Anda di halaman 1dari 12

PENGEMBANGAN ALAT TANAM BIJI-BIJIAN PADA BEBERAPA KONDISI LAHAN UNTUK PENINGKATAN EFISIENSI1 Sudirman Umar2 ABSTRAK Kegiatan

penanaman padi dan palawija selama ini masih banyak dilakukan secara tradisional yang menggunakan tugal, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang banyak. Pembuatan dan pengembangan alat tanam merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi sehingga dapat menekan penggunaan waktu dan tenaga kerja yang banyak. Pengujian dilakukan pada berbagai tipe lahan berdasarkan kemampuan alat tanam yang di rekayasa dan modifikasi. Untuk pengembangan alat tanam beberapa modifikasi dilakukan selain memperbaiki juga meningkatkan kapasitas dan efisiensi dilihat dari segi teknis dan non teknis. Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penanaman biji-bijian dari sistem tugal hingga alat tanam mekanis dengan menggunakan traktor tangan terjadi peningkatan kapasitas dan efisiensi. Peningkatan kapasitas dari 273 jam/ha menjadi 3-4 jam/ha dengan modifikasi dari wadah benih sampai jumlah alur tanam dan alat tanam dan pemupukan. Alat tanam yang telah dimodifikasi dan dikembangkan dapat menekan tenaga kerja sebesar 87,18% dan peningkatan efisiensi dari 44,7% hingga 86%.
Kata kunci : Alat tanam bij-bijian, kondisi lahan, efisiensi

Disampaikan dalam Gelar Teknologi dan Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008 di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta 18-19 November 2008 2 Peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Jalan Kebun Karet PO Box 31, Loktabat Utara Banjarbaru

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 1

A. PENDAHULUAN Kegiatan usahatani padi dan palawija selama ini masih banyak dilakukan secara tradisional khususnya pada cara penanaman yaitu masih menggunakan alat tugal yang terbuat dari kayu/batang pohon. Umumnya penanaman dengan cara tugal kurang efisien karena membutuhkan waku dan tenaga kerja yang banyak. Biasanya penanaman dengan cara tugal, benih palawija khususnya dibenam dengan tangan sehingga kejerihan kerja manusia semakin lama waktu yang digunakan untuk membenam benih semakin tinggi tingkat kejerihan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja untuk penanaman sebesar 25% dari keseluruhan tenaga dalam kegiatan usahatani. Alat tanam tugal mempunyai kapasitas rata-rata 20 jam/ha. Dengan demikian dalam aplikasinya alat ini masih membutuhkan tenaga kerja yang relatif banyak dan menjadi kendala di beberapa tempat yang mempunyai kecenderungan kesulitan tenaga kerja manusia. Menurut Astanto et.al., (1993), kebutuhan jam kerja penanaman yang menggunakan alat penanam padi langsung secara larikan di lahan irigasi Sukamandi dapat ditekan hingga 27,3 jam kerja orang (JOK)/ha dari 272,5 JOK. Alat penanam meningkatkan kapasitas kerja tenaga penanam dibanding icir tugal dan menghemat tenaga kerja sekitar 85-88% (Astanto et.al., 1994). Salah satu cara untuk mengurangi pemakaian tenaga kerja manusia dan meningkatkan efisiensi kerja penanaman ialah dengan menggunakan alat penanam semi mekanis dan mekanis. Alat penanam biji-bijian untuk padi, kacang hijau dan kedele lebih mudah ditemukan dibanding alat tanam jagung. Salah satu kurang tersedianya alat tanam jagung karena jarak tanam tanaman jagung yang relatif besar dan jalur alat tanam hanya rata-rata 2 baris sehingga efisiensi sangat rendah. Namun demikian alat tanam larik (ATL) modifikasi yang dilaksanakan oleh Balittra Banjarbaru dapat digunakan untuk semua jenis biji-bijian dengan mempergunakan rol penakar yang berbeda untuk masing-masing komoditi. Penggunaan alat penanam satu baris dengan pembagi benih lobang ganda telah dikembangkan dan dapat meningkatkan kapasitas kerja penanaman tiga kali lipat dibanding penanam dengan tugal (Astanto, et.al.1995). Menurut Komaruddin, et.al., (1994), bahwa alat tanam bermesin untuk tanaman kacang hijau dapat mengurangi waktu kerja 52,26%-74,15% dibanding tanam tradisional.

