Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 DEFINISI Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel. Dengan anestesi umum akan diperoleh trias anestesia, yaitu: Hipnotik (tidur) Analgesia (bebas dari nyeri) Relaksasi otot (mengurangi ketegangan tonus otot) Hanya eter yang memiliki trias anestesia. Karena anestesi modern saat ini menggunakan obat-obat selain eter, maka anestesi diperoleh dengan menggabungkan berbagai macam obat. 1.2 METODE ANESTESI UMUM I. Parenteral Anestesia umum yang diberikan secara parenteral baik intravena maupun intramuskular biasanya digunakan untuk tindakan yang singkat atau untuk induksi anestesia. II. Perektal Metode ini sering digunakan pada anak, terutama untuk induksi anestesia maupun tindakan singkat. III. Perinhalasi Yaitu menggunakan gas atau cairan anestetika yang mudah menguap (volatile agent) dan diberikan dengan O2. Konsentrasi zat anestetika tersebut tergantunug dari tekanan parsialnya; zat anestetika disebut kuat apabila dengan tekanan parsial yang rendah sudah mampu memberikan anestesia yang adekuat. 1.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANESTESI UMUM A. Faktor Respirasi Hal-hal yang mempengaruhi tekanan parsial zat anestetika dalam alveolus adalah: 1. Konsentrasi zat anestetika yang diinhalasi; semakin tinggi konsentrasi, semakin cepat kenaikan tekanan parsial 2. Ventilasi alveolus; semakin tinggi ventilasi, semakin cepat kenaikan tekanan parsial B. Faktor Sirkulasi Saat induksi, konsentrasi zat anestetika dalam darah arterial lebih besar daripada darah vena. Faktor yang mempengaruhinya adalah: Perubahan tekanan parsial zat anestetika yang jenuh dalam alveolus dan darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestetika diserap jaringan dan sebagian kembali melalui vena. Koefisien partisi darah/gas yaitu rasio konsentrasi zat anestetika dalam darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan seimbang. Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung. C. Faktor Jaringan Perbedaan tekanan parsial obat anestetika antara darah arteri dan jaringan Koefisien partisi jaringan/darah Aliran darah dalam masing-masing 4 kelompok jaringan (jaringan kaya pembuluh darah/JKPD, kelompok intermediate, lemak, dan jaringan sedikit pembuluh darah/JSPD)

D. Faktor Zat Anestetika Potensi dari berbagai macam obat anestetika ditentukan oleh MAC (Minimal Alveolus Concentration), yaitu konsentrasi terendah zat anestetika dalam udara alveolus yang mampu mencegah terjadinya tanggapan (respon) terhadap rangsang rasa sakit. Semakin rendah nilai MAC, semakin poten zat anestetika tersebut. E. Faktor Lain Ventilasi, semakin besar ventilasi, semakin cepat pendalaman anestesi Curah jantung, semakin tinggi curah jantung, semakin lambat induksi dan pendalaman anestesia Suhu, semakin turun suhu, semakin larut zat anestesia sehingga pendalaman anestesia semakin cepat. 1.4 STADIUM ANESTESI UMUM 1. stadium I , disebut sebagai stadium analgesia. 2. Stadium II, disebut stadium eksitasi. 3. stadium III , disebut stadium pembedahan, dibagi menjadi : a. plana 1 (P1) b. plana 2 (P2) c. plana 3 (P3) d. plana 4 (P4) 4. Stadium IV, disebut stadium paralisis (kelebihan obat ). Pada stadium I, pupil melebar karena pengaruh emosi dan rangsangan psikosensorik (reflfleks) selanjutnya pada stadium II plana 1, pupil kembali normal, kemudian terus membesar sampai maksimal pada plana 4. Perubahan ini terjadi karena pelepasan adrenalin pada anesthesia dengan eter dan siklopropan, tetapi tidak terjadi pada halotan atau barbiturate intravena.. 1.5 langkah-langkah baku anesthesia dan reanimasi. Langkah-langkah baku yang selalu dilakukan apabila hendak memberikan pelayanan anesthesia-anelgesia pada pasien yang akan dilakukan pembedahan atau prosedur diagnostic lain adalah : 1. evaluasi pra anesthesia dan reanimasi. 2. Persiapan pra anestesi dan reanimasi. 3. Anestesi dan reanimasi. a. Induksi. b. Pemeliharaan. c. Pemulihan. 4. Pasca anesthesia.

PREMEDIKASI Premedikasi adalah tindakan awal anesthesia dengan memberikan obat-obat pendahuluan yang terdiri dari obat-obat golongan : antikholinergik, sedative/trankuilizer dan analgetik. Tujuan premedikasi. 1. menimbulkan rasa nyaman bagi pasien, ynag meliputi : bebas dari rasa takut, tegang, dan khawatir : bebas nyeri dan mencegah mual-muntah. 2. Mengurangi sekresi kelenjar dan menekan reflex vagus 3. Memudahkan atau memperlancar induksi. 4. Mengurangi dosis obat anesthesia. 5. Mengurangi rasa sakit dan kegelisahaan pasca bedah. Obat-obat yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah : 1. obat antikholinergik 2. obat sedative 3. obat analgetik narkotik. 1. obat antikholinergik Obat golongan antikholinergik adalah obat-obatan yang berkhasiat menekan/menghambat aktivitas kholinergik atau parasimpatis. Tujuan utama pemberian obat golongan antikholinergik untuk premedikasi adalah a. mengurangi sekresi kelenjar : saliva, saluran cerna dan saluran nafas. b. Mencegah spasm earing dan bronkus. c. Mencegah bradikardi d. Mengurangi motilitas usus e. Melawan efek depresi narkotik terhadap pusat nafas. Obat golongan antikholinergik yang digunakan dalam praktik anesthesia adalah preparat ALKALOID BELLADONA, yang turunannya adalah : 1. Sulfas Atropine 2. Skopolamin Mekanisme kerja Menghambat mekanisme kerja asetil kolin pada organ yang di inervasi oleh serabut saraf otonom parasimpatis atau serabut saraf yang mempunyai neurotransmitter asetil kholin. Alkaloid belladonna menghambat muskharinik secara kompetitif yang ditimbulkan oleh asetil kholin pada sel efektor organ terutama pada kelenjar eksokrin, otot polos dan otot jantung. Khasiat sulfas atropine lebih dominan pada otot jantung, usus dan bronkus, sedangkan skopolamin lebih dominan pada iris, korpus siliare dan kelenjar. Efek terhadap susunan saraf pusat. Sulfas atropine tidak menimbulkan depresi susunan saraf pusat sedangkan skopolamin mempunyai efek depresi sehingga menimbulkan rasa ngantuk, euporia, amnesia dan rasa lelah.

Efek terhadap respirasi Menghambat sekresi kelenjar pada hidung, mulut, faring, trakea dan bronkus, menyebabkan mukosa jalan nafas kekeringan, menyebabkan relaksasi otot polos bronkus dan bronkhioli, sehingga diameter lumennya melebar akan menyebabkan volume ruang rugi bertambah. Efek terhadap kardiovaskular Menghambat aktivitas vagus pada jantung, sehingga denyut jantung meningkat, tetapi tidak berpengaruh langsung pada tekanan darah. Pada hipotensi karena reflex vagal, pemberian obat ini akan meningkatkan tekanan darah. Efek terhadap saluran cerna Menghambat sekresi kelenjar liur sehingga mulut terasa kering dan sulit menelan, mengurangi sekresi getah lambung sehingga, keasaman lambung bias dikurangi. Mengurangi tonus otot polos sehingga motilitas usus menurun. Efek terhadap kelenjar keringat. Menghambat sekresi kelenjar keringat sehingga menyebabkan kulit kering dan badan terasa panas akibat pelepasan panas tubuh terhalang melalui proses evaporasi. Cara pemberian dan dosis. 1. intramuscular, dosis 0,01 mg/kg BB, diberikan 30-45 menit sebelum induksi. 2. Intravena dengan dosis 0.005bmg/kg BB diberikan 5-10 sebelum induksi. Indikasi kontra Alkaloid belladonna ini tidak diberikan pada pasin yang menderita : demam, takikardi, glukoma dan tirotoksikasis. Kemasan dan sifat fisik Dikemas dalam bentuk ampul 1 ml mengandung 0,25 dan 0,50 mg, tidak berwarna dan larut dalam air.

