Anda di halaman 1dari 200

i

S u d a r l i n
Editor: Liana Aisyah
Didik Krisdiyanto
Termodinamika Kimia
Penerbit Buku

ii
ii Termodinamika Kimia





TERMODINAMIKA
KIMIA




SUDARLIN







Penerbit Buku





iii
iii


TERMODINAMIKA KIMIA
Penyusun : Sudarlin
Editor : Liana Aisyah, Didik Krisdiyanto
Edisi : Pertama
Cetakan : Pertama


Hak Cipta 2011 pada penulis,
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan
sebagian isi buku ini dalam bentuk apapun, secara elektronis maupun mekanis,
termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan tekanik perekam lainnya, tanpa
izin tertulis dari penerbit.


Penerbit Buku












Sudarlin,
TERMODINAMIKA KIMIA/Sudarlin
edisi pertama Yogyakarta: Penerbit Buku, 2011
cetakan pertama, ix + 190 hal, 14.8 x 21 cm.

ISBN: XXXX-XXX-XXXX-XX-X

Kimia Judul
Penerbit Buku
Alamat : .............. ..............
Telp : .............. ..............
Web : .............. ..............
Email : .............. ..............

iv
iv Termodinamika Kimia







KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR

Reaksi kimia merupakan proses yang selalu melibatkan
energi, baik membutuhkan atau melepaskan energi. Bidang ilmu
kimia yang mempelajari konsep ini secara teoritikal dan
eksprimental disebut termodinamika kimia. Konsep ini sangat
penting bagi seorang kimiawan untuk mempelajari dan
mengeksplorasi suatu reaksi kimia. Namun, keterbatasan sumber
belajar telah mempersulitkan banyak kimiawan, baik mahasiswa,
guru, dosen, atau peneliti untuk memahami konsep ilmu ini.
Buku ini diharapakan membantu mengatasi keterbatan
sumber belajar tersebut. Penjelasan yang digunakan pada buku
sangat terstruktur dengan bahasa yang mudah dipahami. Bab
pertama berisi penjelasan mengenai konsep-konsep dasar
termodinamika dilanjutkan dengan penjelasan sistem kimia yang
sering dipelajari secara termodinamika pada bab kedua.
Konsep inti termodinamika meliputi kesetimbangan termal,
kesetimbangan kimia, dan kesetimbangan fasa sebagai aplikasi dari
hukum pertama, kedua, dan ketiga termodinamika dijelaskan
secara berurutan pada bab tiga hingga bab tujuh. Penjelasan
tersebut disertai contoh dan penyelesaian soal serta kaidah
matematika praktis yang ditampilkan secara pragmatis pada
bagian-bagian tertentu untuk memudahkan pemahaman.
Mudah-mudahan buku ini memberikan manfaat
sebagaimana yang diharapkan dan terima kasih yang sebesar-

v
v
besarnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu. Saran
dan kritik yang konstruktif tetap kami harapkan demi
penyempurnaan buku ini pada edisi selanjutnya.


Yogyakarta, Desember 2011

Penyusun


















vi
vi Termodinamika Kimia







DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................. iv
DAFTAR ISI .......................................................................... vi
KONSEP-KONSEP DASAR .................................................... 1
A. Energetika reaksi kimia .............................................. 1
B. Sistem dan lingkungan ............................................... 3
C. Persamaan keadaan ................................................... 6
D. Fungsi keadaan dan fungsi jalan ................................ 7
E. Proses perubahan keadaan ........................................ 7
F. Kajian termodinamika kimia....................................... 8
G. Fasa zat sistem kimia/fisika........................................ 9
PERSAMAAN KEADAAN GAS............................................... 12
A. Hukum-hukum gas ..................................................... 12
B. Gas ideal ..................................................................... 22
C. Gas real....................................................................... 24
D. Isotherm gas dan titik kritis........................................ 36
E. Asas keadaan yang bersesuaian................................. 40
F. Campuran gas ............................................................. 41



vii
vii
KESETIMBANGAN TERMAL DAN HUKUM PERTAMA
TERMODINAMIKA............................................................... 47
A. Kalor sebagai bentuk energi....................................... 47
B. Kerja............................................................................ 49
C. Energi dalam dan perubahannya ............................... 56
TERMOKIMIA...................................................................... 74
A. Persamaan termokimia.............................................. 74
B. Jenis-jenis perubahan entalpi..................................... 75
C. Penentuan perubahan entalpi (H) ........................... 79
HUKUM KEDUA DAN KETIGA TERMODINAMIKA................ 88
A. Hukum kedua termodinamika.................................... 88
B. Entropi ........................................................................ 90
C. Efisiensi proses termal dan siklus Carnot................... 92
D. Fungsi Helmholtz dan fungsi Gibbs............................ 95
E. Gabungan hukum pertama dan kedua termodinamika 99
F. Hubungan Maxwell..................................................... 101
G. Persamaan fundamental bentuk integral dan persamaan
Gibbs-Duheim................................................................. 103
H. Merancang fungsi termodinamika secara matematis 105
I. Hukum ketiga termodinamika..................................... 106
KESETIMBANGAN KIMIA..................................................... 111
A. Syarat kesetimbangan kimia ...................................... 111
B. Kesetimbangan homogen........................................... 112
C. Kesetimbangan Heterogen......................................... 116
D. Respon Kesetimbangan terhadap Berbagai Kondisi .. 118
KESETIMBANGAN FASA...................................................... 127
A. Fasa dan Transisi Fasa ................................................ 127
B. Jumlah fasa dan komponen dalam campuran ........... 128
C. Sistem Satu Komponen .............................................. 131
D. Sistem Dua Komponen............................................... 142

viii
viii Termodinamika Kimia
APENDIKS............................................................................ 162
Apendiks A: Simbol Termodinamika Kimia..................... 162
Apendiks B: Faktor Konversi ........................................... 164
Apendiks C: Tabel dan Data............................................ 166
INDEKS................................................................................ 184
DAFTAR PUSTAKA............................................................... 188
























ix
ix




1








KONSEP KONSEP KONSEP KONSEP- -- -KONSEP KONSEP KONSEP KONSEP
DASAR DASAR DASAR DASAR


A. Energetika reaksi kimia
Reaksi kimia sebagai proses yang melibatkan penataan
elektron, pemutusan, dan atau pembentukan ikatan antar atom
selalu membutuhkan atau melepaskan energi. Energi dibutuhkan
jika reaksi kimia melibatkan proses eksitasi elektron atau
pembentukan ikatan baru, sebaliknya energi dilepaskan jika reaksi
kimia melibatkan proses emisi elektron atau pemutusan ikatan
antar atom.
Kuantitas dan kualitas energi yang terlibat pada reaksi
kimia tersebut dapat dipelajari secara mikroskopik dan
makroskopik. Ilmu kimia yang mempelajarinya secara mikroskopik
adalah termodinamika statistik dan secara makroskopik adalah
termodinamika kimia. Termodinamika statistik menggunakan
pendekatan teoritis, yakni berdasarkan energi internal masing-
masing partikel. Energi internal tersebut meliputi energi elektron,
energi inti atom, dan energi gerak vibrasi, rotasi, serta translasi
partikel. Masing-masing energi internal ini dapat dihitung secara
kuantum sehingga tidak membutuhkan besaran termodinamika


2
2 Termodinamika Kimia
lainnya. Sebaliknya, termodinamika kimia menggunakan
pendekatan empiris dimana energi molekul dihitung berdasarkan
perubahan besaran termodinamika lainnya.
Besaran termodinamika tersebut meliputi temperatur,
tekanan, dan volume. Jika energi molekul berubah, maka
perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan
temperatur, tekanan, atau volume di sekitar molekul. Perubahan-
perubahan tersebut diamati dan diukur secara kuantitatif untuk
menentukan energi molekul. Oleh karena itu, termodinamika kimia
merupakan cabang ilmu kimia yang meliputi pengamatan dan
pengukuran besaran-besaran termodinamika.

suplemen suplemen suplemen suplemen

Tekanan (p)
Tekanan adalah gaya per satuan luas. Makin besar gaya yang bekerja
pada permukaan tertentu, makin besar tekanannya. Satuan SI tekanan
adalah pascal (Pa) yang dinyatakan sebagai 1 Newton per meter persegi.
1 Pa = 1 Nm-2
Beberapa satuan lain untuk tekanan adalah bar, atm, Torr, dan mmHg,
dimana:
1 atm = 101325 Pa = 1.01325 bar = 760 Torr = 760 mmHg.

Temperatur (T)
Temperatur atau temperatur adalah derajat panas suatu sistem. Sistem
yang terasa panas memiliki temperatur yang lebih tinggi. Sebaliknya,
sistem yang terasa dingin memiliki temperatur yang lebih rendah. Semakin
dingin suatu sistem, semakin rendah temperaturnya. Sebaliknya, semakin
panas suatu sistem ,semakin tinggi temperaturnya.
Temperatur dapat dinyatakan dalam satuan
0
C (Celcius),
0
R (Reamur),
0
F
(Fahrenheit) atau K (Kelvin). Akan tetapi satuan K sebagai satuan SI lebih
sering digunakan dalam analisis termodinamika, dimana:
x
0
C = x + 273.15 K

Volume (V)
Volume adalah ukuran ruang 3 dimensi (panjang, lebar,dan tinggi) yang

3
3 DAFTAR ISI
ditempati suatu sistem. Volume dapat dinyatakan dalam satuan kubik (cm
3
,
dm
3
,m
3
dan seterusnya) sebagai satuan SI atau dalam satuan lain, seperti
L (liter), cc (centimetercubic), dan lain-lain.
1000 cm
3
= 1000 cc = 1 dm
3
= 1 L = 0.001 m
3


Jumlah partikel (n)
Jumlah partikel zat dalam suatu sistem dapat dinyatakan dalam satuan mol,
dimana 1 mol zat mengandung 6.02 x 10
23
partikel. Bilangan ini disebut
bingan Avogadro dengan lambang N.


B. Sistem dan lingkungan
Proses kimia sebagaimana telah disebutkan di atas,
demikian pula proses fisika selalu melibatkan materi dan terjadi
dalam ruang tertentu, misal zat-zat kimia yang direaksi dalam
dalam erlenmeyer, es yang dilelehkan dengan air dalam sebuah
gelas, kayu yang dibakar dengan oksigen dalam ruang terbuka, atau
gas yang dimasukkan ke dalam balon. Materi yang terlibat dan
ruang tempat terjadinya beberapa proses tersebut adalah sistem
termodinamika. Sistem tersebut dikelilingi oleh lingkungan yang
tidak terlibat secara langsung tapi mempengaruhi proses
perubahan. Pemisah antara sistem dan lingkungan termodinamika
disebut batas sistem, seperti terlihat pada gambar 1.1.

Gambar 1.1. Sistem dan lingkungan yang dibatasi oleh batas sistem
Batas antara sistem dan lingkungan dapat bersifat nyata
seperti gas dalam balon atau imajiner seperti air dan es dalam
gelas. Es yang kita masukkan dalam air dapat dianggap sebagai

4
4 Termodinamika Kimia
sistem dan airnya sebagai lingkungan. Namun pada kajian tertentu,
air dan es dapat dianggap sebagai sistem, gelas sebagai batas, dan
udara di sekitarnya sebagai lingkungan.
Penentuan batas antara sistem dan lingkungan dipengaruhi
pula oleh interaksi antara keduanya. Jenis sistem berdasarkan
interkasinya dibagi menjadi tiga:
1. Jika air dan es tersebut ditempatkan pada gelas terbuka
sehingga air dan es yang awalnya terasa dingin akan menjadi
hangat akibat terjadinya pertukaran panas dengan udara
disekitanya dan setelah beberapa saat sejumlah molekul air
yang menguap dapat bercampur dengan udara disekitanya,
maka sistem ini disebut sistem terbuka.
2. Jika air dan es tersebut ditempatkan pada gelas tertutup,
sehingga yang terjadi hanya pertukaran panas dan tidak
disertai pertukaran molekul air (molekul air yang menguap
tidak dapat keluar dari sistem, maka sistem ini disebut sistem
tertutup.
3. Jika air dan es tersebut ditempatkan pada gelas yang dilengkapi
penyekat udara, seperti termos, sehingga baik panas maupun
molekul air tidak dapat berpindah, maka sistem ini disebut
sistem terisolasi.
Gambaran dan penjelasan mengenai sifat pertukaran materi
dan energi ketiga sistem tersebut dapat dilihat pada gambar 1.2
dan tabel 1.1.

Gambar 1.2. Tiga jenis sistem dalam termodinamika

5
5 DAFTAR ISI
Tabel 2.1. Jenis sistem berdasarkan interaksinya
Ada Pertukaran
No Nama Sistem
Panas/Energi Materi
1. Sistem terbuka Ya Ya
2. Sistem tertutup Ya Tidak
3. Sistem terisolasi Tidak Tidak

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Reaksi-reaksi kimia berikut terjadi pada sistem tertentu.
Jelaskan sistem yang memungkinkan proses tersebut terjadi!
a. Kebakaran hutan
b. Senyawa organik yang direfluks dengan pendingin bola
Jawab:
a. Reaksi pembakaran hanya dapat terjadi jika tersedia O
2
.
Selama reaksi terjadi, O
2
dari udara akan terus digunakan
untuk bereaksi dengan senyawa organik yang terbakar,
sehingga terjadi aliran materi dan tentunya juga panas. Oleh
karena itu, proses ini terjadi pada sistem terbuka.
b. Selama proses refluks panas yang diberikan menyebabkan
senyawa kimia yang direfluks dan pelarutnya akan menguap.
Uap yang dihasilkan akan terkondensasi oleh pendingin bola,
sehingga tetesannya akan kembali bercampu, sehingga tidak
terjadi aliran materi. Oleh karena itu, proses ini terjadi pada
sistem tertutup.

Latiha Latiha Latiha Latihan Soal n Soal n Soal n Soal
Tuliskan beberapa contoh proses kimia dan fisika yang terjadi
dalam sistem terbuka, tertutup, dan terisolasi!

6
6 Termodinamika Kimia
C. Persamaan keadaan
Perubahan keadaan sistem sebagaimana disebutkan di atas
dapat diamati dan diukur berdasarkan variabel-variabel tertentu.
Variabel-variabel tersebut dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Variabel intensif adalah variabel yang nilainya tidak tergantung
pada ukuran/luas sistem, contoh tekanan (p), temperatur (T),
besaran-besaran molar, potensial kimia, densitas, dan lain
sebagainya.
2. Variabel ekstensif adalah variabel yang nilainya tergantung
pada ukuran/luas sistem, contoh volume (V), massa (m), jumlah
mol (n), panjang (l), dan lain sebagainya.
Hubungan antara variabel-variabel tersebut dinyatakan
sebagai persamaan keadaan. Contoh persamaan keadaan adalah
persamaan keadaan gas ideal ( pV = nRT), persamaan van der
Waals, dan lain-lain. Persamaan-persamaan tersebut diturunkan
berdasarkan eksprimen-eksprimen terhadap masing-masing
variabel.

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Sifat intensif dapat diformulasikan dari beberapa sifat ekstensif.
Jelaskan pernyataan tersebut dan berikan contoh!
Jawab: Sifat intensif dapat diformulasikan dari beberapa sifat
ekstensif. Contoh yang sederhana adalah perbandingan antara
massa dan volume yang keduanya merupakan sifat ekstensif
menghasilkan sifat intensif yang disebut massa jenis dan tidak
tergantung pada jumlah/ukuran sampel. Contoh yang lain adalah
molaritas sebagai perbandingan antara mol dan volume atau
potensil kimia sebagai perbandingan antara energi bebas Gibbs dan
mol.



7
7 DAFTAR ISI
Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Jelaskan dan berikan contoh secara eksprimen bahwa:
a. Volume adalah variabel ekstensif
b. Temperatur adalah variabel intensif

D. Fungsi keadaan dan fungsi jalan
Perubahan variabel-variabel intensif/ekstensif dalam suatu
sistem kimia/fisika melibatkan energi tertentu yaitu kerja (w) dan
atau kalor (q). Suatu sistem tidak akan berubah jika tidak
melibatkan kerja atau kalor atau suatu sistem yang tidak berubah
dikatakan tidak memiliki kerja atau kalor. Oleh karena itu kerja dan
kalor dipengaruhi oleh proses perubahan sistem, sehingga kerja
dan kalor disebut fungsi jalan.
Selain itu, perubahan variabel-variabel intensif/ekstensif
tersebut akan menyebabkan perubahan energi tertentu dalam
sistem, yaitu energi dalam (U), entalpi (H), entropi (S), energi bebas
Gibbs (G), dan atau energi bebas Helmholtz (A). Kelompok energi ini
tidak dapat diukur secara langsung, tapi hanya dapat diketahui
besar perubahannya (U, H, S, G, atau Anya) berdasarkan
keadaan awal dan akhir sistem sehingga kelompok energi ini
disebut fungsi keadaan atau fungsi termodinamika.

E. Proses perubahan keadaan
Proses perubahan keadaan adalah cara suatu sistem
berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Proses tersebut dapat
dikelompok menjadi dua jenis, yaitu proses reversibel dan proses
irreversibel. Proses reversibel adalah proses yang berlangsung
sangat lambat, sehingga setiap saat sistem selalu berada dalam
keadaan kesetimbangan (quasy-static = seolah-olah statis). Contoh:
H
2
O (l, 100
0
C, 1 atm) H
2
O (g, 100
0
C, 1 atm)
Reaksi ini memperlihatkan air dari fasa cair berubah menjadi air
fasa gas kemudian balik lagi dari air fasa gas menjadi air fasa cair

8
8 Termodinamika Kimia
pada tekanan dan temperatur yang sama. Proses reversibel dapat
terjadi pada temperatur tetap (isotermal), tekanan tetap (isobar),
volume tetap (isokhorik), entropi tetap (isotrop), dan tidak ada
pertukaran panas antara sistem dan lingkungan (adiabatik).
Proses reversibel sangat jarang terjadi, sebaliknya proses
irreversibel adalah proses yang banyak terjadi di alam sekitar.
Proses irreversibel adalah proses yang tidak memenuhi syarat
reversibel.

F. Kajian termodinamika kimia
Pada saat tertentu, proses perubahan suatu sistem kimia
atau fisika akan mencapai keadaan statis, dimana perubahan total
keadaan sistem sama dengan nol. Kondisi ini terjadi jika telah
tercapai kesetimbangan termodinamika baik antara sistem dengan
sistem atau sistem dengan lingkungan. Jenis kesetimbangan
termodinamika yang dipelajari pada proses kimia adalah sebagai
berikut:
1. Kesetimbangan termal yang terjadi jika temperatur sama pada
setiap titik.
2. Kesetimbangan kimia yang terjadi jika reaksi kimia dari reaktan
ke produk atau sebaliknya berlangsung dengan laju yang sama.
3. Kesetimbangan fasa yang terjadi jika perubahan antar fasa
berlangsung dengan laju dan jumlah materi yang yang sama.
Tiga kategori kesetimbangan termodinamika di atas
merupakan objek kajian termodinamika kimia yang dipelajari
berdasarkan hukum-hukum termodinamika. Hukum pertama
termodinamika berkaitan dengan kesetimbagan termal, sedangkan
hukum kedua dan ketiga termodinamika berkaitan dengan
kesetimbangan kimia dan kesetimbangan fasa. Ketiga hukum
termodinamika ini membantu kimiawan untuk:
1. Menentukan kondisi dimana reaksi kimia memungkinkan
terjadi.

9
9 DAFTAR ISI
2. Mengatur dan menvariasikan besaran termodinamika sehingga
diperoleh hasil reaksi yang diinginkan.
3. Memaksimalkan reaksi yang diinginkan atau menghambat
reaksi yang tidak diinginkan jika reaksi kimia meliputi beberapa
jalan.
4. Menentukan kondisi stabil reaktan dan produk yang terlibat
dalam reaksi kimia.

G. Fasa zat sistem kimia/fisika
Materi sebagai objek kajian termodinamika dikelompokkan
ke dalam 3 jenis fasa. Masing-masing fasa tersebut memiliki
pengaruh dan respon yang berbeda terhadap besaran
termodinamika. Ketiga jenis fasa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Padat
Gaya tarik antar partikel penyusun zat padat sangat kuat
sehingga partikel-partikel tersebut hanya bergetar pada posisi yang
sama dan tetap berada dalam satu kesatuan. Jarak antar partikel
yang satu dengan partikel yang lain sangat rapat, sehingga rapatan
atau densitasnya sangat besar. Sifat-sifat tersebut menyebabkan
zat padat tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan variable-
variabel sistem seperti perubahan temperatur atau tekanan.
2. Cair
Gaya tarik antar partikel penyusun zat cair kurang kuat
sehingga partikel-pertikel tersebut bisa bergerak bebas dan
tumpang tindih dengan partikel-partikel yang lain. Sifat-sifat
tersebut menyebabkan bentuk zat cair, seperti air, minyak tanah,
bensin, dan lain-lain bisa mengalir dan berubah-ubah sesuai dengan
wadah yang ditempatinya. Akan tetapi, gaya tarik antar partikelnya
masih relatif kuat untuk menahan partikel-partikel tersebut tetap
dalam satu kesatuan, sehingga meskipun bentuknya dapat
berubah-ubah, pada tekanan dan temperatur yang sama volume
zat cair tetap tidak berubah.


10
10 Termodinamika Kimia
3. Gas
Gas adalah fasa zat yang berbeda dengan dua jenis fasa
sebelumnya. Gaya tarik antar pertikelnya sangat lemah sehingga
jarak antar partikelnya berjauhan, densitasnya sangat kecil, dan
menyebabkan partikel-partikel tersebut dapat bergerak bebas.
Perilaku ini menyebabkan gas memiliki sifat unik yang mudah
diamati, antara lain:
a. Volume dan bentuk sistemnya sesuai wadah.
b. Gerak partikelnya cepat dan bebas serta memberikan tekanan
ke dinding wadah. Semakin banyak partikel-partikel gas,
tekanan sistemnya semakin besar.
c. Gas dapat ditekan dengan tekanan dari luar yang menyebabkan
volume sistemnya menyusut. Jika tekanan luar tersebut
dikurangi, volumenya akan mengembang kembali.
d. Jika temperatur sistem gas bertambah, maka volumenya
bertambah dan sebaliknya jika dikurangi, volumenya akan
menyusut.
e. Jika dua atau lebih zat berfasa gas dicampur pada wadah yang
sama, partikel-partikel masing-masing gas tersebut akan
terdistribusi merata.
Sifat-sifat gas yang telah diuraikan di atas menunjukkan
bahwa gas merupakan sistem kimia/fisika yang sangat dipengaruhi
oleh perubahan volume, tekanan, temperatur, dan jumlah partikel.
Variable-variabel tersebut saling mempengaruhi. Jika salah satu
variable diubah, maka beberapa variabel yang lain akan berubah.
Untuk mengetahui hubungan antar variabel-variabel tersebut dan
bagaimana variabel-variabel tersebut melibatkan fungsi jalan dan
mempengaruhi fungsi keadaan, kajian tentang termodinamika lebih
difokuskan pada sistem gas.
Gambaran ketiga jenis fasa zat sistem kimia/fisika
sebagaimana dijelaskan di atas dapat dilihat pada gambar 1.3.

11
11 DAFTAR ISI

Gambar 1.3. Wujud dan susunan partikel fasa zat
Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan
1. Tuliskan beberapa contoh proses kimia atau fisika yang terjadi
dalam sistem terbuka, sistem tertutup, dan sistem terisolasi!
2. Tuliskan beberapa contoh persamaan keadaan!
3. Berikan contoh dan alasan bahwa perubahan tekanan tidak
terlalu berpengaruh terhadap padatan dan cairan!










12
12 Termodinamika Kimia








PERSAMAAN PERSAMAAN PERSAMAAN PERSAMAAN
KEADAAN GAS KEADAAN GAS KEADAAN GAS KEADAAN GAS


A. Hukum-hukum gas
Gas merupakan jenis fasa sistem yang sangat dipengaruhi
oleh variabel-variabel sistem, seperti volume, tekanan, temperatur,
dan jumlah partikel. Variabel-variabel tersebut saling
mempengaruhi. Jika salah satu variable diubah, maka beberapa
variabel yang lain akan berubah. Salah satu teknik yang sering
dipakai untuk menurunkan hubungan antara variabel-variabel
tersebut adalah dengan menjaga salah satu variabel tetap konstan.
Misal, untuk mengetahui hubungan antara temperatur dan tekanan
gas, maka volume dan jumlah partikelnya harus konstan. Demikian
pula, untuk mengetahui hubungan antara temperatur dan volume
gas maka tekanan dan jumlah partikelnya harus konstan.
1. Hubungan antara volume dan tekanan (hukum Boyle)
Robert Boyle (1627-1691) melakukan eksperimen untuk
menyelidiki hubungan kuantitaif antara tekanan dan volume sistem
gas. Eksperimen ini dilakukan dengan memasukan sejumlah gas
tertentu ke dalam wadah tertutup. Sampai pada pendekatan yang
cukup baik, Boyle menyimpulkan bahwa jika temperatur sistem


13
13 DAFTAR ISI
dijaga konstan (isotermal), maka dengan menambah tekanan
sistem, volume sistem akan berkurang. Demikian pula sebaliknya
dengan mengurangi tekanan sistem, volume sistem akan
bertambah.
Gambaran mengenai eksprimen Robert Boyle dapat dilihat
pada gambar 2.1. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pada
temperatur konstan, tekanan sistem gas berbanding terbalik
dengan volumenya sebagaimana digambarkan dengan grafik pada
gambar 2.2. Hubungan ini dikenal sebagai hukum Boyle.

Gambar 2.1. Hubungan antara tekanan dan volume sistem gas pada
temperatur konstan

Gambar 2.2. Grafik hubungan antara tekanan dan volume sistem
gas pada temperatur konstan

14
14 Termodinamika Kimia
Secara matematis grafik pada gambar 2.2 dapat dijabarkan
sesuai persamaan 2.1. a.
p
V
1
atau

p
k
V = ............................................................. (2.1.a)
Persamaan 2.1.a memperlihatkan bahwa hasil kali antara p dan V
sejumlah gas tertentu pada temperatur konstan adalah sebuah
tetapan. Sehingga untuk keadaan 1 dan 2 dapat dirumuskan sesuai
persamaan 2.1.b.
(tetapan) k pV =
2 2 1 1
V p V p = ......................................................................... (2.1.b)
Jika persamaan 2.1.a diturunkan terhadap p dimana T dan
n konstan, akan diperoleh persamaan 2.1.c.
2
,
p
k
p
V
n T
=
|
|

\
|

.................................................................. (2.1.c)
Substitusi nilai k persamaan 2.1.c dengan nilai k dari persamaan
2.1.b menghasilkan persamaan 2.1.d.
p
V
p
V
n T
=
|
|

\
|

,
.................................................................... (2.1.d)

2. Hubungan antara volume dan temperatur (hukum Charles)
Beberapa tahun setelah Boyle menemukan hubungan
antara volume dan tekanan, seorang ilmuwan berkebangsaan
Prancis yang bernama Jacques Charles (1746-1823) menyelidiki
hubungan antara volume dan temperatur gas. Berdasarkan hasil
eksprimennya, Charles menemukan bahwa apabila tekanan sistem
gas konstan, maka dengan menaikan temperatur sistem, volume
sistem juga akan bertambah. Sebaliknya dengan menurunkan
temperatur sistem, volume sistem juga akan berkurang.
Gambaran mengenai penemuan Jacques Charles dapat
dilihat pada gambar 2.3. Secara sederhana dapat disimpulkan
bahwa pada tekanan konstan, temperatur sistem gas berbanding

15
15 DAFTAR ISI
lurus dengan volumenya sebagaimana digambarkan dengan grafik
pada gambar 2.4. Hubungan ini dikenal sebagai hukum Charles.

Gambar 2.3. Hubungan antara volume dan temperatur sistem gas
pada tekanan konstan

Gambar 2.4. Grafik hubungan antara temperatur dan volume
sistem gas pada tekanan konstan
Apabila garis pada grafik gambar 2.4 digambarkan sampai
temperatur yang lebih rendah maka garis akan memotong sumbu
di sekitar -273,15
o
C. Berdasarkan banyak eksprimen yang telah
dilakukan, ditemukan bahwa walaupun besarnya perubahan
volume setiap jenis gas berbeda-beda, tetapi ketika garis pada
grafik V-T digambarkan sampai temperatur yang lebih rendah maka

16
16 Termodinamika Kimia
garis selalu memotong sumbu di sekitar -273,15
o
C. Secara
sederhana, dapat disimpulkan jika gas didinginkan hingga -273,15
o
C maka volume gas = 0. Oleh karena itu, temperatur -273,15
o
C
adalah temperatur terendah yang bisa dicapai dan ditetapkan
sebagai temperatur nol mutlak dalam satuan Kelvin (K).
Jarak skala Kelvin sama dengan jarak skala Celcius dimana 0
K = -273,15
o
C atau 273,15 K = 0
o
C. Temperatur dalam skala Celcius
(biasanya disimbol t) dapat diubah menjadi skala Kelvin (biasanya
disimbol T) dengan menambahkan 273,15 dan sebaliknya
temperatur dalam skala Kelvin dapat diubah menjadi skala Celcius
dengan mengurangi 273,15. Perhitungan dalam termodinamika
selalu menggunakan temperatur mutlak yang dinyatakan dalam
skala Kelvin. Apabila temperatur masih dalam skala Celcius, maka
harus diubah terlebih dahulu ke dalam skala Kelvin.
Secara matematis hubungan antara volume dan
temperatur pada tekanan sistem konstan dapat dijabarkan sesuai
dengan persamaan 2.2.
T V atau

kT V = ............................................................. (2.2.a)
Persamaan 2.2.a memperlihatkan bahwa perbandingan antara V
dan T sejumlah gas tertentu pada tekanan konstan adalah sebuah
tetapan. Sehingga untuk keadaan 1 dan 2 dapat dirumuskan sesuai
persamaan 2.2.b.
(tetapan) k =
T
V

2
2
1
1
T
V
T
V
= .............................................................................. (2.2.b)
Jika persamaan 2.2.a diturunkan terhadap T dimana p dan
n konstan, akan diperoleh persamaan 2.2.c.
k
T
V
n p
=
|

\
|

,
........................................................................ (2.2.c)
Substitusi nilai k persamaan 2.2.c dengan nilai k dari persamaan
2.2.b menghasilkan persamaan 2.2.d.

17
17 DAFTAR ISI
T
V
T
V
n p
=
|

\
|

,
...................................................................... (2.2.d)

3. Hubungan antara tekanan dan temperatur (hukum Gay
Lussac)
Joseph Gay Lussac (1778-1850) menemukan bahwa apabila
volume sistem gas dijaga konstan, maka dengan menambah
temperatur sistem, tekanan sistem juga akan bertambah. Demikian
juga sebaliknya jika temperatur sistem dikurangi, tekanan sistem
juga akan berkurang.
Gambaran mengenai penemuan Joseph Gay Lussac dapat
dilihat pada gambar 2.5. Secara sederhana dapat disimpulkan
bahwa pada volume konstan, tekanan sistem gas berbanding lurus
dengan temperaturnya. Hubungan ini dikenal sebagai hukum Gay
Lussac.

Gambar 2.5. Hubungan antara temperatur dan tekanan sistem gas
pada volume konstan
Secara matematis hubungan antara tekanan dan
temperatur sistem gas pada volume konstan dapat dijabarkan
sesuai persamaan 2.3.
T p atau
kT p = ................................................................................. (2.3.a)

18
18 Termodinamika Kimia
Persamaan 2.3.a memperlihatkan bahwa perbandingan antara V
dan T sejumlah gas tertentu pada tekanan konstan adalah sebuah
tetapan. Sehingga untuk keadaan 1 dan 2 dapat dirumuskan sesuai
persamaan 2.3.b.
(tetapan) k =
T
p

2
2
1
1
T
p
T
p
= .............................................................................. (2.3.b)
Gabungan antara persamaan 2.3.b dengan persamaan
2.2.b menghasilkan persamaan baru untuk sistem gas pada jumlah
tertentu sesuai persamaan 2.3.c.
2
2 2
1
1 1
T
V p
T
V p
= ....................................................................... (2.3.c)

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Pada tekanan atmosfir (101 kPa), temperatur gas karbondioksida
adalah 20
o
C dan volumenya adalah 2 liter. Apabila tekanan
diubah menjadi 201 kPa dan temperatur dinaikkan menjadi 40
o
C, hitung volume akhir gas karbondioksida tersebut!
Jawab:
Dik: P
1
= 101 kPa Dit: V
2
= ...L
P
2
= 201 kPa
T
1
= 20
o
C + 273 K = 293 K
T
2
= 40
o
C + 273 K = 313 K
V
1
= 2 liter
Penyelesaian:
2 1
2 1 1
2
2
2 2
1
1 1
p T
T V p
V
T
V p
T
V p
=
=


19
19 DAFTAR ISI
( )( )( )
( )( )
L
kPa K
K L kPa
06 . 1
201 293
313 2 101
=
=

Volume akhir gas karbon dioksida = 1,06 L

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Gay Lussac menemukan bahwa volume gas pada tekanan tetap
dapat dinyatakan sebagai V = V
o
(1+a
o
t) dimana V
o
adalah volume
pada saat 0
o
C, t adalah temperatur pada skala derajat Celcius, dan
a
o
adalah sebuah tetapan. Hitung harga a
o
menggunakan
persamaan 3.2.b!
(a
o
= 3.66 x 10
-3

o
C
-1
)
4. Hubungan antara volume dan jumlah partikel (hukum
Avogadro)
Sejauh ini telah ditinjau hubungan antara temperatur,
volume, dan tekanan sistem gas. Massa atau jumlah partikel dalam
sistem gas belum dibahas. Setiap sistem kimia/fisika selalu
melibatkan zat dalam jumlah tertentu. Satuan jumlah yang sering
dipakai dalam sistem termodinamika adalah satuan mol, dimana
satu mol zat memiliki 6.02 x 10
23
partikel. Bilangan ini disebut
bilangan Avogadro (N).
Ketika meniup balon, semakin banyak udara yang
dimasukkan, balon yang ditiup akan semakin mengembang. Dengan
kata lain, semakin banyak partikel gas yang dimasukkan, semakin
besar volume balon sebagaiman diperlihatkan pada gambar 2.6.
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pada temperatur dan
tekanan yang tetap jumlah partikel berbanding lurus dengan
volume gas. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum Avogadro.

20
20 Termodinamika Kimia

Gambar 2.6. Hubungan antara jumlah partikel dan volume sistem
gas pada tekanan dan temperatur konstan
Secara matematis hubungan antara antara jumlah partikel
dan volume sistem gas dapat dijabarkan sesuai persamaan 2.4.
n V atau

kn V = .............................................................. (2.4.a)
Persamaan 2.4.a memperlihatkan bahwa perbandingan antara V
dan n pada temperatur dan tekanan konstan adalah sebuah
tetapan. Sehingga untuk keadaan 1 dan 2 dapat dirumuskan sesuai
persamaan 2.4.b.
(tetapan) k =
n
V

2
2
1
1
n
V
n
V
= .............................................................................. (2.4.b)
Jika persamaan 2.4.a diturunkan terhadap n dimana p dan
T konstan, akan diperoleh persamaan 2.4.c.
k
n
V
p T
=
|

\
|

,
....................................................................... (2.4.c)
Substitusi nilai k persamaan 2.4.c dengan nilai k dari persamaan
2.4.b menghasilkan persamaan 2.4.d.
n
V
n
V
p T
=
|

\
|

,
...................................................................... (2.4.d)
Pada keadaan standar (tekanan 1 bar dan temperatur
273.15 K), volume 1 mol gas adalah 22.4 liter. Volume ini disebut
Volume Avogadro atau Volume Molar Gas (V
m
), yaitu volume yang

21
21 DAFTAR ISI
ditempati gas tiap 1 mol. Volume molar gas selalu dinyatakan
dalam tekanan dan temperatur tertentu.

