Anda di halaman 1dari 25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tugas Kesehatan Keluarga 1. Pengertian Keluarga Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-isteri, atau suami, isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (Sudiharto, 2007, p.22). Lebih lanjut Burgess, (1963) dalam Friedman, (1998, p.11) menyatakan bahwa keluarga adalah sekumpulan orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan, darah dan ikatan adopsi. Anggota keluarga hidup bersama-sama dalam satu rumah tangga atau jika terpisah mereka tetap menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumah mereka, saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain, sama-sama mempertahankan kultur/budaya yang diperoleh dari masyarakat. Teori lain juga menyebutkan bahwa keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Bailon & Maglaya,1989 dalam Sudiharto, 2007, p.22). 2. Fungsi Keluarga Fungsi keluarga secara umum menurut Friedman (1998, p.100) dapat dibagi dalam beberapa bagian, sebagai berikut :

a. Fungsi afektif, yakni fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu dalam mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. b. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi, yakni fungsi

mengembangkan dan tempat melatih anak untuk kehidupan social sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain diluar rumah. c. Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga. d. Fungsi ekonomi yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. e. Fungsi perawatan / pemeliharaan, yakni fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktifitas tinggi. 3. Tugas Kesehatan Keluarga Friedman (1998, p.400) menyatakan bahwa keluarga seperti halnya individu, mempunyai cara-cara tertentu untuk mengatasi masalah kesehatan. Kegagalan dalam mengatasinya akan mengakibatkan penyakit atau sakit terus menerus dan keberhasilan keluarga untuk berfungsi sebagai satu kesatuan akan berkurang. Kemampuan keluarga mengatasi dengan baik dimaksudkan sebagai kesanggupan keluarga untuk melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatannya sendiri. Tugas kesehatan keluarga menurut Friedman adalah :

10

a. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga. Tugas ini menggambarkan kemampuan keluarga untuk mengenal setiap permasalahan kesehatan yang terdapat diantara anggotanya. Indikasi keluarga telah melakukan tugas mengenal masalah kesehatan dengan baik adalah dengan mendeteksi insiden penyakit dari setiap anggota keluarga dalam jangka waktu tertentu. Menurut Dixon dkk (2001) yang dikutip Kopelowicz dkk (2003) hal yang perlu diketahui keluarga dengan anggota yang mengalami schizophrenia adalah segala sesuatu yang terkait dengan gangguan mental tersebut. Pengetahuan lain mengenai schizophrenia yang penting diketahui keluarga meliputi manajemen gejala dan medikasi penderita. Fortinash dan Worret (2003, p.115) menyatakan bahwa dukungan keluarga merupakan hal terpenting dalam kesembuhan penderita schizophrenia. Keluarga yang telah mengenal bagaimana pencegahan atau mengurangi kekambuhan penyakit, memberikan dukungan, dapat meminta pertolongan dari sumber-sumber yang tepat pada saat krisis, mencegah keadaan krisis, mampu menggunakan teknik pemecahan masalah, mampu berkomunikasi dengan pasien dan memodifikasi tingkah laku akan meningkatkan perasaan sejahtera pasien dan mencegah atau menunda gejala kekambuhan. b. Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat. Tugas sebagai pengambil keputusan dan manajer kasus terhadap seluruh masalah kesehatan yang dapat mempengaruhi kesejahteraan dan kehidupan keluarga akan dapat dilaksanakan dengan baik bila keluarga

11

memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk melakukan hal tersebut. Pengetahuan yang baik dalam mengenal gangguan kesehatan akan diperoleh keluarga bila memiliki akses yang baik terhadap sumber primer informasi kesehatan dalam hal ini perawat. Keluarga yang mampu mengambil tindakan kesehatan yang sesuai akan mempraktekkan gaya hidup sehat, dapat memberikan perawatan kesehatan yang tepat dan umumnya mampu membuat keputusan yang berbeda berdasarkan informasi yang telah diverifikasi sebelumnya dari sumber-sumber terpercaya. Keluarga dengan schizophrenia harus mampu memutuskan untuk terlibat secara penuh dalam proses penyembuhan pasien. Keputusan keluarga untuk terlibat terutama dalam proses mendorong perubahan perilaku lebih memberikan hasil yang signifikan pada pasien

schizophrenia dibandingkan bila mendapat perawatan biasa tanpa ada keterlibatan keluarga (Kopelowicz dkk, 2003). c. Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, yang tidak dapat membantu diri karena cacat atau usianya terlalu muda. Tugas merawat anggota keluarga yang sakit merupakan salah satu bagian penting dari tugas perawatan kesehatan yang harus mampu dilakukan keluarga dengan baik. Hal ini dikarenakan berfungsi tidaknya sistem didalam keluarga dapat dilihat dari kemampuan keluarga mengaplikasikan tindakan tersebut dimana sebagian besar merupakan kelanjutan dari perawatan hasil interaksi keluarga menggunakan fasilitas kesehatan primer.

