhidrida asam asetat menggunakan katalis 85% H3PO4 sebagai zat penghidrasi (Petrucci, 1989). Reaksinya adalah sebagai berikut,

Asam salisilat adalah asam bifungsional yang mengandung dua gugus OH dan COOH. Karenanya asam salisilat ini dapat mengalami dua jenis reaksi yang berbeda yaitu reaksi asam dan basa. Reaksi dengan anhidrida asam asetat akan menghasilkan aspirin. Aspirin bersifat antipiretik dan analgesik, sifat antipiretik dan analgesik yang ditemukan berasal dari senyawa salicin. Salicin merupakan kelompok glikosida, yaitu senyawa yang memiliki bagian gula terikat pada nonglikosa L (Wahyuewmuslim, 2008).

Penampakan fisik aspirin yaitu hablur putih, umumnya seperti jarum atau lempengan tersusun, atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau berbau lemah, stabil di udara kering, di dalam udara lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat. Sifat-sifat aspirin yaitu sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam eter atau alcohol. Aspirin bersifat asam sehingga dalam penentuan kadarnya digunakan metode titrasi alkalimetri, yaitu titrasi yang menggunakan larutan standard basa untuk menentukan kadar sampel yang bersifat asam. Larutan standard yaitu larutan yang sudah diketahui

konsentrasinya. Contoh larutan standard asam yaitu larutan HCl dan H2SO4 dan larutan standard basa yaitu NaOH dan KOH (Damanik, 2010). Aspirin biasa digunakan untuk mengobati sakit gigi, sakit kepala, artritis, dan nyeri lainnya. Kerja aspirin di dalam tubuh berhubungan langsung dengan biosintesis prostaglandin. Prostaglandin merupakan kelompok senyawa yang berhubungan dengan asam lemak tak jenuh dan dibuat di dalam sel dengan rangkaian reaksi berkataliskan enzim. Reaksi yang terjadi adalah reaksi dari asam arakidonat dengan enzim siklooksigenase ( Hart dan Craine, 2003 ). Peran prostaglandin bekerja pada sistem pencernaan, peredaran darah, dan reproduksi. Ketika terluka, ternyata tubuh melepas prostaglandin yang menimbulkan efek nyeri. Dari situlah hubungan kerja aspirin dalam tubuh dimulai ( Hart dan Craine, 2003 ). Kegunaan aspirin yang lain yaitu sebagai standar untuk mengukur obat anti inflamasi lainnya, mengobati sebagian besar kelainan sendi dan obat rangka, menghambat sintesis plostoglanain, menurunkan demam, tetapi hanya sedikit mempengaruhi suhu badan normal. Dosis aspirin secara oral untuk mendapatkan efek analgetik dan antipiretik adalah 300-900 mg, diberikan setiap 4-6 jam dengan dosis maksimum 4 g sehari dan konsentrasi dalam plasma 150-300 mcg/ml. Untuk mendapatkan efek antiinflamasi, dosis yang digunakan adalah 4-6 g secara oral per hari. Untuk

