P. 1
renstra.doc

renstra.doc

|Views: 278|Likes:
Dipublikasikan oleh Shizuka Daihyooga
Rencana Strategis
Rencana Strategis

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Shizuka Daihyooga on Mar 23, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Globalisasi merupakan tantangan, masalah dan sekaligus potensi untuk pembangunan nasional ada berwawasan terus bergulir komitmen kesehatan dengan di diikuti masa oleh seperti mendatang.Kondisi perkembangan yang

pelaksanaan

berbagai

Internasional

perdagangan bebas global, Millenium Development Goals dan agenda Internasional lainnya dibidang kesehatan, yang perlu diperhatikan dalam penetapan kebijakan dan penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Dengan adanya berbagai perubahan yang mendasar tersebut, maka, perlu diantisipasi secara serius dalam penyelenggaran pembangunan kesehatan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari tahun ke tahun senantiasa berupaya untuk melakukan perbaikan dan pembenahan pembangunan di segala bidang. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat merasa lebih aman, nyaman, dan tentram dalam menjalani kehidupan serta dapat berkarya nyata dalam membangun wilayahnya. Pembangunan di bidang kesehatan tak luput dari perhatian gubernur terpilih, yang tentu saja menjadi salah satu prioritas pembangunan di Ibukota Jakarta. Hal ini bisa dilihat dalam visinya ”JAKARTA YANG NYAMAN DAN SEJAHTERA UNTUK SEMUA” layak, dan manusiawi. Begitu kompleksnya permasalahan kesehatan yang ada di DKI Jakarta dan antisipasi terhadap perubahan globalisasi maka diperlukan strategi yang tepat untuk mengatasinya. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta sebagai instansi pelaksana di bidang kesehatan perlu menyusun suatu perencanaan strategis yang menjadi acuan pembangunan kesehatan untuk lima tahun mendatang. yang mengandung arti bahwa sejahtera merupakan perwujudan derajat kehidupan penduduk Jakarta yang sehat,

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

7

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Rencana strategis Dinas Kesehatan DKI Jakarta 2007-2012 disusun dengan maksud untuk mensinergikan program-program pembangunan di daerah dalam rangka pelaksanaan RPJP DKI Jakarta Tahun 2005-2025. Tujuan penyusunan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta adalah sebagai pedoman bagi seluruh jajaran kesehatan di DKI Jakarta dalam menyusun perencanaan SKPD dan program serta kegiatan yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi DKI Jakarta maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam kurun waktu lima tahun ke depan. 1.3 LANDASAN HUKUM  UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;   UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;  UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;   UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;  UU No. 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia;  UU No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Penjang Nasional Tahun 2005-2025;    UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;  Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;  Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

8

Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Pemerintah Daerah. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Surat Edaran Mendagri No 050/20/SJ/2005 Tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2005 tentang Pokok – Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah; Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2007 – 2012 Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Yakarta Nomor 956 Tahun 2008 tentang Struktur Program Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2007 - 2012

1.4 HUBUNGAN RENSTRA SKPD DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA Renstra Dinkes DKI Jakarta merupakan dokumen perencanaan 5 tahunan yang disusun berpedoman pada RPJMD, dan sebaliknya Renstra Dinas menjadi bahan masukan untuk RPJMD. Renstra Dinas ini merupakan acuan dan menjadi masukan dalam penyusunan rencana kerja (Renja) tahunan SKPD seperti yang tertera pada gambar berikut:

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

9

Renstra SKPD ditetapkan dengan peraturan kepala SKPD dengan persetujuan Gubernur. Penyusunan Renstra SKPD melibatkan stakeholder sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD dan berkoordinasi dengan Bapeda/Bapeko /Bapekab.2 TAHAPAN PENYUSUNAN Penyusunan rancangan RENSTRA SKPD Acuan sementara yang digunakan adalah program indikatif tahun 2008. dilengkapi dengan kegiatan yang bersifat indikatif. Subtansi utama memuat visi dan misi SKPD.5 SISTEMATIKA PENULISAN 1. Penyempurnaan RENSTRA SKPD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 10 . Dokumen Renstra SKPD yang telah ditetapkan kepala SKPD disampaikan ke Gubernur Provinsi DKI Jakarta melalui Bapeda Provinsi DKI Jakarta. 1.1 PROSES PENYUSUNAN Setiap SKPD wajib menyusun Renstra dengan mengacu pada RPJMD Provinsi DKI Jakarta.RPJPD (20 Tahun) jadi pedoman RPJMD (5 Tahun) dijabarkan jadi pedoman menjadi masukan Renstra SKPD (5 Tahun) jadi pedoman jadi acuan RKPD (1 Tahun) menjadi masukan Renja SKPD (1 Tahun) 1. tujuan strategi. kebijakan.5.5. program.

3 OUTLINE RENSTRA SKPD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta disusun dengan sistematika sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang penyusunan renstra. kebijakan. landasan hukum. tujuan.Rancangan Renstra disinkronkan dengan Perda tentang RPJMD (visi. maksud dan tujuan. Penyempurnaan/penyesuaian Renstra SKPD meliputi: visi. BAB VI PENYELENGGARAAN RENSTRA DAN PENILAIAN Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 11 . program dan kegiatan. tujuan. STRATEGI DAN KEBIJAKAN Berisi visi. MISI. Program kegiatan disertai dengan tujuan.5. strategi kebijakan. kegiatan-kegiatan untuk setiap bidang yang disertai dengan penanggung jawabnya. target pencapaian selama 5 tahun ke depan. sasaran dan indikator BAB V PROGRAM DAN KEGIATAN Menguraikan program kegiatan Dinkes DKI Jakarta 5 tahun ke depan yang mengacu pada program RPJMD Provinsi DKI Jakarta. misi. Dalam melaksanakan sinkronisasi berkoordinasi dengan Bapeda. hubungan renstra dengan dokumen perencanaan lainnya serta sistematika penulisan BAB II TUGAS DAN FUNGSI SKPD Berisi struktur organisasi Dinkes DKI Jakarta. susunan kepegawaian dan perlengkapannya. indikator sasaran. misi. strategi. sasaran. sasaran. TUJUAN. 1. misi dan program yang ditetapkan ). tugas dan fungsi serta hal lainnya yang dianggap penting BAB III GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Meliputi kondisi umum masa kini dan permasalahan dan Isu Strategis BAB IV VISI.

Berisi tetntang bagimana penyelenggaraan Renstra yang dilaksanakan dan penilaian yang akan dilakukan terhadap indikator renstra yang ada BAB VII PENUTUP Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 12 .

1 STRUKTUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN Dinas Kesehatan dioperasionalkan dengan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2001 tentang Bentuk Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.BAB II TUGAS DAN FUNGSI SKPD 2. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 13 . Subdinas Manajemen Mutu Kesehatan. Rumah Sakit Umum Daerah. Puskesmas Kecamatan. Suku Dinas Kesehatan Masyarakat. Suku Dinas Kesehatan Kepulauan Seribu. Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. yang terdiri dari : 1. 3. 16. 18. 13. 9. Pelayanan Kesehatan Karyawan. Subdinas Perencanaan dan Pembiayaan Kesehatan. 7. 15. Puskesmas Kelurahan. 11. Subdinas Kesehatan Masyarakat. Subdinas Pemasaran Sosial dan Informasi Kesehatan. Wakil Kepala Dinas. Laboratorium Kesehatan Daerah. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan. 6. Subdinas Kesehatan Gawat Darurat dan Bencana. 4. 5. Kepala Dinas. Subdinas Sumber Daya Manusia Kesehatan. 14. 2. Subdinas Pelayanan Kesehatan. 19. 12. 17. 10. 8. Bagian Tata Usaha.

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI DINAS KESEHATAN KEPALA DINAS WK.KES SEKSI PENGGERAK-AN DAN PENGHARGAAN SEKSI PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL SEKSI SIAGA KESEHATAN SEKSI PENGEMBANG AN PRODUK KESEHATAN SEKSI PELATIHAN TENAGA KESEHATAN SEKSI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN MUTU SEKSI PELAYANAN FARMASI MAKANAN & MINUMAN SEKSI GIZI KOMUNITAS UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS SUKU DINAS KESEHATAN MASYARAKAT KOTAMADYA SUKU DINAS PELAYANAN KESEHATAN KOTAMADYA Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 67 . KEPALA DINAS KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SUBBAGIAN UMUM BAGIAN TATA USAHA SUBBAGIAN KEUANGAN SUBBAGIAN KEPEGAWAIAN SUBBAGIAN PERLENGKAPAN SUBDINAS PELAYANAN KESEHATAN SUBDINAS KESEHATAN MASYARAKAT SUBDINAS KESEHATAN GAWAT DARURAT DAN BENCANA SUBDINAS PEMASARAN SOSIAL & INFORMASI KESEHATAN SUBDINAS SDM KESEHATAN SUBDINAS PERENCANAAN PEMBIAYAAN KESEHATAN SUBDINAS MANAJEMEN MUTU KESEHATAN SEKSI SEKSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR SURVEILANS EPIDEMIOLOGI DASAR SEKSI PENYAKIT MENULAR SEKSI PENYAKIT TIDAK MENULAR SEKSI PENYEHATAN LINGKUNGAN & KESEHATAN KERJA SEKSI PENYIAPAN SEKSI PROMOSI KESEHATAN SEKSI PEMBINAAN PERANSERTA MASYARAKAT SEKSI PENDAYAGUNAAN & PENGENDALIAN NAKES SEKSI PEMBINAAN INSTITUSI PENDIDIKAN NAKES SEKSI PERENCANAAN PROGRAM SEKSI STANDAR MUTU SEKSI AKREDITASI & PENGUKURAN MUTU SEKSI PUSAT KESEHATAN MASYARAK AT SEKSI PELAYANAN KESEHATAN SPESIALISTIK SEKSI SATUAN TUGAS SEKSI PENGENDA-LIAN & PENILAIAN PROGRAM SEKSI KOMUNIKASI SEKSI PENGELOLAAN DATA SEKSI PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN KARIER SEKSI PEMBIYAAN KESEHATAN SEKSI JAMINAN PEMELIHA-RAAN KESMAS & AS.

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI SUKU DINAS KESEHATAN MASYARAKAT KOTAMADYA SUKU DINAS KESEHATAN MASYARAKAT KOTAMADYA SUB BAGIAN TATA USAHA SEKSI PENDATAAN & PROGRAM SEKSI PENYAKIT MENULAR SEKSI PENYAKIT TIDAK MENULAR SEKSI PENYEHATAN LINGK. & KESEHATAN KERJA SEKSI GIZI & PEMBINAAN PERANSERTA MASYARAKAT SEKSI KESEHATAN JIWA MASYARAKAT DAN NAPZA PUSKESMAS KECAMATAN PUSKESMAS KELURAHAN Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 68 .

BENCANA & GAKIN 2. yang tersebar di seluruh unit kerja organisasi kesehatan dengan berbagai tingkat pendidikan dan kompetensi. MAKANAN DAN MINUMAN SEKSI KESEHATAN GAWAT DARURAT. Distribusi pegawai per unit kerja dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini : Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 69 .BAGAN SUSUNAN ORGANISASI SUKU DINAS PELAYANAN KESEHATAN SUKU DINAS PELAYANAN KESEHATAN KOTAMADYA SUB BAGIAN TATA USAHA SEKSI PENDATAAN & PROGRAM SEKSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR SEKSI PELAYANAN KESEHATAN SPESIALISTIK SEKSI PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL SEKSI PELAYANAN FARMASI.2 SUSUNAN KEPEGAWAIAN DINAS KESEHATAN KOMPOSISI PEGAWAI Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta saat ini memiliki pegawai yang berjumlah 6512 personil.

dokter gigi.1 Profil pegawai Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.41 100.51 3.73 6. sanitasi. 9. Sarjana Teknik. 4. S1 (dokter. No 1.27 1. kesehatan lingkungan. gizi. 7. Magister Public Health. Dokter Gigi Spesialis. Asisten Apoteker). radiology.66 0. 10 UNIT KERJA Dinas Kesehatan Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Kesehatan Kepulauan Seribu Puskesmas Laboratorium Kesehatan Daerah Balai Kesehatan Karyawan Institusi Pendidikan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Departemen lain JUMLAH JUMLAH 294 243 430 49 4348 18 128 20 955 27 6512 % 4.60 0.00 Latar belakang pendidikan formal dari pegawai sangat bervariasi yaitu mulai dari pegawai yang memiliki pendidikan formal tingkat SLTP. SLTA/SMEA/SPK/SPRG. Magister Sience.Tabel 2. Komposisi tenaga pelayan kesehatan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut: Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 70 .75 66. 8. 2.76 0. Sarjana Kesehatan Masyarakat. D3 (bidang keperawatan. 5. Sarjana Ekonomi. Sarjana Hukum. 3. epidemiologi.96 0. Magister Manajemen. bidan.. Magister Kesehatan) dan S3 (Doktor). 6. Sarjana Pendidikan) dan S2 (Dokter Spesialis.30 14.

9. 5. Kesejahteraan karyawan Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta mendapat perhatian yang disesuaikan dengan kinerja.42 17. yaitu internal proses dalam bentuk pembelajaran organisasi di tiap tingkatan.2 Komposisi Pegawai Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta No 1.87 25. 2. 6. lapangan dan kalakarya dengan hasil yang diharapkan adalah adanya pola kerja sama di antara karyawan. baik pelatihan dikelas.3 TUGAS DAN FUNGSI Sesuai dengan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor 58 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang menetapkan.Tabel 2. telah dilakukan berbagai upaya.39 286 6512 100. bahwa Dinas Kesehatan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 71 .83 8. 10 11 S2 / Doktor Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter gigi S1 Akper D3 Kesehatan Bidan/Perawat (SPK) Sarjana Kesehatan masyarakat SLTA ( Sejenis ) <SLTP JUMLAH PENDIDIKAN JUMLAH 214 89 445 556 252 1660 223 1143 621 1023 % 3.29 1. 2. 3.37 6. Upaya lain adalah dalam rangka pencapaian standarisasi tenaga Puskesmas sampai pada level D3 dilakukan pendidikan kelas khusus dan pengiriman pendidikan S1 dan S2 untuk public health.54 15. 7.49 3.55 9. 8. 4.00 Dalam rangka peningkatan dan pemberdayaan SDM.54 3. Melalui keterbukaan yang dikembangkan maka reward sangat berarti bagi karyawan untuk meningkatkan motivasi kerjanya.71 4.

pelatihan. menggerakan satuan tugas kesehatan bencana. komunikasi dan menggerakan semua potensi masyarakat untuk menanggulangi bencana. pelaksanaan. 5. penghargaan dan pemberian sangsi. Merumuskan kebijakan perencanaan. 3. 8. Kesehatan lingkungan. makanan dan minuman 2. Merumuskan kebijakan perencanaan. Merumuskan pendayagunaan kebijakan . Merumuskan kebijakan perencanaan. perlengkapan dan kerumahtangaan . keuangan. pengembangan karier. perencanaan. pelaksanaan. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 72 dan pengelolaan informasi . pelayanan farmasi. angka kredit pengendalian jabatan dan pengembangan SDM Kesehatan dan perencanaan kebutuhan .mempunyai tugas menyelenggarakan kegiatan dibidang kesehatan yang meliputi : 1. Untuk Menyelenggarakan tugas sebagaimana tersebut diatas maka Dinas Kesehatan mempunyai fungsi : 1. pendidikan . pengendalian dan penilaian peningkatan mutu pelayanan kesehatan. pelaksanaan. 6. kesehatan kerja dan gizi komunitas . pelayanan kesehatan spesialistik. pelayanan kesehatan tradisional. pengendalian dan penilaian di bidang kesehatan masyarakat yang meliputi surveilans epidemiologi. Melaksakan urusan umum . membina institusi pendidikan tenaga kesehatan di provinsi DKI Jakarta. pengendalian dan penilaian pelayanan pemasaran sosial kesehatan. Merumuskan kebijakan perencanaan program kesehatan dan pengalokasian biaya untuk program dan kegiatan Dinas Kesehatan 7. penetapan fungsional. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan. pencegahan dan penanggulangan penyakit menular maupun penyakit tidak menular. kepegawaian. Merumuskan kebijakan perencanaan. mengendalikan dan menilai kesiapan penduduk untuk menghadapi bencana. pelaksanaan pengendalian dan penilaian pelayanan kesehatan dasar termasuk Puskesmas. Merumuskan kebijakan untuk merencanakan. 4.