Obat Sedative Obat golongan sedatif adalah obat-obat yang berkhasiat anti creams dan menimbulkan rasa kantuk. Tujuan pemberian obat golongan I adalah untuk memberikan suasana nyaman bagi pasien prabedah,be as Dari rasa comas dan takut,sehingga pasien menjadi tidak peduli dengan lingkungannya . Untuk keperluan ini , obat golongan sedatif / tranquilizer yang searing digunakan adalah 1. Derivat fenotiazin 2. Derivat benzodiazepine 3. Derivat butirovenon 4. Derivat barbiturate

5. Antihistamine Derivat fenotiazin Derivat fenotiazin yang banyak digunakan untuk premedikasi adalah prometazin. Obat ini pada mulanya digunakan sebagai anti histamin. Khasiat farmakologi: Terhadap Saraf pusat Menimbulkan depresi Saraf pusat, bekerja pada formasio retikularis dan hypothalamus menekan pusat muntah dan mengatur suhu obat ini berpotensi dengan sedatif lainnya. Terhadap respirasi. Menyebabkan dilatasi Otot polos Saluran nafas dan menghambat sekresi kelenjar. Terhadap kardiovaskular. Menyebabkan vasodilatasi sehingga adapt memperbaiki perfusi jaringan. Terhadap saluran cerna efek lain. Menurunkan peristaltik usus, mencegah spasme dan mengurangi sekresi kelenjar. Efek lainnya adalah menekan dekresi kathekolamin dan Sebastian antikholinergik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa khasiat promethazin sebagai obat premedikasi adalah sebagai : sedative , antiemetic,antikholinergik,antihistamin, bronkodilator dan anti pretika. Cara pemberian dan dosis.: 1. intramuscular dosis 1 mg/kg BB dan diberikan 30-45 menit sebelum induksi. 2. Intravena, dengan dosis 0,5 mg/kg BB diberikan 5-10 menit sebelum induksi. Kemasan dan sifat fisik: Dikemas dalam bentuk ampul 2ml mengandung 50mg. tidak berwarna dan larut dalam air. Derivate benzodiazepine. Derivate benzodiazepine yang banyak digunakan untuk premedikasi adalah diazepam dan midazolam. Derivate yang lain adalah : klordiazepoksid, nitrazepam dan oksazepam. Khasiat farmakologi: Terhadap saraf pusat dan medulla spinalis. Mempunyai khasiat sedasi dan anti cemas yang bekerja pada system limbic dan pada ARAS serta bias menimbulkan amnesia antero grad. Sebagai obat anti kejang yang bekerja pada kornu anterior medulla spinallis dan hubungan saraf otot. Pada dosis kecil bersifat sedative, sedangkan dosis tinggi sebagai hipnotik. Terhadap respirasi.

Pada dosis kecil (0,2 mg/kg BB) yang diberikan secara intravena, menimbulkan depresi ringan yang tidak serius. Bila dikombinasikan dengan narkotik menimbulkan depresi nafas yang lebih berat. Terhadap kardiovaskular. Pada dosis kecil, pengaruhnya kecil sekali pada kontraksi maupun denyut jantung, akan tetapi pada dosis besar menimbulkan hipotensi yang disebabkan oleh efek dilatasi pembuluh darah. Terhadap saraf otot. Menimbulkan penurunan tonus otot rangka yang bekerja di tingkat supra spinal dan spinal, sehingga sering digunakan pada pasien yang menderita kekakuan otot rangka seperti pada tetanus. Penggunaan klinis. Dalam praktik anesthesia obat ini digunakan sebagai: 1. premedikasi, diberikan intramuscular dengan dosis 0,2 mg/kg BB atau peroral dengan dosis 5-10 mg. 2. induksi, diberikan intravena dengan dosis 0,2-0,6 mg/kg BB 3. sedasi pada analgesia regional, diberikan intravena 4. menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin. Penggunaan lainnya, adalah : 1. antikejang pada kasus-kasus epilepsy, tetanus dan eklamsi. 2. Sedasi pasien rawta inap. 3. Sedasi pada tindakan kardioversi atau endoskopi. Pada pemberian intramuscular atau intravena, obayt ini tidak bias dicampur dengan obat lain karena bias terjadi prepitasi. Jalur vena yang dipilih sebaiknya melalui vena-vena besar untuk mencegah flebitis. Pemberian intramuscular kurang disenangi oleh karena menimbulkan rasa nyeri pada daerah suntikan. Kemasan. Kemasan injeksi berbentuk larutan emulsi dalam ampul 2ml yang mengandung 10 mg, berwarna kuning, sukar larut dalam air dan bersifat asam. Kemasan oral dalam bentuk tablet 2 dan 5 mg, disamping itu ada kemasan supositoria atau pipa rektal (rectal tube) yang diberikan pada anak-anak. Sedangkan midazolam yang ada dipasaran adalah hanya dalam bentuk larutan tidak berwarna, mudah larut dalam air dan kemasan dalam ampul (3 dan 5 ml) yang mengandung 5 mg/ml. Derivate butirofenon. Derivate ini disebut juga sebagai obat golongan neroleptika, karena sering digunakan sebagai neroleptik. Derivate butovenon yang sering digunakan untuk obat premedikasi adalah dehidrobenzperidol atau popular disebut DHBP. Efek farmakologi : Berkhasiat sebagai sedative dan trankuilizer, selainitu juga sebagai antimuntah. Terhadap respirasi : menimbulkan sumbatan jalan nafas, sehingga indikasi kontra pada pasien asma.

Terhadap sirkulasi : Menimbulkan vasodilatasi, sehingga digunakan sebagai anti syok.

Penggunaan klinik : - premedikasi, diberikan intramuscular, dosis 0,2 mg/kg/BB - sedasi untuk tindakan endoskopi dan analgesia regional. - Anti hipertensi - Anti muntah. - Suplemen anesthesia. Kemasan : Dalam bentuk ampul 2ml dan 10 ml, mengandung 2,5 mg/ml. tidak berwarna dan bias dicampur dengan obat lain. Derivate barbiturate. Obat yang sering digunakan : pentobarbital dan sekobarbital. Digunakan sebagai sedasi dan penenang prabedah, terutama pada anak-anak. Pada dosis lazim menimbulkan depresi ringan pada respirasi dan sirkulasi. Sebagai premadikasi diberikan intramuscular dengan dosis 2mg/kg BB atau peroral. Preparat Antihistamin. Obat yang sering digunakan : derivate devenhindramin. Khasiat yang diharapkan : sedative, anti muntah ringan dan antipiretik, sedangkan efek sampingnya adalah hipotensi yang sifatnya ringan.

Golongan analgetik nerkotik atau opioid. Definisi Opioid adalah semua zat baik sintetik atau natural yang dapat berikatan dengan reseptor morfin. Opioid disebut juga sebagai anlgetika narkotikayang sering dalam anesthesia untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri pasca pembedahan. Malahan kadang-kadang digunakan untuk anesthesia narkotik total pada pembedahan jantung. 2 Jenis Analgetik Opioid Berdasarkan struktur kimia, analgetik opioid di bedakan menjadi 3 kelompok : 1. Alkaloid opium (natural) : morfin dan kodein 2. Derivate semisintetik : diasetilmorfin (heroin), hidromorfin, oksimorfon, hidrokodon, dan oksikodon. 3. Derifat sintetik Fenilpiperidine : petidin, fentanil, dan alfentanil. Benzmorfans: pentazosin, fenazosin dan siklasozin. Morfinans : lavorvanol Propionanilides : metadon Tramadol Reseptor Reseptor Opioid Sebagai analgetik, opioid bekerja secara sentral pada reseptor reseptor opioid yang diketahui ada 4 reseptor, yaitu : 1. Reseptor Mu

Morfin bekerja secara agonis pada reseptor ini. Stimilasi pada reseptor ini akan menimbulkan analgesia, rasa segar, euphoria dan depresi respirasi. 2. Reseptor Kappa Stimulasi reseptor ini menimbulkan analgesia, sedasi dan anesthesia. Morfin bekerja pada reseptor ini. 3. Reseptor Sigma Stimulasi reseptor ini menimbulkan perasaan disforia, halusinasi, pupil medriasis, dan stimulasi respirasi. 4. Reseptor Delta Pada manusia peran reseptor ini belum diketahui dengan jelas. Diduga memperkuat reseptor Mu. Efek Farmakologi Golongan opioid yang sering digunakan sebagai obat premedikasi pada anestesi adalah : petidin dan morfin. Sedangkan fentanil digunakan sebagai suplemen anesthesia. Terhadap susunan saraf pusat Sebagai analgetik, obat ini bekerja pada thalamus dan substansia gelatinosa medulla spinalis, di samping itu, narkotik juga mempunyai efek sedasi. Terhadap respirasi Menimbu;lkan depresi pusat nafas terutama pada bayi dan orang tua. Efek ini semakin manifest pada keadaan umum pasien yang buruk sehingga perlu pertimbangan seksama dalam penggunaanya. Namun demikian efek ini dapat dipulihkan dengan nalorpin atau nalokson. Terhadap bronkus, petidin menyebabkan dilatasi bronkus, sedangakan morfin menyebabkan konstriksi akibat pengaruh pelepasan histamine. Terhadap sirkulasi Tidak menimbulkan depresi system sirkulasi, sehingga cukup aman diberikan pada semua pasien kecuali bayi dan orang tua. Pada kehamilan, opiod dapat melewati bairer plasenta sehingga bisa menimbulkan depresi nafas pada bayi baru lahir. Terhadap system lain Merangsang pusat muntah, menimbulkan spasme spinter kandung empedu sehingga menimbulkan kolik abdomen. Morfin merangsang pelepasa histamine sehingga bisa menimbulkan rasa gatal seluruh tubuh atu minimal pada daerah hidung, sedangkan petidin, pelepasan histaminnya bersifat local ditempat suntikan. MORFIN Meskipun morfin dapat dibuat secara sintetik, tetapi secara komersial lebih mudah dan menguntungkan, yang dibuat dari bahan getah papaver somniferum. Morfin paling mudah larut dalam air dibandingkan golongan opioid lain dan kerja analgesinya cukup panjang (long acting).1,2 Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif, yakni tidak begitu mempengaharui unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan dan pendengaran ; bahkan persepsi nyeripun tidak selalu hilang setelah pemberian morfin dosis terapi.2,3

