Anda di halaman 1dari 156

LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN (LKPP)

LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS SCL

Judul : PEMBELAJARAN BERBASIS SCL PADA MATA KULIAH BIOKIMIA NUTRISI oleh : Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP.

Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Hasanuddin sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Nomor : 469/H4.23/PM.05/2008 Tanggal 04 Februari 2008

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN FEBRUARI 2008

LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN (LKPP) Lantai Dasar Gedung Perpustakaan Universitas Hasanuddin

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN PROGRAM TRANSFORMASI DARI TEACHING KE LEARNING UNIVERSITAS HASANUDDIN 2008

Judul Nama Lengkap NIP Pangkat/Golongan Jurusan Fakultas/Universitas Jangka Waktu Kegiatan Biaya

: PEMBELAJARAN BERBASIS SCL PADA MATA KULIAH BIOKIMIA NUTRISI : Dr.Ir. Siti Aslamyah, MP. : 132 051 759 : Lektor/III D : Perikanan : Ilmu Kelautan dan Perikanan/Universitas Hasanuddin : 1 (satu) Bulan Mulai 04 Januari 2008 s/d 04 Februari 2008 : Rp. 4.000.000,- (Empat Juta Rupiah) Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Hasanuddin sesuai dengan surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Nomor : 469/H4.23/PM.05/2008, tanggal 04 Januari 2008

Makassar, 04 Februari 2008 Mengetahui : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin An. Dekan,

Pembuat Modul,

Dr. Ir. Dody Dharmawan Trijuno, M.App.Sc NIP 131 846 404 .

Dr.Ir. Siti Aslamyah, MP. NIP 132 051 759

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan karuniaNya sehingga laporan modul pembelajaran berbasis SCL pada matakuliah Biokimia Nutrisi berhasil diselesaikan. Jangka waktu kegiatan kurang lebih sebulan sejak bulan Januari sampai Februari 2008. Upaya untuk menghasilkan luaran menjadi manusia yang adaptif, yaitu manusia yang mampu beradaptasi dan berubah secara berkelanjutan dan, tidak dapat mengandalkan format pendidikan konvensional yang berbasis pada pendekatan pengajaran (teaching approach). Akan tetapi, diperlukan suatu pendekatan pembelajaran dimana mahasiswa tidak hanya dibekali substansi pengetahuan, tetapi juga dibekali dengan teknik atau metode pembelajaran agar nantinya mampu beradaptasi dan berubah secara berkelanjutan (constant learning). Rencana pelaksanaan perkuliahan dengan metode Student Center Learning (SCL) diharapkan dapat berjalan dengan baik setelah tersedianya fasilitas pembelajaran berupa modul untuk setiap materi pembelajaran pada mata kuliah biokimia nutrisi. Dengan demikian, modul-modul tersebut diharapkan menjadi pegangan mahasiswa untuk melakukan diskusi dan membuat tugas yang diberikan fasilitator. Selesainya laporan modul ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Melalui prakata ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ketua, sekretaris, dan staf Lembaga Kajian dan Pengembangan pendidikan Unhas. 2. Staf pengajar terutama Tim pengajar matakuliah Biokimia Nutrisi di Program Studi Budidaya, jurusan Perikanan, Fakuktas ilmu kelautan dan perikanan.. 3. Semua pihak atas kerjasamanya selama penulis mengikuti pelatihan pembelajaran berbasis SCL. Penulis berharap modul pembelajaran yang penulis susun ini dapat diterapkan oleh anggota tim pengajar agar mempermudah dalam proses pembelajaram. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan dalam rangka perbaikan mutu akademik di jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin. Mohon kiranya dapat memberi saran dan kritik kepada penulis agar metoda pembelajaran ini menjadi lebih baik dan menarik. Semoga modul mata kuliah biokimia nutrisi ini bermanfaat, khususnya bagi mahasiswa budidaya perairan. Makasaar, Februari 2008 Penulis

RINGKASAN Ilmu biokimia bertujuan untuk mempelajari sifat-sifat zat-zat kimia yang terdapat dalam jasad hidup, senyawa yang diproduksi, serta fungsi dan transformasi zat-zat kimia tersebut, selanjutnya menelaah transformasi tersebut berhubungan dengan aktivitas kehidupan. Dengan demikian, pemahaman tentang bagaimana kumpulan zat tak hidup bercampur, bereaksi, dan berinteraksi menghasilkan zat yang disebut hidup, merupakan dasar dalam mempelajari organisme sebagai zat hidup yang utuh. Hal penting lain yang perlu dipahami, keterkaitan zat-zat tak hidup tersebut dengan kebutuhan zat gizi atau nutrisi. Oleh karena itu, mata kuliah ini adalah mata kuliah dasar di program studi

budidaya perairan dan merupakan mata kuliah prasyarat untuk mengambil mata kuliah nutrisi kultivan dan teknologi manajemen pakan. Pokok bahasan mata kuliah meliputi pendahuluan, logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, protein, vitamin, mineral, asam nukleat, enzim, dan metabolisme energi. Sub-pokok bahasan pada modul pendahuluan informasi kontrak dan rencana pembelajaran, keterkaitan mata kuliah dengan kompetensi lulusan, dan ruang lingkup mata kuliah. Sub-pokok bahasan pada modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan meliputi sifat khusus benda hidup, makromolekul organik pada organisme hidup, sel, fungsi biomolekul dalam sel, serta keterkaitan biomolekul dengan zat gizi pakan dan proses nutrisi dalam tubuh ikan. Sub-pokok bahasan pada modul karbohidrat adalah struktur karbohidrat, fungsi karbohidrat, penggolongan karbohidrat, biokimia penting karbohidrat, dan metabolisme karbohidrat meliputi glikolisis, siklus asam sitrat, sistem transpor elektron, glikogenesis, dan glukoneogenesis Sub-pokok bahasan pada modul lipida adalah struktur lipida, fungsi lipida, pengelompokan lipida, sifat-sifat lipida, dan metabolisme lipida meliputi lipolisis dan lipogenesis. Sub-pokok bahasan pada modul protein adalah struktur protein, fungsi protein, penggolongan protein, struktur asam amino, fungsi asam amino, penggolongan asam amino, struktur peptida, dan metabolisme protein meliputi katabolisme dan sintesa protein

Sub-pokok bahasan pada modul vitamin meliputi pengelompokan vitamin, vitamin sebagai koenzim, peran vitamin dalam metabolisme, metabolisme vitamin yang larut dalam air, dan metabolisme vitamin yang larut dalam lemak. Sub-pokok bahasan pada modul mineral meliputi penggolongan mineral, distribusi mineral dalam organ dan jaringan, absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral, serta fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh. Sub-pokok bahasan pada modul asam nukleat meliputi struktur asam nukleat, jenis dan fungsi asam nukleat, peran asam nukleat dalam sintesa protein, serta peran asam nukleat sebagai koenzim. Sub-pokok bahasan pada modul enzim meliputi struktur dan fungsi enzim, penggolongan enzim, enzim sebagai protein, sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim, kinetika reaksi enzim, serta faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim. Sub-pokok bahasan pada modul terakhir pada mata kuliah biokimia nutrisi adalah metabolisme energi meliputi konsep bioenergetika, anabolisme dan katabolisme, tahapan pembentukan energi dari makanan, energi bebas dan perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik, senyawa-senyawa berenergi tinggi, dan pengontrolan metabolisme.

PETA KEDUDUKAN MODUL 10. Metabolisme energi


Konsep bioenergetika Anabolisme dan katabolisme Tahapan pembentukan energi dari makanan Energi bebas dan perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik Senyawa-senyawa berenergi tinggi Pengontrolan metabolisme

08. Asam nukleat


Struktur asam nukleat Jenis dan fungsi asam nukleat. Peran asam nukleat dalam sintesa protein Peran asam nukleat sebagai koenzim

09. Enzim 05. Protein


Struktur protein Fungsi protein Penggolongan protein Struktur asam amino Fungsi asam amino Penggolongan asam amino Struktur peptida Metabolisme protein Struktur dan fungsi enzim Penggolongan enzim Enzim sebagai protein Sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim Kinetika reaksi enzim Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim

07. Mineral 04. Lipida


Struktur lipida Fungsi lipida Pengelompokan lipida Sifat-sifat lipida Metabolisme lipida Penggolongan mineral Distribusi mineral dalam organ dan jaringan Absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral Fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh

03. Karbohidrat
Struktur karbohidrat Fungsi karbohidrat Penggolongan karbohidrat Biokimia penting karbohidrat Metabolisme karbohidrat

06. Vitamin
a. b. c. d. e. Pengelompokan vitamin Vitamin sebagai koenzim Peran vitamin dalam metabolisme Metabolisme vitamin yang larut dalam air Metabolisme vitamin yang larut dalam lemak

02. Logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan


Sifat khusus benda hidup Makromolekul organik pada organisme hidup Sel Fungsi biomolekul dalam sel Keterkaitan biomolekul dengan zat gizi pakan dan proses nutrisi dalam tubuh ikan

01. Pendahuluan
Informasi kontrak pembelajaran Keterkaitan mata kuliah dengan kompetensi lulusan Ruang lingkup mata kuliah

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................... KATA PENGANTAR.................................................................................................. RINGKASAN............................................................................................................... PETA KEDUDUKAN MODUL .................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................................ MODUL I ..................................................................................................................... MODUL II .................................................................................................................... MODUL III ................................................................................................................... MODUL IV ................................................................................................................... MODUL V .................................................................................................................... MODUL VI .................................................................................................................. MODUL VII ................................................................................................................. MODUL VIII ............................................................................................................... MODUL IX ................................................................................................................ MODUL X.................................................................................................................... i ii iii iv vi vii 1 6 15 26 39 53 62 68 79 98

LAMPIRAN : RANCANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS SCL Mata Kuliah : BIOKIMIA NUTRISI

LAPORAN

RANCANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS SCL

Matakuliah: Biokimia Nutrisi

Oleh

Oleh Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP

Program Studi: Budidaya Perairan Fakultas: Ilmu Kelautan dan Perikanan

Universitas Hasanuddin Makassar 14 September 2007 DAFTAR ISI

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sampul Halaman Pengesahan Daftar Isi Kompetensi Lulusan Kurikulum PS Rancangan Pembelajaran Matakuliah Tabel Rencana Penilaian Kinerja Mahasiswa Kontrak Pembelajaran Buku Panduan Kerja Keterampilan Buku Pegangan Tutor Buku Kerja Mahasiswa (Modul Praktikum) Lembar Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Lembar Konsultasi

Hal

1 2 3 5 8 18

26

KOMPETENSI LULUSAN PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

KELOMPOK KOMPETENSI KOMPETENSI UTAMA

No

RUMUSAN KOMPETENSI

ELEMEN KOMPETENSI a b c d e

Pengembangan kepribadian dan interaksi ilmiah Mengembangkan serta menerapkan ilmu dan teknologi Pakan kultivan (organisme akuakultur) pesisir

Rancang bangun prasarana dan sarana akuakultur bahari Pembenihan dan pembesaran kultivan pesisir Genetika dan pemuliabiakan kultivan pesisir Kemampuan melakukan Penanganan terhadap penyakit dan parasit ikan Manajemen kualitas air atau media kultivan pesisir Mampu mengembangkan teknologi budidaya perairan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan Mampu menerapkan teknologi budidaya perairan pantai yang efisien, berwawasan lingkungan, dan berorientasi pasar Menguasai dan terampil menerapkan ilmu dan teknologi budidaya perairan air tawar Mampu bekerjasama dalam satu tim Memiliki kemampuan komunikasi, leadership dan entrepreneurship Kemampuan untuk mengembangkan diri Mampu dan trampil menerapkan ilmu dan teknologi budidaya perairan, khususnya budidaya perairan

KOMPETENSI PENDUKUNG

10

11

12

13

KOMPETENSI LAINNYA

14

pantai 15 Mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi budidaya perairan pantai seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan pembangunan

ELEMEN KOMPETENSI :

a. b. c. d.

Landasan kepribadian Penguasaan ilmu dan keterampilan Kemampuan berkarya Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai e. Pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya

RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS KBK MATAKULIAH: BIOKIMIA NUTRISI

Kompetensi Utama: Kemampuan dalam menerapkan pengetahuan dasar proses biokimia nutrisi pada ikan (2) Kompetensi Pendukung: Mampu bekerjasama dalam satu tim (11) Memiliki kemampuan komunikasi, leadership, dan entrepreneurship (12) Kompetensi Lainnya (Institusial): Mampu dan terampil menerapkan ilmu dan teknologi budidaya perairan, khususnya budidaya perairan pantai (9)

MINGGU KE :

MATERI PEMBELA JARAN

BENTUK PEMBELA JARAN (Metode SCL)

KOMPETENSI AKHIR SESI PEMBELAJARAN

IN

Pendahuluan: informasi kontrak dan rencana pembelajaran, keterkaitan MK dengan kompetensi lulusan, ruang lingkup MK

Kuliah interaktif

Memahami aturan main, mampu menjelaskan keterkaitan MK dengan kompetensi lulusan, memahami ruang lingkup MK Mampu menjelaskan sifat khusus benda hidup, makromolekul organik pada organisme hidup, sel, fungsi biomolekul dalam sel, serta keterkaitan biomolekul dengan zat gizi pakan dan kebutuhan nutrisi dalam tubuh ikan Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan karbohidrat, biokimia penting karbohidrat, metabolisme karbohidrat meliputi glikolisis, siklus asam sitrat, sistem transpor elektron, glikogenesis, dan glukoneogenesis Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta pengelompokan lipida, sifat-sifat lipida, metabolisme lipida meliputi lipolisis dan lipogenesis Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan protein, struktur dan fungsi serta penggolongan asam amino, struktur peptida, metabolisme protein meliputi katabolisme dan sintesa protein

K ke m

Logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan

Kuliah+tugas kajian pustaka

K m ke kr ke p

3-4

Karbohidrat

Kuliah+kerja kelompok+diskusi+ tutorial

K in ke d

5-6

Lipida

Kuliah+kerja kelompok+diskusi+ tutorial

K in ke d

7-8

Protein

Kuliah+kerja kelompok+diskusi+ tutorial

K in ke d

9-10

Vitamin

Kuliah+kerja kelompok+diskusi+ tutorial .

Mampu menjelaskan pengelompokan vitamin, vitamin sebagai koenzim, peran vitamin dalam metabolisme, metabolisme vitamin yang larut dalam air, dan metabolisme vitamin yang larut dalam lemak Mampu menjelaskan penggolongan mineral, distribusi mineral dalam organ dan jaringan, absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral, fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh Mampu menjelaskan struktur, jenis, dan fungsi asam nukleat, peran asam nukleat dalam sintesa protein dan sebagai koenzim Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan enzim, enzim sebagai protein, sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim, kenetika reaksi enzim dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim Mampu menjelaskan konsep bioenergitika, anabolisme dan katabolismetahapan pembentukan energi dari makanan, , energi bebas dan perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik, senyawa-

K in ke d

11-12

Mineral

Kuliah+kerja kelompok+diskusi+ tutorial

K in ke d

13

Asam nukleat

Kuliah+tugas kajian pustaka

K m ke kr ke p K in ke d

14-15

Enzim

Kuliah+kerja kelompok+diskusi+ tutorial

16

Metabolisme energi

Kuliah+tugas kajian pustaka

K m ke kr ke p

senyawa berenergi tinggi, dan pengontrolan metabolisme

NAMA MATA KULIAH: BIOKIMIA NUTRISI KODE/NAMA DOSEN: Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP.

JUMLAH PESERTA: 35 Orang JURUSAN: PERIKANAN EVALUASI KOMPETENSI AKHIR SESI PEMBELAJARAN
No NIM NAMA MAHASISWA Memahami aturan main, mampu menjelaskan keterkaitan MK dengan kompetensi lulusan, memahami ruang lingkup MK (10%) Keaktifan Kemampuan menjelaskan Mampu menjela makromolekul o sel, fungsi b keterkaitan biom dan kebutuhan Kemampuan K menjelaskan k

EVALUASI KOMPETENSI AKHIR SESI PEMBELAJARAN


No NIM NAMA MAHASISWA Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan karbohidrat, biokimia penting karbohidrat, metabolisme karbohidrat meliputi glikolisis, siklus asam sitrat, sistem transpor elektron, glikogenesis, dan glukoneogenesis (10%) Kelengkapan Kerjasama informasi kelompok Keaktifan dan kreativitas Mampu m serta pe lipida, me

Kelengkap informasi

EVALUASI KOMPETENSI AKHIR SESI PEMBELAJARAN


No NIM NAMA MAHASISWA Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan protein, struktur dan fungsi serta penggolongan asam amino, struktur peptida, metabolisme protein meliputi katabolisme dan sintesa protein (10%) Kelengkapan Kerjasama informasi kelompok Keaktifan dan kreativitas Mampu vitam peran metabo air, dan m

Kelengka informasi

EVALUASI KOMPETENSI AKHIR SESI PEMBELAJARAN


No NIM NAMA MAHASISWA Mampu menjelaskan penggolongan mineral, distribusi mineral dalam organ dan jaringan, absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral, fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh (10%) Kelengkapan Kerjasama informasi kelompok Keaktifan dan kreativitas Mampu m fungsi asam dalam s

Kemampua menjelaska

EVALUASI KOMPETENSI AKHIR SESI PEMBELAJARAN


No NIM NAMA MAHASISWA Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan enzim, enzim sebagai protein, sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim, kenetika reaksi enzim dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim (10%) Mam bioen kataboli energi dari perangka endergonik tinggi, da

Kelengkapan Kerjasama informasi kelompok

Keaktifan dan kreativitas

Kemampua menjelaska

KONTRAK PEMBELAJARAN

Nama Mata Kuliah: Biokimia nutrisi Pembelajar: Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP. Semester: IV Hari Pertemuan/Jam: Rabu/ 13.50 15.30 Tempat Pertemuan: LT 1

1. MANFAAT MATA KULIAH

Pertumbuhan ikan atau hewan akuatik lainnya sangat ditentukan oleh adanya keseimbangan asupan nutrisi pakan dan kebutuhan metabolisme tubuh. Asupan nutrisi pakan yang kurang berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan metabolisme tubuh, sebaliknya asupan nutrisi pakan yang berlebih menyebabkan ketersedian nutrien melebihi kebutuhan metabolisme sehingga tidak efisien dan berpengaruh pada kualitas media budidaya. Mata kuliah ini, juga menunjang pencapaian salah satu tujuan khusus program studi budidaya perairan yaitu menjadikan luaran yang mempunyai kompetensi dalam hal mengembangkan serta menerapkan ilmu dan teknologi pakan kultivan (organisme akuakultur) pesisir Oleh sebab itu, mata kuliah ini ditawarkan untuk membantu mahasiswa memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang biokimia nutrisi yang dapat digunakan dalam pekerjaannya, terutama dalam manajemen dan teknologi pakan

2. DESKRIPSI MATA KULIAH

Mata kuliah ini membahas tentang logika molekul organime hidup, kebutuhan dan metabolisme nutrisi ikan, konsep biokimia dan faktor-faktor yang meregulasi metabolisme energi dalam tubuh hewan akuatik.

3. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa diharapkan : Memahami aturan main, mampu menjelaskan keterkaitan MK dengan kompetensi lulusan, memahami ruang lingkup MK Mampu menjelaskan sifat khusus benda hidup, makromolekul organik pada organisme hidup, sel, fungsi biomolekul dalam sel, serta keterkaitan biomolekul dengan zat gizi pakan dan kebutuhan nutrisi dalam tubuh ikan Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan karbohidrat, biokimia penting karbohidrat, metabolisme karbohidrat meliputi glikolisis, siklus asam sitrat, sistem transpor elektron, glikogenesis, dan glukoneogenesis Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta pengelompokan lipida, sifatsifat lipida, metabolisme lipida meliputi lipolisis dan lipogenesis Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan protein, struktur dan fungsi serta penggolongan asam amino, struktur peptida, metabolisme protein meliputi katabolisme dan sintesa protein Mampu menjelaskan pengelompokan vitamin, vitamin sebagai koenzim, peran vitamin dalam metabolisme, metabolisme vitamin yang larut dalam air, dan metabolisme vitamin yang larut dalam lemak Mampu menjelaskan penggolongan mineral, distribusi mineral dalam organ dan jaringan, absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral, fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh Mampu menjelaskan struktur, jenis, dan fungsi asam nukleat, peran asam nukleat dalam sintesa protein dan sebagai koenzim Mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan enzim, enzim sebagai protein, sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim, kenetika reaksi enzim dan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim Mampu menjelaskan konsep bioenergitika, anabolisme dan katabolismetahapan pembentukan energi dari makanan, , energi bebas dan perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik, senyawa-senyawa berenergi tinggi, dan pengontrolan metabolisme

4. ORGANISASI MATERI

10. Metabolisme energi

08. Asam nukleat

09. Enzim

05. Protein 07. Mineral 04. Lipida 06. Vitamin 03. Karbohidrat

02. Logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan

01. Pendahuluan

5. STRATEGI PEMBELAJARAN

Metode perkuliahan yang digunakan pada mata kuliah ini adalah metode ceramah/kuliah, kajian pustaka, kerja kelompok, presentase, diskusi, dan tutorial. Ceramah dilakukan selama satu jam perkuliahan dan dilanjutkan dengan presentase dan diskusi selama satu jam perkuliahan, sedangkan kajian pustaka, kerja kelompok, dan tutorial dilakukan diluar jadwal perkuliahan. Selain itu, mahasiswa juga wajib mengikuti praktikum sebanyak satu kali seminggu selama dua jam.

6. MATERI/BAHAN BACAAN

Brody S. 1974. Bioenergetics and Growth with Special Reference to Efficiency Complex in Domestic Animals. London: Collier-McMillan Publ. Hepher B. 1990. Nutrition of Pond Fishes. New York: Cambridge University Press. Houlihan D, Bounjard T, Jobling M. 2001. Food Intake in Fish. Oxford : Osney Mead, Blackwell Science Ltd. Lehninger. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M., penerjemah. .Jakarta : Penerbit Erlangga. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 1999. Biokimia Harper. Hartono A, penterjemah; Santoso AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Piliang WG. 2006. Fisiologi Nutrisi. Bogor : IPB Press. Stipanuk MH. 2000. Biochemical and Physiological aspects of Human Nutrition. Philadelphia, PA 19106: W.B. Saunders Company. An Imprint of Elsevier Science. The Curtis Center Independence Square West,. Stryer L. 2000. Biokimia. Tim penerjemah bagian biokimia FKUI, penterjemah; Soebianto SZ, Setiadi E., Editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Watanabe T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. JICA textbook the general aquaculture course. Tokyo: Departement of Aquatic Biosciences, Tokyo University of Fisheries.

7. TUGAS

Mahasiswa harus membaca bahan bacaan sebelum mengikuti setiap perkuliahan Menyerahkan / membuat tugas kajian pustaka dan hasil kerja kelompok. Mahasiswa harus mengikuti uji kompetensi keseluruhan bahan ajar yang dilaksanakan diluar jadwal perkuliahan. Mahasiswa harus mengikuti praktikum bagi yang pertama kali mengambil mata kuliah ini. Mahasiswa yang mengulang tidak diharuskan mengikuti praktikum, jika praktikum untuk mata kuliah ini telah dilulusi dengan dibuktikan oleh nilai praktikum dari koordinator praktikum/mata kuliah 8. KRITERIA PENILAIAN

Penilaian hasil belajar akan dilakukan oleh pengajar dengan menggunakan standar PAN yaitu berdasarkan distribusi normal nilai pada satu kelas. A = > rata-rata + 1,5 SD B = (rata-rata + 0,5 SD) s.d (rata-rata + 1 SD) C = rata-rata 0,5 SD D = (rata-rata 1 SD) s.d ( rata-rata 0,5 SD) E = < rata-rata 1,5 SD

Hal-hal yang menjadi faktor penilaian kelulusan pada mata kuliah ini adalah

Kelengkapan informasi; kemutahiran bahan pustaka 20% Kemampuan menjelaskan 20% Keaktifan dan kreativitas 20% Kerjasama kelompok 10% Uji kompetensi keseluruhan bahan ajar 20% Praktikum 10% 9. NORMA AKADEMIK

1. Mahasiswa harus berpakaian rapih dan bersepatu 2. Mahasiswa tidak diperkenankan terlambat dan ribut dalam kelas 3. Wajib membaca materi yang akan disajikan pada pertemuan berikutnya 10. JADWAL PEMBELAJARAN

No . 1

Pokok Bahasan 3

Sub-Pokok Bahasan 4

Metode SCL

Dose n 6

Pendahulu an

- Informasi kontrak dan rencana pembelajaran - Keterkaitan MK dengan kompetensi lulusan - Ruang lingkup MK - Sifat khusus benda hidup - Makromolekul organik pada organisme hidup - Sel - Fungsi biomolekul dalam sel - Keterkaitan biomolekul dengan zat gizi pakan dan kebutuhan nutrisi dalam tubuh ikan

Kuliah interaktif

2. Logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan

Kuliah+tugas kajian pustaka

3-4

H Kuliah+kerja

Karbohidrat - Struktur dan fungsi karbohidrat - Penggolonga n karbohidrat - Biokimia penting karbohidrat - Metabolisme karbohidrat meliputi glikolisis, siklus asam sitrat, sistem transpor elektron, glikogenesis, dan glukoneogen esis - Struktur dan fungsi lipida - Pengelompok an lipida - Sifat-sifat lipida - Metabolisme lipida meliputi lipolisis dan lipogenesis - Struktur dan fungsi protein - Penggolonga n protein - Struktur dan fungsi asam amino - Penggolonga n asam amino - Struktur peptida - Metabolisme protein meliputi katabolisme

kelompok+diskusi+tut orial

5-6 Lipida

ES Kuliah+kerja kelompok+diskusi+tut orial

7-8 Protein

ES Kuliah+kerja kelompok+diskusi+tut orial

910

Z PBL+presentasi

Vitamin

dan sintesa protein - Pengelompok an vitamin - Vitamin sebagai koenzim - Peran vitamin dalam metabolisme - Metabolisme vitamin yang larut dalam air - Metabolisme vitamin yang larut dalam lemak - Penggolonga n mineral - Distribusi mineral dalam organ dan jaringan - Absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral - Fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh - Struktur asam nukleat - Jenis dan fungsi asam nukleat. - Peran asam nukleat dalam sintesa protein - Peran asam nukleat sebagai

1112

Mineral

PBL+presentasi

SA

13

Asam nukleat

Kuliah+tugas kajian pustaka

SA

1415

Enzim Kuliah+kerja kelompok+diskusi+tut orial

koenzim - Struktur dan fungsi enzim - Penggolonga n enzim - Enzim sebagai protein - Sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim - Kenetika reaksi enzim - Faktor-faktor yang mempengaru hi aktivitas enzim - Konsep bioenergitika - Anabolisme dan katabolisme - Tahapan pembentukan energi dari makanan - Energi bebas dam perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik - Senyawasenyawa berenergi tinggi - Pengontrolan metabolisme

SA

16

Metabolism e energi

Kuliah+tugas kajian pustaka

MODUL I
Judul : Pendahuluan BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Ilmu biokimia bertujuan untuk mempelajari sifat-sifat zat-zat kimia yang terdapat dalam jasad hidup, senyawa yang diproduksi, serta fungsi dan transformasi zat-zat kimia tersebut, selanjutnya menelaah transformasi tersebut berhubungan dengan aktivitas kehidupan. Berbagai penelitian yang telah dilakukan pada sel hidup menunjukkan bahwa sel hidup tidak lain adalah kumpulan zat tak hidup (inanimate matter). Zat ini dapat diisolasi dan dipelajari dengan berbagai cara kimia dan fisika, seperti yang dilakukan pada senyawa kimia. Di dalam sel hidup, zat tersebut bercampur, bereaksi, dan berinteraksi satu dengan yang lainnya membentuk suatu susunan yang rumit tetapi terorganisasi dengan rapi. Di dalam ilmu biokimia, memahami bagaimana kumpulan zat tak hidup itu bercampur, bereaksi, dan berinteraksi menghasilkan zat yang disebut hidup. Hal yang berkaitan dengan tujuan tersebut adalah mempelajari dan menyelidiki kehidupan yang pertama kali terjadi di masa silam di atas bumi. Di dalam biokimia dipelajari proses kimia yang terjadi dalam zat hidup. Jadi semua hukum kimia dan fisika yang berlaku dalam proses kimia juga berlaku pada zat hidup, atau dengan kata lain, proses biologi mengikuti prinsip kimia dan fisika. Disini, molekul kimia yang terdapat di dalam zat hidup tidak hanya bercampur dan bereaksi membentuk biomolekul dan berbagai komponen zat hidup lainnya, tetapi juga mengadakan interaksi satu dengan lainnya mengikuti prinsip lain dari hukum kimia dan fisika yang telah dikenal. Prinsip tersebut disebut Prinsip Asas Logika Molekul Zat Hidup (Principles of Molecular Logic of Living State). Biokimia nutrisi mempelajari pemanfaatan nutrisi dalam tubuh organisme, gagasan baru dalam produksi pakan dapat berhasil apabila proses biokimia dapat dimengerti dengan baik.

B. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul pendahuluan meliputi : a. Informasi kontrak pembelajaran b. Keterkaitan mata kuliah dengan kompetensi lulusan c. Ruang lingkup mata kuliah C. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul pendahuluan dalam mata kuliah biokimia nutrisi. Modul pendahuluan diberikan sebelum mahasiswa mempelajari modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, protein, vitamin, mineral, asam nukleat, enzim, dan metabolisme energi. D. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul pendahuluan ini mahasiswa budidaya perairan memahami aturan main, mampu menjelaskan keterkaitan mata kuliah dengan kompetensi lulusan, dan memahami ruang lingkup mata kuliah.

BAB II. Pembelajaran


A. Informasi Kontrak Pembelajaran Kontrak pembelajaran mata kuliah biokimia tertuang pada Rancangan Pembelajaran Mata Kuliah (Lampiran). B. Keterkaitan Mata Kuliah dengan Kompetensi Lulusan Mata kuliah biokimia nutrisi menunjang pencapaian salah satu tujuan khusus program studi budidaya perairan yaitu menjadikan luaran yang mempunyai kompetensi dalam hal mengembangkan serta menerapkan ilmu dan teknologi pakan kultivan (organisme akuakultur) pesisir.

C. Ruang Lingkup Mata Kuliah Mata kuliah biokimia nutrisi membahas tentang logika molekul organime hidup, kebutuhan dan metabolisme nutrisi ikan, konsep biokimia dan faktor-faktor yang meregulasi metabolisme energi dalam tubuh hewan akuatik. Pokok bahasan mata kuliah meliputi pendahuluan, logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, protein, vitamin, mineral, asam nukleat, enzim, dan metabolisme energi. Sub-pokok bahasan pada modul pendahuluan informasi kontrak dan rencana pembelajaran, keterkaitan mata kuliah dengan kompetensi lulusan, dan ruang lingkup mata kuliah. Sub-pokok bahasan pada modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan meliputi sifat khusus benda hidup, makromolekul organik pada organisme hidup, sel, fungsi biomolekul dalam sel, serta keterkaitan biomolekul dengan zat gizi pakan dan proses nutrisi dalam tubuh ikan Sub-pokok bahasan pada modul karbohidrat adalah struktur karbohidrat, fungsi karbohidrat, penggolongan karbohidrat, biokimia penting karbohidrat, dan metabolisme karbohidrat meliputi glikolisis, siklus asam sitrat, sistem transpor elektron, glikogenesis, dan glukoneogenesis Sub-pokok bahasan pada modul lipida adalah struktur lipida, fungsi lipida, pengelompokan lipida, sifat-sifat lipida, dan metabolisme lipida meliputi lipolisis dan lipogenesis. Sub-pokok bahasan pada modul protein adalah struktur protein, fungsi protein, penggolongan protein, struktur asam amino, fungsi asam amino, penggolongan asam amino, struktur peptida, dan metabolisme protein meliputi katabolisme dan sintesa protein Sub-pokok bahasan pada modul vitamin meliputi pengelompokan vitamin, vitamin sebagai koenzim, peran vitamin dalam metabolisme, metabolisme vitamin yang larut dalam air, dan metabolisme vitamin yang larut dalam lemak.

Sub-pokok bahasan pada modul mineral meliputi penggolongan mineral, distribusi mineral dalam organ dan jaringan, absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral, serta fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh. Sub-pokok bahasan pada modul asam nukleat meliputi struktur asam nukleat, jenis dan fungsi asam nukleat, peran asam nukleat dalam sintesa protein, serta peran asam nukleat sebagai koenzim. Sub-pokok bahasan pada modul enzim meliputi struktur dan fungsi enzim, penggolongan enzim, enzim sebagai protein, sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim, kinetika reaksi enzim, serta faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim. Sub-pokok bahasan pada modul terakhir pada mata kuliah biokimia nutrisi adalah metabolisme energi meliputi konsep bioenergetika, anabolisme dan katabolisme, tahapan pembentukan energi dari makanan, energi bebas dan perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik, senyawa-senyawa berenergi tinggi, dan pengontrolan metabolisme.

BAB III. Penutup


Pemahaman tentang bagaimana kumpulan zat tak hidup bercampur, bereaksi, dan berinteraksi menghasilkan zat yang disebut hidup merupakan dasar dalam mempelajari organisme sebagai zat hidup yang utuh. Hal penting lain yang perlu dipahami adalah keterkaitan zat-zat tak hidup tersebut dengan kebutuhan zat gizi atau nutrisi. Pengetahuan tentang ilmu biokimia nutrisi dapat diaplikasikan dalam memahami pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi ikan atau hewan akuatik lainnya. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi ikan atau hewan akuatik lainnya sangat ditentukan oleh adanya keseimbangan asupan nutrisi pakan dan kebutuhan metabolisme tubuh. Asupan nutrisi pakan yang kurang berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan metabolisme tidak efisien. DAFTAR PUSTAKA tubuh, sebaliknya asupan nutrisi pakan yang berlebih menyebabkan ketersedian nutrien melebihi kebutuhan metabolisme sehingga

Brody S. 1974. Bioenergetics and Growth with Special Reference to Efficiency Complex in Domestic Animals. London: Collier-McMillan Publ. Campbell PN,. Smith AD. 1982. Biochemistry illustrated. Edinburg London Melbourne and New York. Girindra, A. 1993. Biokimia I. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hepher B. 1990. Nutrition of Pond Fishes. New York: Cambridge University Press. Houlihan D, Bounjard T, Jobling M. 2001. Food Intake in Fish. Oxford : Osney Mead, Blackwell Science Ltd. Haryati, 1998. Karbohidrat. Tugas matakuliah teknik penelitian biokimia. Bogor : Program Pascasarjana, IPB Lehninger. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M., penerjemah. .Jakarta : Penerbit Erlangga. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 1999. Biokimia Harper. Hartono A, penterjemah; Santoso AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Piliang WG, Al Haj SDj. 2006. Fisiologi Nutrisi. Bogor : Penerbit IPB Press. Stipanuk MH. 2000. Biochemical and Physiological aspects of Human Nutrition. Philadelphia, PA 19106: W.B. Saunders Company. An Imprint of Elsevier Science. The Curtis Center Independence Square West,. Stryer L. 2000. Biokimia. Tim penerjemah bagian biokimia FKUI, penterjemah; Soebianto SZ, Setiadi E., Editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Soedarmo Dj. 1989. Biokimia Umum II. Bahan Pengajaran. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Tacon, AGJ. 1991. Vitamin nutrition in shrimp and fish. Dalam Akiyama, A.M and Tan, R.K.H. (editor). Proceedings of the aquaculture, feed processing and nutriton workshop. Watanabe T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. JICA textbook the general aquaculture course. Tokyo: Departement of Aquatic Biosciences, Tokyo University of Fisheries.

MODUL II
Judul : Logika Molekul Organisme Hidup dan Nutrisi Ikan BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Tubuh organisme hidup termasuk ikan tersusun dari beberapa unsur yang bergabung membentuk sejumlah besar molekul. Karbon, oksigen, hidrogen, dan nitrogen merupakan konstituen utama sebagian besar biomolekul. secara luas dalam bentuk terionisasi di dalam tubuh organisme. pusat perhatian banyak riset. Sel merupakan unit fundamental biologi. organel yang memiliki banyak fungsi khusus. Sel mengandung sejumlah Fosfat Kalsium merupakan komponen asam nukleat serta molekul lainnya dan juga tersebar memainkan peranan penting dalam banyak sekali proses biologik dan menjadi

Secara kimiawi sel terdiri atas

biomolekul dan faktor pertumbuhan lain, yaitu vitamin dan mineral. Biomolekul utama yang kompleks ditemukan dalam sel dan jaringan organisme, yaitu Dioksinukleic Acid (DNA), Ribonukleic Acid (RNA), protein, polisakarida, dan lipid. Molekul yang kompleks ini dibangun dari molekul sederhana, seperti deoksinukleotida, ribonukleotida, asam amino, glukosa, dan asam lemak. Biomolekul yang terdapat dalam benda hidup berbeda dari senyawa kimia yang ada disekelilingnya (O2, CO2, N2, garam anorganik, ion-ion logam, dan lain-lain), karena berat molekulnya yang jauh lebih besar dan strukturnya yang kompleks. Meskipun unsur-unsur yang membentuknya tidak berbeda. Kualitas zat gizi dari makanan yang dimakan oleh organisme hidup, sangat menentukan kualitas biomolekul yang terkandung dalam sel organisme hidup. B. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan meliputi : a. Sifat khusus benda hidup b. Makromolekul organik pada organisme hidup

c. Sel d. Fungsi biomolekul dalam sel e. Keterkaitan biomolekul dengan zat gizi pakan dan kebutuhan nutrisi dalam tubuh ikan C. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul ke-2 setelah mahasiswa mempelajari aturan main, keterkaitan mata kuliah biokomia nutrisi dengan kompetensi lulusan, dan ruang lingkup mata kuliah, serta sebelum mahasiswa mempelajari modul karbohidrat, lipida, protein, vitamin, metabolisme energi. D. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan tentang sifat khusus benda hidup, makromolekul organik pada organisme hidup, sel, fungsi biomolekul dalam sel, serta keterkaitannya dengan zat gizi pakan dan proses nutrisi dalam tubuh ikan. mineral, asam nukleat, enzim, dan

BAB II. Pembelajaran


A. Sifat khusus benda hidup Organisme hidup mempunyai beberapa sifat khusus yang mencirikannya sebagai benda hidup. Pertama, di antara sifat yang nyata dari organisme hidup adalah sifat kompleks dan terorganisasi secara baik. Kedua, tiap komponen organisme hidup mempunyai fungsi dan tujuan tertentu. Ketiga, organisme hidup mempunyai kemampuan untuk mengekstrak, mengubah, dan menggunakan energi lingkungannya dalam bentuk zat gizi organik atau energi sinar matahari. Energi ini digunakan oleh organisme hidup untuk membangun dan mempertahankan struktur kompleksnya. Organisme hidup tidak pernah berada dalam keadaan seimbang di dalam dirinya atau dengan lingkungannya. Sifat yang paling istimewa dari organisme hidup adalah kemampuannya alam melakukan replikasi secara tepat. B. Makromolekul organik pada organisme hidup

Senyawa kimia utama yang terdapat dalam jasad hidup adalah senyawa organik karbon. Atom karbon tersebut akan berikatan dengan karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Ikatan antar atom karbon tersebut dapat membentuk struktur tulang karbon berantai lurus, bercabang dan siklik. NH2 | O |

C C C C OH | H Molekul yang terdapat dalam jasad hidup tersebut disebut biomolekul. Biomolekul utamanya terdapat di dalam sel merupakan molekul organik yang sangat besar, yaitu protein, asam nukleat, polisakarida, dan lipid. atas unit-unit pembangun yang lebih kecil. Protein tersusun atas 21 macam asam amino. Semua asam amino Keempat molekul tersebut disebut makromolekul, di mana tiap-tiap makromolekul terdiri

mengandung gugus karboksil dan gugus amino yang terikat pada atom karbon yang sama. Gugus lainnya disebut gugus R, gugus ini berlainan antara asam amino yang satu dengan yang lain. NH2 | O |

R C C C OH | H Asam nukleat terdiri atas unit monomer nukleotida. pembentuk RNA. gulanya. Asam nukleat

dibangun oleh 8 macam nukleotida, 4 macam pembentuk DNA dan 4 macam Perbedaan antara DNA dan RNA adalah pada basa dan DNA mengandung basa adenin, guanin, timin, sitosin, dan gula

deoksiribosa, sedangkan RNA mengandung basa adenin, guanin, urasil, sitosin, dan gula ribosa.

Polisakarida seperti selulosa, pati dan glikogen terdiri atas unit yang lebih kecil, yaitu monosakarida-monosakarida. Lipida, baik yang padat maupun cair mengandung gliserol yang membentuk ester dengan berbagai asam lemak. Protein dan asam nukleat merupakan makromolekul yang terdiri atas unit monomer yang tidak sama, oleh karena itu untuk membuat makromolekul itu serupa setiap dirakit, diperlukan pengarahan pengarahan genetik. C. Sel 1. Dasar-dasar Kehidupan Sel Bermacam-macam proses biokimia terjadi di dalam sel dan setiap proses ini mengikut sertakan suatu seri reaksi kimia. Dari substansi kecil yang sederhana, sel membangun molekul-molekul besar yang merupakan karakteristik organisme hidup. Molekul-molekul besar tersebut adalah protein, karbohidrat dan lipid. Di dalam sel juga terjadi Seluruh proses sintesa tersebut disebut anabolisme. yang tepat yang disebut

proses sebaliknya yaitu molekul-molekul yang kompleks tersebut didegradasi atau dipecah menjadi bagian atau senyawa yang lebih sederhana yang disebut katabolisme. Katabolisme dan anabolisme, keduanya disebut metabolisme. 2. Bagian-bagian Sel dan Fungsinya Struktur sel secara garis besar disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur sel secara garis besar

Membran sel disebut juga dengan membran plasma atau membran sitoplasma. Membran tersebut bersifat permeabel. Air sangat mudah keluar masuk sel, sedangkan cairan lainnya memerlukan fasilitas tertentu untuk mekanisme transpor yang spesifik, misalnya larutan glukosa memerlukan protein spesifik sebagai pembawa carrier. Cytosol, adalah larutan media yang terletak di dalam sel di antara organel-organel. Cytosol merupakan gudang karbohidrat, yaitu glikogen pada hewan dan pati pada tanaman. Di dalam cytosol juga terdapat enzim yang akan mengkatabolisasi glikogen menjadi glukosa, membentuk piruvat dan senyawa-senyawa lainnya. Cytosol menyediakan piruvat untuk mitokhondria. Lisosom, mengandung berbagai jenis enzim pencerna, seperti enzim yang akan menghidrolisa protein, polisakrida dan lipid sel sedangkan Ribosom, mengandung asam ribonukleat yang berfungsi mensintesa protein sel Mitokhondria, merupakan pabrik energi sel, mengandung berbagai enzim yang akan mengkatalisis zat makanan organik oleh molekul oksigen untuk menghasilkan karondioksida dan air serta energi kimia. molekul pembawa energi utama sel. Retikulum endoplasmik, terdiri atas retikulum endoplasmik kasar dan retikulum endoplasmik halus. Pada retikulum endoplasmik kasar permukaan membran dipenuhi oleh ribosom yang terlibat dalam biosintesa protein. Protein yang disintesa akan disimpan sementara di dalam sel atau diangkut keluar sel. Retikulum endoplasmik halus tidak dilengkapi ribosom, berperan di dalam biosintesa lipid dan tempat menyimpan enzim yang belum aktif seperti zymogen (prekusor enzim). Inti sel, tempat terjadinya replikasi senyawa genetik (DNA), oleh karena itu inti sel dianggap sebagai pusat kontrol dari pada sel. disintesa NAD (nicotinamide adenin dinucleotide). Di dalam inti sel juga Bermacam-macam reaksi Energi kimia yang dibebaskan dipergunakan untuk menghasilkan ATP (Adenosin Tri Phosphat), suatu

oksidasi dan reduksi dapat terjadi jika enzim yang berfungsi terhadap reaksi tersebut ditemani oleh NAD, oleh karena itu substansi tersebut disibut coenzyme. D. Fungsi biomolekul dalam sel

Protein berasal dari bahasa Yunani Proteos yang artinya utama. Protein merupakan bagian terbesar dari mahluk hidup yang mempunyai fungsi biologis yang sangat penting. Banyak protein yang mempunyai aktivitas katalitik spesifik dan berfungsi sebagai enzim. Protein yang lain berfungsi sebagai unsur struktural di dalam sel dan jaringan. media transport Asam nukleat terdiri atas DNA (asam deoksiribonukleat = deoxyribonukleic acid) dan RNA (asam ribonukleat = Ribonucleic acid) genetik dalam biosintesis protein. adalah merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penyimpan, transmisi, dan penterjemah sinyal DNA berperan sebagai informasi genetik, sedangkan RNA menerjemahkan bentuk protein yang dikehendaki. Polisakarida mempunyai dua fungsi utama, pati merupakan penyimpan bahan bakar penghasil energi dan selulosa berfungsi sebagai unsur struktural bagian luar sel. Lipid memegang dua peranan utama, sebagai komponen struktural utama membran sel, yaitu menjaga permeabilitas membran sel dan sebagai simpanan energi. E. Keterkaitan biomolekul dengan zat gizi makanan dan kebutuhan nutrisi dalam tubuh ikan Makanan (diet) menggambarkan komposisi nutrisi yang dibutuhkan. Zat makanan yang dibutuhkan meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Kebutuhan zat makanan antara lain bergantung pada umur (ukuran), jenis, dan kondisi fisiologi ikan. Zat makanan yang dikonsumsi tersebut akan mengalami : (1) proses pencernaan, (2) penyerapan dan (3) metabolisme dan ekskresi. 1. Proses pencernaan karbohidrase Karbohidrat protease Protein asam amino monosakarida Dalam bentuk hormon, protein berfungsi sebagai pengatur (regulator) dan dalam bentuk haemoglobin, protein berfungsi sebagai

Lipase Lemak asam lemak + gliserol

2. Proses penyerapan Protein - Bentuk penyerapan Larva : makro molekul (mis:dipeptida, tripeptida) Umum : asam amino - Lokasi penyerapan : mulai usus bagian tengah, pada larva proses

penyerapan terjadi di rektum - proses : pinositosis Lemak - bentuk penyerapan : asam lemak +gliserol - lokasi penyerapan : mulai usus bagian tengah - proses penyerapan : pinositosis Karbohidrat - bentuk penyerapan : glukosa - lokasi penyerapan : mulai usus bagian tengah - proses penyerapan : transport aktif Vitamin dan mineral Berdasarkan kelarutannya, vitamin terdiri atas dua kelompok, yaitu vitamin yang larut dalam air (vitamin B dan C) dan vitamin yang larut dalam lemak vitamin (A, D, E, dan K). Proses penyerapan vitamin yang larut dalam air, Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak akan bersamaan dengan masuknya air ke dalam membran sel baik secara difusi sederhana maupun osmosis. diserap oleh dinding usus (enterosit) bersamaan dengan diserapnya asam lemak.

Dengan demikian, semakin banyak asam lemak yang diserap oleh tubuh maka jumlah vitamin A, D, E, dan K dalam tubuh akan lebih banyak. Mineral yang terkandung di dalam pakan setelah melalui proses pencernaan sebagian akan larut dalam air bersaman dengan terserapnya air, mineral tersebut akan masuk ke dalam sel melalui membran sel epitel (enterosit). Masuknya beberapa jenis mineral ke dalam sel epitel dapat berlangsung melalui transpor aktif. 3. Metabolisme dan ekskresi Makanan yang diabsorbsi sebagian akan dipecah atau dikatabolisme

untuk menghasilkan energi. Sisanya akan disimpan atau mengalami anabolisme misalnya dihasilkan glikogen atau trigliserida, yang merupakan cadangan energi apabila dibutuhkan. Glukosa dan lemak akan dikatabolisme sempurna yang menghasilkan karbondioksida, air, dan energi. Katabolisme protein selain menhhasilkan karbon dioksida, air, dan tenaga juga akan dihasilkan NH3 dan asam urik yang masih mengandung energi. Pada ikan, sisa metabolisme protein tersebut 80% dalam bentuk NH3. Vitamin-vitamin yang diserap tersebut akan digunakan sebagai koenzim. Koenzim memiliki peranan penting sebagai biokatalisator pada berbagai proses metabolisme. Vitamin yang larut dalam air akan diekskresikan lewat urin, sedangkan vitamin yang larut dalam lemak akan diekskresikan lewat feses. Mineral-mineral selain akan digunakan sebagai material pada proses biosintesis (komponen tulang, sel darah merah dan lain-lain) juga akan digunakan untuk mempertahankan tekanan osmotik cairan tubuh.

BAB III. Penutup


Biomolekul utama dalam sel dan jaringan organisme adalah DNA yang dibangun oleh deoksinukleotida, RNA dibangun oleh ribonukleotida, protein dibangun oleh asam amino, polisakarida dibangun oleh glukosa, dan lipid. dibangun oleh asam lemak.

Sifat khusus organisme hidup adalah sifat kompleks dan terorganisasi secara baik, tiap komponen organisme hidup mempunyai fungsi dan tujuan tertentu, mempunyai kemampuan untuk mengekstrak, mengubah, dan menggunakan energi lingkungannya dalam bentuk zat gizi organik atau energi sinar matahari, organisme hidup tidak pernah berada dalam keadaan seimbang di dalam dirinya atau dengan lingkungannya, dan kemampuannya dalam melakukan replikasi secara tepat. Protein mempunyai aktivitas katalitik spesifik dan berfungsi sebagai enzim, sebagai unsur struktural di dalam sel dan jaringan, protein hormon berfungsi sebagai pengatur (regulator), protein haemoglobin berfungsi sebagai media transport. Asam nukleat (DNAdan RNA) adalah senyawa yang berfungsi sebagai penyimpan, transmisi, dan penterjemah sinyal genetik dalam biosintesis protein. Polisakarida berfungsi sebagai penyimpan bahan bakar penghasil energi dan sebagai unsur struktural bagian luar sel. Lipid mempunyai peran menjaga permeabilitas membran sel dan sebagai simpanan energi. Zat makanan yang dibutuhkan organisme hidup meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Kebutuhan zat makanan antara lain bergantung pada umur (ukuran), jenis, dan kondisi fisiologi ikan. DAFTAR PUSTAKA Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Campbell PN,. Smith AD. 1982. Biochemistry illustrated. Edinburg London Melbourne and New York. Haryati, 1998. Karbohidrat. Tugas matakuliah teknik penelitian biokimia. Bogor : Program Pascasarjana, IPB Girindra, A. 1993. Biokimia I. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Lehninger. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M., penerjemah. .Jakarta : Penerbit Erlangga. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press.

MODUL III
Judul : Karbohidrat BAB I. Pendahuluan
F. Latar Belakang Karbohidrat adalah senyawa karbon yang mengandung hidrogen dan oksigen dengan perbandingan 2:1 dengan rumus (CH2O)n. digunakan untuk turunan karbohidrat. Istilah ini juga Namun demikian, definisi di atas

kemungkinan sudah tidak terlalu tepat karena banyak senyawa karbohidrat yang tidak mengandung atom hidrogen dan oksigen dengan perbandingan 2:1, misalnya gula deoksiribosa yang mempunyai rumus C5H10O4. Di samping itu, banyak pula karbohidrat yang mengandung atom lain, seperti nitrogen, sulfur, dan lain-lain yang menunjukkan tidak sesuainya dengan rumus karbohidrat. Karbohidrat antara lain gula (sugars), pati (starch), glikogen, dan selulosa Karbohidrat merupakan senyawa yang kaya energi dan sebagai bahan bakar bagi tubuh organisme hidup. Dari segi biologis, karbohidrat sangat esensial untuk proses-proses metabolisme dalam tubuh. Karbohidrat masuk ke dalam sistem sirkulasi dalam bentuk gula sederhana, dan melewati suatu mekanisme yang cukup kompleks dapat mengatur glukosa darah. Karbohidrat sebagai salah satu makromolekul utama dalam sel organisme hidup mempunyai peranan penting sebagai sumber energi, seperti energi cadangan dalam bentuk glikogen, sebagai komponen dalam struktur membran sel dan dinding sel. G. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul karbohidrat meliputi : a. Struktur karbohidrat b. Fungsi karbohidrat c. Penggolongan karbohidrat d. Biokimia penting karbohidrat e. Metabolisme karbohidrat

H. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul ke-3 setelah mahasiswa mempelajari dan mampu menjelaskan mengenai modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, serta sebelum mahasiswa mempelajari modul karbohidrat, lipida, protein, vitamin, mineral, enzim, asam nukleat, dan metabolisme energi. I. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai karbohidrat, mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan struktur dan fungsi serta penggolongan karbohidrat, biokimia penting karbohidrat, dan metabolisme karbohidrat meliputi glikolisis, siklus asam sitrat, sistem transpor elektron, glikogenesis, dan glukoneogenesis.

