Anda di halaman 1dari 31

Analisis Keputusan IPO PT Garuda Indonesia Tbk.

Tugas Makalah Perilaku Organisasi

Oleh: Aditya Saputra 1110081000062 Dwi Cahya Putra 1110081000136 Fauzan Hakim 1110081000059 Lian Firmana Malo 1110081000030 Muhammad Arifuddin 1110081000075 Wahyuddin Akhmad 1110081000065

KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul Analisis keputusan IPO Garuda Indonesia menurut studi analisis datadata dan sumber pustaka yang berkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai baik atau tidaknya keputusan PT Garuda Indonesia dalam melakukan IPO yang nantinya hasil dari analisis kami dapat bermanfaat bagi BUMN yang lainnya dan juga bagi perusahaan swasta dalam melakukan IPO. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan khususnya kepada dosen mata kuliah kami, Pak Bahrul Yaman S.sos, M.Si yang telah membimbing kami dalam mendalami ilmu mata kuliah yang bersangkutan dan juga memberi kami pencerahan pencerahan yang bermakna dalam penulisan makalah kami ini. Semoga apa yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat bermanfaat di kemudian harinya dalam pengambilan keputusan bagi kami khususnya dan bagi perusahaan-perusahaan lain pada umumnya.

Ciputat, November 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah I.2 Rumusan Masalah I.3 Metodologi Penulisan I.4 Maksud dan Tujuan Penulisan I.5 Sistematika Penulisan

i ii 1 2 2 2 2 2 3 3 7 8

BAB II : LANDASAN TEORI II.1 Definisi Initial Public Offering (IPO) II.2 Tahapan IPO II.3 Cara Menentukan Saham pada saat IPO II.4 Pengalaman IPO beberapa Perusahaan

BAB III : FAKTA DAN DATA OBSERVASI III.1 Profil Perusahaan Garuda Indonesia III.2 Sumber Dari Kompas III.3 Ringkasan IPO PT Garuda Indonesia Tbk. Dari Dinasakti Securities

10 10 12 17 19 19 21 22

BAB IV : STUDI ANALISA IV.1 Analisa Kasus

BAB V : KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal Indonesia saat ini sedang berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Teknologi yang semakin pesat ini ditandai dengan mulai dipakainya system online di bursa saham. Hal ini mengakibatkan bursa saham dapat lebih luas dalam menjaring investor baik investor lokal maupun dalam negeri. Perkembangan ini memicu banyaknya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk go public. Salah satunya contohnya adalah PT. Krakatau Steel yang melakukan penawaran saham perdana. Pada saat itu PT. Krakatau Steel berhasil melakukan penawaran saham perdananya November 2010 lalu, dengan harga jual saham perlembar pada saat itu sebesar Rp 850. Harga saham PT. Krakatau Steel yang relatif murah, kinerja perusahaan yang cukup baik, dan adanya peningkatan minat masyarakat terhadap saham di industri pertambangan membuat PT Krakatau Steel menuai keberhasilan penawaran perdananya. Keberhasilan penawaran saham perdana PT. Krakatau Steel mendorong perusahaan BUMN lain, yaitu Garuda Indonesia untuk melakukan saham perdananya. Pada awalnya, Garuda Indonesa telah memiliki rencana untuk go public, namun rencana itu tertunda karena berbagai kendala. Tetapi kendala tersebut tidak mengurungkan niat Garuda Indonesia untuk melakukan penawaran saham perdana, terutama setelah melihat keberhasilan dari PT. Krakatau Steel. Setelah banyaknya isu dan kontroversi dalam penerbitan saham perdananya, akhirnya pada tanggal 11 Februari 2011 PT Garuda Indonesia menerbitkan saham perdananya dengan harga jual saham per lembar yang ditetapkan oleh Kementrian Badan Usaha Milik Negara (Kementrian BUMN) sebesar Rp750. Proses penawaran saham ini dipegang oleh 3 underwriter yaitu dari PT. Mandiri Sekuritas, PT. Bahana Sekuritas, dan PT. Dara Reksa yang merupakan perusahaan yang memiliki kredibilitas tinggi dan kepercayaan dari masyarakat. Harga saham perdana PT Garuda Indonesia ini
iii

mengambil harga terendah dari yang ditawarkan yaitu Rp 750- Rp 1.100. Para pengamat dan masyarakat menganggap bahwa harga jual saham perdana PT Garuda Indonesia ini mahal. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan menganalisis dan menilai keputusan PT. Garuda Indonesia dalam menerbitkan penawaran saham perdananya. I.2 Rumusan Masalah 1. Apa saja dasar pengambilan keputusan IPO PT Garuda Indonesia? 2. Apakah keputusan-keputusan PT Garuda dalam menjalani IPO merupakan keputusan yang tepat? 3. Bagaimana PT Garuda Indonesia menyikapi kontroversial seputar keputusannya untuk melaksanakan IPO? I.3 Metodologi Penulisan Dalam penulisan makalah, kami menggunakan studi kasus pustaka yang di mana kami melakukan analisis berdasarkan data-data pustaka yang tersedia, dan hasilnya bisa menjawab rumusan-rumusan masalah yang ada. I.4 Maksud dan Tujuan Penulisan 1. Mengetahui dadar-dasar dan tujuan PT Garuda Indonesia dalam melakukan IPO 2. Mengetahui apakah keputusan yang diambil PT Garuda Indonesia merupakan keputusan yang tepat atau tidak 3. Mengetahui bagaimana PT Garuda Indonesia menanggapi kontroversial yang terjadi pasca IPO perusahaan tersebut I.5 Sistematika Penulisan Penulisan makalah ini berdasarkan sistematika penulisan sebagai berikut: 1. BAB I Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, metodologi penulisan, maksud dan tujuan penulisan, dan sistematika penulisan 2. BAB II Landasan Teori, yang memuat kerangka teori yang dikaitkan dengan tema pembahasan 3. BAB III Fakta dan Data Observasi, memuat fakta-fakta dan data terkait tema pembahasan
iv

