Anda di halaman 1dari 21

A.

Pendahuluan Pada awal abad kedua hingga pertengahan abad keempat hijriyah dapat dikatakan sebagai fase keemasan, karena hukum Islam pada masa tersebut mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat. Ijtihad hukum dari sumber-sumber hukum juga berkembang pesat Ulama-ulama pada masa ini sangat giat dalam penulisanpenulisan dan pembukuan terhadap hukum-hukum Islam, seperti penulisan dan pembukuan hadits-hadits Nabi SAW, fatwa-fatwa para sahabat serta para Tabiin, tafsir al Quran, kumpulan pendapat imam-imam Fiqih, dan penulisan ilmu Ushul Fiqih. Banyak hal yang mempengaruhi keadaan tersebut diantaranya adalah karena luasnya wilayah Islam pada masa itu sehingga karena luasnya wilayah tersebut mendorong pemerintahan dan para ulama mengumpulkan dan membukukan hukumhukum Islam dan fatwa-fatwa yang dapat dijadikan pedoman agar dapat menyebar keseluruh pelosok wilayah Islam. Selain itu dimasa tersebut telah lahir ulama-ulama Mazhab Mustaqqil yang sangat giat menggali hukum dari sumber-sumber hukum Islam. Diantaranya adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali yang madzhab-madzhabnya sampai sekarang masih eksis dalam kehidupan umat Islam. Setelah meninggalnya para imam tersebut sampailah pada periode tarjih dalam mazhab fiqh atu yang lebih dikenal dengan masa Murajjihun . Periode ini dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 Yang dimaksudkan dengan tarjih (Murajjhun) adalah upaya yang dilakukan ulama masingmasing mazhab dalam mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam mereka. Periode ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka masing masing, sehingga mujtahid mustaqill (mujtahid mandiri) tidak ada lagi. Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad, maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhab yang mereka anut. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fi al-mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip yang ada dalam mazhabnya). Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan ijtihad secara mandiri, muncullah sikap at-

ta'assub al-mazhabi (sikap fanatik buta terhadap satu mazhab) sehingga setiap ulama berusaha untuk mempertahankan mazhab imamnya .

B. Pembahasan Kekuasaan dinasti bani Abbas, atau khilafah Abbasyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan bani Ummayah. Dinamakan khilafah Abbasyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasyah didirikan oleh abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).1 selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan bani Abbas menjadi lima periode: 1. Periode pertama (132 H/750 M 232 H/847 M), disebut periode pengaruh persia pertama. 2. Periode kedua (232 H/847 M 334 H/945 M), disebut masa pengaruh turki pertama. 3. Periode ketiga (334 H/945M 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti buwaih dalam pemerintahan khilafah abbasya. Periode ini disebut juga masa pengaruh peria kedua. 4. Periode keempat (447 H/1055 M 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti bani seljuk dalam pemerintahan khilafah abbasyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua 5. Periode kelima (590 H/1194 M 656 H/1258M), masa khilafah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota bagdad.2

1 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:PT Raja Grafindo persada, 1995), hlm. 49. 2 Ibid., hlm. 49-50.

Pada

periode

pertama

pemerintaha

Bani

Abbas

mencapai

masa

keemasannya. Secara politis, para kholifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Disisi lain, kemakmuran, masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan begi perkmbangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam. Kesejahteraan social, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, serta kesusasteraan berada pada zaman keemasan. Pada masa inilah Negara islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. 3 Ketika bani umayyah diruntuhkan oleh bani abbasyah tahun 132 H/ 750 M, hukum islam sebagaimana yang kita ketahui memperoleh gambaran peranannya. Hajat umat islam arab kepada sistem hukum baru sudah terpenuhi.4 Bani abbasyah melebihkan perbedaan-perbedaan dan oposisi sadar terhadap nenek moyang mereka lalu mencanangkan hukum tuhan dimuka bumi, sebagai bagian kebijakan ini mereka mengakui hukum agama, diajarkan oleh para spesialis yang saleh sebagai satu-satunya norma yang sah dalam islam. Mereka dengan sungguh-sungguh menarik perhatian para ahli hukum agama terhadap pengadilan mereka, lalu melakukan konsultasi tentang masalah-masalah yang mungkin ada dalam wewenang mereka.5 Apa yang dicapai periode abbasyah adalah hubungan tetap antara dinas qadhi dengan syariah (hukum agama) ini juga sudah disiapkan pada waktu umayyah tetapi dizaman abbasyah hal itu menjadi peraturan tetap bahwa qadhi (hakam hakim) haruslah seorang ahli syariah. Dia tidak lebih sebagai sekretaris gurbenur provinsi yang sah tetapi di angkat berdasarkan undang-undang oleh pemerintah pusat, dan selama dia diangkat sampai dibebaskan dari dinasnya, dia hanya melaksanakan hukum agama tanpa campur tangan pemerintah. 6 Tugas qadhi dipisahkan dari administrasi umum kemudian menjadi

bergabung pada hukum islam dalam data dan prosedur, aturan-aturan formal dari
3 Ibid., hlm 51 4 Joseph Schacht, Pengantar Hukum Islam, 1985, hlm. 66 5 Ibid., hlm 66. 6 Ibid., hlm. 67.