16. Pengelolaan dukungan teknis dan administratif. 17. 13. 4. 15. Perencanaan. pengendalian dan pengembangan pelayanan kesehatan Gawat Darurat dan Bencana. Penyelenggaraan akreditasi dan standarisasi pada sarana pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. pengendalian dan pengembangan Jaringan Pelayanan Kesehatan yang berwawasan lingkungan. 8. Pembinaan teknis pelayanan kesehatan suku dinas. Perencanaan. Penyediaan sarana dan prasarana masyarakat. pengawasan. pengawasan. Pemberian bantuan penyelenggaraan kesehatan. 7. Perencanaan. pengendalian dan pengembangan pelayanan kesehatan klinis. 11. 10. pengawasan. Perencanaan. 6. pengendalian dan pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat. pengawasan. pengendalian dan pengembangan Sumberdaya Manusia Kesehatan. pelayanan kesehatan bagi BAB III Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 73 . 9. Pemeberian akreditasi jabatan fungsional tenaga kesehatan. pengawasan. Perencanaan. pengawasan. pengawasan. pengawasan. Pemungutan retribusi dibidang kesehatan. Perencanaan. Perencanaan. 14. pengendalian dan pengembangan Sistem Perencanaan dan Pembiayaan Kesehatan.2. Perencanaan. 5. Pemberian ijin tertentu atau rekomendasi dan evaluasi di bidang kesehatan. pengendalian dan pengembangan Pemasaran Sosial Kesehatan dan Isitem Informasi Kesehatan. pengendalian dan pengembangan Sistem Manajemen Mutu Kesehatan. 3. 12.

106 ° 48’ Bujur Timur dan 7 m di atas permukaan laut.7 3 11. Jakarta Timur dan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Sesuai dengan Keputusan Gubernur nomor 1986/200 tanggal 27 Juli 2000 pembagian wilayah Provinsi DKI Jakarta terdiri dari Kotamadya Jakarta Pusat. Kelurahan.11 1 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 74 . Setiap Kotamadya atau Kabupaten terdiri atas beberapa Kecamatan dan setiap Kecamatan terdiri dari beberapa Kelurahan seperti dapat dilihat pada tabel 3. terletak pada 6 ° 12’ Lintang Selatan. Jakarta Selatan.668 119 29.1 5 145. Rukun Warga dan Rukun Tetangga Menurut Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 Kab/Kotamad ya Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep.1 Luas Wilayah. Jakarta Barat. Jakarta Utara.1 ADMINISTRASI DAN GEOGRAFI Jakarta merupakan Ibukota Negara Indonesia.462 6.2 0 126.81 661.59 5 RT 4. 52 Kec 8 6 8 10 10 2 44 Kel 44 31 56 65 65 6 267 RW 371 385 556 573 686 24 2.1.117 6. mempunyai luas 661.382 4.1: Tabel 3.363 7. Seribu Jumlah Luas 47.GAMBARAN UMUM KONDISI PROVINSI DKI JAKARTA 3. Jumlah Kecamatan.1 KONDISI UMUM DAERAH MASA KINI 3.52 km2.7 3 187.90 142.

053.9 juta jiwa.198 1. 24% Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 75 .285 2.778 1.385 1. dalam kurun waktu lima tahun jumlah ini meningkat mencapai 9. 16% Jakarta Selatan.696 2.789.027 *) 1.413.041.1.04 juta jiwa.362 8.322.023 8.531 1.3.393.130.232 1. jumlah penduduk DKI Jakarta tahun 2006 mengalami penurunan menjadi 8.788 22.639 2005 861.680 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta.452.906. Tabel 3. 10% Jakarta Utara.385.728 2.2 KEPENDUDUKAN Jumlah penduduk Jakarta terus mengalami peningkatan.684 2.353.875 19.446. Pada tahun 2000 penduduk Jakarta sebesar 8.1 Komposisi Jumlah Penduduk DKI Jakarta Tahun 2006 Jakarta Timur.006 2. 23% Jakarta Barat.995.961.444. *) Termasuk Kepulauan Seribu Grafik 3. 27% Kepulauan Seribu.3 juta jiwa.605 2006 891.214 2.2 Jumlah Penduduk Menurut Kotamadya di DKI Jakarta Kotamadya / Kabupaten Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kepulauan seribu DKI Jakarta Jumlah Penduduk 2000 893. Namun demikian berdasarkan data yang dikeluarkan BPS DKI Jakarta.112 9. 0% Jakarta Pusat.

933 1.29 30 .000 400.483.000 Laki-laki 0 200.685 338.022 474.114 299.778 313.44 45 .335 658.516 414.39 40 .34 20 .186 8.526 524.14 '1 .000 200.532 780.825 141.2 Piramida Penduduk DKI Jakarta Tahun 2006 70 .786 213.24 25 .850 277.3 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Tahun 2006 KELOMPOK UMUR (TAHUN) <1 1-4 5-9 10 .000 600.44 30 .269 372.478.407 449.557 345.831 784.315 370.863 1.407 509.001 Perempuan 369.128 318.Tabel 3.597 443.74 75+ TOTAL JUMLAH PENDUDUK Laki-laki 391.54 55 .232 65.777 108.59 60 .515 217.846 4.64 50 .339 42.284 494.344 36.852 108.000 Perempuan Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 76 .14 15 .74 60 .841 538.914 36.963 77.24 '10 .679 LK+PR 760.624 34.961.248 248.012.49 50 .954 711.680 Grafik 3.19 20 .54 40 .301 430.69 70 .004 892.000 400.242 617.036 245.077 395.283 73.4 600.629 216.025 135.64 65 .515 139.034.455 385.340 4.258 72.34 35 .

maka kepadatan penduduk Jakarta pada tahun 2006 mencapai sekitar 13 ribu jiwa per Km2.36.78 71.25 2001 70. Tabel 3. ternyata Jakarta Barat menunjukkan pertumbuhan tertinggi dan Jakarta Pusat menunjukkan pertumbuhan terendah.36 73. Tabel 3.Meningkatnya status kesehatan masyarakat dapat ditunjukkan oleh meningkatnya angka harapan hidup.52 km2.39 74.16 2000 .03 2.92 3. UHH laki-laki sebesar 71.39 3.35 0.1990 -1.46 -0.72 0.42 Laju Pertumbuhan Penduduk (%) 1990 .58 69.60 62.5 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta Kotamadya Jakarta Pusat Jakarta Utara *) Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur DKI Jakarta 1980 .90 64.58 75.66 2000 69.34 4.54 2.2000 -2.53 pada tahun 2004.52 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta *) Termasuk Kepulauan Seribu Dengan penduduk sebanyak 8.37 2004 71.21 0.34 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta – Estimasi Parameter Demografi Jika diamati laju pertumbuhan penduduk selama periode 2000-2005 menurut Kotamadya. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 77 .24 72.34 1.2005 -0.97 1.69 1.01 0.58 dan UHH perempuan sebesar 75. berikut ini adalah data kepadatan penduduk DKI Jakarta lima tahun terakhir yang menunjukkan terjadinya peningkatan pada setiap tahunnya.53 65.60 menjadi 73.4 Estimasi Umur Harapan Hidup DKI Jakarta 1990 Laki-laki Perempuan Laki+Perempuan Nasional 1995 67.62 71. Estimasi angka harapan hidup di DKI Jakarta meningkat setiap tahunnya mulai dari tahun 1990 sebesar 65.90 73.55 0.961 juta jiwa dan luas sekitar 661.35 3.

267 12. Seribu Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 78 .126 12.092 12. Tabel 3.750 1.732 9.746 8.253 15.000 0 2002 2003 2004 Jakarta Utara Jakarta Timur 2005 2006 Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Barat Kep.2006 20.858 1.394 15. maka Jakarta Pusat memiliki kepadatan penduduk terpadat mencapai sekitar 18 ribu jiwa per Km2 diikuti oleh Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.000 12.000 2.000 10.000 6. sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Adm.547 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Grafik 2.213 16.353 9.408 13.874 10.691 12. DKI Jakarta Tahun 2002.735 12.616 13.639 13. Kepulauan Seribu.198 12.6 Kepadatan Penduduk Menurut Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta Kotamadya Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep.497 12.190 2005 17.616 13.000 18.Bila ditinjau kepadatan penduduk menurut wilayah.890 14. Seribu Total Kepadatan Penduduk per km2 2002 17.426 11.668 2006 18.000 16.872 13.676 11.197 18.000 14.617 10.772 1.965 1.2: Grafik Kepadatan Penduduk Menurut Kotamadya di Prov.912 12.157 1.000 4.004 2004 18.000 8.691 2003 18.

36 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 79 . Pada tahun 2001 persentase buta huruf 2.33 1.99 0.76 5.76 1.44 1.34 1.53 Persentase partisipasi sekolah tahun 2004 98.81 2.58 1. Bila dirinci menurut wilayah maka persentase buta huruf tertinggi di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu.48 1.78 2.10 0.01 2. Partisipasi usia 7-12 tahun.59 1.33 3.31 2.12 2.8: Tingkat Partisipasi Sekolah Anak 2001 dan 2004 Usia 7-12 tahun 13-15 tahun 16-18 tahun Persentase partisipasi sekolah tahun 2001 98.56 %.69 66.83 1.86 1.40 92.03 88.00 0. Tabel 3. Tabel 3.28 2.3.1. 13-15 tahun dan 16-18 masingmasing meningkat.53 Angka Buta Huruf Penduduk 10 Tahun keatas Tahun 2004 Laki-laki Perempuan L+P 0.33 2.97 1.53 3.10 2.19 0.63 70.56 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Tingkat partisipasi sekolah selama kurun waktu 2001-2004 mengalami peningkatan.53 % sedangkan pada tahun 2004 persentase buta huruf 1. Pendidikan Persentase penduduk usia diatas 10 tahun yang buta huruf mengalami penurunan.7: Angka Buta Huruf Menurut Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2001 dan 2004 Kotamadya Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kab Kep Seribu Total Tahun 2001 2.3 SOSIAL EKONOMI A.

92 juta pada tahun 2004 dan 2005 berturut-turut. Kondisi ini lebih buruk bila dibandingkan kondisi tahun 1990.33 2005 **) 49.17 juta pada tahun 2002 dan 38. yang kemudian naik kembali menjadi 43. Pendapatan perkapita penduduk Jakarta pada tahun 2001 sebesar 31. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut. Ketimpangan pendapatan penduduk melalui Gini Ratio selama periode 1990-2004 memperlihatkan kesenjangan yang membesar dari 0.18%.Distribusi Pendapatan dan Gini Ratio Bank Dunia menggolongkan penduduk menjadi tiga kelas yaitu 40% penduduk berpendapatan rendah.81%.90 2004 *) 43.17 2003 38. 40% pendududuk berpendapatan sedang dan 20% penduduk berpendapatan tinggi.363 tahun 2004. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 80 . Pendapatan Pendapatan perkapita penduduk DKI Jakarta terus mengalami peningkatan selama periode tahun 2001-2005.12 2002 35. sedang pendapatan yang diterima kelompok pendapatan tinggi 45. Tabel 3. **) Angka Sementara a .33 juta dan 49.92 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta *) Angka Perbaikan.90 juta pada tahun 2003.12 juta meningkat menjadi 35. berikut ini merupakan data lima tahun terakhir pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta atas dasar harga berlaku.B. Data terakhir BPS Provinsi DKI Jakarta menunjukkan pendapatan yang diterima kelompok pendapatan rendah pada tahun 2004 sekitar 20.9: Pendapatan Perkapita DKI Jakarta Indikator Pendapatan perkapita (juta) 2001 31.305 tahun 1990 menjadi 0.

masih di bawah standart sebesar 2. Pola Pengeluaran Pada negara-negara berkembang seperti Indonesia.11: Distribusi Persentase Pengeluaran Rata-Rata Perkapita Sebulan Indikator Pengeluaran makanan Pengeluaran nonmakanan 1990 43.62 50.363 1990 2001 2004 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta b. Tabel 3. sudah lebih besar dari standart sebesar 45 gram.01% untuk makanan dan 59.84 51.53 59. Pada tahun 2004 pola pengeluaran perkapita masyarakat DKI Jakarta adalah 40.81 Gini Ratio 0. Data terakhir pada tahun 2002 menunjukkan konsumsi kalori perkapita sehari penduduk DKI Jakarta sebesar 1.81 56.38 2002 40. dan konsumsi protein perkapita sehari sebesar 59 gram.82 37.08 45.000 gram.47 2004 40.987 gram.99 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 81 .01 59.305 0.19 2000 48.62 41.16 2001 49.Tabel 3.18 40% Pendapatan Sedang 36.99% untuk non makanan.81 20% Pendapatan Tinggi 40.10: Distribusi Pendapatan dan Gini Ratio Provinsi DKI Jakarta 1990-2004 Kelompok Penduduk Tahun 40% Pendapatan Rendah 22.03 34. pengeluaran untuk konsumsi makanan masih relatif besar (mendekati 50%) dari total pengeluaran rumah tangga.311 0.56 21.89 20.

demikian pula dengan banyaknya anggota rumah-tangga miskin meningkat dari 291 ribu jiwa pada tahun 2006. angka ini meningkat menjadi 72 tahun pada tahun 2001 dan meningkat lagi menjadi usia 74 tahun pada tahun 2005.324 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta 3.714 11.1.835 633.738 163.254 205.042 150. terlihat bahwa AHH pada perempuan selalu lebih tinggi disbanding AHH laki-laki dari tahun ke tahun. pada tahun 1990 angka harapan hidup (AHH) penduduk DKI Jakarta mencapai usia 65 tahun.959 29.898 314. Diamati menurut jenis kelamin.328 122.c.492 91.212 370.12: Jumlah Rumah Tangga Miskin dan Banyaknya Anggota Rumah Tangga Kotamadya Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kepulauan Seribu Jumlah/Total Jumlah/Total 2004 Jumlah/Total 2003 Jumlah/Total 2002 2005 KK Anggota Prasejaht Rumah era Tangga 21. Tabel 3.162 48.4 KONDISI KESEHATAN A.049 3.021 1.468 80.514 48.968 89. Kemiskinan Jumlah Rumah tangga miskin pada periode 2002-2005 mengalami peningkatan dari 83 ribu jiwa pada tahun 2002 menjadi 150 ribu jiwa pada tahun 1995. UMUR HARAPAN HIDUP Meningkatnya status kesehatan masyarakat dapat ditunjukkan oleh meningkatnya angka harapan hidup. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 82 .169 38.702 291. Estimasi angka harapan hidup di DKI Jakarta setiap tahunnya meningkat.961 83.

78 71.9 73.39 74. Data terakhir BPS Provinsi DKI Jakarta menunjukkan estimasi kematian bayi per-1.58 69. MORTALITAS a.62 71.000 Kelahiran Hidup Angka kematian bayi di DKI Jakarta dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan.70. Berikut grafik estimasi kematian bayi per-1. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 83 .37 2005 71.000 kelahiran Provinsi DKI Jakarta dari tahun ketahun. Angka Kematian Bayi per-1.7 76.4: Estimasi Umur Harapan Hidup DKI Jakarta 78 76 74 72 70 68 66 64 62 60 Laki-laki Perempuan Laki+ Perempuan 1990 65. AHH perempuan mencapai usia 76 tahun sedangkan AHH laki-laki hanya hingga usia 71 tahun.9 Perempuan 2001 70.6 Laki-laki 1995 67.5 74 Laki+ Perempuan Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta – Estimasi Parameter Demografi B.Data terakhir pada tahun 2005.000 kelahiran pada tahun 2006 sebesar 13.66 2000 69. Hal ini menunjukkan bahwa kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat telah mengalami kemajuan yang cukup berarti diiringi dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat DKI Jakarta.24 72. Grafik 3.

b.78 pada tahun 2004.70 Laki+Perempuan Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta – Estimasi Parameter Demografi Berdasarkan tabel Profil Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2006.Grafik 3. Angka Kematian Balita per-1.30 pada tahun 2001 menjadi 19. Data terakhir BPS Provinsi DKI Jakarta menunjukkan estimasi kematian balita per 1.2 dengan jumlah bayi meninggal sebanyak 176 bayi dari jumlah kelahiran bayi sebanyak 148.000 Kelahiran 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1990 1995 2000 2001 2002 2004 2005 2006 30 22 21 19 40 17 14.5: Estimasi Kematian Bayi per-1.393.20 13. angka kematian bayi per-1000 kelahiran hidup (yang dilaporkan) sebesar 1.000 kelahiran dalam kurun waktu 1990-2004 mengalami penurunan. yakni 24.000 Kelahiran Hidup Untuk kelompok balita. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 84 . data dari tahun 1990 hingga 2006 menunjukkan tren yang sama dengan angka kematian bayi.

