Anda di halaman 1dari 41

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Keadaan Buku B. Latar Belakang Masalah C. Tujuan Laporan BAB II Intisari Isi Buku BAB III Penutup A. Analisis/Komentar B. Kesimpulan Halaman i 1 2 2 2 4 5 39 39 40

BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Keadaan Buku


Judul: Islam Tuntunan dan Pedoman Hidup Pengarang: Tim Dosen PAI UPI Tahun Terbit: 2009 Penerbit: Value Press Buku yang berjudul Islam Tuntunan dan Pedoman Hidup ini merupakan sebuah buku ajar dalam pembelajaran mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Bukan seperti buku ajar lainnya yang penulis miliki selama Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, buku ini memiliki isi materi yang khas, terlihat dari uraian setiap bab, mulai dari bab satu sampai bab lima belas merupakan serangkaian paparan materi Islam yang unik karena sebagian besar hal yang disuguhkan kepada pembaca begitu aktual seperti isu-isu kontemporer dalam Islam yang ada di bab lima belas, sehingga buku ini dapat memotivasi mahasiswa untuk berpikir secara kritis dengan masing-masing keilmuan yang dimilikinya agar kelak mahasiswa dapat menjadikan ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi dapat diislamkan atau dalam istilah Al-faruqi dengan konsepnya Islamisasi Sain. Dengan Islamisasi ini berarti penanaman nilai-nilai moral spiritual dan akhlak mulia akan selalu hadir dalam nafas kehidupan pribadinya untuk selama-lamanya dan dapat membawa serta memenuhi tujuan kebahagiaan saat masih hidup di dunia ini dan masa yang akan datang di hari akhir nanti. Keadaan buku yang berjumlah 190 halaman ini cukup baik dengan sistematika penulisan yang baik pula mulai dari bab satu sampai bab lima belas. Konten isi pun sangat bagus terlihat dari penulis buku ini sendiri yang terdiri dari dosen-dosen Pendidikan Agama Islam UPI yang tentunya sudah tidak diragukan lagi kehebatan ilmu agamanya.

B. Latar Belakang Masalah


Islam yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia selama ini telah digambarka pemeluknya sebagai agama ritual yang diceraikan dengan kehidupan duniawi. Keadaan seperti ini di dalam ilmu sosiologi merupakan suatu hal yang disebut Sekularisme, dimana manusia di dalam aktifitas hidup kesehariannya selalu memisahkan antara agama
2

dengan kepentingannya. Hal seperti ini sudah lazim terjadi di era modernisasi seperti ini, sungguh suatu keadaan yang memprihatinkan dimana moral bangsa pun telah banyak dinodai olah perilaku banyak manusia yang tidak memiliki pengetahuan agama. Di ranah intelektual pun tidak luput dari pandangan ini, sehingga seolah Islam pun jauh telah lama bercerai dengan dunia akademik keilmuan Barat yang dibidani kelahirannya oleh Islam. Akhlak Islam dan moralitas nilai-nilai kemanusiaan yang mendasariya dipaksa untuk jauh terpisah dari keilmuan itu. Ilmu disapih jauh untuk bebas nilai dari Islam. Merujukkan kembali Islam dengan Ilmu Pengetahuan Modern kini adalah kewajiban kaum intelektual termasuk para mahasiswa muslim. Baik kaum muslim intelektual, umat umumnya maupun dunia dewasa ini yang merindukan nilai-nilai moral kemanusiaan yang luhur tidak terceraikan dengan nilai-nilai spiritual. Dalam hal ini Akhlak Islam lengkap dalam keteladanan Rasulullah kembali berada di tengah-tengah manusia dan alam tempat mereka hidup. Problematika di atas perlu segera dipecahkan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah ditemukannya sebuah buku yang mampu menyajikan serangkaian materi ilmu agama Islam yang nantinya mampu mengisi ilmu dengan islamisasi sain sebagaimana telah ditunjukan di masa kelahiran ilmu di dunia Islam masa lalu. Sekait dengan kenyataan tersebut, buku berjudul Islam Tuntunan dan Pedoman Hidup karya Tim Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia bisa menjadi solusi alternatif. Buku Islam Tuntunan dan Pedoman Hidup ini merupakan buku yang terbilang cukup baru. Buku ini diterbitkan pada tahun 2009 oleh Penerbit Value Press Bandung. Buku berukuran 14,4 x 21 cm ini termasuk buku yang banyak dicari dan dibaca orang. Hal ini terbukti dalam satu tahun penerbitannya , buku ini telah mengalami dua kali cetak ulang. Buku Islam Tuntunan dan Pedoman Hidup terdiri atas 15 bab. Secara umum isi buku ini dapat dikategorikan ke dalam bagian besar yakni bagian awal berupa konsep dasar Islam yang meyajikan Makna, Tujuan dan Metode Memahami Islam dan bagian akhir yang membahas tentang Islam dan Isu-isu Kontemporer. Walaupun belum ditujukan bagi seorang yang sudah benar-benar ahli dalam ilmu agama, buku ini jelas sangat bermanfaat guna membina mahasiswa untuk menjadi penerus bangsa yang beragama baik dan memiliki moral yang baik pula. Keunggulan lain adalah bahwa buku yang berisi materi seperti dalam buku ini sampai saat ini belum banyak ditemukan.

Sejalan denan kenyataan di atas, buku Islam Tuntunan dan Pedoman Hidup merupakan salah satu buku yang penting untuk dikaji. Oleh sebab itu, penulis tertarik melakukan pengkajian terhadap isi buku tersebut yang hasilnya penulis susun dalam bentuk laporan buku.

C. Tujuan Laporan
Tujuan yang hendak dicapai melalui penulis laporan buku ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan buku Islam Tuntunan dan Pedoman Hidup. Laporan buku ini diharapkan mampu memiliki kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis diharapkan laporan buku ini menambah khazanah teoritis tentang ilmu Islam. Secara praktis diharapkan laporan buku ini menambah pengetahuan, wawasan, dan keilmuan bagi penulis maupun bagi pembaca.

BAB II Intisari Isi Buku


Berikut ini penulis akan menguraikan ringkasan isi dari buku Islam Tuntunan dan Pedoman Hidup dari setiap bab.

BAB 1 Makna, Tujuan, dan Metodologi Memahami Islam A. Makna islam


Islam merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk indonesia. Islam sendiri memiliki makna secara lughawi ( etimologis ) dan secara istilahi ( terminomogis ). Secara lughawi kata Islam berasal dari 3 akar kata yaitu Aslama yang artinya berserah diri atau tunduk patuh pada aturan hidup yang ditetapkan Allah swt, Salam berarti rasa damai dalam jiwa atau ruh dan yang terakhir Salamah dalam arti menempuh jalan yang selamat. Adapun secara istilahi, Islam adalah agama yang diturunkan dari Allah swt kepada umat manusia melalui penutup Nabi Muhammad saw. Untuk memahami lebih dalam makna dari islam perlu dipahami pula makna taslim ( berserah diri ) yang memiliki tiga tingkatan dari mulai yang terendah yaitu taslim fisik, lalu taslim akal dan yang tertinggi taslim hati. A. Tujuan Syariah Islam 1. Menjaga dan memelihara agama 2. Menjaga dan memelihara jiwa 3. Menjaga dan memelihara akal 4. Menjaga dan memelihara harta 5. Menjaga dan memelihara kehormatan B. Metode Memahami Islam 1. Metode Disiplin Ilmu dan Kajian Isi Islam dapat dipelajari dengan menggunakan metode disiplin ilmu dan kajian isi, yaitu dengan cara mempelajari cabang-cabang ilmu tersebut berdasarkan tahapantahapan dan struktur kajian yang telah disusun oleh para ulama sesuai dengan tingkat kemampuannya, seperti yang biasa dipelajari di pesantren-pesantren salfiah.
5

Dalam mempelajari islam melalui metode disiplin ilmu dan kajian isi ini agar tidak terjadi kekeliruan, diisyaratkan: a. Mempelajarinya harus secara integral, tidak parsial agar tidak menimbulkan taashub b. Harus dari sumber yang disusun oleh ulama muslim c. Harus secara terstruktur dimulai dari tingkat dasar terlebih dahulu sesuai dengan struktur yang telah disusun oleh para ulama. 2. Metode Kajian Al-Quran dan Sejarah Islam Syariati menegaskan bahwa ada dua metode fundamental untuk memahami islam secara benar. Pertama, pengkajian Al-Quran, yaitu pengkajian intisari gagasangagasan dan output ilmu dari orang yang dikenal sebagai Islam; kedua, pengkajian Sejarah Islam, yaitu pengkajian tentang perkembangan Islam sejak masa Rasul menyampaikan misinya hingga masa sekarang. 3. Metode Tipologi Metode tipologi dikembangkan oleh Ali Syariati untuk memahami tipe, profil, watak, dan misi agama Islam. Metode ini memiliki dua ciri penting, yaitu: pertama. mengidentifikasi lima aspek agama; dan kedua, membandingkan kelima aspek agama tersebut dengan aspek yang sama dalam agama lain. Dengan cara ini kita bisa melihat secara jernih betapa unggulnya agama Islam mengatasi agama-agama lainnya. Kelima aspek atau ciri agama itu adalah: 1. Tuhan atau Tuhan-tuhan dari masing-masing agama 2. Rasul (Nabi) dari masing-masing agama 3. Kitab suci dari masing-masing agama 4. Situasi kemunculan Nabi dari tiap-tiap agama dan kelompok manusia yang diserunya, karena pesan tiap Nabi berbeda-beda. 5. Individu-individu pilihan yang dilahirkan setiap agama