5. Hubungan antara temperatur, volume, tekanan, dan jumlah
partikel gas
Hukum Boyle, hukum Charles, hukum Gay Lussac, dan
hukum Avogadro baru menurunkan hubungan antara temperatur,
volume, tekanan, dan jumlah partikel gas secara terpisah.
Bagaimanapun keempat variabel ini memiliki keterkaitan erat dan
saling mempengaruhi. Karenanya, dengan berpedoman pada
keempat hukum gas di atas, hubungan yang lebih umum antara
temperatur, volume, tekanan, dan jumlah partikel dapat dipadukan
dalam satu persamaan.
Jika keempat hukum tersebut digabungkan akan diperoleh
kesimpulan bahwa volume gas merupakan parameter yang
dipengaruhi oleh tekanan, temperatur, dan jumlah partikel gas
yang dinyatakan sebagai fungsi volume.
( ) n T p V , , = ......................................................................... (2.5)
atau secara matematis dapat dituliskan sebagai diferensial parsial
sesuai persamaan 3.6.
dn
n
V
dT
T
V
dp
p
V
dV
p T n p
n T
, ,
,
|

\
|

+
|

\
|

+
|
|

\
|

= ...................... (2.6)
Subtitusi persamaan 2.1.d, 2.2.d, dan 2.4.d ke dalam
persamaan 2.6 kemudian dikalikan 1/V dan diintegralkan akan
menghasilkan persamaan 2.7.
dn
n
V
dp
p
V
dT
T
V
dn
n
V
dp
p
V
dT
T
V
dV
T p
n T
n p
+ =
|

\
|

+
|
|

\
|

+
|

\
|

=
,
,
,

masing-masing ruas dikalikan 1/V, maka diperoleh:

22
22 Termodinamika Kimia
dn
n
dp
p
dT
T
dn
n
V
V
dp
p
V
V
dT
T
V
V
dV
V
1 1 1
1 1 1 1
+ =
+ =

masing-masing ruas diintegralkan, maka diperoleh:
( )
( )
4 3 2 1
4 3 2 1
ln ln ln ln
ln ln ln ln
1 1 1 1
C C C C n p T V
C n C p C T C V
dn
n
dp
p
dT
T
dV
V
+ + + + =
+ + + + = +
+ =


dimana ( )
4 3 2 1
C C - C C - + + adalah sebuah konstanta dan dapat
dituliskan sebagai ln R, sehingga persamaan di atas menjadi:
nRT pV
T R n V p
atau
R n T p V
ln ln
ln ln ln ln ln
ln ln ln ln ln
=
+ + = +
+ + = +

nRT pV = .......................................................................... (2.7)
Untuk memudahkan penggunaannya, persamaan 2.7 dapat
dinyatakan dengan menggunakan variabel volume molar (V
m
), yaitu
volume sistem per satu mol gas sesuai persamaan 2.8.
RT pV
m
= .......................................................................... (2.8)

B. Gas ideal
Perlu diketahui bahwa hukum Boyle, hukum Charles,
hukum Gay Lussac, dan hukum Avogadro hanya memberikan hasil
yang akurat pada tekanan rendah dan temperatur tinggi. Pada
kondisi normal atau kondisi sebaliknya, hanya sedikit gas yang
memenuhi hukum ini. Hampir semuanya memberikan
penyimpangan. Berdasarkan kenyataan ini, hukum Boyle, hukum
Charles, hukum Gay Lussac, dan hukum Avogadro yang telah
diformulasikan pada persamaan 2.7 tidak bisa diterapkan untuk
semua jenis dan kondisi gas.

23
23 DAFTAR ISI
Selain itu, kondisi yang disyaratkan oleh persamaan
tersebut (tekanan rendah dan temperatur tinggi) adalah kondisi
yang sangat jarang dipakai, sementara kebutuhan terhadap
persamaan tersebut sangat penting untuk mempelajari keadaan
sistem pada berbagai kondisi. Berdasarkan hal tersebut, disepakati
bahwa persamaan 2.7 dapat digunakan jika sistem gas yang
dianalisis dipostulatkan sebagai gas ideal dan oleh karena itu
persamaan 2.7 disebut sebagai persamaan keadaan gas ideal.
Gas ideal adalah gas yang dipostulatkan bahwa partikel-
partikelnya tidak memiliki interaksi atau gaya tarik menarik dan
tolak menolaknya sama dengan nol. Selain itu, volume partikel-
partikelnya yang sangat kecil diabaikan, sehingga volume sistem
yang dianalisis adalah volume wadahnya. Pada kenyataannya tidak
ada gas yang mutlak bersifat seperti itu. Sebagai contoh, jika gas
tidak memiliki gaya tarik-menarik, maka tidak mungkin untuk
memampatkan gas menjadi cair, seperti nitogen cair. Oleh karena
itu, hasil analisis menggunakan persamaan gas ideal hanyalah
sebuah pendekatan.
Jika suatu gas dipostulatkan bersifat ideal maka
perbandingan T pV pada jumlah tertentu akan selalu tetap sebagai
sebuah tetapan sesuai persamaan 2.7. Hasil eksprimen dan
perhitungan 1 mol gas pada keadaan standar menghasilkan tetapan
tersebut sebesar 0,08206 L atm mol
-1
K
-1
yang selanjutnya dikenal
sebagai tetapan gas ideal dan disimbol R. Tetapan R dalam
beberapa bentuk satuan dilihat pada tabel 1 apendiks C.

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Suatu sampel udara menempati 1,0 L pada 25C dan 1 atm.
Dengan mengunakan persamaan gas ideal, tentukan berapa
tekanan yang diperlukan untuk memampatkan sampel tersebut
menjadi 100 cm
3
?
Jawab:
Dik: V
1
= 1 L V
2
= 100 cm
3
= 0.1 dm
3
= 0.1 L
T = 25
0
C = 298 K p
1
= 1 atm

24
24 Termodinamika Kimia
Dit: p
2
= ... atm
Penyelesaian:
Persamaan gas ideal yang dimaksud adalah pV = nRT dimana
untuk dua keadaan, nilai R sistem sama, sehingga diperoleh:
atm
p
p x
V p V p
T T dan n n
T n
V p
T n
V p
10
1 . 0
1
1 . 0 1 1
so , dimana
2
2
2 2 1 1
2 1 2 1
2 2
2 2
1 1
1 1
=
=
=
=
= =
=

Tekanan yang diperlukan untuk memampatkan sampel udara
tersebut adalah 10 atm.

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Buktikan berdasarkan persamaan gas ideal:
a.
T T
V
V
n p
1 1
,
= == =
| || |

| || |

\ \\ \
| || |


b.
p p
V
V
n T
1 1
,
= == =
| || |
| || |

| || |


\ \\ \
| || |




C. Gas real
Untuk mengatasi kelemahan persamaan gas ideal
dibutuhkan persamaan gas yang lain, yaitu persamaan gas real. Gas
real atau gas nyata adalah kondisi gas yang sebenarnya, yaitu gas
yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Partikel-partikelnya
memiliki gaya tarik menarik dan tolak menolak, terutama pada
tekanan tinggi. Selain itu, volume sistem gas real dipengaruhi pula
oleh volume partikel-partikelnya.
Secara empiris, untuk menyatakan suatu gas bersifat ideal
atau real dapat dilakukan dengan menggunakan faktor

25
25 DAFTAR ISI
kompresibilitasnya (Z), kemampuan untuk dimampatkan, yang
dirumuskan pada persamaan 2.9.
nRT
pV
Z = ............................................................................. (2.9)
Jika nilai Z suatu gas sama dengan 1 (Z =1), maka gas tersebut
bersifat ideal. Sebaliknya, jika nilai Z suatu gas tidak sama dengan 1
(Z 1), maka gas bersifat tidak ideal atau gas real. Gas real dengan
Z < 1 menunjukkan gas real tersebut sangat mudah dimampatkan
menjadi cair karena gaya tarik menarik antar partikelnya lebih
besar. Sebaliknya jika Z > 1, gas real tersebut kurang kompresibel
atau sulit dimampatkan karena gaya tolak menolak antar
partikelnya lebih besar.

Gambar 2.7. Variasi faktor kompresibilitasnya (Z) dengan tekanan
beberapa gas
Bila digambarkan grafik Z versus p pada temperatur
konstan akan diperoleh grafik lurus untuk gas ideal dan grafik
melengkung untuk gas real seperti ditunjukkan gambar 2.7.
Besarnya simpangan garis lengkung gas real tersebut dari garis
lurus gas ideal tergantung pada jenis gas. Gambar 2.7
memperlihatkan bahwa pada tekanan di bawah 400 atm, grafik gas
CH
4
berada di bawah garis lurus gas ideal (Z < 1), sehingga
dikatakan gas CH
4
lebih mudah dimampatkan (lebih kompresibel)

26
26 Termodinamika Kimia
dibandingkan gas ideal di bawah tekanan tersebut. Sebaliknya,
grafik gas H
2
selalu di atas garis lurus gas ideal (Z > 1), sehingga
dikatakan gas H
2
lebih sulit dimampatkan (kurang kompresibel)
dibandingkan gas ideal pada semua rentang tekanan. Semua gas
akan memiliki mendekati kondisi ideal pada tekanan mendekati
nol.
Gambar 2.8 memperlihatkan grafik Z versus p gas H
2
pada
berbagai variasi temperatur. Pada temperatur 35, 50, dan 60 K,
grafik gas H
2
berada di bawah garis lurus gas ideal pada tekanan
rendah dan berada di atas garis lurus gas ideal pada tekanan yang
lebih tinggi. Jika temperatur terus dinaikkan di atas 100 K, grafik gas
H
2
akan selalu berada di atas garis lurus gas ideal pada semua
rentang tekanan.

Gambar 2.8. Faktor kompresibilitas gas H
2
pada berbagai
temperatur
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pada
kondisi isotermal, sifat-sifat gas real adalah fungsi tekanan
(termasuk volume). Kesimpulan ini menjadi alasan untuk menyusun
persamaan yang baru untuk gas real dengan memperhatikan

27
27 DAFTAR ISI
tekanan dan volume sistemnya. Beberapa persamaan yang dapat
digunakan untuk gas real adalah sebagai berikut:
1. Persamaan van der Waals
Pada tahun 1873, van der Waals memberikan koreksi
terhadap volume dan tekanan pada persamaan gas ideal (pV =
nRT). Volume memerlukan koreksi karena volume sistem yang
sebenarnya harus dijumlahkan dengan volume yang ditempati oleh
partikel-partikel gas. Pada gas ideal volume partikel ini diabaikan,
karena nilainya yang terlalu kecil. Besarnya volume partikel-partikel
tersebut ditentukan oleh jenis dan jumlah gas yang dirumuskan
oleh van der Waals sebesar bn dimana b adalah tetapan van der
Waals untuk koreksi volume dan n adalah jumlah mol gas. Dengan
demikian diperoleh volume sistem sebenarnya berdasarkan
persamaan 2.10.
nb V V
ideal real
+ = ................................................................. (2.10)
Van der Waals juga memberikan koreksi terhadap tekanan
sistem gas ideal. Gaya tarik menarik partikel-partikel gas real
menyebabkan benturan partikel-partikel tersebut ke dinding wadah
semakin berkurang sehingga tekanan yang diberikan juga
berkurang (gambar 2.9). Besarnya tekanan yang berkurang tersebut
dirumuskan oleh van der Waals sebesar
2
2
V
an
, sehingga secara
matematis tekanan gas yang sebenarnya sesuai persamaan 2.11.
2
2
V
an
p p
ideal real
= .............................................................. (2.11)
dimana a adalah tetapan van der Waals untuk koreksi tekanan yang
berbeda untuk tiap gas. Cara menentukan tetapan van der Walls
berkaitan dengan titik kritis akan dibahas pada subbab D.

28
28 Termodinamika Kimia

Gambar 2.9. Efek gaya tarik menarik antar partikel-partikel gas
terhadap tekanan sistem
Jika persamaan 2.10 dan 2.11 disubsitusi ke dalam
persamaan gas ideal, akan diperoleh persamaan 2.12 yang disebut
persamaan van der Waals.
nRT V p
l
idea ideal
=
( ) nRT nb V
V
an
p
real real
=
|
|

\
|
+
2
2
.......................................... (2.12)
atau secara sedehana cukup dituliskan:
( ) nRT nb V
V
an
p =
|
|

\
|
+
2
2

Persamaan van der Waals dapat ditata ulang menjadi
persamaan pangkat tiga dengan merubah variable V menjadi
volume molar (V
m
), sehingga diperoleh persamaan 2.13.
b V
RT
V
a
p
m
m

= +
2
................................................................. (2.13)
Jika persamaan 2.13 dimodifikasi ulang akan diperoleh persamaan
pangkat tiga sesuai persamaan 2.14.
0
2 3
= +
|
|

\
|
+
p
ab
V
p
a
V
p
RT
b V
m m m
................................... (2.14)

29
29 DAFTAR ISI
Nilai tetapan van der Waals (a dan b) tergantung pada jenis
gasnya. Nilai tetapan tersebut untuk beberapa jenis gas dapat
dilihat pada tabel 11 apendiks.

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Hitunglah volume molar CO
2
pada 500 K dan 100 atm apabila
mengikuti persamaan Van der

Waals jika diketahui a = 3.610
L
2
atm mol
-2
dan b = 4.29 x 10
-2
L

mol
-1
!
Jawab:
Dik: T = 500 K; p = 100 atm;
a = 3.610 L
2
atm mol
-2
b = 4.29 x 10
-2
L

mol
-1

Dit: V
m
(Van der Waals)= ... L mol
-1

Penyelesaian:
Persamaan van der waals dengan V
m
:
b Vm
RT
Vm
a p

=
|

\
|
+
2
1

Jika ditata ulang akan diperoleh persamaan pangkat tiga:
0
2 3
= +
|
|

\
|
+
p
ab
Vm
p
a
p
RT
b Vm Vm
Sehingga dapat diselesaikan:
0
100 100 100
500 08206 . 0
2 3
= +
|

\
|
+
29 3.610x0.04 3.610
0.0429 Vm
x
Vm Vm
0 00154869 . 0 0361 . 0 4532 . 0
2 3
= + Vm Vm Vm

Menyelesaikan persamaan pangkat 3 dengan cara praktis:

Misal diketahui persamaan pangkat 3 berikut:
o d cx bx ax = + + +
2 3

Maka untuk menentukan nilai x kita gunakan rumus praktis:
( ) ( ) p p r q q p r q q x + + + + + =
3
3
2 2 3
3
2 2

dimana:

30
30 Termodinamika Kimia
a
c
r
a
ad bc
p q
a
b
p
3
;
6
3
;
3
2
3
=

+ = =


Untuk soal di atas diperoleh:
00154869 . 0
0361 . 0
4532 . 0
1
=
=
=
=
d
c
b
a


sehingga nilai p, q, dan r adalah:
012033 . 0
3
0361 . 0
3
149115 . 0
6
00154869 . 0 3 0361 . 0 4532 . 0
151067 . 0
6
3
151067 . 0
3
4532 . 0
3
3
2
3
= = =
=
+
+ =

+ =
=

= =
a
c
r
x x
a
ad bc
p q
a
b
p


Nilai p, q, dan r kita masukkan ke dalam rumus praktis, dan
diperoleh:
( ) ( )
( )
( )
1
3
3
2 2
3
3
2 2
3
3
2 2 3
3
2 2
83622 . 0
151067 . 0
151067 . 0 012033 . 0 149115 . 0 149115 . 0
151067 . 0 012033 . 0 149115 . 0 149115 . 0

=
+ +
+ + + =
+ + + + + =
Lmol
p p r q q p r q q Vm


Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Gunakan persamaan Van der Waals untuk menghitung tekanan
yang dihasilkan oleh 1 mol gas Cl
2
ketika menempati volume 2 L

31
31 DAFTAR ISI
pada 273 K, jika diketahui a = 6.49 L
2
atm mol
-2
dan b = 0.0562 L
mol
-1
!
(p = 9.90 atm)

2. Persamaan Virial
Kelemahan persamaan gas van der Waals adalah
ketidaktelitiannya menggambarkan perilaku gas pada tekanan
tinggi. Suatu persamaan yang dapat menggambarkan perilaku gas
pada tekanan tinggi adalah persamaan virial yang dikembangkan
oleh Kammerlingh Onnes. Bentuk umum persamaan ini sesuai
dengan persamaan 2.15.
|
|

\
|
+ + + + = ... 1
3 2
m m
m
m
V
D
V
C
V
B
RT pV ................................... (2.15)
dengan B, C, D,... adalah koefisien virial kedua, ketiga, keempat,
dan seterusnya. Koefisien ini merupakan fungsi temperatur dan
bergantung pada jenis gas. Dalam bentuk lain persamaan ini
dinyatakan pada persamaan 2.16.
( ) ... ' ' ' 1
3 2
+ + + + = P D P C P B RT pV
m
................................... (2.16)
dimana B, C, D, dan seterusnya adalah fungsi temperatur.
Nilai koefisifien virial kedua, ketiga, keempat dan
seterusnya dapat ditentukan dengan cara membandingkan
persamaan 2.15 dengan persamaan van der Waals, yang keduanya
dinyatakan dalam bentuk fungsi Z terhadap volume. Jika suku yang
lebih tinggi diabaikan, maka fungsi Z persamaan 2.15 dapat
dinyatakan dalam persamaan 2.17.
2
1
m
m
m
V
C
V
B
RT
pV
Z + + = = .................................................... (2.17)
Dengan cara yang sama, fungsi Z untuk persamaan van der
Waals dinyatakan dalam persamaan 2.18
m
m
m
RTV
a
V
b
RT
pV
Z

= =
1
1
.............................................. (2.18)

32
32 Termodinamika Kimia
Pada tekanan rendah nilai
m
V
b
lebih kecil dari satu, sehingga suku
pertama pada ruas kanan persamaan 2.18 dapat diselesaikan
dengan menggunakan deret. Dalam deret dinyatakan bahwa bila x
lebih kecil dari satu, maka:
... 1
1
1
3 2
+ + + + =

x x x
x

Dengan demikian persamaan 2.18 dapat dituliskan:
... 1
... 1
2
2
+
|
|

\
|
+ + =
+
|
|

\
|
+ + =
m m m
m m m
V
b
RTV
a
V
b
RTV
a
V
b
V
b
Z

...
1
1
2
+
|
|

\
|
+
|

\
|
+ =
m m
V
b
V RT
a
b .................................. (2.19)
Dengan membandingkan persamaan 2.17 dan 2.19, diperoleh:
RT
a
b B = dan
2
b C =

Konstanta virial kedua (B) beberapa gas dapat dilihat pada tabel 10
apendiks C.

3. Persamaan Beattie-Bridgeman
Persamaan lain yang cukup teliti adalah persamaan
keadaan Beattie-Bridgeman yang dirumuskan dalam bentuk
persamaan virial sesuai persamaan 2.20.
3 2
m m
m
m
V V
V
RT pV

+ + = .............................................. (2.20)
dengan , , dan masing-masing adalah:

3
0
T
bc B
RT =
|

\
|
+ =
3
0 0
0
T
c B
RT
a A
b B RT
|

\
|
=
3
0
0
T
c
RT
A
B RT

33
33 DAFTAR ISI
Dengan demikian terlihat bahwa persamaan Beattie-Bridgeman
memiliki lima tetapan selain R, yaitu: A
0
, a, B
0
. b, dan c.

4. Persamaan Berthelot
Persamaan yang teliti pada tekanan rendah (sekitar 1 atm
atau lebih rendah) adalah persamaan Berthelot sebagaimana
dinyatakan pada persamaan 2.21.
2
m
m
TV
a
b V
RT
p

= .............................................................. (2.21)
dimana a dan b disebut parameter Berthelot. Nilai parameter a
dan b persamaan ini untuk beberapa gas dapat dilihat pada tabel
12 apendiks C.
Persamaa Berthelot yang lebih akurat dengan melibatkan
tekanan kritis (p
c
) dan temperatur kritis (T
c
) dinyatakan pada
persamaan 2.22. Persamaan ini sering digunakan untuk
menghitung volume dan massa molekul relatif gas.
(
(

|
|

\
|
+ =
2
2
6
1
128
9
1
T
T
T p
pT
V
RT
p
c
c
c
m
......................................... (2.22)

5. Persamaan Redlich-Kwong
Modifikasi persamaan van der Waals yang lebih akurat
dengan melibatkan beberapa turunan diperoleh Otto Redlich dan
Neng Shun Kwong sebagaimana dinyatakan pada persamaan 2.23.
( ) b V V T
a
b V
RT
p
m m m
+

=
2 / 1
.............................................. (2.23)
Persamaan ini disebut persamaan Redlich-Kwong dimana a dan b
disebut parameter Redlich-Kwong yang nilainya ditentukan
berdasarkan persamaan 2. 24 dan 2.25.
c
2 / 5 2
p
4275 . 0
c
T R
a = .............................................................. (2. 24)

34
34 Termodinamika Kimia
c
p
08664 . 0

c
RT
b = ............................................................... (2.25)
Nilai parameter a dan b persamaan ini untuk beberapa gas dapat
dilihat pada tabel 13 apendiks C.
Persamaan Redlich-Kwong sangat akurat jika perbandingan
tekanan normal dan tekanan kritis gas kurang dari setengah
perbandingan temperatur normal dan temperatur kritis (p/p
c
<
T/2T
c
).

6. Persamaan Dieterici
Persamaan keadaan lain yang memperhitungkan interaksi
dan ukuran volume partikel adalah persamaan Dietrici sebagaimana
dinyatakan pada persamaan 2.26.
RT V
a
m
m
e
b V
RT
p

= ................................................................. (2.26)
dimana a dan b disebut parameter Dietrici. Nilai parameter a dan b
persamaan ini untuk beberapa gas dapat dilihat pada tabel 14
apendiks C.

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Diketahui koefisien virial untuk uap isopropanol pada 200 C
adalah B = 388 cm
3
mol
1
dan C = 26.000 cm
6
mol
2
. Hitung Z
dan V dari uap isopropanol pada 200 C dan 10 bar dengan
menggunakan persamaan:
a. Persamaan keadaan gas ideal
b. Persamaan keadaan virial dengan 2 suku
c. Persamaan keadaan virial dengan 3 suku
Jawab:
Dik: T = 200C = 473.15 K
R = 83.14 cm
3
bar mol
1
K
1

Dit: Z = ... V = ... L

35
35 DAFTAR ISI
Penyelesaian:
a. Persamaan keadaan gas ideal
Z = 1
( ) ( )
1 3
934 . 3
10
15 , 473 14 , 83

= = = mol cm
P
RT
V
b. Persamaan keadaan virial dengan 2 suku
RT
BP
RT
PV
Z + = = 1
( ) ( )
( )( )
9014 . 0
15 . 473 14 . 83
546 . 3 10
= = =
RT
PV
Z
( ) ( )
1 3
546 . 3 388
10
15 , 473 14 , 83

= = + = mol cm B
P
RT
V

c. Persamaan keadaan virial dengan 3 suku
2
1
V
C
V
B
RT
PV
Z + + = =
|

\
|
+ + =
2
1
V
C
V
B
P
RT
V
Persamaan diselesaikan secara iteratif:
|
|

\
|
+ + =
+
2
1
1
i i
i
V
C
V
B
P
RT
V
Iterasi 1:
|
|

\
|
+ + =
2
0 0
1
1
V
C
V
B
P
RT
V
Sebagai tebakan awal digunakan V
0
= V
gas ideal
= 3.934
539 . 3
934 . 3
000 . 26
934 . 3
388
1 934 . 3
2
1
=
|

\
|
= V
Iterasi 2:
|
|

\
|
+ + =
2
1 1
2
1
V
C
V
B
P
RT
V
495 . 3
539 . 3
000 . 26
539 . 3
388
1 934 . 3
2
2
=
|

\
|
= V

36
36 Termodinamika Kimia
Iterasi diteruskan sampai selisih antara V
i+1
V
i
sangat kecil.
Setelah iterasi ke 5 diperoleh hasil : V = 3.488 cm
3
mol
1
dan Z =
0.8866.

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Perkirakan koefisien a dan b dalam persamaan keadaan Dieterici
dari konstanta kritis Argon. Hitunglah tekanan yang dilakukan
gas tersebut sebanyak 1 mol pada ruang 1 L bertemperatur 25
o
C!
(a = 0.174 Pa m
6
mol
-2
; b= 3.47 x 10
5
m
3
mol
-1
)

D. Isotherm gas dan titik kritis
Hubungan antara tekanan dan volume pada temperatur
konstan telah digambarkan oleh hukum Boyle sebagai kurva yang
berbanding terbalik. Menurut hukum Boyle, kurva isotherm
tekanan volume tersebut berbentuk hiperbola, seperti ditunjukkan
gambar 2.10.

Gambar 2.10. Kurva isoterm gas ideal pada berbagai temperatur
Semakin tinggi temperatur, hubungan antara p dan V
mendekati garis lurus. Kurva ini digunakan untuk meramalkan
volume sistem jika tekanan dirubah atau sebaliknya tekanan sistem
jika volume dirubah. Asumsi yang digunakan adalah semakin tinggi

37
37 DAFTAR ISI
tekanan sistem, maka volume akan semakin kecil atau sebaliknya,
sebagaimana telah dijelaskan pada subbab hukum-hukum gas.
Namun, tetap harus dipahami bahwa kondisi ini hanya
berlaku untuk gas ideal yang mengasumsikan bahwa partikel-
partikel gas tidak memiliki gaya tarik menarik atau tolak menolak.
Pada gas real, kurva isotherm tekanan dan volume sistem memiliki
bentuk yang berbeda seperti ditunjukkan pada gambar 2.11.
Misalkan suatu gas real pada p
p
V
p
temperaturnya dibiarkan konstan
pada T
1
, kemudian secara perlahan volumenya diturunkan dari V
p

ke V
q
, maka tekanannya akan meningkat dari p
p
ke p
q
. Jika
volumenya dikurangi lagi dari V
q
ke V
r
, ternyata tekanannya tidak
berubah, tetap dengan p
q
. Akan tetapi, jika volumenya diturunkan
sedikit dari V
r
ke V
s
, maka tekanannya akan berubah sangat ekstrim
dari p
q
ke p
s
.

Gambar 2.11. Kurva isotherm gas real pada berbagai temperatur
Perilaku gas real tersebut di atas disebabkan karena pada
posisi p
q
V
q
, gas real mulai terkondensasi menjadi cairan. Selama
proses ini terjadi, tekanan sistem tidak berubah karena proses
tersebut menyebabkan terjadinya kesetimbangan cair-uap. Proses
ini terjadi hingga V
r
, saat semua partikel gas telah
terkondensasikan. Jika volume sistem dirubah dari V
r
ke V
s
, maka

38
38 Termodinamika Kimia
tekanan sistem akan berubah sangat ekstrim karena cairan hampir
tidak dapat ditekan.
Perilaku tersebut akan terjadi pula pada temperatur yang
lebih tinggi dengan garis kesetimbangan yang lebih pendek hingga
garis kesetimbangan tersebut menjadi sebuah titik seperti pada T
3
.
Jika temperatur terus ditingkatkan, maka perilaku gas real akan
mirip dengan perilaku gas ideal. Titik dimana permukaan uap dan
cair yang berada dalam kesetimbangan tidak dapat dibedakan lagi
disebut titik kritis. Temperatur, tekanan, dan volume pada titik
tersebut disebut temperatur kritis (T
c
), tekanan kritis (p
c
), dan
volume kritis (V
c
). Temperatur dan tekanan kritis beberapa gas
dapat dilihat pada tabel 9 apendiks.
Jika perilaku gas real diterapkan pada gas van der Waals
maka akan diperoleh kurva sesuai gambar 2.12. Bentuk kurva ini
berdasarkan pada persamaan van der Waals yang merupakan
persamaan pangkat tiga, sehingga kurvanya memiliki puncak dan
lembah.

Gambar 2.12. Kurva isotherm gas van der Waals pada berbagai
temperatur
Jika volume suatu gas pada T
1
diturunkan secara bertahap
maka tekanan akan sampai ke titik D. Pada titik ini, kondensasi
mulai terjadi, akan tetapi fase cair tidak terbentuk sehingga

39
39 DAFTAR ISI
tekanan akan meningkat hingga titik C. Kondisi ini menyebabkan
tekanan gas di atas tekanan uap kesetimbangan (p
k
), sehingga
bagian ini disebut supersaturated/supercooled uap. Dengan cara
yang sama, jika volume suatu gas pada T
1
dinaikkan secara
bertahap maka tekanan akan sampai ke titik A. Pada titik ini,
penguapan mulai terjadi, akan tetapi fase uap tidak terbentuk
sehingga tekanan akan turun hingga titik B. Kondisi ini
menyebabkan tekanan gas di bawah tekanan uap kesetimbangan
(p
k
), sehingga bagian ini disebut superheated liquid. Keadaan
supersaturated dan superheated adalah keadaan metastable.
Garis BC pada gambar tersebut tidak mungkin diperoleh
secara eksprimen karena lerengnya bernilai posistif. Tidak mungkin
secara eksprimen peningkatan tekanan akan menaikkan volume
atau sebaliknya penurunan tekanan akan mengurangi volume. Oleh
karena itu, bagian ini disebut unstable.
Seperti halnya sifat umum gas real, jika temperatur
dinaikkan garis kesetimbangan akan mencapai titik kritis, dimana
fasa cair dan uap tidak dapat lagi dipisahkan. Secara matematis,
posisi titik kritis ini dapat diperkirakan menggunakan persamaan
van der Waals. Pada saat titik kritis persamaan van der Waals dapat
ditulis sesuai persamaan 2.27.
2
c
m c m
c
c
V
a
b V
RT
p

= ........................................................... (2.27)
Pada titik kritis diketahui, 0

c
T
=
|
|

\
|
m
dV
dP
dan 0

c
T
=
|
|

\
|
m
dV
dP
, sehingga
turunan persamaan 2.27 menghasilkan persamaan 2.28 dan 2.29
0
V

) - (V
RT
-

3
m
2
m
c
T
c c
c
= + =
|
|

\
|
a
dV
dP
m
2
b
................................ (2.28)
( )
0
6

2


4 3 2
2
=

=
|
|

\
|
c c
c
m m
c
T
m
V
a
V
RT
dV
P d
b
............................... (2.29)
Penyelesaian 2.27, 2.27, dan 23.29 menghasilkan:

40
40 Termodinamika Kimia
Rb
a
b
a
b V
c m
27
8
T ;
27
p ; 3
c
2
c
= = =
dan tetapan van der Waals:
c m c m
V V a
3
1
b dan p 3
c
2
= =

E. Asas keadaan yang bersesuaian
Persamaan van der Waals terikat oleh jenis gas yang
dianalisis karena melibatkan tetapan a dan b. Akan tetapi,
persamaan ini dapat ditata ulang menjadi persamaan yang dapat
digunakan untuk semua jenis gas. Jika nilai a, b, dan R yang
diperoleh pada titik kritis disubsitusi ke persamaan van der Waals
akan dihasilkan persamaan 2.30.
2
2
3
3
3
8
m
c m c
c m
m c
c m c
V
V p
V
V T
T V p
p
|
|

\
|

= ........................................... (2.30)
yang dapat ditata ulang menjadi persamaan 2.31.
2
3
1 3
8
|
|

\
|

=
c
m
m
c m
m
c
c
V
V
V
V
T
T
p
p
................................................... (2.31)
Persamaan 2.31 mengandung variabel
c
p
p
,
c
T
T
, dan
c m
m
V
V

yang disebut variabel tereduksi, yaitu tekanan tereduksi disimbol
p
r
, temperatur tereduksi disimbol T
r
, dan volume tereduksi disimbol
V
r
. Dengan demikian, persamaan 2.31 menjadi lebih sederhana
sesuai persamaan 2.32.
2
3
1 3
8
r
r
r
r
V
V
T
p

= ............................................................... (2.32)

41
41 DAFTAR ISI
Persamaan 2.32 bermakna jika dua atau lebih sistem gas
mempunyai tekanan reduksi san temperatur reduksi yang sama,
maka volume reduksinya juga akan sama. Pernyataan ini disebut
asas keadaan yang bersesuaian. Aplikasi dari asas ini dapat dilihat
pada grafik faktor kompresibilitas gas versus tekanan tereduksinya
beberapa gas pada gambar 2.13. Gambar tersebut memperlihatkan
keempat gas pada T
r
yang sama mempunyai titik yang membentuk
kurva yang sama.

Gambar 2.13. Faktor kompresibilitas terhadap tekanan tereduksi

F. Campuran gas
Persamaan keadaan gas tidak hanya berlaku pada sistem
yang terdiri dari satu jenis gas saja, tetapi juga dapat digunakan
untuk sistem campuran gas. Jika beberapa gas yang tidak saling
bereaksi dicampur dalam satu wadah, masing-masing gas akan
memberikan tekanan yang berbeda. Tekanan yang diberikan setiap
gas disebut tekanan parsial. Besarnya tekanan parsial gas akan
sama dengan tekanan gas itu jika sebagai gas murni dalam suatu
wadah (gambar 2.14).

42
42 Termodinamika Kimia

Gambar 2.14. Tekanan total sistem adalah kontribusi tekanan
masing-masing komponen
Secara sederhana dapat dirumuskan bahwa tekanan total
sistem campuran gas adalah jumlah tekanan parsial semua
komponennya. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum Dalton.
Secara matematis, hukum Dalton dapat dituliskan sesuai
persamaan 2.33.
+ P + P = P P
C B A total
...................................................... (2.33)
dimana P
total
adalah tekanan total gas, P
A
, P
B
, dan P
C
adalah tekanan
parsial masing-masing komponen gas.
Tekanan parsial masing-masing gas dapat dihubungkan
dengan tekanan total sistem menggunakan fraksi molnya. Misal
untuk sistem yang terdiri dari gas A dan gas B.
RT n V p
RT n V p
B B
A A
=
=

( ) ( )
RT n V p
RT n n V p p
total total
B A B A
=
+ = +

Maka besarnya tekanan parsial gas A (P
A
) dan B (P
B
) berdasarkan
fraksi molnya adalah persamaan 2.34.
total
A
total
A
total
A
total
A
n
n
p
p
RT n
RT n
V p
V p
=
=

+

43
43 DAFTAR ISI
A
total
A
X
p
p
=

total A A
p X p = ............................................................... (2.34.a)
atau
total B B
p X p = .............................................................. (2.34.b)

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Suatu campuran gas terdiri dari 320 mg metana, 175 mg argon
dan 225 mg nitrogen. Tekanan parsial nitrogen pada 300 K
adalah 15,2 kPa.
a. Tentukan volume campuran gas tersebut!
b. Tentukan tekanan total campuran gas tersebut!
Jawab:
Dik: Dit:
gas CH
4
= 320 mg = 0.32 g a. V
total
= ... L
gas Ar = 175 mg = 0.175 g b. p
total
= ... atm
gas N
2
= 225 mg = 0.225 g
p N
2
= 15.2 kPa = 0.15 atm
T = 300 K
Penyelesaian:
Langkah pertama: gambarkan terlebih dahulu
sistem ketiga gas:
Berdasarkan hukum Dalton:
V
total
= VN
2
= VAr = VCH
4

p
total
= pN
2
+ pAr + pCH
4


a. Volume total sistem adalah:
2
2
2 2
2 2 2
N
N
total
N total N
N N N
p
RT n
V
RT n V p
RT n V p
=
=
=


44
44 Termodinamika Kimia
L
x x
3187 . 1
15 . 0
300 08206 . 0 0080357 . 0
=
=

b. Untuk menentukan tekanan total sistem (p
total
), anda harus
menghitung semua tekanan parsial masing-masing gas:
atm
x x
V
RT n
p
RT n V p
RT n V p
total
CH
CH
CH total CH
CH CH CH
37 . 0
15 . 0
300 08206 . 0 02 . 0
4
4
4 4
4 4 4
=
=
=
=
=

atm
x x
V
RT n
p
RT n V p
RT n V p
total
Ar
Ar
Ar total Ar
Ar Ar Ar
0817 . 0
15 . 0
300 08206 . 0 004375 . 0
=
=
=
=
=

Hasilnya adalah:
atm
p p p p
CH Ar N
l
tota
6017 . 0
37 . 0 0817 . 0 15 . 0
4 2
=
+ + =
+ + =

Soal b di atas dapat pula diselesaikan dengan asumsi bahwa
tekanan parsial masing-masing gas sebanding dengan fraksi
molnya, sehingga tekanan total gas:
4 2
2
2 2
CH Ar N
N
total
N total N
mol mol mol
mol
x p
xf p p
+ +
=
=


45
45 DAFTAR ISI
2
4 2
2
N
CH Ar N
N total
mol
mol mol mol
x p p
+ +
=

atm
x
x
605 . 0
0080357 . 0
0324107 . 0
15 . 0
0080357 . 0
02 . 0 004375 . 0 0080357 . 0
15 . 0
=
=
+ +
=

Hasil yang diperoleh akan sama.