4. BAB IV Studi Analisa, memuat analisa-analisa penulis berdasarkan fakta-fakta dan teori yang telah dituis sebelumnya 5. BAB V Kesimpulan, memuat kesimpulan penulis dari Studi analisa yang dilakukan

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Definisi Initial Public Offering (IPO) Foester (2001) dalam salah satu catatannya, IPOs:The Short and Long of What We Know, menjelaskan bahwa IPO adalah salah satu event dalam pergerakan umur perusahaan, di mana secara alamiah sebuah perusahaan akan berubah menjadi perusahaan publik dari perusahaan private. IPO memberikan perusahaam beberapa keuntungan misalnya tambahan capital untuk pertumbuhan perusahaan. Dalam http://en.wikipedia.org/wiki/IPO istilah Initial Public Offering (IPO), juga sering disebut public offering adalah terminologi dalam dunia bisnis yang digunakan ketika sebuah perusahaan mengeluarkan beberapa lembar saham kepada publik untuk yang pertama kalinya. Kegiatan IPO bisa dilakukan oleh perusahaan kecil, perusahaan yang baru muncul dan membutuhkan capital, bahkan sekalipun. Menurut Geddes (2003, p. 1) ada tiga pihak utama yang berkepentingan terhadap proses IPO, yaitu vendor, perusahaan dan investor. Perusahaan Dengan IPO perusahaan akan memperoleh manfaat sebagai berikut : Memaksimalkan nilai perusahaan Membangun kepemilikan yang lebih stabil dan lebih meluas Membangun image perusahaan
vi

dilakukan

oleh

perusahaan privately-owned companies yang besar

Mempunyai fasilitas untuk bisa mendapatkan dana di masa yang akan datang. Menjamin bahwa ada likuiditas yang lebih baik di secondary merket trading

Brigham and Ehrhardt (2006 pg. 651) menjelaskan beberapa keuntungan dan kerugian perusahaan yang melaukan IPO Keuntungan IPO adalah : 1. Meningkatkan likuiditas perusahaan dan mempermudah pemilik merealisasikan keuntungannya. Perusahaan yang masih private adalah tidak liquid, di mana apabila salah satu pemilik ingin menjual sahamnya sangat sulit menemukan calon pembelinya yang siap untuk melakukan transaksi dan tidak ada harga pasti yang wajar sesuai dengan pasar. 2. Mempermudah pemilik mendiversifikasi. Dengan menjual stock ke publik maka pada prinsipnya founder dapat membagi tanggungan resiko yang ada pada dirinya kepada para pemegang saham yang lain. 3. Mempunyai kesempatan untuk mendapatkan dana lebih besar jika dibutuhkan. Dengan IPO maka perusahaan wajib mentaati seluruh aturan yang disyaratkan oleh regulator (Bapepam), sehingga seluruh informasi penting yang ada harus diungkapkan secara benar kepada publik. Hal ini akan membuat publik tertarik untuk meng-invest dananya di perusahaan, sehingga sangat mudah bagi perusahaan untuk mendapatkan dana apabila dibutuhkan. 4. Mempunyai kesempatan untuk melakukan merger. Dengan adanya stock yang tersedia di bursa maka terbuka kesempatan untuk melakukan merger atau akuisisi terhadap perusahaan lain dengan
vii

cara pembayaran menggunakan saham yang beredar.

viii

5. Meningkatkan potensial market. Banyak perusahaan mersakan bahwa mereka lebih mudah untuk menjual produk dan jasa apabila sudah melakukan IPO. Hal ini dikarenakan nama

perusahaan menjadi lebih terkenal. Sementara itu beberapa kerugian IPO adalah : 1. Biaya untuk penerbitan laporan. Sebagaimana diketahui bahwa dengan proses IPO maka perusahaan harus mematuhi aturan yang dibuat oleh regulator (Bapepam). Termasuk kewajiban menyampaikan laporan secara kuartal dan tahunan serta beberapa formulir yang wajib diisi. Hal ini tentunya meningkatkan cost of reporting, terutama untuk perusahaan yang relatif kecil. 2. Disclosure Management sebuah perusahaan pada dasarnya sangat tidak suka apabila data- data operasional perusahaan dilihat / diketahui oleh para kompetitornya. Juga keterbukaan berapa saham yang dipegang oleh direksi, mayoritas pemegang saham, salary executive. Namun dengan IPO semua data-data tersebut harus disajikan secara publik. 3. Inactive market / low price Perusahaan-perusahaan yang relatif tidak besar biasanya akan mengalami resiko perdagangan di bursa yang tidak atraktif, sehingga stock tidak begitu liquid sehingga besar kemungkinan harga sebuah saham tidak menunjukkan nilai dari saham tersebut.