padanya tentang bukti mengakibatkan tidak mungkin bagi seorang qadhi menangani penyelidikan tindak kriminil.7 Dizaman abbasyah tatkala nilai-nilai syariah sudah secara tetap

dilaksanakan setelah hukum islam diakui, paling tidak secara teoritis sebagai satusatunya norma tingkah laku yang sah untuk orang-orang islam, dimana para qadhi yang diangkat oleh pemerintah pusat terikat untuk melaksanakan hukum ini di bawah wewenang langsung khalifah.8

1. Keadaan Pemerintahan Dan Hukum Islam Pada pertengahan abad keempat hijriyah, keadaan politik di beberapa daerah Islam mengalami kemunduran yang menyebabkan ikatan-ikatan politik antara daerahdaerah Islam di masa pemerintahan bani Abbasiyah semakin terputus. Di sisi lain bani Umayah di Andalusia semakin kuat dibawah kepemimpinan Abadurrahaman anNashir. Di Afrika Utara, Syiah Ismailiyah telah mendirikan suatu pemerintahan dengan nama daulah Fathimiyah di bawah pimpinan Ubaidullah Al Mahdi Al Fathimy yang beribu kotakan di kota al Mahdiyah yang terletak di dekat Tunis. Di Yaman telah berdiri Syiah Zaidiyah yang juga semakin kuat. Ketika itu, Daulah alDailami yang terkenal dengan Bani Buwaihi telah memegang kekuasaan pusat di Baghdad sedangkan daulah bani Abbasiyah ketika itu sudah terpecah-pecah.9[9] Walaupun selama bani Buwaih bertahta sempat membuahkan kemajuan yang berarti, tetapi kekuatan politik bani Buwaih tidak bertahan lama, setelah generasi pertama, kekuasaan menjadi ajang pertikaian antara anak-anak mereka. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat. Perebutan kekuasaaan dikalangan keturunan bani Buwaih adalah faktor internal kehancuran pemerintahan mereka. Selain itu, juga faktor eksternal dimana Bizantium semakin gencar dalam penyerangannya ke wilayah Islam membuat kondisi semakin runyam. Keadaan politik yang tidak stabil tersebut berimbas pada keluarnya dinasti-dinasti kecil yang
7 Ibid., hlm 68. 8 Ibid., hlm 71 9 Hudari bik, Terjemah Tarikh Al Tasyri Al Islam, (Semarang: Daarul Yahya, 1980), hlm. 519-520.

membebaskan diri dari pemerintah pusat di Baghdad. Dinasti-dinasati tersebut antara lain adalah dinasti Fathimiyah yang memplokamirkan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir. Ikhsidiyah di Mesir dan di Syiria. Hamdan di Aleppo dan lembah Furat, Ghasnawi di Ghasna dekat Kabul, dan pada puncaknya yaitu jatuhnya kekuasaan pusat dari bani Buwaih kepada bani Saljuk.10 Begitulah gambaran dunia Islam pada masa pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Dimana keadaan politik pemerintahan Islam tidak stabil karena faktor-faktor internal dan eksternal yang sangat merugikan bagi Islam. Banyak daerah-daerah memerdekakan diri dari pemerintahan pusat dan menjadi negeri kecilkecil sehingga negeri-negeri tersebut lebih disibukan dengan perang antar negeri tersebut. Hal tersebut berimbas pada terputusnya hubungan antar daerah-daerah Islam , daerah-daerahnya terpencar dan tidak ada kesatuan politik.11 Pada periode ini Wilayah kekuasaan Islam telah terbagi-bagi dalam beberapa bagian yang setiap bagian dipimpin oleh orang wali (Gubernur) Yang disebut dengan Amirul Mukminin. Akibat pembagian ini, umat Islam tertimpa kelemahan dan kemerosotan karena negara-negara ini saling berbantah bantahan, banyak terjadi fitnah, terputusnya hubungan antar daerah karena permusuhan dan perpecahan telah menggantikan ikatan persaudaraan mereka. Dalam cuaca yang berawan tebal dan kondisi yang buruk tersebut, para ulama menyampaikan risalahnya, menunaikan amanatnya dan mengeluarkan apa yang dibawanya serta banyak bermunculan dari kalangan ulama besar dan pemikir. Hanya saja hal ihwal yang buruk itu dan faktor-faktor kegoncangan yang kuat dapat mempengaruhi pertumbuhan pergerakan ilmiah dan kembali mundur dengan bergantinya dari kuat menjadi lemah, dari maju menjadi mundur, dari semangat menjadi lesu, dari pemuda menjadi tua dan matinya ruh kebebasan berfikir para ulama. Setelah Muhammad Bin jarir Ath-Thabari wafat pada tahun 531 H tidak ditemukan lagi orang yang menyatakan dirinya sampai pada tingkatan mujtahid mustaqil baik dalam berfatwa maupun dalam mengistimbath hukum serta mengambil
10 Badri yatim., op cit , hlm. 71-72 11 Ahmad Hanafi, Pengantar Dan Sejarah Hokum Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 1970), hlm. 206.

