Anda di halaman 1dari 16

1.1 Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan

Manusia terlahir ke dunia sebagai makhluk individu dan sosial. Sebagai makhluk individu manusia hidup dengan jasmani, rohani, fisik, psikis, raga dan jiwa. Sedangkan makhluk sosial manusia tidak akan bisa hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Dalam kehidupannya manusia tidak akan bisa hidup sendiri karna ia tidk bi mnghasilkan/ memenuhi kebutuhan hidup sendiri tampa ada bantuan orang lain.

1.2 Rumusan Masalah

Apa peran manusia sebagai makhluk individu dalam kehidupan sehari-hari?

Apa peran manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupan sehari- hari?

1.3 Tujuan Penulisan

Makalah ini ditulis untuk melaksanakan salah satu dari tugas terstruktur mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD). Dengan makalah ini juga diharapkan bisa memperjelas tentang peran manusia dalam kehidupan ini baik jika dipandang sebagai seorang individu dan dengan masyarakat luas.

1.1 Pengertian Manusia

Bab 2 Pembahasan

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki- laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.

Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.

Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh) dan lain sebagainya.

1.2 Manusia Sebagai Makhluk Individu

Memahami Manusia Sebagai Makhluk Individul manusia sebagai mahluk individu sebaiknya perlu dipahami arti kata individu itu sendiri. Kata “Individu” berasal dari kata latin, “individuum” artinya “yang tidak terbagi”. Jadi, merupakan suatu sebutan yang dapat. Dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu.

Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing- masing memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan. Kalau seseorang individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana seorang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.

Karakteristik yang khas dari seseorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan (genotip) dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.

Menurut Nursid Sumaatmadja (2000), kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio- psiko-fiskal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan. Dia menyimpulkan bahwa faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan

yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Natur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu. Sejak terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru, maka secara berkesinambungan dipengaruhi oleh bermacam- macam faktor lingkungan yang merangsang.

Kehadiran individu dalam suatu masyarakat biasanya ditandai oleh perilaku individu dalam suatu masyarakat biasanya ditandai oleh perilaku individu yang berusaha menempat kan dirinya dihadapan individu individu lainnya yang telah mempunyai pola perilaku sesuai dengan norma norma dan kebudayaan setempat merupakan bagiannya. Individu akan berusaha menurut koentjaraningrat unsur unsur kepriadian meliputi pengetahuan, persaan, dan dorongan naluri.

Unsur dorongan naluri tidak kalah pentingnya untuk di pahami. Dorogan naluri adalah sesuatu yang selalu ada pada setiap manusia atau dengan kata lain merupakan sumber bahwa darilahir dengn tampa memperoleh

pengetahuan apapun sebelumnya. Ada beberapa macam dorongan yang perlu diketahui yaitu:

1. Dorongan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

2. Dorongan sex

3. Dorongan untuk mencari makan.

4. Dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain.

5. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya.

6. Dorongan untuk berbakti.

7. Dorongan akan keindahan.

Kehadiran individu dalam suatu masyarakat biasanya ditandai dengan perilaku individu yang berusaha menempatkan dirinya dihadapan individu individu lainnya yang telah mempunyai pola pola perilaku yang sesuai denga norma norma dan kebudayaan ditempatnya.

Perkembangan Individu

Pekembanga manusia yang wajar dan normal harus melalui proses pertumuhan dan perkembangan lahir dan batin. Dalam arti bahwa individu atau pribadi manusia merupakan keseluruhan jiwa raga yang mempunyi ciri khas tersendiri. Perkembangan individu menjadi seorang pribadi tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya sendiri melainkan juga didukung dan ihambat oleh kelompok disekitarnya.

Menurut Mursid Sumaatmadja, kelengkapan dn keserasian anggota tubuh, ketajaman panca indra, susunan jaringan syaraf dan proses kerja hayat lainya. Besar pengaruhnya terhadap perkembangan potensi potensi seorang individu.

Pada masa dewasanya manusia lebih banyak menghadapi masalah hidup yang tidak dapat dihadapi dengan insting atau kebiasaan kebiasaan saja. Manusiapun mempunyai insting tetapi manusia tidak semata mata dikuasai oleh insting. Manusia mempuyai kemampuan kemampuan yang dapat berkemang kesegalah arah untuk menyesuiakan diri dangan keadaan yang silih berganti. Manusia mempunyai bebagai pembawaan, kesadaran, perasaan, cita cita, pikiran dan sebagainya yang kesemaunya berpengaruh terhdap hidupnya.