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Suatu wadah berisi campuran gas terdiri nitrogen dan oksigen
dengan massa nitrogen 3 lbm. Sebelum ditambah oksigen, mula-
mula nitrogen bertekanan 320 psi dengan temperatur 900F.
Tekanan naik menjadi 400 psi setelah ditambah oksigen,
temperatur dijaga konstan. Hitunglah volume nitrogen dan
oksigen!
(1,973 ft dan 3,135 ft3)

Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan
1. Gas helium sebanyak 2 mol bertekanan 2 atmosfer pada
temperatur 27C dimuaikan hingga volumenya dua kali semula.
Tentukan:
a. kerja gas tersebut terhadap tekanan luar tetap 1 atmosfer
b. kerja gas tersebut terhadap tekanan luar tetap 4/3
atmosfer, diikuti kerja lanjutannya terhadap tekanan luar
tetap 1 atmosfer
c. kerja reversibel gas tersebut
(Anggap gas helium sebagai gas ideal)
2. Turunkan hubungan temperatur dan volume untuk suatu gas
ideal monoatom yang memuai secara adiabatik. Petunjuk:

46
46 Termodinamika Kimia
gunakan bentuk diferensial dari energi dalam, kerja, dan
keterkaitannya dengan kalor jenis.
3. Sampel 255 mg neon menempati 3 L pada 122 K. Gunakan
hukum gas ideal untuk menghitung tekanan gas tersebut!
4. Rapatan suatu campuran gas adalah 1.23 g L
-1
pada 330 K dan
150 Torr. Berapa massa molar campuran tersebut?
5. Perkirakan volume molar CO
2
pada 500 K dan 100 atm dengan
memperlakukannya sebagai gas van der Waals!
6. Hitunglah tekanan yang dilakukan oleh 1 mol C
2
H
6
yang
berperilaku sebagai:
a. gas ideal, dan
b. gas van der Waals jika gas itu ditempatkan di bawah
kondisi-kondisi berikut (i) pada 273.15 K dalam 22.414 L
dan (ii) pada 1000 K dalam 100 cm
3
.
7. Sampel argon dengan volume molar 17.2 L mol
-1

dipertahankan pada 10 atm dan 280 K. Pada volume molar,
tekanan, dan temperatur berapa sampel nitrogen dalam
keadaan yang berkesesuaian seperti itu?
8. Sebuah tabung dengan volume 22.4 L berisi 2 mol H
2
dan 1 mol
N
2
pada 273.15 K. Hitunglah:
a. fraksi mol setiap komponen
b. tekanan parsialnya
c. tekanan totalnya
9. Gunakan parameter van der Waals Cl
2
untuk menghitung nilai
hampiran:
a. Temperatur Boyle Cl
2

b. Jari-jari molekul Cl
2
yang dianggap berbentuk bola.
10. Volume kritis dan tekanan kritis gas tertentu adalah 160 cm
3

mol
-1
dan 40 atm. Perkirakanlah temperatur gas dengan
menganggap bahwa gas itu memenuhi persamaan keadaan
Berthelot. Dugalah jari-jari molekul gas dengan asumsi bahwa
molekul tersebut berbentuk bola.

47
47 DAFTAR ISI








KESETIMBANGAN TERMAL KESETIMBANGAN TERMAL KESETIMBANGAN TERMAL KESETIMBANGAN TERMAL
DAN HUKUM PERTAMA DAN HUKUM PERTAMA DAN HUKUM PERTAMA DAN HUKUM PERTAMA
TERMODINAMIKA TERMODINAMIKA TERMODINAMIKA TERMODINAMIKA


A. Kalor sebagai bentuk energi
Selain menghasilkan produk baru, reaksi kimia dapat pula
menghasilkan atau mengubah bentuk energi. Contoh yang sangat
mudah kita temukan adalah proses metaboslime dalam tubuh
manusia yang menghasilkan energi sehingga manusia dapat
beraktivitas. Energi tersebut berasal dari bahan makanan yang
mengalami proses penguraian dalam tubuh menghasilkan energi
dalam bentuk kalor. Contoh yang lain adalah gerakan piston mesin
motor karena memperoleh energi mekanik dari energi kalor hasil
reaksi pembakaran bensin.
Selain dapat diubah menjadi bentuk energi yang lain,
energi kalor dapat pula ditransfer, baik dari sistem ke
lingkungannya, lingkungan ke sistem tertentu, atau antar sistem
yang berbeda. Contoh yang sederhana adalah saat es yang
bertemperatur dingin dimasukkan ke dalam air hangat. Saat
sebagian es mulai berubah menjadi air, maka temperatur air mulai


48
48 Termodinamika Kimia
turun lebih rendah dari sebelumnya. Hal ini disebabkan kontak
termal antara air dan es menyebabkan sebagian kalor dari air
ditransfer ke es. Transfer ini menyebabkan perubahan sifat
mikroskopik es sehingga berubah menjadi air.
Proses di atas berlangsung secara irreversibel, hingga
terjadi kesetimbangan termal, yakni saat perubahan temperatur
sistem mulai konstan. Kesetimbangan termal merupakan proses
reversibel, dimana perubahan yang kecil selalu disertai perubahan
yang berlawanan sehingga sistem tetap dalam kesetimbangan.
Konsep ini mengharuskan semua sistem yang melakukan kontak
termal akan mencapai kesetimbangan termal sehingga dapat
dirumuskan bahwajika sistem A dan B masing-masing dalam
kesetimbangan termal dengan sistem C, maka sistem A dan B
mengalami kesetimbangan termal satu sama lain. Pernyataan ini
dikenal hukum kenol termodinamika.
Lambang energi kalor sebagaimana disebutkan di atas
adalah q dengan satuan kalori (kal) atau Joule (J), dimana 1 kal =
4,186 Joule. Jika sistem mendapatkan kalor dari lingkungannya,
maka nilai kalor sistem tersebut positif (+) dan disebut proses
endotermis. Sebaliknya, jika sistem memberi atau melepas kalor ke
lingkungannya, maka nilai kalor sistem tersebut negatif (-) dan
disebut proses eksotermis .
Jumlah kalor yang diterima atau dilepaskan oleh sebuah
sistem tersebut berbanding lurus dengan perubahan
temperaturnya sebagaimana diperlihatkan pada persamaan 3.1.
Konstanta C pada persamaan tersebut adalah kapasitas kalor
sistem, yakni besarnya kalor yang diterima/dilepaskan sistem untuk
menaikkan/menurunkan temperaturnya sebesar satu derajat.
q = C T .............................................................................. (3.1)
Perubahan kalor suatu sistem sangat dipengaruhi jenis,
volume, dan tekanan sistem serta intensitas kalor yang diterima.
Jika sistem menerima kalor dengan jumlah dan intensistas yang
tinggi maka kalor sistem dapat berubah dengan cepat. Sebaliknya,
jika sistem menerima kalor dengan jumlah dan intensistas yang
rendah maka kalor sistem berubah dengan lambat. Oleh karena itu

49
49 DAFTAR ISI
perubahan kalor suatu sistem merupakan merupaka fungsi jalan
karena dipengaruhi oleh proses. Perubahan kalor yang sangat kecil
disimbol q dapat diselesaikan dengan diferensial tak eksak.

B. Kerja
Kalor sebagai bentuk energi dimanfaatkan untuk
melakukan kerja kerja (w). Jika sistem melakukan kerja, maka w
bernilai negatif (-), sebaliknya jika sistem menerima kerja, maka w
bernilai posistif (+). Jenis kerja tersebut dapat berupa kerja listrik,
mekanik, magnetik, ekspansi, dan kompresi. Kerja yang paling
banyak berkaitan dengan sistem termodinamika adalah kerja
ekspansi dan kompresi.
Kerja ekspansi adalah kerja yang terjadi apabila volume
sistem membesar melawan tekanan lingkungannya seperti
diperlihatkan pada gambar 3.1. Pada proses ini perubahan
disebabkan sistem melakukan kerja, sehingga nilai w bernilai
negatif.

Gambar 3.1. Kerja ekspansi oleh suatu sistem
Mula-mula volume sistem sebesar V
1
, kemudian tekanan
sistem diturunkan dan dijaga konstan pada p
2
sehingga volume
sistem bertambah menjadi menjadi V
2
. Besarnya kerja yang
dilakukan oleh sistem secara mekanik dirumuskan sesuai
persamaan 3.2.


50
50 Termodinamika Kimia
( )
( ) Ah p
h pA
Fh w
=
=
=

V p = ........................................................................... (3.2)
dimana tanpa (-)menunjukkan sistem melakukan kerja.
Kerja kompresi adalah kebalikan dari kerja ekspansi.
Persamaan yang digunakan untuk menentukan kerja kompresi
sama dengan persamaan yang digunakan untuk kerja ekspansi.
Nilai kerja kompresi selalu positif karena sistem menerima kerja.

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Hitunglah besarnya kerja yang dilakukan oleh suatu sistem yang
mengalami kerja ekspansi melawan p = 2 atm dengan perubahan
V = 10 L!
Jawab:
J , = -
L.atm = -
L atm x = -
w = - pV
4 2026
20
10 2

Tanda (-) hanya untuk menunjukkan bahwa sistem melakukan
kerja.

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Gas tertentu gas berada dalam wadah yang memiliki volume 2 m
3

dan tekanan 4 atm. Hitung kerja luar yang dilakukan gas jika :
a. Gas diekspansi pada tekanan tetap sehingga volumnya
mejadi dua kali semula.
b. Gas dikompresi pada tekanan tetap sehingga volumnya
mejadi sepertiga semula.
(a. 8 x 10
5
J; b. -5.33 x 10
5
J)

51
51 DAFTAR ISI
1. Kerja sebagai fungsi jalan
Kerja merupakan fungi jalan yang ditentukan oleh proses
atau cara sistem melakukannya. Hal tersebut dapat dipahami
menggunakan contoh kerja ekspansi berikut:
a. Kerja ekspansi dengan banyak tahap
Pada kondisi isotermal, jika tekanan diturunkan dari p
1
ke
p
2
dan dijaga konstan sehingga sistem berekspansi dari V
1
ke V
2
seperti ditunjukkan pada gambar 3.2, maka kerja yang dilakukan
sistem adalah luas persegi panjang A pada kurva gambar 3.3. Jika
tekanan diturunkan lagi dan dijaga konstan pada p
3
sehingga sistem
berekspansi dari V
2
ke V
3
, maka kerja yang dilakukan sistem adalah
luas persegi panjang B. Jika tekanan diturunkan lagi sesuai urutan
gambar maka kerja yang dilakukan sistem berturut-turut adalah
luas persegi panjang C dan D.

Gambar 3.2. Kerja ekspansi sistem dengan banyak tahap

Gambar 3.3. Kurva kerja ekspansi sistem dengan banyak tahap

52
52 Termodinamika Kimia
b. Kerja ekspansi dengan satu tahap
Jika tekanan diturunkan dan dijaga konstan dari p
1
langsung
ke p
5
sehingga sistem berekspansi dari V
1
ke V
5
seperti ditunjukkan
pada gambar 3.4., maka kerja yang dilakukan sistem adalah luas
persegi panjang yang diarsir pada kurva gambar 3.5.

Gambar 3.4. Kerja ekspansi sistem dengan satu tahap

Gambar 3.5. Kurva kerja ekspansi sistem pada p konstan satu
tahap
Uraian di atas memperlihatkan bahwa jika sistem berubah
dari keadaan awal yang sama ke keadaan akhir yang sama pula tapi
dengan cara yang berbeda, maka kerja yang dibutuhkan akan

53
53 DAFTAR ISI
berbeda. Kerja ekspansi dengan banyak tahap membutuhkan kerja
yang lebih banyak daripada kerja ekspansi satu tahap.
Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Hitunglah kerja yang dilakukan jika gas melakukan proses A-B-C
seperti terlihat pada grafik p-V di bawah ini.
Jawab:
J w
x x w
) - )( - ( w
x tinggi x alas w
tiga luas segi w
us luas sikl usaha
375000
250000 3
100000 350000 1 4
=
=
=
=
=
=



Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Jelaskan dan berikan contoh secara matematis atau analogi
bahwa kerja merupakan fungsi jalan!

2. Kerja reversibel dan irreversibel
Kerja yang dilakukan dengan banyak tahap hingga tak
terhingga jumlah dan lambatnya akan membentuk kesetimbangan
yang sangat banyak pula. Pada tiap tahap perubahan volume yang
sangat kecil (dV) akan disertai perubahan tekanan sistem (p) yang
selalu menyesuaikan dengan tekanan lingkungan (p
eks
), sehingga
tiap tahap p = p
eks
. Proses ini disebut proses yang revesibel dan
kerja yang dilakukan sistem adalah luas daerah yang diarsir pada
gambar 3.6.

54
54 Termodinamika Kimia

Gambar 3.6. Kurva kerja ekspansi sistem reversibel
Perubahan volume yang sangat kecil (dV) menyebabkan
kerja sistem tiap tahapnya juga berubah sangat kecil (w). Simbol
untuk menunjukkan kerja (w) sebagai fungi jalan yang dapat
diturunkan dengan diferensial tak eksak. Jika fungsi keadaan
disimbolkan d dan diturunkan dengan diferensial eksak. Secara
matematis, besarnya kerja reversibel tiap tahap tersebut dapat
diturunkan dengan diferensial tak eksak sebagai berikut:
w dV p
eks
=
dimana p = p
eks
. Subtitusi p
eks
oleh p menghasilkan persamaan 3.3.
w pdV = ......................................................................... (3.3)
Jika gas dalam sistem dianggap sebagai gas ideal

, maka p
dapat diganti dengan p gas ideal
|

\
|
=
V
nRT
p , sehingga diperoleh:
w dV
V
nRT
=
Hasil integrasi persaman tersebut jika sistem berekspansi dari V
1
ke
V
2
secara isotermal, dirumuskan sesuai persamaan 3.4.

Pembahasan topik-topik selanjutnya akan lebih sering menganggap sistem sebagai gas ideal
agar memudahkan pemahaman. Untuk tingkat lanjut, dapat dianggap sebagai gas real
menggunakan persamaan van der Waals atau persamaan yang lain.

55
55 DAFTAR ISI

1
2
ln
V
V
nRT w = .............................................................. (3.4)
Sebaliknya jika kerja sistem hanya dengan satu tahap
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka sistem hanya
membentuk satu kali kesetimbangan, yaitu pada akhir proses. Pada
saat kesetimbangan tekanan sistem sama dengan tekanan
lingkungan (p
eks
). Proses ini disebut proses irreversible. Kerja yang
dilakukan oleh sistem irreversibel telah digambarkan pada gambar
3.5 berupa luas persegi panjang. Secara matematis, besarnya kerja
yang dilakukan oleh sistem irreversibel dirumuskan pada
persamaan 3.5.
V p w
eks
=
( )
1 2
V V p w
eks
= ............................................................... (3.5)
Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa kerja reversibel
selalu bernilai lebih besar dari kerja irreversibel. Oleh karena itu,
kerja reversibel adalah kerja maksimun yang bisa dilakukan oleh
sistem, sementara kerja irreversibel adalah kerja minimum yang
bisa dilakukan oleh sistem pada kondisi yang sama.

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Temperatur tiga mol suatu gas ideal 373 K. Berapa besar kerja
yang dilakukan gas dalam pemuaian secara isotermal untuk
mencapai empat kali volume awalnya ?
Jawab:
Dik: n = 3 mol R = 8,31 J mol
-1
Dit: w = ...?
T = 373 K V
2
= 4V1

[ ]
( )
1 2
2
1
2
1
ln ln
ln
1
V V nRT w
V nRT w
dV
V
nRT dw
=
=
=


56
56 Termodinamika Kimia
Penyelesaian:
J ,
x x , x
V
V
x , x
V
V
nRT W
999 12890
4 ln 373 31 8 3
4
ln 373 31 8 3
ln
1
1
1
2
=
=
|
|

\
|
=
|
|

\
|
=


Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Hitunglah besar kerja yang dilakukan jika 50 g besi beraksi
dengan asam hidroksida dalam:
a. tabung tertutup dengan volume tertentu,
b. gelas kimia terbuka pada temperatur 25
0
C.
(0 dan 2.2 kJ)

C. Energi dalam dan perubahannya
1. Energi dalam sebagai fungsi keadaan
Dalam konsep termodinamika, energi dapat didefinisikan
sebagai kemampuan sistem untuk melakukan kerja. Keseluruhan
energi yang dimiliki oleh suatu sistem pada keadaan tertentu
disebut energi dalam dan disimbol U. Energi dalam merupakan
fungsi keadaan yang ditentukan oleh keadaan awal dan akhir
sistem, tidak ditentukan oleh proses atau jalan perubahan sistem.
Misal suatu sistem dengan energi dalam awal adalah U
1
mengalami
perubahan sehingga energi dalamnya menjadi U
2
, maka yang dapat
ditentukan hanyalah perubahan energi dalam U, yaitu U = U
2
-
U
1
.
Perubahan energi dalam suatu sistem disebabkan oleh
variable fungsi jalan yang telah dibahas sebelumnya, yaitu kerja (w)
dan kalor (q). Hubungannya dapat dilihat pada persamaan 3.6.

57
57 DAFTAR ISI
q w U + = ......................................................................... (3.6)
Energi dalam merupakan fungsi keadaan yang dapat diturunkan
sebagai diferensial eksak sesuai persamaan 3.7.
dU = w + q ...................................................................... (3.7)

2. Hukum kekekalan energi sebagai pernyataan hukum pertama
termodinamika
Harga w dan q dapat bernilai positif atau negatif, sehingga
U dapat pula bernilai positif atau negatif. Jika U bernilai positif
berarti sejumlah energi (kerja atau kalor) dipindahkan dari
lingkungan ke dalam sistem yang menyebabkan lingkungan
kehilangan sejumlah energi. Sebaliknya, jika U bernilai negatif
berarti sistem memindahkan sejumlah energinya ke lingkungan.
Proses termodinamika tersebut hanya berupa transfer
energi dari sistem ke lingkungan atau sebaliknya dari lingkungan ke
sistem sehingga energi total alam semesta tidak berkurang atau
bertambah. Pada proses apapun energi total alam semesta
bersifat kekal. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum kekekalan
energi atau hukum pertama termodinamika.
Secara matematis, pernyataan hukum pertama
termodinamika dinyatakan sesuai persamaan 3.6 atau 3.7. Jika
kerja (w) pada persamaan tersebut disubtitusi sebagai kerja
ekspansi atau kompresi, maka persamaan 3.7 dapat dituliskan
sesuai persamaan 3.8.
dU = pdV + q..................................................................... (3.8)







58
58 Termodinamika Kimia
Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Gas dalam suatu ruangan tertutup menyerap kalor 2500 J dan
dalam waktu yang bersamaan melakukan kerja sebesar 3000 J.
Berapa perubahan energi dalamnya, bagaimana temperatur gas
itu setelah proses?
Jawab:
Dik: q = 2500 J Dit: U = ...?
w = -3000 J
Penyelesaian:
J
q w U
500
2500 3000
=
+ =
+ =

Karena energi dalam bernilai negatif, maka temperatur sistem
turun.

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Jika sebuah pegas diputar, kerja 100 J dilakukan padanya, tetapi
15 J terlepas ke lingkungannya sebagai kalor. Berapa perubahan
energi dalam pegas?
(+ 85 J)

3. Perubahan energi dalam pada sistem tertutup
Jika keadaan sistem berubah maka energi dalam sistem
juga akan berubah. Perubahan keadaan sistem tersebut disebabkan
oleh berubahnya variable-variabel keadaan, seperti tekanan (p),
volume (V), temperatur (T), dan jumlah mol (n). Dengan demikian,
perubahan energi dalam suatu sistem ditentukan pula oleh
variable-variabel tersebut.
Pada sistem terisolasi dan tertutup, jumlah mol zat (n) tidak
berubah, sehingga perubahan energi dalam sistem tidak
dipengaruhi oleh n. Perubahan energi dalamnya hanya dipengaruhi

59
59 DAFTAR ISI
oleh p, V, dan T. Akan tetapi, p merupakan pasangan V, sehingga
cukup dipilih salah satunya. Variabel yang harus dipilih adalah V
karena menentukan besarnya kerja (w) pada p tertentu, sehingga
hanya ada 2 variabel bebas yang menentukan energi dalam sistem
terisolasi dan tertutup, yaitu T dan V. Sebaliknya, pada sistem
terbuka, jumlah mol zat memungkinkan untuk berubah, sehingga
perubahan energi dalam sistem juga dipengaruhi oleh jumlah mol
zat sehingga ada 3 variabel bebas yang menentukan energi dalam
sistem terbuka, yaitu T , V, dan n.
Sistem terisolasi dan terbuka adalah sistem yang jarang
dijumpai dalam proses kimia fisika sehari-hari sehingga kajian akan
lebih difokuskan pada sistem tertutup. Telah dijelaskan sebelumnya
bahwa perubahan energi dalam sistem tertutup dipengaruhi oleh T
dan V. Secara matematis ungkapan tersebut dapat dituliskan U =
U(T,V). Pada tiap perubahan yang sangat kecil, pengaruh 2 variabel
tersebut dirumuskan sebagai diferensial parsial sesuai persamaan
3.9.
dV
V
U
dT
T
U
dU
T v
|

\
|

+
|

\
|

= ............................................... (3.9)
Persamaan 3.9 bermakna bahwa perubahan energi dalam
merupakan penjumlahan perubahan energi dalam yang terjadi
karena perubahan temperatur pada volume tetap dan perubahan
energi dalam yang terjadi karena perubahan volume pada
temperatur tetap.
Gabungan persamaan 3.8 dan 3.9 menghasilkan persamaan
3.10.
=
|

\
|

+
|

\
|

dV
V
U
dT
T
U
T v
q + pdV ..................................... (3.10)

4. Energi dalam pada berbagai kondisi
Persamaan-persamaan yang telah diperoleh di atas dapat
digunakan untuk menurunkan beberapa persamaan yang berkaitan
dengan energi dalam pada berbagai kondisi, antara lain:

60
60 Termodinamika Kimia
a. Energi dalam pada proses isokhorik
Perubahan energi dalam pada kondisi isokhorik dapat
diturunkan dari persamaan 3.8. Pada kondisi tersebut, volume
sistem tidak berubah atau dV = 0 sehingga diperoleh persamaan
5.11.
dU = q
V
.............................................................................. (3.11)
dimana q
V
adalah kalor sistem pada proses isokhorik. Persamaan
3.11 memperlihatkan bahwa pada proses isokhorik perubahan
energi dalam hanya dipengaruhi oleh kalor yang diserap atau
dilepas sistem.
Persamaan lain yang dapat diturunkan pada proses
isokhorik adalah kapasitas kalor sistem pada volume konstan (C
V
).
Persamaan ini dapat diturunkan dari persamaan 3.10 dimana pada
proses isokhorik dV = 0, sehingga persamaan tersebut
disederhanakan menjadi persamaan 3.12.
=
|

\
|

dT
T
U
v
q
v

Perbandingan
dT
mirip dengan persamaan 3.1, sehingga
dapat ditentukan kapasitas kalor sistem pada volume konstan
sesuai persamaan 3.13.

Dengan demikian, besarnya perubahan energi dalam suatu sistem
yang dipanaskankan dari T
1
ke T
2
pada volume tetap dapat
dirumuskan sesuai persamaan 3.14.

=
2
1
T
T
v
dT C U ................................................................... (3.14)

........................................................ (3.13)
v
v
T
U
dT
C
|

\
|

= =
q
v

dT T
U
v
=
|

\
|

q
v

............................................................. (3.12)
q
v


61
61 DAFTAR ISI
b. Energi dalam pada proses adiabatik
Perubahan energi dalam pada proses adiabatik dapat
diturunkan dari persamaan 3.8. Pada kondisi tersebut, sistem tidak
menerima atau melepasakan kalor (q = 0) sehingga persamaan 3.8
dapat diubah menjadi persamaan 3.15
dU = pdV............................................................................. (3.15)
Persamaan 3.15 memperlihatkan bahwa pada proses adiabatik
perubahan energi dalam hanya dipengaruhi oleh kerja yang
dilakukan atau diterima sistem.

c. Energi dalam pada proses isotermal
Perubahan energi dalam pada proses isotermal dapat
diturunkan dari persamaan 3.10. Pada kondisi tersebut, temperatur
sistem konstan atau dT = 0, sehingga persamaan 3.10 dapat diubah
menjadi persamaan 3.16.
=
|

\
|

dV
V
U
T
q + pdV ........................................................ (3.16)
Berdasarkan percobaan Joule, pada kondisi isotermal untuk gas
ideal, besarnya kerja ekspansi yang dilakukan sistem sama dengan
besarnya kalor yang dibutuhkan, -pdV = q. Kesimpulan ini
menghasilkan persamaan 3.17.
0 =
|

\
|

T
V
U
.......................................................................... (3.17)
Dengan kata lain, untuk gas ideal, perubahan volume pada kondisi
isotermal tidak mengubah energi dalam sistem.
atau
0 = U ................................................................................ (3.18)
Persamaan 3.18 hanya berlaku untuk gas ideal pada kondisi
isotermal. Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Joule-
Thomson pada gas real 0
|

\
|

T
V
U
, sehingga untuk menghitung
perubahan energi dalam suatu sistem gas real harus menggunakan

62
62 Termodinamika Kimia
gabungan persamaan 3.9 dan 3.13 yang berlaku umum untuk
semua sistem tertutup.
dV
V
U
dT C dU
T
v
|

\
|

+ = ....................................................... (3.19)

d. Energi dalam pada proses isobarik
Persamaan 3.8 yang dituliskan sebelumnya adalah
perubahan energi dalam yang diturunkan pada tekanan tertentu,
sehingga pada proses isokhorik, perubahan energi dalam sistem
sama dengan persamaan 3.8 tersebut, yakni:
dU = pdV + q
Jika persamaan ini diintegralkan sebagai kerja ekspansi
(-pdV) pada tekanan konstan (isobarik) akan diperoleh:

p
) + q - V = -p (V - U U
1 2 1 2
(untuk kerja kompresi V
1
> V
2
)
( ) ( )
1 1 2 2
pV U pV U q
p
+ + =

1 2
p p p
q q q = ............................................................... (3.20)
dimana q
p
adalah kalor yang diserap atau dilepas sistem pada
proses isobarik.
Persamaan 3.20 memperlihatkan bahwa q
p
ditentukan oleh
2 keadaan, yaitu selisih antara q
p
akhir (q
p2
) dan q
p
awal (q
p1
)
sehingga q
p
termasuk fungsi keadaan. Selain itu, persamaan
tersebut memperlihatkan bahwa q
p
ditentukan oleh U dan pV,
dimana U dan pV adalah fungsi keadaan. Fungsi yang dihasilkan
dari fungsi keadaan seperti q
p
pada persamaan 3.20 termasuk juga
fungsi keadaan sehingga sehingga q
p
adalah fungsi keadaan.
Akan tetapi, telah dijelaskan sebelumnya bahwa q secara
umum bukan fungsi keadaan melainkan fungsi jalan. Untuk
menghindari kerancuan, maka q pada tekanan konstan (q
p
) diberi

+ =
2
1
2
1
2
1
dV p dU
q
p


63
63 DAFTAR ISI
nama baru yaitu entalpi (H) sehingga diperoleh rumusan baru,
yakni persamaan 3.21.
pV U H q
p
+ = = .................................................................. (3.21)

5. Hubungan antara U dan H
Energi dalam (U) dan entalpi (H) adalah dua fungsi keadaan
yang berbeda. Hubungan keduanya diperlihatkan pada persamaan
3.21 yang dapat ditulis ulang sebagai fungsi keadaan sesuai
persamaan 3.22.
( ) pV U H + = ................................................................ (3.22)
Jika sistem yang dianalisis menghasilkan gas dan dianggap sebagai
gas ideal (pV = nRT), maka persamaan tersebut dapat dimodifikasi
menjadi persamaan 3.23.
( ) RT n U H
gas
+ =
gas
n RT U H + = ............................................................. (3.23)
Jika sistem yang dianalis tidak menghasilkan gas, maka perubahan p
dan V sangat kecil, sehingga nilai (pV) mendekati nol atau (pV)
0. Nilai ini dapat diabaikan sehingga untuk sistem tersebut
diperoleh persamaan 3.24.
U H = ............................................................................. (3.24)

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Suatu reaksi yang berlangsung pada P tetap disertai pelepasan
kalor = 200 kJ dan sistem melakukan kerja sebanyak 5 kJ.
Tentukan nilai H, E, q dan w reaksi itu!
Jawab:
Sistem melepaskan kalor, artinya q = - 200 kJ.
Sistem melakukan kerja, artinya w = - 5 kJ.
U = q
p
+ w
U = - 200 kJ 5 kJ = - 205 kJ
H = q
p
= - 200 kJ

64
64 Termodinamika Kimia
Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Air dididihkan pada tekanan 1.0 atm. Jika arus listrik sebesar 0.5
A dari sumber daya 12 V mengalir selama 300 detik melalui
tahanan yang mempunyai kontak termal dengan air tersebut,
maka sebanyak 0.798 g air menguap. Hitunglah energi dalam
molar dan perubahan entalpi pada titik didihnya (373.15 K)!
(+ 38 kJ mol
-1
)

6. Perubahan entalpi (H) pada sistem tertutup
Seperti halnya energi dalam (U), entalpi (H) sistem juga
akan berubah jika variabel-variabel keadaannya berubah. Pada
sistem tertutup, perubahan entalpi hanya dipengaruhi oleh p, V,
dan T. Akan tetapi, p merupakan pasangan V, sehingga cukup
dipilih salah satunya. Variabel yang harus dipilih adalah p karena
entalpi adalah fungsi yang ditentukan pada p tertentu sehingga
variabel bebas entalpi pada sistem tertutup adalah T dan p.
Secara matematis ungkapan tersebut dapat dituliskan H =
H(T,p). Pada tiap perubahan yang sangat kecil, pengaruh 2 variabel
tersebut dirumuskan sebagai diferensial parsial sesuai persamaan
3.25.
dp
p
H
dT
T
H
dH
T
p
|
|

\
|

+
|

\
|

= ................................................ (3.25)
Jika proses berlangsung pada tekanan konstan, diperoleh
persamaan 3.26.
dT
T
H
dH
p
|

\
|

= ................................................................... (3.26)
dimana dH = q
p
, sehingga diperoleh kapasistas kalor pada tekanan
tetap (C
p
) sesuai persamaan 3.27.

p
p
C
dT dT
dH
T
H
= = =
|

\
|


q
p

............................................. (3.27)

65
65 DAFTAR ISI
Subtitusi persamaan 3.27 ke persamaan 3.25 menghasilkan
persaman 3.28.
dp
p
H
dT C dH
T
p
|
|

\
|

+ = ....................................................... (3.28)
Nilai
T
p
H
|
|

\
|

dapat ditentukan menggunakan hubungan


pembuat permutasi dalam diferensial parsial yang dirumuskan
x
y
z
y
z
z
x
y
x
|
|

\
|

\
|

=
|
|

\
|

. Berdasarkan hubungan tersebut, dapat


dituliskan:
H
p
T
p
T
T
H
p
H
|
|

\
|

\
|

=
|
|

\
|


H
p
T
p
T
C
p
H
|
|

\
|

=
|
|

\
|

........................................................... (3.29)
Nilai
H
p
T
|
|

\
|

dikenal sebagai koefisien Joule-Thomson


disimbol
JT
, sehingga persamaan 3.29 dapat disederhanakan:
JT p
T
C
p
H
=
|
|

\
|

................................................................. (3.30)
Subtitusi persamaan 3.30 ke persamaan 3.28 menghasilkan
persamaan 3.31, yaitu perubahan entalpi pada sistem tertutup
sebagai fungsi temperatur dan tekanan.
dp C dT C dH
JT p p
= ......................................................... (3.31)

7. Hubungan antara C
v
dan C
p

Kapasitas kalor pada tekanan tetap (C
p
) selalu lebih besar
daripada kapasitas kalor pada volume tetap (C
V
) karena kerja
tekanan-volume (ekspansi) dilakukan bila sistem dikalor kan pada

66
66 Termodinamika Kimia
tekanan tetap. Hubungan keduanya dapat diperoleh dengan cara
berikut:
Gabungkan persamaan 3.8 dengan 3.19 sebagai kerja ekspansi
(-pdV):
q pdV dV
V
U
dT C
T
v
+
|

\
|

+ = ...................................... (3.32)
Pada tekanan konstan persamaan tersebut dapat dituliskan:
q
p
dV p
V
U
dT C
T
v (

+
|

\
|

+ = ....................................... (3.33)
Persamaan 3.33 dikali dengan
dT
1
, sehingga diperoleh:

p T
v p
dT
dV
p
V
U
C C
|

\
|
(

+
|

\
|

+ = ...................................... (3.34)
Persamaan 3.34 memperlihatkan bahwa C
p
selalu lebih besar
dari C
v
. Jika sistem dianggap sebagai gas ideal, dimana 0 =
|

\
|

T
V
U
,
dan
p
nR
dT
dV
p
=
|

\
|
, maka persamaan 3.34 dapat dituliskan sesuai
persamaan 3.35.
nR C C
v p
+ = ....................................................................... (3.35)





p T
v
dT
dV
p
V
U
dT
dT C
dT
|

\
|
(

+
|

\
|

+ =
q
p


67
67 DAFTAR ISI
Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Lima kilogram gas N
2
dipanaskan pada tekanan tetap sehingga
temperaturnya naik dari 10
o
C menjadi 130
o
C. Jika C
v
= 0.177
kal g
-1 0
C
-1
dan C
p
= 0.248 kal g
-1 0
C
-1
, hitung :
a. Kenaikan energi dalam
b. Kerja luar yang dilakukan gas
Jawab:
Dik: m = 5 kg Dit: a. U = ...?
T
1
= 10 + 273 = 283 K b. w = ..?
T
2
= 130 + 273 = 403 K
C
v
= 0.177 kal g
-1 0
C
-1

C
p
= 0.248 kal g
-1 0
C
-1

Penyelesaian:
a. Kenaikan energi dalam (U):
( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
( )
kalori
x
) - (
T T C
T T ) C -C (C
T T ) -C - (C T T C
T T - nR T T C
T T nR q U
v
v p p
v p p
p
p
24 . 21
120 177 . 0
283 403 177 . 0
1 2
1 2
1 2 1 2
1 2 1 2
1 2
=
=
=
=
+ =
=
=
=


Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Perkirakan perbedaan antara C
p
dan C
V
karbon tetraklorida pada
temperature 25
0
C, jika C
p
= 132 JK
-1
mol
-1
. Pada temperatur ini,
rapatannya = 1.59 g cm
-3
, koefisien pemuaian = 1.24 x 10
-3
K
-1
,
dan kompresibilitas isotermalnya = 9.05 x 10
-5
atm
-1
!
(49.6 JK
-1
mol
-1
)

b. Kerja (w):
( )
( )
kalori
x
x
T C C w
v p
52 . 8
120 071 . 0
120 177 . 0 248 . 0
=
=
=
=


68
68 Termodinamika Kimia
8. Ekspansi reversibel adiabatik gas ideal pada sistem tertutup
Proses adiabatik adalah proses yang tidak disertai
perubahan kalor, sehingga q = 0. Jika sistem tertutup gas ideal
diekspansi secara reversibel pada kondisi adiabatik, maka
temperatur sistem akan digunakan untuk mempertahankan agar
kalor tetap konstan sehingga temperatur sistem berkurang.
Temperatur sistem berkurang akan diiringi dengan berkurangnya
tekanan sistem lebih cepat. Kondisi ini berbeda jika sistem
diekspansi secara reversibel pada kondisi isotermal, dimana
temperatur konstan dan tekanan tidak turun secepat pada kondisi
adiabatik. Perbedaan kurva tekanan volume reversibel untuk 2
kondisi tersebut digambarkan pada gambar 3.7.

Gambar 3.7. Ekspansi adiabatik dan isotermal gas ideal pada sistem
tertutup
Oleh karena q = 0, maka untuk kerja ekspansi pdV dU = ,
dimana dU untuk gas ideal sama dengan C
V
dT sehingga persamaan
tersebut ditulis sesuai persamaan 3.36.
pdV dT C
v
= ...................................................................... (3.36)
Nilai p dapat disubsitusi dengan
V
nRT
p = , sehingga diperoleh
persamaan 3.37.

69
69 DAFTAR ISI
dV
V
nR
dT
T
C
v
= ................................................................. (3.37)
Jika diintegrasikan dengan batas T
1
T
2
dan V
1
V
2
, kemudian
disubstitusi dengan persamaan 3.35 akan diperoleh persamaan
3.38.
( )
2
1
1
2
1
2
1
2
ln ln
ln ln
V
V
C C
T
T
C
V
V
nR
T
T
C
V p v
v


=
=


2
1
1
2
ln 1 ln
V
V
C
C
T
T
V
p

|
|

\
|
= ..................................................... (3.38)
dimana
V
p
C
C
adalah tetapan Laplace (), sehingga diperoleh
persamaan 3.39.
( )
2
1
1
2
ln 1 ln
V
V
T
T
=
1
2
1
1
2

|
|

\
|
=
|
|

\
|

V
V
T
T
................................................................... (3.39)
Persamaan 3.39 dapat dimodifikasi untuk mencari
hubungan tekanan volume atau tekanan temperatur pada sistem
adiabatik sesuai persamaan 3.40 dan 3.41.

2 2 1 1
V p V p = ..................................................................... (3.40)
1
1
2
1
2

|
|

\
|
=
|
|

\
|

p
p
T
T
................................................................. (3.41)




70
70 Termodinamika Kimia
Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Suatu gas ideal monoatomik = 5/3 dimampatkan secara
adiabatik dan volumnya berkurang dengan faktor pengali dua.
Tentukan faktor pengali bertambahnya tekanan.
Jawab:
Dik: = 5/3 Dit: p
2
= ...?
V
1
= 2V
2

Penyelesaian:
( )
1
67 , 1
1 2
3
5
2
2
1
2
1
1 2
2 2 1 1
18 , 3 2
2
p p p
V
V
p
V
V
p p
V p V p
= =
(

=
(

=
=




Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Cuplikan argon pada tekanan 1 atm memuai secara reversible
dan adiabatik sampai dua kali volume awalnya. Hitunglah
tekanan akhirnya!
(0.31 atm)

9. Beberapa kesimpulan
Berikut ini adalah beberapa kesimpulan penerapan hukum
pertama termodinamika pada berbagai kondisi:
Proses isotermis temperatur tetaptidak ada perubahan
energi dalamU = 0 q = w (kalor yang diserap seluruhnya
digunakan untuk melakukan kerja)
Proses isobaris q
p
= U + w, dimana q
p
dapat dinyatakan
sebagai H (q
p
= H).