hukum-hukumnya dari al- Quran dan Sunnah tanpa terikat dengan pemikiran salah seorang imam (tokoh) mereka menganggap bahwa kemampunya tidak kuat untuk menggali ilmu dari al- Quran dan As sunnah serta mereka bukanlah ahlinya untuk melihat pada keduanya dan mengistimbath dari keduanya, dalam diri mereka telah tumbuh benih-benih taklid (mengikuti) sehingga mereka lebih bersandar pada fikih Abu Hanifah, Maliki, Syafiie, Ibnu Hanbal dan yang lainya yang mazhabnya tersebar ketika itu. Meraka membatasi dirinya pada ruang lingkup yang dijadikan pokok-pokok mazhab tersebut, tanpa malampaui dan melewati batasanya. Setiap mereka menetapi satu mazhab tertentu tanpa malampaui dan mengerahkan semua kekuatan dalam mendukung mazhab tersebut baik secara global maupun secara rinci.12 Pada periode ini orang cukup mempelajari kitab-kitab imam tertentu dan mempelajari cara caranya malakukan istimbat hukum- hukum yang dibukukan tersebut. Dalam setiap madzhab, para ulama menyaring dan membuang pernyataan yang lemah dari imam madzhab mereka. Mereka juga mengklasifikasi narasi-narasi para pendiri madzhab mereka sesuai dengan keakuratannya.13 Maka, karangankarangan mereka tidak lebih dari ringkasan karangan sebelumnya, atau penjelasanya (syarah) atau pengumpulan pendapat yang terpisahpisah dalam berbagai kitab. Dengan keberlebihan dan melampaui batas dalam fanatik terhadap mazhab-mazhab salaf ini, mereka mendirikan benteng antara umat dengan nash-nash Al-Quran dan Sunnah, syariat itu menjadi tulisan-tulisan para fuqaha dan pendapat-pendapatnya, serta kesungguhan meraka hanya sampai pada memahami ucapan para imamnya atau menggali kaidah-kaidahnya. Sedang ijtihad telah mereka lupakan hingga selesai dengan penutupan pintunya pada awal abad keempat. Pada periode ini, dari golongan ulama terdapat pula orang yang tidak kalah dengan imamimam sebelumnya dalam pengetahuan tentang pokok-pokok syariat dan caracara istimbat, namun mereka tidak cukup untuk berani muncul secara bebas seperti yang dirasakan oleh para pendahulunya yang mengikat dirinya dengan kekuatanya sendiri serta menyelesaikan
12 Muhammad Ali, Sejarah Fiqh Islam, (Jakarta:Pustaka Al Kautsar, 2003), hlm.163-164. 13 Abu Ameenah Bilal Philips, Asal Usul dan Perkembangan Fiqh, 2005: Bandung, Nusamedia Hal 141

kesulitan-kesulitan dengan jalan ijtihad. Seperti Abu Muhammad Abdillah bin Yusuf Al- Juwaini telah menyatakan dalam penyusunan kitab al- Muhith, tidak mau terikat dengan satu mazhab dan mendasarkan pada nash-nash syara yang tidak terhitung serta menjauhi sikap fanatik mazhab. Kitab Al- Juwaini tersebut sampai kepada alHafidz Abi Bakar Al- Baihaqi sebanyak tiga juz lalu beliau mengkritiknya tentang kelemahan hadist-hadistnya dan menjelasakan padanya bahwa yang mengambil hadist yang ada pada dirinya adalah syafii, dan ketidaksukaanya terhadap h adisthadist yang dikeluarkan Al- Juwaini dalam kitabnya adalah karena terdapat kecacatan yang diketahuinya sebagai orang yang menekuni kreasi para ahli hadist. Ketika risalah Al- Baihaqi sampai pada Al- Juwaini, ia berkata: Ini adalah keberkahan Ilmu. Dan ia mendoakan Al- Baihaqi serta ia tidak menyempurnakan karangannya. Dari sini dapat anda lihat bahwa Al-Juwaini berhenti berijtihad karena ia bukan tokoh dalam hadist, padahal imam syafiI sendiri bersandar dalam pentashihan hadist -hadist kepada Ahli Hadist yang dapat memutuskan dan membedakan antara hadist shahih dan cacatnya. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa ijtihad pada masa itu tidak mati secara sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur dengan semakin hilangnya ruh ijtihad dalam hati para ulama kala itu, hilangnya persatuan daerah-daerah Islam, dan semakin banyaknya perpecahan dalam tubuh Islam.14 2. Ijtihad dan Fiqh Di Masa Bani Abbas Dipermulaan periode Bani Abbas lahirlah imam-imam mujtadid yang kenamaan dari golongan Ahli Hadits dan golongan Ahli Qiyas yang mempunyai pengikut dan dibukukan fatwa-fatwannya . Diantaranya para imam-imam mijtahiddin yang timbul dalam periode ini, ialah imam empat, yang hingga masa kini madzhab-madzhabnya mendapatkan sambutan ramai dianut dengan orang dengan kokoh.

14 Muhammad, Ali as Sayis, Sejarah Fikih Islam, 2003: Jakarta, Pustaka al Kautsar. Hal 165166

Imam-imam mazhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan abbasyah,yaitu: imam abu hanifa (700 -767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di kufah, kota yang berada ditengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang tinggi.15 Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadist. Walaupun selama bani Buwaih bertahta sempat membuahkan kemajuan yang berarti, tetapi kekuatan politik bani Buwaih tidak bertahan lama, setelah generasi pertama, kekuasaan menjadi ajang pertikaian antara anak-anak mereka. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat. Perebutan kekuasaaan dikalangan keturunan bani Buwaih adalah faktor internal kehancuran pemerintahan mereka. Selain itu, juga faktor eksternal dimana Bizantium semakin gencar dalam penyerangannya ke wilayah Islam membuat kondisi semakin runyam. Keadaan politik yang tidak stabil tersebut berimbas pada keluarnya dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari pemerintah pusat di Baghdad. Dinasti-dinasati tersebut antara lain adalah dinasti Fathimiyah yang memplokamirkan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir. Ikhsidiyah di Mesir dan di Syiria. Hamdan di Aleppo dan lembah Furat, Ghasnawi di Ghasna dekat Kabul, dan pada puncaknya yaitu jatuhnya kekuasaan pusat dari bani Buwaih kepada bani Saljuk. Berbeda dengan abu hanifa, imam malik (713 795 M) banyak menggunakan hadist dan tradisi masyarakat madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh imam syafiI (767 820 M) dan imam ahmad ibn hanbal (780 855 M).16 Disamping empat pendiri mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan bani abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.17