12

Penyakit gangguan mental seperti schizophrenia adalah satu dari sekian banyak penyakit gangguan mental yang sangat memerlukan dukungan dari keluarga agar individu dapat berpartisipasi dalam kehidupan normal. Dukungan ini diperlukan karena schizophrenia sebagai salah satu gangguan mental, memberikan berbagai dampak negatif bagi penderitanya seperti adanya kerusakan (impairment), ketidakmampuan (disabilities) dan keterbatasan (handicap) yang mengakibatkan pasien tidak dapat merawat dirinya sendiri, bekerja dan bersosialisasi. Dampak yang diderita karena penyakit ini menimbulkan depresi dan rasa putus asa karena pasien diabaikan atau malah diasingkan oleh komunitas lingkungannya bahkan oleh keluarga. Keterlibatan keluarga dalam proses rehabilitasi penderita schizophrenia akan membantu mencegah

kekambuhan, penerimaan kembali dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan yang diberikan (Craig, 2005). Kopelowicz dkk (2003) menambahkan ada dua hal utama yang perlu difokuskan keluarga untuk mendukung masa rehabilitasi pasien schizophrenia dari hasil penelitian selain melibatkan keluarga dalam memberikan pengobatan. Keluarga perlu menerapkan manajemen gejala dan medikasi. Hal yang tercakup di dalam manajemen tersebut meliputi kemampuan menyediakan atau menciptakan kesempatan pasien

menerapkan perilaku seperti yang diajarkan pada keluarga oleh petugas kesehatan, mendorong anggota keluarga yang sakit menerapkan perilaku tersebut dan memberikan umpan balik yang positif bila pasien mampu menerapkan perilaku yang diharapkan.

13

d. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan untuk kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga. Keluarga yang tidak mampu mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai faktor salah satu yang paling penting yaitu kurangnya informasi yang diterima keluarga untuk menerapkan perilaku sehat yang sebagian besar dikarenakan minimnya pemanfaatan instansi kesehatan sebagai sumber informasi bagi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Lingkungan yang tidak mendukung individu untuk sehat terutama bagi anggota keluarga yang menderita gangguan mental dapat mempercepat kekambuhan yang dapat menyebabkan kesembuhan menjadi lebih sulit. Pasien schizophrenia memerlukan lingkungan yang bebas dari tekanan, aktif (melibatkan dalam seluruh aktifitas keluarga) dan mencegah melakukan hal-hal yang dapat memperburuk keadaan seperti merokok dan sebagainya (Nikolova, 2009). e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembagalembaga kesehatan. Ini menunjukkan pemanfaatan dengan baik akan fasilitas-fasilitas kesehatan. Tugas kesehatan keluarga yang terakhir merupakan faktor kedua terpenting setelah cara pandang keluarga terhadap sehat dan sakit yang menentukan praktek kesehatan keluarga secara keseluruhan. Kesiapan keluarga untuk mencari dan memanfaatkan fasilitas kesehatan serta faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan perilaku sehat adalah dua hal yang menjadi pemicu keluarga mendatangi fasilitas kesehatan. Keluarga

14

bersedia dan mau memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk mengatasi keadaan yang merugikan kesehatan atau meningkatkan kualitas hidup sangat tergantung dari cara interpretasi keluarga terhadap masalah kesehatan. Interpretasi yang tepat akan membawa keluarga pada pemecahan masalah kesehatan yang tepat. Keluarga yang dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan sangat efektif akan mengetahui cara mempraktekkan gaya hidup sehat secara benar akan menjadi keluarga yang produktif. Pemanfaatan fasilitas kesehatan secara efektif meliputi mencari dan memverifikasi informasi kesehatan yang didapat, mampu membuat keputusan yang diskriminatif terhadap informasi yang diterima, dan dapat melakukan negosiasi secara agresif terhadap sistem pelayanan kesehatan (terkait aturan sistem pelayanan kesehatan yang kaku dan otoriter dari pemberi layanan kesehatan). Menurut Stuart (2005, p.110) hal-hal yang harus didapat keluarga atau menjadi kebutuhan untuk mampu merawat anggota keluarga yang sakit dari profesional kesehatan yang akan mendorong kesembuhan pasien schizophrenia meliputi : 1) Penyampaian tujuan perawatan yang hendak dicapai selama

rehabilitasi dan kerja sama. 2) Edukasi tentang penyakit yang diderita pasien dan ketrampilan koping yang diperlukan untuk terlibat dalam komunitas. Edukasi yang diberikan meliputi tanda dan gejala, perjalanan penyakit, kemungkinan penyebab, pengukuran dan pemeriksaan diagnostik, indikasi perubahan gaya hidup, pilihan pengobatan, hasil akhir yang diharapkan dari

