Anda di halaman 1dari 21

1.

Pengkajian perilaku masyarakat Hal - hal yang perlu dikaji dalam perilaku masyarakat meliputi : Faktor internal, hal yang harus dikaji dari masyarakat di Provinsi A adalah : pendidikan, pengetahuan terhadap penyakit, persepsi, emosi, motivasi, usia, dan lain-lain. Faktor eksternal yang harus dikaji dari Provinsi A adalah : lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Perlu di kaji juga lingkungan dan faktor genetiknya. Perilaku dipengaruhi oleh genetik dan keturunan. Bentuk perilaku masyarakat di Provinsi A (Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni) a. Bentuk pasif Masyarakat A mengetahu tentang vaksin TB namun tidak mengikuti vaksinasi, cara pencegahan AIDS dan diare, serta menjaga kesehatan untuk menghindari penyakit degeneratif namun mereka tidak mau melakukan pencegahnpencegahan terhadap penyakit tersebut b. Bentuk Aktif Masyarakat mengetahui cara pencegahan, dan mau melakukan pencegahan Rematik a. Bentuk pasif : seseorang tahu bahwa senam rematik itu dapat mencegah rematik tapi orang tersebut tidak menerapkannya dalam kehidupannya. b. Bentuk aktif : orang tersebut sering mengikuti senam rematik. Jantung a. Bentuk pasif : seseorang tahu bahwa merokok dapat memicu penyakit jantung, tapi orang tersebut tidak menghentikan kebiasaan merokoknya. b. Bentuk aktif : orang tersebut menghentikan kebiasaan merokoknya. Diabetes Melitus

a. Bentuk pasif : seseorang tahu bahwa pola hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung gula dapat menyebabkan penyakit DM, tapi orang tersebut tidak bisa mengatur pola makannya yang salah. b. Bentuk aktif : orang tersebut bisa mengatur pola makannya ke dalam pola makan yang sehat. Hipertensi a. Bentuk pasif : seseorang mengetahui bahwa olahraga yang cukup dan teratur dapat mengurangi resiko hipertensi, tapi orang tersebut jarang berolahraga. b. Bentuk aktif : orang tersebut rajin berolahraga untuk kesehatan tubuhnya. 2. Perilaku Kesehatan Masyarakat Provinsi A Perilaku kesehatan merupakan respon seseorang terhadap rangsangan atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. a). Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit TB dan ISPA Peningkatan masalah TB dan ISPA di masyarakat A bisa dipengaruhi oleh perilaku kesehatan masyarakat A yang tidak tahu tentang cara peningkatan pemeliharaan kesehatannya, perlu kita kaji hal- hal seperti sepert mengusahakan sanitasi yang baik dalam lingkungan rumah, menjemur barang-barang, memakan makanan yang bergizi untuk meningkatkan kekebalan tubuh, berolahraga, serta kepadatan penduduk, perlu dikaji juga tentang perilaku masyarakat terhadap imunisasi dan vaksinasi pencegahan penyakit TB, kaji juga perilaku terhadap kebiasaan meludah, batuk, dan bersin sembarangan. Diare

Peningkatan masalah diare di masyarakat A bisa di pengaruhi oleh tindakan masyrakat yang tidak selalu mencuci tangan dan mencuci makanan tertentu sebelum makan, jajan sembarangan, lingkungan sekitar rumah yang dekt dengan sampah,kaji keluarga yang tidak memiliki MCK, sumber air minum, serta personal hygine, hal tersebut perlu dikaji. HIV/AIDS Peningkatan masalah AIDS bisa dikarenakan kurangnya pengetahuan perlu dikaji tentang pemeliharaan kesehatan berkaitan dengan pengetahuan pencegahan AIDS, berupa setia terhadap pasangan, penularan lewat cairan tubuh, penggunaan jarum suntik ang steril, transfusi darah, pelaku homo/biseksual, penderita hemofilia serta penularan dari ibu ke anak dan konsumsi mkanan brgizi. Rematik Peningkatan masalah rematik di masyarakat A bisa dipengaruhi oleh perilaku kesehatan masyarakat A yang tidak atau kurang mengetahui pencetus dari penyakit rematik seperti stress, obesitas, sikap posisi yang tidak benar. Diabetes mellitus Peningkatan masalah DM bisa dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang apa yang menyebabkan penyakit dan faktor apa saja yang dapat mempengaruhinya, perlu dikaji tentang pemeliharaan Penyakit Jantung Peningkatan masalah penyakit jantung bisa dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat provinsi A faktor yang dapat menyebabkan penyakit jantung, pengaturan pola makan yang sehat (contohnya: konsumsi kacang-kacangan, batasi makanan yang mengandung minyak jenuh karena dapet menyebabkan radang arteri, dan lain-lain), dan pola hidup sehat. Hipertensi Peningkatan masalah hipertensi bisa dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat provinsi A tentang : Peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behaviour) kesehatan berkaitan dengan pengetahuan pencegahan DM, berupa olah raga, penurunan berat badan, dan pengaturan pola makan.

