Anda di halaman 1dari 160

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kegiatan pemerintahan adalah kegiatan yang berkesinambungan (suistanable governmental activity). Sejak terjadinya kesepakatan antara anggota kelompok masyarakat, untuk menciptakan suatu suasana yang tertib, sebagai jawaban suasana tidak tertib (inorder society) pada masa sebelumnya, maka pada saat itulah kegiatan pemerintahan telah berlangsung. Kegiatan pemerintahan dimaksud, berlangsung secara evaluatif, sesuai dengan tuntutan dan perkembangan keadaan. Pemangku jabatan pemerintahan yang pada dasarnya memiliki priodisasi masa jabatan. Namun, esensi kegiatan pemerintahan untuk menjaga ketertiban dan memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service) terus- menerus terlaksana. Adanya priodisasi kegiatan pemerintahan pada intinya dimaksudkan untuk memberikan batasan jangka waktu pelaksanaan kegiatan pemerintahan. Priodisasi kegiatan pemerintahan masa kini adalah lanjutan masa sebelumnya, dan dasar bagi kegiatan pemerintahan pada masa mendatang. Dengan berdasar pada kerangka fikir tersebut di atas, masa jabatan Bupati Bone 2003-2008, yang akan berakhir pada 16 April 2008, kembali memasuki fase/proses pencalonan Bupati Bone untuk masa jabatan 2008-2013. Sesuai dengan Rencana Strategis Pemerintah Kabupaten Bone 2003-2008, yang menetapkan 11 (sebelas) bidang prioritas menjadi dasar untuk menentukan prioritas pemerintahan lima tahun ke depan. Dengan tetap menyikapi lingkungan strategis dan kecenderungan

menentukan prioritas pemerintahan lima tahun ke depan. Dengan tetap menyikapi lingkungan strategis dan kecenderungan 1
menentukan prioritas pemerintahan lima tahun ke depan. Dengan tetap menyikapi lingkungan strategis dan kecenderungan 1

1

fenomena ke depan, serta upaya eliminasi persoalan substansional yang mengambat pelaksanaan program periode 2003-2008. Pada lima tahun ke depan, isu-isu strategis masih pada aspek demokratisasi, perlindungan hak-hak asasi manusia, pengentasan kemiskinan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan derajat kesehatan, serta kelestarian lingkungan hidup dan perwujudan pemerintahan yang bersih. Pada lima tahun ke depan, penanganan isu-isu strategis dimaksud sangat relevan dengan isu-isu aktual di daerah yang sejalan dengan tujuan pembangunan millennium (millennium development goals-MDGs) yang harus diwujudkan hingga 2015 yaitu :

1. Memberantas kemiskinan dan kelaparan

2. Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua

3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

4. Menurunkan angka kematian anak

5. Meningkatkan kesehatan ibu

6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lain,

7. Menjamin kelestarian lingkungan hidup dan

8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

Tujuan dan harapan dimaksud pada dasarnya relevan dengan hakekat pembangunan itu sendiri, termasuk pembangunan daerah. Hakekat atau tujuan dasar pembangunan suatu daerah adalah menjaga keberlangsungan dan keberadaan tatanan yaitu interkoneksitas antar berbagai komponen yang saling berhubungan dalam suatu batas (daerah) yang jelas. Pembangunan seyogyanya dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas tatanan dalam arti peningkatan kapasitas diri agar senantiasa mampu beradaptasi secara kreatif terhadap

perubahan lingkungan, sehingga dapat menciptakan peluang dari proses perubahan itu. Dengan kata lain pembangunan adalah upaya untuk mempertahankan keberadaan (eksistensi) atau keberlangsungan

itu. Dengan kata lain pembangunan adalah upaya untuk mempertahankan keberadaan (eksistensi) atau keberlangsungan 2
itu. Dengan kata lain pembangunan adalah upaya untuk mempertahankan keberadaan (eksistensi) atau keberlangsungan 2

2

tatanan yang dilakukan dengan reorganisasi diri secara kontinyu agar senantiasa dapat menjaga interkoneksitas dengan lingkungannya. Kualitas tatanan dapat dilihat berdasarkan 3 (tiga) kriteria; Pertama, adalah tatanan yang mampu memberikan keadilan kepada semua komponen pembentuknya. Keadilan diwujudkan dalam bentuk penyediaan berbagai pilihan kepada masyarakat di bidang sosial, ekonomi dan budaya. Selain itu, masyarakat memiliki kemandirian untuk melakukan pilihan termasuk penyaluran aspirasinya. Dalam tatanan kehidupan yang demikian semua kelompok masyarakat berperan serta dalam pembangunan, sehingga dapat menikmati keberadaannya dalam tatanan tersebut. Kedua, adalah tatanan yang mampu meningkatkan interkoneksitas baru yang dapat menciptakan sumber daya baru. Ketiga, tatanan memiliki self-organizing capacity yang besar sehingga mampu menyesuaikan diri, beradaptasi secara kreatif dengan tuntutan baru akibat adanya perubahan lingkungan. Namun perubahan yang terjadi harus tetap mengacu pada identitas tatanan itu sendiri. Dalam paradigma pembangunan yang demikian, pelaku pembangunan adalah tatanan itu sendiri dalam hal ini masyarakatnya. Masyarakatlah yang membangun tatanannya atau membangun dirinya sendiri.

Demikian pula esensi yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, menegaskan perlunya demokratisasi, pemberdayaan masyarakat (empowering people), pelayanan prima dan hubungan eksekutif-legislatif yang didasarkan sinergisme. Hal ini tentu sangat berpengaruh kepada proses manajemen pembangunan di daerah, mulai dari aspek perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada pengendalian dan pengawasannya yang kesemuanya bermuara kepada terwujudnya Tata Pemerintahan yang Baik (good governance). Perwujudan tersebut tentunya memerlukan

bermuara kepada terwujudnya Tata Pemerintahan yang Baik (good governance) . Perwujudan tersebut tentunya memerlukan 3
bermuara kepada terwujudnya Tata Pemerintahan yang Baik (good governance) . Perwujudan tersebut tentunya memerlukan 3

3

harmonisasi tiga domain yakni unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat (civil society) dalam suatu komitmen yang kuat atas dasar transparansi, akuntabilitas dan partisipasi dari semua stakeholder dalam setiap proses manajemen pemerintahan dan pembangunan. Penyelenggaraan kewenangan daerah yang implementasinya secara nyata telah memasuki tahun kelima, berbagai aktivitas penyelenggaraan pemerintahan maupun pengelolaan pembangunan di Kabupaten Bone, telah cukup banyak hasil dapat diperoleh dalam berbagai skala yang cukup variatif. Keberadaan berbagai aktivitas tersebut, pada hakekatnya untuk makin meningkatkan manfaat otonomi daerah bagi kesejahteraan masyarakat, sebagai komponen terpenting bagi keberadaan pemerintah daerah. Walaupun disadari bahwa meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan aktivitas yang multidimensional serta memerlukan kurun waktu yang harus berkesinambungan, karena di dalamnya terkait dengan akumulasi yang saling berkepentingan antara kebijakan pada tataran struktural, kondisi kultur masyarakat terhadap konsep dan prasyarat perubahan itu sendiri. Serta faktor eksternal pemerintahan dan kemasyarakatan yang tumbuh dari pengaruh dan interaksi dengan masyarakat global dengan penuh persaingan dan makin terbukanya peluang dalam berbagai aspek. Salah satu perubahan yang akan berpengaruh terhadap manajemen pemerintahan dalam mengelola pembangunan di daerah, khususnya dalam perspektif teknik akselerasi fungsi manajemen dan pemanfaatan kapasitas sumberdaya di daerah. Yaitu adanya design sistem perencanaan strategis daerah secara tepat dari Pemerintah Kabupaten Bone yang dikenal dengan Rencana Strategis (RENSTRA) Daerah. Pada dasarnya penyusunan Renstra Pemerintah Kabupaten Bone, tidak saja akan menjadi pedoman kerja Pemerintah Kabupaten

Pada dasarnya penyusunan Renstra Pemerintah Kabupaten Bone, tidak saja akan menjadi pedoman kerja Pemerintah Kabupaten 4
Pada dasarnya penyusunan Renstra Pemerintah Kabupaten Bone, tidak saja akan menjadi pedoman kerja Pemerintah Kabupaten 4

4

Bone selama kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. Melainkan juga menjadi kerangka acuan bagi masyarakat Kabupaten Bone untuk mengetahui arah pembangunan yang ingin diwujudkan Pemerintah Daerah bersama seluruh komponen masyarakat melalui pemanfaatan sumberdaya daerah selama kurun waktu yang sama. Agar rencana strategis dimaksud dapat menjadi pedoman kerja dan kerangka acuan bagi biduk pemerintahan, maka pemahaman tentang aspek kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang timbul dari lingkungan internal dan eksternal pemerintahan, dideskripsikan dalam Renstra ini. Melalui deskripsi yang akurat disertai asumsi serta nilai-nilai yang melekat dalam budaya Pemerintah Daerah Kabupaten Bone, maka Visi Daerah akan dapat terurai daya capaiannya secara optimal. Dalam kaitan itu, dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bone 2008-2013 dibutuhkan integrasi muatan kondisi yang ada pada saat ini serta prediksi peluang dan tantangan yang ingin dikelola secara efektip oleh Pemerintah Daerah beserta stakeholdernya. Sehingga diharapkan dapat berimplikasi kepada capaian kesejahteraan masyarakat yang semakin membaik. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 dan Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 7 Tahun 2008 tentang RPJP Daerah. Untuk rencana pembangunan jangka menengah dimuat dalam Dokumen Perencanaan Pembangunan Menengah Daerah (RPJMD), sebagai penjabaran dari visi, misi dan program kepala daerah ke dalam strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program prioritas kepala daerah dan arah kebijakan keuangan daerah.

dalam strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program prioritas kepala daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. 5
dalam strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program prioritas kepala daerah dan arah kebijakan keuangan daerah. 5

5

Sesuai Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 pasal 19 ayat (3) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ditetapkan paling lambat setelah Kepala Daerah dilantik. Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Bone H. A. Muh Idris Galigo, SH. Dan H. A. Muh. Said Pabokori, pada 16 april 2008. Selain itu, sebagai bagian dari elemen pemerintah yang bertautan dalam fungsi pemerintahan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, capaian tujuan dan sasaran pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bone, tidak hanya mempertimbangkan Visi dan Misi Daerah. Melainkan koneksitasnya dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai pada lingkup pemerintahan Propinsi Sulawesi Selatan dan Nasional. Demikian pula pada tatanan yang sedang berkembang, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab formal yang lebih besar dibandingkan masyarakat. Pemerintah harus mampu menjadi dirigen pembangunan tatanannya, antara lain dengan merumuskan visi dan misi daerah sebagai acuan pembangunan, di samping itu pemerintah daerah juga harus berupaya mengembangkan aspirasi masyarakat disemua bidang kehidupan. Dalam hal ini, pembangunan harus dilihat sebagai proses alamiah dan bukan kegiatan mekanis yang didisain dan dilaksanakan sekelompok orang secara elitis, pembangunan harus dilihat sebagai upaya untuk menciptakan dan memanfatkan peluang-peluang yang ditimbulkan proses yang berlangsung secara alamiah. Sebagai suatu proses pembangunan senantiasa dapat dinikmati setiap saat masyarakat itu sendiri. Pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Bone dalam kurun waktu lima tahun terakhir 2003-2008 telah menunjukkan adanya perubahan dan peningkatan kualitas tatanan secara signifikan dalam seluruh aspek pembangunan. Kondisi tatanan yang telah dicapai

dan peningkatan kualitas tatanan secara signifikan dalam seluruh aspek pembangunan. Kondisi tatanan yang telah dicapai 6
dan peningkatan kualitas tatanan secara signifikan dalam seluruh aspek pembangunan. Kondisi tatanan yang telah dicapai 6

6

tersebut harus dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan dalam rangka mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Perubahan paradigma pembangunan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, di satu sisi mengisyaratkan semakin besarnya peran masyarakat dalam proses pembangunan, namun di sisi lain menuntut adanya kapasitas dan keseriusan aparatur dalam menjalankan roda pemerintahan di daerah. Tugas dan tanggung jawab utama yang diemban Pemerintah Kabupaten Bone lima tahun ke depan adalah bagaimana mengantarkan Daerah Bone dan masyarakatnya kedalam suatu tatanan yang lebih baik dari apa yang telah dicapai selama ini. Untuk itu diperlukan perencanaan yang komprehensif dan strategis yang berisi Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran serta kebijakan dan program yang berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan dalam mewujudkan tatanan yang sesuai dengan apa yang diharapkan seluruh masyarakat Kabupaten Bone.

B. PENGERTIAN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bone 2008-2013 adalah dokumen Perencanaan Pembangunan daerah untuk periode 5 (lima) tahunan yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan program kepala daerah yang berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

C. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud Menyediakan dokumen perencanaan yang dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan pembangunan dan menjadi tolok ukur keberhasilan serta acuan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah.

pembangunan dan menjadi tolok ukur keberhasilan serta acuan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah. 7
pembangunan dan menjadi tolok ukur keberhasilan serta acuan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah. 7

7

2. Tujuan

Menjadi pedoman dalam upaya pencapaian kondisi masa depan Kabupaten Bone, juga untuk memahami arah dan tujuan yang akan dicapai dalam rangka mewujudkan visi dan misi Kabupaten Bone.

Upaya memusatkan perhatian pada penanganan permasalahan pembangunan yang sifatnya strategis, sehingga akan meningkatkan efektivitas dan efesiensi penggunaan sumber daya terbatas.

Upaya pembangunan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan melalui peningkatan partisipasi yang tinggi, sehingga hasil pembangunan dan budaya membangun berdasarkan keberdayaan masyarakat.

Upaya untuk mewujudkan penyelenggaraan kepemerintahan yang baik dan upaya menerapkan sendi-sendi pelayanan.

 Upaya untuk mewujudkan penyelenggaraan kepemerintahan yang baik dan upaya menerapkan sendi-sendi pelayanan. 8
 Upaya untuk mewujudkan penyelenggaraan kepemerintahan yang baik dan upaya menerapkan sendi-sendi pelayanan. 8

8

BAB II KONDISI UMUM DAERAH

A. KONDISI SAAT INI

1. Kondisi Geografis Secara geografis, Kabupaten Bone terletak dalam posisi koordinat 4 o 13’-3 o 06’ LS dan antara 119 o 42’-120 o 30’ BT, berbatasan dengan : sebelah Utara, Kabupaten Wajo dan Soppeng; Teluk Bone; dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros, Pangkep dan Barru. Kabupaten Bone merupakan salah satu kabupaten di pesisir Timur Propinsi Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh 174 Km dari Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan (Makassar) yang dapat dilalui dengan menggunakan angkutan darat. Luas wilayah pada Kabupaten Bone adalah 4.559 Km2 atau 7,30% dari wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Secara administratif, Kabupaten Bone terbagi dalam 27 Kecamatan dengan jumlah Desa/Kelurahan sebanyak 372 buah.

2. Sosial Budaya Perkembangan penduduk Kabupaten Bone selama kurun waktu 2003-2007 memperlihatkan kecenderungan semakin meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata mencapai 1,4% pertahun, yaitu dari 685.590 jiwa pada Tahun 2003 menjadi 699.910 jiwa pada Tahun 2007, serta tingkat kepadatan penduduk 2 jiwa per hektar.

