Anda di halaman 1dari 31

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU DENGAN RIWAYAT INFERTIL PRIMER TUJUH TAHUN

ABSTRAK

Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri. Salah satu faktor resiko kahamilan ektopik adalah infertilias. Infertilitas primer adalah ketidakmampuan seorang wanita untuk hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Sebuah kasus pada seorang pasien G1PoA0 25 tahun, G1P0A0, 32 tahun, kiriman RSU Sukoharjo dengan keterangan kehamilan intra tuba. Pasien tidak mengetahui bahwa dirinya hamil. Pasien merasakan nyeri pada perut sebelah kanan bawah yang menjalar sampai dengan punggung. riwayat fertilitas jelek, riwayat obstetrik belum dapat dinilai. Pada pemeriksaan fisik dan penunjang menunjukkan adanya kehamilan ektopik terganggu dengan riwayat infertil primer 7 tahun. Direncanakan untuk malakukan laparotomi eksplorasi emergency. Keadaan umum pasien diperbaiki dengan pemberian tindakan resussitasi cairan _________________________________________________________________ Kata kunci : kehamilan ektopik terganggu, riwayat infertile primer

BAB I PENDAHULUAN

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik merupakan salah satu bentuk komplikasi kehamilan dalam trimester pertama dan merupakan problema besar kesehatan pada golongan wanita usia reproduksi yang sering dijumpai dalam dunia medis. Insiden kehamilan ektopik pada populasi umum 1 dalam 200, tetapi pada populasi yang beresiko tinggi insidennya meningkat menjadi 1 dalam 30 kehamilan. Risiko kematian akibat kehamilan diluar uterus 10 kali lebih besar daripada persalinan pervaginam. Prognosis untuk terjadinya kehamilan

berikutnya yang berhasil akan mengalami penurunan pada wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik, terutama pada primigravida dan berusia di atas 30 tahun. Maka sangat diperlukan pemahaman yang jelas mengenai faktor-faktor yang turut menjadi penyebab terjadinya kehamilan ektopik dan mengenai cara yang efektif untuk menegakkan diagnosis kelainan tersebut lebih dini. Sehingga dengan diagnosis yang lebih dini, baik kelangsungan hidup maternal maupun penyelamatan fungsi reproduksinya dapat ditingkatkan. Insiden kehamilan ektopik mengalami peningkatan pada kasusinfertilitas. Infertilitas primer merupakan ketidakmampuan untuk menjadi hamil pada seorang wanita yang aktif secara seksual dengan tanpa menggunakan kontrasepsi dalam waktu lebih dari satu tahun. Kondisi infertilitas pada satu pasangan harus dilihat sebagai masalah bersama antara suami istri, sehingga pemeriksaan dilakukan pada kedua belah pihak. Prognosis terjadinya kehamilan bergantung pada umur dan keadaan suami atau istri, frekuensi senggama dan lamanya perkawinan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I.

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU (KET) A. DEFINISI Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri.1 Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan ektopik yang mengalami gangguan, dapat berupa abortus atau ruptur tuba, dan hal ini dapat berbahaya bagi wanita tersebut.2

B. KLASIFIKASI Menurut lokasinya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan, yaitu: 1. Tuba Fallopii (95-98% dari seluruh KET), yaitu pada pars interstisialis (2%), istmus (25%), ampula (55%), infudibulum (1%) dan fimbria (17%). 2. Uterus, yaitu pada kanalis servikalis (<1%), divertikulum, kornu (1-2%) dan tanduk rudimenter. 3. Ovaruium (<1%) 4. Intraligamenter 5. Abdominal (1-2%) 6. Kehamilan ektopik kombinasi (combined ectopic pregnancy).3