3 26.3 19. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 85 .78 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta – Estimasi Parameter Demografi *) tahun 1995: tidak ada data Data Profil Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 menunjukkan. Dengan demikian angka kematian balita per-1000 kelahiran pada tahun 2006 sebesar 0.728 balita.Grafik 3.000 Kelahiran DKI Jakarta 30 25 20 15 10 5 0 1990 1995 1990 1995 2000 2000 2001 2001 2004 2004 24.3 24.7.6 : Estimasi Kematian Balita per-1. jumlah balita yang meninggal di lima wilayah provinsi DKI Jakarta (yang dilaporkan) sebanyak 108 balita dari jumlah balita yang ada sebanyak 810.

754 4 JAKARTA SELATAN 38. KEP.765 185.759 141.Tabel 3. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 86 .13: Jumlah Kelahiran Dan Kematian Bayi Dan Balita Menurut Kotamadya JUMLAH LAHIR HIDUP 1 JAKARTA PUSAT 23.312 5 JAKARTA TIMUR 30.044 810.604 3 JAKARTA BARAT 28. SERIBU JUMLAH PROVINSI 148.728 LAHIR MATI 28 38 11 49 20 146 JUMLAH BAYI MATI 34 29 9 18 86 0 176 1.762 2 JAKARTA UTARA 26. Seribu 34 29 18 30 86 77 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Keterangan: Angka Kematian (dilaporkan) tersebut di atas belum bisa menggambarkan AKB/AKABA yang sebenarnya di populasi. KEP.727 181.247 ANGKA KEMATIAN (DILAPORKAN) NO KOTAMADYA NO KOTAMADYA JUMLAH BALITA 154.433 147.187207836 1 JAKARTA PUSAT 2 JAKARTA UTARA 3 JAKARTA BARAT 4 JAKARTA SELATAN 5 JAKARTA TIMUR 6 KAB.815 6 KAB.7: Jumlah Kematian Bayi dan Balita Prov. SERIBU JUMLAH PROVINSI ANGKA KEMATIAN (DILAPORKAN) JUMLAH BALITA MATI 30 1 Tidak Ada Data 77 108 1 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Grafik 3. DKI Jakarta tahun 2006 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 9 0 Jml Bayi Mati Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Utara Jakarta Timur 1 Jml Balita Mati Jakarta Barat Kep.

Grafik 3. dari angka tersebut 12.252 kasus.000 Penduduk Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah provinsi DKI Jakarta sebanyak 59.429 kasus. MORBIDITAS Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA+ Jumlah penderita TB Paru (klinis) di Provinsi DKI Jakarta tahun 2006 sebesar 45. namun demikian jumlah penderita TB Paru berstatus positif di wilayah ini hanya sebesar 2. Seribu 110 21 0 Klinis Positif (+) Sem buh Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 b. Kep. Penderita TB Paru Positif terbanyak terdapat di wilayah Jakarta Utara sebesar 4.8: Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA+ Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 25000 20000 15000 10000 5000 0 Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Pusat Utara Barat Selatan Tim ur 9004 713 8384 7086 4593 1389 2538 1453 1307 3909 2252 89 22798 2030 1013 Kep.182 penderita dinyatakan sembuh. Jakarta Timur merupakan penyumbang angka terbanyak yakni sebesar 22. dengan demikian Angka Kesakitan DBD perRenstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 87 . diikuti oleh Jakarta Selatan sebesar 2.062 diantaranya adalah penderita TB Paru Positif. menduduki peringkat ketiga setelah Jakarta Utara dan Jakarta Selatan.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per-100.C. Jumlah penderita TB Paru terendah yang terdata pada Profil Kesehatan 2006 terdapat di Kabupaten Adm.445 kasus dimana 11.593 kasus.798 kasus klinis. Seribu yakni 110 penderita klinis dengan 21 penderita TB Paru berstatus positif.030 kasus.

Dari data tersebut diatas diketahui jumlah penderita terbanyak berada di wilayah Jakarta Selatan dengan 20. Grafik 3.08.000 penduduk di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2006 sebesar 663.000 Penduduk Berdasarkan data Profil Kesehatan yang berhasil dikumpulkan.321 kasus. Dengan demikan angka kesakitan Malaria per-1. Seribu 0 13097 18753 20192 Kasus Grafik 3.192 kasus diikuti oleh Jakarta Utara sebanyak 18. Seribu Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 c.9 : Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 25000 20000 15000 10000 5000 0 Jakarta Pusat 13097 Jakarta Utara 18753 4717 2670 0 Jakarta Jakarta Jakarta Barat Selatan Timur 2670 20192 4717 Kep.10: Persentase Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 8% 0% 22% Jakarta Pusat Jakarta Utara 34% 4% 32% Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep. total jumlah penderita malaria tahun 2006 di Provinsi DKI Jakarta sebesar 689 penderita.15.100.000 penduduk di Provinsi DKI Jakarta sebesar 0. 552 diantaranya positif. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 88 . Angka Kesakitan Malaria per-1.

11: Angka Kesakitan Malaria Provinsi DKI Jakarta tahun 2005 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 Jakarta Pusat 482 434 Jakarta Utara 69 0 Jakarta Barat 0 43 Jakarta Selatan 138 74 Jakarta Timur 0 0 Kep. Jakarta Utara hanya melaporkan jumlah penderita dengan status klinis sebanyak 69. Seribu 0 1 Klinis Positif (+) Klinis Positif (+) Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 89 . hanya dua wilayah yang melaporkan datanya secara lengkap. dan Jakarta Barat hanya melaporkan penderita dengan status positifnya sebanyak 43. Grafik3. yakni Jakarta Pusat dengan 434 kasus positif dari 482 kasus klinis serta Jakarta Selatan dengan 74 kasus positif dari 138 kasus klinis.Dari wilayah yang ada.

Seribu 30% Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 90 .954 balita berada dibawah garis merah (BGM) dengan kata lain menderita gizi buruk. dapat diketahui perkembangan dan pertumbuhan anak. STATUS GIZI a. persentase balita dengan gizi buruk pada tahun 2006 sebesar 1. Dalam rangka menanggulangi masalah gizi buruk dan gizi kurang pada balita identifikasi maupun intervensi yang dilaksanakan oleh puskesmas. Data yang didapat dari wilayah di provinsi DKI Jakarta menunjukkan dari sekitar 371..33%. sebanyak 4.D. sehingga dapat diketahui bila ada kelainan pada balita. Dengan melihat perkembangan status gizi balita. Persentase balita dengan gizi buruk pada tahun 2006 menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat meningkat.112 balita yang ditimbang. Dengan angka tersebut diatas. Grafik 3.12 : Persentase Balita dengan Gizi Buruk Provinsi DKI Jakarta 16% 0% 15% Jakarta Pusat Jakarta Utara 19% 20% Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep. Salah satu upaya perbaikan gizi masyarakat adalah pemantauan status gizi balita. dilakukan berbagai Persentase Balita dengan Gizi Buruk upaya melalui pemantauan pertumbuhan balita. Kegiatan pemantauan perkembangan status gizi balita dilaksanakan melalui penimbangan setiap bulan pada balita di posyandu.

83 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 91 .31 0.003 58.54 1.62 0.5 % Jumlah 2 1.68 2.00 1.00 4.9 1.33% sedangkan total persentase balita dengan gizi kurang atau dibawah garis titik (BGT) sebesar 0.83%.21 0. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH BALITA 154.14: Persentase Balita dengan Gizi Buruk (BGM) dan Gizi Kurang (BGT) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP.00 0.603 137.Grafik 3.62%) dan terendah di wilayah Jakarta Utara (0. Tabel3.044 0 810.33 BGT (%) 0.728 DITIMBANG 27.5 0 1999 2000 2004 Tahun 2005 2006 2.765 185.5 1 0.6 1.759 141.25 1.112 BGM (%) 2.85 0.33 3.8 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 1999 .8 2.2006 Dari hasil penimbangan balita di posyandu tahun 2006 menunjukkan total persentase balita dengan status gizi buruk atau dibawah garis merah (BGM) di DKI Jakarta sebesar 1.68%).00 0. Persentase balita dengan gizi buruk tertinggi ada wilayah Jakarta Pusat (2. DKI Jakarta telah mememenuhi target nasional yaitu dibawah 8%.455 0 371. Berdasarkan data profil kesehatan 2006 tersebut diatas maka persentase balita di bawah garis merah (BGM) di Prov.727 181.00 0.526 80.525 67.13 : Persentase Balita dengan Gizi Buruk Provinsi DKI Jakarta Tahun 1999 – 2006 4 3.5 3 2.433 147.

400 0 15.80 97. berikut tabel persentase rumah sehat: Tabel3. Selain ketiga wilayah tersebut diatas.00 46. menunjukkan di Jakarta Pusat dari 4.400 rumah yang diperiksa hanya 1.191 rumah yang diperiksa hanya 7.060 0 153.060 rumah atau sekitar 97% memenuhi syarat kesehatan. semakin luas rumah yang dihuni maka semakin luas ruang gerak penghuninya.E. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH DIPERIKSA 4. Hasil pemantauan petugas kesehatan lingkungan pada tahun 2006. di Jakarta Barat dari 15.875 0 168.875 rumah yang diperiksa terdapat 145.25 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 92 . KEADAAN LINGKUNGAN a.110 rumah atau sekitar 46% yang memenuhi syarat kesehatan sedangkan di Jakarta Timur dari 148. Luas lantai bangunan tempat tinggal menjadi salah satu indikator perumahan sehat.552 0 7.27 0.722 % SEHAT 35. Persentase Rumah Sehat Rumah yang nyaman adalah rumah yang relatif luas sehingga penghuninya tidak merasa berdesakan.466 RUMAH JUMLAH SEHAT 1.15: Persentase Rumah Sehat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP.191 TAD 148.44 91.110 TAD 145.552 rumah atau sekitar 35% yang memenuhi syarat kesehatan. tidak terdapat data yang lengkap.

Restoran atau Rumah Makan Dari 729 restoran atau rumah makan yang diperiksa terdapat 444 atau sekitar 61% rumah makan yang tergolong sehat. Hotel Dari sejumlah hotel yang ada di DKI Jakarta. Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) lainnya Dari 217 tempat umum dan pengelolaan makanan (TUPM) lainnya yang diperiksa. Tabel3.01 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 93 . Persentase Tempat-tempat Umum Sehat Di Provinsi DKI Jakarta ada beberapa tempat-tempat umum yang dipantau kesehatannya antara lain: 1. melebihi target nasional sebesar 45%. 2.91 22.16: Persentase Tempat-tempat Umum Sehat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 TUPM Hotel Restoran/R-Makan Pasar TUPM Lainnya Jumlah TUPM JUMLAH DIPERIKSA 4 110 729 75 217 1.131 JUMLAH SEHAT 5 76 444 17 187 724 % SEHAT 6 69.67 86. Dari hasil pemeriksaan tersebut terdapat 76 atau sekitar 69% hotel masuk kedalam kategori sehat. terdapat 187 atau sekitar 86% TUPM lainnya yang dinyatakan sehat di DKI Jakarta.09 60. Pasar Dari hasil pemeriksaan 75 pasar di DKI Jakarta diketahui hanya terdapat 17 pasar atau sekitar 23% yang dinyatakan sehat.b. Data tersebut dihimpun dari lima wilayah DKI Jakarta kecuali Jakarta Selatan (tidak melaporkan datanya). 3. melebihi target nasional sebesar 45%. 4.18 64. telah diperiksa sebanyak 110 hotel.

berapa banyak sekolah yang bebas Napza. hanya empat wilayah yang melaporkan datanya (Jakarta Utara dan Kep.028 3.00 94.79 15. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH DIPANTAU 1.F.090 0 64. PHBS dapat dinilai dengan berapa banyak kelurahan yang masyarakatnya melaksanakan PHBS.539 atau sekitar 16% rumah tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). berapa banyak masyarakat memanfaatkan sarana kesehatan dan berapa banyak masyarakat terlindung asuransi kesehatan. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT a.79 34. Seribu tidak ada data).220 4.Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Salah satu indikator keberhasilan upaya kesehatan adalah dengan melihat apakah masyarakat telah melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.931 rumah tangga yang dipantau terdapat 11.99 0.82 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 94 .593 0 72. Data Profil Kesehatan tahun 2006 menunjukkan dari 72. berapa banyak masyarakat mendirikan Posyandu Purnama. Tabel3.931 BER PHBS 98 0 6. Dari lima wilayah dan satu kabupaten administrasi di wilayah DKI Jakarta.250 0 11.539 % 8.373 3.818 1. berapa banyak masyarakat tidak merokok.17: Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 RUMAH TANGGA NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP.

851 (46.56%). Jumlah posyandu aktif yang ada di lima wilayah Kota administrasi dan satu Kabupaten Administrasi di DKI Jakarta pada tahun 2006 seluruhnya 3.94) serta Posyandu Mandiri 418 (10.73%). Posyandu Purnama 1.b. Posyandu Madya 1. Imunisasi. Posyandu tersebut dibagi menjadi 4 strata yang masing-masing berjumlah. penanganan diare. KM dan KB.185 (29.958 posyandu. melebihi target nasional sebesar 25%.77%).50%. Posyandu Pratama 504 (12. Jumlah persentase posyandu purnama dan posyandu mandiri sebesar 40. Pelaksanaan kegiatan posyandu dilaksanakan 1 kali dalam sebulan dengan sistem 5 meja dengan 4 meja dikelola oleh kader dan 1 meja (meja kelima) merupakan pelayanan kesehatan yang ditangani oleh perugas puskesmas atau tenaga kesehatan.Persentase Posyandu Purnama & Mandiri Jenis UKBM (Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat) yang paling memasyarakat adalah posyandu dengan kegiatan 5 program prioritasnya yaitu perbaikan gizi. Grafik 3.14: Persentase Posyandu Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 30% 46% Pratama Madya Purnama 11% 13% Mandiri Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 95 .

968 3.512 kunjungan.250. SERIBU KUNJUNGAN PUSKESMAS Rawat Inap Rawat Jalan Jumlah 2.060.044 1.429 1.852 0 3.710 699.71 JUMLAH (PROVINSI) PERSENTASE PDDK MEMANFAATKAN PUSKESMAS Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 96 .941 kunjungan.059 11. Persentase Penduduk Memanfaatkan Puskesmas Penduduk Jakarta pada tahun 2006 berjumlah 8. AKSES & MUTU PELAYANAN KESEHATAN a.233 701.795. Wilayah dengan jumlah kunjungan puskesmas terbanyak ada di wilayah Jakarta Selatan sebesar 1. DKI Jakarta tahun 2006 sebesar 68.69%.486 1.630 1.211. Jumlah kunjungan puskesmas di DKI Jakarta pada tahun 2006 sebanyak 6.943 78. Tabel 3.157.036 1. terdiri dari 97.71% lebih rendah dari tahun sebelumnya yakni 84.961.714 1.396 6.080 kunjungan dan terendah di wilayah Kep.610 kunjungan diikuti wilayah Jakarta Pusat sebesar 701.680 jiwa (BPS Prov.396 kunjungan rawat jalan.366 1.080 1.116 kunjungan rawat inap dan 6.512 68.157. Seribu sebesar 3.060. Dengan demikian persentase penduduk memanfaatkan puskesmas di Prov.116 6.610 97.19 : Persentase Penduduk Memanfaatkan Puskesmas Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KAB ADM KEP.784.610 3.189.251.133.254 1. DKI Jakarta).G.795.193.

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 97 .15: Jumlah Kunjungan Puskesmas Provinsi DKI Jakarta Tahun 2002-2006 9000000 8000000 7000000 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 2002 2003 2004 Tahun Rawat Inap Rawat Jalan Total 2005 2006 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 1999 .522. Wilayah dengan jumlah kunjungan rumah sakit terbanyak ada di wilayah Jakarta Selatan sebesar 1.627 kunjungan.35%. Persentase Penduduk Memanfaatkan Rumah Sakit Jumlah kunjungan rumah sakit di DKI Jakarta pada tahun 2006 sebanyak 5.767. DKI Jakarta tahun 2006 sebesar 52.179 kunjungan dan terendah di wilayah Jakarta Barat sebesar 831. Seribu tidak melaporkan datanya. Jakarta Timur dan Kep.693 kunjungan rawat inap dan 5.270 kunjungan rawat jalan.2006 *) tahun 2002 & 2003: jakarta timur tidak melaporkan datanya b.963 kunjungan.Grafik 3.083. terdiri dari 439. Dengan demikian persentase penduduk memanfaatkan RS di Prov.