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 2

1. Keadaan lahan yang diperlukan untuk alat tanam Pada mulanya petani menanam tanaman biji-bijian baik padi ataupun palawija dengan cara tugal pada kondisi lahan seadanya, baik tanah datar, bergelombang atau bukit dengan kemiringan yang cukup besar. Lahan yang akan ditanami hanya dibersihkan dari rerumputan kemudian dicangkul untuk membalikkan tanah dan sekaligus membuang sisa-sisa rumput. Kondisi lahan yang disiapkan masih terdiri dari bongkahan tanah yang besar dan masih banyak akar tanaman sehingga belum dapat dipastikan tanaman akan tumbuh baik dan akan menghasilkan hasil seperti yang diharapkan. Padahal untuk menyeragamkan pertumbuhan tanaman seyogyanya tanah dipersiapkan dengan benar agar biji/benih tumbuh baik pada media tanah yang tersedia unsur hara dan juga untuk memudahkan perawatan pada vegetatif awal. Dengan masuknya beberapa alat penanam semi mekanis/mekanis mengharapkan ketersediaan lahan yang sangat baik agar kerja alat lebih efisien dan tidak terjadi kerusakan selama dalam kegiatan penanaman. Untuk itu syarat yang diperlukan untuk melaksanakan penanaman dengan alat mekanis adalah kondisi lahan harus benar-benar dapat mendukung kelancaran kerja alat yaitu tanah yang cukup luas dengan struktur tanah halus pada keadaan tanah yang homogenitas tinggi serta tidak pada kemiringan yang besar. Selanjutnya pengembangan alat tanam yang disesuaikan dengan kondisi tanah tanpa olah tanah (TOT) yang diharapkan dapat mengurangi biaya dalam mempersiapkan lahan menjadi siap tanam, namun dari segi lain kegemburan tanah yang diharapkan benih pada pertumbuhan awal relatif lambat (pertumbuhan agak terhambat). Prastowo (1996) mendukung bahwa

pengembangan alat tanam akan lebih berpeluang untuk budidaya palawija dengan sistem tanpa olah tanah sesudah tanaman padi.

2. Pengembangan Alat Tanam Dengan melihat kapasitas dan efisiensi yang dihasilkan oleh alat tanam tradisional yang relatif kecil, maka usaha untuk meningkatkan kapasitas kerja dan efisiensi terus dilakukan dengan jalan merekayasa dan memodifikasi agar dapat meningkatkan kapasitas kerja sesuai dengan luas lahan yang dikehendaki alat tersebut, selain keberadaan alat tanam pada lahan-lahan yang relatif tidak terlalu luas.

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 3

Beberapa alat tanam mekanis telah dirancang dan diuji, namun masih perlu terus dikembangkan khususnya untuk kondisi lahan dan sosial petani Indonesia yang spesifik. Menurut Lando dan Abidin (1984), bahwa untuk menghemat waktu kerja penanaman, desain alat tanam harus menghemat waktu pada tiga tahapan kerja penanaman, yaitu pembuatan alur atau pelubangan, peletakan benih dan penutupan benih.

a.

Alat Tanam Tugal (ATT)