C. ETIOLOGI Sebagian besar etiologi kehamilan ektopik tidak diketahui, tetapi ada beberapa factor yang mempengaruhi peningkatan angka kejadian terjadinya kehamilan ektopik. Tiap kehamilan ektopik dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba, dan dalam perjalanan ke uterus mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba, atau nidasinya di tuba dipermudah. Faktor-faktor penyebabnya adalah: 1. Faktor uterus:

a. Tumor rahim yang menekan tuba b. Uterus hipoplastis 2. Faktor Tuba a. Faktor dalam lumen; lumen tuba menyempit karena endosalphingitis atau operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna. Pada hipoplasia uteri, lumen sempit dan berlekuk-lekuk, sering disertai gangguan silia endosalping. b. Faktor dinding tuba; endometriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba, divertikel tuba congenital atau ostium assesorius dapat menahan telur yang dibuahi di tempat itu. c. Faktor di luar dinding tuba; perlengketan perituba dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan telur atau akibat tumor yang menekan dinding tuba. 3. Faktor Ovum a. Migrasi eksterna ovum, yaitu perjalanan ovum dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya, dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus, pertumbuhan telur yang terlalu cepat menyebabkan prematuritas. b. Fertilisasi in vitro.4 Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor risiko yang berperan dalam kejadian kehamilan ektopik, antara lain: 1. Penyakit radang panggul (Pelvic Infflammatory Disease) 2. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya 3. Riwayat pembedahan tuba ataupun sterilisasi 4. Riwayat endometriosis 5. Riwayat akseptor IUD 6. Riwayat penggunaan obat untuk induksi ovulasi

D. DIAGNOSIS

Pada kehamilan ektopik belum terganggu kadang menimbulkan kesulitan diagnosis karena biasanya penderita menyampaikan keluhan yang tidak khas. Gejala-gejala yang perlu diperhatikan adalah: a. Nyeri abdomen, merupakan keluhan utama pada KET. Rasa nyeri pada perut bagian bawah, mungkin unilateral atau bilateral atau pada seluruh abdomen dan abdomen bagian atas. Dengan adanya hemiperitoneum, rasa nyeri akibat iritasi diafragma bisa dialami pasien. Rasa nyeri diperkirakan disebabkan oleh darah yang mengalir ke kavum peritonei.6 b. Perdarahan; gangguan kehamilan sedikit saja sudah dapat menimbulkan perdarahan yang berasal dari uterus. Perdarahan dapat berlangsung kontinyu dan biasanya berwarna hitam. Selama fungsi endokrin plasenta masih bertahan, perdarahan uterus biasanya tidak ditemukan, tetapi bila dukungan endokrin dari endometrium sudah tidak memadai lagi, mukosa uterus akan mengalami perdarahan. Perdarahan tersebut biasanya sedikitsedikit, berwarna coklat gelap dan dapat terputus-putus atau terusmenerus. Meskipun perdarahan vaginal yang massif lebih menunjukkan kemungkinan abortus inkompletus intrauteri daripada kehamilan ektopik, tetapi perdarahan semacam ini bisa terjadi pada kehamilan tuba. c. Adanya Amenorea, amenorea sering ditemukan walau hanya pendek sebelum diikuti perdarahan, malah kadang-kadang tidak ditemukan amenorea. Tidak ada riwayat haid yang terlambat bukan berarti kemungkinan kehamilan tuba dapat disingkirkan. Salah satu sebabnya adalah karena pasien menganggap perdarahan pervaginam sebagai periode menstruasi yang normal, dengan demikian memberikan tanggal haid yang keliru. d. Keadaan Umum, tergantung dari banyaknya darah yang keluar dari tuba, keadaan umum ialah kurang lebih normal sampai gawat dengan syok berat dan anemia. Hb dan hematokrit perlu diperiksa pada dugaan KET.1 e. Perut, pada abortus tuba terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah di sisi uterus. Hematokel retrouterina dapat ditemukan. Pada ruptur tuba perut menegang dan nyeri tekan, dapat ditemukan cairan bebas dalam rongga

peritoneum. Tanda Cullen dapat terlihat di sekitar pusat atau linea alba terlihat biru hitam dan lebam. Pada pemeriksaan dalam didapatkan kavum douglas menonjol karena darah yang terkumpul di tempat tersebut. Baik pada abortus tuba maupun ruptur bila serviks digerakkan akan terasa nyeri sekali (slinger pain). Douglas crise: nyeri pada penekanan kavum douglas.3

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Infeksi pelvik 2. Tumor ovarium yang mengalami torsi pecah atau terinfeksi dengan atau tanpa kehamilan 3. Abortus imminens 4. Appendisitis akut

