Anda di halaman 1dari 16

Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Pengobatan Karies Gigi

12 Juli 2012 by in Info, Info Kesehatan.

2 Votes Oleh : Drg. Martha Mozartha Definisi Karies gigi merupakan penyakit jaringan keras gigi yang paling sering ditemui. Penyakit ini ditandai dengan adanya kerusakan pada jaringan keras gigi itu sendiri (lubang pada gigi).

Penyebab Keberadaan bakteri dalam mulut merupakan suatu hal yang normal. Bakteri dapat mengubah semua makanan, terutama gula, menjadi asam. Bakteri, asam, sisa makanan, dan ludah akan membentuk lapisan lengket yang melekat pada permukaan gigi. Lapisan lengket inilah yang disebut plak. Plak akan terbentuk 20 menit setelah makan. Zat asam dalam plak akan menyebabkan jaringan keras gigi larut dan terjadilah karies. Bakteri yang paling berperan dalam menyebabkan karies adalah Streptococcus mutans. Gejala

Karies ditandai dengan adanya lubang pada jaringan keras gigi, dapat berwarna coklat atau hitam. Gigi berlubang biasanya tidak terasa sakit sampai lubang tersebut bertambah besar dan mengenai persyarafan dari gigi tersebut. Pada karies yang cukup dalam, biasanya keluhan yang sering dirasakan pasien adalah rasa ngilu bila gigi terkena rangsang panas, dingin, atau manis. Bila dibiarkan, karies akan bertambah besar dan dapat mencapai kamar pulpa, yaitu rongga dalam gigi yang berisi jaringan syaraf dan pembuluh darah. Bila sudah mencapai kamar pulpa, akan terjadi proses peradangan yang menyebabkan rasa sakit yang berdenyut. Lama kelamaan, infeksi bakteri dapat menyebabkan kematian jaringan dalam kamar pulpa dan infeksi dapat menjalar ke jaringan tulang penyangga gigi, sehingga dapat terjadi abses. Pemeriksaan Pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter gigi adalah pemeriksaan klinis, disertai dengan pemeriksaan radiografik bila dibutuhkan, tes sensitivitas pada gigi yang dicurigai sudah mengalami nekrosis, dan tes perkusi untuk melihat apakah infeksi sudah mencapai jaringan penyangga gigi. Pencegahan 1. Sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. 2. Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi. 3. Hindari makanan yang terlalu manis dan lengket, juga kurangi minum minuman yang manis seperti soda. 4. Lakukan kunjungan rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali. 5. Perhatikan diet pada ibu hamil dan pastikan kelengkapan asupan nutrisi, karena pembentukan benih gigi dimulai pada awal trimester kedua. 6. Penggunaan fluoride baik secara lokal maupun sistemik. Penatalaksanaan Biasanya perawatan yang diberikan adalah pembersihan jaringan gigi yang terkena karies dan penambalan (restorasi). Bahan tambal yang digunakan dapat bermacam-macam, misalnya resin komposit (penambalan dengan sinar dan bahannya sewarna gigi), glass ionomer cement, kompomer, atau amalgam (sudah mulai jarang digunakan). Pada lubang gigi yang besar dibutuhkan restorasi yang lebih kuat, biasanya digunakan inlay atau onlay, bahkan mungkin mahkota tiruan. Pada karies yang sudah mengenai jaringan pulpa, perlu dilakukan perawatan saluran syaraf. Bila kerusakan sudah terlalu luas dan gigi tidak dapat diperbaiki lagi, maka harus dilakukan pencabutan. Sumber: http://gigi.klikdokter.com/subpage.php?id=2&sub=30