1) Kapasitas kerja Penanaman benih yang dilakukan secara tradisional yang banyak memakan waktu dan tenaga kerja, kapasitas yang dihasilkan relatif kecil, sehingga efisiensi yang dihasilkan juga akan rendah. Untuk itu dilakukan usaha-usaha yang dapat meningkatkan kapasitas kerja dan efisiensi secara terus menerus melalui rekayasa dan modifikasi prototipe baru, sehingga kapasitas yang diharapkan dapat dicapai, juga sesuai dengan luas ;ahan yang dikehendaki oleh alat tersebut. Modifikasi dan rekayasa dilakssanakan berdasarkan bentuk lahan, luas lahan serta pada kondisi tanah yang diusahakan untuk pertanaman biji-bijian. Diawali dari alat tanam tugal (ATT) yang dilakukan petani umumnya, kapasitas yang dihasilkan relatif rendah. ATT petani saat penanaman menggunakan tenaga kerja 2 orang yakni satu menugal dan satu lagi memasukkan dan menutup lobang benih sehingga membutuhkan waktu kerja 130,9 jam/ha atau kapasitas kerja aktual 0,0078 ha/jam. Pengembangan alat tanam berfungsi untuk megurangi tenaga kerja tanam, yakni alat dengan tempat benih (biji) berada pada bagian dari batang tugal dengan pengaturan penjatuhan benih melalui papan yang ditarik melalui pegas disertai ukuran lobang untuk masing-masing benih. Namun demikian walaupun kapasitas yang dihasilkan meningkat tetapi belum menunjukkan beda yang nyata. Dari modifikasi awal ATT-1 dan 2 maka efisiensi yang dihasilkan masih lebih kecil dibanding ATT petani (Tabel 1). Setelah mengalami kegagalan dalam usaha memperbaiki kinerja ATT, pembuatan Alat Tanam Dorong (ATD) modifikasi 1 dan 2 terus dikembangkan sehingga menghasilkan kapasitas kerja yang lebih tinggi. Peningkatan kapasitas kerja aktual dari ATD belum

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 4

didukung oleh efisiensi yang lebih baik, hal ini karena masih terdapat gangguan teknis maupun non teknis yang dapat mengurangi kemampuan kerja alat. ATD modifikasi 1 dan 2 yang dirancang dengan satu roda, terjadi kesulitan dalam hal mengatur keseimbangan pada saat jalan karena mengharuskan roda selalu berada pada satu garis lurus. Dengan mengkonsentrasikan roda pada satu garis lurus mengakibatka terjadi kelambatan kecepatan jalan alat dengan sendirinya mengurangi kapasitas kerja atau memperlambat waktu kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas kerja aktual untuk ATD 1 dan 2 masing-masing 0,011 dan 0,0124 jam/ha dengan efisiensi 55,61% dan 55,78%. Dengan modifikasi ATT ke ATD maka efisiensi telah meningkat walaupun tidak jelas ada perbedaan. Kenaikan efisiensi dari 47,24% menjadi 55,65% atau naik sekitar 17,80%.

2) Penjatuhan benih Penjatuhan benih dari beberapa alat yang diuji ternyata bervariasi berarti penjatuhan benih perlobang akan berpengaruh pada kebutuhan benih per hektar. Alat tanam tipe tugal (ATT) memliki jumlah penjatuhan 2-3 biji per lobang relatif rendah (34-63%) sedangkan alat tanam tipe dorong (ATD) memiliki jumlah penjatuhan 2-3 biji per lobang yang cukup baik yakni sekitar 83%. ATT petani memiliki jumlah 2-3 biji/obang 8% lebih tinggi karena penempatan benih dilakukan oleh manusia, sehingga ketepatan sangat tinggi. ATD 1 memiliki sistem penakar benih yang cukup baik, diameter dan kedalaman alur pembagi benih yang ada sesuai dengan bentuk dan ukuran benih kedelai varietas Wilis.

Jumlah benih yang dibutuhkan per hektar merupakan fungsi kuantitatif dari jumlah biji per lobang dan besar kecilnya ukuran benih. Kebutuhan benih per hektar untuk tanaman kedelai dianjurkan sekitar 40 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keperluan benih masing-masing alat yang mendekati dengan jumlah yang dibutuhkan per hektar adalah ATT petani (38,75 kg/ha) sedangkan ATT Maros pemakaian benih tertinggi (165,0 kg/ha).