027 1.868 1. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) PERSENTASE PDDK MEMANFAATKAN RS KUNJUNGAN RUMAH SAKIT Rawat Inap Rawat Jalan Jumlah 38.623 772.336 52.691.16: Jumlah Kunjungan Rumah Sakit Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 Kep.521.482.179 0 0 0 0 0 439.083.295.308 59.19: Persentase Penduduk Memanfaatkan Rumah Sakit Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KAB ADM KEP. Seribu 0 Jakarta Timur 0 Jakarta Selatan 1533027 234152 Jakarta Barat 772004 59623 Jakarta Utara 1295258 107050 Jakarta Pusat 0 1482981 38868 2E+05 4E+05 6E+05 8E+05 1E+06 1E+06 1E+06 2E+06 2E+06 2E+06 Rawat Jalan Rawat Inap Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 98 .767.Tabel 3.981 1.693 5.533.258 1.004 234.152 1.402.35 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Grafik3.849 107.270 4.050 1.

479 persalinan.593 persalinan diantaranya dilakukan oleh tenaga kesehatan.63% telah melampaui target nasional sebesar 77%.H.37%.93 Jml Persalinan Persalinan oleh Nakes % Pers. dengan demikian persentase persalinan oleh tenaga kesehatan di DKI Jakarta sebesar 88.98 Jakarta Barat 36922 28198 76. Oleh Nakes Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 99 . Grafik 3.22 Kep. 170. Seribu 374 370 98.Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Total jumlah persalinan di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2006 sebanyak 192.17: Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 50000 45000 40000 35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 Jakarta Pusat 35832 35832 100 Jakarta Utara 38284 38276 99. Oleh Nakes Jml Persalinan Persalinan oleh Nakes % Pers. PELAYANAN KESEHATAN a. Persentase tertinggi persalinan oleh tenaga kesehatan ada di wilayah Jakarta Pusat sebesar 100%. dan terendah ada di wilayah Jakarta Barat sebesar 76.37 Jakarta Selatan 46732 38312 81.98 Jakarta Timur 34335 29605 86.

Persentase Desa Terkena Kejadian Luar Biasa (KLB) Yang Ditangani Kurang Dari 24 Jam Dari empat wilayah yang melaporkan datanya. Persentase Desa yang mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Persentase kelurahan yang mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2006 sebesar 70%.92%. Jumlah ibu hamil yang mendapat tablet Fe1 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 100 . Seribu tidak melaporkan datanya.71 76. persentase desa yang terkena Kejadian Luar Biasa (KLB) dan ditangani kurang dari 24 jam seluruhnya sebesar 100%. Kab.92 67.08 1 J AKARTA PUSAT 2 J AKARTA UTARA 3 J AKARTA BARAT 4 J AKARTA SELATAN 5 J AKARTA TIMUR 6 KEP. Jakarta Utara menurut laporan tidak terdapat KLB sedangkan Kep.20: Persentase Desa yang mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO KOTAMADYA J UMLAH DESA/KEL 44 31 56 65 62 6 264 DESA/KEL UCI % DESA/KEL UCI 25 12 43 63 42 0 185 56. Persentase tersebut belum mencapai target nasional sebesar 86%. dan terendah ada di wilayah Jakarta Utara sebesar 38.b. Persentase Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Fe Total jumlah ibu hamil yang berhasil terdata di seluruh wilayah DKI Jakarta sebanyak 400. SERIBU J UMLAH PROVINSI Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 c. Jakarta Barat dan Jakarta Timur sebanyak 3 Desa.74 0. Kepulauan Seribu tidak melaporkan datanya. Persentase tertinggi Desa yang mencapai UCI ada di wilayah Jakarta Selatan sebesar 96. Tabel 3.00 70. lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 64%.79 96.71%.82 38. Jumlah kelurahan yang terkena KLB pada masing-masing wilayah diantaranya Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan sebanyak 4 desa. d.131 bumil.

51 69.22: Persentase Bayi Yang Mendapat Asi Eksklusif Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KAB ADM KEP.85 42.123 28.106 118. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH BAYI 21. Seribu tidak melaporkan datanya.64 61.984 % 13.21: Persentase Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Fe Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP.58 76.990 46.274 36.752 163.109 125.28 62.961 JUMLAH BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF JML 5.131 67.44 61.29 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 d. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH IBU HAMIL 93.14 10. Angka ini belum mencapai target nasional sebesar 40%.194 bumil atau sekitar 35%.984 bumil atau sekitar 36%. Tabel 3.55 72.SUMBER DAYA KESEHATAN Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 101 .728 23.158 36.203 0 400.146 bayi yang ada.450 44. sedangkan ibu hamil yang mendapatkan tablet Fe3 sebanyak 141.230 13.582 47.72 9.729 0 141.52 143.53 35.sebanyak 144.04 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 I .08 78.311 41.951 41.463 bayi atau sekitar 36% dari 252.620 35.95 66.872 0 144.220 10.Persentase Bayi Yang Mendapat Asi Eksklusif Jumlah bayi yang mendapat ASI eksklusif di DKI Jakarta pada tahun 2006 sebanyak 90.23 Fe3 JML 8.106 67.31 36.399 67. Tabel 3. Kabupaten Administrasi Kep.194 % 8.112 % 24.902 28.264 7.123 12.049 46.17 20.131 Fe1 JML 12.

Sedangkan Tenaga Kesehatannya sendiri meliputi Tenaga Medis.94 6.98 100 328 15 1.13 152 29.45 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006.84 1.16 100 2 0.463 64. Institusi Diklat.98 100 328 30 519 63.87 907 4.58 100 328 34 1. dan Kesmas. Pendataan Puskesmas Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 102 .31 3.51 0.02 3. Rumah Sakit.40 5. Gizi.Pada tahun 2006 total tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh unit kerja Provinsi DKI Jakarta dan terdata pada Profil Kesehatan 2006 sebanyak 19.73 156 28.068 20.23: Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 PUSKESMAS.11 12. persebaran tenaga kesehatan terdapat di Puskesmas. Sarana Kesehatan lainnya serta di Dinas Kesehatan.134 6. Tabel 3.525 21.21 135 19.01 2.22 142 11.38 9 1.22 189 27.68 100 328 27 679 48.87 100 2 328 539 9.78 100 328 12 555 59. Seperti yang terlihat dalam tabel dibawah ini.29 59 10.336 100 UNIT KERJA/ NAKES MEDIS PERAWAT & BIDAN FARMASI GIZI TEKNISI MEDIS SANITASI KESMAS TOTAL UNIT KERJA % JML % JML % JML % JML % JML % JML % JML % RUMAH SAKIT 3. LAIN KAB/KOTA NAKES DIKNAKES 328 250 5. Perawat dan Bidan.20 5.78 763 60.97 INSTITUSI SARANA DINKES TOTAL DIKLAT/ KES.668 18.119 73.63 3.89 2.88 63 4.336 tenaga kesehatan.488 67.267 25.80 2.657 0. Teknisi Medis.049 21.39 4.10 2.296 11. PUSTU dan POLINDES 1.69 19.739 69.

Medis F a rm a s i S a nita s i Keterangan: Medis Perawat & bidan Farmasi Gizi Teknisi Medis Sanitasi Kesmas : Dokter. dan DIII Kesehatan Lingkungan : SKM. APK. Dr/Drg Spesialis : termasuk lulusan DIII dan S1 : Apoteker. TEM dan Penata Rontgen. D ik la t S a rk esLa in D ink esK odya 64% Grafik 3.18 : Persentase Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 5% 12% 0% 19% Pus k es m a s R uma hS a k it Ins t. Fisioterapi : Lulusan SPPH. Dokter Gigi. Penata Anestesi. DIII Gizi (SPAG dan AKZI) dan DIV : Analis. MPH.Grafik 3. Asisten Apoteker : Lulusan DI.19: Persentase Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Jenis Tenaga KesehatanProvinsi DKI Jakarta Tahun 2006 4% 7% 8% 3% 3% 26% 49% Medis G izi K es m a s P era wa t &B ida n T ek . dll Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 103 .

Jumlah Rumah Sakit di Jakarta 109 buah dengan jumlah dokter spesialis 4.35 0.50 2.80.22 3.40. 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA / KAB JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP SERIBU RATA-RATA JAKARTA DOKTER 145 118 164 247 207 3 884 PUSKESMAS 41 48 74 80 88 6 337 RASIO 3. b. kelas B (pendidikan) 5 orang.404 orang sehingga rasio Dokter ahli dan Rumah Sakit sebesar 40. kelas B (non pendidikan) 1-3 orang. Standar kebutuhan tenaga ahli minimal rumah sakit kelas A 15 orang.10: Rasio Dokter-Puskesmas Provinsi DKI Jakarta Tahun 2005 NO. dokter umum 350 dan dokter gigi 486.62 meningkat dibandingkan lima tahun yang lalu pada tahun 2000 dengan rasio 1.a. Sampai dengan tahun 2005 jumlah puskesmas di Jakarta sebanyak 337 puskesmas dan jumlah tenaga dokter Puskesmas 884 orang meliputi dokter spesialis 48.53 2. Rasio Dokter-Puskesmas di masing-masing wilayah sebagai berikut: Tabel 4. sedangkan rasio nasional 1.13.Rasio Dokter Ahli dan Rumah Sakit Dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan serta makin bervariasinya jenis penyakit maka kebutuhan akan dokter spesialis juga meningkat. kelas C 1 orang dan kelas D tidak memerlukan tenaga ahli.62 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 104 .08 2. Rasio dokter dan puskesmas 2.Rasio Dokter dan Puskesmas Seluruh Puskesmas di Jakarta telah mempunyai Dokter.45 2.

57 9. ANGGARAN KESEHATAN Anggaran Kesehatan bersumber APBD di Provinsi DKI Jakarta masih belum optimal karena anggaran yang ditetapkan untuk Dinas Kesehatan sebagian besar diperuntukan bagi pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan tidak mampu .446.000 penduduk tahun 2005 NO.78 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2005 J .000 penduduk di Jakarta tahun 2005 sekitar 9.73.07. Tabel : 3.000 penduduk.322.16 7.995.Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2005 C Rasio Dokter Puskesmas /100.06 12.25 Anggaran Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006-2007 No Sumber Tahun Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 105 .232 1.38 8.Sementara anggaran bersumber APBN juga cenderung menurun dari tahun ketahun. 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA / KAB JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP SERIBU RATA-RATA JAKARTA DOKTER 145 118 164 247 207 3 884 PENDUDUK 861.531 1.83 8.78 naik dibandingkan tahun 2000 sebesar 7. Tabel 3. Rasio dokter /100.000 penduduk Gambaran mengenai kecukupan tenaga dokter Puskesmas dapat dilihat dari jumlah dokter /100.728 2. Sedangkan angka rasio nasional sebesar 10.788 22.041.65 13.000 pddk 16.24: Rasio Dokter per-100.112 9.605 Dokter / 100.214 2.393.

132.809.502.2 PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kualitas Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin dan kurang mampu belum optimal.528.097. Masih rendahnya pengawasan terhadap peredaran obat dan makanan.893. Belum diberlakukannya kebijakan tentang PSO bidang kesehatan Sumber anggaran sektor kesehatan yang belum mencukupi Pembiayaan pelayanan kesehatan gakin belum memadai Ketersediaan aset berupa lahan / tanah untuk pengembangan bangunan sarana kesehatan yang terbatas Kebijakan tatalaksana keuangan daerah yang selalu berubah Belum adanya penyeragaman pola tarif di RSD Kebijakan kemitraan dalam pembiayaan kesehatan belum ditetapkan Sinkronisasi perencanaan anggaran belum maksimal Ketersediaan tenaga kesehatan yang profesional masih kurang 106 dalam Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 . Masih tingginya insiden / prevalens penyakit menular yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa.513.258 16.863.240.178. Belum semua kelurahan memiliki Puskesmas.232.105. Belum sesuainya standar kompetensi dan komitmen SDM Kesehatan.044.000 1.337 30.515 352.525. akurat dan valid yang berakibat terlambatnya penetapan kebijakan dan intervensi.Anggaran 2005 2006 2007 1 APBD .163. 192.637.675.778.804.708 1.Jajaran Kes.106.550 6.467.Dinas Kes .561.145.145.295.827.000 754. Masih rendahnya alokasi pembiayaan kesehatan. Belum optimalnya pedataan kesehatan yang cepat.000 1.966 2 APBN 3. Masih rendahnya kesadaran untuk hidup masyarakat lingkungan yang sehat.747.550 297.000 Total 953.178 817. Kurang optimalnya sistem manajemen dan regulasi kesehatan.

Implementasi program yang bersipat promotif dan preventif masih lemah Pemasaran pelayanan PPK di Tk.Puskesmas kelurahan belum optimal.Kel. Belum optimal Pengaturan terhadap srana pelayanan kesehatan swasta/asing belum baik Implementasi Binwasdal yang optimal Jejaring komunikasi kesehatan diantara instansi pemberi layanan kesehatan belum optimal Sistem informasi kesehatan belum terintegrasi Peningkatan kompetensi kesehatan masih kurang Implementasi sistem reward danpunishment belum berjalan Jumlah SDM kesehatan masih kurang Penempatan tenaga kesehatan belum sesuai kompetensi Kemitraan bidang kesehatan belum optimal Kajian masalah kesehatan masih kurang Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 107 .• • • • • • • • • • • • • • Penetapan program urusan kesehatan di tk.prov kurang optimal Ketersediaan sanpras kesehatan tk. dan Kec.

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta beserta jajarannya harus mampu menyelenggarakan Pembangunan Kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat ibukota yang beragam tersebut. murah. pendidikan. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta beserta jajarannya dalam menyelenggarakan Pembangunan Kesehatan harus berpihak kepada kepada rakyat Jakarta. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 108 . Pelayanan Kesehatan di ibukota harus dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat di Jakarta. MISI. sosial ekonomi dan lain sebagainya. baik dari segi etnis. Pelayanan Kesehatan yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta kepada semua masyarakat DKI jakarta haruslah merupakan Pelayanan Prima. ramah dan berkepastian hukum. mudah diakses. efisien. TUJUAN. cepat transparan. terutama untuk masyarakat miskin yang sangat rentan kesehatannya.BAB IV VISI. STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4. yang berarti harus bermutu.1 VISI DINAS KESEHATAN DKI JAKARTA Visi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam mengemban amanah Pembangunan Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007 – 2012 yang digagaskan adalah : “ Jakarta Sehat Untuk Semua “ Penjelasan atas Visi adalah : Visi Dinas Kesehatan Provinsi DKI jakarta Tahun 2007 – 2012 mengacu pada Visi Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2007 – 2012 yaitu Jakarta yang Nyaman dan Sejahtera Untuk Semua. Jakarta sebagai Ibukota Negara dihuni oleh masyarakat yang sangat beragam. sosial budaya. agama. Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap rakyat ibukota adalah salah-satu hak azasi manusia tanpa perbedaan.

3. Terkendalinya penyakit degeneratif. 2. 1. Mempunyai akses pelayanan perorangan dan masyarakat. Menyelenggarakan Peningkatan Manajemen Kesehatan. 6. Menyelenggarakan pembangunan kesehatan dengan kaidahkaidah “Good Governace” bermakna : Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 109 . 8. Meningkatnya kesadaran Masyarakat terhadap lingkungan yang bersih dan terkendalinya pencemaran lingkungan. Meningkatnya kualitas dan respontime pelayanan kesehatan Gawat Darurat & Bencana. 5. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin. 4. 2. Dihuni oleh penduduk yang memiliki kesadaran dan kemandirian untuk hidup sehat. Gizi yang seimbang. Meningkatkan kesehatan prima 3. 5. Meningkatkan Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. pelayanan kesehatan perorangan. Terkendalinya penyakit menular.2 MISI DINAS KESEHATAN DKI JAKARTA Dalam mewujudkan Visi yang telah ditetapkan. 4. Meningkatkan Kerjasama lintas sektor dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. 4. 7. Menyelenggarakan pembangunan kesehatan dengan kaidah-kaidah “Good Governance”. maka Misi yang digagaskan adalah : 1.Jakarta Sehat untuk Semua mempunyai arti : Dihuni oleh penduduk yang memiliki kesadaran dan kemandirian untuk hidup sehat. kesehatan masyarakat dan kegawatdruratan kesehatan dengan prinsip pelayanan Penjelasan makna atas pernyataan misi dimaksud adalah : 1.