71
71 DAFTAR ISI
Proses isokhorikvolume tetaptidak melakukan kerja

w = 0q
V
= U (kalor yang diserap hanya digunakan untuk
menaikkan energi dalam gas )
Proses adiabatikq = 0U + w = 0 w = -U (kerja yang
dilakukan gas sama dengan penurunan energi dalam gas).
Untuk gas ideal U = C
V
dT sehingga w = - C
V
dT.

Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan
1. Jika kalor sebanyak 2.7 kJ ditambahkan pada sistem, sedangkan
sistem melakukan kerja 1.3 kJ, berapakah perubahan energi
dalam sistem?
2. Hitunglah besarnya kerja dalam satuan Joule yang dilakukan
oleh suatu sistem yang mengalami ekspansi melawan p = 2 atm
dengan perubahan V = 10 L !
3. Suatu reaksi yang berlangsung pada V tetap disertai
penyerapan kalor = 200 kJ. Tentukan nilai E, q dan w reaksi
itu!
4. Kurva 1-2 pada dua diagram di bawah menunjukkan pemuaian
gas (pertambahan volume gas) yang terjadi secara adiabatik
dan isotermal. Pada proses manakah kerja yang dilakukan oleh
gas lebih kecil?


72
72 Termodinamika Kimia
5. Dengan penurunan langsung dari H = U + pV, cari hubungan
antara
p
U
H
|

\
|

dan
p
V
U
|

\
|

. Pastikan hasilnya dengan


menyatakan
p
U
H
|

\
|

sebagai pertandingan dari kedua turunan


itu terhadap volume dan kemudian gunakan definisi entalpi!
6. Energi dalam gas sempurna beratom tunggal relatif terhadap
nilainya pada T = 0 adalah 3/2 nRT. Hitunglah
T
V
U
|

\
|

dan
T
V
H
|

\
|

gas itu.
7. Sebanyak 50 cm
3
cuplikan tembaga dikenai tambahan tekanan
100 atm dan kenaikan temperatur 5 K. Perkirakan perubahan
volume total!
8. Pada permulaan 2 mol zat asam ( gas diatomik ) temperaturnya
27
0
C dan volumenya 0.02 m
3
. Gas disuruh mengembang secara
isobaris sehingga volumenya menjadi dua kali lipat kemudian
secara adiabatik hingga temperaturnya mencapai harga yang
seperti permulaan lagi. R = 8.317 J mol
-1
K. Tentukan:
a. Energi dalam totalnya ?
b. Kalor yang ditambahkan ?
c. Kerja yang dilakukan ?
d. Volume sistem pada akhir proses ?
9. Satu mol gas ideal yang mula-mula ada pada tekanan 1 atm dan
temperatur 0C ditekan secara isotermis dan kuasi statik
sehingga tekanannya menjadi 2 atm. Hitung:
a. volume gas mula-mula,
b. kerja yang diperlukan untuk menekan gas, dan
c. kalor yang dikeluarkan gas selama proses kompresi
tersebut.
10. Satu mol gas ideal mula-mula tekanannya 3 atm, volumenya 1 L
dan energi dalamnya 456 J. Gas kemudian berekspansi pada

73
73 DAFTAR ISI
tekanan tetap sampai volumenya 3 L, kemudian didinginkan
pada volume konstan sampai tekanannya menjadi 2 atm.
a. tunjukkan proses yang dialami gas dalam diagram p V,
b. hitunglah kerja yang dilakukan gas, dan
c. hitunglah kalor yang ditambahkan pada gas selama proses
tersebut.
11. Satu mol karbon monoksida dipanaskan dari 15
0
C menjadi
16
0
C pada volume tetap. Massa molekulnya 28.01 gram/mol,
C
p
= 1.03 x 10
3
J kg
-1
K, dan = 1.40 . Hitunglah penambahan
energi dalam!
12. Sampel 4 mol O
2
mula-mula ditempatkan pada volume 20 L
dam temperatur 270 K. Kemudian sampel ini mengalami
pemuaian adiabatik melawan tekanan tetap 600 Torr sampai
volumenya menjadi 3 kali semula. Hitunglah q, w, T, U, dan
H.
13. Perkirakan perubahan volume yang terjadi jika 1 cm
3
balok (a)
air raksa (b) intan dipanaskan 5 K pada temperatur kamar.
14. Pikirkanlah suatu sistem yang terdiri atas 2 mol gas CO
2

(dianggap sempurna) pada temperatur 25
0
C berada pada
silinder dengan luas penampang 10 cm
2
dan tekanan 10 atm.
Gas tersebut memuai secara adiabatik dan reversibel.
Hitunglah w, q, T, U, dan H jika penghisap sudah berpindah
20 cm.
15. Hitunglah tekanan akhir yang terjadi jika neon pada tekanan 1
atm dimampatkan secara reversibel dan adiabatik menjadi 75%
volume awalnya.







74
74 Termodinamika Kimia









TERMOKIMIA TERMOKIMIA TERMOKIMIA TERMOKIMIA



Proses kimia dan fisika selalu disertai perubahan energi
sistem. Jika proses terjadi pada tekanan tetap (yang umum
dijumpai), perubahan energi yang dapat diamati adalah perubahan
entalpinya (H). Kajian termodinamika yang khusus mempelajari
perubahan energi sistem kimia, khususnya H disebut termokimia.

A. Persamaan termokimia
Persamaan termokimia adalah persamaan reaksi yang
mengikutsertakan perubahan entalpinya (H). Nilai H pada
persamaan termokimia disesuaikan dengan stoikiometri, arah, dan
fasa zat. Contoh:
Pembentukan 1 mol air dari gas hidrogen dengan oksigen pada 298
K dan 1 atm dilepaskan kalor sebesar 285.5 kJ, maka persamaan
termokimianya ditulis sebagai berikut:
kJ H l O H g O g H 5 . 285 ) ( ) ( ) (
2 2 2
1
2
= +


75
75 DAFTAR ISI
Jika koefisien digandakan dengan faktor y, maka harga harga H
harus dikalikan dengan faktor y tersebut.
kJ H l O H g O g H 571 ) ( 2 ) ( ) ( 2
2 2 2
= +
Jika reaksi dibalik (posisi reaktan dan produk ditukar), maka nilai H
tetap sama, tetapi tandanya berlawanan.
kJ H g O g H l O H 5 . 285 ) ( ) ( ) (
2 2
1
2 2
+ = +
Jika fasa reaktan atau produk berbeda, maka perubahan entalpinya
juga akan berbeda.
kJ H g O H g O g H 82 . 241 ) ( ) ( ) (
2 2 2
1
2
= +
Tanda (-) atau (+) menunjukkan reaksi melepaskan kalor ke
lingkungan (eksotermis) atau reaksi menggunakan kalor dari
lingkungan (endotermis).

B. Jenis-jenis perubahan entalpi
Perubahan entalpi sistem biasanya dinyatakan pada
tekanan standar, yaitu 1 bar

dan temperatur konvensional (T


C
),
yaitu 298.15 K (sama dengan 25
0
C) . Perubahan entalpi yang diukur
pada keadaan tersebut disebut perubahan entalpi standar disimbol
H
o
dengan satuan Joule atau kalori. Jika diukur pada keadaan
tertentu, bukan pada keadaan standar, cukup disimbolkan dengan
H. Perubahan entalpi sering pula dinyatakan untuk tiap 1 mol zat
yang disebut entalpi molar disimbol H
o
m
pada keadaan standar
atau H
o
m
pada keadaan tertentu dengan satuan J mol
-1
atau kal
mol
-1
.


Tekanan 1 bar adalah tekanan standar terbaru untuk melaporkan data


termodinamika dan mulai digunakan oleh National Bureau of Standars. Beberapa
buku masih menggunakan tekanan 1 atm sebagai tekanan standar, khususnya
untuk analisis yang tidak memerlukan ketepatan tinggi karena nilainya tidak jauh
berbeda (1 bar = 0.98692 atm).

76
76 Termodinamika Kimia
Perubahan entalpi sistem kimia, berdasarkan jenis
reaksinya dapat digolongkan sebagai berikut :
2. Entalpi pembentukan ( H
f
)
Entalpi pembentukan (H
f
) atau kalor pembentukan adalah
perubahan entalpi yang terjadi pada pembentukan satu mol
senyawa dari unsur-unsurnya dalam keadaan referensi. Keadaan
referensi suatu unsur adalah keadaannya yang paling stabil pada
keadaan standar. Misal pada keadaan standar, nitrogen stabil
sebagai senyawa dwiatom N
2
, oksigen sebagai O
2
, hidrogen
sebagai H
2
, klorin sebagai Cl
2
, karbon sebagai C
grafit
, belerang
sebagai S
rombik
, fosfor sebagai P
putih
, raksa dalam bentuk cair,
beberapa logam dalam bentuk kristal, dan lain-lain.
Entalpi pembentukan unsur-unsur dalam keadaan
referensinya sama dengan nol sama dengan nol pada semua
temperatur karena entalpi tersebut adalah entalpi dari reaksi nol.
Adapun entalpi pembentukan senyawa dapat bernilai positif
(endotermis) atau negatif (eksotermis).
Contoh:
0 ) ( ) (
0
2 2
=
f
H g N g N
1 0
6 6 2
0 . 49 ) ( ) ( 3 ) , ( 6

+ = + mol kJ H l H C g H grafit s C m
f

1 0
2
2
1
9 . 401 ) ( ) ( ) (

= + mol kJ H s NaCl g Cl s Na m
f


3. Entalpi penguraian ( H
d
)
Entalpi penguraian (H
d
) adalah perubahan entalpi yang
terjadi pada penguraian 1 mol senyawa menjadi unsur-unsur
penyusunnya. Perubahan entalpi ini merupakan kebalikan dari
perubahan entalpi pembentukan, maka nilainya pun akan
berlawanan tanda. Menurut Marquis de Laplace, jumlah kalor
yang dilepaskan pada pembentukan senyawa dari unsur-unsur
penyusunnya sama dengan jumlah kalor yang diperlukan pada
penguraian senyawa tersebut menjadi unsur-unsur penyusunnya.
Pernyataan ini disebut hukum Laplace.

77
77 DAFTAR ISI
Contoh :
Diketahui H
f

o
CH
4
(g) = -74.81 kJ mol
-1
, maka entalpi penguraian
CH
4
(g) menjadi karbon dan gas hidrogen adalah +74.81 kJ mol
-1

sesuai persaman reaksi berikut:
1 0
2 4
81 . 74 ) ( 2 ) ( ) (

+ = + mol kJ H g H g C g CH
m
d


4. Entalpi pembakaran ( H
c
)
Entalpi pembakaran (H
c
) adalah perubahan entalpi yang
terjadi pada pembakaran/oksidasi 1 mol senyawa organik secara
sempurna menjadi CO
2
dan H
2
O bagi senyawa yang mengandung C,
H, dan O atau menjadi N
2
bagi senyawa yang mengandung N.
Contoh :
1 0
2 2 2 6 12 6
2808 ) ( 6 ) ( 6 ) ( 6 ) (

= + + mol kJ H l O H g CO g O s O H C m
c
Re
aksi pembakaran merupakan reaksi yang menghasilkan kalor
(eksotermis), sehingga Hnya selalu bernilai negatif.

5. Entalpi netralisasi ( H
n
)
Entalpi netralisasi (H
n
) adalah perubahan entalpi yang
terjadi pada penetralan 1 mol asam oleh basa atau 1 mol basa oleh
asam. Contoh :
kJ H l O H aq SO Na aq SO H aq NaOH
n
200 ) ( 2 ) ( ) ( ) ( 2
2 4 2 4 2
= + +
H
n
reaksi = -200 kJ
H
n
NaOH =
1
100
2
200

=

kJmol
mol
kJ

H
n
H
2
SO
4
=
1
200
1
200

=

kJmol
mol
kJ


6. Entalpi hidrogenasi ( H
h
)
Entalpi hidrogenasi (H
h
) adalah perubahan entalpi yang
terjadi pada hidrogenasi 1 mol senyawa organik tak jenuh.

78
78 Termodinamika Kimia
Contoh:
1 0
3 3 2 2 2
137 ) ( CH CH ) ( ) ( CH CH
-
kJmol - H g g H g = + =
1 0
12 6 2 6 6
205 ) ( H C ) ( 3 H C
-
kJmol - H g g H = +
Jika entalpi hidrogenasi etena (C
2
H
4
) yang terdiri dari 1 ikatan
rangkap dikali 3, ternyata tidak sama dengan entalpi hidrogenasi
benzena (C
6
H
6
) yang telah terdiri dari 3 ikatan rangkap. Entalpi
hidrogenasi benzena adalah 206 kJmol
-1
, kurang dari 3 x 137 kJ mol
-
1
. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk siklik benzena menjadikannya
lebih stabil sehingga energi yang dibutuhkan untuk
menghidrogenasinya lebih kecil.
Selain perubahan entalpi reaksi kimia, dikenal pula
perubahan entalpi proses fisika, seperti entalpi penguapan (H
vap
),
entalpi peleburan (H
fus
), entalpi sublimasi (H
sub
), entalpi
pelarutan (H
sol
), dan lain-lain.
Contoh:
1 0
2 2
1 0
2 2
1 0
2 2
01 . 50 ) ( ) (
00 . 44 ) ( ) (
01 . 6 ) ( ) (
-
sub
-
vap
-
fus
kJmol H g O H s O H
kJmol H g O H l O H
kJmol H l O H s O H
+ =
+ =
+ =

dimana vap fus sub H H H
0 0 0
+ =
,
maka:
1 0
14 . 75 ) ( ) (

= kJmol H aq HCl g HCl sol


Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Nyatakan entalpi reaksi standar:
) ( 4 ) ( ) ( 2 ) ( 2
2 2 2 3
g N l O H g NO l HN + +
menggunakan entalpi standar pembentukan komponen-
komponennya!
Jawab:
Reaksi di atas telah setara, sehingga koefisiennya dapat digunakan
untuk menyatakan entalpi reaksi standarnya menggunakan entalpi

79
79 DAFTAR ISI
standar pembentukan komponen-komponennya:
( ) ( ) ( ) ( ) NO H HN H N H O H H H
f f f f
0
3
0
2
0
2 2
0 0
2 2 4 + =

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Hitung entalpi kisi CaBr
2
!
(2148 kJ mol
-1
)

C. Penentuan perubahan entalpi ( H)
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menetukan
perubahan entalpi adalah sebagai berikut:
1. Metode langsung dengan kalorimetri
Kalorimetri adalah cara penentuan kalor reaksi secara
eksprimen menggunakan kalorimeter. Kalorimeter adalah sistem
yang terisolasi sehingga tidak terjadi perpindahan materi maupun
energi dengan lingkungannya. Semua energi yang diserap atau
dilepaskan reaksi kimia sebagai kalor menyebabkan perubahan
temperatur (T) dalam kalorimeter. Jika T tersebut diketahui,
maka jumlah kalor yang diserap atau dilepaskan dalam kalorimeter
dapat dihitung menggunakan persamaan 4.1.
T C q
kal kal
= .................................................................... (4.1)
dimana C
kal
adalah kapasitas kalor kalorimeter (J
0
C
-1
atau JK
-1
),
yaitu jumlah kalor yang dibutuhkan tiap kenaikan temperatur 1
derajat.
Kalorimeter selalu dilengkapi dengan termometer untuk
mengetahui perubahan temperatur yang terjadi. Jenis-jenis
kalorimeter yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:
a. Kalorimeter volume konstan (kalorimeter bom)
Kalorimeter bom adalah kalorimeter yang khusus
digunakan untuk menentukan kalor yang dihasilkan reaksi
pembakaran. Kalorimeter ini terdiri dari sebuah bom (tempat

80
80 Termodinamika Kimia
berlangsungnya reaksi pembakaran, terbuat dari bahan stainless
steel dan diisi dengan gas oksigen pada tekanan tinggi). Bom
tersebut ditempatkan pada sebuah bak yang diisi air dan dibatasi
dengan wadah yang kedap panas untuk memastikan tidak ada kalor
yang meninggalkan atau masuk ke dalam sistem.
Reaksi pembakaran terjadi di dalam bom. Semua kalor yang
dihasilkan (q
reaksi
) diserap oleh kalorimeter (air dan bom) dan tidak
ada kalor yang terbuang sehingga:
-q
reaksi
= q
kal
.......................................................................... (4.2)
Jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter (q
kal
) dapat dihitung
menggunakan persamaan 4.1.
Kapasitas kalor kalorimeter (C
kal
) dapat diketahui dengan
kalibrasi menggunakan senyawa standar yang q
reaksi
nya

telah
diketahui. Sebagai contoh, q
reaksi
1 gram asam benzoat adalah 26.42
kJ. Jika kalor tersebut menyebabkan kenaikan temperatur sebesar
4.673 K, maka C
kal
kalorimeternya adalah:
1
645 . 5
673 . 4
42 . 26
673 . 4 42 . 26

= =
=
=
K kJ
K
kJ
C
K C kJ
T C q
kal
kal
kal kal

Hasil kalibrasi ini dapat digunakan untuk menentukan q
reaksi

pembakaran senyawa yang lain.
Reaksi yang berlangsung pada kalorimeter bom
berlangsung pada volume konstan bukan pada tekanan konstan
sehingga q
reaksi
H melainkan q
reaksi
= U. Pada kasus seperti ini,
H dapat dihitung menggunakan persamaan 3.23 dan 3.24 pada
bab sebelumnya.

b. Kalorimeter tekanan konstan (kalorimeter sederhana)
Kalorimeter yang lebih sederhana dari kalorimeter volume
konstan adalah kalorimeter tekanan konstan yang dibuat dari gelas
stirofoam. Kalorimeter ini biasanya dipakai untuk mengukur q
reaksi


81
81 DAFTAR ISI
reaksi dalam fase larutan, misal: reaksi netralisasi asam basa,
pelarutan, pengendapan, pengenceran dan lain-lain.
Seperti halnya kalorimter sebelumnya, kalorimeter ini
dianggap sebagai sistem terisolasi, meskipun sejumlah kalor
memungkinkan keluar ke lingkungan sehingga tidak terukur. Akan
tetapi, kalor tersebut dapat diabaikan karena nilai yang sangat
kecil. Oleh karena, reaksi yang terjadi dalam kalorimeter ini
berlangsung pada tekanan konstan maka besarnya q
reaksi
= H.

2. Metode tidak langsung berdasarkan hukum Hess
Metode kalorimetri hanya dapat digunakan untuk reaksi
yang berlangsung satu tahap atau reaksi yang berlangsung cepat
dan sederhana. Kebanyakan reaksi berlangsung dalam beberapa
tahap dan menghasilkan produk selain senyawa yang diharapkan.
Perubahan entalpi reaksi-reaksi tersebut hanya dapat ditentukan
secara tidak langsung. Metode tidak langsung tersebut berdasarkan
hukum Hess yang dapat dinyatakan sebagai berikut: perubahan
entalpi suatu reaksi hanya tergantung pada keadaan awal ( zat-zat
pereaksi ) dan keadaan akhir ( zat-zat hasil reaksi ) dari suatu reaksi
dan tidak tergantung pada jalannya reaksi.
Berdasarkan Hukum Hess, penentuan H dapat dilakukan
melalui 3 cara yaitu :
a. Menjumlahkan perubahan entalpi tahap-tahap reaksi yang
berhubungan.
Contoh :
Reaksi pembakaran propena dapat dituliskan sebagai berikut:
1 0
c 2 2 2 2
9
6 3
2058 H ) ( 3 ) ( 3 ) ( ) (

= + + mol kJ l O H g CO g O g H C
Reaksi tersebut diperoleh dari penjumlahan 3 tahap reaksi berikut:
1 0
c 2 2 2 2
9
6 3
1 0
d 2 2
1
2 2
1 0
c 2 2 2 8 3
1 0
h 8 3 2 6 3
2058 H ) ( 3 ) ( 3 ) ( ) (
286 H ) ( ) ( ) (
2220 H ) ( 4 ) ( 3 ) ( 5 ) (
124 H ) ( ) ( ) (

= + +
+ = +
= + +
= +
mol kJ l O H g CO g O g H C
mol kJ g O g H l O H
mol kJ l O H g CO g O g H C
mol kJ g H C g H g H C


82
82 Termodinamika Kimia
Contoh di atas memperlihatkan bahwa entalpi merupakan
fungsi keadaan yang perubahannya tidak tergantung pada jalan
yang dilalui, tapi tergantung pada keadaan awal dan akhir.
Penjelasan ini digambarkan sesuai gambar 4.2.

Gambar 4.2. Siklus reaksi pembakaran propena
Berdasarkan gambar 4.2, perubahan entalpi reaksi
pembakaran propena dapat digambarkan sesuai gambar 4.3.

Gambar 4.3. Perubahan entalpi reaksi pembakaran propena
(H
total
= H
1
+ H
2
+ H
3
)
Berdasarkan contoh di atas dapat dirumuskan perubahan
entalpi reaksi yang terdiri dari beberapa tahap sesuai persamaan
4.3.

83
83 DAFTAR ISI
n total
H H H H H + + + = .....
3 2 1
.................................... (4.3)
dimana n

adalah bilangan bulat yang menunjukkan tahapan reaksi.

b. Menghitung selisih entalpi pembentukan (H
f

o
) antara produk
dan reaktan.
Misal untuk reaksi:
qCB pAD nCD mAB + +
Perubahan entalpinya dapat ditentukan dari entalpi pembentukan
masing-masing komponen sebagai berikut:
( ) ( ) CD H n AB H m CB H q AD H p H
f f f f
0 0 0 0 0
+ + =
atau secara umum dapat dituliskan sesuai persamaan 4.4.
tan) ( ) (
0 0 0
reak H produk H H
f f
= ........................... (4.4)

c. Menghitung perubahan energi ikatan.
Energi ikatan (D) adalah energi yang dibutuhkan untuk
memutuskan ikatan kimia dalam suatu molekul berwujud gas
menjadi atom atau kelompok atom yang lebih sederhana. Contoh,
senyawa AB dapat diuraikan menjadi atom A dan B jika energi yang
diberikan sesuai dengan energi ikat antara atom A dan B atau suatu
senyawa ABC dapat diuraikan menjadi molekul AB dan atom C jika
energi yang diberikan sesuai dengan energi ikatan antara molekul
AB dan atom C. Jadi, besarnya perubahan entalpi yang terjadi sama
dengan energi ikatan molekul yang diputus atau H = D.
Berdasarkan jenis pemutusan ikatan, dikenal 2 jenis
perubahan entalpi berdasarkan energi ikatan yaitu :
1). Entalpi atomisasi (H
a
)
Entalpi atomisasi (H
a
) adalah perubahan entalpi yang
terjadi jika semua ikatan dalam suatu molekul diputus menjadi
atom-atom bebas berwujud gas. Contoh, entalpi atomisasi H
2
O
pada temperatur 298 K sebesar 927 kJ mol
-1
adalah jumlah energi

84
84 Termodinamika Kimia
ikatan H-OH (499 kJ mol
-1
) dan O-H (428 kJ mol
-1
) atau H
a
(H
2
O) =
D
H-OH
+ D
O-H
.

2). Entalpi disosiasi ikatan (H
dis
)
Energi disosiasi ikatan (H
dis
) adalah perubahan entalpi
yang terjadi jika salah satu ikatan yang terdapat pada suatu molekul
diputus menjadi atom atau kelompok atom yang lebih sederhana
dalam keadaan gas. Contoh, perubahan entalpi pemutusan ikatan
CH
3
dan OH pada metanol adalah energi ikatan 2 molekul tersebut.
1 0
3 3
380 ) ( ) ( ) (

+ = + kJmol H g OH g CH g OH CH
dis
atau
H
dis
(CH
3
-OH) = D
CH3-OH
.
Energi ikatan antar atom tergantung pada molekul sisanya,
misal untuk H
2
O energi ikatan antara O dan H pada HO-H sebesar
499 kJ mol
-1
tapi pada O-H hanya sebesar 428 kJ mol
-1
.
penghilangan atom H pada HO-H menyebabkan struktur elektronik
molekul menyesuaikan diri. Meski demikian, karena nilainya yang
tidak jauh berbeda, energi ikat antara atom yang sama pada
senyawa serumpun yang berbeda dapat dirata-ratakan sebagai
energi ikatan rata-rata. Energi ikatan rata-rata ini berguna untuk
memperkirakan perubahan entalpi suatu reaksi jika data tidak
tersedia. Oleh karena diperoleh dari energi ikatan rata-rata, maka
perubahan entalpi tersebut disebut perubahan entalpi ikatan rata-
rata yang nilainya hanya perkiraan
Energi ikatan suatu molekul yang berwujud gas dapat
ditentukan menggunakan hukum Hess. Misal, jika diketahui H
d
o

CO(g) = 110,5 kJ mol
-1
, H
sub

o
C(s) = 716,7 kJ mol
-1
, dan H
a
0
O
2
=
495 kJ mol
-1
, maka besarnya energi ikatan C=O (D
C=O
) dalam gas CO
dapat ditentukan dengan cara berikut:


85
85 DAFTAR ISI
1 0
1 0
2 2
1
1 0
1 0
2 2
1
7 . 1047 ) ( ) ( ) (
5 . 247 ) ( ) (
7 . 716 ) ( ) (
5 . 110 ) ( ) ( ) (

= +
=
=
= +
mol kJ H g O g C g CO
mol kJ H g O g O
mol kJ H g C s C
mol kJ H g O s C g CO
a
a
sub
d
di
mana D
C=O
= H
a
0
CO = 1047.7 kJ mol
-1

Selain itu, berdasarkan hukum Hess, entalpi suatu reaksi
dapat pula ditentukan menggunakan data energi ikatan rata-rata
komponennya dengan persamaan 4.5.

=
produk reak
D D H
tan
................................................... (4.5)

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Jika diketahui: energi ikatan N N = 946 kJ mol
-1
, energi ikatan
N-N = 163 kJ mol
-1
, energi ikatan N-H = 389 kJ mol
-1
, energi ikatan
O-O = kJ mol
-1
, dan energi ikatan O-H = kJ mol
-1
, maka hitunglah
berapa H reaksi berikut:
N
2
H
4(g)
+ 2 H
2
O
2(g)
N
2(g)
+ 4H
2
O
(g)

Jawab:
Reaksinya dapat dituliskan:


=
produk reak
D D H
tan

kJ
H O N N H O O O H N N N H
795
) 464 ( 8 946 ) 464 ( 4 ) 144 ( 2 ) 389 ( 4 163
) ( 8 ) ( ) ( 4 ) ( 2 ) ( 4 ) (
=
+ + =
+ + + =


Catatan: H reaksi yang dapat dihitung dengan energi ikat
hanyalah reaksi di mana pereaksi dan produk reaksinya semuanya
berwujud gas.

H
H O H N N H O O H N N + + 4 2
H
H H

86
86 Termodinamika Kimia
Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Diketahui energi ikatan: CC = 348 kJ mol
-1
, C=C = 614 kJ mol
-1
, C
H = 413 kJ mol
-1
, CCl = 328 kJ mol
-1
, dan Cl = 431 kJ mol
-1
.
Tentukan H reaksi C
2
H
4
+ HCl C
2
H
5
Cl!
(-44 kJ mol
-1
)

Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan
1. Suatu kalorimeter bom berisi 250 mL air yang temperaturnya
25
o
C, kemudian dibakar 200 mg gas metana. Temperatur
tertinggi yang dicapai air dalam kalorimeter = 35
o
C. Jika
kapasitas kalor kalorimeter = 75 J
o
C
-1
dan kalor jenis air = 4.2 J
g
-1

o
C
-1
, berapakah H
c
gas metana?
2. Sebanyak 50 mL ( = 50 gram ) larutan HCl 1 M bertemperatur
27
o
C dicampur dengan 50 mL ( = 50 gram ) larutan NaOH 1 M
bertemperatur 27
o
C dalam suatu kalorimeter gelas stirofoam.
Temperatur campuran naik sampai 33.5
o
C. Jika kalor jenis
larutan = kalor jenis air = 4.18 J g
-1
K. Tentukan perubahan
entalpinya!
3. Diketahui :
) ( 2 ) ( ) (
2 2
g HF g F g H + H = -537 kJ
) ( ) ( 2 ) (
4 2
g CF g F s C + H = -680 kJ
) ( ) ( 2 ) ( 2
4 2 2
g H C g H s C + H = -52.3 kJ
Tentukan perubahan entalpi (H) dari reaksi berikut ini :
) ( 4 ) ( 2 ) ( 6 ) (
4 2 4 2
g HF g CF g F g H C + +
4. Gunakan data entalpi ikatan rata-rata dan entalpi pengatoman
untuk memperkirakan entalpi standar reaksi berikut:
) ( ) (
2
1
) ( 2 ) , (
3 2 2
l OH CH g O g H gr s C + +
dimana gr adalah notasi bentuk grafit karbon!

87
87 DAFTAR ISI
5. Perkirakan perubahan entalpi standar reaksi pembentukan
etanol cair dari unsur-unsurnya!
6. Hitunglah entalpi pelarutan standar AgCl(s) dalam air dari
entalpi pembentukan padatan dan ion-ion cairan!
7. Diketahui :
Hf
o
metanol [ CH
4
O( l ) ] = - 238,6 kJ / mol
Hf
o
CO
2
( g ) = - 393,5 kJ / mol
Hf
o
H
2
O( l ) = - 286 kJ / mol
a. Tentukan entalpi pembakaran metanol membentuk gas
CO
2
dan air.
b. Tentukan jumlah kalor yang dibebaskan pada pembakaran
8 gram metanol ( Ar H = 1; C = 12; O = 16 )
8. Diketahui :
Hf
o
CO(g) = - 110.5 kJ / mol
Hf
o
C(g) = 716.7 kJ / mol
D
O=O
= 495 kJ / mol
Tentukan energi ikatan C=O dalam gas CO!
9. Entalpi pembakaran standar gas propana adalah 2220 kJ mol
-1

dan entalpi standar penguapan cairannya adalah +15 kJ mol
-1
.
Hitunglah:
a. entalpi standar
b. energi dalam pembakaran standar cairannya
10. Buatlah siklus termodinamika untuk menentukan entalpi
hidrasi ion-ion Mg
2+
dengan menggunakan data-data berikut:
entalpi sublimasi Mg = +167.2 kJ mol
-1
; energi pengionan Mg
pertama = 7.646 eV dan kedua = 15.035 eV, antalpi disosiasi Cl
2

= +241.6 kJ mol
-1
; afinitas electron Cl = +3.78 eV; entalpi
pelarutan MgCl
2
= -150.5 kJ mol
-1
; entalpi hidrasi Cl
-
= -383.7 kJ
mol
-1
!



88
88 Termodinamika Kimia









HUKUM KEDUA DAN HUKUM KEDUA DAN HUKUM KEDUA DAN HUKUM KEDUA DAN
KETIGA TERMODINAMIKA KETIGA TERMODINAMIKA KETIGA TERMODINAMIKA KETIGA TERMODINAMIKA


A. Hukum kedua termodinamika
Hukum pertama termodinamika telah menjelaskan
hubungan dan jenis-jenis energi yang terlibat dalam suatu proses.
Penjelasana tersebut sangat membantu dalam menentukan
besarnya energi yang terlibat sehingga suatu proses dapat
diramalkan apakah dapat mencapai kesetimbanagn energi atau
tidak. Akan tetapi, hukum hal tersebut belum cukup untuk
menjelaskan spontanitas suatu proses, termasuk arahnya apakah
reversibel atau irreversibel
Suatu proses perubahan dianggap spontan apabila proses
tersebut mencapai kesetimbangan tanpa masukan energi dari luar
sistem. Sebalilknya, proses perubahan dianggap non spontan
apabila proses tersebut memerlukan masukan energi dari luar
sistem. Bila keadaan setelah perubahan tersebut dapat
dikembalikan kembali ke keadaan sebelum perubahan tanpa
menyebabkan perubahan lain, baik di dalam maupun di luar sistem,
maka proses perubahan tersebut bersifat reversible. Namun


89
89 DAFTAR ISI
perubahan tanpa menyebabkan perubahan yang lain tidak mungkin
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, sehingga umumnya
perubahan di alam adalah perubahan irreversibel.
Untuk mengkaji spontanitas dan reversibilitas suatu proses
dibutuhkan rumusan hukum termodinamika yang baru, yaitu
hukum kedua termodinamika. Hukum ini dibangun berdasarkan 2
fakta yang esensial, yaitu:
1. Semua proses yang terjadi di alam hanya bergerak pada satu
arah, dan tidak mungkin sebaliknya secara spontan.
2. Jika proses tersebut bekerja menggunakan energi kalor, maka
tidak semua kalor tersebut dapat diubah menjadi energi
kinetik.
Sebagai contoh, jika kita melemparkan gelas ke lantai dan secara
spontan pecah, maka tidak mungkin mengulangi proses untuk dari
yang sebaliknya untuk membuat gelas tersebut utuh kembali.
Contoh kedua, jika kita memindahkan suatu benda, maka interaksi
benda tersebut dengan lingkungannya menyebabkan hilangnya
sejumlah kalor.
Berdasarkan 2 fakta tersebut, beberapa ahli merumuskan
pernyataan hukum kedua termodinamika, sebagai berikut:
1. Rudolf Clausius (1822-1888) menyatakan rumusan Clausius
tentang hukum II termodinamika dengan pernyataan aliran
kalor: kalor mengalir secara spontan dari benda
bertemperatur tinggi ke benda bertemperatur rendah dan tidak
mengalir secara spontan dalam arah kebalikannya.
2. Kelvin dan Planck menyatakan rumusan Kelvin-Planck tentang
hukum II termodinamika tentang mesin kalor: tidak mungkin
membuat suatu mesin kalor yang bekerja dalam suatu siklus
yang semata-mata menyerap kalor dari sebuah reservoir dan
mengubah seluruhnya menjadi kerja luar.
Dengan demikian dapat dirumuskan penyataan hukum
kedua termodinamika secara umum: tidak ada proses yang
dapat berlangsung terus-menerus dengan menyerap kalor dan
mengkonversikan seluruh kalor yang diserap tersebut menjadi

90
90 Termodinamika Kimia
kerja tanpa hasil samping, yaitu adanya kalor yang hilang.
Konsekuensi hukum ini memunculkan besaran termodinamika baru
yang berkaitan dengan kalor yang hilang tersebut, yaitu entropi (S).

B. Entropi
Kalor yang hilang pada suatu proses dapat dinyatakan
dengan suatu variabel keadaan termodinamika yang disebut
entropi, yaitu ukuran jumlah energi atau kalor yang tidak dapat
diubah menjadi kerja. Proses irreversibel (seperti pendinginan
hingga mencapai temperatur yang sama dengan temperatur
lingkungan dan pemuaian bebas gas) adalah proses spontan,
sehingga proses tersebut disertai kenaikan entropi. Sementara itu,
proses reversibel adalah proses yang seimbang sehingga tidak
menyebabkan perubahan entropi.
Jika suatu sistem pada temperatur tertentu mengalami
proses reversibel atau irreversibel dengan kontribusi sejumlah kalor
(dq), maka perubahan entropi sistem tersebut dirumuskan sesuai
persamaan 5.1.
T
dq
S = .............................................................................. (5.1)
Perubahan entropi S hanya tergantung pada keadaan akhir dan
keadaan awal. Satuan entropi dalam sistem SI adalah J K
-1
.
Persamaan 5.1 menjelaskan secara matematis hukum
kedua termodinamika sebagai perubahan entropi sistem sesuai
persamaan 5.2.
dS
alam semesta
O .................................................................. (5.2)

dimana:
dS
alam semesta
= dS
sistem
+ d S
lingkungan
........................................ (5.3)
Artinya, proses reversibel tidak mengubah entropi total alam
semesta (S
alam semesta
= 0), tetapi setiap proses irreversibel selalu
menaikkan entropi alam semesta (S
alam semesta
0).