F. Penatalaksanaan 1. Terapi Radikal Tindakan ini dilakukan dengan tujuan mengutamakan keselamatan jiwa pasien dan tidak terlalu mengutamakan kemampuan reproduksi kembali dikemudian hari. Umumnya dilakukan pada pasien dengan gejala yang berat dan secara hemodinamik keadaannya tidak stabil. a. Mengatasi kegawatan (emergency treatment) Perdarahan internal secara masive dapat mengakibatkan syok. 1) Infus plasme ekspander atau larutan NaCl 2) Transfusi darah (WB) b. Menghentikan treatment) Laparotomi eksplorasi, diikuti dengan Kehamilan dalam saluran telur : salpingektomi Kehamilan servikal dan interstisial atau kornual : histerektomi Kehamilan di ovarium : ooforektomi perdarahan dengan menutup robekan (surgical

c. Membantu penyembuhan (supportive treatment)

1) Antibiotik 2) Antianemia 3) Vitamin dan mineral 4) Diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP)

2. Terapi Konservative Terapi ini mengutamakan pemeliharaan kemampuan atau keselamatan fertilitas dengan memelihara keutuhan saluran telur atau tempat kehamilan ektopik yang berada. a. Konservative bedah Konservative bedah dilakukan dengan laparoskopi dilanjutkan dengan salpingotomi linear dan pengangkatan dilakukan dengan cunam kecil atau suction.

b. Konservative medik Indikasi terapi konservative adalah : 1) Kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah 2) Diameter kantong gestasi 4 cm 3) Perdarahan dalam rongga perut < 100 ml 4) Tanda vital baik dan stabil 5) Tidak ada kegiatan jantung fetus 6) Kadar tertinggi -hCG < 15.000 mIU/ml 7) Harus ada informed consent dan mampu mengikuti follow up. Konservative medik dilakukan dengan Methrotexate (MTX) dengan cara pemberian MTX 1mg/kgBB IM dan citovorum factor 0,1

mg/kgBB IM bergantian pada hari 1, 3, 5, dan 7. Suntikan MTX diberikan sampai kadar -hCG serum turun 15% atau lebih dalam 48 jam atau telah diberikan 4 dosis. Monitoring kadar -hCG serum tiap minggu hingga tidak terdeteksi lagi.

G. Prognosis Prognosis lebih baik bagi pasien yang terpilih untuk mendapat terapi konservatif. Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dan ketersediaan darah yang cukup. Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral sebagian wanita menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik atau dapat mengalami kehamilan ektopik di tuba sisi lain.

II.

INFERTILITAS A. Definisi 1. Infertilitas Primer Ketidakmampuan seorang wanita untuk hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. 2. Infertilitas Sekunder Seorang wanita pernah mengalami hamil, tetapi kemudian tidak terjadi lagi kehamilan walaupun bersenggama dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan.

B. Diagnosis 1. Syarat Pemeriksaan Pasangan Infertil a. Istri yang berusia 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapatkan anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila : 1) Pernah mengalami keguguran berulang 2) Diketahui mengidap kelainan endokrin 3) Pernah mengalami infeksi rongga panggul ataupun rongga perut 4) Pernah mengalami bedah ginekologik b. Istri yang berusia 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter.

c. Istri pasangan infertil yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas kalau belum memiliki anak dari perkawinan ini. d. Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan pasangan atau anaknya.

2. Pemeriksaan masalah infertilitas a. Pemeriksaan air mani 1) Karateristik air mani 2) Pemeriksaan mikroskopik 3) Uji ketidakcocokan imunologik b. Pemeriksaan vagina Pemeriksaan ini untuk mengetahui masalah vagina yang berhubungan dengan kemampuan menyampaikan air mani ke dalam vagina sekitar serviks yaitu sumbatan (psikogen atau anatomik) atau peradangan. c. Pemeriksaan serviks Pemeriksaan iini untuk mengetahui sumbatan kanalis servikalis, lendir serviks yang abnormal dan malposisi dari servik 1) Uji pascasenggama 2) Uji invitro : uji gelas obyek dan uji kontak air mani dengan lendir serviks d. Pemeriksaan uterus 1) Biopsi endometrium : menilai perubahan endometrium sebagai cermin dari pengaruh hormon-hormon ovarium 2) Histeriosalpingografi 3) Histeroskopi e. Pemeriksaan tuba Pemeriksaan ini dilakukan dengan uji Rubin bertujuan memeriksa

patensi tuba dengan jalan meniupkan gas CO2 melalui kanula atau kateter Foley yang dipasang pada kanalis servikalis.