15 Harun nasution, Islam Ditinjajau Dari Berbagai Aspeknya, jilid 2, hlm. 14 16 Badri yatim, op. cit., hlm 56-57 17 Ibid., hlm. 57.

Dalam periode - periode ini, barulah dibuat aturan aturan ijtihad, disusun usul fiqh dan barulah buah ijtihad (hasil hasil ijtihad) itu, senyata nyatanya karena dalam periode inilah fiqh dibukukan. Dalam periode ini pula mereka para mujtahiddin mulai memperluas (membikin) hokum dan membuat macam macam masalah yang ditakdir takdirkan (fiqh iftirodli). Dalam periode yang telah lalau hokum hokum itu diberikan dan dicari jika telah ada kejadian yang menghajatinnya dalam periode ini pula muncul berbagai madzhab dan berjangkit perselisihan dengan hebat dan luas . Dalam periode ini timbul pertentangan pendapat tentang : Memakai hadits sebagai dasar syara (hokum); karena telah bertebaran hadits palsu yang dibuat oleh para pendusta, para perusak agama. Dalam maslah ini timbul perselisihan dalam hal itu. Dan yang menjadi titik berat perselisihan adalah : apakah hadits itu suatu pokok dari dasar dasar tasyri dan kalau benar hadits itu suatu dasar, maka apakah jalan berpegang kepadanya ? Segolongan ulama menolak hadits; mereka mencukupi dengan dasar Al-quran saja. Yang menolak ini ada yang karena tidak mempercayai perowinya dan ada juga yang menolak sama sekali. Memakai ijma sebagai dasar tasyri. Sebagaimana mereka berselisih tentang hal istihsan, demikian pula pertengkaran faham antara ahli qiyas dengan ahli hadits dalam perkara menggunakan qiyas, makin menghebat. Pokok-pokok perselisihan (asbabul ikhtilaf) dalam periode bani abbas dapat disimpulkan dalam urusan-urusan dibawah ini: a. Ada kalanya nash itu tiada terang tujuannya, yang menyebabkan berlain-lainan paham para mujtahidien. b. Ada kalanya nash itu sampai kepada sebahagian para mujtahidien, tidak sampai yang lain.karena itu paham mereka bertentangan. Dalam pada itu semua mengaku: apabila telah shahih hadits maka itulah mazhabku.

Mengingat hal ini, maka sesungguhnya mazhab-mazhab itu, walau betapapun banyaknya, dapat kita persatukan, jika semua pemeluknya (orang-orang yang memegang peranan dalam tiap-tiap mazhab itu) telah insaf dengan sempurna. Karena sebagian ulama mempergunakan fikiran pada masalah-masalah yang tidak terang ada hukumnya didalam Al-Quran, sedang yang sebagian tinggal berdiam diri, tidak mau memberi hukum

3. Puncaknya Zaman Keemasan Puncaknya zaman keemasan islam pada zaman Abbasyah18 4. Ulama-ulama di masa murajjihun Pada masa murajjihun, mayoritas ulama berijtihad dalam bentuk tarjih (penguatan) terhadap pendapat yang ada dalam mazhab sebelum mereka (mujtahid mustaqil). Akibatnya terdapat banyak buku yang bersifat sebagai komentar, penjelasan dan ulasan terhadap buku yang ditulis sebelumnya dalam masing-masing mazhab. Berikut ini adalah ulama-ulama pada masa murajjihun: A. Ulama-ulama dari golongan hanafiyah Abul Hasan Ubaidullah ibn Hasan Al Karkhi Abu Bakar Ahmad ibn Ali Ar Razy al Jashshas Abu Jafar Muhammad ibn Abdullah al Balkhi Abu Abdullah Yusuf ibn Muhammad al Jurjani Abul Husein Ahmad ibn Muhammad al Qarudi al Baghdadi Abu Zaid Ubaidullah ibn Umar ad Dabusi as Samarqandi Syamsul Aimmah Abdul Aziz ibn Ahmad al Halwani B. Ulama-ulama dari golongan malikiyah

Muhammad bin Yahya bin Lubbah al Andalusi Bakar bin Ala al Qusyairi Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al Muithi al Andalusi Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid Abu Rahman
18 Zainal abidin, Sejarah Islam Dan Umatnya Sampai Sekarang, (Jakarta:Bulan Bintang, Cetakan Ketiga), hlm. 213.