91
91 DAFTAR ISI
Contoh proses irreversibel dalam kehidupan sehari-hari
yang menyebabkan S > 0 adalah sebagai berikut:
1. Padatan menjadi cairan atau larutan,
2. Cairan menjadi gas.
3. Jumlah molekul gas dalam suatu reaksi kimia meningkat.
4. Temperatur zat bertambah.
Rumusan entropi dalam kondisi statis disebut rumus
Boltzmann yang dirumuskan sesuai persamaan 5.4.
w k S ln = ............................................................................ (5.4)
dimana k = 1.381 x 10
-23
J K
-1
disebut tetapan Boltzmann. Tetapan
ini terkait dengan tetapan gas ideal, yakni R = N
A
k. Persamaan 5.4
menunjukkan entropi berbading lurus dengan W, yakni banyaknya
jalan agar energi sistem dapat dicapai dengan penyusunan ulang
atom-atom atau molekul-molekul diantara keadaan-keadaan yang
ada. Hal ini menunjukkan bahwa entropi menggmbarkan
ketidakteraturan komponen-komponen sistem.
Berdasarkan persamaan 5.2 dan 5.4, dapat disimpulkan
bahwa entropi proses yang berlangsung spontan dalam suatu
sistem yang terisolasi akan meningkat. Dengan demikian hukum
kedua termodinamika dapat pula dinyatakan: derajat
ketidakteraturan dalam alam semesta akan selalu meningkat.
Entropi adalah besaran ekstensif, sehingga jika dibagi
dengan jumlah massa m atau jumlah mol n menjadi entropi jenis (s)
sesuai persamaan 5.5.
m
S
s = atau
n
S
s = ........................................................... (5.5)

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Hitung entropi 1 mol CO
(s)
pada T = 0, asumsikan setiap molekul
CO dapat mengambil salah satu dari dua orientasi tanpa
mempengaruhi energinya!
Jawab:

92
92 Termodinamika Kimia
Cuplikan terdiri dari N molekul CO dengan N = 6.022 x 10
23
dimana
setiap molekul dapat berada dalam 2 orientasi, maka nilai W = 2
N
.
Dengan demikian:
1
23 1 23
76 . 5
2 ln 10 022 . 6 10 381 . 1
ln


=
=
=
JK
JK
w k S


Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Hitunglah besar perubahan entropi lingkungan jika 1 mol N
2
O
4
(g)
terbentuk dari 2 mol NO
2
(g) pada kondisi standar dengan
temperatur tetap.
(-192 JK
-1
)

C. Efisiensi proses termal dan siklus Carnot
Efisiensi proses termal () merupakan perbandingan antara
kalor yang bermanfaat dengan kalor yang dimasukkan pada suatu
sistem. Pembasahan ini sangat penting dalam kajian
termodinamika untuk mengubah kalor menjadi energi mekanik
menggunakan suatu mesin. Demikian pula dalam sistem kimia,
misal sel elektrokimia untuk menghasilkan arus listrik atau
membantu untuk memperoleh sistem dengan temperatur rendah.
Gambaran efisiensi suatu mesin digambarkan pada skema
gambar 5.1. Sebuah mesin diberi energi berupa kalor q
2
pada
temperatur tinggi T
2
, sehingga mesin melakukan kerja mekanik (w).
Energi dibuang sebagai kalor q
1
pada temperatur T
1
.

Dengan
demikian, efisiensi mesin tersebut dapat dirumuskan sesuai
persamaan 5.6.

93
93 DAFTAR ISI

Gambar 5.1. Skema aliran kalor pada suatu mesin kalor
asukkan yang Energi
bermanfaat yang Energi
dim
=
2
1 2
2
q
q q
q
w
= =
% 100 ) 1 (
2
1
=
q
q
........................................................... (5.6)
Untuk menaikkan efisiensi mesin kalor, Sadi Carnot
mempelajari proses irreversibel mesin kalor tersebut. Agar mesin
kalor memiliki efisiensi yang maksimum maka proses irreversibel
tersebut harus dikurangi. Oleh karena itu, Sardi carnot mengasumsi
proses tersebut mengalami siklus yang disebut siklus Carnot
sehingga bersifat reversibel.
Siklus Carnot meliputi empat proses sebagaimana
diperlihatkan pada gambar 5.2. Penjelasan masing-masing siklus
adalah sebagai berikut:
1. Kurva a-b menunjukkan bahwa sistem menyerap kalor q
1
dari
reservoir bertemperatur T
1
untuk melakukan kerja pemuaian
isotermal.
2. Kurba b-c menunjukkan bahwa temperatur turun dari T
1

menjadi T
2
dan melakukan kerja pemuaian adiabatik.

94
94 Termodinamika Kimia
3. Kurva c-d menunjukkan bahwa system melakukan kerja
pemampatan isotermal dimana sistem melepas kalor q
2
ke
reservoir bertemperatur rendah T
2
.
4. Kurva yang terakhir adalah kurva d-a dimana temperatur sistem
naik dari T
2
ke T
1
sambil melakukan kerja pemampatan
adiabatik.

Gambar 5.2. Siklus Carnot
Kerja total yang dilakukan oleh sistem untuk satu siklus
sama dengan luas daerah di dalam siklus. Oleh karena sistem
menerima kalor q
1
dari reservoir bertemperatur tinggi dan melepas
kalor q
2
ke reservoir bertemperatur rendah, maka kerja yang
dilakukan oleh sistem sesuai dengan hukum I termodinamika
diperlihatkan pada persamaan 5.7.
q = U + w atau q
1
q
2
= 0 + w
w = q
1
q
2
........................................................................... (5.7)

95
95 DAFTAR ISI
dimana q
1
adalah kalor yang diserap dari reservoir bertemperatur
tinggi dan q
2
adalah kalor yang dilepas ke reservoir bertemperatur
rendah.
Terkait dengan efisiensi mesin kalor, maka efisiensi mesin
Carnot dapat dirumuskan sesuai persamaan 5.8.
% 100 ) 1 (
2
1
=
T
T
........................................................... (5.8)

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Sebuah mesin kalor menyerap kalor sebanyak 3000 J dan
melakukan kerja serta membuang kalor sebanyak 2500
J. Berapakah efisiensi mesin kalor tersebut ?
Jawab:
% 17
% 100 17 . 0
% 100 ) 83 . 0 1 (
% 100 )
3000
2500
1 (
% 100 ) 1 (
2
1
=
=
=
=
=
q
q



Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Sebuah mesin uap bekerja antara temperatur 500
o
C dan 300
o
C.
Tentukan efisiensi Carnot mesin uap tersebut!
(26%)

D. Fungsi Helmholtz dan fungsi Gibbs
Entropi adalah konsep dasar untuk mengetahui arah
perubahan suatu proses termasuk proses kimia. Perubahan
tersebut selalu menyebabkan perubahan energi sehingga

96
96 Termodinamika Kimia
dibutuhkan besaran baru yang berkaitan langsung dengan entropi
untuk mengetahui perubahan energi tersebut. Misal suatu sistem
kimia mengalami proses irreversibel hingga mencapai
kesetimbangan termal dengan lingkungannya pada temperatur T,
maka perubahan entropinya sesuai pertidaksamaan 5.9.
0
T
dq
dS ......................................................................... (5.9)
Pertidaksamaan 5.9 dapat diinterpretasika dengan dua
cara, yaitu:
1. Kalor berpindah pada volume tetap.
Pada kondisi ini, jika tidak ada kerja selain kerja pemuaian
(dq = dU), maka pertidaksamaan 5.9 ditulis sesuai pertidaksamaan
5.10.
0
|

\
|

V
T
dU
dS ................................................................... (5.10)
Jika energi dalam tetap (dU = 0) atau entropi tetap (dS = 0), maka
pertidaksamaan 5.10 menjadi pertidaksamaan 5.11.
0
,

V U
dS ............................................................................ (5.11a)
atau
0
,

V S
dU ............................................................................. (5.11b)
Pertidaksamaan 5.11a bermakna jika perubahan spontan terjadi
pada volume dan energi dalam tetap (seperti dalam sistem yang
terisolasi), maka entropi sistem bertambah. Sebaliknya,
pertidaksamaan 5.11b bermakna jika perubahan perubahan
spontan terjadi pada volume dan entropi tetap, maka energi dalam
sistem akan berkurang.

2. Kalor berpindah pada tekanan tetap
Pada kondisi ini, jika tidak ada kerja selain kerja pemuaian
(dq = dH), maka pertidaksamaan 5.9 ditulis sesuai pertidaksamaan
5.12.

97
97 DAFTAR ISI
0
|

\
|

p
T
dH
dS ................................................................... (5.12)
Jika entapi tetap (dH = 0) atau entropi tetap (dS = 0), maka
pertidaksamaan 5.12 menjadi pertidaksamaan 5.13.
0
,

p H
dS ............................................................................ (5.13a)
atau
0
,

p S
dH ............................................................................. (5.13b)
Pertidaksamaan 5.13a bermakna jika perubahan spontan
terjadi pada tekanan dan entalpi tetap, maka entropi sistem
bertambah. Sebaliknya, pertidaksamaan 5.13b bermakna jika
perubahan perubahan spontan terjadi pada tekanan dan entropi
tetap, maka entalpi sistem akan berkurang.
Pertidaksamaan 5.10 dan 5.12 memberikan hubungan
antara energi sistem (U dan H) dengan entropi. Hubungan tersebut
dinyatakan dengan besaran termodinamika yang baru, yaitu fungi
Helmholtz (A) sesuai persamaan 5.14 dan fungsi Gibbs (G) sesuai
persamaan 5.15 pada kondisi isotermal.
TdS dU dA = .................................................................... (5.14)
TdS dH dG = .................................................................... (5.15)
atau secara umum dituliskan sesuai persamaan 5.16 dan 5.17.
TS U A = ........................................................................... (5.16)
TS H G = ........................................................................... (5.17)
Gabungan pertidaksamaan 5.10 dengan persamaan 5.14
dan pertidaksamaan 5.12 dengan persamaan 5.15 menghasilkan
pertidaksamaan 5.18 dan 5.19.
0
TV
dA .............................................................................. (5.18)
0
Tp
dG .............................................................................. (5.19)
Kedua pertidaksamaan ini bermakna bahwa perubahan spontan
terjadi jika perubahan energi Helmholtz (A) dan perubahan energi
Gibbs (G) bernilai negatif.

98
98 Termodinamika Kimia
Perubahan energi bebas Gibbs lebih bermanfaat dalam
sistem kimia karena reaksi kimia umumnya dikerjakan pada kondisi
tekanan tetap. Fungsi ini membantu untuk meramalkan terjadinya
suatu reaksi kimia, yakni reaktan hanya dapat berubah menjadi
produk jika terjadi penurunan energi bebas Gibbs. Misal pada suatu
reaksi endoterm, dimana dH > 0, maka entropi sistem harus
bertambah sedemikian banyaknya sehingga TdS bernilai lebih
positif dari dH sehingga dG < 0. Oleh karena itu, reaksi endoterm
dikendalikan oleh pertambahan entropi sistem dan perubahan
entropi sistem tersebut mengatasi pengurangan entropi lingkungan
yang ditimbulkan oleh kalor ke dalam sistem.
Pada keadaan standar, perubahan energi bebas Gibbs
sistem dituliskan G
0
, sehingga 5.15 dapat dituliskan sesuai
persamaan 5.20.
0 0 0
S T H G = ............................................................... (5.20)
Persamaan 5.20 penting untuk menentukan perubahan energi
Gibbs reaksi kimia pada keadaan standar sebagai rujukan, misal
perubahan energi Gibbs reaksi pembentukan standar (G
f
0
).

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Berapa energi yang dihasilkan oleh pembakaran molekul glukosa
pada kondisi standard dan temperatur 37
0
C dalam tubuh untuk
mempertahankan aktivitas otot dan syaraf? Perubahan entalpi
dan entropi standar untuk reaksi tersebut sebesar-2808 kJ mol
-1
dan 182.4 JK
-1
mol
-1
.
Jawab:
1
1 1 1
0 0 0
2864
4 . 182 310 2808


=
=
=
mol kJ
mol JK K mol kJ
S T H G




99
99 DAFTAR ISI
Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Apakah oksidasi besi menjadi Fe
2
O
3
(s) berlangsung spontan jika
pembentukannya disertai perubahan entropi sebesar -272 JK
-1

mol
-1
? Berikan alasan!
(berlangsung spontan karena G<0)

E. Gabungan hukum pertama dan kedua termodinamika
Gabungan hukum pertama dan kedua termodinamika membantu
kita untuk merumuskan persamaan fundamental termodinamika.
Gabungan persamaan 3.8 pada bab sebelumnya, yakni dU = dq
pdV dengan persamaan 5.1 di atas, yakni dq = TdS menghasilkan
persamaan 5.21.
dU = TdS pdV.................................................................... (5.21)
Jika persamaan 5.21 dikembangkan pada sistem terbuka, maka
persamaan tersebut menjadi persamaan 5.22.
dU = TdS pdV + dn.......................................................... (5.22)
dimana adalah potensial kimia sistem, yakni besaran
termodinamika yang menentukan arah gerak zat-zat kimia.
Persamaan 5.22 disebut persamaan fundamental
termodinamika bentuk diferensial untuk energi dalam. Persamaan
tersebut menunjukkan bahwa variabel bebas U adalah S, V, dan n.
Jika persamaan tersebut didiferensialkan secara parsial akan
dihasilkan persamaan 5.23.
dn
n
U
dV
V
U
dS
S
U
dU
V S n S n V
|

\
|

+
|

\
|

+
|

\
|

= .......................... (5.23)
atau
T
S
U
Vn
=
|

\
|

; p
V
U
Sn
=
|

\
|

; =
|

\
|

V S
n
U
; ....................... (5.24)
Dengan cara yang sama, berdasarkan persamaan 3.22 pada
bab sebelumnya, yakni dH = dU + pdV + Vdp dan persamaan

100
100 Termodinamika Kimia
5.22 di atas diperoleh persamaan 5.25 sebagai persamaan
fundamental bentuk diferensial entalpi.
dH = TdS + Vdp + dn.......................................................... (5.25)
Persamaan 5.25 di atas menunjukkan bahwa variabel bebas
H adalah S, p, dan n. Jika persamaan tersebut diferensialkan secara
parsial akan diperoleh persaman 5.26.
dn
n
H
dp
p
H
dS
S
H
dH
Sp
Sn
pn
|

\
|

+
|
|

\
|

+
|

\
|

= ............................ (5.26)
atau
T
S
H
pn
=
|

\
|

; V
p
H
Sn
=
|
|

\
|

; =
|

\
|

p S
n
H
............................. (5.27)
Lebih lanjut, persamaan 5.22 dan 5.25 dapat digunakan
untuk menata ulang persamaan 5.16 dan 5.17 menjadi persamaan
5.28 dan 5.29.
pdV SdT dA = + dn....................................................... (5.28)
VdP SdT dG + = + dn ...................................................... (5.29)
Dengan cara yang sama, diperoleh persamaan fundamental
termodinamika bentuk diferensial energi bebas Helmholtz sesuai
persamaan 5.30,
dn
n
A
dV
V
A
dT
T
A
dA
TV Tn Vn
|

\
|

+
|

\
|

+
|

\
|

= ............................ (5.30)
atau
S
T
A
Vn
=
|

\
|

; p
V
A
Tn
=
|

\
|

; =
|

\
|

TV
n
A
....................... (5.31)
dan persamaan fundamental termodinamika bentuk diferensial
energi bebas Gibbs sesuai persamaan 5.32.
dn
n
G
dp
p
G
dT
T
G
dG
Tp
Tn
pn
|

\
|

+
|
|

\
|

+
|

\
|

= ............................ (5.32)
atau

101
101 DAFTAR ISI
S
T
G
pn
=
|

\
|

; V
p
G
Tn
=
|
|

\
|

; =
|

\
|

p T
n
G
......................... (5.33)

F. Hubungan Maxwell
Persamaan 5.24, 5.27, 5.31, dan 5.33 adalah diferensial
parsial masing-masing suku terhadap suku lain yang dianggap
konstan. Jika suku yang dianggap konstan tersebut ditukar maka
akan diperoleh hubungan Maxwell masing-masing suku
berdasarkan teorema diferensial parsial.
suplemen suplemen suplemen suplemen
Teorema diferensial parsial:
Misal diketahui suatu fungsi
y
x
y x f(x,y)
3
3
= , maka:
2
2
2
3
3
3
3
y
x
y
f
x
y
x
x
y
f
y
x
x
+ =
(

|
|

\
|

+ =
|
|

\
|

dan
2
2
2
3
3
3
3
y
x
x
f
y
y
y x
x
f
x
y
y
+ =
(

\
|

=
|

\
|



Contoh di atas memperlihatkan bahwa
x
y
y
x
x
f
y y
f
x
(

\
|

=
(

|
|

\
|


Jika teorema diferensial parsial di atas diterapkan pada
persamaan 5.24 akan diperoleh persamaan 5.34.
Vn
Sn
Sn
Vn
V
U
S S
U
V
(

\
|

=
(

\
|



Vn Sn
S
p
V
T
(

=
(

.............................................................. (5.34)

102
102 Termodinamika Kimia
Persamaan 5.34 disebut hubungan Maxwell pertama. Cara yang
sama dapat diterapkan pada persamaan 5.24, 5.27, 5.31, dan 5.33
untuk memperoleh 11 kombinasi hubungan Maxwell yang lain.

Co Co Co Contoh Soal ntoh Soal ntoh Soal ntoh Soal
Tentukan perubahan entropi 2 mol gas yang diubah volumenya
dari 10 liter menjadi 20 liter pada temperatur tetap 27 C, jika gas
tersebut:
a. gas ideal
b. gas nyata dengan persamaan keadaan
( ) nRT nb V
V
a n
p =
|
|

\
|
+
2
2

Jawab:
Berdasarkan hubungan Maxwell,
Vn Tn
T
p
V
S
|

\
|

=
|

\
|

, maka:
a. Untuk gas ideal, diketahui
V
nRT
p = atau
V
nR
T
p
Vn
=
|

\
|

,
sehingga hubungan Maxwell di atas dapat ditulis dV
V
nR
dS = .
Jika persamaan ini diintegralkan, diperoleh
1
2
ln
V
V
nR S = ,
sehingga:
1
1
2
53 . 11
ln2 x 8.314 x 2
ln

=
=
=
JK
V
V
nR S

b. Untuk gas nyata (van der Walls), diketahui
2
2
V
a n
nb V
nRT
p

= atau
nb V
nR
T
p
Vn

=
|

\
|

, sehingga hubungan
Maxwell di atas menjadi dV
nb V
nR
dS

= . Jika persamaan ini



103
103 DAFTAR ISI
diintegralkan, diperoleh
nb V
nb V
nR S

=
1
2
ln , sehingga:

1
1
2
50
10
ln 628 16
2 10
2 20
ln 314 8 2
ln
-
JK
-b
-b
x .
b -
b -
x . x
nb V
nb V
nR S
=
=

=


Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Hitunglah G untuk es pada temperatur -10
0
C, jika rapatannya
0.917 g cm
-3
, jika tekanan dinaikkan dari 1 bar menjadi 2 bar!
(2.0 J mol
-1
)

G. Persamaan fundamental bentuk integral dan
persamaan Gibbs-Duheim
Selain persamaan fundamental termodinamika bentuk
diferensial, dikenal pula persamaan fundamental termodinamika
bentuk integral. Persamaan ini diturunakn berdasarkan teori
homogen persamaan diferensial.
suplemen suplemen suplemen suplemen
Definisi fungsi homogen:
Suatu fungsi f(x,y) disebut fungsi homogen orde n terhadap x
dan y jika:
) , ( ) , ( y x f a ay ax f
n
=
Suatu fungsi f(x,y) disebut fungsi homogen orde n terhadap x
jika:
) , ( ) , ( y x f a y ax f
n
=
Contoh:

104
104 Termodinamika Kimia
o Misal suatu fungsi
x
y
x y x f
2
2
3 ) , ( + = , maka:
) , ( 2
2
3 2
4
6 ) 2 , 2 (
1
2 2
y x f
x
y
x
x
y
x y x f =
|
|

\
|
+ = + =
menunjukkan bahwa f (x,y) adalah fungsi homogen orde 1
terhadap x dan y.
o Misal suatu fungsi
x
y
xy y x g
2
2
2
3 ) , ( + = , maka:
( ) y x g
x
y
xy
x
y
xy y x g , 2
2
3 4
8
12 ) 2 , (
2
2
2
2
2
=
|
|

\
|
+ = + =
menunjukkan bahwa g (x,y) adalah fungsi homogen orde 2
terhadap y.

Teorema fungsi homogen:
Jika f(x, y) adalah fungsi homogen orde n terhadap x dan y,
maka berlaku:
( ) ( )
(

|
|

\
|

+
|

\
|

=
x
y
y
y x f
y
x
y x f
x
n
y x f
, , 1
) , (
Jika f(x, y) adalah fungsi homogen orde n terhadap x, maka
berlaku:
( )
(

\
|

=
y
x
y x f
x
n
y x f
, 1
) , (
Jika f(x, y) adalah fungsi homogen orde n terhadap y, maka
berlaku:
( )
(

|
|

\
|

=
x
y
y x f
y
n
y x f
, 1
) , (

Teorema fungsi homogen di atas dapat digunakan untuk
menurunkan persamaan fundamental termodinamika bentuk
integral. Sebagai contoh, persamaan 5.22 menunjukkan bahwa U
merupakan fungsi dari S, V, dan n. Ketiga variabel tersebut
merupakan variabel ekstensif, artinya jika U menjadi dua kali lipat,

105
105 DAFTAR ISI
maka S, V, dan n harus menjadi dua kali lipat pula. Dengan
demikian, dapat dituliskan sesuai persamaan 5.35.
U(2S, 2V, 2n) = 2 U(S, V, n). ................................................ (5.35)
Persamaan 5.35 memperlihatkan bahwa fungsi U (S, V, n)
adalah fungsi homogen orde 1 terhadap S, V, dan n. Dengan
demikian, berdasarkan teorema fungsi homogen dan persamaan
5.24, kita peroleh persamaan 5.36.
U = TS pV + n ................................................................. (5.36)
Persamaan 5.36 disebut fundamental dalam bentuk
integral untuk energi dalam. Dengan cara yang sama diperoleh
persamaan fundamental dalam bentuk integral untuk variabel yang
lain.
H = TS + n . ........................................................................ (5.36)
A = -pV + n ........................................................................ (5.37)
G = n ................................................................................. (5.38)
Jika persamaan 5.36 dideferensialkan akan diperoleh
persamaan 5.39.
dU = TdS + SdT pdV VdP + dn + nd ........................... (5.39)
persamaan 5.39 analog dengan persamaan 5.22, sehingga
diperoleh persamaan 5.40.
SdT VdP + nd = 0 ............................................................ (5.40)
Persamaan 5.40 disebut persamaan Gibbs-Duheim. Persamaan ini
bermakna bahwa tidak mungkin membuat fungsi termodinamika
dengan variabel bebas T, p, dan karena ketiganya terkait satu
sama lain. Dengan kata lain, tidak ada fungsi termodinamika yang
seluruh variabel bebasnya adalah besaran intensif.

H. Merancang fungsi termodinamika secara matematis
Fungsi f (x,y) dapat dimodifikasi menjadi fungsi yang lain
dengan mengganti salah satu variabelnya. Misal fungsi tersebut
akan dimodifikasi menjadi fungsi g dengan mengganti variabel y

106
106 Termodinamika Kimia
menjadi variabel b yang nilai diferensialnya diketahui jika y tetap,
maka:
g (x,b) = f (x,y) x
( )
y
x
y x f
|

\
|

,

Jika kedua variabel x dan y akan diganti dengan variabel a dan b,
maka:
g (a,b) = f (x,y) x
( )
y
x
y x f
|

\
|

,
y
( )
x
y
y x f
|
|

\
|

,

Sebagai contoh untuk besaran termodinamika diketahui
U = U (S,V), maka modifikasinya dapat dilakukan dengan mengganti
variabel V sesuai persamaan 5.41 untuk memperoleh besaran A.
A = U - S
V
S
U
|

\
|

= U TS ..................................................... (5.41)
Dengan cara yang sama dapat diturunkan persamaan
termodinamika yang lain.
H = U + pV .......................................................................... (5.42)
G = H TS = U + pV - TS ..................................................... (5.43)

I. Hukum ketiga termodinamika
Pada temperatur nol mutlak (0 K), semua energi termal
sistem akan hilang sehingga pertikel-partikelnya berada dalam
susunan seragam. Kondisi ini menyebabkan hilangnya
ketidakteraturan atau entropi sistem bernilai nol. Hal ini sesuai
dengan rumusan Boltzman, persamaan 5.4, karena jika W = 1
(hanya satu cara penyusunan molekul), maka S = 0.
Pengamatan termodinamika yang sesuai dengan
kesimpulan ini dikenal sebagai dalil kalor Nernst: perubahan
entropi suatu transformasi mendekati nol, jika temperatur
mendekati nol. Secara matematis, dalil Nernst ditulis sesuai
persamaan 5.44.
0 lim = S
o T
........................................................................... (5.44)

107
107 DAFTAR ISI
Dalil ini merupakan dasar perumusan hukum ketiga
termodinamika yang dinyatakan: Perubahan entropi yang
berkaitan dengan perubahan kimia atau perubahan fisika pada 0
K bernilai nol. Secara intuitif hukum ketiga ini dapat dipahami
berdasarkan fakta bahwa pada 0 K, pergerakan ionik, molekular,
atau atomik yang menentukan derajat ketidakteraturan (entropi)
sistem telah berhenti.
Hukum ketiga termodinamika memungkinkan entropi
absolut zat murni pada tiap temperatur dapat ditentukan
berdasarkan kalor jenisnya. Sebagai contoh, fasa padat pada
temperatur T memiliki entropi yang akan dinyatakan oleh
persamaan 5.45. Persamaan tersebut disebut persamaan entropi
hukum ketiga termodinamika.
dT
T
C
S
T
p

=
0
0
........................................................................ (5.45)
Sementara itu, fasa cair mempunyai entropi absolut sesuai
persamaan 5.46 dan fasa gas mempunyai entropi absolut sesuai
persamaan 5.47.
dT
T
l C
T
H
dT
T
s C
S
T
T
p
m
fus
T
p
m
m

+

+ =
) ( ) (
0 0
0
0
0
...................................... (5.46)
dT
T
g C
T
H
dT
T
l C
T
H
dT
T
s C
S
T
T
p
b
vap
T
T
p
m
fus
T
p
b
b
m
m

+

+ +

+ =
) ( ) ( ) (
0 0 0 0
0
0
0
.... (5.47)
dimana T
m
adalah temperatur pelelehan, T
b
adalah temperatur
penguapan.
Nilai C
p
pada persamaan 5.45 hanya akurat hingga 15 K.
Pada temperatur yang lebih rendah, digunakan persamaan pangkat
tiga Debye dan Einstein sesuai persamaan 5.48, dimana untuk zat
padat C
p
C
v
.
C
p
C
v
= T
3
......................................................................... (5.48)
dimana adalah karakteristik yang berbeda untuk setiap zat.
Gabungan persamaan 5.48 pada persamaan 5.45 menghasilkan

108
108 Termodinamika Kimia
persamaan 5.49, yang bermakna pada temperatur rendah entropi
zat padat sama dengan sepertiga harga C
p
nya.
3 0
3
1
T S = .......................................................................... (5.49)
Konsekuensi lain hukum ketiga termodinamika berdasarkan
persamaan Maxwell
p
T
T
V
p
S
|

\
|

=
|
|

\
|

adalah:
0 lim =
|

\
|

p
o T
T
V
.................................................................. (5.50)
0 lim =
|

\
|

T
o T
V
S
.................................................................. (5.51)
0 lim =
|

\
|

V
o T
T
p
.................................................................. (5.52)
Hasil di atas sesuai dengan kenyataan eksperimental. Sebagai
contoh, Buffington dan Latimer menemukan bahwa koefisien
ekspansi dari beberapa zat padat kristalin mendekati nol.

Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan
1. Segelas air bertemperatur 26
o
C dicampur dengan segelas air
yang bertemperatur 22
o
C. Tentukan perubahan entropi air jika
massa air dalam gelas tersebut sebesar 1 kg!
2. Sebuah mesin kalor menyerap kalor sebanyak 3000 J dan
melakukan kerja. Tentukan efisiensi mesin kalor tersebut jika
kalor yang dibuang sebanyak 1500 J!
3. Sebuah mesin Carnot menerima kalor sebesar 2000 J pada
temperatur 500 K dan melakukan kerja serta membuang
sejumlah kalor pada temperatur 350 K. Tentukan jumlah kalor
yang terbuang tersebut dan perubahan entropi total dalam
mesin selama satu siklus!

109
109 DAFTAR ISI
4. Hitunglah perubahan entropi jika 50 gram air bertemperatur
80
0
C dituangkan ke dalam 100 gram air bertemperatur 10
0
C
dalam wadah berisolasi jika C
p
= 75.5 J K
-1
mol
-1
!
5. Hitunglah kerja bukan pemuaian maksimun per mol yang dapat
diperoleh dari sel bahan bakar yang reaksi kimianya adalah
pembakaran metana pada temperature 298 K!
6. Entalpi transisi fase grafit menjadi intan pada tekanan 100 kbar
dan temperatur 2000 K adalah 1.9 kJ mol
-1
. Hitunglah
perubahan entropi sistem ini!
7. Hitunglah koefisien kinerja pendingin sempurna yang
beroperasi dalam kamar pada temperatur 20
0
C jika bagian
dalam pendingin itu (a) 0
0
C (b) -10
0
C!
8. Definisi entalpi, fungsi Gibbs, dan fungsi Helmholtz semuanya
dalam bentuk: g = f +yz. Buktikan bahwa penambahan hasil kali
yz adalah cara umum untuk mengubah fungsi x dan y menjadi x
dan z, dalam arti bahwa df = adx zdy, maka dg = adx + y dz!
9. Perubahan fungsi Gibbs suatu proses bertekanan tetap
memenuhi bentuk G(J) = -85.4 + 36.5 (TK
-1
). Hitunglah nilai S
proses ini!
10. Perkirakan perubahan fungsi Gibbs 1 L benzena, jika tekanan
padanya bertambah dari 1 menjadi 100 atm!
11. Hitunglah perubahan fungsi Gibbs molar gas hidrogen, jika gas
itu dimampatkan secara isotermal dari tekanan 1 atm menjadi
100 atm pada temperatur 298 K!
12. Tentukan perubahan entropi 2 mol gas yang diubah
tekanannya dari 1 atm menjadi 2 atm pada temperatur tetap
27C!
13. Gunakan hubungan Maxwell untuk membuktikan bahwa
entropi gas sempurna bergantung pada volume sebagai S R
ln V!
14. Buktikan bahwa, jika S dipandang sebagai fungsi T dan V, maka:
dV
T
p
T dT C TdS
V
V
|

\
|

+ =

110
110 Termodinamika Kimia
Hitunglah energi yang harus dipindahkan sebagai kalor pada
gas van der Waals yang memuai secara reversible dan
isotermal dari V
i
sampai dengan V
f
!
15. Volume polimer yang baru disintesis bergantung pada tekanan
secara eksponensial, yaitu sebagai V = V
0
e
-p/p*
, dengan p
sebagai kelebihan tekanan p* adalah konstanta. Simpulkan
bentuk fungsi Gibbs polimer tersebut sebagai fungsi kelebihan
tekanan. Bagaimana arah perubahan alamiah material yang
dimampatkan jika tekanannya dihilangkan?























111
111 DAFTAR ISI








KESETIMBANGAN KIMIA KESETIMBANGAN KIMIA KESETIMBANGAN KIMIA KESETIMBANGAN KIMIA



A. Syarat kesetimbangan kimia
Pada bab sebelum telah diperoleh hubungan antara
perubahan energi Gibbs dan jumlah partikel sebagaimana
dinyatakan pada persamaan 5.33 dan ditulis kembali pada
persamaan 6.1.
T p
n
G
,
|

\
|

= atau n G = ............................................... (6.1)


Persamaan 6.1 merupakan definisi potensial kimia. Jika sistem
terdiri dari dua komponen (reaktan A dan produk B), maka
persamaan tersebut dapat ditata ulang menjadi persamaan 6.2.
B
n n G
B A A
+ = ........................................................... (6.2)
Hasil integrasinya adalah persamaan 6.3.
B
n n G
B A A
+ = ......................................................... (6.3)
Pada sistem tersebut, pengurangan jumlah reaktan A (
A
n )
sama dengan penambahan jumlah produk B (
B
n ) atau sesuai
dengan persamaan 6.4.


112
112 Termodinamika Kimia
-
A
n = +
B
n = ............................................................ (6.4)
dimana disebut tingkat reaksi. Subtitusi persamaan 6.4 ke
persamaan 6.3 menghasilkan persamaan 6.5.
+ =
B A
G atau ( ) =
A B
G ................ (6.5)
Jika
A B
< , maka kemiringan grafik akan negatif sehingga
reaksi akan spontan. Sebaliknya, jika
A B
> , maka kemiringan
grafik akan positif sehingga reaksi yang terjadi tidak spontan. Reaksi
akan setimbang jika kemiringan grafik sama dengan nol, yaitu
A B
= . Penjelasan di atas dapat digambarkan sebagai fungsi G
versus pada gambar 6.1.

Gambar 6.1. Grafik energi Gibbs dan tingkat reaksi

B. Kesetimbangan homogen
Jika komponen yang terlibat dalam suatu kesetimbangan
hanya terdiri dari satu fase, maka kesetimbangan tersebut disebut
kesetimbangan homogen. Penjelasan kesetimbangan homogen
pada beberapa sistem adalah sebagai berikut:
1. Kesetimbangan pada gas ideal
Perubahan energi Gibss pada sistem tertutup dan tidak
melakukan kerja non pemuaian dapat diturunkan dengan

113
113 DAFTAR ISI
menggunakan hubungan Maxwell sebagaimana ditunjukkan pada
persamaan 6.6.
SdT Vdp dG = ................................................................ (6.6)
Pada kondisi isotermal, persamaan 6.6 diubah menjadi persamaan
6.7.
Vdp dG = ........................................................................... (6.7)
Hasil integrasi persamaan 6.7 pada batas p
0
(1 bar) hingga p
tertentu adalah persamaan 6.8.

=
p
p
G
G
dp
p
nRT
dG
0 0

p nRT G G ln
0
= .............................................................. (6.8)
Jika persamaan 6.8 dibagi dengan n dimana =
n
G
, maka akan
diperoleh persamaan 6.9.
p RT ln
0
=
p RT ln
0
+ = ........................................................ (6.9)
Gabungan persaman 6.5 dan 6.9 adalah persamaan 6.10.
( ) ( )
( )
A B A B
A A B B
p p RT
p RT p RT
G
ln ln
ln ln
0 0
0 0
+ =
+ + =


A
B
0
p
p
ln RT G G
r r
+ = ........................................................ (6.10)
dimana
r
G adalah energi Gibbs reaksi dan
0
r
G adalah energi
Gibbs reaksi pada keadaan standar. Pada keadaan standar
0
r
G =
0
G sehingga persamaan 6.10 dapat ditulis ulang menjadi
persamaan 6.11.
A
B
0
p
p
ln RT G G
r
+ = ....................................................... (6.11)

114
114 Termodinamika Kimia
Pada saat kesetimbangan
r
G = 0, sehingga diperoleh
persamaan 6.12.
A
B
0
p
p
ln RT G = ............................................................... (6.12)
dimana
A
B
p
p
= K
p
, yakni konstanta kesetimbangan tekanan masing-
masing komponen. Akhirnya, untuk gas ideal diperoleh persamaan
6.13.
p
K ln RT G
o
= ................................................................ (6.13)
Berdasarkan persamaan 6.13, kondisi hasil reaksi pada saat
ketimbangan dapat diramalkan sebagaimana ditampilkan pada
tabel 6.1.
Tabel 1. Hubungan G
0
dan K serta perkiraan kondisi reaksi
K ln K G
0
Kondisi hasil reaksi
> 1 Positif Negatif
Produk lebih banyak terbentuk saat
kesetimbangan
= 1 0 0
Jumlah produk = reaktan saat
kesetimbangan
< 1 Negatif Positif
Reaktan lebih banyak terbentuk saat
kesetimbangan

2. Hubungan antara K
p
dan K
c
untuk Sistem Gas Ideal
Persamaan gas ideal dapat dimodifikasi sesuai persamaan
6.14.
nRT pV =
CRT RT
V
n
p = = ................................................................. (6.14)
Konstanta kesetimbangan konsentrasi (K
c
) suatu reaksi reversibel
(aA bB) adalah sebagai berikut:

115
115 DAFTAR ISI
[ ]
[ ]
a
b
c
A
B
K = ........................................................................... (6.15)
Persamaan 6.14 dapat digunakan untuk memodifikasi persamaan
6.15 menjadi persamaan 6.16.
( )
( )
( )
( )
( )
( ) n
p
a b
p
a b
p b
a
a
A
b
B
a
A
b
B
c
RT
K
RT
K RT K
RT
RT
p
p
RT
p
RT
p
K


= = = =
(

=
1 1


n
c p
RT K K

= .................................................................... (6.16)

3. Kesetimbangan pada Gas Nyata
Apabila sistem terdiri dari gas nyata, digunakan fugasitas (f)
sebagai pengganti p. Hubungannya dinyatakan pada sesuai
persamaan 6.17.
p f = ................................................................................. (6.17)
dimana = koefisien aktifitas (untuk gas ideal = 1). Hasil yang
diperoleh sesuai persamaan 6.18.
( )
( )
( )
( )
( )
( )

K
K
f
f
f
f
p
p
K
f b
B
a
A
a
A
b
B
a
A
A
b
B
B
a
A
b
B
p
1
= =
(

= =

K K K
p f
= .......................................................................... (6.18)
Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Jika diketahui:
N
2(g)
+ O
2(g)
2NO
(g)
K
c
= 4.1 x 10
-31

N
2(g)
+ O
2(g)
N
2
O
(g)
K
c
= 2.4 x 10
-18

Bagaimana K
c
reaksi:
N
2
O
(g)
+ O
2(g)
2NO
(g)
K
c
= ?
Penyelesaian:
Kita dapat menggabungkan persamaan diatas menjadi:

116
116 Termodinamika Kimia
N
2(g)
+ O
2(g)
2NO
(g)
K
c
(1) = 4.1 x 10
-31
N
2
O
(g)
N
2(g)
+ O
2(g)
K
c
(2) = 1/(2.4 x 10
-18
) = 4,2 x 10
17

N
2
O
(g)
+ O
2(g)
2NO
(g)
K
c
(3) = ?
diperoleh:
13 17 31
2 / 1
2 2
2
2
2 / 1
2 2
2 2
2
10 7 . 1 10 2 . 4 10 1 . 4 ) 2 ( ) 1 ( ) 3 (
) 3 (
] ][ [
] [
] [
] ][ [
] ][ [
] [

= = =
= =
x x x x K x K K
K
O O N
NO
O N
O N
x
O N
NO
c c c
c

Kesimpulan:
Persamaan apapun yang digunakan untuk K
c
harus sesuai
dengan reaksi kimianya yang setara
Jika persamaannya dibalik, nilai K
c
dibalik yaitu persamaan
yang baru kebalikan dari persamaan aslinya
Jika koefisien dalam persamaan setara dikalikan dengan faktor
yang sama, tetapan kesetimbangan yang baru adalah akar
berpangkat faktor tersebut didapat tetapan kesetimbangan
yang lama

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Suatu sampel COCl
2
dibiarkan terdekomposisi berdasarkan reaksi
berikut:
COCl
2(g)
CO
(g)
+ Cl
2(g)

Nilai K
c
pada kesetimbangan adalah sebesar 2,2 x 10
-10
pada
100
o
C. Jika konsentrasi awal COCl
2
sebesar 0.095 M, berapa
konsentrasi tiap komponen pada saat kesetimbangan tercapai?
(0.095 M; 9.1 x 10
-6
M; 9.1 x 10
-6
M)

C. Kesetimbangan Heterogen
Jika komponen yang terlibat dalam kesetimbangan
kimia lebih dari satu fase, maka kesetimbangan tersebut disebut
kesetimbangan heterogen. Contoh reaksi kesetimbangan
heterogen adalah penguraian kalsium karbonat pada reaksi 6.19.