mendapatkan efek antiagregasi platelet, dosis yang digunakan adalah 60-80 mg secara oral per hari (Katzung, 2004). Dosis aspirin 80 mg per hari (dosis tunggal dan rendah) dapat menghasilkan efek antiplatelet (penghambat agregasi trombosit). Secara normal, trombosit tersebar dalam darah dalam bentuk tidak aktif, tetapi menjadi aktif karena berbagai rangsangan. Membran luar trombosit mengandung berbagai reseptor yang berfungsi sebagai sensor peka atas sinyal-sinyal fisiologik yang ada dalam plasma. Efek antiplatelet aspirin adalah dengan menghambat sintesis tromboksan A2 (TXA2) dari asam arakidonat dalam trombosit oleh adana proses asetilasi irreversibel dan inhibisi siklooksigenase, suatu enzim penting dalam sintesis prostaglandin dan tromboksan A2 (Tjay dan Rahardja, 2002). Pada dosis biasa, efek samping utama aspirin adalah gangguan pada lambung. Aspirin adalah suatu asam dengan harga pKa 3,5 sehingga pada pH lambung tidak terlarut sempurna dan partikel aspirin dapat berkontak langsung dengan mukosa lambung. Akibatnya mudah merusak sel mukosa lambung bahkan sampai timbul perdarahan pada lambung. Gejala yang timbul akibat perusakan sel mukosa lambung oleh pemberian aspirin adalah nyeri epigastrum, indigest rasa seperti terbakar, mual dan muntah. Oleh karena itu sangat dianjurkan aspirin diberi bersama makanan dan cairan volume besar untuk mengurangi gangguan saluran cerna (Katzung, 2004). Penggunaan obat-obat analgesik terutama dalam jangka panjang seringkali memberikan banyak efek samping, beberapa diantaranya yaitu mengganggu fungsi liver, ginjal, gastrointestinal, dan pembekuan darah, serta dapat menyebabkan agranulositosis dan anemia aplastik. Efek samping aspirin yang lain yaitu menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerolus, menimbulkan alkolosis respirasi, penurunan pendengaran dan vertigo, menyebabkan hepatitis ringan (Shearn, 1989).

B. KAFEIN Banyak senyawa yang berkhasiat menstimulasi susunan syaraf pusat terdapat dalam sejumlah organ tumbuhan sehingga telah sangat lama dimanfaatkan orang. Bahan aktifnya turunan xantina, terutama kafeina, teobromina, dan teofilina. Terdapat perbedaan khasiat yang bertahap di antara ketiga turunan xantina ini (Auterhoff dan Kovar, 2002). Selain mempunyai efek stimulasi terhadap peredaran darah, ketiga turunan xantina tersebut bersifat diuretik. Berbagai campuran sekunder mempengaruhi efek tersebut. Di industri, ketiga senyawa turunan xantina ini diisolasi dari tumbuhan asal, misalnya biji kopi, teh hitam, daun ilex, pasta paulaina, biji coklat dan biji kola (Auterhoff dan Kovar, 2002). Kafeina atau lebih populernya kafein, ialah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretic ringan. Kafeina ditemukan oleh seorang kimiawan Jerman, Friendrich Ferdinand Runge pada tahun 1819. Ia menciptakan kaffein untuk merujuk pada senyawa kimia pada kopi. Kafeina juga disebut guaranina ketika ditemukan pada teh. Semua istilah tersebut sama-sama merujuk pada senyawa kimia yang sama (Anonim, 2013). Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam keluarga methylxanthine bersama sama senyawa tefilin dan teobromin, berlaku sebagai perangsang sistem saraf pusat. Pada keadaan asal, kafein ialah serbuk putih yang pahit dengan rumus kimianya C6H10O2 dengan struktur kimianya 1,3,7- trimetilxantin. Berikut rumus bangun kafein

(Ganiswara, 1995).