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 5

Tabel 1. Kapasitas kerja (ha/jam) dan efisiensi ( % ) alat tanam tugal dan dorong. Barabai, KalSel. Jenis alat Waktu kerja Kapasitas Kapasitas Efisiensi Kebutuhan ( j/ha ) kerja teoritis kerja aktual (%) benih ( ha/j ) ( ha/j ) ( kg/ha ) ATT-1 139,19 0,0161 0,0071 44,70 59,00 ATT-2 152,35 0,0132 0,0065 49,78 95,75 ATT Maros 155,35 0,0124 0,0064 52,86 165,00 ATT Vektor 137,61 0,0151 0,0072 48,22 95,00 ATD-1 93,73 0,0199 0,0111 55,61 84,25 ATD-2 82,21 0,0299 0,0124 55,78 153,75 ATT petani 130,09 0,0124 0,0078 67,82 38,75 Sumber : Muhammad et.al.,(1994)

b. Alat Penanam Tipe Satu Baris Pembuatan alat ini ditujukan untuk penanam jagung dengan jarak tanam yang lebar dan hanya satu baris dengan 2 buah roda karena menghindari pemakaian lebar kerja yang terlalu besar karean pengoperasian alat secara manual. Mekanisme penjatuhan benih adalah benih dimasukkan kedalam hopper kemudian benih jatuh kedalam lobang pembagi benih. Benih yang berada diatas lobang disapu oleh sikat. Sementara pembagi benih berputar, pembuka alur bekerja karena gerak maju alat penanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat penanam satu baris dengan pembagi benih lobang ganda dapat meningkatkan kapasitas kerja penanaman tiga kali lipat dibanding penanaman dengan tugal (Astanto, et.al., 1995).

c.

Alat Penanam Tipe Larik Dua Baris

Pengembangan alat tanam satu baris untuk tanaman palawija merupakan cara yang masih tergolong lamban, karena hasil yang akan dicapai baik kapasitas maupun efisiensi masih relatif rendah. Hal ini berhubungan dengan waktu kerja yang banyak dan belum bisa disesuaikan dengan kondisi yang diinginkan oleh alat tersebut. Alat penanam ini dirancang dan dibuat untuk tanaman palawija yang mempunyai jarak tanam yang relatif rapat, sehingga kemungkinan untuk menambah alur dengan menekan jumlah tenaga kerja lebih sedikit. Umumnya penanaman tanaman palawija dilakukan tidak hanya masih cara tradisional tapi masih memerlukan tenaga yang terlalu besar bial menanam dengan alat tugal.

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 6

Mekanisme kerja dari beberapa alat tanam yang dimodifikasi hampir sama yang tujuannya untuk menghindari pemakaian benih yang berlebihan, baik dengan pembagi benih bentuk alur vertikal maupun yang bentuk alur horizontal dengan lobang pembagi benih 6 buah. Selain itu diharapkan prosentase pengeluaran benih relatif sama. Oleh karena itu dirancang untuk 2 baris dengan jarak antar baris 40 cm, jarak antar tanaman dalam baris 20 cm, penjatuhan benih 2 sampai 3 biji/lobang. Percobaan alat penanam alur ganda di tanah pasir menunjukkan bahwa jumlah kebutuhan benih pada alur ganda 144,6/50 titik = 2,89 butir/lobang (Tabel 2), tetapi distribusinya tidak merata dan prosentase pengeluaran benih > 3 biji/penjatuhan sebesar 25,2%, sedang pada alur ganda yang diputar, prosentase pengeluaran benih > 3 biji/penjatuhan 0%. (Astanto dan Ananto, 1998).

d. Alat Tanam Suntik Berguling (RIP) Alat tanam suntik berguling = Rolling Injection Planters (RIP) telah dirancang untuk penanaman pada lahan yang tidak terlalu rata dan halus.. Alat ini bekerja baik pada tanah ringan, kering dan tidak diolah. Bila tanah relatif basah maka tanah akan melekat pada injektor sehingga menutupi keluarnya benih. Pada tanah berat yang relatif kering, penempatan benih sangat dangkal sehingga akan menyebabkan prosentase tumbuh benih kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tanam RIP dapat menurunkan waktu kerja 65,04% dibanding alat tanam tradisional dengan pemakaian benih sebesar 32,10 kg/ha (Komaruddin dan Alihamsyah, 1995). Selanjutnya hasil pengujian bahwa RIP yang ditarik dengan tenaga manusia rata-rata mempunyai kapasitas 7-8 jam/ha. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil RIP modifikasi yang diuji oleh Prastowo (1986), yakni kapasitas kerja yang dihasilkan 7,2 jam/ha. Selain itu dari hasil pengujian pada kondisi tanah yang relatif kering (ukuran agregat 9 cm2) ternyata kapasitas kerja RIP ratarata sebesar 6,91 jam/ha dengan penjatuhan 2-3 biji/lobang pada kedalaman penempatan benih 24 cm dan jarat antara penempatan 20-25 cm (Umar et.al, 2001).

e.