BAB 2 Manusia, Agama dan Islam A. Manusia dan Agama 1. Beragama sebagai Kebutuhan Fitri Manusia terdiri dari dimensi fisik dan non fisik yang bersifat potensial. Dimensi non fisik terdiri dari berbagai domein rohaniyyah yang saling berkaitan, yaitu jiwa (psyche), fikiran (ratio), dan rasa (sense). Yang dimaksud rasa di sini
6

adalah kesadaran manusia akan kepatutan (sense of ethic), keindahan (sense of aesthetic), dan kebertuhanan (sense of theistic). Keyakinan akan adanya Tuhan dicapai oleh manusia melalui tiga pendekatan, yaitu: a. Material experience of humanity b. Inner experience of humanity c. Spiritual experience of humanity 2. Pengertian Agama dan Asal-Usul Agama Agama adalah suatu sistem ajaran tentang Tuhan, di mana penganutpenganutnya melakukan tindakan-tindakan ritual, moral,atau sosial atas dasar aturan-aturan-Nya. Oleh karena itu, umumnya suatu agama mencakup aspekaspek sebagai berikut: a. Aspek kredial b. Aspek ritual c. Aspek moral d. Aspek sosial

Melihat asal-usul terbentuk dan berkembangnya suatu agama sebagai sebuah lembaga kepercayaan dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu: a. Agama yang muncul dan berkembang dari perkembangan budaya suatu masyarakat. b. Agama yang disampaikan oleh orang-orang yang mengaku mendapat wahyu dari Tuhan. c. Agama yang berkembang dari pemikiran seorang filosof besar. 3. Agama-Agama Besar di Dunia Beberapa agama yang dianggap besar yaitu: Agama Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, Shinto, Yahudi, Zoroaster A. Agama Islam 1. Islam, Agama Fitrah dari Allah swt. Islam adalah suatu sistem ajaran ketuhanan yang berasal dari Allah swt. Islam akan selaras dengan fitrah kejadian manusia. Fitrah merupakan pembawaan asal manusia secara umum sejak kelahiran dengan segala karakteristiknya yang masih bersifat potensial atau masih berupa kekuatan tersembunyi yang masih perlu

dikembangkan dan diarahkan oleh ihtiar manusia baik fitrah yang berkaitan dengan dimensi fisik atau non fisik. 2. Nama, Pengertian dan Misi Agama ISLAM a. ISLAM sebagai Nama Agama (Ad-Din) ISLAM adalah nama yang ditetapkan Allah swt. secara eksplisit di dalam Al-Quran untuk sistem ajaran ketuhanan yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw. kepada ummat manusia. b. Pengertian ISLAM Secara etimologis berasal dari tiga akar kata salam (damai), salamah (keselamatan), aslama (tunduk patuh). Dan secara terminologis, ISLAM adalah satu sistem ajaran ketuhanan (agama) yang berasal dari Allah swt. yang disampaikan kepada ummat manusia melalui risalah yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. c. Misi Agama Islam Agama Islam melalui semua ajaran-ajaran yang disampaikannya mengandung tiga misi, yaitu: 1) Mengajak dan menyuruh manusia untuk tunduk patuh pada aturan-aturan Allah dalam menjalan hidupnya di dunia 2) Membimbing manusia untuk menemukan kedamaian 3) Memberikan jaminan kepada manusia dalam mendapatkan keselamatan dan terbebas dari bencana hidup baik di dunia atau di akhirat 3. ISLAM sebagai Hidayah (Petunjuk) dalam kehidupan a. Hidayah Allah untuk Manusia Hidayah secara etimologis berarti petunjuk dan secara terminologis Islam berarti petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada makhluk hidup agar mereka sanggup menghadapi tantangan kehidupan dan menemukan solusi bagi persoalan hidup yang dihadapinya.

b. ISLAM, Satu-satunya Hidayah Diniyyah Dalam kedudukannya sebagai hidayah bagi kehidupan manusia di dunia, agama ISLAM, dapat berperan dan berfungsi bagi manusia yan dapat dikembangkan oleh setiap individu, sebagai berikut: 1) Pemeberi makna bagi perbuatan manusia 2) Alat kontrol bagi perasaan dan emosi
8

3) Pengendali bagi hawa nafsu yang terus berkembang 4) Pemberi dorongan penguat terhadap kecenderungan berbuat baik pada manusia 5) Penyeimbang bagi kondisi psikis yang berkembang

BAB 3 Keimanan dan Ketakwaan A. Keimanan Pengertian iman dan orang yang beriman adalah orang yang memiliki keyakinan yang kokoh dan menjadi motivasi untuk melakukan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia. Raha AK (2000:75), mengemukakan unsur-unsur pokok iman itu ada tiga, yaitu yang berkaitan dengan keyakinan atau akidah, berkaitan dengan ucapan atau lisan dan berkaitan dengan pelaksanaan anggota badan. Menurut Sayyid Sabiq, bahwa pengertian keimanan atau akidah itu tersusun dari enam perkara, yaitu: Pertama, marifat kepada Allah swt, marifat dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang tinggi juga marifat dengan bukti-bukti wujud atau adaNya serta kenyataan sifat keagungan-Nya dalam alam semesta atau di dunia ini. Atas dasar uraian di atas, maka seorang mukmin akan selalu mentauhidkan Allah maksudnya Allah sebagai satu-satunya sentral (rujukan dan sandaran) dalam penciptaan, pertimbangan dan tindakan. Secara garis besarnya Tauhidullah terbagi menjadi empat macam yaitu: 1. Tauhid al-Rububiyah. Secara teoritis tauhidur Rububiyah berarti bahwa Allah adalah satu-satunya yang mencipta memiliki, mengatur dan mengurus semesta alam. 2. Tauhid al-Asma wa al-Sifat. Secara teoritis tauhidul Asma was-sifat adalah meyakinkan bahwa hanya Allah yang memiliki nama dan sifat-sifat sempurna. 3. Tauhid al-Ibadah. Tauhidul ibadah berarti menempatkan dan memperlakukan Allah sebagai satu-satunya yang disembah. 4. Tauhid al-Istianah. Tauhidul Istianah berarti menempatkan dan

memperlakukan Allah sebagai satu-satunya tempat berharap dan bergantung.

Kedua, marifat kepada Malaikat Allah swt, untuk mencontoh meniru perilaku mereka yang serba baik dan terpuji. Ketiga, marifat kepada Kitab-Kitab Allah swt. Hal ini dijadikan pedoman untuk membedakan antara yang hak dan bathil, yang baik dan buruk, yang halal dan haram, sehingga memberikan arahan untuk menempuh jalan yang lurus. Keempat, marifat kepada Rasul-rasul Allah swt untuk menjadi pembimbing, petunjuk serta pemimpin seluruh makhluk guna menuju kepada yang hak. Kelima, marifat kepada Hari Akhir. Hal ini akan menjadi pembangkit yang terkuat untuk mengajak manusia berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan. Keenam, marifat kepada Takdir (Qadla dan Qadar). Hal ini akan memberikan bekal kekuatan dan kesanggupan kepada seseorang untuk menanggulangi segala macam rintangan, siksaan, kesengsaraan dan kesukaran. Orang yang beriman dalam kehidupannya akan menampilkan perilaku sebagai berikut: 1. Jihad artinya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan segala aturan Allah atau berperang untuk mempertahankan agama Allah atau bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, syetan, orang-orang kafir dan orang-orang munafik. 2. Menghukum atau menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi dalam kehidupannya dengan menggunakan hukum Allah dan Rasul-Nya. 3. Ridhlo atas segala musibah yang menimpanya 4. Sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya 5. Mencintai sesama muslim 6. Rajin dan sungguh-sungguh dalam segala usahanya 7. Berbudi pekerti yang baik 8. Mencegah dan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang buruk, baik pada dirinya maupun pada keluarga dan masyarakat 9. Selalu membantu orang miskin dan anak yatim Iman mengajarkan dan memberikan keyakinan kepada manusia tentang berbagai hal. Dibawah ini dikemukakan tentang buah iman, atau dampak keimanan seseorang dalam kehidupan sehari-harinya sebagai berikut: Pertama, Iman mengajarkan dan memberikan keyakinan kepada manusia bahwa Tuhan itu ada, Esa dan bersifat dengan segala sifat-Nya yang Maha Sempurna.
10