KARIES GIGI KARIES GIGI Karies gigi (kavitasi) adalah daerah yang membusuk di dalam gigi yang terjadi akibat suatu proses yang secara bertahap melarutkan email (permukaan gigi sebelah luar yang keras) dan terus berkembang ke bagian dalam gigi. Jika tidak diobati oleh seorang dokter gigi, karies akan terus tumbuh dan pada akhirnya menyebabkan gigi tanggal. Tergantung kepada lokasinya, PEMBUSUKAN GIGI DI BEDAKAN MENJADI 1. Pembusukan permukaan yang licin/rata. Merupakan jenis pembusukan yang paling bisa dicegah dan diperbaiki, tumbuhnya paling lambat Sebuah karies dimulai sebagai bintik putih dimana bakteri melarutkan kalsium dari email.Pembusukan jenis ini biasanya mulai terjadi pada usia 20-30 tahun. 2. Pembusukan lubang dan lekukan Biasanya mulai timbul pada usia belasan, mengenai gigi tetap dan tumbuhnya cepat. Terbentuk pada gigi belakang, yaitu di dalam lekukan yang sempit pada permukaan gigi untuk mengunyah dan pada bagian gigi yang berhadapan dengan pipi. daerah ini sulit dibersihkan karena lekukannya lebih sempit daripada bulu-bulu pada sikat gigi 3. Pembusukan akar gigi. Berawal sebagai jaringan yang menyerupai tulang,yang membungkus permukaan akar (sementum) Biasanya terjadi pada usia pertengahan akhir. Pembusukan ini sering terjadi karena penderita mengalami kesulitan dalam membersihkan daerah akar gigi dan karena makanan yang kaya akan gula. Pembusukan akar merupakan jenis pembusukan yang paling sulit dicegah. 4. Pembusukan dalam email. Pembusukan terjadi di dalam lapisan gigi yang paling luar dan keras, tumbuh secara perlahan. Setelah menembus ke dalam lapisan kedua (dentin, lebih lunak), pembusukan akan menyebar lebih cepat dan masuk ke dalam pulpa (lapisan gigi paling dalam yang mengandung saraf dan pembuluh darah) Dibutuhkan waktu 2-3 tahun untuk menembus email, tetapi perjalanannya dari dentin ke pulpa hanya memerlukan waktu 1 tahun. karena itu pembusukan akar yang berasal dari dalam dentin bisa merusak berbagai struktur gigi dalam waktu yang singkat. FAKTOR PENYEBAB KARIES GIGI 1. Gigi dan air ludah Bentuk gigi yg tdk beraturan dan air ludah yg banyak lagi kental mempermudah terjadi karies 2. Ada bakteri penyebab karies Bakteri yg menyebabkan karies adl dari jenis Streptococcus dan Lactobacillus 3. Makanan yg kita dikonsumsi Makanan yg mudah lengket dan menempel di gigi seperti permen dan coklat memudahkan terjadi karies UNTUK MENCEGAH KERUSAKAN GIGI 1.Tidak banyak memakan makanan yang mengandung gula 2.Tidak memakan makanan yang mengandung gula 3.Menghindari benturan gigi dengan lidah 4.Menyikat gigi segera setelah makan 5.Memeriksa gigi setelah 6 bulan sekali 6.Memakan sayur sayuran 7.Memakan buah buahan 8.Menyikat gigi minimal 6 bulan sekali CARA MENYIKAT GIGI YANG BAIK DAN BENAR 1.Bersihkan permukaan dalam dan luar dari gigi bagian atas dengan gerakan memutar ke bawah 2.Bersihkan permukaan dalam dan luar dari gigi bagian bawah dengan gerakan memutar ke atas 3.Tekan dan putar sikat dengan lembut pada gusi untuk melakukan pemijatan pada gusi. TIPS MERAWAT GIGI SUSU PADA ANAK Gigi susu membutuhkan perawatan yang sama dengan gigi permanen. Mereka membutuhkan perhatian dari infeksi atau cedera langsung maupun tidak langsung. Pengobatan cepat dan tepat harus diberikan pada gigi susu yang