15

pengobatan, efek samping dan dampak dari obat yang diberikan, strategi terapeutik, respon koping adaptif, masalah potensial yang mungkin muncul, tanda awal kekambuhan, serta keseimbangan kebutuhan dan pemeliharaan diri. 3) Umpan balik mengenai efektifitas dari interaksi keluarga dalam masa rehabilitasi. B. Konsep Schizophrenia 1. Definisi Schizophrenia adalah penyakit otak menetap dan serius yang tampak dengan adanya perilaku psikotik, fikiran konkrit dan kesukaran dalam memproses informasi, hubungan personal serta memecahkan masalah (Stuart, 2005, p.251). Schizophrenia diperkirakan lebih sering dialami kelompok usia antara 15-35 tahun dan kemungkinan penyakit untuk menjadi kronis sangat tinggi (WHO, 2007). Schizophrenia merupakan kekacauan psikotik yang paling serius dan menetap dari seluruh penyakit mental dengan gejala yang terlihat aneh atau bizar dan menakutkan dimana seluruh aspek dari kesejahteraan individu terganggu serta tidak ada hubungan dengan kematangan yang telah dimiliki individu (Fortinash & Worret, 2003, p.112). Schizophrenia yaitu suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab yang sebagian besar tidak diketahui dengan pasti dan penyakit yang luas serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya. Gangguan mental schizophrenia umumnya ditandai dengan penyimpangan fundamental dan karakteristik dari fikiran dan

16

persepsi serta oleh efek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted) sedangkan kesadaran (clear consiousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, meskipun kemunduran kognitif dapat berkembang kemudian (Rusdi, 2001, p.67). 2. Etiologi Etiologi pasti dari schizophrenia menurut Fortinash dan Worret, (2003, p.112) belum diketahui, namun ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan terjadinya gangguan mental ini, diantaranya : a. Hipotesa genetik Hipotesa genetik diduga memainkan peranan terhadap timbulnya schizophrenia didasarkan pada dijumpainya angka prevalensi yang lebih tinggi di kalangan keluarga dari individu yang menderita schizophrenia, dibandingkan dengan keluarga lain pada umumnya. Angka kejadian schizophrenia juga tinggi pada anak kembar yang berasal dari satu telur (monozigot) dibandingkan kembar dari dua telur (dizigot). b. Hipotesa perkembangan Hipotesa perkembangan menyatakan bahwa gangguan dasar

schizophrenia terletak pada fungsi ego yang mengalami defisit, sehingga individu tidak dapat mengatasi konflik personal dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Penderita schizophrenia merasa pekerjaan sehari-hari sebagai suatu beban berat namun hal ini bukan disebabkan karena pekerjaan sehari-hari yang dilakukan tergolong berat akan tetapi pekerjaan sehari-hari dianggap sebagai suatu ancaman. Penderita schizophrenia lebih peka dan reaksi yang diperlihatkan

17

penderita schizophrenia terhadap situasi tertentu seperti perpisahan, kematian, perceraian dan lain-lain berbeda dibandingkan dengan individu normal. c. Faktor biologik Adanya peranan faktor ini terhadap timbulnya gangguan

schizophrenia didasarkan pada bukti-bukti klinis dan laboraorium. Penderita schizophrenia diduga mengalami disfungsi transmitter di susunan saraf pusat seperti dopamin, serotonin, katekolamin dan sebagainya. Pemeriksaan yang dilakukan pada penderita schizophrenia menemukan peningkatan kadar beberapa neurotrasmitter seperti : 1) Kadar dopamin yang bertambah di sinap-sinap sebagai hiperaktivitas dari sistem dopaminergik. 2) Sistem adrenalin berdasarkan dijumpainya 3-methoxy 4 hidroxyphenyl glycol (3 MHPG) dalam liquor cerebrospinalis yang meninggi. 3) Sistem serotonin (kadar indolamin suatu hasil metabolisme serotonin yang bersfiat halusinogenik) bertambah pada darah dan urin. 4) Kadar beta endorfin dalam darah meninggi (sistem endorfin neurotransmitter mempunyai sifat menambah gejala-gejala psikotik). 5) Kadar kalsium dalam darah yang menyebabkan timbulnya gejala katatonik. d. Teori neurofisiologi dan perubahan struktur otak Pengaruh neurofisiologi dalam kejadian schizophrenia tampak dari adanya gejala gangguan vasomotor, gangguan irama tidur, gangguan persepsi, gangguan afek, gangguan berbahasa dan lain sebagainya pada