4. Investor Relation Untuk menjaga kesinambungan dengan para investor maka perusahaan harus benar-benar me-maintain keberadaaannya. Sehingga kegiatan-kegiatan harus dilakukan dalam rangkan menjaga kesinambungan dengan investor. Menurut Tom Taulli (2004) setidaknya ada 5 hal yang ingin dituju sebuah

perusahaan yang ingin melakukan IPO, yaitu : 1. Prestige Perusahaan yang melakukan go public pasti akan menunjukkan sebuah perusahaan yang lebih bonafid daripada perusahaan private. Perusahaan ini dalam perkembangannya di pasar saham akan selalu menjadi perhatian para investor yang ingin melihat perkembangan harga saham atas perusahaan tersebut. Dengan IPO juga otomatis menunjukkan adanya stabilitas perusahaan yang lebih baik daripada perusahaan yang belum IPO. 2. Getting Rich Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan dana adalah melalui IPO. Dengan IPO yang dibarengi dengan pelepasan saham di pasar, maka investor akan berbondong-bondong untuk membeli saham ini. IPO biasanya menawarkan harga yang murah dan diharapkan dapat mengalami perkembangan harga yang siginifikan di hari-hari yang akan datang. Sebagai contoh pada tahun 1994, C. Klaus menemukan Internet Services System (ISS) dari tempat riset di rumahnya. Dia adalah student di Georgia Institute of Technology. Dia mendirikan perusahaan sambil kuliah, kemudian dia membuat software yang disebut Internet
10

Scanner di mana software ini digunakan untuk mem-protect network. Klien pertama perusahaan Italia hanya membyar US$ 1,000 atas software tersebut. Kemudian dengan perkembangan perusahaannya pada tahun 1998 perusahaan C. Klaus melakukan IPO, di mana Klaus memiliki 26.1 % of stock, di mana dari hasil IPO pada umur 24 tahun dia mempunyai kekeyaan US$ 160 million. Sebuah hasil yang sangat fantastis. Hal ini juga akan dialami oleh perusahaan yang melakukan IPO, di mana pada umumnya perusahaan akan menjadi lebih kaya. 3. Cash Infusion Pada umumnya IPO akan menaikkan cash perusahaan secara signifikan. Uang tersebut bukan untuk dikembalikan namun dapat digunakan oleh perusahaan untuk membangun fasilitas baru, membeli peralatan yang baru, untuk melakukan research and development, melakukan expansi bisnis dan lainnya. Artinya dengan IPO banyak kesempatan yang dapat dilakukan oleh perusahaan. 4. Liquidity Secara langsung dengan adanya IPO maka jumlah uang masuk ke perusahaan juga semakin bertambah besar, hal ini juga menaikkan kemampuan likuiditas perusahaan. Atas efek IPO biasanya bank-bank lebih confident untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan yang sudah melakukan IPO, dan beberapa bank juga berani memberikan perpanjangan waktu kredit dalam term tertentu. Hal ini dikarenakan saham yang merupakan hasil IPO bisa menjadi semacam jaminan dalam kerjasama dengan Bank tersebut. Di Indonesia apabila perusahaan sudah melakukan IPO, maka perusahaan tersebut lebih mempunyai nilai dimata para banker, karena likuiditasnya lebih baik daripada sebelum IPO.
11

5. Stock as currency Salah satu keuntungan lain daripada IPO adalah perusahaan dapat menggunakan saham sebagai currency untuk membeli / akuisisi perusahaan lain baik yang sejenis maupun berbeda. Hal ini sangat sulit apabila masih sebagai perusahaan private, yang mana umumnya mengalami kesulitan dalam hal likuiditas. Dan biasanya perusahaan yang akan dibeli sahamnya sebagian juga lebih confident apabila sahamnya dibeli oleh perusahaan yang sudah go public. 2.2. Tahapan IPO Menurut Fakhruddin (2008) proses IPO dari masa persiapan hingga listing di Bursa Efek dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) tahap : 1. Tahap Persiapan Tahapan ini merupakan tahapan awal dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses Penawaran Umum. Pada tahapan ini biasana perusahaan mengadakan RUPS. Setelah mendapat persetujuan

selanjutnya melakukan penunjukkan penjamin emisi, lembaga dan profesi penunjang pasar modal seperti akuntan, notaris dll. 2. Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran Pada tahap ini, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung (laporan keuangan yang telah diaudit, pendapat dari konsultan hukum dan lainnnya) menyampaikan pendaftaran kepada BKPM hingga Bapepam menyatakan Pernyataan Pendaftaran menjadi Efektif. Ini merupakan tiket untuk melakukan Penawaran Umum di Pasar Perdana. 3. Penawaran Umum (Pasar Perdana)
12