Makan makanan bergizi, batasi konsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi serta garam, tidak merokok, dan olahraga teratur. Pencegahan penyakit (health prevention behaviour) Hindari stress, rokok, dan alkohol, dan olahraga teratur. b). Perilaku sehubungan pencarian pengobatan terhadap penyakit Hal ini biasanya dikaitkan dengan kemampuan pemahaman dan pendidikan serta kemampuan ekonomi masyarakat terhadap penyakit tersebut. Masyarakat yang memiliki pengetahuan yang kurang mungkin akan menggunakan pengobatan yang tidak teruji secara klinis, mengobati dengan caranya sendiri, pengobatan turun temurun dari nenek moyang bahkan tidak melakukan pengobatan sama sekali. Bagi masyarakat dengan pendidikan yang baik, cenderung akan menggunakan fasilitas kesehatan modern seperti klinik, RS, puskesmas, mantri dsb. c). Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan Kaji sikap dan respon masyarakat Provinsi A terhadap pelayanan kesehatan yang ada baik itu pelayanan kesehatan modern ataupun tradisional, meliputi pengetahuan, persepsi, fasilitas, obat-obatan yang ada di fasilitas kesehatan tersebut. d). Perilaku terhadap makanan Kaji pengetahuan masyarakat tentang pengetahuan makanan bergizi, serta kandungan makanan, bagaimana masyarakat mengolah bahan makanan serta kebersihan makanan. Gali pengetahuan masyarakat tentang makanan yang dapat mengakibatkan penyakit yang dialami dan makanan yang dapat memperburuk kondisi sakitnya. e). Perilaku terhadap lingkungan kesehatan Pengkajian lingkungankesehatan mencakup a. b. Air bersih: komponen, emanafaatn, serta pengguanaan air besih Pembuangan sampah dan limbah: pemeliharaannya, pemanfaatannya

c. d.

Rumah sehat: sanitasi, pencahayaan, ventilasi, kebersihan Lingkungan sekitar prumah: pembersihan dari vektor-vektor sumber

penyakit

Promosi Kesehatan

merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Dengan bantuan kontribusi dari profesional kesehatan (perawat, bidan, penilik kesehatan) dengan cara memotivasi perilaku positif masyarakat kearah hidup sehat melalui

Kamus keperawatan edisi 31 KEDOKTERAN EGC

Christine Brooker PENERBIT BUKU

Promosi kesehatan merupakan upaya atau kegiatan menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok, keluarga, dan individu sebagai bagian dari tingkat pencegahan penyakit (health promotion, specific protection, early diagnosis and prompt treatment, disability limitation, and rehabilitation). Dalam kata lain promosi kesehatan juga dikenal dengan pendidkan kesehatan (health education), karena pendidikan kesehatan pada prinsipnya bertujuan agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilainilai kesehatan. Adapun tujuan dari pelaksanaan promosi atau pendidikan kesehatan ini adalah : mendorong setiap individu untuk proaktif dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyaki, melindungi diri dari penyakit, menumbuhkan peran aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.