18

anak yang menderita schizophrenia. Kelainan ini diduga timbul akibat komplikasi perinatal intra uterin karena infeksi virus pada ibu yang mengandung yang menyebabkan gangguan pada perkembangan otak dan sistem neuronal (Long, 2005). Adanya perubahan struktur otak pada beberapa penderita gangguan mental golongan ini juga dikarenakan schizophrenia itu sendiri yang meliputi terjadinya atrofi otak (bagian korteks dan serebellum) dan pembesaran ventrikel. Temuan lain pada otak yaitu adanya peningkatan jumlah D2 reseptor di ganglia basalia dan sistem limbik terutama pada amygdale, nukleus accumbens dan hipocampus (Stuart, 2005, p.253). 3. Gejala Klinis Schizophrenia Gejala klinis schizophrenia menurut Fortinash dan Worret (2003, p.113) meliputi proses psikologik majemuk seperti isi dan bentuk fikir, persepsi, afek, kesadaran tentang diri, dorongan kehendak, hubungan dengan dunia luar dan tingkah laku psikomotor. a. Gangguan isi fikir (waham) Gangguan isi fikir dapat dimanifestasikan dalam banyak bentuk seperti gangguan pada isi fikir merujuk pada adanya kepercayaan, ide-ide dan interprestasi yang salah terhadap stimulus dari internal dan eksternal individu. Delusi merupakan salah satu contoh gangguan isi fikir, dimana delusi umum yang terjadi meliputi waham penyiksaan, waham kebesaran, waham agama dan waham somatik. Gejala lain termasuk penyiaran fikiran (thought broadcasting) dimana pasien merasa ide atau fikirannya ditransmisikan kepada orang

19

lain, penyisipan fikiran (thought insertion) dimana pasien merasa orang lain dapat menyisipkan fikirannya ke dalam fikiran pasien, dan penyedotan fikiran (thought withdrawal) yaitu pasien merasa fikirannya dapat diambil dari dirinya. Gangguan dari isi fikiran juga meliputi sesuatu yang ditujukan kepada dirinya (idea of reference) dimana pasien merasa bahwa orang orang lain atau pesan-pesan dari media ditujukan langsung kepada pasien (Long, 2005). Kepercayaan pasien khususnya mengenai fikiran dan ide-ide tersebut menetap dan tidak dapat dieliminasi atau dihilangkan walaupun tersedia bukti bahwa kenyataan yang diyakininya salah. Ganggauan isi fikir penderita schizophrenia umumnya disertai dengan tata cara keagamaan yaitu pasien sering membual simbol-simbol yang menunjuk pada orang, benda atau kejadian seperti warna merah untuk simbolisasi marah, kematian atau darah untuk pasien (Fortinash & Worret, 2003, p.114). b. Gangguan bentuk fikir Gangguan bentuk fikir yang sering dijumpai yaitu gangguan fikiran formal seperti : 1) Inkoherensi (progresi fikiran kacau dimana beberapa buah fikiran diutarakan sekaligus sehingga terjadi disorganisasi dari kalimat yang disampaikan). 2) Pelonggaran asosiasi (loose associations/ ide-ide berpindah dari satu subjek ke subjek yang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya atau hubungannya tidak tepat). 3) Kemiskinan isi pembicaraan

20

4) Word salad atau gado-gado kata yaitu campuran inkoherens dengan kata-kata khususnya pencampuran anak kalimat. 5) Circumstansiality yaitu pembicaraan yang tidak langsung tertuju atau tertunda mencapai tujuannya karena banyaknya detail yang tidak perlu, disertai dengan berbagai ungkapan atau pengulangan isi fikiran yang berputar-putar tetapi sampai pada tujuan pembicaraan yang ingin disampaikan. 6) Tangentiality yaitu ketidakmampuan mengarahkan fikiran ke arah yang dituju dan pembicaraan tidak pernah sampai pada tujuan yang ingin disampaikan. 7) Neologisme yaitu penciptaan kata-kata baru yang hanya dimengerti oleh pasien yang bersangkutan. 8) Preservasi merupakan bentuk pengulangan yang patologis dari katakata atau ide yang sama sebagai jawaban dari pertanyaan yang berbeda. 9) Condensation yaitu fusi dari beberapa konsep menjadi satu kesatuan yang kemudian menimbulkan arti yang tidak wajar. 10) Irrelevant answer yaitu jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Sedangkan gangguan dalam kecepatan asosiasi terdiri dari beberapa bentuk seperti : 1) Flight of idea yaitu suatu pembicaraan yang cepat berpindah dari satu topik ke topik lain dan umumnya karena ada stimulus dari luar.