Perencanaan Program Kesehatan. Daya Tanggap kepada Stakeholders. Pengawasan. Profesionalisme Pendekatan yang dilakukan untuk aktualisasi Misi ini melalui peningkatan kinerja tenaga kesehatan. Berorientasi pada Visi. Transparansi. Kesetaraan. Misi ini akan menjamin efektivitas program dan kegiatan yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta beserta jajarannya. Tegaknya Supremasi Hukum. cepat. Meningkatkan pelayanan kesehatan perorangan. kesehatan masyarakat dan kegawatdaruratan kesehatan dengan prinsip pelayanan kesehatan prima. Menyelenggarakan Peningkatan Manajemen Kesehatan bermakna bahwa: “Core Bussines” Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. sistem dan institusi kesehatan. mudah. efisien. Akuntabilitas. i. f. kesehatan masyarakat dan kegawatdaruratan dan bencana.pelayanan kesehatan masyarakat dan kegawatdaruratan kesehatan. ramah dan berkepastian hukum. mempunyai makna : Pelayanan Prima adalah pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dengan mengutamakan norma pelayanan yakni : bermutu. Evaluasi Program Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 110 . murah. Partisipasi masyarakat. adalah Kesehatan Perorangan.Kaidah-kaidah “Good Governance” dijalankan berdasarkan 10 prinsip yakni : a. transparan. 2. j. b. g. e. Efektivitas & Efisiensi. c. 3. Untuk menunjang “Core Bussines” tersebut diperlukan Manajemen Kesehatan yang terdiri dari Manajemen Pembiayaan Kesehatan. h. d. tenaga non kesehatan.Pelayanan prima dilaksanakan untuk semua jenis pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kesehatan perorangan.

Dalam Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan tidak dapat dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI beserta jajarannya semata-mata karena masalah pada Pembangunan Kesehatan sangat luas dan komprehensif . (2) peningkatan kapabilitas pemimpin informal pada komunitas / organisasi masyarakat. (5) regulasi sektor lain yang melindungi kesehatan. Teknologi dan Informasi Kesehatan. Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat di bidang kesehatan bermakna bahwa : Dalam menyelenggarakan Pembangunan Kesehatan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah daerah sendiri tapi harus didukung oleh masyarakat Jakarta. pengawasan maupun pelaksanaan dilapangan dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.diperlukan peran sektor-sektor lain seperti Sektor Pendidikan.Kesehatan. (3) regulasi mikro yang menguntungkan kesehatan individu pada setiap organisasi. (4) regulasi sektor kesehatan. Pemasaran Sosial Program Kesehatan dan lain sebagainya. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 111 . Tenaga Kerja. Untuk itu perlu : (1) peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan sehingga masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi bahwa kesehatan adalah tanggung jawab masing-masing individu. Kebersihan. SDM Kesehatan. Untuk itu perlu ditingkatkannya kerjasama dengan sektor-sektor tersebut mulai dari tingkat pembuat kebijakan. 5. Pamong serta sektor-sektor lainnya. 4. Sosial. Meningkatkan Kerjasama Lintas Sektor dalam penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan.

maka Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menjunjung Budaya kerja dan nilai organisasi. 3 Profesionalisme Seluruh jajaran Dinas Kesehatan dituntut untuk profesional. sesuai dengan tegas dan juga wewenang menyangkut yang dibebankan dalam kepadanya. kesopanan dan kepekaan akan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. keterbukaan akan dan memiliki kinerja yang mendorong manajemen tetap terkendali pelayanan yang meliputi keramahan. Komunikasi yang lancar disetiap level akan mendorong terciptanya upaya saling mengendalikan . 5 Pemerataan berfokus pada pelanggan Seluruh jajaran Kesehatan memberikan focus yang besar terhadap pemberian pelayanan kepada masyarakat sebagai pelanggan. horizontal bahkan diagonal pada setiap level.4. disamping menghindar dari baik. 4 Partisipasi disetiap level Seluruh jajaran Dinas Kesehatan berpartisipasi tanpa kecuali dalam upaya mewujudkan visi dan misi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya secara profesional. 6 Karyawan merupakan asset Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 112 .3 BUDAYA KERJA DAN NILAI ORGANISASI Guna mewujudkan Visi “Jakarta Sehat untuk semua” dan misi yang ditetapkan . yaitu : 1 Transparansi dalam sistem manajemen Berbagai proses manajemen dilakukan secara transparan. memberikan Profesionalisme empati berbagai penyimpangan . membantu dalam upaya mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan. mengawasi dan mengoeksi.Komitmen memberlakukan masyarakat sebagai pelanggan adalah dalam memberikan pelayanan terbaik sehingga masyarakat berubah menjadi pelanggan setia ketika memerlukan pelayanan kesehatan. 2 Komunikasi/keterbukaan disetiap level Komunikasi dilakukan secara vertikal.

Terselenggaranyanya peningkatan kinerja aparatur. Nilai-nilai yang dianut oleh Organisasi Dinas Kesehatan adalah perduli kepada masalah kesehatan masyarakat . Meningkatnya upaya pembangunan kesehatan dengan ditunjang oleh lintas sektor terkait di setiap jenjang menyelenggarakan pembangunan kesehatan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 113 . masyarakat dan kegawat daruratan sesuai prinsip-prinsip pelayanan prima 3. 4. dan unit kerja kesehatan untuk mewujudkan efektivitas program dan kegiatan yang dilakukan 2. pelayanan kesehatan individu dan kejadian gawat darurat dan bencana. Meningkatnya kebersamaan antara pemerintah daerah. murah dan transparan 4. tapat waktu. masyarakat dan semua pemangku kepentingan dalam rangka menyelesaikan masalah kesehatan menjawab tantangan masa depan dan memanfatkan potensi dan peluang yang dimilki. berasaskan keadilan.Oleh karena itu manajemen internal memberikan perhatian kepada berbagai aspek yang berkaitan dengan karyawan. efektiv .4 TUJUAN Dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi Dinas kesehatan provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang bertujuan : 1. efisiensi. sistem. melalui program kesehatan yang komprihensif dan bermutu.Karyawan merupakan unsur dalam memberikan pelayanan kesehatan. arif dengan skala prioritas. 5. dilaksanakan secara terintregasi secara lintas program dan lintas sektor. mudah. Pengembangan manajemen sehingga dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan dan dapat diselenggarakan dengan akurat. ramah lingkungan yang dilakukan oleh SDM kesehatan yang profesional dan ramah. Meningkatnya kualitas Pelayanan kesehatan perorangan.

3.0 (tidak penting) sampai 1. kekuatan utama masing variabel. Kalikan bobot dengan rating untuk mendapatkan skor bobot masing .5 ANALISIS SWOT A. Identifikasi SWOT Identifikasi SWOT menggambarkan secara internal kekuatan (strenghts) dan kelemahan (weaknesses) seluruh jajaran Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta dalam menangani bidang kesehatan di Propinsi DKI Jakarta. kekuatan minor d. Terdapat lima langkah penyusunan matriks IFE yaitu : 1. B.4. kelemahan utama b. kebijakan instuisi diperlukan untuk mengembangkan matriks ini sehingga penampakan dari pendekatan keilmuan tidak boleh diinterpretasikan sebagai tehnik yang sangat sempurna. matriks ini merupakan alat formulasi untuk meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam area fungsi bisnis .0 (sangat penting) pada masing masing faktor . Identifikasi SWOT di lingkungan Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta. Susun daftar faktor penentu sukses (Critical Succes Factor) sebagai identifikasi dari proses audit internal. dapat dilihat pada Lampiran . identifikasi juga menggambarkan peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Berikan nilai (Rating) antara 1 sampai 4 untuk masing masing faktor yang menggambarkan : a. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 114 =1 =2 =3 =4 4. kelemahan minor c. 2. Matriks IFE ( Internal Faktor Evaluation Matrix ). Bobot faktor diberikan berdasarkan kepentingan untuk keberhasilan suatu organisasi. Berikan bobot antara 0. Kemudian dipilih sepuluh sampai duapuluh faktor internal termasuk kekuatan dan kelemahan. Ringkasan dari audit internal strategi manajemen membentuk matriks IFE. Secara eksternal.

75 yang kemudian akan merupakan nilai sumbu vertikal. Jumlahkan score bobot masing masing variabel. lingkungan. Matriks EFE (External Factor Evaluation Matrix). Secara lengkap table Matriks IFE dapat ilihat pada Lampiran . Dari hasil IFE = 2. Susun daftar faktor penentu sukses dari proses audit eksternal Susun sebanyak sepuluh sampai dua puluh faktor termasuk peluang dan tantangan yang mempengaruhi organisasi. Berikan nilai antara 1 sampai 4 terhadap masing masing faktor untuk indikasi efektifitas organisasi dalam merespon hal hal yang strategis : a. Indikasi pembobotan tergantung kepentingan relatif terhadap keberhasilan suatu organisasi. demografi. respon sedang d. pengaturan.61 dan EFE = 1. Berikan bobot 0. 3. tehnologi dan informasi kompetitif. Nilai yang dicapai dari hasil pembobotan faktor-faktor eksternal adalah 2. =4 =2 =1 b. Secara lengkap table Matriks IFE dapat ilihat pada Lampiran C. Matriks EFE sangat strategis untuk meringkas dan mengevaluasi ekonomi. Diagnosa Organisasi (Cell Diagnosa). 2. Jumlahkan skor bobot masing masing variabel untuk menentukan total score bobot organisasi. Nilai yang dicapai dari hasil pembobotan faktor-faktor internal adalah 2. pemerintah.86 maka apabila dimasukkan dalam Matriks Internal External atau disebut juga Cell Diagnosa maka strategi Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 115 . sosial.0.5.98 yang kemudian akan merupakan nilai sumbu mendatar.0 sampai 1. politik. respon diatas rata rata atau sedang = 3 4. respon sangat baik c. respon kurang baik bobot. 5. Kalikan masing masing bobot faktor dengan nilai untuk menentukan skor D. Terdapat lima langkah dalam menyusun matriks EFE yaitu : 1.

organisasi Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta berada pada cell V yaitu strategi Hold and Maintain yang penjabaran strateginya adalah

Pertumbuhan (Peningkatan Out Put), Integrasi Horizontal (Pengembangan Produk yang sudah ada penetrasi horizontal) dan N0n Profit Strategi (Pengembangan Internal Manajemen). Cell diagnosa ini dapat dilihat pada Lampiran .

E. Matriks TOWS. Dalam tahap penyesuaian (matching) dapat digunakan matriks TOWS sebagai alat diagnosis (matching tools) untuk menentukan alternatif stategi dengan melakukan identifikasi adanya suatu peluang atau hambatan dari faktor eksternal dan melihat faktor internal suatu organisasi berupa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki serta memperhatikan Visi, Misi, dan tujuan organisasi. Penyesuaian faktor-faktor penentu sukses eksternal dan internal ini merupakan salah satu kunci efektif untuk menghasilkan strategi alternatif dan resultan strategi yang dapat dikelompokkan menjadi empat strategi yaitu: 1. Strategi S – O (SO = Strength – Opportunity) 2. Strategi W – O (WO = Weakness – Opportunity) 3. Strategi S – T 4. Strategi W – T (ST = Strength – Threat) (WT = Weakness – Threat)

yang secara detail matriks TOWS dapat dilihat pada Lampiran .

F. Matriks Penyesuaian Strategi. Selanjutnya ketiga strategi tersebut diatas yaitu : Pertumbuhan (Peningkatan Out Put), Integrasi Horizontal (Pengembangan Produk yang sudah ada penetrasi horizontal) dan N0n Profit Strategi (Pengembangan Internal Manajemen) dijabarkan dengan memperhatikan faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

116

Hasil tabulasi penyesuain prioritas strategi dapat dilihat pada table penyesuaian strategi Lampiran .

G. Matriks QPSM. Tahap pengambilan keputusan dengan menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) adalah alternatif strategi yang didapat dari tahap penggabungan, untuk menentukan strategi mana yang menjadi prioritas. Cara melakukan perhitugan QSPM adalah sebagai berikut : 1. Buat daftar faktor analisis SWOT diambil dari matriks IFE dan matriks EFE; 2. Cantumkan bobot pada masing-masing faktor sesuai pada matriks IFE dan matriks EFE; 3. Dari hasil analisis SWOT dipelajari dan ditulis strategi alternatif; 4. Tentukan nilai Attractiveness Score (AS); a. Nilai 1 b. Nilai 2 c. Nilai 3 d. Nilai 4 : tidak ada keterkaitan : mungkin ada keterkaitan : ada keterkaitan : sangat terkait

5. Hitung Total Attractiveness Score (TAS) yaitu perkalian antara Bobot dengan AS (Bobot x AS); 6. Hitung jumlah dari seluruh TAS dan dibandingkan dengan strategi mana yang nilai TAS totalnya lebih tinggi, ini menunjukkan bahwa strategi tersebut lebih attraktif serta dapat mengatasi setiap factor internal dan eksternal. Selengkapnya dapat bdilihat pada tabel QSPM di Lampiran . 4.6 POSISI ORGANISASI Menunjukan pada posisi Strukturisi

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

117

MATRIKS I-E
PROGRAM
EFE= 1 ,8 6 IFE=2 ,6 1
4 Pertumbuhan/ Ekspansi 3 2 Stabilisasi/ Capacity building 1

3

Strukturisasi

IFE
2

1

Strukturisasi

Integrasi

EFE
4.7 STRATEGI Atas dasar analisi Matriks TOWS, maka strategi pencapaian tujuan dan sasaran meliputi: 1. Penyempurnaan sistem manajemen; 2. Peningkatan Pembiayaan Kesehatan; 3. Pengembangan Promosi dan Informasi Kesehatan; 4. Pengembangan sarana prasarana; 5. Pengembangan dan optimalisasi SDM kesehatan; 6. Pengembangan sistem perencanaan bidang kesehatan sehingga didapat efisiensi dan optimalisasi pembiayaan kesehatan;

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

118

Strategi kreatif tersebut harus merupakan gerakan yang dapat diartikan sebagai perubahan adalah dengan berlangsungnya waktu. Dalam konteks perubahan performansi pelayanan dapat dibuat relatif terhadap indikator tujuan jangka panjang yan telah ditetapkan. Pendelegasian kewenangan sebagian kesehatan kepada Camat dan Lurah dalam menggerakan dan memberdayakan masyarakat dalam hidup sehat. pengewasan dan pengendalian). 9. Dalam manajemen perubahan gerakan dapat dibuat relatif terhadap standar yang ditetapkan. Peningkatan Binwasdal (pembinaan. Peningkatan sistem sangsi dan penghargaan. 5. Peningkatan sistem informasi manajemen. 11. 9. Peningkatan Kualitas Pelayanan (Pelayanan kesehatan dan pelayanan masyarakat dan kegawatdaruratan). 10. kemudian dijabarkan dalam 24 substrategi sebagai berikut : 1. Pembinaan dan penegakan hokum kesehatan. Strategi utama tersebut. 2. Pengembangan kemitraan. 10. 4. Pembiayaan kesehatan.7. 7. Pendayagunaan SDM. Penerapan sistem manajemen mutu di jajaran kesehatan. Meningkatkan akses layanan kesehatan untuk keluarga miskin melalui sistem Jaminan Pelayanan Kesehatan daerah. Peningkatan peran serta masyarakat. Pengembangan sistem informasi kesehatan. Pengembangan sistem pemasaran social program kesehatan. Pengembangan Kemitraan bidang kesehatan. 11. 12.Yang dimaksud dengan Tahap performansi adalah masa untuk mengejar target yang telah ditetapkan oleh masing masing unit kerja. 8. 6. 8. 3. Perencanaan terpadu. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 119 . Peningkatan sistem kepemimpinan.