Penduduk Kabupaten Bone yang termasuk kategori penduduk usia kerja (usia 10 tahun ke atas) tercatat sebanyak 560.526orang pada Tahun 2007, mengalami peningkatan dibandingkan dengan Tahun 2003 sebanyak 548.397 orang atau bertumbuh sebesar

pada Tahun 2007, mengalami peningkatan dibandingkan dengan Tahun 2003 sebanyak 548.397 orang atau bertumbuh sebesar 9
pada Tahun 2007, mengalami peningkatan dibandingkan dengan Tahun 2003 sebanyak 548.397 orang atau bertumbuh sebesar 9

9

2.16%. Dari sebanyak 560.526 penduduk usia kerja pada Tahun 2007, sekitar 319.620 jiwa diantaranya merupakan angkatan kerja atau Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 58,37%. Dari TPAK 303.664 jiwa, yang bekerja mencapai 263.646 jiwa (82,49%) dan sisanya 40.018 jiwa (13,19%) adalah pengangguran. Pengangguran yang terjadi, tidak hanya disebabkan faktor dari sisi permintaan tenaga kerja yang menurun, tetapi pada sisi penawaran tenaga kerja yang tersedia belum sepadan dengan permintaan tenaga kerja. Menurut lapangan usaha, penduduk Kabupaten Bone menggantungkan mata pencahariannya pada sektor pertanian yang tercatat sekitar 168.030 orang dari 263.646 penduduk yang bekerja. Dengan demikian, sektor pertanian menyerap tenaga kerja sekitar 63,73 % pada Tahun 2007. Namun mata pencarian tersebut dalam 5 tahun terakhir ke sektor perdagangan, jasa dan industri. Masih tingginya penduduk yang berusaha di sektor pertanian secara langsung dapat digambarkan bahwa pengembangan ekonomi Kabupaten Bone masih berorientasi kuat pada sektor pertanian. Di samping itu, tuntutan keterampilan yang tidak begitu tinggi di sektor ini, menjadikan sektor pertanian merupakan tempat berusaha bagi tenaga kerja yang tidak tertampung pada sektor lainnya. Hal ini dapat mendorong produktivitas pekerja di sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan sektor lainnya. Dengan demikian, ke depan diperlukan program pertanian berbasis industri (agro industri) dan kualitas pekerja. Dari aspek kesehatan memperlihatkan tingkat kesehatan masyarakat yang makin baik. Tercermin dari indikator kesehatan seperti Usia Harapan Hidup Tahun 2003 mencapai 67,1 tahun. Pada tahun 2004, meningkat menjadi 67,2 tahun. Angka Kematian Ibu dan Angkatan kematian Bayi dapat ditekan secara signifikan. Tahun 2005

meningkat menjadi 67,2 tahun. Angka Kematian Ibu dan Angkatan kematian Bayi dapat ditekan secara signifikan. Tahun
meningkat menjadi 67,2 tahun. Angka Kematian Ibu dan Angkatan kematian Bayi dapat ditekan secara signifikan. Tahun

10

angka kematian ibu 13/100.000 kelahiran hidup, tahun 2006 10/100.000 kelahiran hidup. Dengan demikian agar lebih optimal tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang lebih memadai sangat diperlukan. Pada aspek pendidikan, pada Tahun 2007 indeks melek huruf baru mencapai 95,63%. Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah menengah Atas masing- masing 99,70%, 61,12%, dan 45,60% dan Angka Partipasi Kasar pada jenjang pendidikan yang sama diperoleh angka masing-masing 115,11%, 84,60% dan 52,21%. Keadaan ini lebih diperparah lagi oleh kondisi ruang kelas SD/MI yang berjumlah 4.437 buah, pada umumnya mengalami kerusakan (62,15%). Pemberdayaan perempuan dan anak, pelaksanaannya cukup memadai sejalan dengan meningkatnya aksesibilitas dan kontrol untuk mencegah terjadinya diskriminasi terhadap perempuan. Sehingga mampu berperan sejajar dengan laki-laki dalam pembangunan sesuai dengan kodrat dan martabatnya tanpa mengabaikan tugas keluarga. Kerukunan dan peran serta ummat beragama dalam pembangunan semakin memperlihatkan kecenderungan peningkatan yang cukup membaik. Terlihat pembangunan sarana dan prasarana kehidupan beragama telah mendapat perhatian yang cukup dengan bertambahnya jumlah mesjid, gereja dan tempat peribadatan lainnya secara proporsional. Pembangunan di bidang pemuda dan olahraga mengalami kemajuan melalui berbagai pembinaan mental spiritual, menanamkan minat belajar, berlatih dan semangat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan kemampuan manajemen serta etos kerja yang tinggi, tersedianya sarana dan prasarana olahraga yang refresentatif, seperti stadion, GOR dan kolam renang.

kerja yang tinggi, tersedianya sarana dan prasarana olahraga yang refresentatif, seperti stadion, GOR dan kolam renang.
kerja yang tinggi, tersedianya sarana dan prasarana olahraga yang refresentatif, seperti stadion, GOR dan kolam renang.

11

Pembangunan sosial-budaya senatiasa dikembangkan dengan mengacu pada nilai-nilai budaya lokal (indigenous knowledge) dan kesenian sesuai dengan revitalisasi nilai budaya lokal yang dianut. Dan dikembangkan oleh masyarakat dalam bertingkah laku untuk membentuk jati diri dalam menunjang keberhasilan pembangunan daerah.

3. Ekonomi Kondisi perekonomian Kabupaten Bone terlihat dari gambaran PDRB (Harga Konstan) Tahun 2005 sebesar Rp. 2.305.158.940.000,- menjadi Rp. 2.442.413.220.000,- pada Tahun 2006 atau terjadi pertumbuhan sebesar 5,95%. Walaupun pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone agak lamban dibanding Propinsi Sulawesi Selatan yakni 6,72%, akan tetapi pertumbuhan tersebut memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan perkapita selama kurun waktu yang sama, yaitu dari Rp. 4.792.832,- pada tahun 2005 menjadi Rp. 5.541.502,2.- pada tahun 2006 Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone tersebut, disamping memberikan implikasi positif terhadap pembukaan lapangan kerja, juga masih menyisahkan pengangguran. Dalam Tahun 2004, jumlah angkatan kerja sebanyak 258.926 orang dan yang mampu diserap berjumlah 249.121 orang. Demikian halnya pada Tahun 2005, angkatan kerja tersedia sejumlah 291.633 orang yang terserap sekitar 274.758 orang, sehingga pada tahun yang sama masih terdapat pengangguran sekitar 16.875 orang. a. Pertumbuhan Ekonomi Dalam kurun waktu lima tahun terakhir yakni tahun 2002- 2006 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone sangat positif dan signifikan dengan rata-rata pertumbuhan 4,40 %. Laju

2002- 2006 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone sangat positif dan signifikan dengan rata-rata pertumbuhan 4,40 %. Laju
2002- 2006 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone sangat positif dan signifikan dengan rata-rata pertumbuhan 4,40 %. Laju

12

pertumbuhan relatif stabil yaitu pada tahun 2002 tumbuh 5,07 % , 2003 tumbuh 4,56 %, 2004 tumbuh 2,11, 2005 tumbuh 4,31%, 2006 tumbuh 5,59 %. Pada periode yang sama terjadi peningkatan PDRB perkapita yaitu pada tahun 2002 pendapatan perkapita Rp. 3.800.803, meningkat menjadi Rp. 5.541.502, tahun 2006 atau rata-rata tumbuh sebesar 9,88% per tahun. Tingkat inflasi di Kabupaten Bone cenderung fluktuatif yang dipengaruhi faktor ekonomi dan non ekonomi. Pada tahun 2002 inflasi mencapai 10,04 % , kemudian menurun drastis menjadi 5,78 % pada tahun 2003 dan 5,80 pada tahun 2004 karena pengaruh membaiknya kondisi perekonomian, akan tetapi tahun 2005 meningkat lagi menjadi 7,11%. Peningkatan ini terjadi, lebih dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat dalam menaikkan harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga barang. Tahun 2006 inflasi di Kabupaten Bone menurun menjadi 6,92 %, yang menunjukkan adanya perbaikan kondisi perekonomian. Sisi pemerataan pendapatan yg ditunjukkan dengan Rasio Gini menunjukkan kecenderungan positif yaitu sebesar 0,25, indikator ini menunjukkan bahwa, rata-rata distribusi pendapatan masyarakat cukup merata. Dari sisi investasi juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, meskipun masih didominasi oleh investasi domestik. Kinerja perbankan swasta dan pemerintah mengalami peningkatan yang cukup pesat sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone.

dan pemerintah mengalami peningkatan yang cukup pesat sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone. 13
dan pemerintah mengalami peningkatan yang cukup pesat sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bone. 13

13

b. Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Perikanan dan Kelautan 1) Pertanian Bila dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB, bidang pertanian menyumbang sebesar 56,17 % , hingga saat ini pertanian memang masih paling besar andilnya terhadap pendapatan daerah. Data lima tahun terakhir menunjukkan bahwa luas panen tanaman pangan dan hortikultura tetap didominasi oleh padi, pada tahun 2007 seluas 117.787 ha dengan produksi sebesar 697.299 Ton, sedangkan yang lainnya antara lain jagung 38.872 ha dengan produksi sebesar 149.657 ton, kedelai 4.484 ha dengan produksi mencapai 8.026 ton , ubi kayu 663 ha produksinya 7.704 ton,ubi jalar 321 ha dengan produksi 2.716 ton, kacang tanah 12.846 ha dengan produksi 24.022 ton. Produktivitas perkomoditasnya masih belum mencapai hasil yang optimal, oleh sebab itu,masih perlu didukung adanya pembinaan dan penyuluhan di tingkat petani serta usaha perkuatan kelembagaan dalam menghasilkan benih bermutu, institusi pengendali hama/penyakit, dukungan alat mesin pertanian dan distribusi pupuk memadai. 2) Peternakan Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian, yang peranannya dalam penyediaan pangan khususnya protein hewani terus ditingkatkan untuk mewujudkan swasembada ternak dan peningkatan pendapatan masyarakat. Dalam kurun waktu 2002 -2005 populasi ternak mengalami peningkatan yang cukup besar terutama Sapi

masyarakat. Dalam kurun waktu 2002 -2005 populasi ternak mengalami peningkatan yang cukup besar terutama Sapi 14
masyarakat. Dalam kurun waktu 2002 -2005 populasi ternak mengalami peningkatan yang cukup besar terutama Sapi 14

14

Bali, kemudian kambing, kuda dan kerbau. Sedangkan yang mengalami penurunan populasi adalah ayam terutama ayam ras petelur. Hal ini disebabkan karena menurunnya minat masyarakat untuk beternak ayam karena wabah flu burung. Untuk mendukung kesehatan produk peternakan terutama agar kesehatan masyarakat menjadi semakin baik sehingga penyediaan produk aman, sehat, utuh dan halal maka didukung adanya fasilitas lokasi pemotongan berupa Rumah Potong Hewan (RPH), pembinaan terhadap peternak, pemberian vaksin ternak dan unggas. 3) Kehutanan dan Perkebunan Jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Bone antara lain : kelapa seluas 14.760 ha dengan produksi 11.675 ton, coklat seluas 37.178 ha dengan produksi 12.870 ton, cengkeh 3.106 ha dengan produksi 2.087 ton, jambu mente 6.242 ha dengan produksi 2.863, kopi 934 ha dengan produksi 247 to, tembakau 941 ha dengan produksi 863 ton. Secara kuantitas produksi perkebunan memang telah mengalami peningkatan tapi belum mencapai hasil yang optimal, demikian pula halnya dengan kualitas produksi masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mencapai standar kualitas ekspor. Sejalan pelaksanaan otonomi daerah dengan azas desentralisasi, paradigma pembangunan kehutanan di Kabupaten Bone adalah domestic resources based (community and resource based development), yaitu (1) menetapkan sumber daya hutan dalam tiga sisi manfaat yang seimbang yakni ekonomi, ekologi dan sosial; dan (2) memfasilitasi dan mendorong terciptanya pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan memberi peluang yang luas

dan (2) memfasilitasi dan mendorong terciptanya pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan memberi peluang yang luas 15
dan (2) memfasilitasi dan mendorong terciptanya pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan memberi peluang yang luas 15

15

kepada lembaga usaha masyarakat kecil dan menengah yang berbasis hutan dalam menuju pengelolaan hutan yang lestari, demokratis dan berkeadilan. Pembangunan usaha perkebunan rakyat dilakukan dengan cara memfasilitasi dan mendorong berkembangnya agribisnis perkebunan yang berdayasaing melalui pemberdayaan masyarakat. 4) Perikanan dan Kelautan Sumber daya perikanan di Kabupaten Bone cukup besar karena wilayah pesisir yang membentang dari utara ke selatan sepanjang 127 km, sangat potensial untuk pengembangan tambak dan rumput laut. Potensi luas areal pemeliharaan 17.214 ha dan 11.001 ha diantaranya telah dikelola yaitu tambak seluas 10.790 ha dan kolam 211 ha. Komoditi ekspor perikanan yang menjadi unggulan adalah kepiting dan udang, namun beberapa tahun terakhir mengalami penurunan produksi yang cukup signifikan hingga mencapai 42 %, penyebab menurunnya produksi yaitu pemanfaatan sumber daya ikan tidak rasional, penerapan teknik produksi belum maksimal, kegiatan produksi dilakukan dalam skala kecil dan sifatnya perorangan, selain itu pembinaan dari petugas kurang. Produksi perikanan laut mengalami peningkatan rata- rata sebesar 16,8 %, jenis komoditi seperti rumput laut, ikan tuna, ikan kerapu, lobster, kepiting rajungan, merupakan komoditi ekspor yang sangat menjanjikan karena pangsa pasarnya masih cukup bagus.

c. Industri dan Perdagangan Perkembangan nilai investasi sektor industri selama 5 tahun menunjukkan perkembangan yang positif dari Rp. 25.695.098.000,- pada tahun 2002 menjadi

sektor industri selama 5 tahun menunjukkan perkembangan yang positif dari Rp. 25.695.098.000,- pada tahun 2002 menjadi
sektor industri selama 5 tahun menunjukkan perkembangan yang positif dari Rp. 25.695.098.000,- pada tahun 2002 menjadi

16

Rp.80.491.682.000,- di tahun 2006 atau rata-rata tumbeh sebesar 12,35% per tahun. Peningkatan nilai investasi terbesar pada industri kecil dan menengah, sedangkan investasi industri besar masih belum menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri pada tahun 2002 sebesar 15.906 orang dan tahun 2006 meningkat menjadi 17.157 orang. Aktivitas perdagangan di Kabupaten Bone menunjukkan peningkatan terlihat dari jumlah perusahaan yang terdaftar, pada tahun 2002 sebanyak 235 dan tahun 2006 meningkat menjadi 490 perusahaan. Dengan bertambahnya fasilitas perdagangan dan meningkatnya aksesibilitas maka Kabupaten Bone sangat berpotensi menjadi pusat perdagangan di kawasan timur Sulawesi Selatan. d. Pariwisata Keindahan alam dan kekayaan budaya Kabupaten Bone merupakan potensi pariwisata yang pengembangannya diarahkan pada upaya menyiapkan Kab.Bone sebagai daerah tujuan wisata. Salah satu Objek wisata yang telah dikembangkan yaitu Tanjung Palette, dengan adanya objek wisata tersebut diharapkan arus kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bone mengalami pertumbuhan yang cukup bagus dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung. Langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi yang ada terus dilakukan melalui pembinaan usaha jasa pariwisata, peningkatan SDM pelaku pariwisata dan promosi pariwisata dengan harapan Kabupaten Bone akan lebih siap sebagai daerah tujuan wisata.

pelaku pariwisata dan promosi pariwisata dengan harapan Kabupaten Bone akan lebih siap sebagai daerah tujuan wisata.
pelaku pariwisata dan promosi pariwisata dengan harapan Kabupaten Bone akan lebih siap sebagai daerah tujuan wisata.

17

B. SOSIAL

1. Kondisi Sosial Secara Umum Masyarakat Bone mempuyai beberapa karakteristik, di antaranya yang paling menonjol adalah sikap toleransi yang tinggi, menjunjung nilai-nilai budaya dan tradisi kerakyatan, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan sosial tanpa harus terpengaruh terhadap intervensi eksternal dan sebagainya. Dengan sikap toleran yang tinggi, keberagaman penduduk tidak menjadi permasalahan, namun justru memperkuat ketahanan sosial. Keberadaan penduduk di dalam suatu daerah merupakan sumber daya pembangunan karena penduduk berperan sebagai penggerak aktivitas pembangunan yang menentukan keberhasilan pembangunan daerah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain itu pertumbuhan ekonomi daerah juga dipengaruhi oleh penduduk sebagai potensi pasar ( konsumen ) dan modal dasar pembangunan yang menjalankan roda perekonomian. Oleh karena upaya-upaya perbaikan kondisi kependudukan terus dilakukan di Kabupaten Bone, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM agar memiliki kemampuan untuk meningkatkan produktivitas dan kompetensinya. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Bone setiap tahunnya berkisar 1,4%, sehingga dalam kurun waktu tahun 2002- 2006 jumlah penduduk bertambah dari 659.820 jiwa menjadi 696.712 jiwa. Salah satu indikator yang menunjukkan masih rendahnya kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Bone dapat dilihat dari aspek pendidikan yaitu masih adanya angka buta aksara. Sementara itu permasalahan lainnya yang terus mendapat perhatian adalah angka partisipasi pendidikan serta kualitas dan relevansi pendidikan.

lainnya yang terus mendapat perhatian adalah angka partisipasi pendidikan serta kualitas dan relevansi pendidikan. 18
lainnya yang terus mendapat perhatian adalah angka partisipasi pendidikan serta kualitas dan relevansi pendidikan. 18

18

Permasalahan lain yang tidak kalah penting adalah manajemen pendidikan. Hal ini berkaitan dengan pelaksanaan desentralisasi pembangunan pendidikan dan otonomi di bidang pendidikan sampai unit pendidikan terendah yang masih belum optimal. Standar pelayanan minimal yang ditetapkan sebagai acuan masing-masing kabupaten/kota untuk mengelola pembangunan pendidikan dan menjaga kualitas pelayanan pendidikan belum dapat diterapkan secara baik.

2. Indeks Pembangunan Manusia Indeks Pembangunan Manusia (IPM) telah menunjukkan adanya peningkatan walaupun belum mencapai angka IPM Nasional. Belum optimalnya IPM dimaksud diakibatkan karena adanya krisis ekonomi yang menyebabkan menurunnya tingkat daya beli

masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa krisis ekonomi yang melanda negeri ini tidak sampai merusak kapasitas fisik (kesehatan) dan kapasitas intelektual penduduk di Kabupaten Bone, tetapi telah menurunkan daya beli penduduk.

3. Pendidikan

a. Kebijakan Pendidikan Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM didasarkan kepada pemikiran bahwa pendidikan tidak sekedar menyiapkan peserta didik agar mampu masuk dalam pasaran kerja, namun lebih daripada itu, pendidikan merupakan salah satu upaya pembangunan watak bangsa (national character building) seperti kejujuran, keadilan, keikhlasan, kesederhanaan dan keteladanan. Arah kebijakan peningkatan, perluasan dan pemerataan pendidikan dilaksanakan melalui antara lain; penyediaan fasilitas layanan pendidikan berupa pembangunan unit sekolah baru, penambahan ruang kelas dan penyediaan fasilitas

fasilitas layanan pendidikan berupa pembangunan unit sekolah baru, penambahan ruang kelas dan penyediaan fasilitas 19
fasilitas layanan pendidikan berupa pembangunan unit sekolah baru, penambahan ruang kelas dan penyediaan fasilitas 19

19

pendukungnya, serta penyediaan berbagai beasiswa dan

bantuan dana operasional sekolah yang dalam pelaksanaannya

dilakukan dengan melibatkan peran aktif masyarakat.