Rolling Injection Seeder (RIS)

Melihat kepentingan komoditas yang banyak ditanami, pengembangan RIP dilakukan agar dapat digunakan untuk tanaman jagung selain kedelai sehingga RIP dimodifikasi menjadi

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 7

Rolling Injection Seeder (RIS) yang digandeng dengan traktor tangan. Alat RIS ini dirancang dan modifikasi untuk proses penjatuhan benih ke permukaan tanah berdasarkan gaya gravitasi melalui penakar keluaran benih (matering device). Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapasitas kerja sebesar 7,1 jam/ha, kedalaman penempatan benih 3-5 cm, jumlah benih/lobang 1-1 biji dengan tingkat ketepatan 2 butir/lobang = 92% dan jarak antar lobang 20-25 cm (Hendriadi et.al, 1998)

f.

Atabela

Berbagai rancang bangun jenis alat tanam yang dibuat ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi dengan mengurangi kejerihan kerja di lapangan. Untuk mempertinggi kegiatan kerja alat penanaman biji-bijian, BBP Alsintan Serpong telah mengembangkan Paddy Direct Line Seeder (Atabela) dengan menggunakan tenaga manusia sistem larik 4 jalur.

Selanjutnya dikembangkan prototipe terbaru dengan 6 larikan yang ditarik oleh tenaga traktor ukuran kecil yakni Power Seeder. Kedua alat ini dianggap sesuai untuk lahan pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atabela 4 larik yang digunakan untuk pertanaman padi di lahan pasang surut Sumatera Selatan menghasilkan kapasitas kerja 12,028 jam/ha dengan efisiensi 50,82% (Umar dan Harjono. 2000). Nilai ini jauh dibawah kapasitas terpasang karena saat menggunakan petani belum memahami kinerja alat juga keadaan struktur tanah belum melumpur sehingga terjadi hambatan gesekan dari pelampung, selain itu juga faktor kebiasaan akan berpengaruh dalam memperbesar kapasitas. Hasil pengujian Anwar (2000), menunjukkan bahwa penggunaan atabela 6 jalur meningkatkan kapasitas kerja sehingga menghemat tenaga kerja karena dapat dioperasikan oleh satu orang. Atabela 6 jalur mempunyai berat 22 kg sehingga dalam operasionalnya akan membebani penarik, selain itu terjadi gesekan antara lumpur dan pelampung yang menjadi penyangga sebagai beban utama.

g.

Alat Tanam Larik - 4 baris

Alat tanam larik 4 baris (ATL-4r) menggunakan penggandeng traktor kecil berkekuatan 5,5 HP/1800 RPM dikembangkan dan diuji dilahan kering. Alat tanam ini digunakan untuk berbagai biji-bijian antara lain padi, kedelai dan jagung dengan rol penakar yang berbeda-beda.

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 8

Mekanisme kerja ATL-4r adalah dengan adanya putaran roda penggerak alat tanam disalurkan melalui poros ke rol penakar. Saat rol penakar berputar maka benih yang berada di atas (tertampung dalam hopper) masuk ke lobang-lobang penakar dan benih ikut beputar sebesar 90
O