membusuk atau terluka karena jatuh atau trauma. 1. Segera setelah gigi susu pertama muncul, Anda harus mulai menyikat gigi anak Anda. Pada awalnya, Anda cukup menggunakan jari atau kapas untuk membersihkan gigi anak. Pada usia sekitar satu tahun, Anda dapat mulai menyikat gigi anak dan kemudian mengawasi dan membimbing anak untuk menyikat gigi. Bimbinglah anak untuk menyikat gigi sampai usia 3-4 tahun atau sampai anak mampu menyikat sendiri dengan baik. Kemudian, Anda cukup mengawasinya. 2. Pilihlah sikat gigi anak yang baik, yang memiliki bulu bulat dan lembut. Kepala sikat harus kecil agar dapat menjangkau semua sudut. Gagangnya harus cukup tebal namun cocok, nyaman dan aman di tangan anak. 3. Bilaslah sikat gigi dengan baik dan keringkan di udara setelah selesai pemakaian. Gantilah sikat gigi setiap tiga bulan sekali. 4. Gunakan pasta gigi khusus anak-anak dengan bahan yang tidak berbahaya bila tertelan. Carilah pasta gigi dengan kandungan flouride maksimum 600 ppm. Mulai usia sekolah, anak-anak dapat beralih ke pasta gigi orang dewasa, dengan kadar fluorida sebesar 0,1% atau 1.000 ppm (maksimum 1.500 ppm). Fluoride sangat penting untuk pembentukan gigi yang sehat. 5. Gunakan pasta gigi secukupnya saja, hanya sebesar kacang tanah sudah cukup. Jangan termakan pengaruh iklan yang menunjukkan penerapan pasta gigi sampai menutupi semua permukaan sikat gigi. Overdosis flouride pada saat pembentukan gigi dapat mengakibatkan masalah yang disebut fluorosis. Gigi anak menjadi berwarna coklat dengan bintik-bintik putih permanen. Anak-anak di bawah usia enam tahun rentan terhadap masalah ini. 6. Berikan contoh kebiasaan menyikat gigi yang baik pada anak. Sikatlah gigi Anda di pagi dan sore hari. Hal ini memotivasi anak-anak untuk meniru Anda. Sikatlah gigi dalam waktu yang cukup (sekitar tiga menit) sehingga seluruh permukaan gigi Anda betul-betul bersih. 7. Kunjungi dokter gigi secara rutin minimal sekali dalam 6 bulan. Perawatan gigi tidak hanya dilakukan terhadap kerusakan atau cedera, tetapi juga bila ada maloklusi gigi anak. Kunjungan berkala memungkinkan dokter gigi untuk mendeteksi dan mengoreksi masalah lebih awal. 8. Hentikan kebiasaan mengisap jempol. Mengisap jempol adalah normal sampai usia sekitar 3 4 tahun. Jika mengisap jempol terus berlanjut setelah usia ini, sebaiknya dilakukan upaya untuk menghentikannya karena dapat berakibat buruk pada gigi. (Cara tradisional untuk menghentikan kebiasaan ini adalah dengan penerapan sesuatu yang pahit (misalnya brotowali) di jempol anak).

http://www.nwu.ac.id/blog-kampus/709-karies-gigi-pada-anak

KARIES GIGI

1. Anatomi Gigi Anatomi dasar gigi terdiri atas mahkota dan akar. Bagian mahkota terlihat di dalam mulut, sedangkan bagian akar terbenam di dalam tulang rahang dan gusi. Bagian terluar dari mahkota gigi adalah enamel, suatu bagian yang sangat keras. Lapisan di bawah enamel adalah dentin, dan bagian terdalam adalah pulpa, suatu jaringan lunak yang berisi pembuluh darah dan pembuluh saraf.1

Gambar 1. Anatomi gigi1 2. Definisi Karies gigi merupakan kerusakan jaringan keras gigi yang disebabkan oleh asam yang ada dalam karbohidrat melalui perantaraan mikroorganisme yang terdapat dalam saliva.2 3. Etiologi Komponen yang menyebabkan karies gigi: a. Komponen dari gigi dan saliva, meliputi: komposisi gigi, morfologi gigi, posisi gigi, PH saliva, kuantitas saliva, kekentalan saliva.1,2,3 b. Komponen mikroorganisme yang terdapat dalam mulut: Streptococcus sp, Lactobacillus sp, Staphylococcus sp.1,2,3 c. Komponen makanan, terutama yang mengandung karbohidrat, misalnya sukrosa dan glukosa yang dapat diragikan oleh bakteri dan membentuk asam.1,2,3 d. Komponen waktu. Kemampuan saliva untuk memineralisasi selama proses karies,