Perluasan organisasi. yang meliputi: transparansi dalam sistem manajemen. dan karyawan merupakan aset. Penambahan sarana an prasarana. Pengembangan penelitian. forum-forum rapat mingguan. 17. Pengembangan produk kesehatan. 18. Dalam kaitan tersebut. Peningkatan pengelolaan sarana dan prasarana. Oleh karena itu. yaitu keseimbangan antara kepentingan masyarakat dan kepentingan pegawai yang kesemuanya tercakup dalam stakeholders. Pengembangan kualitas gadar dan bencana. 19. komunikasi/keterbukaan pada setiap tingkatan. 20. menjadi modal utama dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi seluruh jajaran Dinas Kesehatan dalam upaya mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan. 22. Sistem kepemimpinan senior Kepemimpinan sangat memegang peranan penting dalam upaya mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan.13. 15. Pengembangan kualitas pelayanan kesehatan klinis (individu). partisipasi total pada setiap tingkatan. Pengembangan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Pengembangan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan. Mapping sarana dan prasarana. 14. 23. Pengembangan inovasi / manajemen mutu. Komitmen pimpinan untuk menerapkan budaya kerja dan nilai-nilai. 21. 16. pemerataan yang berfokus pada pelanggan. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 120 . maka faktor komunikasi menjadi sangat penting. Senenan. adalah sarana yang tepat untuk mendorong timbulnya inovasi-inovasi manajemen dalam upaya mewujudkan visi dan misi. profesionalisme. Sistem kepemimpinan senior memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan fokus dalam pencapaian visi dan misi. Adapun faktor-faktor kunci keberhasilan dimaksud adalah sebagai berikut: 1. 24. Perwujudan visi dan misi sangat tergantung pada faktor-faktor kunci keberhasilan. Peningkatan kemandirian organisasi. serta rapat evaluasi midsemester dan forumforum lainnya.

kelemahan organisasi serta peluang dan tantangan yang muncul secara eksternal. Profesionalisme juga menyangkut kapabilitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan sesuai dengan kebutuhan perwujudan visi dan misi yang telah ditetapkan. pengalokasian budget dan pengawasannya. sedangkan Puskesmas. juga melalui pengalokasian sumber-sumber daya secara efisien dan efektif. penyusunan kriteria-kriteria. pengembangan kompetensi. suku dinas berperan sebagai auditor/pengawasan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pembinaan wilayah. Profesionalisme Secara kelembagaan. RSUD dan UPT dalam pelaksanaan operasional dan didorong untuk mandiri dengan kebijakan swadana dan pelayanan prima. yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan tujuan dan sasaran yang secara optimal dapat diwujudkan sesuai dengan kemampuan organsasi serta sesuai dengan harapan pihak eksternal. melalui konsistensi pelaksanaan peran dimana Dinas melaksanakan peran regulator dalam area tugas standarisasi. 2. maka sistem rekruitmen.Sistem kepemimpinan senior. Sistem kepemimpinan senior juga memegang peranan penting dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas Kesehatan secara efisien dan efektif. dengan demikian. sistem penilaian kinerja individual. profesionalisme berarti bahwa organisasi didisain sedemikian rupa sehingga secara efisien dan efektif berjalan sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam upaya mewujudkan visi dan misi. Oleh karena itu. disertai dengan perangkat-perangkat penilaian kinerja organisasi yang mengacu kepada tujuan dan sasaran. pengembangan karier. 3. Dalam kaitan ini. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 121 . Ketepatan penjabaran visi dan misi kedalam tujuan strategis serta sasarannya Ketepatan penjabaran visi dan misi ke dalam tujuan strategis serta sasarannya sesuai dengan kemampuan internal organisasi serta harapan eksternal organisasi dalam jangka lima tahun mendatang. penjabaran visi dan misi ke dalam tujuan dan sasaran perlu didukung dengan data-data mengenai kekuatan. sistem kerja. Disamping itu. juga dapat mendorong organisasi yang learning. pengendalian profesionalisme tenaga dan pemberdayaannya serta pengendaliannya.

sistem reward and recognition, dan kesejahteraan, perlu searahkan dengan tujuan profesionalisme. 4. Fokus pada pelanggan dan core business Paradigma pelayanan yang berkembang saat ini mengetengahkan pelanggan sebagai fokus perhatian. Oleh karena itu, organisasi Dinas Kesehatan harus merupakan organisasi yang customers’ driven, dengan memperhatikan core business untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. Perhatian kepada pelanggan, dalam hal ini, masyarakat DKI Jakarta, menunjukkan komitmen kuat untuk memberikan pelayanan terbaik. Komitmen ini menjadi modal bagi keberhasilan upaya perwujudan visi dan misi Dinas Kesehatan oleh seluruh jajarannya. 5. Sistem pembiayaan Keberhasilan perwujudan visi dan misi juga sangat ternatung pada sistem pembiayaan pelayanan kesehatan. Keseimbangan alokasi antara pelayanan kesehatan klinis dasar, rujukan dan kesehatan masyarakat, dimana subsidi diarahkan pada kesehatan masyarakat sedangkan dalam pelayanan klinis diharapkan masyarakat bisa mandiri secara gotong royong. Pembiayaan orang miskin ditanggung bersama masyarakat dan Pemerintah Daerah. Serta didukung oleh sistem asuransi kesehatan sosial maupun asuransi yang dikembangkan oleh pihak swasta. 6. Manajemen sistem informasi Kelengkapan manajemen sistem informasi sangat diperlukan dalam mendukung terwujudnya visi dan misi Dinas Kesehatan. Melalui dukungan ini, seluruh upaya dapat dilaksanakan secara sinergis melalui monitoring dan evaluasi yang terpadu sehingga diperoleh umpan balik bagi penyempurnaan/ perbaikan berbagai upaya yang telah dilakukan. Melalui dukungan ini, kinerja setiap unit di lingkungan Dinas Kesehatan beserta seluruh jajarannya dapat dipantau secara terus menerus, sehingga pelaksanaan berbagai kegiatan dapat pula dilihat efektivitas dan efisiensinya. 7. Global outlook Keberhasilan perwujudan visi dan misi juga tergantung kepada bagaimana organisasi dapat menyerap berbagai perubahan yang terjadi dalam lingkup lokal, regional bahkan global, untuk kemudian menjadikan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 122

berbagai perubahan tersebut sebagai peluang dan tantangan bagi kemajuan organisasi. Tuntutan peningkatan kualitas pelayanan tidak hanya merupakan tuntutan lokal tetapi juga global. Berbagai standarstandar internasional yang berkaitan dengan pelayanan tampaknya juga merupakan bagian yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi organisasi pelayanan kesehatan yang memiliki global outlook. organisasi menyesuaikan dengan keinginan global Kemampuan adalah cara

memenangkan persaingan sehingga eksistensinya dapat dipertahankan. Serangkaian faktor-faktor kunci keberhasilan tersebut di atas jika diramu dalam satu bentuk keseluruhan (totally), maka merupakan komitmen total dari pihak manajemen untuk meningkatkan kualitas, yang dalam bahasa teknis disebut sebagai Total Quality Management.

4.8 ARAH KEBIJAKAN Atas dasar identifikasi strategi di atas, maka dirumuskan kebijakan dan program di bidang pembangunan kesehatan di wilyah DKI Jakarta yang meliputi, sebagai berikut: 1. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, yang meliputi program: (1) pengembangan manajemen mutu pelayanan kesehatan dengan standar internasional, (2) pengembangan sistem penilaian kepuasan pelanggan dan sistem pengaduan keluhan pelayan kesehatan; (3) pengembangan produk-produk pelayanan kesehatan; 2. Peningkatan kualitas upaya kesehatan masyarakat untuk melindungi masyarakat dari resi dan penyakit, yang meliputi program: (1) Surveilans epidemiologi kesehatan masyarakat, (2) P2 Penyakit menular, P2PTM, P2PL dan KJ, dan (4) P2 Gizi. (3)

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

123

3.

Pengembangan sistem informasi dan pemasaran sosial kesehatan, yang meliputi program: (1) pengembangan sistem informasi kesehatan, (2) pengembangan sistem pemasaran sosial kesehatan;

4.

Peningkatan kemandirian masyarakat dalam pembangunan kesehatan dan pengembangan sistem pembiayaan kesehatan kemitraan, yang meliputi program: (1) pemerataan pelayanan kesehatan, (2) pengembangan peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan, (3) pengembangan sistem pembiayaan kesehatan kemitraan;

5.

Peningkatan profesionalisme bidang kesehatan, yang meliputi program: (1) pengembangan SDM kesehatan, (2) pengendalian tenaga kesehatan, (3) pengendalian institusi pendidikan kesehatan, (4) peningkatan pelayanan internal manajemen.

6.

Pengembangan sistem respon gawat darurat dan bencana, yang meliputi program: (1) Pengembangan Masyarakat yang sehat dan Aman (Safe Community) dengan Ujung Tombak Pelayanan Publik Safety Centre (118, 113, 110), (2) Pengembangan Sistem Gawat Darurat dan Bencana, (3) Pengembangan Sistem Gawat Darurat dan Bencana

7.

Pembinaan, pengawasan dan pengendalian, dengan program: (1) pengembangan dan penyerpurnaan produk hukum di bidang kesehatan, (2) pengembangan sistem perijinan pelayanan kesehatan, (3) pengembangan sistem penghargaan dan sanksi Pembangunan kesehatan Perda diarahkan 1 untuk 2008 mencapai tentang sasaran Rencana

sebagaimana tercantum dalam Arah Kebijakan Urusan Kesehatan yang tercantum dalam Nomor Tahun Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi DKI Jakarta tahun 2007 – 2012 yaitu sebagai berikut : 1. 2. Peningkatan Program penerapan kaidah good governance dalam penyelenggaraan urusan Kesehatan; Peningkatan Program sinkronisasi kebijakan pembiayaan, kelembagaan dan regulasi Kesehatan; Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 124

Peningkatan Program pelaksanaan SPM lain urusan Kesehatan. Peningkatan masyarakat. 5. 8. 14.3. 16. 20. Peningkatan Program pengembangan lingkungan sehat. Peningkatan Program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. Peningkatan Program peningkatan gizi masyarakat. Program kesehatan jiwa masyarakat. 9. Peningkatan Program pemberdayaan komunitas Kesehatan. Peningkatan Program peningkatan mutu pelayanan kesehatan. 7. Peningkatan Program peningkatan sarana dan prasarana Kesehatan. 11. Program promosi kesehatan dan pemberdayaan 10. Peningkatan Program pengembangan obat asli Indonesia. Peningkatan Program pencegahan penyakit tidak menular. Peningkatan Program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Peningkatan Program peningkatan kemitraan kesehatan. Peningkatan Program penurunan angka kematian ibu dan bayi. 6. 18. Program pengawasan obat dan makanan. 17. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 125 . 19. 12. 15. Peningkatan Program peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit. 4. Peningkatan Program peningkatan sarana dan prasarana Puskesmas. 13. Peningkatan Program peningkatan kesehatan anak balita.

Pengelolaan kesehatan semakin efisien dan akuntabel. Pengelolaan urusan. Program Urusan Kesehatan. Fungsi regulator Kesehatan ramping dan terpisah dari fungsi operator Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 126 . informasi kesehatan menjadi lebih transparan dan melalui internet.BAB V PROGRAM DAN KEGIATAN RENSTRA DINAS KESEHATAN DKI JAKARTA Berikut ini adalah program urusan kesehatan yang merupakan salah satu urusan wajib menurut Permendagri no 13 tahun 2006.Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta 5 tahun ke depan mengacu pada Program RPJMD DKI Jakarta Tahun 2007-2012. Penegakan hukum dilaksanakan secara sistematik dan terprogram dengan baik. Program kesehatan antisipatif terhadap perkembangan masa depan. Program penerapan kaidah good governance dalam penyelenggaraan urusan Kesehatan Indikator terhadap mudah yang akan dicapai antara lain: SDM yang melaksanakan pelayanan kesehatan menjadi lebih responsif kebutuhan di akses masyarakat. 5. urusan pelayanan. Semua peraturan perundangan daerah tentang Kesehatan sudah dikaji ulang dan disempurnakan guna mendukung penyelenggaraan urusan Kesehatan.1 . yang terdiri dari : 1.

5. Program menular Ditetapkannya komponen-komponen strategis dalam implementasi system pencegahan dan penanggulangan penyakit Indikator yang akan dicapai antara lain: Cakupan imunisasi untuk anak mencapai target nasional. dan Penempatan SDM Kesehatan berdasarkan kompetensi. 2. Fungsi surveillance epidemiologi dan penanggulangan awal untuk setiap penyakit menular berjalan baik. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 127 .serta dilengkapi dengan sistem dan prosedur kerja yang jelas. dan Meningkatnya Kelurahan Universal Child Immunization (UCI). Menurunnya kasus penyakit menular. Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong oleh bidan/tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. dan Informasi tentang Kejadian Luar Biasa dapat dideteksi lebih awal. kelembagaan dan regulasi Kesehatan Indikator yang akan dicapai antara lain: Ditetapkannya peranan APBD dalam pembiayaan penyelenggaraan urusan Kesehatan kelembagaan secara dan keseluruhan. masyarakat mengetahui Rumah Sakit mana dan bagaimana skema pembiayaannya. Program peningkatan kesehatan anak balita Indikator yang akan dicapai antara lain: Berkurangnya angka balita yang menderita gizi buruk. dan Meningkatnya kunjungan ibu hamil minimal 4 kali kunjungan selama masa kehamilan. Program penurunan angka kematian ibu dan bayi Indikator yang akan dicapai antara lain: Menurunnya angka kematian ibu melahirkan. Meningkatnya pemberian ASI eksklusif. Bila terjadi KLB. Kesehatan. Program sinkronisasi kebijakan pembiayaan. 4. 4. makanan pendamping ASI dan vitamin pada balita. Berkurangnya angka kematian bayi. Ditetapkannya yang regulasi bentuk efisien terhadap penyelenggaraan Kesehatan pembiayaannya.

Program pengembangan lingkungan sehat Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat. 7. jajaran Berfungsinya kesehatan kesehatan.6. dan Meningkatnya jumlah rumah/bangunan yang bebas jentik nyamuk aedes agepty. Program masyarakat promosi kesehatan dan pemberdayaan Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat. Menurunnya angka penyakit diare. 10. dan Meningkatnya jumlah Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang sehat dan aman. 11. 9. dan kanker payudara. tenaga kesehatan dan pengawasan obat Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 128 . 8. Meningkatnya industri dan tempat-tempat umum yang sehat. kanker cervix. Program peningkatan mutu pelayanan kesehatan Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya jumlah fasilitas kesehatan yang mendapat sertifikasi dan pengakuan akreditasi. Program pengembangan obat asli Indonesia Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya kualitas pelayanan tradisional. Program pencegahan penyakit tidak menular Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya prosentase screening resiko cardio vascular. Promosi kesehatan jejaring terselenggara informasi di setiap di jenjang. Program pengawasan obat dan makanan Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya pengawasan obat dan makanan yang beredar bebas. dan Pemberdayaan kesehatan di tingkat RW dalam bentuk RW siaga.

17. 15. 13. 18. Meningkatnya Jumlah Community Base Unit (CBU). 16. Program kesehatan jiwa masyarakat Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum. 14. dan Ditetapkannya kriteria dalam memilih dan menentukan mitra maupun program pelayanan kesehatan dengan swasta. Program peningkatan gizi masyarakat Indikator yang akan dicapai antara lain: Terwujudnya masyarakat yang memiliki gizi seimbang. Program peningkatan sarana dan prasarana Kesehatan Indikator yang akan dicapai adalah terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana Kesehatan. Menurunnya angka urban mental health. dan Terpeliharanya sarana dan prasarana Puskesmas dan jaringannya. dan Berkurangnya anak dengan gizi kurang/buruk. dan Meningkatnya cakupan deteksi gangguan jiwa oleh masyarakat. Program peningkatan kemitraan kesehatan Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya kemitraan antara pemerintah dengan pihak swasta dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Program peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit Indikator yang akan dicapai adalah bertambahnya jumlah Rumah Sakit Daerah.12. Program peningkatan sarana dan prasarana Puskesmas Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya jumlah Puskesmas Kecamatan dengan fasilitas rawat inap. Meningkatnya jumlah Puskesmas yang mendapat sertifikat ISO. Program (JPKM) Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya akses pelayanan kesehatan bagi penduduk termasuk penduduk miskin. Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 129 .

Perangkat Program Umum. dan Berfungsinya asosiasi usaha Kesehatan sebagai mitra penyusunan dan implementasi kebijakan Kesehatan. penanggulangan KLB dan Wabah se Jabotabekjur. Urusan Pemerintahan Daerah. kepegawaian dan persandian) yaitu : 1. Program Menggalang seluruh sumber daya kesehatan dalam keadaan bencana. Program Lintas Urusan : Dengan tidak terakomodirnya salah satu core busines urusan kesehatan mengambil yaitu 3 Kegawatdaruratan Lintas Adm. Program Kerja Sama Pengembangan Jaringan Pelayanan Kesehatan Regional. Terbentuknya Badan Usaha Milik Bersama Yang Membangun dan Mengoperasionalkan Sistem Jaminan Kesehatan Terselenggarannya Regional Upaya bersama pencegahan kerjasama penceghan dan dan penanggulangan KLB DBD dan Penyakit menular lain.2 . 2. 5.Keuangan dan bencana (Otonomi Daerah. Program pelaksanaan SPM lain urusan Kesehatan Indikator yang akan dicapai adalah terpenuhinya SPM lain urusan Kesehatan. 21. maka Daerah. Program Peningkatan peran pusat pengendalian bencana (kesehatan).19. Program Penigkatan kemampuan penanggulangan kesehatan akibat bencana. 3. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 130 . 20. Indikator yang ingin di capai adalah :Terbentuknya jaringan kerjasama RS dan PKM. Program pemberdayaan komunitas Kesehatan Indikator kinerja yang akan dicapai antara lain: Berfungsinya Dewan Kesehatan sebagai mitra penyusunan kebijakan Kesehatan.

target kinerja program. tolok ukur program. kondisi tahun existing Tahuin 2007 beserta target pertahun dan kegiatan yang direncanakan dalam lima tahun kedepan sebagai berikut : PROGRAM DAN KEGIATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007 .2013 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 131 .Untuk lebih jelasnya berikut diuraikan matriks berdasarkan program .