BAB II. Pembelajaran


A. Struktur Karbohidrat Secara kimia, karbohidrat adalah aldehid atau ketone yang dikenal sebagai aldose atau ketose. Unit dasar dari karbohidrat adalah monosakarida, yang tidak dapat dipecah lebih lanjut. Monomer-monomer ini diberi nama sesuai dengan jumlah atom karbon dalam rantai. Tetrose mengandung empat, pentose lima, dan heksose enam atom karbon. Atom karbon diberi nomor dari rantai terakhir yang mengadung kelompok karbonil reaktif.
1CHO 1CH2O

| H -2C-OH | OH -3C- H | H -4C- OH |

|
2C

=O

| OH -3C- H | H -4C- OH |

OH -5C- H |
6CH2OH

OH -5C- H |
6CH2OH

Glukosa Gambar 1. Monomer dari karbohidrat B. Fungsi Karbohidrat 1. Sebagai Sumber Energi

Fruktosa

Senyawa karbohidrat sangat penting di dalam biosfer sebagai bahan yang terbentuk selama fotosintesa. Tanaman hijau dan algae dapat menggunakan energi dari matahari untuk mensintesa karbohidrat dari air dan karbon dioksida di atmosfer. Banyak tanaman mengandung karbohidrat dalam jumlah besar, sebagai cadangan makanan yang dimakan oleh manusia dan binatang lainnya. Setelah dicerna, karbohidrat komplek dipecah menjadi glukosa yang kemudian dioksidasi menjadi CO2 dan H2O atau kadang-kadang disimpan sebagai glikogen dalam hati dan otot. Selama oksidasi glukosa, dihasilkan energi yang digunakan oleh hewan dan manusia. 2. Struktur Sel dan Molekul Karbohidrat juga merupakan komponen penting isomer dari sejumlah struktur material organisme hidup. Sebagai contoh adalah dinding sel tanaman dan jaringan penghubung dalam binatang. flavoprotein, dan substansi kelompok darah. C. Penggolongan Karbohidrat Karbohidrat dapat dibagi dalam empat kelompok, yaitu monosakarida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida. 1. Monosakarida Monosakarida sering disebut gula sederhana (simple sugars) adalah Monosakarida juga merupakan komponen penting dari senyawa biokimia, seperti asam nukleat, koenzim,

karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi bentuk yang lebih sederhana lagi. Gula-gula sederhana dapat dibagi lagi dalam triosa, tetrosa, pentosa,

heksosa, dan heptosa, bergantung pada jumlah atom karbon yang dimiliki. Monosakarida mempunyai rumus empiris (CH2O)n di mana n = 3 atau lebih besar. Tiap atom karbon dalam monosakarida mengandung gugus hidroksil, kecuali sebuah atom karbon yang mengandung gugus karbonil atau keton. Jika gugus karbonil ada di ujung rantai, monosakarida disebut aldosa dan jika terletak di lain tempat maka monosakarida disebut ketosa. Glukosa adalah aldo (aldehyde) heksosa, fruktosa adalah keto (keton) hexose, ribosa adalah aldo pentasa dan gliseraldehid adalah aldotriosa. Gula pentosa merupakan unsur penting nukleotida, asam nukleat, dan banyak koenzim. 2. Disakarida Disakarida menghasilkan 2 molekul monosakarida yang sama atau berbeda bila dihidrolisis. Contoh disakarida adalah sukrosa, laktosa, dan maltosa. Disakarida adalah gula yang terdiri atas 2 residu monosakarida yang dihubungkan oleh ikatan glikosida. 3. Oligosakarida Oligosakarida menghasilkan 3 6 monosakarida apabila dihidrolisis, contohnya raffinosa adalah gabungan 3 monosakarida (glukosa, fruktosa, dan galaktosa). 4. Polisakarida Polisakarida menghasilkan lebih dari 6 monosakarida pada simpanan. hidrolisis.

Polisakarida dapat berfungsi sebagai polisakarida struktur maupun polisakarida Pati yang terdapat pada tumbuhan dan glikogen pada hewan termasuk polisakarida simpanan. D. Biokimia Penting Karbohidrat Sifat dan keberadaan sejumlah karbohidrat dalam proses biokimia disajikan pada Tabel 1 J. Metabolisme Karbohidrat

Fungsi utama karbohidrat

dalam metabolisme adalah sebagai

bahan

bakar untuk oksidasi dan menyediakan energi untuk proses metabolik lain. Metabolisme karbohidrat pada hewan dapat dibagi sebagai berikut : 1.Glikolisis Glikolisis adalah suatu seri reaksi yang hampir terjadi pada setiap sel, dari karbohidrat melalui fruktose diphosphate menjadi piruvat. Glikolisis disebut juga Embden Meyerhof Pathway. Karbohidrat yang dipecah bisa berasal ari makanan (glukosa) atau dari simpanan di dalam badan (glikogen). Apabila glikogen yang dipecah dibutuhkan 1 ATP, apabila glukosa yang dipecah dibutuhkan 2 ATP

Tabel 1. Sifat dan keberadaan sejumlah karbohidrat Gula dan formula Pentose 2-Deoksi-D-ribose Unsur pokok yang penting dari molekul makro asam deoksiribonukleat (DNA) material genetik di dalam seluruh organisme hidup Keberadaan dan fungsi

D-ribose

Suatu bagian hakiki (esential) dari Asam Ribonukleat (RNA), suatu molekul makroyang berperan dalam sintesis protein, juga terdapat di dalam koenzimATP, FAD, NAD dan NADP

Heksose D Glukose

Tersebar luapada seluruh gula, glukosa diangkut di dalam darah dandioksidasikandalam sel untuk menghasilkan energi

Fungsi utama adlah struktural dan ditemukan dalam glikolipid dari jaringan syaraf dan membran khloroplast D- Galaktose

Cadangan utama karbohidrat dalam binatang,

terutama pada hati dan otot

Polisakarida simpanan Glikogen

Komponen utama eksoskeleton krustase, seperti kepiting, udang

insekta

dan

Khitin

Glikogen Inorganik phosphate Phosphorilase

Glukosa -1 (P)

Phosphoglucomutase Glukosa Hexokinase ATP ADP ATP Phosphoisomerase ADP Fruktosa-6 (P) Glukosa 6- (P)

Fruktosa 1,6 di (P)

Gambar 2. Ikhtisar glikolisis

Glikogen (cadangan KH) Butuh 1 ATP Glukosa (dari makanan) Butuh 2 ATP

Fruktose diphosphatase

Fruktose diphosphatase

Aldolase Fruktosa 1,6 diphosphatase Triosa phosphate

Triosa phosphate Phosphoglyceric Acid Asam piruvat

Phosphoglyceric Acid Asam piruvat Acetyl Co-A

2. Glikogenesis dan glukoneogenesis Glikogenesis adalah sintesis glikogen dari glukosa, dan glukoneogenesis adalah pembentukan glukosa dari zat-zat yang bukan bersal dari karbohidrat. 3. Glikogenolisis Pemecahan glikogen, glukosa adalah hasil akhir utama glikogenolisis dalam hati dan piruvat serta laktat adalah hasil utama dalam otot. 4. Oksidari piruvat menjadi asetil-KoA Oksidari piruvat menjadi asetil-KoA merupakan langkah perlu sebelum masuknya produk glikolisis ke dalam siklus asam sitrat, yang merupakan jalan akhir bersama untuk oksidasi karbohidrat, protein dan lemak. 5. Hexosemonophosphate shunt (jalan pentosa fosfat) Jalan pentosa fosfat adalah jalan lain untuk oksidasi glukosa disamping jalan Embden Meyerhof. Fungsi utamanya adalah sintesis perantara penting, seperti NADPH dan ribosa. Detail metabolisme dalam kondisi makan disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Detail metabolisme dalam kondisi makan

Detail metabolisme dalam kondisi puasa disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Detail metabolisme dalam kondisi puasa 6. Tricarboxylic acid (TCA) cycle Tricarboxylic acid (TCA) cycle sering pula disebut dengan Krebs cycle atau siklus asam sitrat (Gambar 5). Siklus ini penting untuk mendapatkan energi. Prinsip dari proses TCA dapat dilihat pada gambar berikut: Acetyl CoA yang berasal dari katabolisme karbohidrat atau lemak masuk TCA berkombinasi dengan senyawa yang mengandung atom C. Pada seluruh TCA cycle, terjadi tiga kali reduksi NAD menjadi NADH yang dikatalisis oleh enzim isocitrate dehydrogenase, alfa ketoglutarat dehydrogenase, dan malate dehydrogenase. Selain itu, terjadi pula satu kali reduksi FAD menjadi FADH2 yang dikatalisis oleh enzim succinate dehydrogenase. Setiap perubahan NAD menjadi NADH dihasilkan 3 ATP, dan dari FAD menjadi FADH2 dihasilkan 2 ATP. Dengan demikian, untuk satu cycle TCA dihasilkan 12 ATP. Satu molekul ATP terbentuk pada saat Succinyl CoA diubah menjadi succinate.

Gambar 5. Tricarboxylic acid (TCA) cycle Regulasi hormonal dalam metabolisme karbohidrat dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Regulasi hormonal dalam metabolisme karbohidrat pada saat kenyang

Gambar 7. Regulasi hormonal dalam metabolisme karbohidrat pada saat lapar Pada kondisi makan (feed state) insulin disekresikan. Insulin akan

meningkatkan transportasi glukosa darah menuju sel hati. Di hati, otot dan adipose tissue insulin menstimuler sintesa glikogen dan lemak dari glukosa.

Pada kondisi puasa hormon glucocorticoi meningkatkan masuknya asam amino ke dalam hati. Di dalam hati asam amino oleh enzim gluconeogenic akan dirubah menjadi glukosa. Glucocorticoid dan glukagon akan mengaktifkan enzim yang akan menghasilkan glukosa dari piruvat. Glukagon dan adrenalin mengaktifkan enzimyang akan menghasilkan glukosa dari glikogen. Di adiposa tissue, trigliserida akan dirombak menjadi asam lemak, selanjutnya akan dikonversi menjadi ketone bodies (Acetyl CoA) di hati.

BAB III. Penutup


Karbohidrat merupakan senyawa yang kaya energi dan sebagai bahan bakar bagi tubuh organisme hidup, baik langsung maupun tidak langsung, seperti energi cadangan dalam bentuk glikogen, sebagai komponen dalam struktur membran sel dan dinding sel. Unit dasar dari karbohidrat adalah monosakarida, yang tidak dapat dipecah lebih lanjut. Monomer-monomer ini diberi nama sesuai dengan jumlah atom karbon dalam rantai. Karbohidrat terbagi dalam 4 kelompok besar, yaitu monosakarida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Fungsi utama karbohidrat dalam metabolisme adalah sebagai bahan bakar untuk oksidasi dan menyediakan energi untuk proses metabolik lain. Metabolisme karbohidrat pada organisme hidup, seperti glikolisis, glikogenesis dan glukoneogenesis, glikogenolisis, oksidasi piruvat menjadi asetil-KoA, Hexosemonophosphate shunt (jalan pentosa fosfat), dan Tricarboxylic acid (TCA) cycle. DAFTAR PUSTAKA Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Campbell PN,. Smith AD. 1982. Biochemistry illustrated. Edinburg London Melbourne and New York. Haryati, 1998. Karbohidrat. Tugas matakuliah teknik penelitian biokimia. Bogor : Program Pascasarjana, IPB Girindra, A. 1993. Biokimia I. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Lehninger. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M., penerjemah. .Jakarta : Penerbit Erlangga.

Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press.

MODUL IV
Judul : Lipida BAB I. Pendahuluan
K. Latar Belakang Lipida adalah sekelompok ikatan organik yang terdiri atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O), mempunyai sifat yang larut dalam pelarut non polar seperti etanol, eter, kloroform, dan benzena. Sifat umum lipid, pada suhu kamar lipid yang memiliki titik cair tinggi bersifat padat, sedangkan lipid yang memiliki titik cair rendah bersifat cair. Lipid yang padat pada suhu kamar disebut lemak, sedangkan yang cair pada suhu kamar disebut minyak. L. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul lipida meliputi : a. Struktur lipida b. Fungsi lipida c. Pengelompokan lipida d. Sifat-sifat lipida e. Metabolisme lipida M. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul ke-4 setelah mahasiswa mempelajari dan mampu menjelaskan mengenai modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, serta sebelum mahasiswa mempelajari modul protein, vitamin, mineral, enzim, asam nukleat, dan metabolisme energi. N. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai lipida, mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan struktur

dan fungsi serta pengelompokan lipida, sifat-sifat lipida, metabolisme lipida meliputi lipolisis dan lipogenesis.

BAB II. Pembelajaran


A. Struktur Lipida Komponen utama lemak adalah asam-asam lemak, turunan asam-asam lemak, meliputi ester gliserol (monogliserida, digliserida, dan trigliserida), ester kolestrol, dan glikolipid; sterol dan turunan sterol (kolestrol, garam empedu, dan steroid); dan komponen minor (vitamin yang larut dalam lemak dan prostaglandin). a. Asam lemak Asam lemak merupakan asam organik yang terdiri atas rantai hidrokarbon lurus yang pada satu ujunganya mempunyai gugus karboksil (COOH) dan pada ujung lainnya berupa gugus metil (CH3). Asam lemak alami biasanya mempunyai rantai dengan jumlah atom karbon genap yang berkisar antara 4 22 karbon. Secara umum formula kimia asam lemak adalah : CH3(CH2)nCOOH n biasanya kelipatan 2. Beberapa sifat asam lemak adalah : Titik cair asam lemak tidak jenuh lebih rendah dari asam lemak jenuh. Pada umumnya asam lemak tidak jenuh cair pada suhu ruangan. Asam lemak yang diperoleh dari hidrolisis lipida biasanya mengandung campuran asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Titik cair asam lemak meningkat dengan bertambah panjangnya rantai karbon. Klasifikasi asam lemak berdasarkan jumlah atom karbon yang terikat dalam rantai gliserida adalah : 1. Asam lemak berantai pendek (6 atom karbon atau kurang). 2. Asam lemak berantai sedang (8 12 atom karbon).

3. Asam lemak berantai panjang (14 18 atom karbon). 4. Asam lemak berantai sangat panjang (20 atom karbon atau lebih). Berdasarkan tingkat kejenuhannya, asam lemak dibedakan menjadi 2, yaitu : 1. Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang terdiri atas rantai karbon yang mengikat semua hidrogen yang dapat diikat. Lipida hewan terutama mengandung asam lemak jenuh rantai panjang, yaitu asam palmitat (C16) dan asam stearat (C18), sedangkan asam lemak yang terdiri atas 10 karbon atau kurang jarang terdapat pada lipida hewani, kecuali lemak susu yang mengandung cukup banyak asam lemak dengan rantai pendek. Berbentuk padat (sebagian berbentuk cair) berasal dari bahan makanan yang dikonsumsi dan bersama gliseril dapat disentesa oleh tubuh. Minyak nabati sebagian besar mengandung asam palmitat, asam stearat, asam oleat, dan asam linoleat, kecuali minyak kelapa dan minyak kelapa sawit yang banyak mengandung asam lemak jenuh rantai sedang (C8 C14). 2. Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mengandung satu atau lebih ikatan rangkap. Umumnya berbentuk cair dan tidak dapat disentesis oleh tubuh. Semua lipid asal hewani dan sebagian besar asal nabati mengandung asam lemak rantai panjang. Asam lemak rantai sangat panjang terdapat dalam minyak ikan. b. Turunan asam lemak Suatu komponen yang terbentuk dari satu atau lebih asam-asam lemak dan yang mengandung alkohol disebut ester. Ada 2 golongan ester, yaitu ester gliserol dan ester kolestrol. Ester gliserol terbentuk melaui metabolisme karbohidrat yang mengandung 3 atom karbon, salah satu atom karbonnya tersebut bersatu dengan gugus alkohol. Reaksi kondensai antara gugus karboksil dengan gugus alkohol dari gliserol akan membentuk gliserida. Trigliserida adalah komponen utama asam lemak dalam makanan, yang dibentuk oleh reaksi katalisa gliserol dengan 3 molekul asam lemak. Fosfolipid adalah trigliserida yang salah satu asam

lemaknya digantikan oleh satu gugus yang mengandung fosfat, contohnya lesitin. Ester kolestrol adalah ester yang terbentuk melalui reaksi kodensasi sterol, kolestrol, dan asam lemak terikat dengan gugus alkohol. Glikolipid merupakan komponen yang terdiri atas satu atau lebih molekul gula, biasanya glukosa atau galaktosa yang mengandung asam lemak dan nitrogen. Komponen ini mempunyai sifat fisik yang menyerupai lipid. c. Sterol Merupakan lemak yang larut dalam alkohol. Sterol mempunyai nukleus dengan 4 buah cincin saling berhubungan, tiga diantaranya masing-masing mengandung 6 atom karbon, sedangkan cincing ke empat mengandung 5 atom karbon. Sebuah gugus alkohol . B. Fungsi lipida Beberapa fungsi lipid adalah : 1. Penghasil energi, tiap gram lipid menghasilkan sekitar 9 9,3 kalori, energi yang berlebihan dalam tubuh disimpan dalam jaringan adiposa sebagai energi potensial. 2. Pengatur temperatur tubuh. 3. Penghemat protein. 4. Penghasil asam lemak esensial. 5. Pelarut vitamin A, D, E, dan K. 6. Pelumas bagi persendian dan membantu pengeluaran sisa-sisa makanan dari dalam tubuh. 7. Penambah cita rasa dan memperpanjang rasa kenyang. 8. Pengantar emulsi. 9. Pemula dari progstaglandin yang berperan dalam pengaturan tekanan darah, denyut jantung, dan lipolisis. C. Pengelompokan lipida Berdasarkan komposisi kimianya, lipid dapat dibedakan menjadi empat golongan, yaitu :

1. Lipid sederhana, meliputi : - Ester asam lemak dengan gliserol atau lemak netral, seperti monogliserida, digliserida, dan trigliserida. - Ester asam lemak dengan alkohol berberat molekul tinggi, seperti ester sterol, ester non-sterol, ester vitamin A, dan ester vitamin D. 2. Lipid majemuk, yaitu fosfolipid dan lipoprotein 3. Lipit turunan, yaitu asam lemak dan sterol, kolestrol dan ergosterol, hormon streoida, vitamin D, garam empedu. 4. Lain-lain, seperti karotenoid dan vitamin A, vitamin E, dan vitamin K (vitamin yang larut dalam lemak secara kimiawi sebetulnya termasuk golongan lipid. Klasifikasi lipid berdasarkan fungsi biologisnya, yaitu : 1. Lemak simpanan, terdiri atas trigliserida, merupakan zat gizi esensial di dalam tubuh organisme hidup. 2. Lemak struktural, terdiri atas fosfolipid dan kolesterol. Di dalam jaringan lunak, lemak struktural ini merupakan ikatan struktural paling penting di dalam tubuh setelah protein. tinggi. Klasifikasi lipid berdasarkan sumbernya, yaitu : 1. Lipid hewani adalah lipid yang berasal dari hewan. 2. Lipid nabati adalah lipid yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. D. Sifat-sifat lipida Lipid mempunyai 3 sifat fisik. Pertama, tidak larut dalam air karena adanya asam lemak berantai karbon panjang dan tidak adanya gugus polar. Kedua, viskositas meningkat dengan meningkatnya rantai karbon, berkurang dengan meningkatnya suhu dan tidak jenuhnya rantai karbon. Ketiga, berat jenisnya lebih tinggi untuk trigliserida dengan berat molekul rendah dan tidak jenuh, berat jenis menurun dengan bertambahnya suhu, karena lipit (minyak dan lemak) merupakan campuran trigliserida sehingga makin pendek rantai asam lemak makin rendah titik cair trigliserida. Di dalam otak lemak struktural terdapat dalam konsentrasi

Sifat-sifat kimia lipid dapat dilihat pada beberapa proses. Hidrolisis : lipid kalau dimasak menghasilkan gliserol dan sabun. Pada lipase, lemak dihidrolisis menghasilkan campuran mono dan digliserida dan asam-asam lemak bebas. Kebanyakan asam-asam lemak tidak mempunyai rasa dan tidak berbau, kecuali asam nitrat dan kaproat. jamur dan bakteri menghasilkan ketengikan. Oksidasi : lipid teroksidasi pada ikatan rangkapnya menyebabkan lebih kental dan keras. Aksi oksidasi terjadi pada atom karbon dekat ikatan rangkap yang menghasilkan hidroperosida, kemudian hidroperoksida membentuk keton atau aldehid. Oksidasi lemak berjalan lebih cepat dengan adanya logam, seperti Osidasi dari asam lemak tembaga, besi, penyinaran dengan sinar ultraviolet. dengan ketengikan keton. Antioksidan : di alam terdapat beberapa senyawa yang mempertinggi ketahanan lemak pada oksidasi, seperti phenol, quinon, vitamin E, dan asam gallad. Hidrogenasi : hidrogen dapat ditambahkan pada ikatan rangkap asam-asam lemak jenuh membentuk asam-asam lemak jenuh. E. Metabolisme lipida Triasilglisrol atau trigliserida merupakan komponen utama lipid makanan, harus dipecah menjadi gliserida dan asam lemak sebelum diabsorbsi. Agar dapat diabsorbsi dengan baik, lemak harus diemulifikasi agar dapat bercampur dengan air sehingga enzim dapat mencernakan lemak. Emulsifikasi terjadi di dalam usus halus dengan bantuan garam empedu, sedangkan di lambung emulsifikasi sangat terbatas. Pada waktu lemak memasuki usus halus, hormon kolesistokinin memberi isyarat kepada kantung empedu untuk mengeluarkan cairan empedu (asam empedu dan garam empedu. Garam empedu dibuat oleh hati dari kolestrol selanjutnya disimpan di dalam kantong empedu hingga diperlukan. Pada salah satu ujung molekul garam empedu terdapat rantai samping yang terdiri atas Lipase-lipase yang dihasilkan oleh

menghasilkan keton-keton dengan rasa manis dan bau keras yang disebut

asam amino yang menarik atau mengikat air, sedangkan pada ujung lainnya terdapat sterol yang menarik atau mengikat lemak. Enzim lipase yang berasal dari dinding usus halus dan pankreas mencerna lemak dalam bentuk emulsi tersebut. Hampir setengah dari trigliserida berasal dari makanan yang dihidrolisis secara sempurna oleh enzim lipase menjadi asam lemak dan gliserol, selebihnya dipecah menjadi digliserida, monogliserida, dan asam lemak. Fosfolipida dicernakan oleh enzim fosfolipase yang dikeluarkan oleh pankreas dengan cara yang sama dijelaskan sebelumnya, menghasilkan dua asam lemak dan lisofosfogliserida. Estergliserol dicerna dan dihidrolisis oleh enzim kolestrol esterase yang dikeluarkan oleh pankreas. Gliserol dan asam lemak diperoleh dari hasil pemecahan trigliserida melalui proses lipolisis. Gliserol suatu ikatan 3-karbon, seperti piruvat akan tetapi dengan susunan H dan OH pada karbon yang berbeda memasuki jalur metabolisme di antara glukosa dan piruvat, serta dapat diubah menjadi glukosa atau piruvat. Piruvat kemudian diubah menjadi asetil KoA dan selanjutnya memasuki siklus TCA. Asam lemak mula-mula dipecah melalui proses oksidasi ke dalam unit-unit yang terdiri atas 2-karbon. Tiap pecahan 2-karbon tersebut mengikat satu Setiap molekul molekul KoA untuk membentuk asetil KoA. Proses perubahan asam lemak bebas menjadi banyak molekul asetil KoA dinamakan Beta-Oksidasi. asetil KoA memasuki siklus TCA seperti yang terjadi pada glukosa. Setiap unit dua karbon pecah dari molekul asam lemak akan dilepas sedikit energi. Jika unit 2karbon ini memasuki siklus TCA dalam bentuk asetil KoA akan dihasilkan energi sebanyak 3 kali lipat yang diikat dalam bentuk NADH dan FADH2. Jika asam lemak memiliki jumlah atom ganjil, maka disamping dibentuk asetil KoA juga propionil KoA (sama-sama ikatan KoA dengan ikatan 3-karbon). Selanjutnya propionil KoA memasuki siklus TCA. Bila sel tidak membutuhkan energi, asetil KoA yang berasal dari oksidasi asam lemak akan membentuk lemak, seperti halnya asetil KoA yang dibentuk dari kelebihan karbohidrat. Sel tubuh dapat membuat glukosa dari piruvat dan ikatan 3-karbon lain, tetapi glukosa tidak dapat dibuat dari pecahan 2 karbon yang dihasilkan oleh

asam lemak.

Oleh karena itu, asam lemak tidak dapat digunakan untuk

mebentuk glukosa. Hal ini berarti lemak tidak dapat digunakan sebagai sumber energi untuk organ-organ tubuh yang memerlukan glukosa sebagai bahan bakar, seperti otak dan syaraf. Pembentukan glukosa dari gliserol hanya sekitar 5% dari lemak. Perubahan asam lemak menjadi asetil KoA (pembakaran lemak) menggunakan karbohidrat (terjadi dalam api karbohidrat). Lipogenesis adalah pembentukan asam lemak yang terjadi di dalam hati. Glukosa atau protein yang tidak segera digunakan tubuh sebagian besar tersimpan sebagai trigliserida. Sebagian kecil glukosa tersimpan dalam bentuk glikogen, serta protein disimpan di dalam cadangan asam amino. Sebagian besar atom karbon yang berasal dari glukosa dan asam amino yang berlebihan akan disintesis menjadi trigliserida (lipogenesis). pantotenat. Atom-atom karbon yang berasal dari glukosa dan asam-asam amino diubah menjadi asetil KoA, dengan melalui beberapa tahap reaksi bagian asetat dari asetil KoA akan membentuk asam-asam lemak jenuh berupa asam palmitat (C16), asam stearat (C18), atau asam arakidonat (C20). Asam lemak ini akan melakukan esterifikasi dengan gliserol (diproduksi dalam glikolisis) dan menghasilkan aliran darah sebagai very low density lipoprotein (VLDL) yang digunakan untuk menghasilkan energi atau disimpan dalam sel-sel lemak. Hasil pencernaan lipid diabsorbsi ke dalam membran mukosa usus halus dengan cara difusi. Sebelum diabsorbsi kolestrol mengalami esterifikasi kembali yang dikatalis oleh asetil Koenzim A dan kolestrol asetiltransferase. Hasil pencernaan lipida dan proses absorbsi Hasil pencernaan lipid Gliserol Asam lemak rantai pendek absorbsi Dserap langsung ke dalam darah dan dibawa ke hati untuk oksidasi Lipogenesis membutuhkan ATP serta vitamin-vitamin seperti biotin, niasin, dan asam

Asam lemak rantai sedang Asam lemak rantai panjang Monogliserida Trigliserida Kolestrol Fosfolipida Diubah menjadi trigliserida di dalam sel-sel usus halus Membentuk kilomikron dan masuk ke dalam limpe, kemudian ke dalam aliran dara

Lipoprotein adalah alat angkut lipid, terdiri atas kilomikron, LDL (low density lipoprotein), VLDL (very low density lipoprotein), dan HDL (high density lipoprotein). Kilomikron mengangkut lipid dari saluran cerna ke dalam tubuh. Lipid yang diangkut terutama trigliserida. Di dalam aliran darah, trigliserida yang ada pada kilomikron dipecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh enzim lipoprotein. Sebagian besar asam lemak yang terbentuk di dalam tubuh diabsorbsi oleh sel-sel otot, sel lemak, dan sel-sel lain. cenderung menggunakannya sebagai Asam lemak ini dapat langsung Sel-sel otot sel lemak energi, sedangkan digunakan sebagai zat energi atau diubah menjadi trigliserida.

menyimpannya sebagai trigliserida. Hati merupakan alat yang memproduksi lipid utama di dalam tubuh, sedangkan sel-sel lemak tidak membuat lemak tetapi hanya menyimpan lemak. VLDL adalah lipoprotein dengan densitas sangat rendah, terutama terdiri atas trigliserida. LDL adalah lipoprotein dengan densitas rendah (kolestrol jahat). HDL adalah lipoprotein dengan densitas tinggi (kolestrol baik). Komposisi lipoprotein Lipoprotein Trigliserida (%) Kolestrol (%) Fosfolipida (%) Protein (%)

Kilomikron VLDL LDL HDL

80 90 55 65 10 5

27 10 15 45 20

36 15 20 22 30

12 5 10 25 45 - 50

Pada retikulum endoplasmik berpermukaan licin terjadi penyusunan kembali triasil gliserol dari dua, mono asilgliserol yang diesterifikasi oleh asam lemak. Pada retikulum endoplasmik berpermukaan kasar akab disintesis gliserol fosfolipida melalui gliserol-3-fosfat dan apoprotein spesifik. Pada saat ini kilomikron (salah satu pengankut lipid) dibungkus oleh fosfolipida, kolestrol, dan apoprotein. Agar dapat diangkut ke luar sel, kilomikron masuk ke badan golgi. Pada badan golgi, kilomikron ditambah komponen glusidik dan lipoprotein, dan terjadi pembentukan sistem membran sehingga memungkinkan dapat diangkut ke luar sel dan selanjutnya masuk ke dalam ruang antar sel, selanjutnya terus masuk ke dalam kapiler limpatik. Ukuran kilomikron 0,1 3,5 m. VLDL dan kolomikron dapat diangkut ke luar sel (ke ruang antar sel) baik secara langsung oleh retikulum endoplasmik maupun melalui perantaraan badan golgi (vacuola golgi).