3. Metode Promosi Kesehatan Berikut ini beberapa metode pendidikan individual, kelompok dan massa (public). Metode Pendidikan Individual (Perorangan) Metode ini dilakukan untuk membina perilaku baru, atau membina seseorang yang mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku. Bentuk pendekatan ini, antara lain : a. Bimbingan/ penyuluhan (Guidance and conceling) Dengan cara ini kontak antara klien dan petugas kesehatan lebih intensif. Pada kasus ini, cara bimbingan/ konseling dapat dilakukan pada pasien HIV/AIDS, karena pasien cenderung malu dengan kondisinya, jadi jika pasien hanya bertemu dengan petugas kesehatan tanpa ada orang banyak, ia akan lebih mudah mengutarakan permasalahnnya, dan akhirnya klien tersebut dengan sukarela, berdasarkan kesadaran akan mengubah perilaku (misalnya pola makan akan meningkatkan daya tahan tubuh, dan merubah pandangan negatif terhadap dirinya) b. Wawancara (Interview) Petugas kesehatan mewawancarai klien untuk menggali infromasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, apakah ia tertarik atau tidak terhadap perubahan. Metode pendidikan kelompok a. Kelompok besar (lebih dari 15 orang) Ceramah ( untuk sasaran yang berpendidikan tinggi atau rendah)

Metode sangat cocok dilakukan di Provinsi A karena sasarannya bisa menyeluruh tanpa memandang status pendidikan. Materi yang disampaikan bisa dibagi kedalam 2 sesi yaitu tentang penyakit infeksi (ISPA, TBC, HIV/AIDS, dan diare) dan penyakit kronis (hipertensi, DM, Jantung, dan rheumatic). Seminar (untuk kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas) Setelah dilakukan pengkajian mengenai tingkat pendidikan masyarakat di Provinsi A, kita dapat menentukan metode mana yang cocok untuk dilakukan, dengan sasaran lebih dari 15 orang. b. Kelompok kecil (kurang dari 15 orang) Diskusi kelompok Semua anggota bebas berpartisipasi dalam diskusi. Anggota perlu diberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas agar proses diskusi dapat berlangsung. (Metode ini kurang cocok untuk kasus 1, karena kemungkinan jumlah masyarakat di Provinsi A yang menderita penyakit infeksi dan kronis melebihi 15 orang) Curah pendapat (Brain stroming) Anggota meberikan pendapatnya setelah pemimpin diskusi memberikan contoh kasus. Bola salju (Snow balling) Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang= 2 orang), kemudian diberikan suatu kasus setelah beberapa menit mereka mendiskusikan masalah tersebut dan mencari kesimpulannya. Kelompok-kelompok kecil (Buzz gropu)

Kelompok kecil akan diberikan kasus yang sama atau tidak dengan kelompok lain dan kemudian mereka mendiskusikannya kembali. Memainkan Peranan (Role Play) Permainan Simulasi (Simulation Game)

Metode Pendidikan Massa Metode ini untuk menyampaikan pesan kesehatan pada masyarakat dan biasanya menggunakan atau melalui media massa. Contoh metode: Ceramah umum Pidato-pidato atau Diskusi tentang kesehatan mealui media elektronik Simulasi Tulisan-tulisan di Majalah atau Koran Billboard (metode ini kurang cocok dilakukan di provinsi A, karena kemungkinan tidak akan terjadi perubahan perilaku masyarakat tersebut) Dalam kasus ini metode yang dipakai dalam promosi kesehatan adalah gabungan antara metode kelommpok besar dan metode massa. Dari metode kelompok besar bisa menggunakan seminar, sedangkan dari metode massa bisa dengan cara pemasangan poster-poster, penyebaran pamflet-pamflet, dan penyebaran materi. 4. Alat bantu/ Media Promosi Kesehatan Alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran. Macam-macam Alat Bantu Promosi (Pendidikan) a. Alat Bantu Lihat (visual aids) yang berguna dalam membantu menstimulai indra mata (penglihatan). Alat ini ada 2 bentuk : Alat yang diproyeksikan, misalnya slide, film, film stripe dll. Alat-alat yang tidak diproyeksikan :

2 dimensi, gambar peta, bagan, dsb. 3 dimensi, bola dunia, boneka, dll.