Dalam manusia, kafein adalah stimulan sistem saraf pusat (SSP), memiliki efek sementara menangkal mengantuk dan mengembalikan kewaspadaan. Kafein adalah dunia yang paling banyak dikonsumsi psikoaktif substansi, tetapi tidak seperti banyak zat lain psikoaktif, hukum dan tidak diatur dalam hampir semua yurisdiksi. Di Amerika Utara, 90% orang dewasa mengkonsumsi kafeina setiap hari. US Food and Drug Administration daftar kafein "beberapa tujuan umumnya diakui sebagai zat makanan yang aman" (Anonim, 2013). Penelitian sudah membuktikan apabila kafeina memiliki efek positif terhadap system pernapasan. Berdasarkan majalah Marie Claire, kafeina ditunjukkan membantu meringankan gelaja penyakit asma karena kafeina memiliki kandungan yang mirip dengan obat asma, theophylline, yang melebarkan rongga pernapasan ke paru-paru. Kafeina memiliki efek sangat positif terhadap aliran darah ke otak. Otak yang mengembang akan menyebabkan sakit kepala, kafeina berfungsi untuk mengerutkan rongga ini sehingga bias mengurangi rasa sakit (Anonim, 2007). Meminum kopi atau minuman berkafeina lain bisa membantu mengurangi resiko terkena dua tipe diabetes. Sebuah penelitian terhadap 126.000 pria dan wanita dilakukan dan hasilnya menunjukkan kalau mereka yang sedikit mengkonsumsi kafeina atau tidak sama sekali, kemungkinan besar beresiko terkena dua tipe diabetes dibandingkan yang mengkonsumsi secara aktif. Keuntungan lain dari kafeina adalah kemampuannya untuk mencegah atau menghentikan penyebaran kanker kulit. Peneliti melakukan uji coba terhadap tikus yang mengidap kanker kulit dengan menyuntikkan kafeina ke kulit tikus dan menemukan bahwa kafein membunuh sel kanker secara efektif tanpa merusak kulit (Anonim, 2007). Kafein mempunyai efek relaksasi otot polos , terutama otot polos, bronchus, merangsang susunan saraf pusat, otot jantung, dan meningkatkan dieresis. Kadar rendah kafein dalam plasma akan menurunkan denyut, sebaliknya kadar kafein dan teofilin yang lebih tinggi menyebabkan tachicardi, bahkan pada individu yang

sensitif mungkin menyebabkan aritmia yang berdampak kepada kontraksi ventrikel yang premature. Kafein menyebabkan dilatasi pembuluh darah termasuk pembuluh darah koroner dan pulmonal, karena efek langsung pada otot pembuluh darah. Resistensi pembuluh darah otak naik disertai pengurangan aliran darah dan PO2 di otak, ini diduga merupakan refleksi adanya blokade adenosine oleh Xantin (Ganiswara, 1995). (Ganiswara, 1995). Kafein mencapai jaringan dalam waktu 5 (lima) menit dan tahap puncak mencapai darah dalam waktu 50 menit. Ffrekuensi pernafasan, urin, asam lemak dalam darah, asam lambung bertambah disertai peningkatan tekanan darah. Kafein juga dapat merangsang otak (7,5-150 mg) dapat meningkatkan aktifitas neural dalam otak serta mengurangi keletihan), dan dapat memperlambat waktu tidur. Pemakaian lebih dari 650mg dapat menyebabkan insomnia kronik, gelisah, dan ulkus. Efek lain dapat meningkatkan denyut jantung dan berisiko terhadap penumpukan kolesterol, menyebabkan kecacatan pada anak yang dilahirkan (Hoeger, Turner, and Hafen, 2002). Kafein diserap sepenuhnya oleh tubuh melalui usus kecil dalam waktu 45 menit setelah penyerapan dan disebarkan ke seluruh jaringan tubuh. Pada orang dewasa yang sehat jangka waktu penyerapannya adalah 3-4 jam, sedangkan pada wanita yang memakai kontrasepsi oral waktu penyerapan adalah 5-10 jam. Pada bayi dan anak memiliki jangka waktu penyerapan lebih panjang (30 jam). Kafein diuraikan dalam hati oleh sistem enzym sitokhrom P450 oksidasi kepada 3 dimethilxanthin metabolik, yaitu Paraxanthine (84%),mempunyai efek

meningkatkan lipolysis, mendorong pengeluaran gliserol dan asam lemak bebas didalam plasma darah; Theobromine (12%) melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan volume urin, theobromine merupakan alkaloida utama didalam kokoa (coklat); Theophyline (4%), melonggarkan otot saluran pernafasan, digunakan pada pengobatan asma. Masing- masing dari hasil metabolisme ini