Tahapan ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah emiten menawarkan saham kepada masyarakat investor. Investor dapat membeli saham tersebut melalui agen yang ditunjuk. Masa Penawaran Umum sekurangkurangnya tiga hari kerja (masyarakat mengisis formulir pemesanan). 4. Pencatatan saham di Bursa Efek Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya saham tersebut dicatatkan di Bursa Efek Indonesia. Setelah listing di Bursa Efek dan saham diperdagangkan maka selanjutnya emiten akan menjalani kegiatan pelaporan atau keterbukaan informasi. Keterbukaan informasi oleh emiten menjadi sumber informasi bagi investor untuk mengambil keputusan berinvestasi baik jual, beli atau menahan saham yang dipegangnya. 2.3 Cara menentukan nilai saham pada saat IPO Dalam menentukan harga saham banyak hal yang dipertimbangkan, apalagi pada saat IPO. Banyak kompromi yang harus dilakukan sehingga harga yang ditawarkan ke pasar benar-benar telah mencerminkan kondisi yang optimal bagi perusahaan. Salah satu metode yang umum dipakai dalam menentukan harga saham adalah P/E ratio. harga yang dibayar untuk sebuah saham di pasar dibandingkan dengan income atau profit yang dihasilkan dengan per lembar sahamnya. Dengan kata lain P/E ratio adalah perbandingan antara harga pasar saham per lembar dibagi dengan earning per lembar sahamnya. Dalam pasar modal semakin tinggi nilai P/E maka perusahaan tersebut semakin baik dan otomotis juga risikonya tinggi, sedangkan yang P/E rendah menunjukkan hal yang sebaliknya.
13

2.4 Pengalaman IPO beberapa perusahaan Berikut kami sampaikan contoh beberapa perusahaan yang telah melakukan IPO dan menggunakan dana IPO untuk berbagai tujuan. Google Perusahaan ini didirikan pada Januari 1996 oleh Larry Page dan Sergey Brin, keduanya adalah mahasiswa yang sedang mengambil gelar Ph.D. Google adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perusahaan media online. Setelah mengembangkan perusahaannya pada Oktober 2003 mereka mulai

mendiskusikan rencana untuk melakukan Initial Public Offering (IPO), di mana pada saat itu ada tawaran dari Microsoft untuk melakukan partnership atau merger. Namun pada Januari 2004 Google memilih melakukan IPO dengan menggandeng konsultan Morgan Stanley dan Goldman Sach Group di mana dana yang direncanakan diperoleh dari IPO sekitar US$ 4 billion. Pada 29 April 2004 Google mulai melakukan proses IPO dengan

melengkapi beberapa formulir yang diminta oleh SEC (Securities and Exchange Commisions). Akhirnya Google melepas saham dalam IPO pada 19 Agustus 2004 dengan total saham yang ditawarkan 19.605.052 dengan harga US$ 85 per lembar di mana pada akhir hari pertama perdagangan harganya ditutup pada US$ 100.34 per lembar saham. Perusahaan ini listed di NASDAQ dengan simbol GOOG. Sebagian besar kontrol masih berada dalam Google. Penjualan pada saat IPO mencapai US$ 1.67 billion namun market capitalization yang dicapai oleh Google lebih dari US$ 21 billion. Sehingga pada saat itu karyawan Google
14

menjadi kaya mendadak. Setelah IPO saham Google mengalami peningkatan empat kali lipat. Pada IPO Google membagi saham menjadi 2 kelas yaitu Kelas A dan B di mana yang membedakan adalah kekuatan suara dalam pengambilan keputusan. Pada 18 Agustus 2005 (satu tahun setalah melakukan IPO) Google akan menawarkan saham sebanyak 14.159.265 untuk mendapatkan dana tambahan. Google mengatakan bahwa danda hasil penawaran kedua ini digunakan untuk akuisisi beberapa bisnis yang berhubungan, pengembangan tehnologi dan asset yang lainnya. Amazone Ini adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang yang penjualan buku secara online. IPO dilakukan pada 31 Desember 1996 di mana direncanakan IPO dapat mendapatkan dana sebesar US$ 33.9 juta dengan total saham 2.5 juta. Underwriter yang ditunjuk adalah Deutsche Morgan Grenfell. Saham di listing di NASDAQ dengan kode AMZN. Menurut Amazone dana dari IPO akan digunaan untuk mengantisipasi operating loss, capital expenditure dan beberapa tujuan perusahaan yang lain. Perusahaan pada saat itu membukukan loss US$ 2.3 juta meskipun lebih kecil apabila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar US$ 2,4 juta. Dana hasil IPO memang benar-benar akan dimanfaatkan untuk menanggulangi operating loss yang terjadi.Pada Januari Amazone melakukan kontrak kerjasama dengan America Online untuk menjadi penjual buku exclusive di web site yang ada. Di mana juga strategi operasi untuk memeberikan diskon pada web tersebut.