Efek analgesi morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme ; (1) morfin meninggikan ambang rangsang nyeri ; (2) morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul dikorteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari thalamus ; (3) morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.2 Farmakodinamik Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiper aktif reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormone anti diuretika (ADH). Farmakokinetik Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin juga dapat mmenembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaharui janin. Ekresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat.2 Indikasi Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai ; (1) Infark miokard ; (2) Neoplasma ; (3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4) Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan ; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.3 Efek samping Efek samping morfin (dan derivat opioid pada umumnya) meliputi depresi pernafasan, nausea, vomitus, dizzines, mental berkabut, disforia, pruritus, konstipasi kenaikkan tekanan pada traktus bilier, retensi urin, dan hipotensi. Dosis dan sediaan Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengguranggi nyeri sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yamg diperlukan.2 PETIDIN Petidin ( meperidin, demerol) adalah zat sintetik yang formulanya sangat berbeda dengan morfin, tetapi mempunyai efek klinik dan efek samping yang mendekati sama. Secara kimia petidin adalah etil-1metil-fenilpiperidin-4-karboksilat.2 Farmakodinamik Meperidin (petidin) secara farmakologik bekerja sebagai agonis reseptor m (mu). Seperti halnya morfin, meperidin (petidin) menimbulkan efek analgesia, sedasi, euforia, depresi nafas dan efek sentral lainnya. Waktu paruh petidin adalah 5 jam.

Efektivitasnya lebih rendah dibanding morfin, tetapi leih tinggi dari kodein. Durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam. Dibandingkan dengan morfin, meperidin lebih efektif terhadap nyeri neuropatik. 2 Perbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin sebagai berikut : Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air. Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin adalah metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%. Kurang dari 10% petidin bentuk asli ditemukan dalam urin. Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia. Seperti morpin ia menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan. Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan hipiotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa. Morfin tidak. Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin. Farmakokinetik Absorbsi meperidin setelah cara pemberian apapun berlangsung baik. Akan tetapi kecepatan absorbsi mungkin tidak teratur setelah suntikan IM. Kadar puncak dalam plasma biasanya dicapai dalam 45 menit dan kadar yang dicapai antar individu sangat bervariasi. Setelah pemberian meperidin IV, kadarnya dalam plasma menurun secara cepat dalam 1-2 jam pertama, kemudian penurunan berlangsung lebih lambat. Kurang lebih 60% meperidin dalam plasma terikat protein. Metabolisme meperidin terutama dalam hati. Pada manusia meperidin mengalami hidrolisis menjadi asam meperidinat yang kemudian sebagian mengalami konyugasi. Meperidin dalam bentuk utuh sangat sedikit ditemukan dalam urin. Sebanyak 1/3 dari satu dosis meperidin ditemukan dalam urin dalam bentuk derivat N-demitilasi. Meperidin dapat menurunkan aliran darah otak, kecepatan metabolik otak, dan tekanan intra kranial. Berbeda dengan morfin, petidin tidak menunda persalinan, akan tetapi dapat masuk kefetus dan menimbulkan depresi respirasi pada kelahiran. Indikasi Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Pada beberapa keadaan klinis, meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada morfin. Meperidin digunakan juga untuk menimbulkan analgesia obstetrik dan sebagai obat preanestetik, untuk menimbulkan analgesia obstetrik dibandingkan dengan morfin, meperidin kurang karena menyebabkan depresi nafas pada janin.2,3,4 Dosis dan sediaan Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg. Dosis untuk bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.2 Efek samping

Efek samping meperidin dan derivat fenilpiperidin yang ringan berupa pusing, berkeringat, euforia, mulut kering, mual-muntah, perasaan lemah, gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi.1,2,3,4 FENTANIL Fentanil adalah zat sintetik seperti petidin dengan kekuatan 100 x morfin. Fentanil merupakan opioid sintetik dari kelompok fenilpiperedin. Lebih larut dalam lemak dan lebih mudah menembus sawar jaringan.2,3 Farmakodinamik Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten. Sebagai suatu analgesik, fentanil 75-125 kali lebih potendibandingkan dengan morfin. Awitan yang cepat dan lama aksi yang singkat mencerminkan kelarutan lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan morfin. Fentanil (dan opioid lain) meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi. Keadaan itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi menekan hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi. Fentanil dikombinasikan dengan droperidol untuk menimbulkan neureptanalgesia.2 Farmakokinetik Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hampir sama dengan dengan morfin, tetapi fraksi terbesar dirusak paru ketika pertama kali melewatinya. Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan N-dealkilase dan hidrosilasidan, sedangkan sisa metabolismenya dikeluarkan lewat urin.2 Indikasi Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya. Dosis 1-3 /kg BB analgesianya hanya berlangsung 30 menit, karena itu hanya dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. Dosis besar 50-150 mg/kg BB digunakan untuk induksi anastesia dan pemeliharaan anastesia dengan kombinasi bensodioazepam dan inhalasi dosis rendah, pada bedah jantung. Sediaan yang tersedia adalah suntikan 50 mg/ml.1,2,3,4 Efek samping Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya dapat dicegah dengan pelumpuh otot. Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula, katekolamin plasma, ADH, rennin, aldosteron dan kortisol. Obat terbaru dari golongan fentanil adalah remifentanil, yang dimetabolisir oleh esterase plasma nonspesifik, yang menghasilkan obat dengan waktu paruh yang singkat, tidak seperti narkotik lain durasi efeknya relatif tidak tergantung dengan durasi infusinya. ANTAGONIS Nalokson Nalokson adalah antagonis murni opioid dan bekerja pada reseptor Mu, delta, Kappa, dan Sigma. Pemberian nalokson pada pasien setelah amendapat morfin akan terlihat laju nafas meningkat, kantuk menghilang, pupil mata dilatasi, tekanan darah kalau sebelumnya rendah akan meningkat. Nalokson biasanya digunakan untuk melawan depresi nafas pada akhir pembedahan dengan dosis dicicil 1-2 mikrogram/kgBB intravena dan dapat diulang

tiap 3-5 menit, sampai ventilasi dianggap baik. Dosis lebih dari 0,2 mg jarang digunakan. Dosis intramuscular 2x dosis intravena. Pada keracunan opioid naloksondapat diberikan per-infus dosis 3-10g/kgBB. Untuk depresi napas neonates yang ibunya mendapat opioid berikan nalokson 10 g/kgBB dan dapat diulang setelah 2 menit. Biasanya 1 ampul nalokson 0,4 mg diencerkan sampai 10ml, sehingga tiap ml mengandung 0,04 mg.2 Naltrekson Naltrekson merupakan antagonis opiod kerja panjang yang biasanya diberikan peroral, pada pasien dengan ketergantungan opioid. Waktu paro plasma 8-12 jam. Pemberian per oral dapat bertahan sampai 24 jam. Naltrekson per oral 5 atau 10 mg dapat mengurangi pruritus, mual muntah pada analgesia epidural saat persalinan, tampa menghilangkan efek analgesianya.2 KEMASAN Petidin dalam bentuk ampul 2 ml yang mengandung 50 mg/ml tidak berwarna. Fentanyl dikemas steril dalam bentuk ampul 2 ml dan 10 ml yang tiap ml-nya mengandung 50 mikrogram. Morfin dalam bentuk ampul 1 ml yang mengandung 10 atau 20 mg, tidak berwarna dan bisa dicampur dengan obat lain.