10

Abu Bakar Muhammad bin Abdullah al Abhari Al Qadhi Abdul Wahab bin Nasir al Baghdadi Abul Walid Sulaiman bi Qalaf al Baji C. Ulama-ulama dari golongan Syafiiyyah

Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad al Marwazi Abu Ahmad Muhammad bin Said bin Abdul Qadhi al Khawarizimi Abul Maali Abdul malik bin Abdullah al Juwaini Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali Abul Qasim Abdul Karim bin Muhammad al Qaswini ar Rafii Muhyiddin abu Zakariya yahya bin Sharaf bin Muri an Nawawi D. Ulama-ulama dari golongan Hanbaliyyah Mufiquddin abu Muhammad Abdullah bin Ahmad ibnu Qadamah al Muqaddasi Ahmad ibn Jafar ibn Muhammad al Munady Ahmad ibn Jafar ibn hamdan Ahmad ibn Muhammad ibn hazm Umar ibn Husain ibn Abdullah ibn Ahmad Muhammad ibn Ahmad ibn Ismail

5. Timbulnya Mazhab yang Empat dan Sejarah Pemikiran Mazhab yang Empat a. Pengertian Mazhab Menurut Bahasa mazhab berasal dari shighah mashdar mimy (kata sifat) dan isim makan (kata yang menunjukkan tempat) yang diambil dari fiil madhi dzahaba yang berarti pergi. Sementara menurut Huzaemah T. Yanggo bisa juga berarti al-rayu yang artinya pendapat.19 Sedangkan secara terminologis pengertian mazhab menurut Huzaemah T. Yanggo, adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam Mujtahid dalam memecahkan masalah, atau mengistinbatkan hukum Islam. Selanjutnya Imam
19 M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab Fiqih, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, Cet. I, 1997.hlm, 65

11

Mazhab dan mazhab itu berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat Islam yang mengikuti cara istinbath Imam Mujtahid tertentu atau mengikuti pendapat Imam Mujtahid tentang masalah hukum Islam. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud mazhab meliputi dua pengertian a. Mazhab adalah jalan pikiran atau metode yang ditempuh seorang Imam Mujtahid dalam menetapkan hukum suatu peristiwa berdasarkan kepada al-Quran dan hadits. b. Mazhab adalah fatwa atau pendapat seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu peristiwa yang diambil dari al-Quran dan hadits.

b. Sejarah Singkat Munculnya Mazhab Fiqh Sebenarnya ikhtilaf telah ada di masa sahabat, hal ini terjadi antara lain karena perbedaan pemahaman di antara mereka dan perbedaan nash (sunnah) yang sampai kepada mereka, selain itu juga karena pengetahuan mereka dalam masalah hadis tidak sama dan juga karena perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hukum dan berlainan tempat. Sebagaimana diketahui, bahwa ketika agama Islam telah tersebar meluas ke berbagai penjuru, banyak sahabat Nabi yang telah pindah tempat dan berpencar-pencar ke nagara yang baru tersebut. Dengan demikian, kesempatan untuk bertukar pikiran atau bermusyawarah memecahkan sesuatu masalah sukar dilaksanakan. Sejalan dengan pendapat di atas, Qasim Abdul Aziz Khomis menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ikhtilaf di kalangan sahabat ada tiga yakni : 1. Perbedaan para sahabat dalam memahami nash-nash alQuran 2. Perbedaan para sahabat disebabkan perbedaan riwayat 3. Perbedaan para sahabat disebabkan karena rayu. Setelah berakhirnya masa sahabat yang dilanjutkan dengan masa Tabiin, muncullah generasi Tabiit Tabiin. Ijtihad para Sahabat dan Tabiin dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya yang tersebar di berbagai daerah wilayah dan kekuasaan Islam pada waktu itu. Generasi ketiga ini dikenal dengan Tabiit Tabiin.

12

Di dalam sejarah dijelaskan bahwa masa ini dimulai ketika memasuki abad kedua hijriah, di mana pemerintahan Islam dipegang oleh Daulah Abbasiyyah. Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah The Golden Age. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Periode ini dalam sejarah hukum Islam juga dianggap sebagai periode kegemilangan fiqh Islam, di mana lahir beberapa mazhab fiqih yang panji-panjinya dibawa oleh tokoh-tokoh fiqh agung yang berjasa mengintegrasikan fiqih Islam dan meninggalkan khazanah luar biasa yang menjadi landasan kokoh bagi setiap ulama fiqih sampai sekarang.20 Sebenarnya periode ini adalah kelanjutan periode sebelumnya, karena pemikiran-pemikiran di bidang fiqh yang diwakili mazhab ahli hadis dan ahli rayu merupakan penyebab timbulnya mazhab-mazhab fiqh, dan mazhab-mazhab inilah yang mengaplikasikan pemikiran-pemikiran operasional. Ketika memasuki abad kedua Hijriah inilah merupakan era kelahiran mazhab-mazhab hukum dan dua abad kemudian mazhab-mazhab hukum ini telah melembaga dalam masyarakat Islam dengan pola dan karakteristik tersendiri dalam melakukan istinbat hukum Kelahiran mazhab-mazhab hukum dengan pola dan karakteristik tersendiri ini, tak pelak lagi menimbulkan berbagai perbedaan pendapat dan beragamnya produk hukum yang dihasilkan. Para tokoh atau imam mazhab seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Ahmad bin Hanbal dan lainn ya, masing-masing menawarkan kerangka metodologi, teori dan kaidah-kaidah ijtihad yang menjadi pijakan mereka
20 Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya,hlm, 26