Kebijakan strategi pembangunan pendidikan di Kabupaten

Bone difokuskan pada dua hal lain yaitu peningkatan mutu dan

relevansi pendidikan dan pemerataan dan perluasan jangkauan

pendidikan.

Pertama, Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan;

adalah tantangan terpenting dalam pembangunan pendidikan baik

skala naional maupun daerah. Pencapaian beberapa indikator

mutu dan relevansi pendidikan di Kabupaten Bone kurun waktu

2003-2007 dapat dilihat pada uraian tabel di bawah ini.

Tabel 1. Angka Mengulang, Angka Putus Sekolah, Kelayakan Guru Mengajar dan Angka Lulusan SD, SMP dan SMA Tahun 2003-2007.

No

Indikator

 

Tahun

 

2003

2004

2005

2006

2007

1.

Angka Mengulang

         

- SD/MI

6.013

org

5.987

org

4.771 org

3.995 org

4.104 org

(5,95%)

(5,89%)

(4,77%)

(4.21%)

(4,21%)

- SMP/MTs

94

org

90

org

51

org

42

org

49

org

(0,36%)

(0,65%)

(0,33%)

(0,19%)

(0,20%)

- SM/MA/SMK

55

org

51

org

42

org

35

org

43

org

(0,42%)

(0,37%)

(0,27%)

(0,17%)

(0,14%)

2

Angka Putus Sekolah

         

- SD/MI

1.419

org

1.155

org

796

org

678

org

357

org

(1,41%)

(1,13%)

(0,79%)

(0,38%)

(0,36%)

- SMP/MTs

493

org

537

org

296

org

189

org

203

org

(2,38%)

(6,88%)

(1,08%)

(0,99%)

(0,65%)

- SM/MA/SMK

184

org

102

org

94

org

71

org

(1,39%)

(0,74%)

(0,60%)

(0,43%)

(0,41%)

SM/MA/SMK 184 org 102 org 94 org 71 org (1,39%) (0,74%) (0,60%) (0,43%) (0,41%) 20
SM/MA/SMK 184 org 102 org 94 org 71 org (1,39%) (0,74%) (0,60%) (0,43%) (0,41%) 20

20

3

Kelayakan guru

         

mengajar

- SD/MI

3.105

org

3.369

org

4.356

org

4.883

org

92,25%

(71,00%)

(72,73%)

(75,21%)

(80,01%)

- SMP/MTs

1.208

org

1.279

org

1.793

org

1.915

org

87,70%

(57,70%)

(63,29%)

(77,78%)

(82,13%)

- SM/MA/SMK

930 org

965 org

1046 org

1.099

org

98,91%

(89,51%)

(90,95%)

(94,30%)

(96,72%)

4

Angka Lulusan

         

- SD/MI

98,45%

95,14%

95,55%

98,02%

97,03%

- SMP/MTs

91,14%

93,16%

97,55%

98,99%

97,63%

- SM/MA/SMK

98,30%

97,58%

98,28%

99,04%

89,83%

Kedua, Pemerataan dan perluasan jangkauan pendidikan atau biasa disebut perluasan kesempatan besar merupakan salah satu sasaran dalam pembangunan pendidikan. Pemerataan dan perluasan pendidikan dimaksudkan agar setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan tidak dibedakan menurut jenis kelamin, status sosial, agama dan lokasi geografis Kebijakan ini menekankan bahwa setiap orang tanpa memandang asal-usulnya mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan pada semua jenis, jenjang, maupun jalur pendidikan. Pemerataan ini dimaksudkan untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan yang merata Indikator pemerataan dan perluasan jangkauan pendidikan yang telah tercapai di Kabupaten Bone tahun 2003-2007 sebagai berikut :

pemerataan dan perluasan jangkauan pendidikan yang telah tercapai di Kabupaten Bone tahun 2003-2007 sebagai berikut :
pemerataan dan perluasan jangkauan pendidikan yang telah tercapai di Kabupaten Bone tahun 2003-2007 sebagai berikut :

21

Tabel 2. Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Minum (APM), Angka Penyerapan Kasar (ASK) dan Angka Melanjutkan SD, SMP dan SMA Tahun 2003-2007.

No

Indikator

 

Tahun

20003

2004

2005

2006

2007

1.

Angka Partisipasi Kasar (APK)

         

- SD/MI

108,67%

114,26%

114,90%

115,01%

115.11%

- SMP/MTs

61,92%

67,53%

78,67%

79,11%

84,60%

- SM/MA/SMK

39,50%

40,43%

47,65%

50,02%

52,21%

2

Angka Partisipasi Murni (APM)

         

- SD/MI

93,84%

98,65%

99,36%

99,67%

99,70%

- SMP/MTs

49,47%

49,96%

57,29%

59,88%

61,12%

- SM/MA/SMK

33,37%

40,92%

41,60%

45,46%

45,60%

3

Angka Penyerapan Kasar (ASK)

         

- SD/MI

40,65%

41,73%

55,99%

58,33%

58,58%

- SMP/MTs

51,73%

51,83%

53,21%

55,17%

56,23%

- SM/MA/SMK

4,32%

4,45%

5,09%

6,23%

7,83%

4

Angka melanjutkan

         

- Ketingkat SMP

70,52%

70,74%

71,44%

74,03%

81,44%

- Ketingkat SM

62,84%

73,65%

77,05%

79,24%

79,84%

Keberhasilan lain yang dicapai di daerah ini pada tahun

2006 adalah mampu mereplikasi program manajemen Berbasis

Sekolah (MBS) di 25 Kecamatan, dengan harapan agar semua

sekolah (751 SD/MI) yang ada di Kabupaten Bone menerapkan

prinsip-prinsip MBS dalam mengelola masing-masing sekolahnya.

Partisipasi masyarakat akan lebih nyata masing-masng sekolah,

karena program tersebut mendorong dan menumbuhkan

Partisipasi masyarakat akan lebih nyata masing-masng sekolah, karena program tersebut mendorong dan menumbuhkan 22
Partisipasi masyarakat akan lebih nyata masing-masng sekolah, karena program tersebut mendorong dan menumbuhkan 22

22

partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan di masing-masing sekolah, sehingga masyarakat menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama termasuk masyarakat dan pemerintah. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada tahun 2006, Kabupaten Bone merintis program tersebut di 2 (dua) kecamatan yaitu kecamatan Dua Boccoe dan Kecamatan Ponre kerjasama UNICEF dengan Pemda Bone. Program ini di kenal dengan taman pendidikan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini (TAMAN PADITUNGKA). Program ini sifatnya holistik yaitu terintegrasi antara Posyandu, Bina Keluarga Balita dan Pendidikan, serta program ini berbasis masyarakat (dari, oleh dan untuk masyarakat).

b. Partisipasi Sekolah Partisipasi penduduk Kab.Bone dalam bidang pendidikan pada setiap jenjang pendidikan mulai dari SD,SMP hingga SMA dan SMK, diharapkan dapat memberikan gambaran kualitas sumber daya manusia yang potensial dimasa yang akan datang. Angka partisipasi SD lebih tinggi dibandingkan angka partisipasi SMP dan SMA. Besarnya partisipasi SD menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam mengimplementasikan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yang dimulai sejak tahun 1994 dan telah memberikan hasil yang cukup baik.

c. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan yang diraih penduduk akan berdampak pada tinggi rendahnya SDM yang ada dan pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan perekonomian daerah.

SDM yang ada dan pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan perekonomian daerah. 23
SDM yang ada dan pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan perekonomian daerah. 23

23

Tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Bone relatif bervariasi mulai dari yang tidak memiliki ijasah 37,20 % dari jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas, tingkat pendidikan SD/ MI sebesar 32, 89 %, SMU/MA sebesar 11,09 %, Diploma 1,69%, S1 sebesar 1,95 % dan S2/S3 0,12 %. Kondisi di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang diraih oleh sebagian besar penduduk Kabupaten Bone masih rendah dan tidak memiliki kemampuan untuk bersaing dalam meraih pekerjaan yang lebih baik. Oleh sebab itu, bidang pendidikan menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan di Kabupaten Bone.

4. Kesehatan Derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Bone mengalami peningkatan yang berarti dalam periode waktu 4 tahun terakhir, hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan, bertambahnya tenaga medis dan fasilitas kesehatan sehingga berbagai permasalahan kesehatan masyarakat seperti wabah penyakit menular, kekurangan gizi pada balita dan ibu hamil dapat ditekan seminimal mungkin. Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat khususnya kurun waktu 2003-2006.

a. Pelayanan Kesehatan Dasar

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pemberian kesehatan dasar secara tepat dan cepat. Diharapkan sebagian besar

kesehatan kepada masyarakat. Dengan pemberian kesehatan dasar secara tepat dan cepat. Diharapkan sebagian besar 24
kesehatan kepada masyarakat. Dengan pemberian kesehatan dasar secara tepat dan cepat. Diharapkan sebagian besar 24

24

masalah kesehatan masyarakat. Salah satu indikator kesehatan adalah pelayanan antenatal K.1 dan K4. pelayanan K1 dan K4 merupakan pelayanan ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Sedangkan cakupan K4 adalah gambaran besar ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar yang paling sedikit 4 kali kunjungan. Adapun presentase kunjungan ibu hamil K1 adalah sebagai berikut :

Pemeriksaan Ibu Hamil pertama (K1) masih di bawah target (90%) bila dilihat dari cakupan tahun 2003 sebesar 82,27%, tahun 2004 sebesar 79,99%, tahun 2005 sebesar 79,46%. Pada tahun 2006 sebanyak 11.748 orang (63,24%). Penurunan cakupan K1 pada tahun 2006 ini karena kunjungan sasaran baru dilaporkan sampai bulan oktober 2006 dan 2007 K1 = 84,53% Untuk pemeriksaan ibu hamil lengkap (K4) terlihat dari tahun ketahun belum mengalami peningkatan secara signifikan, dimana tahun 2003 sebesar 60,99%, tahun 2004 sebesar 61,22% tahun 2005 sebesar 79,5%. Pada tahun 2006 cakupan masih 67,54% sampai dengan bulan oktober 2006 dan 2007 = 78,88% Hal ini disebabkan karena kesadaran masyarakat khususnya yang terdapat di Kabupaten Bone telah memahami pentingnya memeriksakan kandungan pada saat hamil.

2. Pertolongan persalinan Tenaga Kesehatan Kamatian bagi ibu hamil dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa persalinan. Hal ini disebabkan karena pertolongan tidak dilakukan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi. Adapun presentase cakupan persalinan dengan

pertolongan tidak dilakukan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi. Adapun presentase cakupan persalinan dengan 25
pertolongan tidak dilakukan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi. Adapun presentase cakupan persalinan dengan 25

25

pertolongan oleh dan melalui tenaga persalinan atau bidan dapat di lihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3. Prosentase Tenaga Persalinan atau Bidan Kabupaten Bone Tahun 2003-2007

 

2003

2004

2005

2006

2007

Kabupaten

60,61%

60,60%

61,20%

61,54%

62,38%

Dari tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2003 hingga tahun 2005 jumlah ibu hamil yang melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan terus mengalami peningkatan yaitu 77,21% hingga 83,99% pada tahun 2005. Hal ini disebabkan karena masyarakat khususnya ibu hamil telah memahami pentingnya persalinan yang dilakukan tenaga kesehatan dan dapat mengurangi angka kematian ibu dan anak pada saat melahirkan.

b. Perbaikan Gizi Pada Masyarakat

Upaya perbaikan gizi pada masyarakat pada hakekatnya dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi oleh masyarakat. Beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada masyarakat adalah kekurangan kalor protein, kekurangan Vitamin A dan kekurangan Yodium.

1. Penanggulangan KLB Gizi/Gizi Buruk Upaya-upaya yang telah dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone dalam hal penanggulangan KLB gizi/ gizi buruk telah menunjukkan keberhasilan yang cukup signifikan. Penanggulangan Gizi buruk telah dilakukan secara intensif melalui pelacakan 1 x 24 jam serta melakukan investasi dan

Penanggulangan Gizi buruk telah dilakukan secara intensif melalui pelacakan 1 x 24 jam serta melakukan investasi
Penanggulangan Gizi buruk telah dilakukan secara intensif melalui pelacakan 1 x 24 jam serta melakukan investasi

26

intervensi ke sasaran dengan melibatkan berbagai stake holders antara lain, Pers, LSM, PKK Toma dan Toga. Pada tahun 2003 sebesar 11 orang, tahun 2004 sebanyak 66 orang, dan pada tahun 2005 sebanyak 118 orang, sedangkan pada tahun 2006 sampai dengan bulan september sebesar 119 orang. Gambaran kondisi KLB gizi/gizi buruk di Kabupaten Bone tahun 2003 s/d 2007 dapat di lihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4. Kondisi KLB Gizi/gizi Buruk di Kabupaten Bone 2003-2007

Kabupaten

2003

2004

2005

2006

2007

0,15%

0,17%

0,19

0,18

0,24

Kondisi KLB gizi/gizi buruk di Kabupaten Bone menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, hal ini disebabkan karena aktifnya kader melakukan pelacakan kepada masyarakat sehingga apabila terdapat kondisi KLB gizi/gizi buruk dapat diatasi dengan pembinaan yang baik dengan melakukan atau memberikan makanan tambahan bagi anak yang mengalami kekurangan gizi, selain itu upaya pemerintah dalam penanggulangan GAKY meliputi upaya jangka pendek melalui pemberian kapsul minyak beryodium dan upaya jangka panjang.

2. Konsumsi Garam Beryodium Peningkatan pemakaian konsumsi Garam Beryodium di masyarakat, hal ini sejalan dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 7 tahun 2003 tentang Pelarangan dan pengendalian garam Non Yodium. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan konsumsi

dan pengendalian garam Non Yodium. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan konsumsi 27
dan pengendalian garam Non Yodium. Ini merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan konsumsi 27

27

garam beryodium pada masyarakat. Selain itu pemerintah daerah khususnya dinas kesehatan aktif melakukan sosialisasi tentang pentingnya mengkonsumsi garam beryodium dan melakukan sweeping pada daerah yang endemik garam non yodium. Gambaran cakupan konsumsi garam beryodium di Kabupaten Bone tahun 2003 s/d 2007 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5. Cakupan Konsumsi GaramBeryodium di Kabupaten Bone 2003-2007

Kabupaten

2003

2004

2005

2006

2007

46,7%

77,35%

84,43%

90,00%

95,80%

3. Pemberian Vitamin A Upaya penanggulangan Kurang Vitamin A dilakukan dengan pendistribusian Kapsul Vitamin A kepada anak balita pada bulan Februari dan Agustus. Cakupan distribusi dari tahun 2003 sampai dengan 2006 mengalami peningkatan dan telah mencapai target (96%), di mana pada tahun 2003 sebesar 90 %, tahun 2004 sebesar 98,5% tahun 2005 sebesar 90,1%, tahun 2006 sebesar 96% dan tahun 2007 sebesar 95,09%. Untuk cakupan tingkat partisipasi masyarakat (D/S) terhadap pemanfaatan posyandu belum memadai, di mana cakupan D/S untuk tahun 2003 sebesar 44,71%, tahun 2004 sebear 49,03%, tahun 2005 sebesar 69,94% dan tahun 2006 sebesar 69,98%.

D/S untuk tahun 2003 sebesar 44,71%, tahun 2004 sebear 49,03%, tahun 2005 sebesar 69,94% dan tahun
D/S untuk tahun 2003 sebesar 44,71%, tahun 2004 sebear 49,03%, tahun 2005 sebesar 69,94% dan tahun

28

c. Upaya

yang dilakukan untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat di Kabupaten Bone.

1. Memberikan pelayanan kesehatan sebaik mungkin dengan biaya yang dapat dijangkau oleh masyarakat serta pemberian pengobatan gratis

2. Terbentuknya desa sehat dan kecamatan sehat

3. Meningkatkan mutu kesehatan dan gizi masyarakat yang ditandai dengan peningkatan harapan hidup, menurunkan tingkat kesakitan dan kematian khususnya bayi dan ibu melahirkan

4. meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan

5. meningkatkan cakupan pelayanan puskesmas

6. mewujudkan perilaku sehat bersih bagi masyarakat

7. mengembangkan sistem informasi dan pelayanan kesehatan

5. Ketenagakerjaan Besarnya jumlah pengangguran di Kabupaten Bone yang mencapai 40,18 % merupakan permasalahan yang cukup krusial dan perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah. Berbagai upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja telah dilakukan dalam rangka mewujudkan tenaga kerja yang profesional dan berdaya saing tinggi, yang mampu membuka dan memberikan peluang kerja yang luas baik ditingkat lokal maupun regional. Pembinaan hubungan industri, kewirausahaan para pekerja formal/informal diupayakan secara maksimal. Pembinaan pemasaran kepada para kelompok usaha mandiri juga dilaksanakan, disamping tetap memperhatikan norma keselamatan kerja berdasarkan Undang-undang Ketenagakerjaan. Peningkatan sumberdaya

disamping tetap memperhatikan norma keselamatan kerja berdasarkan Undang-undang Ketenagakerjaan. Peningkatan sumberdaya 29
disamping tetap memperhatikan norma keselamatan kerja berdasarkan Undang-undang Ketenagakerjaan. Peningkatan sumberdaya 29

29

manusia dilaksanakan melalui DIKLAT serta menjalin kerjasama dengan semua pihak dan daerah dalam rangka pengerahan mobilitas penduduk.