Kedua, Iman mengajarkan dan meyakinkan kepada manusia, bahwa: a. Manusia adalah makhluk yang memiliki bentuk paling baik b. Manusia adalah makhluk termulia c. Manusia adalah makhluk terpercaya d. Manusia adalah makhluk terpintar e. Manusia adalah makhluk tersayang B. Ketakwaan Beberapa ayat Al-Quran dan Al-Hadits yang menjelaskan tentang takwa, diantaranya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 197, yang artinya: ...... Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (Q.S. Al-Baqarah [2] : 197) Sifat takwa dapat dikelompokan ke dalam beberapa kategori atau indikator ketakwaan. Pertama, iman kepada Allah, para malaikat Allah, Kitab-kitab Allah dan para Nabi Allah. Artinya, seseorang yang bertakwa adalah yang memelihara fitrah iman. Kedua, mengeluarkan harta yang disayanginya kepada kerabat, anak yatim, orangorang yang miskin, orang-orang yang terputus diperjalanan, orang-orang yang memintaminta, orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban, memerdekakan hamba sahaya. Ketiga, mendirikan shalat dan menunaikan zakat Keempat, menyempurnakan janjinya apabila ia berjanji, dan Kelima, bersabar pada waktu mendapat musibah dan tantangan Kategori-kategori takwa yang diungkapkan di atas pada dasarnya dapat disarikan dalam dua kelompok perilaku, yaitu: a. Sikap konsisten memelihara hubungan secara vertikal dengan Allah swt yang diwujudkan melalui itikad dan keyakinan yang lurus, ketulusan dalam menjalankan ibadah dan keputusan terhadap ketentuan dan aturan yang dibuat-Nya. b. Memelihara hubungan secara horizontal, yakni cinta dan kasih sayang kepada sesama umat manusia yang diwujudkan dalam segala tindakan kebajikan, yaitu: 1) Berbakti kepada Orang Tua 2) Menyayangi Keluarga 3) Tolong menolong sesama teman, karib kerabat dalam kebaikan, mencintai dan membenci karna Allah, dan berteman pun karena Allah.
11

Pelaksanaan rukun Islam secara keseluruhan atas dasar iman merupakan implementasi seorang muttakin, dan ketakwaan seseorang akan menentukan tinggi dan rendahnya seseorang di hadapan Allah swt.

BAB 4 Al-Quran: Sumber Ajaran Islam Pertama A. Alquran Wahyu Dari Allah 1. Pengertian Alquran Kata Alquran berasal dari kata qaraa artinya membaca. Alquran adalah kitab suci ummat islam yang merupakan kumpulan firman Allah yang diterima oleh nabi Muhammad saw. secara lafadz dan makna dengan perantaraan Malaikat Jibril dalam bahasa arab. Karena Alquran merupakan tulisan dari kalam Allah swt., merupakan ibadat dan mendapat pahala. 2. Nama-nama lain bagi Alquran a. Alquran disebut juga Al-Kitab artinya kumpulan yang tertulis. b. Alquran disebut juga Al-Furqon artinya yang membedakan. c. Alquran disebut juga Al-Nur artinya cahaya. d. Alquran disebut juga Al-Syifa artinya obat penyembuh. e. Alquran disebut juga Adz-Dzikir artinya ingat. 3. Alquran Firman Allah yang Diwahyukan (Wahyun Matluwwun) a. Pengertian Wahyu Wahyu secara etimologis dapat berarti bisikan, isyarat cepat, atau informasi diam-diam yang diterima secara cepat. Sedangkan wahyu dalam konteks kerasulan adalah kabar pemberitahuan dari Allah swt. kepada nabi dan rasulnya baik secara langsung atau melalui perantaraan malaikat jibril yang berisi ajaran-ajaran agama untuk disampaikan kepada umatnya. b. Cara-cara Wahyu Diterima oleh Para Rasul Cara wahyu disampaikan kepada nabi dan rasul bermacam-macam, yaitu: 1) Secara inspiratif, dimana wahyu langsung masuk dalam hati para nabi dan rasul 2) Diajak bicara langsung oleh Allah swt. dari balik tabir 3) Melalui penglihatan di waktu tidur 4) Melalui utusan yang dikirim kepada nabi dan rasul, yaitu malaikat jibril yang menjelma menjadi seorang laki-laki
12

membaca Alquran

c. Cara Nabi Muhammad saw. menerima wahyu 1) Wahyu langsung masuk ke dalam hati Rasulullah saw. 2) Malaikat menyampaikan wahyu tersebut dan ia menampakkan dirinya berupa seorang laki-laki 3) Malaikat menampakkan dirinya dalam bentuk aslinya 4) Dalam bentuk suara yang didengar langsung oleh Rasulullah saw. d. Alquran sebagai wahyu yang dibacakan Malaikat Jibril membacakan ayat-ayat Alquran dan Rasulullah saw.

mendengarkannya kemudian melafadzkan ayat-ayat yang ia dengar itu. Oleh karena itu wahyu tentang ayat-ayat alquran ini disebut dengan wahyun mathuww artinya wahyu yang dibacakan atau wahyun jaliyy artinya wahyu yang jelas dan terang. 4. Alquran diturunkan secara berangsur-angsur Alquran diturunkan kepada nabi Muhammad saw. secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit dalam beberapa ayat. Ayat-ayat alquran diturunkan selama 23 tahun, 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah. Ada beberapa hikmah dari diturunkannya Alquran secara berangsur-angsur, diantaranya: a. Lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan b. Memudahkan penghafalan c. Ayat Alquran yang diturunkan disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga lebih mengesankan dan ber-pengaruh di dalam hati d. Di antara ayat-ayat Alquran tersebut ada yang berlaku sementara dan perlu dibatalkan hukumnya dan diganti dengan ayat pengganti yang sesuai dengan kemaslahatan yang datang kemudian 5. Ayat Makkiyyah dan Ayat Madaniyyah a. Pengertian Ayat Makkiyyah dan Ayat Madaniyyah Ayat makkiyyah adalah ayat-ayat Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah dalam periode kerasulan di Mekkah. Sedangkan Ayat Madaniyyah adalah ayat-ayat Alquran yang diturunkan kepada Rasul dalam periode kerasulan di Madinah.

13

b. Ciri-ciri Ayat Makkiyyah dan Ayat Madaniyyah

Ayat Makkiyyah 1) Lebih banyak menjelaskan masalah akidah

Ayat Madaniyyah 1) Mengatur cara bermasyarakat

2) Umumnya

pendek-pendek

dan

2) Ayat dan surah nya panjangpanjang

surahnya ringkas

3) Dalam menggunakan panggilan sering menggunakan kata Ya ayyuhannas artinya wahai manusia

3) Sering

menggunakan

kata

panggilan Yaa ayyuhalla-dzina amanu artinya wahai orangorang yang beriman

4) Banyak

menggunakan

qasam

4) Tidak memakai sumpah, tapi banyak berfikir menghimbau untuk

(sumpah) dengan benda atau fenomena alam

5) Lebih menekankan pada dakwah untuk berpegang pada akhlak mulia

5) Lebih menekankan dakwah untuk berjihad

c. Contoh ayat Makkiyyah dan ayat Madaniyyah 1) Ayat-ayat makkiyyah dalam Surat At-Tiin ayat 1-6 2) Ayat-ayat madaniyyah dalam surat Al-Baqarah ayat 254

6. Ayat Alquran yang pertama dan terakhir diturunkan a. Ayat yang pertama diturunkan Adapun Ayat Alquran yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah Al-Alaq ayat 1 sampai 5.

14

Surat ini diterima oleh Nabi saw. pada malam 17 Ramadhan ketika beliau sedang berkhalwat di gua Hira b. Ayat terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah

Adapun Ayat Alquran yang terakhir diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah ayat yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 3. Ayat ini diturunkan pada hari arafat bertepatan dengan hari Jumat. B. Pokok-pokok Isi AlqurAn 1. Aqidah Tentang akidah Alquran menjelaskan hal-hal sebagai berikut: a. Keesaan Allah, Tuhan semesta dan sifat-sifatnya b. Adanya malaikat, rasul, dan kitab Allah c. Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir dan kepada seluruh umat manusia d. Alquran sebagai sumber kebenaran yang tidak meragukan e. Adanya hari akhir 2. Ibadah Artinya menghamba atau mengabdi. Alquran memerintahkan beberapa bentuk ibadat yang harus dilakukan oleh setiap mukminin dan mukminat seperti shalat, shaum, zakat, dan hajji. 3. Muamalah Adalah tata cara hubungan antara manusia dengan manusia. 4. Akhlak Adalah pola perilaku manusia, baik yang lahir ataupun yang bathin. Alquran mengajarkan agar manusia memiliki dan melaksanakan akhlak yang baik. 5. Hukum Firman Allah swt. dalam surat Al-Israa, ayat 32, yang artinya: Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan. (Q.S. Al-Israa [17]: 32) 6. Kisah Ummat-ummat Terdahulu Firman Allah swt. dalam surat Al-Firqan ayat 37-39, yang artinya: Dan (telah aku binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Aku tenggelamkan mereka dan aku jadikan (kisah) mereka itu sebagai pelajaran bagi manusia. Dan aku telah sediakan bagi orang-orang yang zalim itu azab yang pedih