Teori Perkembangan

1. Teori Navitisme (pembawaan)

Menurut Schopen Heur (Jerman) bahwa perkembangan itu semata mata ditentukan oleh sesuatu yang telah ada di dalam diri individu yang dibawa sejak lahir.

2.

Teori Empirisme (pengalaman)

Menurut J. Locke (Inggris) bahwa perkemangan anak semata mata ditentukan oleh pengaruh pengaruh dari luar berdasarkan pendapat tersebut berarti :

Pembawaan kodrat (dasar, bakat, sifat sifat keturunan) dimiliki sejak lahir tidak diakui.

Peranan dari pembawaan, dasar, bakat tidak di akui

3.

Teori konvergensi (kerjasama peraduan)

Menurut W.stern (Jerman) bahwa perkembangan anak itu ditentukan oleh proses kerjasama atau perpaduan antara faktor faktor dalam dan fakor faktor luar.

4. Teori Biogenetis (Teori ulangan)

Perkembangan suatu makhuk adalah ulangan dari pada perkembangan seluruh jenisnya.

Konsep-Konsep perkembangan

1. Konsepsi Asosiasi

asosiasi ini berpendapat bahwa hakikatnya perkembangan

manusia / individu merupakan proses asosiasi dimana bagian bagian lebih penting dari pada keseluruhan.

Konsepsi

2. Kosepsi Gestald

Konsepsi gestald ini berlawanan dengan konsepsi asosiasi, global dahulu baru bagian bagian. Konsepsi gestald ini mengatakan bahwa perkembangan itu adalah merupakan proses diferensiasi yaitu proses untuk memisah misahkan dan membedakan.

3.

Konsepsi Neo-gestald

Konsepsi ini menerangkan bahwa sturktur pribadi digambarkan terdiri dari lapisan dan makin besar anak, lapisan ini akan semakin bertambah.

4. Konsepsi Sosiologis

Konsep ini menerangkan bahwa proses perkembangan seorang individu berasal dari proses sosialisasi.

5. Konsepsi Freudianisme

Konsep ini menerangkan bahwa dorongan manusia pada mulanya berawal dari insting manusia itu sendidri yang belum mengenal batas dan menuntut terpenuhinya keinginan tersebut baik yang di benarkan oleh norma masyarakat atau tidak. Maka freud berpendapat bahwa pada dasarnya anak anak itu asosial. Maka anak itu dalam proses hidupnya individu. Mengalami perubahan dari anak anak, remaja, dan dewasa dengan adanya proses tersebut masyarakat membuat suatu aturan yang bisa mengatur hidup dalam bermasyarakat.

1.3 Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari pengaruh orang lain. Ketika anda pergi ke kampus atau ke tempat lain, tidak bisa dengan seenaknya berpakaian menurut kehendak anda sendiri. Anda harus tunduk dan patuh terhadap peraturan di dalam masyarakat.

Manusia dikatakan mahluk sosial yaitu mahluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain.

Manusia dikatakan mahluk sosial, juga di karenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. seringkali didasari oleh kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing. Misalnya, orang kaya cenderung berteman dengan orang kaya. Orang yang berprofesi sebagai artis, cenderung mencari teman sesama artis.

Manusia dikatakan juga sebagai mahluk sosial karena manusia tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Ketika bayi lahir, ia memerlukan pertolongan manusia lain.

Beda dengan hewan, jerapah misalnya, ketika binatang ini lahir hanya dalam beberapa menit saja ia sudah bisa berdiri tegak dan berjalan mengikuti induknya. Karena untuk mempertahankan dirinya hewan di bekali insting. Insing atau naluri adalah sesatu yang sejak lahir, yang diperoleh bukan memalui proses belajar.

Manusia berbeda dengan hewan, untuk mempertahankan hidupnya dia dibekali dengan akal. Insting yang dimiliki manusia sangat terbatas, ketika bayi lahir misalnya, ia hanya bisa memiliki insting menangis. Bayi lapar maka ia akan menangis dan saat bayi sedang pipis.