f. Pemeriksaan ovarium Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi masalah ovulasi yang dapat diketahui dengan beberapa pemeriksaan, yaitu : 1) Perubahan lendir serviks 2) Catatan suhu basal badan 3) Sitologi vagina hormonal 4) Pemeriksaan hormonal Folicel Stimulating Hormone (FSH) Luteinizing Hormone (LH) Estrogen serum : < 10 g / 24 jam tidak ada aktivitas ovarium >15 g / 24 adanya aktivitas folikular ovarium Progesteron plasma : terjadinya ovulasi akan diikuti oleh peningkatan nanogram/ml progesteron. atau Progesteron urin plasma 2 10 jam pregnandiol mg/24

menunjukkan bahwa ovulasi telah terjadi. g. Pemeriksaan peritoneum Pemeriksaan dilakukan dengan laparoskopi diagnostik.

3. Rencana dan jadwal pemeriksaan


Siklus haid Hari siklus haid Kunjungan ke dokter Wawancara Analisis mani Lab. Rutin Periksa dalam Nasehat senggama Konsultasi urologi Suhu basal badan Uji lendir servik Pertama 14 21 28 Kedua 14 21 Ketiga 14 21

28

28

10

Uji pascasenggama Sitologi vagina Biopsi endometrium Pertubasi Histerosalphingo grafi Laparoskopi/ histeroskopi

E. Penanganan Infertilitas Penanganan masalah infertilitas disesuaikan dengan penyebabnya, berikut adalah beberapa penanganan infertilitas berdasarkan penyebabnya : 1. Air mani yang abnormal maka penanganannya adalah dengan penyesuaian coitus dengan masa subur istri 2. Bila terdapat varikokele ataupun sumbatan vas deferens, penanganannya dengan tindakan bedah 3. 4. Infeksi genitalia diatasi dengan pemberian antibiotik Defisiensi gonadotropin dilakukan pengobatan hormonal dengan

pemberian HCG dan FSH untuk merangsang spermatogenesis 5. Hiperprolaktinemia diatasi dengan pemberian dopamin agonis 2-bromoalfa-ergo-kriptin 6. 7. Adanya Mioma uteri, dilakukan myomektomi . Tuba yang tersumbat, dicari dulu penyebabnya apabila penyebabnya adalah infeksi, maka sumber infeksi harus dihilangkan dulu dengan antibiotik, bila perlu dilakukan pembedahan. 8. Endometriosis, terapinya: Menunggu sampai terjadi kehamilan spontan, pengobatan hormonal dengan pil Kb yang berkhasiat progestasional seperti noretinodrel 5 mg + mestranol 75 mcg ataupun tindakan pembedahan. 9. Induksi ovulasi dengan klomifen sitrat

F. Prognosis Prognosis terjadinya kehamilan bergantung pada :

11

1. Umur suami : fertilitas maksimala pria dicapai pada umur 24-25 2. Umur istri : fertilitas maksimal wanita dicapai pada umur 24 tahun. 3. Frekuensi senggama 4. Lamanya perkawinan

12

BAB III STATUS PENDERITA

A.

ANAMNESIS Tanggal 25 April 2011 jam 15.20 WIB 1. Identitas Penderita Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Agama Pendidikan Alamat Status Perkawinan HPMT HPL UK Tanggal Masuk No.CM Berat badan Tinggi Badan : Ny. S : 32 tahun : Perempuan : Swasta : Islam : SD : Kedungwinong, RT 03/02, Nguter, Sukoharjo : Kawin 1 kali dengan suami 7 tahun : 15 Maret 2011 : 22 Desember 2011 : 7+2minggu : 25 April 2011 : 01063161 : 55 Kg : 153 cm

2. Keluhan Utama Nyeri perut sebelah kanan bawah.

3. Riwayat Penyakit Sekarang Datang seorang G1P0A0, 32 tahun, kiriman RSU Sukoharjo dengan keterangan kehamilan intra tuba. Pasien tidak mengetahui bahwa dirinya hamil. Pasien merasakan nyeri pada perut sebelah kanan bawah yang menjalar sampai dengan punggung, perdarahan jalan lahir (+), tidak mrongkol-mrongkol, BAB & BAK dalam batas normal. Kemudian

13

pasien memeriksakan diri ke RSU Sukoharjo kemudian diberi infus RL 20 tpm dan injeksi ampicillin 1gr/8jam. Kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Moewardi.

4. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat sesak nafas Riwayat Hipertensi Riwayat Penyakit Jantung Riwayat DM Riwayat Asma Riwayat Alergi Obat/makanan Riwayat Minum Obat Selama Hamil Riwayat operasi : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Mondok Riwayat Hipertensi Riwayat Penyakit Jantung Riwayat DM Riwayat Asma Riwayat Alergi Obat/makanan : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal

6. Riwayat Fertilitas Jelek.

7. Riwayat Obstetri Belum dapat dievaluasi (Kehamilan pertama : sekarang)

8. Riwayat Ante Natal Care (ANC)

14

Belum pernah periksa.

9. Riwayat Haid Menarche Lama menstruasi Siklus menstruasi : 13 tahun : 6-7 hari : 28-30 hari

10. Riwayat Perkawinan Menikah 1 kali, selama 7 tahun, saat pasien berumur 25 tahun.

11. Riwayat Keluarga Berencana (-)

B.

PEMERIKSAAN FISIK 1. Status Interna Keadaan Umum : Baik, CM, Gizi cukup Tanda Vital Tensi Nadi : : 100/70 mmHg : 90 x / menit : 36,8 0C : Mesocephal : Conjuctiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-) : Tonsil tidak membesar, Pharinx hiperemis (-) : Pembesaran kelenjar tiroid (-) :

Respiratory Rate : 20 x/menit Suhu Kepala Mata THT Leher Thorax Cor : Inspeksi Palpasi Perkusi : IC tidak tampak : IC tidak kuat angkat : Batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler,bising (-)

15

Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi : Pengembangan dada ka = ki : Fremitus raba dada ka = ki : Sonor/Sonor

Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), Ronki basah kasar (-/-)

Abdomen: Inspeksi Palpasi Perkusi : Dinding perut > dinding dada : Supel, NT (+) bagian kanan bawah, massa (-), Mc

burney sign (-), rebound tenderness (+) : Tympani pada bawah processus xiphoideus, redup pada

daerah uterus Auskultasi : Peristaltik (+) menurun Genital Ekstremitas : Lendir darah (+), air ketuban (-) : Oedema -

Akral dingin -

2. Status Obstetri Pemeriksaan Dalam : a. Inspekulo Vulva / uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio utuh, OUE tertutup, darah (+), discharge (-), cavum Douglasi menonjol.

b. VT

16

Vulva / uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio lunak, OUE tertutup, corpus uteri sebesar telur bebek, Slinger pain (+), cavum Douglasi menonjol.

C.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Laboratorium Darah tanggal 25 April 2011 : Hemoglobin Hematokrit Antal Eritrosit Antal Leukosit Antal Trombosit Golongan Darah GDS Ureum Creatinin Na+ K+ Ion klorida HbS Ag PP Test PT APTT : 9 gr/dl : 2,88 % : 26,4 x 103/uL : 6,7 x 103/uL : 335 x 103/uL :B : 112 mg/dL : 13 mg/dL : 0,6 mg/dL : 141 mmol/L : 3,3 mmol/L : 107 mmol/L : negatif : positif : 13,7 detik : 32 detik

2.

Ultrasonografi (USG) tanggal 25 April 2011 : Vesica urinaria terisi cukup, tampak uterus ukuran 8x6x3 cm3, endometrium line (+), tampak gambaran hipoekhoik di adnexa kanan berbatas tegas, kesan gestational sact ukuran 2,5cm, tidak tampak fetal pole, tampak gambaran hematokel retrouterin. Kesimpulan : menyokong kehamilan ekstra uterin dengan umur kehamilan 7+2 minggu.

17

III.