117
117 DAFTAR ISI
CaCO
3(s)
CaO
(s)
+ CO
2(s)
................................................. (6.19)
Pada saat kesetimbangan, potensial kimia sistem mengikuti
persamaan 20.
( ) 0
3 2
= +
CaCO CO CaO
.................................................... (6.20)
dimana
CaO
CaO
0
= ...................................................................... (6.21a)
2
2
2
ln
0
CO
CO
CO
p RT + = ..................................................... (6.21b)
3
3
0
CaCO
CaCO
= .................................................................. (6.21c)
Persamaan 6.21a dan 6.21c didasarkan pada fakta bahwa padatan
tidak memberikan sumbangsi terhadap tekanan total sistem atau
CaO
p =
3
CaCO
p = 0.
Subtitusi persamaan 6.21 a, 6.21 b, dan 6.21 c pada
persamaan 6.20 menghasilkan persamaan 6.22.
( ) ( )
( )
0 ln
0 ln
0 ln
2
2
3 2
3
2
2
0
0 0 0
0 0 0
= +
= + +
= + +
CO
CO
CaCO CO CaO
CaCO
CO
CO CaO
p RT G
p RT
p RT



2
ln
0
CO
p RT G = .............................................................. (6.22)
Persamaan 6.22 identik dengan persamaan 6.13, sehingga
konstanta kesetimbangan reaksi 6.19 adalah persamaan 6.23.
2
CO p
p K = .............................................................................. (6.23)
Persamaan 6.23 memperlihatkan bahwa konstanta
kesetimbangan hanya mengandung komponen-komponen yang
konsentrasi atau tekanan parsialnya berubah selama reaksi
berlangsung. Atas dasar ini walaupun ikut bereaksi tapi karena
tidak berubah, maka padatan murni dan cairan murni tidak
diperhitungkan dalam persamaan tetapan kesetimbangan.



118
118 Termodinamika Kimia
Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Bila reaksi C
(s)
+ CO
2(g)
2CO
(g)
berlangsung pada temperatur
850
0
C dan tekanan total 1 atm, campuran pada kesetimbangan
mengandung 93.77 % (v/v) CO dan 6.23 % (v/v) CO
2
. Tentukan
harga K
p
reaksi tersebut!
Penyelesaian:
Menurut hukum Avogadro, komposisi relatif di dalam volume
sama dengan komposisi molar, sehingga mol fraksi masing-masing
adalah 0.9377 untuk CO dan 0,0623 untuk CO
2
. Dengan tekanan
total 1 atm, tekanan parsial CO adalah 0.9377 dan 0.0623 untuk
tekanan parsial CO
2
. Akhirnya, diperoleh:
( )
11 , 14
0623 , 0
9377 , 0
2
=
= Kp


Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Tentukan K
c
reaksi berikut:
CaCO
3
(s) CaO(s) + CO
2
(g) K
p
= 2.1 x 10
-4
(pada 1000 K)
(2.56 x 10-6)

D. Respon Kesetimbangan terhadap Berbagai Kondisi
Jika suatu sistem kesetimbangan diberi gangguan, maka
sistem itu akan bereaksi untuk menghilangkan gangguan tersebut.
Prinsip ini disebut prinsip Le Chateliers dan gangguan yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Temperatur
Jika temperatur dinaikkan, maka konstanta
kesetimbangan akan meningkat (produk bertambah) pada sistem
endoterm, sebaliknya konstanta kesetimbangan turun (reaktan
bertambah) pada sistem eksoterm. Secara matematis, pernyatan

119
119 DAFTAR ISI
tersebut dapat dibuktikan menggunakan persamaan Gibbs-
Helmholzt sebagaimana persamaan 6.24.
TS H G =
T
H G
S

= ....................................................................... (6.24)
Pada tekanan konstan (dp = 0) persamaan 6.24 dapat dituliskan
sesuai persamaan 6.25.
SdT dG =

p
T
G
S
|

\
|

= .................................................................... (6.25)
Substitusi 6.24 dan 6.25 menghasilkan persamaan 6.26.

T
H
T
G
T
G
T
H G
T
G
p
p
=
|

\
|

=
|

\
|


T
H
T
G
T
G
p
=
|

\
|

.............................................................. (6.26)
Persamaan 6.26 diselaikan menggunakan persamaan 6.27.
)
`

\
|

\
|

=
|

\
|

+
|

\
|
=
|

\
|

+
|

\
|

= |

\
|
|

\
|

T
G
T
G
T
T
G
T
G
T
T
G
T T
G
G
T T T T
G
T
G
T
p
p
p
p p
p
1
1
1 1
1 1
2
2

p
p
T
G
T
T
T
G
T
G
|
|

\
|
|

\
|

=
|

\
|

................................................ (6.27)

120
120 Termodinamika Kimia
Ruas kiri persamaan 6.26 sama dengan ruas kiri persamaan 6.27,
sehingga diperoleh persamaan Gibbs-Helmholtz sesuai persamaan
6.28.
T
H
T
G
T
T
p
= |

\
|
|

\
|



2
T
H
T
G
T
p
=
|
|

\
|
|

\
|

.......................................................... (6.28)
Untuk membuktikan secara matematis pengaruh
temperatur terhadap konstanta kesetimbangan digunakan
persamaan 6.13 yang ditata ulang sebagaimana persamaan 6.29.
RT
G
0
K ln

= ..................................................................... (6.29)
Kebergantungan K akan terlihat jika persamaan 6.29 diturunkan
sebagai fungsi temperatur sebagai berikut:
|
|

\
|
=
RT
G
dT
d
K ln
dT
d
0

|
|

\
|
=
|

\
|

T
G
dT
d
K ln
dT
d
R
0
.................................................. (6.30)
Ruas kanan persamaan 6.30 mirip dengan ruas kiri
persamaan Gibbs-Helmholtz (persamaan 6.28). Berdasarkan dua
persamaan tersebut diperoleh persamaan 6.31 yang dikenal
sebagai persamaan vant Hoff.
dT
RT
H
K d
RT
H
K
dT
d
T
H
K
dT
d
R
2
0
2
0
2
0
ln
ln
ln
=
=
=
|

\
|



121
121 DAFTAR ISI
|
|

\
|
=
=

1 2
0
1 2
2
1
2
0 2
1
1 1
ln ln
ln
T T R
H
K K
dT
RT
H
K d

( )
2 1
1 2
0
1
2
ln
T T
T T
R
H
K
K

= .......................................... (31)

2. Tekanan dan Volume
Konstanta kesetimbangan tidak dipengaruhi oleh
perubahan tekanan, karena konstanta kesetimbangan ditentukan
pada tekanan konstan (isobar). Secara matematis, hubungan K dan
p dinyatakan dengan persamaan 6.32.
0 =
|
|

\
|

T
p
K
........................................................................ (6.32)
Akan tetapi, bertambahnya tekanan sistem menyebabkan
kesetimbangan bergeser ke sisi yang jumlah mol gasnya lebih kecil.
Contoh sederhana adalah reaksi pembentukan HI dan penguraian
N
2
O
4
berikut:
H
2(g)
+ I
2(g)
2HI
(g)
N
2
O
4(g)
2NO
2(g)

Pada reaksi pertama, penambahan tekanan tidak
mempengaruhi konstanta dan jumlah masing-masing komponen,
karena jumlah mol gas reaktan = produk. Sebaliknya, pada reaksi
kedua, penambahan tekanan akan menggeser reaksi ke kiri, jumlah
NO
2
berkurang dan jumlah N
2
O
4
bertambah (meski demikian,
tekanan parsial masing-masing komponen tetap).
Misalkan jumlah N
2
O
4
awal adalah n (dan NO
2
masih nol).
Pada saat kesetimbangan, jika N
2
O
4
berkurang sebesar n, maka
NO
2
akan bertambah 2n. Jumlah N
2
O
4
saat kesetimbangan
tersebut adalah n-n, sehingga fraksi mol masing-masing
komponen adalah:

122
122 Termodinamika Kimia
( )
( )
( ) n
n
n
n
n n n
n n
x
O N
+

=
+

=
+

=
1
1
1
1
2
2 2

............................ (6.33a)
( ) ( )

+
=
+
=
+
=
1
2
1
2
2
2
2
n
n
n n n
n
x
NO
............................ (6.33b)
Konstanta kesetimbangannya adalah:
( ) ( ) ( )
4 2
2
4 2
2
4 2
2
2 2 2
O N
NO
O N
NO
O N
NO
p
x
p x
p x
p x
p
p
K = = = ...................................... (6.34)
Jika p bertambah, maka
4 2
O N
x harus bertambah agar Kp tetap.
Besarnya
2
NO
x dan
4 2
O N
x dapat disubstitusi dari persamaan 6.33.
Pengaruh volume pada kesetimbangan reaksi kimia
merupakan kebalikan pengaruh tekanan, yang disimpulkan sebagai
berikut:
Jika volum diperbesar, kesetimbangan bergeser ke jumlah
koefisien yang besar
Jika volum diperkecil, kesetimbangan bergeser ke jumlah
koefisien yang kecil
Perubahan volum hanya menggeser arah reaksi, tidak
menggubah K
c
.

3. Perubahan Konsentrasi
Perubahan konsentrasi tidak merubah nilai tetapan
kesetimbangan pada temperatur yang tetap. Jika suatu zat
ditambahkan ke dalam sistem yang setimbang, kesetimbangan
akan bergeser ke arah sisi yang lain. Jika zat dikurangi dari sistem
yang setimbang, kesetimbangan akan bergeser ke arah sisi tempat
zat itu diambil. Contoh sederhana adalah reaksi pembentukan HI
berikut:
H
2(g)
+ I
2(g)
2HI
(g)

Jika sejumlah I
2
ditambahkan ke dalam campuran, maka
kesetimbangan bergeser ke produk (HI bertambah, tapi H
2

berkurang). Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar 6.2.

123
123 DAFTAR ISI

Gambar 6.2. Perubahan konsentrasi jika sejumlah I
2
ditambakan
pada reaksi H
2(g)
+ I
2(g)
2HI
(g)

Kondisi yang lain, jika jumlah H
2
dikurangi, maka kesetimbangan
bergeser ke reaktan (HI berkurang, tapi I
2
bertambah). Ilustrasinya
dapat dilihat pada gambar 6.3.

Gambar 6.3. Perubahan konsentrasi jika H
2
dikurangi
pada reaksi H
2(g)
+ I
2(g)
2HI
(g)


4. Penambahan Gas Lembam (Inert)
Pengaruh gas lembam pada kesetimbangan tergantung
pada cara menambahkan gas tersebut. Jika sejumlah gas lembam
(seperti Helium) ditambahkan pada keadaan volume tetap, maka
tekanan total sistem akan meningkat. Akan tetapi, tekanan parsial
masing-masing gas akan tetap, so kontanta kesetimbangan tidak
berubah.
Jika gas ditambahkan pada tekanan tetap, maka volume
sistem akan bertambah. Pengaruhnya: jika mol reaktan dan produk
sama, maka kesetimbangan tidak bergeser, tapi jika mol reaktan

124
124 Termodinamika Kimia
lebih besar dari produk maka kesetimbangan bergesar ke reaktan
atau jika mol produk lebih besar dari reaktan maka kesetimbangan
bergeser ke produk.
Gas lembam hanya mempengaruhi konstanta
kesetimbangan jika gas tersebut mengakibatkan perubahan
konsentrasi (atau tekanan parsial) masing-masing komponen
sistem.

5. Katalis
Katalis dalam reaksi reversibel dapat mempercepat reaksi
baik kekanan atau kekiri sehingga keadaan kesetimbangan tercapai
lebih cepat. Katalis hanya merubah mekanisme reaksi dengan
energi aktivasi yang lebih kecil tapi tidak mengubah konstanta
kesetimbangan karena konstanta kesetimbangan tidak bergantung
pada mekanisme reaksi.

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Untuk reaksi kesetimbangan, 2H
2
(g) + O
2
(g) 2H
2
O(g), harga
tetapan kesetimbangan akan bertambah jika:
a. temperatur dinaikkan d. H
2
dikurangi
b. tekanan dinaikkan e. H
2
O ditambah
c. tekanan diturunkan
Penyelesaian:
Jawaban yang benar adalah b dengan penjelasannya sebagai
berikut:
a. reaksi pembakaran adalah reaski eksoterm, menghasilkan
kalor, sehingga menambah panas (menaikkan temperatur)
justru menggeser reaksi ke kiri (reaktan), sehingga K
p
menjadi
lebih kecil.
b. menambah tekanan menggeser reaksi ke jumlah mol zat
paling kecil, yaitu ke produk, sehingga Kp menjadi lebih besar.
c. menurunkan tekanan menggeser reaksi ke jumlah mol zat
paling besar, yaitu ke reaktan, sehingga Kp menjadi lebih kecil.

125
125 DAFTAR ISI
d. mengurangi komponen, menggeser reaksi ke arah komponen
yang dikurangi, yaitu reaktan, sehingga Kp menjadi lebih kecil.
e. menambah komponen, menggeser reaksi dari komponen yang
ditambah, yaitu dari produk ke reaktan, sehingga Kp menjadi
lebih kecil.

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Klorometana terbentuk melalui reaksi:
CH
4(g)
+ Cl
2(g)
CH
3
Cl
(g)
+ HCl
(g)

pada 1500 K, konstanta kesetimbangan K
p
= 1.6 x 10
4
. Didalam
campuran reaksi terdapat p(CH
4
) = 0.13 atm, p(Cl
2
) = 0.035 atm,
p(CH
3
Cl) = 0.24 atm dan p(HCl) = 0.47 atm. Apakah reaksi di atas
menuju ke arah pembentukan CH
3
Cl atau pembentukan CH
4
!
(ke arah pembentukan CH
3
Cl)

Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan
1. Nilai Kp pada 25
0
C untuk reaksi kesetimbangan:
CO
2

(g)
+ H
2

(g)
CO
(g)
+ H
2
O
(g)

adalah 10
-5
. Jika 1 mol CO, 2 mol H
2
dan 3 mol CO
2
dimasukkan
ke dalam labu berukuran 5 L pada 25
0
C, hitunglah:
a. perubahan energi Gibbs standar pada temperatur tersebut
b. tetapan kesetimbangan yang dinyatakan dengan
konsentrasi molar
c. mol setiap komponen saat kesetimbangan
2. Untuk reaksi N
2(g)
+ 2 O
2(g)
2 NO
2

(g)
, harga K
p
pada 2000 dan
2500 K masing-masing 4,08 x 10
-4
dan 36 x 10
-4
. Tentukan
harga H !
3. Hitung Kp untuk reaksi, CO
(g)
+ H
2
O
(g)
CO
2(g)
+ H
2(g)
pada 25
C, jika G = - 6.816 kkal.

126
126 Termodinamika Kimia
4. Bila reaksi C
(s)
+ CO
2(g)
2CO
(g)
berlangsung pada temperatur
850
0
C dan tekanan total 1 atm, campuran pada kesetimbangan
mengandung 93.77 % (v/v) CO dan 6.23 % (v/v) CO
2
. Hitung:
a. harga K
p

b. komposisi kesetimbangan pada tekanan total 5 atm
5. Reaksi CO
(g)
+ H
2
O
(g)
CO
2(g)
+ H
2(g)
K
c
= 1 pada kira-kira 1100
K. Sejumlah zat berikut dicampur pada temperatur tersebut
dan dibiarkan bereaksi: 1 mol CO, 1 mol H
2
O, 2 mol CO
2
dan 2
mol H
2
. Kearah mana reaksi akan berjalan dan bagaimana
komposisi akhirnya?
6. Untuk reaksi:
NH
3
1/2 N
2
+ 3/2 H
2
K
c
= 5.2 x 10
-5
(pada 298 K)
Berapakah nilai K
c
pada 298 K untuk reaksi:
N
2
+ 3H
2
2NH
3

7. Untuk reaksi N
2
O
4(g)
2NO
2(g)
, H
o
= +61.5 kJ mol
-1
dan K
p
=
0,113 pada 298K. Berapa nilai K
p
pada 0
o
C dan pada temperatur
berapa nilai K
p
= 1 ?
8. Harga K
p
reaksi COCl
2(g)
CO
(g)
+ Cl
2(g)
pada 400
o
C adalah 4.25.
Bila tekanan COCl
2
mula-mula 1.35 atm, tentukan tekanan
parsial setiap komponen dalam keadaan setimbang!
9. Senyawa ClF
3
disiapkan melalui 2 tahap reaksi fluorinasi gas
klor sebagai berikut:
Cl
2(g)
+ F
2(g)
ClF
(g)

ClF
(g)
+ F
2(g)
ClF
3(g)

a. Seimbangkan masing-masing reaksi di atas dan tuliskan
reaksi totalnya!
b. Buktikan bahwa K
c
totalnya = hasil kali K
c
masing-masing
tahap reaksi ?
10. Nilai K
p
reaksi CO
2(g)
+ H
2(g)
CO
(g)
+ H
2
O pada temperatur
400
o
C adalah 0.08 dan pada 600
o
C adalah 0.41. Tentukan
apakah reaksi tersebut endotermik atau eksotermik!

127
127 DAFTAR ISI








KE KE KE KESETIMBANGAN SETIMBANGAN SETIMBANGAN SETIMBANGAN FASA FASA FASA FASA



Pada bab sebelumnya telah dibahas syarat terjadinya
kesetimbangan kimia, yakni potensial kimia reaktan sama dengan
potensial kimia produk. Syarat tersebut juga berlaku pada
kesetimbangan fasa. Kesetimbangan fasa dan terjadi jika
potensial kimia fasa sama dengan dengan potensial kimia fasa .
Pernyataan ini sesuai persamaan 7.1.


fasa fasa
= ................................................................... (7.1)

A. Fasa dan Transisi Fasa
Fasa adalah bagian sistem dengan komposisi kimia dan
sifatsifat fisika yang sama, terpisah dari bagian yang lain oleh
suatu bidang batas, dan dapat dipisahkan secara fisik. Contoh-
contoh fasa yang umum adalah padat, cair, dan gas.
Pada kondisi-kondisi tertentu fasa padat dapat berubah
menjadi fasa cair atau sebaliknya, demikian pula fasa padat dapat
berubah menjadi fasa gas atau sebaliknya, dan seterusnya.


128
128 Termodinamika Kimia
Perubahan-perubahan tersebut disebut transisi fasa. Gambaran
transisi fasa dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Transisi 3 jenis fasa
Jika laju pelelehan padat sama dengan laju pembekuan
cair, maka transisi fasa dalam kesetimbangan yang disebut
kesetimbangan fasa padat dan cair. Pada kondisi tersebut potensial
kimia fasa padat sama dengan potensial kimia fasa cair.

B. Jumlah fasa dan komponen dalam campuran
Jumlah fase dalam suatu sistem disimbol P. Gas atau
campuran gas hanya memiliki satu fasa, yaitu fasa gas dan disebut
berfasa tunggal, demikian halnya kristal termasuk sistem yang
berfase tunggal atau dua cairan yang bercampur sempurna
termasuk fase tunggal. Campuran es dan air adalah sistem yang
berfasa dua (P = 2) walaupun sulit untuk menemukan batas antara
fasa-fasanya.
Campuran dua logam adalah sistem sistem yang berfasa dua
(P = 2) jika logam-logam itu tak dapat campur, tetapi merupakan
sistem yang berfasa tunggal (P = 1) jika logam-logamnya dapat
campur. Contoh ini menunjukan bahwa memutuskan apakah suatu
sistem berfasa tunggal atau berfasa dua, tidak selalu mudah.

129
129 DAFTAR ISI
Kesulitan tersebut ditemukan pada skala mikroskopik, karena pada
skala tersebut, dispersi yang seragam sulit ditemukan. Sampel kecil
seluruhnya dapat berasal dari butiran kecil satu komponen saja,
sehingga sampel itu bukan contoh tepat dari keseluruhan
campuran.
Campuran gas sebagai fasa tunggal sebagaimana disebutkan
di atas dapat terdiri dari berbagai komponen. Jumlah komponen ini
disimbol C, yakni jumlah minimum spesies bebas yang diperlukan
untuk menemukan komposisi semua fase yang ada dalam sistem.
Definisi ini mudah diberlakukan jika spesies yang ada dalam sistem
tidak bereaksi, sehingga kita hanya menghitung banyaknya.
Misalnya air murni adalah sistem satu komponen (C = 1) dan
campuran etanol dan air adalah sistem dua komponen (C = 2).
Jika spesies bereaksi seperti amonium klorida yang berada
dalam kesetimbangan dengan uapnya berikut:
NH
4
Cl
(s)
NH
3(g)
+ HCl
(g)

Kedua fase mempunyai komposisi formal NH
4
Cl sehingga
dianggap sistem mempunyai satu komponen. Namun, jika HCl
berlebih ditambahkan, sistem mempunyai dua komponen karena
jumlah relatif HCl dan NH
3
berubah-rubah. Contoh yang berbeda
adalah kalsium karbonat yang berada dalam kesetimbangan
dengan uapnya berikut:
CaCO
3(s)
CaO(s) + CO
2(g)

Sistem tersebut adalah sistem dua komponen karena CaCO
3
tidak
menggambarkan komposisi uapnya. Pada reaksi tersebut,
konsentrasi kalsium oksida bukanlah variabel bebas.
Cara sederhana untuk menentukan jumlah komponen dalam
suatu sistem yakni dengan menggunakan hubungan C = S R,
dimana S adalah jumlah semua spesies termasuk ion-ion dalam
sistem dan R adalah banyaknya antara spesies-spesies termasuk
reaksi-reaksi pada kesetimbangan dan kenetralan muatan. Misal,
sistem campuran air dan sukrosa memiliki 2 spesies sehingga S = 2,
dimana spesies tersebut tidak ada hubungan sehingga R = 0.
Hasilnya, diperoleh jumlah komponen sistem tersebut, yakni C = 2.

130
130 Termodinamika Kimia
Contoh yang lain adalah natrium klorida dalam air dimana
spesies yang ada dalam sistem terdiri dari molekul H
2
O, ion Na
+
dan
ion Cl
-
, sehingga S = 3. Muatan listrik sistemnya netral sehingga
jumlah ion Na
+
sama dengan ioni Cl
-
. Ini menunjukkan satu bentuk
hubungan sehingga R = 1. Hasil yang diperoleh adalah C = 3 -1 = 2.
Contoh yang lebih rumit adalah sistem asam fosfat encer
dimana spesies yang ada dalam sistem tersebut adalah H
2
O, H
3
PO
4
,
H
2
PO
4
-
, HPO
4
-2
, PO
4
-3
, H
+
, sehingga S = 6. Hubungan masing-masing
spesies ditunjukkan reaksi kesetimbangan berikut:
H
3
PO
4 (aq)
H
2
PO
4
-
(aq) + H
+
(aq)

H
2
PO
4
-
(aq)
HPO
4
-2
(aq) + H
+
(aq)

HPO
4
-2
(aq)
PO
4
-3
+ H
+
(aq)

Hubungan yang lain adalah kenetralan muatan keseluruhan sistem
sehingga jumlah total kation harus sama dengan jumlah total
anionnya, apapun jenisnya. Dengan demikian, banyaknya
hubungan total adalah R = 4, sehingga jumlah total komponen C =
6- 4 = 2.
Perilaku fasa untuk sistem satu komponen secara
matematis dapat dipelajari menggunakan persamaan Clausius dan
persamaan ClausisusClapeyron. Untuk sistem dua komponen,
larutan ideal mengikuti hukum Raoult dan larutan real mengikuti
hukum Henry. Untuk sistem tiga komponen cukup dijelaskan secara
deskrptif.

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Amonium klorida terurai jika dipanaskan. (a) Berapa jumlah
komponen dan fasa yang ada jika garam itu dipanaskan dalam
wadah yang hanya berisi garam tersebut? (b) Kemudian,
andaikan ada tambahan ammonia. Berapa jumlah komponen
dan fase yang ada dalam wadah itu?
Jawab:


131
131 DAFTAR ISI
NH
4
Cl
(s)
NH
3

(g)
+ HCl
(g)

jumlah komponen (c) = 1 dan jumlah fase (p) = 2 (padat dan gas)
jumlah komponen (c) = 2 dan jumlah fase (p) = 2 (padat dan gas)

Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Nyatakan jumlah komponen sistem AlCl
3
dalam air, dengan
memperhatikan terjadinya hidrolisa dan pengendapan Al(OH)
3
.
(3)

C. Sistem Satu Komponen
1. Keberadaan FasaFasa dalam Sistem Satu Komponen
Berdasarkan hukum termodinamika telah diturunkan
persamaan untuk perubahan energi Gibbs sesuai persamaan 7.2.
SdT Vdp dG = ............................................................... (7.2)
Jika masing-masing ruas dibagi n (jumlah zat) akan diperoleh
persamaan 7.3.
dT S dp V d
m m
= ............................................................... (7.3)
dimana = potensil kimia, V
m
= volume molar, dan S
m
= entropi
molar.
Pada kondisi p atau T konstan kita peroleh persamaan 7.4
dan 7.5.
m
p
S
T
=
|

\
|

.................................................................... (7.4)
m
T
V
p
=
|
|

\
|

...................................................................... (7.5)
Hukum termodinamika ketiga mengharuskan S>0, sehingga
pada persamaan 7.4, jika T dinaikkan, maka akan berkurang
(kemiringan negatif) berdasarkan gambar 7.2. Selain itu,

132
132 Termodinamika Kimia
berdasarkan hukum termodinamika diperoleh bahwa S
padat
< S
cair
<
S
gas
.

Gambar 7.2. Perubahan potensial kimia oleh temperatur yang
menetukan fasa sistem

2. Persamaan Clapeyron
Jika fasa dan dalam kesetimbangan, maka potensial
kimianya memenuhi persamaan 7.6.


fasa fasa
= ................................................................... (7.6)
Subtitusi persamaan 6 oleh persamaan 3 menghasilkan persamaan
7.7.
dT S dP V dT S dP V
m m m m
= ........................................ (7.7)
Masing-masing ruas dikalikan n, diperoleh persamaan 7.8.
dT S dP V dT S dP V

= .............................................. (7.8)
Persamaan 7.8 ditata ulang menjadi persamaan 7.9.
( ) ( )dT S S dp V V
dT S dT S dp V dp V


=
=


133
133 DAFTAR ISI


V V
S S
dT
dp

=
V
S
dT
dp

= .......................................................................... (7.9)
Hubungan antara perubahan entropi (S) dan perubahan
entalpi (H)sesuai persamaan 7.10.
T
H
S

= .......................................................................... (7.10)
Persamaan 7.10 digunakan untuk menata ulang persamaan 7.9
sehingga diperoleh persamaan 7.11.
V T
H
dT
dp

= ........................................................................ (7.11)
Persamaan 7.11 disebut sebagai Persamaan Clapeyron,
yang dapat digunakan untuk menentukan entalpi pelelehan,
penguapan, maupun sublimasi transisi antara dua fasa. Entalpi
sublimasi, peleburan dan penguapan pada temperatur tertentu
dihubungkan dengan persamaan 7.12
vap mel sub
H H H + = ........................................................ (7.12)

3. Kesetimbangan padat-cair (pelelehan):
Untuk kesetimbangan padat-cair (pelelehan), persamaan
Clapeyron dapat dimodifikasi menjadi persamaan 7.13.
dT
V T
H
dp
mel
mel

= ................................................................. (7.13)
Jika diintegralkan pada batas tertentu diperoleh persamaan 7.14.

=
2
1
2
1
2
1
2
1
1
dT
T V
H
dp
dT
V T
H
dp
mel
mel
mel
mel


134
134 Termodinamika Kimia
1
2
1 2
ln
T
T
V
H
p p
mel
mel

= ........................................................ (7.14)
Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada selisih tekanan
yang sangat besar, titik leleh bahan padat hanya berubah sedikit.
Selisih T
2
dan T
1
sangat kecil, sehingga persamaan 7.13 dapat
dimodifikasi berdasarkan logika berikut.
|
|

\
|
+ =
+
=
1
1 2
1
1 2 1
1
2
1 ln ln ln
T
T T
T
T T T
T
T

Harga T
2
-T
1
sangat kecil, sehingga
1
1 2
T
T T
juga sangat kecil.

Dengan
demikian:
1
1 2
1
1 2
1
1 2 1
1
2
1 ln ln ln
T
T T
T
T T
T
T T T
T
T

|
|

\
|
+ =
+
=
Jika persamaan ini disubstitusi ke persamaan 7.14 didapatkan
persamaan 7.15.
1
1 2
1
2
1 2
ln
T
T T
V
H
p
T
T
V
H
p p
mel
mel
mel
mel

=


1
T
T
V
H
p
mel
mel

= ........................................................... (7.15)



jika x sangat kecil, maka ln (1 + x) x




135
135 DAFTAR ISI
Con Con Con Contoh Soal toh Soal toh Soal toh Soal
Gambarkan batas fase es/cairan untuk air pada temperatur
antara -1
0
C dan 0
0
C. Berapa temperatur leleh es pada tekanan
1,5 kbar? Diketahui titik leleh air pada tekanan 1 bar adalah
273,15 K; H
mel
= 6,008 kJmol
-1
; V
mel
= -1,7 cm
3
mol
-1
!
Penyelesaian:
Pertanyaan pertama
Langkah pertama: Ubah satuan H
m
ke cm
3
bar mol
-1

dimana 1 J =
0.0098697 L atm:
1 3
1
845 , 60082
008 , 6

=
=
mol bar cm
kJmol H
mel

Langkah kedua: Tentukan tekanan titik leleh air pada berbagai
temperatur antara -1 sampai 0
0
C (272,15 273,15 K)
menggunakan persamaan 7.14:

Pada T= -1
0
C atau 272,15 K
( ) ( )
bar 47 , 30 1
bar 1 bar 47 , 129
bar 47 , 129
bar 10 6677 , 3 10 53 , 3
bar 99634 , 0 ln 10 53 , 3
15 , 273
15 , 272
ln
mol cm 7 , 1
mol bar cm 60082,845
bar 1
ln
2
3 4
4
1 - 3
1 - 3
2
1
2
1 2
=
+ =
=
=
=

p
x x x
x
K
K
p
T
T
V
H
p p
mel
mel


Pada T= -0,8
0
C atau 272,35 K
1
2
1 2
ln
T
T
V
H
p p
mel
mel

=

136
136 Termodinamika Kimia
( ) ( )
bar 104,54
bar 1 bar 54 , 103
bar 54 , 103
bar 10 9331 , 2 10 53 , 3
bar 9971 , 0 ln 10 53 , 3
15 , 273
35 , 272
ln
mol cm 7 , 1
mol bar cm 60082,845
bar 1
2
3 4
4
1 - 3
-1 3
2
=
+ =
=
=
=

p
x x x
x
K
K
p

Hasil perhitungan diperoleh untuk semua temperatur adalah:
T
0
C K
p (bar)
-1 272,15 130,47
-0.8 272,35 104,54
-0,6 272,55 79
-0,4 272,75 53
-0.2 272,95 27
0,0 273,15 1
Langkah ketiga: Plot data pada grafik p vs T

Grafik di atas menunjukkan bahwa pada perubahan tekanan yang
sangat ekstrim, temperatur titik leleh padatan hanya berubah
sangat sedikit. Garis kesetimbangan padat-cair untuk air bernilai

137
137 DAFTAR ISI
negatif karena V
m
air bernilai negatif. Ini terkait dengan ikatan
hidrogen pada fasa padat dan fasa cair air yang kekuatannya
berbeda.

Pertanyaan kedua
Gunakan persamaan 7.14 untuk menentukan T pada tekanan leleh
1,5 kbar:
K T
T
T
T
x K
T
K
T
bar x bar
K
T
kbar
T
T
V
H
p p
mel
mel
78 , 261
5675 , 5 ln
0425 , 0 61 , 5 ln
0425 , 0 15 , 273 ln ln
10 53 , 3
1499
15 , 273
ln
15 , 273
ln 10 53 , 3 1499
15 , 273
ln
mol cm 7 , 1
mol bar cm 60082,845
bar 1 5 , 1
ln
2
2
2
2
4
2
2 4
2
1 - 3
1 - 3
1
2
1 2
=
=
=
=

=
=

=


Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Volume molar padatan tertentu 161 cm
3
mol
-1
pada tekanan
1.00 atm dan temperatur 250.75 K, yaitu temperatur lelehnya.
Volume molar cairan pada temperatur dan tekanan ini adalah
163.3 cm
3
mol
-1
. Pada tekanan 100 atm, temperatur lelehnya
berubah menjadi 351.26 K. Hitunglah besar entalpi molar dan
entropi peleburan padatan!
(16.47 kJ mol
-1
; 46.89 J mol
-1
K
-1
)




138
138 Termodinamika Kimia
4. Kesetimbangan cair-uap (penguapan)
Untuk peristiwa penguapan, Clausius menunjukkan bahwa
persamaan Clapeyron dapat disederhanakan dengan
mengandaikan uapnya mengikuti hukum gas ideal dan
mengabaikan volume cairan (V
l
) yang jauh lebih kecil dari volume
uap (V
g
).
g l g vap
V V V V = .......................................................... (7.16)
Berdasarkan persamaan gas ideal, diperoleh persamaan
7.17.
p
RT
V
g
= ........................................................................... (7.17)
Sehingga persamaan 7.14, dapat ditata ulang menjadi persamaan
7.18.
(
(

|
|

\
|

=

1 2 1
2
2
1
2
2
1
1 1
ln
1 1
1 1
T T R
H
p
p
dT
T R
H
dp
p
dT
T
p
RT
H
dT
T V
H
dT
V T
H
dp
vap
vap
vap
g
vap
vap
vap

|
|

\
|

=
2 1 1
2
1 1
ln
T T R
H
p
p
vap
.................................................... (7.18)
Persamaan 7.18 disebut Persamaan ClausiusClapeyron.
Dengan menggunakan persamaan di atas, kalor penguapan atau
sublimasi dapat dihitung dengan dua tekanan pada dua temperatur
yang berbeda.
Jika entalpi penguapan suatu cairan tidak diketahui, harga
pendekatannya dapat diperkirakan dengan menggunakan Aturan
Trouton, berdasarkan persamaan 7.19.
1 1
88

= mol JK
T
H
S
b
vap
vap
.......................................... (7.19)

139
139 DAFTAR ISI

5. Kesetimbangan padat-uap (sublimasi)
Logika pada kesetimbangan cair-uap dapat pula diterapkan
pada kesetimbangan padat-uap. Dengan cara yang sama, diperoleh
persamaan kesetimbangan untuk padat-uap sesuai persamaan
7.20.
|
|

\
|

=
2 1 1
2
1 1
ln
T T R
H
p
p
sub
.................................................... (7.20)

6. Diagram fasa sistem 1 komponen
Jika ketiga jenis kesetimbangan di atas digambarkan dalam
1 grafik yang sama akan diperoleh diagram fasa. Diagram fasa
merupakan cara mudah untuk menampilkan wujud zat sebagai
fungsi temperatur dan tekanan. Gambar 7.3 adalah contoh diagram
fasa untuk satu komponen, yaitu air.