Glikolisis

Siklus Krebs

Metabolisme energi dan interaksinya

BAB III. Penutup


Lipid yang padat pada suhu kamar disebut lemak, sedangkan yang cair pada suhu kamar disebut minyak. hidrogen (H), dan oksigen (O). lemak, turunan asam-asam lemak, Lipid terdiri atas unsur-unsur karbon (C), meliputi ester gliserol (monogliserida, Komponen utama lemak adalah asam-asam

digliserida, dan trigliserida), ester kolestrol, dan glikolipid; sterol dan turunan sterol (kolestrol, garam empedu, dan steroid); dan komponen minor (vitamin yang larut dalam lemak dan prostaglandin). Molekul lemak mempunyai komposisi yang berbeda dengam air

ataupundengan karbohidrat, dan karnanya mempunyai sifat karakteristik fisik berbeda dengan kedua makronutrien tersebut. organik, seperti dalam nitrogen dan fosfor. Banyak fungsi tubuh yang sangat tergantung pada lemak. Secara makro fungsi lemak antara lain sebagai sumber energi, membantu transfor vitamin yang Karena komposisi kimia unik dalam lemak, maka lemak tidak larut dalam air, melainkan larut dalam pelarut

larut dalam lemak, berfungsi sebagai bahan insulasi dan pelindung organ-organ dan jaringan tubuh bagian dalam. DAFTAR PUSTAKA Houlihan D, Bounjard T, Jobling M. 2001. Food Intake in Fish. Oxford : Osney Mead, Blackwell Science Ltd. Lehninger. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M., penerjemah. .Jakarta : Penerbit Erlangga. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 1999. Biokimia Harper. Hartono A, penterjemah; Santoso AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Piliang WG, Al Haj SDj. 2006. Fisiologi Nutrisi. Bogor : Penerbit IPB Press. Stryer L. 2000. Biokimia. Tim penerjemah bagian biokimia FKUI, penterjemah; Soebianto SZ, Setiadi E., Editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

MODUL V
Judul : Protein BAB I. Pendahuluan
O. Latar Belakang Istilah protein pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli kimia Belanda (1802 1880). Kata protein berasal dari kata Yunani, yaitu Proteos berarti yang utama atau yang didahulukan. Jadi protein diartikan sebagai zat yang paling penting dalam setiap organisme. Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar sesudah air. Seperlima bagian tubuh makhluk hidup adalah protein (separuhnya terdapat di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, dan selebihnya di dalam jaringan lain dan cairan tubuh). Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara 5000 hingga puluhan jutaan. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino, yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh. P. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul protein meliputi : a. Struktur protein b. Fungsi protein c. Penggolongan protein d. Struktur asam amino e. Fungsi asam amino f. Penggolongan asam amino g. Struktur peptida h. Metabolisme protein

Q. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul ke-5 setelah mahasiswa mempelajari dan mampu menjelaskan mengenai modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, serta sebelum mahasiswa mempelajari modul, vitamin, mineral, enzim, dan metabolisme energi. R. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai protein, mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan struktur dan fungsi protein, serta penggolongan protein, struktur dan fungsi asam amino, serta penggolongan asam amino, struktur peptida, dan metabolisme protein meliputi katabolisme dan sintesa protein

BAB II. Pembelajaran


F. Struktur Protein Unsur nitrogen adalah unsur utama protein, sehingga terdapat pada semua protein akan tetapi tidak terdapat pada karbohidrat dan lemak. Unsur nitrogen merupakan 16% dari berat protein. Molekul protein lebih kompleks dari pada karbohidrat dan lemak dalam berat molekul dan keanekaragaman unsur-unsur asam amino yang membentuknya. Berat molekul protein bisa mencapai 40 juta. Bandingkan

dengan berat glukosa hanya 180. Jenis protein sangat banyak sekitar 1010 1012. Protein terdiri atas sekian kombinasi berbagai jenis dan jumlah asam amino. Ada 20 jenis asam amino yang diketahui sekarang, 10 jenis asam amino esensial dan 10 jenis non esensial G. Fungsi Protein Protein berfungsi dalam : 1. Pertumbuhan dan pemeliharaan Sel-sel dalam mensintesis protein baru membutuhkan semua asam amino esensial dan nitrogen (ikatan NH2) yang cukup. Protein kolagen merupakan

protein utama otot, fibrin, dan myosin juga terdapat dalam otot. membutuhkan asam amino yang mengandung sulfur. 2. Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh

Kulit

Hormon dan enzim merupakan protein sebagai katalisator dalam reaksi biokimia di dalam tubuh. Hemoglobin, figmen darah merah berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan karbondioksida. Fotoreseptor pada mata. 3. Mengatur keseimbangan air Cairan tubuh terdapat pada intraselluler (di dalam sel), ekstraselluler atau interselluler (di antara sel), dan intravaskuler (di dalam pembuluh darah). Bagian atau kompartemen ini dipisahkan oleh membran sel. Distribusi cairan harus seimbang atau homoestatis, keseimbangan tersebut diperoleh melalui sistem kompleks yang melibatkan protein dan elektrolit. Penumpukan cairan di dalam jaringan (edema) merupakan tanda awal kekurangan protein. 4. Menjaga netralitas tubuh Protein tubuh bertindak sebagai buffer, yaitu bereaksi dengan asam dan basa untuk menjaga pH tetap konstan. Sebagian besar jaringan tubuh berfungsi dalam keadaan netral atau sedikit alkali (7,35 7,45). 5. Pembentukan antibodi Kekurangan protein tubuh rentan terhadap serangan penyakit dan bahanbahan toksik lainnya. 6. Mengangkut zat-zat gizi Protein berperan dalam pengangkutan nutrien dari saluran pencernaan melalui dinding saluran pencernaan ke dalam darah, darah ke jaringan-jaringan dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. pengangkut lipida dan bahan sejenis lipid. 7. Sumber energi Protein sebagai sumber energi lebih mahal baik ditinjau dari harga maupun jumlah energi yang dibutuhkan untuk metabolisme energi. Misalnya protein pengikat retinol mengangkut vitamin A, transferin mengangkut mangan dan besi, lipoprotein

H. Penggolongan Protein Protein terdiri atas protein fibrous (protein bentuk serabut), protein globular (protein berbentuk bola), dan protein konyugasi (protein sederhana yang terikat dengan unsur-unsur lain). 2. Protein fibrous Protein fibrous adalah protein berbentuk serabut, terdiri atas beberapa rantai peptida berbentuk spiral yang terjalin satu sama lain sehingga menyerupai bahan yang kaku. Karakteristik protein fibrous adalah daya larut rendah, memiliki kekuatan mekanis yang tinggi, dan tahan terhadap enzim pencernaan. Protein ini terdapat dalam unsur-unsur tubuh organisme hidup. Contoh protein fibrous adalah : - Kolagen, merupakan protein utama jaringan ikat, tidak larut dalam air, mudah berubah dalam bentuk gelatin jika dipanaskan di dalam asam encer atau alkali. Kolagen tidak mengandung triptofan tetapi banyak mengandung hidroksiprolin dan hidrosisilin. - Elastin, terdapat dalam urat, otot, arteri (pembuluh darah) dan jaringan elastin lainnya. Elastin tidak dapat berubah menjadi gelatin. - Keratin, banyak mengandung sulfur dalam bentuk sistein - Miosin, merupakan protein utama serat otot. 2. Protein globular Protein globular adalah protein berbentuk bola, terdapat dalam cairan jaringan tubuh. Larut dalam larutan garam dan asam encer, mudah berubah dibawah pengaruh suhu, konsentrasi garam, dan mudah mengalami denaturasi. Contoh protein globular adalah : - Albumin, terdapat dalam telur, susu, ikan gabus, plasma, dan hemoglobin, larut dalam air, mengalami koagulasi bila dipanaskan.

- Glubolin, terdapat dalam otot, serum, kuning telur, dan biji tumbuh-tumbuhan, tidak larut dalam air tetapi larut dalam larutan garam encer dan garam dapu, serta mengendap dalam larutan garam konsentrasi tinggi, mengalami koagulasi bila dipanaskan.. - Histon, didalam sel terikat dengan asam nukleat, terdapat dalam jaringan timus dan pankreas. - Protamin, berkaitan dengan asam nukleat. 3. Protein konyugasi Protein konyugasi adalah protein sedrhana yang terikat dengan bahanbahan non-asam amino, gugus non-asam amino disebut gugus prostetik. Contoh protein konyugasi adalah : - Nukleoprotein, kombinasi protein dengan asam nukleat, mengandung 9 10% fosfat, terdapat dalam inti sel, bagian penting DNA dan RNA (pembawa gen), dapat larut dalam air, tidak mudah didenaturasi oleh panas. - Lipoprotein, protein larut dalam air yang berkonyugasi dengan lipida, seperti lisitin dan kolestrol, terdapat dalam plasma dan berfungsi sebagai pengangkut lipida dalam tubuh. - Fosfoprotein, protein yang terikat melalui ikatan ester dengan asam fosfat seperti pada kasein di dalam susu. - Metaloprotein, protein yang terikat dengan mineral, seperti feritin dan hemosiderin dengan mineralnya zat besi, tembaga, dan seng. - Hemaprotein dan flavoprotein. I. Struktur Asam Amino Asam amino terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Beberapa asam amino disamping mengandung unsur-unsur tersebut juga mengandung unsur-unsur fosfor, besi, yodium, dan kobal. Asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekul yang esensial untuk

kehidupan.

Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat

disentesis oleh tubuh dan harus ada dalam pakan. Asam amino terdiri atas atom karbon yang terikat pada satu gugus karboksil (-COOH). Satu gugus amino (-NH2), satu gugus hidrogen (-H), dan satu gugus radikal (-R) atau rantai cabang.

COOH (gugus karboksil)

R (gugus alkali)

NH2 (gugus amino)


Pada umumnya asam amino yang diisolasi dari protein karboksilat merupakan alfasam amino, yaitu gugus karboksil dan amino terikat pada atom C yang sama. Yang membedakan asam amino satu sama lain adalah rantai cabang atau gugus R-nya. R berkisar dari satu atom H sebagaimana terdapat pada asam amino paling sederhana glisin ke rantai karbon yang lebih panjang, yaitu hingga 7 atom karbon. J. Fungsi Asam Amino

Triptofan berfungsi sebagai prekursor vitamin niasin dan pengantar syaraf seretonin (pembawa pesan dari satu sel syaraf ke yang lain). Metionin berfungsi memberikan gugus metil guna sintesis kolin dan kretinin, prekursor sistein dan ikatannya mengandung sulfur lain. Fenilalanin berfungsi sebagai prekursor tirosin dan bersama membentuk hormon-hormon tiroksin dan epineprin. Tirosin berfungsi sebagai prekursor bahan yang membentuk pigmen kulit. Arginin bersama dengan sentrolin terlibat dalam sintesis ureum dalam hati.

Glisin mengikat bahan-bahan toksik dan mengubahnya menjadi bahan yang tidak berbahaya, sintesis profirin nukleus hemoglobin dan merupakan bagian dari asam empedu. Glutamin dibentuk dari asam glutamat dan asparigin dari asam aspartat merupakan simpanan asam amino di dalam tubuh. Histidin sintesis histamin. di dalam sel. Kreatin disintesis dari arginin, glisin, dan metionin

bersama fosfat, kreatinin fosfat, suatu simpanan penting fosfat bernergi tinggi

K. Penggolongan Asam Amino Berdasarkan rantai cabang atau jumlah gugus asam (karboksil) dan basa (amino), maka asam amino dapat diklasifikasikan dalam : 1. Asam amino netral Asam amino yang mengandung satu gugus asam dan satu gugus amino, terdiri atas asam amino dengan rantai cabang hidrokarbon atau asam amino alifatik (gli, ala, fal, leu, eli), hidrosil (ser dan tre), aromatik (ven, tyr, dan trp), dan yang mengandung sulfur (sis dan met). 3. Asam amino asam (rantai cabang asam) Asam amino yang mengandung kelebihan gugus asam dibanding gugus basa, yaitu asp, glu, asn, gln. 4. Asam amino basa (rantai cabang basa) Asam amino mempunyai kelebihan gugus basa, yaitu lis, arg, his, orn (ornitin tidak terdapat dalam protein, tetapi merupakan hasil antara sintesis urea). 5. Asam imino Asam amino yang mengandung nitrogen imino pengganti gugus amino primer, yaitu pro. Berdasarkan tingkat esensialnya, asam amino dibedakan dalam :

1. Asam amino esensial : arginin (arg), leusin (leu), isoleusin (ile), valin (val), triptofan (trp), fenilalanin (fen), methionin (met), treonin (tre), lisin (lis), dan histidin (his). 2. Asam amino tidak esensial : Asam amino tidak esensial bersyarat dalah asam amino yang disintesis dari asam amino lain atau metabolit yang mengandung nitrogen kompleks lain. Contohnya prolin (pro), serin (ser), tirosin (tyr), sistein (sis), dan glisin (gli). Asam amino betuk-betul tidak esensial adalah asam amino yang dapat disintesis melalui aminase reduktif asam keton atau melalui transaminase. Contohnya glutamat (glu), alanin (ala), aspartat (asp), glutamin (gln), dan asparagin (asp). Asam amino yang diperlukan untuk mensintesis asam amino tidak esensial disebut prekursor asam amino tersebut. Prekursor asam amino Asam amino Sistein Tirosin Arginin Prolin Histidin Glisin Prekursor Metionin dan serin Fenilalanin Glutamat dan aspartat Glutamat Glutamat Serin

L. Struktur Peptida Struktur peptida terdiri atas struktur primer, sekunder, tersier, dan kuartener. 1. Struktur primer, Struktur ini ditentukan oleh ikatan kovalen antara residu asam amino yang berurutan, yang membentuk ikatan peptida. Struktur primer dapat digambarkan sebagai rumus bangun yang biasa ditulis untuk senyawa organik.

Urutan, macam, dan jumlah asam amino yang membentuk rantai polipeptida adalah struktur primer protein. 2. Struktur sekunder Struktur ini terjadi karena ikatan hidrogen antara atom O dari gugus karbonil (C=O) dengan atom H dari gugus amino (N-H) dalam satu rantai polipeptida, memungkinkan terbentuknya konformasi spiral yang disebut struktur helex. Bila ikatan hidrogen tersebut terjadi antara dua rantai polipeptida, maka nasingmasing rantai tidak mebentuk helex melainkan rantai paralel dengan bentuk berkelok-kelok yang disebut konformasi . Rantai polipeptida dengan konformasi dihubungsilangkan (cross-linked) oleh ikatan hidrogen sehingga membentuk suatu struktur yang disebut lembaran berlipat (pleated sheets). Struktur polipeptida dalam protein serabut pada rambut dan wol berbentuk apiral yang berarah putaran kanan. Konformasi demikian disebut -helex atau -keratin rambut atau wol, sedangkan berkelok-kelok disebut -keratin.

3. Struktur tersier Struktur ini terbentuk karena terjadinya pelipatan (folding) rantai -helex, konformasi , maupun gulungan rambang suatu polipeptida, membentuk protein globular, yang struktur tiga dimensinya lebih rumit daripada protein serabut. 4. Struktur kuartener Sebagian besar protein berbentuk globular yang mempunyai berat molekul lebih dari 50.000 merupakan oligomer, yang terjadi dari beberapa rantai polipeptida yang terpisah. Rantai polipeprida ini yang juga disebut protomer saling mengadakan interaksi membentuk struktur kuartener dari protein oligomer tersebut. H. Metabolisme Protein a. Faktor-faktor metabolisme protein 1. Sumber protein

2. Ukuran partikel 3. Perlakuan terhadap bahan makanan sebelum atau pada saat prosesing 4. Jumlah makanan yang dikonsumsi 5. ukuran dan umur organisme hidup 6. Suhu, pH dan lain-lain. 7. Kelenjar pencernaan 8. Komponen non-protein dalam makanan Metabolisme protein meliputi : 1. Untuk penguraian atau pemecahan sempurna 1AA* + 4.6 O2 Dalam unit berat: 1 g AA + 1.25 g O2 2. Untuk glukoneogenesis 1AA* + 42.6 O2 Dalam unit berat: 1 g AA + 0.68 g O2 0.095 mol ATP 3. Untuk sintesis protein 1AA* + 6 ATP Dalam unit berat: 1AA + 0.051 ATP 0.85 g protein + 0.15 g H20 100 g protein + 1H20 0.86 g CO2 + 0.17 g NH3 + 0.12 g H2O + 0.53 g glukosa + 2.3 CO2 + 1.2 NH3 + 0.66H20 + 0.35 glukosa + ATP 1.7g CO2 + 0.17 g NH3 + 0.38 g H2O + 0.21 mol ATP 4.5 CO2 + 1.2 NH3 + 2.5H20 + 0.03 H2S + 24.8 ATP

Catatan : *AA = jumlah asam amino dengan berat molekul rata-rata 118 g dan BM protein = n x 100 g, dimana n = jumlah asam amino b. Kelenjar pencernaan 1. Hati dan empedu hati merupakan uni pembongkaran dan pembangunan. Pembangunan berlangsung dengan menggunakan yang telah dicerna dan diabsorbsi

melalui sistem sirkulasi. Kantong empedu

Aktivitas utama pembongkaran menyangkut menampung cairan empedu yang

pembongkaran hemoglobin menjadi bilirubin dan biliverdin. berfungsi disekresikan oleh organ hati. Hati sebagai tempat metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat. 2. Pankreas Pankreas memiliki 2 tipe sel (sel eksokrin dan endokrin). Enzim yang disekresikan oleh pankreas eksokrin adalah protease (tripsin, khemotripsin, elastase, karboksipeptidase), enzim amilase, khitinase, dan lipase pankreas endokrin adalah kelompok sel-sel yang terdapat pada sel-sel eksokrin. Sel-sel tersebut penghasil hormon sehingga selalu berhubungan dengan kapiler darah. Pada hewan tingkat tinggi sel A (alfa) yang mensekresikan glukagon, sel B (betha) yang mensekresikan insulin, dan sel D (gamma) yang mensekresikan somatostatin. Insulin dapat memacu sentesis dengan memacu peningkatan asam amino ke dalam hati. c. Fungsi mucus dan enzim Mucus berfungsi untuk melindungi gastrointestinal. Mucus ini disekresi oleh tiap-tiap bagian dari alat-alat gastrointestinal. Selain itu, mucus juga berfungsi memperlicin ruang mucosa dan mebentuk lapisan yang tipis untuk menghindari dari kelicetan atau pengikisan mucus. Enzim berfungsi untuk memecah persenyawaan kimia yang mempunyai berat dan jumlah molekul besar menjadi lebih kecil atau lebih sederhana. d. Pembagian protease 1. Proteinase atau endopeptidase berperan sebagai katalisator dalam

menghidrolisis rantai pentida bagian tengah dan yang sangat spesifik, atau berfungsi untuk merombak protein menjadi polipeptida, misalnya pepsinase (pH optimum 1,5 2,5), cathepsin (pH optimum 4,0 6,0), tryptase (trypsin, chymotripsin) pH berkisar pada suasana alkalis. 2. Peptidase atau eksopeptidase menkatalisis pada pelepasan ujung asam amino, atau berfungsi merombak polipeptida menjadi peptida dan asam amino terbagi atas polipeptida, tripeptidase, dipeptidase, aminopeptidase,

carboxypeptidase.

Endo dan eksopeptidase terdapat pada baik sebagai

enzim intra selluler maupun ekstra selluler. Jenis jenis enzim pencernaan dan organ penghasilnya Organ penghasil Lambung Jenis enzim yang disekresikan Protease (pepsin) Amilase, lipase, esterase, khitinase

Usus

Aminopeptidase, dipeptidase, nukleoprptidase, lipase, maltosa, laktase, sukrase

Pangkreas

Protease, tripsin, khemotripsin, karboksipeptidase, elastase, amilase, lipase, khitinase

e. Syarat makanan yang dapat dicerna Persyaratan zat makanan yang dapat dicerna atau diserap oleh dinding alat pencernaan adalah : 1. Bentuk larutan, memudahkan dalam penyerapan 2. Mempunyai ukuran tertentu, sehingga dapat melewati membran permukaansel dari alat pencernaan menunju ke sistem sirkulasi. f. Beberapa cara masuknya suatu zat ke dalam membran sel 1. Difusi adalah proses pergerakan molekul dari wilayah yang konsentrasinya tinggi ke wilayah konsentrasinya rendah. 2. Osmose adalah proses pergerakan air dari media yang konsentrasinya tinggi melalui membran semipermeabel. 3. Tranpor aktif adalah sutu usaha untuk mempertahankan konsentrasi ion jauh dari keadaan keseimbangannya. 4. Endositosis adalah proses masknya suatu bahan (partikel padat atau cair) ke dalam sel melalui membran sel.

g. Tenaga pengangkut zat Ada dua macam tenaga pengangkut zat untuk dapat melewati membran sel, yaitu 1. Energi kinetik, yaitu energi dari ion-ion dan molekul. 2. Energi metabolik, yaitu energi penggerak yang membutuhkan enzim atau tenaga lain yang merupakan ciri sel hidup. h. Proses metabolisme protein Makanan dihaluskan menjadi molekul-molekul atau butiran-butiran mikro yang sesuai untuk disbsorbsi melalui dinding gastrointestinal ke dalam aliran darah. Pencernaan merupakan suatu proses yang berjalan terus menerus. Pada umumnya protein dihidrolisis menjadi asam amino atau Bermula dari pengambulan makanan dan berakhir pada pembuangan sisa makanan. polipeptida sederhana. Protein tersusun dari rantai panjang asam amino, asam aminonya (-NH2) berkaitan dengan kelompok karbnoksil 9-COOH). dengan rantai yang lebih pendek. Hidrolisis nutrien dibantu oleh enzim pencernaan. pada suhu di atas kisaran optimum. peningkatan suhu. Adanya HCl pada lambung, makanan yang termakan mengalami pengasama hingga berbentuk bubur atau chyme masuk di usu bagian depan akan bercampur dengan cairan empedu. Cairan pankreas selain mengandung enzim juga mengandung bikarbonat. Cairan empedu yang sifatnya basah dan adanya ion bikarbonat dari pankras menyebabkan enzim pankreas dan enzim dari mukosa usus dapat bekerja secara optimal. Enzim protease Pada proses pencernaan, ikatan tersebut diputus menjadi molekul-molekul asam amino atau peptida

dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti pH dan suhu. Produksi enzim menurun Aktivitas enzim meningkat dengan

Proses penyerapan protein

1. Secara umum enzim yang sangat berperan dalam pencernaan protein adalah proteinase baik yang disekresikan oleh kelenjar lambung, pankreas maupun dinding usus. 2. Di lambung, protein dalam makanan mengalami denaturasi oleh kerja HCl dan dihidrolisis dengan katalisator enzim pepsin, sehingga protein berubah menjadi peptid. 3. Di usus, peptid dihidrolisis dengan enzim karboksipeptidase, tripsin, khimotripsin, dan elastase sebagai katalisatornya menjadi polipeptida, tripeptida, dan dipeptida. Enzim-enzim tersebut disekresikan oleh pankreas eksokrin 4. Selanjutnya oligopeptida ini dihidrolisis oleh enzim peptidase yang disekresikan oleh dinding usus sebagai katalisatornya menjadi tripeptida dan dipeptida. 5. Tripeptida dan dipeptida dihidrolisis oleh amsing-masing enzim tripeptidase dan dipeptidase hingga menjadi asam amino. 6. Hidrolisis tripeptida dan dipeptida dapat terjadi di rongga usus (extracelluler digestion) atau teripeptida dan dipeptida diserap oleh enterosit (intracellular digestion). 7. Penyerapan bahan makanan tercerna (terlarut) oleh organ pencernaan usus untuk masuk ke dalam cairan tubuh dan melalui darah (cairan tubuh) zat makanan tercerna tersebut akan dibawa ke sel yang membutuhkannya. i. Kelebihan protein Sel mempunyai batas tertentu dalam menimbun protein, bila mencapai batas, setiap penambahan asam amino dalam cairan tubuh dipecahkan dan digunakan untuk energi atau disimpan dalam lemak.

BAB III. Penutup


Protein merupakan komponen utama dalam semua sel hidup. Fungsi

utama protein ialah unsur pembentuk struktur sel, misalnya dalam rambut, wol, kolagen, jaringan penghubung, membran sel dan lain-lain. Selain itu dapat pula berfungsi sebagai protein aktif, seperti enzim, yang berperan sebagai katalis segala proses biokimia sel. Protein aktif yang lain adalah hormon, hemoglobin, protein terikat pada gen, toksin, antibodi atau antigen, dan lain-lain.