21

2) Clang associations yaitu timbulnya suatu fikiran baru karena kata-kata baru yang sama dalam bunyi tetapi bukan dalam arti. 3) Blocking yaitu hambatan arus fikir oleh karena sebab-sebab dari alam bawah sadar. 4) Volubility yaitu pembicaraan yang banyak namun masih koheren dan logis. c. Gangguan persepsi Gejala utama dalam bidang persepsi adalah berbagai jenis halusinasi yang dapat meliputi semua bidang pengindraan namun yang sering terjadi yaitu halusinasi pendengaran berupa suara yang seolah berasal dari luar kepala pasien. Suara-suara tersebut mungkin dikenal pasien dapat tunggal atau ganda dan sering memberikan komentar menghina. Suara yang didengar pasien berbicara langsung dan memberi pendapat mengenai tingkah laku pasien dan merupakan ciri khas dari halusinasi dengar pada schizophrenia. d. Gangguan afek Gangguan afek sering berupa penumpulan afek yaitu pengurangan yang berat dari intensitas ekspresi afektif, pendataran afek berupa tidak adanya kemampauan mengekspresikan berbagai nuansa perasan secara spontan dan afek yang tidak serasi dimana afek tidak sesuai dengan isi fikiran maupun situasi yang sedang dihadapi. e. Rasa kesadaran diri Rasa kesadaran diri yang memberikan manusia warna kenormalan pribadi, keunikan diri dan pengarahan diri pada penderita schizophrenia

22

sering terganggu yang dinamakan kehilangan batas ego dan seringkali dimanifestasikan sebagai rasa perpleksitas atau kebingungan yang parah tentang identitas diri dan makna eksistensinya. f. Dorongan kehendak Dorongan kehendak untuk melakukan aktifitas yang bertujuan atas inisiatif sendiri terganggu pada pasein schizophrenia. keadaan ini menyebabkan gangguan pada pekerjaan yang dilakukan karena pasien tidak pernah mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya secara logis. g. Hubungan dengan dunia luar Pasien schizophrenia sering menarik diri dari dunia luardan melakukan preokupasi (terfokus pada satu ide atau fikiran) dengan ide dan fantasi yang tidak logis dimana fakta-fakta objektif kabur, mengalami distorsi atau disingkirkan sama sekali. h. Tingkah laku psikomotor Gangguan tingkah laku psikomotor sering terlihat terutama pada penderita schizophrenia yang kronik berat dan penderita dengan serangan akut yang mempunyai gejala lengkap (full blown). Penderita mengalami pengurangan yang hebat reaktifitas terhadap lingkungan seperti kurannya pergerakan dan aktifitas spontan. Penderita dapat terlihat melakukan pengurangan gerakan yang ekstrim dan seperti tidak menyadari lingkungan sekitarnya (stupor) mempertahankan sikap kaku dan menolak usaha-usaha untuk menggerakkannya (rigiditas) atau berupa gerakan

23

motorik yang berlebihan (excited) yang nampak tidak bertujuan dan tiddak dipengaruhi stimulus dari luar (furor). 4. Jenis Schizophrenia Menurut Fortinash dan Worret (2003, p.114) ada beberapa tipe gangguan schizophrenia yaitu : a. Paranoid Karakteristik yang membedakan schizophrenia paranoid dengan tipe lainnya yaitu adanya delusi yang menetap satu atau setidaknya mendekati tema penyiksaan atau kebesaran/kemuliaan dan adanya satau atau setidaknya mendekati terhadap halusinasi pendengaran. Pasien biasanya menunjukkan sikap berhati-hati, curiga, bermusuhan, marah dan mungkin melakukan tindak kekerasan. Kecemasan adalah gejala yang timbul kemudian. Interaksi sosial pasien terkontrol dan mengalami kemunduran namun masih intens. b. Disorganisasi Karakteristik schizophrenia jenis ini yaitu ketidaktepatan yang nyata atau pendataran dari afek, inkoherensi dan disorganisasi nyata dalam sikapsikap yang primitif serta prilaku malu-malu. Pasien tampak sangat bodoh atau aneh. Pasien mempunyai sikap yang tidak biasa seperti tertawa terbahak-bahak atau menangis, ekspresi wajah yang berubah, mengeluh masalah fisik yang banyak (hypochondriasis) dan secara ekstrim menarik diri dari interaksi sosial serta mempunyai interaksi sosial yang janggal. Serangan schizophrenia ini bervariasi pada awalnya dimana pada periode psikotik ditandai adanya ketidakmampuan dalam mengambil keputusan