Namun potensi yang ada dalam diri manusia itu hanya mungkin berkembang bila ia hidup dan belajar di tengah-tengah manusia. Untuk bisa berjalan saja manusia harus belajar dari manusia lainnya.

Cooley berpendapat bahwa looking-glass self terbentuk melalui tiga

tahap.

Pada

tahap

pertama,

seseorang

mempunyai

pandangan orang lain terhadapnya.

presepsi

mengenai

Tahap kedua, seseorang mempunyai presepsi mengenai penilaian orang lain terhadap orang lain terhadap penampilannya.

Tahap ketiga, seseorang mempunyai perassaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu. Contohnya :

seseorang cenderung memperoleh nilai rendah misalnya 5 atau 4 dalam ujian- ujian semesternya, misalnya bahwa para guru di sekolahnya menganggapnya ia bodoh. Ia merasa pula bahwa karena ia dinilai bodoh maka ia kurang di hargai para gurunya. Karena merasa kurang di hargai, siswa tersebut menjadi murung. Jadi disini perasaan diri sendiri seseorang merupakan pencerminan diri penilaian orang lain (looking-gass self).

Salah satu peranan dikaitkan dengan sosialisasi oleh teori George Herbert Mead dalam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind, Self, and Society (1972), Mead menguraikan tahap-tahap pengembangan secara bertahap melalui interaksi dengan anggita masyarajat lain. Menurut Mead pengembangan diri manusia ini berlangsung melalui beberapa tahap play stage, tahap game stage, dan tahap generalized other.

1. Play stage : seseorang mulai belajar mengambil pernana orang-orang yang berada di sekitarnya atau bisa di sebut tahap meniru.

2. Game stage : anak tidak hanya telah mengetahui peranan yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.

3. Generalized other : seseorang diangap telah mampu mengambil pernan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat.

Sosialisasi

merupakan

proses

yang

berlangsung

sepanjang

hidup

manusia. Dalam kaitan inilah para pakar berbicara mengenai bentuk-bentuk

sosialisasi.

Seperti sosialisasi setelah masa kanak-kanak, pendidikan sepanjang hidup, atau pendidikan berkesinambungan.

Light et al. (1989 : 130) mengumumkan bahwa setekah sosialisasi dini yang dinamakan sosialisasi primer kita jumpai sosialisasi sekunder.

Berger dan luckmann (1967) mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil melalui mana ia menjadi anggota masyarakat.

Sedangkan sosialisasi sekunder mereka mendefinisikan sebagai proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasikan kedalam sektor bary dari dunia objektif masyarakatnya.

Sosialisasi perimer berakhir apabila konsep tentang orang lain pada umumnya telah berentuk dan tertanam dalam kesadaran individu.

Karena manusia adalh mahluk sosial, mereka berinteraksi dengan yang lain tidak selamanya interaksi itu berjalan dengan baik, terkadang menimbulkan hal-ha lain yang negatif.

Sifat-sifat

(lrejudice).

negatif

yangs

ering

ditampilkan

itu

disebut

prasangka

Prasangka merupakan suatu istilah yang mempunyai berbagai makna. Namun dalam keitannya dengan hubungan antarkelompok istilah ini mengacu pada sikap permusuhan yang ditujukan terhadap suatu kelompok tersebut mempunyai ciri-ciri yang tudak menyenangkan.

Orang yang berprasangka bersifat tidak rasional dan berada di bawah sadar sehingga sukar diubah meskipun orang yang berprasangka tersebut diberi penyuluhan.

Keluarga

Kelarga adalah unit/satuan masyarakat terecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat.[4] Keluarga merupakan sebuah grup yang terbentuk dari perhimpunan laki laki dan perempuan yang berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak anaknya. Jadi keluarga dalam bentuk yang murni merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari suami istri dan anak anak yang belum dewasa.

Fungsi Keluarga

1. Fungsi Hubungan Seksual

Mengenai fungsi seksual dalam keluarga dapat di kemukakan bahwa, privilage seksual yang diberikan kepada dua orang suami istri. Itu memperkokoh hubungan mereka didalam keluarga keluarga inti terseut di dalam melaksanakan fungi seksual dalam keluarga, tiap tiap masyarakat menyusun tata tertib berdasarkan atas nilai nilai sosial budaya dan faktor kebtuhan biologis.