menandakan bahwa proses tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti, sehingga bila saliva berada di dalam linkungan gigi, maka karies tidak akan menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun.4 4. Patofisiologi Terdapat teori mengenai terjadinya karies, yaitu teori asidogenik (teori kemoparasiter Miller), teori proteolitik, dan teori proteolisis kelasi.4 a. Teori Asidogenik Miller (1882) menyatakan bahwa kerusakan gigi adalah proses kemoparasiter yang terdiri atas dua tahap, yaitu dekalsifikasi email sehingga terjadi kerusakan total email dan dekalsifikasi dentin pada tahap awal diikuti oleh pelarutan residunya yang telah melunak. Asam yang dihasilkan oleh bakteri asidogenik dalam proses fermentasi karbohidrat dapat mendekalsifikasi dentin, menurut teori ini, karbohidrat, mikroorganisme, asam, dan plak gigi berperan dalam proses pembentukan karies. b. Teori Proteolitik Gottlieb (1944) mempostulasikan bahwa karies merupakan suatu proses proteolisis bahan organik dalam jaringan keras gigi dan produk bakteri. Mikroorganisme menginvasi jalan organik seperti lamela email dan sarung batang email, serta merusak bagian-bagian organik ini. Proteolisis juga disertai pembentukan asam. c. Teori Proteolisis Kelasi Teori ini diformulasikan oleh Schatz (1955). Kelasi adalah suatu pembentukan kompleks logam melalui ikatan kovalen koordinat yang menghasilkan suatu kelat. Teori ini menyatakan bahwa serangan bakteri pada email dimulai oleh mikroorganisme yang keratinolitik dan terdiri atas perusakan protein serta komponen organik email lainnya, terutama keratin. Ini menyebabkan pembentukan zat-zat yang dapat membentuk kelat dan larut dengan komponen mineral gigi sehingga terjadi dekalsifikasi email pada PH netral atau basa. 5. Klasifikasi Berdasarkan kedalamannya karies gigi dibagi atas 1,3: a. Karies superfisialis yaitu karies yang hanya mengenai email Gambar 2. Karies superfisialis3 b. Karies media yaitu karies yang mengenai email dan telah mencapai dentin Gambar 3. Karies media3 c. Karies profunda yaitu karies yang telah mendekati atau telah mencapai pulpa Gambar 4. Karies profunda3 6. Diagnosis dan Penatalaksanaan Diagnosis dan penatalaksanaan dari karies gigi dapat dilihat pada tabel dibawah ini 2: No. Anamnesis Pemeriksaan Objektif Kedalaman 1. Terdapat bintik Ekstra Oral: tidak ada Karies putih pada gigi kelainan Intra O ral: terdapat lesi putih, tidak ada kavitas superfisialis Terapi Pembersihan gigi, diulas dengan flour, edukasi cara menyikat

gigi 2. Gigi terasa ngilu Ekstra Oral: tidak ada Karies kelainan Intra Oral: Karies telah mengenai dentin 3. Gigi terasa nyeri Lihat Pulpitis Karies Profunda
http://dannysatriyo.blogspot.com/2013/01/karies-gigi.html

yang

benar Penambalan

Media

http://books.google.co.id/books? id=l5lwlrHtnU4C&pg=PA13&lpg=PA13&dq=karies+gigi&source=bl&ots=MF80W 9a4tg&sig=LNIg1LuVHgP7dpxkG62_k00Imq8&hl=en&sa=X&ei=Lh39UNb0EsXpr Qflh4CoCQ&redir_esc=y#v=onepage&q=karies%20gigi&f=false

Prevalensi karies gigi di Indonesia Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 dalam depkes (2000) menunjukkan bahwa 65,7% penduduk Indonesia menderita karies gigi aktif atau kerusakan pada gigi yang belum di tangani. SKRT 1997 menunjukkan 63% penduduk Indonesia menderita karies gigi aktif atau belum ditangani. Rerata pengalaman karies perorangan, yang diukur dengan index DMF-T untuk Indonesia adalah 6,44 di mana 4,4 gigi sudah dicabut, 2gigi belum ditangani dan hanya 0,16 gigi yang telah ditumpat atau ditambal. Data SUSENAS, 1998 menyatakan bahwa 87% masyarakat yang mengeluh sakit gigi tidak berobat, sedangkan yang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan hanya 12,3 %. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2007 didapatkan peningkatan jumlah kerusakan gigi seiring dengan bertambahnya usia yaitu pada kelompok usia 35-44 tahun DMF-T rata-rata 4,46 sedangkan kelompok usia >65 tahun sebesar 18,33. Keadaan tersebut dapat disebabkan karena kebersihan mulut yang buruk. Hal ini dapat dilihat dari penduduk kelompok usia 55-64 tahun yang menyikat gigi dengan benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam) 5,4 % sedangkan kelompok usia >65tahun hanya 3,5%. Hasil analisis lanjut Riskedas 2007, diketahui bahwa responden yang mempunyai kebiasaan sering makan manis cenderung untuk mendapat karies di atas rerata (>2) adalah sebesar 1,16 kali disbanding dengan responden yang tidak mempunyai kebiasaan makan manis. Zr. Be Kien Nio (1984) menyatakan bahwa kebiasaan makan manis dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari, maka kemungkinan terjadinya karies jauh lebih besar. Sebaliknya, bila frekuensi makan gula dikurangi 3 kali, maka email mendapat kesempatan untuk mengadakan remineralisasi. Peningkatan prevalensi karies gigi banyak dipengaruhi perubahan dari pola makan. Kesimpulan yang diperoleh dari analisis lanjur Riskesdas 2007 adalah karakteristik seseorang (umur, pendidikan, tempat tinggal, serta social ekonomi) memengaruhi terjadinya karies. (hubungan pola makan dan kebiasaan menyikat gigi dengan kesehatan gigi dan mulut (karies) di Indonesia. Berdasarkan teori Blum, status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu keturunan, lingkungan (fisik maupun social budaya), perilaku, dan pelayanan kesehatan.