akan di metabolisme lebih lanjut dan akan dikeluarkan melalui urin (Burnham , 2001). Titrasi redoks merupakan analisis titrimetri yang didasarkan pada reaksi redoks. Pada titrasi redoks, sampel yang dianalisis dititrasi dengan suatu indicator yang bersifat sebagai reduktor atau oksidator, tergantung sifat dari analit sampel dan reaksi yang diharapkan terjadi dalam analisis. Titik ekuivalen pada titrasi redoks tercapai saat jumlah ekuivalen dari oksidator telah setara dengan jumlah ekuivalen dari reduktor. Beberapa contoh dari titrasi redoks antara lain adalah titrasi permanganometri dan titrasi iodometri/iodimetri (Karyadi, 1994). Titrasi iodometri menggunakan larutan iodium (I2) yang merupakan suatu oksidator sebagai larutan standar. Larutan iodium dengan konsentrasi tertentu dan jumlah berlebih ditambahkan ke dalam sampel sehingga terjadi reaksi antara sampel dengan iodium. Selanjutnya sisa iodium yang berlebih dihitung dengan cara mentitrasinya dengan larutan standar yang berfungsi sebagai reduktor (Karyadi, 1994). ( Karyadi, 1994).

BAB III METODE PERCOBAAN A. Alat 1. Lumpang dan penumbuk porselin 2. Neraca analitik 3. Erlenmeyer 250 ml 4. Kompor gas 5. Labu ukur 6. Corong 7. Kertas saring 8. Pipet ukur 9. Pro pipet 10. Pipet tetes 11. Buret 12. Statif 13. Gelas pengaduk

B. Bahan 1. Satu tablet aspirin (Bayer) 2. Satu tablet kafein (Paramex) 3. Alkohol 95% 4. Aquadest 5. Indikator phenolphthalein 6. Larutan NaOH 0,1 N 7. Indikator amilum 8. Larutan H2SO4 10% 9. Larutan Iod 0,1 N 10. Larutan Na2S2O3 0,1 N

C. Cara Kerja 1. Percobaan menentukan kadar aspirin pada tablet Bayer Tablet aspirin ditimbang, dicatat merk dan beratnya. Lalu, tablet digerus di lumpang porselen. Setelah itu, hasil dimasukkan di Erlenmeyer. Lumpang yang digunakan dicuci dengan alkohol 95% sebanyak 25 ml kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Erlenmeyer digoyang-goyang selama 5 menit. Setelah itu, erlenmeyer dipanaskan sampai mendidih dan didinginkan. Larutan yang telah dingin dimasukkan ke dalam labu ukur dan ditambahkan air sampai tanda batas. Setelah itu larutan diambil sebanyak 20 ml lalu ditambahkan aquades sebanyak 5 ml dan indikator phenolphthalein sebanyak 3 tetes. Larutan tersebut dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N sampai berubah warna menjadi merah muda. Percobaan dilakukan sebanyak 3 kali. Setiap volume titran yang digunakan dicatat. Setelah itu, kadar aspirin dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, a. Menghitung kadar (%)

b. Menghitung kadar (mg/ tablet)

2. Percobaan menentukan kadar kafein pada tablet Paramex Tablet kafein ditimbang, dicatat merk dan kadarnya. Tablet kafein digerus dalam lumping porselin kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur. Lumpang porselin dicuci dengan alkohol 95% sebanyak 25 ml kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur. Erlenmeyer yang berisi larutan digoyang-goyang selama 5

menit. Larutan H2SO4 10% sebanyak 5 ml dan larutan iod 0,1 N sebanyak 20 ml ditambahkan ke dalam labu ukur. Aquades ditambahkan ke dalam labu ukur hingga tanda batas. Setelah itu, larutan di saring dengan kertas saring. Hasil penyaringan dikocok dan didiamkan selama 10 menit. Larutan diambil sebanyak 20 ml dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Indicator amilum sebanyak 3 tetes ditambahkan ke dalam erlenmeyer. Setelah itu, larutan dititrasi dengan menggunakan larutan Na2S2O3 0,1 N hingga larutan berubah warna menjadi lebih jernih. Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali. Volume titran yang digunakan dihitung kemudian kadar kafein dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, a. Menghitung kadar (%)

b. Menghitung kadar (mg/ tablet)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil dan Pembahasan 1. Tabel Hasil Perhitungan Kadar Aspirin pada Tablet Bayer Volume larutan NaOH (ml) Berat Tablet (gr) 4,8 Rata-rata = 4,5 4,7 4,67 0,580 Kadar Aspirin % 72,55 mg/tablet 420,7