24

yang dapat berlanjut pada periode akut. Pasien berhalusinasi dan memiliki delusi akan tetapi temanya terpecah-pecah dan kurang terorganisasi. Nama lain untuk jenis disorganisasi schizophrenia yaitu schizophrenia hebefrenik. c. Katatonik Jenis schizophrenia ini ditandai dengan adanya gangguan dari aktivitas psikomotor. Prilaku katatonik dimanifestasikan dengan imobilitas motor atau psikomotor eksitasi atau pasien akan berada diantara dua keadaan tersebut. Pasien dapat terlihat immobil (stupor) atau terlihat gelisah, melakukan aktifitas yang tidak bertujuan. Pasien seperti tidak tersentuh dengan lingkungan dan memperlihatkan sikap negatif, menolak berbicara dan mengambil postur tubuh tertentu. Posisi pasien umumnya aneh, dan tampak kaku serta tampak seperti tidak merasakan tubuhnya. d. Tidak dapat dirinci (undifferentiated) Pasien menunjukkan beragam gejala schizophrenia (delusi, halusinasi, inkoherensi, prilaku tidak terorganisasi) yang tidak dapat dijelaskan dan di kategorikan ke dalam schizophrenia jenis yang ada. e. Residual Pasien dikategorikan ke dalam schizophrenia jenis residual bila memiliki setidaknya satu episode akut schizophrenia dan terbebas dari gejala psikotik namun masih memperlihatkan tanda menarik diri dari interaksi sosial, emosi yang tumpul, pemikiran yang tidak rasional atau prilaku eksentrik.

25

f. Schizophreniform disorder Kriteria diagnostik untuk schizophrenia kategori ini bila durasi dari penyakit telah berlangsung selama 1 bulan lebih namun kurang dari 6 bulan dan fungsi sosial/pekerjaan tidak mengalami gangguan. g. Schizoaffective disorder Pasien dideskripsikan tergolong jenis ini bila mendemonstrasikan gejala schizophrenia (delusi atau halusinasi, disorganisasi dalam

berbicara/prilaku, gejala negatif) dan gangguan perasaan (mood disorder, seperti depresi mayor, manik atau campuran keduanya) dan episodenya telah berlangsung paling sedikit 1 bulan. 5. Pengobatan Schizophrenia Pengobatan yang dapat dilakukan pada pasien dengan schizophrenia yaitu pemberian anti psikotik yang dapat mempersingkat durasi dari gejala psikosis penderita schizophrenia, dan mencegah kekambuhan (meskipun kekambuhan dapat terjadi bila penderita mengalami stres). Penderita schizophrenia umumnya memerlukan waktu lama sebelum akhirnya dapat menerima kenyataan mengidap schizophrenia dan memerlukan pengobatan. Penghentian pemberian antipsikotik, mungkin dapat dilakukan dalam hitungan bulan bahkan tahunan. Kekambuhan gejala psikotik pada schizophrenia sebagian besar menyebabkan kerusakan intelektualitas. Pengobatan dengan antipsikotik umumnya dapat mencegah penderita dari kemungkinan bunuh diri, meminimalisasi hospitalisasi, dan secara dramatis meningkatkan fungsi sosial. Penderita schizophrenia, meskipun telah mendapatkan medikasi antipsikotik namun sebagian besar tidak dapat

26

bekerja kembali di tempat yang dapat menghasilkan pendapatan yang besar karena terjadinya kerusakan intelektual (mengalami penurunan konsentrasi, daya ingat, kemampuan memecahkan masalah, tidak dapat diberikan tugas yang banyak dan apatis) karena penyakit ini. Pengobatan dengan antipsikotik sepanjang kehidupan sangat penting untuk penyembuhan schizophrenia. Individu membutuhkan dukungan emosi dan finansial dari keluarga dalam jangka panjang. Penderita schizophrenia perlu mendapatkan rehabilitasi sosial (Long, 2005). 6. Prognosis Schizophrenia Menurut Hawari (2001, p.35), Prognosis penderita schizophrenia sangat beragam, tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu : a. Semakin jelas awal serangan schizophrenia maka semakin baik kemungkinan penyembuhannya. b. Usia penderita dimana semakin muda usia menderita schizophrenia maka prognosis semakin tidak baik. Penderita yang mengalami schizophrenia pada masa kanak-kanak atau awal pubertas jarang dapat benar-benar sembuh. c. Status penderita. Penderita schizophrenia yang sudah menikah

mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan yang tidak menikah atau telah bercerai. d. Gejala schizophrenia dengan depresi umumnya mempunyai prognosis yang baik. e. Penderita schizophrenia dengan emosi yang terpendam atau respon afektif yang tidak memadai mempunyai prognosis buruk.