PROGRAM DAN KEGIATAN RENSTRA DINAS KESEHATAN PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2013 N O 1 PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM SDM Kesehatan lebih responsive terhadap kebutuhan masyarakat Pengelolaan urusan.pelayanan. informasi kesehatan menjadi lebih transparan dan mudah diakses melalui internet TARGET KINERJA PROGRAM Pencapaian kinerja aparatur kesehatan KONDISI Thn 2007 78% 2008 79% 2009 80% Target pertahun 2010 83% 2011 85% 2012 88% 2013 90% Program Penerapan Kaidah Good Governance dalam Penyelenggara an urusan Kesehatan Berfungsinya Sistem Informasi Kesehatan di Puskesmas 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Pengelolaan urusan kesehatan semakin efisien dan akuntable Tersedianya informasi Kesehatan berbasis Website Terlaksananya Operasionalisasi SKPD Urusan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 132 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM Kesehatan KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 Program kesehatan antisipatif terhadap masa depan Terlaksananya pengendalian dan evaluasi pelaksanaan kegiatan / program Uji coba efektifitas produk Baru pada daerah uji coba Tercapainya Cost Recovery Rate ( CRR) 60 % di Puskesmas Meningkatnya jumlah tenaga kesehatan yang terlatih 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 80% 12% 81% 34% 82% 46% 83% 57% 84% 69% 85% 80% 86% 96% 20% 30% 35% 40% 45% 50% 55% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 133 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Semua peraturan perundangan daerah tentang kesehatan sudah dikaji ulang disempurnakan guna memndukung penyelenggaraanurus an kesehatan Fungsi regulator Kesehatan ramping dan terpisah dari fungsi operator serta dilengkapi dengan sistem dan prosedur kerja yang jelas Penempatan SDM Kesehatan berdasarkan kompetensi. TARGET KINERJA PROGRAM Tingkat Kepatuhan petugas kesehatan terhadap penerapan kebijakan KONDISI Thn 2007 Belum ada data 2008 Belum ada data 2009 50% Target pertahun 2010 60% 2011 65% 2012 70% 2013 70% Ditetapkannya SISKESDA Prov DKI Jakarta 0% 0% 100% Terlaksananya Public Health Nurse di Kelurahan Terwujudnya penempatan SDM Kesehatan berdasarkan 0% 0% 0% 0% 25% 400% 50% 20% 25% 30% 32% 35% 38% 40% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 134 .

Kelembagaan dan Regulasi Kesehatan Ditetapkannya peranan APBD dalam pembiayaan Penyelenggaraan Urusan Kesehatan secara Keseluruhan Terlaksananya penyusunan perencanaan anggaran urusan kesehatan SKPD Jajararan Kesehatan dicover pada penyusunan dokumen pembiayaan kesehatan Terlaksananya Pengusulan Kelembagaan RSD ( LTD) 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Ditetapkannya Bentuk Kelembagaan Penyelenggara Kesehatan yang efisien Pembiayaannya 1 RSD 2 RSD 2 RSD 1 RSD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 135 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM kompetensi KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 2 Program Sinkronisasi Kebijakan Pembniayaan.

4% 100% 100% 100% 100% 100% 100% >85% >85% >85% >85% >85% >85% 75% 80% 85% 90% 95% 95% 95% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 136 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Ditetapkannya regulasi terhadap komponen-komponen strategis dalam implementasi sistem Kesehatan TARGET KINERJA PROGRAM Tersusunnya regulasi terhadap komponenkomponen strategis dalam implementasi Sistem Kesehatan Cakupan UCI (Universal Child Immunization ) Kelurahan KONDISI Thn 2007 2008 7 Dokumen 5 Doku men 2009 5 Doku men Target pertahun 2010 5 Doku men 2011 5 Doku men 2012 5 Doku men 2013 5 Doku men 3 Program Pencegahan dan Penanggulanga n Penyakit Menular Cakupan Immunisasi untuk anak mencapai target nasional 75% 95% 98% 100% 100% 100% 100% Menurunnya kasus penyakit menular Kelurahan mengalami KLB ditangani <24 jam angka keberhasilan pengobatan penderita TB BTA positif ( Success Rate ) Penemuan kasus TB (CDR) 100% 87.

000 0.000 <1 % 250/ 100.N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM Penemuan Kasus kusta anak Cakupan balita dengan Pneumonia yang ditangani Infeksi menular seksual yang diobati Terlaksananya pelayanan IMS untuk penanggulangan HIV/AIDS di Puskesmas Terlaksananya pelayanan ARV di RSD Prov DKI Jakarta Incident Rate ( IR) KONDISI Thn 2007 10% 7.27% 3 00/10 0.0 00 <1 % 150/ 100.0 00 <1 % 200/ 100.0 00 <1% Case Fatality Rate (CFR ) Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 137 .84% 2008 9% 20% 2009 8% 35% Target pertahun 2010 7% 65% 2011 6% 75% 2012 <5% 100% 2013 <5% 100% 100% 11% 100% 20% 100% 34% 100% 56% 100% 79% 100% 95% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Penderita DBD yang ditangani 378 / 100.0 00 <1 % 50/ 100.0 00 <1 % 100/ 100.

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM Terlaksananya review/ penyempurnaan sistem PSN Pencegahan dan pemberantasan Penyakit Malaria yang diobati Pencegahan dan pemberantasan penyakit filariasis yang ditangani Re-new emerging disease (Kasus yang ditemukan ditindak lanjuti) Respontime investigasi dan tindakan penanggulangan awal dengan KLB < 24 jam sejak informasi diterima KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 100% 2011 2012 2013 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Fungsi Surveilans epidemiologi dan penanggulangan awal untuk setiap penyakit menular berjalan baik 83% 84% 85% 86% 87% 88% 89% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 138 .

000 2/100 . 000 Informasi tentang KLB dapat dideteksi lebih awal 100% 80% 100% 90% 100% 90% 100% 95% 100% 95% 100% 100% 100% 100% Tidak ada data Tidak ada data 60% 61% 62% 63% 64% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 139 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam setelah mendapat informasi Penemuan Kasus Acute Flacid Paralysis (AFP) Rate ≥ 2 pada 100.000 2/100 .000 anak usia < 15 tahun Penanganganan Re new dan neglated disease Ketepatan dan kelengkapan Laporan Surveilance Konfirmasi penderita DBD di RS berdasarkan pemeriksanaan KONDISI Thn 2007 100% 2008 100% 2009 100% Target pertahun 2010 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 2\100.000 2/100 .000 2/100 .000 2/100 .000 2/100.

5 % 88% 90% 96% 85% 94% 89% 93% 96% 90% 95% 90% 95% 96% 95% 96% 90% 97% Berkurangnya angka kematian bayi Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 140 .27 % 85% 87% 90% 93% 95% 97% 90.N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM serology pada penderita KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 4 Program Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Menurunnya angka kematian ibu melahirkan Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan / tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan kunjungan Ibu Hamil (K4) Cakupan Ibu Hamil dengan komplikasi yang ditangani Cakupan Ibu Nifas Cakupan Peserta KB Aktif Cakupan kunjungan bayi 84.5 % 86% 85% 94% 75% 93% 87% 88% 95% 80% 93.85 % 60% 92% 85% 83% 92% 70% 92.

makanan pendamping ASI dan vitamin pada balita Cakupan neonatal Tidak Ada dengan komplikasi Data yang ditangani Menurunnya jumlah 28 kematian ibu melahirkan 6 Program Pengembangan Lingkungan Sehat Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang Pola Hidup Bersih dan sehat Cakupan pemberian 90% Makanan Pendamping ASI pada anak 6 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM KONDISI Thn 2007 2008 75% 25 2009 80% 22 Target pertahun 2010 80% 20 2011 80% 18 2012 80% 16 2013 80% 14 5 Program Peningkatan Kesehatan Anak Balita Meningkatnya akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu. bayi baru lahir dan Anak ( KIBBLA) Meningkatnya pemberian ASI Eksklusif.24 bulan keluraga miskin Cakupan pemberian 95% Vit A pada Balita Cakupan pelayanan Tidak ada untuk anak balita data Pembinaan 57% Kesehatan Lingkungan Institusi 95% 98% 100% 100% 100% 100% 96% 70% 60% 98% 80% 65% 100% 90% 70% 100% 90% 70% 100% 90% 70% 100% 90% 70% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 141 .

36 % 40% 50% 60% 65% 67% 70% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 142 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Meningkatnya jumlah rumah/bangunan yang bebas jentik nyamuk aedes agepty Meningkatnya industri dan Tempattempat Umum yang Sehat TARGET KINERJA PROGRAM Angka bebas Jentik KONDISI Thn 2007 85% 2008 >95 % 2009 >95 % Target pertahun 2010 >95 % 2011 >95 % 2012 >95 % 2013 >95 % Cakupan tempattempat umum sehat Cakupan Rumah Tangga Sehat cakupan pelayanan kesehatan kerja pada pekerja sektor formal Penemuan penderita diare di Puskesmas yang ditangani Peningkatan PHBS 54% 60% 70% 80% 80% 80% 80% 48% 55% 50% 60% 60% 70% 65% 80% 65% 80% 65% 80% 65% 80% Menurunnya angka penyakit Diare 7 Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarkat Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola Hidup Bersih dan Sehat 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 9.

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 Promosi Kesehatan terselenggara disetiap jenjang Berfungsinya jejaring informasi kesehatan di jajaran kesehatan Pemberdayaan Kesehatan ditingkat RW dalam bentuk RW siaga Terlaksananya Promosi Kesehatan terselenggara disetiap jenjang Berfungsinya jejaring informasi kesehatan di jajaran kesehatan Cakupan RW Siaga aktif Meningkatnya usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat ( Posyandu Purnama dan Mandiri) Penjaringan Kesehatan Siswa 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 32% 33% 35% 40% 45% 50% 55% 65% 75% 80% 85% 90% 95% 100% 50% 55% 60% 65% 70% 75% 80% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 143 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM SD dan setingkat KONDISI Thn 2007 2008 2009 100% Target pertahun 2010 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 8 Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular Meningkatnya prosentase screening resiko kardio vasculer. kanker servix dan kanker payudara Terkendalinya Faktor Resiko PTM 100% 100% 9 Program Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Meningkatnya jumlah fasilitas kesehatan yang mendapat sertifikasi dan pengakuan akreditasi Teridentifikasinya faktor resiko penyakit cardio vasculer Terlaksananya Deteksi dini Kanker Cerviks dan Payudara di Puskesmas Tersertifikasi SKPD Fungsi kesehatan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 25% 30% 50% 55% 60% 70% 70% 73% 75% 80% 90% 100% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 144 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Meningkatnya Kualitas pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit TARGET KINERJA PROGRAM Terlaksananya review system pengendalian mutu dan safety terhadap pasien yang dirawat di 127 RS Meningkatnya pemakaian Tempat Tidur ( BOR) di RSUD Prop DKI Jakarta Jumlah Sarana Farmakmin yang Terdaftar Sesuai dengan Peraturan Prosentase Obat Generik Yang digunakan di Puskesmas Cakupan TPM yang sehat dan aman KONDISI Thn 2007 0% 2008 0% 2009 20% Target pertahun 2010 40% 2011 60% 2012 80% 2013 100% 65.6 % 68% 70% 72% 74% 76% 78% 10 Program Pengawasan Obat dan Makanan Meningkatnya pengawasan obat dan makanan yang beredar bebas 60% 70% 80% 90% 100% 100% 100% 95% 95% 96% 96% 97% 97% 98% Meningkatnya jumlah tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang sehat 48% 50% 55% 60% 65% 70% 75% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 145 .

Bertambahnya Rumah Sakit Daerah Terlaksananya Binwasdal sarana Pengobatan Tradisional Tersedianya Puskesmas Kecamatan dengan rawat inap Sarana prasarana puskesmas dan jaringannya yang dipelihara Terlaksananya penambahan RSD 40% 45% 50% 55% 60% 65% 70% 0 5% (2) 5% 7% (3) 7% 12% (5) 12% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 13 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit 14 Program 0% 0% 0% 2% 60% 100% Meningkatnya akses Cakupan Pelayanan 100% 146 100% 100% 100% 100% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM dan aman TARGET KINERJA PROGRAM KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 11 Program Pengembangan Obat asli Indonesia 12 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Puskesmas Meningkatnya kualitas pelayanan tenaga kesehatan dan pengawasan obat tradisional Meningkatnya jumlah Puskesmas Kecamatan dengan Rawat Inap Terpeliharanya sarana dan prasaranaPuskesmas dan Jaringannya.

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya bagi penduduk miskin dan kurang mampu TARGET KINERJA PROGRAM Kesehatan Dasar keluarga miskin KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Terjaminnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat melalui JAMKESDA Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Gakin 15 Program Peningkatan Kemitraan Kesehatan Meningkatnya kemitraan antara pemerintah dengan pihak swasta dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat Terlaksananya jejaring kemitraan Kesehatan 15% 25% 30% 35% 40% 45% 50% Belum ada data 70% 75% 80% 85% 90% 90% Terlaksana nya jejaring kemitraan Kesehatan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 147 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Ditetapkannya kriteria dalam memilih dan menentukan mitra maupun program pelayanan kesehatan TARGET KINERJA PROGRAM Ditetapkannya kriteria dalam memilih dan menentukan mitra maupun program pelayanan KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 100% 2011 2012 2013 dengan swasta 16 Program Terwujudnya Peningkatan masyarakat yang Gizi Masyarakat memiliki Gizi seimbang kesehatan dengan swasta Terlaksananya deteksi dini status gizi Balita melalui pemantauan pertumbuhan Cakupan Balita Gizi buruk mendapat perawatan 72.82 % 75% 78% 80% 82% 85% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 148 .

6% 2009 1.8% 2013 0.7 % 2008 1.8% 17 Program Kesehatan Jiwa Masyarakat Meningkatnya Community Base Unit ( CBU) Meningkatnya pelayanan gangguan jiwa disarana pelayanan kesehatan umum Meningkatnya cakupan deteksi gangguan jiwa oleh masyarakat Jumlah CBU yang terbentuk 0% 0% 12% 24% 36% 48% 60% Cakupan pelayanan gangguan jiwa di sarana Pelayanan kesehatan umum Jumlah wadah/forum dimasyarakat yang melaksanakan upaya kesehatan jiwa 6% 7% 8% 9% 14% 15% 16% 0% 0% 14% 28% 50% 73% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 149 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Berkurangnya anak dengan gizi kurang / buruk TARGET KINERJA PROGRAM Cakupan Balita BGM KONDISI Thn 2007 1.4% Target pertahun 2010 1.2% 2011 1% 2012 0.

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Terpenuhinya Kebutuhan sarana dan Prasarana Kesehatan TARGET KINERJA PROGRAM Terpenuhinya Kebutuhan sarana dan Prasarana SKPD Kesehatan Tersedianya Puskesmas Kelurahan di Kelurahan yang belum mempunyai Puskesmas KONDISI Thn 2007 2008 2009 40% Target pertahun 2010 80% 2011 100% 2012 2013 18 Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Kesehatan O O 2 PKL 5 PKL 5 PKL 5 PKL 7 PKL 19 Program Pemberdayaan Komunitas Kesehatan Berfungsinya Dewan Kesehatan Sebagai mitra penyusunan kebijakan Berfungsinya asosiasi usaha kesehatan sebagai mitra penyusunan dan implementasi kebijakan kesehatan Terbentuknya Dewan Kesehatan Tk Provinsi Berfungsinya asosiasi usaha kesehatan O 0% 0% 100% 100% 100% 100% Belum ada data 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 150 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Terpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM) lain urusan kesehatan TARGET KINERJA PROGRAM Implementasi SPM SKPD Fungsi Kesehatan KONDISI Thn 2007 100% 2008 100% 2009 100% Target pertahun 2010 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 20 Program Pelaksanaan SPM Lain Urusan Kesehatan 21 Program Peningkatan peran serta pengendalian bencana ( kesehatan ) Respon time pelayanan kegawatdaruratan menjadi lebih singkat Cakupan pelayanan gawat darurat level I di sarana kesehatan (RS) di Kab/Kota 52% 70% 80% 90% 95% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 151 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Meningkatnya kemampuan masyarakat sadar bencana dalam penanggulangan kesehatan akibat bencana Terlaksananya penggalangan kesehatan dalam keadaan bencana TARGET KINERJA PROGRAM Meningkatnya tenaga awam terlatih gadar KONDISI Thn 2007 500 Orang 2008 600 Org 2009 900 Org Target pertahun 2010 1200 Org 2011 1500 Org 2012 1750 Org 2013 2000 Org 22 Program Peningkatan kemampuan penanggulanga n kesehatan akibat bencana 23 Program Menggalangn seluruh sumber daya daerah dalam kesdaan bencana Tersedianya penggalangan kesehatan dalam keadaan bencana Koordinasi di setiap jenjang Kesehatan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan Tersedianya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan kegawatdaruratan 10% 10% 15% 20% 25% 30% 35% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 152 .