13

dalam menetapkan hukum. Metodologi, teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para tokoh dan para Imam Mazhab ini, pada awalnya hanya bertujuan untuk memberikan jalan dan merupakan langkah-langkah atau upaya dalam memecahkan berbagai persoalan hukum yang dihadapi baik dalam memahami nash al-Quran dan al-Hadis maupun kasus-kasus hukum yang tidak ditemukan jawabannya dalam nash. Metodologi, teori dan kaidah-kaidah yang dirumuskan oleh para imam mazhab tersebut terus berkembang dan diikuti oleh generasi selanjutnya dan ia -tanpa disadari- menjelma menjadi doktrin (anutan) untuk menggali hukum dari sumbernya. Dengan semakin mengakarnya dan melembaganya doktrin pemikiran hukum di mana antara satu dengan lainnya terdapat perbedaan yang khas, maka kemudian ia muncul sebagai aliran atau mazhab yang akhirnya menjadi pijakan oleh masing-masing pengikut mazhab dalam melakukan istinbat hukum. Teori-teori pemikiran yang telah dirumuskan oleh masing-masing mazhab tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting artinya, karena ia menyangkut penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi yang sistematis dalam usaha melakukan istinbat hukum. Penciptaan pola kerja dan kerangka metodologi tersebut inilah dalam pemikiran hukum Islam disebut dengan ushul fiqh. Sampai saat ini Fiqih ikhtilaf terus berlangsung, mereka tetap berselisih paham dalam masalah furuiyyah, sebagai akibat dari keanekaragaman sumber dan aliran dalam memahami nash dan mengistinbatkan hukum yang tidak ada nashnya. Perselisihan itu terjadi antara pihak yang memperluas dan mempersempit, antara yang memperketat dan yang memperlonggar, antara yang cenderung rasional dan yang cenderung berpegang pada zahir nash, antara yang mewajibkan mazhab dan yang melarangnya. Menurut hemat penulis, perbedaan pendapat di kalangan umat ini, sampai kapan pun dan di tempat mana pun akan terus berlangsung dan hal ini menunjukkan kedinamisan umat Islam, karena pola pikir manusia terus berkembang. Perbedaan pendapat inilah yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab Islam yang masih menjadi pegangan orang sampai sekarang. Masing-masing mazhab tersebut memiliki pokok-pokok pegangan yang berbeda yang akhirnya melahirkan pandangan dan

14

pendapat yang berbeda pula, termasuk di antaranya adalah pandangan mereka terhadap kedudukan al-Quran dan al-Sunnah.

c. . Dasar-dasar Pemikiran Mazhab Empat Berkembangnya dua aliran ijtihad rasionalisme dan tradisinalisme telah melahirkan madzhab-madzhab fiqih islam yang mempunyai metodologi kajian hukum serta fatwa-fatwa fiqih tersendiri, dan mempunyai pengikut dari berbagai laposan masyarakat. Dalam sejarah pengkajian hukum islam dikenal beberapa madzhab fiqih yang secara umum terbagi dua, yaitu madzhab sunni dan madzhab syii. Di kalangan Sunni terdapat beberapa madzhab, yaitu hanafi, maliki, syafii dan hambali. Sedangkan di kalangan syiah terdapat dua madzhab fiqih, yaitu Zaidiyah dan Jafariah. Namun yang masih berkembang kini hanyalah madzhab Jafariah dan Syiah Imamiyah. Dalam makalah ini, penulis hanya membatasinya pada mazhab-mazhab fiqh dari golongan sunni. Berikut ini kami sebutkan riwayat fuqoha-fuqoha yang mazhabnya dibukukan dan mereka mempunyai pengikut diberbagai negara-negara besar. 1. Imam Abu Hanifah (80-150 H) Nama lengkapnya adalah Numan ibn Tsabit ibn Zuthi (80-150 H). Ia dilahirkan di Kufah, pada zaman dinasti Umayyah tepatnya pada zaman kekuasaan Abdul malik ibn Marwan. Dikala muda ia mempelajari fiqh dari Hammad bin Abu Sulaiman, beliau juga banyak belajar pada ulama-ulama tabiin seperti Atha bin Abu Rabah dan Nafi Maula Ibnu Umar. Pada awalnya Abu hanifah adalah seorang pedagang, atas anjuran al-Syabi ia kemudian menjadi pengembang ilmu. Abu Hanifah belajar fiqih kepada ulama aliran irak (rayu). Imam Abu Hanifah mengajak kepada kebebasan berfikir dalam memecahkan masalah-masalah baru yang belum terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah. Ia banyak mengandalkan qiyas (analogi) dalam menentukan hukum. Imam Abu Hanifah dikenal sebagai ulama yang luas ilmunya dan sempat pula menambah pengalaman dalam masalah politik, karena di masa hidupnya ia