15

BAB III FAKTA DAN DATA OBSERVASI 3.1 Profil Perusahaan Garuda Indonesia Sejarah Perusahaan Garuda Indonesia adalah sebuah perusahaan milik negara Republik Indonesia. Garuda Indonesia berkantor pusat di Jakarta, Indonesia. Selain berpusat di Jakarta, Garuda Indonesia juga memiliki kantor perwakilan yang tersebar di hampir seluruh kota besar di Indonesia dan juga kota kota di luar negeri. Tepat pada tanggal 26 Januari 1949 pesawat RI-001 Seulawah diterbangkan dari Calcutta, India menuju Rangon, ibukota Burma sebagai penerbangan niaga. Untuk

mengabadikan dan mengenang misi komersial yang dilaksanakan oleh Seulawah tersebut, kemudian peristiwa itu diperingati sebagai hari lahirnya Garuda Indonesia, yang ketika itu bernama Indonesian Airways, maskapai penerbangan komersial pertama yang mengudara membawa bendera Republik Indonesia. Pada tanggal 1 Maret 1950 Garuda Indonesia baru dapat beroperasi dengan sejumlah pesawat yang diterima pemerintah Republik Indonesia dari perusahaan

penerbangan KLM. Armada Garuda Indonesia yang pertama untuk melayani jaringan penerbangan di dalam negeri terdiri dari 20 pesawat DC-3/C-47 dan 8 pesawat jenis PBY Catalina Amphibi. Untuk melebarkan sayapnya, Garuda kemudian mengadakan pembaruan armadanya untuk melayani penerbangannya. Jaringan penerbangan Garuda Indonesia
16

diperluas meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia kecuali Irian Jaya sedangkan ke luar negeri menjangkau kota kota seperti Singapura, Bangkok dan Manila. Garuda semakin berkembang dan seluruh pesawatnya kemudian terdiri dari pesawat bermesin jet. Kekuatan armadanya berturut turut ditambah dengan tipe tipe pesawat seperti DC-10, MD-11, Boeing 747, 737, Airbus 300 dan Airbus 330. Garuda Indonesia saat ini tercatat sebagai perusahaan penerbangan terbesar ke tiga puluh di dunia. Jumlah karyawan Garuda Indonesia saat ini mencapai 6.424 orang. Sedangkan jumlah armadanya terdiri dari 49 pesawat yang terdiri dari : 3 pesawat Boeing 747-400, 6 pesawat Airbus A330-300, 40 pesawat Boeing 737, seperti seri 400 (19), seri 300 (14), seri 500 (5) dan seri 800 NG (2). Garuda Citilink beroperasi dengan Boeing 737 seri 300. Garuda bukan hanya sebuah perusahaan penerbangan kecil tetapi merupakan sebuah perusahaan yang besar dan juga memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak dalam bisnis atau usaha pendukung bisnis penerbangan salah satunya seperti PT. GMF Aero Asia (merupakan pusat pelayanan perawatan pesawat terbang). PT. Garuda Maintenance Facility (GMF) merupakan pusat perawatan pesawat Garuda Indonesia. Fasilitas perawatan pesawat ini dibangun di area seluas 115 Ha di kawasan Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. GMF beroperasi 24 jam setiap harinya dengan mempekerjakan kurang lebih 1.600 karyawan. Visi dan Misi Perusahaan Sebagai perusahaan yang besar, Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF AA) memiliki visi dan misi dalam menjalankan organisasi perusahaannya. Visi dan misi tersebut adalah : A. Visi Perusahaan
17

Menjadi perusahaan global dalam jasa Maintenance, Repair, dan Overhaul pesawat terbang, komponen, mesin dan produk pendukungnya secara kompetitif dalam quality, cost, dan delivery.

B. Misi Perusahaan Misi yang diemban perusahaan ini meliputi tiga buah hal, yaitu : 1. Bisnis, yaitu dengan meningkatkan profit dan pendapatan usaha serta dapat

tumbuh berkembang. 2. Servis, yaitu dapat memberikan solusi dengan lengkap kepada customer

melalui one stop service. 3. Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu sebagai wahana aktualisasi

profesionalisasi. Struktur Organisasi Setelah status GMF berubah menjadi PT. GMF Aero Asia, maka secara otomatis struktur organisasi dan manajemen yang semula menjadi satu bagian dari PT Garuda Indonesia menjadi terpisah dan berdiri sendiri. Struktur Organisasi PT. GMF Aero Asia: Gambar 3.1. Struktur Organisasi GMF

18

3.2 Sumber dari Kompas JAKARTA, KOMPAS.com Kemarin (26/01/2011), pemerintah akhirnya

mengumumkan harga penawaran perdana (initial public offering/IPO) PT Garuda Indonesia sebesar Rp 750 per saham. Dengan harga sebesar itu, pemerintah akan mendapatkan dana segar Rp 4,77 triliun dari penjualan 6,35 miliar saham perdana Garuda. Harga IPO tersebut hanya berada di batas bawah kisaran harga yang diinginkan pemerintah, yakni Rp 750-Rp 1.100 per saham. Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, ini adalah harga paling optimal yang mampu diraih Garuda. Agaknya, karena rendahnya harga itulah, Garuda hanya melepas 26 persen saham atau 6,35 miliar saham. Padahal tadinya Garuda berencana melepas 36 persen atau 9,36 miliar sahamnya. Namun, Mustafa menandaskan, nilai pelepasan tersebut sudah cukup, bahkan terjadi kelebihan permintaan sebanyak 1,3 kali. Dalam IPO Garuda ini, minimal 80 persen saham akan dialokasikan untuk investor domestik, baik ritel maupun institusional. Adapun investor asing akan mendapatkan jatah 20 persen saham atau senilai Rp 950 miliar. Meski porsi asing cukup mendominasi, Mustafa
19

