Anda di halaman 1dari 6

Tugas AKSP Kelompok 5

SPI itu gimana ?


Definisi SPI Berikut ini definisi Sistem Pengendalian Intern (SPI) yaitu: 1. PP nomor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, SPI adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh manajemen yang diciptakan untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam pencapaian efektivitas, efisiensi, ketaatan terhadap peraturan perundang- undangan yang berlaku, dan keandalan penyajian laporan keuangan Pemerintah. 2. PP nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, SPI adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sedangkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah Sistem Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 3. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 4 tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, SPI adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh manajemen yang diciptakan untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam pencapaian efektivitas, efisiensi, ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan keandalan penyajian laporan keuangan. Tujuan SPIP seperti yang diamanatkan dalam pasal 2 ayat (3) PP nomor 60 tahun 2008 adalah untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Tahapan pemeriksaan SPI Tahapan pemeriksaan terhadap SPI yang dilakukan BPK, yaitu: 1. Tahap pemahaman, pemeriksa BPK RI melakukan kajian terhadap pengendalian intern yang diterapkan oleh satuan kerja dalam menjalankan kegiatannya secara efektif dan efisien serta mengkaji kemungkinan terjadinya kesalahan dan kecurangan akibat lemahnya pengendalian. 2. Tahap pengujian SPI, yaitu pengujian terhadap efektivitas desain SPI dan implementasinya pada seluruh unsur yang ada dalam satu satuan kerja. Pengujian desain SPI dilaksanakan dengan mengevaluasi apakah SPI telah didesain secara memadai dan dapat meminimalisasi secara relatif salah saji dan kecurangan. Sedangkan pengujian implementasi SPI dilakukan dengan

melihat pelaksanaan pengendalian pada kegiatan atau transaksi yang dilakukan oleh pihak yang terperiksa. 3. Tahap penyusunan laporan hasil pemeriksaan SPI, yang dilakukan hanya jika terdapat temuan tentang kelemahan SPI pada satuan kerja yang bersangkutan. Sebagaimana telah dibahas di atas, bahwa pemeriksaan SPI diawali dengan memahami SPI auditi terlebih dahulu untuk mengetahui keandalan dan risiko pengendalian sebagai bahan penentuan sifat, luas, dan waktu pemeriksaan. Jika setelah dilakukan pengujian, diketahui SPI tidak memadai, maka resiko pengendalian tinggi sehingga ruang lingkup pengujian substantif perlu diperluas dengan sampel audit yang lebih besar. Jika SPI telah memadai, maka pertanyaan selanjutnya adalah: 1. apakah laporan keuangan yang telah disusun telah disajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 2. Apakah penerapan SPI tersebut telah mampu meminimalisir penyimpangan dan kesalahan penyajian laporan keuangan. Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut merupakan salah satu bahan bagi pemberian opini atas hasil pemeriksaan laporan keuangan. Bilamana SPI yang diterapkan belum mampu meminimalisir terhadap terjadinya penyimpangan, kesalahan penyajian, dan bernilai cukup materialitas, maka SPI memberikan kontribusi signifikan terhadap pemberian opini hasil pemeriksaan. Kelemahan SPI tersebut diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan yang memuat opini atas kewajaran laporan keuangan sebagai alasan pemberian opini. Pengungkapan temuan SPI Laporan atas pengendalian intern harus mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian intern atas pelaporan keuangan yang dianggap sebagai kondisi yang dapat dilaporkan, sebagaimana dinyatakan dalam SPKN. Pengungkapan temuan pengendalian intern yang perlu dilaporkan, dilakukan sebagai berikut. 1. Apabila temuan pengendalian intern tersebut secara material berpengaruh pada kewajaran laporan keuangan, pemeriksa mengungkapkan uraian singkat temuan tersebut dalam LHP yang memuat opini atas kewajaran laporan keuangan sebagai alasan pemberian opini. 2. Pengungkapan semua temuan pengendalian intern secara terinci dilaporkan dalam Laporan atas Pengendalian Intern dalam Kerangka Pemeriksaan laporan keuangan. Kondisi yang dilaporkan Beberapa contoh kondisi yang dapat dilaporkan adalah sebagai berikut.