Protein terdiri atas asam-asam amino yang membentuk ikatan peptida, dimana jenis asam amino dan bentuk struktur protein sangat menentukan sifat dan karakteristik dari protein tersebut. DAFTAR PUSTAKA Brody S. 1974. Bioenergetics and Growth with Special Reference to Efficiency Complex in Domestic Animals. London: Collier-McMillan Publ. Houlihan D, Bounjard T, Jobling M. 2001. Food Intake in Fish. Oxford : Osney Mead, Blackwell Science Ltd. Lehninger. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M., penerjemah. .Jakarta : Penerbit Erlangga. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 1999. Biokimia Harper. Hartono A, penterjemah; Santoso AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Piliang WG, Al Haj SDj. 2006. Fisiologi Nutrisi. Bogor : Penerbit IPB Press. Stryer L. 2000. Biokimia. Tim penerjemah bagian biokimia FKUI, penterjemah; Soebianto SZ, Setiadi E., Editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

MODUL VI
Judul : Vitamin BAB I. Pendahuluan
S. Latar Belakang Vitamin merupakan komponen organik yang dibutuhkan oleh organisme hidup termasuk udang dan ikan dalam jumlah yang sedikit namun sangat penting untuk memelihara proses kehidupan, seperi reaksi-reaksi metabolik dalam sel, pertumbuhan tubuh yang normal, dan untuk pemeliharaan kesehatan. Terdapat 15 vitamin yang secara positif diidentifikasi berpengaruh pada pertumbuhan udang dan ikan. Vitamin-vitamin tersebut adalah vitamin yang larut dalam lemak, meliputi vitamin A, D, E, dan K serta vitamin yang larut dalam air yang meliputi vitamin B-kompleks dan makro vitamin lainnya seperti cholin, asam askorbik dan inositol. yang berbeda-beda. Dalam jumlah yang sedikit, vitamin tidak digunakan secara habis dalam satu reaksi biokimia, namun dari satu molekul akan digunakan berulang-ulang. Secara bertahap vitamin mengalami degradasi dan memerlukan penggantian dengan molekul vitamin yang baru. Vitamin sering juga disebut faktor pelengkap makanan, karena vitamin pada kenyataannya tidak mensuplai kalori dan juga tidak mempengaruhi massa tubuh secara nyata. Tubuh tidak mapu mensintesis vitamin. Oleh karena itu, vitamin harus disuplai dari maknan atau merupakan makanan tambahan. T. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul karbohidrat meliputi : a. Pengelompokan vitamin b. Vitamin sebagai koenzim c. Peran vitamin dalam metabolisme d. Metabolisme vitamin yang larut dalam air e. Metabolisme vitamin yang larut dalam lemak Kedua kelompok vitamin ini memiliki metabolisme

U. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul ke-6 setelah mahasiswa mempelajari dan mampu menjelaskan mengenai modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, dan protein, serta sebelum mahasiswa mempelajari modul mineral, asam nukleat, enzim, dan metabolisme energi. V. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai vitamin, mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan pengelompokan vitamin, vitamin sebagai koenzim, peran vitamin dalam metabolisme, metabolisme vitamin yang larut dalam air, dan metabolisme vitamin yang larut dalam lemak.

BAB II. Pembelajaran


A. Pengelompokan Vitamin Vitamin dikelompokkan berdasarkan atas kelarutannya (larut dalam air dan larut dalam lemak). Jumlah vitamin yang larut dalam air lebih banyak dibandingkan vitamin yang larut dalam lemak. Perbedaan vitamin yang larut dalam air dan yang larut dalam lemak dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perbedaan vitamin yang larut dalam air dan yang larut dalam lemak

Vitamin larut dalam air Komposisi kimia ttd C, H, O2, N, S, Co Awal terjadinya Tdk ada provitamin Fungsi fisiologis Mentranfer energi

Vitamin larut dalam lemak

hanya C, H & O2

Bentuk provitamin (prekursor vit.)

Tdk mentransfer energi

Mekanisme penyerapan Bersamaan dg penyerapan air dari usus halus ke aliran darah Mekanisme penyimpanan Tdk disimpan dengan yg sama/tkt yg sama Mekanisme ekskresi Melalui urine Melalui feses Disimpan dimana lemak dideposit Diserap dlm saluran usus halus dg bantuan kilomikron dan misel

B. Vitamin sebagai Koenzim Hampir semua vitamin, terutama vitamin yang larut dalam air mempunyai aktifitas katalitis (catalytically active), untuk mempercepat suatu reaksi. Oleh karenanya, vitamin mempunyai fungsi sebagai koenzim. Vitamin B-komplek selalu berhubungan dengan fungsinya untuk mentransfer energi. Dalam hal ini, vitamin selalu terlebih dahulu diubah menjadi molekul-molekul yang lebih komplek yang disebut koenzim. Koenzim adalah suatu sistem yang disebut juga sebagai holoenzim dan terdiri atas apoenzim yang terdiri atas protein dan kofaktor yang terdiri atas ion-ion inorganik dan atau koenzim. Tidak semua koenzim mempunyai kedua tipe ini (apoenzim dan kofaktor). Ada tiga jenis koenzim atau grup prostetik, yaitu asam adenilat (adenylic acid) atau satu komponen dari turunan-turunan komponen-komponen yang mengandung fosfor, komplek metalik dari porphyrin, dan turunan-turunan vitaminvitamin B-komplek. C. Peran Vitamin dalam Metabolisme Umumnya vitamin yang larut dalam air berfungsi sebagai koenzim dalam

metabolisme energi, protein (asam amino) dan asam nukleat. Peran yang lain adalah sebagai kosubstrat dalam reaksi enzim (asam askorbik dalam proses redoks), serta komponen struktural (contohnya kolin dan inositol dalam fosfolipid). D. Metabolisme Vitamin yang Larut dalam Air Menurut jumlah penyebarannya dalam tubuh, maka vitamin yang larut dalam air golongan B-komplek dapat diurut sebagai berikut : 1. Asam nikotinik (Niasin) 2. Asam pantotenat 3. Riboflavin (vitamin B2) 4. Tiamin (vitamin B1) 5. Biotin 6. Pyridoxin (vitamin B6) 7. Asam folat 8. Kobalamin (vitamin B12) 1. Niasin (Vitamin B5) Niasin dapat disintesis dari asam amino triptopan, terdiri atas gugus amida yang secara fisiologis mempunyai aktivitas dalam tubuh. Niasin merupakan komponen yang terdiri atas dua koenzim yang aktif untuk mentransfer energi, yaitu Nicotinamide Adenine Dinucleotide (NAD) Dinucleotide Phosphate (NADP). Niasin diabsorpsi melalui usus halus. Beberapa reaksi enzimatik yg dan Nicotinamide Adenine

memerlukan NAD dan NADP sebagai koenzim antara lain : - NAD yang berhubungan dengan reaksi-reaksi dehidrogenase. a. Asam piruvat laktat

b. VitaminA aldehida vitimin A alkohol c. Asam malat Asam oksaloasetat Konversi aldehida menjadi asam, misalnya : a. Gliseraldehida 3-fosfat 1,3 difosfogliserat

b. Vitamin A aldehida retinol NAD yg berhububungan dengan reaksi deaminasi oksidatif dari asam amino, contohnya Asam glutamat alfaketoglutarat Reaksi-reaksi sintesis biologis, misalnya : a. Sintesis asam lemak (NAD) b. Sintesis kolesterol (NADP) c. Sintesis hormon-hormon steroid Reduksi NAD pada reaksi-reaksi dalam Kreb Cycle

2. Asam Pantotenat Asam pantotenat merupakan komponen koenzim A. Asam pantotenat

berpartisipasi dalam semua proses asetilasi, misalnya pada proses acyl CoA. Dalam proses metabolisme, asam pantotenat di diabsorpsi dari usus halus dan diekskresi melalui urine. panthoein). Beberapa reaksi yang memerlukan asaam pantotenat, seperti : Oksidatif dekarboksilasi - Piruvat ----------------------------> acetyl CoA TPP, NAD, asam lipoat - Alpha-ketoglutarat ---------------------> suksinil Co-A - Katabolisme asam lemak melalui jalur beta-oksidasi - Sintesis lemak - Sintesis hormon-hormon steroid, contohnya ACTH 3. Riboflavin (Vitamin B2) Asam pantotenat dideposit dalam hati dan ginjal. Konversi asam pantotenat menjadi coA melalui gugus intermedier (gugus

Riboflavin

merupakan

komponen

dari

dua

koenzim,

yaitu

Flavin

Mononukleotide (FMN) dan Flavin Adenine Dinukleotide (FAD).

Keduanya

berfungsi dalam mentransfer hidrogen. Riboflavin berkaitan erat dengan koenzim NAD dan NADP. Riboflavin penting dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Riboflavin merupakan komponen enzim L-amino acid oxidase, enzim xanthine oksidase, glycine oxidase, dan succinic dehydrogenase. Dalam proses metabolisme, riboflavin diabsorpsi melalui dinding usus halus secara difusi, dibawa oleh darah ke jaringan. Riboflavin diretensi dalam hati dan ginjal, serta diekskresi melalui urin. 4. Tiamin (Vitamin B1) Tiamin merupakan komponen koenzim tiaminpyrofosfat (TPP/ThPP) yang lebih dikenal dengan nama koenzim cocarboxylase. Tiamin terlibat dalam reaksi enzimatik dekarboksilasi dalam metabolisme glukosa, bertindak sebagai koenzim TPP dalam siklus Kreb, serta terlibat dalam oksidasi glukosa. Dalam proses metabolisme, tiamin diabsorpsi di bagian usus halus, serta diretensi dalam hati dan ginjal. 5. Biotin Biotin berfungsi utama sebagai komponen koenzim untuk reaksi yang memerlukan CO2. Biotin juga berperan penting dalam glukoneogenesis, dalam sintesis dan oksidasi asam lemak, aktif dalam proses karboksilase metabolisme triptopan untuk sintesis niasin, serta dalam formasi transfer RNA untuk sintesis purin dan protein. Dalam proses metabolisme, biotin diabsorpsi di usus halus, diekskresi melalui urin, serta diretensi dalam hati dan ginjal. 6. Cyanokcobalamin (Vitamin B12) Fungsi biokimia cyanocobalamin adalah berperan penting dalam

pembentukan sel-sel darah merah, memelihara jaringan syaraf, sebagai koenzim cobamide, penting dalam sintesis asam-asam nukleat dan recycling asam tetrahidrofolik, memelihara aktivitas gluthation, serta berperan penting dlm konversi metilmalonil CoA menjadi suksinil CoA dan metilasil homosistein menjadi

metionin. 7. Asam Folat Fungsi biokimia asam folat adalah berperan penting dalam metabolisme protein sebagai komponen dari koenzim asam tetrahidrofolik, dibutuhkan dalam sintesis hemoglobin, glysin, metionin, cholin, thimin dan purin, berperan penting dalam metabolisme phenilalanin, tirosin, dan histidin. 8. Asam Askorbik (Vitamin C) Fungsi biokimia asam askorbik adalah berperan penting dalam

memelihara integritas jaringan dan sebagai kofaktor dari reaksi-reaksi hidroksilasi seperti hyidroksilasi triptophan, tirosin, lisin, phenilalanin, dan prolin. Asam askorbik sangat aktif untuk menurunkan senyawa-senyawa berbahaya dari tubuh, dibutuhkan untuk konversi asam folik menjadi asam tetrahidrofolik, triptophan menjadi serotonin. Asam askorbik dibutuhkan juga untuk sintesis hormon-hormon steroid. Berdasarkan kandungan asam askorbik, bahan pakan digolongkan atas 3 golongan, yaitu : 1. Excellent catergory, adalah bahan pakan yang mengandung 100 mg asam askorbik dalam setiap 100 mg bahan pakan, contohnya paprika, brokoli, dan lain-lain. 2. Good category, adalah bahan pakan yang mengandung 60-99 mg asam askorbik dalam setiap 100 mg bahan pakan, contohnya sitrus, kol, bayam, dan lain-lain. 3. Fair category, adalah bahan pakan yang mengandung 30-49 mg asam askorbik dalam setiap 100 mg bahan pakan, contohnya asparagus, tomat, semangka, dan lain-lain. Vitimin C atau asam askorbik diserap diusus halus dan diekskresi melalui urin. Status vitamin C pada tubuh dapat dievaluasi melalui plasma darah. 9. Kolin Fungsi biokimia kolin adalah sebagai komponen penting dari asetilcholin,

lecithin fosfolipid, dan sphingomyelin.

Kolin juga berperan penting dalam

memelihara struktur sel dan transmisi impuls syaraf, aktif sebagai donor dalam sintesis methionin, serta berperan penting dalam transpor lipid ke seluruh tubuh 10. Inositol-Myoinositol Fungsi biokimia inositol-myoinositol adalah esensil sebagai komponen inositol yang mengandung fosfolipid, penting sebagai komponen struktur rangka, jantung, dan jaringan otak, berperan penting dalam perkembangan hati dan selsel tulang, transpor kolesterol, dan sintesis RNA. E. Metabolisme Vitamin yang Larut dalam Lemak 1. Vitamin A Fungsi biokimia vitamin A adalah berperan penting dalam penglihatan sebagai pigmen penglihatan, memelihara sekresi mukosa jaringan epitel, melindungi membran sel mukus dan jaringan dalam metabolisme mucopolysacarida, serta membantu melepas enzim proteolitik dari lisozim dan berperan dalam sintesis kortikosterol dari kolesterol. Vitamin A tidak terdapat dalam jaringan tanaman, namun berada dalam bentuk prekursor atau provitamin A yang dikenal sebagai karoten.Komponenkomponen vitamin A di alam adalah : - Komponen alkohol ----> retinol

- Komponen aldehida -----> retinal atau retinen - Komponen asam -----> asam retinoik. Vitamin dapat ditemukan dalam jaringan tubuh hewan, hati merupakan organ penyimpan vitamin A dan merupakan sumber vitamin A terkaya. Vitamin A juga ditemukan pada kuning telur dan air susu. Absorbsi vitamin A dipengaruhi oleh penyerapan protein. Protein mempercepat transfer provitamin A menjadi vitamin A. 2. Cholecalciferol (Vitamin D) Fungsi biokimia cholecalciferol (Vitamin D) adalah berperan penting

dalam

metabolisme

calcium

dan

fosfor,

yaitu

sebagai

hormon

1,25-

dihydroxycholecalciferol, memfasilitasi absorpsi calcium dari saluran gastrointestinal, mengkonversi fosfor organik menjadi fosfor anorganik dalam tulang, meresorpsi fosfat dan asam amino dari tubula ginjal, memelihara level calcium darah dan deposit serta oksidasi sitrat dlm tulang. 3. Vitamin E Vitamin E disebut juga vitamin antisterilitas. beberapa bentuk isomer, yaitu: - Alpha-tocopherol - Beta-tocopherol - Gamma-tocopherol - Delta-tocopherol Fungsi biokimia vitamin E adalah sebagai anti oksidan (melindungi komponen reaktif (seperti HUFA, vitamin A, dan C) dari oksidasi, membantu sel-sel pernapasan (alpha-tocoferol berperan jaringan jantung dan otot). Vit E berfugsi juga sebagai kofaktor dalam enzim cytochrome-reductase dalam sistem NAD oksidase dan suksinate oksidase, mengatur sintesis komponen-komponen tubuh, yaitu berperan dalam biosintesis DNA, sabagai kofaktor dalam sintesis asam askorbik. Dalam proses metabolisme, vitamin E diabsorpsi dalam usus halus dengan bantuan asam empedu, dideposit dalam jaringan tubuh seperti lemak, otot, kelenjar adrenal, jantung, dan hati. Vitamin E diekskresi melalui feses. 4. Vitamin K Vitamin K dikenal juga sebagai quinone. Vitamin K ada 2 macam, yaitu vitamin K1 (phylloquinone), terdapat dalam tumbuhan berhijau daun dan vitamin K2 (menaquinone), yang disintesa oleh mikroorganisme. Fungsi biokimia vitamin K adalah mengatur kandungan protein plasma yang dibutuhkan untuk pembekuan darah, dengan membentuk komplek protein, Vitamin ini mempunyai

yaitu prothrombine (faktor II), proconvertine (faktor VII), plasma thromboplastin (faktor IX), dan faktor Stuarts (faktor X). Vitamin K berperan penting dalam transpor elektron dan fosforilasi oksidatif. Dalam proses metabolisme, vitamin K diabsorpsi dengan bantuan kelenjar empedu, ke kelenjar limpa dan masuk ke dalam sirkulasi darah. Ekskresi vitamin K dilakukan melalui feses

BAB III. Penutup


Vitamin merupakan komponen organik yang dibutuhkan oleh organisme hidup dalam jumlah yang sedikit untuk memelihara proses kehidupannya. Terdapat 15 vitamin yang secara positif diidentifikasi berpengaruh pada pertumbuhan udang dan ikan. Vitamin-vitamin tersebut adalah vitamin yang larut dalam lemak, meliputi vitamin A, D, E, dan K serta vitamin yang larut dalam air yang meliputi vitamin B-kompleks dan makro vitamin lainnya seperti cholin, asam askorbik dan inositol. Hampir semua vitamin, terutama vitamin yang larut dalam air mempunyai aktifitas katalitis (catalytically active), untuk mempercepat suatu reaksi, sehingga vitamin mempunyai fungsi sebagai koenzim. Peran sebagai koenzim dalam proses metabolisme energi, protein (asam amino), dan asam nukleat. Peran yang lain adalah sebagai kosubstrat dalam reaksi enzim (asam askorbik dalam proses redoks), serta komponen struktural (contohnya kolin dan inositol dalam fosfolipid). DAFTAR PUSTAKA Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press. Tacon, AGJ. 1991. Vitamin nutrition in shrimp and fish. Dalam Akiyama, A.M and Tan, R.K.H. (editor). Proceedings of the aquaculture, feed processing and nutriton workshop. Piliang WG, Al Haj SDj. 2006. Fisiologi Nutrisi. Bogor : Penerbit IPB Press.

MODUL VII
Judul : Mineral BAB I. Pendahuluan
W. Latar Belakang Fungsi utama mineral dalam tubuh organisme antara lain pembentukan struktur rangka, memelihara sistem koloid (tekanan osmotik, viskositas, difusi) dan regulasi keseimbangan asam basa (Lall, 1989). Mineral juga merupakan komponen penting dari hormon-hormon dan aktivator enzim. Kontrol mekanisme biokimia yang kompleks dan regulasi penambahan, penyimpanan dan ekskresi berbagai unsur mineral, memungkinkan ikan untuk hidup dalam keseimbangan dinamik dengan media air. Dari 109 unsur mineral yang terdapat di alam, hanya beberapa yang dianggap penting untuk digunakan dalam tubuh, yaitu kurang lebih 40 elemen. Unsur-unsur mineral terdapat dalam jumlah relatif sedikit dalam tubuh namun sangat essensial untuk kelangsungan metabolisme yang normal dalam tubuh. Suatu unsur anorganik dinyatakan essensial bagi tubuh jika memenuhi 4 kriteria utama. Pertama, mineral harus ada dalam jumlah dan konsentrasi yang cukup konstan dalam tubuh organisme hidup yang sehat dengan sedikit variasi dari satu organisme ke organisme lainnya. Kedua, defisiensi akibat pemberian pakan akan menyebabkan terjadinya ketidaknormalan fungsi fisiologis oleh karena pakan harus mengandung semua unsur mineral yang esensial dalam jumlah dan perbandingan yang seimbang serta harus bebas dari sifat-sifat keracunan. Ketiga, penambahan mineral yang defisiensi sekurang-kurangnya harus dapat mencegah atau memperbaiki ketidaknormalan fungsi fisiologis. Terakhir, ketidaknormalan yang disebabkan oleh defisiensi mineral tertentu harus disertai dengan perubahan-perubahan biokimia yang spesifik, bila defisiensi dapat diatasi dengan cara suplementasi mineral dalam pakan, maka kelainan biokimia akan kembali normal.

X. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul karbohidrat meliputi : a. Penggolongan mineral b. Distribusi mineral dalam organ dan jaringan c. Absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral d. Fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh Y. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul ke-7 setelah mahasiswa mempelajari dan mampu menjelaskan mengenai modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, protein, dan vitamin, serta sebelum mahasiswa mempelajari modul enzim, asam nukleat, dan metabolisme energi. Z. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai mineral, mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan penggolongan mineral, distribusi mineral dalam organ dan jaringan, absorbsi, metabolisme, dan ekskresi mineral, fungsi biokimia dan pengaturan mineral dalam tubuh.

BAB II. Pembelajaran


A. Penggolongan Mineral Mineral dibagi dalam beberapa golongan, yaitu mineral makro, mineral mikro, dan mineral trace atau mineral ultratrace. Mineral makro, dibagi 2, yaitu kation-kation utama meliputi Ca, Mg, Na dan anion-anion utama meliputi P, Cl, S. Mineral mikro meliputi Mn, Fe, Cu, I, Zn, Fl, dan V. Mineral trace meliputi Co, Mo, Se, Cr, Tin, Ni, dan Si. B. Distribusi Mineral dalam Organ dan Jaringan Mineral sebagai elemen penting dalam komposisi tubuh organisme hidup, terdistribusi keseluruh bagian tubuh organisme tersebut. Organ dan jaringan tempat distribusi utama mineral adalah :

1. Distribusi mineral pada jaringan tulang (osteotropik). Contohnya Ca, Mg, Sr, Be, P, F, Va, Ba, Ti, dan Ra. 2. Disribusi mineral pada sistem retikuloendotelial. Contohnya I, Cu, Mn, Si, Cr, dan Ni. 3. Mineral sebagai partikel non spesifik pada jaringan. Contohnya Na, K, S, Cl, Li, dan Rb. C. Absorbsi, Metabolisme, dan Ekskresi Mineral Hasil absorpsi kalsium (Ca) dideposit pada tulang dan kulit. diekskresi melalui insang dan ginjal. dan ginjal. Ion Ca

Mineral fosfor (P) setelah diabsorpsi akan

dideposit pada jantung, hati, ginjal, dan darah, sedangkan kkskresi P melalui renal Pada magnesium (Mg) proses absorbsi terjadi usus halus dan Natrium (Na) diabsorpsi di usus halus dan ekskresinya melalui urin dan feses.

lambung, sedangkan proses diekskresi melalui urin. Kalium (K) diabsorpsi dalam usus halus dan diekskresi melalui urin. Absorpsi zat besi (Fe) oleh ikan rainbow trout terjadi pada organ peritonial cavity dan disimpan pada organ hati, limpa, dan ginjal. Ekskresi Fe dilakukan melalui urin dan feses. Distribusi mangan (Mn) dalam tubuh ikan adalah di tulang, hati, kulit, ginjal, jaringan gonad, dan otot. Absorpsi Zn lewat insang dan saluran usus sedangkan ekskresinya melalui ginjal dan insang (pd sel-sel clor). D. Fungsi Biokimia dan Pengaturan Mineral dalam Tubuh Fungsi utama mineral pada tubuh organisme hidup adalah : 1. Sebagai bagian pembentukan struktur kerangka tubuh atau formasi struktur skeleton Jenis mineral yang terbanyak adalah kalsium dan fosfor yang terdapat pada kerangka tubuh dan gigi. 2. Mempertahankan tingkat koloidal cairan tubuh dan mengatur beberapa sifat fisik sistem koloid, seperti tekanan osmotik, viskositas, difusi. 3. Regulasi keseimbangan asam basa. Ion-ion anorganik membantu mengatur keseimbangan asam basa. Untuk mempertahankan aktivitas organisme secara normal maka pH darah dan cairan-cairan tubuh lainnya harus tetap dalam kisaran yang relatif sempit. 4. Komponen dari hormon 5. Komponen atau aktivator enzim atau sebagai kofaktor

Secara khusus fungsi masing-masing mineral adalah : 1. Kalsium dan fosfor (Ca dan P) Fungsi biokimia Ca adalah bagian pembentuk tulang, berperan dalam distribusi ion pada jaringan lunak, berperan dalam kontraksi otot, aktivitas enzim, memelihara permeabilitas membran sel, regulasi pada insang, sirip, dan permukaan epitel. Fungsi biokimia P adalah bagian dari komponen asam-asam nukleat dan membran sel, berhubungan. langsung dengan produksi energi, berperan besar dalam metabolisme karbohidrat, lipid, asam amino, dan jaringan syaraf, sebagai buffer dalam cairan tubuh 2. Magnesium (Mg) Fungsi biokimia Mg adalah esensial dalam reaksi enzimatik, esensial dalam metabolisme intermedier, dalam reaksi enzimatik Phosphokinase (transfer P), Phyrophosphatase (hidrolisis P), dan Thiokinase (Asetil Co-A). 3. Natrium, Kalium, dan Clor Fungsi biokimia Na, K, dan Cl adalah mengontrol keseimbangan tekananosmotik dan asam basa, ion Na+berperan dalam tekananosmotik intra dan ekstrasel, ion Na+ dan K+berperan sebagai energi menbran plasma, ion Clmengatur keseimbangan K+ dan Mg+, serta berperan dalam transfor CO2 dan CO3. 4. Zat besi (Fe) Fungsi biokimia Fe adalah berperan dalam respirasi sel, utamanya aktivitas redoks dan transfor elektron, Fe yang berada dalam bentuk kompleks protein berfungsi sebagai heme compound (hemoglobin dan myoglobin), sebagai heme enzim (citocrome mitokondria 7 microsoma, katalase, periksidase dan lain-lain), sebagai non heme compound (transferin, ferritin, flavin dan enzim-enzim besi lainnya). 5. Cuprum (Cu)

Fungsi biokimia Cu adalah transfor elektron bersama dengan oksidasi cytocrome, berperan dalam aktivitas enzim, aktivitas hormon (tripsin, dopamin), dan membawa O2 dalam hemolimph. Kadar Cu banyak ditemukan pada organ otak, jantung, hati dan mata (iris). Organisme laut yang banyak mengandung Cu adalah moluska dan krustasea. 6. Mangan (Mn) Fungsi biokimia Mn adalah sebagai kofaktor enzim utamanya golongan metalloenzim, seperti arginase, pyruvate carboxylase, superoxide dismutase, terlibat dalam aktivitas enzim kinase, transferase, hydrolase, dan dekarboxylase, berperan penting dalam metabolisme lipid dan karbohidrat. 7. Seng (Zn) Fungsi biokimia Zn adalah bagian integral dari metalloenzim, katalisator untuk regulasi dan aktivitas enzim, berperan penting dalam metabolisme lipid, protein, dan karbohidrat. 8. Selenium (Se) Fungsi biokimia Se adalah kontrol aktivitas eritrosit dan plasma darah, merupakan bagian integral dari glutation peroxidase, memproteksi sel-sel dan membran dari toksisitas logam berat, contohnya cadmium dan mercury.

BAB III. Penutup


Mineral adalah senyawa organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil dalam pembentukan jaringan dan berbagai fungsi metabolisme dan osmoregulasi Golongan mineral makro dibagi 2, yaitu kation-kation utama meliputi Ca, Mg, Na dan anion-anion utama meliputi P, Cl, S. Mineral mikro meliputi Mn, Fe, Cu, I, Zn, Fl, dan V. Mineral trace meliputi Co, Mo, Se, Cr, Tin, Ni, dan Si. Mineral terdistribusi pada jaringan tulang (osteotropik), contohnya Ca, Mg, Sr, Be, P, F, Va, Ba, Ti, dan Ra. Disribusi mineral pada sistem retikuloendotelial.

contohnya I, Cu, Mn, Si, Cr, dan Ni, serta distribusi mineral sebagai partikel non spesifik pada jaringan, contohnya Na, K, S, Cl, Li, dan Rb. Secara umum mineral diabsorbsi di saluran usus dan dideposit di jantung, hati, ginjal, dan darah. Eksresi mineral melalui urin dan feses. Fungsi pembentukan mineral struktur dalam tubuh organisme atau adalah formasi sebagai bagian ,

kerangka

tubuh

struktur

skeleton

mempertahankan tingkat koloidal cairan tubuh dan mengatur beberapa sifat fisik sistem koloid, seperti tekanan osmotik, viskositas, difusi, regulasi keseimbangan asam basa, komponen dari hormon, serta komponen atau aktivator enzim atau sebagai kofaktor. DAFTAR PUSTAKA Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press. Piliang WG, Al Haj SDj. 2006. Fisiologi Nutrisi. Bogor : Penerbit IPB Press. Davis DA, Gatlin III DM. 1991. Dietary mineral requirements of fish and shrimp. Dalam. Akiyama AM, Tan RKH. (editor). Proceedings of the aquaculture, feed processing and nutriton workshop. Hal. 10-48. Lall, S.P. 1989. The minerals. Dalam : Halver JE. (editor). Fish Nutrition. Second edition. San Diego : Academic Press. Inc. p. 220-252.