TATALAKSANA ANESTESIA DAN REANIMASI A. EVALUASI PRA ANESTESIA DAN REAMINASI Evaluasi pre anesthesia dan reanimasi adalah langkah awal dari tindakan anesthesia yang dilakukan terhadap pasien yang direncanakan akan menjalani tindakan operatif. Tujuan 1. Mengetahui status fisik pasien pre operatif 2. Mengetahui dan menganalisis jenis operasi 3. Memilih jenis/teknik anesthesia yang sesuai 4. Meramalkan penyulit yang mungkin akan terjadi selama operasi atau pasca bedah 5. Mempersiapkan obat/alat guna menanggulangi penyulit yang diramalkan Waktu evaluasi Pada kasus bedah elektif, evaluasi pra anesthesia dilakukan beberapa hari sebelum operasi. Kemudian evaluasi ulang dilakukan sehari menjelang operasi, selanjutnya evaluasi ulang dilakukan pada pagi hari menjelang pasien dikirim ke kamar operasi dan evaluasi terakhir dilakukan dikamar persiapan instalasi bedah sentral (IBS) untuk menentukanstatus fisik ASA. Pada kasus bedah darurat evaluasi dilakukan saat itu juga diruangan persiapan instalasi rawat darurat (IRD) karena waktu yang tersedia untuk evaluasi sangat terbatas sehingga seringkali informasi tentang penyakit yang diderita kurang akurat. Tatalaksana Evaluasi 1. Anamnesis Anamnesis dilakukan dengan pasien sendiri atau dengan oranglain (keluarganya/pengantarnya), meliputi: 1.1 Identitas pasien atau biodata 1.2 Anamnesis khusus yang berkaitan dengan penyakity bedah yang mungkin menimbulkan gangguan fungsi system organ. 1.3 Anamnesis umum, meliputi: 1.3.1 Riwayat penyakit sistemik yang pernah diderita atau sedang menderita penyakit sistemik selain penyakit bedah yang diderita yang bisa mempengaruhi /dipengaruhi anesthesia. 1.3.2 Riwayat pemakaian obat yang telah/sedang digunakan yang mungkin berinteraksi dengan obat anesthesia, misalnya : kortikosteroid, obat anti hipertensi, obat anti diabetic, antibiotika golongan aminoglikosida, digitalis, diuretika, transquilizer, obat penghambat enzim mono-amin oksidase dan bronkodilator. 1.3.3 Riwayat operasi/anesthesia terdahulu, misalnya: apakah pasien pernah mengalami komplikasi anesthesia. 1.3.4 Kebiasaan buruk seperti : merokok, peminum minuman keras, pemakaian obat terlarang. 1.3.5 Riwayat alergi terhadap obat atau yang lain. 2. Pemeriksaan fisik

2.1 Pemeriksaan/pengukuran status pasien : kesadaran, frekuensi nafas, tekanan darah, nadi, suhu tubuh, berat dan tinggi badan untuk menilai status gizi/BMI 2.2 Pemeriksaan fisik umum, meliputi pemeriksaan status: 2.2.1 Psikis: gelisah, takut atau kesakitan 2.2.2 Saraf (otak, medulla spinalis, dan saraf tepi) 2.2.3 Respirasi 2.2.4 Hemodinamik 2.2.5 Penyakit darah 2.2.6 Gastrointestinal 2.2.7 Hepato-bilier 2.2.8 Urogenital dan saluran kencing 2.2.9 Metabolik dan endokrin 2.2.10 Otot rangka 2.2.11 Integumen 3. Pemeriksaan laboratorium, radiologi dan yang lainnya 3.1 Pemeriksaan rutin Ditujukan kepada pasien yang dipersiapkan untuk operasi kecil dan sedang. Hal-hal yang diperiksa adalah: 3.1.1 Darah: Hb, Ht, Eritrosit, leukosit dan hitung jenis, trombosit, masa perdarahan dan masa pembekuan. 3.1.2 Urin: pemeriksaan fisik, kimiawi dan sedimen urin. 3.2 Pemeriksaan khusus Ditujukan kepada pasien yang dipersiapkan untuk operasi besar dan pasien yang menderita penyakit sistemik tertentu dengan indikasi tegas. Hal-hal yang diperiksa adalah: 3.2.1 Pemeriksaan laboratorium lengkap meliputi fungsi hati, fungsi ginjal, analisis gas darah, elektrolit, hematologi dan faal hemostasis lengkap, sesuai dengan indikasi. 3.2.2 Pemeriksaan radiologi: foto toraks, IVP dan yang lainnya sesuai indikasi. 3.2.3 Evaluasi kardiologi terutama untuk pasien yang berumur diatas 35 tahun. 3.2.4 Pemeriksaan spirometri pada pemeriksa PPOM. 4. Konsultasi dan koreksi terhadap kelainan fungsi organ vital 4.1 Konsultasi 4.1.1 Konsultasi dilakukan dengan lab/staf medic fungsional yang terkait, apabila dijumpai gangguan fungsi organ, baik yang bersifat kronis maupun yang akut yang dapat mengganggu kelancaran anesthesia dan pembedahan atau muungkin gangguan fungsi tersebut bisa diperberat oleh anesthesia dan pembedahan. Dalam keadaan demikian, tanggapan dan saran terapi dari konsulen terkait sangat diperlukan. 4.1.2 Konsultasi bisa dilakukan berencana atau darurat. 4.2 Koreksi apabila gangguan fungsi system organ prabedah apabila dianggap perlu dapat dilakukan koreksi terhadap kelainan fungsi organ yang dijumpai dan rencana operasi dapat ditunda menunggu perbaikan/pemulihan fungsi organ yang bermasalah. 4.2.1 Pada kasus elektif, koreksi bisa dilakukan secara mandiri oleh staf medis fungsional yang menangani atu secara bersama-sama

dengan staf medis lain yang bertindak sebagai konsultan di bangsal. 4.2.2 Untuk kasus darurat, koreksi dilakukan bersama-sama diruang resusitasi IRD atau dikamar operasi IRD sesuai dengan kedaruratan medis yang diderita pasien. 5. Menentukan prognosis pasien pre operatif Berdasarkan hasil evaluasi pre operatif tersebut diatas maka dapat disimpulkan status fisik pasien pra anesthesia. American Society of Anesthesiologist (ASA) membuat klasifikasi status fisik pre anesthesia menjadi 5 (lima) kelas, yaitu: ASA 1 : pasien penyakit bedah tanpa disertai penyakit sistemik. ASA 2 : pasien penyakit bedah disertai dengan penyakit sistemik ringan sampai sedang. ASA 3 : pasien penyakit bedah disertai penyakit sistemik berat yang secara langsung mengancam kehidupannya. ASA 4 : pasien penyakit bedah yang disertai dengan penyakit sistemik berat yang sudah tidak mungkin ditolong lagi, dioperasi ataupun tidak dalam 24 jam pasien akan meninggal. Apabila tindakan pembedahannya dilakukan secara darurat, dicantumkan tanda E (emergency) di belakang angka, misalnya ASA 1 E. B. PERSIAPAN PRA ANASTESIA DAN REANIMASI Batasan Adalah langkah lanjut dari hasil evaluasi pra operatif khususnya anestesi dan reanimasi untuk mempersiapkan pasien, baik psikis maupun fisik agar pasien siap dan optimal dalam menjalani prosedur anestesi maupun pembedahan yang akan direncanakan. Tempat persiapan pra anestesi dan reanimasi dapat dilakukan di: 1. Poliklinik dan dirumah pasien 2. Ruang perawatan 3. Ruang persiapan IBS 4. Kamar operasi 1. Poliklinik dan dirumah untuk pasien rawat jalan.. 1.1 Persiapan psikis Berikan penjelasan kepada pasien atau keluarga agar mengerti rencana anestesi dan pembedahan sehingga pasien dan keluarganya dapat tenang. 1.2 Persiapan fisik Diinformasikan agar pasien melakukan: 1.2.1 Menghentikan kebiasaan seperti merokok, minuman keras dan obat-obatan tertentu minimal dua minggu sebelum anesthesia atau minimal dimulai sejak evaluasi pertama kali di poliklinik. 1.2.2 Melepas segala macam protesis dan asesoris 1.2.3 Tidak mempergunakan kosmetik misalnya cat kuku atau cat bibir. 1.2.4 Puasa, pengaturan sebagai berikut:

Usia <6 bulan 6-36 bulan >36 bulan

Makanan padat susu formula/ASI 4 jam 6 jam 8 jam

Cairan jernih tanpa partikel 2 jam 3 jam 3 jam

1.3 Diharuskan agar pasien mengajak salah satu keluarga atau orangtua atau teman untuk menemaninya/menunggu selama/setelah mengikuti rangkaian prosedur pembedahan dan saat pulang untuk menjaga kemungkinan penyulit yang tidak diinginkan. 1.4 Membuat surat persetujuan tindakan medic 1.4.1 Dibuat setelah pasien tiba diruang penerimaan pasien rawat jalan. 1.4.2 Pada pasien dewasa bisa dibuat sendiri dengan menandatangani lembaran formulir yang sudah tersedia pada bendel catatan medic dan disaksikan oleh petugas yang dotunjuk untuk itu. 1.4.3 Pada pasien bayi, anak-anak dan orang tua dibuat oleh salah satu keluarganya yang menanggung dan juga disaksikan oleh petugas yang ditunjuk. 1.5 Mengganti pakaian yang dipakai dari rumah dengan pakaian khusus kamar operasi. 2 Persiapan diruang perawatan 2.1 Persiapan psikis 2.1.1 Berikan penjelasan kepada pasien atau keluarganya agar mengerti perihal rencana anestesi dan pembedahan yang direncanakan sehingga dengan demikian diharapkan pasien dan keluarganya bisa tenang. 2.1.2 Berikan obat sedatif pada pasien yang menderita stress atau pasien tidak koperatif misalnya pada pediatric 2.1.3 Pemberian obat sedative dapat dilakukan secara oral (malam hari sebelum tidur, 60-90 menit sebelum ke IBS) dan rectal (pediatric) pada pagi hari sebelum ke IBS. 2.2 Persiapan fisik 2.2.1 Hentikan kebiasaan seperti merokok, minum minuman keras, obat-obat tertentu dua minggu sebelum anestesi. 2.2.2 Melepas segala macam protesis dan asesoris 2.2.3 Tidak mempergunakan kosmetik misalnya cat kuku atau cat bibir. 2.2.4 Program puasa untuk pengosongan lambung dapat dilakukan sesuai dengan aturan tersebut diatas. 2.2.5 Pasien dimandikan pagi hari menjelang ke kamar bedah, pakaian diganti dengan pakaian khusus kamar bedah dan diisi label bila perlu. 2.3 Membuat surat persetujuan tindakan medik Pada pasien dewasa dan sadae dibuat sendiri dengan menanda tangani lembar formulir yang sudah tersedia dengan bendel catatan medic dan dosaksikan oleh kepala ruangan tempat pasien dirawat sedangkan pada pasien bayi/anak-anak/orang tua dan pasien tidak sadar ditanda tangani