Gambar 7.3. Diagram fasa air

140
140 Termodinamika Kimia
Pemahaman tentang diagram fasa akan terbantu dengan
pemahaman aturan fasa Gibbs, aturan yang diturunkan oleh
fisikawan-matematik Amerika Josiah Willard Gibbs (1839-1903)
pada tahun 1876. Aturan ini menyatakan bahwa pada
kesetimbangan tertutup, jumlah variabel bebas atau derajat
kebebasan (F) dapat dihitung menggunakan persamaan 7.21.
F= C + 2 - P ....................................................................... (7.21)
dimana C adalah jumlah komponen dan P adalah jumlah fasa.
Jadi, dalam titik tertentu pada diagram fasa air di atas,
jumlah derajat kebebasan adalah 2, yaitu temperatur dan tekanan.
Bila dua fasa dalam kesetimbangan, sebagaimana ditunjukkan oleh
garis yang membatasi daerah dua fasa, hanya ada satu derajat
kebebasan, yaitu temperatur atau tekanan. Pada titik tripel, ketika
terdapat tiga fasa dalam kesetimbangan, tidak ada derajat
kebebasan lagi.
Kemiringan negatif pada perbatasan padatan-cairan
memiliki implikasi penting sebagaimana dinyatakan di bagian kanan
diagram, yakni bila tekanan diberikan pada es, es akan meleleh dan
membentuk air. Berdasarkan prinsip Le Chatelier, bila sistem pada
kesetimbangan diberi tekanan, kesetimbangan akan bergeser ke
arah yang akan mengurangi perubahan ini. Hal ini berarti air
memiliki volume yang lebih kecil, kerapatan lebih besar daripada
es; dan semua kita telah hafal dengan fakta bahwa es mengapung
di air. Ini adalah keunikan untuk air.
Sebaliknya, air pada tekanan 0,0060 atm berada sebagai
cairan pada temperatur rendah, sementara pada temperatur
0,0098 C, tiga wujud air akan ada dalam kesetimbangan. Titik ini
disebut titik tripel air. Selain itu, titik kritis (untuk air, 218 atm,
374C), yang telah dipelajari, juga ditunjukkan dalam diagram fasa.
Bila cairan berubah menjadi fasa gas pada titik kritis, muncul
keadaan antara (intermediate state), yakni keadaan antara cair dan
gas. Dalam diagram fasa keadaan di atas titik kritis tidak
didefinisikan.


141
141 DAFTAR ISI
Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Titik didih normal benzena adalah 353.2 K. Perkirakan tekanan
yang memungkinkan benzena mendidih pada 330 K.
Penyelesaian:
Soal ini dapat diselesaikan menggunakan persamaan 7.18.
|
|

\
|

=
2 1 1
2
1 1
ln
T T R
H
p
p
vap

Akan tetapi, terlebih dahulu H
vap
benzena harus diketahui.
Gunakan aturan Trouton untuk menentukan H
vap
benzena. Untuk
kebanyakan cairan, H
vap
-nya pada titik didih normalnya
mendekati nilai yang hampir sama, yaitu:
1
1 1
1 1
1 1
31081.6
K 353.2 x 88
x 88
88

Jmol
mol JK
T mol JK H
mol JK
T
H
b vap
b
vap

Akhirnya soal ini bisa diselesaikan:
bar p
T Jmol
Jmol
bar
p
T T R
H
p
p
vap
47 . 0
76 . 0
1
2 . 353
1
K 314 . 8
6 . 31082
1
ln
1 1
ln
2
2
-1 1
1
2
2 1 1
2
=
=
|
|

\
|
=
|
|

\
|



Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Tekanan uap cair pada temperatur 200 K sampai 260 K
memenuhi persamaan:

K T
Torr p
/
8 , 2501
225 . 16 ) / ln( =
Hitunglah besar entalpi penguapan cairan itu.
(20.8 kJ mol
-1
)

142
142 Termodinamika Kimia
D. Sistem Dua Komponen
1. Kesetimbangan Uap Cair dari Campuran Ideal Dua Komponen
Pada kondisi isotermal, untuk campuran tertentu, tekanan
uap parsial masing-masing komponennya sama dengan tekanan
uap komponen tersebut dalam keadaan murni dikalikan dengan
fraksi molnya dalam campuran. Pernyataan ini sesuai dengan
persamaan 7.22 dan dikenal sebagai Hukum Raoult.
o
i i i
p x p = ......................................................................... (7.22)
Namun, persamaan ini hanya berlaku jika komponen
komponen dalam campuran tersebut memilliki sifat yang mirip atau
antaraksi antar partikel komponen sejenis sama dengan interaksi
antar partikel komponen berbeda dalam campuran tersebut. Misal
campuran yang terdiri atas komponen A dan B, maka interaksi
partikel komponen A B sama dengan antaraksi partikel A A =
B B.
Campuran yang bersifat demikian disebut campran ideal.
Beberapa contohnya adalah campuran antara benzena-toluena, n-
heksana-heptana, dan metil alkohol-etil alkohol. Sifat lain
camputran ini adalah perubahan volume campuran linier terhadap
komposisi (V
mix
= 0), tidak terjadi penyerapan kalor antar
komponen (H
mix
= 0) dan perubahan entropinya sesuai dengan
persamaan S
mix
= - R n
i
ln x
i
.
Berdasarkan hukum Dalton pada bab II, tekanan total
sistem adalah jumlah tekanan parsial masing-masing komponen
sesuai persamaan 7.23.
B A
p p p + =

o
B B
o
A A
p x p x + =
dimana x
B
= 1 x
A
, sehingga:
( )
A
o
B
o
A
o
B
x p p p p + = ......................................................... (7.23)



143
143 DAFTAR ISI
Persamaan ini digunakan untuk membuat garis titik
gelembung (bubble point line) sebagaimana diperlihatkan pada
gambar 7.3. Komposisi uap pada garis kesetimbangan tekanan total
tersebut ditentukan menggunakan persamaan 7.24.
o
i
i
i
p
p
x = .......................................................................... (7.24)

Gambar 3.Tekanan total dan parsial untuk campuran 2 komponen
Jika campuran dipanaskan hingga mendidih, maka tekanan
uap masing-masing komponen akan turun membentuk garis
kesetimbangan yang lengkung sebagaimana diperlihatkan pada
gambar 7.4. Garis lengkung tersebut disebut dew point line dan
memenuhi persamaan 7. 25.
( )
o o o o
o o
x p p p
p p
p
1 1 2 1
2 1
+ +
= ........................................................ (7.25)


144
144 Termodinamika Kimia

Gambar 7.4. Fasa cair dan uap untuk campuran benzenatoluena
pada 60
o
C
Semua titik di bawah garis dew point berfasa uap,
sedangkan semua titik di atas garis buble point berfasa cair. Titik
antara garis dew point dan garis buble point berada dalam
kesetimbangan fasa cair dan uap. Komposisi cair-uap pada titik
tersebut dapat ditentukan menggunakan garis tie line, yakni garis
horisontal yang menghubungkan garis dew point dan garis buble
point pada tekanan yang sama. Misal untuk komponen, jika
diandaikan fraksi mol komponennya adalah x, maka jumlah
komponen B yang berada dalam fasa cair adalah persamaan 7. 26.a
dan jumlah komponen B yang berada dalam fasa uap adalah
persamaan 7. 26.b.
v l
v x
B mol
cair

= . .............................................................. (7.26.a)
v l
x l
B mol
uap

= . .............................................................. (7.26.b)
dimana l adalah jumlah komponen B pada titik pertemuan antara
tie line dengan buble point line, dan v adalah jumlah komponen B

145
145 DAFTAR ISI
pada titik pertemuan tie line dengan dew point line. Kedua
persamaan ini sesuai dengan aturan Lever (Lever Rule).

2. Penyimpangan hukum Raoult: Campuran Non Ideal
Jika gaya antaraksi dan interaksi partikel komponen-
komponen suatu campuran memiliki kekuatan yang berbeda, maka
campuran tersebut akan menyelisihi menyalahi hukum Raoult.
Campuran yang bersifat demikian disebut campuran non-ideal dan
sifat penyimpangannya terhadap hukum Raoult dirinci sebagai
berikut:
a. Penyimpangan positif
Penyimpangan positif ini terjadi jika kekuatan interaksi partikel
komponen-komponen campuran tersebut lebih kuat dibandingkan
kekuatan antaraksinya . Misal untuk campuran A dan B,
penyimpangan ini terjadi jika kekuatan interaksi A A atau B B >
antaraksi A B. Hal ini menyebabkan entalpi campuran (H
mix
)
positif (bersifat endotermik) dan mengakibatkan terjadinya
penambahan volume campuran (V
mix
> 0). Contoh campuran yang
mengalami penyimpangan ini adalah campuran etanol dan
n heksana.

b. Penyimpangan negatif
Penyimpangan negatif ini terjadi jika kekuatan interaksi partikel
komponen-komponen campuran tersebut lebih lemah
dibandingkan kekuatan antaraksinya . Misal untuk campuran A dan
B, penyimpangan ini terjadi jika kekuatan interaksi A A atau B B
< antaraksi A B. Hal ini menyebabkan entalpi campuran (H
mix
)
negatif (bersifat eksotermik) mengakibatkan terjadinya
pengurangan volume campuran (V
mix
< 0). Contoh campuran yang
mengalami penyimpangan ini adalah campuran campuran aseton
dan air.

146
146 Termodinamika Kimia

Gambar 7.5. Penyimpangan positif (kanan) dan negatif (kiri) hukum
Raoult
Kurva komposisi masing-masing komponen pada campuran
larutan non-ideal berbeda dengan campuran ideal sebagaimana
diperlihatkan pada gambar 7.5. Pada gambar tersebut, garis titik
embun campuran memiliki tekanan uap maksimum dan minimum
yang disebut titik azeotrop. Campuran pada titik azeotrop tidak
dapat dipisahkan dengan menggunakan destilasi biasa, tapi bisa
dengan destilasi bertingkat atau dengan menambahkan komponen
ketiga.

3. Hukum Henry
Selain penyimpangan yang telah dijelaskan di atas, hukum
Raoult juga mengalami penyimpangan bagi zat terlarut dalam
larutan yang sangat encer. Pada larutan tersebut, hukum Raoult
hanya berlaku bagi pelarutnya. Hal ini disebabkan gaya antaraksi
partikel-partikel pelarut mendominasi campuran, sementara gaya
antaraksi partikel-partikel zat terlarut sangat terbatas karena
jaraknya yang saling berjauhan diantara pertikel-partikel pelarut.
Kondisi tersebut menjadikan tekanan parsial zat terlarut
tidak ditentukan berdasarkan tekanan uap murninya, tapi
berdasarkan tetapan Henry sebagaimana dinyatakan pada
persamaan 7.27. Persamaan tersebut dikenal sebagai hukum Henry

147
147 DAFTAR ISI
dimana K adalah tetapan Henry yang besarnya tertentu untuk
setiap pasangan pelarut-zat terlarut.
i i i
K x p = ........................................................................... (7.27)
Kasus yang paling sering memanfaatn konsep hukum Henry
adalah menentukan kelarutan gas dalam cairan. Kelarutan gas
dalam cairan umumnya menurun dengan naiknya temperatur,
walaupun terdapat beberapa pengecualian seperti pelarut amonia
cair, lelehan perak, dan pelarutpelarut organik. Senyawasenyawa
dengan titik didih rendah (H
2
, N
2
, He, Ne, dll) mempunyai gaya tarik
intermolekular yang lemah, sehingga tidak terlalu larut dalam
cairan. Kelarutan gas dalam air biasanya turun dengan
penambahan zat terlarut lain (khususnya elektrolit).

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Pada temperatur 300 K, tekanan uap larutan encer HCl dan GeCl
4

cair adalah sebagai berikut:
x 0.005 0.009 0.019 0.024
p (torr) 205 363 756 946
Jawab:
Grafik data di atas adalah:

Berdasarkan slope grafik tersebut dapat ditentukan konstanta
Henry adalah = 4 x 10
4
Torr.

148
148 Termodinamika Kimia
Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Hitunglah komposisi benzena-toluena dalam larutan yang akan
mendidih pada tekanan 1 atm (101,325 kPa) pada 90
o
C dengan
menganggap ideal! Pada 90
o
C, tekanan uap benzena dan
toluena adalah 136,3 kPa dan 54,1 kPa!
(0,575; 0,425)

4. Sifat Koligatif Larutan
Jumlah partikel pada larutan tertentu tidak hanya
mempengaruhi tekanan uap zat terlarut sebagaimana telah
dijelaskan dengan hukum Henry. Pengaruhnya dapat diekspansi
untuk sifat-sifat larutan yang lain. Sifa-sifat tersebut adalah sifat
koligatif larutan berikut:
a. Penurunan tekanan uap ( p)
Untuk larutan dengan zat terlarut yang tidak mudah
menguap seperti padatan, tekanan uap larutan (p) hanya
bergantung pada pelarut (p
1
). Penurunan tekanan uap larutan ini
sesuai dengan persamaan 7.28.
p = p
1
o
p
1

o o
p x p p
1 1 1
. =
) 1 (
1 1
x p
o
=
2 1
.x p p
o
= ........................................................................ (7.28)
Jika, jumlah zat terlarut (n
2
) sangat sedikit dibandingkan
pelarutnya (n
2
) atau n
2
<< n
1
, maka:
1
2
2 1
2
2
n
n
n n
n
x
+
= ............................................................ (7.29)
Substitusi persamaan 7.29 ke persamaan 7.28 diperoleh persamann
7.30.
p = p
1
o
.
1
2
n
n
..................................................................... (7.30)

149
149 DAFTAR ISI
b. Kenaikan titik didih ( T
b
) dan penurunan titik beku ( T
f
)
Kenaikan titik didih (boiling point/T
b
). larutan terjadi jika zat
terlarut yang ditambahkan menyebabkan tekanan uap larutan pada
temperatur yang sama lebih rendah dari tekanan uap pelarutnya.
Jadi, titik didih normal larutan, yakni temperatur saat fasa uap
pelarut mencapai 1 atm, harus lebih tinggi daripada titik didih
pelarut.
Kenaikan titik didih tersebut dapat ditentukan
menggunakan persamaan Clausius Clapeyron yang telah dibahas
sebelumnya, yakni persamaan 7.18. Jika titik didih normal larutan
berubah dari T
b
o
menjadi T
b
dan tekanan uap pelarut berubah dari
p
1
o
menjadi p
1
, maka persamaan Clausius Clapeyronnya dapat
ditulis sesuai persamaan 7.31.
|
|

\
|

=
b b
vap
o
T T R
H
p
p 1 1
ln
0
1
1

ln
o
p
p
1
1
=
b
o
b
o
b b vap
T RT
T T H ) (

ln
(
(

|
|

\
|

o
o
p
p p
1
1 1
1 = ( )
b
b b
vap
T
T RT
H

0
................................... (7.31)
Berdasarkan hukum Raoult, fraksi mol zat terlarut sesuai
dengan persamaan 7.32 sangat kecil.
|
|

\
|
+
= =
2 1
1
1 1 1 1
n n
n
p x p p
o o

2 1
1
1 1
1 x x
p
p p
o
o
= =

........................................................ (7.32)
sehingga nilai
o
o
p
p p
1
1 1

pada persamaan 7.31 sangat kecil. Selain
nilai T
b
dapat diasumsikan sama dengan T
b
o
, sehingga persamaan
7.31 dapat diubah menjadi persamaan 7.33.

150
150 Termodinamika Kimia
-
o
o
p
p p
1
1 1

=
( )
( )
b
o
b
vap
T
T R
H

2

- x
2
=
( )
( )
b
o
b
vap
T
T R
H

2
.......................................................... (7.33)
Substitusi x
2
pada persamaan 7.33 dengan nilai pendekatan
x
2
dari persamaan 7.29 menghasilkan persamaan 7.34.

1
2
n
n
= -
( )
( )
b
o
b
vap
T
T R
H

2

T
b
= -
( )
1
2
2
n
n
x
H
T R
vap
o
b

......................................................... (7.34)
Untuk setiap 1000 gram pelarut diperoleh perbandingan mol zat
terlarut dan pelarut sesuai persamaan 7.35.
1 2
1
2
1
2
.
1
M m
M
n
n
n
= .............................................................. (7.35)
dimana M
1
adalah massa molar pelarut dan m
2
adalah massa
konsentrasi molal zat terlarut. Substitusi persamaan 7.35 ke
persamaan 7.34 mengasilkan persamaan 7.36.
T
b
= -
( )
vap
o
b
H
M T R

1
2
. m
2


T
b
= K
b
. m
2
.................................................................... (7.36)
dimana K
b
adalah tetapan kesebandingan kenaikan titik didih molal
yang diistilahkan konstanta ebulioskopi.
Penambahan zat terlarut juga mengakibatkan terjadinya
penurunan titik beku (freezing point/T
f
). Dengan menggunakan cara
yang sama diperoleh persamaan 7.37 untuk penurunan titik beku.
T
f
= K
f
. m
2
.................................................................... (7.37)
dimana K
f
adalah tetapan kesebandingan penurunan titik beku
molal yang diistilahkan konstanta krioskopi.

151
151 DAFTAR ISI
c. Tekanan Osmosis ( )
Membran berpori yang dapat dilalui pelarut tetapi zat
terlarut tidak dapat melaluinya disebut dengan membran
semipermeabel. Bila dua jenis larutan dipisahkan denga membran
semipermeabel, pelarut akan bergerak dari sisi konsentrasi rendah
ke sisi konsentrasi tinggi melalui membran. Fenomena ini disebut
osmosis. Membran sel adalah contoh khas membran
semipermeabel.
Bila larutan dan pelarut dipisahkan membran
semipermeabel, diperlukan tekanan yang cukup besar agar pelarut
bergerak dari larutan ke pelarut. Tekanan ini disebut dengan
tekanan osmosis. Gambaran mengenai tekanan osmosis dapat
dilihat pada gmbar 7.7. Pada kesetimbangan, tekanan di bagian kiri
adalah p dan tekanan di bagian kanan adalah p + dp, dimana dp
adalah tekanan tambahan yang disebut tekanan osmosis. Tekanan
osmosis biasa disimbol

Gambar 7.7. Tekanan osmosis
Pada bab sebelumnya telah dipelajari hubungan Maxwell
untuk memperoleh persamaan 7.38 dan syarat kesetimbangan
untuk memperoleh persamaan 7.39.
T
p
|
|

\
|

=
n
V


152
152 Termodinamika Kimia
= dp
n
V
.................................................................... (7.38)
= - RT ln
o
p
p
............................................................ (7.39)
dimana p adalah tekanan uap larutan p
o
adalah tekanan uap
pelarut murni.
Oleh karena dimana dp = , maka persamaan 7.38 dapat
diubah menjadi persamaan 7.40.
=
n
V
..................................................................... (7.40)
Substitusi persamaan 7.39 dengan 7.40 menghasilkan persamaan
7.41.
- RT ln
o
p
p
1
1
=
n
V
......................................................... (7.41)
Hukum Raoult dapat digunakan untuk memodifikasi
persamaan 7.41 dimana x
1
=
o
p p
1 1
dan x
1
= (1 x
2
) atau
o
p p
1 1
=
(1 x
2
) sehingga diperoleh persamaan 7.42.
= -
V
nRT
ln (1 x
2
) ..................................................... (7.42)
Untuk larutan yang sangat encer, nilai x
2
sangat kecil
sehingga ln (1 x
2
) - x
2
sehingga persamaan 7.42 dapat
disederhanakan menhadi persamaan 7.43.
= -
V
nRT
. (- x
2
)
=
V
nRT
.
1 1
2
n n
n
+

=
2
n
V
RT
..................................................................... (7.43)
dimana n
2
adalah jumlah zat terlarut.


153
153 DAFTAR ISI
Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Tekanan osmosis larutan air pada temperatur 300 K adalah 120
kPa. Hitunglah titik beku larutan itu!
Jawab:
C
V
V
0
f
-1 -1 -1
-1
air
f
f
f
b
f
b f
0895 . 0
0895 . 0 0 T
K 0895 . 0
300 x J 8.314
J 120
K 86 . 1
L kg 1 x K 300 x mol K J 8.314
kPa 120
mol kg K 86 . 1
RT
K
air RTmassa
K
air massa
RT
K
air massa
n
K
m K T
=
=
=
=
=

=
=
=



Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Hitunglah titik beku larutan yang terdiri dari 3 gram urea (Mr=
60 g mol
1
) dalam 100 gram air. K
f
air = 1.86
o
C/ mol kg-1
(- 0.93
0
C)

5. Sistem Dua Komponen dengan Fasa PadatCair
Sistem campuran 2 komponen (biner) paling sederhana
adalah sistem yang kedua komponennya misibel dalam fasa cair
tapi imisibel dalam fasa padat. Jenis kesetimbangan ini banyak

154
154 Termodinamika Kimia
dijumpai dalam kehidupan sehari- hari, misalnya jika 2 logam yang
dalam keadaan padat tidak bercampur tetapi ketika dilelehkan
keduanya akan bercampur homogen membentuk 1 fasa.
Pada sistem campuran tersebut, fase padat dan cairnya
dapat ditemukan pada temperatur di bawah titik lelehnya. Contoh
sistem yang demikian adalah campuran antimon dan bismut
sebagaimana diperlihatkan pada gambar 7.8.

Gambar 7.8. Diagram fasa campuran Sb-Bi
Pada gambar tersebut, titik m
1
adalah titik dimana
campuran masih dalam fasa cair. Jika campuran didinginkan, maka
fasa campuran mulai terdiri dari 2 fasa yaitu fasa cair campuran dan
fasa padat Sb (Cair + Sb). Pada wilayah ini, sebagian Sb mulai
menjadi padat sehingga campuran lebih kaya dengan Bi. Pada titik
m
3
, jumlah fasa cair campuran hampir sama dengan jumlah fasa
padatnya, dan terus turun hingga temperatur pada m
4
. Titik m
4

tersebut adalah titik campuran mulai membeku membentuk
padatan campuran yang dominan Sb.
Saat temperatur lebih rendah dari Te, campuran mulai
membentuk padatan dengan komposisi di sebelah kanan titik e
lebih dominan Sb dan di sebelah kiri titik e lebih dominan Bi. Misal

155
155 DAFTAR ISI
titik m
5
adalah campuran padatan yang lebih dominan Sb hingga
titik m
5
yang hampir murni Sb dan m
5
yang lebih dominan Bi.
Pada titik e campuran membentuk komposisi eutektik,
yakni membentuk padatan tanpa mengendapkan Sb dan Bi terlebih
dahulu. Derajat kebebasan pada titik ini sama dengan nol, sehingga
titik eutektik adalah invarian atau bukan merupakan fasa, tetapi
kondisi dimana terdapat campuran yang mengandung dua fasa
padatan berstruktur butiran halus.
Selain hanya bercampur secara inert, campuran dua
komponen dapat bereaksi membentuk senyawa padatan yang
berada dalam kesetimbangan dengan fas cair pada berbagai
komposisi. Hal ini terjadi pada bagian diagram fasa Na
2
SO
4
H
2
O
yang menunjukkan pelelehan Na
2
SO
4
.10H
2
O menjadi kristal rombik
anhidrat Na
2
SO
4
.
Sistem campuran dua komponen lainnya adalah campuran
dua kompuran yang membentuk padatan. Komponen-komponen
campuran ini tidak memisah saat temperatur diturunkan sehingga
padatan yang terbentuk mengandung masing-masing komponen.
Contoh campuran yang bersifat demikian adalah larutan padat
campuran padatan Cu Ni.

D. Sistem Tiga Komponen
Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen
pada temperatur dan tekanan tetap dapat dinyatakan sesuai
persamaan 7.44.
F = 3 P ............................................................................. (7.44)
Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa, maka F = 2, berarti
untuk menyatakan keadaan sistem dengan tepat perlu ditentukan
konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan bila dalam sistem
terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, maka F = 1, berarti hanya
satu komponen yang harus ditentukan konsentrasinya dan
konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan
diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena sistem tiga
komponen pada temperatur dan tekanan tetap, mempunyai

156
156 Termodinamika Kimia
derajat kebebasan paling banyak dua, maka diagram fasa sistem ini
dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga
samasisi yang disebut diagram terner. Diagram ini hanya hanya
sebagai fungsi komposisi.
Umumnya, sistem 3 komponen merupakan sistem cair-cair-
cair yang tergantung pada temperatur dan daya saling larut antar
zat cair tersebut. Misal, jika terdapat 3 zat cair A, B dan C, maka A
dan B akan larut sebagian. Penambahan zat C ke dalam campuran
dapat memperbesar atau memperkecil daya saling larut A dan B.
Kelarutan masing-masing komponen tersebut pada temperatur
tetap dapat di gambarkan pada suatu diagram terner sesuai
gambar 7.9.

Gambar 7.9. Diagram Terner
Titik X menyatakan suatu campuran dengan fraksi A = 25%,
B = 25% dan C = 50%. Titik ini dibuat dengan memotongkan garis
yang mempunyai komposisi 25 % mol A yaitu garis sejajar BC, 25 %
mol B yaitu garis sejajar AC dan garis sejajar AB dengan % mol 50 %.
Titik pada garis BP dan BQ menyatakan suatu campuran dengan
perbandingan jumlah A dan C yang tetap tetapi dengan jumlah B

157
157 DAFTAR ISI
yang berubah. Hal yang sama berlaku bagi garis garis yang ditarik
dari salah sudut segitiga kesisi yang ada dihadapannya.
Contoh penerapan kesetimbangan tiga komponen dan
diagram terner adalah pada optimisasi bubuk slag nikel
menggunakan pendekatan sistem temari C-A-S (CaO-Al
2
O
3
-SiO
2
).
Prosesnya meliputi tiga fase utama berikut:
a. Fase pembentukan senyawa kalsium silika hidrat (CSH) hasil
reaksi antara trikalsium silikat (C
3
S) dan dikalsium silikat (C
2
S)
semen dengan air (H
2
O)
b. Fase pembentukan senyawa kalsium silika hidrat (CSH) bubuk
slag nikel dengan kalsium hidroksida (CH) hasil sampingan
reaksi kimia fase pertama.
c. Fase hidrogamet atau fase pembentukan ettringit sebagai
produk reaksi antara senyawa kimia silika oksida (SiO
2
) dan
aluminium oksida (Al
2
O
3
) bubuk slag nikel dengan kalsium
hidroksida (CH) hasil sampingan reaksi kimia fase pertama.
Ketiga fase tersebut merepresentasikan reaksi hidrasi cementitous
dengan tiga komponen produk reaksi yaitu kalsium silika hidrat
(CSH), kalsium hidroksida (CH), dan kalsium suoaluminat hidrat
(CASH).

Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal Contoh Soal
Buatlah sketsa diagram fasa sistem NH
3
/N
2
H
4
jika: kedua zat itu
tidak membentuk senyawa, NH
3
membeku pada temperatur -
78
0
C, N
2
H
4
membeku pada temperatur +2
0
C, eutetik terbentuk
ketika fraksi mol N
2
H
4
= 0.07 dan eutetik itu meleleh pada
temperatur -80
0
C!


Jawab:

158
158 Termodinamika Kimia


Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal
Uranium tetraflourida dan zirkonium tetraflourida meleleh
berturut-turut pada temperatur 1035
0
C dan 912
0
C. Keduanya
membentuk seri kontinu dari larutan padat dengan temperatur
leleh minimun 765
0
C dan komposisi xZrF
4
= 0.77. Pada
temperatur 900
0
C. Larutan cair dengan komposisi xZrF
4
= 0.28
ada dalam kesetimbangan dengan larutan padat yang
komposisinya adalah 0.87 dan 0.90. Buatlah sketsa diagram fasa
sistem ini dan nyatakan apa yang diamati jika cairan dengan
komposisi xZrF
4
= 0.40 didinginkan perlahan-lahan dari
temperatur 900
0
C sampai dengan 500
0
C.
(Larutan padat dengan xZrF
4
= 0.28 dimulai sekitar 855
0
C hingga
xZrF
4
= 0.40 pada temperatur 820
0
C)





159
159 DAFTAR ISI
Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan Soal Latihan
1. Tekanan uap diklorometana pada temperatur 24.1
0
C adalah
400 Torr dan entalpi penguapannya: 28.7 kJ mol
-1
. Perkirakan
temperaturnya pada saat tekanan uapnya 500 Torr!
2. Volume molar padatan tertentu 161 cm
3
mol
-1
pada tekanan
1.00 atm dan temperatur 250.75 K, yaitu temperatur lelehnya.
Volume molar cairan pada temperatur dan tekanan ini adalah
163.3 cm
3
mol
-1
. Pada tekanan 100 atm, temperatur lelehnya
berubah menjadi 351.26 K. Hitunglah besar entalpi molar dan
entropi peleburan padatan!
3. Tekanan uap cair pada temperatur 200 K sampai 260 K
memenuhi persamaan:

K T
Torr p
/
8 . 2501
225 . 16 ) / ln( =
Hitunglah besar entalpi penguapan cairan itu.
4. Entalpi penguapan cairan tertentu adalah 14.4 kJ mol
-1
pada
temperatur 180 K, yaitu titik normalnya. Volume molar cairan
dan uapnya pada titik didih itu adalah 115 cm
3
mol
-1
dan 14.5
cm
3
mol
-1
. Perkirakan dp/dT dari persamaan Clapeyron dan
perkirakan persentase kesalahan nilainya jika yang digunakan
adalah persamaan Clausius-Clapeyron.
5. Hitunglah perbedaan kemiringan grafik potensial kimia
terhadap tekanan pada tiap sisi (a) titik beku normal air, (b) titik
didih normal air. Rapatan es dan air pada temperatur 0
0
C
adalah 0.917 g cm
-3
dan 1 g cm
-3
, dan rapatan air dan uap air
pada temperatur 100
0
C adalah 0.958 g cm
-3
dan 0.598 g dm
-3
.
Berapa kelebihan potensial kimia uap air dibandingkan dengan
potensial kimia air cair pada tekanan 1.2 atm dan temperatur
100
0
C? Perkirakan fasa air tersebut!
6. Sebanyak 50 L udara kering perlahan-lahan ditiupkan ke dalam
bejana yang diberi isolasi termal, yang berisi 250 g air, mulanya
pada temperatur 25
0
C. Hitunglah temperatur akhir. Tekanan

160
160 Termodinamika Kimia
uap air kurang lebih tetap pada 23.8 Torr selamanya, dan
kapasitas kalornya, 75.5 JK
-1
mol
-1
. Asumsikan udara tidak
dipanaskan atau didinginkan dan uap air termasuk gas
sempurna.
7. Hitunglah tekanan air yang membeku pada temperatur 2
0
C,
entalpi pembekuan air -21,8 kJ mol
-1
.
8. Tentukan komponen, fasa dan derajad kebebasan sistem
berikut :
a. Campuran minyak dan air
b. Larutan NaCl jenuh yang terdapat NaCl
(s)
dan uap air
9. Dua cairan A dan B membentuk suatu larutan ideal. Pada
temperatur tertentu tekanan A murni 200 mmHg dan B murni
75 mmHg. Jika campuran mengandung 40 % mol A, berapa
persen mol A dalam uapnya.
10. Ramalkan tekanan uap HCl di atas larutan HCl di dalam GeCl
4

cair yang molalitasnya 0.1 mol kg
-1
.
11. Tekanan uap 500 g sampel benzena adalah 400 Torr pada
temperatur 60.6
0
C. Tekanan uap ini turun menjadi 386 Torr
jika 19 gram senyawa organik yang tak dapat menguap
dilarutkan ke dalamnya. Hitunglah massa molar senyawa itu!
12. Gambarkan diagram fasa bila Nikel ditambahkan pada Mg yang
meleleh pada 650
o
C (Ar Mg = 24), titik beku campuran mulai
turun sampai titik eutektik tercapai pada 510
o
C dan 28 % mol
Nikel. Senyawa baru terbentuk pada temperatur 900
o
C
mengandung 54 % mol nikel, titik eutektik kedua terbentuk
pada temperatur 700
o
C, 75 % mol nikel. Sedangkan nikel murni
meleleh pada temperatur 1400
o
C. Gambarkan diagram fasa
antara % mol Nikel terhadap temperatur!
13. Diketahui sistem 3 komponen A-B-C, komposisi titik K : 40% A,
20%B; titik L: 30%A, 30% C. Gambarkan titik K dan L!




161
161 DAFTAR ISI
14. Tandailah titik berikut ini pada diagram Terner:
a. 0.2; 0.2; 0.6
b. 0; 0.2; 0.8
c. Titik yang menunjukkan ketiga fraksi molnya sama
15. Buktikan bahwa garis lurus dari titik sudut A pada diagram
Terner ke sisi BC di hadapannya menunjukkan campuran B dan
C dengan perbandingan tetap, berapapun A yang ada!





