yakin investor asing tersebut akan berinvestasi jangka panjang di sini. Dia juga menjanjikan harga saham Garuda di pasar sekunder bisa baik. Analis E-Trading Securities, Tedy Dwitama, menduga IPO Garuda akan diserbu peminat baru. Dus, harga saham Garuda juga bisa terbang tinggi di hari perdana perdagangannya di bursa, seperti yang terjadi pada IPO PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). "Apalagi saham ini BUMN, dan kabarnya peminatnya banyak," kata dia. Karena itu, menurut Tedy, investor yang suka berspekulasi bisa menjajal peruntungan di IPO Garuda ini.

Belum bagikan dividen Namun, ada beberapa hal yang harus dicermati oleh para investor. Meski dipasang di target terendah, harga IPO Garuda Indonesia terbilang cukup mahal. Pada harga Rp 750 per saham, rasio harga terhadap laba per saham alias price to earning ratio (PER) Garuda sudah mencapai 32,41 kali. Ini lebih tinggi dibandingkan PER industri yang hanya 32 kali. Selain itu, menurut hitungan Tedy, rasio utang terhadap ekuitas Garuda juga cukup tinggi, yaitu 3,52 kali. Mahalnya harga IPO Garuda juga menjadi sorotan Michael Hadisurya, analis Valbury Asia Securities, dalam risetnya. Selain itu, "Hal yang perlu dipertimbangkan, Garuda belum membagikan dividen karena kerugian akumulatif dari tahun sebelumnya," ujarnya. Tapi, karena Garuda adalah maskapai terbesar di Indonesia, Michael menilai saham Garuda layak untuk diinvestasikan jangka panjang. (Didik Purwanto, Avanty Nurdiana/Kontan) Kasus IPO Garuda beberapa waktu lalu merupakan kesalahan yang tidak perlu terjadi bila pasar modal lebih ketat mengawasi kinerja pasar modal. Angga Bratadharma JakartaPengamat ekonomi Tony A. Prasentiantono menilai, kasus IPO (Initial Public
20

Offering) PT Garuda Indonesia beberapa waktu lalu merupakan kesalahan yang tidak perlu terjadi bila pasar modal bila lebih ketat mengawasi kinerja. Pasalnya, kesalahan tersebut merupakan kondisi yang tidak bertanggung jawab. Itu sebenarnya kesalahan yang tidak perlu. Maaf-maaf saja ya, saya itu tidak habis pikir. Itu kesalahan kolektif menurut saya. Menteri Keuangan salah, Menteri BUMN apalagi, lurah sini (Direktur Bursa Efek Indonesia) juga menurut saya salah, tandas Tony, kepada wartawan, di Jakarta, Rabu, 14 Maret 2012. Ia mengatakan, pada dasarnya tidak dibenarkan bila pihak Bursa Efek Indonesia hanya mengajak perusahaan untuk go public tanpa ada tanggung jawab. Karena, hanya dengan mengajak tanpa ada pengawasan yang ketat, maka akan merusak suasana dan kondisi yang ada di Bursa Efek Indonesia. Jujur saja, saya itu kalau mengadakan konser jazz di Yogyakarta, saya tanya kapan saja jadwalnya, sehingga tidak tabrakan, dan agar semua sukses. Jadi, menurut saya pasar modal kemarin kecolongan, tegasnya. Tony menambahkan, kasus IPO garuda kemarin menjadikan suasana pasar modal menjadi tidak sehat. Karenanya, dirinya berharap agar kesalahan tersebut tidak kembali terjadi. Itu kan membuat investor capai, underwriter-nya capai dan juga membuat situasi tidak enak. Apakah pengelola bursa tidak saling diskusi dan mengingatkan itu lho. Harusnya ada koordinasi, tutupnya. (*) JAKARTA, KOMPAS.com Citra Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan nasional tercoreng akibat kegagalan pemerintah dalam masa penawaran umum perdana saham atau initial public offering. Selain harus segera dievaluasi, kegagalan ini juga harus menjadi bahan pertimbangan untuk privatisasi badan usaha milik negara lainnya. Faktor penyebab kegagalan itu ada beberapa dan saling bertautan, yakni pemilihan waktu, strategi penawaran, dan pemilihan harga. Hal semacam ini harus jadi bahan evaluasi dan
21

harapannya tidak terulang pada masa mendatang, kata Wakil Ketua Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Aria Bima di Jakarta, Minggu (13/2/2011). Harga saham PT Garuda Indonesia Tbk ditutup melorot ke Rp 620 dari harga perdana Rp 750 atau turun sekitar 17,33 persen, tepat pada hari pertama pencatatan di Bursa Efek Indonesia, Jumat pekan lalu. Dari total saham yang ditawarkan sebanyak 6,335 miliar saham, 3,008 miliar saham atau setara dengan Rp 2,25 triliun di antaranya harus diserap oleh para penjamin pelaksana emisi (joint lead underwriters) yang notabene anak perusahaan badan usaha milik negara (BUMN), yakni PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas.