2. Tabel Hasil Perhitungan Kadar Kafein pada Tablet Paramex Volume larutan Na2S2O3 (ml) 1,7 Rata-rata = B. Pembahasan 1. Aspirin Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesic (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. Aspirin dapat dibuat dari asam salisilat yang diasetilisasikan dengan asetil klorida atau anhidrin asam asetat dengan katalis H2SO4. Berikut reaksinya, 1,5 2,3 1,83 Berat Tablet (gr) 0,718 Kadar Kafein % 7,298 mg/tablet 52,4

Aspirin

mempunyai

beberapa

kegunaan,

yaitu

mengurangi

atau

menghilangkan rasa sakit atau nyeri, menghilangkan demam, meningkatkan pembuangan atau eliminasi asam urat oleh ginjal melalui urine, sebagai anti radang terutama reumatik, mencegah thrombus/ sumbatan pada pembuluh darah terutama jantung. Sedangkan efek sampingnya antara lain dapat mengiritasi mukosa lambung apabila dimakan dalam keadaan lambung kosong. Selain itu pada dosis lebih dari 6 gram/hari dapat memperpanjang waktu pendarahan. Peningkatan volume pembuluh darah mencapai lebih dari 20% akan mengakibatkan penurunan hematokrit (kekentalan darah), oedem paru, memperberat kerja jantung, dan vasodilatasi perifer. Efek lain yaitu reye syndrome pada anak dengan gejala muntah, letih, delirium atau koma; meningkatkan kadar gula dan glukosurie; tinnitus, flushing (rasa panas) dan gangguan penglihatan; serta dapat menimbulkan reaksi alergi dengan tanda bercak-bercak merah di kulit dan oedem (Sutedjo, 2008). Pada percobaan kali ini akan dilakukan analisis kadar aspirin pada tablet, tablet yang digunakan yaitu aspirin produk Bayer sebagai sampel dengan kadar tablet pada kemasan 0,5 gr. Tablet aspirin tersebut ditimbang dengan menggunakan neraca analitik dan memiliki berat 0,58 gr/tablet. Tablet tersebut digerus dalam lumpang porselin dengan tujuan penggerusan adalah untuk menghaluskan tablet aspirin agar lebih mudah dilarutkan karena luas permukaannya lebih kecil dibandingkan dalam bentuk tablet. Tablet yang telah digerus dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Lumpang porselin yang digunakan untuk menggerus dicuci dengan menggunakan alcohol 95% supaya sisa gerusan pada lumpang tersebut tidak tercecer karena akan berpengaruh pada penentuan kadar. Alcohol digunakan sebagai pelarut karena mampu untuk mempercepat pelarutan. Aspirin bersifat polar sehingga akan mudah larut dalam alkohol yang juga bersifat polar. Hal ini berdasarkan teori like dissolves like yang berarti senyawa polar akan

mudah larut dalam pelarut polar dan senyawa non polar akan mudah larut dalam pelarut non polar. Hasil cucian tersebut dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan digoyang-goyang selama 5 menit yang bertujuan agar larutan alkohol dan aspirin dapat bercampur secara homogen. Jika pelarutan aspirin hanya dilakukan dengan penambahan alcohol saja, kemungkinan sebagian aspirin belum larut dan akan berpengaruh pada penentuan kadar. Penggojokkan selama 5 menit tersebut diikuti dengan pemanasan larutan sampai mendidih yang bertujuan untuk mempercepat reaksi supaya reaksi berlangsung lebih sempurna, kemudian didinginkan. Ketika sudah dingin, larutan dimasukkan ke dalam labu ukur dan ditambahkan aquadest sampai tanda batas. Aquades berfungsi untuk mengencerkan larutan agar lebih mudah bereaksi. Setelah pengenceran, larutan diambil sebanyak 20 ml dan ditambahkan 5 ml aquadest serta indicator phenolphthalein sebanyak 3 tetes, dimasukkan ke dalam erlenmeyer untuk dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N. Pemilihan indicator phenolphthalein dikarenakan perubahan warnanya mencolok yaitu dari bening ke merah muda dan berada pada pH sekitar 8,4 10,4 sehingga akan dengan mudah untuk menentukan titik akhir titrasi. Dalam percobaan ini, rata-rata volume larutan NaOH yang digunakan yaitu 4,67 ml. Penentuan kadar aspirin dalam tablet dilakukan dengan menggunakan titrasi netralisasi yang tidak mengakibatkan perubahan valensi. Prinsip titrasi ini yaitu menggunakan larutan standard basa yaitu dalam percobaan ini adalah larutan NaOH o,1 N,sedangkan aspirin yang akan diuji kadarnya bersifat asam. Reaksi yang terjadi ketika titrasi yaitu