MODUL VIII
Judul : Asam Nukleat BAB I. Pendahuluan
AA. Latar Belakang Sel adalah unit terkecil dari makhluk hidup. Dalam sel, terdapat lebih dari 90% massa (termasuk air) terdiri atas molekul-molekul besar yang disebut dengan makromolekul. Makromolekul merupakan komponen penting dalam kehidupan, meliputi protein, karbohidrat, lemak, dan asam nukleat. Asam nukleat adalah satu diantara makromolekul yang tidak essensial, karena dapat disintesis dalam tubuh dari senyawa-senyawa amfibolik. Asam nukleat adalah molekul kompleks lebih besar dari kebanyakan protein, mengandung karbon, oksigen, hidrogen, dan fosfor. Molekul ini berperan besar dalam proses penurunan sifat dan pembentukan berbagai protein. Asam nukleat ditemukan pada tahun1870, akan tetapi peranannya dalam genetika dan dalam kontrol aktivitas sel, diketahui dengan jelas setelah beberapa dekade. Hal tersebut disebabkan salah pengertiannya para ilmuan yang menganggap bahwa protein merupakan sumber informasi genetik, sehingga penelitianpenelitian lebih ditekankan pada protein selama setengah abad pertama. Peneliti penemu asam nukleat adalah Friedrich Miescher (Swiss, 1844-1895). Pada tahun 1870 Miescher mengisolasi inti sel darah putih dari nanah dengan menggunakan asam hidroklorat encer sebagai pelarut struktur sel lainnya. Protein yang melekat pada sel diuraikan dengan menggunakan enzim pepsin. Inti yang telah diisolasi kemudian diekstrak untuk dianalisis. Miescher menamakan komposisi ekstrak adalah nuklein karena sangat berbeda dengan protein. Istilah asam nukleat diperkenalkan oleh Richard Altman (ahli biokimia) 20 th kemudian setelah penemuan Friedrich Miescher. Miescher bekerja juga dengan spermatozoa ikan salem yang mempunyai inti sangat besar (90% lebih massa sel adalah inti). Disamping mengisolasi nuklein dari inti, Miescher juga mengekstrak zat organik dengan kandungan nitrogen

yang sangat tinggi yang diberi nama protamin. Miescher berpendapat bahwa protamin dan nuklein yang bersifat asam membentuk suatu kompleks yang tidak larut. Dewasa ini diketahui bahwa ekstrak inti sel mengandung histon yang berasosiasi dengan DNA inti. Meskipun Miescher tahu pentingnya nuklein, tetapi baru 60 tahun kemudian diketahui dengan mantap peranan genetik asam nukleat. Penelitian yang menonjol yang memantapkan peranan genetik asam nukleat adalah transformasi bakteri dan reproduksi virus. BB. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul asam nukleat meliputi : a. Struktur asam nukleat b. Jenis dan fungsi asam nukleat. c. Peran asam nukleat dalam sintesa protein d. Peran asam nukleat sebagai koenzim CC. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul ke-8 setelah mahasiswa mempelajari dan mampu menjelaskan mengenai modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, protein, vitamin, dan mineral, serta sebelum mahasiswa mempelajari modul enzim dan metabolisme energi. DD. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai asam nukleat adalah mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan struktur dan jenis serta fungsi asam nukleat, peran asam nukleat dalam sintesa protein dan sebagai koenzim.

BAB II. Pembelajaran


A. Struktur Asam Nukleat Asam nukleat merupakan suatu polimer yang mengandung nukleotida. Hidrolisis asam nukleat menghasilkan gula, basa, dan ion fosfat. Hidrolisis parsial asam nukleat akan terurai menjadi monomer nukleotida dan nukleosida. Nukleotida adalah monomer dari asam nukleat dimana komponen gula pada

monomer terikat pada basa dan fosfat. Pada nukleosida komponen gula pada monomer hanya terikat pada basa. Asam nukleat
H2O

basa

H2O

basa gula fosfat

H2O

gula fosfat (nukleotida)

Gula + basa (nukleosida)

(nukleotida)

Nukleotida terdiri atas 3 bagian (Gambar 1), yaitu : 1. Gula berkarbon 5 (pentosa). Pentosa pada nukleotida ada 2' jenis, yaitu ribosa dan deoksiribosa. Ribosa adalah gula berkarbon 5' yang mempunyai gugus hidroksil pada atom C nomor 2'. Deoksiribosa adalah gula berkarbon 5' yang mempunyai sebuah atom hidrogen pada atom C nomor 2'. 2. Basa nitrogen Basa nitrogen adalah suatu struktur cincin yang mengandung nitrogen, terikat pada atom karbon 1' dari pentosa. Disebut basa disebabkan pada atom nitrogen terdapat sepasang elektron yang tidak terbagi, sehingga dapat menarik proton. Basa nitrogen. dapat dibedakan menjadi dua, yaitu purin dan pirimidin. Purin adalah basa nitrogen yang mempunyai struktur cincin ganda meliputi adenin (A) dan guanin (G). Pirimidin adalah basa nitrogen yang mempunyai struktur cincin tunggal meliputi timin (T) atau urasil (U) dan sitosin (C). 3. Gugus fosfat Satu, dua, atau tiga gugus gugus fosfat yang terikat pada atom karbon 5' dari pentosa.

NH2 N C N HC N C

Purin

O N C

Pirimidin
C CH O C N HN C CH3 C

CH

HN C

C N H2N

Adenin

Guanina

C N NH2

CH

Timin

Basa purin/ pirimidin


OH HO P O O CH 4C
2

C N O C N CH

CH

O C1 H H 3 2 N C OH H OH O H HN C

O C

Sitosin

CH

DEOKSIRIBONUKLEOTIDA

(DALAM RIBONUKLEOTIDA)

CH N

Urasil

B. Jenis dan Fungsi Asam Nukleat Asam nukleat pada organisme hidup terdapat dalam dua golongan besar, yaitu Deoxyribonucleic acid (DNA) dan Ribonucleic acid (RNA). DNA adalah asam nukleat yang molekulnya tersusun oleh gula berkarbon 5' dengan kekurangan 1 atom oksigen (deoksiribosa), basa nirogen, dan gugus fosfat, merupakan polimer linear yang tidak bercabang, mempunyai berat molekul berkisar antara 25.000 50 milyar, terutama dijumpai pada inti sel, penyusun utama kromosom, serta merupakan pengemban kode genetik dan dapat merepliksi dirinya dengan tujuan membentuk sel-sel baru. Basa penyusun DNA adalah adenin, guanin, timin, dan sitosin, yang terikat pada deoksiribosa di posisi 1 dari pirimidin dan posisi 9 dari purin. DNA merupakan helek ganda (double helex) dari dua rantai antiparalel (saling berlawanan) yang mempunyai sekuen (urutan) nukleotida yang

komplementer (Gambar 2). Helek ganda (double helex) artinya DNA mempunyai 2 rantai nukleotida. Dua rantai antiparalel (saling berlawanan) berarti bahwa nukleotida (DNA maupun RNA) secara berurutan disatukan ikatan ester antara 5 fosfat dari satu unit dan gugus 3 hidroksil dari unit berdekatan, dimana kalau untaian rantai I dari ikatan fosfodiester 3 -5 maka nukleotida komplementernya disatukan oleh ikatan fosfodiester 5 - - - -3. Komplementer

maksudnya adalah adenin berpasangan dengan timin dan guanin berpasangan dengan sitosin. Hasil penelitian membuktikan bahwa jumlah adenin selalu sama dengan jumlah timin dan jumlah guanin selalu sama dengan jumlah sitosin dalam satu spesies.
Untaian I

3'
T A T
Untaian II

5'
G A A T G C C A T A G C T A T G C G C A T

5'

3'

Gambar 2. Deoxyribonucleic acid (DNA) dengan rantai double helex/heleks ganda DNA terdapat pada kromosom, mitokondria, dan plastida. Peran penting DNA adalah dalam penunjang pewarisan sifat-sifat dari generasi ke generasi, serta berperan dalam metabolisme dan perkembangan individu karena merupakan templat atau cetakan untuk sintesa protein. RNA adalah asam nukleat yang molekulnya tersusun oleh gula berkarbon 5' (ribosa), basa nirogen urasil, dan gugus fosfat, serta berperan penting dalam sintesa protein. Basa penyusun RNA adalah adenin, guanin, urasil, dan sitosin. Dengan demikian, yang membedakan antara RNA dan DNA adalah pada gugus gula (pentosa) dan basa nitrogen penyusunnya, yaitu ribosa pada RNA dan deoksiribosa pada DNA. Basa nitrogen pada DNA adalah adenin, guanin, timin, dan sitosin. Basa nitrogen pada RNA sama dengan yang terdapat pada DNA, tetapi basa nitrogen timin diganti oleh urasil. RNA merupakan asam nukleat tunggal yang membantu dalam

mentranskripsikan (menggandakan) dan mentranslasikan (menterjemahkan)

informasi genetik dari DNA ke dalam bentuk urutan asam amino.

Terdapat 3

macam RNA, yaitu RNA messenger/pesuruh (mRNA), RNA transfer (tRNA), dan RNA ribosom (rRNA). Semua RNA tersebut ditranskrip dari DNA inti dan terlibat sintesa protein. Dengan adanya informasi genetik yang terkandung dalam asam nukleat, organisme mampu membiosintesis tipe protein berlainan, seperti rambut, kulit, otot, enzim dan sebagainya. C. Peran asam nukleat dalam sintesa protein Pengkodean oleh DNA untuk sintesa protein atau berpindahnya DNA menuju pembentukan protein melalui 2 tahapan proses, yaitu transkripsi (penggandaan) dan translasi (penterjemahan). 1. Transkripsi (penggandaan) Transkripsi adalah sintesa rantai molekul mRNA. Informasi yang terdapat pada DNA digandakan dalam bentuk mRNA berdasarkan salah satu urutan nukleotida pada rantai DNA. Pada proses transkripsi 3 proses yang terjadi, yaitu inisiasi, elongasi (pemanjangan), dan terminasi (Gambar 3). Enzim yang beperan dalam transkripsi adalah RNA polimerase, yang bergerak sepanjang gen dari promotornya hingga terminator. RNA polimerase memasangkan molekul RNA pada rantai nukleotida yang sesuai dengan untaian gen templat. Bagian DNA yang ditranskripsikan disebut unit trankripsi. Setelah mengikat promotor, RNA polimerase melepaskan rantai ganda DNA dan menginisiasi sintesis RNA pada titik awal untaian templat. nukleotida yang digunakan sebagai acuan proses sintesa protein. RNA polimerase bekerja dari hulu ke hilir (downstream). proses transkripsi untaian DNA kembali membentuk rantai ganda. Pada saat RNA polimerase menerjemahkan terminator, urutan nukleotida yang mengkodekan akhir proses transkripsi. RNA dilepaskan dan RNA polimerase memisahkan diri dari DNA. Pada prokariot, mRNA hasil transkripsi segera Berawal dari Urutan nukleotida promotor menetukan kerja RNA polimerase, begitu pula urutan

promotor, RNA mengalami pemanjangan (elongasi) pada arah 5' 3'. Pada

digunakan untuk mensintesis protein, sedangkan pada eukariot, RNA harus melalui berbagai proses terlebih dahulu. Messenger RNA yang terbentuk meninggalkan inti sel dan ditransfer ke sitoplasma. Selanjutnya mRNA bergerak ke ribosom dan berikatan dengan subunit kecil ribosom. Urutan basa mRNA yang membawa kode genetik untuk urutan asam amino protein. Urutan 3 basa pada mRNA disebut kodon. Kodon start dan kodon stop adalah kodon yang bertugas memberi tanda untuk memulai atau mengakhiri sintesa protein. Kode dari kodon dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kamus kode genetik Asam amino UUU, UUC UUA, UUG UCU, UCC, UCA, UCG UAU, UAC UGU, UGC UGG CUU, CUC, CUA. CUG CCU, CCC, CCA, CCG CAU, CAC CAA, CAG CGU, CGC, CGA, CGG, AGA AAA, AAG Kodon Fenilalani (phe) Leusin (leu) Serin (ser) Tirosin (tyr) Sistein (cys) ACU, ACC, ACA, Triptofan (trp) ACG Leusin (leu} Prolin (pro) Histidin (his) AGA, AGG GUU, GUC, GUA, GUG Asam amino AAU, AAC AUU, AUC, AUA AUG Kodon Asparagin (asn) Isoleusin (ile) Metionin (met) atau N-formilmetionin (fmet) Treonin (thr) Arginin (arg) Valin (val) Alanin (ala) Asam aspartat (asp) Asam glutamat (glu) Glisin (gly)

GCU, GCC, GCA, Glutamin (glu) GCG Arginin (arg) Lisin (lys) GAU, GAC GAA, GAG GGU, GGC. GGA, GGG

Ket. Penugasan kodon untuk asam-asam amino 2. Translasi (penterjemahan)

Pada proses translasi (Gambar 4), mRNA bertindak sebagai templat, dimana urutan basa pada mRNA memberikan informasi yang diperlukan oleh tRNA dan rRNA untuk mensintesis suatu protein dengan urutan asam amino yang sesuai dengan informasi yang terdapat pada DNA. Hasil pengkopian segera diterjemahkan oleh ribosom untuk membentuk urutan asam amino sesuai sekuen yang telah dibawa mRNA. Ribosom terdiri atas 60% rRNA dan 40% protein. Transfer RNA membawa urutan asam amino ke mRNA yang disebut antikodon. Antikodon tRNA yang sesuai selanjutnya berpasangan dengan kodon dari mRNA. Subunit besar dan kecil ribosom bergabung dan tRNA berikatan dengan subunit besar ribosom. Subunit besar ribosom mengkatalisis proses pembentukan ikatan peptida antara asam-asam amino yang dibawa oleh molekul tRNA. Pada saat asam amino baru bergabung dengan asam amino yang sudah ada, sebelumnya tRNA melepaskan diri dari subunit besar ribosom dan tRNA berikut (yang membawa urutan asam amino berikut) menggantikan tRNA yang lepas. Proses berjalan terus sampai kodon stop. Akhir proses mRNA dan protein baru terbentuk bergerak meninggalkan ribosom.

PROMOTOR Transkripsi Proses RNA DNA 5 3

Unit transkripsi TERMINATOR Gen DNA

3 5

Pra mRNA

Titik awal RNA polemerase 1. inisiasi

Titik akhir

Translasi

5 3
RNA DNA lepas

3 5
inisiasi Untaian templat DNA 2. elongasi

elongasi
RNA polimerase 3

Nukleotida RNA

G T T 3 C G A A AC A G T A C G T GC CA T T C AT TC A C G G A T Arah transkripsi Untaian G templat DNA RNA baru terbentuk

5 3
5

3 5

3. terminasi

5 3
5 3

3 5

Proses Transkripsi

Gambar 3. Proses transkripsi (penggandaan)

asam amino

Transkripsi

mRNA Ribosom Translasi


tRNA dengan asam amino yang melekat polipeptida

trp

ribosom
phe

tRNA Anti kodon

5 mRNA

Proses Translasi

Gambar 4. Proses translasi (penterjemahan) D. Peran asam nukleat sebagai koenzim Monomer asam nukleat nukleotida terdapat dalam 3 bentuk, yaitu nukleosida monofosfat atau mononukleosida, nukleosida difosfat atau dinukleosida, dan nukleosida trifosfat atau trinukleotida. organisme. Koenzim adalah senyawa organik yang merupakan bagian sementara dari enzim selama waktu berlangsungnya reaksi, fungsinya mengaktifkan aksi katalisis enzim. Beberapa contoh nukleotida yang berperan sebagai koenzim, seperti NAD+ (nikotinamid adenin dinokleotida), NADP+ (nikotinamid adenin dinokleotida fosfat), FMN (flavin mononokleotida), FAD (flavin adenin dinokleotida) adalah Nukleotida tersebut

dapat berperan sebagai koenzim pada beberapa fungsi biokimia tubuh

koenzim pada proses dihidrogenase atau pelepasan atom hidrogen, pelepasan CO2. ADP (adenosin diphosphat), ATP (adenosen triphosphat), GTP (guanosin triphosphat) disebut juga sebagai uang yang menyalurkan energi dari reaksi yang menghasilkan energi ke semua reaksi yang membutuhkan energi dalam sel. ADP juga sebagai substrat untuk fosforilasi oksidatif. ATP merupakan produk dari fosforilasi oksidatif dan transduser biologik yang penting untuk memberikan energi bebas. GTP adalah sumber energi bagi sintesa protein. AMP (adenosin monophosphat) sebagai koenzim dalam berbagai fungsi pengaturan intra sel, seperti pengaturan aktivitas protein kinase yang bergantung pada cAMP (AMP siklik; asam 3',5'-siklit adenilat). GMP (guanosin monophosphat) berperan sebagai sinyal intrasel atau second messenger yang dapat bekerja secara antagonis terhadap cAMP. Tabel 2. Sistem tata nama nukleotida Nukleotida Nukleosida Monofosfat/ Mononukleosida AMP GMP CMP UMP Nukleosida Difosfat/ Dinukleosida ADP GDP CDP UDP Nukleosida Trifosfat/ Trinukleotida ATP GTP CTP UTP

Nukleosida Basa (Basa + pentosa)

Adenin (A) Guanin (G) Sitosin (C) Urasil (U) n Adenin (A) Guanin (G)

Adenosin Guanosin Sitidin Uradin

Deoksiadenosi

d AMP dGMP

dADP dGDP dCDP dTDP

dATP dGTP dCTP dTTP

Deoksiguanosi n Deoksisitidin Deoksiatimidin

dCMP dTMP

Sitosin (C) Timin (T)

BAB III. Penutup


Asam nukleat adalah salah satu makromolekul dalam sel makhluk hidup yang merupakan komponen penting dalam kehidupan. Struktur asam nukleat merupakan suatu polimer yang mengandung nukleotida, terdiri atas gula berkarbon 5 (pentosa), basa nitrogen purin (adenin dan guanin) dan pirimidin (timin/urasil dan sitosin), dan gugus fosfat. Asam nukleat pada organisme hidup terdapat dalam dua golongan besar, yaitu Deoxyribonucleic acid (DNA) dan Ribonucleic acid (RNA) yang berperan penting sebagai pengemban kode genetik dalam penunjang pewarisan sifat-sifat dari generasi ke generasi, serta berperan dalam metabolisme dan perkembangan individu karena merupakan templat atau cetakan sintesa protein. beberapa fungsi biokimia tubuh organisme. DAFTAR PUSTAKA Komball JW. 1983. Biologi. Jilid 1. Edisi kelima.Tjitrosomo SS, Sugiri N, penterjemah. Jakarta : Penerbit Erlangga. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 1999. Biokimia Harper. Hartono A, penterjemah; Santoso AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Stryer L. 2000. Biokimia. Tim penerjemah bagian biokimia FKUI, penterjemah; Soebianto SZ, Setiadi E., Editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sugiri N. 1992. Biologi Sel. Volume I. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Wirahadikusumah M. 1989. Bandung : Penerbit IPB. Biokimia. Protein, Enzim, dan Asam Nukleat. untuk Peran yang lain dari asam nukleat sebagai koenzim pada

MODUL IX
Judul : Enzim BAB I. Pendahuluan
B. Latar Belakang Pada sel hidup, terjadi ribuan reaksi kimia yang berlangsung secara sinkron. Hampir semua reaksi tersebut membutuhkan suatu katalis yang merupakan protein khas yang disebut dengan enzim. reaksi berlangsung jauh lebih lambat. Enzim adalah katalisator organik (sebuah protein) yang dihasilkan sel-sel hidup yang mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kecepatan reaksi kimia. Keistimewaan enzim sebagai katalis adalah daya katalitik sangat tinggi (mempercepat reaksi 108 1020 kali), spesifitas terhadap substrat sangat tinggi, tidak membentuk produk samping, dan bekerja pada kondisi (suhu, pH) yang normal atau tidak ekstrim (milk conditions). Enzim sebagai protein katalis merupakan agen kimia yang merubah kecepatan reaksi tanpa ikut dalam reaksi dan tanpa berubah akibat reaksi tersebut, akan tetapi dibuat tersedia berulangkali untuk melakukan katalisis reaksi berikutnya. Sebagian enzim bersifat sangat spesifik, yaitu hanya mengkatalisis suatu reaksi kimia tertentu atau spesifik pada substrat yang mengandung ikatan kimia tertentu, misalnya urease hanya mengurai urea, atau lipase hanya mengurai ester yang menghubungkan gliserol dengan asam lemak dari sejumlah besar lemak. Akan tetapi ditemukan juga enzim tidak begitu spesifik dan akan menguraikan beberapa zat yang masih ada kekerabatannya, seperti peroksidase selain mengurai hidrogen peroksida juga menguraikan peroksida lainnya. Pasteur pada tahun 1860 telah menunjukkan bahwa proses fermentasi dikatalisis oleh enzim yang secara struktur terikat di dalam sel ragi. Ekstraksi enzim pertama kali dilakukan oleh Buchner pada tahun 1897 pada enzim sel ragi yang berfungsi dalam fermentasi alkohol. Enzim urease dari kacang-kacangan tertentu Diperkirakan sebuah sel rata-rata mengandung sekitar 3000 macam enzim. Ketidakhadiran enzim menyebabkan

telah diisolasi sebagai kristal murni pertama kali oleh Summer pada tahun 1926. Kemudian Northrop dari tahun 1930 sampai 1936 melakukan hal yang sama pada enzim pepsin, tripsin, kimotripsin. Kini telah ditemukan beberapa molekul RNA yang memiliki sifat katalitik disebut ribozim. Sampai saat ini telah diindentifikasi ribuan enzim, beberapa ratus diantaranya telah diisolasi atau dibuat kristal. Sebagian besar enzim bertanggung jawab pada berbagai fungsi, seperti pencernaan dalam saluran pencernaan, koagulasi darah, kontraksi otot, metabolisme karbohidrat dan lemak, biosintesis asam nukleat. C. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul enzim meliputi : a. Struktur dan fungsi enzim d. Penggolongan enzim e. Enzim sebagai protein f. Sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim g. Kinetika reaksi enzim h. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim D. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul ke-9 setelah mahasiswa memahami modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, protein, vitamin, mineral, dan asam nukleat serta sebelum mahasiswa mempelajari modul terakhir, yaitu metabolisme energi. E. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai asam nukleat adalah mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan struktur dan fungsi enzim, penggolongan enzim, enzim sebagai protein, sisi aktif dan efisiensi katalitik enzim, kenetika reaksi enzim, dan faktorfaktor yang mempengaruhi aktivitas enzim

BAB II. Pembelajaran


A. Struktur dan Fungsi Enzim Semua enzim murni yang telah diamati sampai saat ini adalah protein, dan aktivitas katalitiknya bergantung pada integritas strukturnya sebagai protein. Enzim, seperti protein lainnya, mempunyai berat molekul yang berkisar dari sekitar 12.000 sampai lebih dari 1 juta. Oleh karena itu, enzim berukuran amat besar dibandingkan dengan substrat atau gugus fungsional targetnya. Beberapa enzim hanya terdiri atas polipeptida dan tidak mengandung gugus kimiawi selain residu asam amino, contohnya enzim ribonuklease pankreas. Namun demikian, sebagian besar enzim memerlukan tambahan komponen kimia bagi aktivitasnya. Sehubungan dengan hal tersebut dikenal beberapa bagian enzim, yaitu apoenzim adalah bagian protein suatu enzim yang memerlukan kofaktor untuk aktivasi. Kofaktor adalah komponen (organik maupun anorganik) berberat molekul rendah, tahan panas, yang diperlukan untuk aktivasi enzim, meliputi koenzim dan gugus prostetik. Koenzim adalah kofaktor organik yang diperlukan untuk kerja enzim sering berupa vitamin, beberapa contoh koenzim disajikan pada Tabel 1. Gugus prostetik adalah ion logam yang diperlukan untuk aktivitas enzim dan terikat kuat pada bagian protein suatu enzim (Tabel 2). Holoenzim adalah enzim yang strukturnya sempurna dan bersifat aktif mengkatalisis, bersama-sama dengan koenzim atau gugus logamnya. Enzim adalah katalisator sejati. Molekul enzim meningkatkan dengan nyata kecepatan reaksi kimia spesifik, dimana tanpa enzim berlangsung amat lambat. Enzim mampu melakukan katalisis berdasarkan pengaruhnya pada energi aktivasi yang dibutuhkan setiap reaksi kimia. Energi aktivasi adalah energi yang dibutuhkan untuk memecah molekul senyawa reaktan (substrat). Peran enzim disini untuk menurunkan batasan energi aktivasi yang dibutuhkan untuk memulai reaksi. Peran enzim sebagai katalisator, yaitu dalam proses kimia dan biokimia dalam tubuh manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mikroorganisme. Pemanfaatan enzim dalam rekayasa genetik, seperti enzim retriksi, ligase, DNA polimerase, RNAase, fosfatase; dalam industri sebagai katalis anorganik, obat-

obatan (kedokteran), pengolahan makanan dan minuman, analisis kimia, bahan detergen. Tabel 1. Koenzim yang diperlukan untuk kerja enzim Vitamin Tiamin Riboflavin Asam nikotinat Asam pantotenat Piridoksin Biotin Asam folat Vitamin B12 Asam askorbat Vitamin A Vitamin D Vitamin E Vitamin K Bentuk koenzim (bentuk aktif)) Tiamin pirofosfat FMN, FAD NAD+ ,NADP+ Koenzim A Piridoksal fosfat Biositin Asam tetrahidrofolat Doksiadenosil kobalamin Tidak diketahui Retinal 1,25-dihidroksikole-kalsiferol Tidak diketahui Tidak diketahui Jenis reaksi (proses) yang dilangsungkan Dekarboksilasi asam -keto Reaksi redoks Reaksi redoks Transfer gugus asil Transfer gugus amino Transfer CO2 Transfer gugus 1-karbon Pemindahan 1,2 hidrogen Kofaktor pada reaksi hidroksilasi Siklus penglihatan Regulasi metabolisme Ca2+ Perlindungan lipida membran Kofaktor karboksilasi pada reaksi

Tabel 2. Gugus prostetik (unsur anorganik)

Logam

Enzim

Fe2+ atau Fe3+

Sitokrom oksidase Katalase Peroksidase

Cu2+ Zn2+

Sitokrom oksidase DNA polimerase Karbonan anhidrase Alkohol dehidrogenase

Mg2+

Heksokinase Glukosa 6-fosfatase

Mn2+ K+ Ni2+ Mo Se

Arginase Piruvat kinase Urease Nitrat reduktase Glutation perosidase

B. Penggolongan Enzim Enzim dapat diklasifikasikan berdasarkan reaksi yang dikatalisis, tempat bekerjanya, biosintesisnya, fungsinya, dan komponen penyusunnya. Menurut Commission on enzymes of the international union of biochemistry enzim dikelompokkan berdasarkan reaksi biokimia yang dikatalisis dengan nomor kode sebagai kunci (Tabel 3).