, kemudian jatuh secara gravitasi setelah mencapai titik 0 sejajar injektor dan melalui

saluran/selang dan jatuh tepat di belakang pembuka alur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian ATL-4r pada lahan lebak dangkal di KalSel dengan kecepatan maju traktor penggandeng 1,902 km/jam maka kapasitas kerja aktual yang dicapai oleh alat tanam ini sebesar 5,19 jam/ha dan efisiensi 74,17%. Penempatan benih pada kedalaman maksimal 3,0 cm dengan jumlah butir jatuhan rata-rata 2,4 biji/ 6 cm

h. Mesin Penanam Benih Padi Sawah Mekanis Berdasarkan hasil pengujian power seeder di lahan sawah pasang surut Sumatera Selatan ternyata kapasitas kerja dan efisiensi yang dihasilkan cukup baik, namun untuk lebih mengefisienkan energi dan waktu dalam penanaman tanaman padi khususnya untuk lahan sawah, maka dilakukan perancangan model dari alat penanam padi tipe 2 baris menjadi 5 baris. Rancangan alat penanam padai 5 baris tanaman digandeng traktor roda dua, kecepatan maju 2,53 km/jam menghasilkan kapasitas kerja 3,73 jam/ha dan efisiensi lapang 86%, kapasitas yang dihasilkan lebih besar dibanding dengan power seeder. Tabel 2. Hasil uji lapang mesin penanam benih padi sawah mekanis Uraian Satuan Ukuran - Kecepatan jalan rata-rata km/jam 2,53 - Lebar kerja 5 alur cm 125 - Kedalaman penempatan benih cm 02 - Kapasitas penanaman benih jam/ha 3,73 - Efisiensi kerja lapang % 86 - Slip roda alat tanam % -3 - Jarak tanam dalam alur cm 05 - Kebutuhan benih/ha kg 24,56 Sumber : Harjono dan Purwanta (1998)

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 9

B.

PENUTUP Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman dari sistem tugal hingga

alat tanam mekanis dengan menggunakan traktor tangan terjadi peningkatan kapasitas dan efisiensi. Peningkatan kapasitas dari 273 jam/ha menjadi 3-4 jam/ha dengan modifikasi dari wadah benih sampai jumlah alur tanam serta alat tanam dan pemupukan. Alat tanam yang telah dimodifikasi dan dikembangkan dapat menekan tenaga kerja sebesar 87,18% dan peningkatan efisiensi dari 44,7% hingga 86%.

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 10

DAFTAR PUSTAKA Astanto, D. Ridwan Ahmad dan E.E Ananto. 1992. Perancangan Alat Tanam Padi Secara Larikan Untuk Lahan Kering. Media Penelitian Sukamandi No. 11 Balittan Sukamandi. hal. 43-48 Astanto, E.E Ananto dan Udin Nugraha. 1994. Pengaruh Diameter Alur Pembagi Benih Pada Alat Tanam Terhadap Distribusi Pengeluaran Benih. Buletin Enjiniring Pertanian. Badan Litbang Pertanian. BPP Alsintan Serpong. Vol. 1 No. 1 April 1994. Astanto, E.E Ananto, dan S.Y Jatmiko. 1995. Evaluasi Teknis Alat Penanam Jagung Satu Baris. Buletin Enjiniring. Badan Litbang Pertanian. BPP Alsintan Serpong Vol. 2 No. 1 April 1995. hal. 31-39 Astanto, dan E.E Ananto. 1998. Perancangan dan Pengujian Alat Penanam Kacang Hijau Tipe Dua Baris. Buletin Enjiniring. Badan Litbang Pertanian. BPP Alsintan Serpong Vol. 4., No. 1 Januari 1998. hal. 1-17 Ea. Kosman Anwar. 2000. Efektifitas Atabela Pada Tanah Bertekstur Liat Dalam Kondisi Lumpur Dalam Prosiding Seminar Nas. Teknik Pertanian : Modernisasi Pertanian Untuk Peningkatan Efisiensi dan Produktifitas Menuju Pertanian Berkelanjutan. PERTETA Cab Bogor bekerjasama dengan CREATA LP-IPB dan Fateta IPB Vol. 1 .hal. 70-75. Harjono dan Y.C Purwanta. 1998. Rekayasa Mesin Penanam Benih Padi Sawah Berpenggerak Mekanis. Buletin Enjiniring. Badan Litbang Pertanian. BPP Alsintan Serpong Vol. 4. No.2. Maret 1998. hal. Hendriadi, A., A. Probowo, H. Wijaya dan Marsudi. 1998. Rekayasa Rolling Injection Seeder (RIS) Untuk Jagung dan Kedelai Pada Sistem Tanpa Olah Tanah. Buletin Enjiniring. Badan Litbang Pertanian. BPP Alsintan Serpong Vol. 4. No.2. Maret 1998. hal. 1-14 Komaruddin, D. Ridwan Ahmad, dan T. Alihamsyah. 1994. Penampilan Kerja Beberapa Alat Tanam Biji-bijian di Lahan Pasang Surut Sum-Sel. Risalah Lokakarya Penel. Mekanisasi Pert. Tan. Pangan Sukamandi. 6-7 Agustus 1993, Puslitbangtan. hal 179-185 Komaruddin dan T. Alihamsyah. 1995. Evaluasi Alat Tanam Biji-bijian di Lahan Pasang Surut Sulfat Masam di Sum-Sel. Kumpulan Hasil Penelitian Tekn. Produksi dan Pengemb. Sistem Usahatani di Lahan Rawa (eds). Sumihardi, A. Musaddad, T. Alihamsyah dan Ini G. Ismail. 1995. Proyek Penel. dan Pengembangan Pert. Rawa terpadu-ISDP. Badan Litbang Pert.. hal. 241-245