6. Kesejahteraan Sosial Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang dapat berimplikasi terhadap perkembangan masalah lainnya. Upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Bone dilakukan melalui kegiatan pemberdayaan keluarga miskin antara lain : P2MMP, P2KP, dan sebagainya. Selain itu, melalui pembentukan Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah dan Penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah, diharapkan jumlah penduduk miskin angka semakin berkurang di Kabupaten Bone.

C. BUDAYA

Budaya sebagai tata nilai, simbol-simbol dan produk dari prikehidupan manusia di Kabupaten Bone berkembang dengan baik tanpa melepaskan diri dari akarnya. Namun demikian dengan karakter manusia Kabupaten Bone yang toleran terhadap adanya perbedaan, budaya dari daerah luar pun juga dapat diterima dan memperkaya khasanah budaya nusantara.

D. PEMERINTAHAN

Terjadinya perubahan yang fundamental dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dengan pelayanan masyarakat menuntut adanya restrukturisasi organisasi dan penataan pegawai. Secara kuantitatif penataan pegawai telah mulai dilakukan, namun dalam hal penempatannya masih dijumpai ketidaksesuaian

Secara kuantitatif penataan pegawai telah mulai dilakukan, namun dalam hal penempatannya masih dijumpai ketidaksesuaian 30
Secara kuantitatif penataan pegawai telah mulai dilakukan, namun dalam hal penempatannya masih dijumpai ketidaksesuaian 30

30

antara latar belakang pendidikan pejabat dengan Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) yang harus diemban. Namun demikian kondisi ini diharapkan akan diantisipasi pada evalusi struktur organisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, perlu optimalisasi fungsi pengawasan dan perangkat hukum yang sesuai dengan tata pemerintahan yang baru. Fungsi pengawasan dilakukan dalam upaya menjadi pendorong menuju pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang profesional, transparan dan akuntabel. Fungsi pengawasan ini selain dilakukan oleh lembaga pemerintahan (termasuk DPRD) juga dilakukan oleh lembaga-lembaga non- pemerintahan sebagai salah satu bentuk kontrol sosial (social controll) melalui media yang tersedia.

E. ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

Kemampuan daerah dalam penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum memadai, khususnya bagi peningkatan daya saing komoditas unggulan. Hal ini ditunjukkan antara lain masih rendahnya sumbangan iptek di sektor produksi, belum efektifnya mekanisme pasar, belum berkembangnya budaya iptek di tengah masyarakat, dan terbatasnya sumberdaya iptek.

F. SARANA DAN PRASARANA

Penyediaan sarana wilayah di Kabupaten Bone dilaksanakan guna menunjang pelaksanaan pembangunan bidang-bidang lainnya. Pembangunan jaringan ruas-ruas jalan, sebagian telah dilaksanakan guna menghubungkan fungsi dari masing-masing kawasan pengembangan. Kegiatan peningkatan dan pemeliharaan jalan pada sebagian ruas jalan ditujukan untuk kemudahan dan kelancaran mobilitas serta jangkauan pemasaran hasil-hasil produksi. Selama

ruas jalan ditujukan untuk kemudahan dan kelancaran mobilitas serta jangkauan pemasaran hasil-hasil produksi. Selama 31
ruas jalan ditujukan untuk kemudahan dan kelancaran mobilitas serta jangkauan pemasaran hasil-hasil produksi. Selama 31

31

beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Bone berupaya seoptimal mungkin menanggapi permasalahan prasarana jalan dan jembatan sesuai sumberdaya yang tersedia. Pada tahun 2007, panjang jaringan ruas-ruas jalan Kabupaten dalam mendukung pengembangan wilayah berjumlah 2.483,200 Km. Berdasarkan jenis permukaan, jalan aspal 923,400 Km, jalan kerikil 782,840 Km, dan jalan tanah 776,870 Km. Keseluruhan permukaan jalan tersebut berkondisi baik, baru mencapai 31,01%, kondisi sedang 16,23%, kondisi rusak 20,50% dan kondisi rusak berat 32,25%. Pembangunan pengairan di Kabupaten Bone diperuntukkan sebagai penunjang pembangunan pertanian. Pada Tahun 2007, jumlah pengairan yang ada dicakup ke dalam 108 Daerah Irigasi yang terdiri dengan luas sawah beririgasi 41.883 Ha. yang terdiri dari 29.907 Ha irigasi teknis/semi teknis dan 11.976 Ha merupakan irigasi desa. Berdasarkan UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

(pasal 41 ayat 2 c), maka tanggungjawab pengelolaan irigasi di Kabupaten Bone ditinjau dari strata luasannya, dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kewenangan yaitu :

1. Kewenangan pusat (>3000 Ha) meliputi DI Palakka 4.633 Ha, DI Pattiro 4.970 Ha, Di sanrego 6,618 Ha.

2. Kewenangan Propinsi (1000 3000 Ha) meliputi DI Unyi 1.310 Ha, DI Jaling 1.274 Ha, DI Salomekko 1.723 Ha, dan DI Selli Coppo Bulu 1.000 Ha.

3. Kewenangan Kabupaten (<1000 Ha) meliputi : 101 Daeah Irigasi dengan Luas 20.355 Ha, Saluran 149,032 m dengan kondisi baik rata-rata 56,7%, kondisi sedang 16,7%, kondisi rusak 23% dan rusak berat 3,6%. Kewenangan Propinsi dengan panjang saluran 8.008,82 m, kondisi baik 65%, sedang 23%, rusak 10% dan rusak berat 2%. Dan daerah irigasi yang menjadi kewenangan Kabupaten

m, kondisi baik 65%, sedang 23%, rusak 10% dan rusak berat 2%. Dan daerah irigasi yang
m, kondisi baik 65%, sedang 23%, rusak 10% dan rusak berat 2%. Dan daerah irigasi yang

32

memiliki panjang saluran 95,441 m dengan kondisi baik rata-rata 56%, sedang 20%, rusak 15%, dan rusak berat 9%. Pemenuhan air bersih bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, relatif masih rendah. Pada Tahun 2005, cakupan air bersih bagi masyarakat perdesaan baru mencapai 58,69% atau masih rendah bila dibandingkan target nasional pada tahun yang sama sebesar 60%. Demikian halnya bagi masyarakat perkotaan, cakupan air bersih baru mencapai 60,64% relatif masih rendah dibandingkan target nasional sebesar 80% pada tahun yang sama. Ketersediaan sumberdaya air yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari penduduk Kabupaten Bone bersumber dari air tanah dangkal dan dalam. Air tanah dangkal/permukaan berupa air sumur, air sungai, rawa-rawa, waduk bendungan, mata air. Sedangkan pemanfaatan air dalam, menggunakan air sumur bor dalam.

G. POLITIK

Kemajuan demokrasi terlihat dengan telah berkembangnya hak masyarakat dalam kehidupan politik, terutama dalam pelaksanaan pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden yang terlaksana secara aman pada tahun 2004 lalu. Dalam jangka panjang diharapkan akan mampu menstimulasi masyarakat untuk makin aktif berpartisipasi dalam mengambil inisiatif bagi pengelolaan urusan politik. Perkembangan ini tidak terlepas dari berkembangnya peran partai politik dan masyarakat. Di samping itu, kebebasan pers dan media telah berkembang yang antara lain ditandai dengan adanya peran aktif dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan.

adanya peran aktif dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan. 33
adanya peran aktif dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan. 33

33

H. KETERTIBAN UMUM DAN KETENTRAMAN MASYARAKAT

Ketertiban umum dan ketentraman masyarakat telah menunjukkan kemajuan, diantaranya tindakan kriminal dan kekerasan dirasakan intensitasnya semakin berkurang. Meskipun demikian disadari juga seringnya terjadi tindakan pencurian, hal ini akan menjadi perhatian bagi aparat penegak hukum dalam rangka penanggulangannya.

I.

HUKUM,

MASYARAKAT

APARATUR

PEMERINTAH

DAN

KELEMBAGAAN

Pembangunan di bidang hukum terutama untuk mendukung terlaksananya tugas pemerintahan, telah memperlihatkan hasil yang memadai. Beberapa Peraturan Daerah (PERDA) telah ditetapkan guna memberikan pelayanan dan kepastian hukum kepada masyarakat, sesuai kebutuhan. Pemerintah Daerah dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada masyarakat senantiasa berpegang teguh pada komitmen (kesepakatan politik para pelaku pembangunan) dan keseriusan terhadap setiap program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai prosedur dan tujuan yang ingin dicapai. Namun demikian upaya untuk lebih meningkatkan pelayanan, Pemerintah Daerah masih diperhadapkan kepada masalah supra dan infrastruktur yang kurang memadai dalam mengelola masalah-masalah pembangunan secara transparan, akuntabel, efesien dan efektif. Di samping itu, kelembagaan masyarakat dalam mengelola pembangunan, belum berjalan secara optimal. Penguatan dan pemberdayaan masyarakat masih terus diupayakan menuju kemandiriannya dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Untuk itu, pemberian, pemahaman dan kelancaran informasi serta pelibatan

dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Untuk itu, pemberian, pemahaman dan kelancaran informasi serta pelibatan 34
dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Untuk itu, pemberian, pemahaman dan kelancaran informasi serta pelibatan 34

34

masyarakat terhadap pentingnya pembangunan yang diprakarsai oleh pemerintah daerah, menjadi sangat penting dan prioritas.

J. WILAYAH DAN TATA RUANG

Masyarakat di wilayah tertinggal dan terisolir khususnya yang berada di daerah perbatasan, masih memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan sosial dan ekonomi. Olehnya itu, kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di wilayah tersebut memerlukan perhatian dan keberpihakan pembangunan yang proporsinya lebih besar dari pemerintah. Permasalahan yang dihadapai dalam pengembangannya antara lain : terbatasnya akses transportasi, kepadatan penduduk yang relatif rendah serta menyebar, dan kualitas SDMnya masih rendah. Masih terdapat wilayah yang memiliki produk unggulan dan strategis, belum berkembang secara optimal, antara lain disebabkan:

adanya keterbatasan informasi pasar dan teknologi untuk pengembangan produk unggulan tersebut; belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari para pelaku yang terlibat; belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berorientasi pada pengembangan usaha yang berkelanjutan dalam perekonomian daerah; masih lemahnya koordinasi, sinergi, kerjasama diantara pelaku pengembangan kawasan, baik pemerintah, swasta, lembaga non pemerintah lainnya, dan masyarakat; masih terbatasnya akses petani dan pelaku usaha skala kecil terhadap modal pengembangan usaha, input produksi, dukungan teknologi, dan jaringan pemasaran; keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik ekonomi. Pembangunan perkotaan telah memperlihatkan kecenderungan yang semakin membaik. Pembangunan sarana dan prasarana kota telah dilaksanakan secara optimal seperti peningkatan jalan hot mix dalam kota yang dapat menjangkau seluruh wilayah kota Watampone.

secara optimal seperti peningkatan jalan hot mix dalam kota yang dapat menjangkau seluruh wilayah kota Watampone.
secara optimal seperti peningkatan jalan hot mix dalam kota yang dapat menjangkau seluruh wilayah kota Watampone.

35

Pembangunan infrastruktur lainnya juga dilaksanakan secara bertahap dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat Kota Watampone. Pembangunan perdesaan juga semakin diintensifkan pengembangannya. Penyediaan infranstruktur jalan desa terus diupayakan oleh pemerintah daerah dalam membuka akses bagi masyarakat. Namun demikian, kondisi sosial ekonomi masyarakat relatif masih rendah dibandingkan dengan masyakat perkotaan. Hal ini merupakan konsekuensi perubahan struktur ekonomi, dimana investasi ekonomi oleh swasta maupun pemerintah (infrastruktur dan kelembagaan) cenderung terkonsentrasi di perkotaan. Selain itu, masih terdapat kegiatan ekonomi perkotaan yang kurang sinergis dengan kegiatan ekonomi yang dikembangkan di perdesaan. Rencana Tata Ruang sebagai pedoman dalam perencanaan pembangunan pemanfaatannya belum terlaksana optimal. Hal ini terlihat kurang dijadikannya Rencana Tata Ruang tersebut sebagai acuan dalam pengambilan keputusan, disebabkan antara lain kurangnya informasi bagi masyarakat dan belum adanya mekanisme yang efektif dalam memberikan sanksi terhadap pelanggaran yang terjadi.

K. PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

Pembangunan perumahan dan permukiman belum memadai baik jumlah, kualitas maupun sarana dan prasarana. Upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, masih diperlukan ketersediaan hunian permukiman diperkotaan dan di perdesaan, sarana pendukung, dan belum optimalnya sistem penggalangan dana masyarakat sebagai sumber pembiayaan.

L. SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP

Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup selama ini dilaksanakan secara tidak efisien dan berorientasi pada kepentingan

sumberdaya alam dan lingkungan hidup selama ini dilaksanakan secara tidak efisien dan berorientasi pada kepentingan 36
sumberdaya alam dan lingkungan hidup selama ini dilaksanakan secara tidak efisien dan berorientasi pada kepentingan 36

36

jangka pendek, sehingga mengakibatkan terjadinya pengrusakan sumberdaya alam yang tak terkendali. Ekosistem laut dan terumbu karang mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaharui seketika, tetapi memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pemanfaatan teknologi pengelolaan dan aturan pengendaliannya. Selain itu, terjadinya penurunan kualitas lingkungan dapat di lihat dari kerusakan beberapa ekosistem seperti mangrove (hutan bakau) di beberapa wilayah Kecamatan (pesisir) dan pemanfaatan sumberdaya lahan yang melebihi kapasitas dan daya dukungnya yang telah menyebabkan jumlah lahan kritis sekitar 24.419 Ha pada tahun 2007, diantaranya 13.400 Ha dalam kawasan, 10.279 Ha yang berada di luar kawasan, dan 745 Ha Mangrove.

Ha pada tahun 2007, diantaranya 13.400 Ha dalam kawasan, 10.279 Ha yang berada di luar kawasan,
Ha pada tahun 2007, diantaranya 13.400 Ha dalam kawasan, 10.279 Ha yang berada di luar kawasan,

37

BAB III ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

A. ARAH PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH

Dalam pengelolaan pendapatan daerah, sumber pendapatan yang berasal dari pemerintah melalui desentralisasi fiskal dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) saat ini menempati proporsi yang paling besar terhadap daerah, yakni sekitar 72,37% pada tahun 2008. Sedangkan sumber pendapatan asli daerah yang berasal dari pajak dan retribusi perlu ditingkatkan, namun tetap mempertimbangkan kemampuan masyarakat serta tidak membebani perkembangan dunia usaha. Demikian pula dengan sumber-sumber pendapatan lainnya juga perlu ditingkatkan, antara lain bagian laba Perusahaan Milik Daerah, lain-lain pendapatan yang sah, dan perimbangan, bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak, sehingga dalam kurun waktu lima tahun mendatang, porsi Dana Alokasi Umum (DAU) secara bertahap dapat dimulai dan digantikan oleh sumber pendapatan yang dapat diupayakan oleh daerah. Dalam APBD Kabupaten Bone mulai tahun 2003 sampai sekarang yang disusun dengan menganut anggaran berbasis Kinerja yang diatur Peraturan Perundang-Undangan yang belaku mulai Kepmendagri No. 29 tahun 2002, Permendagri No. 13 Tahun 2006 dan diubah Permendagri No. 59 Tahun 2007. Anggaran Pendapatan Kabupaten Bone tahun 2003 dan 2004 masing-masing ditargetkan sebesar Rp 326,2 M dan Rp 345,6 M. Sementara realisasi pendapatan masing-masing sebesar Rp 328,1 M dan Rp 349,8 M atau secara berturut-turut mencapai 100,59 % dan 101,22%. tahun 2005 dan tahun 2006, pendapatan daerah berturut-turut sebesar Rp 376,1 M dan Rp.582,9. Realisasi pendapatan daerah masing-masing sebesar

pendapatan daerah berturut-turut sebesar Rp 376,1 M dan Rp.582,9. Realisasi pendapatan daerah masing-masing sebesar 38
pendapatan daerah berturut-turut sebesar Rp 376,1 M dan Rp.582,9. Realisasi pendapatan daerah masing-masing sebesar 38

38

Rp.362,5 M dan Rp 575,5 M atau masing-masing mencapai 96,39% dan 98,73%. Sedangkan tahun 2007 pendapatan ditargetkan Rp.731,1 M dan realisasinya sebesar Rp. 665,5 M atau sekitar 91,03%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6 berikut :

Tabel 6 : Target dan Realisasi Pendapatan dan Belanja Pemerintah Kabupaten Bone Tahun 2003 2007

dan Belanja Pemerintah Kabupaten Bone Tahun 2003 – 2007 Sumber : APBD Kabupaten Bone Guna keperluan

Sumber

: APBD Kabupaten Bone

Guna keperluan analisis atas perkembangan pendapatan daerah maka unsur pendapatan daerah pada sisi bagian sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu dan UKP dalam sistem anggaran berbasis kinerja yang diterapkan mulai tahun 2003 sampai sekarang, sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu termasuk dalam struktur pembiayaan. Pendapatan daerah terdiri dari PAD (pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha perusahaan milik daerah dan lain-lain PAD yang sah), dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.

1. Pendapatan Asli Daerah Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari: pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) memberikan kontribusi dalam pendapatan daerah. Pada tahun 2003, PAD memberikan kontribusi sebesar Rp 17,5 M (5,37%) terhadap pendapatan daerah. Pada tahun 2004 memberikan kontribusi sebesar Rp 22,5 M atau 6,51%.