Total saham Garuda yang ditawarkan adalah 6,33 miliar lembar saham dengan total dana yang dihimpun Rp 4,75 triliun. Aria Bima menilai, pemerintah sendiri yang pada akhirnya harus membeli saham Garuda dan bukan investor. Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI-P, Arif Budimanta, juga menilai, pemerintah telah melanggar kesepakatan dengan DPR untuk memprivatisasi dengan harga saham Garuda optimum per lembar pada momentum yang tepat. Oleh karena itu, Komisi XI DPR berencana menyelidiki dan membahas strategi dan manajemen privatisasi Garuda ini dengan pemerintah. Kalau melihat transaksi hari pertama, saham GIAA terkoreksi 17,33 persen. Potensi kerugian keuangan negara yang dialami anak perusahaan BUMN dan Jamsosteksekitar Rp 347 miliar, kata Arif. Menurut Kepala Riset Recapital Securities Pardomuan Sihombing, strategi dan kinerja tak memuaskan ketiga penjamin emisi itu selama penawaran umum perdana saham
22

(IPO) menciptakan rasa pesimistis yang berlebihan terhadap Garuda di mata para investor. Fundamental Garuda sudah cukup baik. Sayangnya, hal itu tidak terekspose maksimal selama proses IPO. Padahal, ada beberapa perusahaan yang fundamentalnya biasa-biasa saja, tetapi di listing perdana harga sahamnya melonjak dari harga perdana, kata Pardomuan. Managing Director Mandiri Sekuritas Kartika Wirjoatmodjo menyatakan,

penyerapan saham Garuda tidak menimbulkan dampak operasional yang berat bagi perusahaannya. Hal itu karena modal Mandiri Sekuritas saat ini lebih dari Rp 700 miliar, dengan kondisi likuiditas sangat baik. Tahun 2010, kami membukukan laba bersih yang masih dalam proses finalisasi audit Rp 103 miliar atau meningkat sangat tajam dari laba bersih tahun sebelumnya senilai Rp 46 miliar, Kartika optimistis, pihaknya akan segera menyelesaikan transaksi terkait right issue (hak memesan efek terlebih dahulu) Bank Mandiri dengan baik. Apabila ada dampak terkait saham Garuda di bursa pada pencatatan perdana, maka itu adalah hal biasa. Nilai saham itu diharapkan akan meningkat seiring kenaikan kinerja fundamental Garuda dan pulihnya sentimen pasar. Menurut Pardomuan, berbekal kondisi fundamental Garuda yang baik, investor akan tertarik membeli saham Garuda di pasar sekunder. Ketertarikan yang akhirnya membuat harga saham Garuda meningkat itu akan lebih cepat jika didorong peningkatan kinerja perusahaan. (BEN/IDR) RTA: Hari ini para investor dag dig dug menunggu nasib apakah saham Garuda Indonesia Akan ditutup hijau atau merah dalam pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia. Bahkan, pemerintah disebut-sebut sudah menyiapkan skenario mengamankan
23

harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, dengan mendorong asuransi BUMN masuk ke pasar sekunder. Skenario tersebut harus diambil setelah jumlah saham yang tak terserap lebih dari 3 miliar lembar saham, setara dengan Rp2,25 triliun, dan itu harus ditanggung oleh tiga underwriter (penjamin emisi). Asuransi BUMN seperti Jamsostek tidak bisa mengambil porsi saham besar karena maksimal hanya dapat mengambil 5% dari free float pada penawaran perdana. Akan tetapi kalau mereka [asuransi BUMN] bisa membeli di pasar sekunder tentunya tidak dilarang, dan Garuda memiliki fundamental yang bagus, ujar satu eksekutif di pasar modal. Sesuai dengan rencana, saham maskapai penerbangan nasional tersebut akan mulai efektif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini dengan kode saham GIAA. Harga perdana saham perseroan telah ditetapkan pada level Rp750 per lembar saham. Dalam masa penawaran, investor lokal mendapatkan porsi 80% dan asing 20%. Persoalannya, dari total porsi 20% bagi asing, mereka hanya menyerap Rp91 miliar atau 1,9% dari total saham yang dilepas. Adanya pembatalan dari investor asing juga yangmenyebabkan ketiga underwriter harus menyerap saham yang tak terjual tersebut. Menurut sumber lain yang mengetahui soal IPO Garuda, semua itu terjadi karena Menteri BUMN Mustafa Abubakar `ngotot menetapkan harga di atas rentang usulan joint lead underwriter (JLU)PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Securities yang sejak awal konsisten mengusulkan kisaran harga IPO di level Rp550Rp650 per saham. Siap menunggu return. Menurut Head of Equity Sales Batavia Prosperindo Sekuritas Gurasa Siagian, hamper tidak ada investor asing yang tertarik untuk membeli saham Garuda karena harganya yang
24