15

7. Dasar-Dasar Ilmu Pengetahuantentang Alam Semesta Alquran meliputi juga kterangan-keterangan tentang kejadian alam yang dapat dijadikan dasar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, seperti dalam surat Al-Anbiya ayat 33 dan surat Al-Hijr ayat 22 C. Fungsi Alquran 1. Alquran sebagai Petunjuk Petunjuk berarti pedoman yang memberitahukan tentang apa yang perlu dan mesti ditempuh dan dijalankan dan apa yang tidak boleh dilakukan dan harus dihindarkan. Alquran bagi manusia merupakan petunjuk dalam menempuh dan menata kehidupan di dunia, agar ia selamat dan mendapat kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. 2. Alquran sebagai Sumber Pokok Ajaran Islam Alquran sebagai kumpulan firman-firman Allah yang berisi petunjuk dan ajaran merupakan sumber pokok ajaran Islam. Seperti dalam firman Allah swt. dalam surat AnNisaa ayat 105. Sumber ajaran Islam adalah tempat dari mana ajaran-ajaran Islam berasal dan dikeluarkan. Alquran adalah asal dari mana ajaran Islam itu dijabarkan dan dikembangkan 3. Alquran sebagai Peringatan dan Bahan Pelajaran Manusia sebagai makhluk yang suka lupa perlu diperingatkan agar ia ingat kembali ke jalan yang sebenarnya. Dengan Alquran, Allah swt. memperingatkan manusia tenang Tuhannya yang esa, tentang fungsinya dalam kehidupan, tentang tugasnya hidup di dunia, tentang tujuan hidupnya, tentang kehidupannya di dunia dan nasibnya setelah ia meninggalkan dunia kelak. Alquran memperingatkan kepada manusia tentang berbagai hal yang perlu ia sadari selama menjalani kehidupannya di dunia, yaitu: a. Tentang janjinya bahwa ia hanya bertuhankan Allah yang Maha Esa, seperti dalam surat Al-Araaf ayat 172 b. Tentang tugas hidupnya di dunia, yaitu menghamba dan beribadat kepada Allah Swt. semata, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 21 c. Tentang fungsinya sebagai khalifah dalam kehidupan di muka bumi, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 30

16

d. Tentang tujuan hidupnya yang harus menjadi niat dari setiap perbuatan yang harus ia lakukan selagi di dunia yaitu mendapatkan rhidla Allah swt., seperti dalam surat AlQashash ayat 77 e. Tentang nasibnya di akhirat kelak setelah ia mati, seperti dalam surat Al-syuara ayat 88 dan 89

BAB 5 Hadist: Sumber Ajaran Islam Kedua A. As-sunnah dan Ilmu Hadits 1. Pengertian As-sunnah dan Hadits a. As-Sunnah As-Sunnah secara lughawi artinya kebiasaan atau tradisi. Sedangkan menurut istilah ilmu hadits adalah segala apa yang dilakukan oleh Nabi saw., baik berupa perkataan, perbuatan, atau berupa pembiaran atas perbuatan sahabat. Adapun yang disebut taqriry adalah apa yang dilakukan salah seorang sahabat di hadapan Nabi saw. kemudian Nabi membiarkannya dan tidak melarang perbuatan tersebut. b. Hadits Hadits secara lughawi artinya baru atau kabar. Sedangkan menurut istilah atau ilmu hadits adalah segala apa yang diberitakan dari Nabi saw. baik berupa perkataan, perbuatan, pembiaran, atau sifat-sifat nabi 2. Macam-macam Sunnah dan Hadits a. Sunnah Qauliyyah Yaitu segala yang diucapkan oleh rasulullah saw. setelah beliau diangkat menjadi Rasul, baik pernyataan, perintah atau larangan b. Sunnah Filiyyah Yaitu apa yang diberitakan oleh sahabat mengenai apa yang dilakukan oleh Rasul saw., baik pekerjaan yang berkaitan dengan syariah atau kehidupan sehari-hari. c. Sunnah Taqririyyah Yaitu apa yang dikatakan atau dilakukan para sahabat di hadapan Nabi, atau tidak dihadapan Nabi tapi Nabi mengetahuinya, dan Nabi saw. membenarkannya atau membiarkannya dan tidak melarangnya. 3. Ilmu Hadits Adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk yang berkaitan dengan cara pemindahan hadits dari Nabi saw., dari para sahabat, atau dari para Tabiin.
17

a. Istilah-istilah dalam Ilmu Hadits 1) Sanad Adalah rangkaian para periwayat yang menukilkan isi hadits secara

berkesinambungan dari yang satu kepada yang lain sehingga sampai pada periwayat terakhir. 2) Matan Adalah isi yang dimuat dalam hadits itu sendiri, baik berupa perkataan, perbuatan atau sifat Nabi atau tindakan dan perbuatan para sahabat yang dibiarkan oleh Nabi saw. 3) Rawi Adalah orang yang menerima suatu hadits dan menyampaikannya kepada yang lain 4) Rijalul-Hadits Adalah orang-orang yang terlibat dalam periwayatan suatu hadits, yaitu para perawi hadits itu sendiri. a. Pembagian Ilmu Hadits: Hadits Riwayah dan Hadits Dirayah 1) Ilmu Hadits Riwayah, yaitu ilmu hadits yang berkenaan dengan dengan: a) Pemindahan hadits b) Pemahaman metode penelaahan sanad c) Pemeriksaan lafadz-lafadz dalam sanad dan matan d) Memeriksa nama-nama yang meriwayatkan e) Memeriksa hal-hal yang berkaitan dengan pengambilan hadits secara sah, benar, dan tepat, baik dalam sanad maupun dalam matan 2) Ilmu Hadits Dirayah, yaitu ilmu hadits yang melakukan penyaringan, memilahmilah hadits, melakukan kritik terhadap hadits, dan mengkaji aspek-aspek yang menentukan shahih tidaknya suatu hadits atas dasar sanadnya

B. Penulisan Hadits dan Tingkatan Hadits 1. Sejarah Penulisan dan Kondifikasi Hadits Pada masa Rasulullah saw. masih hidup, hadits masih berupa ucapan dan tindakan Nabi saw. yang disaksikan langsung oleh para sahabat. Setelah Rasulullah wafat pun hadits masih berupa riwayat lisan, ide penulisan hadits pun belum muncul.

18

Ide pengumpulan hadits dan penulisannya baru muncul ketika Umar bin Abdul Aziz r.a. pada abad III H., penulisan dan pembukuan hadits mencapai puncaknya. Setelah itu terbit kumpulan hadits-hadits yang disusun oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmizi, Imam Ibnu Majah, dan Imam Nasai. Keenam kitab kumpulan hadits-hadits mereka disebut Al-Kutubus Sittah artinya Enam Kitab Kumpulan Hadis, yang menjadi rujukan pokok dalam pengambilan hadits di kalangan Ahlus Sunnah, atau Muslim Sunni. 2. Tingkatan Hadits a. Hadits Shahih Yaitu hadits yang berkesinambungan rawi-rawinya; diterima dari rawi yang adil (memiliki sifat adalah, yaitu kredibilitas pribadi), dan dlabith (memiliki kredibilitas intelektual) Berdasarkan jumlah para perawinya hadits shahih dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu: 1) Hadits Muttawatir Yaitu yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh banyak perawi dan kepada banyak perawi sampai waktu dituliskannya 2) Hadits Masyhur Yaitu hadits yang pada awalnya diriwayatkan dari Nabi secara seorang perorang, tetapi pada tingkat akhirnya diriwayatkan oleh banyak perawi 3) Hadits Ahad Yaitu hadits yang diriwayatkan dari Nabi oleh seorang ke seorang rawi lainnya, dalam rangkaian satu persatu sampai dituliskan oleh perawi terakhirnya

b. Hadits Hasan Hadist yang yang kurang kedhabitannya. c. Hadits Dhaif Hadist yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadist shahih.

BAB 6 Ijtihad: Sumber Pengembangan Hukum Islam A. Pengertian Ijtihad

19

Secara etimologis artinya kesungguhan, sedangkan secara terminologis ijtihad merupakan usaha mujtahid dengan segenap kesungguhan dan kesanggupan untuk mendapatkan ketentuan hukum sesuatu masalah dengan menggunakan metodologi yang benar dari kedua sumber hukum al Quran dan al Sunnah. B. Bentuk & Metodologi Ijtihad 1. Ijma Kesepakatan diantara para mujtahid pada masa tertentu atas hukum bagi suatu kasus tertentu. 2. Qiyas Secara bahasa artinya analogi, sedangkan menurut istilah Ushul Fikih adalah menetapkan suatu hukum baru yang belum ada nashnya dengan hukum yang sudah ada nashnya karena adanya persamaan illat hukum dari kedua peristiwa itu. Contoh : Zakat Padi dan Hukum Melototi dan Menempeleng Orang Tua. 3. Istihsan Meninggalkan qiyas jalli untuk menjalankan qiyas khafi, disebabkan ada dalil logika yang membenarkannya. Contoh : Praktek salam atas dasar kebutuhan dan kepercayaan. 4. Mashalih al-Mursalah Suatu Kemaslahatan yang tidak ditetapkan oleh syara dan tidak ada pula nash atau dalil syara baik yang memerintahkan maupun melarang. Contoh : Mendirikan Penjara karena fungsinya sangat baik bagi keamanan dan ketertiban masyarakat. 5. Urf atau Adat Kebiasaan Urf merupakan kebiasaan masyarakat baik berupa perkataan atau perbuatan yang baik, yang karenanya dapat dibenarkan oleh syara. Contoh : Jual beli di supermarket tanpa adanya Ijab-Qabul secara lisan dengan lafal yang jelas. C. Perbedaan Hasil Istihad 1. Lafal nash yang mengandung makna ganda. Contoh quru (Q.S.al Baqarah [2]:228) yang berarti haidh (Imam Hanafi) dan yang berarti thuhr suci (Imam Syafii). 2. Lafal nash yang mempunyai makna hakiki dan majazi. Contoh yunfau (Q.S. al Maidah [5]:33) yang berarti diusir dari kampung halamannya (hakiki-kebanyakan ulama) dan penjara (majazi-Hanafiyah). 3. Lafal nash yang qathi (benar secara mutlak) dan yang zhanni (penafsiran yang masih diperdebatkan)
20

4. Perbedaan dipengaruhi oleh kultur, kondisi, situasi, ruang, dan waktu. 5. Hasil Ijtihad di suatu waktu belum tentu cocok dengan waktu yang lain. Waktu antara dahulu dengan sekarang, malah dengan yang akan datang, adalah berbeda. D. Seruan Baru Untuk Ijtihad Berbeda dengan kaum tradisional yang mengajak umat untuk ber-taqlid dengan Imam-imam mahzab, kaum salafi dan terutama modernis di abad 19 dan awal abad 20 justru mengajak umat untuk ber-ijtihad dan meninggalkan taqlid.