Rp 17,5 M (5,37%) terhadap pendapatan daerah. Pada tahun 2004 memberikan kontribusi sebesar Rp 22,5 M
Rp 17,5 M (5,37%) terhadap pendapatan daerah. Pada tahun 2004 memberikan kontribusi sebesar Rp 22,5 M

39

Tahun 2005 sebesar Rp 20,6 M atau 5.63% dan tahun 2006 memberikan kontribusi sebesar Rp 25,9 M (4,45%). Sedangkan tahun 2007 meberikan kontribusi sebesar Rp. 78,2 M (10,70%). Perkembangan target dan realisasi PAD Kabupaten Bone Tahun Anggaran 2003 sampai dengan 2007 dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini:

Tabel 7 : Perkembangan Target dan Realisasi PAD Kabupaten Bone Tahun 2003 2007

   

Target ( Milyar )

Realisasi ( Milyar )

Persentase

No.

Tahun

%

1

2003

17.5

15.9

90.9

2

2004

22.5

17.7

78.7

3

2005

20.6

18.0

87.4

4

2006

25.9

21.1

81.5

5

2007

78.2

34.5

44.1

Sumber : APBD Kabupaten Bone

Kontribusi realisasi masing-masing komponen PAD Kabupaten Bone Tahun Anggaran 2003 sampai dengan 2007 dapat digambarkan pada Tabel 8 berikut ini:

Tabel 8 : Kontribusi Realisasi Terhadap PAD Kabupaten Bone Tahun 2003-2007 (Milyar)

No.

Uraian

2003

2004

2005

2006

2007

1

Pajak Daerah

3.7

3.7

4.6

4.2

5.1

2

Retribusi Daerah

6.0

11.0

8.7

11.7

15.4

3

Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil

0.3

0.5

0.8

1.0

1.2

 

Pengelolaan kekayaan Daerah yang

         
 

Dipisahkan

         

4

Lain-lain Pendapatn Asli Daerah Yang Sah

5.9

2.5

3.9

4.2

12.8

 

TOTAL REALISASI

15.9

17.7

18.0

21.1

34.5

Sumber

:

APBD Kabupaten Bone

Berdasarkan tabel di atas, PAD Kabupaten Bone bersumber dari: pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah

tabel di atas, PAD Kabupaten Bone bersumber dari: pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah
tabel di atas, PAD Kabupaten Bone bersumber dari: pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah

40

dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, serta lain- lain pendapatan asli daerah yang sah.

a. Pajak Daerah Pajak daerah memberikan kontribusi ketiga yaitu pada tahun 2003 ditargetkan sebesar Rp 3,6 M dan terealisasi sebesar Rp.3,7 M atau 102,7%, tahun 2004 ditargetkan sebesar Rp 4,5 M dan terealisasi sebesar Rp 3,7 M atau 82,2%. Selanjutnya, tahun 2005 pajak daerah ditargetkan sebesar Rp 4,6 M dan terealisasi sebesar Rp 4,6 M atau 100 %. Sedangkan tahun 2006 ditargetkan sebesar Rp 5,1 M terealisasi sebesar Rp 4,2 M atau 82,3%. Pajak daerah tahun 2007 ditargetkan sebesar Rp 5,3 M dan terealisasi sebesar Rp. 5,1 M atau 96,2%. Obyek-obyek pajak daerah adalah pajak hotel, restoran, hiburan, reklame, penerangan jalan, pengambilan bahan galian golongan C.

b. Retribusi Daerah Retribusi daerah memberikan kontribusi terbesar dalam PAD Kabupaten Bone. Sedangkan obyek-obyek retribusi adalah pelayanan kesehatan, persampahan, pergantian biaya cetak KTP dan akta catatan sipil, pelayanan parkir/pasar, pengujian kendaraan bermotor, jasa ketatausahaan, pemakaian kekayaan, jasa usaha tempat pelelangan ikan, terminal, jasa khusus parkir, rumah potong hewan, pelayanan pelabuhan kapal, tempat rekreasi, IMB, izin gangguan, izin trayek, hasil bumi dan laut, jasa konstruksi, jasa ketenagakerjaan, izin usaha perindustrian, perdagangan, pertambangan, izin pemeriksaan alat pemadam kebakaran, hasil pengadaan kekayaan daerah dari bagian laba Perusahaan Milik Daerah dan Bank Pembangunan Daerah (BPD). Pada tahun 2003 terealisasi Rp. 6,0 M, tahun 2004 terealisasi Rp. 11,0 M, pada tahun 2005 terealisasi Rp. 8,7 M,

(BPD). Pada tahun 2003 terealisasi Rp. 6,0 M, tahun 2004 terealisasi Rp. 11,0 M, pada tahun
(BPD). Pada tahun 2003 terealisasi Rp. 6,0 M, tahun 2004 terealisasi Rp. 11,0 M, pada tahun

41

tahun 2006 sebesar Rp. 11,7 M sedangkan tahun 2007 terealisasi Rp. 15,4 M.

c. Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil pengelolaan

kekayaan daerah yang dipisahkan Selanjutnya Bagian Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan memberikan kontribusi terkecil dalam PAD. Pada tahun 2003 sebesar Rp. 0,3

M atau 1,8%, Tahun 2004 sebesar Rp. 0,5 M atau 2,8%, Tahun

2005 sebesar Rp. 0,8 M atau 4,4%, tahun 2006 sebesar Rp. 1,0

M atau 5,6%, sedangkan pada Tahun 2007 sebesar Rp 1,2 M

yaitu 3,5%.

d. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Sedangkan yang memberikan kontribusi kedua terhadap

PAD adalah lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pada tahun 2003, telah memberikan kontribusi terhadap PAD sebesar Rp 5,9

M atau 37,1 %, pada tahun 2004 memberikan kontribusi sebesar

Rp. 2,5 M atau 14,1 %. Kontribusi pada tahun 2005 sebesar Rp.3,9 M atau 21,6%, tahun 2006 sebesar Rp 4,2 M atau 19,9 %, sedangkan Tahun 2007 sebesar Rp 12,8 M atau 37,1 %. Obyek- obyek Lain-lain PAD Yang sah diperoleh dari; hasil penjualan aset daerah, penerimaan jasa giro, tuntutan ganti rugi, sumbangan

pihak ketiga dan pendapatan dari pengembalian.

2. Dana Perimbangan Keuangan Dana perimbangan keuangan berasal dari; bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Bagi hasil pajak meliputi: pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, bagi hasil pajak penghasilan pasal 21, bagi hasil pajak penghasilan pasal 25/29,

perolehan hak atas tanah dan bangunan, bagi hasil pajak penghasilan pasal 21, bagi hasil pajak penghasilan
perolehan hak atas tanah dan bangunan, bagi hasil pajak penghasilan pasal 21, bagi hasil pajak penghasilan

42

sedangkan bagi hasil bukan pajak terdiri dari; Bagi hasil dari iuran hak pengusaha hutan, land-ret, iuran eksploitasi dan iuran eksplotasi (Royalti), dan Bagi Hasil dari Pungutan Hasil Perikanan. Dana perimbangan tahun 2003 ditargetkan sebesar Rp 281,1 M dan terealisasi sebesar Rp 285,8 M (101,6%). tahun 2004 ditargetkan sebesar Rp 301,7 M dan terealisasi sebesar Rp.310,0 M (102,7%). Selanjutnya, tahun 2005 ditargetkan perolehan dana perimbangan adalah sebesar Rp 325,9 M dan terealisasi sebesar Rp.320,1 M (98,2%). Dana perimbangan tahun 2006 ditargetkan sebesar Rp 516,9 M dan terealisasi sebesar Rp 514,4 M (99,5%) dan dana perimbangan tahun 2007 ditargetkan sebesar Rp. 595,6 M dan terealisasi Rp. 596,6 (100,1%). Perkembangan anggaran dan realisasi dana perimbangan Kabupaten Bone Tahun Anggaran 2003 sampai dengan 2007 dapat digambarkan pada Tabel 9 berikut ini :

Tabel 9 :

Target dan Realisasi Dana Perimbangan Kabupaten Bone Tahun 2003-2007

No.

Tahun

Target

Realisasi

Persentase

( Milyar )

( Milyar )

%

1

2003

281.1

285.8

101.7

2

2004

301.7

310.0

102.8

3

2005

325.9

320.1

98.2

4

2006

516.9

514.4

99.5

5

2007

595.6

596.6

100.2

Sumber: APBD Kabupaten Bone

Realisasi dana perimbangan Kabupaten Bone tiap tahunnya lebih besar jika dibandingkan dengan anggaran dana perimbangan. Realisasi dana perimbangan dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 jumlahnya semakin meningkat. Pada tahun 2003 realisasi dana perimbangan sebesar Rp 285,8 M menjadi Rp 310,0 M pada tahun

semakin meningkat. Pada tahun 2003 realisasi dana perimbangan sebesar Rp 285,8 M menjadi Rp 310,0 M
semakin meningkat. Pada tahun 2003 realisasi dana perimbangan sebesar Rp 285,8 M menjadi Rp 310,0 M

43

2004 atau mengalami kenaikan sebesar 8,4%. Pada tahun 2005 sebesar Rp 320,1 M. Jika dibandingkan dengan tahun 2004 terjadi kenaikan sebesar 3,2%. Pada tahun 2006, realisasi dana perimbangan Kabupaten Bone sebesar Rp 514,4 M. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi kenaikan sebesar 60,7%, sedangkan pada tahun 2007 sebesar Rp. 596,6 M, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi peningkatan sebesar 15,9%. Realisasi dana perimbangan dari tahun ke tahun relatif tidak tetap atau bervariasi. Selanjutnya kontribusi uraian dana perimbangan Kabupaten Bone dapat dilihat pada tabel 10 berikut:

Tabel 10 : Kontribusi Realisasi Terhadap Dana Perimbangan Kabupaten Bone Tahun 2003-2007 (Milyar)

No.

URAIAN

2003

2004

2005

2006

2007

1

Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil

20.7

34.1

29.1

35.7

44.5

 

Bukan Pajak

         

2

Dana Alokasi Umum (DAU)

257.0

265.7

276.7

446.4

494.2

3

Dana Alokasi Khusus (DAK)

8.1

10.2

14.3

32.3

57.9

 

Total Realisasi

285.8

310.0

320.1

514.4

596.6

Sumber : APBD Kabupaten Bone

Realisasi kontribusi dana perimbangan Kabupaten Bone secara berurut dari yang paling besar yaitu: Dana Alokasi Umum (DAU), bagi hasil pajak/ bagi hasil bukan pajak, dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

a. Dana Alokasi Umum Untuk Dana Alokasi Umum (DAU), pada tahun 2003 memberikan kontribusi terhadap dana perimbangan sebesar Rp.257,0 M (89,9%). Pada tahun 2004, memberikan kontribusi sebesar Rp.265,7 M (85,77%). Kontribusi pada tahun 2005 sebesar Rp. 276,7 M (86,4%). Pada tahun 2006, memberikan

sebesar Rp.265,7 M (85,77%). Kontribusi pada tahun 2005 sebesar Rp. 276,7 M (86,4%). Pada tahun 2006,
sebesar Rp.265,7 M (85,77%). Kontribusi pada tahun 2005 sebesar Rp. 276,7 M (86,4%). Pada tahun 2006,

44

kontribusi sebesar Rp. 446,4 M (86,7%), sedangkan pada tahun 2007, memberikan kontribusi sebesar Rp. 494,2 M (82,84%).

b. Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak

Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak memberikan kontribusi terbesar kedua dalam dana perimbangan. Pada tahun 2003, memberikan kontribusi terhadap dana perimbangan sebesar Rp20,7 M (7,2%). Pada tahun 2004 memberikan kontribusi sebesar Rp 34,1 M (11,0%). Kontribusi pada tahun

2005 sebesar Rp.29,1 M (9,1%). Pada tahun 2006, memberikan

kontribusi sebesar Rp.35,7 M (6,9%), sedangkan pada tahun

2007 memberikan kontribusi sebesar Rp 44,5 M (7,46%).

c. Dana Alokasi Khusus (DAK) Dana Alokasi Khusus (DAK) memberikan kontribusi ketiga dalam dana perimbangan. Pada tahun 2003 memberikan kontribusi terhadap dana perimbangan sebesar Rp. 8,1 M (2,8%). Kontribusi pada tahun 2004 sebesar Rp 10,2 M (3,3%), pada tahun 2005 memberikan kontribusi sebesar Rp. 14,3 M (4,5%), pada tahun 2006 memberikan kontribusi sebesar Rp. 32,3 M (6,3%), sedangkan pada tahun 2007 memberikan kontribusi sebesar Rp. 57,9 M (9,71%).

d. Dana Perimbangan Provinsi Sedangkan yang memberikan kontribusi keempat terhadap dana perimbangan adalah dana perimbangan provinsi. Pada tahun 2003, dana perimbangan provinsi memberikan kontribusi terhadap dana perimbangan sebesar Rp 6,0 M (2,1%). Pada tahun 2004 memberikan kontribusi sebesar Rp 6,2 M (2,0%). Kontribusi pada tahun 2005 sebesar Rp 9,9 M (3,1%). Pada tahun 2006, memberikan kontribusi sebesar Rp 17,0 M (3,3%),

Kontribusi pada tahun 2005 sebesar Rp 9,9 M (3,1%). Pada tahun 2006, memberikan kontribusi sebesar Rp
Kontribusi pada tahun 2005 sebesar Rp 9,9 M (3,1%). Pada tahun 2006, memberikan kontribusi sebesar Rp

45

sedangkan pada tahun 2007 mengalami perubahan dengan berlakunya Permendagri No. 13 Tahun 2006 tidak dialokasikan pada dana perimbangan dan dialokasikan pada lain-lain pendapatan daerah yang sah.

3. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Lain-lain pendapatan daerah yang sah memberikan kontribusi dalam pendapatan daerah. Pada tahun 2003 ditargetkan sebesar Rp.27,6 M dan terealisasi sebesar Rp 26,2 M (94,9%). Selanjutnya, tahun 2004 ditargetkan perolehan sebesar Rp 21,3 M dan terealisasi sebesar Rp. 22,0 M (103,2%). Tahun 2005 ditargetkan sebesar Rp.29,5 M dan terealisasi sebesar Rp 24,2 M (82,0%). Tahun 2006 ditargetkan sebesar Rp 40,0 M dan terealisasi sebesar Rp. 39,9 M (99,7%). Sedangkan pada tahun 2007 ditargetkan sebesar Rp.57,2 M dan realisasi sebesar Rp. 34,2 M (59,8%). Dari target dan realisasi lain-lain pendapatan daerah yang sah Kabupaten Bone Tahun Anggaran 2003 sampai dengan 2007 dapat digambarkan pada Tabel 11 berikut ini:

Tabel 11 : Target dan Realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Kabupaten Bone Tahun 2003-2007

   

Target ( Milyar )

Realisasi ( Milyar )

Persentase

No.

Tahun

%

1

2003

27.6

26.2

94.9

2

2004

21.3

22.0

103.3

3

2005

29.5

24.2

82.0

4

2006

40.0

39.9

99.8

5

2007

57.2

34.2

59.8

Sumber : APBD Kabupaten Bone

Anggaran dan realisasi lain-lain pendapatan daerah yang sah Kabupaten Bone dari tahun 2003 ke tahun 2004 menurun 16,0 %, sedangkan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 mengalami

Bone dari tahun 2003 ke tahun 2004 menurun 16,0 %, sedangkan dari tahun 2005 sampai dengan
Bone dari tahun 2003 ke tahun 2004 menurun 16,0 %, sedangkan dari tahun 2005 sampai dengan

46

kenaikan. Jumlah setiap tahunnya antara target dan realisasi, namun pada tahun 2007 terjadi perbedaan tetapi tidak terlalu signifikan. Selain dari empat sumber pendapatan yang telah diuraikan di atas, pendapatan daerah juga didorong oleh kontribusi sektor produk domestik regional bruto dalam perekonomian dan keuangan daerah. Peran sektor tersebut dikelompokkan menjadi 3 sektor pokok, yaitu kelompok sektor primer, sekunder dan tersier. Sektor primer yang mencakup sektor pertanian, sektor pertambangan dan Galian. Peranan kelompok sektor primer sangat memberikan kontribusi didaerah, peran kelompok sektor ini didominasi sektor pertanian yang memberikan kontribusi. Sektor Sekunder mencakup sektor industri pengolahan, sektor Listrik dan Air Bersih, dan sektor Bangunan. Kelompok sektor ini memberikan kontribusi terendah terhadap PDRB Kabupaten Bone. Peran kelompok sektor ini didominasi sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi daerah. Sektor tersier yang terdiri dari dari sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran; Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, Sektor Keuangan, Persewaan Bangunan dan Jasa Perusahaan, dan Sektor Jasa-Jasa. Kelompok sektor ini memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Bone yaitu. Peran sektor ini didominasi sektor Perdagangan, Hotel & Restoran yang memberikan kontribusi daerah.