b. Alat bantu dengar (audio aids) yaitu alat yang dapat menstimulasi indra pendengaran. Misalnya piring hitam, radio, pita suara, dll.
c. Alat bantu lihat dengar, seperti TV dan video cassete, lebih dikenal dengan

audio visual aids (AVA). 5. Strategi Promosi Kesehatan Penyakit Infeksi Pemberdayaan Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi kepada individu, keluarga atau kelompok (klien) secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan klien serta proses membantu klien, agar klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice). Oleh sebab itu, sesuai dengan sasaran (klien)nya dapat dibedakan adanya (a) pemberdayaan individu, (b) pemberdayaan keluarga dan (c) pemberdayaan kelompok/masyarakat. Dalam mengupayakan agar klien tahu dan sadar, kuncinya terletak pada keberhasilan membuat klien tersebut memahami bahwa sesuatu (misalnya TB, ISPA, HIV, diare) adalah masalah baginya dan bagi masyarakat pada umumnya. Saat klien telah menyadari masalah yang dihadapinya, maka kepadanya harus diberikan informasi umum lebih lanjut tentang masalah yang bersangkutan. Bilamana seorang individu mampu melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung dengan mengajaknya ke dalam proses pemberdayaan kelompok/masyarakat melalui pengorganisasian masyarakat

(community organization) atau pembangunan masyarakat (community development).. Bina Suasana Bina Suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia berada menyetujui perilaku tersebut.. Bina suasana yang akan dipakai dalam promosi kesehatan dengan masalah kesehatan di Provinsi A ini menggunakan proses bina suasana public. Bina suasana publik dilakukan oleh masyarakat umum melalui pengembangan kemitraan dan pemanfaatan media-media komunikasi. Dalam kategori ini media-media massa tersebut peduli dan mendukung perilaku yang sedang diperkenalkan. Dengan demikian, maka media massa tersebut lalu menjadi mitra dalam rangka menyebarluaskan informasi tentang perilaku yang sedang diperkenalkan dan menciptakan pendapat umum atau opini publik yang positif tentang perilaku tersebut. Suasana atau pendapat umum yang positif ini akan dirasakan pula sebagai (social pressure) oleh individu-individu anggota masyarakat, sehingga akhirnya mereka mau melaksanakan perilaku yang sedang diperkenalkan. Advokasi Advokasi adalah upaya terencana untuk mendapatkan dan dukungan tokoh-tokoh masyarakat (formal dan informal) yang umumnya berperan sebagai narasumber (opinion leader), atau penentu kebijakan (norma) atau penyandang dana. Juga berupa kelompok-kelompok dalam masyarakat dan media massa yang dapat berperan dalam menciptakan suasana kondusif, opini publik dan dorongan (pressure) bagi terciptanya PHBS masyarakat.. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan, yaitu

(1) mengetahui atau menyadari adanya masalah (2) tertarik untuk ikut mengatasi masalah (3) peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternative pemecahan masalah, (4) sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah dan (5) memutuskan tindak lanjut kesepakatan. Dengan demikian, maka advokasi harus dilakukan secara terencana, cermat dan tepat. Bahan-bahan advokasi harus disiapkan dengan matang, yaitu: 1) Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi. 2) Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah. 3) Memuat peran sasaran dalam pemecahan masalah. 4) Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based. 5) Dikemas secara menarik dan jelas. 6) Sesuai dengan waktu yang tersedia Dengan kerjasama, melalui pembagian tugas dan saling-dukung, maka sasaran advokasi akan dapat diarahkan untuk sampai kepada tujuan yang diharapkan. Sebagai konsekuensinya, metode dan media advokasi pun harus ditentukan secara cermat, sehingga kerjasama dapat berjalan baik. Pada kasus ini kita dapat mengadvokasikan kepada Gubernur Provinsi A sehingga masalah kesehatan di masyarakat khususnya seperti penyakit infeksi(ISPA, TBC, HIV/AIDS,Diare) dapat ditangani dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan. Kemitraan

Kemitraan harus digalang baik dalam rangka pemberdayaan maupun bina suasana dan advokasi guna membangun kerjasama dan mendapatkan dukungan. Dengan demikian kemitraan perlu digalang antar individu, keluarga, pejabat atau instansi pemerintah yang terkait dengan urusan kesehatan (lintas sektor), pemuka atau tokoh masyarakat, media massa dan lain-lain. Kemitraan harus berlandaskan pada tiga prinsip dasar, yaitu Kesetaraan, Keterbukaan, saling menguntungkan. Penyakit Kronis Strategi merupakan teknik atau cara bagaimana mencapai atau mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan secara berhasil dan berdaya guna. Berdasarkan rumusan WHO (1994), strategi promosi kesehatan secara global ini terdiri dari 3 hal, yaitu advokasi, dukungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Untuk masalah kesehatan di provinsi A dapat dilakukan ketiga strategi di atas.
a. Advokasi (Advocacy)