oleh salah satu keluarga yang menanggung dan disaksikan oleh kepala ruangan. 2.4 Persiapan lain yang bersifat khusus pra anesthesia Apabila dipandang perlu dapat dilakukan koreksi terhadao kelainan sistemik yang dijumpai pada saat evaluasi pra bedah misalnya tranfusi, dialysis, fisioterapi dll sesuai prosedur tetap tatalaksana masingmasing penyakit yang diderita pasien. 3 Persiapan diruang persiapan instalasi bedah sentral (IBS) Pasien diterima oleh petugas khusus kamar persiapan 3.1 Di kamar persiapan dilakukan 3.1.1 Evaluasi ulang status pasien dan catatan medic pasien serta perlengkapan lain 3.1.2 Konsultasi bila diperlukan 3.1.3 Ganti pakaian khusus kamar operasi 3.1.4 Memberi premedikasi 3.1.5 Memasang infuse 3.2 Premedikasi 3.2.1 Menimbulkan suasana nyaman bagi pasien dengan menghilangkan rasa cemas, member ketenangan,, membuat amnesia, bebas nyeri dan mencegah mual/muntah. 3.2.2 Memudahkan dan melancarkan induksi 3.2.3 Mengurang dosis obat anestesi 3.2.4 Menekan reflex yang tidak diinginkan 3.2.5 Menekan sekresi kelenjar. Obat-obat yang dapat digunakan untuk premedikasi adalah JENIS OBAT DOSIS (DEWASA) 1. Sedatif Diazepam 5-10 mg Difenhidramin 1 mg/kgBB Promethazin 1 mg/kgBB Midazolam 0,1-0,2 mg/kgBB 2. Analgetik opiat Petidin Morfin Fentanil Analgetik non opiate 3. Antikolinergik Sulfas atropine 4. Antiemetic Ondansentron Metoklopramid 5. Profilaksis aspirasi Cimetidin

1-2 mg/KgBB 0,1-0,2 mg/KgBB 1-2 g/KgBB disesuaikan

0,1 mg/KgBB

4-8 mg/KgBB 10 mg (IV) dewasa

dosis disesuaikan

Ranitidin Antasid Pemberian premedikasi dapat diberikan secara: 1. Suntikan intramuscular 30-45 menit sebelum induksi anesthesia. 2. Suntikan intravena 5-10 menit sebelum induksi anesthesia. Komposisi dan dosis obat premedikasi yang diberikan dan cara pemberiannya ditentukan oleh dokter spesialis anestesi yang bertugas sesuai masalah yang dijumpai pada pasien. 3.3 Pemasangan infus 3.3.1 Tujuan: 1. Mengganti deficit cairan selama puasa 2. Koreksi cairan prabedah 3. Fasilitas vena terbuka untuk memasukan obat selama operasi 4. Memberikan cairan pemeliharaan 5. Koreksi deficit/kehilangan cairan selama operasi 6. Koreksi cairan akibat terapi lain 7. Fasilitas tranfusi darah. 3.3.2 Jenis-jenis cairan infuse untuk pemeliharaan/pengganti puasa pre anestesi sesuai dengan indikasi dan usia pasien adalah sebagai berikut: 1. Neonates, diberikan dekstrose 5% dalam dalam NACL 0,225 2. Anak-anak (<12 tahun) diberikan dekstrose 5% dalam NACL 0,45% 3. Umur > 12 tahun tidak ada indikasi yang pasti, dapat diberi cairan kristaloid atau campuran dekstrose 5% dalam larutan kristaloid, misalnya: dekstrose 5% dalam NACL 0,9% dalam ringer laktat. 4. Penderita diabetes diberikan cairan maltose 5% dalam ringer. 3.3.3 Tatalaksana koreksi cairan pre anestesi 1. Tentukan deficit cairan sesuai lama puasa 2. Koreksi pada jam I diberikan 50% dari deficit yang terhitung ditambah kebutuhan cairan per jam saat itu. 3. Koreksi pada jam ke III sebanyak 25% dari deficit ditambah kebutuhan per jam saat itu dan ditambah sekuesterisasi cairan luka operasi serta perdarahan selama operasi. 4. Dan seterusnya koreksi disesuaikan kebutuhan cairan per jam dan koreksi lain. 3.3.4 Tatalaksana pemasangan infuse Hal yang perlu diperhatikan: 1. Tentukan jenis cairan yang diberijan 2. Pilih selang infuse yang digunakan

3. 4. 5. 6.

7. 8.

a. Selang tranfusi darah b. Selang infuse biasa c. Selang infuse bayi Pilih kanul/kateter vena yang diameter paling besar yang mungkin bisa masuk Pilih lokasi vena yang paling besar dan lurus Lakukan desinfeksi daerah kulit yang akan dikanulasi dengan alkohol. Pada pasien dewasa, kanulasi dilakukan dengan memperhatikan kondisi nyaman dan bebas nyeri dengan menyuntikan analgetik pada tempat kanulasi. Pada pasien pediatric kanulasi dilakukan setelah pasien terinduksi anestesi Fiksasi adekuat.

4 Persiapan dikamar operasi 4.1 Meja operasi dengan asesoris yang doperlukan 4.2 Mesin anestesi dengan system aliran gasnya 4.3 Alat-alat resusitasi antara lain alat bantu nafas, laringoskop, pipa jalan nafas, alat isap, defibrillator dll 4.4 Obat-obat anestesi yang diperlukan 4.5 Obat-obat resusitasi seperti adrenalin, atropine, aminofilin, natrium bikarbonat dll. 4.6 Tiang infuse, plaster dll 4.7 Alat pantau tekanan darah, suhu tubuh dan EKG dipasang 4.8 Alat pantau yang lain dipasang sesuai indikasi misalnya pulse oxymeter dan capnograf 4.9 Kartu catatan medic anestesi 4.10 Selimut penghangat khusus untuk bayi dan orang tua. C. PILIHAN ANESTESIA-REANIMASI Pertimbangan anestesi pada pasien bayi dan anak-anak adalah anestesi umum karena pasien ini kurang kooperatif. Pada orang dewasa bisa diberikan anestesi umum/regional tergantung dari operasi yang akan dikerjakan. Pada orang tua cenderung dipilih anestesi regional kecuali jika tindakan yang akan dilakukam tidak memungkinkan untuk anestesi regional. Jenis Kelamin Factor emosional dan rasa malu yang lebih dominan pada pasien wanita merupakan factor pendukung anestesi umum, sebaliknya pada laki-laki tidak demikian. Status Fisik Berkaitan dengan sistemik yang diderita pasien, komplikasi penyakit primer dan terapi yang sedang dijalaninya mengingat interaksi antara penyakit sistemik/pengobatan dengan tindakan/obat anestesi yang digunakan. Jenis Operasi