Dari keempat faktor tersebut, perilaku memegang peranan yang penting dalam mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut. Di samping mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut secara langsung, perilaku juga dapat mempengaruhi faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Perilaku menurut Lewin merupakan fungsi hubungan antara individu dan lingkungannya. Menurut Kidd dan Bechal, dalam Roelan dan Sadono, (1997) menyatakan masyarakat yang banyak mengonsumsi makanan yang berserat cenderung mengurangi terjadinya karies daripada masyarakat yang mengonsumsi makanan lunak dan banyak mengandung gula. Sehubungan dengan pendapat di atas, maka frekuensi membersihkan gigi dan mulut sebagai bentuk perilaku akan mempengaruhi baik atau buruknya kebersihan gigi dan mulut, di mana akan mempengaruhi juga angka karies dan penyakit penyangga gigi. Namun jarang sekali dilakukan penelitian mengenai hubungan perilaku dengan tingkat kebersihan gigi dan mulut. Usaha pemerintah untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia sangat membutuhkan peranserta masyarakat sendiri terutama perubahan perilaku, melalui program penyuluhan dan pelatihan sikat gigi missal merupakan suatu program yang dilakukan oleh pemerintah melalui puskesmas setiap tahun. Berdasarkan penelitian Hawskins, pendidikan kesehatan yang diberikan beserta dengan pelatihan akan memberikan hasil yang optimal. Karies gigi juga disebabkan karena perilaku waktu menyikat gigi yang salah karena dilakukan pada saat mandi pagi dan mandi sore dan bukan sesudah makan pagi dan menjelang tidur malam. Padahal menyikat gigi menjelang tidur sangat efektif untuk mengurangi karies gigi. Perilaku menggosok gigi berpengaruh terhadap terjadinya karies. Hal ini berhubungan juga dengan proses terjadinya karies, yaitu sisa makanan yang lama tertinggal dalam mulut dan tidak segera dibersihkan akan menyebabkan terjadinya karies. Masih tingginya angka karies gigi bisa berhubungan dengan pola kebiasaan makan yang salah dan beberapa perilaku seperti masyarakat lebih meenyukai makanan manis, kurang berserat dan mudah lengket. Adnya persepsi masyarakat bahwa penyakit gigi tidak menyebabkan kematian sehingga masyarakat kurang kepeduliannya untuk menjaga kebersihan mulut dan mendudukkan masalah pada tingkat kebutuhan sekunder yang terakhir. Padahal gigi merupakan fokus infeksi terjadinya penyakit sistemik, antara lain penyakit ginjal dan jantung. Menurut SUSENAS 1998, keluhan sakit gigi menduduki urutan keenam dari penyakitpenyakit yang dikeluhkan masyarakat. Adyatmaka (1992) mengemukakan bahwa dengan semakin baiknya tingkat social ekonomi serta pendidikan masyarakat, serta masih tingginya penyakit gigi dan mulut, maka tuntutan terhadap pelayanan kesehatan dasar yang disediakan oleh Puskesmas adalah pelayanan kesehatan gigi dasar. Penelitian Walker dan Nizel dalam Kiswaluyo (1997) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa status gizi yang jelek akan menimbulkan pengaruh pada tulang dan gigi, yaitu berupa pengaruh pada bentuk dan komposisinya. Keadaan ini dapat menyebabkan gigi mudah karies. Epidemiologi karies permukaan akar gigi di Indonesia