ANEMIA PADA KEHAMILAN Baik di negara maju maupun negara berkembang, seseorang disebut menderita anemia bila kadar Hb kurang dari 10 gr%, jika kurang dari 6 gr% maka disebut anemia gravis. Wanita yang tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54%. Itu juga berlaku untuk wanita yang hamil, terutama yang mendapatkan pengawasan selama kehamilan. Dalam kehamilan, jumlah darah bertambah

(hyperemia/hipervolemia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Perbandingan perambahannya yaitu plasma darah bertambah 30%; sel-sel darah bertambah 18%; dan hemoglobin bertambah 19%. Secara fisiologis, pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung. Penyebab anemia umumnya adalah: 1. Kurang gizi (malnutrisi) 2. Kurang zat besi dalam diet 3. Malabsorpsi 4. Kehilangan darah yang banyak 5. Penyakit kronik seperti TBC, malaria, cacingan, dll. Pengaruh anemia terhadap kehamilan, persalinan dan nifas yaitu anemia dapat menyebabkan keguguran, partus prematurus, inersia uteri dan partus lama akibat ibu lemah, atonia uteri, syok, afibrinogenemia dan hipofibrinogenemia, infeksi intrapartum dan dalam nifas dan bila terjadi anemia gravis dapat menimbulkan payah jantung yang bias berakibat fatal. Sedangkan pengaruh anemia terhadap hasil konsepsi yaitu mengakibatkan kematian pada janin selama dalam kandungan ataupun mati waktu lahir, prematuritas dan menyebabkan cacat bawaan.

18

G1P0A0, 32 tahun, UK

7+2

minggu, riwayat fertilitas jelek, riwayat

obstetrik kehamilan pertama, Vulva / uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio utuh, OUE tertutup, darah (+), discharge (-), cavum Douglasi menonjol, Corpus uteri sebesar telur bebek, Slinger pain (+),

IV.

DIAGNOSA AWAL Kehamilan ektopik terganggu dengan infertile primer 7 tahun.

V.

PROGNOSA Buruk

VI.

TERAPI a. Usul laparotomi eksplorasi emergency b. Konsul anestesi c. KIE keluarga

VII.

LAPORAN OPERASI Laparotomi eksplorasi emergency dilakukan pada 25 April 2011 dan dilakukan salphingectomi dekstra. Diagnosa post operasi : ruptur pars ampularis tuba dekstra.

VIII.

DIAGNOSA AKHIR Ruptur pars ampularis tuba dekstra dengan riwayat infertil primer 7 tahun.

19

IX.

FOLLOW UP Tanggal 26 April 2011 Kel KU VS : nyeri di bekas operasi : baik, CM, gizi kesan cukup : T: 100/80 mmHg N: 104 x/ menit Mata Thorax : CA (-/-), SI (-/-) : cor/pulmo dbn Rr: 20 x/ menit t: 36,50C

Abdomen : supel, NT (+), luka bekas operasi tertutup verband Genital : perdarahan (-), discharge (-)

Diagnosis : post laparotomi eksplorasi emergency pada ruptur pars ampularis tuba dekstra dengan riwayat infertil primer 7 tahun DPH I Terapi : Awasi KU/VS Puasa s/d peristaltik (+) Balance cairan Cek Hb, bila < 10 g/dl transfusi s/d Hb 10 g/dl Infus RL 20 tpm Injeksi Cefotaxim 1 g/12 jam (iv) Injeksi Metronidazole 500 mg/8 jam (iv) Injeksi Alinamin F 1 ampul/8 jam (iv) Injeksi Vitamin C 1 ampul/12 jam (iv) Injeksi Vitamin B complex 2 cc/24 jam (im) Injeksi Asam traneksamat 1 ampul/8 jam Injeksi Antalgin 1 ampul/8 jam (iv) Tanggal 27 April 2011 Kel KU VS :: baik, CM, gizi kesan cukup : T: 90/60 mmHg Rr: 20 x/ menit

20

N: 100 x/ menit Mata Thorax : CA (-/-), SI (-/-) : cor/pulmo dbn

t: 36,20C

Abdomen : supel, NT (-), luka bekas operasi tertutup verband Genital : perdarahan (-), discharge (-)

Diagnosis : post laparotomi eksplorasi pada ruptur pars ampularis tuba dekstra dan riwayat infertil primer 7 tahun DPH II Terapi : Awasi KU/VS Infus RL 20 tpm Injeksi Cefotaxim 1 g/12 jam (iv) Injeksi Metronidazole 500 mg/8 jam (iv) Injeksi Alinamin F 1 ampul/8 jam (iv) Injeksi Vitamin C 1 ampul/12 jam (iv) Injeksi Vitamin B complex 2 cc/24 jam (im) Medikasi Tanggal 28 April 2011 Kel KU VS :: baik, CM, gizi kesan cukup : T : 120/80 mmHg N : 76 x/ menit Mata Thorax : CA (-/-), SI (-/-) : cor/pulmo dbn Rr : 20 x/ menit t : 36,70C