Analisis terhadap tindakan pembedahan menghasilkan 4 masalah (empat SI): 1. Lokasi operasi, misalnya pada operasi didaerah kepala leher dipilih anestesi umum dengan intubasi pipa endotrakea untuk mempertahankan jalan nafas sedangkan operasi daerah abdominal bawah dilakukan anestesi spinal. 2. Posisi operasi, misalnya pada posisi tengkurap harus anestesi umum dengan fasilitas intubasi endotrakea dan nafas kendali 3. Manipulasi operasi, misalnya pada operasi laparotomi dengan manipulasi intra abdominal yang luas serta resikonya membutuhkan relaksasi lapangan operasi optimal haru dilakukan anesthesia umum dengan fasilitas intubasi endotrakea dan nafas kendali. 4. Durasi operasi, misalnya pada operasi bedah saraf kraniotomi yang berlangsung lama harus dilakukan anestesi umum dengan fasilitas endotrakea dan anestesi kendali. Keterampilan operator dan peralatan yang dipakai Hal ini berkaitan dengan manipulasi durasi setiap tindakan pembedahan sehingga pilihan anestesi disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi Keterampilan/kemampuan pelaksana anestesi dan sarannya Pelaksana anestesi yang berpengalaman dengan berbagai teknik mampu memberikan pelayanan anestesi yang memadai dengan memanfaatkan sarana yang tersedia. Status Rumah Sakit Status rumah sakit menentukan kualitas pelayanan anestesi dengan memanfaatkan sarana yang tersedia. Permintaan pasien Paada pasien tertentu, pasien tersebut mampu menentukan pilihan anestesi yang dikehendakinya sehingga petugas anestesi harus menyesuaikan jenis/teknik yang sesuai dengan permintaan pasien. Dalam praktek ada 3 (tiga) jenis anestesi-analgesi yang diberikan pada pasien yang akan mengalami pembedahan: 3.1 anestesi umum 3.2 anestesi local 3.3 anestesi regional

ANESTESI UMUM Batasan: Suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat anesthesia. Rees & Gray membagi anesthesia menjadi 3 komponen . yaitu : 1. hipnotika : pasien kehilangan kesadaran. 2. Anesthesia : pasien bebas nyeri. 3. Relaksasi : pasien mengalami kelumpuhan otot rangka. Ketiga komponen anesthesia yang popular disebut trias anestesi, dapat diwujudkan dengan obat anestetika tunggal misalnya ater atau dengan kombinasi beberapa obat untuk mencapai masing-masing komponen trias anesthesia tersebut diatas. Tekhnik anesthesia umum dibagi : a. anesthesia umum intravena. b. anesthesia umum inhalasi. c. Anesthesia imbang. Anesthesia umum intravena Obat anestesi intravena adalah obat anestesi yang diberikan melalui jalur intravena, baik obat yang berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh otot. Setelah berada didalam pembuluh darah vena, obat obat ini akan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh melalui sirkulasi umum, selanjutnya akan menuju target organ masing masing dan akhirnya diekskresikan sesuai dengan farmakodinamiknya masing-masing. William Morton , tahun 1846 di Boston , pertama kali menggunakan obat anestesi dietil eter untuk menghilangkan nyeri selama operasi. Di jerman tahun 1909, Ludwig Burkhardt, melakukan pembiusan dengan menggunakan kloroform dan ether melalui intravena, tujuh tahun kemudian, Elisabeth Brendenfeld dari Swiss melaporkan penggunaan morfin dan skopolamin secara intravena. Sejak diperkenalkan di klinis pada tahun 1934, Thiopental menjadi Gold Standard dari obat obat anestesi lainnya, berbagai jenis obat-obat hipnotik tersedia dalam bentuk intavena, namun obat anestesi intravena yang ideal belum bisa ditemukan. Penemuan obat obat ini masih terus berlangsung sampai sekarang. Beberapa variasi anesthesia umum : 1. Anestesi intravena klasik Pemakaian kombinasi obat ketamine hidroklorida dengan sedative misalnya : diazepam, midazolam atau dehidro benzperidol. Komponen trias anesthesia yang dipenuhi dengan tekhnik ini adalah : hipnotik dan anesthesia. Indikasi : Pada operasi kecil dan sedang yang tidak memerlukan relaksasi lapangan operasi yang optimal dan berlangsung singkat, dengan perkecualian operasi di daerah jalan nafas dan intraokuler.

Indikasi kontra : Penderita diabetes mellitus, hipertensi intracranial, glukoma, operasi intraokuler. Tatalaksananya : Persiapan rutin Pasang alat pantau yang diperlukan Induksi dengan salah satu obat sedative seperti yang tersebut di atas, misalnya diazepam dengan dosis anjurannya. Tunggu 2-3 menit agar obat menunnjukkan khasiatnya. Berikan ketamine HCL (larutan 1%) dengan dosis 1-2 mg/kgBB intravena pelan-pelan. Dosis tambahan dapat diberikan setiap interval waktu 15 menit dengan dosis setengahnya dari dosis awal. Untuk mendalamkan anestesi bias diberikan sedative atau hipnotik, misalnya thiopental. 2. Anesthesia intravena total Batasan : Pemakaian kombinasiobat anestesi intravena yang berkhasiat hipnotik, analgetik dan relaksasi otot secara berimbang. Komponen trias anestesi yang dipenuhinya adalah : hipnotik, analgesia dan relaksasi otot. Indikasi: Operasi-operasi yang memerlukan relaksasi lapangan operasi optimal. 3. Anesthesia intravena neurolept. Batasan: Pemakaian kombinasi obat neuroleptic dengan anal-getik opiate secara intravena. Komponen trias anesthesia yang dipenuhinya adalah sedasi atau hipnotik ringan dan analgesia ringan. Kombinasi yang lazim adalah dehidrobenzperidol dengan fentanyl. Apabila tidak ada fentanyl dapat digunakan petidin atau morfin. Indikasi : 1. tindakan diagnostic endoskopi: laringoskopi, bronkoskopi,esofaguskopi, rektos-kopi dll. 2. Sebagai suplemen tindakan anestesi local. Indikasi kontra : Penderita Parkinson (gejala Parkinson akan meningkat), penderita penyakit paru obstruktif, bayi dan anak-anak, kontraindikasi relative. Tatalaksananya : 1. persiapan prabedah sama dengan tekhnik yang lain. 2. Premedikasi, berikan sulfas atropine, dehidrobenzperidol dan petidin secara intramuscular 30-45 menit sesuai dosis sebelum anesthesia dimulai. 3. Pasang alat pantau. 4. Induksi dengan dehidrobenzperidol 0,1 0,2 mg/kgBB dengan fentanyl dosis: 2 mikrogram/ kgBB 5. Tunggu 5-10 menit, setelah pasien mengantuk dan acuh tak acuh, tindakan bias dilakukan. 6. Untuk menekan rangsang pada lokasi tindakan, bias diberikan obat analgetika local semprot.

Jenis Obat Anesthesi Dalam perkembangan selanjutnya terdapat beberapa jenis obat obat anestesi dan yang digunakan di indonesia hanya beberapa jenis obat saja seperti, Tiopenton, Diazepam , Degidrobenzperidol, Fentanil, Ketamin dan Propofol. a. Propofol ( 2,6 diisopropylphenol ) Merupakan derivat fenol yang banyak digunakan sebagai anastesia intravena dan lebih dikenal dengan nama dagang Diprivan. Pertama kali digunakan dalam praktek anestesi pada tahun 1977 sebagai obat induksi. Propofol digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anastesia umum, pada pasien dewasa dan pasien anak anak usia lebih dari 3 tahun. Mengandung lecitin, glycerol dan minyak soybean, sedangkan pertumbuhan kuman dihambat oleh adanya asam etilendiamintetraasetat atau sulfat, hal tersebut sangat tergantung pada pabrik pembuat obatnya. Obat ini dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1 % (1 ml = 10 mg). Mekanisme kerja Mekanisme kerjanya sampai saat ini masih kurang diketahui ,tapi diperkirakan efek primernya berlangsung di reseptor GABA A (Gamma Amino Butired Acid). Farmakokinetik Digunakan secara intravena dan bersifat lipofilik dimana 98% terikat protein plasma, eliminasi dari obat ini terjadi di hepar menjadi suatu metabolit tidak aktif, waktu paruh propofol diperkirakan berkisar antara 2 24 jam. Namun dalam kenyataanya di klinis jauh lebih pendek karena propofol didistribusikan secara cepat ke jaringan tepi. Dosis induksi cepat menyebabkan sedasi ( rata rata 30 45 detik ) dan kecepatan untuk pulih juga relatif singkat. Satu ampul 20ml mengandung propofol 10mg/ml. Popofol bersifat hipnotik murni tanpa disertai efek analgetik ataupun relaksasi otot. Farmakodinamik Pada sistem saraf pusat Dosis induksi menyebabkan pasien tidak sadar, dimana dalam dosis yang kecil dapat menimbulkan efek sedasi, tanpa disetai efek analgetik, pada pemberian dosis induksi (2mg /kgBB) pemulihan kesadaran berlangsung cepat.