4. Pengembangan Sumber Pendapatan Daerah Untuk mendukung pembelanjaan daerah dalam rangka pelaksanaan berbagai program dan kegiatan strategik, berbagai upaya telah dan akan terus diupayakan. Tidak saja untuk meningkatkan jumlah penerimaan dari berbagai sumber pendapatan yang selama ini menyumbangkan nilai yang tidak sedikit bagi APBD,

jumlah penerimaan dari berbagai sumber pendapatan yang selama ini menyumbangkan nilai yang tidak sedikit bagi APBD,
jumlah penerimaan dari berbagai sumber pendapatan yang selama ini menyumbangkan nilai yang tidak sedikit bagi APBD,

47

juga berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan sumber-sumber pendapatan baru. Secara umum, upaya peningkatan pendapatan daerah, lebih khusus diupayakan pada sumber PAD, mengingat controllability-nya yang tinggi dibanding sumber-sumber pendapatan yang lain. Upaya yang akan dilakukan meliputi sebagai berikut :

a. Program intensifikasi dan ekstensifikasi Program ini dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan rendahnya tingkat kesadaran dan kepatuhan wajib pajak yang berada di wilayah Kabupaten Bone. Indikator keberhasilan program ini adalah berupa peningkatan pendapatan daerah dari sektor Pajak Daerah dan PBB, untuk mendukung program tersebut akan dialokasikan dana dari tahun 2009 sampai dengan 2013 dalam APBD Kabupaten Bone.

b. Program Koordinasi/Sinkronisasi Lintas Sektoral Program ini dimaksudkan untuk mendukung program pertama dalam mendukung peningkatan pendapatan pajak daerah dari aspek pembangunan ekonomi. Program ini juga dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan atas rendahnya rasio elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap pertumbuhan pajak daerah. Indikator keberhasilan program ini adalah berupa peningkatan kegiatan pembangunan yang mendukung potensi pajak daerah.

c. Program Peningkatan Kualitas SDM Aparatur Program ini dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan atas keterbatasan kualitas sumber daya aparatur yang berhubungan dengan upaya penggalian dan pelayanan penerimaan pendapatan daerah. Indikator keberhasilan program ini adalah peningkatan kualitas SDM aparat dalam jangka

penerimaan pendapatan daerah. Indikator keberhasilan program ini adalah peningkatan kualitas SDM aparat dalam jangka 48
penerimaan pendapatan daerah. Indikator keberhasilan program ini adalah peningkatan kualitas SDM aparat dalam jangka 48

48

pengelolaan pajak yang relevan.

daerah

melalui penyelenggaraan pelatihan

B. ARAH PENGELOLAAN BELANJA DAERAH

Unsur belanja daerah terdiri dari belanja tidak langsung dan belanja langsung. Pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 masih menggunakan istilah belanja aparatur dan belanja pelayanan publik, pada tahun 2007 sampai sekarang menggunakan istilah belanja langsung dan belanja tidak langsung. Kontribusi realisasi belanja daerah untuk belanja aparatur/ belanja tidak langsung dan belanja pelayanan publik/ belanja langsung dapat digambarkan Tabel 12 sebagai berikut :

Tabel 12 :

Target dan Realisasi Belanja Daerah

Kabupaten Bone Tahun 2003-2007

No.

Tahun

Aparatur/ Belanja Tidak Langsung

Pelayanan Publik/ Belanja Langsung

Jumlah (Milyar)

Target

Realisasi

%

Target

Realisasi

%

Target

Realisasi

%

1

2003

225.4

219.3

97.3

138.2

107.7

77.9

363.7

327.1

89.9

2

2004

277.8

258.9

93.2

104.2

89.1

85.5

382.0

348.0

91.1

3

2005

154.6

147.4

95.3

249.7

221.1

88.5

404.4

368.6

91.1

4

2006

206.3

191.4

92.8

432.9

357.5

82.6

639.3

548.9

85.9

5

2007

371.2

353.4

95.2

437.1

355.3

81.3

808.4

708.7

87.7

Sumber

:APBD Kabupaten Bone

Berdasarkan tabel di atas, realisasi belanja daerah Kabupaten Bone pada tahun 2003 dan 2004 lebih banyak dikontribusikan untuk belanja aparatur/ belanja tidak langsung sedangkan pada tahun 2005 sampai dengan 2007 lebih banyak dikontribusikan untuk belanja pelayanan publik/ belanja langsung. Belanja aparatur/belanja tidak langsung mendapat kontribusi dari belanja daerah, pada tahun 2003 sebesar Rp 225,4 M (61,9%). Pada tahun 2004, mendapat kontribusi sebesar Rp 277,8 M (72,7%). Selanjutnya pada tahun 2005, belanja daerah memberikan kontribusi kepada belanja aparatur/belanja tidak

M (72,7%). Selanjutnya pada tahun 2005, belanja daerah memberikan kontribusi kepada belanja aparatur/belanja tidak 49
M (72,7%). Selanjutnya pada tahun 2005, belanja daerah memberikan kontribusi kepada belanja aparatur/belanja tidak 49

49

langsung sebesar Rp 154,6 M (38,2%). Pada tahun 2006, memberikan kontribusi sebesar Rp 206,3 M (32,2%). Sedangkan tahun 2007 memberikan kontribusi sebesar Rp. 371,2 M (45,92%). Sedangkan belanja pelayanan publik/ belanja langsung dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004 mendapat kontribusi yang menurun dari belanja daerah 138,2 M (38,0%) dan 104,2 M (27,2%). Pada tahun 2005, belanja pelayanan publik/belanja langsung mendapat kontribusi sebesar Rp 249,7 M atau 61,7% dari belanja daerah (67,7%). Pada tahun 2006 mendapat kontribusi sebesar Rp. 432,9 M. Selanjutnya pada tahun 2007, belanja daerah memberikan kontribusi kepada belanja publik sebesar Rp 437,1 M (54,07%).

1. Belanja Aparatur / Belanja Tidak Langsung Belanja aparatur dapat diuraikan: belanja administrasi umum, belanja operasional dan pemeliharaan, belanja modal. Belanja administrasi umum terdiri dari: belanja pegawai/personalia (pembayaran gaji, tunjangan-tunjangan, biaya perawatan dan pengobatan, pengembangan SDM), belanja barang dan jasa (pembayaran pokok hutang dan bunga/jasa bank, rekening listrik, air, telepon dan ongkos kantor lainnya), belanja perjalanan dinas (biaya dalam rangka melaksanakan tugas ke luar daerah), belanja pemeliharaan (membiayai pemeliharaan gedung dan kantor serta inventaris kantor). Pos-pos belanja operasi dan pemeliharaan sama dengan belanja administrasi umum, yaitu meliputi: belanja pegawai/personalia (pembayaran honorarium/upah, uang lembur dan insentif), belanja barang dan jasa(belanja bahan/material, biaya jasa pihak ke tiga, biaya cetak dan penggandaan, biaya sewa, biaya makan dan minum, dan biaya pakaian kerja), belanja perjalanan dinas (biaya perjalanan dalam rangka pelaksanaan program), belanja

minum, dan biaya pakaian kerja), belanja perjalanan dinas (biaya perjalanan dalam rangka pelaksanaan program), belanja 50
minum, dan biaya pakaian kerja), belanja perjalanan dinas (biaya perjalanan dalam rangka pelaksanaan program), belanja 50

50

pemeliharaan (membiayai peningkatan masa manfaat sarana dan

prasarana dalam rangka pelayanan kepada masyarakat).

Belanja tidak langsung/belanja aparatur daerah tahun 2003

ditargetkan sebesar Rp. 225,4 M dan terealisasi Rp. 219,3 M (97,3),

tahun 2004 ditargetkan Rp 277,8 M dan terealisasi sebesar Rp 258,9

M (93,2%). Selanjutnya, tahun 2005 ditargetkan belanja

aparatur/belanja langsung adalah Rp. 154,6 M dan terealisasi

sebesar Rp. 147,4 M (95,3%). Belanja aparatur/belanja tidak

langsung tahun 2006 ditargetkan sebesar Rp. 206,3 M dan terealisasi

sebesar Rp 191,4 M (92,7%). Belanja aparatur/belanja tidak

langsung daerah tahun 2007 ditargetkan Rp 371,2 M dan terealisasi

sebesar Rp. 353,4 M (95,2%). Perkembangan realisasi Belanja

Aparatur/ Belanja Tidak Langsung Kabupaten Bone Tahun 2003-

2007 dapat digambarkan pada Tabel 13 berikut ini :

Tabel 13 : Kontribusi Realisasi Belanja Tidak Langsung Kabupaten Bone 2003-2007 (Milyar)

NO.

URAIAN

2003

2004

2005

2006

2007

 

Belanja Tidak Langsung

219,3

258,9

147,4

191,4

353,4

1

Belanja Administrasi Umum

204,3

240,2

123,6

140,3

-

2

Belanja Bagi Hasil dan

14,8

16,2

21,0

49,9

-

 

Bantuan Keuangan

         

3

Belanja Tidak Tersangka

0,2

2,5

2,8

1,2

-

Sumber : APBD Kabupaten Bone

Berdasarkan tabel di atas, realisasi belanja aparatur/ belanja

tidak langsung Kabupaten Bone dikontribusikan secara berurut dari

yang paling besar yaitu: belanja administrasi umum, Belanja Bagi

Hasil dan Bantuan Keuangan dan Belanja Tidak Tersangka.

paling besar yaitu: belanja administrasi umum, Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan dan Belanja Tidak Tersangka.
paling besar yaitu: belanja administrasi umum, Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan dan Belanja Tidak Tersangka.

51

a. Belanja Administrasi Umum Belanja administrasi umum, pada tahun 2003 dikontribusikan sebesar Rp. 204,3 M (93,16%) tahun 2004 dikontribusikan sebesar Rp. 240,2 M (92,78%), tahun 2005 dikontribusikan sebesar Rp. 123,6 M (83,86%), tahun 2006 sebesar Rp. 140,3 M (73,31%) sedangkan tahun 2007 dikontribusikan sebesar Rp. 353,4 M dirubah istilah belanja tidak langsung yaitu penggabungan belanja administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan serta belanja modal.

b. Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan Belanja bagi hasil dan bantuan keuangan, pada tahun 2003 dikontribusikan sebesar Rp 14,8 M (6,75%). Sedangkan pada tahun 2004, dikontribusikan sebesar Rp 16,2 M (6,26%). Di tahun 2005, dikontribusikan sebesar Rp 21,0 M (14,2%), tahun 2006 di kontribusikan Rp. 49,9 M (26,0%) sedangkan tahun 2007 digabung pada belanja tidak langsung.

c. Belanja Tidak Tersangka Belanja tidak tersangka pada tahun 2003 mendapat kontribusi sebesar Rp 0,2 M (0,10%). Pada tahun 2004, mendapat kontribusi sebesar Rp 2,5 M (0,97%). Di tahun 2005, mendapatkan kontribusi sebesar Rp 2,8 M (1,9%), tahun 2006 mendapat kontribusi sebesar Rp.1,2 M (0,6%) sedangkan pada tahun 2007 digabung pada belanja tidak langsung.

2. Belanja Pelayanan Publik/ Belanja Langsung Belanja Pelayanan Publik yang diuraikan ke belanja administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan, serta belanja modal. Belanja administrasi umum terdiri dari: belanja pegawai/personalia (pembayaran gaji, tunjangan-tunjangan, biaya

modal. Belanja administrasi umum terdiri dari: belanja pegawai/personalia (pembayaran gaji, tunjangan-tunjangan, biaya 52
modal. Belanja administrasi umum terdiri dari: belanja pegawai/personalia (pembayaran gaji, tunjangan-tunjangan, biaya 52

52

perawatan dan pengobatan, pengembangan SDM), belanja barang dan jasa (pembayaran rekening listrik, air, telepon dan ongkos kantor lainnya), belanja perjalanan dinas (biaya dalam rangka melaksanakan tugas dalam daerah ke luar daerah), belanja pemeliharaan (membiayai pemeliharaan sarana dan prasarana gedung dan kantor serta inventaris kantor). Pos-pos belanja operasi dan pemeliharaan sama dengan belanja administrasi umum, yaitu meliputi: belanja pegawai/personalia (pembayaran honorarium/upah, uang lembur dan insentif), belanja barang dan jasa (belanja bahan/material, biaya jasa pihak III, biaya cetak dan penggandaan, biaya sewa, biaya makan dan minum, dan biaya pakaian kerja), belanja perjalanan dinas (biaya perjalanan dalam rangka pelaksanaan program), belanja pemeliharaan (membiayai peningkatan masa manfaat sarana dan prasarana dalam rangka pelayanan kepada masyarakat). Belanja bagi hasil berupa bagi hasil retribusi kepada pemerintah desa. Sedangkan bantuan keuangan digunakan untuk bantuan keuangan kepada pemerintah desa, organisasi kemasyarakatan dan organisasi profesi. Belanja tidak tersangka digunakan untuk penanganan bencana alam, bencana sosial dan pengeluaran lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah daerah, yaitu penyediaan sarana prasarana yang berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat yang anggarannya tidak tersedia dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Belanja pelayanan publik/belanja tidak langsung tahun 2003 ditargetkan sebesar Rp. 138,2 M dan terealisasi sebesar Rp 107,7 M (77,9%). Tahun 2004 ditargetkan sebesar Rp 104,2 M dan terealisasi sebesar Rp 89,1 M (85,5%). Selanjutnya, tahun 2005 ditargetkan pengeluaran belanja publik daerah adalah sebesar Rp 249,7 M dan terealisasi sebesar Rp. 221,1 M (88,5%). Belanja publik daerah tahun

publik daerah adalah sebesar Rp 249,7 M dan terealisasi sebesar Rp. 221,1 M (88,5%). Belanja publik
publik daerah adalah sebesar Rp 249,7 M dan terealisasi sebesar Rp. 221,1 M (88,5%). Belanja publik

53

2006 ditargetkan sebesar Rp 432,9 M dan terealisasi sebesar

Rp.357,5 M (82,5%). Belanja publik tahun 2007 ditargetkan sebesar Rp 437,1 M dan terealisir sebesar Rp 355,3 M (81,2%) yang sebutannya dirubah menjadi belanja langsung. Sedangkan perkembangan realisasi belanja pelayanan publik pada tahun 2003 sampai dengan 2006 diuraikan belanja administrasi, belanja operasi dan pemeliharaan, serta belanja modal, sedangkan pada tahun 2007 diganti istilah belanja langsung, dan kontribusi realisasi belanja pelayanan publik dapat diuraikan pada tabel 14 berikut ini :

Tabel 14 : Kontribusi Realisasi Belanja Pelayanan Publik Kabupaten Bone Tahun 2003-2007 (Milyar)

NO.

URAIAN

2003

2004

2005

2006

2007

 

Belanja Langsung

107,7

89,1

221,1

357,5

355,3

1

Belanja Administrasi Umum

6,3

-

120,9

158,6

-

2

Belanja Operasional dan Pemeliharaan

29,5

28,7

37,8

93,8

-

3

Belanja Modal

71,9

60,4

62,4

105,1

-

Sumber : APBD Kabupaten Bone

Berdasarkan tabel di atas realisasi belanja pelayanan publik/ belanja langsung Kabupaten Bone dikontribusikan secara berurut dari yang paling besar yaitu: belanja administrasi umum, belanja modal, belanja operasi dan pemeliharaan, belanja bagi hasil dan bantuan keuangan, serta belanja tidak tersangka. Namun pada tahun

2007 dirubah istilah belanja pelayanan publik menjadi belanja

langsung yang diuraikan belanja pegawai, belanja barang dan jasa

serta belanja modal.

a. Belanja Administrasi Umum

administrasi

2003

dikontribusikan sebesar Rp 6,3 M (5,8%) dari belanja publik.

Belanja

umum,

pada

tahun

Umum administrasi 2003 dikontribusikan sebesar Rp 6,3 M (5,8%) dari belanja publik. Belanja umum, pada tahun
Umum administrasi 2003 dikontribusikan sebesar Rp 6,3 M (5,8%) dari belanja publik. Belanja umum, pada tahun

54

Sedangkan pada tahun 2004 tidak dialokasikan, pada tahun 2005 dikontribusikan Rp. 120,9 M (54,6%) dari belanja publik. Di tahun 2006 dikontribusikan sebesar Rp.158,6 M (44,3%), sedangkan tahun 2007 dikontribusikan sebesar Rp. 355,3 M yang sekaligus dirubah menjadi belanja langsung.

b. Belanja Modal Belanja modal pada tahun 2003 mendapat kontribusi dari belanja publik sebesar Rp 71,9 M (66,7%) dari belanja publik, pada tahun 2004, mendapat kontribusi sebesar Rp 60,4 M (67,7%). Di tahun 2005, belanja modal ini mendapat kontribusi sebesar Rp 62,4 M (28,2%). Pada tahun 2006 mendapat kontribusi sebesar Rp. 105,1 M (29,4%) sedangkan tahun 2007 mendapat kontribusi sebesar Rp.355,3 M dirubah istilah belanja langsung.

c. Belanja Operasi dan Pemeliharaan Pada tahun 2003, belanja operasi dan pemeliharaan mendapat kontribusi dari belanja publik sebesar Rp 29,5 M (27,3%). Sedangkan pada tahun 2004, mendapat kontribusi Rp.28,7 M (32,2%). Di tahun 2005, mendapat kontribusi sebesar Rp.37,8 M (17,1%), tahun 2006 mendapat kontribusi sebesar Rp.93,8 M (26,2%) sedangkan tahun 2007 mendapat kontribusi 355,3 M dan dirubah istilah belanja langsung.

C. ARAH PEMBIAYAAN

Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan

diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan 55
diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan 55

55

surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman, dan hasil divestasi. Sementara, pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah dan sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu termasuk dalam struktur pembiayaan.

D. KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN

1. Pendapatan Daerah Pendapatan daerah tahun 2009-2013 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 16,32%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan pada komponen PAD dan komponen Dana Perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Pertumbuhan Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Hasil Perusahaan Daerah akan menjadi faktor yang penting dalam mendorong pertumbuhan PAD lima tahun mendatang. Sedangkan pertumbuhan ekonomi adalah unsur yang cukup penting dalam mendorong pertumbuhan Dana Perimbangan yang akan diperoleh. Khusus untuk lain-lain pendapatan yang sah, bagi hasil dari Pemerintah Provinsi berperan penting sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam mendukung pendanaan berbagai program dan kegiatan. Bagi hasil dari Pemerintah Provinsi ini antara lain Pajak

Kendaraan Bermotor/ Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PKB/BBNKB), Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) dan lain-lain. Pendapatan dari Bagi Hasil dengan Pemerintah Provinsi ini sangat terkait dengan aktifitas ekonomi daerah. Untuk itu Pemerintah Daerah dapat berperan dalam memberikan insentif dan dorongan aktifitas perekonomian daerah. Proyeksi pendapatan Kabupaten Bone dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dapat dijabarkan pada tabel 15 berikut :

Proyeksi pendapatan Kabupaten Bone dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dapat dijabarkan pada tabel 15
Proyeksi pendapatan Kabupaten Bone dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dapat dijabarkan pada tabel 15

56

Tabel 15 : Proyeksi Pendapatan Kabupaten Bone Tahun 2009-2013 (Milyar)

No.

Uraian

2009

2010

2011

2012

2013

1

Pendapatan Asli Daerah

77,0

99,8

122,6

145,4

168,2

2

Dana Perimbangan

808,3

972,5

1.136,7

1.300,9

1.465,1

3

Lain-lain Pendapatan Yang Sah

36,2

39,9

43,6

47,3

51,0

 

Total

921,5

1.112,2

1.302,9

1.493,6

1.684,3

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Realisasi PAD dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 16 seperti berikut:

Tabel 16

: Realisasi PAD Kabuapten Bone Tahun 2003-2007 (Milyar)

     

T a h u n

 

No.

Uraian

2003

2004

2005

 

2006

 

2007

1

Pajak Daerah

 

3,7

 

3,7

 

4,6

 

4,2

 

5,1

2

Retribusi Daerah

 

6,0

 

11,0

 

8,7

 

11,7

 

15,4

3

Hasil Perusahaan Milik Daerah

 

0,3

 

0,5

 

0,8

 

1,0

 

1,2

4

Lain-lain PAD yang Sah

 

5,9

 

2,5

 

3,9

 

4,2

 

12,8

 

Total

  Total 15,9 17,7 18,0 21,1 34,5

15,9

  Total 15,9 17,7 18,0 21,1 34,5

17,7

  Total 15,9 17,7 18,0 21,1 34,5

18,0

  Total 15,9 17,7 18,0 21,1 34,5

21,1

  Total 15,9 17,7 18,0 21,1 34,5

34,5

34,5

Sumber : APBD Kabupaten Bone

Atas dasar realisasi di atas, maka proyeksi anggaran PAD Kabupaten Bone tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 17 sebagai berikut :

Tabel 17 : Proyeksi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tahun 2009 2013 (miliyar)

No.

Uraian

2009

2010

2011

2012

2013

1

Pajak Daerah

5,8

6,3

6,8

7,3

7,8

2

Retribusi Daerah

22,0

27,4

32,8

38,2

43,6

3

Hasil Perusahaan Milik Daerah

2,3

3,0

3,7

4,4

5,1

4

Lain-lain PAD yang Sah

46,9

63,1

79,3

95,5

111,7

 

Total

77,0

99,8

122,6

145,4

168,2

PAD yang Sah 46,9 63,1 79,3 95,5 111,7   Total 77,0 99,8 122,6 145,4 168,2 57
PAD yang Sah 46,9 63,1 79,3 95,5 111,7   Total 77,0 99,8 122,6 145,4 168,2 57

57

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa rata-rata pertumbuhan PAD per tahun sebesar 24%. Perkiraan pertumbuhan PAD setiap tahun tersebut diperoleh dari perkiraan pertumbuhan

masing-masing bagian dari PAD, yaitu: Pajak daerah, Retribusi daerah, Hasil BUMD dan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain PAD. Dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) seringkali menimbulkan permasalahan dengan masyarakat khususnya para pengusaha. Kebijakan ekstensifikasi pajak dan retribusi atau penetapan tarif yang terlalu tinggi seringkali dikeluhkan menghambat pertumbuhan sektor rill. Untuk itu perlu dikembangkan terobosan baru untuk meningkatkan PAD, yaitu dengan :

a. Perbaikan Manajemen Dengan perbaikan manajemen diharapkan mampu merealisasikan setiap potensi menjadi pendapatan daerah. Manajemen yang profesional dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan perbaikan serta penyederhaan system dan prosedur.

b. Peningkatan Investasi Peningkatan investasi dapat didorong dengan membangun iklim usaha kondusif. Hal ini dapat dicapai dengan menjaga stabilitas ekonomi daerah, menyederhanakan prosedur perijinan, mempertegas peraturan-kebijakan agar tidak tumpang tindih baik antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota maupun antar sektor, meningkatkan kepastian hukum terhadap usaha, menyehatkan iklim ketenagakerjaan sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja, meningkatkan keamanan dan ketertiban, meniadakan tumpang tindih pemungutan dan menyederhanakan prosedurnya.

kerja, meningkatkan keamanan dan ketertiban, meniadakan tumpang tindih pemungutan dan menyederhanakan prosedurnya. 58
kerja, meningkatkan keamanan dan ketertiban, meniadakan tumpang tindih pemungutan dan menyederhanakan prosedurnya. 58

58

c. Optimalisasi Aset Daerah Peningkatan PAD juga dapat diraih dengan meningkatkan penggunaan aset daerah. Optimalisasi aset dapat dicapai dengan perbaikan administrasi aset. Optimalisasi aset juga dapat dilaksanakan bekerjasama dengan swasta. Selain itu hal diperlukan juga perbaikan manajemen BUMD, selain itu upaya tersebut perlu didukung rencana untuk membentuk badan usaha baru.

Dana Perimbangan Realisasi dana perimbangan dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 18 berikut:

Tabel 18 : Realisasi Dana Perimbangan Kabupaten Bone Tahun 2003 - 2007 (Milyar)

No.

URAIAN

 

T A H U N

2003

2004

2005

2006

2007

1

Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil

20,7

34,1

29,0

35,7

44,5

 

Bukan Pajak

         

2

Dana Alokasi Umum (DAU)

257,0

265,7

276,7

446,4

494,2

3

Dana Alokasi Khusus (DAK)

8,1

10,2

14,3

32,3

57,9

Atas dasar realisasi di atas, maka proyeksi dana perimbangan tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 terlihat pada Tabel 19 berikut

Tabel 19 : Proyeksi Dana Perimbangan Kabupaten Bone Tahun 2009 - 2013 (Milyar)

No.

URAIAN

 

T A H U N

2009

2010

2011

2012

2013

1

Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil

55,0

65,8

76,6

87,4

98,2

 

Bukan Pajak

         

2

Dana Alokasi Umum (DAU)

634,3

739,6

844,9

950,2

1.055,5

3

Dana Alokasi Khusus (DAK)

119,0

167,1

215,2

263,3

311,4

 

TOTAL

808,3

972,5

1.136,7

1.300,9

1.465,1

(DAK) 119,0 167,1 215,2 263,3 311,4   TOTAL 808,3 972,5 1.136,7 1.300,9 1.465,1 59
(DAK) 119,0 167,1 215,2 263,3 311,4   TOTAL 808,3 972,5 1.136,7 1.300,9 1.465,1 59

59

Berdasarkan tabel 19 di atas dapat diketahui bahwa rata-rata pertumbuhan dana pembangunan setiap tahun tersebut diperoleh dari perkiraan pertumbuhan masing-masing bagian dari dana perimbangan yaitu: Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana Perimbangan dan Bagi Hasil yang berasal dari DAU perlu dikelola dengan sebaik-baiknya, meskipun relatif sulit untuk memperkirakan jumlah realisasinya karena tergantung pada pemerintah pusat. Sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK) juga dapat diupayakan peningkatannya melalui penyusunan program-program unggulan yang dapat diajukan untuk dibiayai dengan dana DAK. Bagi hasil pajak propinsi dan pusat dapat diupayakan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Pendapatan bagi hasil sangat terkait dengan aktifitas perekonomian daerah. Dengan semakin meningkatnya aktifitas ekonomi akan berkorelasi dengan naiknya pendapatan yang berasal dari bagi hasil. Pemerintah Daerah harus mendorong meningkatnya aktifitas perekonomian.

Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

Realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 dapat dilihat pada tabel 20 berikut :

Tabel 20 : Realisasi Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Kabupaten Bone Tahun 2003 - 2007 (Milyar)

URAIAN

T A H U N

2003

2004

2005

2006

2007

Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

26,2

22,0

24,2

39,9

34,2

URAIAN T A H U N 2003 2004 2005 2006 2007 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah
URAIAN T A H U N 2003 2004 2005 2006 2007 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

60

Atas dasar realisasi di atas, maka proyeksi Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah tahun 2009 sampai dengan 2013 terlihat pada tabel 21 berikut :

Tabel 21 : Proyeksi Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Kabupaten Bone Tahun 2003 - 2007 (Milyar)

URAIAN

T A H U N

2009

2010

2011

2012

2013

Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

36,2

39,9

43,6

47,3

51,0

2. Belanja Daerah

Kebijakan umum belanja daerah diarahkan pada peningkatan efesiensi, efektifitas, transparansi, akuntabilitas dan pendapatan prioritas alokasi anggaran. Selain itu, kebijakan belanja daerah juga diarahkan untuk mencapai visi dan misi yang tetapkan dalam rangka memperbaiki kualitas dan kuantitas pelayana publik. Secara spesifik, efesiensi dan efektifitas belanja harus meliputi pos-pos belanja. Belanja daerah dikelompokkan ke dalam Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung yang masing-masing kelompok dirinci ke dalam jenis belanja. Untuk Belanja Tidak Langsung, jenis belanjanya terdiri atas Belanja Pegawai, Belanja Bunga, Belanja Subsidi, Belanja Hibah, Belanja Bantuan Keuangan, Belanja Bantuan Sosial, Belanja Bagi Hasil, dan Belanja Tidak Terduga. Sementara itu, untuk Belanja Langsung, jenis belanjanya terdiri atas Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, serta Belanja Modal.

a. Belanja Tidak Langsung Untuk tahun anggaran 2007, pemerintah menetapkan menaikkan gaji PNS sebesar 15%. Kemungkinan dalam lima

Tidak Langsung Untuk tahun anggaran 2007, pemerintah menetapkan menaikkan gaji PNS sebesar 15%. Kemungkinan dalam lima
Tidak Langsung Untuk tahun anggaran 2007, pemerintah menetapkan menaikkan gaji PNS sebesar 15%. Kemungkinan dalam lima

61

tahun ke depan pemerintah akan menaikkan gaji pegawai negeri sipil, sehingga selama lima tahun mendatang diperkirakan Belanja Tidak Langsung akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan terutama untuk biaya gaji tetap. Kenaikan gaji pegawai negeri sipil tersebut dibiayai oleh sumber pendapatan DAU. Dengan demikian kenaikan gaji pegawai diharapkan dapat diikuti oleh kenaikan DAU. Belanja yang signifikan pada kelompok belanja tidak langsung adalah belanja bantuan sosial. Alokasi bantuan sosial diarahkan kepada masyarakat dan berbagai organisasi baik profesi maupun kemasyarakatan. Tujuan alokasi belanja bantuan sosial adalah sebagai manifestasi pemerintah dalam memberdayakan masyarakat. Mekanisme anggaran yang dilaksanakan adalah bersifat block grant, artinya masyarakat dapat merencanakan sendiri sesuai dengan kebutuhan, dengan tidak keluar dari koridor peraturan yang belaku. Selain itu, komitmen Pemerintah Kabupaten Bone untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan kesehatan juga berimplikasi pada meningkatnya belanja subsidi pendidikan dan kesehatan yang juga akan berpengaruh pada peningkatan Belanja Tidak Langsung dalam lima tahun ke depan.

b. Belanja Langsung Belanja Lansung adalah belanja pemerintah daerah yang berhubungan langsung dengan program dan kegiatan. Program dan kegiatan yang diusulkan pada belanja lansung disesuaikan dengan Kebijkaan Umum APBD, Prioritas dan Plafon Anggaran, dan Rencana Strategis Satuan Perangkat Kerja Daerah. Belanja Langsung terdiri atas Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, serta Belanja Modal. Belanja Pegawai dalam Belanja Langsung ini berbeda dengan Belanja Pegawai pada Belanja Tidak

Jasa, serta Belanja Modal. Belanja Pegawai dalam Belanja Langsung ini berbeda dengan Belanja Pegawai pada Belanja
Jasa, serta Belanja Modal. Belanja Pegawai dalam Belanja Langsung ini berbeda dengan Belanja Pegawai pada Belanja

62

Langsung, Belanja Pegawai pada Belanja Langsung antara lain untuk Honorarium, Uang Lembur, Belanja Beasiswa Pendidikan, dan Belanja Kursus. Smentara itu, Belanja Langsung untuk jangka waktu lima tahun ke depan diarahkan pada pencapaian visi dan misi Kabupaten Bone, antara lain untuk peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan, kesehatan, pengurangan kemiskinan, eksplorasi potensi pariwisata serta perbaikan infrastruktur untuk peningkatan pelayanan jasa. Besarnya dana yang dikelarkan untuk masing-masing kegiatan juga diperkirakan akan meningkat. Sementara itu, khusus untuk Belanja Modal, pengeluaran belanja modal pada lima tahun mendatang diprioritaskan untuk membangun sarana dan prasarana yang mendukung tercapainya visi Kabupaten Bone, yaitu pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, sarana dan prasarana pariwisata serta perbaikan infrastruktur yang mendorong pertumbuhan pelayanan jasa. Kebijakan belanja daerah sampai dengan 2013 diperkirakan akan didominasi oleh Belanja Tidak Langsung sekitar 57%, sedangkan untuk Belanja Langsung diperkirakan berkisar 43%. Dilihat dari sisi pertumbuhannya, komponen belanja daerah tahun 2009-2013 (Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung) diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14,3 %. Secara lengkap gambaran tentang proyeksi belanja daerah Kabupaten Bone tahun 2009-2013 sebagaimana ditunjukkan pada diagram berikut:

gambaran tentang proyeksi belanja daerah Kabupaten Bone tahun 2009-2013 sebagaimana ditunjukkan pada diagram berikut: 63
gambaran tentang proyeksi belanja daerah Kabupaten Bone tahun 2009-2013 sebagaimana ditunjukkan pada diagram berikut: 63

63

PROYEKSI BELANJA DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013

(Milyar Rupiah)

DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2013 (Milyar Rupiah) Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah
Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah 2009 2010 2011 2012 2013 522,9 618,5
Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Belanja Daerah 2009 2010 2011 2012 2013 522,9 618,5

Belanja Tidak Langsung

Belanja Langsung

Belanja DaerahBelanja Tidak Langsung Belanja Langsung

2009

2010

2011

2012

2013

522,9

618,5

714,1

809,7

905,3

410,7

479,2

547,7

616,2

684,7

933,6

1.097,7

1.261,8

1.425,9

1.590,0

809,7 905,3 410,7 479,2 547,7 616,2 684,7 933,6 1.097,7 1.261,8 1.425,9 1.590,0
809,7 905,3 410,7 479,2 547,7 616,2 684,7 933,6 1.097,7 1.261,8 1.425,9 1.590,0
809,7 905,3 410,7 479,2 547,7 616,2 684,7 933,6 1.097,7 1.261,8 1.425,9 1.590,0
809,7 905,3 410,7 479,2 547,7 616,2 684,7 933,6 1.097,7 1.261,8 1.425,9 1.590,0
809,7 905,3 410,7 479,2 547,7 616,2 684,7 933,6 1.097,7 1.261,8 1.425,9 1.590,0

3. Pembiayaan Daerah Dengan diberlakukannya anggaran kinerja, maka dalam penyusunan APBD dimung kinkan adanya defisit maupun surplus. Defisit terjadi ketika pendapatan lebih kecil dibandingkan dengan belanja, sedangkan surplus terjadi ketika pendapatan lebih besar dibandingkan belanja. Untuk menutup defisit dan surplus diperlukan pembiayaan daerah. Berdasarkan proyeksi APBD Tahun 2009-2013. Pembiayaan defisit anggaran antara lain bersumber dari pinjaman daerah, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran, dana cadangan dan penjualan aset. Kemampuan pinjaman daerah dapat diperoleh dengan menghitung nilai DSCR dengan cara membandingkan antara jumlah pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan biaya lainnya setiap tahun anggaran.

pinjaman dan pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan biaya lainnya setiap tahun anggaran. 64
pinjaman dan pendapatan daerah terhadap seluruh besaran kewajiban pinjaman dan biaya lainnya setiap tahun anggaran. 64

64

Untuk meningkatkan efektifitas pinjaman daerah, pinjaman harus direncanakan secara hati-hati. Selain disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah pinjaman yang dibuat harus tetap sasaran. Alokasi pinjaman daerah selain memberikan pemasukan kepada PAD juga diharapkan mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dengan berkembangnya sektor perdagangan dan jasa. Selanjutnya untuk pengeluaran pembiayaan diprioritaskan pada pengeluaran yang bersifat wajib, antara lain untuk pembayaran hutang pokok yang telah jatuh tempo. Setelah pengeluaran wajib terpenuhi, maka pengeluaran pembiayaan diarahkan untuk penyataan modal kepada BUMD yang berorientasi keuntungan dan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dengan penyertaan modal yang dilakukan diharapkan dapat mengasilkan bagi hasil laba yang dapat meningkatkan pendapatan daerah sekaligus kinerja lembaga yang mendapat tambahan modal dalam melayani masyarakat dapat meningkat. Untuk lebih memperjelas proyeksi APBD tahun 2009-2013 dapat dilihat pada tabel berikut :

masyarakat dapat meningkat. Untuk lebih memperjelas proyeksi APBD tahun 2009-2013 dapat dilihat pada tabel berikut :
masyarakat dapat meningkat. Untuk lebih memperjelas proyeksi APBD tahun 2009-2013 dapat dilihat pada tabel berikut :