2. Fungsi Ekonomi

Untuk kegiatanhidupnya keluarga harus mengusahakan penghidupannya. Di dalam masyarakat yang sederhana, pembagian kerja dalam kerjasama ekonomi dilakukan antara anggota keluarga. Tugas anggota keluarga dan kerjasama ekonomi itu pada umumnya saling melengkapi. dan pembagian tugas serta pekerjaan yang di lakukan oleh anggota anggota keluarga seperti suami istri. Khususnya oleh para wanita pada umumnya lebih banyak ditentukan oleh faktor kebudayaan dari pada kondisi fisik maupun psikologi.

3.

Fungsi Reproduksi

Dorongan dasar dari manusia untuk melangsungkan kehidupan jenisnya menimbulkan basic needs untuk menimbulkan daya tarik seks, percintaan, pengorbanan menimbulkan seksual yang kemudian dapat menghasilkan keturunan.

4. Fungsi Edukasi

Dari lingkungan keluarga tersebut anak belajar berbahasa, mengumpulkan pengertian pengertian dan menggunakan nilai nilai kebudayaan yang berlaku. Dia akan dibebankan dalam keluarga pada masa kanak kanak di sesuaikan dengan daya tangkap dan sifat sifat emosionalnya.

Masyarakat

Menurut WJs. Poerwodarmato masyarakat adalah pergaulan hidup manusia dalam suatu tempat dengan ikatan ikatan dan aturan tertentu. Sedangkan menurut linton, masyarakat itu timbul dari setiap kumpulan individu individu yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama. Dalam wakatu yang lama itu kelompok manusia yang belum terorganisasi mengalami proses fundamental yaitu adaptasi dan organisasi dari tingkah laku dari anggota anggota.

Dapat disimpulkn bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang telah lama bertempat tinggal disuatau daerah tertentu dan mempunyai aturan yang mengatur tata hidup mereka untuk menuju kepeda tujuan yang sama.

Unsur Unsur Terbentknya Masyarakat :

1. Harus ada kelompok (perkumpulan) manusia dan harus bayak jumlahnya dan bukan mengumpulkan binatang.

2. Telah berjalan dalam waktu yang lama dan bertempat tinggal dalam daerah tertentu.

3. Adanya aturan (undang undang) yang mengatur mereke bersama

Faktor Faktor Yang Mendorong Manusia Hidup Bersama :

1. Adanya dorongan seksual yaitu dorongan manusia untuk mengembangkan keturunan atau jenisnya.

2. Adanya kenyataan bahwa manusia itu adalah seibu tidak bisa atau sebegai makhluk lemah. Karena itu mendesak atau mencari kekuatan bersama yang terdapat dalam perserikatan dengan orang lain sehingga mereka berlindung bersama sama dan mengejar kebutuhan hidup sehari hari.

3. Adanya kesamaan keturunan, kesamaan teritorial, kesamaan nasib, kesamaan keyakinan/cita cita serta kesamaan kebudayaan.

Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat dapat di golongkan menjadi masyrakat sederhana dan masyarakat maju.

1. Masysarakat Sederhana

Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cendrung di bedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja menurut jenis

kelamin tampaknya ada latar belakang kelemahan dan kemampuan seorang wanita dan pria dalam menghadapi tantangan alam yang buas pada saat itu.

2. Masyarakat Maju

Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial atau lebih akrab dengan organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang ingin di capai organisasi kemasyarakatan itu.

Dalam masyarakat maju dapat di kelompokkan menjadi masyarakat industri, dan non indutri.

3.

Masyarakat industri

Pembagian kerja sebagai dasar untuk mengklasifikasikan masyarakat sesuai dengan taraf pekembangannya.

Jika pembagian kerja bertambah kompleks suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antar kelompok masyarakat. Dan kelompok itu sendiri terbagi atas 2, antara lain:

a. Kelompok primer

Adalah kelompok yang ditandai ciri ciri saling mengenal antar anggota anggotanya serta kerja sama erat dan bersifat pribadi, sebagai salah satu hasil hubungan yang erat dan bersifat pribadi adalah peleburan indiviu individu dalam suatu kelompok sehingga tujujuan individu adalah tujuan kelompok.

b. Kelompok Sekunder

Adalah kelompok yang tidak saling mengenal dalam hubungan secara langsung.