E. Ijtihad dan Taqlid di Kalangan Nu-muhammadiyah Hadratussyaikh Hasyim Asyari pendiri NU dalam risalah Ahlussunnah wal Jamaah bagian Dasar-dasar Jamiyah NU yang disusun tahun 1941 membuat satu fasal tentang keharusan taqlid bagi orang yang tidak mempunyai kemampuan berijtihad. Lebih lengkapnya beliau mengungkapkan: Menurut pendapat Jumhur ulama mahaqqiq bagi setiap orang yang tidak memiliki kualifikasi ijtihad mutlak meskipun ia menguasai ilmu-ilmu yang dapat diakui untuk berijtihad wajib mengikuti pendapat para mujtahid dan mengikuti fatwa mereka agar ia terbebas dari beban taklif, dengan mengikuti siapa saja di antara mereka yang ia kehendaki. Hal ini berdasarkan firman Allah: yang artinya Maka, bertanyalah kepada orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (Q.S. Al-Nahl [16]:43).

BAB 7 Syariah, Fikih dan Hukum Islam A. Pengertian Syariah, Fikih dan Hukum Islam 1. Pengertian Syariah Syariah adalah wahyu Allah berupa nash al-Quran dan Hadist Nabi shahih dan tidak ada keraguan 2. Pengertian Fikih Fikih merupakan pemahaman terhadap nash Alquran dan Hadis yang nilai kebenarannya bersifat relatif, tidak mutlak. 3. Hubungan antara syariah dan fiqih Syariah berarti sumber fikih dan fikih adalah sumber memahami syariah sekaligus hasil dari ahli fiqih dalam menentukan hukum yang mempunyai sumber suci berupa syariah atau wahyu.
21

4. Hukum Islam Hukum islam merupakan istilah yang muncul pada masa saat ini.satu waktu hukum islam berarti syariah, diwaktu lain hukum islam berarti fikih.namun hukum islam sering diistilahkan sebagai hukum fikih bukan hukum syariah. 5. Perbedaan antara Hukum Islam dan Hukum Umum a. Hukum umum berdasarkan pertimbangan akal manusia b. Hukum islam berdasarkan pertimbangan akal manusia didasarkan pada wahyu yaitu al-quran dan Hadis. Hukum islam bertujuan mensucikan jiwa dan menjauhkan diri dari perbuatan munkar, menyeimbangkan kepentingan individu, dan masyarakat serta negara.

B. Sejarah Perkembangan Hukum Islam Tiga periode sejarah perkembangan islam yaitu: 1.Periode Rasullulah dan Para sahabat Masa Nabi saw.merupakan masa turunnya al-Quran dan tumbuhnya sunnah sebagai hukum islam .pada masa ini setiap persoalan yangmuncul dapat ditanyakan langsung kepada nabi.Namun setelah Nabi wafat maka para sahabat nabi melakukan ijtihad dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang ada dimasyarakat. 2.Periode Pertumbuhan dan Perkembangan madzhab Madzhab adalah pemahaman nash atau pendapat seseorang tentang upaya penemuan hukum terhadap suatu kejadian. Pendapat tersebut diikuti dan dianggap sebagai pendapat yang baku. Lima madzhab fikih yang mendominasi dunia hukum islam 1. Madzhab Hanafi yang didrikan oleh imam hanafi 2. Madzhab Maliki yang didirikan oleh Imam Malik bin Anas 3. Madzhab Syafii, yang didirikan oleh Imam Syafii 4. Madzhab Hanbali yang didirikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal 5. Madzhab Jafari yang didirikan oleh Imam Jafar al-Shadiq.
22

3.Periode taqlid dan kebangkitan Periode ini terbagi menjadi dua bagian besar yaitu : a. Periode Taqlil (artinya ikut-ikutan di belakang) Masa ini merupakan masa berkembangnya paham tertutupnya pintu ijtihad. b. Periode kebangkitan, yaitu sejak kejatuhan Daulah Abbasyah hingga sekarang

C. Sebab-sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Para Ulama Fikih 1. Beragamnya arti dalam lafadz-lafadz bahasa arab 2. Pebedaan dalam masalah Hadis 3. Perbedaan dalam masalah penggunaan metode penggalian hukum 4. Perbedaan cara penyelesaian ketika terjadi pertentangan dalil D. Kaidah-kaidah Hukum Islam (Al-qawaId Al-fiqhiyah) 1. Al-umur bi Maqasidiha (segala urusan disertai dengan tujuannya) 2. La dlarara wa la dlirara (tidak membuat dan menimbulkan kemudaratan) 3. Al-yakin la yuzalu bi al-syakk (keyakinan tidak lenyap dengan keraguan) 4. Al masyaqqah tajlibu al-taisir (kesulitan membolehkan kemudahan) 5. Al-adah muhakkamah (kebiasaan dijadikan rujukan hukum)

BAB 8 Ibadah: Aspek Ritual Umat Islam A. Pengertian dan Hakikat Ibadah 1. Makna Ibadah Ibadah dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, yang secara etimologi, artinya menyembah. Secara terminologi, yaitu penghambaan seorang manusia kepada Allah untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya sebagai realisasi dari pelaksanaan tugas hidup selaku makhluk yang diciptakan Allah. Beberapa ulama mendefinisikan bahwa ibadah itu ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya. Menurut Jafar Subhani, ibadah ialah tunduk meyakini uluhiyah (ke-Tuhanan) yang disembah, rububiyah, dan kemerdekaan-Nya dalam berbuat Nurcholis Madjid dalam mengemukakan pengertian ibadah menunjuk kepada amal perbuatan tertentu yang secara khas bersifat keagamaan.

23

2. Kewajiban Ibadah bagi Manusia Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Q.S. alDzariyat [56]:56). Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. al-Bayyinah [98]:5) Beribadah kepada Allah SWT berarti memusatkan penyembahan kepada Allah semata-mata, tidak ada yang disembah dan mengabdikan diri kecuali kepada-Nya saja. Pengabdian berarti penyerahan mutlak dan kepatuhan sepenuhnya secara lahir dan batin bagi manusia kepada kehendak Ilahi. 3. Fungsi Ibadah Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia itu dalam bentuk sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ketempat serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh (Q.S. At-tin [95]: 4-5). Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali Allah dan tali menusia. (Q.S. Ali Imran [3]: 112)

B. Bentuk-bentuk Peribadatan 1. Shalat: Sendi dan Induk Ibadah a. Pengertian Shalat Berdasarkan firman Allah: Dan berdoalah untuk mereka, sesungguhnya doa itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. At-Taubah [9]:103) Shalat menurut bahasa berarti doa atau rahmat. Menurut istilah syara, shalat berarti perbuatan khusus seorang muslim yang berisi bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. b. Fungsi Shalat Shalat merupakan media komunikasi antara hamba dengan Khaliknya, dengan cara menghadapkan diri dan hati kepada-Nya. Shalat merupakan pendidikan positif yang dapat menjadikan manusia dan masyarakat menjadi hidup teratur

24

Dan tegakkanlah shalat, karena shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (Q.S. Al-Ankabut [29]:45) Orang-orang yang beriman, hari mereka jadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar-Rad [13]:28)

2. Shaum: Ibadah yang melibatkan Hawa Nafsu a. Pengertian dan Ketentuan Shaum Shaum menurut bahasa artinya menahan diri dari segala sesuatu. Dan secara istilah, shaum adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa, seperi makan, minum, bersetubuh dan juga dari hawa nafsu yang dapat mengurangi nilai puasa tersebut.

a. Nilai Shaum (Puasa) Dalam hadits dijelaskan: Bukanlah puasa itu hanya sekedar menahan makan dan minum saja, tetapi puasa itu ialah menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan kotor. Apabila seseorang melakukan puasa dengan mentaati ketentuan sebagaimana di atas, maka barulah akan tercapai apa yang menjadi tujuan dari puasa itu sendiri sebagaimana yang kita pahami dari firman-Nya yang telah dijelaskan di atas yaitu untuk membentuk manusia yang bertaqwa.

b. Zakat: Wujud Ibadah Sosial a. Pengertian Zakat Secara bahasa berasal dari kata zaka yang berarti mensucikan. Dan secara istilah syara Sayid Sabiq mengartikan zakat sebagai nama atau sebutan dari sesuatu hak Allah yang dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin. Menurut Sulaiman Rasyid, zakat yaitu kadar harta tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya.