Merupakan kegiatan untuk meyakinkan orang lain, agar orang lain tersebut membantu atau mendukung terhadap apa yang diinginkan. Dalam konteks promosi kesehatan, advokasi adalah pendekatan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di berbagai sektor, dan di berbagai tingkat, sehingga para pejabat tersebut mau mendukung program kesehatan yang kita inginkan. Salah satu advokasi yang bisa dilakukan untuk masalah kesehatan (penyakit kronis) di masyarakat provinsi A adalah pengembangan kawasan tanpa rokok (KTR) dengan dukungan peraturan perundangan dan pembentukan aliansi walikota dan bupati.
b. Dukungan sosial (Social Support)

Suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat. Dalam kasus ini kita bisa bekerja sama dengan tokoh masyarakat Provinsi A. Tokoh masyarakat di Provinsi A dibekali dengan pelatihan, seminar, lokakarya, dan bimbingan tentang penyakit kronis

(hipertensi, DM, jantung, rematik). Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat menerima program dari sektor kesehatan.
c. Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)

Strategi ini ditujukan langsung kepada masyarakat dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Jika kesejahteraan masyarakat di suatu daerah meningkat, hal ini dapat mempengaruhi peningkatan pemeliharaan kesehatan mereka. Salah satu contoh strategi pemberdayaan masyarakat adalah mengadakan pelatihan untuk kemampuan peningkatan pendapatan keluarga seperti : pembentukan kelompok sentra kerajinan di Provinsi A. Pendekatan promosi kesehatan Pendekatan Tujuan Kegiatan promosi Medikal sembuh penyakit kecacatan didefinisikan secara medik kesehatan dari Promosi dan intervensi yang kedokteran atau mengurangi gangguan kesehatan Medorong mengupayakan pengobatan 1. Pengobatan yang cukup dan tepat 2. Melacak penderita berobat 2 lalai hari individu Nilai yang penting TBC Kepatuhan pasien Tujuan: terhadap prosedur pencegahan Mengurangi gejala atau bahkan sembuh dari penyakit TBC Kegiatan : Contoh kasus:

untuk mencegah kedokteran

(kategori 1) atau seminggu (kategori 2

Perubahan perilaku

perilaku mendukung keadaan dari penyakit

yang Perubahan sikap Aya hidup sehat Tujuan: bagi dan perilaku seperti didefinisikan oleh promotor kesehatan yang Individu sehat dan yang dapat dapat melaksanakan pola hidup menunjang kesembuhan pencegahan penyakit TBC Kegiatan: Pendidikan persuatif pencegahan TBC, Misalnya beri informasi tentang:

sembuh yang mendorong penerimaan gaya hidup yang lebih sehat

yang tentang

Menjemur tempat

tidur bekas penderita secara teratur karena kuman matahari.

TBC

akan

mati bila terkena sinar Menutup mulut

pada waktu ada orang batuk ataupun bersin

dan

menjaga

jarak

aman saat berhadapan dengan TBC.

penderita Tidak meludah yang

Jangan

sembarangan, sebaiknya pada tempat

tarkena sinar matahari atau ditempat khusus seperti sampah.

tempat

Menjaga

kesehatan tubuh agar kekebalan tubuh tetap meningkat dan melakukan imunisasi pada bayi termasuk imunisasi mencegah

untuk penyakit

TBC Tuberkulosis. Mengkonsumsi yang jumlah dapat seperti makanan gizi dalam yang

mengandung banyak cukup serta hindari hal-hal tubuh istirahat.

melemahkan imunitas begadang dan kurang Melakukan

olahraga secara rutin meningkatkan

teratur untuk

kekebalan tubuh dan menjaga jantung. kesehatan

Edukasional

Individu pengertian mereka mengambil keputusan informasi memadai

dengan Informasi dan tentang yang akibat yang menurunkan dan derajat

Hak sebab- individu dari hal memilih tanggung

asasi Tujuan : dalam Klien mengetahui pentingnya minum obat jawab anti TB (OAT) selama 6 bulan. mereka melaksanakan obat atau tidak Kegiatan : Memberi kepada efek membantu klien informasi tentang mereka pengobatan, Mereka akan minum mengambil sikap apakah kebebasan

pengetahuan

mampu membuat faktor-faktor

promotor adalah mengidentifikasi isi pendidikan

sikap atas dasar kesehatan. dan sikap.