Tabel 3. Klasifikasi enzim secara Internasional berdasarkan reaksi yang dikatalisis No. Kelas Jenis reaksi yang dikatalisis

1 2 3 4 5

Oksidoreduktase Pemindahan elektron Transferase Hidrolase Liase Isomerase Pemindahan gugus fungsional Reaksi hidrolisis (pemindahan gugus fungsional ke air) Penambahan gugus ikatan ganda dan sebaliknya Pemindahan gugus di dalam molekul, menghasilkan bentuk isomer Pembentukan ikatan CC, CS, CO, CN oleh reaksi kondensasi yang terkait dengan penguraian ATP

ligase

Sebagai contoh, yaitu : Kelas 1 oksidoreduktase Subkelas : 1. bekerja pada gugus CHOH (substrat donor) 2. gugus aldehid 3. gugus CHCH 4. gugus CHNH (amina primer) 5. gugus CHNH- (amina 2) 6. g NADH/NADPH 7. dst Sub subkelas : 1. NAD+ atau NADP+ sebagai penerima 2. sitokrom 3. oksigen dst. Senyawa penerima lainnya Berdasarkan tempat bekerja enzim dapat diklasifikasikan dalam :

1. Endoenzim, yaitu enzim yang menghidrolisis atau memecah dari bagian tengah makromolekul. Contohnya adalah enzim amilase yang memecah ikatan glikosida 1-4 endoglukosidase. 2. Eksoenzim, yaitu enzim yang menghidrolisis atau memecah dari bagian ujung makromolekul. Contohnya adalah -amilase yang memecah ikatan glikosida 1-4 eksoglukosidase. Berdasarkan biosintesisnya enzim dapat diklasifikasikan dalam : 1. Enzim konstitutif adalah enzim yang diproduksi setiap saat. Contohnya adalah enzim yang umumnya berperan dalam metabolisme. 2. Enzim induktif adalah enzim yang dikeluarkan apabila ada inducer. Contohnya adalah enzim pencernaan. Enzim berdasarkan fungsinya, seperti enzim pencernaan (amilase, lipase, pepsin, tripsin), enzim metabolisme (glukosa oksidase, glukose-6-fosfatase, piruvat dehidrogenase), enzim yang berperan dalam sintesa protein (RNA polimerase), dan sebagainya. C. Enzim sebagai Protein Enzim adalah protein. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengkatalisis sangat berkaitan dengan struktur molekulnya. peptida, aktivitas katalitiknya akan hancur. Enzim yang dididihkan dengan Hal ini memperlihatkan bahwa asam kuat atau diinkubasi dengan tripsin, yaitu perlakuan yang memotong rantai struktur kerangka primer protein enzim dibutuhkan untuk aktivitasnya. Selanjutnya, jika mengubah berlipatnya rantai protein yang khas dari suatu protein enzim oleh panas, oleh perlakuan pH yang jauh menyimpang dari keadaan normal, atau oleh perlakuan dengan senyawa perusak lainnya, aktivitas katalitik enzim juga akan lenyap. Jadi struktur primer, sekunder, tersier, maupun kuarterner protein enzim sangat penting bagi aktivitas katalitiknya. Rantai samping bermuatan dari asam amino tertentu membentuk ikatan elektrostatik satu sama lain dan dengan ion molekul air sekelilingnya. Interaksi ini sebagian ikut membentuk struktur tersier dan kuarterner protein. Rantai samping

suatu asam amino tertentu seperti asam aspartat dan asam glutamat bermuatan atau tidak, sebagian ditentukan oleh pH dari lingkungan protein. Rantai samping berkatup dari beberapa asam amino (tempat aktif) disamping berperan dalam menjaga struktur tersier dan kuarterner molekul yang spesifik, dapat pula terlibat dalam pengikatan substrat pada enzim. Oleh karena itu, menyebabkankan tekanan ikatan ke dalam molekul substrat. Akibatnya sebagian besar enzim hanya dapat bekerja dalam kisaran pH yang sempit dan mempunyai pH optimum. pH yang ekstrim menyebabkan aktivitas enzim turun atau bahkan lenyap karena konfigurasi protein berubah. Aktivitas enzim terkait dengan strukturnya sebagai protein selain

dipengaruhi pH juga sangat dipengaruhi oleh suhu. Di atas atau di bawah suhu optimum, aktivitas enzim menurun dan bahkan hilang oleh perubahan struktur enzim atau terdenaturasi. Sebagian enzim mengalami denaturasi yang Pada suhu -196C irreversibel pada suhu 55 - 65C selama beberapa waktu. enzim masih hidup tetapi aktivitasnya hampir berhenti. D. Sisi Aktif dan Efisiensi Katalitik Enzim Molekul substrat yang khas diikat pada bagian tertentu dari enzim yang disebut dengan sisi aktif. Sisi aktif suatu enzim dibentuk oleh sejumlah residu asam amino yang cabang sampingnya mempunyai dua peranan. Pertama berguna untuk menarik dan mengorientasikan substrat dengan cara yang khas pada sisi aktif tersebut (asam amino demikian disebut residu kontrol yang menyebabkan kespesifikan substrat). Kedua ikut serta dalam pembentukan ikatan sementara dengan molekul substrat, ikatan yang membuat substrat bermuatan, memasukkan tekanan dalam ikatan tertentu, dan memulai terjadinya perubahan katalitik (asam amino tersebut disebut residu katalitik).

Sisi aktif

ikatan glukosa enzim Substrat Ex. sukrosa


H2O

fruktosa

Substrat mengikat enzim, menjadi komplek enzim-substrat

Ikatan dari substrat dan enzim menyebabkan ikatan sukrosa terlepas menjadi glukosa fruktusa

Gambar 1. Siklus katalitik oleh enzim Residu katalitik dan residu kontrol yang membentuk sisi aktif dapat berada di bagian struktur primer yang terpisar jauh. Namun demikian, karena melipatnya rantai polipeptida yang distabilkan, tempat-tempat tersebut terletak berdekatan dan sesuai. Contohnya pada enzim lisozim asam amino yang membentuk sisi aktif terpisah jauh dalam struktur primer. Ikatan yang terjadi antara substrat dengan rantai samping asam amino dalam membentuk sisi aktif dapat kovalen atau nonkovalen. Interaksi antara enzim dan substrat seperti model gembok dan kunci disajikan pada Gambar 1, dimana enzim dan substrat mempunyai bentuk yang komplementer. Enzim sebagai katalisator yang mempercepat reaksi, tetapi tidak ikut dalam reaksi. Hal ini demikian, dalam katalisis enzim mempunyai dua mekanisme dasar. Pertama adalah keberadaan enzim yang meningkatkan kemungkinan jenis-jenis molekul yang secara potensial akan bereaksi dan bertemu dalam orientasi yang diperlukan dalam ruang. Hal ini terjadi karena enzim mempunyai afinitas yang tinggi terhadap substrat, yang membuat ikatan sementara dengan

substrat tersebut.

Kedua terjadinya ikatan sementara (sebagian besar non

kovalen, seperti ikatan hidrogen, ikatan ion) antara enzim dan substrat yang menyebabkan suatu redistribusi elektron dalam molekul substrat. Redistribusi tersebut menyebabkan adanya tekanan pada ikatan kovalen spesifik dalam substrat yang akhirnya mengakibatkan pemutusan ikatan. dengan pengaktifan substrat. Enzim terikat pada satu atau lebih zat-zat yang bereaksi. Dengan Terjadinya tekanan pada ikatan dalam suatu substrat karena asosiasi dengan enzim yang disebut

demikian, enzim menurunkan barier energi (jumlah energi aktivasi yang diperlukan) dari reaksi, sehingga reaksi dapat berlangsung dengan cepat. Katalisator menurunkan pembatas energi aktivasi reaksi kimia, tanpa mengubah keseluruhan perubahan energi bebas reaksi atau letak keseimbangan akhir. Pada puncak pembatas energi aktivasi, terjadi keadaan transisi. Energi aktivasi suatu reaksi adalah jumlah energi dalam kalori yang diperlukan untuk membawa semua molekul pada 1 mol senyawa pada suhu tertentu menuju tingkat transisi pada puncak batas energi. Pada tahap ini, terdapat peluang yang sama bagi molekul-molekul tersebut untuk mengalami reaksi, membentuk produk, atau untuk kembali menuju kumpulan molekul awal yang tidak reaktif. Kecepatan setiap reaksi sebanding dengan konsentrasi senyawa pada keadaan transisi. katalitik yang dilakukan enzim dapat dilihat pada Gambar 2. Reaksi

Ea Energi bebas Ea Awal

tanpa katalisis Dengan katalisis

Akhir

Keterangan Ea : energi aktivasi

Perkembangan reaksi Gambar 2. Reaksi katalitik yang dilakukan oleh enzim

Enzim meningkatkan kecepatan reaksi yang dikatalisis sebesar 108 1020. Enzim menimbulkan tenaga katalitik yang demikian besar pada keadaan suhu dan pH yang demikian biasa. Terdapat empat faktor utama yang mempercepat kecepatan reaksi kimiawi yang dikatalisis oleh enzim, yaitu letak dan oreitasi substrat dalam hubungannya dengan gugus katalitik, tegangan dan berubahnya ikatan objek oleh dorongan penempatan enzim, katalisator umum asam-basa, dan katalisator kovalen. i. Kinetika reaksi enzim Analisa kuantitatif kinetika reaksi enzim dapat dilakukan dengan dua asas pendekatan, yaitu asas keseimbangan dan asas teori keadaan tunak (steady state theory). 1. Pendekatan dengan asas teori keadaan tunak (steady state theory) Bagi banyak enzim laju katalisis berubah sesuai dengan konsentrasi substrat [S]. V didefinisikan sebagai jumlah mol produk yang terbentuk tiap detik. Pada suatu konsentrasi tertentu enzim, V boleh dikatakan berbanding lurus dengan [S} bila [S] kecil. Pada [S] yang besar V boleh dikatakan tidak tergantung lagi pada [S]. Pada tahun 1913, Leonor Michaelis dan Maud Menten mengajukan suatu model yang sederhana untuk menjelaskan ciri-ciri seperti ini. Suatu hal yang

sangat penting dalam model tersebut ialah bahwa suatu kompleks ES diperlukan sebagai senyawa antara pada proses katalisis. Model tersebut adalah :

k1

k3

E + S ES E + P
k2

(1)

Enzim E berikatan dengan S membentuk kompleks ES dengan suatu tetapan kecepatan k1. Kompleks ES mempunyai dua kemungkinan, terurai kembali menjadi E + S dengan suatu tetapan kecepatan k2, atau melanjutkan reaksi membentuk produk P, dengan tetapan kecepatan k3, dianggap pula, bahwa tidak tidak ada produk yang diubah kembali menjadi substrat awal. Keadaan pada tahap awal reaksi, sebelum konsentrasi produk menjadi cukup besar. Perumusan yang menghubungkan laju katalisis dengan konsentrasi substrat dan enzim dan dengan laju tiap langkah reaksi. Titik tolak yang digunakan ialah bahwa laju katalisis sama dengan hasil perkalian konsentrasi kompleks ES dengan k3. V = k3 [ES] (2)

[ES] ini haruslah dinyatakan dalam suatu jumlah yang telah diketahui. Laju pembentukan dan laju pemecahan ES diketahui dari Laju pembentukan ES = k1 [E][S] Laju pemecahan ES = (k2 + k3) [ES] atau ES = k2 [ES] + k3 [P] (3) (4)

Dalam keadaan tak berubah, konsentrasi zat antara ES tidak berubah, sedangkan konsentrasi senyawa awal dan konsentrasi produk berubah. Ini terjadi bila laju pembentukkan kompleks ES sama dengan laju penguraian ES menjadi P dan E. Dalam keadaan tunak, bertambahnya ES per satuan waktu adalah nol, jadi d[ES] = 0 = k1 [E] [S] (k2 [ES] + k3 [P]) dt Apabila harga[E] = [E]o [ES] dan [P] = [ES], diperoleh

k1([E]0 - [ES] [S] = (k2 + k3)[ES] [E]0 [S] k1[ES] [S] = (k2 + k3)[ES] Dari persamaan 5 ini, [ES] dapat dihitung k1 [E]o [S] [ES] = k1 [S] + (k2 + k3) Bila pembilang dan penyebut dibagi dengan k1 maka 1/k1(k1 [E]o [S]) [ES] = 1/k1(k1[S] + (k2 + k3)) [E]o [S] [ES] = 1/k1(k1 [S]) + 1/k1(k2 + k3) [E]o [S] [ES] = [S] + 1/k1 (k2 + k3) [E]o [S] [ES] = [S] + (k2 + k3)/k1 karena k2 + k3 k1 menunjukkan konstanta keseimbangan dari disosiasi ES, maka k2 + k3 KM = k1 KM adalah tetapan Michaelis-Menten Bila persamaan 8 dimasukkan ke dalam persamaan 7, diperoleh [E]o [S] [ES] = [S] + KM (9) (8) (7) (6) (5)

k1

Bila persamaan ini dimasukkan ke dalam persamaan 2 untuk menggantikan faktor [ES], diperoleh [S] V = k3 [E]o (10)

[S] + KM 2. Pendekatan dengan asas keseimbangan Konstanta disosiasi : [E] [S] KM = (ES) [E], [S] dan [ES] adalah konsentrasi dalam keadaan keseimbanganm masing-masing E, S dan ES. Jika konsentrasi enzim semula adalah [E]o maka konsentrasi enzim bebas yaitu : [E] = [E]o - [ES] = [E]o [P] (12) (11)

[ES] = konsentrasi enzim yang berikatan dengan substrat, yang juga sama dengan konsentrasi produk [P]. Bila persamaan ini dimasukkan ke dalam persamaan 11, maka ([E]o [P]) [S] KM = [P] Analisis lebih lanjut : KM [ES] = [E]o [S] - [ES] [S] [ES] = ( [E]o - [ES] ) [S] / KM (14) KM = [ES] ([E]o [P]) [S] (13)

Bila [ES] pada persamaan 14 dikumpulkan pada ruas kiri persamaan, diperoleh [ES] = ([E]o [S]/KM) - ([ES] [S] / KM) ([ES] + [ES] [S]) / KM = [E]o [S]/KM [ES] [S]) KM [ES] KM + KM [ES]KM + [ES] [S] = [E]o [S] (KM + [S]) [ES] = [E]o [S] [E]o [S] [ES] = [S] + KM [S] = KM ([E]o [S] KM

[ES] = [Eo] [S] + KM atau [S]/KM [ES] = [Eo] [S] + KM/KM [S] / KM [ES] = [Eo] 1 + [S] / KM

(15)

(16)

Bila persamaan ini dimasukkan ke dalam persamaan 2 untuk menggantikan faktor [ES], diperoleh [S] V = k3 [Eo] [S] + KM Sampai pada persamaan (17) hasil analisis dengan kedua cara pendekatan tersebut di atas adalah sama, menghasilkan persamaan yang sama untuk hubungan antara laju reaksi enzim dan konsentrasi substrat. Kecepatan maksimum Vmaks, dicapai bila seluruh situs katalitik enzim jenuh substrat, artinya, bila [S] jauh lebih besar dari pada KM. Akibatnya, [S] / [S] + KM) mendekati 1, sehingga Vmaks = k3 [E]o (18) (17)

Bila persamaan 18 dimasukkan ke dalam persamaan 13, diperoleh persamaan MichaelisMenten [S] V = Vmaks [S] + KM Persamaan ini memperjelas data kinetik yang tampak pada gambar 1. Pada konsentrasi substrat yang sangat rendah, bila [S] jauh lebih kecil dari pada KM, V = [S] (19)

Vmaks / KM. Ini berarti, kecepatan reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi substrat. Bila konsentrasi substrat tinggi, [S] jauh lebih besar dari pada KM, sehingga V= Vmaks, artinya, laju reaksi maksimum dan tidak tergantung lagi pada konsentrasi substrat,

Dari

persamaan

19,

arti

KM

menjadi

jelas.

Bila

[S]

KM,

maka

V = Vmaks / 2. Jadi KM konsentrasi substrat yang menyebabkan kecepatan reaksi sama dengan separuh kecepatan maksimum. Satuan KM adalah mol per liter.

Gambar 3. Diagram kecepatan reaksi V sebagai fungsi dari konsentrasi substrat [S] untuk suatu enzim yang tunduk akan kinetika Michaelis-Menten (Vmaks adalah kecepatan maksimum dan KM adalah tetapan Michaelis)
E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Enzim Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim adalah suhu dan pH, konsentrasi enzim dan substrat, konsentrasi inhibitor, modulator (aktivator/represor), dan waktu. 1. Suhu dan pH Suhu dan pH faktor penting yang mempengaruhi aktivitas enzim. Hal ini erat kaitannya dengan struktur molekul enzim adalahkarena protein. enzim meningkat tumbukan antara substrat dengan sisi aktif meningkat seiring Aktivitas dengan sejalan dengan peningkatan suhu lingkungan karena

meningkatnya pergerakan molekul. Akan tetapi, kemampuan kerja enzim akan menurun diatas suhu tertentu. Hal ini disebabkan oleh panas mengganggu Setiap enzim mempunyai suhu ikatan hidrogen, ion, dan berbagai ikatan yang menstabilkan bentuk aktif enzim sehingga enzim mengalami proses denaturasi. dan pH optimum kecepatan reaksi mencapai titik tertinggi, jumlah molekul yang berikatan dengan sisi aktif mencapai titik tertinggi tanpa terjadi proses denaturasi

protein enzim. Sebagai contoh aktivitas enzim pepsin maksimal pada pH 1,5 2 dan suhu 25oC, sedangkan tripsin pada pH 7,7 pada suhu yang sama. Enzim urease pada pH 8 dan suhu 20oC mempercepat kecepatan hidrolisis urea sampai 1014 kali. Pada Gambar 4 disajikan pengaruh suhu dan pH pada laju reaksi yang dikatalisis oleh enzim.

Gambar `4. Pengaruh suhu dan pH pada aktivitas enzim 2. Konsentrasi enzim dan substrat Aktivitas enzim dalam mengkatalisis substrat meningkat dengan

meningkatnya konsentrasi enzim dan substrat.

Namun konsentrasi enzim dan

substrat ada batasnya dalam meningkatkan aktivitas enzim dalam proses katalitik. Pada waktu tertentu (Gambar 5A) seperti yang ditunjukkan pada t1 proporsional jumlah substrat yang ditransformasikan.
-

peningkatan konsentrasi enzim (E1, E2, E3) menyebabkan peningkatan secara Sebaliknya pada t2, konsentrasi enzim meningkatkan jumlah substrat yang ditransformasikan tetapi sudah tidak proporsional lagi. Jadi pada batas waktu tertentu kecepatan awal reaksi merupakan fungsi dari konsentrasi enzim. Konsentrasi enzim juga sangat erat kaitannya dengan lama waktu yang diperlukan untuk melakukan katalisis. Makin tinggi konsentrasi enzim maka akan semakin pendek waktu yang diperlukan untuk menghasilkan produk dengan konsentrasi substrat yang sama sampai suatu batas konsentrasi enzim tertentu.

Konsentrasi enzim yang dipertahankan tetap dan konsentasi substrat dibuat bervariasi (Gambar 5B), maka kecepatan reaksi akan meningkat dengan cepat. Konsentrasi substrat yang terus ditingkatkan maka peningkatan substrat di atas maksimum yang spesifik bagi suatu enzim akan menyebabkan menurunnya aktivitas enzim tersebut, atau dengan kata lain aktivitas enzim dapat dihambat oleh meningkatnya kuantitas substrat. A Jumlah substrat yang ditransformasi 1x 2x 3x E3 E2 E1
V

V 2

t0

t1

t3

waktu

Gambar 5. Pengaruh konsentrasi enzim (A) dan konsentasi substrat (B) pada aktivitas enzim 3. Konsentrasi inhibitor Senyawa kimia tertentu memeliki kemampuan untuk menghambat kerja sebagian enzim. Jika senyawa ini berikatan dengan ikatan kovalen pada enzim maka inhibisi (proses penghambatan kerja) ini bersifat permanen atau tidak dapat dihilangkan. Beberapa inhibitor yang tidak terlalu kuat memiliki Senyawa ini Proses kemampuan mengubah bentuk molekulnya sehingga menyerupai substrat dan bersaing dengan substrat untuk berikatan pada sisi aktif enzim. dikenal sebagai inhibitor kompetetif (competitive inhibitor).

penghambatan ini dapat diatasi dengan meningkatkan konsentrasi substrat. Contohnya pada kerja enzim dehidrogenase suksinat dihambat oleh anion suksinat, oksaloasetat Inhibitor lainnya dikenal dengan istilah inhibitor non kompetitif (non

competitive inhibitor). Inhibitor ini tidak bersaing dengan substrat untuk berikatan pada sisi aktif enzim melainkan berikatan dengan enzim dan mengubah bentuk

molekul enzimnya. Kondisi ini menyebabkan terjadi perubahan sisi aktif sehingga enzim tidak dapat menggunakan sisi aktifnya untuk berikatan dengan substrat. Contohnya enzim dehidratase L-treonin oleh L-isoleusin. 4. Modulator (aktivator/represor) Kerja enzim dikendalikan oleh suatu mekanisme pengaturan aktivitas

enzim yang merupakan perpaduan antara mekanisme katalitik dan proses-proses lainnya. Pengatur atau dikenal sebagai modulator bekerja baik sebagai aktivator ataupun sebagai represor atau penghambat. meningkatkan afinitas enzim pada menurunnya aktivitas enzim. Senyawa yang berperan sebagai modulator seperti kofaktor, yaitu ion Keberadaan aktivator dapat sehingga menyebabkan substratnya,

atau molekul yang membantu kerja enzim. Modulator lainnya adalah enzim regulatori (enzim pengatur), yaitu enzim pemacu yang menentukan kecepatan keseluruhan urutan reaksi, karena enzim ini mengkatalisis tahap yang paling lambat atau tahap penentu kecepatan. Disamping mempunyai fungsi katalitik, enzim ini juga mampu meningkatkan atau menurunkan aktivitas katalitik sebagai respon pada isyarat tertentu. Spesifisitas atau kekhususan dalam hal kecocokan antara molekul substrat dan situs aktif enzim, maka terikatnya aktivator atau penghambat pada enzim tersebut haruslah pada situs yang bukan situs katalitik. Enzim pengatur mempunyai dua atau lebih situs pengikat, dan paling tidak salah satu diantaranya bersifat spesifik dan katalitik bagi substratnya. Enzim regulatori aktivitasnya diatur melalui berbagai jenis isyarat molekular. Terdapat dua golongan utama enzim pengatur, yaitu enzim alosterik atau pengatur bukan kovalen dan enzim pengatur kovalen. Enzim alosterik mempunyai situs pada molekul enzim tempat efektor (penghambat atau aktivator) bereaksi berbeda dari situs katalitik. Jadi situs alosterik adalah situs yang mengatur aktivitas enzim. Enzim Dehidratase treonin merupakan golongan yang khas dari enzim alosterik yang berfungsi melalui pengikatan non kovalen dan dapat balik dalam molekul pengatur. Enzim Dehidratase treonin bekerja pada sistem enzim bakteri yang mengkatalisis perubahan L-treonin menjadi L-isoleusin. Golongan enzim pengatur kovalen, yaitu diatur melalui interkonversi bentuk aktif dan tidak aktifnya oleh modifikasi kovalen molekul enzim. Contohnya enzim

pengatur fosforilase glikogen pada otot dan hati yang mengkatalisis reaksi pembentukan glukosa 1-fosfat dari substrat glikogen. 5. Waktu Waktu yang dibutuhkan oleh enzim untuk melakukan proses katalisis partial/sempurna pada substrat sangat terkait dengan konsentrasi enzim dan substrat. Semakin tinggi konsentrasi substrat, lama waktu yang dibutuhkan Namun demikian pada konsentrasi substrat yang sama semakin besar.

peningkatan konsentrasi enzim dapat mempersingkat waktu yang dibutuh oleh enzim untuk melakukan katalisis, sampai batas konsentrasi enzim dan substrat tertentu tertentu.

BAB III. Penutup


Setiap sel terdapat ribuan enzim yang berbeda-beda yang secara khusus mengkatalisis semua kegiatan kimiawi esensial suatu sel. Enzim adalah protein, sebagian besar perlu bantuan koenzim dan kofaktor untuk menjadi aktif. Enzim dapat diklasifikasikan berdasarkan reaksi yang dikatalisis, tempat bekerjanya, biosintesisnya, fungsinya, dan komponen penyusunnya. Enzim adalah katalisator sejati. Keistimewaan enzim sebagai katalis adalah daya katalitik sangat tinggi (mempercepat reaksi 108 1020 kali), spesifitas terhadap substrat sangat tinggi, tidak membentuk produk samping, dan bekerja pada kondisi (suhu, pH) yang normal atau tidak ekstrim (milk conditions). Aktivitas enzim pada substratnya terjadi pada sisi atau situs aktif pada bagian permukaan enzim. Proses ini menurunkan energi aktivasi pada suatu reaksi kimiawi dan memungkinkannya berlangsung pada laju yang cepat. Beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim adalah suhu dan pH, hal berhubungan dengan struktur enzim sebagai protein, konsentrasi enzim dan substrat, konsentrasi inhibitor, modulator (aktivator/represor), dan waktu. DAFTAR PUSTAKA Lehninger. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M., penerjemah. .Jakarta : Penerbit Erlangga.

Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 1999. Biokimia Harper. Hartono A, penterjemah; Santoso AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Stryer L. 2000. Biokimia. Tim penerjemah bagian biokimia FKUI, penterjemah; Soebianto SZ, Setiadi E., Editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Wirahadikusumah M. 1989. Biokimia. Protein, Enzim, dan Asam Nukleat. Bandung : Penerbit IPB.