27

f. Kepatuhan terhadap terapi. Penderita schizophrenia yang mempunyai keinginan untuk tidak mengalami kekambuhan dengan teratur mengikuti terapi, mempunyai prognosis baik. g. Frekuensi relap atau kekambuhan. Penderita schizophrenia yang sering mengalami kekambuhan akan lebih sulit untuk sembuh dibandingkan yang lebih sedikit karena terjadinya kerusakan kepribadian yang permanen. 7. Karakteristik Kekambuhan Tinggi Schizophrenia merupakan penyakit mental yang mudah mengalami kekambuhan, akan tetapi frekuensi tersebut akan lebih tinggi pada beberapa kondisi. Menurut Soekarto (2004), periode kekambuhan penderita Penderita Schizophrenia dengan

schizophrenia lebih mudah terjadi bila keluarga yang mempunyai anggota keluarga dengan gangguan mental ini tidak mampu menerima kondisi penderita dan memperlihatkan dukungan, kasih sayang, tidak mendengarkan keluhan penderita serta kurang menyediakan waktu melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama. Selain hal tersebut di atas, kekambuhan dapat dipicu oleh keluarga yang kurang mampu berperan dalam memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang dirasakan atau dialami penderita selain pengobatan yang teratur tentunya. Selanjutnya WHO (2007) mengemukakan, schizophrenia merupakan gangguan jiwa yang mengenai sebagian besar golongan usia 15 sampai 35 tahun. Penanganan gangguan jiwa jenis schizophrenia, dapat diberikan di tingkat komunitas dengan melibatkan keluarga juga masyarakat serta paling

28

efektif jika memadukan aspek farmakologikal dan psikososial. Penanganan akan menghasilkan dampak yang diharapkan, bila dilakukan sedini mungkin setelah terjadinya serangan. Penderita schizophrenia yang kurang atau bahkan tidak didukung sama sekali oleh keluarga dan masyarakat agar dapat kembali untuk menjalani kehidupan sosial seperti individu lain akan mudah mengalami kekambuhan. Penderita schizophrenia yang mendapat serangan psikotik ini akan mempunyai frekuensi kambuh lebih tinggi bila berusia muda, laki-laki, tidak segera mendapat pengobatan setelah terjadi gangguan, tidak teratur menjalani terapi, gejala schizophrenia telah lama terjadi, gejala residual schizophrenia maksimal, pengetahuan mengenai schizophrenia dengan segala aspeknya rendah, serangan schizophrenia berlangsung lama, serta terdapat riwayat keluarga dengan gangguan perasaan dan schizophrenia dibandingkan dengan penderita schizophrenia yang tidak memilikinya (Long, 2005). Keluarga yang tidak mendukung atau dukungan yang diberikan tidak optimal terhadap pasien schizophrenia, baik yang sedang menjalani masa penyembuhan atau telah kembali ke tengah keluarga akan memperbesar kemungkinan penderita kambuh kembali. Hal yang sama terjadi bila masyarakat tidak bersedia menerima penderita untuk bekerja dimana penderita selalu kontak dengan tugas sehingga kemungkinan untuk menarik diri ke dunia batinnya menjadi lebih tinggi (Siswanto, 2007, p.83).

29

C. Konsep Rehabilitasi 1. Definisi Rehabilitasi menurut WHO seperti yang dikutip oleh Craig (2005) merupakan serangkaian aplikasi pengukuran yang bertujuan untuk

mengurangi dampak dari kecacatan dan keterbatasan kondisi dan memungkinkan individu dengan keterbatasan untuk mencapai integrasi sosial. Definisi diatas secara implisit mengandung dua komponen utama yaitu proses aktif adaptasi yang dilalui oleh individu dengan keterbatasan atau keahlian yang diperlukan untuk mengurangi keterbatasan yang disebabkan oleh penyakit dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengubah lingkungan termasuk didalamnya mengubah sikap dari individu normal