yang Eksploitasi nilai kesehatan Pengembangan keterampilan yang diperlukan untuk kehidupan yang sehat.

belajar minum obat yang benar dan tepat selama 6 bulan dengan prinsip 5 BENAR 1. Benar pasien 2. Benar obat 3. Benar dosis

4. Benar cara 5. Benar waktu

berpusat pada klien

Bekerja klien

sama Bekerja kesehatan membuat pilihan

dalam Klien penyedila layanan sejajar. dan

dan Isu penyakit

perkembangan TBCdijadikan

untuk kepentingan hal-hal

adalah pertimbangan bila klien mengidentifikasikan apa yang mereka ketahui dan kerjakan dengan hal itu berkaitan

melakukan tindakan oleh klien fisik Aksi yang politik/sosial untuk mengubah gaya lingkungan yang klien diidentifikasi memberdayakan Perubahan sosial Lingkungan dan sosial

Hak klien untuk menetapkan agenda pemberdayaan diri klien Hak asasi

dan Tujuan : akan Membuat penderita TBC diterima sehingga dalam penyembuhan interaksi sosial Kegiatan : Memberikan kepada informasi masyarakat secara lebih sosial mudah dan

kebutuhan penciptaan

memungkinkan pemilihan terhadap sehat

lingkungan yang meningkatkan derajat kesehatan.

hidup yang lebih fisik dan sosial

melakukan

tentang bagaimana TBC

bisa menular Memberikan informasi

tentang bagaimana cara bergaul dengan pasien TBC agar tidak tertular misalnya:

Hindari

menggunakan peralatan makan yang sama dengan si penderita

Gunakan masker

jika Anda sering kontak langsung dengan penderita

Jauhkan anak-

anak dari penderita

Banyak makan

makanan yang begizi dan suplemen agar meningkatkan kekebalan tubuh (sumber teori: Ewles dan simnett, 19945:57-58) pendekatan promosi kesehatan Evaluasi Promosi Kesehatan Hal- hal yang akan dikaji setelah melakukan promosi kesehatan ialah pengetahuan masyarakat mengenai penyakit tersebut, sikap masyarakat mengahadapi masalah kesehatan dan kebiasaan sehat masyarakat. Untuk tindakan non perilaku, indikatornya

tergantung dari kegiatan, budaya, dan lingkungan masyarakat. Hal ini bisa di ukur dengan indikator-indikator sbb: Penunjuk masalah kesehatan: Penyakit Infeksi jumlah masyarakat yang menderita penyakit infeksi semakin menurun, dan pada yang masa akan dating tidak ada lagi peningkatan. Status kematin menurun masyarakat memahami pentingnya makanan bergizi dan mampu mengkonsumsinya. Serta perilaku sehat seperti, mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, menjaga kebersihan lingkungan Penyakit Kronis jumlah masyarakat yang menderita penyakit kronis semakin menurun. Status kematian menurun masyarakat memahami pentingnya mengkonsumsi makanan bergizi, pola makan yang teratur dan dapat mengurangi makanan yang meningkatkan penyakit kronis. -

Masyarakat dapat menjadi perilaku sehat seperti, kebiasaan berolahraga secara teratur Masyarakat dapat menghidari faktor pencetus dari penyakit kronis seperti merokok, minuman keras dan stress.

Sumber daya kesehatan: Penyakit Infeksi bertambahnya tenaga medis modern yang akurat, fasilitas kesehatan memadai dan terjangkau

dan pendanaan kesehatan yang memudahkan masyarakat ekonomi rendah untuk memperoleh pealayanan kesehatan.

Penyakit Kronis bertambahnya tenaga medis modern yang akurat, fasilitas kesehatan memadai dan terjangkau dan pendanaan kesehatan yang memudahkan masyarakat ekonomi rendah untuk memperoleh pealayanan kesehatan. Kesling: sumber air bersih dan layak konsumsi perumahan layak dan sehat dengan sanitasi dan kepadatan yang sehat lingkungan masyarakat yang bebas dari vector penyakit menular PHBS

Kebijakan kesehatan: UUD/aturan kesehatan, politk kesehatan yang mengarah kepada peningkatan status kesehatan masyarakat.