MODUL X
Judul : Metabolisme Energi BAB I. Pendahuluan
C. Latar Belakang Semua sel mengekstraksi energi dari lingkungannya dan mengkonversi bahan makanan menjadi komponen-komponen sel melalui jaringan reaksi kimia yang terintegrasi sangat rapi yang disebut dengan metabolisme. Metabolisme segala proses reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup, sedangkan energi adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas. Jadi metabolisme energi adalah penggunaan energi dalam proses reaksi kimia pada suatu sistem lingkungan untuk produksi dan respirasi dalam suatu unit areal tertentu. Energi kimia dapat diubah menjadi panas, listrik, energi cahaya, atau energi osmotik. Energi cahaya dapat diubah menjadi energi listrik atau energi kimia. Energi listrik dapat pula diubah menjadi energi kimia. Berarti bahwa suatu bentuk energi dapat diubah menjadi bentuk energi yang lain atau dikenal dengan proses transformasi energi. dipelajari dalam bioenergetika. Pemahaman tentang transformasi energi Ilmu ini memberikan prinsip dasar untuk dan waktu

menjelaskan mengapa sebagian reaksi dapat terjadi, dan sebagian yang lain tidak. Bahan bakar yang sesuai dan diperlukan untuk memberikan energi yang memungkinkan organisme untuk melaksanakan berbagai proses normal dalam tubuhnya. Bagaimana organisme memperoleh energi dari makanannya merupakan pemahaman pada nutrisi dan metabolisme normal. D. Ruang Lingkup Isi Materi yang akan dibahas dalam modul metabolisme energi meliputi : a. Konsep bioenergetika j. Anabolisme dan katabolisme Energi bebas dan perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik

k. Tahapan pembentukan energi dari makanan l.

m. Senyawa-senyawa berenergi tinggi n. Pengontrolan metabolisme E. Kaitan Modul Modul ini merupakan modul terakhir dalam mata kuliah Biokimia Nutrisi. Modul metabolisme energi diberikan setelah mahasiswa memahami modul logika molekul organisme hidup dan nutrisi ikan, karbohidrat, lipida, protein, vitamin, mineral, asam nukleat, dan enzim, serta sebelum mahasiswa mempelajari modul terakhir, yaitu metabolisme energi. F. Sasaran Pembelajaran Modul Sasaran pembelajaran yang diharapkan setelah mempelajari modul mengenai metabolisme energi adalah mahasiswa budidaya perairan mampu menjelaskan konsep bioenergetika, anabolisme dan katabolisme, tahapan pembentukan energi dari makanan, energi bebas dan perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik, senyawa-senyawa berenergi tinggi, dan pengontrolan metabolisme.

BAB II. Pembelajaran


A. Konsep Bioenergetika Bioenergetika merupakan studi tentang transformasi energi atau aliran perpindahan energi yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup. tentang perubahan energi yang menyertai reaksi biokimia. Semua sel hidup dibekali dengan peralatan hidupnya dalam bentuk perangkat yang kompleks dan sangat efisien dalam melakukan transformasi energi. Perangkat-perangkat ini berdimensi molekul. Satu sel mungkin memiliki beberapa atau banyak macam sistem transformasi energi seluler. Satuan-satuan dasarnya berupa molekul-molekul enzim yang mampu bekerja secara khas dalam mengkatalisis reaksi-reaksi kimia dalam sel. Bioenergetika mengikuti kaidah umum termodinamika yang merupakan cabang ilmu fisika yang membahas tentang energi dan transformasinya. Kaidah pertama termodinamika menyatakan bahwa total energi sebuah sistem, Bioenergetika disebut juga termodinamika biokimia yang merupakan ilmu pengetahuan

termasuk energi sekitarnya adalah konstan.

Kaidah ini merupakan hukum

penyimpanan energi. Hal ini berartinya bahwa dalam keseluruhan sistem tersebut tidak ada energi yang hilang ataupun yang diperoleh pada saat terjadinya perubahan. Akan tetapi, energi dalam keseluruhan sistem dapat dialihkan dari satu bagian sistem ke bagian lain atau ditranformasikan menjadi bentuk energi lainnya. Sebagai contoh, energi kimia menjadi energi panas, listrik, pancaran atau mekanis, Kaidah kedua termodinamika menyatakan bahwa entropi total sebuah sistem harus meningkat bila suatu proses berlangsung spontan. Entropi menggambarkan taraf kelainan atau keteracakan sistem dan akan mencapai taraf maksimal dalam sebuah sistem ketika ketika keseimbangan sebenarnya tercapai. Perjalanan energi di alam hayati mengalami tranformasi dalam tiga tahapan pokok. Tahap pertama adalah fotosintesis, yang hakikinya adalah penambatan energi radiasi matahari oleh pigmen khlorofil di dedaunan, serta transformasinya menjadi energi kimia yang dimanfaatkan untuk membentuk karbohidrat serta molekul zat makanan lainnya dari CO2 dan H2O. Tahap pokok kedua ialah proses respirasi yang melakukan transformasi energi karbohidrat serta molekul makanan menjadi energi lain yang lebih cocok untuk dimanfaatkan dalam sel-sel makhluk hidup. Tahap ketiga adalah mengubah energi yang diperoleh dari oksidasi molekul makanan menjadi energi kerja. Baik berupa kerja mekanis seperti kontraksi otot, kerja listrik atau osmotik, pertumbuhan. Setelah kerja atau fungsi tersebut selesai maka akhirnya energinya akan lenyap tersebar ke lingkungan. Salah satu konversi energi dalam kehidupan yang hebat adalah konversi energi kimia ATP menjadi energi mekanik untuk kontraksi otot secara langsung (Gambar 1).

Gerakan Transpor aktif, Biosintesis, Amplifikasi sinyal

ATP

ADP

Fotosintesis atau oksidasi molekul-molekul

Gambar 1. Daur ATP-ADP adalah cara dasar pertukaran energi pada sistem biologi

B. Anabolisme dan Katabolisme Metabolisme dapat dikatakan juga sebagai proses yang dilakukan sel untuk mengatur sumberdaya materi dan energi yang dimilikinya. mengubah molekul melalui beberapa tahapan. Terdapat dua macam jalur yang dimiliki sel, yaitu jalur anabolik atau anabolisme dan jalur katabolik atau katabolisme. senyawa sederhana. sintesa protein. Katabolisme adalah proses memecah senyawa kompleks menjadi Sebagai Anabolisme adalah proses yang memerlukan energi untuk membentu senyawa-senyawa kompleks dari Merupakan reaksi reduksi atau penyimpanan energi (endorgenik), bila dalam bentuk panas disebut endoterm. Sebagai contoh, yaitu Dalam prosesnya, sel melakukan berbagai reaksi kimia dalam berbagai jalur yang

senyawa sederhana dengan melepaskan energi. Merupakan reaksi oksidasi atau pelepasan energi (eksogenik), bila berupa panas disebut eksoterm. contoh, yaitu Reaksi respirasi aerobik. F. Tahapan Pembentukan Energi dari Makanan Tahapan pembentukan energi dari oksidari bahan makanan oleh Han Krebs digambarkan dalam tiga tahap (Gambar 2). Pada tahap pertama, molekul-molekul makanan yang besar dipecah menjadi unit-unit yang lebih kecil.

Protein dihidrolisis menjadi 20 macam asam amino, polisakarida dihidrolisis menjadi gula sederhan, seperti glukosa, dan lemak dihidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak. Tidak energi yang berguna dibentuk disini. Pada tahap kedua, molekul-molekul kecil yang banyak macam ini dipecah menjadi beberapa unit sederhana yang memainkan peran utama pada metabolisme. Ternyata, sebagian besar diantaranya gula, asam lemak, gliserol, dan beberapa asam amino dikonversi menjadi unit asetil dari asetil KoA. Sejumlah ATP dihasilkan pada tahap ini, tetapi jumlahnya kecil dibandingkan dengan yang diperoleh dari oksidasi lengkap unit asetil dari asetil KoA. Tahap ketiga terdiri atas daur asam sitrat dan fosforilasi oksidatif, yang merupakan jalur akhir bersama oksidasi molekul bahan bakar. Asetil KoA membawa unit-unit asetil ke dalam daur ini, tempat unit-unit ini dioksidasi lengkap menjadi CO2. Empat pasang elektron dipindahkan (tiga ke NAD+ dan satu ke FAD) untuk setiap gugus asetil yang dioksidasi. Kemudian, ATP dihasilkan selama elektron mengalir dari bentuk-bentuk tereduksi, NAD+ dan FAD ke O2 pada proses yang disebut fosforilasi oksidatif. Lebih dari 90% ATP yang dihasilkan pada pemecahan bahan makanan terbentuk pada tahap ketiga ini. LEMAK POLISAKARIDA PROTEIN Tahap Asam lemak dan gliserol Glukosa dan gula lainnya Asam amino I

Tahap Asetil KoA KoA ATP O2 Fosforilasi oksidatif 2CO2 ADP Daur asam sitrat e Tahap III II

G. Energi Bebas dan Perangkaian Reaksi Eksergonik dengan Endergonik Konsep termodinamika yang paling berharga untuk memahami bioenergetika adalah energi bebas. Energi bebas merupakan energi yang berguna dalam sebuah sistem, mempertahan makhluk hidup pada status yang jauh dari Pada sistem kimia dikenal seimbang, dan dapat diperoleh dari lingkungan. dengan istilah potensial kimia Makhluk hidup memerlukan energi bebas untuk tiga tujuan utama, yaitu pelaksanaan kerja mekanis, kontraksi otot, dan gerakan sel lainnya, transpor aktif molekul-molekul dan ion-ion, dan sintesis makromolekul dan biomolekul lainnya dari zat mula yang lingkungannga. sederhana. Untuk mempertahankan proses kehidupan tersebut, makhluk hidup harus memperoleh pasokan energi bebas dari Organisme autotrofik merangkaikan metabolismenya dengan proses eksergonik sederhana tertentu dalam lingkungan sekitar, misalnya tumbuhan hijau menggunakan energi cahaya matahari, dan sebagian bakteri autotrofik menggunakan reaksi Fe2+ Fe3+. memperoleh energi bebas melalui Sebaliknya organisme heterotrofik metabolismenya denga Pada semua perangkaian

pemecahan molekol organik kompleks dalam lingkungannya. proses eksergonik ke proses endergonik.

proses ini, ATP memain peranan sentral dalam pengalihan energi bebas dari

Perubahan energi bebas (G) merupakan bagian dari total perubahan energi dalam sebuah sistem yang tersedia untuk melakukan pekerjaan. Pada sistem non biologis dapat meggunakan energi panas untuk melakukan kerja. Adapun pada sistem biologis yang bersifat isotermik meggunakan energi kimia untuk memberikan tenaga bagi proses kehidupan. Pada kondisi suhu dan tekanan yang konstan, hubungan antara perubahan energi bebas (G) pada sebuah sistem yang bereaksi dan perubahan entropi (ES) diperlihatkan lewat persamaan yang menggabung dua kaidah termodinamika. G = H TS dimana : H : perubahan entalpi (panas) dan TS : suhu absolut

Dalam kondisi reaksi biokimia, mengangat H kurang lebih sama dengan E, maka hubungan di atas dapat diungkapkan dengan persamaan : G = E - TS dimana : E : perubahan total energi internal dalam reaksi dan TS : suhu absulut Jika G negatif, reaksi berlangsung spontan dengan kehilangan energi bebas atau bersifat eksergonik. Disamping itu, bila G sangat besar, reaksi benarbenar berlangsung sampai selesai dan pada hakekatnya tidak bisa balik kembali (irreversible). Sebaliknya, jika G positif, reaksi berlangsung hanya kalau dapat diperoleh energi bebas atau bersifat endergonik. Disamping itu, bila G besar, sistem akan stabil dengan sedikit atau tanpa kecenderungan untuk terjadinya reaksi. Jika G adalah 0, sistem tersebut berada dalam keseimbangan dan tidak ada perubahan netto yang terjadi Kalau reaktan terdapat dengan konsentrasi 1,0 mol/L, G0 perubahan energi bebas yang baku. (standar) diartikan sebagai keadaan dengan pH 7. merupakan

Pada reaksi biokimia, keadaan baku Perubahan energi bebas

yang baku pada keadaan standar ini dinyatakan oleh G0. Perubahan energi bebas yang baku dapat dihitung dari konstanta keseimbangan Keq. G0 = 2.303 RT log Keq dimana : R : konstanta gas dan T : suhu absolut G yang aktual dapat lebih besar atau lebih kecil dibandingkan G0 yang bergantung pada konsentrasi berbagai reaktan, solven, berbagai ion, dan protein. Proses yang vital, misalnya berbagai reaksi sintesis, kontraksi muskuler, hantaran impuls saraf, dan transpormasi aktif mendapatkan energi lewat perangkaian atau pembentukan hubungan kimiawi dengan reaksi oksidatif. Bentuk sederhana perangkaian ini dapat dilihat pada Gambar 3.

Konversi metabolit A menjadi metabolit B terjadi dengan pelepasan energi bebas. Proses ini dirangkaikan dengan reaksi lain dimana energi bebas Istilah eksergonik dan diperlukan untuk mengubah metabolit C menjadi D.

endergonik dipakai untuk menunjukkan bahwa suatu proses akan disertai dengan hilangnya atau diperolehnya energi bebas tanpa pedulu akan bentuk energi yang terlibat. Suatu proses endergonik tidak dapat berada secara bebas tetapi harus menjadi suatu komponen dari sistem eksergonik/endergonik terangkai dimana keseluruhan perubahan netto adalah eksergonik. A Panas D Eksegoni Energi b b

Endergonik

Energi kimia

A + C B + D + panas

Gambar 3. Perangkaian reaksi eksegonik dengan endergonik

H. Senyawa-Senyawa Berenergi Tinggi 1. Senyawa pirofosfat Adenosin triphosphat (ATP) adalah senyawa fosfat berenergi tinggi karena memperlihatkan penurunan energi yang sangat besar jika terjadi hidrolisis. ATP merupakan donor energi bebas untuk sebagian besar proses yang memerlukan energi, dimana ATP terlibat dalam berbagai reaksi, baik eksergonik maupun endergonik dalam semua jenis kehidupan. Peran utama ATP dalam pertukaran

energi pada sistem biologi diperlihatkan oleh Fritz Lipmann dan Herman Kalckar pada tahun 1941. ATP adalah nukleotida yang terdiri atas adenin, ribosa, dan trifosfat. Bentuk aktif ATP biasanya adalah kompleks ATP dengan Mg2+ atau Mn2+. ATP adalah pengemban energi pada bagian trifosfatnya, merupakan molekul kaya energi karena unit trifosfatnya mengandung ikatan fosfoanhibrida (Gambar 4). Sejumlah besar energi bebas dilepaskan ketika ATP dihidrolisis menjadi adenosin difosfat (ADP) dan ortofosfat (Pi) atau ketika ATP dihidrolisis menjadi adenosin monofosfat (AMP) dan pirofosfat (PPi). Enzim yang mengkatalisis konversi ATP, AMP, dan ADP adalah adenilat kinase (miokinase).. ATP + H2O ADP + Pi + H+ G0 = -7,3kkal/mol ATP + H2O AMP + Pii + H+ G0 = -7,3kkal/mol G0 tergantung pada kekuatan ion dalam medium, konsentrasi Mg2+ dan Ca2+ dan protein (enzim). Pada keadaan sel yang khas, G yang sesungguhnya untuk hidrolisis ini sekitar -12 kkal/mol. ATP terus menerus dibentuk dan dipakai, dimana pergantian ATP sangat cepat. ATP lebih banyak bertindak sebagai donor langsung energi bebas yang utama dari pada sebagai bentuk simpanan jangka panjang. Aktivitas (gerakan, transpor aktif, biosintesis, sinyal) terjadi jika ATP terus menerus kembali dibentuk dari ADP. Pada sel yang khas, molekul ATP dipakai dalam satu menit sesudah pembentukkannya,

NH2 N C C N HC O O P O O CH2 4C H H H 3 2 N C HO OH 5 N O C1 H N HC O 5 P O O P O O P O O CH2 4C H H H 3 2 N C HO OH O C1 H N C N O NH2 C C CH P O N O P O O CH2 4C H C N O O 5 CH N HC

NH2 N C C

C N N O C1

H H 3 2 N C HO OH

AMP (adenosin monophosphat)


O O O

ADP (adenosin diphosphat)

ATP (adenosin triphosphat)

Gambar 4. Struktur ATP, ADP, dan AMP 2. Nukleotida trifosfat Nukleotida trifosfat adalah senyawa berenergi tinggi yang analog dengan ATP, dimana beberapa reaksi biosintesis dijalankan olehnya. Nukleotida trifosfat seperti guanosin trifosfat (GTP), uridin trifosfat (UTP), dan sitidin trifosfat (CTP). Bentuk difosfat nukleotida-nukleotida terbut adalah guanosin difosfat (GDP), uridin difosfat (UDP), dan sitidin difosfat (CDP). Bentuk bentuk monofosfatnya adalah guanosin monofosfat (GMP), uridin monofosfat (UMP), dan sitidin monofosfat (CMP). Enzimienzim dapat mengkatalisis transfer gugus fosforil terminal dari satu nukleotida ke nukleotida yang lain, seperti pada reaksi : ATP + GDP ADP + GTP ATP + GMP ADP + GDP 3. Asil Fosfat Contoh dari senyawa asil fosfat adalah 1,3-Difosfogliserat. Senyawa ini baku energi bebas, jika dihidrolisis menghasilkan energi sebesar -11,8 kkal/mol.

1,3-Difosfogliserat + H2O 1,3-fosfogliserat + Pi G0 = -11,8 kkal/mol 4. Fosfat Enolik Pada metabolisme intermedier glukosa metabolit fosfoenolpiruvat

diperlukan untuk memulihkan ATP dari ADP.

Perubahan energi bebas pada

hidrolisis enolfosfat adalah 14,8 kkal/mol pada pH 7. fosfoenolpiruvat + H2O asam piruvat (bentuk keto) + Pi G0 = -14,8 kkal/mol Senyawa fosfat enolik memiliki potensi fosforil (pemindahan gugus fosforil) tinggi, serta dapat memindahkan gugus fosforil ke ADP untuk membentuk ATP. 5. Guadinium Fosfat Guadinium fosfat adalah senyawa berenergi tinggi yang berperan dalam mentransfer maupun dalam penyimpanan energi biologis. Struktur guadinium fosfat terdapat pada molekul kreatin fosfat/fosfokreatin, serta argininafosfat yang berperan sebagai fosfagen. Fosfagen terbentuk dari reaksi antara kreatin atau arginin dengan ATP dikatalisis oleh enzim kreatin kinase. Kreatin fosfat + ADP + H+ ATP + kreatin G0 = -10,3 kkal/mol Berbagai fungsi dari guadinium fosfat adalah mempertahankan

konsentrasi ATP tetap tinggi selama periode kerja otot, sumber utama ~ P bagi pelari selama 4 detik pertama lari cepat 100 m, merupakan gudang ~ P (gugus fosforil) pada otot, kelimpahan dan potensial transfer fosforil yang lebih tinggi dari ATP menjadikannya donor ~ P yang sangat efektif, berperan sebagai fosfagen, yaitu simpanan energi ATP (fosfagen tidak berperan langsung dalam fungsi biologis tapi akan bermanfaat lewat ADP). 6. NADH dan FADH2 NADH dan FADH2 adalah pengemban elektron utama pada oksidasi molekul-molekul bahan bakar. Kemotrop memperoleh energi bebas dari oksidasi molekul bahan bakar, seperti glukosa dan am lemak. Pada organisme aerobik, akseptor elektron terakhir adalah O2. Namun demikian, elektron tidak langsung ditransfer dari molekul bahan bakar dan produk pemecahnya ke O2. Substratsubstrat ini memindahkan elektron ke pengemban-pengemban khusus, yaitu salah satu nukleotida piridin atau flavin. Pengemban tereduksi ini kemudian

memindahkan elektron potensi-tingginya ke O2 melalui rantai transfor elektron yang terdapat pada sisi dalam membran mitokondria. + Pi. Gradien proton yang terbentuk sebagai hasil aliran elektron kemudian mendorong sintesis ATP dari ADP Proses ini disebut fosforilasi oksidatif, yaitu sumber utama ATP pada organisme aerobik. Kemungkinan lain, elektron potensi tinggi yang berasal dari oksidasi molekul bahan bakar dapat digunakan pada reaksi-reaksi biosintesis yang memerlukan daya pereduksi di samping ATP. Nikotinamida adenin dinukleotida (NAD+) adalah akseptor elektron utama pada oksidasi bahan bakar. Bagian rekatif dari NAD+ cincin nikotinamidanya, suatu derivat piridin. Pada oksidasi substrat, nikotinamida NAD+ menerima satu ion hidrogen dan dua elektron, yang ekuivalen dengan satu ion hidrida. Bentuk tereduksi pengemban ini disebut NADH. Pada bentuk teroksidasi, atom nitrogen adalah tetravalen dan mengemban satu muatan positif, seperti terlihat pada NAD+. Pada bentuk tereduksi, NADH, atom nitoigen adalah trivalen. Pengemban elektron utama lainnya pada oksidasi bahan bakar adalah flavin adenin dinukleotida. Bentuk teroksidasi dan tereduksi dari pengemban ini adalah FAD dan FADH2. Pada bagian reaktif dari FAD, yaitu cincin isoaloksazim dapa menerima dua elektron. NADH atom nitrogen trivalen H NAD+ + R C R NADH + R C R + H+ OH O

FAD dan FADH2 Bagian reaktifnya cincin isoaloksazim H dapat menerima 2 elektron H

FAD + R C C R FADH2 + R C = C R H H H H

Pada

biosintesis reduktif, donor elektronnya

adalah

NADPH, yang

merupakan bentuk tereduksi dari NADP. NADPH mengemban elektron dengan

cara yang sama dengan NADP tapi hanya untuk biosintesis reduktif, sedang NADP untuk pembentukan ATP Tabel 1. Beberapa pengemban aktif dalam metabolisme Molekul pengemban ATP NADH dan NADPH FADH2 FMNH2 Koenzim A Lipoamid Tiamin pirofosfat Biotin Tetrahidrofolat S-adenosilimetionin Uridin difosfat glukosa Sitidin difosfat diasilgliserol Nukleosida trifosfat Gugus yang dibawa dalam bentuk aktif Fosforil Elektron Elektron Elektron Asil Asil Aldehida CO2 Unit satu karbon Metil Glukosa Fosfatidat nukleotida

7. Ester Tiol Ester tiol adalah senyawa berenergi tinggi yang dapat memulihkan ATP dari ADP. Contohnya adalah asetil KoA atau asetil koenzim A yang merupakan pengemban universal gugus asil. Gugus atau situs reaktifnya adalah gugus sulfidril. Hidrolisis asetil KoA memberi perubahan energi bebas sekitar 7,5 kkal. Asetil KoA berpartisipasi dalam suatu reaksi penghasil energi yang terbesar yang disebut dengan KrebCycle. Mengenai Krebs cycle ini telah dibicarakan pada modul karbohidrat. I. Pengontrolan Metabolisme

Metabolisme diatur dengan pengontrolan 1. Jumlah enzim Jumlah enzim tergantung pada kecepatan sintesis dan kecepatan degradasinya. Kadar sebagian besar enzim terutama disesuaikan dengan mengubah kecepatan transkripsi gen yang menyandikan. Contohnya pada laktosa yang mengindoksi lebih dari 50 kali peningkatan kecepatan sintesis -galaktosidase, enzim yang diperlukan untuk pemecahan disakarida ini. 2. Aktivitas katalisitik enzim Aktivitas katalisitik enzim dikontrol dengan beberapa cara dan pengontrolan allosterik yang riversibel adalah yang paling penting. Misalnya,

reaksi pertama pada banyak jalur biosintesis dihambat secara allosterik oleh produk akhir jalur itu seperti inhibisi aspatat transkarbamoilase oleh sitidin trifosfat. Hal ini adalah satu contoh inhibisi umpan-balik . Mekanisme lainnya yang sering ditemukan adalah modifikasi kovalen yang reversibel. Contohnya glikogen Glikogen adalah fosforilase, enzim yang mengkatalisis pemecahan glikogen.

suatu bentuk simpanan glukosa, diaktifkan dengan cara fosforilasi residu khusus serin bila glukosa tidak mencukupi. Hormon seperti epinefrin mencetuskan suatu rangkaian sinyal yang menyebabkan perubahan-perubahan pola metabolisme. AMP siklik dan ion kalsium bertindak sebagai caraka-caraka intrasel yang mengkoordinir aktivitas banuak protein sasaran. 3. Tersedianya subtrat Metabolisme juga diatur dengan pengontrolan arus substrat. Contohnya hormon insulin yang mempermudah masuknya glukosa dalam sel. dapat bertindak sebagai alat kontrol. Prinsif umum yang penting tentang metabolisme adalah jalur biosintetik maupun degradatif selalu berbeda. Pemisahan ini perlu untuk alasan-alasan Pada energitika, dan juga untu mempermudah pengontrolan metabolisme. Transfer substrat dari satu ke lain kompartemen sel (misalnya dari sitosol ke mitokondria)

eukariot, pengaturan metabolisme dan fleksibilitasnya juga ditingkatkan oleh kompartementasi. Kompartementasi memisalkan reaksi-reaksi yang berlawanan. Misalnya, oksidasi asam lemak terjadi dalam mitokondria, sedangkan sintesisnya di sitosol (bagian sitoplasma yang larut).

Banyak energi dalam metabolisme dikontrol oleh status energi sel. Indeks status energi adalah muatan energi yang sepadan dengan fraksi ATP ditambah setengah fraksi mol ADP, dengan pengertian bahwa ATP mengandung dua ikatan anhidrida, sedangkan ADP mengandung satu. Dengan demikian, muatan energi didefinikan sebagai : [ATP] + [ADP] Muatan energi = [ATP] + [ADP] + [AMP]

Muatan energi dapat mempunyai rentangan dari 0 (semua adalah AMP) sampai 1 (semua adalah ATP). Daniel Atkinson memperlihatkan bahwa jalur-jalur penghasil ATP (katabolisme) dihambat oleh muatan energi tinggi, sedang jalurjalur pemakai ATP (anabolisme) dirangsang oleh muatan energi yang tinggi (Gambar 6).

BAB III. Penutup


Metabolisme energi adalah penggunaan energi dalam proses reaksi kimia pada suatu sistem lingkungan untuk produksi dan respirasi dalam suatu unit areal

dan waktu tertentu. Sebagian besar molekul utama metabolisme adalah sama pada semua bentuk kehidupan. Ribonukleotida-ribonukleotida seperti ATP dan NADH adalah yang paling menonjol. Konsep termodinamika yang paling berharga untuk memahami

bioenergetika adalah energi bebas.

Suatu reaksi hanya dapat terjadi secara

spontan jika perubahan energi bebas (G) negatif. ATP adalah alat tukar anergi yang universal pada sistem biologis, merupakan molekul yang kaya energi karena mengandung dua ikatan fosfoanhidrida. Terdapat dua macam jalur metabolisme yang dimiliki sel, yaitu jalur anabolik atau anabolisme dan jalur katabolik atau katabolisme. Metabolisme diatur dengan pengontrolan pada jumlah enzim yang tergantung pada kecepatan sintesis dan kecepatan degradasinya. Pengontolan aktivitas katalisitik enzim, yaitu dengan pengontrolan allosterik yang riversibel dan modifikasi kovalen yang reversibel. Metabolisme juga diatur dengan pengontrolan arus substrat. DAFTAR PUSTAKA Lehninger. 1999. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M., penerjemah. .Jakarta : Penerbit Erlangga. Linder MC. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Parakkasi A, penerjemah.. Jakarta : Penerbit UI Press. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 1999. Biokimia Harper. Hartono A, penterjemah; Santoso AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Stryer L. 2000. Biokimia. Tim penerjemah bagian biokimia FKUI, penterjemah; Soebianto SZ, Setiadi E., Editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Soedarmo Dj. 1989. Biokimia Umum II. Bahan Pengajaran. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor.

Anda mungkin juga menyukai