15

mengalami situasi perpindahan kekuasaan dari khalifah Bani Umayyah kepada khalifah Bani Abbasiyah, yang tentunya mengalami perubahan situasi yang sangat berbeda antarta kedua masa tersebut.21 Madzhab Hanafi berkembang karena kegigihan murid-muridnya

menyebarkan ke masyarakat luas, namun kadang-kadang ada pendapat murid yang bertentangan dengan pendapat gurunya, maka itulah salah satu ciri khas fiqih Hanafiyah yang terkadang memuat bantahan gurunya terhadap ulama fiqih yang hidup di masanya. Ulama Hanafiyah menyusun kitab-kitab fiqih, diantaranya Jami al-Fushulai, Dlarar al-Hukkam, kitab al-Fiqh dan qawaid al-Fiqh, dan lain-lain. Dasar-dasar Madzhab Hanafi adalah : a. Al-Quranul Karim b. Sunnah Rosu dan atsar yang shahih lagi masyhur c. Fatwa sahabat d. Qiyas e. Istihsan f. Adat dan uruf masyarakat Murid imam Abu Hanifah yang terkenal dan yang meneruskan pemikiranpemikirannya adalah : Imam Abu Yusuf al-Ansharg, Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, dll. 2. Imam Malik (93-179 H) Beliau adalah Maliki bin Annas bin Abu Amir. Ia dilahirkan di madinah pada tahun 93 H. Ia menuntut ilmu pada ulama Madinah. Orang pertama yang menjadi tempat belajar adalah Abdur Rahman bin Hurmuz. Beliau juga pada belajar pada Nafi maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab az-Zuhri. Adapun gurunya dalam fiqh adalah Rabiah bin Abdur Rahman. Karyanya yang terkenal adalah kitab al-Muwatta, sebuah kitab hadits bergaya fiqh. Inilah kitab tertua hadits dan fiqh tertua yang masih kita jumpai. Dia

21 A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995.hlm, 17

16

seorang Imam dalam ilmu hadits dan fiqih sekaligus. Orang sudah setuju atas keutamaan dan kepemimpinannya dalam dua ilmu ini. Dalam fatwa hukumnya ia bersandar pada kitab Allah kemudian pada asSunnah. Tetapi beliau mendahulukan amalan penduduk madinah dari pada hadits ahad, dalam ini disebabkan karena beliau berpendirian pada penduduk madinah itu mewarisi dari sahabat. Setelah as-Sunnah, Malik kembali ke Qiyas. Satu hal yang tidak diragukan lagi bahwa persoalan-persoalan dibina atas dasar mashlahah mursalah. Dasar madzhab Maliki dalam menentukan hukum adalah : a. Al-quran b. Sunnah c. Ijma ahli madinah d. Qiyas e. Istishab / al-Mashalih al-Mursalah 3. Imam As-Syafii (150-204 H) Beliau adalah Imam Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi as-Syafii al-Muthalibi. Ia dilahirkan di Ghazzah tahun 150 H di daerah Asqalan.beliau hafal Quran pada usia kanak-kanak. Kemudian ia pergi ke Hudzail untuk menghafal syair-syair dan belajar kesusastraan. Selanjutnya ia belajar pada Muslim bin Khalid az-Zanji seorang syeikh dan Mufti tanah Haram, setelah selesai belajar kepadanya ia minta untuk dibuatkan surat pengantar kepada Malik bin Anas imam tanah Hijrah (Madinah), maka ia dibuatkan surat itu untuk Malik yang ahli Hadits. Syafii pernah belajar Ilmu Fiqh beserta kaidah-kaidah hukumnya di mesjid al-Haram dari dua orang mufti besar, yaitu Muslim bin Khalid dan Sufyan bin Umayyah sampai matang dalam ilmu fiqih. As-Syafii mulai melakukan kajian hukum dan mengeluarkan fatwa-fatwa fiqih bahkan menyusun metodologi kajian hukum yang cenderung memperkuat posisi tradisional serta mengkritik rasional, baik aliran Madinah maupun Kuffah. Dalam kontek fiqihnya Syafii mengemukakan pemikiran bahwa hukum Islam bersumber pada al-Quran dan al-Sunnah serta Ijma

17

dan apabila ketiganya belum memaparkan ketentuan hukum yang jelas, beliau mempelajari perkataan-perkataan sahabat dan baru yang terakhir melakukan qiyas dan istishab. Madzhab fiqih as-Syafii merupakan perpaduan antara madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Ia terdiri dari dua pendapat, yaitu qaul qadim (pendapat lama) di Irak dan qaul jadid di Mesir. Madzhab Syafii terkenal sebagai madzhab yang paling hati-hati dalam menentukan hukum.22 Di antara buah pena/karya-karya Imam Syafii, yaitu : Ar-Risalah : merupakan kitab ushul fiqih yang pertama kali disusun. Al-Umm : isinya tentang berbagai macam masalah fiqih berdasarkan pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam kitab ushul fiqih.

4. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) Beliau adalah Ahmad bin Hanbal bin Hilal adz-Dzahili asy-Syaibani alMaruzi al-Baghdadi, dilahirkan pada tahun 164 H di Baghdad.

Ia mendengar pembesar-pembesar hadis dai Hasyim, Al-Bukhari, Muslim, dan orang yang setingkat, meriwayatkan hadis dari padanya. Ia memperbanyak pencarian hadis dan menghafalkannya sehingga menjadi ahli hadis pada masanya. Asy-Syafii berkata: Saya keluar dari Baghdad dan disana saya tidak meninggalkan orang yang lebih utama, lebih pandai dan lebih ahli fiqih dari pada Ahmad bin Hambal. Ia belajar fiqih pada Asy-Syafii ketika ia datang di Baghdad, daan dia adalah muridnya yang tersohor dari orang-orang Baghdad, kemudian dia ijtihad untuk dirinya sendiri. Ia termasuk mujtahid ahli hadis yang mengamalkan hadis ahad tanpa syarat selama sanadnya shahih seperti jalan Asy-Syafii dan ia mendahulukan pendapat-pendapat sahabat dari pada Qiyas. Memasukkan Ahmad dalam rijalul hadis adalah lebih kuat dari pada memasukkannya dalam fuqaha. Ia menyusun musnad yang memuat 40.000 hadis lebih. Anaknya yang bernama Abdullah meriwayatkan dari padanya. Dalam bidang ushul ia mempunyai kitab Thaatur Rasul, kitab Nasikh dan Mansukh, dan kitab Ilal.
22 Ibid, hlm, 19-21