tergolong mahal tersebut. Investor baru akan tertarik membeli jika harganya berkisar Rp500Rp550. Untuk investor yang sudah terlanjur membeli siap-siap untuk menunggu 1 sampai 2 tahun untuk memperoleh return, tandasnya. Dalam kesempatan terpisah di sela-sela acara MoU akses data dan informasi secara elektronik di Gedung BPK, kemarin, Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo mengakui mendengar adanya informasi seretnya penawaran saham maskapai pelat merah, dan tiga underwriter yang harus menanggungnya.Tentu nanti kami akan mendengar laporan dari Menteri BUMN. Namun, saya melihat potensi dalam negeri cukup banyak, ujarnya. Menurut dia, program Garuda seharusnya dilakukan dengan menggunakan sistem yang kreatif sehingga hasilnya memadai. Intinya, Menkeu meng izinkan privatisasi perusahaan pelat merah selama prosesnya dijalankan bersama oleh instansi-instansi yang terkait. Sementara itu, Menteri BUMN Mustafa Abubakar enggan berkomentar lebih banyak soal `rugi bandar yang diderita ketiga underwriter. Yang jelas, tambahnya, maskapai penerbangan itu dipastikan mendapatkan tambahan modal sesuai dengan yang diinginkan. Para underwriter dan manajemen Garuda Indonesia sudah bertemu saya dan sudah updating data serta kesiapan listing untuk besok [hari ini]. Tapi data rincinya seperti apa bukan porsi saya untuk menjelaskan, tadi sudah kami sepakati, ungkapnya. Pendapat Mustafa diperkuat dengan pernyataan Emirsyah Satar, Direktur Utama Garuda. Pokoknya kami fully subscribed. Kami [Garuda] dapat Rp3,3 triliun. Investor local dapat lebih banyak, tetapi untuk data rinci, komposisinya bagaimana, belum tahu, besok [hari ini] saja, ujarnya sambil berlalu. Dalam kesempatan terpisah, ekonom Drajad Wibowo menilai Menteri BUMN dan jajarannya harus lebih banyak belajar mengenai pasar modal agar kasus dua privatisasi
25

BUMN yang dilaksanakan belakangan ini tidak terulang kembali. Pada saat pasar bagus, saham Krakatau Steel justru dijual murah. Namun, saat kondisi pasar kurang menguntungkan seperti saat ini, harga saham untuk Garuda malah kurang disesuaikan. Seharusnya Menteri BUMN dan jajarannya belajar, ujar Drajad.

3.3 Ringkasan IPO PT Garuda Indonesia Tbk. dari Danasakti Securities

26

27

28

BAB IV STUDI ANALISA


PT Garuda Indonesia merupakan BUMN yang bergerak di bidang transportasi udara. Banyak hal yang mendorong perusahaan Negara ini melakukan IPO, antara lain, kebutuhan perusahaan akan dana untuk menambah armada, ingin memperluas dan memperbesar cakupan penerbangan luar negrinya. Oleh karena itu selain akan kebutuhan akan dana, IPO PT Garuda ini bertujuan agar perusahaan dapat dikenal oleh dunia internasional. Dari tujuan-tujuan suatu perusahaan melakukan IPO sebagaimana yang telah dipaparkan di BAB II, tentunya PT Garuda Indonesia tidak ma ketingalan dari perusahaan-perusahaan penerbangan milik Negara lainnya, seperti Singapore Airlines dan Air Asia. Namun apakah perlu melakukan IPO ketika perusahaan tersebut masih bisa mendapatkan dana cair dari pemerintah dan dari pemegang saham primary lainnya? Hal ini perlu dipertanyakan ketika Singapore Airlines, yang berasal dari Negara berukuran yang tidak lebih dari Ibu Kota Negara Indonesia, tersebut 100% sahamnya dimiliki oleh Kementrian Keuangan Singapura dan selalu sukses tanpa merugi dalam puluhan tahun terakhir ini. Perusahaan Negara memang patut diakui oleh Negara lain, namun yang membuat suatu perusahaan tersebut diakui bukanlah hanya dari segi sistem keuangan dan pendanaan yang modern atau sahamnya yang go public, tetapi juga performance perusahaan tersebut dalam menjalankan bisnis. Keputusan IPO ini memang mengundang banyak kontroversi, apalagi setelah merugi miliayaran rupiah, para calon investor ragu untuk menanamkan sahamnya di PT Garuda Indonesia. Disamping itu, harga yang dipatok untuk IPO ini terbilang sangat rendah dan
29

memiliki PER yang lebih tinggi dibanding dengan PER perusahaan manufaktur, dalam kasus ini resiko saham menjadi sangat tinggi. Harga saham PT Garuda yang berada di batas bawah justru merupakan harga termahal bagi saham maskapai penerbangan. fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan IPO ini bisa dibilang kurang tepat, karena tidak berprospek untuk memenuhi target penjualan. Akibatnya, perusahaan penjamin yang merupakan anak perusahaan PT Garuda Indonesia pun ikut terkena Imbasnya dan merugi miliaran rupiah. Sebagai perusahaan milik Negara pun, IPO ini memberikan lot yang banyak untuk investasi asing, sehingga bisa dimungkinkan adanya intevensi asing atas perusahaan milik Negara sendiri.

BAB V KESIMPULAN

30