Penentuan kadar (%) dan kadar (mg/tablet) menggunakan rumus sebagai berikut, Menghitung kadar (%)

Menghitung kadar (mg/ tablet)

Tablet aspirin yang diproduksi oleh Perusahaan Bayer tertera bahwa kadar pada kemasan yaitu 0,5 gram/tablet. Sedangkan pada penghitungan yang telah dilakukan diperoleh hasil 0,42 gram/tablet atau 72,55%. Faktor yang mempengaruhi perbedaan kadar tersebut adalah

ketidaktelitian praktikan dalam proses analisis. Kemungkinan terjadi saat penggerusan dimana saat menuangkan ke erlenmeyer ada aspirin yang masih menempel pada bibir porselen dan tidak terkena alcohol sehingga tidak larut. Kemungkinan lain yaitu tablet memiliki kadar yang tidak sesuai dengan kadar yang tertera pada kemasan atau dengan kata lain terjadi kesalahan saat memproduksi. Dilihat dari hasil percobaan yang dilakukan, aspirin produksi Bayer ini masih tergolong aman untuk dikonsumsi karena hasil data yang diperoleh tidak melebihi kadar pada kemasan. 2. Kafein Kafeina merupakan alkaloid dengan penamaan kimia 1,3,7-trimethyl xanthina. Dalam aktivitasnya secara faal, kafein berfungsi sebagai perangsang atau stimulant. Kadar kafein pada daun teh lebih besar daripada yang terdapat pada bijih kopi yaitu sebesar 2-4%, sedangkan pada kopi sekita 0,5% (Vogel, 1985).

Kafeina dapat bereaksi dengan iodium secara adisi sehingga kadar kafeina dapat diukur dengan larutan iodium yaitu dengan cara menggunakan larutan iodium berlebih. Kelebihan iodium dianalisis dengan titrasi redoks, yaitu penetapan kadar zat berdasarkan atas reaksi reduksi dan oksidasi. Rumus bangun kafein sebagai berikut,

(Syukri, 1999). Kafeina merupakan antagonis reseptor adenosine. Kafein mampu merangsang system syaraf pusat, menyempitkan arteriole serebral,

menginduksi diuresis, merangsang jantung dan brokondilatasi. Kafeina digunakan untuk apnoe pada bayi premature atau nahan kombinasi preparat analgesic obat bebas untuk sakit kepala (Sutedjo, 2008). Manfaat kafeina yang lain yaitu menghalangi sintesis senyawa nitrosa yang dapat menyebabkan kanker. Kafeina dapat juga mengatasi kekejangan yang sering terjadi pada anak-anak. Kafeina memperlancar air seni dan perangsang saraf pusat. Namun konsumsi kafeina yang berlebih memiliki efek samping yaitu insomnia, gelisah, takikardi, dieresis, dan toleransi atau ketergantungan terhadap sakit kepala, ketegangan otot dan kecemasan. Pada percobaan kali ini akan dilakukan penentuan kadar kafeina pada tablet merk Paramex dengan kadar yang tertera yaitu 50 mg. Kemudian tablet ditimbang dengan menggunakan neraca analitik dan diperoleh data yaitu 0,718 gram. Tablet tersebut digerus pada lumpang porselen. Tujuan penggerusan adalah untuk menghaluskan tablet yang akan dianalisis agar lebih mudah dilarutkan karena luas permukaannya lebih kecil dibandingkan dalam bentuk tablet.