Pada sistem kardiovaskular Dapat menyebakan depresi pada jantung dan pembuluh darah dimana tekanan dapat turun sekali disertai dengan peningkatan denyut nadi, pengaruh terhadap frekuensi jantung juga sangat minim. Sistem pernafasan Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan volume tidal, dalam beberapa kasus dapat menyebabkan henti nafas kebanyakan muncul pada pemberian diprivan Dosis dan penggunaan a) Induksi : 2,0 sampai 2.5 mg/kg IV. b) Sedasi : 25 to 75 g/kg/min dengan I.V infuse c) Dosis pemeliharaan pada anastesi umum : 100 150 g/kg/min IV (titrate to effect). d) Turunkan dosis pada orang tua atau gangguan hemodinamik atau apabila digabung penggunaanya dengan obat anastesi yang lain. e) Dapat dilarutkan dengan Dextrosa 5 % untuk mendapatkan konsentrasi yang minimal 0,2% f) Profofol mendukung perkembangan bakteri, sehingga harus berada dalam lingkungan yang steril dan hindari profofol dalam kondisi sudah terbuka lebih dari 6 jam untuk mencegah kontaminasi dari bakteri. Efek Samping Dapat menyebabkan nyeri selama pemberian pada 50% sampai 75%. Nyeri ini bisa muncul akibat iritasi pembuluh darah vena, nyeri pada pemberian propofol dapat dihilangkan dengan menggunakan lidocain (0,5 mg/kg) dan jika mungkin dapat diberikan 1 sampai 2 menit dengan pemasangan torniquet pada bagian proksimal tempat suntikan, berikan secara I.V melaui vena yang besar. Gejala mual dan muntah juga sering sekali ditemui pada pasien setelah operasi menggunakan propofol. Propofol merupakan emulsi lemak sehingga pemberiannya harus hati hati pada pasien dengan gangguan metabolisme lemak seperti hiperlipidemia dan pankreatitis. b. Tiopenton Pertama kali diperkenalkan tahun 1963. Tiopental sekarang lebih dikenal dengan nama sodium Penthotal, Thiopenal, Thiopenton Sodium atau Trapanal yang

merupakan obat anestesi umum barbiturat short acting, tiopentol dapat mencapai otak dengan cepat dan memiliki onset yang cepat (30-45 detik). Dalam waktu 1 menit tiopenton sudah mencapai puncak konsentrasi dan setelah 5 10 menit konsentrasi mulai menurun di otak dan kesadaran kembali seperti semula. Dosis yang banyak atau dengan menggunakan infus akan menghasilkan efek sedasi dan hilangnya kesadaran. Beberapa jenis barbiturat seperti thiopental [5-ethyl-5-(1-methylbutyl)-2thiobarbituric acid], methohexital [1-methyl-5-allyl-5-(1-methyl-2-pentynyl)barbituric acid], dan thiamylal [5-allyl-5-(1-methylbutyl)-2-thiobarbituric acid]. Thiopental (Pentothal) dan thiamylal (Surital) merupakan thiobarbiturates, sedangan methohexital (Brevital) adalah oxybarbiturate. Walaupun terdapat beberapa barbiturat dengan masa kerja ultra singkat , tiopental merupakan obat terlazim yang dipergunakan untuk induksi anasthesi dan banyak dipergunakan untuk induksi anestesi. Mekanisme kerja Barbiturat terutama bekerja pada reseptor GABA dimana barbiturat akan menyebabkan hambatan pada reseptor GABA pada sistem saraf pusat, barbiturat menekan sistem aktivasi retikuler, suatu jaringan polisinap komplek dari saraf dan pusat regulasi, yang beberapa terletak dibatang otak yang mampu mengontrol beberapa fungsi vital termasuk kesadaran. Pada konsentrasi klinis, barbiturat secara khusus lebih berpengaruh pada sinap saraf dari pada akson. Barbiturat menekan transmisi neurotransmitter inhibitor seperti asam gamma aminobutirik (GABA). Mekanisme spesifik diantaranya dengan pelepasan transmitter (presinap) dan interaksi selektif dengan reseptor (postsinap). Farmakokinetik Absorbsi Pada anestesiologi klinis, barbiturat paling banyak diberikan secara intravena untuk induksi anestesi umum pada orang dewasa dan anak anak. Perkecualian pada tiopental rektal atau sekobarbital atau metoheksital untuk induksi pada anak anak. Sedangkan phenobarbital atau sekobarbital intramuskular untuk premedikasi pada semua kelompok umur. Distribusi Pada pemberian intravena, segera didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh selanjutnya akan diikat oleh jaringan saraf dan jaringan lain yang kaya akan vaskularisasi, secara perlahan akan mengalami difusi kedalam jaringan lain seperti

hati, otot, dan jaringan lemak. Setelah terjadi penurunan konsentrasi obat dalam plasma ini terutama oleh karena redistribusi obat dari otak ke dalam jaringan lemak. Metabolisme Metabolisme terjadi di hepar menjadi bentuk yang inaktif. Ekskresi Sebagian besar akan diekskresikan lewat urine, dimana eliminasi terjadi 3 ml/kg/menit dan pada anak anak terjadi 6 ml/kg/menit. Farmakodinamik Pada Sistem saraf pusat. Dapat menyebabkan hilangnya kesadaran tetapi menimbulkan hiperalgesia pada dosis subhipnotik, menghasilkan penurunan metabolisme serebral dan aliran darah sedangkan pada dosis yang tinggi akan menghasilkan isoelektrik elektroensepalogram. Sistem kardiovaskular. Menurunkan tekanan darah dan cardiac output ,dan dapat meningkatkan frekwensi jantung, penurunan tekanan darah sangat tergantung dari konsentrasi obat dalam plasma. Hal ini disebabkan karena efek depresinya pada otot jantung, sehingga curah jantung turun, dan dilatasi pembuluh darah. Iritabilitas otot jantung tidak terpengaruh, tetapi bisa menimbulkan disritmia bila terjadi resistensi Co2 atau hipoksia. Penurunan tekanan darah yang bersifat ringan akan pulih normal dalam beberapa menit tetapi bila obat disuntik secara cepat atau dosisnya tinggi dapat terjadi hipotensi yang berat. Hal ini terutama akibat dilatasi pembuluh darah karena depresi pusat vasomotor. Dilain pihak turunnya tekanan darah juga dapat terjadi oleh karena efek depresi langsung obat pada miokard. Sistem pernafasan. Akan mennyebabkan penurunan frekwensi nafas dan volume tidal. bahkan dapat sampai menyebakan terjadinya asidosis respiratorik. Dosis Dosis yang biasanya diberikan berkisar antara 3-5 mg/kg. Untuk menghindarkan efek negatif dari tiopental tadi sering diberikan dosis kecil dulu 50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien. Efek samping

Efek samping yang dapat ditimbulkan seperti alergi, sehingga jangan memberikan obat ini kepada pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap barbiturat, sebab hal ini dapat menyebabkan terjadinya reaksi anafilaksis yang jarang terjadi, barbiturat juga kontraindikasi pada pasien dengan porfiria akut, karena barbiturat akan menginduksi enzim d-aminoleuvulinic acid sintetase, dan dapat memicu terjadinya serangan akut. Iritasi vena dan kerusakan jaringan akan menyebakan nyeri pada saat pemberian melalui I.V, hal ini dapat diatasi dengan pemberian heparin dan dilakukan blok regional simpatis. c. Ketamin Ketamine (Ketalar or Ketaject) merupakan arylcyclohexylamine yang memiliki struktur mirip dengan phencyclidine. Ketamin pertama kali disintesis tahun 1962, dimana awalnya obat ini disintesis untuk menggantikan obat anestetik yang lama (phencyclidine) yang lebih sering menyebabkan halusinasi dan kejang. Obat ini pertama kali diberikan pada tentara amerika selama perang Vietnam. Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil sikloheksilamin, merupakan rapid acting non barbiturate general anesthesia. Ketalar sebagai nama dagang yang pertama kali diperkenalkan oleh Domino dan Carson tahun 1965 yang digunakan sebagai anestesi umum. Ketamin kurang digemari untuk induksi anastesia, karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi , hipersalivasi , nyeri kepala, pasca anasthesi dapat menimbulkan muntah muntah , pandangan kabur dan mimpi buruk. Ketamin juga sering menebabkan terjadinya disorientasi, ilusi sensoris dan persepsi dan mimpi gembira yang mengikuti anesthesia, dan sering disebut dengan emergence phenomena. Mekanisme kerja Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa blok terhadap reseptor opiat dalam otak dan medulla spinalis yang memberikan efek analgesik, sedangkan interaksi terhadap reseptor metilaspartat dapat menyebakan anastesi umum dan juga efek analgesik. Efek farmakologis: Efek pada susunan saraf pusat. Apabila diberikan intravena maka dalam waktu 30 detik pasien akan mengalami perubahan tingkat kesadaran yang disertai tanda khas pada mata berupa kelopak mata terbuka spontan dan nistagmus. Selain itu kadangkadang dijumpai gerakan yang tidak disadari, seperti gerakan mengunyah, menelan, tremor dan kejang. Apabila diberikan secara intramuskular, efeknya akan tampak dalam 5-8 menit, sering mengakibatkan mimpi buruk dan halusinasi pada periode pemulihan sehingga pasien mengalami agitasi. Aliran darah ke otak meningkat, menimbulkan peningkatan tekanan darah intrakranial.

