Anda di halaman 1dari 2

Menyoal tentang kuliah.... Tiap tahun biaya pendidikan tinggi di Indonesia semakin tinggi, baik negeri maupun swasta.

Tentu saja membuat pesimis untuk dapat menyekolahkan anak-anak kita ke perguruan tinggi. Tetapi tidak ada pilihan lain, harus berjuang keras untuk dapat memberangkatkan mereka untuk belajar di perguruan tinggi itu demi cita-cita mereka. Keteguhan hati para orangtua dibonapasogit untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik dengan biaya berapapun sudah terbukti, persis seperti teks lagu Anakhon hi do hamoraon di ahu, ciptaan Nahum Situmorang, yang menceritakan bahwa dengan harga berapapun para orangtua akan berjuang demi untuk dapat membayar uang sekolah yang tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa perguruan tinggi terbaik di Indonesia masih didominasi Pulau Jawa, saya tidak mengatakan bahwa universitas di luar pulau jawa semacam USU tidak bagus. Hanya saja kita masih meyakini dengan bisa lulus di perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa merupakan sebuah prestasi sekaligus membuka jalan untuk mengakses penghidupan yang lebih baik setelah lulus nantinya. Hal inilah yang mendorong para pelajar dari kampung halaman berjuang untuk dapat lolos dari berbagai macam bentuk ujian seleksi yang dibuat para perguruan tinggi negeri itu. Saya masih ingat persis bagaimana `ngototnya` belajar untuk dapat lulus UMPTN. Selama dua tahun masa SMA, digunakan untuk mempersiapkan ujian dua hari untuk mendapatkan sebuah kursi di PTN, tentu saja pilihan utama di perguruan tinggi negeri di pulau Jawa, dan pilihan berikutnya adalah USU atau universitas lain diluar Pulau Jawa. Hal ini disebabkan dua hal, pertama ada anggapan dengan lulus di PTN di Pulau jawa akan memantapkan jalan untuk dapat pekerjaan yang menjamin hidup masa depan, kedua adalah biaya uang kuliah di PTN sangat murah, sehingga tidak membebani orangtua. Saya, salah satu yang beruntung dapat lulus di PTN di Pulau Jawa, dan memang biaya kuliahnya tidak terlalu mahal. Masih saya ingat ketika mendaftar ulang di UI tahun 1995, hanya dengan Rp 875.000,-, itu sudah termasuk uang kuliah satu semester, uang jaket almamater, uang penataran, dll. Uang kualiah satu semester tidak saya ingat lagi berapa persisnya tetapi kalai tidak salah sekitar Rp. 475.000, per-semester, sebagai perbandingan uang kost saya di Kukusan Depok saat itu adalah Rp 75.000 perbulan. Nah, sekarang entah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendaftar ulang di PTN itu saya tidak tahu persis, saya hanya dengar beritanya saja, bahwa harus membawa uang puluhan juta rupiah, meski ada jaminan dari rektor untuk mensubsidi (beasiswa) bagi yang tidak mampu. Kembali menyoal menggapai pendidikan tinggi dari bonapasogit. Melihat biaya untuk kuliah di PTN Indonesia begitu tinggi, saya berfikir kalau toh biaya kuliah

di Indonesia hampir sama dengan biaya kuliah di Malasya, Philpina, atau di Thaliand lebih baiklah kita kuliahkan anak-anak itu dari bonapasogit langsung ke luar negeri. Saya perhatikan tiket biaya hidup di ketiga negara tersebut tidak jauh beda dengan biaya hidup di Pulau Jawa atau di jakarta khususnya, dan lebih dekat pula serta tiket pesawat lebih murah kok dari polonia ke negara itu daripada ke Jakarta (P.Jawa). Selain itu masih sangat banyak keuntungan yang diperoleh jika sekolah di berbagai negara tetangga tersebut, selain daripada masalah biaya yang hampir sama. Tentu saja dengan sekolah di negara lain akan membangkitkan semangat berlipat, menambah wawasan, membuka pola pikir serta bergaul dengan berbagai macam negara. Saya yakin kulaitas PTN di engar tetangga kita itu juga sudah sama dengan di Indonesia, bahkan mungkin sudah lebih bagus. Lulus dari perguruan tinggi di luar negeri akan mengangkat percaya diri , juga tidak canggung lagi bergaul di jaman yang katanya globalisasi ini. Dimana tidak ada lagi batasan berarti antar engara, dunia ini menjadi sebuah perkampungan kecil saja yang bisa kita akses kemana mana begitu mudahnya. Melalui akses ini tentu kita tidak lagi memusingkan mencari kerja bagi anak-anak itu menjadi PNS, atau buruh atau apapun di tanah air, dan mereka kerja diluar negeri bukan sebagai buruh kasar atau sekedar pembantu rumah tangga tetapi menjadi pekerja yang memang mampu bersaing secara global. Kalaupun menjadi pekerja kasar tetapi mereka sudah tidak bisa diperlakukan sesuka hati. Mungkin selain sisi akademis, kita bisa mengenjot anak-anak itu belajar Bahasa Inggris, hal itu adalah harga mati untuk dapat bergaul secara internasional, saya ingin sekali nanti dikampung kampung sana mereka berbahasa Inggris, dengan demikian mereka memiliki pasword untuk memasuki pergaulan internasional, selain itu saya sangat ingin mereka menguasai paling tidak satu alat musik. Entah mengapa dua hal itu sangat penting menurut saya untuk dapat memasuki jaman global ini. Nah tentu saja mereka harus bisa mencoret-coret seperti ini....akh saya ternyata lagi menghayal.......(paper paper berserakan ini mesti dituntaskan, hayo bekerja lagi). Josep F. Sihite Kyoto, 21 Maret 2012.