18

Sebagian orang yang terkenal meriwayatkan madzhabnya ialah Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan Atsram yang mengarang kitab As-Sunnan fil fiqh ala madzhabi Ahmad (Sunnah-sunnah tentang fiqih menurut madzhab Ahmad) da ia mempunyai kesaksian dari hadis, Ahmad bin Muhammad bin Hajaj Al-Marwazi mengarang kitab As-Sunnan bi Syawahidil hadis (Sunnah-sunnah dengan saksi hadis). Dan Ishak bin Ibrahim yang terkenal denga Ibnu Rahawaih AlMarwazi dan termasuk teman-teman besar bagi Ahmad mengarang juga As-Sunnan fil fiqh (Sunnah-sunnah tentang fiqih). Ahmad bin Hambal adalah orang yang tertimpa ujian yang terkenal yaitu perihal kemakhlukkan al-Quran. Banyak ahli hadis yang mengabulkan ajakan AlMamun untuk mengatakan al-Quran itu makhluk. Adapun dia (Ahmad) berdiri dengan teguh, kokoh dan tidak goyah sedikitpun sejak tahun 218 H yaitu tahun permulaan ajakan Al-Mamun sampai tahun 233 H yaitu pembatalan Al-Mutawakil terhadap ajakan itu, yang membiarkan manusia untuk merdeka dalam hal yang dipilih dan dipercayainya. Keteguhan ini tanpa dibicarakan benar atau salahnya menjadikan Ahmad bin Hambal itu mulia serta berada dalam derajat yang tinggi dihadapan para ulama karena menanggung hal-hal yang menyakitkan demi menjaga kepercayaannya yang mana hal itu adalah seindah-indah hiasan dari kemuliaan yang dikenakan manusia. Imam Ahmad bin Hambal wafat di Baghdad pada tanggal 12 Rabiul Awwal 241 H. Sepeninggalan beliau, madzhab Hambali berkembang luas dan menjadi salah satu madzhab yang banyak pengikutnya23

C. Kesimpulan Masa Murajjihun merupakan masa yang ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka masing masing, sehingga mujtahid mustaqill sudah tidak terdapat lagi. Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad, maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhab yang mereka anut.
23 Muh. Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah, Jakarta : PT Raya Grafindo Persada, 1996,hlm, 74

19

Masa murajjihun merupakan adalah masa dimana sangat kuatnya upaya yang dilakukan ulama masing-masing mazhab dalam mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam madzhab mereka. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fi al-mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip yang ada dalam mazhabnya). Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan ijtihad secara mandiri. Pada periode ini untuk pertama kali muncul pernyataan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya pernyataan tersebut seperti dorongan para penguasa kepada para hakim (qadi) untuk menyelesaikan perkara di pengadilan dengan merujuk pada salah satu mazhab fiqh yang disetujui khalifah saja selain itu pada masa ini telah muncul sikap at-taassub al-mazhabi yang berakibat pada sikap ke-jumud-an (kebekuan berpikir) dan taqlid (mengikuti pendapat imam tanpa analisis) di

kalangan murid imam mazhab. Sebab lain yaitu munculnya gerakan pembukuan pendapat masing-masing mazhab yang memudahkan orang untuk memilih pendapat mazhabnya dan menjadikan buku itu sebagai rujukan bagi masing-masing mazhab, sehinga aktivitas ijtihad terhenti. Dari sinilah benih-benih taqlid muncul pada mazhab tertentu yang diyakini sebagai yang benar. Persaingan antar pengikut mazhab semakin tajam, sehingga subjektivitas mazhab lebih menonjol dibandingkan sikap ilmiah dalam menyelesaikan suatu persoalan. Akibat lain dari perkembangan ini adalah semakin banyak buku yang bersifat sebagai komentar, penjelasan dan ulasan terhadap buku yang ditulis sebelumnya dalam masing-masing mazhab. Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan islam pada masa klasik, kemajuan yang tidak ada tandingannya dikala itu. Pada masa ini, kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan, sehingga islam mencapai masa keemasan, kejayaan, dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan bani abbas periode pertama.

20

DAFTAR PUSTAKA

A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995. Abu Ameenah Bilal Philips, Asal Usul dan Perkembangan Fiqh, 2005: Bandung, Nusamedia Ahmad Hanafi, Pengantar Dan Sejarah Hokum Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 1970). Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:PT Raja Grafindo persada, 1995). Harun nasution, Islam Ditinjajau Dari Berbagai Aspeknya, jilid 2. Hudari bik, Terjemah Tarikh Al Tasyri Al Islam, (Semarang: Daarul Yahya, 1980). Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Joseph Schacht, Pengantar Hukum Islam, 1985. M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab Fiqih, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, Cet. I, 1997. Muh. Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah, Jakarta : PT Raya Grafindo Persada, 1996. Muhammad Ali, Sejarah Fiqh Islam, (Jakarta:Pustaka Al Kautsar, 2003). Zainal abidin, Sejarah Islam Dan Umatnya Sampai Sekarang, (Jakarta:Bulan Bintang, Cetakan Ketiga).

21