Selanjutnya lumpang porselen dicuci dengan menggunakan alcohol 95% dan dimasukkan ke dalam labu ukur. Setelah itu dilakukan penggojokkaan selama 5 menit. Penggojokkan dilakukan agar larutan dapat tercampur secara homogen dan merata. Dalam percobaan ini melibatkan larutan alkohol 95%, larutan H2SO4 10 %, larutan iod 0,1 N dan aquades. Larutan alkohol berfungsi untuk mempercepat proses pelarutan. Larutan ditambah dengan H2SO4 10 % bertujuan untuk mempercepat reaksi atau sebagai katalisator karena larutan H2SO4 10 % bersifat eksotermis sehingga larutan tidak perlu dipanaskan. Selain itu juga berfungsi untuk memutuskan ikatan rangkap pada kafein. Penambahan aquades pada larutan bertujuan untuk mengencerkan larutan sehingga lebih mudah bereaksi. Kemudian ditambahkan larutan iod 0,1 N yang memiliki fungsi untuk menganalisa kafein sehingga akan terjadi reaksi antara ikatan rangkap kafein dengan ikatan iod yang disebut reaksi addisi. Setelah itu dilakukan penyaringan dengan menggunakan kertas saring yang memisahkan suatu endapan dari suatu larutan. Hasil penyaringan dikocok dan didiamkan selama 10 menit, hal ini bertujuan untuk menyempurnakan reaksi yang terjadi dimana iod akan mengadisi kafeina. Reaksinya adalah sebagai berikut, bertujuan untuk

Kelebihan iod setelah terjadi reaksi addisi dititrasi dengan larutan Na2S3O3 0,1 N yaitu dengan mengambil larutan sebanyak 20 ml dan dimasukkan ke dalam erlemeyer. Proses analisis kafein menggunakan metode titrasi dan salah satu metode yang digunakan adalah titrasi iodometri. Titrasi iodometri

merupakan analisis titrimetri yang secara tidak langsung menggunakan oksidator besi III ( Fe3+ ) , tembaga II ( Cu2+ ) direaksikan dengan ion iodida dalam yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat standar ( Na2S2O3 ) 0,1 N atau asam arsenit. Larutan ditambahkan amilum sebanyak 3 tetes yang akan berperan sebagai indicator untuk menentukan titik akhir titrasi. Amilum akan membentuk kompleks dengan iod berwarna biru. Reaksinya sebagai berikut, I2 + amilum I2- amilum Larutan di titrasi dan titik akhir titrasi terjadi, warna berubah dari coklat menjadi bening. Reaksi yang terjadi saat itu yaitu, I2 + 2Na2S2O3 2NaI + Na2S4O6 Indicator amilum digunakan dalam proses titrasi natrium tioslufat dan tablet kafein karena natrium tiosulfat lebih kuat bereaksi dengan iod dibandingkan dengan amilum sehingga amilum tersebut dapat didesak keluar dari kompleks iod-amilum. Hal ini menyebabkan warna berubah kembali seperti semula setelah dilakukannya titrasi. Volume larutan Na2S2O3 rata-rata yang diperlukan yaitu 1,83 ml sehingga kadar dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut, Menghitung kadar (%)

Menghitung kadar (mg/ tablet)

Sehingga diperoleh kadar yaitu 52,4 mg/tablet atau 7,298%, sedangkan dalam kemasan kadar kafein yang tertera yaitu 50 mg/tablet. Hasil percobaan lebih

tinggi daripada kadar yang tertera pada tablet. Hal ini disebabkan oleh karena ketidaktelitian praktikan dalam melakukan analisis yaitu ketika penyaringan, kertas saring bocor. Berdasarkan hasil percobaan, tablet ini tidak layak konsumsi karena melebihi kadar yang tertera.