Abdomen : supel, NT (-), luka bekas operasi tertutup verband Genital : perdarahan (-), discharge (-)

Diagnosis : post laparotomi eksplorasi pada ruptur pars ampularis tuba dekstra dan riwayat infertil primer 7 tahun tahun DPH III Terapi : Awasi KU/VS Cefadroxil 2 x 500 mg

21

Ferofort 2 x 1 tab Asam mefenamat 3 x 1 tab Metronidazole 3 x 500 mg Vitamin C 3 x 100 mg Medikasi Diit lunak Mobilisasi

BAB IV ANALISA KASUS

A. Analisa kasus diagnosa 1. Kehamilan ektopik terganggu Diagnosis kehamilan ektopik tidak selalu mudah ditegakkan karena spektrum gejalanya yang luas dari bentuk asimptomatik sampai bentuk yang jelas gawat akut abdomen dan disertai syok. Pada kasus ini diagnosa kehamilan ektopik terganggu pertama ditegakkan melalui anamnesis pasien. Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan gejala klasik yang merupakan trias kehamilan ektopik yaitu nyeri perut kanan bawah, tidak menstruasi sejak 1,5 bulan yang lalu dan perdarahan melalui jalan lahir. Rasa nyeri pada kehamilan ektopik dapat beragam, baik sifat berat dan lokasinya. Dengan rupturnya lokasi kehamilan ektopik, pasien merasa nyerinya berkurang karena regangan serosa di lokasi itu berkurang atau hilang. Pemeriksaan fisik obstetri menunjukkan Hegar sign (+), OUE tertutup, corpus uteri sebesar telur bebek, nyeri tekan (+), Slinger paint (+), cavum Douglasi menonjol menunjukkan adanya hematokel retrouterina.Pemeriksaan USG menunjukkan uterus ukuran 4x6x8 cm3, tampak gambaran hipoekhoik di adnexa kanan berbatas tegas, kesan 22

gestational sact ukuran 2,5cm, tidak tampak fetal pole, tampak cairan bebas retrouterina. a. Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan darah didapatkan anemia serta leukositosis. Anemia dengan kadar Hb dan jumlah sel darah merah yang menurun menunjang adanya tanda-tanda perdarahan dalam rongga perut. Pada tes kehamilan menunjukkan PP test positif yang menunjang adanya kehamilan. Tetapi PP tes negatif tidak menyingkirkan kemungkinan KET karena kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas menyebabkan produksi HcG menurun sehingga mengakibatkan PP test negatif. b. Pada laparotomi eksplorasi elektif Didapatkan rupture pars ampularis tuba dekstra

2. Infertilitas Infertilitas pada pasien ini ditegakkan melalui anamnesis yaitu setelah 10 tahun menikah pasangan ini belum mempunyai anak sedangkan riwayat KB tidak ada.

B. Analisa kasus penatalaksanaan Penatalaksanaan dalam kehamilan ektopik terganggu tergantung pada beratnya gejala yang telah terjadi. Tindakan penanganan yang dilakukan bisa radikal atau konservatif. Tindakan radikal berarti mengutamakan keselamatan jiwa pasien dan tidak begitu menghiraukan kemampuan reproduksi kembali di kemudian pergi. Umumnya dilakukan melalui laparotomi pada pasien dengan gejala yang berat dan secara hemodinamik keadanya tidak stabil. Tindakan pembedahan radikal adalah salpingektomi untuk kehamilan dalam saluran telur, histerektomi pada kehamilan servikal dan interstisial atau kornual, dan pada kehamilan di ovarium dilakukan ooforektomi. Pada pasien ini dilakukan dilakukan salphingectomi dekstra melalui laparotomi eksplorasi emergency. 23