b. Fungsi Zakat Bagi muzakki, zakat berarti mendidik jiwa untuk suka berkorban dan membersihkan jiwa dari sifat kikir, sombong, dan angkuhyang biasanya menyertai pemilikan harta yang berlebihan. Bagi mustahiq, zakat memberikan harapan adanya perubahan nasib dan sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan suudzdzan terhadap ornag-orang kaya.
25

Bagi masyarakat muslim, melalui zakat akan terdapat pemerataan pendapat dan pemilikan harta di kalangan umat Islam.

c. Haji: Puncak Ibadah dan Pengorbanan Lahir & Batin 1. Haji: Makna dan Tujuan Secara bahasa artinya menyengaja sesuatu. Sedangkan secara istilah syara, yang dimaksud haji itu ialah menyengaja mengunjungi kabah untuk melakukan beberapa amal ibadah dengan syarat-syarat tertentu. Haji merupakan suatu ibadah yang sudah dikenal sejak zaman sebelum nabi Muhammad saw. yang menuntut dari orang yang melaksanakannya supaya dikerjakan dengan hati, badan dan hartanya yang berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya.

a. Tata Cara Haji a. Ihram (Berniat melakukan haji atau umrah) b. Thawaf c. SaI antara Shafa dan Marwah d. Wuquf di Arafah e. Mabit di Muzdalifah f. Mabit di Mina g. Melontar Jumroh h. Tahallul (Melepaskan diri dari Ihram

BAB 9 Membangun Keluarga yang Islami A. Keluarga Kalau kita ingin membangun kehidupan yang kokoh di masyarakat, mesti memulainya dari keluarga karena keluarga adalah merupakan unit kecil dari masyarakat.

1. Persiapan Nikah Ketika akan menikah, seorang calon suami harus bisa memastikan bahwa calon istrinya itu bukan muhrimnya. Yang termasuk muhrim (perempuan yang haram dinikahi): a. Diharamkan karena turunan b. Diharamkan karena susuan
26

c. Diharamkan karena pernikahan

2. Pelaksanaan Pernikahan Pernikahan akan dipandang sah apabila: a. Adanya pasangan yang akan dinikahkan. b. Wali. c. Dua orang saksi yang adil. d. Ijab-qabul. e. Mahar.

3. Pembinaan Keluarga Agar keluarga harmonis, sejahtera lahir dan batin perlu dilakukan pembinaan. Dalam hubungan ini, seorang suami harus tahu dan melaksanakan kewajiban pada istrinya, begitupun sebaliknya, seorang istri harus tahu dan melaksankan kewajiban pada suaminya. Pada saat itulah keharmonisan keluarga akan dapat dirasakan. Keluarga tersebut akan menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah.

a. Kewajiban Suami dalam Keluarga a) Menggauli istri dengan sopan. b) Memberikan nafkah batin. c) Memberikan nafkah lahir. b. Kewajiban Istri dalam Keluarga a) Patuh kepada suami, selama perintah suami tidak bertentangan dengan ajaran islam. b) Melayani kebutuhan biologis suami. c) Berterima kasih atas pemberian suami, sekecil apapun nafkah yang diberikan suami pada keluarga harus diterima dengan rasa syukur. c. Kewajiban Orang tua pada Anak a) Mencukupi kebutuhan anak akan makan, pakaian dan tempat tidur yang layak sesuai dengan kadar kemampuannya. b) Menjaga keselamatan anak, sejak dalam kandungan (rahim) ibunya sampai beranjak dewasa.

27

c) Mendidik anak baik secara langsung maupun memasukannya kedalam salah satu lembaga pendidikan. d) Selalu berdoa untuk kebaikan anak-anak. e) Mengawinkan jika sudah dewasa. d. Kewajiban Anak kepada Orang tua a) Mematuhi perintah orang tua, kecuali dalam hal maksiat. b) Berbuat baik padanya. c) Berkata dengan lemah lembut kepadanya. d) Merendahkan diri dihadapan keduanya. e) Berterima kasih kepadanya. f) Memohonkan rahmat dan maghfiroh untuk keduanya. g) Setelah mereka wafat, shalatkan jenazahnya, mohonkan rahmat dan ampunan untuknya

B. Masalah Harta Peninggalan (Mawaris) Mawaris menyangkut tata cara pembagian harta yang ditnggalkan oleh seseorang karena meninggal dunia.

1. Pembagian Waris adalah Hak Allah Harta yang ditinggalkan oleh seorang muslim karena meninggal dunia, menurut ajaran islam mesti dibagikan berdasarkan aturan pembagian yang telah ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Al-quran dan as sunah. Artinya, bahwa pembagian harta yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal harus berdasarkan hukm Allah SWT.

2. Prinsip-prinsip Kewarisan dalam Islam a. Harta warisan didistribusikan kembali (dibagikan) kepada orang-orang yang memiliki hubungan batin terdekat dengan yang meninggal seperti istri, anak-anak, orang tua, yang memerdekakan dirinya. b. Laki-laki dan perempuan sama-sama mendapatkan bagian dari harta yang diwariskan. c. Yang diwariskan kepada ahli waris adalah harta benda yang riil dan hak-hak material

3. Ketetapan Allah dan Rasul-Nya dalam Pembagian Warisan a. Ayat-ayat Al-Quran tentang warisan.
28

b. Hadis-hadis tentang warisan. c. Bagian warisan yang ditetapkan melalui ijtihad.

4. Pembagian Waris kepada Ahli Waris Ahli waris adalah orang-orang yang diberi hak oleh Allah SWT. Jenis-jenis ahli waris adalah sebagai berikut: Ashhaabul furudl, yaitu ahli waris yang mendapat furudl, yaitu bagian tertentu yang telah ditetapkan jumlahnya dari harta warisan, seperti 2/3 bagian, bagian, bagian dan 1/6 bagian atau 1/8 bagian. Ashabah, yaitu ahli waris yang mendapatkan semua warisan apabila tidak ada ashhaabul furudl. 5. Bagian-bagian Waris 1. Suami 2. Istri (seorang atau lebih) 3. Ibu 4. Ayah 5. Anak Perempuan 6. Anak Laki-laki 7. Saudara laki-laki seayah seibu 8. Saudara perempuan seayah seibu 9. Saudara seibu 10. Kake Shahih 11. Turunan Shahih, dan seterusnya kebawah 12. Nenek Shahih 13. Saudara laki-laki seayah 14. Saudara perempuan seayah.

6. Tidak Memiliki Ahli Waris (kalalllah) Apabila semua ahli waris yang disebut diatas tidak ada maka harta peninggalan diberikan kepada kelompok Dzawul-arham, yaitu orang-orang yang punya pertalian nasab (turunan darah) yang tidak termasuk kedalam ahli waris (baik utama atau pengganti). Apabila tidak ada kelompok Dzawul-arham, maka harta peninggalan diberikan kepada orang (atau orang-orang) atau lembaga yang diwasiati lebih dari 1/3 (termasuk wasiat wajibah kepada cucu dari anaknya yang telah meninggal lebih dahulu).
29

Bila tidak ada, maka diberikan kepada orang yang membuat perjanjian waris-mewarisi dengannya (muwaalat), bila tidak ada, maka diserahkan kepada baitul-mal muslimin (Lembaga Pemelihara Harta Bersama Kaum Muslimin)

BAB 10 Makanan dan Minuman dalam Islam A. Konsep Dasar Halal dan Haram dalam Islam 1. Halal dan Haram adalah Hak Absolut Allah dan Rasul-Nya Allah tidak akan menghalangi manusia dengan mengharamkan sesuatu yang telah ditundukan dan atau diciptakan untuk manusia dan dijadikanNya sebagai kenikmatan. 2. Kejelasan Halal dan Haram Dalam islam sesuatu itu terbagi kedalam tiga macam hukum, yaitu halal, haram dan syubhat 3. Halal dan Haram Bersifat Universal Sesuatu yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah dan RassulNya berlaku bagi semua umat manusia

B. Hidangan Islami: Halal Haram dalam Makanan dan Minuman Perintah Allah mencari makanan yang halal lagi baik Al-Quran hanya mengharamkan Al Khabaits yaitu; a. Bangkai b. Darah c. Babi d. Binatang yang disembelih atas nama selain Allah e. Arak

Makanan Haram dalam Hadits a. Binatang Buas yang bertaring b. Burung yang memiliki cakar c. Keledai jinak d. Hewan-hewan baik (unta, kambing, sapi, ayam, itik ) Menurut Syekh Fauzi Muhammad jika dikandangi selama 40tahun bagi unta, tiga puluh hari bagi sapi, tuuh hari babi kambing, dan tiga hari bagi ayam hilang kemakruhan dan keharamannya. Sertifikasi Halal
30

Tujuan pelaksanaan Sertifikat Halal pada produk pangan, obat-obat dan kosmetika adalah untuk memberikan kepastian kehalalan suatu produk, sehingga dapat menentramkan batin yang mengkonsumsinya

Hal-hal Berkaitan dengan Sertifikat Halal: 1. Sertifikat Halal 2. produk halal 3. Pemegang Sertifikat Halal MUI 4. Sertifikat yang sudah berakhir masa berlakunya