BAB V KESIMPULAN Dari percobaan yang telah dilakukan yaitu menentukan kadar aspirin pada tablet Bayer dan kafein pada tablet Paramex, maka dapat disimpulkan sebagai berikut, 1. Analisis aspirin dalam tablet dilakukan dengan menggunakan titrasi alkalimetri. 2. Analisis kafein dalam tablet dilakukan dengan menggunakan titrasi iodometri. 3. Volume larutan NaOH 0,1 N yang diperlukan untuk titrasi yaitu 4,8 ml; 4,5 ml; dan 4,7 ml. 4. Volume larutan Na2S2O3 0,1 N yang diperlukan untuk titrasi yaitu 1,7 ml; 1,5 ml; dan 2,3 ml. 5. Kadar aspirin dalam tablet berdasarkan hasil percobaan yaitu 420,7 mg/tablet atau 0,42 gr/tablet, sedangkan kadar aspirin pada kemasan adalah 0,5 gr/tablet. 6. Kadar hasil analisis lebih rendah daripada kadar pada kemasan karena kekurangtelitian praktikan dalam proses analisis. 7. Kadar kafein dalam tablet berdasarkan hasil percobaan yaitu 52,4 mg/tablet, sedangkan kadar kafein pada kemasan yaitu 50 mg/tablet. 8. Kadar hasil analisis kafein lebih tinggi daripada kadar kafein pada kemasan karena kesalahan yang dilakukan oleh praktikan. 9. Berdasarkan percobaan, tablet aspirin produk Bayer layak dikonsumsi. 10. Berdasarkan percobaan, tablet kafein merk Paramex tidak layak dikonsumsi.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2007. Pro dan Kontra Tentang Kafein. www. Absindonesia.com. 21 Maret 2013. Auterhoff, H. dan Kovar, K.A. 2002. Identifikasi Obat. Penerbit ITB. Bandung. Burnham, T.A. 2001. Drug Fact and Comparison. Wolters Kluwers Company. Saint Louis. Damanik, R. 2010. Titrasi Asam Basa. www.sangrisang.com. 21 Maret 2013. Ganiswara, 1995, Farmakologi Dan Terapi edisi IV, UI, Jakarta Hoeger, W.W.K., Turner, L.W., dan Hafen, B.Q. 2002. Wellness: Guidelines for a Healthy Lifestyle. Wadsworth Group.Belmont, CA. Karyadi, Benny. 1994. Kimia 2. Balai Pustaka. Jakarta. Rochmaningsih, Noor. 2004. Membuat Bahan Organik. SMK N 2 Depok. Yogyakarta. Sutedjo, A.Y. 2008. Mengenal Obat-obatan secara Mudah. Amara Books. Yogyakarta. Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 1. ITB. Bandung. Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. Elex Media Komputindo. Jakarta. Vogel, 1985. Analisa Anorganik Kualitas. KAlmen Media Pustaka. Jakarta. Wilmana, P. F. 1995. Analgesik, Antipiretik, Antiinflamasi Non Steroid. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

LAMPIRAN 1. Menghitung Kadar Aspirin pada Tablet Bayer Diketahui: a. Volume rata-rata larutan NaOH : 4,67 ml b. Berat tablet Ditanyakan: a. Kadar aspirin (%) b. Kadar aspirin pada tablet (mg/tablet) Jawab: a. Menghitung kadar (%) = = = = 72,55%

: 0,580 gr

x 100%

b. Menghitung kadar (mg/ tablet) = =

= 420,7 mg/tablet

2.

Menghitung Kadar Kafein pada Tablet Paramex Diketahui: a. Volume rata-rata larutan Na2S2O3 : 1,83 ml b. Berat tablet : 0718 gr

Ditanyakan: a. Kadar kafein (%) b. Kadar kafein pada tablet (mg/tablet) Jawab: a. Menghitung kadar (%)

b. Menghitung kadar (mg/ tablet) = =

= 52,4 mg/ tablet