1. Tidak ada pemisahan tugas yang memadai sesuai dengan tujuan pengendalian yang layak. 2. Tidak ada reviu dan persetujuan yang memadai untuk transaksi, pencatatan akuntansi atau output dari suatu sistem. 3. Tidak memadainya berbagai persyaratan untuk pengamanan aktiva. 4. Bukti kelalaian yang mengakibatkan kerugian, kerusakan atau penggelapan aktiva. 5. Bukti bahwa suatu sistem gagal menghasilkan output yang lengkap dan cermat sesuai dengan tujuan pengendalian yang ditentukan oleh entitas yang diperiksa, karena kesalahan penerapan prosedur pengendalian. 6. Bukti adanya kesengajaan mengabaikan pengendalian intern oleh orang-orang yang mempunyai wewenang, sehingga menyebabkan kegagalan tujuan menyeluruh sistem tersebut. 7. Bukti kegagalan untuk menjalankan tugas yang menjadi bagian dari pengendalian intern, seperti tidak dibuatnya rekonsiliasi atau pembuatan rekonsiliasi tidak tepat waktu. 8. Kelemahan dalam lingkungan pengendalian, seperti tidak adanya tingkat kesadaran yang memadai tentang pengendalian dalam organisasi tersebut. 9. Kelemahan yang signifikan dalam disain atau pelaksanaan pengendalian intern yang dapat mengakibatkan pelanggaran ketentuan peraturan perundang- undangan yang berdampak langsung dan material atas laporan keuangan. 10. Kegagalan untuk melakukan tindak lanjut dan membentuk sistem informasi pemantauan tindak lanjut untuk secara sistematis dan tepat waktu memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pengendalian intern yang sebelumnya telah diketahui. Dalam melaporkan kelemahan pengendalian intern atas pelaporan keuangan, pemeriksa harus mengidentifikasi kondisi yang dapat dilaporkan yang secara sendiri-sendiri atau secara kumulatif merupakan kelemahan yang material. Pemeriksa harus menempatkan temuan tersebut dalam perspektif yang wajar. Untuk memberikan dasar bagi pengguna laporan hasil pemeriksaan dalam mempertimbangkan kejadian dan konsekuensi kondisi tersebut, hal-hal yang diidentifikasi harus dihubungkan dengan hasil pemeriksaan secara keseluruhan. Masih terdapat satu hal lagi yang membuat SPI berpengaruh bagi pemberian opini yaitu bilamana pemeriksa BPK RI telah menemukan adanya temuan kelemahan pengendalian intern yang secara material berpengaruh pada kewajaran laporan keuangan, temuan tersebut telah disampaikan kepada entitas terperiksa bersama ikhtisar koreksi, namun entitas menolak untuk melakukan koreksi atau entitas bersedia melakukan koreksi namun BPK tetap tidak dapat meyakini kewajaran akun yang bersangkutan atau keseluruhan laporan keuangan berdasarkan koreksi tersebut.

Penurunan Opini Sebagai contoh dalam pembahasan pengaruh SPI terhadap penilaian opini BPK adalah penurunan opini BPK

Bagaimana penentuan materialitas?