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 11

Lando, T.M, dan B. Abidin. 1984. Perancangan dan Pembuatan Alat Tanam Kedelai. Laporan Hasil Penelitian Mekanisasi Pertanian . Balittan Maros Muhammad, H.Dj. Noor dan Izz. Noor. 1994. Uji Adaptasi dan Kelayakan Penggunaan Alat Tanam Kedelai di Lahan Kering Kal-Sel. Dalam Pros. Seminar Nas. Strategi Penelitian dan Pengembangan Bidang Teknik Pertanian di Indonesia Dalam PJP II. Kebijakan Keteknikan Pertanian Alsintan. Balittan Maros bekerjasama dengan PERTETA Cabang Sul-Sel Buku I hal 80-87. Prastowo, Bambang. 1986. Hasil Modifikasi Alat Tanam Suntik Berguling Model Dua Alur. Agrikam, Buletin Penelitian Pertanian Maros.Badan Litbang Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Pangan Maros. Vol. 1 No. 1 Jan. 86. hal. 10-15 Suastawa, I.N, W. Hernawan, dan E.N Sembiring. 2000. Rancang Bangun Alat Tanam dan Pemupukan Kedelai (Glycine Max. L) Dengan Tenaga Tarik Traktor Tangan. Dalam Prosiding Sem. Nas. Teknik Pertanian : Modernisasi Pertanian Untuk Peningkatan Efisiensi dan Produktifitas Menuju Pertanian Berkelanjutan. PERTETA Cab Bogor bekerjasama dengan CREATA LP-IPB dan Fateta IPB Vol. 1 .hal. 223-235 Tamsin, A.J.P dan Harnel 1994. Alat Tanam Biji-bijian Semi Mekanis di Lahan Kering. Risalah Lokakarya Penel. Mekanisasi Pert. Tan. Pangan Sukamandi. 6-7 Agustus 1993, Puslitbangtan. hal.100-107 Umar, S. dan Harjono. 2000. Pengujian Teknis Alat Tanam Benih Langsung di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan Dalam Pros. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa. Puslitbangtan, Banjarbaru 4-5 Juli, hal. Umar, S., Izz. Noor, dan T. Alihamsyah. 2005. Penampilan Teknis Alat Tanam Biji-bijian Tipe Larik di Lahan Lebak Dangkal. Dalam Pros. Seminar Nasional Penyediaan Paket Teknologi Pertanian Terpadu Mempercepat Pengembangan Agibisnis dan Ketahanan pangan. Puslitbang Sosesk. BPTP Sulut, Manado 29-30 Nop. hal. 205216 Unadi Astu. 1995. Pengembangan Alat Tanam Kedele dan Pemupukan yang Ditarik Traktor Tangan. Buletin Enjiniring Pertanian. Badan Litbang Pertanian. BPP Alsintan Serpong. Vol. 1 No. 4, Januari 1995, hal. 1-7

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 Yogyakarta, 18-19 November 2008 12