sehingga tercapai integrasi sosial yang optimal. Lebih lanjut Stuart (2005, p.110) menyatakan bahwa rehabilitasi pada penderita gangguan mental lazim disebut rehabilitasi psikiatrik dimana menggambarkan rentang intervensi dari sosial, edukasi, okupasi, sikap dan kognitif untuk meningkatkan tampilan dari individu yang mengalami penyakit mental serius dan menetap yang berguna untuk meningkatkan penyembuhan atau dapat berfungsi pada tingkat tertinggi yang mungkin dicapai oleh individu. 2. Tujuan Rehabilitasi Rehabilitasi bertujuan untuk mendorong penyembuhan,

mengintegrasikan ke dalam komunitas secara penuh seperti sebelumnya dan

30

meningkatkan kualitas hidup pasien yang pernah didiagnosa dengan gangguan kesehatan mental yang mengakibatkan kerusakan serius

kemampuan individu untuk mengisi kehidupan secara berarti (United States Psychiatric Rehabilitation Association/ USPRA). Tindakan rehabilitasi dapat dinyatakan berhasil bila pasien menunjukkan kemampuan atau keahlian dalam mengerjakan tugas sehari-hari, mampu bekerja, dapat diterima oleh komunitas di lingkungannya atau mempunyai kemampuan menjalin hubungan dengan sesama, dan merasakan kepuasan dalam hidup. Tujuan yang harus dicapai pasien selama masa rehabilitasi menurut Stuart (2005, p.111) meliputi bidang fisik, emosional dan intelektual adalah sebagai berikut : a. Fisik 1) Ketrampilan untuk hidup (living skill) Ketrampilan untuk menjalani hidup meliputi kemampuan pasien untuk menjaga kebersihan diri, menjaga kesehatan jasmani, menggunakan transportasi umum, memasak, berbelanja, membersihkan segala sesuatu, berpartisipasi dalam olah raga, dan menggunakan fasilitas rekreasi secara benar. 2) Ketrampilan belajar (learning skill) Ketrampilan untuk belajar yang harus dicapai pasien agar dapat sembuh selama masa rehabilitasi adalah kemampuan untuk diam, memperhatikan informasi yang diberikan, kemampuan untuk duduk dengan tenang, kemampuan untuk melakukan observasi terhadap lingkungannya dan mengetahui waktu dengan tepat (punctuality).

31

3) Ketrampilan dalam bekerja (working skill) Ketrampilan untuk bekerja yang harus dimiliki pasien secara optimal meliputi dapat tepat waktu, mampu menggunakan peralatan kerja yang diberikan, kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan, kemampuan menggunakan sarana transportasi dalam bekerja, dan dapat

menyelesaikan tugas-tugas khusus dalam bekerja. b. Emosi 1) Ketrampilan untuk hidup (living skill) Ketrampilan hidup secara emosional yang diperlukan pasien untuk menjalani hidup meliputi mampu berhubungan baik dengan sesama, mempunyai kontrol diri, dapat memilih upah (reward) yang diberikan, dapat menghilangkan stigma, dapat memecahkan masalah dan dapat melakukan percakapan dengan benar. 2) Ketrampilan belajar (learning skill) Ketrampilan belajar dari segi emosional yang diperlukan pasien untuk mendorong penyembuhan adalah dapat memulai percakapan, mampu bertanya, dapat menjawab pertanyaan yang diberikan dengan sukarela, mampu mengikuti arahan yang diberikan, mampu bertanya arah yang hendak dituju, dan mampu mendengarkan. 3) Ketrampilan dalam bekerja (working skill) Ketrampilan bekerja dari sudut pandang emosional yang harus dicapai pasien meliputi kemampuan melakukan wawancara untuk

mendapatkan pekerjaan, pengambilan keputusan dalam bekerja,

32

berhubungan dengan sesama rekan kerja, mempunyai kontrol diri dalam bekerja, mampu memelihara pekerjaan dan mampu mengerjakan tugas-tugas yang khusus. c. Intelektual 1) Ketrampilan untuk hidup (living skill) Ketrampilan intelektual yang diperlukan untuk menjalani hidup meliputi kemampuan pasien mengelola keuangan dengan benar, mampu memanfaatkan sumber-sumber di masyarakat, mampu

menetapkan tujuan, dan mampu mengelola masalah. 2) Ketrampilan belajar (learning skill) Ketrampilan belajar secara intelektual yang harus dicapai pasien seperti dapat membaca, menulis, berhitung, bersekolah, melaksanakan hobi dan mengetik. 3) Ketrampilan dalam bekerja (working skill) Ketrampilan berkerja dari sisi intelektual yang harus mampu dipenuhi pasien adalah memenuhi syarat untuk bekerja, mampu mencari pekerjaan dan mampu mengerjakan tugas-tugas yang khusus dalam pekerjaan.