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 153 .

847.618.80 0 2009 3.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 1 PROGRAM Program Penerapan Kaidah Good Governance dalam Penyelenggaraa n urusan Kesehatan KEGIATAN Upaya Peningkatan Kinerja Aparatur Kwesehatan 2008 3.20 0 4.183.00 0 10.848.14 3 14.006.89 0 APBD 8.108.8 20 2012 4.25 2 APBD Pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan Peningakatan pengelolaan urusan kesehatan yang dapat diakses melalui internet Optimalisasi operasional SKPD Urusan kesehatan 1.653.568.910.50 2 2013 KET 5.70 0 880.95 7 APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 154 .335.80 0 2.301.00 0 2.825.642.680.406.431.30 0 1.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 4.687.70 0 9.13 0 12.100.30 0 11.28 4 APBD +APB N 1.2 00 2.71 3 1.71 8 3.3 80 2.132.332.277.00 0 978.075.8 30 1.

316.196.1 00 2009 900.8 20 322.087.7 00 217.22 6 164.62 0 - 218.00 0 266.90 0 1.8 00 113.48 APBD 2 - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 155 .10 2 354.14 9 - 180.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 988.7 90 2012 1.31 APBD 2 134.00 0 242.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya peningkatan CRR 60 % diPuskesmas Penyusunan Sistem Kesehatan Prov DKI Jakarta Upaya penempatan SDM Kesehatan berdasarkan Kompetensi Pengembangan Produk Kesehatan 2008 809.56 9 2013 KET 1.22 6 APBD +APB N APBD 101.20 0 292.3 03 - 149.5 63 - 198.

00 0 756.00 0 APBD 864.02 9 APBD +APB N 1.20 0 1.25 2 2013 KET 1.8 00 2009 850.279.4 80 740. Kelembagaan dan Regulasi Kesehatan KEGIATAN Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD 2008 802.20 0 832.5 20 915.00 0 600.007.2 00 550.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 2 PROGRAM Program Sinkronisasi Kebijakan Pembniayaan.09 1 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 156 .3 20 2012 1.10 0 1.305.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 981.72 8 814.162.8 10 1.57 2 1.079.407.30 APBD 1 +APB N 896.057.00 0 1.97 7 APBD +APB N Penyusunan Laporan Kinerja & Akuntabilitas Upaya peningkatan informasi tentang pembiayaan kesehatan Upaya penyusunan regulasi kesehatan 619.9 00 961.80 0 673.187.8 00 700.

8 20 721.136.00 0 187.6 00 168.34 1 APBD 273.89 7 1.1 00 2009 179.24 9 2013 KET 262.250.5 90 2012 238.40 2 793.20 0 655.8 00 542.2 70 1.54 2 APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 157 .40 0 205.3 00 854.3 40 226.90 0 216.00 0 939.033.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 3 PROGRAM Program Pencegahan dan Penanggulanga n Penyakit Menular KEGIATAN Peningkatan Imunisasi 2008 161.00 0 596.78 7 APBD 487.67 4 248.70 0 1.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 196.07 4 APBD Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit HIV/AIDS dan IMS Upaya penurunan dan pencegahan penyakit menular lainnya 768.

55 1 458.95 5 416.20 0 2009 1.0 50 378.905.70 0 4.669.7 30 405.50 0 344.30 0 369.58 3 6.03 6 814.703.04 0 APBD +APB N Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 158 .75 1 274.290.30 0 5.00 0 5.5 00 281.7 00 305.00 0 313.7 60 740.80 0 2.4 00 565.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2.26 3 APBD 500.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Peningkatan Surveilans Epidemiologi Antispasi dan penanggulanga n KLB Penyakit dan Bencana Flu Burung 4 Program Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Upaya penurunan angka kematian ibu melahirkan Upaya penurunan angka kematian bayi 2008 1.5 30 6.188.22 8 2013 KET 2.60 3 446.00 0 335.000 611.519.60 0 672.082.771.893.706.277.4 80 2012 2.595.54 1 APBD 7.

50 0 369.00 0 335. bayi baru lahir dan anak (KIBBLA) 5 Program Peningkatan Kesehatan Anak Balita Upaya peningkatan pemberian ASI eklusif.0 50 405.61 3 2013 KET 22.52 3 926.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya peningkatan akses dan cakupan kesehatan ibu.7 00 2009 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 25.55 1 APBD +APB N Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 159 .5 00 255.77 5 APBD +APB N 274.9 30 842. makanan pendapmping ASI Dan Vitamin pada Balita Upaya penurunan Balita dengan Gizi kurang / buruk 569.95 5 446.8 30 2012 30.7 00 600.30 0 765.67 4 APBD 696.00 0 2008 20.000 33.30 0 27.

00 0 - 605.5 00 2012 1.15 2 1.50 0 - 732.537.8 00 800.397.0 00 - 500.00 0 871.56 7 APBD +APB N 450.270.20 0 958.0 00 2009 1.050. tempat tempat umum dan tempat pengelolaan makanan yang sehat Upaya penurunan penyakit diare APBD 712.159.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN 2008 945.00 0 1.0 00 - 665.30 5 KET 6 Program Pengembangan Lingkungan Sehat Upaya peningkatan jumlah rumah / bangunan yang bebas jentik nyamuk Aidesaigepty Upaya peningakatan industri .155.55 0 2013 1.00 0 550.054.3 20 1.05 0 - APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 160 .00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 1.

000 2.6 60 2012 2.839.210.0 00 1.100.751.849.2 00 118.80 0 142.13 9 KET 7 Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarkat APBD 2.05 8 172.123.112.7 80 157.24 3 APBD +APB N 106.140.581.436.85 7 3.70 0 2.590.10 0 APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 161 .00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2.0 00 1.12 6 2013 2.300.000.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang PHBS Upaya pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan (RW siaga) Upaya peningkatan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Upaya pengenmbanga n informasi kesehatan melalui media 2008 1.60 0 2.464.354.40 0 2009 1.00 0 1.30 0 2.00 0 1.331.946.76 4 APBD 900.00 0 1.00 0 129.8 70 3.

56 2 KET 8 Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular APBD 60.94 6 APBD - - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 162 .42 0 2013 1.833.017.00 0 2008 738.09 5 APBD 1.90 0 119.500.0 70 89.30 0 1.7 90 131.2 00 2012 1.440.76 9 144.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 902.200.17 7 98.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya Pengendalian Paktor Resiko PTM Upaya Pengendalian Deteksi Dini Kanker Servic dan Payudara 9 Program Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Pemeliharaan sistem manajemen mutu di SKPD Kesehatan Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di RS 1.3 00 67.70 0 2.00 0 992.0 70 2.00 0 73.77 7 2.0 00 2009 820.65 5 APBD 89.1 00 99.00 0 108.667.091.70 0 81.218.

08 3 2013 KET 575.00 0 413.7 00 2009 390.50 2 APBD +APB N - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 163 .4 00 358.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 10 PROGRAM Program Pengawasan Obat dan Makanan KEGIATAN Peningkatan pengawasan obat dan makanan yang beredar bebas 2008 353.39 1 APBD +APB N 11 Program Pengembangan Obat asli Indonesia Peningkatan kualitas pelayanan tenaga kesehatan dan pengawasan obat tradisional 12 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Puskesmas Peningkatan jumlah puskesmas Kec dengan Rawat Inap 338.60 0 454.9 60 500.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 432.5 30 2012 523.30 0 475.45 6 550.

INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Pemelihraan sarana dan prasarana dan jaringannya 13 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit 2008 2009 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2012 2013 KET - - - - - - Meningkatnya jumlah RS daerah Upaya Peningkatan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat khususnya bagi penduduk miskin dan kurang mampu 280.000.000.00 0 50.00 0 550.000.000.00 0 500.000.00 0 - 200.00 0 APBD 14 Program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat 500.00 0 500.000.00 0 25.00 0 APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 164 .000.00 0 50.000.000.00 0 500.

2 40 1.00 0 435.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 624.40 0 1.244.07 6 APBD - - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 165 .60 0 1.76 4 1.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya pelayanan kesehatan masyarakat melalui Jamkesda Peningkatan manajemen pelayanan kesehatan 15 Program Peningkatan Kemitraan Kesehatan Peningkatan kemitraan antara pemerintah dan pihak swasta dalam pelayanan bagi masyarakat 2008 511.6 00 479.34 0 APBD 324.00 0 1.2 80 2012 756.821.505.60 9 APBD 1.0 00 360.119.368.00 0 396.80 0 687.655.2 00 2009 568.16 0 527.00 8 2013 KET 831.

01 5 Peningkatan CBU Peningkatan pelayanan gangguan jiwa disarana pelayanan kesehatan umum 223.45 0 313.5 00 549.50 0 683.00 0 272.6 50 752.00 0 621.5 50 2009 163.39 5 2013 KET 379.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 16 PROGRAM Program Peningkatan Gizi Masyarakat KEGIATAN Upaya peningkatan masyarakat yang memiliki gizi seimbang Upaya penurunan balita dengan gizi buruk 17 Program Kesehatan Jiwa Masyarakat 2008 233.08 8 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 166 .80 0 300.21 7 APBD +APB N 363.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 285.2 00 248.9 95 2012 345.09 7 APBD 508.93 4 APBD +APB N 827.0 80 330.

50 0 100.325.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya peningkatan cakupan deteksi gangguan jiwa oleh masyarakat 18 Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Kesehatan 2008 2009 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2012 2013 KET - - - - - APBD Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasrana kesehatan Berfungsinya dewan kesehatan sebagai mitra penyusunan kebihjakan 68.00 0 83.57 5 APBD - - - - 19 Program Pemberdayaan Komunitas Kesehatan - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 167 .00 0 75.905.25 0 110.00 0 91.823.175.750.657.

24 7 54.7 70 49.00 0 40.3 00 37.70 0 44.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Berfungsinya asosiasi mitra kesehatan sebagai mitra penyusunan dan implementasi kebijakan kesehatan 20 Program Pelaksanaan SPM Lain Urusan Kesehatan 2008 2009 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2012 2013 KET - - - - - Penyelenggaraa n Dukungan Pelaksanaan SPM 33.17 2 APBD - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 168 .

580.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 114.103.912.738.293.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 21 PROGRAM Program Kerjasama Pengembangan Jaringan Kesehatan Regional ( Keweilayahan ) KEGIATAN Peningkatan kerjasama pencegahan dan penanggulanga n KLB dan wabah seJabodetakebe kjur 2008 93.64 7 2.91 2 APBD - - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 169 .40 0 125.8 40 2012 138.437.30 0 1.42 4 2013 KET 152.6 00 2009 104.70 0 1.7 70 1.00 0 1.26 6 APBD 22 Peningkatan peran serta pengendalian bencana ( kesehatan ) Peningkatan Respontime pelayanan kegawatdarurat an 1.

313.588.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 275.922.747.404.30 0 1.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 23 PROGRAM Peningkatan kemampuan penanggulanga n kesehatan akibat bencana KEGIATAN Peningkatan kemampuan masyarakat sadar bencana dalam penanggulanga n kesehatan akibat bencana 24 Menggalangn seluruh sumber daya daerah dalam kesdaan bencana Peningkatan upaya penggalangan kesehatan dalam keadaan bencana 1.50 4 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 170 .5 00 2012 332.181.00 0 302.60 3 1.49 9 701.0 00 2009 250.00 0 2008 225.70 0 1.444.716.545.22 6 637.00 3 758.119.54 8 716.7 30 1.848.65 3 624.262.36 3 APBD 392.75 0 2013 KET 366.02 5 APBD 1.

penurunan angka penyakit tidak menular. serta pengawasan dan pertanggungjawaban. penanggulangan penyakit menular. promosi dan sosialisai program kesehatan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 171 . Penyelenggara Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memerlukan komitmen yang sangat tinggi dan dukungan serta kerjasama yang baik antara pelakunya yang ditunjang oleh tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik. Penyelengaraan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dilakukan melalui siklus perencanaan. peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak dalam rangka penurunan angka kematian ibu dan anak. peningkatan pelayanan kesehatan gawat darurat dan bencana. penanggulangan masalah gizi buruk pada kelompok balita dan ibu hamil. Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta ini merupakan acuan utama dalam Penyusunan Rencana Kerja (Renja SKPD) dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA-SKPD) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mulai tahun 2008 sampai dengan 2013. 3. peningkatan sistem informasi.BAB VI PENYELENGGARAAN DAN PENILAIAN 6. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengutamakan terwujudnya pelayanan kesehatan yang adil.1 PENYELENGGARAAN RENSTRA DINAS KESEHATAN 1. Penyelenggara Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta ini adalah semua unit utama/struktural Dinas kesehatan. Prioritas tinggi akan diberikan pada penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. termasuk unit pelaksana teknisnya. 4. pelaksanaan dan pengendalian. dan terjangkau dengan pendekatan utamanya pada upaya promotif dan preventif yang dilaksanakan secara serasi dan seimbang dengan upaya kuratif dan rehabilitatif. merata. 2. 5.

Penilaian dilakukan juga terhadap hasil pelaksanaan berbagai kegiatan masing-masing program pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. yang hanya dapat dicapai dengan kontribusi para pelaku pembangunan kesehatan lainnya. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 172 . 2. singkronisasi.2 PENILAIAN 1. Penilaian akhir Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta 2007-2013. Penilaian Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta bertujuan untuk menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. 6. 3. yang dipadukan dengan pengembangan sistem informasi kesehatan. Agar penilaian Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta ini dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. 6. maka perlu dikembangkan sistem pelaporan pelaksanaannya..serta pendayagunaan tenaga kesehatan secara berhasilguna dan berdayaguna. dilakukan pada tahun 2013 dengan menilai pencapaian indikator keberhasilan renstra ini. Oleh karenanya rencana strategis ini perlu disosialisasikan. dan sinergisme. dan pelaksanaan Rencana Strategis Satuan Kerja Pemerintah Kota administratif / Kabupaten. yang berupa sasaran Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Dalam Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta termuat pula sasaran-sasaran pembangunan kesehatan. melalui penyusunan. agar dapat mewujudkan keserasian.

Penilaian hasil pelaksanaan tahunan dari Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta ini dilakukan dalam bentuk penyusunan laporan kinerja tahunan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta . Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 173 .4.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas selesainya renstra Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ini. 2012 dan Standart Pelayanan Minimal bidang Kesehatan. Maksud dari penyusunan Renstra ini adalah menjadi acuan dalam perencanaan. pelaksanaan dan penilaian upaya Dinas Kesehatan dalam kurun waktu lima tahun ( 2007 – 2012 ) yang setiap tahunnya diterjemahkan dalam Rencana Kerja SKPD Dinas Kesehatan . oleh karenanya perlu adanya sosialisasi di lingkungan Dinas Kesehatan dan jajarannya. semoga hal ini dapat memicu semangat dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan bersama Acuan pembuatan Renstra ini adalah RPJMD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2007 – Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 174 .Renstra disusun sedemikian rupa sehingga pencapaiannya dapat diukur dan dipergunakan dalam penyusunan laporan kinerja tahunan dan lima tahunan Dinas Kesehatan Proses penyusunan Renstra ini pun melibatkan partisipasi karyawan Dinas Kesehatan.BAB VII PENUTUP Penyusunan Renstra Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2007 – 2012 ini merupakan penyesuaian dari Renstra Dinas Kesehatan sebelumnya yang mengacu kepada program Indikatif tahun 2008.

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 175 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->