BAB 11 Konsep Dasar Ekonomi dan Transaksi dalam Sistem Muamalah Islam A. Pendahuluan Muamalah adalah ajaran islam yang menyangkut aturan aturan dalam menata hubungan antar sesama manusia agar tercipta keadilan dan kedamaian dalam kebersamaan hidup manusia. B. Landasan Pemikiran Perekonomian Islam 1. Falsafah ekonomi islam 2. Kegiatan dan pengembangan perekonomian 3. Prinsip-prinsip dalam penataan ekonomi islam C. Masalah Pemilikan 1. Pemilikan pribadi menurut islam 2. Sumber-sumber pemilikan 3. Usaha yang dilarang a. Riba b. Pencurian perdagangan yang merusak kesehatan c. Bisnis judi, hiburan maksiat, pelacuran (yang merusak moral) d. Penyuapan e. Perdagangan secara licik - ihtikar - manipulasi - bersumpah atas barang dagangan D. Masalah Transaksi

31

Islam sangat menghormati perjanjian dan transaksi yang di buat antar manusia. Oleh karena itu allah swt memerintahkan kepada orang-orang yang terkait dengan perjanjian dan transaksi agar menghormati dan memeliharanya meskipun kepada non muslim. Transaksi dalam kegiatan ekonomi dapat berupa : a. Transaksi jual-beli b. Transaksi utang piutang c. Transaksi sewa menyewa d. Transaksi upah mengupah dan sebagainya

BAB 12 Etos Kerja dan Entrepreneursip A. Perintah dan Hukum Berusaha Allah bersabda dalam kitab Al-Quran bahwa: Sesungguhnya Kami telah menempatkan kalian di bumi, dan kami adakan bagi kalian di atasnya ( sumber-sumber)penghidupan(Q.S. Al Araf(7):10) Allah telah menciptakan bumi dan langit beserta isinya untuk manusia, agar manusia dapat berusaha mencari rizki yang di sediakan-Nya dan Allah mewajibkan kita Untuk berusaha.

B. Tujuan, Manfaat dan Hikmah Berusaha Tujuan berusaha bagi orang muslim adalah untuk memperoleh ridla Allah Taala. Bagai seorang muslim materi bukanlah sebagai tujuan akhirmelainkan

keuntungan yang ia peroleh dijadikan sarana untuk taqarrub(mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Dengan begitu hasil yang ia peroleh menjadi berkah baginya.

C. JenisEmployee (karyawan) a. Self employee (bekerja sendari sebagai profesional), seperti akuntan,pengacara, notaris,artis,dll. b. Bussines ( sistim yang bekerja untuk manusia),seperti pengusaha bisnis c. Investor ( uang bekerja untuk anda) seperti saham, deposito di bank, dll. D. Hakikat Nilai Kewirausahaan Wirausaha adalah sesseorang yang mengorganisasikan sumber-sumber,tenaga kerja,material, dan aset sehingga dapat mengintroduksi perubahan, inovasi, dan tatanan baru dengan tujuan mendapatkan nilai tambah. Wirausahawan adalah orang yang
32

didorong untruk memenuhi kebutuhan tertentu dengan memperoleh suatu hasil,bahkan untuk lari dari kekuasaan orang lain. Wirausahawan memiliki sifat-sifat kewirausahaan yaitu mencerminkan ciri kepribadian wirausaha yang di dalamnya tercermin nilai-nilai apa yang memberi kekuatan kepada pribadi wirausahawan. Kewirausahaan dapat juga dipandang sebagai kepribadian, nilai-nilai atau sikap mental, sehingga sifat-sifat tersebut dapat dimiliki oleh siapapun dan apapun profesinya.

E. Meniti Jalan Entrepreneurship Dari hasil penelitian pada tahun 2005 diperkirakan 12.000.000 orang menganggur. Sedangkan dari lulusan dari perkuliahan masih banyak yang menganggur. Dari kebanyakkan orang bahwa untuk memulai suatu usaha adalah ketakutan akan rugi atau bangkrut. Bahkan, sebagian orang yang sudah memiliki jiwa wirausaha merasa bingung dari mana harus memulai usahanya.

F. Etika Wirausaha Yang dimaksud etika wirausaha di sini adalah semangat,sikap,prilaku, dan

kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk barudengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Etika wirausaha antara lain; 1) sikap dan peri-laku, 2) penampilan, 3) cara

berpakaian,4) cara berbicara, 5) gerak-gerik, 6) dan hal-hal lainnya. Dari etika tersebutdapat dipetik beberapa manfaat antara lain; persahabatan dan pergaulan, menyenangkan orang lain, membujuk pelanggan, mempertahankan pelanggan, dan membina dan menjaga hubungan, dan berusaha menarik pelanggan. Sikap dan perilaku pengusaha dan seluruh karyawan sesuai dengan etika wirausaha adalah: 1. Jujur dalam bertindak dan bersikap; 2. Rajin,tepat waktu, dan tidak pemalas; 3. Selalu murah senyum; 4. Lemah lembut dan ramah-tamah 5. Sopan santun dan hormat; 6. Selalu ceria dan pandai bergaul: 7. Fleksibel dan memiliki rasa tanggung jawab; 8. Serius dan suka menolong pelanggan;
33

9. Rasa memiliki perusahaan yang tinggi.

BAB 13 Akhlak dan Tasawuf A. Pengertian Tasawuf Secara etimologis tashawwafa (akar katanya shuf = bulu domba) artinya memakai pakaian bulu domba (simbol kesederhanaan saat itu). Sedangkan secara terminologis suatu cabang dari ilmu keislaman yang lebih menekankan pada tujuan pembersihan diri melalui penerapan ajaran-ajaran akhlak secara sistematis dan peresapan niai-nilai agama secara bathiniyah.

B. Konsep Akhlak Dalam arti terbatas : sejumlah tindakan yang baik, etis, bersifat ikhtiyari, dan pelakunya patut dipuji. Dalam arti luas : segala tindakan yang baik, yang mendatangkan pahala bagi orang yang mengerjakannya; atau segala tindakan yang didasarkan pada perintah syara, yang wajib ataupun sunnat, yang haram ataupun makruh. Implikasinya orang yang berakhlak adalah orang yang taat beragama.

C. Ciri-ciri Perbuatan Akhlaki a. Akhlak merupakan suatu tindakan yang baik berdasar syara. b. Akhlak merupakan suatu tindakan ikhtiyari yang patut dipuji. c. Akhlak merupakan buah dari keimanan. d. Akhlak bersifat fithri. e. Akhlak bersifat taabudi. f. Akhlak merupakan moral dan etika universal. g. Pelanggaran terhadap akhlak akan dikutuk masyarakat. h. Pelanggaran terhadap akhlak akan dikutuk hati nurani. D. Amal Shaleh Amal shaleh ada yang bersifat ritual dan ada pula yang bersifat sosial. Setiap kehidupan mukmin adalah ibadah. Amal shaleh bukan sekedar perbuatan baik. Bismillah merupakan perbedaan mendasar antara amal shaleh dengan perbuatan baik semata.

34

BAB 14 Dakwah dan Amar Maruf Nahyi Munkar A. Amar Maruf Nahyi Munkar 1. Urgensi Amar Maruf Nahyi Munkar Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Nabi Daud dan Isa putra Maryam. Hal demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalui melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak suka melarang kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh amat buruk apa yang mereka perbuat. Kamu melihat kebanyakan dari mereka mengangkat orang-orang kafir sebagai pimpinan. Sungguh amat buruk apa yang mereka canangkan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka dan mereka akan kekal di dalam adzab. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, nabi dan apa-apa yang diturunkan kepada mereka, tentu mereka tidak akan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Akan tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik (Q.S. Al Maidah [5]:78-81). 2. Definisi Amar Maruf dan Nahyi Munkar Secara etimologis Maruf berarti sesuatu yang diketahui, kebaikan, kepatutan, dan kelayakan. Munkar berati tidak diketahui atau asing. Dan secara terminologis Maruf berarti segala sesuatu yang kebaikan, kepatutan dan kelayakannya dapat diterima oleh budaya atau adat istiadat dan tidak ditolak oleh syara. Munkar berarti segala sesuatu yang bertentangan dengan nilai dan kebenaran agama. 3. Hukum Amar Maruf dan Nahyi Munkar a. Q.S. Ali Imran [3]:104 :Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar. b. Q.S. Ali Imran [3]:110 :Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. 4. Pengaruh Kemunkaran Bencana yang paling bebahaya mengancam kehidupan masyarakat muslim adalah bencana kemunkaran.

35

Q.S. Al Ankabut [29]:40 Dan masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri. 5. Pencegah Kemunkaran Rasul bersabda : Barang siapa melihat kemunkaran hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan tindakan itu merupakan selemah-lemahnya iman.

B. Jihad 1. Konsep Jihad Kedzaliman merupakan realitas historis. Kedzaliman seringkali jauh lebih kuat dan terorganisir secara rapi, sehingga membuat gentar para pecinta keadilan. Karena itu Allah SWT membekalkan sikap optimis bagi mereka yang beriman dan pejuang keadilan. 2. Macam-macam Jihad

a. Jihad dengan harta. b. Jihad dengan fisik. c. Jihad dengan nyawa/jiwa. d. Jihad dengan totalitas manusia. e. Jihad dengan apapun sesuai bentuk serangan lawan.