Menurut Burt dkk (1994) karies gigi merupakan masalah yang signifikan bagi lansia antara lain: karies akar yang menyerang lebih dari 63% penderita pada usia 65-69 thun dan menyerang lebih dari 70% penderita dengan usia 75-79 tahun. Penelitian DepKes RI tahun 1999, yang didapatkan sebanyak 69,3% menderita karies gigi. Pada penelitian yang dilakukan di wilayah DKI Jakarta pada 30 lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bina Mulya 05 Jelambar Jakart Barat, didapatkan hasil pada kelompok usia 55-64 tahun sebanyak 40 % dan kelompok usia > 70 tahun sebesar 23,3% salah satunya disebabkan karena kebiasaan mengonsumsi makan dan minum manis, terlihat sebagian besar responden yaitu kelompok usia 55-64 tahun sebanyak 23% dan kelompok usia > 70 tahun sebayak 6,7% senang mengonsumsi makanan cokelat, permen dan makanan manis lainnya, serta 50% dari responden sering minum the manis, sirup, dan susu. Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/dentistry-oral-medicine/2321761prevalensi-karies-gigi-di-indonesia/#ixzz2Ibj3zAAB

Karies gigi adalah kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi, hingga menjalar kedentin (tulang gigi) struktur email sangat menentukan proses terjadinya karies (Soebroto, 2009). Karies gigi adalah suatu proses kronis, regresif yang dimulai dengan larutan email, sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobal dari substrat (medium makanan bagi bakteri) yang dilanjutkan dengan timbulnya distruksi komponen-komponen organik yang akhirnya terjadi kavitasi (pembentukan lubang) (Schuurs, Moorer, Anderson, Velzen, & Visser, 1992). Karies gigi disebabkan oleh bakteri streptococcus mutans dan lactobacili bakteri spesifik inilah yang mengubah glukosa dan karbohidrat pada makanan menjadi asam melalui proses fermentasi (Pratiwi, 2009). Proses Terjadinya Karies Gigi Proses terjadinya karies gigi menurut Srigupta (2004) adalah sebagai berikut: 1. Berbagai bakteri yang ada dalam mulut membentuk asam, dari gula yang terkandung dalam makanan, yang melekat pada permukaan gigi (plak) 2. Asam ini dilarutkan email pelapis gigi berwarna putih, yang menghancurkan susunan gigi. Proses ini dikenal dengan karies gigi dan menyebabkan gigi berlubang 3. Lebih jauh lagi asam tersebut menyebabkan penetrasi karies dari email ke gigi bagian dalam dibawah gigi kepala. Letak Karies Gigi

Ada empat daerah yang sering terkena karies gigi yaitu: 1. Permukaan email berfisur Fisur sering menjadi karies dalam beberapa waktu setelah erupsi. Fisur merupakan saran plak yang baik dan akan susah membuang plak itu dari tempat ini (Pitford, 1993). 2. Permukaan email halus Terjadi pada permukaan yang telah dilekati plak yang luas beberapa waktu lamanya. 3. Permukaan akar Banyak terjadi pada orang tua yang ginggilovanya telah mengalami resesi dan dapat terjadi pada akar gigi yang emailnya tidak terkena karies. 4. Sekitar tumpatan Kecepatan Proses Karies Gigi Akumulasi plak pada permukaan gigi utuh dalam dua sampai tiga minggu menyebabkan terjadinya bercak putih. Waktu terjadinya bercak putih menjadi kavitasi tergantung pada umur, pada anak-anak satu setengah tahun, dengan kisaran 6 bulan ke atas dan ke bawah. Pada anak-anak, kemunduran berjalan lebih cepat dibanding orang tua, hal ini menurut Schuurs et.al. (1992) disebabkan: 1. Email gigi yang baru erupsi lebih mudah diserang selama belum selesai marturasi setelah erupsi yang berlangsung terutama satu tahun setelah erupsi. 2. Remineralisasi yang tidak memadai bagi anak bukan karena perubahan fisiologis tetapi sebagai akibat pola makanannya. 3. Lebar tumbuh pada anakanak mungkin menyokong terjadinya sklerotisasi yang tidak memadai 4. Diet yang buruk Tipe Karies Gigi pada Anak Ada dua tipe karies yang sering dijumpai pada anak-anak menurut Sigar (2001), yaitu:

1. Nursing bottle caries --- Terjadi pada anak yang kebiasaan menghisap dot botol berisi susu atau cairan manis lainnya, terutama pada saat ia berbaring hinggs tertidur. 2. Rampat karies --- Karies ini muncul tiba-tiba, menyebar dan berkembang dengan cepat melubangi gigi hingga ruang saraf terbuka. Bentuk-bentuk Karies Gigi Menurut Tarigan (1992) bentuk-bentuk karies gigi dibagi menjadi: Berdasarkan cara meluasnya karies gigi 1. Penetrierende karies gigi --- Karies gigi yg keluar dari email ke dentin dalam bentuk kerucut. 2. Untermirende karies --- Karies yang meluas dari email ke dentin dengan jalan meluas ke arah samping. Berdasarkan stadium karies 1. Karies Superfikilies --- Karies baru enamel saja,sedang dentin belum terkena. 2. Karies Mediti Karies --- sudah mengenai dentin,tapi belum melebihi setengah dentin. 3. Karies Profunda --- Karies sudah mengenai lebih dari setengah dentin dan kadang sudah nengenai pulpa. Karies Profunda dibagi atas 3 stadium: 1. Karies Profunda stadium I --- karies telah melewati setengah dentin,biasanya radang pulpa belum dijumpai. 2. Karies Profunda stadium II --- masih dijumpai lapisan tipis yang membatasi karies dengan pulpa. 3. Karies Profunda stadium III --- pulpa telah dibuka, dijumpai bermacammacam radang pulpa. Penegakkan Diagnosis Karies Gigi

Karies dapat diidentifikasi sebagai bercak putih dan coklat serta kavitas pada permukaan bukal dan lingual dapat dilihat jelas denga mata telanjang atau lewat kaca mulut (Schuurs et.al., 1992). Menurut Pitford (1993) diagnosa karies gigi dapat ditegakkan dengan dua cara: Pemeriksaan Subyektif yaitu dengan melakukan anomnesa pada pasien. Pemeriksaan Obyektif yaitu dengan cara klinik,yaitu terbagi atas: 1. Pemeriksaan Visual Langsung Setelah gigi dibersihkan dan dikeringkan dari plak,dapat dilihat tanda karies antara lain: (a) bercak putih diemail, (b) hilangnya kontur permukaan gigi, (c) dentin karies biasanya berwarna kuning atau coklat 2. Transluminasi Jika gigi disinari, lesi karies akan terlihat sebagai bayangan hitam. 3. Penggunaan Sonde Sonde dapat digunakan untuk menelusuri permukaan gigi dan mendeteksi pit dan flour yang melunak karena karies. 4. Pemakaian Benang Gigi Benang gigi dapat dilewatkan diantara permukaan Proksimal dan jika benang gigi menjadi rusak ini menandakan adanya tepi email yang kasar dari suatu kavitas karies. 5. Radiografi Sinar X akan diserap oleh jaringan keras, sehingga jika sinar X diarahkan ke gigi akan terbentuk suatu gambaran pada film yang ditempatkan di belakangnya. Faktor-faktor Pencegah Karies Gigi 1. Usahakan anak mendapat cukup makanan bergizi 2. Lakukan tindakan pembersihan gigi anak sedini mungkin, paling sedikit dua kali sehari, pagi setelah makan, malam sebelum tidur 3. Jangan membiasakan anak minum susu ataupun cairan manis lainnya menjelang tidur (Sigar, 2001).

4. Tinkatkan daya tahan gigi anak dengan flour karena sebagai salah satu komponen yang dapat memperkuat email gigi (Maulani, 2005). 5. Biasakan memberikan air putih atau berkumus jika sesudah minum atau memakan manis 6. Bawalah anak anda kedokter gigi untuk mendapatkan perawatan dini terhadap karies. 7. Lanjutkan konterol yang teratur kedokter gigi setiap 3-6 bulan sekali (Karel, 2005).
http://www.psychologymania.com/2012/08/karies-gigi.html