Materialitas Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan tersebut. Definisi tersebut mengakui pertimbangan materialitas dilakukan dengan memperhitungkan keadaan yang melingkupi dan perlu melibatkan baik pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. Tingkat materialitas diukur terhadap: 1. Tolerable Error (TE) yaitu tingkat materialitas terhadap suatu akun hanya mempunyai konsekuensi maksimal pengecualian terhadap akun tertentu tersebut (apabila tidak dapat dilakukan koreksi). Akan tetapi hal ini tidak berpengaruh terhadap penyajian LK secara keseluruhan; 2. Planning Materiality (PM) yaitu tingkat materialitas yang mempunyai konsekuensi maksimal terhadap laporan keuangan secara keseluruhan (apabila tidak dapat dilakukan koreksi). Sebuah salah saji dapat dikatakan material apabila kesalahan penyajian tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh pengguna laporan. Dalam penerapan konsep materialitas ini, terdapat tiga tingkatan nilai yang digunakan untuk menentukan jenis opini yang akan diterbitkan. 1. Tidak Material Kesalahan penyajian dapat terjadi tetapi salah saji tersebut tidak mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh pengguna laporan keuangan. Klasifikasi tidak material ini biasanya menyangkut jumlah-jumlah salah saji yang kecil apabila dibandingkan dengan nilai batas tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi (TE). 2. Material tetapi tidak mempengaruhi keseluruhan penyajian laporan keuangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi

Kesalahan penyajian dapat mempengaruhi keputusan seorang pengguna laporan keuangan, tetapi secara keseluruhan laporan keuangan tetap disajikan secara wajar dan tetap dapat digunakan. Sebagai contoh, bila diketahui terdapat kesalahan penyajian aktiva tetap yang bernilai cukup besar, hal ini kemungkinan dapat mempengaruhi pengguna laporan keuangan,

misalnya DPRD, untuk membuat keputusan penganggaran. Namun,salah saji tersebut tidak memiliki pengaruh menyeluruh pada kewajaran laporan keuangan, karena dampaknya hanya terjadi pada akun tersebut. 3. Sangat material sehingga mempengaruhi kewajaran penyajian seluruh laporan keuangan Tingkat materialitas tertinggi terjadi apabila terdapat probabilitas yang sangat tinggi bahwa pengguna laporan keuangan akan membuat keputusan yang tidak benar jika dalam pembuatan keputusannya didasarkan pada informasi yang dihasilkan dari keseluruhan laporan keuangan. Pada tingkat ini, salah saji yang terjadi dikatakan sebagai pervasive. Contoh, apabila salah saji terjadi terkait dengan transaksi Kas di Kas Daerah yang jumlahnya sangat besar, maka salah saji tersebut memiliki pengaruh terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan sehingga pengguna laporan keuangan dapat membuat keputusan yang salah. Dalah hal ini, transaksi pendapatan memiliki pengaruh yang besar pada laporan keuangan karena menyangkut akun lain seperti SiLPA. Saat menentukan tingkat materialitas dari suatu kesalahan penyajian, auditor juga harus mempertimbangkan seberapa besar pengaruh salah saji tersebut terhadap bagian-bagian laporan keuangan lainnya. Pengaruh semacam ini disebut sebagai tingkat resapan atau rembetan (pervasiveness). Suatu salah saji dikatakan pervasive apabila salah saji tersebut memiliki pengaruh pada akun lain. Pertimbangan atas pervasive dapat didasarkan pada 3 faktor berikut. 1. Kompleksitas Kompleksitas akun diukur dari tingkat pengaruh akun tersebut terhadap akun lain dalam laporan keuangan. Beberapa akun dalam laporan keuangan menurut sifatnya memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena pengaruhnya pada akun lain. 2. Proporsi Tidak ada ukuran baku yang menjadi besaran proporsi yang bersifat substansial karena ini lebih didasarkan pada pertimbangan auditor. Untuk memudahkan penilaian auditor bisa menetapkan kebijakan mengenai batasan proporsi yang dianggap fundamental, misanya 20% dari total akun yang diperiksa, maka bisa dianggap berpegaruh secara keseluruhan secara kuantitatif. 3. Pengungkapan yang bersifat fundamental Pengungkapan dikatakan fundamental apabila dapat memengaruhi pengguna laporan keuangan membuat keputusan atau penilaian yang berbeda apabila tidak diungkapkan.

bisa juga lihat KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGANREPUBLIK INDONESIANOMOR 05/K/1-III.2/5/2008 ttg Petunjuk Teknis Penetapan Batas Materialitas Pemeriksaan Keuangan di bab 3 nya