65

Tabel 22. Proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bone Tahun 2009-2013 ( Milyar Rupiah )

U R A I

A N

2009

2010

2011

2012

2013

PENDAPATAN DAERAH

889,8

1.048,7

1.207,6

1.366,5

1.525,4

PENDAPATAN ASLI DAERAH

67,0

79,8

92,6

105,4

118,2

DANA PERIMBANGAN

786,6

929,0

1.071,4

1.213,8

1.356,2

LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH

36,2

39,9

43,6

47,3

51,0

BELANJA DAERAH

933,6

1.097,7

1.261,8

1.425,9

1.590,0

BELANJA TIDAK LANGSUNG

522,9

618,5

714,1

809,7

905,3

BELANJA LANGSUNG

410,7

479,2

547,7

616,2

684,7

SURPLUS / (DEFISIT)

(43,8)

(49,0)

(54,2)

(59,4)

(64,6)

PEMBIAYAAN DAERAH

-

-

-

-

-

PENERIMAAN PEMBIAYAAN

-

-

-

-

-

PENGELUARAN PEMBIAYAAN

-

-

-

-

-

Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA)

(43,8)

(49,0)

(54,2)

(59,4)

(64,6)

- - Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA) (43,8) (49,0) (54,2) (59,4) (64,6) 66
- - Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA) (43,8) (49,0) (54,2) (59,4) (64,6) 66

66

BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS

Dalam penyelenggaraan pembangunan daerah, pemerintah senantiasa diperhadapkan dengan permasalahan utama yaitu keterbatasan dana pembangunan. Oleh karena itu, diperlukan suatu perencanaan yang terfokus pada bidang-bidang pembangunan yang bersifat strategis yaitu membangun sebagian dari seluruh bidang yang ada, tetapi benar-benar dapat memberikan manfaat yang meluas bagi kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Untuk itu pengelola pemerintahan seharusnya memiliki kompetensi analisis yaitu kemampuan menganalisa kebenaran dari berbagai kondisi dan multi faktor yang berpengaruh dalam daerah, untuk menentukan alternatif pilihan dan faktor kunci yang dapat memunculkan strategi unggulan, dalam upaya mewujudkan Visi dan Misi pembangunan daerah yang telah ditetapkan. Analisis Lingkungan Strategis merupakan suatu pendekatan ilmiah yang berdasarkan fakta dan data untuk menganalisa keadaan atau kondisi yang ada dan terjadi dalam daerah yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran pemerintah.

A. FAKTOR LINGKUNGAN INTERNAL Identifikasi faktor lingkungan internal dilakukan untuk menguraikan faktor faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan Kabupaten Bone. Faktor kekuatan adalah situasi dan kondisi internal yang bersifat positif, yang memungkinkan organisasi pemerintah Kabupaten Bone memiliki kemampuan dan keunggulan strategis dalam mencapai tujuannya, sedangkan kelemahan merupakan situasi dan kondisi

memiliki kemampuan dan keunggulan strategis dalam mencapai tujuannya, sedangkan kelemahan merupakan situasi dan kondisi 67
memiliki kemampuan dan keunggulan strategis dalam mencapai tujuannya, sedangkan kelemahan merupakan situasi dan kondisi 67

67

ketidakmampuan internal yang pencapaian tujuan dan sasaran. 1. Kekuatan

mengakibatkan

kegagalan dalam

a. Letak geografis Kabupaten Bone yang strategis sebagai jalur penghubung Propinsi Sulsel dengan Sultra

b. Potensi perangkat daerah Kabupaten Bone yang dapat mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan

c. Hubungan baik antar Pemerintah (Pusat, Propinsi, kabupaten dan kota) yang memungkinkan terciptanya jejaring (network) yang kuat.

d. Tersedianya pranata (hukum dan peraturan) yang menjamin dan mengatur berbagai aktivitas pembangunan.

e. Tersedianya Potensi sumberdaya (manusia, metode, alam dan buatan) yang memadai

f. Tersedianya infrastruktur yang relatif memadai

g. Potensi lembaga kemasyarakatan yang solid dan partisipatif

h. Tersedia beberapa potensi komoditas unggulan

i. Tersedianya prasarana, sarana sosial, budaya dan ekonomi yang memadai

j. Transparansi dan akuntabilitas publik mulai terimplementasi dengan baik 2. Kelemahan

a. Terbatasnya kemampuan daerah untuk mendanai pembangunan.

b. Pranata hukum dan peraturan yang ada belum terimplentasi dengan baik.

c. Belum optimalnya koordinasi lintas sektoral

d. Rendahnya kemampuan masyarakat dalam berwirausaha dan melihat peluang yang tersedia.

e. Belum optimalnya pendayagunaan potensi ekonomi lokal

dalam berwirausaha dan melihat peluang yang tersedia. e. Belum optimalnya pendayagunaan potensi ekonomi lokal 68
dalam berwirausaha dan melihat peluang yang tersedia. e. Belum optimalnya pendayagunaan potensi ekonomi lokal 68

68

f. Lemahnya penguasaan pasar lokal, regional dan internasional

g. Kurangnya kesempatan dan peluang kerja

h. Kurangnya profesionalisme dan proporsi aparatur Pemerintah Daerah

i. Belum diterapkannya e-government

j. Kurangnya penelitian tentang pengembangan potensi daerah.

k. Masih kurangnya data dan informasi tentang potensi investasi.

B. FAKTOR LINGKUNGAN EKSTERNAL

Faktor lingkungan eksternal menggambarkan peluang dan tantangan. Peluang merupakan faktor yang menyatakan situasi dan kondisi positif yang berada di luar kendali oraganisasi pemerintah daerah yang dapat mendukung tercapainya tujuan dan sasaran,

sedangkan

yang dapat

menyebabkan kegagalan. 3. Peluang

faktor tantangan adalah situasi dan kondisi

a. Peluang Kabupaten Bone untuk menjadi Pusat Pelayanan Jasa dan Perdagangan di Kawasan Timur Sulsel .

b. Meningkatnya peran aktif masyarakat.

c. Jejaring (network) yang cukup solid antara lembaga pemerintah, dan stakeholder.

d. Hubungan yang harmonis antara legislatif dan eksekutif .

e. Terbukanya peran aktif swasta (dunia usaha)

f. Terbukanya peran aktif lembaga pendidikan

g. Meningkatnya kerjasama regional

h. Terwujudnya etika dan moralitas baru yang positif

i. Kemajuan teknologi dan komunikasi.

j. Kondisi politik, keamanan, ketertiban daerah yang relatif stabil.

yang positif i. Kemajuan teknologi dan komunikasi. j. Kondisi politik, keamanan, ketertiban daerah yang relatif stabil.
yang positif i. Kemajuan teknologi dan komunikasi. j. Kondisi politik, keamanan, ketertiban daerah yang relatif stabil.

69

4. Tantangan

a. Potensi dan daya saing daerah tetangga.

b. Perubahan geopolitik

c. Krisis ekonomi yang berkelanjutan dan menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya pengangguran

d. Rendahnya supremasi hukum

e. Semakin tingginya biaya pendidikan dan kesehatan

f. Merebaknya NAPZA dan penyakit masyarakat lainnya.

hukum e. Semakin tingginya biaya pendidikan dan kesehatan f. Merebaknya NAPZA dan penyakit masyarakat lainnya. 70
hukum e. Semakin tingginya biaya pendidikan dan kesehatan f. Merebaknya NAPZA dan penyakit masyarakat lainnya. 70

70

   

KEKUATAN

 

KELEMAHAN

1.

Letak geografis Kabupaten Bone yang strategis sebagai jalur penghubung Propinsi Sulsel dengan Sultra

Potensi aparatur pemerintah Kabupaten Bone yang dapat mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan

Hubungan baik antar Pemerintah (Pusat, Propinsi, kabupaten dan kota) yang memungkinkan terciptanya jejaring (network) yang kuat.

1. Terbatasnya kemampuan daerah untuk mendanai pembangunan.

2.

2. Pranata hukum yang ada belum terimplentasi dan tersosialisai dengan baik.

3. Belum optimalnya koordinasi lintas sektoral

3.

4. Rendahnya kemampuan masyarakat dalam berwirausaha dan melihat peluang yang tersedia.

5. Belum optimalnya pendayagunaan potensi ekonomi lokal

4.

Tersedianya pranata (hukum) yang menjamin dan mengatur berbagai aktivitas pembangunan.

6. Lemahnya penguasaan pasar lokal, regional dan internasional

ANALISIS

5.

Tersedianya Potensi sumberdaya (manusia, metode, alam dan buatan) yang memadai

7. Kurangnya kesempatan dan peluang kerja bagi masyarakat.

FAKTOR

EKSTERNAL

6.

Tersedianya infrastruktur yang relatif memadai

8. Kurangnya profesionalisme dan proporsi aparatur Pemerintah Daerah

7.

Potensi lembaga kemasyarakatan yang solid dan partisipatif

9. Belum diterapkannya e-government

8.

Tersedia beberapa potensi komoditas unggulan

10.Kurangnya

penelitian tentang pengembangan

9.

Tersedianya prasarana, saran sosial, budaya dan ekonomi yang memadai

potensi daerah. 11. Masih kurangnya data dan informasi tentang potensi investasi

10.

Transparansi dan akuntabilitas publik mulai terimplementasi dengan baik

11.

 
potensi investasi 10. Transparansi dan akuntabilitas publik mulai terimplementasi dengan baik 11.   71
potensi investasi 10. Transparansi dan akuntabilitas publik mulai terimplementasi dengan baik 11.   71

71

PELUANG

Strategi Peluang +Kekuatan

Strategi Peluang +Kelemahan

1. Peluang Kabupaten Bone untuk menjadi Pusat Pelayanan Jasa dan Perdagangan di kawasan

1. Tingkatkan sarana dan prasarana yang ada serta ciptakan iklim yang kondusif agar Kabupaten Bone dapat menjadi Pusat Pelayanan Jasa dan perdagangan di Kawasan Timur Sulsel.

1. Tingkatkan jejaring(network) antar lembaga pemerintah, lembaga masyarakat dan swasta melalui peningkatan koordinasi lintas sektoral secara optimal.

Timur Sulsel .

2. Meningkatnya peran aktif masyarakat.

2. Tingkatkan kerjasama yang harmonis antara legislatif dan eksekutif dengan dukungan hubungan baik antara pemerintah ( pusat dan propinsi ).

2. Optimalkan koordinasi lintas sektoral guna mendukung kerjasama regional, nasional dan internasional.

3. Jejaring ( network) yang cukup solid antara lembaga pemerintah, dan stakeholder.

3. Ciptakan kerjasama regional dengan dukungan hubungan baik pemerintah ( pusat, propinsi , kabupaten dan kota ).

3. Manfaatkan etika moral yang baik dalam meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat.

4. Terjalinnya Hubungan kerjasama antara legislatif dan eksekutif .

5. Terbukanya peran aktif swasta (dunia usaha)

6. Terbukanya peran aktif lembaga pendidikan

4. Fasilitasi peran aktif masyarakat dan swasta dalam

pembangunan melalui peran aparatur pemerintah yang profesional.

5. Wujudkan aparatur pemerintah yang profesional dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat dan menjalin kerjasama regional, nasional dan internasional.

4. Tingkatkan kemampuan dan daya saing masyarakat melalui jalinan kerjasama regional dan nasional.

5. Kembangkan ekonomi lokal secara optimal melalui peningkatan peran serta masyarakat, swasta dan lembaga pendidikan.

6. Tingkatkan penguasaan pasar lokal, regional dan

7. Meningkatnya kerjasama regional dan nasional

6. Tingkatkan peran aparatur pemerintah pemerintah dalam mewujudkan etika dan moralitas baru.

internasional melalui peran aktf masyarakat dan swasta . 7. Tingkatkan jejaring bisnis melalui peran aktif

8. Terwujudnya etika dan moralitas baru yang positif

7. Manfaatkan sumber daya ( manusia, alam, metode dan buatan) yang tersedia dalam meningkatkan peran aktif masyarakat dan swasta .

8. Manfaatkan dukungan pihak swasta dalam rangka pemberdayaan masyarakat.

masyarakat dan swasta guna mendukung kerjasama regional maupun internasional.

9. Kemajuan teknologi dan komunikasi.

8. Tingkatkan profesionalisme dan proporsi aparatur pemerintah daerah dalam mendukung kerjasama regional dan internasional

10.Kondisi politik, keamanan,

9. Tingkatkan sarana dan prasarana sosial ,budaya, dan

9. Manfaatkan teknologi dan informasi dalam mendukung penerapan e- government guna

ketertiban daerah yang relatif stabil

ekonomi yang ada guna meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

10. Manfaatkan kelembagaan masyarakat yang ada guna mendukung peningkatan daya saing, kemandirian dan kesejahteraan .

11. Kembangkan komoditas unggulan melalui peran aktif masyarakat dan swasta agar dapat menjadi komoditas ekspor yang berkualitas.

mewujudkan manajemen pemerintahan daerah yang solid dan profesional.

10. Tingkatkan penelitian tentang potensi daerah dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan potensi yang ada untuk peningkatan kemajuan daerah dan

peningkatan kesejahteraan masyarakat.

11. Tingkatkan ketersediaan dan akurasi data dan

kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 11. Tingkatkan ketersediaan dan akurasi data dan 72
kemajuan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 11. Tingkatkan ketersediaan dan akurasi data dan 72

72

 

12. Wujudkan akuntabilitas dan transparansi pemerintah daerah menuju tata kepemerintahan yang baik dalam rangka menumbuhkan kepercayaan dan mendapatkan dukungan dari masyarakat dan swasta.

informasi tentang potensi investasi untuk menarik minat investor melakukan investasi di Kabupaten Bone agar dapat meningkatkan perekonomian daerah dan membuka peluang kerja bagi masyarakat.

13. Tingkatkan dan pelihara stabilitas politik, keamanan dan ketertiban dalam daerah guna mendukung terlaksananya aktivitas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

14. Manfaatkan kemajuan teknologi dan informasi guna mendukung pemberdayaan masyarakat dan upaya peningkatan pendapatan masyarakat.

 

TANTANGAN

Strategi Kekuatan + Tantangan

Strategi Kelemahan + Tantangan

1. Terjadinya Persaingan regional.

   

2. Perubahan geopolitik dan kondisi dinamika sosial politik yang berpengaruh terhadap stabilitas keamanan daerah.

3. Krisis ekonomi yang berkelanjutan dan menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya pengangguran

1. Manfaatkan hubungan yang baik antar pemerintah dalam rangka menghadapi persaingan regional.

2. Manfaatkan hubungan baik antar pemerintah dalam mengahadapi perubahan geopolitik.

3. Tingkatkan peran dan kemampuan aparatur pemerintah dalam menghadapi persaingan regional dan perubahan kondisi dinamika politik.

4. Tingkatkan kemampuan SDM masyarakat agar dapat menghadapi krisis ekonomi yang berkelanjutan dan dapat meningkatkan daya beli.

1. Optimalkan potensi sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan dana pembangunan daerah.

2. Tingkatkan kemampuan apratur pemerintah dalam melakukan koordinasi lintas sektoral untuk menhadapi persaingan regional.

3. Tingkatkan profesionalisme baparatur pemerintah untuk menghadapi perubahan geopolitik dan dinamika sosial politik.

4. Tingkatkan keberdayaan masyarakat dalam

4. Rendahnya supremasi hukum

5. Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat agar memiliki kemampuan untuk berwirausaha dalam rangka mengurangi pengangguran.

6. Tingkatkan kinerja lembaga masyarakat melalui pembinaan oleh aparatur pemerintah dalam rangka

5. Semakin tingginya biaya pendidikan dan kesehatan

6. Merebaknya NAPZA dan penyakit

menghadapi persaingan regional dan perubahan geopolitik.

5. Tingkatkan sosialisasi hukum untuk mewujudkan supremasi hukum.

6. Sosialisasikan dan tegakkan aturan tentang hukum

Tingkatkan sosialisasi hukum untuk mewujudkan supremasi hukum. 6. Sosialisasikan dan tegakkan aturan tentang hukum 73
Tingkatkan sosialisasi hukum untuk mewujudkan supremasi hukum. 6. Sosialisasikan dan tegakkan aturan tentang hukum 73

73

masyarakat lainnya.

penguatan dan pengembangan ekonomi lokal.

dan penyakit masyarakat lainnya.

7. Manfaatkan sumberdaya yang ada guna menghadapi persaingan regional dan perubahan geopolitik.

7. Manfaatkan potensi ekonomi lokal secara optimal untuk menghadapi persaingan regional.

8. Tingkatkan peran aparatur pemerintah dalam mengatasi tingginya biaya pendidikan dan kesehatan.

8. Tingkatkan kemampuan penguasaan pasar dalam menghadapi persaingan global.

9. Manfaatkan dukungan pihak swasta dan lembaga masyarakat dalam mengatasi tingginya biaya pendidikan dan kesehatan.

10. Manfaatkan dukungan pihak swasta untuk menghadapi persaingan regional.

9. Tingkatkan peran pemerintah dan swasta dalam menciptakan jejaring bisnis yang kuat dan luas.