Efek pada mata.Menimbulkan lakrimasi, nistagmus dan kelopak mata terbuka spontan, terjadi peningkatan tekanan intraokuler akibat peningkatan aliran darah pada pleksus koroidalis. Efek pada sistem kardiovaskular. Ketamin adalah obat anestesia yang bersifat simpatomimetik, sehingga bisa meningkatkan tekanan darah dan jantung. Peningkatan tekanan darah akibat efek inotropik positif dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer. Efek pada sistem respirasi. Pada dosis biasa, tidak mempunyai pengaruh terhadap sistem respirasi. dapat menimbulkan dilatasi bronkus karena sifat simpatomimetiknya, sehingga merupakan obat pilihan pada pasien ashma. Dosis dan pemberian Ketamin merupakan obat yang dapat diberikan secara intramuskular apabila akses pembuluh darah sulit didapat contohnya pada anak anak. Ketamin bersifat larut air sehingga dapat diberikan secara I.V atau I.M. dosis induksi adalah 1 2 mg/KgBB secara I.V atau 5 10 mg/Kgbb I.M , untuk dosis sedatif lebih rendah yaitu 0,2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk mendapatkan efek yang diinginkan. Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau kontinyu. Emberian secara intermitten diulang setiap 10 15 menitdengan dosis setengah dari dosis awal sampai operasi selesai. Farmakokinetik Absorbsi Pemberian ketamin dapat dilakukan secara intravena atau intramuscular Distribusi Ketamin lebih larut dalam lemak sehingga dengan cepat akan didistribusikan ke seluruh organ.10 Efek muncul dalam 30 60 detik setelah pemberian secara I.V dengan dosis induksi, dan akan kembali sadar setelah 15 20 menit. Jika diberikan secara I.M maka efek baru akan muncul setelah 15 menit. Metabolisme Ketamin mengalami biotransformasi oleh enzim mikrosomal hati menjadi beberapa metabolit yang masih aktif.

Ekskresi Produk akhir dari biotransformasi ketamin diekskresikan melalui ginjal. Efek samping Dapat menyebabkan efek samping berupa peningkatan sekresi air liur pada mulut,selain itu dapat menimbulkan agitasi dan perasaan lelah , halusinasi dan mimpi buruk juga terjadi pasca operasi, pada otot dapat menimbulkan efek mioklonus pada otot rangka selain itu ketamin juga dapat meningkatkan tekanan intracranial. Pada mata dapat menyebabkan terjadinya nistagmus dan diplopia. Kontra indikasi Mengingat efek farmakodinamiknya yang relative kompleks seperti yang telah disebutkan diatas, maka penggunaannya terbatas pada pasien normal saja. Pada pasien yang menderita penyakit sistemik penggunaanya harus dipertimbangkan seperti tekanan intrakranial yang meningkat, misalnya pada trauma kepala, tumor otak dan operasi intrakranial, tekanan intraokuler meningkat, misalnya pada penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler. Pasien yang menderita penyakit sistemik yang sensitif terhadap obat obat simpatomimetik, seperti ; hipertensi tirotoksikosis, Diabetes militus , PJK dll. d. Opioid Opioid telah digunakkan dalam penatalaksanaan nyeri selama ratusan tahun. Obat opium didapat dari ekstrak biji buah poppy papaverum somniferum, dan kata opium berasal dari bahasa yunani yang berarti getah. Opium mengandung lebih dari 20 alkaloid opioids. Morphine, meperidine, fentanyl, sufentanil, alfentanil, and remifentanil merupakan golongan opioid yang sering digunakan dalam general anestesi. efek utamanya adalah analgetik. Dalam dosis yang besar opioid kadang digunakan dalam operasi kardiak. Opioid berbeda dalam potensi, farmakokinetik dan efek samping. Mekanisme kerja Opioid berikatan pada reseptor spesifik yang terletak pada system saraf pusat dan jaringan lain. Empat tipe mayor reseptor opioid yaitu , ,,,. Walaupun opioid menimbulkan sedikit efek sedasi, opioid lebih efektif sebagai analgesia. Farmakodinamik dari spesifik opioid tergantung ikatannya dengan reseptor, afinitas ikatan dan apakah reseptornya aktif. Aktivasi reseptor opiat menghambat pelepasan presinaptik dan respon postsinaptik terhadap neurotransmitter ekstatori (seperti

asetilkolin) dari neuron nosiseptif. Dosis Premedikasi petidin diberikan I.M dengan dosis 1 mg/kgbb atau intravena 0,5 mg/Kgbb, sedangakan morfin sepersepuluh dari petidin dan Farmakokinetik Absorbsi Cepat dan komplit terjadi setelah injeksi morfin dan meperedin intramuskuler, dengan puncak level plasma setelah 20-60 menit. Fentanil sitrat transmukosal oral merupakan metode efektif menghasilkan analgesia dan sedasi dengan onset cepat (10 menit) analgesia dan sedasi pada anak-anak (15-20 g/Kg) dan dewasa (200-800 g). Distribusi Waktu paruh opioid umumnya cepat (5-20 menit). Kelarutan lemak yang rendah dan morfin memperlambat laju melewati sawar darah otak, sehingga onset kerja lambat dan durasi kerja juga Iebih panjang. Sebaliknya fentanil dan sufentanil onsetnya cepat dan durasi singkat setelah injeksi bolus. Metabolisme Metabolisme sangat tergantung pada biotransformasinya di hepar, aliran darah hepar. Produk akhir berupa bentuk yang tidak aktif. Ekskresi Eliminasi terutama oleh metabolisme hati, kurang lebih 10% melewati bilier dan tergantung pada aliran darah hepar. 5 10% opioid diekskresikan lewat urine dalam bentuk metabolit aktif, remifentanil dimetabolisme oleh sirkulasi darah dan otot polos esterase. Farmakodinamik Efek pada sistem kardiovaskuler. System kardiovaskuler tidak mengalami perubahan baik kontraktilitas otot jantung maupun tonus otot pembuluh darah 3.Tahanan pembuluh darah biasanya akan menurun karena terjadi penurunan aliran simpatis

medulla, tahanan sistemik juga menurun hebat pada pemberian meperidin atau morfin karena adanya pelepasan histamin. Efek pada sistem pernafasan. Dapat meyebabkan penekanan pusat nafas, ditandai dengan penurunan frekuensi nafas, dengan jumlah volume tidal yang menurun .11 PaCO2 meningkat dan respon terhadap CO2 tumpul sehingga kurve respon CO2 menurun dan bergeser ke kanan, selain itu juga mampu menimbulkan depresi pusat nafas akibat depresi pusat nafas atau kelenturan otot nafas, opioid juga bisa merangsang refleks batuk pada dosis tertentu. Efek pada Sistem gastrointestinal Opioid menyebabkan penurunan peristaltik sehingga pengosongan lambung juga terhambat. Endokrin. Fentanil mampu menekan respon sistem hormonal dan metabolik akibat stress anesthesia dan pembedahan, sehingga kadar hormon katabolik dalam darah relatif stabil. e. Benzodiazepin Golongan benzodiazepine yang sering digunakan oleh anestesiologi adalah Diazepam (valium), Lorazepam (Ativan) dan Midazolam (Versed), diazepam dan lorazepam tidak larut dalam air dan kandungannya berupa propylene glycol. Diazepam tersedia dalam sediaan emulsi lemak (Diazemuls atau Dizac), yang tidak menyebakan nyeri atau tromboplebitis tetapi hal itu berhubungan bioaviabilitasnya yang rendah, midazolam merupakan benzodiazepin yang larut air yang tersedia dalam larutan dengan PH 3,5. Dosis Dosis midazolam bervariasi tergantung dari pasien itu sendiri. Untuk preoperatif digunakan 0,5 2,5mg/kgbb Untuk keperluan endoskopi digunakan dosis 3 5 mg Sedasi pada analgesia regional, diberikan intravena. Menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin. Farmakokinetik

Obat golongan benzodiazepine dimetabolisme di hepar, efek puncak akan muncul setelah 4 8 menit setelah diazepam disuntikkan secara I.V dan waktu paruh dari benzodiazepine ini adalah 20 jam. Dosis ulangan akan menyebabkan terjadinya akumulasi dan pemanjangan efeknya sendiri. Midazolam dan diazepam didistribusikan secara cepat setelah injeksi bolus, metabolisme mungkin akan tampak lambat pada pasien tua. Farmakodinamik Dalam sistem saraf pusat. Dapat menimbulkan amnesia, anti kejang, hipnotik, relaksasi otot dan mepunyai efek sedasi, efek analgesik tidak ada, menurunkan aliran darah otak dan laju metabolisme. Efek Kardiovaskuler.Menyebabkan vasodilatasi sistemik yang ringan dan menurunkan cardiac out put. Ttidak mempengaruhi frekuensi denyut jantung, perubahan hemodinamik mungkin terjadi pada dosis yang besar atau apabila dikombinasi dengan opioid. Sistem Respiratori. Mempengaruhi penurunan frekuensi nafas dan volume tidal , depresi pusat nafas mungkin dapat terjadi pada pasien dengan penyakit paru atau pasien dengan retardasi mental. Efek terhadap saraf otot Menimbulkan penurunan tonus otot rangka yang bekerja di tingkat supraspinal dan spinal , sehingga sering digunakan pada pasien yang menderita kekakuan otot rangka.