BAB 15 Islam dan Isu-isu Kontemporer A. Demokrasi dan Kepemimpinan Islam 1. Musyawarah Islam Versus Demokrasi Dalam sejarah Islam pengalaman empirik demokrasi yang sering dinisbatkan kepada contoh dari Rasul Allah dan al-Khulafa al-Rasyidin sangat terbatas. Musyawarah dalam pemikiran fiqih dikategorikan wajib. Hukum ini diambil secara ekpisit dari firman Allah: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, dan bermusyawarahlah dengan
36

mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imran [3] : 159)

2. Teokrasi dan Demokrasi Model kekuasaan ada di tangan Tuhan dapat dikategorikan dalam tipe Teokrasi. Teokrasi dalam arti yang sebenar-benarnya sebenarnya sudah tidak lagi ada di dunia ini. Perubahan pemikiran dan pengalaman empirik manusia telah membawa manusia kepada suatu era demokrasi di zaman sekarang. Alasan yang mempertahankan demokrasi sebagai konsep dasar yang meyakini akan keabsolutan dan mengajarkan kesetiaan total manusia terhadap Tuhan secara vertikal akan sefaham dengan pendapat ini.

3. Titik Temu Demokrasi Namun bila dianalisa lebih jauh, ada yang menemukan titik temu yang diaktualisasikan dalam wilayah yang sama, yakni dunia manusia dengan segala kompleksitasnya. Titik temu itu terletak pada perilaku sesungguhnya bahwa keduanya merupakan realitas budaya, dengan subyek yang sama yaitu manusia.

4. Demokrasi dan Muslim Indonesia Musyawarah itu merupakan bagian dari demokrasi (Kuntowijoyo, 1997: 91). Selanjutnya musyawarah itu menurutnya adalah kewajiban dalam Islam, ia mempertegas argumennya bahwa: ada suatu surah khusus dalam al-Quran yang diberi judul Al(Asy)-Syura dan setidaknya ada dua ayat yang menyangkut permusyawaratan dalam masyarakat. Selain itu orang bisa belajar mengenai praktik musyawarah dari sunnah, musyawarah disebut bersamaan dengan shalat dan zakat, dengan demikian musyawarah termasuk tandatanda orang beriman (Kuntowijoyo, 1997:95)

B. Gender dalam Wacana Islam 1. Konsep Gender Rebeka Harsono di Indonesia meminjam konsep Ann Oakley berpendapat bahwa hubungan yang berdasarkan gender merupakan: a. Hubungan antara manusia yang berjenis kelamin berbeda dan itu merupakan hubungan hirarkis yang bisa menimbulkan masalah sosial
37

b. Gender merupakan eksplanatoris tentang tingkah laku, kedudukan sosial dan pengalaman konsep yang cenderung diskriminatif daripada antara pria-wanita, dan c. Gender memformulasikan bahwa hubungan asimetris pria-wanita sebagai natural order atau normal (Harsono, 1997:284)

2. Keadilan Gender Konsep keadilan dalam gender menurut Islam, bahwa Islam mengakui kesamaan martabat laki-laki dan perempuan tanpa membedakan jenis kelamin. Keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang sejajar dalam berbagai bidang. Konsep kesejajaran yang mencerminkan keadilan tampak secara normatif ditegaskan dalam Q.S.33:35, 3:195, 2:187, 33:73 dan lain-lain

3. Keadilan Gender dalam Keluarga Laki-laki yang dianggap dirinya superioritas lebih unggul karena kekuasaan dan kemampuan mencari nafkah serta membelanjai kaum perempuan seperti tersebut penyebabnya menggunakan kata bima fadlalallahu, ba ayat ini lisababiyah (karna/disebabkan). Karena itu, keunggulan para lelaki sebagai suami di bidang ekonomi bersifat kontekstual sehingga tidak dapat dijadikan alasan normatif untuk dominasi lelaki dalam keluarga secara mutlak, apalagi dalam kehidupan sosial di masyarakatnya.

38

BAB III PENUTUP A. Analisis/komentar


Buku yang membahas tentang ilmu agama Islam ini, memberitahu kita tentang bagaimana kita memelihara eksistensi kita sebagai khalifah di muka bumi ini dalam artian menjadi makhluk yang di harapkan oleh Allah dengan menjauhi larangan dan mentaati perintah-Nya. Buku ini menjelaskan berbagai hal tentang Islam mulai dari makna, tujuan Islam sampai isu-isu kontemporer. Penulis buku ini menggunakan kalimat yang sedikit berpanjang lebar dalam menerangkan permasalahan tetapi mudah dimengerti dengan didukung banyak dalildalil yang memperkuat pembahasan yang ada, dan bahasa yang digunakan tentu adalah bahasa yang santun, bahasa yang biasa digunakan di dalam buku pendidikan. Gaya penulis menuangkan idenya adalah dengan gaya bercerita, itu dilihat dari tulisan penulis buku ini yang menjelaskan sesuatu dengan berbagai contoh nyata, hal ini mempermudah pembaca memahami suatu pembahasan. Seperti dapat dilihat di bab 6 misalnya, ketika buku ini menjelaskan tentang arti Qiyas, tetapi tidak hanya sebuah arti saja melainkan penulis buku memunculkan contoh implementasi Qiyas yaitu hukum memelototi dan menempeleng orang tua. Dengan melakukan pendekatan-pandekatan yang terdapat di dalam buku ini telah menjadi kelebihan tersendiri, namun buku ini masih terdapat kekurangan yaitu pada dalil-dalil al-Quran yang dimuat disini semuanya tidak ada lafal arabnya melainkan hanya artinya langsung dan juga penulisan huruf-huruf yang ada terkadang ada yang sedikit melenceng dari Ejaan Yang Disempurnakan, seperti pada halaman 114 tepatnya pada judul subbab ditulis Hidangan Islami: Halal Haram Dalam Makanan Dan Minuman yang menurut EYD seharusnya Hidangan Islami: Halal Haram dalam Makanan dan Minuman. Dibandingkan dengan buku lainnya buku ini lebih mudah dimengerti dan bagi penulis sebagai pembaca buku ini sangat mudah untuk mengaplikasinya.

39

Dan analisis yang terakhir menurut penulis, buku ini berguna bagi siapa saja terutama bagi para mahasiswa perguruan tinggi yang menjadi calon pendidik agar menjadi pendidik yang bermoral menurut agama kelak, buku ini juga cocok bagi para calon wirausaha dan entrepreneur yang baik karena terdapat pembahasan tentang hal tersebut.

B. Kesimpulan
Berdasarkan uraian singkat isi buku dan pembahasan pada bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut. 1. Islam merupakan agama yang membawa kedamaian dan keselamatan dan bagi umatnya harus tunduk pada ketetapan Allah dan ada berbagai metode dalam memahami Islam. 2. Untuk membimbing manusia dalam meniti kehidupan, Allah menurunkan agamanya sebagai pedoman hidup. 3. Seseorang yang memiliki keimanan dan ketakwaan dalam hidupnya akan selalu taat kepada Rasul dan tentu juga taat kepada Allah swt. 4. Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam yang harus dijadikan sumber ajaran Islam pertama karna di dalamnya merupakan sekumpulan firman Allah yang diterima oleh nabi Muhammad saw. 5. Setelah al-Quran, selanjutnya adalah Hadist yang harus dijadikan sumber ajaran Islam kedua karna merupakan segala apa yang diberitakan dari Nabi saw. baik berupa perkataan, perbuatan, pembiaran, atau sifat-sifat nabi. 6. Ijtihad artinya berusaha bersungguh-sungguh atau mengerahkan segala kemampuan. Ijtihad merupakan sumber pengembangan hukum Islam. 7. Syariah merupakan jalan menuju sesuatu yang benar-benar merupakan sumber kehidupan. Fikih diartikan sebagai pemahaman terhadap nash al-Quran dan hadis yang tentu sudah tidak identik lagi dengan nash itu sendiri. 8. Ibadah artinya menyembah atau menghamba. Dalam Islam bentuk-bentuk peribadatannya adalah antara lain shalat,shaum, zakat, haji. 9. Untuk membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah tentu harus berdasarkan ketentuan-ketentuan Islam agar dapat memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat nanti. 10. Makanan dan Minuman dalam Islam ada yang telah dikatan dalam al-Quran halal dan haram. Halal berarti boleh sedangkan haram berarti tidak diperbolehkan.

40

11. Transaksi jual beli dalam Islam haruslah berdasarkan ketentuan muamalah yang merupakan ajaran Islam yang menyangkut aturan dalam menata hubungan antar sesama manusia agar tercipta keadilan dan kedamaian dalam kebersamaan hidup manusia 12. Dalam hal etos kerja dan enterprenership Islam telah menentukan bagaimana cara menjadi enterpreneur yang baik menurut Islam 13. Akhlak merupakan misi dan tujuan utama agama Islam dan tasawuf ekspresi bathin moral islami 14. Dakwah berarti memanggil, menanamkan, mendoakan yang terkandung di dalamnya artinya menyampaikan sesuatu kepada orang lain untuk mencapai tujuan tertentu dan tujuannya antara lain mengajak manusia ke jalan Tuhan 15. Model kekuasaan ada di tangan Tuhan merupakan sebuah Teokrasi namun kenyataan yang ada sekarang adalah sistem demokrasi dimana itu merupakan ideologi konsep produk manusia yang merelatifkan pandangan dogmatis serta absolut.

41