162
162 Termodinamika Kimia
APENDIKS APENDIKS APENDIKS APENDIKS

Apendiks A: Simbol Termodinamika Kimia
Simbol Keterangan Persamaan Satuan
q Kalor J
w Kerja J
U Energi internal U = q + w J
H Entalpi H = U + pV J
T Temperatur K
S Entropi
T
dq
ds
rev
= JK
-1

A
Energi
Helmholtz
A = U TS J
G Energi Gibbs G = H TS J

Koefisien
tekanan
V
T
p
|

\
|

=
Pa K
-1

V

Koefisien
ekspansi volume
p
T
V
V
|

\
|

\
|
=
1

K
-1

T

Kompresibilitas
isotermal
T
T
p
V
V
K
|
|

\
|

\
|
=
1

Pa
-1

S

Kompresibilitas
isotropik
S
S
p
V
V
K
|
|

\
|

\
|
=
1

Pa
-1

C
p

Kapasitas kalor
pada tekanan
tetap
p
p
T
H
C
|

\
|

=
JK

C
V

Kapasitas kalor
pada volume
tetap
V
V
T
U
C
|

\
|

=
JK


Rasio kapasitas
panas
V
p
C
C
K =
1

163
163 DAFTAR ISI
Lanjutan..
a,b
Koefisien van
der Waals
( ) RT b V
V
a p
m
m
=
|
|

\
|
+
2
J m
3
mol
-2

B
Koefisien virial
kedua
m
3
mol
-1

C
Koefisien virial
ketiga
|
|

\
|
+ + + = ... 1
2
m m
m
V
C
V
B
RT pV
m
6
mol
-2

Z Faktor kompresi
RT
pV
Z
m
= 1
X
A

Parsial molar
komponen A
A j
n p T
A
A
n
X
X

|
|

\
|

=
, ,

disesuai-
kan

A

Potensial kimia
komponen A
A j
n p T
A
A
n
G

|
|

\
|

=
, ,

J mol
-1


A

Aktivitas absolut
komponen A
|

\
|
=
RT
A
A

exp
1
a
A

Aktivitas relatif
komponen A
|
|

\
|

=
RT
a
A A
A
0
exp

1
Q Kuosien reaksi
B
v
B
B
a Q =
1
K
Konstanta
kesetimbangan
|

\
|

=
RT
G
K exp
1
K
p

Konstanta
kesetimbangan
tekanan
B
v
B
B
p
p K =
Pa
v

K
C

Konstanta
kesetimbangan
konsentrasi
B
v
B
B
C
C K =
(mol L
-1
)
v

f fugasitas
T
p
p
f
|

\
|
=

0
lim
Pa

Tekanan
osmosis
CRT = Pa

164
164 Termodinamika Kimia
Apendiks B: Faktor Konversi

Massa (m):
Kilogram (SI unit) kg
Gram (cgs unit) g = 10
-3
kg
Massa elektron (au) m
e
9.10939 x 10
-31
kg
Massa atom u, Da 1.660 540 x 10
-27
kg

Volume (V):
Meter kubik (SI unit) m
3

Liter L = dm
3
= 10
-3
m
3


Temperatur (T):
Kelvin (SI) K =
o
C + 273
Celcius
o
C = 5/9 (
o
F-32)
Reumer
o
R =
o
F + 460

Tekanan (p):
Pascal (SI unit) Pa = Nm
-2
= kg m
-1
s
-2

Atmosphere atm = 101 325 Pa
Bar bar = 10
5
Pa
Torr Torr 133.322 Pa
Millimetre of mercury mmHg 133.322 Pa
Pounds per square inch psi 6.894757 x 10
3
Pa

Energi (E):
Joule (SI unit) J = kg m
2
s
-2

erg (cgs unit) erg = g cm
2
s
-2
= 10
-7
J
Hartree (au) E
h
4.35975 x 10
-18
J
Rydberg Ry 2.17987 x 10
-18
J
Electronvolt eV 1.602 18 x 10
-19
J
Kalori kal = 4.184 J





165
165 DAFTAR ISI
Gaya (F):
Newton (SI unit) N = kg ms
-2

Dyne (cgs unit) dyn = g cm s
-2
= 10
-5
N

Kapasitas kalor (C):
SI unit JK
-1

Clausius Cl = kal/K =4.184 J K
-1

Volume molar (V
m
):
SI unit m
3
mol
-1

Amagat amagat 22.4 x 10
-3
m
3
mol
-1
(V
m
gas real pada 1 atm and 273.15 K)

Sumber data:
IUPAC. Quantities, Units and Symbols in Physical Chemistry (2nd
ed.): Blackwell Science, 1993
Bhattacharjee, S. TEST (The Expert System for
Thermodynamics). San Diego State University, diakses dari
http://www.thermofluids.net, pada 8 Desember 2010










166
166 Termodinamika Kimia
Apendiks C: Tabel dan Data

Tabel 1. Tetapan dasar
Nama Tetapan Simbol Nilai Satuan
0.08206 L atm mol
-1
K
-1

62.36 L Torr mol
-1
K
-1

8.314 joule mol
-1
K
-1

8.314 x 10
7
erg mol
-1
K
-1

Konstanta gas
ideal
R
1.987 kal mol
-1
K
-1

Bilangan
Avogadro
L 6.02214 10
23
mol
-1

Boltzmann K
B

1.38066 10

23

J

K
-1

Faraday F 9.64853 10
4
C mol
-1

Planck H
6.62620 10

34

J s
Rydberg r

1.0974 x 10
7
m
-1

Muatan
elektron
e
1.602177 10

19

C
Massa atom Da, u 1.66 x 10
-27
kg
Massa
elektron
m
e
9.10939 x 10
-31
kg
Jari-jari Bohr a
0
0.529 x 10
-10
m
Permeabilitas
vakum

0
4 x 10
-7
N A
-2

Permitivitas
vakum

0
8.854 x 10
-12
F m
-1

Kecepatan
cahaya dalam
ruang vakum
c 2.9979 x 10
8
m s
-1






167
167 DAFTAR ISI
Tabel 2. Energi ikat rata-rata molekul
Jenis ikatan
Energi ikat (kJ
mol
-1
)
Jenis ikatan
Energi ikat (kJ
mol
-1
)
C-C 343 N-N 160
C=C 615 N=N 946
C C 812 N-O 176
C-Br 285 N=O 605
C-Cl 326 O-H 464
C-F 490 O-O 144
C-H 416
O=O
(dalam O
2
)
498
C-N 290 O-Br 200
C=N 891 O-Cl 220
C-O 351 O-F 190
C=O 724 O=S 515
C=O
(dalam CO
2
)
799 O-P 335
C O 1046 O=P 545
C-S 270 I-I 149
C=S 575 Br-Br 193
C-P 265 Cl-Cl 244
C-Si 290 F-F 158
H-H 436 S-S 250
H-Br 366 P-P 200
H-Cl 432 Si-Si 220
H-F 568 Si-O 450
H-I 298 Sn-Sn 145
H-N 391 Sn-N 320
H-S 367 Sn-Cl 145
H-P 320 Te-H 240
H-Si 315 Se-Se 170




168
168 APENDIKS
Tabel 3. Data termodinamika unsur dalam tabel periodik
Nama
Unsur
Lambang
Massa
Atom
Titik leleh
(C)
Titik didih
(C)

(kg m
-3
)
Cp
(kJ kg
-1
K)
k
(W m
-1
K)
H
fus

(kJ kg
-1
)
H
vap

(kJ kg
-1
)
Aluminum Al 26.9815 660.40 2467.00 2700.00 0.897 237.00 397.00 10896.00
Antimon Sb 121.7500 630.70 1750.00 6697.00 0.207 24.40 163.00
Argon Ar 39.9480 -189.20 -185.70 1.78 0.521 0.0177 28.00 161.00
Arsen As 74.9216 817.00 613.00 5727.00 0.329 50.00 326.00 1703.00
Barium Ba 137.3300 725.00 1640.00 3510.00 0.204 18.40 51.80 1019.00
Belerang S 320.600 112.80 444.70 2080.00 0.710 0.20 53.60 1404.00
Berilium Be 9.01218 1278.00 2970.00 1850.00 1.825 201.00 877.00
Besi Fe 55.8470 1535.00 2750.00 7860.00 0.449 80.40 247.00 6260.00
Bismut Bi 208.9800 271.30 1560.00 9780.00 0.122 7.92 54.10 723.00
Boron B 10.8100 2079.00 2250.00 2340.00 1.026 27.40 4644.00 44403.00
Brom (l) Br 79.9040 -7.20 58.78 3102.80 0.474 0.122 66.20 188.00
Brom (g) Br
2
159.8080 7.59 0.226 0.0048
Emas Au 196.9670 1064.40 3080.00 19300.00 0.129 318.00 63.70 1645.00
Fluor F 18.9984 -219.60 -188.10 1.70 0.824 0.0279 13.40 174.00
Fosfor
(putih) P 30.9738 44.10 280.00 1823.00 0.769 0.236 21.30 400.00
Helium He 4.002 6 -272.20 -268.90 0.18 5.193 0.152 2.10 20.70

169
169 APENDIKS
Lanjutan..
Hidrogen H 1.0080 -259.10 -252.90 0.09 14.304 0.1815 59.50 446.00
Indium In 114.8200 156.60 2080.00 7310.00 0.233 81.80 28.60 2019.00
Iridium Ir 192.2200 2410.00 4130.00 22650.00 0.131 147.00 214.00 3185.00
Kadmium Cd 112.4100 320.90 765.00 8650.00 0.232 96.90 55.10 888.00
Kalium K 39.0983 63.25 759.90 890.00 0.757 102.50 59.30 2050.00
Kalsium Ca 40.0800 839.00 1484.00 1550.00 0.647 201.00 213.00 3.80
Karbon C 12.0110 3652.00 t 2146.00 0.709 1.59 8709.00
Klorin Cl 35.4530 -100.98 -34.60 3.20 0.479 0.0089 90.30 288.00
Klorin (l) Cl 35.4530 . 3.20 0.134
Kobalt Co 51.9332 1495.00 2870.00 8900.00 0.421 100.00 312.00 6390.00
Kripton Kr 83.8000 -156.60 -152.30 3.75 0.248 0.0095 16.30 108.00
Kromium Cr 51.9960 1857.00 2672.00 7150.00 0.449 93.90 404.00 6.60
Lantanum La 138.9060 920.00 3454.00 6162.00 0.195 13.40 44.60 2980.00
Litium Li 6.9410 180.50 1342.00 534.00 3.582 84.80 432.00 21340.00
Magnesium Mg 24.3050 648.80 1090.00 1738.00 1.023 156.00 349.00 5240.00
Mangan Mn 54.9380 1244.00 1962.00 7210.00 0.479 7.80 235.00 4110.00
Molibden Mo 95.9400 2617.00 4612.00 10280.00 0.251 138.00 391.00
Neon Ne 20.1179 -248.70 -246.00 0.90 1.030 0.0493 16.90 85.00
Nikel Ni 58.6900 1453.00 2732.00 8908.00 0.444 90.90 298.00 6310.00

170
170 Termodinamika Kimia
Lanjutan..
Nitrogen N 14.0067 -209.90 -195.80 1.25 1.040 0.026 25.40 199.00
Oksigen O 15.9994 218.40 -182.96 1.43 0.918 0.0267 13.80 213.00
Perak Ag 107.8680 961.90 2212.00 0.235 429.00 105.00 2323.00
Platina Pt 195.0800 1772.00 3827.00 21450.00 0.133 71.60 114.00 2610.00
Plutonium Pu 244.0000 641.00 3232.00 19816.00 6.70 11.60 1410.00
Radon Rn 222.0000 -71.00 -61.80 0.01 0.094 0.0036 12.30 83.00
Raksa Hg 200.5900 -38.87 356.60 13600.00 0.140 8.30 11.40 295.00
Rubidium Rb 85.4678 38.90 686.00 1532.00 0.363 58.20 25.60 810.00
Selenium Se 78.9600 217.00 684.90 4810.00 0.321 0.52 84.70 1209.00
Seng Zn 65.3900 419.60 907.00 7140.00 0.388 116.00 112.00 1770.00
Sesium Cs 132.9054 28.40 669.30 1930.00 0.242 35.90 15.80 394.00
Sesium (l) Cs 132.9054 1843.00 19.70
Silikon Si 28.0855 1410.00 2355.00 2330.00 0.705 149.00 1788.00 14050.00
Stronsium Sr 87.6200 769.00 1384.00 2640.00 0.301 35.40 84.80
Talium Tl 204.3830 303.50 1457.00 11850.00 0.129 46.10 20.30 806.00
Tembaga Cu 63.5460 1083.40 2567.00 8960.00 0.385 401.00 209.00 4700.00
Timah Sn 118.7100 232.00 2270.00 7265.00 0.228 66.80 59.20 2500.00
Timbal Pb 207.2000 327.50 1740.00 11340.00 0.129 35.30 23.00 866.00
Titanium Ti 47.8800 1660.00 3287.00 4506.00 0.523 21.90 296.00 8790.00

171
171 APENDIKS
Lanjutan..
Tungsten/
Wolfram W 183.8500 3410.00 5660.00 19250.00 0.132 173.00 285.00 4500.00
Uranium U 238.0290 1132.00 3818.00 19100.00 0.116 27.50 38.40 1950.00
Vanadium V 50.9415 1890.00 3380.00 6000.00 0.489 30.70 422.00 8870.00
Xenon Xe 131.2900 -111.90 -107.10 5.89 0.158 0.0057 13.80 96.00
Yodium I 126.9050 113.50 184.40 4933.00 0.145 0.449 61.00 164.00
Yodium (l) I 126.9050 4927.28 0.116
Zirkonium Zr 91.2240 1852.00 4377.00 6.52 0.278 22.70 230.00 6400.00

172
172 APENDIKS
Tabel 4. Data termodinamika beberapa senyawa organik
Nilai kalor (kJ kg
-1
)
Nama Senyawa
Rumus
Kimia
Massa
Molekul

(kg m
-3
)
H
vap

(kJ kg
-1
)
C
p

(kJ kg
-1
K) Tertinggi Terendah
Karbon monoksida(g) CO 28.013 1.05 10,100 10,100
Metana(g) CH
4
16.043 509 2.2 55,530 50,050
Metanol(l) CH
4
O 32.042 0.79 1168 2.53 22,660 19,920
Asitelin(g) C
2
H
2
26.038 1.69 49,970 48,280
Etane(g) C
2
H
6
30.07 172 1.75 51,900 47,520
Etanol(l) C
2
H
6
O 46.069 0.79 919 2.44 29,670 26,810
Propana(l) C
3
H
8
44.097 0.5 420 2.77 50,330 46,340
Butana(l) C
4
H
10
58.123 0.579 362 2.42 49,150 45,370
1-Pentena(l) C
5
H
10
70.134 0.641 363 2.2 47,760 44,630
Isopentana(l) C
5
H
12
72.15 0.626 2.32 48,570 44,910
Benzena(l) C
6
H
6
78.114 0.877 433 1.72 41,800 40,100
Heksena(l) C
6
H
12
84.161 0.673 392 1.84 47,500 44,400
Heksana(l) C
6
H
14
86.177 0.66 366 2.27 48,310 44,740
Toluena(l) C
7
H
8
92.141 0.867 412 1.71 42,400 40,500
Heptana(l) C
7
H
16
100.204 0.684 365 2.24 48,100 44,600
Octana(l) C
8
H
18
114.231 0.703 363 2.23 47,890 44,430
Dekana(l) C
10
H
22
142.285 0.73 361 2.21 47,640 44,240
Gasolin(l) C
n
H
1
.
87n
100-110 0.72-0.78 350 2.4 47,300 44,000

173
Tabel 5. Entalpi pembakaran beberapa senyawa organik pada
temperatur 25
0
C
Nama Senyawa Rumus Kimia H
c
(kJ mol
1
)
Karbon C 393.5
Karbonmonooksida CO 283.0
Hidrogen H
2
285.8
Amonia H
3
N 382.8
Hidrasin H
4
N
2
667.1
Metana CH
4
890.8
Asetilen C
2
H
2
1301.1
Etilena C
2
H
4
1411.2
Etana C
2
H
6
1560.7
Propilena C
3
H
6
2058.0
Siklopropana C
3
H
6
2091.3
Propana C
3
H
8
2219.2
1,3-Butadiena C
4
H
6
2541.5
Butana C
4
H
10
2877.6
Pentana C
5
H
12
3509.0
Benzena C
6
H
6
3267.6
Sikloheksana C
6
H
12
3919.6
Heksana C
6
H
14
4163.2
Toluena C
7
H
8
3910.3
Heptana C
7
H
16
4817.0
Naftalena C
10
H
8
5156.3
Metanol CH
4
O 726.1
Etanol C
2
H
6
O 1366.8
Dimetileter C
2
H
6
O 1460.4
Etilen glikol C
2
H
6
O
2
1189.2
1-Propanol C
3
H
8
O 2021.3
Gliserol C
3
H
8
O
3
1655.4
Dietil eter C
4
H
10
O 2723.9

174
174 Termodinamika Kimia
Lanjutan ..
1-Pentanol C
5
H
12
O 3330.9
Fenol C
6
H
6
O 3053.5
Formaldehida CH
2
O 570.7
Ketena C
2
H
2
O 1025.4
Asetaldehida C
2
H
4
O 1166.9
Aseton C
3
H
6
O 1789.9
Propanal C
3
H
6
O 1822.7
2-Butanon C
4
H
8
O 2444.1
Asam format CH
2
O
2
254.6
Asam asetat C
2
H
4
O
2
874.2
Metil format C
2
H
4
O
2
972.6
Metil asetat C
3
H
6
O
2
1592.2
Etil asetat C
4
H
8
O
2
2238.1
Asam benzoat C
7
H
6
O
2
3226.9
Hidrogen Sianida CHN 671.5
Nitrometana CH
3
NO
2
709.2
Metilamin CH
5
N 1085.6
Asetonitril C
2
H
3
N 1247.2
Asetamida C
2
H
5
NO 1184.6
Trimetilamin C
3
H
9
N 2443.1
Piridin C
5
H
5
N 2782.3
Anilin C
6
H
7
N 3392.8








175
175 APENDIKS
Tabel 6. Entalpi dan energi Gibbs pembentukan serta entropi abolut (300 K, 1 atm)
Nama Senyawa Rumus Kimia Massa molekul
H
f
0

(J mol
-1
)
G
f
0

(J mol
-1
)
S
0

J mol
-1
)
Karbon C(s) 12.001 0 0 5.74
Hidrogen H
2
(g) 2.016 0 0 130.68
Nitrogen N
2
(g) 28.012 0 0 191.61
Oksigen O
2
(g) 32 0 0 205.04
Karbonmonoksida CO(g) 28.013 -110,530 -137,150 197.65
Karbondioksida CO
2
(g) 44.001 -393,520 -394,360 213.8
Uap air H
2
0(g) 18.016 -241,820 -228,590 188.83
Air H
2
0(l) 18.016 -285,820 -237,180 69.92
Hidrogen peroksida H
2
O
2
(g) 34.016 -136,310 -105,600 232.63
Amonia NH
3
(g) 17.03 -46,190 -16,590 192.33
Metana CH
4
(g) 16.043 -74,850 -50,790 186.16
Asetilen C
2
H
2
(g) 26.038 226,730 209,170 200.85
Etilena C
2
H
4
(g) 24.034 52,280 68,120 219.83
Etana C
2
H
6
(g) 30.07 -84,680 -32,890 229.49
Propilen C
3
H
6
(g) 42.051 20,410 62,720 266.94
Propana C
3
H
8
(g) 44.097 -103,850 -23,490 269.91

176
176 Termodinamika Kimia
Lanjutan..
n-Butana C
4
H
10
(g) 58.123 -126,150 -15,710 310.12
Benzena C
6
H
6
(g) 78.114 82,930 129,660 269.2
n-Oktana C
8
H
18
(g) 114.231 -208,450 16,530 466.73
n-Oktana C
8
H
18
(l) 114.231 -249,950 6,610 360.79
n-Dodekana C
12
H
26
(g) 170.22 -291,010 50,150 622.83
Metil alkohol CH
3
OH(g) 32.043 -200,670 -162,000 239.7
Metil alkohol CH
3
OH(l) 32.043 -238,660 -166,360 126.8
Etil alkohol C
2
H
5
OH(g) 46.069 -235,310 -168,570 282.59
Etil alkohol C
2
H
5
OH(l) 46.069 -277,690 -174,890 160.7
Oksigen O(g) 16 249,190 231,770 161.06
Hidrogen H(g) 1.008 218,000 203,290 114.72
Nitrogen N(g) 14.006 472,650 455,510 153.3
Hidroksi OH(g) 17.008 39,460 34,290 183.7

177
Tabel 7. Kapasitas kalor beberapa gas sebagai gas real
C
p

(J g
-1
K)
C
v

(J g
-1
K)
k
C
p
/C
v

C
p

(J g
-1
K)
C
v

(J g
-1
K)
k
C
p
/C
v

Temperatur
(K)
Udara atmosfer Karbondioksida (CO
2
)
250 1.003 0.716 1.401 0.791 0.602 1.314
300 1.005 0.718 1.400 0.846 0.657 1.288
350 1.008 0.721 1.398 0.895 0.706 1.268
400 1.013 0.726 1.395 0.939 0.750 1.252
450 1.020 0.733 1.391 0.978 0.790 1.239
500 1.029 0.742 1.387 1.014 0.825 1.229
550 1.040 0.753 1.381 1.046 0.857 1.220
600 1.051 0.764 1.376 1.075 0.886 1.213
650 1.063 0.776 1.370 1.102 0.913 1.207
700 1.075 0.788 1.364 1.126 0.937 1.202
750 1.087 0.800 1.359 1.148 0.959 1.197
800 1.099 0.812 1.354 1.169 0.980 1.193
900 1.121 0.834 1.344 1.204 1.015 1.186
1000 1.142 0.855 1.336 1.234 1.045 1.181
C
p

(J g
-1
K)
C
v

(J g
-1
K)
k
C
p
/C
v

C
p

(J g
-1
K)
C
v

(J g
-1
K)
k
C
p
/C
v

Temperatur
(K)
Hidrogen (H
2
) Nitrogen (N
2
)
250 14.051 9.927 1.416 1.039 0.742 1.400
300 14.307 10.183 1.405 1.039 0.743 1.400
350 14.427 10.302 1.400 1.041 0.744 1.399
400 14.476 10.352 1.398 1.044 0.747 1.397
450 14.501 10.377 1.398 1.049 0.752 1.395
500 14.513 10.389 1.397 1.056 0.759 1.391
550 14.530 10.405 1.396 1.065 0.768 1.387
600 14.546 10.422 1.396 1.075 0.778 1.382

178
178 Termodinamika Kimia
Lanjutan..
650 14.571 10.447 1.395 1.086 0.789 1.376
700 14.604 10.480 1.394 1.098 0.801 1.371
750 14.645 10.521 1.392 1.110 0.813 1.365
800 14.695 10.570 1.390 1.121 0.825 1.360
900 14.822 10.698 1.385 1.145 0.849 1.349
1000 14.983 10.859 1.380 1.167 0.870 1.341
C
p

(J g
-1
K)
C
v

(J g
-1
K)
k
C
p
/C
v

C
p

(J g
-1
K)
C
v

(J g
-1
K)
k
C
p
/C
v

Temperatur
(K)
Oksigen (O
2
) Karbonmonoksida (CO)
250 0.913 0.653 1.398 1.039 0.743 1.400
300 0.918 0.658 1.395 1.040 0.744 1.399
350 0.928 0.668 1.389 1.043 0.746 1.398
400 0.941 0.681 1.382 1.047 0.751 1.395
450 0.956 0.696 1.373 1.054 0.757 1.392
500 0.972 0.712 1.365 1.063 0.767 1.387
550 0.988 0.728 1.358 1.075 0.778 1.382
600 1.003 0.743 1.350 1.087 0.790 1.376
650 1.017 0.758 1.343 1.100 0.803 1.370
700 1.031 0.771 1.337 1.113 0.816 1.364
750 1.043 0.783 1.332 1.126 0.829 1.358
800 1.054 0.794 1.327 1.139 0.842 1.353
900 1.074 0.814 1.319 1.163 0.866 1.343
1000 1.090 0.830 1.313 1.185 0.888 1.335








179
179 APENDIKS
Tabel 8. Sifat termodinamika beberapa gas sebagai gas ideal (pada 300 K)
Nama Gas
Rumus
Molekul
Massa
Molekul
Konstanta Gas/R
(J g
-1
K)
C
p

(J g
-1
K)
C
v

(J g
-1
K)
k
(C
p
/C
v
)
Udara atmosfer -- 28.97 0.287 1.005 0.718 1.4
Argon Ar 39.948 0.2081 0.5203 0.3122 1.667
Butana C
4
H
10
58.124 0.1433 1.7164 1.5734 1.091
Karbondioksida CO
2
44.01 0.1889 0.846 0.657 1.289
Karbonmonooksida CO 28.011 0.2968 1.04 0.744 1.4
Etana C
2
H
6
30.07 0.2765 1.7662 1.4897 1.186
Etilena C
2
H
4
28.054 0.2964 1.5482 1.2518 1.237
Helium He 4.003 2.0769 5.1926 3.1156 1.667
Hidrogen H
2
2.016 4.124 14.307 10.183 1.405
Metana CH
4
16.043 0.5182 2.2537 1.7354 1.299
Neon Ne 20.183 0.4119 1.0299 0.6179 1.667
Nitrogen N
2
28.013 0.2968 1.039 0.743 1.4
Oktana C
8
H
18
114.231 0.0729 1.7113 1.6385 1.044
Oksigen O
2
31.999 0.2598 0.918 0.658 1.395
Propana C
3
H
8
44.097 0.1885 1.6794 1.4909 1.126
Uap air H
2
O 18.015 0.4615 1.8723 1.4108 1.327

180
Tabel 9. Temperatur (T
c
), tekanan (p
c
), dan volume kritis (V
c
)
beberapa jenis gas
Nama Gas
Rumus
Kimia
T
c
(K)
p
c
(MPa)
V
c
(m
3
kmol
-1
)
Udara atmosfer - 132.5 3.77 0.0883
Amonia NH
3
405.5 11.28 0.0724
Argon Ar 151 4.86 0.0749
Benzena C
6
H
6
562 4.92 0.2603
n-Butana C
4
H
10
425.2 3.8 0.2547
Karbondioksida CO
2
304.2 7.39 0.0943
Karbonmonoksida CO 133 3.5 0.093
Karbon
Tetraklorida CCl
4
556.4 4.56 0.2759
Klorin Cl
2
417 7.71 0.1242
Etana C
2
H
6
305.5 4.48 0.148
Etilen C
2
H
4
282.4 5.12 0.1242
Helium He 5.3 0.23 0.0578
Hidrogen
(normal) H
2
33.3 1.3 0.0649
Metane CH
4
191.1 4.64 0.0993
Neon Ne 44.5 2.68 0.0419
Nitrogen N
2
126.2 3.39 0.0899
Oksigen O
2
154.8 5.08 0.078
Propana C
3
H
8
370 4.26 0.1998
Propilen C
3
H
6
365 4.62 0.181
Beleran dioksida SO
2
430.7 7.88 0.1217
Tetraluoroetana CF
3
CH
2
F 374.3 4.067 0.1847
Uap air H
2
O 647.1 22.064 0.0564





181
181 APENDIKS
Tabel 10. Konstanta virial kedua , B (cm
3
mol
-1
) beberapa gas
Gas 100 K 273 K 373 K 600 K
Ar -187.0 -21.7 -4.2 11.9
CH
4
-53.6 -21.2 8.1
CO
2
-149.7 -72.2 -12.4
H
2
-2.5 13.7 15.6
He 11.4 12.0 11.3 10.4
Kr -62.9 -28.7 2.0
N
2
-160.0 -10.5 6.2 21.7
Ne -4.8 10.4 12.3 13.8
O
2
-197.5 -22.0 -3.7 12.9
Xe -153.7 -81.7 -19.6

Tabel 11. Konstanta van der Waals beberapa gas
Gas
a
(L
2
atm mol
-2
)
b
(10
-2
L mol
-1
)
Gas
a
(L
2
atm mol
-2
)
b
(10
-2
L mol
-1
)
Ar 1.345 3.219 H
2
O 5.464 3.049
C
2
H
4
4.471 5.714 H
2
S 4.431 4.287
C
2
H
6
5.489 6.380 He 0.034 2.370
C
6
H
6
18.00 11.540 Kr 2.318 3.978
CH
4
2.253 4.278 N
2
1.390 3.913
Cl
2
6.493 5.622 Ne 0.211 1.709
CO 1.485 3.985 NH
3
4.170 3.707
CO
2
3.592 4.267 O
2
1.360 3.183
H
2
0.244 2.661 Xe 4.194 5.105

Tabel 12. Parameter persamaan keadaan Berthelot
Gas a (Pa m
6
mol
-2
K) b x 10
5
(m
3
mol
-1
)
Amonia 171 3.70
Argon 20.5 3.20
Karbondioksida 111 4.28
Helium 0.019 2.41
Metana 43.6 4.27
Neon 0.98 1.77

182
182 Termodinamika Kimia
Lanjutan. .
Nitrogen 17.3 3.87
Oksigen 21.3 3.18
Xenon 121 5.13
Air 357 3.04

Tabel 13. Parameter persamaan keadaan Dieterici
Gas a (Pa m
6
mol
-2
) b x 10
5
(m
3
mol
-1
)
Amonia 0.540 4.00
Argon 0.174 3.47
Karbondioksida 0.468 4.63
Helium 0.0046 2.60
Hidrogen 0.031 2.83
Metana 0.293 4.62
Neon 0.028 1.91
Nitrogen 0.176 4.19
Oksigen 0.177 3.45
Xenon 0.536 5.56
Air 0.709 3.29

Tabel 14. Parameter persamaan keadaan Redlich-Kwong
Gas a (Pa m
6
mol
-2
K
1/2
) b x 10
5
(m
3
mol
-1
)
Amonia 8.59 2.56
Argon 1.69 2.22
Karbondioksida 6.44 2.96
Helium 0.00835 1.67
Hidrogen 0.14195 1.813
Metana 3.20 2.96
Neon 0.149 1.22
Nitrogen 1.56 2.68
Oksigen 1.74 2.21
Xenon 7.20 3.56
Air 14.24 2.11


183
183 APENDIKS
Tabel 15. Koefisien pemuaian () dan kompresibilitas isothermal
(K
T
)
Cairan/ Padatan (K
-1
) K
T
(atm
-1
)
Benzena 1.24 x 10
-3
9.21 x 10
-5

Karbon tetraklorida 1.24 x 10
-3
9.05 x 10
-5

Etanol 1.12 x 10
-3
7.68 x 10
-5

Raksa 1.82 x 10
-4
3.87 x 10
-5

Air 2.10 x 10
-4
4.96 x 10
-5

Tembaga 5.01 x 10
-5
7.35 x 10
-7

Intan 3.00 x 10
-6
1.87 x 10
-7

Besi 3.54 x 10
-5
5.97 x 10
-7

Timbal 8.61 x 10
-5
2.21 x 10
-6


Tabel 16. Konstanta Hukum Henry untuk gas pada T
c
(K Torr
-1
)
Nama Gas
Rumus
Molekul
Pelarut Air
Pelarut
Benzena
Metana CH
4
3.14 x 10
5
4.27 x 10
5


Karbondioksida CO
2
1.25 x 10
6
8.57 x 10
4


Hidrogen H
2
5.34 x 10
7
2.75 x 10
6


Nitrogen N
2
6.51 x 10
7
1.79 x 10
6


Oksigen O
2
3.30 x 10
7



Sumber data:
David R. Lide, dkk., CRC Handbook of Chemistry and Physics,
Versi Internet 2005, CRC Press, Boca Raton, FL, 2005
Bhattacharjee, S. TEST (The Expert System for
Thermodynamics). San Diego State University, diakses dari
http://www.thermofluids.net, pada 8 Desember 2010







184
184 Termodinamika Kimia
INDEKS INDEKS INDEKS INDEKS

A
adiabatik, 8, 61, 71
aturan fasa Gibbs, 140
aturan Trouton, 138
azeotrop, 146
B
batas sistem, 3
bubble point line, 143
C
cair, 9, 127
campuran ideal, 142
campuran non ideal, 145
D
dalil kalor Nernst, 106
deposisi, 128
derajat kebebasan, 140
dew point line, 143
diagram fasa, 139
diagram terner, 156
diferensial eksak, 57
diferensial parsial, 64
E
efisiensi proses termal, 92
eksotermis, 48, 75
ekspansi, 49, 57
ekstensif, 91
endotermis, 48, 75
energi dalam, 56
energi disosiasi ikatan, 84
energi Gibbs, 7, 97
energi Helmholtz, 97
energi ikatan, 83
entalpi, 7, 63, 75
entalpi atomisasi, 83
entalpi disosiasi ikatan, 84
entalpi hidrogenasi, 77
entalpi ikatan rata-rata, 84
entalpi netralisasi, 77
entalpi pembakaran, 77
entalpi pembentukan, 76, 83
entalpi penguraian, 76
entropi, 7, 90, 95
entropi absolut, 107
eutektik, 155
F
faktor kompresibilitas, 26, 41
fasa, 127
fraksi mol, 142
fugasitas, 115
fungsi Gibbs, 95
fungsi Helmholtz, 95
fungsi jalan, 7, 51
fungsi keadaan, 7, 56, 57
G
garis titik gelembung, 143

185
185 INDEKS
gas, 10, 127
gas ideal, 22
gas real, 24, 25
H
hubungan Maxwell, 101
hukum Avogadro, 19, 22, 118
hukum Boyle, 12, 21
hukum Charles, 14, 15, 22
hukum Dalton, 42, 142
hukum Gay Lussac, 17, 22
hukum Henry, 146
hukum Hess, 81
hukum kedua termodinamika, 89
hukum kenol termodinamika, 48
hukum ketiga termodinamika, 106
hukum pertama termodinamika, 57
hukum Raoult, 142
I
irreversibel, 48, 53, 89, 91
isobar, 8, 70
isokhorik, 8, 60, 71
isotermal, 8, 61, 70
isotrop, 8
J
joule, 48
jumlah fase, 128
jumlah komponen, 129
jumlah partikel, 2
K
kalor, 47, 57, 89
kalori, 48
kalorimeter bom, 79
kalorimeter sederhana, 80
Kammerlingh Onnes, 31
kapasitas kalor, 60
kapasitas kalor tekanan tetap, 65
kapasitas kalor volume tetap, 65
kenaikan titik didih, 149
kerja, 49, 57
kesetimbagan termal, 8, 48
kesetimbangan cair-uap, 138
kesetimbangan fasa, 8, 128
kesetimbangan heterogen, 116
kesetimbangan homogen, 112
kesetimbangan kimia, 8, 111
kesetimbangan padat-cair, 133
kesetimbangan padat-uap, 139
koefisien aktifitas, 115
koefisien Joule-Thomson, 65
kompresi, 49, 57
kondensasi, 128
konstanta ebulioskopi, 150
konstanta kesetimbangan
konsentrasi, 114
konstanta kesetimbangan tekanan,
114
konstanta krioskopi, 150
L
lingkungan, 3, 57
M
magnetik, 49
mekanik, 49
mesin kalor, 93

186
186 Termodinamika Kimia
P
padat, 9, 127
pangkat tiga Debye, 107
pangkat tiga Einstein, 107
parameter Berthelot, 33
parameter Dietrici, 34
parameter Redlich-Kwong, 33
pelelehan, 133
penguapan, 138
penurunan tekanan uap, 148
penurunan titik beku, 149
persamaan Beattie-Bridgeman, 32
persamaan Berthelot, 33
persamaan Clapeyron, 132
persamaan ClausiusClapeyron, 138
persamaan Dieterici, 34
persamaan fundamental bentuk
diferensial, 99
persamaan fundamental bentuk
integral, 103
persamaan Gibbs-Duheim, 103
persamaan Gibbs-Helmholtz, 120
persamaan keadaan, 6
persamaan Redlich-Kwong, 33, 34
persamaan van der Waals, 27, 40
persamaan vant Hoff, 120
persamaan virial, 31
perubahan entalpi, 79
potensial kimia, 111
prinsip Le Chateliers, 118
proses irreversibel, 7
proses reversibel, 7
proses spontan, 90
Q
quasy-static, 7
R
reaksi kimia, 1
reversibel, 53, 88
rumus Boltzmann, 91
rumusan Clausius, 89
rumusan Kelvin-Planck, 89
S
Sardi Carnot, 93
sifat koligatif, 148
siklus Carnot, 92
sistem, 3, 57
sistem terbuka, 4
sistem terisolasi, 4, 59
sistem tertutup, 4, 59
sublimasi, 139
supercooled, 39
superheated, 39
supersaturated, 39
T
tekanan, 2, 121
tekanan kritis, 33, 38
tekanan osmosis, 151
tekanan tereduksi, 40
tekanan uap, 142
temperatur, 2, 118
temperatur kritis, 33, 38
temperatur tereduksi, 40
teorema diferensial parsial, 101
teorema fungsi homogen, 104
termodinamika kimia, 1
termodinamika statistik, 1
termokimia, 74
tetapan Boltzmann, 91

187
187 INDEKS
tetapan Laplace, 69
tetapan van der Waals, 27, 29, 40
tie line, 144
titik kritis, 38, 140
titik tripel, 140
transisi fasa, 127
V
variabel ekstensif, 6
variabel intensif, 6
variabel tereduksi, 40
volume, 2, 121
volume kritis, 38, 180
volume tereduksi, 40













188
188 Termodinamika Kimia
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. dan de Paula, Julio. 2006. Physical Chemistry.
Oxford University Press: Oxford.
Atkins, P.W. 1966. Kimia Fisika Jilid 1 Edisi Keempat.
Terjemahan Irma I. Kartohadiprojo. Jakarta: Erlangga.
Barrow, Gordon M. 1979. Physical Chemistry. New York:
McGraw-Hill Inc.
Castellan, G.W. 1983. Physical Chemistry, 3rd edition. Addison
Wesley Publishing Company: Massachusets.
Chang, R.; Overby, J. 2006. General Chemistry : The Essential
Concepts. McGraw-Hill Companies, Inc.: New York.
Dogra, S. K.; Dogra, S. 1986. Physical Chemistry through
Problems. New Age International (P) Limited, Publisher:
New Delhi.
Fajaroh, Fauziatul, dkk. 1999. Kimia Fisika 1. FPMIPA UPI-
IMSTEP JICA: Bandung.
Karapetyants, M. Kh. 1978. Chemical Thermodynamics. MIR
Publishers: Moscow.
Lohat, A. San. 2009. Termodinamika: Seri Ebook, diakses dari
http://www.gurumuda.com, pada tanggal 23 Juni 2010.
Mark, M dan Foster, A. R,. 1979. Thermodynamics : Principles
and Aplication. Allyn and Bacon, Inc.: Boston.
Maron, S.H. dan Lando, JB. 1974. Fundamentals of Physical
Chemistry. New York: Macmillan Publishing Co. Inc.
Nolly. Termokimia, diakses dari http://www.
kimiadb2.webs.com/MateriBab2Sem10910.doc pada
tanggal 30 Juni 2010.

189
189 INDEKS
Rahayu, S. I, 2006. Termodinamika (Azas Dasar dan Terapan
Kimia). Penerbit ITB: Bandung.
Rohman, Ijang. 2000. Kimia Fisika I: Pengantar
Termodinamika dan Aplikasinya dalam Kimia. FPMIPA
UPI-IMSTEP JICA: Bandung.
Sholehah, Amalia. 2008. Bahan Ajar Kimia Fisika. Jurusan
Teknik Metalurgi: FT UNTIRTA, diakses dari
http://amaliasholehah.files.wordpress.com/2008/04/kst
b-fasa.doc pada tanggal 7 Juli 2010
Stolen, S.; Grande, T.; Allan, N. L. 2004. Chemical
Thermodynamics of Materials: Macroscopic and
Microscopic Aspects. John Wiley & Sons Ltd: West
Sussex.
Sukardjo. 1989. Kimia Fisika. Jakarta: Bina Aksara
Triyono. 2006. Kimia Fisika II. Jurusan Kimia FMIPA UGM:
Yogyakarta.
















190
190 Termodinamika Kimia





Reaksi kimia merupakan proses yang selalu
melibatkan energi, baik membutuhkan atau
melepaskan energi. Besarnya kecilnya energi yang
terlibat menentukan berhasil tidaknya suatu
reaksi kimia. Jika tidak ditangani dengan baik,
kemungkinan reaksi kimia yang dikerjakan akan
gagal atau bahkan berakibat fatal. Oleh karena
itu, pemahaman mengenai energi reaksi kimia
sangat penting bagi seorang kimiawan sebelum
memulai suatu reaksi kimia.

Buku ini diharapkan membantu para kimiawan,
khususnya mahasiswa dalam menerapakn
konsep-konsep termodinamika sehingga bisa
menangani energi reaksi kimia dengan baik.


Penerbit Buku
ISBN: XXX-XXXXX-XX-XX