4. Masyarakat Non Indstri

a. Kelompok primer

Dalam kelompok primer. Interaksi antar anggota terjalin lebih erat , akrab. Kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati, serta menjalankan idak secara paksa atau sesuai kepada kasadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar simpati dan secara sukarela.

b. Kelompok sekunder

Para anggota menerima pembagian tugas atas dasar kemampuan dan keahlian tertentu. Hal hal semacam itu diperukan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah diflot dalam program yang telah sama sama disepakati.

1.4 Peran Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial dalam Kehidupan Sehari-Hari

Setelah melihat penjabaran tentang manusia di atas, sekarang mari kita melihat bagaimana dengan penerapannya di kehidupan sehari-hari. Sebagaimana pengertian manusia sebagai makhluk individu yang memiliki unsur-unsur yang antara lain: jasmani, rohani, fisik, psikis, raga dan jiwa. Merupakan unsur yang ada dalam diri individu yang tidak terbagi dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, jadi untuk perannya dalam kehidupan sehari-hari unsur- unsur ini tentunya penting untuk selalu dijaga sebagai sebuah kesatuan utuh. Jika berhasil memanfaatkan unsur-unsur tersebut dengan sebaik-baiknya tentunya manusia itu bisa hidup sebagai seorang individu yang sempurna.

Sebagai seorang individu juga manusia dibekali dengan faktor-faktor pendukung antara lain: faktor genotif yang merupakan faktor bawaan sejak individu tersebut lahir (keturunan) dan faktor fenotif yang merupakan faktor karena pengaruh lingkungan di mana individu tersebut tinggal. Akibat dari kedua faktor ini tumbuhlah sebuah kepribadian / karateristik seorang individu yang membedakan dia dari individu yang lainnya. Dalam hal ini perannya sudah nampak jelas, dengan ini seorang individu itu bisa dikenal dan dihargai sebagai dirinya sendiri. Kepribadian juga menjadi acuan penempatannya / posisinya di masyarakat.

Dan jika melihat peran manusia sebagai makhluk sosial, tentunya tidak terlepas dari sifat alami manusia yang tak mungkin hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Peran dalam hal dapat terlihat dengan bersosialisasi manusia jadi bisa memenuhi kebituhan pokoknya untuk tetap berinteraksi dengan manusia lain.

Manusia sebagai looking glass self, sebagai manusia yang selalu di pengaruhi oleh manusia lain. Dari sini kita lihat peran manusia sebagai makhluk sosial adalah sebagai cermin bagi orang lain, alias jadi bahan acuan orang lain untuk menilai tentang dirinya sendiri. Penting untuk tidak membuat orang lain terlalu kecewa dengan dirinya sendiri karena kita.

Juga dari hubungan sosial ini bisa menjadikan sebuah masyarakat yang tertib dan teratur karena hubungan manusia satu dengan manusia lainnya tentunya sebelumnya mereka mereka menyetujui sebuah norma dan peraturan yang akan mereka patuhi bersama.

sebagai

makhluk sosial, dengan adanya sosialisasi dengan manusia lain dapat

menumbuhkan potensi diri menjadi lebih baik.

Dan

terakhir

dari

peran

manusia

terhadap

sifat

manusia

1.1 Kesimpulan

Bab 3

Penutup

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.

Individu (individuum = Latin, in- divided = Inggris) berarti tidak terbagi dan satu kesatuan. Unsur-unsur makhluk Individu: jasmani, rohani, fisik, psikis, raga dan jiwa. Merupakan unsur yang ada dalam diri individu yang tidak terbagi dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Perannya dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menerapkan semua teori tersebut untuk menciptakan sebuah pribadi atau individu yang dapat memanfaatkan seluruh unsur-unsur makhluk individu dengan sebaik- baiknya.

Hakekatnya, manusia tidak bisa hidup tanpa melakukan interaksi dengan manusia lain. Manusia sebagai looking glass self, sebagai manusia yang selalu di pengaruhi oleh manusia lain.

Perannya sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk selalu dapat berinteraksi baik dengan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan, sebagai cerminan diri, pengatur kehidupan, dan pengembang potensi diri.