Penatalaksaan pada pasien dengan kehamilan ektopik terganggu dengan riwayat infertilitas sekunder selama 10 tahun adalah dengan laparotomi eksplorasi elektif oleh karena pada pasien ini tidak didapatkan tanda akut abdomen, selain itu laparotomi eksplorasi ini bertujuan untuk mengetahui letak kehamilan ektopiknya sehingga dapat ditentukan prognosis untuk kehamilan yang berikutnya. Untuk menangani masalah infertilitas harus dilakukan dengan

menganalisa keduabelah pihak yakni suami istri sebagai satu kesatuan, namun berhubung anamnesis dari pihak suami belum dilakukan maka kami membahas dari segi posisi istri . Dari faktor- faktor yang telah disebutkan sebelumnya, pada pasien ini memiliki resiko infertilitas yakni pernah mengalami operasi

ginekologis yakni pengangkatan kista, dimana akibat dari pengangkatan kista dapat terjadi; Gangguan fungsi tuba karena adanya sikatrik, hal ini dapat mengakibatkan terjadinya infertilitas ataupun kehamilan ektopik pada pasien ini. Namun untuk menegakkan mencari penyebab pasti infertilitas maka harus dilakukan pemeriksaan secara runtut seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Sehingga penatalaksanaan disesuaikan dengan

penyebabnya. Pada pasien ini pemeriksaan terhadap infertilitasnya tidak dilakukan karena pasien datang ke Rumah sakit tidaak mengeluhkan tentang infertilitasnya. Prognosis infertilitas pada pasien ini dubia, karena menurut Jones and Pourmand (1962) pasangan yang telah dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama tiga tahun atau kurang dapat mengharapkan angka kehamilan sebesar 50 % yang lebih dari lima tahun menurun menjadi 30 %. Namun dengan kemajuan teknologi di bidang gynekologi, maka kemungkinan pasangan ini mempunyai anak masih ada.

24

25

26

27

28

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN Seorang G1P0A0, 32 tahun, umur kehamilan 7+2 minggu, riwayat fertilitas jelek, riwayat obstetric belum dapat dievaluasi, vulva/urethra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio utuh, OUE tertutup, darah (+), discharge (-), cavum douglasi menonjol, corpus uteri sebesar telur bebek, slinger pain (+), terdapat hematokel retrouterin. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa kadar hemoglobin 6 gr/dL; hematokrit 28,8% dan antal eritrosit 2,64 x 103/uL. Diagnosisnya adalah kehamilan ektopik terganggu dan subfertil dengan anemia. Penatalaksanaannya adalah diusulkan laparotomi eksplorasi emergency, perbaikan kadar hemoglobin dan komunikasi informasi edukasi pada keluarganya.

B. SARAN 1. Edukasi kepada pasien mengenai pengetahuan tentang penyakit, gejala komplikasi dan penatalaksanaannya. 2. Evaluasi pasien agar kondisi ibu tidak jatuh kedalam kondisi yang lebih buruk.

29

DAFTAR PUSTAKA Buku acuan Nasional, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Masalah yang berhubungan dengan lamanya kehamilan. Yayasan BP Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2001, 300-304. Cunningham FG Mac Donal P.C. William Obsetric, Edisi 18, Appletion & Lange, 1998 : 881-903. Fernando Arias, Practicial Guide to Hight Risk Pregnancy and Delivery, 2 nd Edition, St. Louis Missiori, USA, 1993 : 213-223. Hariadi R. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Edisi Perdana Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Surabaya, 2004 : 364-382, 392-393, 426-443. Hacker Moore, Essential Obstetries dan Gynekology, Edisi 2, W.B Saunder Company, Philadelphia, Pennsylvania, 297-309. John C Morison MD, Continuos Subcutaneus Terbutalin Administration Prolong Pregnancy after Recuren Preterm Labour, AM J Obstetry and Gynecology, June 2003, 1460-1467.

30

Mochtar R. Sinopsis Obstetri. Jilid I Editor. Delfi Lutan. EGC, Jakarta, 1998: 63-67 Nancy D Berkman, John M Thord, Tokolitic Treatmen for The Management of Preterm Labour : A Review of The Evidence, AM J Obstetry and Gynecology, June 2003 : 1648-1657. Robert K Creasy, Preterm Labor and Delivery, Maternal Fetal Medicine Principles and Practice, WB Saunder Company, Philadelpia, 1994 : 494-515. Thomas F MC Elrat MD, Association Between Use Antenatal Magnesium Sulfat in Preterm Labour and Adverse Health Outcomes in Infants, AM J Obstetry and Gynecology, January, 2003 : 294-295. Wiknyosastro H. Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta, 1991. 281-301, 386-400,675-688. Wiknyosastro H. Ilmu Bedah Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. 2000 : 80-87, 170-197.

31